Title : Someone Like Me (Your Eyes)

Genre : Brothership, Family, Drama

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum

Rated : Fiction T

Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, OOC (Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it! Mind to RnR?

Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't copy paste without permission.

.

Princesskyunie

.

Proudly

.

Present

.

.

4

Flashback

"Kau juga Kibum"

Kibum memutar bola matanya malas begitu Guru Bong –Guru kedisiplinan yang hobi sekali berkeliling mencari murid yang membolos, menyuruhnya ikut. Sial. Kenapa si Junho hobi sekali membuat ketenangannya hilang sih? Ini sudah kedua kalinya dalam seminggu ini, dan Kibum berjanji akan membuat pelajaran jika teman sekelasnya itu membawanya kembali kedalam masalah yang dibuat anak itu.

Dengan malas Kibum berjalan mengikuti Guru Bong, namun baru selangkah, ia menghentikan langkahnya. Anak itu membungkuk, mengambil sesuatu yang terinjak olehnya.

"Gantungan ponsel?" tanyanya. Alis anak itu menyatu ketika membaca sesuatu dari gantungan ponsel itu. Create your wish and you will get it. "Ah, milik si murid baru" katanya sebelum menyimpan gantungan ponsel itu kedalam saku celananya.

.

.

Kyuhyun tertawa remeh pada sosok teman sebangkunya itu. Anak itu berkacak pinggang. "Apa maumu, Kim?" tanyanya setelah tawa remehnya ia hentikan.

"Kalau kau mau main-main, kurasa ini bukan waktunya" Kyuhyun kembali berucap, menatap kesal pada Kibum yang duduk tenang disalah satu kursi di cafe tempatnya bekerja setelah membuat pria menyebalkan itu bisa pergi tanpa memberikan sepeser uangpun padanya. Kyuhyun heran, bagaimana ada orang setenang Kibum. "Kau bisa melakukannya disekolah tapi bukan ditempat kerjaku" lanjutnya dengan kesal disambut kerutan didahi Kibum. Kyuhyun salah sangka sepertinya.

"Aku tak suka disamakan dengan Junho, asal kau tahu"

Kyuhyun memutar bola matanya malas, "Ya, kau melakukannya diluar sekolah. Tentu saja berbeda"

Kibum memutar bola matanya, "Aku hanya mau menolongmu"

"Kau tak menolongku!" Kyuhyun berdiri dengan gerakan kasar. Namun ketika beberapa pengunjung menoleh padanya, anak itu segera mendudukan dirinya kembali dengan bibir berdecak. "Kau membuat Ahjussi menyebalkan itu pergi tanpa membayar, Kim!"

"Sudah kubilang aku yang akan membayar semuanya"

"Itulah, itulah yang membuatmu lebih dari Junho. Kau bahkan menawarkan uang milikmu, untuk membeli harga diriku?"

"Kau salah paham, kurasa, Cho" Kibum mencondongkan tubuhnya kedepan –begitu kalimat terakhir Kyuhyun terucap, memerangkap sepasang manik caramel Kyuhyun dengan manik hitamnya. "Aku hanya ingin menolongmu. Pria itu mabuk. Bagaimanapun kau mengoceh padanya, dia tak akan membayar apapun padamu"

Eh?

"A—atas dasar apa?" Kyuhyun mengernyit, penasaran dengan alasan Kibum.

Eh? Kibum tersentak dengan pertanyaan itu. Benar, atas dasar apa dia menolong Kyuhyun? Dia kan bukan tipe anak yang peduli dengan orang lain? Ia bahkan tak berhubungan baik dengan teman-teman sekelasnya di tahun kedua mereka sekelas. Baiklah, maksudnya, Kibum terlalu menutup diri pada teman-teman sekelasnya. Ia lebih suka melakukannya sendiri, apapun itu. Ia tak suka orang lain ikut campur dengan pekerjaannya. Karena apapun yang dilakukan mereka, semua itu terlihat sebagai sandiwara baginya. Yang mereka lakukan itu, mendekatinya, bersikap baik padanya, itu karena dia putra tunggal keluarga Kim.

"Iseng?"

Kyuhyun yang sudah terlalu antusias itu benar-benar merasa dipermainkan. Setelah mendengus dengan suara keras, ditambah meniup keras poninya, anak itu menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi. Jawaban apa itu?

"Bagus sekali kalau semua orang kaya sering tak banyak kerjaan hingga bisa berbuat 'iseng'sepertimu" Kyuhyun menekan kata iseng dengan mendesis. "Aku benar-benar bisa gila sekarang" keluhnya. "Pergilah!"

"Mengusirku?" Kibum menatap tak suka pada Kyuhyun. Seumur-umur, belum pernah ada yang memperlakukannya seperti Kyuhyun, semua orang tunduk padanya, bersikap baik padanya. Huh, jadi sebenarnya apa maumu, Kim?

Hanya mengangguk mantap, tanpa menjawab. Dan Kibum benar-benar kesal dengan kelakuan anak didepannya. Entah mengapa dia tak suka diabaikan si pucat. "Setelah aku menolongmu?"

"Aku tidak memintamu menolongku. Dan—apa kau baru saja meminta imbalanmu?!" mata bulat itu membulat lucu, bahkan bagi seorang Kibum. "Waah kau benar-benar menakjubkan"

"Kyuhyun-ie, jam kerjamu sudah habis" sebelum Kyuhyun kembali menyuarakan kekesalannya pada Kibum, sosok Ryeowook menepuk pundaknya. Ryeowook sudah memperhatikan sejak tadi, namun tak punya alasan melerai keduanya. Dan ketika seorang chef mengatakan bahwa jam kerja Kyuhyun sudah selesai –Kyuhyun jin pulang cepat hari ini, Ryeowook segera mendekati keduanya.

"Benarkah?"

Ryeowook mengangguk, "Pergilah" mendorong tubuh Kyuhyun menjauh, Ryeowook mendapat tatapan kesal dari Kibum. Namun Ryeowook mengabaikannya. Anak yang tak lebih tinggi dari Kibum itu juga ikut berlalu setelah mengobrol dengan seorang pelayan lainnya, meninggalkan Kibum dengan perasaan kesal yang kentara.

.

.

"Aku juga ijin pulang cepat hari ini"

Ryeowook menggaruk tengkuknya canggung ketika Kyuhyun menatap menyelidik padanya. Mereka sama-sama tengah berdiri didepan loker karyawan, hendak mengganti seragam karyawan mereka dengan pakaian mereka sendiri. Namun Kyuhyun yang menyadari Ryeowook juga tengah mengambil baju gantinya menjadi sedikit aneh.

"Kenapa? Ibumu tak sakit lagi kan?"

Ryeowook mendengus, "Tentu saja tidak. Memangnya aku tidak boleh ijin pulang cepat kalau Ibuku tak sakit" dengusnya tak suka, kemudian sebelum Kyuhyun menyahut, Ryeowook segera berlalu masuk kedalam kamar mandi, mengganti seragamnya dengan pakaian santai yang tadi dia gunakan ketika datang.

"Kita pulang bersama, Kyuhyun-ie" ucap Ryeowook ketika bergantian dengan Kyuhyun yang masuk kedalam kamar mandi. "Ada yang ingin hyung bicarakan" lanjutnya ketika alis Kyuhyun bertaut.

Dan disinilah mereka sekarang, berjalan beriringan dibawah salju yang masih turun.

"Ada apa?" Kyuhyun buka suara ketika akhirnya mereka berada dipersimpangan jalan. Mereka seharusnya berpisah disini, tapi sampai tadi tak ada satupun kalimat yang keluar dari mulut Ryeowook.

"Kau korban bully, Kyu" bukan sebuah pertanyaan, tapi pernyataan. Namun tatapan mata Ryeowook tampak tengah memastikan sesuatu. "Anak tadi, salah satu yang melakukannya kan?" Ryeowook itu terlalu peka dengan hal berbau pem-bully-an.

Kyuhyun tersenyum kecil, paham dengan tujuan pembicaraan ini. Ryeowook memang orang yang paling mengkhawatirkan dirinya ketika akhirnya dia memilih mengambil beasiswa di sekolah swasta itu. "Aku baik saja hyung" jawabnya. "Dan anak itu," ada jeda cukup panjang, Kyuhyun tampak bingung ketika menjawabnya. "Dia teman sebangkuku" akhirnya kalimat itu yang keluar.

"Kau yakin?" Ryeowook menatapnya menyelidik, dan Kyuhyun hanya menanggapinya dengan tawa canggung. Kata 'teman' yang digunakannya bahkan membuatnya bergidik ngeri. Tapi ia tak bohong, Kibum memang orang yang duduk sebangku dengannya. Tapi kalau dia beri label 'teman', rasa-rasanya Kyuhyun baru saja berbohong pada Ryeowook.

"Kau akan baik-baik saja kan? Maksudku—"

"Aku tau. Aku akan baik-baik saja. Hyung ini lupa siapa Cho Kyuhyun ini" potongnya sambil terkekeh. Dan kemudian menggantinya dengan senyum, "Aku akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi. Jangan khawatir" sebuah tepukan dipundak Ryeowook mengakhiri percakapan mereka malam itu. Kyuhyun langsung berlalu, tak membiarkan Ryeowook membalasnya lagi. Karena sesungguhnya, Kyuhyun pun tak yakin dia akan baik-baik saja di sekolah itu.

.

.

Pagi itu Kyuhyun tak mendapati kursinya disebelah kursi Kibum. Anak itu mendengus, namun tetap melangkah ke bangku Kibum dibarengi tatapan teman sekelasnya. Seketika anak itu memilih menarik kursi Kibum. Biar saja Kibum yang berpikir kursinya yang hilang. Namun belum sempat dia menggeser kursi milik Kibum, sepasang tangan menahannya.

"Itu milik Kibum" Jaehyun menatap Kyuhyun. "Kibum tak suka orang lain menyentuh miliknya"

Kyuhyun mendengus, cukup keras untuk didengan Jaehyun. Memang apa bedanya? Toh bentuk kursi miliknya dan Kibum sama, dan Kyuhyun berani bertaruh Kibum tak akan tahu jika dia menggunakan kursinya. Namun Kyuhyun tak mau berdebat dengan Jaehyun. "Dimana kursiku?" tanyanya.

"Aku tidak tahu" tapi mata ketua kelasnya itu nampak memberi kode pada Kyuhyun. Kyuhyun tahu, Jaehyun sebenarnya anak yang baik. Dan seketika Kyuhyun mendekati jendela, mengintip dan menemukan kursinya berada ditengah lapangan bersama Junho dan kedua temannya –yang entah siapa. Ketika Junho bertatapan mata dengannya, Junho segera melemparkan senyum mengejek sambil melambaikan tangan.

"Sialan" desis Kyuhyun sebelum berlalu dengan langkah lebar. Pelajaran akan mulai 10 menit lagi dan dia tak mau ketinggalan pelajaran. Tak sampai semenit, anak itu sudah berdiri dihadapan Junho dan kedua temannya.

"Kembalikan" Kyuhyun mengatakannya dengan tegas. "Kursiku" lanjutnya ketika Junho menautkan alisnya pura-pura bingung.

"Kau tahu murid baru?" ada jeda cukup panjang. Junho menatap Kyuhyun menilai kemudian berdecak tak suka. "Aku tak pernah membiarkan orang yang membuatku masuk ruang konseling, sekolah dengan nyaman disini" nada ancaman yang digunakan Junho membuat bulu kuduk Kyuhyun berdiri. Tapi Kyuhyun tetaplah bocah yang terlatih mengekspresikan wajahnya dengan baik, jadi yang dia tunjukan adalah alis yang naik sebelah.

"Dan kau tau Junho-sshi?" Kyuhyun memberi jeda –menimang kalimat yang akan keluar dari mulutnya, "Kau sebenarnya tahu kalau kaulah 'sebab' yang membuat dirimu dan kedua temanmu masuk ruang konseling" katanya tajam. "Bersamaku"

Kyuhyun menghitung dalam hati ketika melihat wajah Junho memerah. Dan tepat pada hitungan ketiga, anak seusianya itu menendang kursinya keras. Kemudian sebelum merangsek menarik kerah seragam Kyuhyun, kedua temannya sudah menahannya. Kyuhyun bersyukur kedua teman Junho itu cukup sigap, kalau tidak entah jadi apa dia sekarang. Bagaimanapun dia itu cuma anak sok jago yang bahkan tak bisa bela diri sedikitpun. Dia hanya bocah sok berani yang membuat perhitungan dengan otak cerdasnya mengenai tindakan apa yang akan dilakukan lawannya dan orang-orang disekitarnya. Dan beruntunglah perhitungan Kyuhyun tidak meleset hari ini.

"Lepaskan bodoh!" suara Junho meninggi, matanya menatap Kyuhyun dengan aura permusuhan yang kentara. "Aku harus memberinya pelajaran"

Kyuhyun terkekeh dengan wajah mengejek, "Lucu sekali, harusnya kau yang diberi pelajaran. Menghormati orang lain, mungkin?"

"Diamlah bodoh!" teman Junho mendorong bahu Kyuhyun dengan kesal. Kyuhyun ini benar-benar tak paham situasi, pikirnya.

"Junho, tenangkan dirimu atau kita akan kena skorsing" temannya sedikit membentak Junho ketika Junho memberontak, membuat anak itu menghirup udara dengan rakus. Bagaimanapun skorsing bukanlah hal yang ingin dia dapatkan. Dia tetap anak yang takut hukuman orang tuanya.

"Tck pagi-pagi sudah membuat keributan"

Suara dengan intonasi datar itu membuat keempat anak yang tak sadar telah menjadi pusat perhatian menoleh ke sumber suara, dan menemukan Kibum berdiri dengan tatapan datar dan tangan terlipat didepan dada. Tak ada niat ikut campur atau terganggu, hanya tak habis pikir.

"Kau—ini sudah kedua kalinya dalam minggu ini kalian membuat masalah" tekannya sambil melirik Junho dan kedua temannya, seolah memberi peringatan yang hanya mereka bertiga yang tahu. Kemudian berganti melirik Kyuhyun. "Dan kau bawa kursimu. Aku tak suka teman semejaku membuat masalah dan membawaku dalam masalah" katanya kemudian berlalu.

Kyuhyun mendengus tak suka. Memangnya dia suka apa membuat masalah di sekolah baru, apalagi dia murid baru? Duh, Kibum ini sama menyebalkannya dengan Junho sebenarnya. Bedanya kalau Junho dengan tindakan, kalau Kibum dengan ucapannya.

"Urusan kita belum selesai" desis Junho ketika Kyuhyun menarik kursinya.

"Kalau kau bilang begitu, mau bagaimana lagi?" katanya dengan memutar bola mata malas. "Tapi Junho-sshi, kau harus ingat ini. Bukan hanya kau yang 'bom' disini, aku juga 'bom'. Kita berdua adalah 'bom'. Yang membedakan kita adalah bahwa kau bisa meledak setiap saat, dan aku punya batas waktu tertentu untuk meledak. Selama kau tak melewatinya, kau akan menang. Tapi kalau kau melewati batasnya, aku tak menjamin kau bisa berdiri dengan angkuh bersama kedua temanmu"

Kyuhyun berlalu setelah mengatakan kalimat itu. Diapun adalah 'bom', 'bom' yang bisa meledak jika melewati batas yang dibuatnya. Dan apa yang dilakukan Junho, masih dalam batas dia tak meledak.

.

.

Guru Jung masuk di jam pelajaran terakhir hari itu. Begitu memasuki kelas, mata wanita itu menatap lurus pada Kyuhyun kemudian beralih pada Junho dan kedua temannya. Pagi tadi –karena dia mendapat jam pelajaran dijam terakhir, dia melewatkan pertengakaran murid kelasnya. Bagus sekali. Dia sampai disindir Kepala Sekolah.

Wanita itu meletakan buku paketnya dengan keras membuat anak-anak tersentak kaget. "Ada yang bisa menjelaskan kejadian pagi tadi?" tanyanya to the point. "Jaehyun?"

Hal yang paling tidak disukai Jaehyun ketika menjadi ketua kelas adalah dia akan selalu diikut campurkan dengan segala macam kejadian di kelasnya, meskipun sebenarnya itu tak ada hubungan dengannya. Dan sialnya, sejak dia menjadi ketua kelas ini, dia selalu harus ikut campur banyak masalah.

"Junho? Jaemin? Yoosung?"

Ketiga anak yang dipanggil itu melengos, pura-pura menulis sesuatu dibuku mereka, yang langsung disambut bisikan beberapa teman sekelas mereka. Ketiganya tentu bukan tipe anak rajin yang bahkan membuka buku sebelum guru menyuruhnya. Namun kali ini –setelah mendapat teguran dan ancaman skorsing, ketiga memilih bungkam, tak mau mencari simpati wali kelas mereka.

"Cho Kyuhyun?"

Kyuyun tersenyum miring. Cho Kyuhyun ya?

"Mianhamnida" ucapnya terlampau dingin.

"Saya tidak meminta kau meminta maaf. Saya minta penjelasan kejadian tadi" Guru Jung melipat tangannya didepan dada, kini pandangannya menuntut pada Kyuhyun. "Jadi?"

"Saya membuat masalah?"

Decakan keluar dari mulut Guru Jung. Wanita itu tak mengerti jalan pikiran Kyuhyun. Apa sulitnya jujur? Kalau Kyuhyun jujur, dia jadi bisa membela anak itu dari cibiran beberapa guru.

"Kita akan mulai pelajaran. Buka buku kalian" putusnya sambil berbalik ke arah mejanya, mengambil buku paket matematika. Sebelum Guru Jung melanjutkan ucapannya, seseorang mengetuk pintu kemudian meminta ijin berbicara dengan Guru Jung. Tak sampai lima menit, Guru Jung kembali.

"Tugas kali ini adalah tugas kelompok" beberapa siswa nampak bertepuk tangan ria. Matematika itu sulit dan berbagi tugas dengan teman adalah hal paling menguntungkan bagi mereka. "Kalian sudah memiliki kelompok kan?"

Pandangan Guru Jung beralih pada Kibum, "Kibum, kau tidak keberatan satu kelompok dengan Kyuhyun kan?"

Kyuhyun nyaris berdiri sambil menolak mentah-mentah usul Guru Jung kalau saja suara disampingnya tidak membuatnya menoleh dengan tatapan jauh lebih kaget dari ide Guru Jung.

"Tidak masalah"

Kyuhyun rasa telinga kirinya semakin bermasalah.

.

TBC

.

Akhirnya fanfic ini bisa aku update juga ^^

Siapa yang kangen? *abaikan*

Sebenernya udah lama ini selesei tapi baru kemaren aku revisi *curcol* jadi kalo lupa sama chapter sebelumnya bisa baca lagi.

Thanks to semua yang nyempetin review, semua pembaca yang jadi sider dan semua yang ngedukung semua fanfic-ku.

Silahkan tinggalkan review di chapter ini, entah itu kritik atau saran, aku bakal terima.

Annyeong *bow*