Title : Someone Like Me (Your Eyes)

Genre : Brothership, Family, Hurt

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum

Rated : Fiction T

Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, OOC (Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it! Mind to RnR?

Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't copy paste without permission.

.

.

.

5

Kibum tak tahu mengapa dirinya mengikuti anak berkulit pucat itu –meski dengan alasan mengerjakan tugas. Well, dirinya memang tak pernah suka bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya. Ia tipe anak yang lebih suka mengerjakan tugas apapun seorang diri. Ia tak butuh orang lain. Tapi entah mengapa tadi dia menerima saja ketika Guru Jung mengusulkan untuk mengerjakan tugas –yang sebenarnya ia bisa mengerjakannya sendiri seperti biasanya, bersama teman sebangkunya. Dan anehnya ia malah mengusulkan mengerjakan tugas bersama pada anak berkulit pucat hari ini.

"Apa tak apa?"

Kibum menoleh pada si pucat. Tak paham dengan pertanyaan yang diajukan si pucat.

"Pergi bersamaku. Apa tak apa?" ulang si pucat.

"Memangnya kenapa?" Kibum balik bertanya dengan wajah datar membuat si pucat memejamkan matanya sekedar menahan kesal. Ini memang bukan pertama kalinya dia berinteraksi dengan si stoic, dan entah mengapa itu benar-benar menyebalkan. Si stoic yang adalah teman sekelasnya dengan peringkat pertama paralel di SM High School –ia mendengar desas-desusnya tadi saat Kibum menerima usulan Guru Jung untuk sekelompok dengannya, itu benar-benar menguji kesabarannya.

"Kita berbeda" mencoba menjelaskan meski jengkel, si pucat mengeluarkan kata dengan nada dingin –mencoba menyamai kalimat datar si stoic Kibum. Si pucat tertawa mencemooh ucapannya sendiri. Anak itu menggelengkan kepalanya prihatin. "Uang benar-benar berkuasa" katanya.

"Benar. Uang benar-benar berkuasa" si Stoic menimpali dengan datar. "Cho Kyuhyun?" katanya sambil melirik name tag yang terpasang di seragam Kyuhyun. "Kita belum berkenalan"

Si pucat, Cho Kyuhyun, menatap pemuda stoic disampingnya dengan mata memicing.

"Jangan menatapku seperti itu. Aku Kibum. Kim Kibum"

Deg

Kibum membatu ditempatnya dengan tangan terulur pada Kyuhyun. Seumur hidupnya ini kali pertamanya dia melakukan perkenalan pada orang lain. Entah mengapa dia melakukan ini. Dia hanya—ingin melakukannya. Tanpa tujuan apapun. Dia hanya—ingin mencari tahu mengapa kerja jantungnya selalu berlebihan jika berada didekat si pucat.

Tap

"Kyuhyun. Cho Kyuhyun" Kyuhyun menjabat tangan Kibum. Tak ada senyum dalam perkenalan itu, hanya tatapan dalam satu sama lain –yang entah apa artinya, juga debaran jantung yang menggila dari keduanya, yang berakhir dengan dengan tarikan dari Kibum membawa Kyuhyun berjongkok disampingnya, bersembunyi dibalik semak.

Kyuhyun tak bertanya, matanya mengikuti arah pandang Kibum dan dia langsung menemukan alasan Kibum menariknya untuk bersembunyi. Tak jauh darinya, beberapa orang berpakaian formal yang Kyuhyun yakin seorang bodyguard berlari kesana kemari.

"Kau kabur?" tanyanya sarkatis. Mata bulat dengan manik sewarna lelehan cokelat itu menatap tajam manik hitam Kibum yang berjongkok disampingnya.

"Kau pikir mereka akan membiarkanku pergi denganmu?" Kibum balik bertanya, balik menatap tajam manik cokelat Kyuhyun. Ada nada mencemooh yang didengar Kyuhyun.

"Ah sialan. Kenapa Jung Ssaem membuatku sekelompok dengan anak menyebalkan ini?" decaknya kesal. Ah, sepertinya Kyuhyun melupakan dirinya yang juga menyebalkan.

"Kajja. Kita harus menyelesaikan ini sebelum malam"

Kyuhyun mendengus, berjalan menjauhi Kibum dengan langkah lebar. Kibum sendiri menghela nafas, entah mengapa ia merasa jengkel dengan sikap kekanakan si pucat. Memangnya dia mau apa sekelompok sama si pucat? Kan Jung Songsaengnim yang memasangkan mereka. Dan—dia tak menolak.

Mensejajari langkah lebar Kyuhyun, Kibum sedikit mengumpat. Anak itu mengernyit begitu Kyuhyun berhenti di halte bus. "Kita naik bus?" tanyanya seperti orang bodoh. Dan itu memang pertanyaan bodoh yang berhasil keluar dari mulut si peringkat pertama paralel.

"Tentu saja" Kyuhyun menjawab dengan ketus. Anak itu melambai melihat seseorang mendekat. Ryeowook datang dengan senyum lebar dan menggantinya dengan pandangan bertanya ketika melihat Kibum berdiri disamping Kyuhyun. Kyuhyun tak menjelaskan, hanya tersenyum kecil. Tepat setelah Kyuhyun menyampaikan pesan pada Ryeowook untuk meminta ijin pada Shin Ahjusshi –hari ini dia ijin tak masuk kerja, bus yang Kyuhyun tunggu datang.

"Hei, Cho!" Kyuhyun menoleh, mendapati Kibum masih mematung. Sedetik kemudian Kyuhyun kembali menghela nafas, mengeluarkan kartu unlimited-nya agar Kibum bisa masuk.

Kibum mendudukan dirinya disamping Kyuhyun dengan tak nyaman. Oh ayolah, dia itu Kim Kibum. Putra pemilik Kim's Group, perusahaan yang mempengaruhi perekonomian Korea. Ayahnya selalu memberikan fasilitas terbaik untuknya. Tentu saja dia tak terbiasa dengan hal-hal umum seperti bus ini. Ia terbiasa duduk dengan nyaman di mobil mewah ber-AC.

Menghela nafas, Kibum mencoba melirik pada Kyuhyun yang tampak tenang menatap keluar jendela. Tatapan teman sekelasnya itu begitu kosong, seperti dirinya. Dan entah mengapa Kibum tersenyum karenanya. Ah, nyatanya ada yang senasib dengannya. Mungkin?

Tak

Kyuhyun menoleh dengan alis bertaut. Ia mendapati Kibum tengah menatap lurus kedepan. Tatapan kosong yang seperti dirinya. Dirabanya headset yang dipasang Kibum ke telinganya. Lagu yang mengalun membuat Kyuhyun tersenyum samar. Sepertinya selera musik mereka sama.

.

.

Kibum menatap datar flat didepannya. Benarkah ini bisa ditempati? Batinnya bertanya. Ia melamun sampai tak menyadari Kyuhyun sudah berdiri didepan pintu flat murahnya.

"Masuklah" suara Kyuhyun menyadarkannya.

Mengikuti Kyuhyun, Kibum mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Pandangannya menelisik setiap lekuk flat milik teman sekelasnya itu. Flat itu berukuran sedang dengan dinding putih yang catnya sudah mengelupas disana sini. Begitu masuk yang dilihatnya adalah ruang tamu sekaligus ruang keluarga dengan televisi ukuran kecil dan sofa berukuran sedang. Disudut ruangan, ada lemari ukuran besar yang berisi banyak buku. Dan juga ada dapur mini yang bisa dilihat Kibum dari tempatnya berdiri kini.

"Duduklah" Kyuhyun keluar dari salah satu kamar. Memang hanya ada dua kamar yang dilihat Kibum. "Maaf membuatmu tak nyaman" katanya, meski tak ada nada menyesal yang Kibum dengar.

"Hn" Kyuhyun bedecih mendengar jawaban Kibum. Tak apa apanya? Teman sekelasnya itu bahkan sejak tadi tak mendudukan dirinya. Malah menelisik setiap sudut flat murahnya.

"Akan kuambilkan minum" Kyuhyun bangkit begitu sadar seharusnya dia menyiapkan minuman untuk tamunya.

Kibum mengabaikan Kyuhyun, memilih menuruti Kyuhyun untuk mendudukan dirinya disatu-satunya sofa di flat ini. Dan well, anak itu buru-buru mengernyit begitu pantatnya menyentuh sofa yang begitu keras. Namun ia tak mengeluarkan satupun kalimat. Ia cukup shock dengan kehidupan yang dijalani si pucat.

Kibum kira hal-hal semacam ini hanya ada di drama yang sering ditonton para maid dirumahnya dengan diam-diam. Tapi ternyata disekitarnya memang ada hal semacam ini. Flat sempit dengan sofa keras. Ya Tuhan. Ingatkan Kibum harus banyak bersyukur setelah ini.

.

.

Cklek

Bug

Kyuhyun terlonjak. Tubuhnya otomatis menghadap kebelakang, menemukan Ibunya yang pulang dalam keadaan mabuk berat. Anak itu menghela nafas lelah, mengabaikan pandangan datar Kibum, Kyuhyun mendekati sang Ibu, mencoba membawanya masuk kedalam kamarnya.

"Pria..hik..sialan itu..hik..ada disana" Nyonya Cho meracau dengan suara terbata. "Aku..hik..akhirnya melihat...hik...dia lagi" lanjutnya.

"Eomma. Sudahlah" Kyuhyun mencoba membawa Ibunya ke kamar. Namun wanita itu tetap meracau, menyumpai si 'pria sialan'. Kyuhyun sih sudah biasa, namun ketika ujung matanya melirik pada Kibum, Kyuhyun bisa melihat pemuda stoic itu tak melepaskan pandangannya dari Ibunya. Aneh, atau bahkan jijik? Entahlah. Tatapan Kibum masih datar, masih tak bisa Kyuhyun baca.

"Eomma-mu?" tanya Kibum ketika melihat Kyuhyun keluar dari kamar yang satunya.

"Kenapa?"

"Ternyata benar" senyum sinis itu terlukis dibibir Kibum, meski mata itu menampilkan arti yang lain. Kibum pernah mendengar desas-desus keluarga Kyuhyun saat melewati ruang guru.

"Ya. Menyedihkan kan?" Kyuhyun balas tersenyum sinis. Anak itu mendudukan dirinya dengan kasar ditempat semula, kembali menulis bagiannya kedalam buku tugas. "Chukkae, kau orang pertama yang tahu" katanya.

"Apa?"

"Mengetahui wajah Eomma." Jawabnya. Ryeowook saja tak pernah melihat wajah Ibunya, karena teman kerjanya itu selalu datang saat Ibunya tak ada dirumah. "Seharusnya dia belum pulang" lanjutnya.

"Dia selalu mabuk?" entah mengapa Kibum ingin tahu. Sejujurnya dia bukan tipe yang suka mencampuri urusan orang lain. Dia itu Kim Kibum, anak datar dan tak peduli dengan orang lain.

"Menurutmu? Orang yang bekerja ditempat seperti itu memang selalu pulang dalam keadaan mabuk kan?"

Kibum tak menjawab. Sepasang mata hitam itu menatap tak paham kearah Kyuhyun. Si pucat itu masih tetap menulis dengan cepat meski harus Kibum akui, wajah teman didepannya itu terlihat begitu sedih. Hei—bagaimana dia bisa tahu? Bagaimana dia bisa mengamati orang yang bahkan baru seminggu menjadi teman sekelasnya?

"Setidaknya kau punya ibu" lirihnya sebelum kembali menekuni buku didepannya.

.

.

Kyuhyun bersandar pada tiang halte, sedangkan Kibum mendudukan dirinya dikursi halte. Keduanya sudah menyelesaikan tugas kelompok mereka dan Kibum harus pulang. Kibum ingat, dia pasti membuat semua orang kebingungan dan mungkin para bodyguard yang baru bekerja sehari menjaganya sedang menerima kemarahan Ayahnya, atau paling parah mereka semua langsung dipecat.

Mereka sedang menunggui jemputan Kibum. Tadi setelah mengaktifkan smartphone-nya –Kibum menonaktifkannya agar tak diketahui keberadaannya lewat aplikasi mata-mata yang diinstal Ayahnya di smatphone-nya, ada puluhan pesan dari manager-nya. Dan tanpa membaca satupun, Kibum segera menghubungi manager-nya, meminta dijemput di halte bus dekat dengan flat murahan yang di sewa Kyuhyun.

Keduanya tak bicara lagi sejak Kyuhyun menjawab ketus pertanyaan Kibum mengenai keadaan Ibunya jika pulang ke flat sewaan mereka. Entah Kibum yang sudah kembali pada mode diamnya, atau karena Kyuhyun merasa tak perlu berbicara banyak pada Kibum. Bahkan ketika Kibum akhirnya membereskan peralatan sekolahnya, mereka hanya saling pandang sebelum Kyuhyun mengikuti langkah Kibum keluar dari flat murahnya.

Dan disinilah mereka, masih dengan saling diam.

Bunyi klakson menyadarkan Kibum dan Kyuhyun kalau mobil jemputan Kibum sudah datang. Manager hyung keluar, menatap Kibum dengan pandangan menegur sebelum beralih pada pemuda seusia Kibum yang kini memperhatikannya juga. Sedikit mengernyit ketika sepasang manik cokelat Kyuhyun terlihat familiar dimatanya.

"Appa-mu menyuruhmu menemuinya" katanya sebelum kembali berjalan kearah mobil, membukakan pintu penumpang untuk Kibum.

Menghela nafas, Kibum malah membalikan badan, menatap Kyuhyun. Kemudian dia melepaskan mantel tebalnya dan menarik tangan Kyuhyun, menyerahkannya pada pemuda pucat itu.

"Jangan sampai rusak. Ini mantel kesayanganku" katanya menyadarkan Kyuhyun dari keterkejutannya. Kyuhyun dengar Kibum itu antisosial dan tak peduli pada orang lain. Tapi kok sekarang dia bahkan meminjamkan mantelnya pada Kyuhyun.

"Katakan pada Eomma-mu, berhenti bekerja disana dan datang ke alamat ini. Akan kupastikan dia mendapat pekerjaan" lanjutnya sambil menyelipkan kartu nama ditangan Kyuhyun sebelum berjalan menjauhi Kyuhyun yang bahkan masih mencoba mencerna kalimat yang diucapkan Kibum.

Meminta Ibunya berhenti? Kibum tak tahu saja, hubungannya dengan sang Ibu tak sebaik itu. Tak cukup untuk membuatnya bisa berbicara dua arah dengan sang Ibu. Apalagi sampai bisa meminta Ibunya berhenti bekerja disana. Kyuhyun bahkan tak mau membahasnya jika punya kesempatan bicara dengan Ibunya. Karena mood Ibunya akan memburuk jika Kyuhyun menyinggung tempat kerja sang Ibu.

"Gwenchana" lirihnya. "Paling tidak aku tahu dia peduli pada eomma sepertiku" lanjutnya dengan pandangan mengarah pada mantel tebal milik Kibum ditangannya.

.

.

Kibum menghela nafas sebelum mengetuk ruang kerja Ayahnya. Tak ada jawaban, namun pintu terbuka. Ada bodyguard yang beberapa jam lalu dikenalkan Ayahnya dan ditugaskan mengantarnya ke sekolah. Kibum cuek saja saat tatapan para pria itu terlihat kesal, mungkin benar perkiraan Kibum, Ayahnya baru saja menceramahi mereka –menyuruh mereka lebih pintar lagi mungkin, atau bahkan mungkin mereka sudah dipecat. Kibum tak peduli.

"Kau membuat hari ini berantakan, Kibum" Kibum memilih tak menyahut. "Kabur dari para bodyguard, menonaktifkan smartphone-mu dan baru menghubungi saat lewat jam makan malam"

Kibum sedikit tersenyum mendengar nada khawatir yang terdengar dari nada bicara Ayahnya.

"Kupikir kau diculik" Kibum memutar bola matanya. Ayahnya ini kadang-kadang konyol juga. Kibum bahkan bisa sedikit bela diri, dan dia berada disekolah, mana mungkin dia diculik. Apalagi melihat bagaimana perangai Kibum, rasa-rasanya tak ada yang mau menculiknya. "Aku bahkan sudah mau menghubungi Choi Ahjusshi-mu kalau sampai jam sembilan kau tak pulang" Choi ahjusshi itu adik bungsu Ayah Kibum, seorang polisi muda yang hanya berbeda 10 tahun dari Kibum.

"Mianhae, Appa" terlalu datar untuk ucapan permintaan maaf. Tapi itulah Kibum, dan Tuan Kim sudah terlalu mengenal sifat putranya. "Apa Appa memecat mereka?"

Tuan Kim mendengus, "Tidak. Hanya menasehati supaya lebih pintar saat bersamamu"

Kibum mengangguk puas. "Boleh aku pergi sekarang?"

"Appa belum selesai" Tuan Kim memberi isyarat Kibum untuk duduk. "Kau baru saja membuat kita kehilangan 2 kontrak yang harganya ratusan juta won, kalau kau tak tahu"

Kibum ingat pagi tadi sebelum berangkat bersama para bodyguard-nya, Manager-nya memberitahu kalau dia ada jadwal sepulang sekolah untuk bertemu beberapa relasi bisnis yang akan mengikat kontrak dengan Kim's Group.

"Jadi?" alis Kibum bertaut. "Alasanmu"

"Mengerjakan tugas sekolah dirumah—temanku?" katanya ragu. Kata 'teman' masih begitu ambigu bagi Kibum. Sejak dulu dia tak punya seseorang yang dia panggil 'teman' didepan Ayahnya. Dan jawaban Kibum itu disambut tatapan takjub Tuan Kim.

"Temanmu?" ulangnya.

"Hanya anak yang duduk disebelahku. Kami berbagi meja bersama"

Ini juga hal yang tidak biasa. Kibum itu tak suka berbagi dengan orang lain. Bahkan dulu, Tuan Kim terpaksa datang ke sekolah gara-gara Kibum mendorong teman sekelasnya yang seharusnya berbagi meja dengannya sampai anak itu menangis dan orang tuanya protes. Jadi ketika akhirnya Kibum mempunyai seseorang yang dia sebut 'teman' dan 'duduk disebelahku', itu sebuah kemajuan.

"Jung Ssaem yang memintaku sekelompok dengannya karena dia anak baru" Kibum sebenarnya tak suka berbicara panjang lebar hanya untuk menjelaskan sesuatu pada orang lain. Namun entah mengapa dia pikir perlu menjelaskan pada Ayahnya, melihat reaksi yang ditunjukan Ayahnya.

"Aku akan ke kamar kalau Appa sudah selesai" katanya sambil berdiri, buru-buru berlalu sebelum Tuan Kim kembali memanggilnya untuk mengintrogasi lebih banyak.

"Kau melihat siapa 'teman' Kibum kan?" tanya Tuan Kim begitu Manager Han masuk ke ruangannya. "Aku mau kau cari tahu semua tentang anak itu" lanjutnya. "Aku senang Kibum punya seseorang yang dia sebut 'teman'. Tapi aku harus memastikan anak itu tak membahayakan Kibum" ujar Tuan Kim.

Manager Han menghela nafas, Kibum mungkin akan membunuhnya jika dia mengusik Kyuhyun. Meski melihatnya sekilas, namun tatapan dan perhatian Kibum pada Kyuhyun entah mengapa membuatnya berasumsi Kibum menyukai pertemanannya dengan Kyuhyun –Kibum tak pernah sepeduli itu pada orang lain. Dan Kibum bukan tipe anak yang suka seseorang yang dekat dengannya diusik.

*TBC*

Aloha semuanya ^^

Aku balik nih sama chapter 5 fanfic Someone Like Me (Your Eyes). Ada yang nunggu? Hehe

Thank you yang nyempetin baca terus nulis review. Thank you yang klik favorit fanfic ini dan yang lainnya.

Sampai ketemu di chapter lainnya ^^

*bow*