Title : Someone Like Me (Your Eyes)

Genre : Brothership, Family, Hurt

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum

Rated : Fiction T

Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, OOC (Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it! Mind to RnR?

Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't copy paste without permission.

.

.

.

6

Kyuhyun menghela nafas panjang ketika mendapatkan 'sambutan' selamat paginya dari tiga sekawan paling menyebalkan dikelasnya. Siapa lagi kalau bukan Junho dan kedua temannya. Seluruh tubuhnya basah. Terkena air yang ditumpahkan ketiganya begitu dia membuka pintu –Kyuhyun mengira dia sudah terlambat, omong-omong karena pintu ditutup rapat. Setelah dipikir-pikir bodoh sekali dia, ini masih terlalu pagi untuk memulai pelajaran, dan dia tak curiga sedikitpun.

Untungnya tadi dia bertemu Jonghyun diluar gerbang. Pemuda berkacamata itu menawarkan membawakan ransel Kyuhyun ketika seorang Guru memanggilnya. Kyuhyun awalnya menolak, tapi tak tega melihat Jonghyun yang terus mendesaknya –dengan alasan ucapan terimakasih yang tak ada habisnya. Jadi sekarang dia memang basah kuyup, tapi beruntung ransel dan seluruh isinya masih utuh, kering didalam pelukan seorang Lee Jonghyun yang menatapnya khawatir dari dalam kelas.

"Saengil chukkae, Kyuhyun-ah" teriak ketiganya dengan suara keras. Lalu bertepuk tangan dan memberi kode pada seluruh teman sekelas mereka untuk ikut bertepuk tangan. Meski bingung sekaligus ragu, seluruh teman sekelas mereka bertepuk tangan sambil saling pandang.

"Ada apa ini?"

Sebelum Kyuhyun bereaksi, suara wali kelas mereka –Guru Jung, terdengar. Wanita itu menatap menyelidik pada empat siswanya –tiga siswanya dengan senyum mengembang dan satu siswanya yang dalam keadaan basah kuyup.

"Kyuhyun ulang tahun" Junho menjawab antusias –terlalu antusias untuk anak yang bahkan mempunyai hubungan buruk dengan Kyuhyun. "Jadi kami menyiapkan kejutan" lanjutnya. "Kau terkejut kan, Kyuhyun?" mata Junho beralih pada Kyuhyun, namun daripada ketulusan yang Kyuhyun lihat adalah tatapan jenaka dan aku-berhasil-mengerjaimu.

"Kami, terutama Junho sedang proses berbaikan dengan Kyuhyun, Ssaem" Yoomin menjelaskan dengan senyum. Tak jelas senyum apa yang terpasang disana, namun Kyuhyun yakin itu bukan jenis senyum baik.

"Benar Kyuhyun?"

Guru Jung bukan tidak tahu ada yang tidak beres. Sejak dia menjabat sebagai wali kelas, sudah banyak kejadian pembullyan disekolah ini. Dan dia selalu tak bisa berbuat banyak hal karena si korban tak mau berterus terang padanya, sehingga dia tak punya bukti untuk membela. Guru Jung sebenarnya sudah gerah dengan tingkah tiga muridnya paling bermasalah itu.

"Terimakasih atas kejutannya" Kyuhyun menjawab dengan datar, namun matanya menatap tajam tiga teman seusia didepannya. "Tapi ini bukan hari ulang tahunku" lanjutnya dengan helaan semenyesal mungkin. "Tapi karena kalian sudah bersusah payah. Aku menerimanya. Terimakasih. omong-omong bagaimana kalau sekalian kadonya? Kalian sudah menyiapkannya kan? Lagian tidak baik kan menolak kado yang sudah disiapkan?" mata Kyuhyun mengamati ketiga pemuda didepannya yang saling pandang, "Belum ya?" ada nada kecewa yang terdengar. "Ulang tahun kan selalu identik dengan kado"

"Bagaimana kalau kadonya, kalian membersihkan kekacauan ini?" pertanyaan itu begitu polos, seolah tak ada senyum mengejek yang bertengger dibibir Kyuhyun. "Jung ssaem juga tak suka kalau mengajar dalam keadaan kelas yang berantakan"

Guru Jung hampir tersedak begitu Kyuhyun meliriknya. Namun buru-buru mengangguk. Selain karena memang ucapan Kyuhyun benar –dia tak suka mengajar dalam keadaan kelas yang berantakan, sekalian saja itu sebagai hukuman bagi ketiga sahabat itu.

"Tapi, aku tidak bisa membantu" Kyuhyun menghela nafas pura-pura menyesal. "Aku harus ganti baju" lanjutnya sambil memberi kode seragamnya yang basah kuyup. Kyuhyun harus ganti baju atau dia akan sakit.

Sebelum ketiganya bereaksi, Kyuhyun segera berlalu dari sana, sambil membungkuk kecil pada Guru Jung. Wanita itu menghela nafas, akhirnya dia harus menyelesaikan ini juga. Maka setelah berdehem, wanita itu segera meminta ketiga sahabat itu untuk membersihkan kekacauan yang dibuat ketiganya tanpa penolakan.

.

.

Kibum mengikuti langkah cepat Kyuhyun ke arah loker dengan perasaan kesal, entah pada siapa, pada Kyuhyun yang hanya memberi pelajaran ketiga sahabat itu dengan dalih 'kado' atau pada ketiga sahabat yang sekarang tengah membereskan kekacauan yang dibuat mereka. Kibum tak tahu. Ia hanya kesal.

Tadinya Kibum hanya akan menyapa Kyuhyun, sebenarnya berniat berjalan disamping Kyuhyun sebelum Kyuhyun berlari ketika melihat pintu kelas mereka tertutup. Kibum sempat mengernyit namun kemudian menghela nafas kesal ketika melihat Kyuhyun sudah basah kuyup dan teriakan selamat ulang tahun keluar dari tiga sahabat menyebalkan dikelasnya.

Harus Kibum akui, kemampuan Kyuhyun menahan dirinya agar tak menyerang ketiganya secara langsung itu sangat bagus. Bahkan Kibum bisa melihat kalau Kyuhyun hanya menghela nafas sebelum menatap malas ketiganya. Mungkin benar, Kyuhyun terlalu pandai menahan dirinya.

"Perlu bantuanku?" Kibum melipat tangannya didepan dada ketika Kyuhyun membalikan badan. Kyuhyun baru saja mengumpat karena tak mendapati seragam olahraganya di loker, juga tak ada baju ganti lainnya.

Alis Kyuhyun naik sebelah sebelum mendengus tak suka. Kyuhyun tak suka berhutang apapun pada orang lain, apalagi berhutang budi. Terlebih orang itu adalah Kibum.

"Tidak" pendek, kemudian berjalan kearah kamar mandi.

Kibum mendengus tak suka. Namun anak itu kembali mengikuti langkah Kyuhyun setelah mengambi seragam olahraga dilokernya. Entah mengapa. Seharusnya dia biarkan saja. Toh pertolongan yang dia tawarkan –sesuatu yang sangat langka bahkan bisa dibilang tidak pernah, langsung ditolak Kyuhyun. Tapi Kyuhyun seolah punya magnet yang membuat Kibum merasa tertarik, merasa senasib. Entah. Kibum bahkan tak pernah mendapat tatapan mencemooh atau di bully. Semua orang menatapnya kagum, berharap dekat dengannya. Lalu apa yang membuatnya merasa senasib dengan Kyuhyun?

"Sudah bicara pada Ibumu?"

Kyuhyun langsung menghentikan langkahnya, melirik pada Kibum yang sudah berdiri sejejar dengannya.

"Kenapa aku merasa kau begitu peduli padaku?" todong Kyuhyun.

Untuk beberapa saat Kibum terpaku. Kenapa aku peduli padanya? Namun segera menarik tangan Kyuhyun, memberikan seragam olahraganya kemudian berlalu. Tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun –pertanyaan yang dia ajukan juga pada dirinya sendiri.

.

.

Kyuhyun berjalan keluar kelas sambil membawa mantel milik Kibum. Dia akan mengembalikannya pada Kibum. Anak itu sedikit mengernyit ketika tak mendapati tiga sahabat yang pagi tadi sukses membuatnya basah dan terpaksa harus menggunakan seragam olahraga milik Kibum. Ya. Akhirnya, meskipun dia tak suka berhutang budi, pada akhirnya Kyuhyun tetap menggunakan seragam olahraga Kibum. Alasannya? Tentu saja karena tak ada seragam ganti dilokernya. Dia juga tak bisa pulang dan melewatkan beberapa pelajaran. Kyuhyun harus tahu diri, dia hanya anak beasiswa yang baru saja masuk sekolah elit itu.

Di kelas tadi, meskipun dia duduk sebangku dengan Kibum, Kyuhyun tak sedikitpun berbicara dengan Kibum. Kyuhyun sedikit merasa bersalah. Ya, bagaimanapun Kibum menolongnya, meminjamkannya seragam olahraganya.

Kyuhyun menaikan sebelah alisnya ketika melihat Kibum berjalan ke taman belakang, namun bukan bangku taman tujuannya. Kibum berjalan lagi, menaiki tangga menuju rooftop sekolah. Kyuhyun mengikutinya dalam diam, meski dia merasa aneh mengapa Kibum memilih menaiki tangga dibelakang bangunan utama yang nampaknya jarang digunakan –terlihat dari kotornya tempat itu, dibanding tangga utama didekat kelasnya.

"Apa lagi?" Kyuhyun batal memperlebar pintu yang terbuka sedikit ketika suara datar Kibum terdengar. Dia tak suka menguping, dia tak suka pikirannya bekerja lebih cepat membuat sebuah hipotesis tentang orang lain dan berakhir dia harus ikut campur dengan orang lain. Kyuhyun sadar, hidupnya sudah susah dan dia tak mau menambah susah dengan terlibat urusan orang.

"Bisakah—aku mengatakan tidak?" Kyuhyun mengintip, melihat Kibum berdiri bersandar pada pagar pembatas rooftop. Meski itu adalah permintaan –setidaknya dari kalimat yang Kyuhyun dengar, namun tak ada nada meminta disana. Kalimat itu datar, seolah meskipun itu sebuah permintaan, Kibum tak akan pernah mendapatkannya.

Trak

Smartphone Kibum –yang Kyuhyun taksir harganya bisa lima kali ponsel bututnya, dilempar membuat Kyuhyun sedikit tersentak. Namun kemudian bola mata Kyuhyun seakan mau copot ketika melihat Kibum membuka botol kecil dari saku celananya lalu mengeluarkan beberapa pil. Kaki Kyuhyun seakan melayang ketika akhirnya dia sampai disamping Kibum, menepis tangan Kibum yang hendak memasukan beberapa pil kedalam mulutnya, membuat pil-pil itu berjatuhan. Dan pandangan keduanya bertemu dengan jantung berdegup tak karuan.

.

.

Kyuhyun menghela nafas, "Obat penenang?" dia membuka suara pertama kali. Akhirnya. Setelah hampir 10 menit tak ada yang bicara diantara keduanya.

Kibum menoleh pada Kyuhyun yang berdiri lima langkah darinya. Dia kaget tentu saja. Tiba-tiba, seseorang yang ingin dia hindari beberapa saat berada disampingnya dengan pandangan tajam. Terlebih, Kyuhyun memergokinya disaat terlemahnya. Saat dia ingin tak ada seorangpun yang bisa menemukannya pada kondisi seperti ini.

"Jangan mengkonsumsinya lagi" pandangan mereka bertemu. "Seberapapun sulitnya masalahmu. Jangan pernah mengkonsumsi itu lagi" ada ketulusan yang dibaca Kibum pada sepasang mata cokelat itu –yang entah mengapa sekarang terasa familiar dimatanya.

"Wae? Itu hanya vitamin" ada sebuah senyum geli dibibir Kibum. Sebuah pertaruhan mengalihkan pemuda seusia disampingnya dari tebakan benar anak itu.

Kyuhyun terkekeh –mencemooh sebenarnya, "Aku pernah mengkonsumsinya" Kyuhyun membuang pandangan ketika melihat mata Kibum sedikit melebar. "Jangan merusak dirimu. Lagipula matipun tak akan menyelesaikan masalah" Kyuhyun pernah memiliki pemikiran bahwa bunuh diri akan menyelesaikan masalahnya. Namun ketika pikirannya tenang, dia sadar, bunuh diri malah akan membuat masalah baru. Jadi, sebisa mungkin dia menghindari hal-hal seperti itu. Lagipula Kyuhyun yakin, setiap masalah akan ada akhirnya. Tinggal menunggu waktunya saja. Polos sekali kan pemikirannya?

"Aku tak berniat mati" Kibum menyahut setelah lama terdiam. Kibum hanya ingin menenangkan dirinya dari tekanan Ayahnya maupun Manager Han. Dan pil-pil itu kadang membantunya.

"Ya. Kau seharusnya tak punya alasan untuk mati muda" Kyuhyun menoleh, memandang Kibum dengan pandangan menilai. Kibum sendiri terkekeh, tak merasa kesal sedikitpun. Padahal biasanya dia paling tak suka dipandang dengan pandangan menilai.

"Darimana kau tahu?"

Kyuhyun mengangkat bahu acuh, "Hanya menebak" katanya. "Kau pintar, populer, anak orang kaya dan dihormati. Kau tak punya alasan untuk mati muda, kurasa" Kibum menaikan sebelah alisnya, ketika Kyuhyun menghadap sepenuhnya padanya. "Kecuali kau punya masalah keluarga" lanjutnya.

Deg

Kibum tersenyum kecil, membuang pandangan kearah lain. Bel masuk baru saja berbunyi, tapi bahkan Kyuhyun pun tak berniat pergi dari sana. Kibum sih sebenarnya sering bolos, toh guru-guru tak protes selagi nilainya selalu baik dan dia selalu di peringkat satu paralel. Apalagi dia seorang Kim Kibum.

"Tebakanku benar sepertinya" Kibum melirik saja, tak berniat menanggapi. Toh rasa-rasanya percuma saja menyangkal. Dari yang Kibum lihat, Kyuhyun ini tipe anak yang tak terlalu peduli dengan pendapat orang lain. Jadi percuma saja Kibum menyangkal. "Setidaknya ada yang membuatmu pusing dengan omelan ataupun perintahnya"

Kibum akhirnya menghadap juga kearah Kyuhyun dengan alis bertaut. Ada nada sedih yang didengar Kibum.

Kyuhyun berjalan mendekat, menyerahkan mantel tebal ditangannya pada pemiliknya. "Terimakasih" katanya. "Untuk ini" dia melirik seragam olahraga yang dikenakannya, "Ini" melirik pada mantel yang sudah berada ditangan Kibum. "Dan kartu nama yang kau berikan padaku" Kyuhyun serius, meskipun dia tak tahu harus dibagaimanakan kartu nama milik Kibum, setidaknya Kyuhyun tahu kalau Kibum peduli padanya.

Kyuhyun bukan anak orang kaya seperti Kibum, juga dia itu hanya anak beasiswa, karenanya dia harus masuk kelas. Meski sudah terlambat, setidaknya dia masuk kelas. Soal alasan, dia akan pikirkan nanti.

"Chukkae" kalimat datar itu menghentikan langkah Kyuhyun. "Kau orang pertama yang tahu" Kyuhyun mengernyit, merasa familiar dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Kibum. "Aku mengkonsumsi obat penenang"

Kyuhyun menyeringai, namun tak berbalik. Itu kalimatnya. Semalam. Ketika Kibum mendapati Ibunya pulang dalam keadaan mabuk, ketika Kibum bisa dengan jelas melihat wajah Ibunya.

"Tentu saja. Kalau orangtuamu yang tahu, mungkin kau sudah masuk rumah sakit" Kyuhyun terkekeh setelahnya. "Anggap saja kita impas" dan berlalu dari sana.

Kibum mengangguk, paham maksud Kyuhyun. Ya, kita impas.

.

.

Kibum tak masuk kelas bahkan sampai jam pelajaran terakhir berbunyi. Kyuhyun tak peduli, toh Kibum itu kan pintar, anak orang kaya lagi. Jika dia ketinggalan pelajaran, Kibum bisa menyewa jasa guru les, dan masalahnya selesai. Tak ada yang perlu Kyuhyun pedulikan.

Tiga sahabat yang pagi tadi mengerjainya juga tak terlihat. Ransel mereka sih masih ada. Mungkin seperti Kibum, kalau mereka ketinggalan pelajaran, mereka juga bisa menyewa guru les. Dan Kyuhyun bersyukur tak menemukan mereka, setidaknya dia bisa pulang dengan aman.

Kyuhyun memasukan seragam olahraga Kibum kedalam ranselnya. Dia sudah berganti dengan seragamnya lagi. Rasanya sungguh tak enak diperhatikan seluruh teman sekelasnya hanya karena mengenakan seragam milik seorang Kim Kibum. Kyuhyun juga tak mau seragam Kibum rusak –karena siapa tahu dia bertemu tiga sahabat itu dijalan.

"Kyuhyun-ah?" suara Jaehyun membuat Kyuhyun menoleh. Ketua kelasnya itu berdiri didekat mejanya sambil menyodorkan selembar kertas padanya. "Jung Ssaem memintamu mengisi formulir eskul. Kau bisa memilih 1 sampai 2 eskul. Besok kau bisa menyerahkannya padaku"

Kyuhyun mengangguk sambil menerima selembar kertas yang ternyata formulir dari tangan Jaehyun. "Terimakasih"

"Ngomong-ngomong" Kyuhyun berdiri dari kursinya, melirik pada Jaehyun yang menggantung kalimatnya. "Aku ada di eskul jurnalisitik"

Itu sebuah ajakan tersirat dari Jaehyun. Kyuhyun tahu. Tapi dia bahkan tak punya waktu untuk mengikuti eskul seperti kebanyakan teman sebayanya. Dia punya pekerjaan paruh waktu yang sudah menunggunya setelah pulang sekolah. Shin ahjussi sih rasanya tak akan keberatan kalau Kyuhyun ijin sehari dalam seminggu untuk mengikuti eskul. Tapi sekali lagi, Kyuhyun tahu diri. Dia tak mungkin meminta hal itu hanya karena Shin ahjussi begitu baik.

"Terimakasih informasinya. Aku duluan" Kyuhyun tersenyum kecil, kemudian berjalan keluar kelas lebih dulu.

Kyuhyun meraih ponsel bututnya, membaca pesan singkat yang dikirim oleh Ryeowook yang menyuruhnya cepat datang ke cafe. Malam ini cafe disewa untuk acara perayaan ulang tahun pelanggan mereka, jadi pasti Ryeowook dan yang lainnya sudah sibuk.

"Kyuhyun-sshi?" belum sempat Kyuhyun membalas pesan singkat Ryeowook, seseorang menyapanya. Alis Kyuhyun naik sebelah ketika melihat siapa yang menyapanya. Pria tak ramah yang tempo hari menjemput Kibum. "Bisa kita bicara sebentar?"

Kyuhyun bisa saja menolak, tapi rasa-rasanya tak sopan sekali. Apalagi pria ini memintanya dengan sopan. Jadi dia mengangguk sambil mengikuti langkah pria itu ke arah mobil yang terparkir cukup jauh dari gerbang sekolahnya, namun cukup dekat dengan halte bus.

"Silahkan masuk"

Kyuhyun menatap tak suka pada perilaku pria itu –membukakan pintu untuknya. Awas saja kalau didalam mobil ada Kibum, Kyuhyun akan memakinya nanti. Namun ketika Kyuhyun masuk, yang dia temui adalah seorang pria dengan pakaian formalnya. Kyuhyun mendadak gugup. Dilihat dari wajah aristokrat yang tengah menghadapnya tanpa senyum, Kyuhyun yakin itu Ayah Kibum.

Benar, Kyuhyun akan memukul Kibum atau memakinya nanti kalau sekarang Ayah Kibum datang untuk mengancam Kyuhyun agar menjauhi Kibum. Mereka beda kasta. Kyuhyun tahu itu. Oke, sepertinya pikiran Kyuhyun terlalu mendramatisir. Lagi pula dia tak pernah mendekati Kibum –ya, kecuali memilih duduk disamping Kibum dibanding dengan Jonghyun. Tapi itu juga ada alasannya. Kyuhyun ingin menolong Jonghyun. Huh, sekarang dia merasa sebagai pahlawan kesiangan.

Deheman Ayah Kibum langsung membuat Kyuhyun bergerak gelisah. "Tidak baik menunduk saat berbicara dengan orang yang lebih tua" dan bersamaan dengan kalimat itu selesai diucapkan, Kyuhyun memberanikan diri mendongak, menatap tepat pada sepasang manik cokelat pria didepannya. Dan entah mengapa jantungnya berdegub begitu cepat, seolah mau melompat. Reaksi yang sama seperti yang dia dapatkan setiap bertatapan intens dengan Kibum. Ada apa dengan jantungnya?

"Kyuhyun?" Tuan Kim membaca nametag pada seragam Kyuhyun. Dan pria itu baru sadar kalau anak didepannya tak menggunakan mantel, padahal cuaca akhir-akhir ini begitu dingin.

"Cho Kyuhyun imnida" Kyuhyun sedikit menaikan sebelah alisnya ketika melihat ada gurat kaget diwajah angkuh pria didepannya ketika dia mengenalkan diri dengan menambahkan marganya.

Apa kami pernah bertemu?

.

TBC

.

Halooooo semuanya ^^

Selamat siang

Aku balik lagi nih bawa fanfic Your Eyes. Ada yang nunggu? Hihi

Makasih buat review yang masuk, aku seneng banget bacanya. Hehe

Maaf sebelumnya gak bisa update sering-sering, pekerjaan dunia nyata lagi butuh perhatian. Belum lagi fangirling-an yang kadang bikin lupa waktu buat nulis fanfic

Buat chapter ini, wanna RnR?

Sampai jumpa di chapter selanjutnya~

Annyeong

*bow*