Title : Someone Like Me (Your Eyes)
Genre : Brothership, Family, Hurt
Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum
Rated : Fiction T
Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, OOC (Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it! Mind to RnR?
Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't copy paste without permission.
.
.
.
7
Kibum sebenarnya tak pernah membenci Ayahnya. Dia sayang Ayahnya. Pria yang selalu punya waktu sekedar menanyakan aktifitas apa yang dia lakukan. Ayahnya memang sibuk, namun selalu punya waktu pulang ke rumah, makan bersama dengannya.
Kibum hanya punya hal yang tak dia suka dari Ayahnya. Penekan. Seolah jika Kibum terlahir sebagai anak bodoh, dia tak akan bisa memuaskan keinginan Ayahnya. Karena walaupun dia terlahir dengan otak cerdas, itu serasa masih kurang di mata Ayahnya. Ya. Sebelum Kibum berhasil menjadi satu-satunya yang akan bertanggungjawab pada Kim Corps, Kibum masih kurang di mata Ayahnya.
Manager Han selalu mengatakan pada Kibum kalau Ayahnya melakukan itu untuk melindungi tempat Kibum. Agar para pemegang saham yang diam-diam bersekutu untuk mengambil Kim Corps dari tangan Ayahnya tak pernah punya kesempatan menjatuhkan atau mengambil tempat Kibum.
Bagaimanapun Kibum berusaha memahami cara Ayahnya melindungi 'tempat'nya, rasa-rasanya Kibum masih tak paham. Kibum itu hanya seorang anak high school yang baru saja menginjak usia 17 tahun. Dia masih labil dan selalu merasa bahwa Ayahnya membatasi apapun yang ingin dia lakukan dan siapa boleh yang berdekatan dengannya. Ayahnya adalah sebuah benteng yang ingin Kibum runtuhkan.
Satu lagi hal yang tidak Kibum sukai dari Ayahnya adalah kehadiran wanita yang masih berusaha memaksanya memanggil dia 'Mom'. Sebenarnya wanita itu juga tak buruk-buruk amat. Wanita itu tahu Kibum tak menyukainya, jadi meskipun ada dirumah –sebisa mungkin wanita itu tak menunjukan wajahnya didepan Kibum meski dengan alasan capek habis shopping atau baru pulang dari traveling. Kibum tahu dia berbohong, namun tak berniat melunakan hatinya untuk wanita itu.
Awal Kibum minum obat penenang adalah resep dokter. Dia berhasil kabur dari bodyguard-nya dan melarikan diri untuk bermain game –bagaimanapun dia masih remaja. Namun akhirnya memutuskan menemui dokter –dokter lain dari dokter keluarganya. Bahkan Kibum pernah berpikir untuk menemui psikiater. Entahlah, dia rasa dia sudah gila karena beberapa kali merasa ingin bunuh diri –tanpa alasan. Dia tertekan, benar, namun sebenarnya tak terlalu mengganggunya hingga membuatnya ingin bunuh diri. Dan dari Dokter itulah Kibum mendapatkan obat penenang –tentunya dengan dosis yang benar.
"Kibum!" suara asing itu membuat Kibum menautkan alisnya. Dia baru saja keluar dari ruang guru, memenuhi panggilan wali kelasnya yang menanyakan ketidakhadirannya dikelas. Entah dari mana Jung ssaem mengetahui nomor ponselnya. Kibum sendiri pernah tak mendatangi wali kelasnya itu saat mendapat pesan singkat yang menyuruhnya menghadap, namun begitu sampai disamping mobil jemputannya, Manager Han langsung berkacak pinggang. Lagipula menemui wali kelasnya tidak buruk kok, dia cuma dinasehati. Dan Kibum suka. Seolah ada yang begitu peduli padanya. Seperti Ibunya.
Lee Jonghyun, teman sekelasnya yang berkacamata –yang ngomong-ngomong namanya saja baru dia ketahui sejak insiden Kyuhyun memilih duduk disampingnya, berjalan dengan gestur terburu kearahnya. Hampir berlari sebenarnya. Jonghyun menunduk –seperti kebanyakan siswa jika bertemu dengannya, begitu sampai didepannya.
"I—itu" menggantung. Terlihat sekali kalau Jonghyun ini begitu gugup. Ya. Kibum paham. Walaupun mereka sekelas, tak pernah sekalipun Kibum terlibat pembicaraan dengan Jonghyun. Ah tidak, Kibum bahkan hanya berbicara pendek pada Junho dan Jaehyun –itupun dengan nada sarkasnya.
"Apa?" tanyanya tak sabar.
"Sepertinya Ayahmu menemui Kyuhyun"
Deg
"Aku melihatnya disana" lanjut Jonghyun sambil menunjuk kearah mobil yang begitu Kibum kenali.
Tak mengucapkan terimakasih, Kibum langsung berlalu dari hadapan Jonghyun. Ayahnya itu, apa maunya? Entah mengapa ada perasaan marah dan kesal. Padahal biasanya Kibum tak begitu. Tidak. Biasanya Ayahnya tak ikut campur urusan sekolah. Ada Manager Han yang mengurusinya. Jadi mengapa sekarang Ayahnya bahkan sampai rela meluangkan waktunya untuk menemui Kyuhyun? Tidak. Ayahnya tidak akan berbuat hal buruk pada Kyuhyun kan?
Kibum berjalan terburu begitu melihat sosok Manager Han berada diluar mobil dengan gestur yang Kibum artikan 'mengawasi'. Dan reaksi yang diperlihatkan Manager Han selanjutnya –begitu melihat Kibum mendekat, semakin membuat Kibum yakin apa yang dikatakan Jonghyun benar. Ayahnya berada didalam mobil bersama Kyuhyun.
"Anda sudah kembali?"
Kibum tak menyahut, hanya melirik dengan tajam sambil sedikit mendorong Manager Han untuk menyingkir. Dia membuka pintu dengan terburu, melongok dengan tatapan kesal pada Ayahnya sebelum menarik keluar dari mobil sosok Kyuhyun yang menatapnya kaget.
"Apa yang kau lakukan?" Kyuhyun menarik tangannya dengan ekspresi kesal yang kentara. Dia hampir jantungan gara-gara pintu mobil terbuka dengan suara keras dan mendapati Kibum disana.
"'Apa yang kau lakukan?'" Kibum mengulang pertanyaan yang diajukan Kyuhyun dengan alis bertaut, matanya melirik Ayahnya yang keluar dari mobil sambil membenarkan jasnya. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu!"
Kyuhyun menghela nafas kesal, "Apa kau tak lihat? Aku bertemu Ayahmu!" katanya dengan mata mendelik. Astaga, Kyuhyun benar-benar bisa darah tinggi jika terus berurusan dengan orang semacam Kibum.
"Kenapa kau harus bertemu Ayahku?" alis Tuan Kim bertaut mendengar pertanyaan Kibum. Aneh. Kibum tipe anak yang tak pernah siapa yang akan ditemuinya.
"Apa salahnya bertemu Ayah temanku?" mata bulat Kyuhyun makin melebar. Namun dengan alasan lain. Kyuhyun kaget sendiri dengan jawaban yang keluar dari mulutnya. Teman?
Kibum menatap Ayahnya, mencari kebohongan di sepasang mata yang—tunggu! Kibum menoleh pada Kyuhyun, kemudian kembali menatap Ayahnya. Warna mata mereka—
"Sama" lirih Kibum. Mungkin itulah alasan kenapa selama ini dia merasa familiar, warna mata Kyuhyun sama dengan Ayahnya. Cokelat.
.
.
"Ada pelajaran tambahan, Kyuhyun-ie?"
Kyuhyun meringis pada Ryeowook sebelum melangkah lebar menuju loker pegawai, mengganti seragam sekolahnya dengan seragam cafe. Dia segera bergabung bersama Ryeowook dan beberapa pegawai yang tengah menata ulang letak kursi dan meja.
"Sudah makan siang?" ini pertanyaan dari Hanse, salah satu pekerja part time selain Kyuhyun dan Ryeowook. Bedanya, Hanse ini sudah kuliah. "Makan siang dulu, Kyu. Sana. Ji ahjusshi membuat udon" lanjutnya sambil menunjuk salah satu koki pada Kyuhyun.
"Nanti saja" Kyuhyun selalu merasa tak enak. Dia adalah pegawai part time paling tak tahu waktu. Dia bisa datang terserah padanya. Shin ahjusshi tak pernah menegurnya, bahkan para pegawai lain juga tak menegurnya. Kyuhyun tahu itu bukan karena mereka tak peduli, justru karena mereka tahu bagaimana kehidupannya. Mereka selalu memberi keringanan untuknya. Dan dia selalu tak merasa enak untuk itu.
"Sebentar lagi kita akan sibuk. Sana. Makan dulu" Seungwoo mendorong pundak Kyuhyun menuju dapur sambil berteriak memanggil Ji ahjusshi.
"Kau sudah datang, Kyu? Sini. Aku baru saja membuat udon" Ji ahjusshi melambaikan tangannya, kemudian menarik tangan Kyuhyun menuju meja diujung pantry –tempat biasa pegawai istirahat. Pria itu membuka tudung saji, menunjukan pada Kyuhyun menu makan siang mereka. Semangkuk udon yang cocok untuk musim dingin.
"Terimakasih"
Ji ahjusshi mengangguk sebelum meninggalkan Kyuhyun dengan semangkuk udon yang menggugah selera. Pria itu kembali memotong sayuran sambil berbicara dengan tiga koki lainnya. Kyuhyun menghela nafas sebelum mengambil sendok dan mulai menyuapkan kuah udon. Pemuda itu tak bisa tak tersenyum begitu rasa familiar itu melewati kerongkongannya. Udon buatan Ji ahjusshi memang yang terbaik.
Mata Kyuhyun sedikit menyipit ketika melihat siapa yang dia lihat tengah berbicara dengan Hanse. Junho. Tunggu! Bukan dia kan yang menyewa tempat ini? Diam-diam Kyuhyun bersyukur mereka mendorongnya masuk kedalam dapur. Jika tidak, entah bagaimana Kyuhyun akan menghadapi Junho. Tidak. Dia tidak takut Junho akan meledeknya. Dia, sudah kebal dengan hal semacam itu. Dia hanya—tiba-tiba merasa bersalah. Apa sebenarnya hari ini ulang tahun Junho? Belum lagi entah bagaimana reaksi Ryeowook jika Junho mengejeknya nanti. Kyuhyun tak mau melihat Ryeowook khawatir padanya.
"Kau yakin ini acara ulang tahun? Kita hanya masak beberapa menu dan itu dengan porsi kecil"
Kyuhyun melirik pada seorang koki yang bertanya pada Ji ahjusshi. Benar juga. Untuk ukuran pesta ulang tahun, makanan yang dipesan –ngomong-ngomong dia membaca memo di pantry, adalah menu makan malam biasa, meskipun itu menu mewah yang bahkan Kyuhyun tak pernah memakannya. Yang membuatnya seperti pesta ulang tahun hanya sebuah cake yang disimpan dimeja tengah ruangan yang baru saja dibawa Ryeowook dari dapur dengan lilin angka 17.
"Tck, apa peduliku" dia memilih melanjutkan memakan udon, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Junho yang tengah memberi intruksi pada pelayan.
"Kyuhyun-ah, kalau sudah selesai bisa mengambilkan daging di gudang penyimpanan?"
Kyuhyun yang baru saja meletakan mangkuk bekas udon yang dia cuci langsung mengangguk. Ia bersyukur. Setidaknya dia tak harus kedepan. Dia akan membantu didapur saja. Sekalian memperhatikan para koki menyiapkan makanan. Siapa tahu dia bisa mempraktekannya dirumah.
.
.
"Kenapa Ayah menemui Kyuhyun?"
Itu adalah pertanyaan ke lima dari Kibum. Pertanyaan yang sama. Dan masih belum mendapatkan jawaban apapun dari Ayahnya. Pria itu bungkam, sibuk dengan pikirannya sendiri sejak Kyuhyun berpamitan setelah melihat bus yang ditunggunya datang.
"Memangnya kenapa?"
"Itu bukan style Ayah"
"Dan Kibum yang cerewet? Itu bukan style-mu" Tuan Kim melangkah menuju ruang kerjanya tanpa memberikan jawaban yang diharapkan Kibum, membuat pemuda itu kesal sendiri.
"Manager Han!" pria yang dipanggil Kibum langsung mendongak, menggeleng sambil mengangkat bahu. Membuat gestur tak tahu menahu.
"Jangan bercanda" Kibum tahu siapa Ayahnya. Karenanya, Kibum juga tahu siapa Manager Han. Pria ini, akan begitu setia pada majikannya. Dan Kibum yakin, sampai sekarang, Ayahnya masihlah majikan Manager Han. "Anda tahu, Manager Han. Jangan membuatku memaksamu" harus Manager Han akui, Kibum punya aura mengintimidasi yang sama seperti Tuan Kim –Ayahnya.
"Haruskah saya membuatkan kopi untuk kita?" Kibum menyeringai, meninggalkan Manager Han menuju ruang pribadinya.
.
.
Flashback
"Nuguseo?" Tuan Kim bisa melihat pemuda bermata cokelat didepannya tengah menatapnya dengan tatapan seolah menilai sebelum kembali menyebutkan namanya dan marganya.
"Cho Kyuhyun" dan reaksi jantungnya sungguh mengejutkan. Berdebar, seolah Tuan Kim tengah bertemu dengan seseorang yang begitu dicintainya, cinta pertamanya. Wanita yang memiliki marga yang sama dengan pemuda didepannya. Wanita yang punya mimpi memberikan nama 'Kyuhyun' pada putranya. Wanita yang—selalu mengalah padanya.
"Ada apa Tuan mecari saya?" tak ada nada ketakutan atau kegugupan yang didengar Tuan Kim, membuat pria itu sedikit takjub. Bertemu dengan orang seperti dirinya, bukanlah sesuatu yang buruk, namun bukan juga sesuatu yang menyenangkan. Namun reaksi semacam gugup atau takut selalu dia lihat pada orang-orang yang katanya mengaguminya. Reaksi yang bahkan membuatnya merasa muak.
"Kau tahu siapa aku?"
Kyuhyun mengangguk mantap. "Ayahnya Kibum kan?"
"Lalu?"
Kyuhyun memutar bola matanya malas. Namun reaksi itu membuat seulas senyum diwajah aritokrat Tuan Kim. "Pendiri dan pemilik saham terbesar Kim Corp. Anda juga punya beberapa mall besar, brand pakaian terkenal dan taman hiburan. Ah Anda juga bisa mengatur ekonomi Korea sesuai dengan keinginan Anda" ada nada mencemooh disana. Dan daripada kesal, Tuan Kim justru takjub. Ada anak yang jelas-jelas menunjukan ketidaktertarikannya pada hartanya.
"Unik"
"Terimakasih?" Kyuhyun menaikan sebelah alisnya. "Jadi ada apa?" anak itu melirik pada jam digital yang terpasang di dashboard mobil, dan nampak terkejut ketika melihatnya.
"Hanya penasaran"
"Hanya karean penasaran dia menggunakan waktu berhargaku" gumam Kyuhyun yang sayangnya terlalu keras untuk disebut gumaman. Anak itu jengkel. Tuan Kim tahu. Terlihat jelas dari caranya menghela nafas, nampak sekali tengah mengatur agar kemarahannya tak meledak. Sekali lagi dia takjub. Anak muda biasanya mudah marah. Emosi mereka meledak-ledak. Tapi sosok pemuda didepannya, memiliki sifat yang sama seperti Kibum. Terlalu pandai mengontrol emosinya.
"Jadi apa saya sudah menjawab rasa penasaran Anda?"
"Hm"
Kyuhyun merengut kesal. Dia seolah tengah dipermalukan disini, dengan alasan rasa penasaran seorang Kim. "Kalau begitu saya harus pergi" anak itu menundukan kepalanya. Seberapa kesalpun dia pada sosok aristokrat didepannya, sosok inilah yang bisa membuat dunianya berada dineraka. Dan Kyuhyun tak mau ada neraka lain selain rumahnya.
"Apa pekerjaan orang tuamu?"
Deg
Inilah yang Kyuhyun takutkan. Pertanyaan ini. Apa pekerjaan orang tuamu. Sejak dulu, sejak dia tahu pekerjaan apa yang dilakukan Ibunya. Dia tak malu, sungguh. Hanya tak suka jika kemudian orang-orang yang bertanya ini mengolok Ibunya, mengolok pekerjaan Ibunya.
Kyuhyun tahu pekerjaan Ibunya benar-benar bukan termasuk pekerjaan yang bisa dibanggakan. Tapi dia tetaplah seorang anak yang ingin berusaha melindungi nama baik Ibunya.
"Bukan pekerjaan yang bisa dibanggakan" nadanya datar, Tuan Kim mengangguk, merasa menyinggung perasaan anak muda didepannya. Entahlah, namun Tuan Kim merasa tak enak pada Kyuhyun.
"Datanglah berkunjung. Kurasa Kibum akan menyukainya"
Kyuhyun menaikan sebelah alisnya. Ia tahu itu bentuk pengalihan pembicaraan. Namun ajakan itu terasa aneh ditelinganya. Seorang Kim mengundangnya?
.
.
Shin ahjusshi mendekati Kyuhyun, menepuk pundak anak itu. "Ku dengar dia sekolah di SM" katanya. Dan Kyuhyun sudah terlalu tahu apa yang akan dia dengar selanjutnya, jadi anak itu mengangguk dengan enggan. Setelah menghela nafas dan bertukar pandang dengan Ryeowook, dia segera melangkah mendekati sosok Junho yang masih duduk dengan pandangan menerawang. Pada akhirnya dia harus menemui sosok Junho juga. Ya Tuhan, semoga Junho tidak dalam kondisi yang benar-benar buruk. Doa Kyuhyun dalam hati.
"Junho-sshi?"
"KAU?!" mata Junho membulat sempurna begitu menemukan Kyuhyun berdiri didepannya. "Apa yang kau lakukan disini?" ada nada gelisah yang didengar Kyuhyun, meskipun ekspresi wajah Junho sudah kembali angkuh.
"Aku bekerja disini" akunya siap menerima ejekan Junho. Namun sampai beberapa saat, Junho bahkan tak mengucapkan apapun. Lalu Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada kue ulang tahun berukuran besar yang berada di meja lain. "Hari ulang tahunmu?" tanyanya. Sebenarnya tak berharap mendapat jawaban dari Junho. Mereka tak berada di posisi untuk bertanya-jawab layaknya teman dekat. Interaksi mereka tak lebih dari si pembully dan si korban bully. Tapi Kyuhyun tentu punya sopan santun, dia tak mungkin langsung mengatakan pada Junho bahwa waktu sewa cafe mereka sudah habis. Mereka akan tutup.
Junho melirik pada kue ulang tahun juga, tersenyum miris. "Ulang tahun kami" ralatnya sarat akan kepedihan. Anak itu melirik arloji mahalnya sebelum mengeluarkan amplop dari dalam ranselnya. "Ini uang sewanya" katanya kemudian berdiri, melirik pada kue lagi sebelum berjalan keluar cafe dengan pandangan menunduk.
"Kalian boleh memakan semuanya. Kuenya juga" katanya sebelum menutup pintu cafe.
Kyuhyun menoleh pada Shin ahjusshi dan para pegawai lainnya sambil mengangkat bahu. Ia juga tak paham. Bagaimana Junho menyewa cafe, memesan makanan bahkan kue dan hanya duduk disana tanpa melakukan apapun, tanpa mengundang siapapun. Hanya duduk dengan pandangan menerawang. Tak menyentuh apapun. Sosok yang Kyuhyun yakin, dia tak akan mengenali sosok ini jika Ryeowook dan Hanse tak berkali-kali menggerutu betapa Junho ingin perfect-nya dekorasi cafe. Kyuhyun tak paham. Untuk apa Junho melakukan ini? Kalau ini ulang tahunnya –karean dia seorang Junho, bukankah seharusnya Junho merayakannya bersama keluarganya? Atau paling tidak pada dua sahabatnya?
"Kau bisa menyusul dia, Kyu" Ryeowook menepuk pundaknya. "Dia terlihat sangat kesepian"
Ketika Shin ahjusshi mengangguk –menyetujui ide Ryeowook, Kyuhyun segera berdiri, melepas celemeknya sebelum berlalu mengejar Junho.
Kyuhyun bertaruh. Dia tahu itu. Mungkin sekarang Junho ingin sendiri dan jikapun ingin ditemani, mungkin itu oleh kedua sahabatnya bukan oleh Kyuhyun. Tapi sifat Kyuhyun yang ini, yang selalu berpikiran tentang orang lain dan memastikan orang itu baik-baik saja, membuat Kyuhyun berani mengejar Junho meski tahu mungkin yang akan dia terima adalah caciaan. Kyuhyun hanya perlu memastikan Junho tak melakukan hal bodoh –seperti Kibum misalnya, dan kemudian selesai. Dia bisa kembali dengan tenang.
"Junho-sshi!" mata Junho melebar melihat Kyuhyun tengah berlari kearahnya. Sekelebat pertanyaan konyol singgah di kepalanya. Apa dia kurang membayar sewa?
"Mau ku traktir makan ramyeon?" sebuah ajakan makan makanan sederhana itu entah mengapa membuat dada Junho menghangat. Belum sempat dia menjawab, sosok pucat yang beberapa hari ini selalu menjadi objek maianannya di sekolah sudah menarik tangannya menuju swalayan terdekat.
*TBC*
Halooo ^^ saya kembali
Lagi-lagi bawa Your Eyes, soalnya ide cerita ini lagi lancar banget. Gimanapun aku lagi sibuk dikantor, ide cerita ini bikin aku diam-diam ngetik di aplikasi note hape. Hihi
Kayanya aku gak sanggup bikin adegan pembullyan lagi. Meskipun itu gak terlalu sadis, tetep aja itu namanya pembullyan. Dan karena aku berkaca dari cerita sinetron tv sebelah –yang ditonton adik sama keponakanku, yang ceritanya pembullyan juga dan aku sebel banget sama cerita yang gak jadi tuntunan buat anak dibawah umur yang nonton, aku mutusin bikin Junho sadar gimana baiknya Kyukyu ^^ *alasannya gak banget*
Gimana sama chapter ini? Ayahnya Kibum gak ngapa-ngapain Kyu kan? Ayah Kibum ini sebenernya selalu ngalah sama Kibum –inget waktu Kibum ngomong sinis di chapter 1? Dia sayang sama Kibum, tapi juga namanya seorang Ayah, dia punya cara sendiri nunjukin sayangnya.
Makasih yang selalu nyempetin review. Makasih juga yang udah mau mampir, komen dan vote fanfic-ku di akun wattpad.
Buat chapter selanjutnya atau fanfic yang update selanjutnya, aku gak bisa janji kapan-kapannya. Seperti alasanku sebelumnya, kerjaan dunia nyata nyita waktu banget. Aku juga lagi persiapan SUP. Karena alasanku bikin fanfic buat manfaatin waktu sama ngembangin hobi nulisku, jadi mau fokus dulu ke dunia nyata hehe
Aku gak hiatus kok. Cuma slow update aja.
Makasih semuanya
Sampai jumpa, annyeong *bow*
