Title : Someone Like Me (Your Eyes)
Genre : Brothership, Family, Hurt
Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum
Rated : Fiction T
Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, OOC (Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it! Mind to RnR?
Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't copy paste without permission.
.
.
.
9
Saat Kyuhyun memasuki kelas, sudah ada Junho dan Kibum di bangku masing-masing. Namun bukan itu yang membuat alis Kyuhyun naik sebelah. Suasana canggung yang kentara lah yang membuatnya sedikit mengernyit. Namun dia itu Kyuhyun. Dia tak harus peduli dengan hal-hal yang tak ada urusan dengan dirinya. Jadi dengan cepat dia berjalan menuju bangkunya, mengabaikan kecanggungan yang dia rasakan.
Seperti biasa, Kibum tak menyapanya. Kyuhyun juga tak berniat menyapa Kibum. jadi dia langsung duduk sebelum mengambil buku pelajaran dari dalam ransel bututnya. Bel sudah berbunyi beberapa menit yang lalu dan Kyuhyun yakin sebentar lagi guru pelajaran pertama akan datang.
Seperti teman sekelasnya, Kyuhyun juga bingung ketika mendapati Jung ssaem-lah yang masuk kelas di jam pelajaran yang bukan bagiannya. Wanita berusia diawal 30-an itu berdehem sebentar untuk mengambil atensi muridnya sebelum mengatakan maksud kedatangannya. Dan rasa-rasanya kepala Kyuhyun berdenging ketika teman sekelasnya mulai berbisik-bisik sambil meliriknya setelah Jung ssaem menyuruhnya mengikuti beliau ke ruang guru. Ada apa?
"Kenapa?" Kyuhyun menaikan sebelah alisnya ketika tangan Kibum mencekal lengannya saat dia hendak mengikuti Jung ssaem.
"Ayahku" satu kata yang keluar dari mulut Kibum entah mengapa membuat kerja jantung Kyuhyun begitu cepat. Ayahku. Satu kata itu bergema dikepalanya.
"Oh" hanya jawaban pendek itu yang diberikan Kyuhyun sebelum dia benar-benar berlalu dari hadapan Kibum. Kyuhyun tak tahu harus memberikan respon bagaimana. Pertemuannya dengan Ayah Kibum kemarin juga tak meninggalkan kesan yang buruk –setidaknya menurut Kyuhyun. Bahkan Ayah Kibum menawarinya mampir jika ada waktu, yang sejujurnya saja Kyuhyun tak akan melakukannya. Ayah Kibum belum tahu siapa dirinya –ibunya, jadi beliau bersikap baik, dan Kyuhyun berani bertaruh sikap itu tak sama setelah Ayah Kibum tahu pekerjaan Ibunya.
"Yang didalam itu" ucapan Jung ssaem menyadarkan Kyuhyun kalau mereka sudah sampai didepan ruang Kepala Sekolah. Dia melamun sejak tadi. "Tuan Kim. Ayah Kibum" Kyuhyun mengangguk saja mendengar ucapan Jung ssaem. "Masuklah"
Kyuhyun tahu ada yang ingin Jung ssaem katakan padanya –selain memberitahunya siapa yang menunggunya dibalik pintu ruang Kepala Sekolah yang tertutup, namun wanita itu memilih menutup kembali mulutnya dan malah menyuruh Kyuhyun masuk kedalam ruang Kepala Sekolah.
Kyuhyun benar-benar benci dengan detak jantungnya yang berdetak melebihi batas normal jika berhadapan dengan Kibum dan Tuan Kim. Dia tidak takut. Sungguh. Hanya gugup. Tapi kenapa rasanya juga sakit? Terkadang membuatnya marah juga. Dan kini hanya dengan melihat pria dengan jas mahal itu menatapnya, deguban jantungnya kembali menggila, mulai membuatnya merasa marah entah karena alasan apa. Tatapannya kah? Tidak. Bahkan banyak yang lebih menatapnya dengan tatapan seolah dia manusia rendahan yang tak pantas berada disekitar mereka.
"Wah aku tak menyangka bahwa kau salah satu anak beasiswa disini" entah itu sindiran atau bukan, Kyuhyun memilih bungkam dengan memasang wajah datar.
"Apa sekolah disini menyenangkan?" Tuan Kim rasa beliau sudah gila karena menggunakan kekuasaannya untuk bertemu dengan Kyuhyun. Berdua. Entahlah. Namun perasaannya seolah berbunga tiap kali melihat Kyuhyun, seolah dia melihat cinta pertamanya. Jantungnya berdebar lebih dari cepat hanya dengan mendengar nama anak didepannya. Kyuhyun. Nama itu seolah memiliki magnet yang membuatnya tersedot untuk meniliknya.
"Ya?" ada nada ragu yang didengar Tuan Kim. "Anda repot-repot sekali sampai menanyakan hal-hal tak penting pada penerima beasiswa" sindiran Kyuhyun disambut senyum miring Tuan Kim.
"Karena kau teman putraku. Mari bicara sebagai seorang ayah dan teman anaknya"
Alis Kyuhyun naik sebelah. "Kurasa ini bukan sesuatu yang berhubungan dengan sekolah. Jadi anda tidak bisa membuang waktu saya untuk hal ini"
Tuan Kim terkekeh. Dia suka Kyuhyun karena ini, Anak ini tak takut padanya. Anak didepannya ini tak bermuka manis didepannya untuk menjilat kekayaannya. Anak didepannya ini begitu jujur bahwa dia tak suka dengan perilakunya. "Sayangnya kau tak punya pilihan untuk menolak" dan beliau dalah Tuan Kim. Seseorang yang tak suka dibantah, tak suka ditolak.
"Hah benar. Uang benar-benar berkuasa" sindiran lagi. Kyuhyun rasanya ingin memukul mulutunya yang bekerja lebih cepat dibandingkan otaknya. Bagaimana dia bisa berbicara sefrontal itu pada orang semacam Tuan Kim? Yang bisa dengan mudah mendepaknya dari sekolah ini detik ini juga?!
"Bagaimana? Apa aku boleh mengajukan pertanyaanku sekarang?" dan Kyuhyun harus bersyukur karena Tuan Kim nampak tak menghiraukan sindirannya.
"Seperti kata anda. Apa saya punya pilihan menolak?"
"Apa pekerjaan orang tuamu?"
Kyuhyun tahu, meskipun nampak tak peduli dengan kehidupan Kibum, Tuan Kim tetaplah seorang Ayah. Beliau tak mungkin membiarkan anaknya berteman dengan orang yang asal-usulnya tak tentu seperti dirinya.
"Saya tahu, orang seperti anda pasti sudah menyelidiki saya sebelumnya"
Tuan Kim tergelak, ia hampir menebak Kyuhyun akan mengelak seperti kemarin. Dan lagi-lagi jawaban yang diberikan Kyuhyun membuatnya sadar bahwa anak didepannya bukanlah seperti kebanyakan anak yang mengaku sebagai teman Kibum didepannya. Kyuhyun, anak itu begitu unik dan menarik.
"Benar. Seorang pekerja klub malam, huh?" setelah Manager Han mengatakan tak bisa menemukan pekerjaan apa yang dilakukan orang tua Kyuhyun, Tuan Kim segera meminta bantuan anak buahnya yang lain. Dan dalam hitungan jam, dia sudah mendapatkan email yang isinya profil lengkah seorang Cho Kyuhyun. Dan Tuan Kim sadar satu hal. Manager Han berada dipihak Kibum.
Kyuhyun memejamkan matanya, menahan amarah yang bisa saja meledak. Ia harus sadar sosok didepannya adalah orang yang memberinya beasiswa. Meskipun dia mulai tak menyukai Tuan Kim, dia tetap harus menghormatinya. Paling tidak itu yang bisa dia berikan kepada Tuan Kim sebagai ucapan terimakasihnya.
"Dia mungkin juga menjual tubuhnya" Kyuhyun tak malu mengakuinya. Dia hanya benci dirinya yang membiarkan Ibunya bekerja disana. Dia hanya berdoa dia bisa cepat-cepat mendapatkan banyak uang dan meminta Ibunya keluar dari pekerjaan itu.
Jujur saja Tuan Kim tersentak dengan jawaban Kyuhyun yang terlalu jujur.
"Benar. Saya dibesarkan dengan uang seperti itu. Kenapa? Ibu saya tidak mencuri dan saya rasa itu tidak ada hubungannya dengan Anda"
"Kyuhyun" bukan itu maksud Tuan Kim. Namun nampaknya beliau salah memulai percakapan.
"Dengar Tuan" Kyuhyun memotong. Pandangan matanya yang menatap tajam Tuan Kim jelas sekali menunjukan bahwa ia terluka. "Saya tidak berteman dengan Kibum. Saya hanya kebetulan duduk dibangku samping Kibum. Jadi tolong jangan mengganggu Ibuku, jangan mengganggu kami" begitu dingin, seolah sosok didepannya adalah Kibum.
.
.
Kibum menegakan tubuhnya –tadinya dia bersandar pada dinding, ketika pintu ruang Kepala Sekolah terbuka. Sosok Kyuhyun yang keluar dengan wajah memerah membuatnya semakin yakin sesuatu yang buruk baru saja terjadi. Jadi sebelum Kyuhyun berlalu dari hadapannya –omong-omong Kyuhyun tak menyadari dia berada disana, Kibum segera memanggil Kyuhyun.
Kyuhyun celingukan, suasana dilorong masih sepi, maklum masih jam pelajaran. Jadi siapa yang tidak punya kerjaan menyapanya. "Sedang apa kau disini?" tanyanya dengan mata memicing curiga ketika menemukan Kibum berada disana.
"Apa yang Ayahku bicarakan denganmu?" terlalu datar untuk sebuah pertanyaan.
"Bukan urusanmu"
"Jelas itu urusanku" Kibum menatap tajam Kyuhyun. "Aku tidak tuli kalau namaku disebut kalian tadi" Kibum tidak tahu bagaimana dia masih sabar dan tetap berada diluar ruangan meski tahu dia juga dilibatkan disini.
"Kalau begitu, kau bisa tanyakan Ayahmu?"
Tepat ketika Kyuhyun mengatakan hal itu, pintu kembali terbuka dan Tuan Kim keluar dengan alis bertaut. Pria itu menatap bergantian Kyuhyun dan Kibum. Dari keduanya hanya Kyuhyun yang melirik padanya, sedangkan Kibum terlalu fokus pada Kyuhyun.
"Kibum-sshi" Kibum benci dipanggil dengan formal oleh Kyuhyun seperti itu, seolah Kyuhyun baru saja membuat jarak yang baru saja dipangkas Kibum. "Ini hari terakhir aku duduk disamping bangkumu" katanya kemudian tanpa menunggu reaksi Kibum, Kyuhyun membalikan badan, berjalan cepat meninggalkan sepasang Ayah-anak itu. Ngomong-ngomong dia harus memaksa Jonghyun agar anak itu mau mengizinkannya duduk disampingnya.
Untuk beberapa saat Kibum tak bereaksi. Jenis tak bereaksi yang berbeda dari yang biasanya. Tuan Kim paham itu. Ada gurat kecewa diwajah Kibum, ada tatapan kesal dimanik mata Kibum. Tuan Kim terpaku. Berapa lama dia tak melihat ekspresi seperti itu dari wajah putranya? Selama ini Kibum terlalu pintar menutup perasaannya.
Kibum menepuk dadanya. Rasanya sesak dan sakit. Kenapa? Hanya karena Kyuhyun memilih pindah tempat duduk? Konyol sekali. Dia bahkan akan dengan senang hati mengusir orang yang duduk disampingnya. Tapi kenapa sekarang dia malah merasa kehilangan? Seolah dia yang sudah merasa lengkap kemudian merasa sebagian dari dirinya kembali hilang. Hanya karena Kyuhyun pindah tempat duduk? Konyol sekali!
"Kibum"
Tangan Tuan Kim ditepis Kibum. "Aku harus masuk kelas" kemudian tanpa menoleh sedikitpun pada Ayahnya, Kibum segera berlalu.
.
.
"Kyuhyun?" Kyuhyun yang tengah mencatat ulang soal dari buku paket didepannya mendongak, mendapati Jung ssaem tengah menatapnya. "Bisa tolong cari Kibum?"
Kyuhyun mengedarkan pandangannya kearah teman sekelasnya. Semuanya fokus mengerjakan tugas dari Jung ssaem. Kelasnya memang salah satu kelas unggulan di SM High School. Karenanya Kyuhyun tak boleh tertinggal, tak boleh bersantai jika tak mau tertinggal. Kemampuan keuangannya memang tak bisa dibandingkan dengan mereka semua, namun Kyuhyun selalu punya keyakinan kalau otaknya bisa disamakan dengan mereka.
Kyuhyun mendengus keras. Suasana kelas memang sunyi –terlalu sunyi, karena semua fokus mengerjakan tugas ditambah lagi dengan permintaan Jung ssaem tadi. Meski ada beberapa yang jelas-jelas pura-pura mengerjakan tugasnya sambil sesekali melirik pada Kyuhyun. Ahn Jaehyun contohnya.
"Dasar ketua kelas tidak bertanggung jawab" desis Kyuhyun dengan nada kesal yang kentara.
Namun anak itu kemudian berdiri, mengambil atensi sebagian temannya. Kyuhyun bahkan bisa melihat Junho cs sekarang memfokuskan pandangan padanya. Tatapan mereka seolah meremehkan sekaligus merasa kasihan. Ya. Kyuhyun tak bodoh. Dia tahu, memanggil Kibum sama saja membuang waktu. Siapapun tak akan berhasil membawa anak itu kembali ke kelas. Tak akan pernah berhasil. Kibum itu jenis anak keras kepala, dingin dan seenaknya sendiri. Dia tak akan masuk jika dia tak menginginkannya. Dan sialnya –ups, Jung ssaem memintanya memanggil Kibum.
"Saya keluar dulu ssaem" nadanya jelas tak rela, bahkan terselip harapan bahwa Jung ssaem kembali memintanya untuk duduk. Kalau tidak ingat Jung ssaem yang begitu peduli padanya, Kyuhyun akan dengan senang hati menodong Jaehyun untuk melakukan tugasnya sebagai ketua kelas.
Setelah menutup pintu sambil bersungut, Kyuhyun melangkahkan kakinya ke kantin sekolah. Siapa tahu Kibum sudah kelaparan, jadi memilih ke kantin dari pada masuk kelas. Namun tiba-tiba ada perasaan khawatir yang timbul dibenak Kyuhyun. Kyuhyun memang tak melihat Kibum kembali masuk kelas setelah mereka bertemu didepan ruang Kepala Sekolah.
"Ani. Dia tidak akan melakukan hal bodoh kan?" Kyuhyun sedikit memekik. Bagi seseorang yang sudah sering meminum obat penenang, dalam keadaan yang membuatnya tertekan sedikit, dia pasti akan kembali meminum obat itu. Dan Kyuhyun berdoa semoga Kibum tak sedang berbuat bodoh dengan melakukan itu.
Langkah Kyuhyun berganti menjadi lari. Dia memasuki kantin dan tak menemukan siapapun disana. Ups. Kyuhyun lupa, sekolah ini kan begitu ketat. Tak akan ada anak yang berani membolos di kantin. Jadi Kyuhyun segera berbalik arah. Otaknya mencoba mencari kemungkinan dimana tempat Kibum membolos. Dan dia menemukannya. Atap sekolah.
Kyuhyun terburu menaiki tangga menuju atap sekolah. Tempat itu jarang didatangi siswa –mungkin karena untuk kesana harus melewati toilet pria dan tangga yang digunakannya pun kotor. Dan melihat dari status sosial seluruh siswa di SM High School, Kyuhyun berani bertaruh itu jadi salah satu alasannya.
Dengan nafas yang memburu, Kyuhyun dengan sekali sentakan berhasil membuka pintu menuju atap sekolah. Dan seketika dia merasa kakinya seperti jelly. "Kibum?" panggilnya lirih dengan pandangan yang tiba-tiba mengabut.
.
.
Kyuhyun menundukan dirinya semakin dalam, mengabaikan suara Kepala Sekolah dan Jung ssaem yang tengah berdebat disampingnya. Ia tak dilibatkan dan tak mau terlibat.
"Kau mau kupanggilkan Dokter, Kyu?" Kyuhyun menggeleng. Kepalanya memang pusing, tapi lebih karena mendengar perdebatan keduanya. "Aku dan Kepala Sekolah akan ke depan sebentar" pamit Jung ssaem. Mungkin keduanya akan melanjutkan perdebatan panjang mereka –yang sejak memasuki mobil Kibum. Entahlah. Kyuhyun tak mau memikirkannya.
Kyuhyun meringis. Kibum pasti tak akan menyukainya nanti saat anak itu membuka mata dan menemukan bahwa dia berada di rumah sakit. Baiklah, Itu hanya asumsi Kyuhyun. Karena diapun begitu. Dia tak bersahabat dengan rumah sakit.
Sekali lagi Kyuhyun menghela nafas, bergidik kemudian ketika ingatannya membawanya kembali pada kejadian sejam lalu. Dia menemukan Kibum di atap sekolah dengan kondisi yang pernah menimpanya. Overdosis obat penenang. Nampaknya Kibum meminum beberapa obat sekaligus. Diam-diam Kyuhyun bersyukur karena Jung ssaem menyuruhnya. Kalau bukan dia, Kyuhyun jamin tak akan ada yang menemukan Kibum dan mungkin saja Kibum sudah—
"Tidak" anak itu menggelengkan kepalanya keras-keras, mengusir pikiran bodoh yang bergelayut disana.
Bunyi pintu yang dibuka membuat Kyuhyun buru-buru berdiri. Dokter dengan nametag Park Jungsoo memandangnya dengan alis bertaut. Kyuhyun memutar bola matanya malas sebelum berucap dengan nada malas yang kentara. "Keluarganya akan datang sebentar lagi. Saya temannya"
"Kalau begitu saya akan berbicara pada keluarganya nanti" Dokter Park hampir tertawa melihat pemuda didepannya menghela nafas dengan suara keras. "Kibum-sshi akan dipindahkan ke ruang rawat sekarang" katanya kemudian berlalu.
Tak lama, pintu UGD kembali terbuka. Bangsal Kibum didorong oleh dua orang perawat. Wajah Kibum benar-benar pucat. Menakutkan. Kyuhyun mengikutinya dalam diam. Anak itu sedikit menggerutu ketika tak menemukan Jung ssaem dan Kepala Sekolah diujung lorong. Kemana sih mereka?
Kibum dimasukan kedalam ruang rawat berlabel VIP. Kyuhyun sebenarnya tak perlu kaget melihat label yang tertera didepan pintu kamar rawat. Namun anak itu tetap saja bergumam kagum melihat isi ruang rawat Kibum. Ini bahkan lebih layak dibanding flat murahnya.
"Kalau ada apa-apa, silahkan tekan tombol disana" Kyuhyun mengangguk dan bergumam terimakasih pada dua perawat yang akhirnya berpamitan.
Kyuhyun tak mendekati Kibum. Anak itu memilih menyamankan dirinya disofa yang tersedia disana. Memejamkan matanya. Jujur saja beberapa hari ini dia kurang tidur. Dan kejadian-kejadian belakangan ini benar-benar menguras emosi, pikiran dan fisiknya. Bayangkan saja dia sok jadi pahlawan dengan menasehati Kibum untuk tak minum obat penenang –meski akhirnya Kibum tetap meminumnya hari ini, sok jadi pahlawan dengan mengkhawatirkan Junho yang jelas-jelas pembully-nya disekolah, bertemu Ayah Kibum dan membuka jati dirinya pada pria itu.
Suara pintu yang dibuka membuat Kyuhyun membuka pejaman matanya. Dan ketika sepasang manik Tuan Kim menatapnya, Kyuhyun kembali merutuki kerja jantungnya. Terlalu cepat, hingga ia merasa sesak.
Kyuhyun berdiri, menyambut meski anak itu tak mengatakan apapun. Tuan Kim sendiri berjalan cepat ke arah bangsal Kibum setelah melirik Kyuhyun. Kemudian Manager Han dan seorang wanita mengikuti Tuan Kim. Kyuhyun menganggukan kepalanya sedikit ketika Manager Han tersenyum padanya. Sedangkan pada wanita yang mengekor Tuan Kim dan Manager Han, Kyuhyun hanya membungkuk kecil.
"Saya akan keluar kalau begitu" ucap Kyuhyun pelan, sebenarnya ijin pada Manager Han yang berdiri tak jauh darinya. Ia sejak tadi diruangan Kibum karena Kepala Sekolah dan Jung ssaem tak kunjung kembali. Sekesalnya Kyuhyun pada Kibum, mana tega dia membiarkan Kibum sendirian.
Manager Han baru saja hendak menyahut ketika suara Tuan Kim mendahuluinya. "Kurasa kau perlu menjelaskan ini, Kyuhyun"
Kyuhyun mendengus tak suka. Dia tak suka dengan nada yang digunakan Tuan Kim yang seolah menyalahkannya. Hey, bukankah seharusnya Tuan Kim mengucapkan terimakasih padanya?
"Jung ssaem dan Kepala Sekolah akan menjelaskannya nanti" balas Kyuhyun acuh tak acuh.
Manager Han menahan diri untuk tak terkikik. Rasanya Kyuhyun satu-satunya orang yang berani menolak keinginan Tuan Kim. Berbeda dengan Manager Han, wanita disampingnya –Song Jihye, Ibu tiri Kibum nampak menautkan alisnya, meski tak bisa dia pungkiri ada perasaan kagum pada anak didepannya kini. Hey, seorang anak ini dengan berani menolak keinginan Tuan Kim!
"Kalian tunggu diluar" sebuah perintah mutlak.
Song Jihye mengangguk sebelum membalikan badan meninggalkan ruang rawat Kibum. Lagipula kalau Kibum tahu dia disana, anak itu juga tak akan suka. Jadi daripada membuat suasana menjadi semakin runyam, dia memilih keluar. Manager Han menyusul tak lama sambil menutup pintu ruang rawat Kibum.
"Dengar Tuan Kim" Kyuhyun melipat tangannya didepan dada, memilih memulai lebi dulu. Kepalanya pusing sejak tadi, ia kurang tidur dan sekarang terjebak lagi dengan Tuan Kim. Benar-benar hari yang buruk. "Saya hanya menemukan Kibum di atap dalam keadaan yang—" ucapan Kyuhyun menggantung. Anak itu nampak menghela nafas panjang sebelum menatap kembali Tuan Kim dengan mata memicing. "Apa anda benar-benar tidak tahu kalau Kibum mengkonsumsi obat penenang?"
Mata Tuan Kim melebar. Reaksi itu cukup bagi Kyuhyun untuk menyimpulkan bahwa memang Tuan Kim tak tahu perihal Kibum yang sering mengkonsumsi obat penenang. Dan soal tebakannya mengenai masalah keluarga juga sepertinya benar.
"Saya tahu seharusnya saya tidak boleh ikut campur. Hidup saya saja sudah susah, saya tidak seharusnya menempatkan diri saya sebagai perantara anda dengan Kibum" menghela nafas lagi, "Tapi melihat bagaimana sifat anda dan Kibum yang sama-sama sulit membuka diri, saya rasa saya perlu mengatakan ini" Kyuhyun tersenyum kecil –mengejek dirinya sendiri. Memangnya dia orang yang terbuka apa? Tidak. Tapi setidaknya Kibum punya Ayah yang peduli padanya sehingga seharusnya Kibum bisa membuka diri pada Ayahnya. Tidak seperti dirinya.
"Kibum tertekan. Saya rasa" Kyuhyun menggaruk belakang lehernya. Sok tahu. Dia mengomeli dirinya sendiri. "Kalau anda tanya mengapa saya tahu, maka jawabannya saya tidak tahu. Maksud saya. Saya hanya menebak" Kyuhyun berdecak kesal. Kenapa dia sulit sekali menjelaskan pada Tuan Kim sih?
Kyuhyun memilih menyerah menjelaskan. "Dokter Park Jungsoo menyuruh anda menemuinya. Saya rasa beliau bisa menjelaskannya lebih baik dari saya"
Tuan Kim menghela nafas. Pria itu menoleh pada Kibum, menggenggam tangan Kibum yang tidak diinfus. Kibum mengkonsumsi obat penenang selama ini dan dia tidak mengetahuinya. Bagus, dia gagal menjadi Ayah bagi Kibum. Anak itu pasti merasa tertekan karenanya. Karena dia yang selalu memaksakan kehendaknya perihal perusahaannya.
"Kibum-ah, maafkan Ayah" setetes air mata jatuh. Kyuhyun melihatnya, namun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika Tuan Kim menoleh padanya. Biar bagaimanapun tak ada yang mau terlihat lemah didepan orang lain. Dan Kyuyun juga yakin kalau Tuan Kim ingin tetap terlihat sebagai pria sekeras batu. "Aku akan menemui Dokter Park. Tolong jaga Kibum"
Kyuhyun sudah hendak protes ketika hanya dalam hitungan lima Tuan Kim sudah menghilang dibalik pintu kamar rawat Kibum.
"Wah, sifat Kibum benar-benar mirip Ayahnya" keluhnya dengan mata melotot kesal.
"Kuanggap itu pujian"
Kyuhyun mendelik kaget ketika mendengar sahutan. Dan ketika dia menoleh pada Kibum, temannya –kalau dia boleh memanggil begitu, sudah membuka matanya, bahkan menyunggingkan senyum miringnya.
"Terimakasih" sunggingan senyum miring itu perlahan terlihat tulus dimata Kyuhyun, membuat anak itu balas tersenyum miring. Keduanya saling pandang seolah tengah berbicara lewat mata mereka, seiring detak jantung keduanya yang berdetak tak beraturan namun kali ini dengan irama yang tak menyesakan seperti biasanya.
.
*TBC*
.
Halo aku balik lagi nih bawa Someone Like Me (Your Eyes). Ada yang masih nunggu? Atau udah bosan? Hehe
Wah makasih ya yang ngoreski kesalahan di chapter kemarin yang kebetulan gak aku baca ulang sebelum post. Tapi yang chapter sekarang aku baca ulang kok, dan kalo masih ada yang typo(s), mohon dimaklum yaa
Thanks banget sama sambutan kalian yang tetep hangat *eh apa nih* sama fanfic ini. Seriusan deh, fanfic super junior udah jarang, apalagi yang brothership/family. Jadi agak miris, huhu -_-
Btw udah pada tau kalo suamiku *baca Kyuhyun* dikonformasi wamil tanggal 25 Mei? Curhat boleh ya? Aku nangis masa pas baca beritanya. Akhirnya, bakal ditinggal 2 tahun sama Kyu hiks hiks
Buat yang nyempetin ninggalin jejak thanks banget. Yang masih jadi silent reader juga makasih banget. Semoga dengan adanya fanfic ini, nambah cinta kalian sama oppadeul suju ya terutama magnae kyukyu ^^
Oya jangan lupa tinggalin jejak kalian juga di chapter ini, biar aku semangat ngelanjutinnya ^^
Sampai jumpa di chapter atau fanfic lainnya ^^
Annyeong *bow*
