Title : Someone Like Me (Your Eyes)
Genre : Brothership, Family, Hurt
Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum
Rated : Fiction T
Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, OOC (Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it! Mind to RnR?
Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't copy paste without permission.
.
.
.
11
Kyuhyun masuk kedalam kelas dengan langkah lunglai. Tidak biasanya. Pikirannya masih dipenuhi oleh kejadian semalam. Ketika Ibunya untuk pertama kali memanggil namanya, namun bukan dengan nada hangat yang diidamkannya, tapi dengan nada yang tak pernah diinginkannya. Kyuhyun terluka tentu saja. Tapi yang membuatnya lebih terluka adalah untuk pertama kalinya, Ibunya yang kuat itu menangis didepannya. Tak ada isakan, hanya mata yang memerah dan air mata yang mengalir dipipinya –namun itu lebih membuat Kyuhyun terluka. Yang tidak Kyuhyun pahami adalah mengapa tatapan mata itu begitu terluka, seolah apa yang Kyuhyun lakukan –menerima kartu nama dari Kibum, adalah sebuah kesalahan besar. Tapi kenapa? Kenapa itu sebuah kesalahan besar?
"Kau jadi duduk denganku kan?"
Jonghyun menyambut Kyuhyun dengan senyum mengembang. Untuk pertama kalinya, anak itu berani menyapa Kyuhyun didalam kelas. Seolah itu sebuah kebiasaan, seolah dia melupakan masih ada peraturan kasat mata yang baru saja dia langgar. Seolah tatapan beberapa teman sekelas mereka tak membuat si penyendiri itu takut.
Tapi mengenal Kyuhyun, menyadarkan Jonghyun satu hal. Mereka punya hak yang sama di sekolah ini. Jadi untuk apa dia merasa takut? Orangtuanya pun bukan dari kalangan tak mampu. Kenapa dia selama ini selalu bersembunyi dari orang-orang yang dengan seenaknya merendahkannya karena penampilannya yang tak sekeren mereka?
Jonghyun itu tampan. Saat masih middle school dulu, dia termasuk idola para noona maupun hoobae. Terlahir dari keluarga berada ditambah sikapnya yang ramah menjadikannya murid kesayangan guru. Otaknya juga cerdas, tak kalah dari Kibum atau Jaehyun. Dia hanya mulai merasa minder melihat betapa berbedanya junior high school dan senior high school. Bukan hanya dia yang berasal dari keluarga terpandang dan berada, bukan hanya dia yang punya otak cerdas dan bukan hanya dia yang menjadi kesayangan guru. Ditambah betapa gilanya persaingan dikelasnya kini.
Kyuhyun untuk sesaat menjadi ragu. Padahal kemarin dia yang meyakinkan Jonghyun untuk bersedia duduk disampingnya, namun disisi lain dia membutuhkan waktu sendiri. Setidaknya hari ini. Lagipula sepertinya Kibum tak akan datang.
"Hari ini Kibum tidak akan datang" Kyuhyun menyahut dan Jonghyun bukan orang bodoh yang tak mengerti maksud Kyuhyun. Meski dia kecewa, namun sebuah senyum tersungging diwajahnya.
"Baiklah. Mungkin besok?"
Kyuhyun mengangguk kemudian langsung menuju mejanya. Dia menghela nafas berat. Tulisan dengan kalimat tak bermoral itu terbaca jelas. Kalau tidak punya sikap 'acuhkan saja', mungkin Kyuhyun sudah depresi dan kembali menelan obat penenang seperti Kibum. Bersyukurlah bahwa dia selalu memikirkan segalanya dengan kepala dingin.
Mengacuhkan kelasnya yang mulai ramai, Kyuhyun memilih merebahkan kepalanya diatas meja, menatap keluar jendela dengan pandangan mengosong.
.
.
"Jemput Kibum"
Dua kata itu mengakhiri pembicaraannya bersama sang istri. Tuan Kim menghela nafas panjang sambil mengurut keningnya. Dia salah. Dia selalu merasa bersalah jika memperlakukan wanita sebaik Jihye dengan acuh. Tapi Tuan Kim hanya tak mau memberikan harapan pada wanita itu. Karena selamanya, posisi wanita pertama dihatinya adalah dia. Cinta pertamanya. Ibu dari anak-anaknya.
Song Jihye hanya wanita tak beruntung. Dia hadir saat Tuan Kim diharuskan memiliki seorang pendamping agar proyeknya disetujui klien. Dan wanita tak beruntung itu bersedia membantunya dengan iming-iming imbalan yang tak bisa diberikan pria manapun. Cinta? Bukan. Tentu saja. Tapi kebutuhan hidup. Sesuatu yang orang cari dengan susah payah, dan Jihye dengan bermodalkan menjadi 'istri' Tuan Kim mendapatkan hanya dengan sekali kedipan mata.
Tuan Kim tahu Song Jihye bukan seperti wanita yang mulai mendekatinya karena hartanya. Dia wanita baik-baik, yang sialnya sedang butuh banyak uang ketika bertemu Tuan Kim. Karenanya, wanita itu bersedia menjadi 'istrinya'. Lagipula selama ini Tuan Kim tak dirugikan. Jihye melakukan tugasnya dengan baik, bahkan kadang ada klien yang datang karena mengenal Jihye dari istri mereka. Yang mungkin rugi adalah Jihye. Wanita itu tak pernah dianggap oleh Kibum. Tuan Kim sempat tertawa ketika tahu alasannya. Jihye terlalu muda untuk menjadi ibu Kibum.
Omong-omong soal pembicaraan mereka tadi, Kibum memaksa ingin keluar dari Rumah Sakit hari ini. Anak itu memang tak pernah bersahabat dengan rumah sakit, jadi keputusannya bukan hal yang mengejutkan. Masalahnya adalah, kondisinya belum bisa dikatakan baik. Karenanya dia meminta Jihye mengurus semuanya. Wanita itu, meskipun hanya bisa bertengkar dengan Kibum namun Tuan Kim tahu ada jiwa seorang Ibu pada diri Jihye. Wanita itu bisa mengurus kepulangan Kibum sementara dia mempersiapkan rapat hari ini.
30 menit lagi. Tuan Kim melirik arlojinya, belum sempat pria itu melonggarkan dasinya, telepon diatas mejanya berbunyi.
"Ya?" alis pria itu bertaut. "Kalau memang penting, suruh dia buat janji" menggeram kesal sebelum ditutupnya telepon itu sebelum sekretarisnya selesai bicara disebrang telepon.
Tuan Kim memejamkan matanya. Sepertinya tidur bukan hal buruk. Namun baru saja pria itu hendak terlelap, pintu ruangannya terbuka dengan suara keras. Kemudian suara sekretarisnya terdengar meminta si pembuat gaduh keluar. Namun tak ada jawaban dari si pembuat gaduh membuat Tuan Kim akhirnya membuka pejaman matanya. Dan sosok didepannya benar-benar membuat kantuknya hilang.
"Cho Sunyoung?!"
.
.
Kibum menatap tak bersahabat pada sosok yang kini tengah tersenyum, ani, menyeringai padanya. Sosok yang paling tidak diharapkannya disini. Bagaimana mungkin Ayahnya menyuruh wanita ini yang mengurus kepulangannya?
"Kemana Manager Han?"
Jihye lebih melebarkan seringainya. Untuk pertama kalinya, sejak menikah dengan Tuan Kim, Kibum mengajaknya berbicara lebih dahulu. Juga, untuk pertama kalinya Kibum menatapnya setajam itu. Karena biasanya anak itu hanya melengos jika melihatnya –menganggapnya angin lalu, menatapnya datar atau bahkan menatap tak minat padanya. Jadi bolehkan Jihye senang? Bolehkan Jihye bilang ini sebuah kemajuan?
"Kenapa kau tidak menghubunginya sendiri?"
Kibum rasa kesabarannya selalu habis jika berhadapan dengan wanita didepannya. Entah bagaimana, rasanya Kibum tak pernah bisa sabar didepan Jihye. Wanita ini selalu punya cara membuatnya naik darah, entah itu menyunggingkan seringai –yang sama seperti Kibum, atau hanya bertanya padanya dengan gaya friendly atau menggunakan kalimat gaul yang hanya digunakan oleh anak-anak seusia Kibum. Entah bagaimana Ayahnya memilih wanita yang bahkan usianya hanya terpaut 12 tahun dari Kibum sebagai istrinya. Kibum bahkan seharusnya masih pantas memanggilnya noona.
Tentu saja Jihye punya poin bagus. Kibum tak memungkirinya. Dibalik sifat menyebalkannya yang menurut Kibum sering menghabiskan uang Ayahnya, Jihye adalah sosok yang kadang membuat beberapa rival keluarganya merasa ciut hanya dengan tatapan mengintimidasi dan ucapannya yang dingin dan menusuk. Sebenarnya, Jihye adalah versi Kibum dalam hal sikap jika berhadapan dengan rival keluarganya. Kibum mengakuinya.
"Infusnya akan dicabut, tapi akan dipasang lagi saat kau sampai rumah" Kibum mendengus, memilih mengabaikan Jihye yang mulai membereskan pakaiannya dari dalam lemari. Wanita itu tak harus melakukan sebenarnya, Kibum bisa saja menghentikannya, namun dia memilih diam.
Pertemuan pertama Kibum dengan Song Jihye adalah ketika Ayahnya dengan tiba-tiba mengenalkan Jihye sebagai calon istrinya pada acara makan malam dengan beberapa relasi bisnisnya. Kibum hampir saja tersedak, beruntunglah dia selalu memasang wajah datar, jadi keterkejutannya tak terbaca relasi bisnis Ayahnya. Sehingga mereka menyangka bahwa dia sudah mengenal baik si calon Ibu tirinya.
Kibum tak masalah jika Ayahnya menikah lagi. Dia cukup dewasa untuk mengetahui jika seorang pria haruslah punya pendamping, apalagi dalam kehidupan yang dijalaninya. Yang Kibum permasalahkan adalah bagaimana Ayahnya akan menikah dengan seorang yang masih bisa dia panggil noona?
"Tak memberitahu 'teman'mu kalau kau pulang sekarang?"
Mereka sudah duduk berdampingan didalam mobil yang berjalan menuju kediaman Kim. Kibum melirik mendengar nada yang digunakan Jihye ketika mengatakan kata teman. Seolah wanita itu tengah mengejeknya. Entahlah, Kibum seharusnya marah. Namun dia hanya kesal, tak lebih dari itu.
"Berisik" geramnya.
"Aku hanya mengingatkan, Kibum" mata Jihye memandang malas pada Kibum. "Kau benar-benar depresi, huh?" ketika Kibum akhirnya menoleh padanya, Jihye segera memasang senyum menyebalkan. "Apa yang membuatmu depresi Kibum? Kau punya semua yang orang tak punya. Kekuranganmu hanya bahwa kau punya Ibu tiri yang kadang dianggap noona, dan keadaanmu yang selalu menutup diri" Kibum diam saja, namun tatapan matanya menajam. "Jangan egois. Kau tahu, Ayahmu bekerja siang malam untuk menjaga tempat yang akan kau tempati dari orang-orang yang bisa saja mengambilnya sebelum kau sampai disana. Dan dia hanya memintamu beberapa kali menghadiri rapat untuk mewakilinya karena sejujurnya saat itu kondisinya tak baik –ah, kau tak tau kan?"
Jihye kembali menatap lurus kedepan. "Dia hanya memintamu bersiap, bahwa mungkin dia akan mempercepat kau menjadi CEO Kim Group. Apa itu sulit, Kibum?"
"Kau tak tahu" dari sekian banyak bantahan yang ingin dilontarkan Kibum, hanya kalimat itu yang keluar. Karena nyatanya semua ucapan Jihye menyentil pemikirannya. Egoiskah dia?
"Karena kau tak memberitahuku, tentu saja aku tak tahu perasaanmu"
"Hidup sebagai Kim Kibum benar-benar sulit. Semua menggunakan topeng dengan baik, sampai aku tidak tahu siapa yang benar-benar tulus padaku" Kibum menghela nafas, pandangannya menerawang. "Kau benar. Aku egois. Tapi aku hanya anak 17 tahun yang ingin menikmati hidup seperti anak seusiaku; berjalan-jalan, nonton film, bermain ke taman hiburan dan melakukan banyak hal dengan teman-temanku. Tapi dengan menyandang gelar pewaris tunggal Kim Group, membuatku tak memiliki siapapun yang bisa kulabeli 'teman', teman yang benar-benar seorang teman"
Jihye tidak tahu hidup Kibum sesulit itu. Kibum yang selama ini dikenalnya adalah Kibum yang menutup diri, yang tak membiarkan siapapun tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Kibum yang terlihat kuat dan tak peduli siapapun. Kibum yang dilihatnya adalah Kibum yang sama seperti Tuan Kim. Dia lupa. Kibum tumbuh hanya dengan seorang Ayah yang menghabiskan waktunya mengurus perusahaan. Kibum tumbuh dikelilingi orang yang tak tulus. Kibum yang dia kenal, bukan Kibum yang sebenarnya.
"Kau tak tahu sulitnya menjaga perasaanku agar tak menelan ejekan mereka dibelakangku. Kau tak tahu sulitnya ingin berbagi tapi tak ada yang bisa dipercayai"
Song Jihye memeluk Kibum. Reflek. Dan anehnya Kibum tak menolak. "Kau punya Kyuhyun sekarang. Ceritakan semua padanya" Jihye tak menjanjikan bahwa dialah yang bisa menjadi tempat Kibum berbagi. Dia sudah terlalu jauh dari Kibum, memulaipun rasanya akan sedikit canggung. Jadi Jihye akan memberikan tempatnya untuk Kyuhyun.
Kibum mengangguk kecil. Untuk pertama kalinya dia merasakan perasaan nyaman ketika berada didekat ibu tirinya. Benar. Sepertinya dia hanya tak terlalu mengenal Jihye. Mungkin, jika dia sedikit mengenal Jihye lebih baik, dia bisa melihat lebih banyak point bagus yang Ayahnya lihat pada diri Jihye. Biarlah, untuk kali ini dia ingin merasakan pelukan dari Ibunya melalui Jihye.
.
.
Kalau tidak ingat hari ini Ryeowook ijin tak masuk, Kyuhyun akan memberanikan diri meminta ijin pada Shin ahjusshi untuk ijin tak masuk. Dia butuh istirahat. Tapi bahkan tak ada Ryeowook saja sudah sesibuk ini, bagaimana mungkin dia ikut ijin? Shin ahjusshi mungkin tak masalah, beberapa pekerja juga, tapi tetap saja Kyuhyun tak enak. Dia ingat bagaimana baiknya Shin ahjusshi padanya.
"Ada yang mencarimu" seorang pelayan menepuk pundak Kyuhyun setelah memberikan daftar pesanan pada Daniel. Kyuhyun sendiri sedang menunggu pesanan untuk meja nomor 12.
"Siapa?" seingat Kyuhyun –selain Junho, dua orang yang belakangan ini mengekornya –Jonghyun dan Jaehyun, tak tahu dia bekerja part time di cafe ini. Dan Kyuhyun selalu berdoa agar dua orang itu tak pernah tahu. Rasanya cukup dia diganggu disekolah saja, jangan sampai setengah hari tenangnya diganggu mereka lagi. "Yang tempo hari menyewa cafe?"
"Bukan"
Kyuhyun mengedikan bahunya sambil mengangkat nampan berisi pesanan meja nomor 12. "Dimana?"
"Diluar"
Sambil membawa nampan pesanan, mata Kyuhyun melirik ke luar pintu cafe. Seorang wanita –Kyuhyun bisa menebak karena orang itu mengenakan dress hitam selutut, tengah membelakanginya. Sambil menebak siapa yang tengah mencarinya, Kyuhyun meletakan pesanan di meja nomor 12 sebelum berjalan ke luar cafe.
"Siapa?"
Wanita itu menoleh, tersenyum sumringah begitu melihat Kyuhyun tampak tengah mengingat-ingat wajahnya. "Bisa kita bicara?"
Kyuhyun menggeleng tanpa ragu. "Aku sedang bekerja"
"Aku akan menunggu. Jam berapa kau selesai?"
Kyuhyun mengernyit, lalu melipat tangannya didepan dada. Dia pernah melihat wanita ini, tapi dimana?
"Aku Ibunya Kibum" wanita itu, Song Jihye, rasanya geli sendiri mendengar dia memperkenalkan dirinya sebagai Ibu Kibum. Tapi melihat reaksi pemuda didepannya lebih membuatnya terhibur. Mata bulat itu melebar sebentar sebelum kembali menatap datar padanya.
"Lucu sekali, kemarin Ayahnya Kibum, sekarang Ibunya" gumaman bernada menyindir itu membuat Jihye tersenyum miring. Dia seolah melihat Kibum yang lain. "Saya selesai tengah malam. Jadi, karena saya tak mungkin membuat wanita menunggu, lebih baik Anda pulang saja" sebuah penolakan yang tak akan Jihye terima jika dia mengunjungi teman Kibum yang lain. Namun Jihye tersenyum mendengar Kyuhyun menggunakan kalimat formal padanya, yang artinya meskipun anak itu tampak tak sopan namun attitude sebenarnya bisa Jihye nilai baik.
"Karena kau tahu aku Ibunya Kibum, kau tahu kan kalau aku tidak suka ditolak" sebuah seringai familiar dimata Kyuhyun tercipta diwajah wanita itu. "Saya akan menunggu didalam" kemudian berjalan melewati Kyuhyun yang mendengus keras melihat kelakuan Jihye.
"Mereka benar-benar mirip"
.
.
"Dimana Hana?"
Kalimat pertama setelah lebih dari 20 menit terkurung dalam keheningan itu disambut senyum sinis si wanita. Cho Sunyoung sebenarnya tak pernah mau berhadapan lagi dengan pria nomor 1 adiknya ini kalau saja pria ini tak memberi akses dia untuk datang. Cho Sunyoung masih ingat betapa terpuruknya adiknya ketika pria ini menceraikannya –atau belum? Entahlah. Bahkan sampai sekarang Sunyoung enggan membahas itu. Mau adiknya masih menyandang gelar Nyonya Kim ataupun tidak, tak akan merubah apapun.
"Aku sudah memperingatkanmu, Kim" nada suaranya masih tak bersahabat, seperti dulu. "Jangan mengusik kami lagi"
Tuan Kim mengerutkan kening. Dia tak merasa mengusik Hana dan Sunyoung. Dia bahkan terus mencari Hana selama ini dan tak pernah mendapatkan hasilnya. Hana seolah hilang ditelan bumi, tanpa jejak. Jadi bagaimana dia mengganggu mereka?
"Kami berada diusia pernikahan yang rawan, noona"
"Jangan memanggiku begitu!"
Tuan Kim menghela nafas, "Aku masih muda, naif dan tak tahu bahwa duniaku dipenuhi manusia yang ingin menjatuhkanmu. Aku terperdaya"
"Saat kau menikahi adikku, kau berjanji mempercayainya, Kim!"
Pernikahan Hana dan Tuan Kim dilandasi cinta –beda kasta. Namun mereka mendapat dukungan dari keluarga Tuan Kim karena Hana memiliki otak cerdas dan sikapnya yang tenang, sesuatu yang awalnya dinilai bisa mengimbangi Tuan Kim yang ambisius dan tak sabaran.
"Tapi kau bahkan membiarkannya pergi bersama putranya –putramu, membiarkannya merindukannya putranya sendiri. kau berjanji mempercayainya Kim, tapi hanya dengan sekali tuduhan tak berdasar kau membiarkannya menderita. Tidak. Kau membiarkan kedua putramu menderita"
Semua yang dikatakan Sunyoung benar. Tuan Kim mengakuinya. Dia yang naif dan ambisius telah membuatnya kehilangan 2 orang spesial dalam hidupnya. Tuan Kim pernah berpikir dia akan gila jika saja Kibum tak bersamanya. Dia mengingkari janjinya, dia melukai wanita nomor satunya.
"Dimana Hana?"
"Kau tak akan pernah menemuinya lagi" Tuan Kim tahu, meski nada yang digunakan Kakak Iparnya ini begitu penuh kebencian, namun ada nada kesedihan yang bisa dia rasakan. Benar. Dia mengenal Cho Sunyoung dengan baik, sebaik dia mengenal Cho Hanna.
"Maksud Noona?"
Sunyoung berdiri dengan gerakan kasar. Dia datang kemari bukan untuk membicarakan hubungan Hanna dan pria ini. Dia datang untuk memperingatkan pria ini untuk meninggalkan Kyuhyun. Benar. Kyuhyun. Meski dia selalu merasa benci setiap kali melihat manik mata Kyuhyun –yang sialnya diwarisi dari pria didepannya ini. Namun Kyuhyun tetaplah keponakannya yang sudah dia janjikan akan dia jaga didepan mendiang adiknya. Meski dia selalu berharap Kyuhyun pergi saja dari kehidupannya yang berantakan –mencari kehidupan yang lebih baik, namun Sunyoung tak akan rela Kyuhyun bersama pria ini. Pria yang sudah menghancurkan kehidupan adiknya –Ibu Kyuhyun, kehidupan Kyuhyun dan saudaranya. Sunyoung tak rela.
"Jauhi Kyuhyun" alis Tuan Kim bertaut. "Aku benar-benar memperingatimu untuk pertama dan terakhir kalinya, Kim. Jangan menyentuh Kyuhyun-ku. Jauhi dia! Jangan pernah masuk dalam kehidupannya!"
Setelah mengatakan itu, Sunyoung langsung pergi. Meninggalkan Tuan Kim yang masih mencoba menyusun potongan puzzle dikepalanya.
.
"Kyuhyun hanya tinggal bersama Ibunya. Tapi—"
Tuan Kim yang menerima draft lengkap tentang Kyuhyun itu menatap manik bawahannya. "Kenapa?"
"Ibunya seorang pekerja di klub malam. Namanya Cho Sunyoung"
.
"Jadi tolong jangan mengganggu Ibuku, jangan mengganggu kami"
.
"Jauhi Kyuhyun"
.
"Aku benar-benar memperingatimu untuk pertama dan terakhir kalinya, Kim. Jangan menyentuh Kyuhyun-ku. Jauhi dia! Jangan pernah masuk dalam kehidupannya"
.
Kumpulan puzzle itu perlahan mulai tersusun. Tuan Kim tak pernah mengenal orang dengan nama Kyuhyun selain Kyuhyun teman Kibum. Dia juga tak pernah ingin mendekati teman Kibum kecuali Kyuhyun. Jadi Tuan Kim mengambil kesimpulan, Kyuhyun yang dibicarakan Sunyoung adalah Kyuhyun yang itu, Kyuhyun teman Kibum.
Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Cho Hanna. Cho Sunyoung.
"Dia menggunakan marga keluarga Cho"
*TBC*
Halo, apa kabar?
Siapa yang udah nunggu fanfic ini? Hehe
Mudah-mudahan masih ada yang setia nunggu yaa
Gimana, apa tebakan kalian bener soal status sodara Kyu sama Bum? Secepatnya fanfic ini bakal selesei, dan saya udah bikin (sebenernya coretan kasarnya doang) fanfic baru lagi buat gantiin fanfic ini dg judul sementara –I Am– buat nemenin para sparkyu nunggu Kyu balik wamil. Sekalian melestarikan fanfic SJ yang udah jarang muncul di ffn.
Buat fanfic lainnya kayak Missin' U, My Brother sama Our, saya udah mulai nulis lagi. Tapi berhubung sampai akhir taun bakal sibuk, jadi gatau kapan seleseinya. Tapi saya pastiin semua fanfic ini bakal saya selesein. Cuma semoga kalian tetep mau nunggu ya.
Kemaren ada yang nanya apa akun di wattpad dengan uname sama kaya ffn punya saya apa bukan, saya jawab iya. Saya juga punya akun wattpad lainnya buat ngepost cerita fiksi yang bukan fanfic.
Btw, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun lalu.
Trus, happy 11th debut anniversary buat my chokyulate. 27 Mei 2006, officially dia debut bareng suju. Jaga kesehatan dicamp sana, jangan sampe sakit, dan buat dua tahun kedepan, dia bakal jadi Cho Kyuhyun, cuma Cho Kyuhyun tanpa embel-embel SJ.
Sampe ketemu dichapter selanjutnya (yang entah kapan update-nya) btw ^^
Annyeong *bow*
