Title : Someone Like Me (Your Eyes)

Genre : Brothership, Family, Hurt

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum

Rated : Fiction T

Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, OOC (Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it! Mind to RnR?

Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't copy paste without permission.

.

.

.

12

Kyuhyun terpaksa ijin pulang lebih awal ketika melihat Ibu tiri Kibum masih setia duduk disalah satu kursi disudut cafe. Padahal jam sudah hampir menunjukan tengah malam. Baiklah, harusnya Kyuhyun tidak peduli. Harusnya. Karena nyatanya dia sesekali mencuri pandang ke arah wanita itu ketika melayani beberapa tamu. Bagaimanapun Kyuhyun menghormati wanita itu sebagai Ibu temannya. Meskipun dia tak peduli dengan pandangan Kibum jika Kibum tahu dia membuat Ibunya menunggunya –hanya karena ingin bicara dengannya, Kyuhyun tetap merasa tak enak.

"Kau selalu pulang selarut ini?" ada nada yang membuat Kyuhyun merasakan jantungnya diremas. Nada cemas yang seharusnya digunakan Ibunya jika tahu dia kadang pulang menjelang pagi.

Kyuhyun mengabaikannya. Tidak sopan memang. Tapi Kyuhyun lebih tak mau wanita yang kini tengah berjalan beriringan dengannya mendengar suaranya yang tercekat.

"Hei, aku bertanya padamu"

"Hm"

Sebuah jawaban singkat yang membuat Jihye merasa ada sesuatu yang menghantam jantungnya. Sakit. Dia jadi ingat masa mudanya yang juga memaksanya bekerja hingga menjelang pagi. "Dimana kita akan bicara?" tanyanya mengganti topik pembicaraan karena nampaknya Kyuhyun tak suka dia banyak bertanya tentang hidup anak itu –meskipun sesungguhnya Jihye merasa benar-benar penasaran dengan kehidupan Kyuhyun.

Kyuhyun melirik sekilas, sebelum berbelok masuk kedalam kedai yang menjual berbagai kudapan tengah malam. Dia memilih duduk disalah satu kursi disana dan Song Jihye mengikutinya. Wanita itu tampak tak terlalu peduli dengan tatapan beberapa pengunjung padanya dan harus Kyuhyun akui, Kyuhyun menyukai sifat wanita ini.

"Jadi, apa yang mau anda bicarakan?" Kyuhyun memulai, dia sebenarnya ingin cepat pulang.

"Soal Kibum" Kyuhyun menoleh, tapi tampaknya Jihye masih sibuk memilih kudapan didepannya. "Dia sudah diperbolehkan pulang. Aku baru saja menjemputnya"

Alis Kyuhyun naik sebelah, "Maaf, tapi saya rasa itu tidak ada hubungannya dengan saya" Kyuhyun merasa konyol dengan ucapan Jihye –alasan Jihye memaksa berbicara dengannya. Sungguh, dia tak harus tahu kan?

Jihye menoleh setelah memesan dua piring kaki babi pedas. "Kau temannya. Jadi kau harus tahu" Kyuhyun merasa dia tengah berbicara dengan Kibum versi wanita. Jihye benar-benar sosok bebal sok tak tahu maksud ucapannya. "Besok mampir juga tak apa-apa. Sudah tahu alamat rumah kami kan?"

Kyuhyun memutar bola matanya malas. "Saya bukan teman Kibum. Saya hanya orang yang kebetulan duduk disamping Kibum. Saya pikir anda salah paham"

"Kalau bukan Kibum yang bicara, aku juga tak akan percaya" Jihye balas memutar bola matanya dengan ekspresi malas. "Dia itu akan yang dingin, tapi bukan berarti tak mau berteman. Kibum hanya berhati-hati karena hidupnya berbeda dari kebanyakan anak seusianya" pandangan Jihye menerawang, mengingat kejadian yang baru beberapa jam berlalu, saat Kibum untuk pertama kalinya mengutarakan apa yang dirasa anak itu padanya.

"Dia tumbuh sebagai pewaris tunggal Kim Group dengan dikelilingi banyak orang yang berusaha menjatuhkannya. Dia tumbuh dengan membentengi dirinya dengan sikapnya yang sedingin es dan egois, hingga sulit bagi orang lain untuk menyentuhnya. Sulit baginya percaya pada orang lain" kemudian Jihye menoleh pada Kyuhyun. "Tapi mengenalmu membuat Kibum ingin membuka diri"

"Kenapa?"

Kyuhyun tak menemukan alasan mengapa Kibum ingin membuka diri karena mengenalnya. Bahkan kesan pertemuan pertamanya dengan Kibum tak ada bagus-bagusnya. Belum lagi sikap yang Kyuhyun tunjukan pada Kibum ataupun sebaliknya. Mereka jelas bukan orang yang saling bergantung satu sama lain, seperti seorang teman. Meskipun akhir-akhir ini –mau tidak mau Kyuhyun harus mengakuinya, Kibum seakan selalu menjadi bentengnya didepan Junho and the gank. Meski dengan cara yang membuat Kyuhyun mencap itu untuk kepentingan Kibum sendiri. Tapi, Kyuhyun harus mengakuinya. Kibum membantunya.

"Karena kau berbeda. Kau tidak pernah memakai topeng baik saat bersama Kibum, kau menjadi dirimu sendiri. Dan karenanya Kibum juga bisa menjadi dirinya sendiri"

Sudut bibir Kyuhyun naik sebelah, "Darimana dia tahu?" tanyanya.

"Sudah kubilang, hidup Kibum dikelilingi orang yang menggunakan topeng baik untuk pelan-pelan menjatuhkannya. Dia bisa membedakanya, Kyuhyun"

Kyuhyun tak menyahut. Namun dia yakin kehidupan Kibum terlalu kompleks dan Kyuhyun tak menyukainya –karena kehidupannya juga kompleks. Anak itu mulai memakan kudapan yang dipesan Jihye ketika akhirnya pelayan mengantarkan pesanan Jihye. Kyuhyun tak suka pedas. Tidak. Dia tak bisa makan pedas. Karenanya, anak itu langsung mendelik pada Jihye –tak peduli kalau itu tindakan yang tidak sopan, ketika berhasil menelannya.

"Anda mau membunuh saya?" desisnya. Namun mata anak itu memerah, menahan pedas.

Jihye tertawa kecil, tak merasa tersinggung dengan pertanyaan sakratis anak didepannya. Ingat kalau dia sudah biasa menghadapi Tuan Kim dan Kibum yang punya sifat tak jauh beda dari Kyuhyun? Jihye sudah kebal. Jadi yang dilakukan wanita itu adalah menyodorkan segelas air putih kedepan Kyuhyun yang langsung diterima Kyuhyun sambil menggerutu kesal.

"Ini pesananmu, Kyu" Jihye mendorong sepiring kaki babi tak pedas kedepan Kyuhyun dan menarik sepiring lainnya kedepannya.

Kyuhyun mendadak beku. Panggilan Jihye begitu –bagaimana Kyuhyun menggambarkannya? Mendebarkan, sekaligus mencubitnya. Panggilannya seolah mereka telah lama kenal, tanpa kecanggungan. Kyuhyun menyukainya, dan seketika bayangan Ibunya yang menatapnya dengan tatapan penuh luka itu membuat Kyuhyun memejamkan matanya.

"Benar-benar pedas ya?" lagi-lagi nada yang digunakan Jihye mencubit Kyuhyun –nada cemas.

Kyuhyun menggeleng, "Tidak" helaan nafas panjang Kyuhyun sebelum membuka matanya kembali. "Kami benar-benar tak berteman" Kyuhyun jujur soal ini. Mereka hanya sekali pergi bersama karena harus mengerjakan tugas bersama, saling menemukan rahasia masing-masing. Tak lebih dari itu.

"Kalau aku tak melihatnya sendiri, mungkin aku juga tak akan percaya" Kyuhyun mengernyit tak paham. "Bagaimana mungkin orang setegas Manager Han, sekeras suamiku dan secuek Kibum menyukaimu? Maksudku, seperti bertemu orang yang tepat?" Kyuhyun makin tak paham.

"Tapi bertemu denganmu hari ini, aku pikir aku juga merasakannya" pandangan Jihye melembut. "Kau berbeda"

"Berbeda?"

"Kau tidak seperti kebanyakan orang yang kami –aku temui. Kau menolakku dengan tegas meski aku mengenalkan diri sebagai Ibu Kibum. Kau membawaku ke kedai ini meski kau tahu aku Nyonya Kim. Kau tetap bertingkah seperti dirimu sendiri meski kau tahu didepanmu, aku, mungkin dengan mudah akan membalikan kehidupanmu jika kau menyinggung perasaanku" Jihye tersenyum, "Jadi kurasa aku tahu kenapa Kibum ingin membuka diri padamu, kenapa dia merasa tertekan ketika Ayahnya seolah membuat batas antara kalian yang pelan-pelan sudah dia singkirkan"

Pandangan Kyuhyun menerawang. Dia tidak sedang mencoba mengambil hati Keluarga Kim. Sungguh. Dia hanya merasa tak perlu berhubungan dengan keluarga-keluarga orang kaya dan kemudian mereka memanggilnya parasit. Kyuhyun tak mau seperti itu.

"Saya tersanjung" namun nada yang digunakan Kyuhyun terlalu datar, sehingga Jihye tak bisa menebak apa yang dipikirkan anak didepannya. "Kami hanya berbagi satu rahasia" tambahnya, mengingat Kibum-lah orang pertama yang melihat bagaimana rupa Ibunya, bagaimana Ibunya pulang dalam keadaan mabuk. Dan dia adalah orang pertama –aku Kibum, yang mengetahui bahwa Kibum mengkonsumsi obat penenang.

"Kibum anak baik. Kalau dia mau sedikit lebih ramah, dia akan jadi teman yang bisa diandalkan" Kyuhyun menatap tepat pada manik mata Jihye, mengingatkan Jihye pada sepasang manik suaminya saat pertama kali pria itu mengatakan akan melamarnya. Tajam dan menghipnotis. "Tapi betapapun saya mau menjadi teman Kibum, saya tidak bisa"

Alis Jihye bertaut, "Kenapa?"

"Saya tidak suka suami anda mengganggu hidup saya dan Ibu saya"

Song Jihye menghela nafas. Tuan Kim terlalu menyayangi Kibum. Pria keras kepala itu ingin mengganti hari-harinya yang hilang bersama Kibum dengan membuat Kibum mendapatkan teman yang tulus. Tapi bagi Jihye cara itu salah. Kibum lebih tau mana yang tulus dan tidak. Anak itu bisa mendapatkan teman tanpa bantuan Jihye ataupun Tuan Kim. Baiklah, paling tidak Jihye tahu bahwa suaminya yang dingin dan keras kepala itu begitu peduli pada Kibum.

"Saya pastikan suamiku tidak akan mengganggu kehidupan pribadimu"

Kyuhyun terkekeh, "Beliau tidak akan membiarkan saya mendekati Kibum"

"Kenapa?" setahu Jihye, Tuan Kim menyukai Kyuhyun. Tak ada 'teman' Kibum yang sampai dikenali Tuan Kim seperti Kyuhyun. Ya. Mungkin karena nama anak ini sama dengan dia, tapi terlepas dari itu, Jihye yakin Tuan Kim menyukai pertemanan Kibum dan Kyuhyun.

Ada tatapan keingintahuan yang melindungi pada sepasang manik Jihye. Dan Kyuhyun memilih mempercayainya. "Pekerjaan Ibu saya" ada jeda, Kyuhyun memilih membuang muka. Dia tidak malu, hanya tak suka melihat reaksi yang akan ditunjukan wanita semacam Jihye atas perkataannya setelah ini. "Beliau bekerja di klub malam"

Jihye tak bisa menyembunyikan kekagetannya. Hei. Dia merutuki reaksinya yang langsung tersedak setelah mendengar ucapan Kyuhyun. Jihye yakin anak ini sudah menduga reaksinya, hingga memilih membuang muka. Berdehem sekali, Jihye kembali memandang lurus pada Kyuhyun. Anak seusia Kibum itu masih menatap kearah lain dengan pandangan menerawang. Entah apa yang tengah dipikirkannya. Jihye penasaran.

"Aku akan tetap bicara pada suamiku. Tenang saja, aku pastikan suamiku tidak akan menyentuh kau dan Ibumu"

Kyuhyun merasa menjadi orang jahat sekarang ketika perasaan iri itu perlahan merasuki hatinya. Dia iri pada Kibum yang punya Jihye disampingnya, yang siap mengabulkan apapun asal Kibum senang. Kyuhyun iri pada Kibum karena Jihye terlihat begitu menyayangi Kibum. Harusnya dia tidak boleh begitu kan?

"Kenapa anda melakukan ini?"

"Kibum" jantung Kyuhyun serasa diremas. Sesak. Dia benar-benar iri huh?

Jihye tersenyum kecil ketika pandangan Kyuhyun sudah kembali padanya. Tatapan mata Kyuhyun yang seperti Tuan Kim itu membuat Jihye merasakan kehangatan merasuki hatinya. Aneh memang. Terlalu cintakah dia pada Tuan Kim? Sampai tatapan mata anak didepannya ini serasa tatapan mata Tuan Kim?

"Kibum sedang butuh orang yang bisa jadi sandarannya"

"Kenapa aku? Dia punya anda dan Tuan Kim"

Jihye terkekeh mendengar Kyuhyun masih tetap bertanya. Kyuhyun memang bukan anak biasa. Seharusnya raksi Kyuhyun sekarang adalah melebarkan matanya sambil mengulum senyum –seperti para 'teman' Kibum jika diberi kesempatan berdekatan dengan Kibum. Tapi Kyuhyun berbeda. Anak ini malah bertanya alasannya, sesuatu yang bisa membuatnya menerima permintaan Jihye.

"Terlalu banyak alasan Kyu. Kalau kau bersedia menjadi sandaran Kibum, perlahan kau akan tahu"

"Nyonya Kim" Jihye tak bisa menyembunyikan senyumnya mendengar Kyuhyun memanggilnya dengan marga Kim. Entah kenapa. Padahal dia sering mendengar orang-orang memanggilnya dengan panggilan itu. Tapi rasanya tak sama seperti saat ini. Rasanya seperti –diterima?

"Ada satu alasan lagi kenapa aku tak bisa meskipun aku mau" jeda. "Ibuku tak menyukai kalian" pikiran Kyuhyun melayang pada kejadian kemarin malam.

Jihye sendiri hanya menautkan alisnya dengan raut bingung. Namun meskipun dia mendesak Kyuhyun untuk menjelaskan, anak itu tetap bungkam –menganggapnya bagai tembus pandang, seperti yang selalu dilakukan Kibum. Bahkan sampai Kyuhyun mengantarkannya ke mobil jemputannya, anak itu tetap tak mengacuhkannya. Jadi jangan salahkan Jihye jika sekarang dia semakin penasaran pada Kyuhyun.

.

.

Kyuhyun kembali tak menemui Ibunya pagi itu. Semalam dia juga tak mendapati Ibunya dirumah. Setelah kejadian itu, Ibunya seolah menghindarinya dan itu membuat perasaan Kyuhyun semakin kacau. Kyuhyun lebih suka kalau Ibunya memasang wajah jutek asal beliau masih berada disekitar Kyuhyun, masih bisa Kyuhyun lihat dua kali dalam sehari.

Kyuhyun merasa bersalah meskipun masih tak paham dimana letak kesalahannya. Tapi sebagai anak, dia bertekad akan meminta maaf. Juga soal permintaan Jihye untuk berada disisi Kibum, Kyuhyun mendadak galau. Hei, bagaimanapun dia merasa tak enak pada Jihye. Bukan karena Jihye adalah istri pemilik Kim Group, tapi karena Jihye adalah seorang Ibu yang dengan tulus meminta bantuan padanya.

"Pagi-pagi sudah melamun" Kyuhyun melirik Jaehyun yang sudah mensejajari langkahnya. Ketua kelasnya itu tersenyum sumringah ketika pandangan mereka bertemu.

"Apa musim dingin sudah berganti menjadi musim panas?" Kyuhyun bertanya sarkas. Meskipun menjadi satu-satunya yang berani berkomunikasi dengan Kyuhyun, namun Jaehyun tak pernah seceria dan seramah hari ini. Jadi tak salahkan kalau Kyuhyun menyindirnya?

"Aku sedang berjuang tahu" tuh kan. Sepertinya kepala Jaehyun terbentur.

"Siapa gadis tak beruntung itu?" Kyuhyun meliriknya malas-malasan.

Jaehyun menatap Kyuhyun lama sebelum tawanya pecah, jenis tawa yang mau tak mau membuat Kyuhyun ikut tersenyum. Tawa yang sebenarnya membuat Kyuhyun iri. Dia tak pernah bisa tertawa selepas itu.

"Jangan bilang kau mengira aku mau menyatakan cinta" tebaknya. Kyuhyun mengangguk. "Ya ampun, Kyu. Aku belum berpikir sampai sana. Mungkin kau pikir ku aneh, tapi sungguhan aku terlalu sibuk dengan sekolahku dan belum siap berbagi dengan wanita manapun –kecuali Ibuku"

Kyuhyun mengangguk malas. Kyuhyun tahu. Anak-anak dikelasnya hampir seluruhnya terlalu sibuk dengan dunia mereka untuk persiapan masa depan mereka. Kyuhyun maklum, mereka anak para direktur yang harus siap kapan saja menggantikan ayah mereka. Jaehyun mungkin seperti itu juga.

"Jadi?"

"Kau"

"Hah?" seperti orang bodoh Kyuhyun menoleh dengan wajah terkejut yang kentara, sebelum beringsut menjauhi Jaehyun. Reaksi yang langsung disambut tawa Jaehyun sebelum anak itu menggoyangkan tangannya didepan dada, "Bukan seperti itu" belanya sambil mencoba menahan tawa. Kata yang digunakanya terlalu ambigu sih tadi.

"Aku sedang berjuang membawamu masuk klub jurnalistik" lanjutnya, membuat wajah Kyuhyun kembali datar. "Bagaimana?"

"Dia akan ikut klub basket" ini suara Junho yang entah sejak kapan sudah mensejajari langkah Kyuhyun dan Jaehyun. Anak itu berjalan disebelah kiri Kyuhyun sambil melempar pandangan ramah pada Kyuhyun.

Kyuhyun mendengus tak suka ketika Jaehyun dan Junho saling pandang dengan tatapan yang tak mau Kyuhyun pahami. Karena jujur Kyuhyun merasa dia seperti seorang gadis yang diperebutkan dua pria sekarang.

"Begini" Kyuhyun menghentikan langkahnya, dia menatap Junho dan Jaehyun bergantian. "Aku masih belum memutuskan, dan aku akan sangat berterimakasih jika kalian berhasil membantuku membujuk ssaem agar membiarkanku tak memilih satupun eskul" Kyuhyun jujur soal ini. Dia bahkan lupa kalau akhir minggu ini dia sudah harus memilih eskul.

Kemudian sebelum keduanya bereaksi, Kyuhyun segera berlalu. Diam-diam Kyuhyun tersenyum kecil. Harus Kyuhyun akui, kehadiran dua orang itu berhasil membuat moodnya membaik.

"Kyuhyun" entah bagaimana bentuk senyum yang Kyuhyun pasang diwajahnya kini ketika mendapati satu orang lagi yang 'mengganggu' ketenangannya.

"Hai" terlalu datar, tapi toh Jonghyun, ya orang itu Jonghyun, tetap memamerkan senyumnya, membuat beberapa pekikan terdengar.

Kyuhyun melirik keluar jendela kelas dan mendapati segerombolan hoobae yang tengah cekikikan sambil melihat ke arah Jonghyun. Ya. Jonghyun. Yang sekarang sedang menjadi fokus para hoobae itu adalah Jonghyun. Meskipun tak kentara, namun Kyuhyun dengan sangat penasaran menatap Jonghyun penuh selidik.

Jonghyun masih seperti Jonghyun yang dia temui kemarin. Ah, tidak. Jonghyun tidak menggunakan kacamata tebalnya hingga menampilkan sepasang maniknya yang menawan. Seragamnya masih rapi, hanya entah mengapa tak terlihat seculun biasanya. Kini sosok Jonghyun menjelma menjadi sosok yang lain, yang lebih percaya diri.

"Wah sepertinya musim panas datang lebih cepat"

Jonghyun terkikik mendengar sindiran yang keluar dari mulut Kyuhyun. Sungguh, kalau tidak tahu sifat Kyuhyun mungkin kini Jonghyun sudah berakhir mengutuki perubahan drastis yang dia lakukan hari ini. Terimakasih pada Jonghyun yang kemarin bersedia mendengarkannya dan membantunya membeli soft lens sehingga dia tak perlu menggunakan kaca matanya lagi.

"Begitu?" tanyanya bodoh. "Jadi duduk denganku?"

Kyuhyun melirik meja milik Kibum dan mejanya sebelum mengangguk pada Jonghyun.

.

.

Kibum meletakan smartphone-nya sembarangan sebelum melangkah keluar kamar sambil mendorong tiang infusanya. Sungguh, kalau tidak ingat ancaman Ayahnya soal menambah pengawal yang harus mengikutinya 24 jam, Kibum sudah pastikan dia tak harus mendorong tiang sialan ini. Tapi Kibum lebih sayang kebebasannya, sungguh. Jadi biarlah dia sekarang seperti ini.

"Hai Kibum?"

Kibum tak tahu pasti bagaimana sebenarnya hubungannya dengan Jihye setelah kejadian kemarin. Meski masih bersikap acuh pada Jihye, namun disudut hatinya, Kibum rasa dia mulai menyukai Jihye.

"Hm" Kibum menarik kursi di meja makan, memperhatikan Jihye yang sedang makan siang. Sudah dua hari ini wanita itu lebih memilih berada dirumah, entah kenapa. Meski sejujurnya hati Kibum merasa itu bentuk perhatian Jihye padanya.

"Sudah makan siang?" dulu, kalimat semacam ini akan Kibum anggap sikap sok perhatian Jihye padanya. Namun kini berbeda, entah mengapa itu terdengar hangat dan memperhatikan. Bahkan meski wanita itu menanyakannya tanpa menatap Kibum.

"Hm"

"Ayahmu belum keluar kamar sejak pulang semalam" Kibum menaikan sebelah alisnya. "Dia tak masuk ruang kerja. Hanya dikamarnya" jalas Jihye dengan sepasang mata yang menatap Kibum dengan ekspresi yang ingin Kibum tertawai.

"Kau pikir Ayah ada masalah?"

"Memang kau tidak?" Jihye balik bertanya dengan nada kesal. bukan soal pertanyaan Kibum, namun dari cara Kibum memanggilnya. 'kau'. Entah mengapa dia merasa kesal sekarang, padahal biasanya dia cuek saja dipanggil Kibum begitu.

"Ayolah, kita sama-sama kenal Ayahmu. Bahkan saat sakitpun dia lebih memilih mengurung dirinya diruang kerja"

Kibum membenarkan. Dia menoleh kearah kamar Ayahnya. Sejak Kibum pulang dari rumah sakit, Kibum memang tidak bertemu dengan Ayahnya. Pria itu hanya menghubungi Kibum saat Kibum dalam perjalanan sambil mengancam Kibum. selebihnya tak ada interaksi apapun. Padahal biasanya sedingin apapun hubungan mereka, Ayahnya paling tidak akan menunjukan wajahnya saat makan malam.

"Dia bertemu seseorang sebelum seperti ini" adu Jihye. Sekarang Kibum mulai berpikir kalau Jihye lebih mirip sesaeng fans ayahnya. "Tapi aku tak tahu siapa"

Jihye tentu saja mencoba mengorek informasi saat mendapati suaminya pulang dalam keadaan yang tak biasa. Maksudnya, pria itu bahkan tak menyapanya. Mungkin itu alasan konyol. Tapi seumur menjadi suaminya, Tuan Kim tak pernah tak menyapanya –bagaimanapun kondisi pria itu. Jihye tahu, itu cara pria itu menghormatinya.

Jadi tentu saja Jihye penasaran. Salahkan saja jiwa detektif Jihye yang suka muncul seenaknya. Namun sepertinya suaminya itu lebih pintar karena menutup semua kases bertanya Jihye dikantor. Tak ada yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan untuk Jihye. Dan karena masih penasaran, Jihye akhirnya menyinggung ini pada Kibum. dibandingkan dia, Kibum tentu punya akses lebih dikantor. Kibum punya Manager Han yang berpihak padanya. Tidak. Jihye tidak sedang memanfaatkan Kibum. Dia hanya penasaran dan siapa tahu Kibum juga penasaran sehingga memutuskan mencari tahu siapa yang ditemui suaminya.

"Nyonya, ada seseorang yang mencari Tuan Muda didepan" Bibi Song menyadarkan Jihye. Wanita itu menautkan alisnya. Siapa yang berani bertamu ke kediaman Kim?

"Siapa?" itu suara Kibum. Dia merasa tak memiliki seseorang yang akan berkunjung ke kediamannya. Teman sekelasnya sekalipun. Kibum tahu seberapapun mereka ingin mendatangi kediamannya, mereka tak akan datang. Kediaman Kim bukan rumah yang mudah didatangi orang asing. Mungkin terdengar berlebihan, tapi memang begitu.

"Ini tamu kalian" suara Manager Han membuat Kibum dan Jihye menoleh. Dan kedua pasang mata itu benar-benar melebar ketika mendapati siapa yang berdiri disamping Manager Han. "Saya membawanya masuk karena dia 'teman' Kibum" Manager Han meringis ketika Kibum menatapnya kesal begitu dia menyebutkan kata teman dengan penekanan. "Saya permisi kalau begitu" kemudian setelah mengatakan itu, Manager Han berlalu. Kibum dan Jihye tak perlu bertanya. Memang apa alasan Manager Han datang kalau bukan untuk menemui Ayahnya?

"Hai Kyuhyun" alis Kibum naik sebelah mendengar Jihye bersikap sok kenal pada Kyuhyun. Ayolah, bahkan Kibum tak pernah melihat Jihye bertemu dengan Kyuhyun. Mungkin mereka bertemu dirumah sakit? batin Kibum menjawab sendiri.

"Hallo Nyonya" Kyuhyun membungkuk sedikit, sedikit mendengus ketika melihat Nyonya Kim menyunggingkan senyum miring.

"Kemari. Aku sedang makan siang. Kau sudah?"

Kyuhyun mengangguk lalu menarik tubuhnya ke arah sepasang ibu anak itu. Dia menarik kursi disamping Jihye. "Keliatannya kau cukup parah" komentar Kyuhyun ketika menyadari ada tiang infus disamping Kibum.

Jihye terkekeh sedangkan Kibum mendelik sambil mendengus tak suka. Lihatkan, bahkan hanya dengan pertanyaan sarkas itu Kibum menunjukan dirinya yang sebenarnya. "Ya. Hanya dalam pikiran Ayahku" jawabnya. "Kenapa kemari?" Kibum benar-benar merutuki pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Sungguh. Dia senang Kyuhyun datang, namun reaksi yang ditunjukannya seolah berkebalikannya. Kibum tak paham mengapa dia begitu.

"Rasanya tak sopan kan kalau seseorang yang duduk disampingku sakit dan aku tak menjenguknya" Kibum mendesah lega. Dari jawaban Kyuhyun, Kibum yakin Kyuhyun tak tersinggung dengan pertanyaannya. Sementara Jihye diam-diam mengulum senyum.

"Apa yang kau bawa?" Jihye menyukai interaksi ini. Seolah dia tengah menghadapi dua putranya yang sedang bertengkar. Entah mengapa. Dia hanya merasa terhibur sehingga tak ada niatan menginterupsi percakapan keduanya.

"Semangka"

"Aku baru tahu kalau menjenguk orang sakit sambil membawa semangka"

Kyuhyun memutar bola matanya malas. Itu bukan untukmu! Ingin sekali Kyuhyun berteriak begitu. Karena nyatanya dia memang membelinya untuk dirinya sendiri. tapi karena Kibum melihatnya membawa kantung keresek dan mengira itu bingkisan untuk Kibum, dia merelakan semangkanya untuk Kibum. Kurang baik apa Kyuhyun pada Kibum? Dan sialnya Kibum malah menyindirnya.

"Kalau kau tak suka, itu bisa buat Ibumu"

"Boleh?" Jihye refleks bertanya.

"Enak saja. Itu untukku" Kibum menatap sengit Jihye.

"Kau bilang tidak mau"

"Kapan aku bilang begitu?"

Jihye mendengus kesal. Wanita itu kembali sibuk dengan makan siangnya. Sebelum menoleh kearah suara langkah kaki yang terdengar seperti berlari. Alis wanita itu naik sebelah ketika mendapati suaminya akhirnya keluar dari kamar. Pria itu sudah berdiri tak jauh dari meja makan dengan raut yang tak bisa dijelaskan. Bahkan Kibum dan Kyuhyun saling pandang dengan alis bertaut.

"Kyuhyun?"

"Oh, hallo Tuan Kim?" Kyuhyun membungkuk kecil. Ingatkan dia untuk memprotes Jihye setelah ini karena memberikan informasi yang salah. Tuan Kim sudah ada dirumah!

"Aku yang mengundangnya" Jihye berbicara. Dia tidak bisa menebah raut wajah suaminya. Apa itu senang atau kesal. Tapi terakhir kali dia ingat Kyuhyun mengatakan kalau suaminya tahu Ibu Kyuhyun bekerja di klub malam.

Kibum ikut berdiri. Ingatkan dia untuk berterimakasih pada Jihye yang mau membela Kyuhyun. "Dia hanya mengunjungiku" Kibum ikut menyuarakan pembelaannya.

Kyuhyun sendiri malah meringis. mungkin sebentar lagi akan ada pertengkaran di keluarga ini. Dan itu gara-gara dia. Harusnya dia menghubungi Jihye dan memastikan bahwa Tuan Kim benar-benar tidak berada dirumah sebelum datang tadi.

"Kalau begitu saya—"

Mata Kyuhyun melebar ketika ucapannya terpotong karena Tuan Kim sudah menubruknya, memeluknya begitu erat, seolah dia seseorang yang begitu dirindukan pria itu. Dan Kyuhyun tak menyukainya, karena jantungnya berdetak terlalu cepat, berdentum menyakitkan sekaligus menyenangkan. Reaksi yang sama saat Kibum menatap tepat pada manik matanya.

Bukan hanya Kyuhyun yang kaget. Bahkan Manager Han, Jihye dan Kibum juga kaget. Namun tak ada yang berani bersuara, membiarkan kebingungan menguasai mereka.

"Akhirnya aku melihatmu, Kyu-ie" bisik Tuan Kim ditelinga Kyuhyun.

Dan deguban jantung Kyuhyun kembali menggila. Panggilan itu terdengar familiar. Tapi siapa yang memanggilnya dengan panggilan manis itu sebelumnya? Siapa? Diantara keheningan itu Kyuhyun mencoba membongkar memorinya, mencari sosok itu. Dan dia menemukannya. Suara seorang wanita. Lembut, menenangkan dan melindungi.

"Ibu menyayangimu, Kyu-ie"

Mata Kyuhyun terpejam erat. Ibu. Itu kau kan?

*TBC*

Halo semuanya ^^

Akhirnya saya balik lagi. Ada yang masih nunggu fanfic ini?

Yang masih setia nunggu, makasih yaa hehe

Seperti janji saya, fanfic ini bakal tamat bentar lagi, juga saya gatau kapan bisa update. Jadi kalo ada yang minta ASAP, saya bakal bilang sekarang, saya gak bisa. Kerjaan didunia nyata banyak banget. Saya masih harus benerin revisian sidang proposal kemarin dan persiapan buat KKN. (btw thank buat yang doain kelancaran siding psoposal saya)

Btw bentar lagi idul fitri, dan karena saya yakin banget gak bisa update lagi setelah update chapter ini, saya mau ngucapin maaf lahir batin. Maaf kalo selama ini banyak ngasih janji palsu (#eaa), maaf kalo ada kata-kata saya yang nyinggung kalian semua. Semoga setelah idul fitri nanti, kita jadi manusia yang lebih baik lagi. Amiin.