Title : Someone Like Me (Your Eyes)
Genre : Brothership, Family, Hurt
Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum
Rated : Fiction T
Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, OOC (Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it! Mind to RnR?
Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't copy paste without permission.
.
.
Makasih buat 94squads a.k.a Fitri dan Bita yang selalu ngasih aku semangat buat ngelanjutin fanfic juga nyemangatin pas aku sidang, kalian ter-love deh * emoji love *
buat kak Anisah, El, Kak Yola (kemaren sedih katanya gak aku sebutin) serta semua member GC SJ di WA. maaf aku gak sering nongol disana. pasti banyak member baru ya.
terspesial untuk Ryeowook yang baru nyelesein wamilnya (meski dia gak nongol disini ya) juga Heechul dan Leeteuk yang baru ulang tahun (gak tega aku nyebut umur mereka). Juga buat Kyuhyun yang kemaren baru update twitter dan langsung bikin kangen * peluk Kyukyu* juga Kibum yang entah ada dimana. (Aku harap banyak dapat kabar soal Kibum.)
.
.
13
Sore itu, sepulang dari kediaman Kim, Kyuhyun menemukan Ibunya dirumah. Sejenak, anak itu melupakan kejadian aneh yang menimpanya dikediaman Kim. Kyuhyun berjalan cepat seolah jika dia mengurangi kecepatannya Ibunya akan menghilang.
"Ibu?" panggilnya seolah memastikan begitu sampai didepan pintu.
Cho Sunyoung membeku beberapa detik sebelum membalikan badan untuk melihat sosok itu. Kyuhyun tengah tersenyum padanya –jenis senyum yang selalu diberikan anak itu tiap kali menyapanya, senyum yang kembali mengingatkan Sunyoung pada sosok adiknya.
Wajah Kyuhyun tirus dan pucat. Sungguh berbeda dengan bayi yang dibawa adiknya malam dingin itu, bayi dengan pipi chubby yang memerah karena terkena udara dingin. Dia telah melewatkan pertumbuhan bocah itu hingga menjadi anak setampan ini. Dan Sunyoung menyesal.
"Ibu sudah pulang?" pertanyaan yang diajukan Kyuhyun itu terdengar ganjil, bahkan ditelinga Sunyoung sendiri. Namun Sunyoung tak bisa memungkiri, itu pertanyaan yang benar. Bahkan matahari belum menghilang, bagaimana dia sudah berada didalam rumah dan menyibukan dirinya ditempat yang bertahun-tahun tak disentuhnya –dapur?
"Kau sudah pulang?" mengalihkan pandangannya pada sosok Kyuhyun, Sunyoung kembali sibuk memotong sayuran dengan gerakan kaku. Dia meringis, itu interaksi terbaiknya dengan Kyuhyun. Tanpa ada dengusan tak suka dan bantingan pintu.
Kyuhyun senang bukan kepalang mendengar pertanyaannya dijawab Ibunya meski dengan pertanyaan lagi, namun dia hanya bergumam sebagai jawaban atas pertanyaan Ibunya. Dia tidak mungkin melompat atau bahkan memeluk Ibunya kan? Meski sejujurnya itu yang ingin dia lakukan sekarang.
"Biar aku saja. Ibu pergilah istirahat" tak butuh waktu lama, sosok Kyuhyun sudah berdiri disamping Sunyoung. Tinggi badan Kyuhyun sungguh menakjubkan. Ya, tentu saja. Darah yang mengalir pada tubuh Kyuhyun adalah darah pri itu. Batin Sunyoung menggumam.
Tangan pucat Kyuhyun cekatan meraih sayuran yang belum dipotong kasar oleh Sunyoung, membawanya ke wastafel. "Ibu harus mencucinya sebelum memotongnya" komentarnya dengan nada geli. Hei, Ibunya bahkan tak berkata ketus padanya. Bukankah Kyuhyun harus senang?
"Tak ada yang mau kau katakan padaku?"
Sunyoung mengalah, membiarkan Kyuhyun mengambil alih tugasnya. Lagipula dia sudah lama tak memasak, jadi dia tak yakin akan jadi apa masakannya nanti. Sepasang matanya yang kini tak memakai soft lense memperhatikan gerakan tangan Kyuhyun yang cekatan memotong sayuran terhenti. Kemudian, sepasang mata warisan pria itu menatapnya dengan tatapan bersalah.
"Aku minta maaf"
Bukan itu! Batin Sunyoung membantah. Namun tak mengatakan apapun.
Sunyoung ingin Kyuhyun mengangkapkan betapa tidak bahagianya hidupnya bersama Sunyoung. Sunyoung mau Kyuhyun berkata jujur betapa dia merasa tertekan hidup bersamanya. Meski jawaban semacam itu, mungkin akan membuatnya terluka dan semakin merasa bersalah. Tapi—bukan sebuah permintaan maaf yang bahkan tak harus keluar dari mulut Kyuhyun. Anak itu tak bersalah. Sunyoung-lah yang selama ini terlarut dalam keterpurukannya sendiri. Sunyoung lupa ada seseorang yang dititipkan padanya dan harus dia jaga dengan baik. Sunyoung terlalu mencintai Hana, sehingga kehilangan satu-satunya keluarganya itu membuat hidupnya berantakan.
"Kenapa?"
Kyuhyun meletakan pisau kemudian menghadapkan tubuhnya pada Sunyoung. Sejujurnya, ini kali pertama Kyuhyun melihat Ibunya tanpa menggunakan make up, tanpa mengenakan soft lens, dan ini adalah wajah tercantik Ibunya. Jadi diam-diam Kyuhyun merekamnya dalam ingatannya.
"Selama ini Ibu selalu mengabaikanku, dan kemarin untuk pertama kalinya, aku melihat Ibu menangis didepanku. Yang kulakukan sangat melukai Ibu, kan?"
Sunyoung menggeleng cepat. Sungguh. Sunyoung tak pernah berpikir kalau hanya dengan melihatnya menangis, Kyuhyun akan begitu merasa bersalah.
"Kenapa tidak pergi saja dari rumah ini?" sejak dulu Sunyoung selalu ingin tahu alasan Kyuhyun bertahan bersamanya. Padahal Sunyoung yakin, Kyuhyun dapat hidup dengan baik jika pergi dari rumahnya.
"Ibu?!"
"Aku bersikap buruk padamu!" bentak Sunyoung. "Kenapa masih bertahan denganku?"
Kyuhyun memejamkan matanya, menahan perasaan marah yang menggerogoti pikirannya atas pernyataan Sunyoung. Bohong kalau dia tak pernah berniat pergi meninggalkan rumah ini, meninggalkan Ibunya. Tapi sekali lagi, Kyuhyun bersyukur dia selalu bisa mengontrol diri dan selalu berpikir dengan kepala dingin. Daripada mengikuti kata hatinya, dia lebih mempercayai logikanya. Kyuhyun percaya Ibunya suatu saat nanti akan menoleh padanya. Dan Kyuhyun berharap hari itu adalah sekarang.
"Karena anda adalah Ibuku"
Dada Sunyoung berdenyut nyeri. Jawaban anak didepannya ini begitu polos. Betapa hanya karena alasan polos itu Kyuhyun masih bertahan bersamanya. Anak ini, keponakannya ini, kenapa dia baru menyadari bahwa sifat adiknya menurun kepada Kyuhyun? Kenapa selama ini dia menutup mata dan hanya melihat bahwa darah yang mengalir pada tubuh Kyuhyun adalah milik pria bermarga Kim itu tanpa mengindahkan bahwa sebagian diri Kyuhyun adalah warisan Hanna?
.
.
Kyuhyun tidak pernah bangun tidur dalam keadaan lebih baik dibandingkan pagi ini. Kejadian semalam saat dia untuk pertama kalinya makan berdua dengan ibunya dimeja makan kecil mereka masih terus berputar diingatannya. Bahkan beberapa kali dia mencubiti pipinya sendiri, meyakinkan kejadian yang dia alami adalah nyata dan bukan mimpi.
Jam masih menunjukan pukul 5 pagi ketika Kyuhyun akhirnya melangkah keluar kamar sambil membawa handuk. Anak itu menautkan alisnya ketika melihat sang Ibu sudah menyibukan diri didapur, entah membuat apa.
"Ibu?" panggilnya membuat sosok sang Ibu tersentak kaget. "Apa yang sedang Ibu lakukan?"
Sunyoung mendengus mendengar pertanyaan Kyuhyun. Kesakratisan Kyuhyun sungguh benar-benar mirip pria bermarga Kim itu. Menyebalkan. Dia memang tidak pernah terlihat didapur selama Kyuhyun beranjak remaja, tapi bukan berarti aneh melihatnya berada disana.
"Apa itu bisa dimakan?" Kyuhyun melongok dibalik punggung Sunyoung.
"Maksudmu?" Sunyoung menoleh dengan wajah kesal yang kentara. Wanita itu tak tahu Kyuhyun begitu tergelitik untuk tersenyum lebar begitu melihat raut wajahnya yang berbeda dari biasanya.
"Ibu mandi saja. Biar aku yang buat sarapan" Kyuhyun memilih tak melanjutkan. Dia buru-buru mendorong Ibunya menjauh dari depan kompor. Kyuhyun tidak mau keracunan. Melihat bagaimana bentuk dan warna telur mata sapi yang berada diatas wajan, dia tak yakin dia tak akan sakit perut.
Sunyoung mendengus, namun kembali menyerah. Dia bahkan tadi berniat membuangnya sebelum suara Kyuhyun berhasil mengagetkannya. Jadi setelah menghela nafas, Sunyoung segera meninggalkan dapur untuk kembali masuk kedalam kamar. Namun sebelum sempat masuk kedalam kamar, dia kembali menoleh, tersenyum tulus ketika melihat punggung Kyuhyun. Andai saja dia lebih cepat membuka diri. Betapa bahagianya hidupnya.
.
.
Kibum berdehem pelan, meminta atensi Ayahnya yang entah mengapa pagi ini terlalu fokus pada sepiring nasi goreng dipiringnya dibandingkan mengomentari bagaimana Kibum akhirnya sudah tak menggunakan infusnya. Jihye sendiri sudah pergi. Pagi tadi, ketika Kibum baru bangun, wanita itu sudah berpakaian rapi. Entah akan kemana. Kibum rasa itu bukan urusannya.
Kembali pada Ayahnya yang kini akhirnya mengangkat wajahnya untuk menatap Kibum, Kibum bisa melihat kantung mata Ayahnya menghitam, wajah Ayahnya juga sedikit lebih pucat.
"Ayah sakit?"
Tuan Kim tersenyum kecil sebelum menggeleng, "Tidak"
"Wajah Ayah pucat. Apa ada masalah?" Kibum itu bukan anak yang perhatian, tapi hari ini entah mengapa dia begitu perhatian pada Ayahnya. Biasanya bahkan ketika salah seorang maid melapor padanya bahwa Ayahnya tak keluar dari kamarnya, dia cuek saja. Tapi sejak perbincangannya dengan Jihye semalam, dia jadi memikirkannya juga. Siapa yang ditemui Ayahnya?
Tuan Kim kembali menggeleng, "Tidak"
Kibum meletakan sumpirnya dengan sedikit keras. "Aku tahu ada yang Ayah sembunyikan. Dan kalau Ayah tidak mau memberitahunya padaku sekarang, aku tetap akan mengetahuinya, secepatnya"
Tuan Kim menghela nafas, ikut meletakan sendok ditangannya yang bahkan belum menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya. Benar, Kibum cepat atau lambat akan mengetahuinya. Anaknya ini, entah sudah berapa orang didalam perusahaan yang sudah berada dipihaknya. "Temui Ayah setelah sarapanmu selesai"
Setelahnya, Tuan Kim berdiri, berlalu masuk kembali kedalam ruang kerjanya.
.
.
Sunyoung menautkan alisnya begitu ia yang baru keluar kamar dan mendapati Kyuhyun sudah berpakaian rapi. Padahal dia hanya meninggalkan Kyuhyun untuk mandi dan berganti pakaian, dan dia yakin itu tak menghabiskan waktu setengah jam. Jadi dengan kerutan yang semakin banyak, Sunyoung berjalan mendekati Kyuhyun yang sibuk mengunyah sarapannya sambil memakai dasinya.
"Ini masih pagi" dari sekian banyak pertanyaan yang berkumpul dikepalanya, kalimat itulah yang berhasil keluar dari mulut Sunyoung. Wanita itu mendudukan dirinya dikursi yang satunya dengan pandangan mengarah pada Kyuhyun. Sejujurnya dia kecewa karena Kyuhyun tak menungguinya untuk sarapan bersama.
Kyuhyun tersenyum lebar, "Aku harus mengantar pesanan susu kepada pelanggan sebelum ke sekolah" dan kemudian senyumnya menghilang ketika menyadari wajah Sunyoung yang mengeruh. Ia salah bicara. "Aku berangkat dulu, Bu" Kyuhyun lebih suka menghindar sekarang.
"Apalagi selain sebagai pengantar susu?" Sunyoung bertanya dengan suara tercekat. Perasaan bersalah menggerogotinya begitu dia mengetahui bahwa Kyuhyun bahkan harus bekerja. Ah benar, selama ini, selama dia dibutakan oleh kebencian pada sosok keponakanannya ini, siapa yang menanggung biayanya kalau bukan Kyuhyun sendiri?
Sunyoung berdiri, mendekati Kyuhyun yang mendadak terdiam kaku. Sebenarnya Kyuhyun sudah berniat jujur pada Ibunya mengenai pekerjaan yang dilakukannya semalam. Namun melihat betapa bahagianya wajah Ibunya dia jadi tidak tega merusaknya dengan cerita menyedihkannya. Lagipula, Kyuhyun melakukannya dengan suka rela. Awalnya dia memang terpaksa, namun kemudian menjadi sesuatu yang menyenangkan. Dia mendapat banyak pelajaran hidup dari banyak pekerjaan yang dia ambil.
"Pakai dasimu dengan benar" tangan Sunyoung membenarkan posisi dasi yang dipasang Kyuhyun secara asal. Sunyoung tak butuh jawaban Kyuhyun, karena sesungguhnya itu pertanyaan untuk dirinya sendiri. "Hati-hati dijalan"
Kyuhyun mengangguk kaku sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Sunyoung.
.
.
Kibum mengedarkan pandangannya didalam ruang kerja sang Ayah. Terakhir kali Kibum masuk ruang kerja Ayahnya adalah saat dia dijemput Manager Han setelah kabur hanya untuk kerja kelompok bersama Kyuhyun.
Ah iya Kyuhyun. Bagaimana kabar anak itu? Setelah Ayahnya dengan sangat anehnya tiba-tiba memeluk Kyuhyun, anak itu tak banyak bicara. Bahkan buru-buru pamit pulang dengan alasan yang Kibum tahu itu berbohong. Ibuku sudah menunggu dirumah. Kalau Kibum tak pernah datang kerumah Kyuhyun dan mendapati kenyataan kehidupan anak itu, dia pasti akan percaya seperti halnya Jihye dan Ayahnya yang mengangguk maklum –meski gurat tak rela masih dilihat Kibum. Dasar pembohong yang buruk.
Ngomong-ngomong soal ruang kerja Ayahnya. Tak ada yang berubah. Atau, Kibum memang tak pernah memperhatikan secara detail bagaimana keadaan ruang kerja sang Ayah. Entahlah. Tapi suasana dan bau khas wewangian yang tercium disana masih sama, masih menenangkannya. Bahkan bunga lily hidup itu –yang Kibum lihat sejak kecil, masih berada disana, ditempatnya, didekat jendela.
Kibum tak harus menyebutkan ada berapa lemari bersisi buku-buku tebal dan berkas yang entah apa. Sejujurnya, itulah alasan Kibum malas jika Ayahnya memanggilnya ke ruang ini. Kibum memang tidak membenci tumpukan buku itu, namun bukan berarti dia menyukainya. Kibum sudah dikelilingi buku dikamarnya, dan dia tak harus melihat tumpukan buku ditempat lain kan?
Kegiatan Kibum terhenti ketika akhirnya Ayahnya kembali dengan membawa kotak didekapannya yang diambilnya dari lemari yang terkunci. Ukurannya sekotak mainan mobil-mobilan Kibum waktu kecil dulu. Menegakan posisi duduknya, Kibum memperhatikan Ayahnya membuka kotak itu dengan sebuah kunci.
Tuan Kim tak mengeluarkan apapun, hanya memandang dengan tatapan sedih kedalam kotak itu sebelum menghadapkan kotak yang terbuka itu pada Kibum. Bagaimanapun Kibum harus tahu, karena yang dicarinya selama ini sudah dia temukan. Meski tak tahu bagaimana caranya dia mendekati mereka setelah ini.
Kibum melongok kedalam kotak itu, mengambil sebuah foto berbingkai dari sana. Ada sepasang suami istri dan dua bayi dalam foto itu, dimana sepasang suami istri itu masing-masing menggendong bayi. Kibum mengenali pria dalam foto itu dan seorang bayi dalam gendongan si wanita. Itu Ayahnya dan dia sendiri.
"Ayah ini—"
"Itu foto keluarga kita. Kau selalu menanyakannya kan?" Tuan Kim memotong. Pria itu memilih menyandarkan punggungnya pada kursinya yang nyaman sebelum memandang ke langit-langit ruangan dengan pandangan menerawang. Siap bercerita. "Ayah, kau, Ibu dan saudara kembarmu"
Dada Kibum bergemuruh mendengar jawaban Ayahnya. Jadi selama ini dia punya saudara? Saudara kembar?! Dan apa ini wajah Ibunya?
"Itu foto pertama dan satu-satunya yang kupunya. Karena setelahnya, Ayah membuat sebuah kesalahan besar. Ibumu dan saudara kembarmu harus meninggalkan kita" Kibum masih tak bersuara, masih menanti penjelasan lainnya dari Ayahnya. "Menjadi keturunan Kim benar-benar menjengkelkan. Aku hanya pemuda biasa yang jatuh cinta pada gadis semenyenangkan Ibumu. Aku menjanjikan banyak hal indah padanya, yang bersedia mengikat janji suci bersamaku –dengan segala macam syarat yang diajukan Ayahku dan ditentang saudara Ibumu. Tapi seperti yang kau tahu, menjadi seorang Kim selalu dikelilingi penjilat yang memakai topengnya dengan baik" tawa miris terdengar. Kibum tak pernah mendengar Ayahnya tertawa seperti itu. karena sejujurnya, dialah yang sering tertawa seperti itu. "Sampai tahun kedua pernikahan kami, aku merasa begitu lengkap dengan kehadiran kalian. Aku lupa, ada para penjilat yang bahkan berlaku sebagai keluarga Kim. Sampai aku mengingkari janjiku untuk percaya sepenuhnya pada Ibumu. Aku membuatnya terpaksa pergi, terpaksa meninggalkanmu dan terpaksa membuatku kehilangan putraku yang lainnya"
"Ayah menyesal, Kibum. Karenanya Ayah langsung mencari mereka. Tapi Ayah tak pernah menemukan mereka" suara Tuan Kim serak. Kibum bisa melihat Ayahnya menahan suara tangisnya, tapi nyatanya dua bulir air mata sudah menetes dipipi sang Ayah. Ayahnya yang dingin itu menangis didepannya.
"Ibu dan saudaramu hilang bagai ditelan bumi. Tak ada kabar, bahkan orang kepercayaanku tidak pernah bisa menemukan mereka" lanjut Tuan Kim. Pria itu kini menatap Kibum dan Kibum bersumpah dia melihat kesedihan disepasang mata yang biasanya menatap penuh intimidasi pada semua orang.
Kibum mencoba memahami Ayahnya, mengapa Ayahnya menutupi masalah ini darinya sampai selama ini. Kibum mau memikirkannya dengan kepala dingin, bukan atas dasar kemarahan dan kesedihan yang menumpuk didadanya. Kibum yakin Ayahnya tak berbohong. Apalagi dia mengalami sendiri bagaimana menjengkelkannya tumbuh sebagai seorang Kim. Segalanya seolah terjadi karena kehendak kakeknya, sehingga Kibum tak merasa hidup normal selama ini. Kibum merasa dia hanya mengikuti cerita yang dibuat sang Kakek. Beruntung sekali sejak setahun yang lalu, Kakeknya memilih bermukim di Austria –dikediaman sepupu jauh Kibum, sehingga Kibum sedikit lebih bebas. Meski perasaan tertekan terus memaksanya meminum obat penenang pada akhirnya.
Tapi Kibum tetap merasakan sesak. Ia tahu betapa menjengkelkannya jadi keturunan Kim, tapi tak pernah membayangkan bahwa karena menjadi bagian Kim, dia harus kehilangan dua orang yang dia cintai –meskipun belum pernah dia temui. Ibunya dan saudara kembarnya.
"Tapi—" Kibum mendongak, melihat sang Ayah sudah menatapnya dengan sebuah senyum lebar dan mata berkaca-kaca. Alis Kibum bertaut. "Ayah sudah menemukan mereka"
Deg
"Apa?" ada perasaan takut yang menyelimuti perasaan senang yang membuncah didada Kibum. Ia senang tentu saja mendengar bahwa sang Ayah sudah menemukan keduanya, itu artinya sang Ayah tinggal membawanya kembali ke kediaman Kim. Namun sudut hatinya yang lain entah mengapa merasa ketakutan.
Tuan Kim mengangguk, membenarkan apa yang didengar Kibum darinya. Bahwa dia, Tuan Kim yang terhormat ini, sudah menemukan putranya yang menghilang selama ini, meski wanita utamanya sudah tak mungkin bisa dia bawa kembali. Itu alasan mengapa sejak kemarin dia mengurung diri dirumah, kenyataan bahagia yang baru diterimanya harus dibarengi dengan kenyataan pahit. Cho Hanna sudah tak ada didunia ini.
"Lalu—bagaimana dengan Song Jihye?" Entah mengapa bayangan Jihye yang tersenyum menenangkannya malah terus muncul dikepala Kibum. Kalau Ayahnya berhasil menemukan Ibunya dan saudaranya kemudian membawanya kembali kerumah ini, lalu bagaimana dengan Jihye?
*TBC*
Akhirnya saya balik lagi nih sama chapter 13 Your Eyes. Ada yang kangen sama Kibum dan Kyuhyun? angkat tangan!
Gimana sama chapter ini? Review-nya ditunggu lho ^^
