Title : Someone Like Me (Your Eyes)
Genre : Brothership, Family, Hurt
Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum
Rated : Fiction T
Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, OOC (Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it! Mind to RnR?
Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't copy paste without permission.
.
.
.
Chapter ini masih dispesialkan untuk 94squads a.k.a Fitri (KyuFit0327) dan Bita (BitaSachiara) ^^ kalian berhasil lagi buat neror aku.
.
.
14
Kyuhyun menautkan alis ketika melihat Ibu tiri Kibum melambaikan tangan padanya. Ia yakin sebab hanya dia sendiri yang berdiri didepan pintu gerbang SM High School yang tertutup rapat. Istilah lainnya dia terlambat. Bagus sekali kan? Kyuhyun lupa ada dua pelanggan baru. Dan jarak rumah kedua pelanggan itu cukup jauh. Kyuhyun sendiri sudah berdiri didepan pintu gerbang dan merayu satpam untuk membukakan pintu sekitar 15 menit.
Kalau tidak ingat wanita yang masih tersenyum lebar disamping mobil itu Ibu dari temannya –kalau Kyuhyun boleh memanggil Kibum begitu, Kyuhyun memilih mengabaikannya. Lagipula dia tak kenal dekat dengan wanita itu, hanya dua kali bertemu. Tapi sekali lagi, meskipun Kyuhyun ingin mengabaikannya, pemuda itu tetap melangkah mendekati Ibu tiri Kibum.
"Terlambat?"
Kyuhyun memutar bola matanya malas. Jelaslah dia terlambat. Dia kan sejak tadi berdiri diluar gerbang sedangkan jam pelajaran sudah berjalan sejak 20 menit yang lalu. Apa perlu Ibu tiri Kibum ini bertanya begitu?
"Ayo makan. Aku traktir" Jihye tersenyum, "Lagipula kau tak bisa masuk kan?" Menghela nafas, Kyuhyun akhirnya mengangguk. Jihye benar, dia tak akan bisa masuk.
Jadi disinilah dia sekarang, duduk berhadapan dengan Jihye disebuah restoran mahal yang Kyuhyun berjanji tak akan melangkahkan kakinya masuk kembali ke restoran ini setelah melihat daftar menu yang baru saja disodorkan pramusaji padanya.
"Jangan menatapku begitu. Sudah kubilang, aku mentraktirmu kan? Pesan saja dengan santai, hm?" Jihye terkekeh ketika melihat sepasang mata Kyuhyun mendelik padanya setelah anak itu membuka daftar menu.
"Bagaimana saya bisa memakan makanan yang bahkan harganya bisa membuat saya hidup selama seminggu?"
"Kau berlebihan Kyuhyun" Jihye kembali terkekeh, namun Kyuhyun mendengar kekehan itu begitu sumbang, seperti bukan Jihye yang ditemuinya sebelum ini.
"Ada apa?" Kyuhyun dengan tak sabar bertanya setelah dia dengan sangat terpaksa menyebutkan pesanannya pada pelayan yang datang untuk mencatat pesanan mereka. Makanan dengan harga paling murah di halaman pertama. Dia tak cukup berani membuka halaman lainnya ngomong-ngomong. "Saya tahu anda tidak akan mau repot-repot menemui saya jika tidak ada hal yang mengganggu anda"
"Sekali lagi, kau berlebihan Kyuhyun"
Jujur Kyuhyun tak bisa menikmati makanan mahal didepannya. selain karena harganya yang mahalnya membuat perutnya mulas seketika, juga karena tatapan wanita didepannya yang entah sejak kapan berfokus padanya –memperhatikan gerak-geriknya.
Kyuhyun, sejak dulu tak suka jadi pusat perhatian. Merepotkan menurutnya. Karenanya, dia segera menelan potongan steak –yang kesulitan memotongnya mengalahkan memotong garis sumbu x dan y pada pelajaran matematika, untuk balas menatap Jihye. Wanita itu belum sempat menjawab pertanyaannya dikarenakan pelayan datang membawakan pesanan tak lama kemudian, dan malah mengalihkan perhatian dengan menyuruh Kyuhyun makan.
"Kenapa aku baru menyadarinya?" alis Kyuhyun naik sebelah mendengar ucapan Jihye, "Warna matamu, benar-benar mirip dengan pria itu" lanjutnya sambil terkekeh.
"Pria itu?" bagaimanapun cara Kyuhyun menatap Jihye membuat wanita itu semakin menyadari kemiripan Kyuhyun dengan pria itu.
"Suamiku"
"Tuan Kim?"
"Kau pikir aku punya suami lain selain Tuan Kim yang terhormat itu?" ada dengusan yang Kyuhyun dengar. Dan meskipun menggunakan kalimat sarkas untuk menyebutkan suaminya, tapi Kyuhyun tahu wanita ini tak bermaksud mengatai suaminya. Entahlah.
"Aku tak merasa begitu" Kyuhyun tak suka disamakan dengan orang lain. Sejak dulu seperti itu. apalagi orang itu adalah Tuan Kim, seseorang yang punya first impression tak terlalu baik untuknya. Satu-satunya orang yang ingin Kyuhyun disamakan dengannya adalah Ibunya.
Jihye tertawa, jenis tawa menyebalkan yang anehnya tak mengganggu Kyuhyun sama sekali. Sudah kebalkah Kyuhyun dengan jenis tawa itu?
"Kau tahu? Sifatmu yang keras kepala ini juga begitu mirip dengannya"
"Haruskah saya berterimakasih?" sarkas, tapi Jihye hanya menganggukan kepalanya sambil menahan tawa. Satu lagi kesamaan Kyuhyun dan Tuan Kim –juga Kibum, mereka senang menggunakan kalimat sarkas. Jadi, bolehkah Jihye berbangga kalau kalimat macam itu sudah tak berpengaruh padanya?
"Jadi, ada apa Anda sampai mengajakku makan ditempat yang" Kyuhyun menggantung kalimatnya, lalu mengedarkan pandangannya menyusuri restoran mewah –yang kalau Jihye tak mengajaknya dia tak akan bisa makan ditempat ini. "Bukan tipe saya"
"Asal Anda tahu, saya bukan orang yang sabar" lanjut Kyuhyun ketika Jihye tak juga menjawab.
"Kau benar-benar tidak sabaran, Kyu" dada Kyuhyun berdesir mendengar panggilan banmal itu keluar dari mulut Jihye. Entah kenapa rasanya senang sekaligus haru, juga ada perasaan terluka didadanya.
"Aku ingin bertanya" memberi jeda, ada pergolakan dalam diri Jihye, haruskah dia bertanya untuk memastikannya atau—biarkan saja seperti ini? Menghela nafas, Jihye kembali menatap Kyuhyun, "Kau pernah—melihat akta kelahiranmu?"
Alis Kyuhyun bertaut, dahinya berlipat, menandakan anak itu tengah kebingungan dengan pertanyaan yang diajukan Jihye. Tentu saja. Wanita ini tiba-tiba ada didepan sekolahnya, mentraktirnya makan direstoran mahal hanya untuk menanyakan hal konyol ini?
"Kenapa Anda bertanya hal konyol begini?" protes Kyuhyun, meski otaknya tetap saja mencoba mengingat apakah dia pernah melihat akta kelahirannya. Dan seberapa keras dia mencoba mengingatnya, dia tak mengingat pernah melihat akta kelahirannya. Mungkin di map pendaftaran sekolahnya ada, namun Kyuhyun tak pernah membacanya. Tak pernah mencoba membacanya, dia tak punya alasan membacanya. Kyuhyun tak mau dia penasaran jika ada nama pria yang tertulis disana sebagai nama Ayahnya. Dia tak mau penasaran kemudian mencoba mencari tahu pria macam apa yang menjadi ayahnya, kemudian dia terluka. Kyuhyun tak mau terluka untuk pria semacam itu. Tapi hari ini, entah mengapa setelah mendengar pertanyaan Jihye, Kyuhyun jadi penasaran. Adakah nama pria yang tertulis sebagai nama Ayahnya?
"Karena kurasa aku tahu siapa Ayahmu"
"Huh?"
"Ani. kurasa aku tahu siapa Ayah dan Ibumu" ada nada getir yang didengar Kyuhyun, bersamaan dengan degub jantungnya yang berdebar keras, mengantarkan kebahagiaan sekaligus menyesakkan.
"Nyonya, kalau Anda sedang bercanda, ini benar-benar tidak lucu" Kyuhyun mendengus, mencoba menghilangkan perasaan senang yang lebih mendominasi.
Jihye tersenyum. Bukan jenis smirk yang sering dia berikan pada Kyuhyun atau Kibum. Wanita ini benar-benar tersenyum dengan tulus, merutuki pemikiran konyol yang memenuhi kepalanya sejak semalam begitu melihat wajah polos Kyuhyun yang menunjukan kekagetan kembali berangsur menjadi datar, meski sesungguhnya entah dari mana dia bisa melihat kebahagiaan terselip diwajah itu meski kebingungan, keraguan dan ketidakpercayaan lebih mendominasi. Jihye kagum pada pengontrolan diri Kyuhyun.
"Tadinya kupikir kau harus makan dulu dengan tenang" katanya sambil melirik steak diatas piring Kyuhyun. "Kuharap kau tidak terlalu terkejut setelah melihat dan mendengar ini" sebuah amplop cokelat disodorkan Jihye pada Kyuhyun sebelum wanita itu berdiri. "Makananmu akan kubayar. Jadi makan dulu. Dan aku menyarankan kau membaca ini dirumah" katanya sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Kyuhyun, menghilang dari pandangan Kyuhyun.
.
.
Seumur mengenal Jihye, Kibum tidak pernah berpikir dia akan menunggui Jihye seperti hari ini. Kibum juga tak pernah begitu tak sabar melihat wajah sumringah Jihye muncul setelah pintu terbuka sambil membawa minimal 2 paper bag yang entah berisi apa.
"Dari mana?" tanyanya begitu sosok Jihye muncul.
"Astaga, kau mengagetkanku, Kibum" Jihye menghela nafas. Namun kemudian sebelah alisnya naik, "Kau menungguku hm? Waah ini kejutan" tatapan menggoda Jihye padanya membuat Kibum mendengus keras. Jihye dan segala sikap menyebalkannya.
"Dari mana?" ulang Kibum.
"Ayahmu ada?" Kibum mendengus namun kemudian menggeleng. Tuan Kim pergi karena ada telepon dari sekretarisnya sekitar 15 menit yang lalu. "Ayo makan malam bersamaku" Jihye meletakan paper bag ditangannya diatas sofa sebelum membalikan badan, berjalan kembali keluar rumah.
Dan Kibum, seumur dia mengenal Jihye, tidak pernah sepatuh hari ini dengan mengikuti langkah Jihye tanpa protesan.
.
.
"Yakin tidak mau ikut kami?"
Kyuhyun tersenyum, menggeleng kedelapan kalinya untuk menjawab pertanyaan dari Ryeowook yang juga sudah delapan kali ditanyakan padanya. Hari ini cafe tutup lebih awal. Rencananya Shin ahjusshi mau mengajak mereka semua ke tempat karaoke, merayakan ulang tahunnya katanya. Kyuhyun bukannya tidak mau ikut dan sok anti sosial. Namun, ada sesuatu lain yang membuatnya ingin cepat-cepat sampai kerumah. Sesuatu yang sejak pagi tadi menguasai pikirannya.
"Ya sudah. Hati-hati dijalan ya"
Kyuhyun mengangguk sebelum pamit mendahului Ryeowook yang masih sibuk dengan lokernya sebelum mendapat lebih banyak nasihat lain. Dia juga berpamitan pada pekerja lainnya dan Shin ahjusshi meski sempat merasa tak enak melihat wajah kecewa pria tambun itu.
Kyuhyun melirik amplop cokelat yang ditentengnya sejak pagi tadi. Ada perasaan ragu yang menyelimuti hatinya, namun perasaan penasaran lebih mendominasi. Dia penasaran. Siapa Ayahnya, dan yang terpenting mengapa Ibu tiri Kibum yang menyebalkan itu sampai repot-repot mengurusi urusannya?
Berbelok, Kyuhyun memilih memasuki taman bermain daripada berjalan lurus kearah rumahnya. Anak itu menghela nafas, bayangan wajah Ibunya yang menyambut saat dia pulang sudah bermain di kepalanya. Dia ingin melihat wajah Ibunya yang tersenyum seperti itu. Tapi, lagi-lagi itu hanya keinginannya, karena nyatanya otaknya menyuruh tubuhnya mendudukan diri di salah satu ayunan ditaman bermain yang sepi ini.
Menghela nafas lagi –ngomong-ngomong entah untuk yang keberapa kalinya hari ini, Kyuhyun membuka amplop cokelat pemberian Jihye.
.
.
Kibum tidak pernah berpikir atau membayangkan dia akan makan malam berdua dengan Jihye. Sejak dulu, dia tidak pernah sudi duduk semeja dengan Jihye dan wanita itu cukup tahu dengan selalu mencari alasan agar Kibum punya quality time dengan Ayahnya. Ah ya, Kibum baru menyadarinya sekarang. Kemana saja wanita itu selama ini?
"Besok sudah mulai sekolah?"
Pesanan mereka sudah datang, dan itu adalah pertanyaan sekaligus kalimat pertama Jihye setelah keluar dari mansion Kim. Pertanyaan biasa yang seharusnya tak berakibat apapun pada detak jantung Kibum, karena nyatanya, detak jantung Kibum berdegub cepat. Mereka tak pernah terlibat percakapan senormal ini. Jihye maupun Kibum selalu bertanya dengan ketus atau sinis kemudian menjawab dengan sarkas. Tak pernah ada pertanyaan senormal ini.
"Hm"
"Kau tak pernah seantusias itu untuk berangkat ke sekolah" ada kekehan diakhir pernyataan itu.
"Terlihat begitu?" Kibum semakin aneh dengan dirinya yang menjawab dengan pertanyaan yang jauh dari pertanyaan sarkas khas-nya.
"Ya" Jihye menjawab cepat. "Ada seseorang yang ingin kau temui?" wanita itu memainkan garpu ditangannya sedangkan matanya menatap menyelidik pada Kibum.
"Bukankah—kita terlalu berbasa-basi?" Jihye terkekeh. Inilah Kibum yang sebenarnya. Kibum yang tidak sabaran dan ketus.
"Punya kabar gembira untukku?" Jihye balik bertanya, nampak mengabaikan tatapan Kibum yang menatap kesal padanya. Khas Jihye sekali. "Seperti sesuatu yang lama dicari akhirnya ditemukan?"
Jantung Kibum berdegub cepat. Kibum tidak bodoh. Jihye sudah tahu.
"Kau tahu"
"Ya" tanpa menyangkal.
Kibum meremas sendok ditangannya. "Harusnya aku senang kan? Tapi kenapa selain perasaan itu, ada perasaan lain yang mengangguku?" Jihye melihat kilatan disepasang mata hitam Kibum. Keraguan dan kecemasan. "Aku khawatir padamu. Lucu kan? Bagaimana aku malah memikirkan bagaimana perasaanmu saat mengetahui kabar membahagiakan ini?"
Jihye tercekat. Tatapan Kibum begitu jujur, sangat mudah dibaca, seperti bukan Kibum yang biasanya. Ini Kibum yang kekanakan, yang menangis saat mengetahui Ayahnya membuat batas baru padahal dia baru saja menyingkirkan batas untuk memiliki teman. Kibum yang jujur.
Dan apa tadi? Jihye tidak salah dengar kan? Anak menyebalkan, keras kepala dan sok berkuasa ini mengkhawatirkannya?! Mengkhawatirkan Ibu tiri yang selalu dianggap parasit olehnya?
"Aku memikirkan bagaimana kau akan hidup setelah ini? Kau akan tinggal dimana? Kerja apa? Kau, kenapa aku terus mencoba mencari cara agar kau baik-baik saja? Aku—benar-benar tidak paham dengan diriku" setetes air mata jatuh. Jihye terkesiap. Air mata itu untuknya.
Hening.
Jihye memang memilih restoran mewah yang menjaga privasi pengunjungnya. Jadi memang tak ada orang lain selain mereka disini. Tamu terakhir yang duduk dipintu masuk sudah pulang beberapa menit setelah Jihye dan Kibum masuk.
"Apa—aku bisa menyimpulkan kau mulai bisa menerimaku? Takut kehilanganku?" nada suara yang Jihye gunakan ketika menanyakan untuk pertama kalinya setelah hening cukup lama benar-benar membuat Kibum mengela nafas panjang. Apakah Jihye tidak menyadari betapa dia pusing sendiri sejak Ayahnya mengungkapkan kenyataan baru padanya?
"Biar ku tebak, aku tahu selangkah lebih banyak dibanding kau, Kibum" Alis Kibum kini bertaut, menanti ucapan Jihye selanjutnya.
.
.
"Baru pulang, Kyu?"
Senyum Sunyoung mengembang. Wanita yang kini masih mengenakan apron hijaunya segera berlari mendekati Kyuhyun yang baru saja masuk kedalam rumah mereka. Kalau dalam keadaan biasa, Kyuhyun akan tersenyum super lebar pada Ibunya. Namuan malam ini, setelah melihat foto dan rekaman yang dia terima dari Jihye, bahkan untuk tersenyum pun Kyuhyun butuh tenaga.
Kenapa takdir mempermainkannya? Tidak bisakah begini saja? Dia hanya punya Ibu dan memulai hidup bahagia mereka? Tidak bisakah Jihye tidak usah sok ikut campur dan membuatnya semakin rumit? Tidak bisakah kejujuran ini, tidak melukainya? Dia sudah lelah menjadi pihak yang menyedihkan. Kyuhyun sudah lelah menjadi pihak yang tidak mengetahui apapun. Kyuhyun benar-benar sudah lelah dipermainkan takdir.
"Ada apa, Kyu?" Sunyoung menyadarinya. Tatapan mata Kyuhyun begitu dingin, bahkan senyum yang biasanya menghangatkan itu mendadak membuatnya takut.
Kyuhyun meletakan amplop cokelat ditangannya keatas meja, "Tolong jelaskan semuanya padaku" dan berkata dengan nada yang begitu dingin, yang Kyuhyun sendiri tak mengenali suaranya.
Sunyoung meraih amplop cokelat diatas meja, membukanya dan dia tak bisa mengendalikan ekspresi kaget yang kentara dibaca oleh Kyuhyun. Tangan Sunyoung bergetar melihat foto-foto ditangannya, juga akta kelahiran atas nama Kyuhyun.
"Itu rekaman saat Ibu mendatangi Tuan Kim" lanjut Kyuhyun. "Dan mengungkap semuanya"
"Kyu"
"Siapa aku, Bu?" potong Kyuhyun dengan mata mengembun.
Tubuh Sunyoung merosot. Kyuhyun sudah tahu. Sekarang hanya ada dua kemungkinan. Kyuhyun membencinya atau Kyuhyun akan meninggalkannya. Dan dari dua-duanya, Sunyoung tak mau memilih. Dia baru saja menyadari betapa bahagianya menunggu anak pulang sekolah sambil memasak. Baru menyadari betapa bahagianya mencuci baju kotor Kyuhyun kemudian setelah kering menyetrika dan melipatnya rapi. Sunyoung baru menyadari betapa bahagianya ketika ada yang memanggilnya 'Ibu'. Dan dia tak mau itu terenggut secepat ini.
"Kyuhyun-ah, mari pergi dari sini" Mata Kyuhyun melebar mendengar kalimat dari Sunyoung yang mengatakannya sambil menunduk. "Mari memulai hidup baru, hanya kita berdua" sepasang mata Sunyoung yang berembut memerangkap sepasang manik cokelat Kyuhyun. Dan Kyuhyun tak menyukainya. Dia tak menyukai ketika Sunyoung menangis. Dan terlebih itu karenanya.
"Kenapa Bu? Kenapa memintaku pergi sekarang? Kenapa tak sejak dulu? Sebelum aku tahu kebenarannya?"
"Kyuhyun-ie"
"Aku lelah Bu. Lelah sekali" Kyuhyun memotong, sebelum berjalan masuk kedalam kamarnya tanpa mengucapkan apapun lagi. Meninggalkan Sunyoung yang menangis dalam diam.
"Hanna-ya, kenapa jadi serumit ini?"
*TBC*
Yeay akhirnya bisa update chapter 14 ya ^^
Gimana sama chapter ini?
Kyu udah tau nih siapa dia sebenernya. Kibum juga kayaknya udah dikasih tau sama Jihye. Gimana cara mereka buat nerima 'kejutan' ini? wkwk
Btw sebelumnya soal yang akta kelahiran itu aku ngarang wkwk, gak tau aslinya di korea sana harus punya akta kelahiran atau gak, dan kalaupun ada bentuknya kek gimana aku juga gak tau. Jadi ya harap maklum yaa
Sampe jumpa di chapter selanjutnya ataupun fanfic selanjutnya ya ^^ paypay
Ddankyu~~
