Title : Someone Like Me (Your Eyes)

Genre : Brothership, Family, Hurt

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum

Rated : Fiction T

Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, OOC (Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it! Mind to RnR?

Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't copy paste without permission.

.

.

.

94squad a.k.a Fitri sama Bita yang masih belum bisa ngelanjutin fanfic collab kita karena banyak kejadian gak terduga diminggu-minggu ini ^^ semoga ini jadi penyemangat ya hihi

15

Kibum hanya menemukan Jihye saat mendudukan dirinya diruang makan. Diabaikannya Jihye yang menatapnya menyelidik sambil mengunyah nasi goreng. Tak perlu menebak dari reaksi Jihye, Kibum yakin penampilannya sungguh mengkhawatirkan. Dia bahkan bisa merasakan kantung matanya yang menebal dan mungkin menghitam.

"Kau bahkan tidak menyisir rambutmu" komentar Jihye. "Tidak tidur juga kan?"

Pertanyaan yang ditanyakan dengan nada tak acuh itu entah mengapa membuat dada Kibum menghangat. Berbeda sekali. Kibum baru menyadarinya. Mengapa selama ini dia bahkan tak merasakan ketulusan di setiap kalimat acuh yang diucapkan Jihye?

"Bagaimana aku bisa tidur?" dengusan Kibum membuat Jihye terkekeh. Jangankan Kibum, dia saja tidak bisa tidur. Takdir seolah mempermainkan kedua anak itu. Seharusnya dia tak peduli, toh Kibum juga tak suka dipedulikan olehnya –dulu, tapi entah mengapa dia merasa ikut sedih untuk keduanya.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Apa yang harus ku lakukan?"

"Kau bertanya padaku?" Jihye menatap Kibum jenaka, namun jelas terlihat ada binar kebahagiaan disana. "Temui dia"

"Bagaimana kalau dia tidak suka? Bagaimana kalau dia membenciku? Bagaimana kalau dia tidak bisa menerimaku seperti aku menerimanya?"

"Itu bisa saja terjadi" Kibum menatap Jihye. Meski tahu kemungkinan Jihye menjawab dengan jujur, namun tetap saja Kibum merengut mendengarnya. "Perasaan manusia sangat mudah ditebak dalam beberapa kesempatan, Kibum. Dia mungkin merasa terluka. Anak-anak diusia kalian sangat mudah terluka" Jihye balas menatap Kibum, ada senyum yang dilihat Kibum disana. "Tapi bagaimanapun dia menyangkalnya, kalian tetap saudara. Dan setahuku, tak ada yang lebih saling memahami dibandingkan saudara kembar" Kibum serasa mendapat banyak kekuatan dari ucapan Jihye. "Pelan-pelan, dia akan menyembuhkan lukanya sendiri. Bersamamu, bersama kalian"

"Bersama kita" koreksi Kibum.

Jihye tersenyum lebar, meraih tangan Kibum dan menggenggamnya erat. Untuk pertama kalinya, dia merasa diterima Kibum secara utuh. "Benar. Bersama kita"

.

.

"Aku akan menjelaskannya" Kyuhyun tak suka dengan kalimat itu. Bukan. Dia hanya tidak suka dengan kata ganti yang digunakan Sunyoung untuk menyebut dirinya pada Kyuhyun. Aku dan bukan Ibu.

"Duduklah dulu" tadinya Kyuhyun sudah akan berangkat setelah sarapan tanpa menegur Sunyoung –bahkan tanpa membantu Sunyoung seperti kemarin. Namun mendengar janji Sunyoung, Kyuhyun tidak mau keras kepala. Kyuhyun akhirnya menurut, mendudukan dirinya kembali.

Sunyoung menghela nafas panjang, siap memulai cerita. "Dia adikku. Satu-satunya keluarga yang kupunya. Karenanya aku tidak mau dia bernasib sepertiku, menjadi orang bodoh yang sering ditipu orang. Jadi aku mengatakan padanya untuk pergi ke universitas. Karena seperti yang dia wariskan padamu, adikku benar-benar gadis yang pintar" Kyuhyun membencinya, ketika sepasang manik Sunyoung menatapnya berembun. Ada kesedihan yang terlihat disana, namun Kyuhyun tidak bisa menghentikan disana. Dia berhak tahu, dan meskipun egois –dengan meminta Sunyoung membongkar ingatan masa lalunya, Kyuhyun akan tetap diam.

"Pria kaya itu datang saat musim semi, mengatakan padaku bahwa dia mencintai adikku. Aku masih ingat tatapan tegas namun hangat dari sepasang manik cokelatnya –seperti milikmu" senyum terukir dibibir Sunyoung. "Mereka menikah akhirnya. Aku saat itu begitu bodoh, tatapan orang-orang yang hadir disana menjelaskan bahwa status kami masih jadi masalah dalam pernikahan ini, namun melihat adikku tersenyum cerah, aku mengabaikannya. Berharap, dengan ketekunan dan ketulusannya, dia akan segera diterima disana" helaan nafas kasar terdengar, kemudian tawa keluar dari mulut Sunyoung. Sumbang ditelinga Kyuhyun.

"Aku meninggalkannya disana, menitipkannya pada pria itu setelah pria itu menjanjikan satu hal : dia akan percaya sepenuhnya pada adikku. Selama berbulan-bulan aku hanya mendengar kabarnya lewat telepon," tatapan yang semula mengosong itu kembali terfokus pada sepasang manik milik Kyuhyun. "Sampai musim dingin di tahun berikutnya aku mendapat kabar bahwa adikku sudah melahirkan putranya. Kau tahu betapa bahagianya aku, Kyuhyun-ie? Bahagia sekali. Aku menangis sambil menggendong keponakanku, kau juga Kibum"

Deg

Nama itu akhirnya keluar dari mulut Sunyoung sendiri. Kyuhyun tidak tahu, meskipun dia sudah tahu tapi ketika nama itu disebut, jantungnya langsung merespon begitu cepat. Juga, tatapan berbinar Sunyoung ketika menceritakan moment kelahirannya dan Kibum begitu membuat hatinya berdesir. Sunyoung terlihat begitu bahagia.

"Tapi tatapan itu masih sama. Ketidaksukaan diatas kesukacitaan. Dan sekali lagi aku mengabaikannya. Melihat adikku menangis terharu sambil menggendong kalian berdua adalah kebahagiaanku juga." Kyuhyun bisa merasakan betapa sayangnya Sunyoung pada Ibunya –Ibunya? "Tapi suatu malam dimusim gugur tahun itu, dia datang ke apartemenku sambil menangis, sambil menggendongmu yang kedinginan. Kau tahu bagaimana perasaanku saat itu? Melebihi adikku, aku menangis paling banyak ketika mendengar ceritanya."

.

.

"Kyuhyun-ah?!"suara Jaehyun menyapa gendang telinga Kyuhyun ketika anak itu baru saja memasuki area sekolah. Kyuhyun seharusnya tidak peduli, namun ketika melihat Junho berjalan beriringan dengan Jaehyun, mau tidak mau Kyuhyun menaikan sebelah alisnya. Aneh.

"Ada apa dengan reaksimu?" itu pertanyaan Junho.

"Aku tidak ingat kalian seakrab ini" komentar Kyuhyun, kembali berjalan menuju kelasnya. Meskipun dia itu murid baru, tapi dia yakin Junho dan Jaehyun tak seakrab saat ini. "Padahal hanya tidak bertemu sehari" lirihnya.

"Mulai sekarang kau harus membiasakan diri" tepukan mendarat dibahu kanan Kyuhyun. Jaehyun pelakunya. Pemuda itu memberi sinyal pada Junho untuk mengatakan sesuatu.

"Aku sudah membiasakan diri diganggu kalian" jawab Kyuhyun cuek.

"Ani. Kita baru saja membentuk, Junho menyebutnya 'gank', kalau aku sih lebih suka menyebutnya 'kelompok belajar', ya pokoknya semacam itu, dengan kau sebagai ketuanya" Jaehyun akhirnya yang angkat bicara, melihat Junho hanya tersenyum garing ketika dia memberi sinyal pada temannya itu.

Kyuhyun langsung berhenti berjalan. Kalau dia sedang makan atau minum, Kyuhyun pastikan dia akan langsung tersedak. Apa dia tidak salah dengar? Junho dan Jaehyun membuat gank –atau apapun mereka menyebutnya? Dan menunjuknya sebagai ketua? Apa mereka sedang melucu? Keberadaan Junho dan Jaehyun yang tiba-tiba lengket saja masih membuat Kyuhyun mengernyit tak nyaman, apalagi ditambah pernyataan barusan. Juga, keberadaannya yang mendadak menjadi begitu terekspose disini. Rasa-rasanya mereka berdua baru saja memberikan morning shock padanya.

"Chogiyo, kalau kalian mau gila, silahkan berdua saja. Jangan bawa-bawa aku" Kyuhyun menatap bergantian Junho dan Jaehyun dengan ekspresi dibuat paling malas. Kemudian kembali berjalan kearah kelasnya. Diikuti Junho dan Jaehyun yang saling bersahutan menjelaskan maksud 'gank' atau 'kelompok belajar' kepada Kyuhyun, juga masuknya Jonghyun dan dua teman Junho kedalam 'gank' ini. Dan Kyuhyun memilih mengabaikannya.

.

.

Kibum melirik Jihye yang duduk dibelakang kemudi, kemudian kembali menatap kearah gerbang sekolah yang dalam hitungan menit akan ditutup. Bergantian. Jihye sendiri hanya melirik acuh, memainkan ponselnya dalam hening. Dia tadi sudah memberi saran pada Kibum untuk menemui Kyuhyun diluar sekolah saja, seperti di cafe tempat Kyuhyun bekerja, tapi ketika mendapat pesan dari seseorang –yang entah siapa, Kibum memilih menemui Kyuhyun disekolah.

"Temui saja nanti di cafe" Jihye akhirnya buka suara. Kesal juga melihat Kibum kebingungan. Tadi Kibum memintanya parkir agak jauh dari gerbang sekolah, sehingga dia merasa khawatir juga jika Kibum terlambat nanti.

"Dia tidak suka diganggu saat bekerja" Jihye tahu itu.

"Kalau begitu, cepat keluar dari mobil. Pintu gerbang sudah mau ditutup"

Kibum menoleh. Benar. Satpam sekolah sudah berdiri didepan gerbang yang ditutup setengahnya, melirik arlojinya kemudian memberi kode pada anak-anak yang baru turun dari bus untuk segera mendekat.

"Apa yang sebenarnya kau khawatirkan Kibum? Menemuinya sebagai seseorang yang harusnya kau kenal dimasa lalu memang terdengar awkward, tapi itu kenyataannya. Dia mungkin akan menghindarimu mati-matian karena belum bisa menerima kenyataan ini. Tapi kita sama-sama tahu, menghindari masalah bukan menyelesaikannya, akan membuat masalah baru. Kau seorang hyung, tugasmu cuma satu, meyakinkan dia kalau kehadirannya diinginkan olehmu"

Kibum tersenyum kecil mendengar ucapan Jihye yang terasa membimbingnya dalam kebingungan yang sejak tadi membelenggunya. Pemuda itu mengangguk mantap sebelum membuka pintu mobil. Dilihatnya satpam sekolah melambaikan tangan padanya –menyuruhnya cepat. Sebelum menutup pintu mobil, Kibum membungkuk, menatap sepasang manik Jihye dengan padangan hangat.

"Terimakasih," menggantung "Ibu" lanjutnya tulus, kemudian menutup pintu mobil dan berlari kearah gerbang sekolah, meninggalkan Jihye yang meneteskan air mata bahagianya. Biarkan Jihye bahagia atas diterimanya dia oleh Kibum, meski sudut hatinya merasa sedikit was-was mengenai hubungan Kibum dan Kyuhyun juga suaminya. Tiga orang keras kepala yang merasa dilukai dunia.

.

.

Pandangan Kyuhyun berfokus pada sosok yang baru saja membuka pintu ruang kelas dengan nafas memburu. Sebenarnya bukan hanya Kyuhyun, tapi semua teman sekelas Kyuhyun. Bisik-bisik mulai terdengar melihat betapa anehnya sosok itu. Bukan. Maksdunya betapa anehnya tingkah sosok itu. Kalau siswa lain yang melakukannya –berlari setelah terlambat, mereka tak akan menganggapnya aneh, tapi ini Kibum. Ya. Sosok yang tengah mengais oksigen didepan pintu yang terbuka itu Kim Kibum. Siswa yang dikenal paling santai di SM High School.

Namun si pusat perhatian mengabaikannya, lebih memilih balas menatap sosok pucat yang mengambil duduk bukan ditempatnya semula –disamping kursi Kibum. Saling menyelami manik berbeda warna dengan deguban jantung yang menggila, seolah berbicara dan saling mencari namun masih tak menemukan jawaban.

"Temui aku di atap" katanya sebelum berlalu keluar kelas dengan santai.

"Kau—membuat masalah dengan Kibum?" itu pertanyaan dari Jaehyun. Sungguh, meskipun sudah mengklaim Kyuhyun sebagai ketua 'kelompok belajar'nya, Jaehyun tidak akan mentolerir jika Kyuhyun membuat masalah.

"Apa karena kau duduk denganku?" kalau ini pertanyaan dari Jonghyun. Mata teman sebangku Kyuhyun menatap Kyuhyun khawatir.

"Bukan" Kyuhyun berdiri, hendak melangkah ketika tangannya ditahan Junho. "Kami tidak akan saling memukul" katanya menenangkan sebelum berjalan keluar kelas.

Punggung Kibum terlihat belum jauh ketika Kyuhyun keluar kelas. Namun Kyuhyun tak berniat mengejar apalagi mensejejari langkah Kibum. Entahlah. Ada perasaan canggung yang menguasainya sekarang. Sejujurnya, Kyuhyun menghindari Kibum untuk menenangkan dirinya yang pagi tadi mendengar cerita dari Sunyoung. Namun ucapan Kibum tadi seolah membuat tubuhnya secara otomatis mengikuti ucapan Kibum, meski otaknya mati-matian menyuruh Kyuhyun mengabaikannya saja.

Tap

Kibum masih memunggunginya. Kyuhyun menghela nafas sebelum berjalan mendekat, mengambil posisi tiga langkah dari Kibum. Ikut memandang kedepan, kearah pintu gerbang yang sudah ditutup rapat.

"Kupikir kau akan menghindariku"

"Seharusnya begitu. Tapi kenyataannya aku malah disini bersamamu"

Hening.

"Bagaimana menurutmu?"

"Bagaimana? Apanya?"

"Hubungan kita"

Kyuhyun mengangkat bahu, membuat gestur 'tidak tahu'.

"Aku tidak bisa tidur semalam. Bagaimana denganmu?"

"Menurutmu apa orang yang baru saja mendengar kebenaran yang selama ini ditutup rapat bisa tidur dengan nyenyak?" Kyuhyun bertanya dengan suara pelan. "Kenapa selalu aku?" Kali ini Kibum menoleh ketika Kyuhyun menaikan volume suaranya, terdengar miris ditelinganya. "Takdir suka sekali mempermainkanku. Hidup dengan susah payah, diabaikan Ibu, menjadi bahan bully-an disekolah, bertemu dengan kalian. Kupikir sudah cukup, aku senang saat Ibu mulai berubah, tapi Ibu-mu datang membawa fakta baru : seseorang yang sangat kuinginkan memandangku bukan Ibuku. Bukankah takdir benar-benar suka bermain dengan hidupku?"

Kibum tidak suka bagaimana Kyuhyun terlihat sangat rapuh. Bukan Kyuhyun yang dikenalnya selama ini. Terlebih ada alasan yang semakin membuatnya tak suka melihat Kyuhyun begitu rapuh. Pemuda yang berdiri tak jauh darinya adalah sebagian jiwanya. Adiknya. Seseorang yang seharusnya dia jaga senyumnya.

"Pasti sulit menerima kami" Kibum memerangkap sepasang manik cokelat Kyuhyun yang kini menatapnya. "Tapi kau harus tahu, kalau aku dan Ayah senang bisa menemukanmu"

"Kau tahu, ini tidak sesederhana itu, Kibum" Kyuhyun menoleh. Tatapan matanya menatap Kibum begitu tajam. Kibum begitu mudah mengatakan hal itu. Tak melihat dari sudut pandangnya. Dia senang. Tentu saja. Bertemu dengan orang yang ternyata mempunyai darah yang sama denganmu setelah sekian lama. Tapi daripada perasaan itu, ada perasaan lain yang mendominasi pada diri Kyuhyun, yang tiba-tiba membuat Kyuhyun begitu kecewa pada Kibum.

"Aku—kehilangan Ibu" Kyuhyun tak banyak bereaksi saat pagi tadi diceritakan Sunyoung mengenai Ibunya. Tapi kini, saat menatap sepasang manik hitam Kibum, dia merasa begitu rapuh. Dan ada sesuatu dalam dirinya yang membuat dia perlu membuat Kibum tahu bahwa Kyuhyun yang tengah berdiri didepannya adalah serapuh ini. "Kau tinggal bersama Ayah, mendapatkan kasih sayangnya dan hidup berkecukupan. Tck aku jadi sangat iri sekarang" mata Kyuhyun yang berkaca-kaca itu masih setia menatap sepasang manik Kibum. "Sedangkan aku? Kau lihat bagaimana kacaunya hidupku kan? Dan sekarang kau dengan mudah mengatakan kalau kau bahagia bisa menemukanku" Kyuhyun tak bermaksud bersikap dia benar-benar kesal bahwa dialah orang yang paling menderita disini, meski hatinya meneriaki itu. Tapi Kibum datang dengan pemikiran sesederhana 'aku siap menerimamu'. Membuat perasaan marah, kecewa dan sedihnya lebih mendominasi dibandingkan perasaan bahagianya.

"Aku marah Kibum!" nada suara Kyuhyun naik, setetes air mata jatuh. "Kau—tidak merasa rindu pada Ibu?" satu pertanyaan itulah yang membuat rasa kecewanya pada Kibum menumpuk. Bukankah seharusnya mereka membahas orang tua mereka dulu? Ibunya terutama.

Deg

Kibum tersentak, serasa dipukul tepat dibelakang kepalanya. Disadarkan oleh pertanyaan sederhana dari Kyuhyun.

"Kau merasa nyaman dengan kehadiran Nyonya Jihye, sampai lupa kalau kau mungkin harus merasa rindu dan sedih pada Ibumu sendiri"

Deg

"Tapi aku tidak bisa seperti kau, Kibum. Aku—"

"CUKUP!" mata Kibum nyalang menatap Kyuhyun. Rahang pemuda itu juga mengeras. Apa yang dikatakan Kyuhyun memang benar. Dia, hampir saja lupa kalau dia juga harus sedih karena mendapati kenyataan kalau Ibu yang selama ini diharapkannya sudah tidak ada didunia ini. Dia dengan sadar sudah merasa nyaman dengan kehadiran Jihye beberapa hari ini. Dia bahkan lebih merasa khawatir pada Jihye ketika tahu Ayahnya mengatakan berhasil menemukan saudaranya.

"Kau tak mengenalku, Kyuhyun!" tapi Kyuhyun tak mengenal Kibum dengan baik. Selama bertahun-tahun dia dikelilingi orang yang tak benar-benar tulus menyukainya. Bertahun-tahun memegang tanggungjawab sebagai pewaris utama Kim Corps, bahkan diusia yang seharusnya dia gunakan untuk bersenang-senang. Kyuhyun tak tahu bagaimana dia selalu butuh obat penenang setiap kali Kakek dan Ayah mulai membahas bagaimana melebarkan bisnis mereka pada Kibum muda, setiap kali membahas bahwa waktu 'bermain' Kibum telah usai, setiap kali harus menghadiri pesta bisnis dan menebar senyum palsu agar para pebisnis itu lebih percaya padanya. Kyuhyun tak tahu, setiap malam, jika bukan karena harapannya bertemu sang Ibu, dia ingin rasanya bunuh diri. Kyuhyun tak tahu, dunianya juga tak lebih baik daripada dunia yang Kyuhyun jalani.

"Jadi jangan coba-coba menilaiku" begitu dingin, dan berlalu dari sana dengan langkah lebar.

*T B C*

Halooo aku balik lagi ^^ *tebar bunga*

Ada yang kangen Kyuhyun-Kibum? Angkat tangan!

Gimana sama chapter ini? Semoga gak mengecewakan ya

Jangan lupa vote sama komen ya hehe

Sampai jumpa di chapter selanjutnya

Ddankyu~~

Byebye *bow*