iya fic ini judulnya ganti. tadinya mau AR aja tapi keterusan jadi AU.
implicit violence and sexual scene ahead.
revised 13042018
revised 28092018
.
.
"Terima kasih atas sarannya, Hokage-sama. Kami permisi dulu."
Tiga orang petani pergi meninggalkan kantornya diiringi oleh seorang shinobi yang tadi datang mengantar mereka. Ketiganya datang dari sebuah desa berjarak separuh hari perjalanan dari Konoha, tiba sebelum matahari terbit di kantornya dan meminta bertemu langsung dengan Hokage. Belakangan desa mereka seringkali diganggu oleh bandit. Karena Konoha dekat, mereka meminta bantuan kepadanya. Hashirama menugaskan satu tim shinobi untuk menjaga desa, mengajari para petani cara membuat jebakan sederhana dan mengorganisir patroli.
Segera setelah pintu tertutup kembali, ia merebahkan kepalanya di meja. Kemarin Hashirama kembali ke kediamannya larut malam setelah membangunkan lima rumah. Tenaganya belum juga pulih, apalagi tidurnya yang baru sebentar diinterupsi oleh kedatangan tiga petani itu. Belum lagi prospek kedatangan Kaisar Hinokuni beserta naratetamanya, yang membutuhkan akomodasi tidak murah….
"...Kak, jangan tidur di kantor."
Hashirama gelagapan bangun. Ada liur mengering di ujung bibirnya. Disekanya wajah dengan ujung lengan baju. Wajah sebal Tobirama balas menatapnya, mengatakan kubilang juga apa tanpa suara.
"...Aku tidak tidur." Hashirama membuka matanya lebar-lebar. Kapan Tobirama masuk?
"Jangan bohong."
"Kalau aku tidur, mana bisa aku berbicara padamu."
"Oh, sudahlah, Kak." Tobirama melirik ke balik punggungnya. Seseorang baru saja mengeluarkan tawa tertahan.
Hashirama mencondongkan tubuh agar bisa melihat sumber suaranya. Seorang wanita jangkung berpakaian gelap berdiri membelakangi mereka. "Izuna!" serunya. "Selamat pagi!"
"Hokage-sama." Ia mengangguk ke arahnya. Hashirama merasakan cakra hangat Izuna menyapunya.
"Jangan lupa kalau Kakak ada rapat dengan seluruh pemimpin klan sore nanti," Tobirama menyela mereka. "Izuna-san akan turut dalam rapat."
Perhatian Hashirama kembali kepada wanita itu. "Ke mana Madara…?"
"Pergi berburu." Izuna mengangkat bahu. "Sudah dari pagi tadi."
Ia tak bisa menyangkal kekecewaan yang meletuskan sisa semangatnya. Belum dua hari Madara tinggal, sahabatnya sudah pergi lagi. Ia beranjak ke ruang rapat dengan lesu.
Rapat hari itu membahas zonasi tempat tinggal klan. Hashirama tidak mengerti mengapa mereka tidak tinggal saling baur dan bercampur saja seperti klan Senju. Perjanjian dan pakta sudah ditandatangani, jadi seharusnya tidak ada alasan untuk tidak memercayai satu sama lain, bukan?
"Maaf, Hokage-sama," Nara Shikana menyelanya. "Klan kami memboyong sekawanan rusa yang kami pelihara turun temurun. Selain itu," ia membuat gestur pada ketua yang duduk di kedua sisinya, "klan Akimichi dan Yamanaka selalu tinggal berdekatan dengan kami. Kami butuh akses ke lapangan latihan khusus dan habitat yang pas untuk kawanan rusa Nara."
Hashirama memerhatikan perwakilan klan Shimura mengernyit mendengarnya. Ia ingat belum dua hari lalu Tobirama menolak permintaan mereka untuk mendapatkan lahan luas di pusat desa. Jumlah mereka tidak seberapa, dan tidak ada alasan khusus bagi mereka untuk mendapatkan lahan seluas itu di zona komersial. Hashirama ingin mengabulkannya, namun Tobirama tidak menyetujuinya.
"Kalau Kakak mengiyakan semua permintaan mereka," katanya waktu itu, "mereka akan terus menggerogoti sumberdaya kita. Kakak sudah mensponsori kepindahan mereka dengan biaya dari klan, ingat?"
Yamanaka Inoha mencondongkan tubuh di atas peta desa yang terbentang di meja rapat. Telunjuknya menyentuh satu area yang diwarnai hijau. "Daerah ini masih berupa hutan. Kita bisa membuka sebagian areanya." Tidak ada yang memprotes atau membantahnya.
Berikutnya perwakilan klan Hyuuga yang berbicara. Seperti klan Senju, mereka tidak hanya berfokus pada kontrak ninja untuk menghidupi anggota klannya. Jumlah mereka yang besar memungkinkan sebagian anggotanya mencari pemasukan dari bidang pekerjaan lain seperti bisnis. Jaringan perdagangan merekalah yang membuat Hashirama tertarik untuk mengajak mereka bergabung.
Perwakilan ini sudah cukup tua, dan berbicara lambat-lambat dengan nada monoton. Tatapan Hashirama berubah kosong, kepalanya terantuk-antuk. Ia pasti akan jatuh tertidur jika Tobirama tidak menyenggolnya diam-diam.
Ia pasti tidak akan pernah sampai ke titik ini tanpanya—
"...Atas pertimbangan itu, kami meminta lahan di pusat desa. Bagaimana, Hokage-sama?"
Hashirama tersentak, mengerjapkan matanya untuk mengusir kantuk. Perwakilan klan Hyuuga menatapnya lurus-lurus. Seluruh penghuni meja menanti responsnya.
Benar. Ia sedang memimpin rapat. Tetapi ia malah memikirkan sesuatu di masa lalu yang tak ada kaitannya dengan ini. Konsentrasinya payah.
Ditariknya napas dalam-dalam dan ditandainya peta besar di meja. "...Baiklah. Saya setuju."
Hampir semua area sudah dialokasikan kepada klan-klan yang bergabung dengan Konoha. Bidak berwarna-warni menandai wilayah masing-masing di atas peta, termasuk klan Aburame dan Sarutobi yang tidak hadir.
Kecuali bidak milik klan Uchiha.
Izuna belum berkata apa-apa sejak rapat dimulai, hanya sesekali bertukar kata dengan seorang pemuda Uchiha yang sibuk mencatat di belakangnya. Lengannya terlipat di dada, persis seperti Madara ketika ia sedang sebal akan sesuatu.
"Izuna-san?" panggilnya.
"Beberapa anggota klan kami sudah mendirikan rumah di hilir sungai, dekat dengan danau besar." Suara Izuna lebih lirih dari perwakilan lainnya ketika ia berbicara. "Tetua klan kami merasa tempat itu sangat baik. Ada area terbuka yang bisa kami pakai berlatih, dan hutan untuk dimanfaatkan."
"Sebentar." Perwakilan klan Shimura menyela lagi. Suaranya parau, dan giginya yang mulai menghitam tampak ketika ia berbicara. "Hutan-hutan Konoha tidak akan menjadi milik bersama?"
"Tentu ada yang akan dikelola desa," Hashirama menjawab. "Jika ada klan yang ingin mengelola hutannya secara pribadi seperti klan Nara, silakan."
"Sebelumnya, melaporlah dahulu kepadaku atau Hokage-sama," Tobirama cepat menambahkan.
"Kami tidak diberi tahu soal pembagian hutan sebelumnya!" Shimura menyela lagi, memberi tanda sendiri pada area hutan di dekat danau. Tanda itu terlampau dekat dengan area klan Uchiha.
"Hisao-san," Akimichi Chokichi yang duduk di sebelah pria itu mengingatkan. Alisnya yang tipis menukik tajam.
Jemari Izuna tegang bertautan di atas meja. "Kami sudah lebih dulu memanfaatkan bagian hutan itu, Shimura-san." Cakranya yang tersebar di atas meja mendadak gelisah.
Di samping Hashirama, Tobirama menegakkan diri. Bahunya menegang. Air mukanya datar, tetapi Hashirama tahu ada yang berkecamuk di balik itu.
Tsubaki yang duduk di sebelahnya meletakkan tangan di atas bahu sang Uchiha. Kepala klan Inuzuka itu belum banyak berbicara, tetapi sikap tubuhnya bagai siap tempur saat ini. Tatapannya terkunci pada pria di seberangnya.
Shimura Hisao menjulurkan tubuhnya ke meja, menandai bidak-bidak kayu dengan warna klannya. Ia mengklaim beberapa titik lagi di sekitar danau. "Kami butuh kompensasi atas usaha tambang kami. Biaya angkutnya bertambah sejak pindah."
Tobirama mencatatkan untuknya semalam bahwa usaha tambang mereka sudah hampir habis karena bijih besi yang mereka dapatkan semakin berkurang. Ini adalah salah satu faktor mengapa mereka setuju untuk pindah ke Konoha dan bertetangga dengan seteru lama mereka, klan Sarutobi. Area di sekitar danau besar sendiri banyak ditumbuhi pohon kozo, yang berguna untuk pembuatan kertas, benang dan obat-obatan. Sepanjang pengetahuannya, pohon ini sulit tumbuh di Hinokuni walau tumbuhnya sangat cepat. Harga hasil olahannya cukup mahal di kota-kota.
"Hisao-san," ujar Izuna dingin dan kaku. "Anda bergerak terlalu dekat ke wilayah kami."
"Jangan beri tahu aku apa yang boleh kulakukan atau tidak," ia balas mendesis tajam, "ingat tempatmu, perempuan."
Inuzuka Tsubaki hampir melompat ke atas meja jika Nara Shikana tidak menahan lengannya. Wanita itu mendesis, taring-taringnya dipamerkan. Seluruh perwakilan klan lain menatap Shimura Hisao, ekspresi mereka antara terkejut dan marah. Tanpa suara Hashirama meminta Tsubaki duduk kembali, yang langsung ia patuhi.
Pria itu mendengus, dan menyibakkan rambut kelabunya ke satu sisi. "Kau ini cuma wakil kakakmu," katanya sengit, mengabaikan semua orang lainnya. "Tahu dirilah sedikit."
"Shimura-san!" kedua Senju menegurnya bersamaan. Kantuk Hashirama seketika sirna, digantikan oleh amarah. Ia sungguh tidak menyangka seseorang yang menjadi kepala suatu klan bisa berbicara seperti itu, apalagi di hadapannya yang notabene seorang Hokage.
Di saat-saat seperti ini, ayahnya pasti akan mengusir peserta rapat yang menghina orang lain. Namun, negosiasi mereka belum selesai dan ia adalah anggota penting. Belum lagi kemungkinan seluruh klan Shimura yang tersinggung.
Izuna bergeming. Kepalanya terarah ke depan lurus-lurus, mengabaikan kakak beradik di ujung lain meja. "Tolong singkirkan bidak-bidak Anda, Shimura-san," ujarnya setenang batu. "Saya tidak menginginkan kedua klan kita berseteru di sana."
Suasana berubah tegang. Perwakilan klan lainnya tidak bereaksi apa-apa, bergeming di kursi masing-masing. Hashirama berniat mengintervensi, tetapi ekspresi Izuna membuat niatnya diurungkan. Matanya memang tertutup kain, tetapi sikap tubuhnya tidak menunjukkan bahwa ia terganggu. Sementara itu, pemuda Uchiha di belakang wanita itu menatapnya, meminta pertolongan. Tobirama berusaha menarik perhatiannya juga; kaki kursinya berderit di bawah meja. Hashirama mengabaikan keduanya.
"Masih ada hutan di sisi lain danau," balas Shimura ketus, tangannya yang berbonggol mengetuk meja tak sabaran.
"Danau dan hutan di sekitarnya sudah kami rencanakan untuk dikelola," ujar Izuna cepat. "Jika Anda berniat memaksakan klaim Anda, mari kita selesaikan ini di luar, setelah rapat usai." Ia menoleh pada sang Hokage. "Tidak masalah, bukan?"
Hisao menyambar lagi, "Tahu apa kau soal ini? Aku heran mengapa—"
Ia tak tahan lagi. Senyumannya menghilang. "Shimura-san," Hashirama memanggilnya, "cukup. Akan saya minta klan Shimura mengirim perwakilan lain untuk rapat berikutnya."
"Belum seminggu jadi Hokage, Anda sudah ikut campur urusan internal klan kami?" Suara Hisao meninggi, sudut bibirnya terangkat meremehkan.
Yamanaka Inoha menghela napas dalam-dalam di sebelah kiri sang Hokage, memijat pelipisnya. Hyuuga Mori terbatuk ke dalam kepalannya.
Ia nyaris saja meledakkan cakranya andai ia tidak merasakan seleret tipis cakra dingin Tobirama. Diliriknya sang adik sesaat, berterima kasih dalam diam. "Kita tidak berkumpul di sini untuk mempertanyakan kredibilitas sesama shinobi Konoha," ujar Hashirama pada Hisao, "tetapi Anda boleh keluar jika ingin."
Hisao tertawa rendah, menatap peserta rapat lainnya satu persatu. Hanya Senju bersaudara dan Izuna yang tidak mengalihkan wajah mereka darinya. Kepalannya mengerat di atas meja. Kesunyian yang menyusul akhirnya dipecahkan oleh derit kasar kursinya dan langkah-langkah cepatnya menuju pintu keluar.
"...Fuh," Nara Shikana menghela napas, menyeka dahinya yang lebar.
Tsubaki menjungkitkan kursinya dan berkomentar, "Mereka seharusnya mengirim Keita. Anak baik dia."
"Dia takut padamu." Shikana menyenggolnya pelan dengan siku. Tsubaki terkekeh keras.
Hashirama meluruskan haorinya. Tatapannya menyapu seluruh peserta rapat. "Ada satu lagi hal yang ingin kusampaikan," ia berkata, "Kaisar Hinokuni berniat berkunjung ke desa."
Inoha menganga bingung. "Hah?"
"Untuk apa beliau datang?" tanya Chokichi, mengetuk-ngetuk dagu bulatnya. "Beliau tak pernah memedulikan para ninja sebelumnya."
"Beliau tidak memberitahu lebih lanjut dalam suratnya. Hanya pernyataan ingin bertemu dengan Hokage dan jajaran pemimpin desa." Hashirama bersandar di kursi, memijat pelipisnya.
Di sisi lain meja, Hyuuga Mori menatapnya tajam.
.
"Klan Hyuuga boleh saja sudah bergabung dengan Konoha, tetapi saya pribadi tidak menyukainya."
Perwakilan klan Hyuuga tersebut mencarinya seusai rapat, meminta Hashirama untuk berbicara berdua saja. Ia terlihat gelisah, menggugah rasa penasarannya.
Gelas yang ia isikan untuknya nyaris kepenuhan karena kaget. "Mengapa, Hyuuga-san?" tanya Hashirama sambil memberikan segelas air, menjaga suaranya tetap tenang.
Lelaki tua itu meremas-remas tangannya yang berbonggol. "Tolong dipertimbangkan, Hokage-sama." Ia menyesap air suguhannya. "Para daimyo yang menyewa jasa kita— klan-klan yang sekarang bergabung dalam satu desa, untuk bertarung demi perseteruan mereka. Ya, kita dibayar dengan cukup mahal … tetapi pada akhirnya kitalah yang menanggung korban jiwa dan kerugian materiil lainnya. Sang Kaisar tidak pernah sekalipun peduli. Kita ini hanya rakyat jelata baginya."
Hyuuga Mori tidak sepenuhnya salah. Sebagai pedagang, klannya dipandang sebelah mata bahkan oleh sesama shinobi. Walau dirinya menganggap kedatangan Kaisar adalah hal yang bagus, banyak yang tidak setuju dengannya. Termasuk Tobirama. Alasan utamanya adalah pembangunan rumah berjalan tidak secepat rencana awal mereka, bahkan andaikan Hashirama sanggup membuat dua puluh rumah dalam semalam. Memberi akomodasi bagi Kaisar tentu dibutuhkan usaha ekstra, yang akan menyedot seluruh sumberdaya desa yang belum stabil ini.
"Saya tadinya berharap Konoha akan menjadi suatu desa independen seperti Uzushiogakure." Ia menatap ke luar jendela. "Tersembunyi dan aman dari gangguan politik bangsawan."
"Hyuuga-san, Konoha masih berdiri di wilayah Hinokuni. Bahkan klan Uzumaki pun membayar pajak tinggi bagi Kaisar sebagai ganti independensi mereka."
Alis kelabu Mori terangkat. "Oh?"
Hashirama meminum airnya sendiri. "Anda tentu tahu Uzushiogakure…?"
Pria itu mengangguk. "Jadi benar klan Senju masih saudara mereka. Mengapa kita tidak bergabung dengan desa Uzushio?"
Sang Hokage tersenyum pahit. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Klan Uzumaki … ah, tidak begitu terbuka kepada klan-klan lain."
"Sayang sekali." Mori menarik napas dalam-dalam, memandang jauh ke luar jendela. Langit sudah mulai menggelap. "Jika Senju-sama berkenan, saya memiliki saran untuk—"
"HOKAGE-SAMA!"
Hashirama terlonjak di kursinya saat pintu menjeblak terbuka. Seorang remaja laki-laki berambut hitam yang tadi menemani Izuna dalam rapat sudah kembali. Poninya berantakan seperti habis diembus jurus fuuton.
"Ada apa…?"
"Hokage-sama…." Napasnya masih terengah-engah. Ia mencengkeram dadanya ketika berbicara. "Tolong ikut dengan saya sekarang juga!"
.
Hashirama bisa melihat pembuluh di pelipis Tobirama berdenyut marah saat ia menyambutnya. "Kakak harus menghentikan mereka," pintanya.
Mereka berada di sisi sebuah lapangan yang sepi, lokasi salah satu lahan rumah yang belum dibangun sang Hokage. Di tengahnya Shimura Hisao dan Uchiha Izuna berdiri berhadapan, sebilah pedang di genggaman masing-masing. Seorang remaja tanggung menanti di samping garis pohon, yang ia kenali sebagai keponakan Hisao. Sekali pandang saja sudah cukup memberitahunya apa yang akan mereka lakukan.
Sang Hokage masih tak percaya Hisao berani mengambil langkah ini. Lancang. Kekesalannya membuncah menjadi amarah, tetapi ia masih sanggup menahannya. Diberinya pria itu anggukan sopan sebelum beralih ke calon lawannya.
"Aku bisa mengurus ini sendirian," wanita itu berkata saat Hashirama menghampirinya.
"Apa kausanggup—"
"Duh," dengus Izuna sebal. "Kaukira aku sudah lupa cara bertarung?"
Nekat. Ia pernah melihatnya bertarung di medan perang, tentu; tetapi tanpa sharingan Izuna telah kehilangan banyak kemampuannya. Kemampuan penginderanya telah ia asah, tetapi lawannya bukan seorang amatir. Bukan sekali dua kali Madara mengeluhkan kenekatan adik perempuannya itu.
Dan omong-omong Madara….
Uchiha muda yang mengantarnya mengusulkan, "Tidakkah sebaiknya kita menunggu Madara-sama saja?"
"Diam, Makoto," sergahnya tanpa menoleh. Pemuda itu, Makoto, mundur ketakutan sampai ke belakang Tobirama.
"Izuna, dia benar." Pria itu menghela napas kentara kesal, menyisiri rambut dengan jemarinya. "Shimura Hisao masih andal dalam kenjutsu meski sudah pensiun."
Pedangnya disarungkan kembali dengan cepat. "Kaukira aku tidak tahu itu, Senju?" Izuna berbalik untuk menghadapi Tobirama, lengannya terlipat di dada. "Hisao melontarkan hinaannya kepadaku. Aku yang harus mewakili klanku mempertahankan wilayah kami."
"Ya, tapi—" Tobirama menghentikan dirinya sendiri, mengertakkan giginya. Ia bertukar pandang dengan Hashirama, lalu memalingkan wajah. Haori-nya ia pererat seiring embusan angin lewat.
"Tapi apa?" tantang Izuna.
Hashirama menyentuh lembut bahu wanita yang lebih kurus itu. "Izuna-san, kau tak boleh mati hanya karena sepetak lahan. Biarkan aku yang berbicara kepadanya."
"Berbicara," ulang wanita itu sambil mendengus. Cahaya obor-obor yang baru dinyalakan menjatuhi wajah tirus Izuna. Kedua tangannya dipenuhi bekas-bekas lecet lama khas praktisi kenjutsu. "Dia cuma menganggapku perempuan buta. Kaudengar sendiri dia di rapat tadi, Hashi-san."
Hashirama bergeming, dalam hati menyanggah pernyataan wanita itu. Ia sungguh percaya berdiskusi baik-baik sanggup menyelesaikan perkara. Namun ia tahu Izuna juga benar.
"Izuna…."
Deham keras mengalihkan perhatian mereka berempat. Hashirama melihat Hyuuga Mori duduk di atas tumpukan kayu; ia telah mengikutinya dari kantor dan sang Hokage tak bisa menolaknya. Hisao beranjak dari tempatnya di seberang lapangan kecil itu. Ia membungkuk hormat kepada Hashirama.
"Bagaimana kalau Hokage-sama mengawasi pertandingan kita?" tawarnya bermanis-manis— segala kepahitan yang tadi Hashirama dengar sudah habis. "Agar hasilnya resmi."
Tobirama maju selangkah, menutupi tubuh Izuna dari pandangan pria itu. "Ini bukan cara menyelesaikan perselisihan di Konoha, Shimura-san."
"Aku yang meminta ini." Izuna pindah ke sisi kiri Hashirama. Pedangnya terhunus kembali. "Semakin cepat kita mulai, semakin baik."
Tatapan semua orang kini terarah kepada Hashirama. Bergantian ia amati Hisao dan Izuna. Keduanya enggan mundur dari rencana mereka.
"Tobirama benar— saling bunuh tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi," ia berhenti sejenak, "saya mengizinkan Anda berdua bertarung."
"Bagus," dengkus Izuna. Lawannya hanya tersenyum simpul.
"Anda berdua tahu peraturannya?"
Hisao melemaskan lengannya. "Tanpa ninjutsu. Tanpa genjutsu. Tanpa taijutsu. Tanpa kekkei genkai. Hanya kenjutsu saja."
Izuna menghunus pedangnya. "Nggak masalah."
Kedua petarung menyiapkan kuda-kuda. Sang Hokage mundur menjauh. Ia tidak bisa bertindak sebagai wasit meski posisinya berwewenang untuk itu. Ia takkan bisa adil.
.
"Kak," bisik adiknya putus asa. "Mengapa?"
Kegelapan menguntungkan Izuna. Hashirama nyaris tak mendengar langkah-langkahnya di lapangan, hanya kibasan pakaiannya dan tebasan pedangnya yang membelah udara. Gerakannya masih seluwes dulu, meski ia tak lagi mengganti-ganti pegangannya di tengah pertarungan. Ia lebih banyak mengincar lengan lawannya. Hisao maju dengan langkah-langkah mantap dan tebasan kuat. Cepat nan mematikan dalam sekejap. Namun menyulitkannya dalam aturan yang ditetapkan Hashirama.
Pertanyaan Tobirama tak lebih keras daripada bisikan baginya; seluruh konsentrasinya terpusat pada perlagaan di hadapannya. "Aku percaya Izuna," jawabnya lirih. "Tenanglah."
"Kakak tahu dia orangnya nekat," katanya lagi, tatapannya lekat pada kedua petarung. Sejauh ini Izuna berhasil memblokir semua serangan Hisao, berkelit, lalu mendaratkan serangannya sendiri walau luput.
"Mereka tidak sedang saling bunuh. Ada aku di sini." Hashirama menyembunyikan tangannya dalam lengan baju. "Kamu tahu kemampuannya; 'kan kamu yang sering berlatih dengan Izuna."
Tobirama membisu, sudut bibirnya masih menurun. Pasti ada yang mengganjalnya.
Hashirama berkomentar, "Kamu tidak seperti biasanya."
Ia menoleh mendadak, alisnya berkerut. "Maksud Kakak…?"
"Ada apa?"
Hyuuga Mori, yang bertindak sebagai wasit, mendadak berseru dan mengangkat tangan kanannya. "Satu poin untuk Uchiha!" Pembuluh-pembuluh di pelipisnya berdenyut.
Lengan kiri Hisao sudah berlumur merah. Izuna belum sempat mundur menjauhinya ketika pria itu menebas kaki kirinya. Tanpa doujutsu pun Hashirama dapat melihat muncratnya darah di udara.
"Satu poin untuk Shimura," Mori mengumumkan, lebih lirih. Izuna mendesis keras, tetapi segera melanjutkan pertarungan.
Keponakan Hisao di sisi lain lapangan memerhatikan mereka sambil menggigiti kuku jempolnya, sarung pedang Hisao erat tergenggam. Makoto mengerang takut-takut dari balik punggung Hashirama. Wanita itu meletakkan satu tangannya di bahu Tobirama.
Ia memercayai Izuna, sungguh. Namun melihatnya mulai kesulitan memblokir serangan-serangan Hisao, Hashirama mulai meragukan keputusannya sendiri. Izuna-lah yang memilih sengketanya diselesaikan dengan cara seperti ini, tetapi….
Apa yang akan Madara katakan nanti? Ia tak bisa menghentikannya sekarang juga— Izuna pasti tidak akan menyukainya.
"Satu poin untuk Shimura."
Tobirama menarik napas tertahan. Hashirama menggenggam bahunya. Tangan kiri Izuna terluka di pergelangan. Tampaknya tidak dalam, tetapi cukup untuk membuatnya kesulitan memegang pedang. Ia lebih banyak menghindar daripada menangkis, itupun terganggu dengan luka di kakinya. Hisao tiga kali berusaha menebasnya, kentara tak sabar ingin mendaratkan serangan terakhir. Namun sasarannya terus meleset.
Izuna merunduk menghindari tebasan ke lengan kanannya. Ia berputar pada satu kaki, melempar pedangnya ke tangan yang terluka, lalu menggores siku kiri Hisao dari belakang. Gerakannya begitu cepat hingga lawannya bahkan tidak menyadari ia telah terluka lagi sampai Izuna membuat jarak lebar dengannya.
"Itu—"
"Satu poin untuk Uchiha."
Keduanya hampir kehabisan napas. Wajah Hisao mengerut marah. Izuna, sebaliknya, senyumannya merekah. Darah menetes sampai ke pegangan pedangnya.
"Jangan senang dulu," desis Hisao.
Ia hanya mengedikkan kepala tak acuh.
Goresan kedua Izuna tidak dalam. Hashirama kenal gerakan itu; gerakan yang tidak dibuat untuk mendaratkan tebasan mematikan. Semata hanya untuk melekatkan penanda di tubuh lawan.
Izuna sudah letih; serangannya lebih banyak untuk membuat celah dan menghancurkan fokus Hisao. Pria itu kembali ke taktik awalnya, yakni menebas sekuat dan secepat mungkin. Pedangnya tak lagi diarahkan ke lengan atau kaki Izuna. Tebasan demi tebasan dimentahkan oleh wanita itu. Kemarahan membutakannya. Saat pedang mereka beradu kembali, Hisao mendorongnya sekuat tenaga, lalu mundur selangkah. Sama seperti saat ia melukai kakinya, Hisao langsung menyerang secepat kilat— tetapi kali ini bilah pedangnya mengiris pinggang wanita itu.
Mulut Izuna terbuka tanpa suara seiring ia jatuh. Pedangnya berkelontang di tanah.
Hyuuga Mori melompat maju, menekan beberapa titik di tangan dominan Hisao hingga ia menjatuhkan pedangnya. "Pelanggaran," katanya dingin, byakugan-nya terarah pada si keponakan di tepi lapangan.
Hashirama menyusul, jantungnya berdentum tak karuan. Bertahun-tahun mengalami perang tak berkesudahan mencegahnya panik, tetapi rasa cemasnya telanjur naik. Ia berhasil menangkap Izuna, bermaksud mendudukkannya di tanah. Namun ia hanya bertelekan pada bahunya sementara Hashirama menyembuhkan luka di pinggangnya.
"Sialan." Ia mengertakkan gigi keras-keras. "Singkirkan." Didorongnya pergelangan Hashirama.
"Lukamu—"
"Aku nggak apa-apa," engahnya, meraba-raba tanah mencari gagang pedang. Cakranya tak sekukuh tadi, masih mencari bentuknya yang semula setelah pulih dari keterkejutan. Peluh membanjiri kain yang menutupi matanya.
"Kau sudah menang, Izuna." Hashirama menunduk di atasnya, fokus menutup luka.
"Shimura belum mati."
"Ini bukan duel hidup-mati. Biarkan dia."
Izuna mengerang sebal. "Apa bedanya…" Ia menjatuhkan punggung, mengatur napasnya kembali. "Aku dulu sudah membunuh putranya. Cari mati dia."
Hashirama membelalak kaget. "Kenapa kau tidak bilang—"
"IZUNA!"
Debu mengepul di sekitar mereka ketika Madara mendarat, membawa bau lembap hutan dan darah segar bersamanya. Ia mengamati kondisi adiknya dalam sekejap, lalu tatapannya beralih pada sang Hokage. Raut wajahnya diwarnai amarah.
"Apa-apaan ini?"
Hatinya mencelos. Pendar hijau tangannya meredup seiring dengan bertambahnya beban yang menggelayutinya. Hashirama segera menambahkan lebih banyak cakra ke telapak tangannya untuk mempercepat proses penyembuhan. Entah ke mana larinya ketenangannya yang biasa— mungkin sudah pergi karena ia tahu Madara akan bereaksi seperti ini.
"Bukan apa-apa, Kak," Izuna menjawabkan untuknya. "Cuma mencegah orang lain menyerobot lahan kita."
Madara tidak mengalihkan perhatiannya dari Hashirama. "Kau mengizinkan ini…?"
Hashirama mengangkat wajahnya, mantap mengiyakan. "Ya."
Atensi pria itu beralih ke sisi lain lapangan. Ia memberanikan diri melirik. Hanya ada Tobirama dan Mori yang berbicara dengan suara rendah. Kedua lelaki Shimura tak tampak batang hidungnya.
Izuna mendadak bergerak, bangkit. Hashirama menahannya. Luka di pinggangnya sudah hampir menutup sempurna, tetapi yang di kakinya belum ia rawat. "Aku belum selesai."
"Cuma luka ringan." Madara memapahnya berdiri. Adiknya hanya mengangkat bahu sebisanya, mengisyaratkan pada Hashirama untuk tidak mencegah mereka. Sang Hokage turut bangun, menepuk debu dari lutut celananya.
"Madara," panggilnya, "lukanya…"
"Kak." Tobirama mendekat, kentara mengabaikan Madara. Ia berbisik di telinganya, "Hyuuga Mori minta waktu."
Pembicaraan mereka tadi belum selesai, disela oleh kedatangan tiba-tiba Uchiha Makoto. Sang tetua masih menunggu agak jauh dari mereka. Perhatian Hashirama kembali kepada kedua Uchiha.
Rasanya sudah lama ia tidak bersua dengan sahabatnya ini.
"Kakak juga ada jadwal rapat dengan tetua klan kita."
Hashirama mengerjap. Ia tidak ingat memiliki janji itu. Namun belakangan ini ia bergantung pada Tobirama untuk mengingat-ingat segala janji temu dan rapatnya. Ia kesulitan menangani semuanya sendiri. Andai malamnya luang, sudah tentu ia akan turut mengantar mereka pulang.
Lidahnya berat saat ia berkata lirih, "Maaf atas hal ini, Uchiha-san. Saya harap kita bisa berbincang di lain waktu. Selamat malam."
Kakak beradik itu pergi dalam diam. Hanya Makoto yang membalas sapaannya.
.
Hyuuga Mori memintanya berjalan bersamanya ke kediaman Hyuuga. Tobirama pergi duluan ke kediaman klan Senju, membuka rapat tanpa sang ketua. Hashirama membiarkan tetua uzur itu bertelekan lengannya sepanjang perjalanan, kata-katanya dari percakapan mereka terngiang kembali.
Sang Kaisar pasti tidak akan rela melihat sebuah desa yang sepenuhnya independen di dalam wilayahnya. Hashirama tahu dari sepupu klannya bahwa setiap tahun Uzushiogakure mengirimkan dua peti penuh barang berharga, tidak termasuk hadiah-hadiah, ke ibukota. Konoha saat ini tidak memiliki uang cukup untuk membayar pajak sebanyak itu, sehingga hanya ada satu pilihan yang tersisa.
Ia menggaruk sisi kepalanya. Hatinya gundah karena tak sempat berdiskusi dengan Madara. Hashirama membutuhkan pandangan dan sarannya. Ah, ia harus meminta maaf lagi soal Izuna….
"Anda shinobi yang sungguh cakap, Senju-sama."
Komentar itu diucapkan tak terduga. Hashirama sampai nyaris lupa untuk berbelok menuju destinasi mereka. "Terima kasih, Hyuuga-san," balasnya sopan. Disimpannya pikiran tentang Madara, berjanji pada diri sendiri untuk menemuinya esok.
Konoha di malam hari sungguh sepi. Tak semua rumah yang mereka lalui dihiasi pendar lilin dari dalamnya. Beberapa obor dan lentera dinyalakan seperlunya, menerangi jalan di antara rumah-rumah kayu yang senada. Dari lapangan tadi, mereka berdua hanya berpapasan dengan seorang pejalan kaki.
"Anggaplah ini hanya pertanyaan iseng saja," kata sang tetua lagi, kerut-kerut di wajahnya menjelas saat ia tertawa ringan di bawah cahaya sebuah lentera, "apakah Anda sudah punya calon?"
Hashirama bingung. "Eh? Calon apa?"
"Calon suami, tentu saja."
Mengapa tiba-tiba Mori menanyakan hal itu? Berbagai dugaan muncul dalam benaknya, tetapi tak sedetikpun ia sisihkan untuk menelaahnya. "Oh…" ia tertawa lembut, mulutnya ia tutup dengan satu tangannya yang bebas. "Belum, belum ada," jawabnya.
"Begitu, ya. Jika Anda tertarik…." Ia membiarkan kalimatnya menggantung di udara.
Ini bukan pertama kalinya seseorang menginginkannya menjalin kekerabatan dengan klan lain.
Ini bukan pertama kalinya Hashirama berharap ia tidak lahir dengan status sebagai putri kepala klan Senju.
.
Usianya sebelas tahun, dan ia sedang membuntuti Touka. Sepupunya itu membawa keranjang yang biasa dipakai kerabat perempuan mereka untuk mengumpulkan herba hutan. Yang membuat Hashirama penasaran adalah mengapa ia pergi sendirian dan mengenakan pakaian lelaki. Rambutnya pun digelung di belakang kepala seperti lelaki.
Touka berusia lima tahun lebih tua darinya, jangkung untuk ukuran remaja enam belas tahun. Seperti kebanyakan anggota perempuan Senju, ia menjalani pertemuan rahasia untuk menjadi kunoichi andalan— sebuah pertemuan yang terlarang bagi Hashirama. Touka sudah dipercaya menjaga perkampungan jika para lelaki pergi berperang, bahkan diizinkan membawa naginata di saat itu. Namun, kali ini Hashirama tak melihat senjata apapun padanya, kecuali sebilah pisau untuk memotong herba. Gadis itu menekan cakranya setipis mungkin, sesuai yang Tobirama ajarkan kepadanya.
Adik-adiknya sibuk bersama pemuda Senju lainnya, berlatih kenjutsu dan taijutsu. Mereka semua sudah dibiarkan memegang kunai latihan sejak mereka bisa duduk tegak. Sementara Hashirama harus mengintip mereka diam-diam untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Tiga hari lalu ia tertangkap basah, dan sebagai ganjarannya porsi pelajaran Hashirama dilipatgandakan. Lebih banyak kaligrafi, ikebana dan menyulam. Bukan berarti Hashirama tak menikmatinya; ia menyukai pelajaran itu, tetapi ketika ayahnya membuatnya jadi hukuman, gadis itu ingin berontak.
Maka di sinilah ia, memperhatikan punggung Touka masuk ke kedalaman hutan yang remang dari balik pohon. Semua anak-anak Senju akrab dengan hutan dan alam liar di luar perkampungan mereka, tetapi hanya Hashirama seorang yang diharuskan melapor pada ayahnya sebelum ia pergi ke belantara.
Ah, masa bodoh kalau ia ketahuan lagi. Tidur di gudang sudah biasa.
Lamunannya dipecahkan oleh keretak ranting di bawah sandalnya. Dasar amatir!
"Tak perlu mengendap-endap begitu, 'kan, Hashi?"
Hashirama membeku di jalan setapak, satu kakinya terangkat di atas ranting patah. Touka sudah berbalik menghadapinya, berkacak pinggang. "Dasar bandel," ujarnya sebal.
"Ikut."
"Iya, iya. Aku tahu, kok." Touka mengisyaratkannya mendekat. "Kamu boleh ikut selama tidak berisik."
Cengiran Hashirama melebar. "Apa yang kaucari di hutan?" tanyanya, berlari-lari kecil untuk mengimbangi langkah panjang Touka. "Tanaman obat? Kumis kucing? Lidah buaya?"
"Ngaco kamu. Kita punya semua di perkampungan," jawab sepupunya tanpa menoleh.
"Lalu apa?"
"Ilalang gagak."
Hashirama menelengkan kepala. "Aku belum pernah dengar."
Touka berhenti sejenak untuk menatapnya, alisnya berkerut. "Berapa umurmu?" Setelah Hashirama menjawab, ia menambahkan, "Apa kamu belum berdarah?"
"Aku pernah," ujarnya cepat, lincah mengikuti Touka menembus belukar. Ia menjinjing bawahannya melompati sesemakan kecil. "Waktu aku mengiris mentimun, dan waktu Itama tak sengaja menusukku dengan kunai latihannya."
"Oh," Touka merespons dengan datar. "Kau belum rupanya. Percuma juga kujelaskan."
Anak perempuan itu cemberut sementara si gadis berjongkok memilah kerimbunan di depannya. Touka mengeluarkan pisaunya, memotong-motong tanaman kecil dengan daun berbentuk hati memanjang.
"Ayolah, beri tahu aku," pintanya, menyenggol lengan atas Touka yang telanjang.
Gadis itu meliriknya sesaat, poni hijau gelap jatuh menutupi matanya. "Sebentar lagi kamu akan berdarah, pertanda tubuhmu sudah dewasa. Itu artinya, kamu bisa mengandung bayi di perutmu."
Hashirama spontan memegangi perutnya sendiri, menunduk menatap tubuhnya. Ia sudah sering melihat wanita-wanita Senju berperut besar di perkampungan, tetapi belum sekalipun ia diberi tahu bagaimana mereka hamil. Yang ia tahu, seorang pria selalu dilibatkan dalam prosesnya.
"Bikin bayi caranya bagaimana, Touka?"
"Cerewet kamu, Hashi," geramnya sebal. "Kamu ini anak kepala klan, nanti kalau kamu menikah, suamimu yang akan memberi tahu."
Seketika ia teringat pada Nobuo, dan tawa nyaringnya ketika berhasil menjahili Kawarama dua tahun lalu. Nobuo pasti akan menggunakan kesempatan itu untuk menjahilinya juga. Dalam hati ia memperbarui sumpahnya untuk tidak menikah dengan bocah Uzumaki sialan itu. Lagipula cucu laki-laki Uzumaki Ashina bukan hanya dia saja.
"Ih, tak mau. Aku mau tahunya sekarang."
"Pulang sana," Touka mengusirnya dengan lambaian tangan.
Hashirama berdiri berkacak pinggang. "Tak mau!"
"Kamu banyak tanya."
"Kalau bukan padamu, aku tanya siapa?"
"Bibi atau nenek di kampung, lah!"
"Sudah. Nggak ada yang mau kasih tahu apa-apa." Bibir Hashirama manyun. "Anak-anak perempuan yang lebih muda sudah diberi tahu. Mengapa aku tidak?"
"Kamu ini anak kepala klan, Hashi."
"Apa istimewanya jadi anak kepala klan kalau aku nggak tahu apa-apa?"
Pisau Touka berhenti memotong. Mendadak si empunya berdiri, kembali ke arah jalan setapak hutan. "Ya sudah. Dengar baik-baik, ya. Aku hanya menjelaskan sekali."
Perhatian Hashirama terbagi antara berlari-lari kecil, keresak dedaunan yang ia injak serta kaokan burung-burung hutan. Seekor melintas di atas kepala mereka, bentangan sayapnya selebar bahu si gadis kecil, dan dihiasi bulu hijau kebiruan. Matanya mengikuti hewan itu sampai ia mendarat di sebuah cabang.
"...Jika itu terjadi, maka bayi akan tumbuh di dalam perut perempuan." Touka berhenti lagi, menyibak semak untuk menemukan ilalangnya. "Rebusan ini akan menghentikannya."
Hashirama buru-buru berjongkok di sisinya. "Rebusan ilalang gagak?" Ia meraba rumput kasar itu. "Jadi ini membunuh bayi?"
"Bisa dibilang begi—" Bahu Touka menegang. Ditaruhnya telunjuk di bibir. Pegangannya di pisau berubah.
"Ada apa?" bisik Hashirama. Apakah ada anggota klan lain yang mendekat? Tetapi mereka tidak berjalan jauh ke hutan; ia masih bisa melihat atap-atap rumah Senju dari sini….
"Siapa di … situ?"
Suara itu masih agak jauh. Laki-laki, hanya seorang. Aksennya berbeda dari pria-pria Senju di perkampungan. Kedua gadis itu berada di kaki tanjakan, sementara si pria asing berasal dari atas mereka. Hashirama tak berani menoleh barang sejenak, sementara sepupunya mengintip si orang asing dari balik sesemakan.
Ujung jemarinya mendingin sementara ia menekan cakranya lebih tipis lagi. Ia tahu apa yang akan terjadi jika mereka ditemukan. Dibunuh adalah kemungkinan terbaik. Diculik dan dijual cukup sering terjadi.
Apalagi ia adalah anak kepala klan.
Belasan peti mati kembali terbayang di pikirannya, masing-masing berisi seorang perempuan, termasuk ibunya. Tidak, tidak, mereka tidak akan berakhir seperti itu—
"Cuma satu orang," Touka berbisik nyaris tanpa suara. "Kalau kamu tidak dengar suaraku selama lima detik, larilah sekencang-kencangnya pulang, Hashi."
"Tou—"
Remaja berambut hijau itu menghilang dari sisinya. Didengarnya ia menyapa pria itu, "Halo, Tuan! Apakah Anda mencari penginapan untuk malam hari?" Suara Touka sengaja diberatkan.
Pria itu membalas dengan gerungan rendah, "Ada desa dekat sini?"
Hashirama mengambil kuda-kuda, telinganya ia tajamkan. Touka masih terus berbasa-basi dengan si pria asing, sesekali tertawa bersamanya. Ia tak bisa memilah fokus antara bersiap lari atau terus menguping. Terdengar suara kibasan pakaian, lalu sunyi.
Teringat permintaan sepupunya, Hashirama mulai menghitung sampai lima dalam hati. Kesunyian masih terus berlangsung. Ia melanjutkan sampai sepuluh. Masih sunyi. Apa yang terjadi?
Tujuh belas, delapan belas, sembilan belas, dua puluh. Apa yang sedang dilakukan sepupunya?
Ia melompat keluar dari sesemakan. "Touka!"
Si pria asing duduk di tunggul pohon, sementara sepupunya berlutut dan menunduk di hadapannya. Apa yang sedang dilakukannya? Ia terlalu sibuk memerhatikan Touka sampai nyaris tak mendengar lelaki itu menghardiknya.
"Hei! Dari mana kamu—"
Hashirama membeku di tempat. Touka bangkit dalam sekejap mata, memukul leher pria itu dengan satu hantaman presisi. Ia terjungkal, mengaduh dan menyumpah. Pakaiannya telah tersingkap hingga ke pinggang, celananya turun separuh paha. Sebelum ia bangkit atau mengeluarkan senjata, Touka membuat segel, lalu menangkupkan wajah si pria di tanah. Ia tidak bergerak lagi walau masih bernapas. Semua ini terjadi tanpa sekali pun gadis itu membalikkan tubuh.
"Mengapa tidak lari, Hashi?" Ia menyeka wajahnya, meludah beberapa kali ke tanah.
"Aku…." Debur jantungnya masih tak menentu. "K, kauapakan dia tadi?" Ia mencengkeram bajunya kuat-kuat, menatap pria yang tak sadarkan diri. Usianya setidaknya tiga puluhan, lambang sulaman di lengannya menandakan ia dari klan Hagoromo. Touka bisa saja terluka melawannya.
Touka berbalik, tetapi ia malah meraung, "Hashirama!"
Sesuatu yang berat berdebum turun di belakangnya. Sebelum ia sempat menoleh, sebuah lengan kekar merengkuh lehernya dan menyulitkannya bernapas. Hashirama menendang-nendang udara dan mencakari lengan berbulu itu, tetapi usahanya sia-sia. Dalam usahanya melepaskan diri, ia tidak mendengar apa yang dikatakan pria itu pada Touka. Tiba-tiba saja ia dihempaskan di bahunya, dibawa pergi menembus hutan.
"Touka!" jerit Hashirama. "Toukaaaa!"
Lambang klan Hagoromo juga tersulam di punggung pria itu. Perutnya terus terpantul-pantul di bahu selama mereka melompati cabang-cabang pohon, membuatnya pusing dan mual. Tangan kirinya berusaha menggapai ranting-ranting, melukai lengannya hingga berdarah. Matanya berair. Ia mulai tak mengenali pepohonan yang mereka lalui; sudah seberapa jauh mereka dari perkampungan? Bagaimana caranya ia keluar dari situasi ini?
Taijutsu? Ia mahir berkelahi, tetapi lawannya sejauh ini hanya anak-anak di perkampungan. Ia tak pernah diajari langsung oleh orang dewasa— Hashirama hanya belajar dari anak-anak lelaki. Ninjutsu— cih, ia bahkan tak ingat keduabelas segel jari. Kontrol cakranya boleh saja bagus, tetapi tanpa pengetahuan yang cukup tentang segel, ia tak akan bisa membuat apa-apa.
Hashirama menatap kedua telapak tangannya, menahan rasa mual. Jemarinya bertautan di atas punggung tangan satu sama lain. Cuma segel ini yang ia ingat. Ia memejamkan mata, merasakan angin lembap menerpa kulit wajahnya. Cakra di perutnya berdenyut. Giginya mengertak.
Ia harus bisa. Harus bisa. Harus bisa.
Cakranya terasa hangat. Bergolak. Membuncah. Lepas.
Hashirama mendengar suara keras serupa gebukan, lalu tubuhnya merosot dari pegangan shinobi Hagoromo itu, yang mengaduh dan mengumpat-umpat. Ia membuka mata pada pandangan hutan yang menjauh— ia terjatuh menembus daun dan ranting. Punggungnya terlebih dahulu menyentuh tanah berselimutkan dedaunan kering. Teriak kesakitannya bergaung di antara batang pohon. Rasa sakitnya menyebar dan menjalar di sekujur punggung.
Penculiknya berdiri hanya beberapa meter di depan. Perawakannya mirip monyet bongsor. Ada lebam di kepalanya yang separuh botak. Darah mengalir di pelipisnya.
"Senju sial!"
Hashirama memaksa tubuhnya berdiri, meski punggungnya sakit. Pasti ada yang retak. Segera saja ia terhuyung, roknya tersangkut dan membuatnya terjerembap. Rasa mualnya kembali, diperparah dengan debur jantungnya. Ia harus lari! Harus lari!
Absennya keresak daun membuatnya penasaran. Hashirama memberanikan diri menoleh; tepat saat penculiknya menyambar lehernya. Ia memitingnya ke tanah, jemari menancap di jalur napasnya. Pandangannya berkunang-kunang.
Ia merasakan kehadiran lain, lalu napasnya lega kembali. Hashirama terbatuk-batuk, memerhatikan sebuah sosok menghajar shinobi Hagoromo itu lewat pandangannya yang masih kabur. Perkelahian mereka berlangsung singkat, diakhiri dengan muncratnya darah dari leher si ninja asing.
Bertumpukan pada sebatang pohon, Hashirama perlahan menegakkan diri. Ia tak ingin terlihat tak berdaya. Penyelamatnya berlutut di depannya, memerhatikannya dari atas ke bawah.
"Ayahanda…."
Senju Butsuma menggendong tubuh putrinya. Hashirama menggigit bibir, menahan sengguk yang membubung di tenggorokannya. Dicengkeramnya punggung pakaian sang ayah erat-erat. Air matanya meleleh ke pipi. Rasa takut dan paniknya sudah lenyap diterpa kelegaan.
"Kau beruntung tidak terluka," kata Butsuma selagi mereka melaju kembali ke perkampungan. "Klan Uzumaki dan klan kita akan rugi besar kalau kau mati."
Genggaman Hashirama di punggungnya melonggar. Benaknya terbagi antara ingin pulang atau lari meninggalkan klannya. Tangan kirinya terentang di hadapan, seolah berusaha menggapai angan.
Lengannya telah mulus kembali.
.
.
hai, update berikut bakal telat karena yang nulis mau UAS :'D
thanks udah baca, ya.
edit: beberapa adegan tobiizu yang ga masuk ke sini bisa dibaca di the art of war(ring against feelings). cuma yang latarnya canon ya :'D
