flashbacks di sini diambil dari chapter 622-623
madara's pov di bagian awal
sebelumnya penulis mau berterimakasih sama yang udah review di sini, sayangnya anon semua padahal pengen banget bales satu-satu :'D
revised 24042018
.
.
Usianya dua puluh enam tahun, dan Madara masuk ke kamar sahabatnya untuk pertama kali.
Malam telah larut di Konoha. Jalan-jalan yang biasanya diterangi obor maupun lentera telah dimatikan begitu penghuni rumah mulai terbujuk untuk merebahkan diri di kasur masing-masing. Sunyi menyelubungi desa.
Madara pulang dari patroli dengan sederet pertanyaan. Tindakan apa yang akan Hokage ambil atas Shimura Hisao? Sejak kapan jalan-jalan penghubung desa dan kota dipenuhi bandit? Konoha terlalu fokus pada perpindahan klan-klannya sendiri sampai lupa akan keamanan desa-desa tetangganya. Para bandit ini bukan perampok profesional; mereka hanya petani dan rakyat jelata yang kelaparan. Begitu mereka melihat kelompok patrolinya, semuanya lari tunggang langgang. Entah apa Hashirama tahu akan hal ini.
Niatnya untuk memberi tahu sang Hokage sirna saat ia melihatnya tertidur dalam bangunan besar tak beratap. Bergelung di lantai tanpa alas maupun selimut. Menggunakan mokuton dalam bertempur berbeda dengan menggunakannya untuk membangunkan sebuah rumah. Madara masih mengingat jelas penjelasan Hashirama berbulan-bulan lalu, ketika ia pertama menyaksikannya membangun rumah dari nol.
"Selama bertempur, aku hanya perlu berfokus pada sedikit tujuan saja," jelasnya. "Membuat kayu kukuh untuk melindungi, mengikat, atau jadi tempat berpijak. Hanya itu. Kayu untuk membangun rumah lebih rumit; tidak boleh terlalu tebal atau terlalu tipis. Kayu sisa pertempuran bisa dibuang begitu saja, tetapi sebuah rumah akan tetap digunakan sampai berpuluh-puluh tahun lamanya. Semua ukuran dan jarak harus kuperhitungkan dengan cermat."
Ia sungguh tak perlu menjanjikan sederet rumah instan di Konoha; tetapi klan-klan lainnya sengaja memanfaatkan kesempatan itu. Aliansi permanen dengan dua klan terkuat di Hinokuni, dan rumah yang tahan tujuh turunan! Belakangan dari Izuna ia mengetahui bahwa klan Senju juga membantu kepindahan delapan klan lain menggunakan biaya mereka sendiri.
Oportunis sialan.
Sembari sahabatnya itu menengadah menumbuhkan atap, tatapan Madara lekat kepadanya. Stamina Hashirama memang terkenal luar biasa, tetapi ia jelas memaksakan diri menembus batas ketahanannya. Wajahnya menirus. Cakranya keluar deras. Namun usai atap bangunan itu selesai, ia masih sanggup berjalan.
Jemarinya terus bersinggungan dengan tangannya. Hashirama mendadak berhenti berjalan, tatapannya kosong. Khawatir ia akan jatuh pingsan, Madara memanggilnya lembut, "Hashirama?"
Ia membalasnya dengan menggenggam tangannya. Gemetar. Hashirama pucat pasi, digerogoti kelelahan dan urusan desa. Apapun yang ingin ia katakan tak pernah keluar dari mulutnya.
Madara mengeratkan genggamannya.
Hashirama balas merengkuh tubuhnya, wajahnya ia sembunyikan di bahu. Wangi matahari seketika menerpa penciumannya. Tangannya yang bersarung menemukan pinggangnya, mengeratkan pelukan mereka. Napas Hashirama terasa berat di dadanya sendiri, rusuknya mengembang dan mengempis lambat-lambat. Tubuhnya memberat dalam dekapannya.
Ia kesal kepada dirinya dan kepada para oportunis sialan yang sudah memenuhi Konoha dengan tuntutan-tuntutan mereka. Kalau ia yang berada di posisi Hashirama saat ini, Madara pasti lebih sanggup menolak tegas kemauan mereka yang berlebihan itu. Namun, mereka memilihnya dengan sengaja.
Segalanya akan berjalan lebih lancar andai Madara yang menjadi Hokage sesuai keinginan Hashirama.
Wanita itu melepaskan pelukannya, tersenyum lemah. Madara masih memegangi lengannya. "Kuantar kau pulang," tawarnya.
Hashirama mengernyit. "Aku nggak 'pa-pa…." Tubuhnya terhuyung.
"Hashi—!" Madara menangkapnya sebelum ia terjatuh pingsan. Terpaksa ia menggendongnya dengan kedua tangan karena gunbai-nya masih terpasang di punggung. Rambutnya terurai melewati lengannya, kepalanya menengadah menampakkan leher. Ia sungguh tak terbiasa melihatnya seperti ini, dengan zirah dan pedangnya absen dari pandangan. Diambilnya jalan pintas melewati atap-atap rumah yang kosong menuju ke kediaman Hokage, menjaga kecepatannya agar kepalanya tidak terantuk-antuk.
Di tengah perjalanan, Hashirama membuka mata, tetapi belum sepenuhnya sadar. "Turun … kan…." erangnya, berusaha mendorong bahu Madara.
Protesnya tak teracuhkan sampai Madara masuk ke apartemennya dari jendela yang terbuka lebar. Lentera dan obor di sekitar bangunan yang belum selesai itu sudah dimatikan untuk penghematan. Kegelapan bukan masalah baginya; ia melewati perabotan di dalam apartemen dengan mudah sampai menemukan tempat tidurnya. Dengan berhati-hati ia turunkan tubuh Hashirama. Mendadak tangannya mencengkeram kerah kimono Madara.
"Tinggal," bisiknya lirih. Kelopak matanya separuh terbuka, tetapi dengan cepat menutup kembali.
Pria itu tak menjawab, perlahan melepaskan gunbai dari punggungnya dan menyelimuti sahabatnya. Tak lama kemudian cengkeramannya mengendur, dan lengannya terkulai lemas di sisi tempat tidur. Napasnya sudah lebih teratur.
Dalam temaram malam, sang dewi shinobi tampak begitu fana.
Madara mengedarkan tatapan ke seluruh isi apartemen kecil itu. Sungguh bukan tempat yang layak bagi shinobi yang memegang wewenang tertinggi di Konoha. Ia juga tinggal sendirian; seharusnya ia membawa satu atau dua pelayan untuk mengurusinya. Debu dan serbuk kayu mengumpul di balik pintu, terbawa angin dari tempat penggergajian. Bagaimana bisa Tobirama membiarkan saudarinya tinggal di tempat seperti ini? Hashirama tidak akan hidup begini jika hasil pemungutan suara itu berbeda.
Ketika ia menarik kursi untuk duduk, ditemukannya sesuatu terserak di meja. Sebuah bundelan rancangan peraturan desa, yang langsung ia letakkan kembali. Lainnya adalah kumpulan lamaran dari enam klan berbeda— semuanya ditujukan untuk Hashirama.
Oportunis sialan.
Kertas-kertas itu sudah lecek tak terbaca lagi ketika Madara meninggalkan apartemen Hashirama.
Leluhur Agung akan kecewa sekali melihatmu sekarang.
Berisik.
.
"Tidak … hari ini tidak ada rapat klan, Kak. Terakhir itu kemarin lusa."
"Oh." Hashirama menepuk dahinya sendiri. Lima menit yang lalu ia terbangun di apartemennya dengan perasaan bahwa ia akan terlambat untuk rapat penting. Dalam gelap gulita ia berlari ke rumah Tobirama, nyaris panik teringat ceramah paman-pamannya tempo hari.
"Maaf menganggumu…." Hashirama berbalik dengan lesu. Sekarang ia harus kembali menembus kegelapan dengan suhu menggigit begini….
"Tunggu," panggilnya, "Kakak masuk saja. Tak usah kembali."
Wanita itu menghela napas lega. Saat ia melepas alas kaki, barulah ia menyadari telah mengenakan sandal berbeda pasang. Sembari terkekeh, Hashirama menunjukkannya pada Tobirama. Wajah kusutnya yang masih separuh mengantuk dihiasi seulas senyum tipis.
Rumah-rumah anggota klan Senju tersebar di seluruh penjuru desa, mayoritas dibangun oleh tukang kayu mereka sendiri segera setelah hutan setempat ditebangi di awal desa didirikan. Letaknya yang tidak mengumpul seperti rumah-rumah klan lain menyebabkan anggota klan Senju bebas membaur. Rumah Tobirama sendiri terletak agak ke pinggir desa, dikelilingi rumpun bambu tinggi dengan jalan setapak yang membelahnya. Anak sungai kecil mengalir tepat di sebelahnya, sehingga rumahnya tak pernah sepi dari bunyi gemericik air. Hanya ada satu ruangan di dalam dengan tungku irori. Futon jeraminya terbentang di ujung lain ruangan, permukaannya masih kusut bekas ditiduri.
Tobirama memberikan selimutnya pada Hashirama, lalu menyalakan tungku untuk menghangatkan diri. Keduanya terdiam selama beberapa saat, menyaksikan lidah-lidah api tumbuh dari gundukan ranting perapian. Kemudian Hashirama berujar, "Kau tidak bilang ada lamaran-lamaran itu."
"Lamaran apa— oh. " Tobirama mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Paman Joji sudah menolak semuanya waktu aku diberi tahu. Katanya tak ada yang cukup pantas untuk bersanding dengan Kakak."
Ia merapatkan selimutnya, dagunya terbenam di antara lutut. "Kau sendiri bagaimana?"
"Aku kenapa?" Tobirama meletakkan ceret kecil di kait yang tergantung dari langit-langit di atas tungku.
Cengiran samar muncul di wajahnya, separuh tersembunyi helaian cokelat gelap. "Masih senang hidup melajang?"
Tobirama membuat suara antara terbatuk dan tersedak. Hashirama menepuk-nepuk punggungnya, tertawa-tawa sendiri.
"Kita sudah nggak perang lagi. Bisa lebih leluasa menghabiskan waktu dengan keluarga!"
Adiknya hanya bergumam soal kestabilan desa dan banyaknya administrasi yang ia kerjakan, mengundang kekehan saudarinya.
Mendadak ia teringat sesuatu. "Tobirama." Nadanya berubah serius. "Bagaimana kalau posisi ketua klan Senju kuberikan kepadamu?"
Sunyi sejenak sebelum Tobirama merespons, "Tapi, Kak … Kakak yang dulu terpilih, 'kan?" Dahinya berkerut.
"Tapi aku sama sekali tak pernah sempat menghadiri rapat klan belakangan ini," Hashirama mengerang. Kepalanya miring dibaringkan di atas kedua lutut. "Aku nggak memimpin perang lagi; aku lebih sibuk mengurus desa sekarang. Kamu yang lebih hafal seluk beluk klan, kamu yang lebih bisa bernegosiasi dengan paman-paman di dewan klan." Ia mengamati wajah adiknya dalam bayangan lidah api tungku. "Cuma kamu yang aku percaya."
Dan paman-pamannya lebih memercayai adiknya.
Tobirama menyodok tungku sekali lagi, lengan kimono hitamnya ia tarik agar tidak menjuntai. "Baiklah. Kalaupun aku menolak, Kakak pasti akan mendesakku."
Hashirama tersenyum lebar. "Habis bagaimana, kamu memang bisa diandalkan, kok."
"Jangan lupa hadir di rapat berikutnya agar keputusan Kakak bisa diresmikan." Ia mengalihkan pandangan ke pintu shoji. Bayangan-bayangan bambu bergoyang pada permukaan kertasnya. "Sebenarnya, aku sudah berniat mengusulkan itu. Kakak sudah kelewat lelah mengurus desa."
"Aku masih sanggup, kok."
"Kakak pingsan dua hari lalu," Tobirama hampir meninggikan suaranya. "Setelah membuat penginapan itu."
Hashirama ternganga, kantuknya hilang terusir. "Aku … aku tidak ingat…." Kemarin pagi ia terbangun di apartemennya, sehingga ia menyimpulkan setelah penginapannya beres ia berjalan pulang sendirian. "Nggak mungkin aku pingsan, ah. Mustahil." Ia tak pernah jatuh sakit.
Ceret bersiul mendidih. Tobirama menuangkan isinya ke dua gelas tanah liat. Wangi daun teh segera memenuhi ruangan. "Kakak kelelahan. Sudah berapa kali Kakak tertidur di ruang Hokage? Di tengah rapat? Dulu pun Kakak begitu. Biarkan tukang kayu kita menyelesaikan rumah-rumah lainnya. Kakak sudah cukup banyak membuatkan rumah."
Melihatnya seperti ini membuat rasa bersalah meliputi Hashirama.
"Madara yang membawa Kakak pulang dari sana," Tobirama melanjutkan, meletakkan segelas teh di hadapannya. "Ia yang memintaku mengambil alih lebih banyak tanggung jawab Kakak."
"Madara yang…." Kalimatnya tak terselesaikan. Hashirama ingat sekarang. Madara menemuinya larut malam. Dadanya berdebar ketika ia juga mengingat bagaimana ia menjatuhkan diri ke dalam pelukannya yang terbalas….
Ucapan Tobirama tak lagi ia dengarkan.
.
Matahari sudah terbit ketika Hashirama dan seluruh anggota dewan desanya bersiap di sisi timur. Ia telah melakukan pengecekan terakhir persiapan mereka. Suplai makanan untuk makan sudah tersedia, terdiri dari rusa hasil buruan dan sayur mayur yang baru saja dipanen. Penginapan yang ia tumbuhkan sudah dilengkapi dengan perabotan dan pintu-pintu geser. Pepohonan wisteria dan kousa masih menjulang, bunga-bunganya yang ungu dan putih menjuntai ke kepala para pejalan kaki. Anak-anak mengintip dari balik tembok rumah atau pepohonan, wajah mereka dipenuhi rasa penasaran.
"Bandel sekali," Inoha menggerutu setelah menyuruh tiga bocah pergi dari balik pohon cemara. "Mereka terus kembali meski sudah dimarahi."
"Biarkan saja," kata Shikana. "Wajar mereka penasaran; rakyat jelata seperti kita ini mana mungkin didatangi bangsawan. Kita yang biasanya mendatangi mereka, meski pun mereka yang punya urusan."
Semua orang telah mengenakan pakaian terbaik mereka. Hashirama geli melihat Inuzuka Tsubaki dengan rambut tersisir licin, sisir pendek disematkan di sanggulnya. Kimononya biru pucat dengan obi merah pudar. Ia membelalak melihatnya. "Tidak adil!" Ia mengacungkan jari ke wajah sang Hokage. "Kenapa bajumu malah santai begitu? Kukira kau akan dandan juga!"
Hashirama hanya mengenakan kimono sehari-harinya dengan haori putih hangat. Satu-satunya aksesoris yang ia kenakan hanyalah kalung dengan bandul kristal hijau warisan turun temurun klan Senju. Rambutnya ia biarkan terurai. Ia terbahak mendengar protes Tsubaki. "Kita akan bersama-sama mereka seharian penuh. Lebih baik memakai kimono yang nyaman sekalian."
Hyuuga Mori menepuk bahu Tsubaki penuh simpati sementara wanita itu menggeram. Kepala klan Hyuuga itu mengenakan kimono hitam sederhana sementara rambutnya disisir penuh ke belakang. Tsubaki segera menemukan Shimura Keita di ujung barisan, bawahannya ia jinjing sembari menghampiri pemuda itu. Keita langsung merepet kepada Akimichi Chokichi—berusaha sembunyi, tetapi gagal.
Sang Hokage mengedarkan pandangan ke sekeliling. Jauh dari keriuhan para kepala klan, berdiri Madara di bawah dahan-dahan pinus. Bayangan dedaunannya menyembunyikan profil wajahnya. Lengannya terlipat di dada. Ia memperhatikan kerumunan dengan wajah bosan.
"Masih lama?" tanyanya ketika Hashirama mendatanginya. Madara mengenakan kimono gelap sehari-harinya. Rambutnya liar tergerai.
"Kurasa sudah dekat, menurut satuan patroli yang terakhir kembali." Ia menelengkan kepalanya. "Rambutmu berantakan."
Madara melirik bahunya tanpa minat. "Memang biasanya begini."
"Setidaknya ikatlah."
"Takkan ada bedanya."
Hashirama sudah membuka mulut untuk membujuk lagi, tetapi didengarnya seseorang memanggil. Ditinggalkannya Madara sendirian. Salah satu sepupu Senju-nya mengatakan bahwa rombongan klan-klan Sarutobi dan Aburame sudah dekat, diperkirakan akan tiba malam nanti. Lebih cepat dari perkiraannya.
"Mereka memang berangkat lebih cepat," ia melaporkan. "Akhir-akhir ini di bagian barat Hinokuni terjadi cuaca aneh. Badai luar biasa tanpa mendung, semacam itu, Hokage-sama. Patut dihindari."
"Kalau begitu utus tim penjemput dan dahulukan lansia serta yang sedang sakit … kaupaham protokolnya, 'kan?" Hashirama mendadak sadar ia seharusnya datang membantu kedatangan kedua klan ini dan menempatkan mereka dalam rumah-rumah yang sudah tersedia. Namun, ia tak bisa absen dari penyambutan Kaisar betapapun ia ingin menyambut penduduk baru Konoha.
Seolah telah mencium ketidakberesan, Tobirama mendadak muncul di sisinya. "Aku saja yang pergi." Ia mengangguk pamit pada Hashirama, menggamit lengan sepupu mereka. Mereka berlalu sambil membicarakan penjemputan beberapa ninja penyembuh dari rumah sakit. Lama sang Hokage menatap punggung keduanya, sampai seseorang menyentuh tangannya.
"Ayo," Madara berbisik di telinganya. "Sang Kaisar sudah tiba." Ia menggandengnya sampai ke kerumunan.
Tatapannya tak bisa lepas dari buku-buku jari kasar Madara. Ia tak sempat menanyainya tentang malam saat ia pingsan….
Derap langkah teratur menarik perhatiannya. Yang pertama Hashirama lihat di ujung jalan adalah dua baris samurai berseragam kelabu gelap. Zirah mereka identik satu sama lain, dengan helm sederhana tanpa hiasan. Bahkan perawakan mereka pun serupa. Topeng menutupi semua wajah mereka. Jumlah mereka ada setidaknya dua puluh. Satu samurai berzirah merah berhelm tanduk menonjol dari yang lainnya. Tampaknya pemimpin pasukan kecil tersebut.
Barisan samurai ini mendahului sebuah tandu mewah yang dipikul empat orang lelaki kekar berpakaian hijau pudar. Ornamen emas menghiasi ujung atapnya yang dicat merah, keempatnya berkilauan ditimpa sinar mentari pagi. Sisi mukanya ditutupi partisi dari jalinan ilalang air, menyembunyikan sosok penghuninya dari pandangan. Ketika mereka mendekat, terlihat tiga baris orang-orang berpakaian semarak berjalan di belakang tandu. Dari dandanan mereka, tampaknya mereka adalah orang penting atau seniman yang dibawa dalam rombongan. Paling belakang adalah serombongan pelayan yang membawa peti-peti berat dengan beberapa ekor kuda.
Para samurai berhenti di hadapan para shinobi, berbalik hingga menghadap satu sama lain, lalu berlutut. Keempat pembawa tandu perlahan pun berlutut. Sementara sosok di dalam tandunya beringsut, seorang pria tergopoh-gopoh berlari dari belakang iring-iringan. Ia membawa umbul-umbul berlambang Hinokuni.
"Yang Mulia Kaisar Madoka Nobutada telah tiba!" serunya lantang, ujung umbul-umbulnya ia hantamkan ke tanah.
Serta merta Hashirama berlutut dan menghatur salam. "Saya Senju Hashirama, Sang Hokage, menyambut Yang Mulia di Desa Konoha." Semua pemimpin klan di belakangnya segera mengikuti contohnya. Ia mendengar kibasan kimono, kemudian melihat sepasang kaki bersepatu sutra biru langit berhenti di hadapannya.
"Heeeei, Matsudaira tidak bilang kalau Hokage-nya perempuan secantik ini!"
.
Para samurai tidak ikut masuk ke penginapan, kecuali lima orang, termasuk satu yang berzirah merah. Topeng-topeng mereka tetap terpasang. Yang lain bersiaga di sekeliling bangunan, tangan menggenggam pangkal pedang masing-masing. Mereka hanya mengizinkan kedelapan kepala klan dan pelayan yang membawakan makanan masuk ke penginapan.
Aula tengah penginapan sudah didekorasi menjadi ruang jamuan privat. Lantai mokuton-nya sudah mengilap. Bantal-bantal duduk berisi katun diletakkan di depan meja-meja kecil berisi teh dan camilan dari ubi manis.
Sang Kaisar memerintahkan seluruh seniman pengikutnya untuk bersiap-siap. Bersamanya tersisa tiga orang musisi, samurai berzirah merah, dan seorang pria pendek botak berjubah merah dengan benang-benang emas. Kumisnya yang menjuntai bergerak-gerak lucu selama ia menggigiti camilannya.
Keempat samurai di dalam ruangan duduk bersimpuh tak bergerak, hidangan mereka tak diacuhkan. Topeng mereka tak dibuka, meski helm pelindung kepala mereka telah dilepas. Hanya samurai berzirah merah yang menurunkan topengnya. Ia memperhatikan Chokichi yang melahap bagiannya dengan antusias sebelum makan dengan hati-hati.
Kaisar Nobutada sendiri berbaring pada sisi tubuhnya, mencecap bibirnya keras-keras di sela setiap gigitan. Kepalanya ditopang dengan satu lengan. Jubah sutra ungunya melebar di lantai. "Ini enak sekali! Oi, kalian juga harus coba," serunya kepada salah satu samurai di dalam.
Ajakannya tak ditanggapi, tetapi hal itu tidak mengganggunya.
"Aku sungguh tak mengira sebuah desa bisa membuat camilan serumit ini. Atau rumah-rumah kayu kukuh di mana-mana." Ia menegakkan diri, cengirannya lebar. "Atau ternyata kepala desa ini adalah seorang wanita!"
Sejak Hashirama memperkenalkan diri beserta ketujuh kepala klan lainnya di mulut desa, perhatian Kaisar nyaris terpusat kepadanya. Sang samurai nampak sebal dibuatnya. Ekspresinya kaku, tetapi gerak bola matanya menunjukkan bahwa kebiasaan ini bukan hal baru baginya.
"Kukira Senju Hashirama itu seorang pria, lho," Nobutada melanjutkan, satu kakinya tegak menopang tangannya yang memegangi gelas. "Aku sudah dengar banyak dari Daimyo Matsudaira tentang pencapaianmu. Memimpin perang, meluluhlantakkan bukit dalam sekejap. Tak bisa mati pula! Konon juga sanggup menumbuhkan belantara dalam satu tarikan napas. Perempuan, lagi!"
Hashirama tersenyum simpul, dan berterima kasih dengan sopan. "Kabar itu berlebihan sekali."
"Begitulah," celetuk si pria berkumis. "Tak ada kabar yang sesuai dengan kenyataan kalau sudah bercampur gosip."
"Ah, pesimis kau, Ukyo!" Nobutada mengibaskan lengannya. "Aku juga tidak percaya sampai Matsudaira bilang sendiri begitu kepadaku. Makanya dia terus menerus membayar klan Senju untuk menjaga perbatasannya. Tua bangka pelit seperti dia!" Ia berhenti untuk menenggak tehnya. "Tetapi kau memang pantas menyandang titel dewi shinobi. Tak hanya kuat, namun juga cantik jelita!"
"Ya, tapi tetap saja perempuan," Ukyo menimbrung lagi. "Gosip itu berlebih-lebihan. Kita semua tahu dari dulu ninja cuma pakai perkakas bertani buat berantem…." Ia berhenti untuk bersendawa. "Bisa apa kau? Ninja perempuan 'kan cuma—"
Madara meletakkan gelasnya keras-keras ke meja. Sang samurai mengernyit mendengarnya. Di belakang Madara, trio kepala klan ino-shika-cho bertukar tatapan tak nyaman.
"Oh, dan Anda," Nobutada beralih kepada kepala klan Uchiha, tak mengacuhkan komentar Ukyo sama sekali. "Matsudaira sungguh takut kepada Anda dan klan Anda. Sang iblis, katanya. Sekali tatapan mata cukup untuk membunuh." Ia terkekeh sendiri. Seorang pelayan mendekat dan menukar gelas tehnya dengan sebotol sake.
"Daimyo Matsudaira tidak salah," balas Madara dingin.
Nara Shikana pindah ke sisi Ukyo dan membuka percakapan, "Bagaimana desa kami menurut Anda?"
"Kumuh," dengkusnya.
Shikana tertawa sopan, tetapi melanjutkan percakapan. Salah satu seniman berpakaian lucu telah turun dari lantai atas, menghibur sebagian kepala klan dengan lelucon-lelucon dari ibukota. Tawa Tsubaki dan Chokichi bergaung di atas semua suara lain.
"Ini sungguh mengagetkan, tahu." Nobutada memberi tanda pada pelayan untuk menuangkan sake bagi semua orang. Hanya Hashirama dan Madara yang tersisa untuk mendengarkannya. "Tercengang seluruh dewanku waktu tahu klan-klan ninja bersatu. Lalu para daimyo bersikeras memintaku meminjamkan para samurai untuk mengusir bandit-bandit. Mana boleh!" Ia menenggak cawan sakenya, berseru pada pelayan lain, "Bawa turun peti-peti tadi. Sampai di mana kita?"
"Daimyo dan samurai," sang samurai menjawab. Gelas tehnya masih di meja. Ia diam sedari tadi, membuat Hashirama nyaris lupa dia ada di ruangan. "Sebaiknya langsung ke inti masalahnya saja."
"Aduh, Shigenobu, santailah sedikit," Nobutada mengeluh.
Madara menyesap tehnya dengan hati-hati, bertukar pandang dengan Hashirama. Sakenya dibiarkan tak tersentuh. Sang Hokage merasakan pelipisnya berdenyut.
"Yah! Omong-omong." Sang Kaisar mengusap dagunya yang bersih dicukur. "Mengapa kau yang jadi Hokage? Mengapa bukan kau saja?" Pertanyaan keduanya ditujukan kepada Madara. "Nona Senju ini masih muda dan cantik … ikutlah denganku ke istana—"
Shigenobu berdeham keras, yang dibalas Nobutada dengan tawa terbahak-bahak. Hashirama merasakan cakra Madara merembes ke arah Sang Kaisar. Buru-buru ia menyentuh lengannya.
"Hokage dipilih oleh para ketua klan dan penasihat-penasihatnya," Hashirama menjelaskan. "Kami mengadakan pemungutan suara."
"Oh! Demokratis sekali." Nobutada menatap Madara. "Selama ini kukira kalian para ninja hanya kaum barbar gila darah, ahli sihir dan semacamnya…."
"Yang Mulia."
Nobutada menghela napas dalam-dalam. "Maafkan Shigenobu, ya, maklumlah biasanya para samurai tidak menyukai ninja."
"Tidak apa-apa." Hashirama mengangguk maklum kepada samurai itu.
Shigenobu tampaknya masih muda, seumur dengan Sang Kaisar sendiri. Profil wajahnya yang keras dan sikap duduknya yang kaku membuatnya terlihat lebih tua. Ia tidak repot berbasa-basi menyanggah Nobutada. Hal itu telah menjadi rahasia umum karena para samurai menganggap cara bertarung ninja tidak terhormat dan menghalalkan segala cara.
"Nah. Tujuanku kemari." Nobutada meletakkan gelas sakenya. "Anda berdua tahu Tsuchinokuni? Negara berbukit-bukit di utara Hinokuni?" Tanpa menanti respons kedua shinobi, ia melanjutkan, "Kaisarnya sibuk melakukan ekspansi ke selatan. Menggunakan ninja."
"Anda ingin kami bertempur untuk Hinokuni," kata Madara. "Bukankah Anda sudah memiliki sepasukan samurai? Atau mereka saja tidak cukup untuk menahan Tsuchinokuni?"
Jemari Shigenobu berderap di pelindung pahanya, ia menatap Madara penuh curiga.
"Yaaah, butuh seorang ninja untuk memahami sesama ninja, bukan?" Nobutada mengangkat bahu.
"Maksud Anda?"
"Maksudku, Nona, Tsuchinokuni juga memiliki desa ninja. Iwagakure, namanya menurut rumor. Didirikan dengan sponsor Kaisarnya sendiri kurang dari sebulan lalu."
Hashirama mengerjap. Desa ninja lain? Di negeri yang namanya hanya pernah ia dengar samar-samar dari para pengembara? Konoha sudah beberapa bulan berdiri, tetapi sebagian besar waktu dan sumber daya mereka habis untuk membuka hutan, memindahkan penduduk dan mendirikan infrastruktur. Klan-klan seperti apa yang ada di luar sana? Apakah—
"Tidak."
Suara Madara memutus lamunannya. Hashirama menoleh kepada sahabatnya dengan bingung.
Nobutada menelengkan kepalanya. "Tidak?"
"Konoha tidak akan memerangi siapapun untuk Anda."
"Jaga bicaramu," Shigenobu menggeram. "Ingat posisimu dan siapa dirimu."
Madara membalas cepat, "Kalau begitu, perlukah kuingatkan dengan baik di mana Anda berada sekarang?"
Keempat samurai di sudut bergerak. Shigenobu beranjak. "Kau—!"
"Duduklah," perintah Nobutada datar. "Kalian juga," tambahnya kepada anak buah Shigenobu. "Aku tidak memintamu memberikan jawaban saat ini juga, Nona Hokage. Tetapi pikirkanlah." Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Suara tawa dan musik telah terhenti, semua orang menatap mereka. Nobutada menguap lebar-lebar. "Aku ingin tidur sebelum makan malam nanti."
"Akan kami pikirkan." Hashirama melirik Madara, memberinya tanda agar tidak meninggalkan tempat tanpa dirinya.
Sang Kaisar tersenyum, jubahnya menyeret lantai sementara dua pelayan menunjukkan kamar tidur utama yang telah disiapkan untuk dirinya.
.
"...Jadi itu yang terjadi."
Kedelapan kepala klan berkumpul di sebuah rumah kosong tak jauh dari penginapan. Di luar, sebagian musisi mengadakan pertunjukan jalanan menghibur anak-anak dan orang dewasa yang berkerumun. Seorang pelayan membagikan manisan dan pernak-pernik dari sebuah peti kayu besar. Jerit senang anak-anak memenuhi jalan.
"Tunggu apa lagi? Lebih baik kita menerimanya saja," kata Inoha, yang disambut anggukan dari Chokichi dan Tsubaki. "Banyak yang sudah bertanya-tanya kapan kita akan maju perang lagi."
"Konoha tidak didirikan untuk memfasilitasi peperangan, Inoha-san," sambung Hyuuga Mori, satu-satunya yang duduk di kursi. Napasnya memburu. "Kita semua lelah berperang satu sama lain, bukan begitu?" Ia menatap Madara dan Hashirama, mencari dukungan.
"Konoha belum cukup stabil untuk mengadakan perang dalam skala besar. Dulu kita memerangi satu sama lain. Hari ini kita perang dengan Tsuchinokuni, besok bagaimana? Tidakkah kita sudah cukup saling bunuh?"
"Kenyataannya kita tetap saja butuh uang, Uchiha-san…." Shikana menahan kuap. "Aku tadi mengobrol dengan Ukyo. Dia yang mengurus perpajakan daerah. Konoha didirikan di pinggir wilayah Daimyo Matsudaira yang tidak terurus, tetapi kita tidak berdiri di bawah kekuasaannya, kalau kalian mengerti maksudku." Ia mengedarkan pandangan. "Hokage akan menerima status setara seorang daimyo."
"Bagus sekali!" seru Tsubaki dari pinggir jendela.
Shikana menggeleng. "Tidak seluruhnya. Kita tak perlu tunduk pada daimyo manapun, benar. Namun, status itu berarti kita harus membayar pajak setara seorang daimyo kepada Kaisar Nobutada. Daimyo Matsudaira membayar sepeti penuh uang, sepeti penuh hasil tambang emasnya, dan hasil bumi sebanyak sepuluh kereta kuda yang dibayar dua kali setahun."
Hashirama memijat dahinya. Hasil panen mereka diperkirakan hanya akan cukup untuk konsumsi sendiri. Klan-klan dengan mata pencaharian di luar menjual jasa pada daimyo tidak mendapatkan pemasukan yang cukup besar untuk saling subsidi. Lagi-lagi ia teringat pada kata-kata Tobirama tempo hari.
Aku tahu Kakak bersedia membiayai kepindahan mereka, tetapi kita tidak bisa menanggung semuanya.
Namun, mengiyakan permintaan Kaisar sama saja dengan mengobarkan perang lagi. Kali ini melawan ninja-ninja asing yang sama sekali tak mereka kenali. Lagi-lagi mereka akan diperalat penguasa untuk memuluskan nafsu perang mereka. Tetapi dari mana mereka akan mendapatkan uang jika tidak mencuri rahasia musuh atau membunuh orang lain?
"Kita ini shinobi," didengarnya Shimura Keita angkat bicara dengan lirih. "Shinobi lahir untuk bertempur." Ia bersembunyi lagi di balik tubuh Chokichi setelahnya, seolah malu telah bicara tanpa diminta.
"Aku setuju," pria tinggi besar itu menambahkan, "para samurai itu tak tahu apa yang mereka hadapi. Mereka ninja, kita juga. Mereka adalah lawan kita. Lagipula, banyak pemuda-pemuda yang sudah gelisah. Mereka terus bertanya kapan kita akan berperang lagi."
Kapan mereka akan mengirim anak-anak untuk mati sia-sia lagi di medan perang? Kapan mereka akan mengubur anak-anak lagi yang mati sia-sia dibantai orang dewasa? Kapan ia harus mengabari para orangtua bahwa anak mereka—
Madara meletakkan tangan di punggung Hashirama. "Sebaiknya kita menunda keputusan dulu sampai kepala klan Sarutobi dan Aburame tiba," ujarnya. "Hokage-sama, ayo." Ia memandunya keluar dari rumah itu.
Hashirama bahkan tak sempat pamit kepada anggota dewannya. Ia menundukkan kepala di sepanjang perjalanan. Langkah-langkahnya cepat dan panjang, hanya melambat ketika harus menembus kerumunan anak-anak yang riuh. Madara berjalan di dekatnya, hitam rambut dan kimononya membuat siluet serupa bayang penanda bahaya.
Seperti iblis.
Ketika mereka sudah mulai mendekati rumah sakit, Madara menyentuh pergelangannya, tampak cemas. Hashirama masuk ke deretan cemara, menghindari pandangan orang yang mungkin lewat. Jalanan di sekitarnya sepi, tetapi rumah sakit masih sibuk. Ia membungkuk, kedua telapaknya bertumpukan lutut. Tatapannya terfokuskan ke tanah. Rerumputan di kakinya telah mencokelat. Musim panas telah berlalu.
Ia menguburkan adik-adiknya dalam musim panas serupa ini, dahulu kala.
.
Kawarama pulang dalam peti.
Hashirama melakukan sesuai apa yang diminta ayahnya begitu ia kembali dari tepi sungai. Ia bergabung dengan para perempuan yang tersisa di perkampungan, membuatkan makan malam dan mencuri dengar gosip terbaru. Semua orang bersikap begitu tenang, seolah tak mengetahui separuh keluarga mereka sedang menyabung nyawa di medan perang.
Seharusnya ini tidak normal. Seharusnya ini janggal. Gadis kecil itu jengah, resah, gelisah. Orang macam apa yang menjejalkan senjata ke tangan anak-anak dan menyuruhnya bertempur?
Ketika semua orang beranjak tidur Hashirama tinggal di luar, menantang dinginnya malam dengan haori berlapis-lapis. Pendengarannya ia tajamkan, memilah suara-suara yang memenuhi kampung. Hanya serangga dan keresak daun yang bergema selama berjam-jam. Terkantuk-kantuk ia mengamati lidah api unggun yang dinyalakan para penjaga malam. Semuanya perempuan.
Bayangan anak aneh di tepi sungai tadi siang memenuhi pikirannya. Pasti bukan anak Senju. Tampangnya tidak khas anak-anak di kampung ini. Tapi kampung ninja apa lagi yang berada di dekat sini? Hashirama belum hafal semuanya….
Cabang-cabang pohon berkeretak. Orang-orang melesat turun dari atas pohon. Satu persatu mendarat, beberapa membawa peti kayu di punggungnya.
Jantung Hashirama berdebur kencang.
Para pembawa peti menurunkan bawaan mereka di tengah lapangan begitu saja, lalu menghilang dalam kegelapan ke rumah masing-masing. Ia melihat Itama mendarat turun, terhuyung karena lelah. Langsung ia hampiri dan peluk adiknya.
"Kakak, lepas," Itama memohon, tangannya yang tembam menepuk-nepuk gusar punggung Hashirama.
"Mana Ayahanda?" tanyanya tak sabaran. Ada darah kering lengket di pipi Itama. "Tobirama? Kawarama?"
Itama memalingkan wajah. Ia nyaris tak sanggup menjaga kelopak matanya terbuka, maka dibiarkannya si adik terhuyung masuk rumah. Hashirama berusaha melihat menembus siluet kerabatnya yang baru tiba, mencari-cari bentuk familier ayah dan adiknya.
"Kakak kenapa belum tidur—" Tobirama tak sempat menyelesaikan pertanyaannya karena ia menyambarnya dalam pelukan erat. Adiknya mengaduh, mengeluhkan lengannya yang retak. Hashirama melepasnya, berniat untuk mencari ayah mereka, tetapi lengannya ditahan.
"Lebih baik Kakak masuk rumah," ujar Tobirama. "Ayolah."
Hashirama bergeming.
Ayahnya tiba. Mantap ia berjalan melewati api unggun, lalu menurunkan sebuah peti kayu dari punggungnya, meletakkannya bersama peti-peti lain. Peti itu kecil.
"...Ayahanda?"
Senju Butsuma menyeretnya masuk ke rumah. Hashirama meronta tanpa suara, tetapi rasa sakit di lengan atasnya menghalanginya untuk lepas.
Mata Hashirama bengkak akibat semalaman menangis. Ia tak berani menangis keras-keras. Di kamar sebelahnya, ia bisa mendengar sedu sedan tertahan Itama. Selepas fajar, mereka memakamkan semua orang, termasuk Kawarama. Tangis Itama pecah kali ini, tetapi ayah mereka membiarkannya sampai semua peti diturunkan ke liang lahat.
"Shinobi tak boleh menangis!" hardiknya. "Shinobi lahir untuk mati bertempur! Kita beruntung bisa membawa pulang sebagian tubuhnya. Klan Uchiha menyerbu tiba-tiba di tengah pertempuran. Kawarama telah gugur dengan terhormat."
Ia tak tahan lagi. "Kawarama baru tujuh tahun! Mau sampai kapan perang ini berlangsung?"
"Sampai semua musuh kita musnah. Membuat dunia tanpa perang tidaklah mudah."
"Jadi untuk itu anak-anak pun akan dikorbankan?"
Butsuma menamparnya keras-keras, cukup untuk membuat Itama berhenti menangis. Pipi kanan Hashirama seketika dilanda rasa menyengat yang panas dan perih. Tubuhnya terhuyung, akan terjatuh seandainya Tobirama tidak sigap menangkapnya.
"Jangan berani-berani kauhina pengorbanan Kawarama! Ia adalah seorang shinobi sejati. Bukan anak-anak sama sekali!"
Kedua adiknya membungkuk di atasnya. Hashirama meraba pipinya yang lebam dengan hati-hati, merasakan asin mengalir di mulutnya.
"Kakak nggak apa-apa?" Itama bertanya lirih sambil membantunya berdiri.
Hashirama hanya sanggup memberinya anggukan lemah. Diperhatikannya wajah mereka. Usia Tobirama baru sepuluh tahun, Itama separuhnya. Kalau Hashirama saja masih terbilang anak-anak, apalagi mereka?
Ia bersumpah tak akan membiarkan kedua adiknya jadi korban perang sialan ini.
"Bagaimana bisa Ayah bilang klan Senju penuh kasih sayang?" teriaknya keras-keras ke punggung Butsuma. Pipinya berdenyut sakit, dan ia berusaha untuk tidak mengaduh. Ayahnya harus mendengar opininya! "Apanya yang shinobi sejati? Ini semua cuma orang dewasa yang mengeroyok anak-anak! Kita juga membunuhi anak-anak Uchiha, 'kan?"
Suara cangkul telah sirna dari pendengaran. Para penggali kubur menghentikan pekerjaan mereka untuk mencuri dengar.
"Kau tak tahu apa-apa, Hashirama." Butsuma telah berhenti berjalan. "Kau bahkan bukan shinobi. Para shinobi menghormati kekuatan lawannya. sekali pun itu bayi yang memegang senjata, maka dia adalah seorang shinobi." Ia berbalik, kedua tinjunya terkepal erat. "Menjadikan putra-putraku shinobi adalah tanda bahwa aku menyayangi mereka!"
"Apa kita harus mati untuk menjadi shinobi sejati?" raung gadis itu. "Membunuh dan dibunuh tanpa tahu apa sebabnya … bahkan mengungkapkan nama sendiri bisa berbahaya!" Ia menarik napas dalam-dalam sebelum berteriak lagi, "Dunia shinobi yang seperti ini salah!"
"Jaga mulutmu, Hashirama!" Butsuma melompat maju, bersiap meninjunya.
Pipi kiri Hashirama pastilah akan bengkak dan lebam juga andaikata Tobirama tidak menempatkan diri di antara kakak dan ayahnya. "Ayahanda, jangan!" pintanya dengan lengan terentang. "Maafkan Kakak. Kakak sedang sedih karena Kawarama…."
"Ck." Butsuma mengelus pergelangannya. "Pergi kalian dari hadapanku dan tenangkan diri! Shinobi harus bisa membunuh perasaannya sendiri, camkan itu baik-baik!"
Hashirama pergi duluan, diikuti kedua adiknya. Ia tidak berhenti sampai mencapai sebuah tunggul pohon raksasa jauh dari area pemakaman.
"Kalau ingin menghentikan perang, seharusnya kita membuat perjanjian dengan musuh," ujar Tobirama. Ia berdiri di tepian tunggul, menatap belantara yang gelap. "Semua orang dewasa itu bodoh."
"Ninja tidak membuat perjanjian damai," celetuk Hashirama. Pipinya masih nyeri, tetapi bengkaknya sudah mulai mengempis. "Setiap pihak berasumsi lawannya akan berkhianat dengan segera."
"Gimana dengan keluarga ninja?" tanya Itama lambat-lambat. "Gimana dengan … perasaan mau balas dendam? Aku sebal, aku ingin bunuh orang yang bunuh Kak Kawarama….." Ia menyedot ingusnya keras-keras.
Hashirama menatap adik bungsunya tak percaya. Ia baru lima tahun, tetapi sudah bisa bicara soal dendam….
"Kau juga akan mati kalau masih berpandangan begitu," ujar Tobirama gusar.
"Mungkin..." kata si sulung lambat-lambat, "mungkin kita bisa mencoba membuat perjanjian damai dengan lawan-lawan kita…."
Adik-adiknya menatapnya dengan heran. Tak ada yang menanggapi idenya, maka Hashirama biarkan itu terbawa angin, terlupakan.
Kata-kata Tobirama terbukti nyata selang dua minggu kemudian.
.
"Wajahmu pucat." Daun-daun berkeresak di bawah sandal Madara.
Hashirama menelan ludah. Tenggorokannya terasa pahit. "Aku tak ingin bilang ini, tapi..." Ia mendongak untuk menatapnya. "Inoha dan Chokichi benar." Sesal merayapi hatinya dengan segera; kekesalan menampakkan diri di ekspresi sahabatnya itu.
"Bagaimana bisa kamu setuju dengan mereka?" sergahnya, "Konoha tidak didirikan untuk menghimpun kekuatan perang. Apa kamu lupa?"
"Aku nggak lupa, Madara, sungguh." Hashirama mengangkat telapaknya, mengisyaratkannya untuk menenangkan diri. "Tapi kita juga butuh uang. Pemasukan utama kita dari dulu itu, ya … dari mencuri informasi dan memata-matai. Dari membunuh."
"Apa bedanya dengan di masa lalu?" Madara berdecak kesal. "Membuat anak-anak saling bunuh … segala omong kosong tentang kebanggaan shinobi…."
"Kamu kepala klanmu, 'kan? Kamu pasti tahu kondisi keuanganmu."
Madara menatapnya dalam diam di bawah bayangan cemara.
"Tanpa adanya pesanan misi dari para daimyo, kita kekurangan pemasukan drastis. Perpindahan ke Konoha juga memakan biaya."
"Jadi karena itu kamu bersimpati pada opini mereka, Hashirama. Seharusnya kamu tak perlu mengongkosi mereka pindah."
"Aku cuma membantu!" Hashirama menegakkan diri. "Klan kami memang punya cukup banyak uang—"
"Pernahkah terpikir olehmu kalau keputusanmu tidak sepenuhnya disetujui oleh dewan klan?"
Giliran Hashirama yang bungkam. Jika Tobirama tidak memberitahunya, ia tak akan tahu apa saja yang dibahas dalam rapat internal Senju. Masalah uang pasti dibahas, kalau tidak Tobirama tidak akan mendesaknya meminta pelunasan pinjaman dari klan-klan yang mereka bantu.
Wanita itu kembali menyandarkan diri di batang cemara. "Kita bisa mengirim ninja dewasa saja untuk melawan Iwa…."
"Menyedihkan sekali," ujarnya sinis. "Setelah semua usaha kita untuk menghentikan perang antarklan di Hinokuni…."
Sang Hokage tidak membantahnya. Diam seribu bahasa. Matanya berkaca-kaca.
Hashirama merasakan sentuhan lembut di pipinya, lalu dagunya diangkat. Perlahan Madara memeluknya. Ia menghela napas dalam-dalam, menyandarkan kepala di bahunya. Jemari Madara menyelusup di antara helaian rambutnya.
Beban di bahunya meringan dalam sekejap. Ia tak ingin beranjak dari sini. Ia ingin bersandar di bahunya lebih lama lagi. Ia tak ingin Madara pergi meninggalkannya, jauh darinya, tak terjangkau apapun selain pikirannya sendiri. Ia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamanya, di sela kesibukannya mengatur desa….
"Aku meminta Tobirama mengambil posisi ketua klan," ujarnya tiba-tiba. "Akan resmi dalam rapat berikutnya."
"...Begitu." Gerakan tangannya terhenti, lalu ia mendorongnya dengan lembut hingga punggung wanita itu menyentuh cemara. Madara menatapnya dalam-dalam. Ia tak lagi tampak kesal atau marah. "Sudah merasa baikan?"
Hashirama mengangguk dan tersenyum lemah. Tangannya masih di pinggang. "Jangan pergi dulu," pintanya.
"Hm?"
"Masih mau peluk." Ia membenamkan wajahnya ke dada Madara. Tak lama kemudian Hashirama merasakan bahunya didorong menjauh lagi, dan wajah sahabatnya turun mendekati.
Sesuatu yang kasar dan basah menyentuh bibir Hashirama. Jantungnya serasa berhenti berdetak ketika ia merasakan lidah lain menyentuh bibir bawahnya sendiri, lalu berdebur kencang saat ia membuka mulut untuknya.
Di bawah bayangan cemara dan di dalam pusaran angin sisa musim panas, Madara mencium bibirnya. Ciumannya berawal lembut sebelum intensitasnya naik, menuntut dan dan menawannya dalam setiap kecupan. Napasnya sepanas api, seperti sisa-sisa jurus katon-nya, namun membuat Hashirama semakin mengeratkan genggamannya pada punggung baju sang Uchiha, merasakan otot-ototnya bergerak sementara mereka bercumbuan. Ia menggigit lembut bibir wanita itu sementara tangannya menuruni lekuk tubuhnya, mengundang erangan halus keluar tanpa sengaja.
Hashirama merapatkan tubuhnya kepadanya. Ia baru menyadari bahwa ia merindukan Madara sampai seperti ini. Segala lelah dan kesibukan tersingkir dari pikirannya. Ia menginginkannya saat ini juga; hasratnya menggebu-gebu meletup-letup siap untuk lepas—
Bibir mereka akhirnya berpisah. Hashirama segera menariknya mendekat lagi, tetapi Madara mencegahnya. "Jangan sekarang," bisiknya di telinga sang Senju.
Merah bertemu cokelat gelap.
Wajahnya terasa luar biasa panas, dan matanya sembap. "Madara, aku…." Lidahnya mendadak kelu. Ia tidak sanggup mengutarakan keinginannya.
"Sudah gelap." Jempol Madara menyeka ujung bibir Hashirama. "Sang Hokage tak boleh terlambat untuk jamuan makan malamnya, bukan?"
Ia mengerang frustrasi. Ingin rasanya ia tak hadir dalam makan malam bersama Kaisar Nobutada. Hashirama hanya membutuhkan Madara; bersamanya, menyentuhnya, menciumnya….
Bagai membaca pikirannya, Madara menariknya mendekat lagi, menciumnya dalam-dalam. Hashirama melingkarkan lengannya di bahu Madara, lalu menyandarkan dahi ke dadanya lagi untuk mengatur napas. Kulitnya hangat dalam udara yang suhunya semakin turun itu.
"Semakin lama kita di sini, semakin besar kemungkinan kita membuat skandal," Madara memperingatkan. Namun, bibirnya menuruni rahang dan leher Hashirama, mendaratkan kecupan lembut dan hangat, membuat wanita itu gemetar menahan desahannya sendiri.
"Masa bodoh dengan itu," bisiknya, napasnya tercekat. "Pakai genjutsu-mu, atau apa…."
"Bukan cuma aku yang ahli genjutsu di Konoha, Hashi." Madara mengakhiri sederet kecupannya dengan embusan uap napas di bawah tulang selangka Hashirama, di antara bandul kalung dan belahan dadanya. "Kita lanjutkan lain kali."
Ia merajuk, "Madara…."
"Nanti."
Rumah sakit telah sepi ketika mereka meninggalkan deretan cemara. Hashirama merapatkan lengannya ke tubuh untuk menahan udara dingin dan rasa frustrasinya yang membubung. Madara tampak tak terganggu sama sekali oleh sikapnya, malah terlihat menikmati keadaan. Hashirama terjepit di antara keinginan untuk mengamuk atau menyeretnya ke kediaman Hokage saat itu juga.
Panas di pipinya membandel, enggan pergi sementara pikirannya terpaku pada kemungkinan itu. Jangan sekarang, katanya pada diri sendiri. Belum saatnya.
Semua orang memenuhi jalan tempat penginapan Sang Kaisar berdiri. Para musisi dan seniman yang dibawa Kaisar telah menghuni setiap pojok, jumlahnya lebih banyak daripada yang menemani para kepala klan tadi siang. Orang-orang telah menyalakan lentera dan obor ekstra, membuat pepohonan bunga berpendar bagai masih musim panas. Banyak yang berinisiatif membuat makanan panggang di luar, mengisi udara dengan aroma harum bermacam-macam makanan. Beberapa pelayan Kaisar membagikan lebih banyak lagi manisan dan mainan. Tempat itu tak terlihat seperti sebuah desa sama sekali.
Madara merangkul pinggangnya selama mereka menembus kerumunan, membuat Hashirama tegang. Mereka sedang di luar, di tempat umum—bagaimana kalau ada yang memperhatikan?
Tetapi apa salahnya kalau terlihat? Takkan ada masalah yang terjadi, 'kan?
Tak jauh dari penginapan, Tobirama berdiri memunggungi mereka, sedang berbicara pada Izuna dan seorang lelaki Uchiha berkuncir yang ia kenali sebagai Hikaku. Tangan Madara menjauh dari pinggangnya ketika Tobirama berbalik. Ia pergi menghampiri kerabatnya sementara Tobirama mengisyaratkan kakaknya mendekat.
"Aburame Mamoru dan Sarutobi Sasuke sudah tiba di atas," ia mengedikkan kepala ke lantai dua penginapan, "kedua klan mereka sampai dengan selamat, tetapi lebih banyak dari dugaan."
"Lebih banyak apanya?"
"Jumlahnya. Penduduk desa yang tinggal di sekitar kediaman mereka ikut pindah ke sini. Mayoritasnya petani. Dua minggu lalu desa mereka disapu badai yang aneh, mengakibatkan ladang-ladang mereka gagal panen." Tobirama menyelipkan tangannya ke dalam lengan kimono, menghindari dua pemuda Akimichi yang lewat dengan berisik. "Semua tanaman mereka layu dan mati. Banyak yang jatuh sakit karena meminum air yang tercemar air hujan badai."
Hashirama mengernyitkan dahi. "Aneh sekali," komentarnya. "Tak ada jurus berskala sebesar itu. Separah apa akibatnya?"
"Tidak menyebabkan kematian, kecuali pada lansia renta dan anak-anak. Tetapi cukup untuk membuat semua orang lemas di tempat tidur selama seminggu penuh—"
"Hei, hei, ini dia Hokage kita!" Mendadak Inuzuka Tsubaki menyambar lengan Hashirama dari belakang. Wanita itu nyengir lebar kepada adiknya. "Ayolah, jangan bahas kerjaan melulu. Chokichi bakal kecewa kalau kalian berdua nggak segera masuk untuk makan."
Selain kesepuluh kepala klan, beberapa petinggi klan masing-masing pun turut datang. Shimura Keita menemui Hashirama, membungkuk dalam-dalam minta maaf karena ia tak bisa mencegah Hisao untuk tidak hadir.
"Beliau benar-benar bersikeras, Hokage-sama, saya tak tahu harus bagaimana…."
"Ambillah meja sejauh mungkin dari klan Uchiha," Hashirama menyarankan sambil berbisik. Di sebelahnya, Tobirama memicingkan mata.
Sarannya dipatuhi dengan baik. Keita mengambil tempat di ujung ruangan, paling jauh dari Kaisar Nobutada. Madara duduk di sisi kanan Hashirama, sementara pamannya di sebelah kiri.
"Sudah lama aku tidak melihatmu, aku sampai lupa wajahmu seperti apa!" serunya saat makanan dihidangkan.
"Paman Joji, jangan bilang begitu," Hashirama tersenyum malu. "Aku sungguh-sungguh disibukkan urusan desa."
"Kamu juga masih kepala klan Senju, Nak," tambahnya. Paman Joji adalah sepupu ayahnya, yang tidak ikut perang sejak usia muda karena bertubuh lemah. Tetapi ia bertekad kuat dan berkemauan keras, sehingga ia dipercaya duduk di dewan klan selama beberapa dekade terakhir. Kepribadianya itu tersembunyi di balik tubuh cekingnya yang seringkali berguncang karena batuk menahun.
"Aku tahu," Hashirama menundukkan kepalanya, lesu, "tapi … aku akan memberikan jabatan itu untuk Tobirama." Ia melirik adiknya, yang sibuk mengamati penghuni deretan duduk mereka. "Dia lebih sanggup."
"Oh? Ini kabar yang bagus!"
Makan malam berlangsung meriah, dengan obrolan di sana-sini. Koki-koki klan Akimichi dan Senju berupaya keras menghidangkan karya terbaik mereka. Menunya mayoritas rebusan sayur dengan bumbu herba hutan, ditambah daging rusa asap yang mereka buru baru-baru ini. Sakenya disuplai dari klan Hyuuga yang memiliki penyulingan sendiri.
Sang Kaisar lebih banyak mengobrol dengan samurai-nya Shigenobu, yang untungnya telah menanggalkan zirahnya malam itu. Keempat samurai lainnya masih di dalam ruangan dan bersenjata lengkap, berdiri di bayang-bayang di belakang Nobutada. Usai makan malam, meja-meja kecil diangkat, dan semua orang membentuk kelompok-kelompok kecil sendiri untuk mengobrol. Tobirama menghilang dengan cepat dari sisinya, tak diragukan lagi kembali bekerja menangani pendatang baru di Konoha.
"Nona Hokage?" Kaisar Nobutada memanggilnya. Ia memegang dua buah dadu dan gelas kayu. Tanpa berbicara pun sudah jelas apa yang ia tawarkan: Sang Kaisar mengajaknya berjudi.
Hashirama menyanggupi, dan dengan segera dua buah dadu kayu berkelotakan di dalam gelas. Nobutada meletakkan gelas itu terbalik di atas meja.
"Ganjil atau genap?" tanyanya.
"Genap," tebak Hashirama.
Tiga kali dadu dikocok, tiga kali Hashirama salah menebak. Sejauh ini ia telah kalah tiga peti uang seberat anak rusa. Botol sake mereka yang kosong segera diisi ulang.
"Kau tidak minum?" Nobutada bertanya tiba-tiba. Hashirama mengikuti arah tatapannya, melihat Madara duduk agak di belakangnya. Ia baru saja menolak tawaran sake dari pelayan.
"Aku sedang bertugas," jawabnya pendek, pindah duduk mendekati sang Hokage. "Sama seperti samurai-san." Shigenobu hanya meminum teh sedari tadi, sama seperti tadi siang. Sikap tubuhnya menunjukkan kewaspadaan penuh.
"Bertugas apa?"
Madara melirik Hashirama. "Menjaga Hokage."
"Ah, sama seperti Shigenobu, ya!"
Desir yang Hashirama rasakan di antara naungan cemara kembali bergelora. Ia menarik napas dan melempar senyuman kepada sahabatnya.
Tidak sekarang, tidak di sini. Nanti.
Kedua dadu berkelotak, gelas dihantamkan terbalik di atas meja.
"Omong-omong," kata Nobutada lagi. "Ceritakan padaku bagaimana Konoha berdiri."
Dan Hashirama bercerita.
.
Rasanya seperti kembali ke hari di mana ibu mereka ditemukan tewas. Beliau dan beberapa wanita lainnya disergap di mata air yang jauh. Sumur-sumur mereka mengering di hari itu, sehingga air harus diambil dari tempat yang jauh, yang belum tercemar sisa-sisa pencernaan manusia. Hashirama ingat bersembunyi bersama anak-anak lainnya di atas pohon, dengan Itama dalam selendang dan Kawarama digandeng erat bersamanya.
Mereka semua sudah tiada.
Sungai jernih di hadapannya mengalir tanpa halangan, entah ke mana ujungnya. Ia ingat melihat mayat shinobi Hagoromo mengambang di sini dua minggu lalu, mencemari air dengan darah dan cakranya. Andai ia bisa menuangkan segala perasaan dan kecemasannya ke aliran sungai, agar terbawa sampai entah ke mana….
"Kamu … Hashirama, 'kan?"
Seseorang berdiri di belakangnya, menggeretak kerikil setiap ia melangkah. Hashirama tak mengacuhkannya. Rasanya enggan sekali berbicara.
"Kamu sudah lama tidak kelihatan di sini." Sebuah kerikil terlempar ke air. Dua kali memantul, lalu tenggelam. "Ke mana saja kamu?"
"...Adikku meninggal." Ia terdiam sejenak untuk menggali ingatannya tentang anak ini, "...Madara."
"Ah. Turut berduka cita."
Hashirama mengusap wajahnya dengan lengan baju. "Kamu punya kakak atau adik…?"
Madara memungut batu lain. "Aku lima bersaudara." Ia melempar-lempar batu itu di telapak tangannya. "Tadinya, sih."
Gadis itu menoleh ke arahnya, terpana.
"Kita ini shinobi," Madara melanjutkan, berhenti di sisinya. "Kita bisa mati kapan saja karena perang sialan itu. Satu-satunya cara untuk tidak mati … hanyalah dengan menunjukkan niat kita sesungguhnya kepada musuh. Sejujur mungkin, tanpa menyembunyikan apapun, dan menjadi sekutu mereka."
Hashirama masih terdiam, memperhatikan Madara membungkuk mengambil ancang-ancang dan melempar batu itu ke sungai. Kata-katanya terus terulang di kepalanya.
"Tapi itu mustahil tentu. Karena nggak mungkin seseorang tahu apa isi hati orang lain. Apa yang dia pikirkan, dia rasakan di dalam hati … kita bahkan nggak tahu apa mereka marah dalam diam."
Batu yang dilemparnya memantul di air. Satu, dua, tiga, empat, lima—
Bibir Hashirama kering. Dijilatnya sebelum berbicara, "Apa benar-benar tidak mungkin untuk saling mengetahui isi hati satu sama lain?"
"Entahlah. Tapi aku selalu datang ke sini, berharap ada cara untuk itu."
—enam, tujuh, delapan.
Batu itu berkelotakan di seberang sungai.
"Kali ini … sepertinya sudah kutemukan."
Ayahnya tidak paham. Tobirama menganggap ini semua normal. Namun, di sini, jauh dari perkampungannya sendiri, Hashirama malah bertemu seseorang yang mengerti keinginannya. Seseorang yang tahu bahwa perang ini harus dihentikan, seseorang yang telah kehilangan saudara-saudaranya karena perang….
Rasanya hampir mustahil menemukan orang yang sepemikiran dengannya di tengah belantara seperti ini.
Madara menoleh ke arahnya, tersenyum lebar. "Aku bisa mengerti dirimu tanpa perlu tahu isi hatimu, sih."
Ia menepuk-nepuk debu dari celananya. "Apa maksudmu?"
"Dilihat dari gaya rambut dan bajumu, kamu ini jelek dan payah!"
Hashirama mendadak merasa ingin mengambang saja di sungai.
Rutinitasnya berubah. Ia melanjutkan pelajarannya dengan Tobirama, baik yang diketahui ayahnya maupun yang tidak. Ia terus mengintip kelas kunoichi diam-diam dengan bantuan Touka, menyerap sebanyak mungkin ilmu dari sanak saudaranya. Pada minggu-minggu berikutnya, Hashirama selalu menyempatkan diri datang ke tepi sungai, bertemu Madara dan saling unjuk kemampuan bertarung masing-masing. Gaya bertarungnya tidak sehalus Tobirama yang cenderung mengalir, dan ia merasa sangat terbantu karenanya.
"Kita tak akan didengar kalau lemah," kata anak lelaki itu ketika mereka beristirahat setelah kumite. "Pertahankan idealismemu sementara kamu menjadi kuat sedikit demi sedikit."
Gadis itu mengiyakan. Syarat terpilih menjadi kepala klan Senju salah satunya adalah kekuatan tempur individual. Orang yang kuat akan didengar dan dipatuhi oleh seluruh anggota klan. "Berarti kita harus menguasai jurus-jurus dan semacamnya juga."
"Ya. Perkuat dan tutup kelemahanmu."
Hashirama memperkirakan kemampuan Madara di atas rata-rata anak seusianya. Ia telah lama mengamati para shinobi Senju bertarung. Tekniknya bahkan melampaui mereka. Namun, kemampuan tarung mereka seimbang. Padahal Hashirama tidak dilatih seketat dan sesering adik-adiknya.
Musim dingin datang dan berlalu. Ketika musim semi berikutnya tiba, mereka memperluas area jelajah mereka. Ke hulu sungai tempat tebing besar berdiri menghadap belantara. Mereka menggunakan tebing itu untuk melatih kontrol cakra. Hashirama melakukannya lebih baik dari Madara, sehingga ia dapat berlari di sisinya dengan mudah.
Pemandangan dari atas tebing sungguh luar biasa. Hutan di seberangnya dikelilingi oleh bukit-bukit yang berjauhan, membentuk lingkaran terlindungi di tengah. Salah satu anak sungai mengalir membelah hutannya, jernih sampai sejauh muaranya. Hashirama tak melihat adanya perkampungan lain, baik shinobi maupun bukan, dalam jarak pandangnya. Ketika Madara tiba di atas tebing terengah-engah kehabisan napas, gadis itu berbalik dan merentangkan lengannya lebar-lebar.
"Bagaimana kalau kita buat perkampungan ninja di sini?" tanyanya girang.
Mata Madara melebar.
.
Hashirama berusaha keras menjaga matanya terbuka sementara iring-iringan Sang Kaisar bersiap untuk pergi. Nobutada mengajaknya berjudi dan bercerita semalam suntuk. Ketika ia akhirnya menyerah pada lelah, Hashirama harus menghadapi anggota klan-klan Aburame dan Sarutobi yang terlantar di pinggir desa karena hampir semua orang berkerumun di sekitar penginapan. Aburame Mamoru mendiamkannya selama Hashirama mengatur para keluarga ke rumah-rumah yang kosong, sementara Sarutobi Sasuke terus bertingkah canggung.
Setelah itu ia harus menghadapi omelan Paman Joji lagi karena delapan belas kali kalah berjudi dari Sang Kaisar. "Kau kalah lebih dari lima belas juta ryo!" serunya frustrasi ketika pelayan mereka mengeluarkan peti-peti kecil penuh koin untuk dibayarkan kepada Sang Kaisar. Hashirama hanya bisa meringis gugup sampai ia kelelahan sendiri. Untunglah omelannya tak berlangsung lama.
Kaisar Nobutada menghadiahinya sepeti penuh kain sutra dan batu-batu mulia. "Hadiah pribadi untuk Hokage," katanya. Seorang pemuda Senju mengambilnya untuk disimpankan. "Anda sungguh harus mencoba kopi—er, sekantung bubuk hitam dari Kaminarinokuni itu. Seduh dengan air panas secukupnya. Bagus untuk begadang," tambahnya sambil mengacungkan jempol.
"Yang Mulia tahu saja apa yang saya butuhkan," ujar Hashirama. Akhirnya, sesuatu yang bisa membuatnya terjaga dan terus bekerja.
"Sayang kita harus mengimpornya dari sana, harganya benar-benar selangit … oh, Shigenobu, apa itu?"
Sang samurai telah kembali berzirah, kali ini membawa peti kayu bersepuh emas dengan ukiran rumit seukuran kucing dewasa. "Titipan cindramata pribadi untuk Hokage-sama, Yang Mulia."
Peti itu terasa berat di lengan Hashirama. "Dari siapa…?"
"Dari murid saya." Shigenobu tersenyum lebar sekali, tampak aneh karena bekas luka yang menggurat bibirnya. "Uzumaki Nobuo."
"Tolong sampaikan kepadanya bahwa hadiahnya sudah saya terima," kata Hashirama diplomatis, mengisyaratkan pada kerabatnya untuk membawakan hadiah-hadiah itu kembali ke kediamannya.
"Tentu saja."
Ada dua hal yang terlintas di otak Hashirama saat itu. Pertama, ia sudah berbulan-bulan belum membalas surat terakhir Mito. Kedua, siapa Nobuo?
