Nan Mollayo

Chapter 5. Gee!

Author : Si k3cEh Ayane_Chan plakkk...

Cast : Sehun = suami saya?._.

Genre : YAOI, Comedy Romance, Friendship and Family.

Rating : T aka PG-15

Length : Chaptered

Warning : Typo bertebaran layaknya cinta saya pada Thehun... *Kibath poni... ˘˛˘

Talk2kan : Ea... saya update juga. Ini diupdate biar cepet selesai dan nggak punya utang lagi(?) saya udah ada project ff lagi nih, tapi kali ini bukan comedy, gimana ya? Sebenarnya takut juga, sih kalau jadinya tidak bagus. Tapi nanti dicoba di-post dulu lah... mwehehe, ya sudah silahkan nikamati chapter 5 nya...

...

...

...

"Pacar itu hanya mitos."

"Eh?"

"Heeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh! KENAPA KAU BERKATA SEPERTI ITU!"seru Sehun amat sangat kecewa. Kok Jongin seperti itu sih?

"Tentu saja, keberadaannya dianggap nyata dan dipercayai semua orang namun faktanya pacar adalah fiktif!"jelasnya yang membuat Kyungsoo dan Sehun melongo bingung. Jongin anak eksak atau anak sastra sih?

"Aku tidak mengerti,"Kyungsoo menggaruk rambutnya pelan, bukan gestur bingung sih. Hanya memang rambutnya punya masalah dengan ketombe.

"Ish..."Jongin mengehela nafasnya kasar lalu segera duduk di antara Kyungsoo dan Sehun. "Kalian dengar ya... pacar – itu – fiktif – f- i – k – t – i – f... fiktif!"seru Jongin sangat yakin.

"Kenapa bisa begitu?"tanya Kyungsoo pelan.

"Fiktif! Misalnya kalian punya pacar, kalian menganggapnya ada dan memuja-mujanya(?) kalian sangat amat mempercayainya, dan terkadang lebih dari rasa percaya kalian terhadap keberadaan Tuhan. Namun apa? Apa pacar kalian juga menaruh rasa percaya yang sama besarnya dengan kalian? Dan lagi... memangnya kalian tahu kalau mereka benar-benar mencintai kalian? Jadi itu membuktikan bahwa pacar itu hanya seorang manusia yang kalian anggap sedikit lebih spesial, namun kenyataannya yang eksis hanya tittlenya(?) saja bukan? Bukan arti sesungguhnya!"jelas Jongin bak professor cinta(?) di depan dua siswanya yang ekh... bodoh.

"Eh? Tidak tahu, kan kami tidak punya pacar,"dan jawaban Sehun yang terlalu polos dan bodoh itu berhasil membuat Jongin memutuskan untuk segera menegakkan tubuhnya dan pergi dari hadapan mereka berdua.

"Kukira dia anak yang pintar..."ucap Sehun lirih kemudian mulai mengambil egg roll di kotak bekalnya yang masih tersisa. "Tapi ternyata dia bodoh, bahkan lebih bodoh dariku..."

"Dalam hal cinta kan?"tambah Kyungsoo, Sehun mengangguk pelan sebagai jawaban.

...

...

...

"Akh... selesai juga!"ucap Sehun kemudian merentangkan kedua tangannya ke atas. Berusaha melemaskan otot-otot nya yang telah dipaksa untuk menulis dua puluh essay secara langsung.

Kali ini, di kelasnya sedang jam sejarah tarian(?), tapi karena Mizuna sensei tidak hadir, mereka diberi tugas untuk mengisi dua puluh essay.

"Jun Hong..."Sehun berseru pelan. Jun Hong yang mendengar namanya disebut langsung menoleh kearah Sehun dengan pandangan tidak suka.

"Ada apa? Ish... mengganggu tidur orang saja,"jawab Jun Hong kesal. Sebenarnya anak itu sedang mencoba tidur tadinya.

"Menurutmu... ekhm... pacar itu, fiktif?"Sehun bertanya, dan nada awal hingga akhrinya melemah sehingga membuat Jun Hong harus mendengarkan dengan seksama dan mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun.

"Pacar? Fiktif? Maksudmu?"tanya Jun Hong kebingungan, Sehun mengerucutkan bibirnya kemudian menghembuskan nafas pelan.

"Pacar itu fiktif bukan?"tanya Sehun sekali lagi. Jun Hong mengernyitkan alisnya bingung kemudian menjawab singkat. "Tentu saja bukan."

Sehun hendak mengajukan pertanyaan lagi, namun Jun Hong buru-buru memotongnya. "Dengar ya, asalkan pacarmu itu manusia, itu berarti pacarmu adalah benda berwujud. Itu berarti nyata!"tegas Jun Hong. Sehun tersenyum senang, ini baru jawaban yang diinginkannya! Dasar Jongin bodoh!

...

...

...

"Jangan lupa, bersihkan debu di atas kaca kedelai itu! Nanti bisa-bisa karena debunya terlalu banyak kedelainya tumbuh jadi kecambah!"-itu Luhan. Tahu kan? Sunbae imut yang sekarang menjadi wakil dari KIR? Ex-school tersebut telah melakukan re-organisasi dan hasilnya, Jongin yang terpilih menjadi ketua dan Luhan lah yang jadi wakilnya.

Ekhik... sebenarnya ada usur kongkalikong dari ayahnya dengan pihak sekolah sih.

"Ne..."jawab Sehun lemas. Sudah tiga puluh menit dia membersihkan laboratorium biologi sendirian. Ya, sendirian! Hari ini dia bertugas dengan Luhan untuk membersihkan, tapi sunbaenya yang menyebalkan itu malah hanya duduk sambil mengambil beberapa selca dengan pose ala anak yang masa kecilnya kurang bahagia. Sehun mendecih dibuatnya. Tapi... kalau dipikir-pikir Sehun juga sering melakukannya sih! Jadi... kalau begitu namanya bukan pose masa kecil kurang bahagia, tapi masa kecil terlalu bahagia!

'Ceklek...'pintu terbuka, menampakan sosok tinggi Kim Jongin yang datang dengan kacamata ala nerd bertengger di hidung ekhm, peseknya dan beberapa kantung kresek di tangannya. Luhan yang tadinya duduk-duduk santai bak mama tiri Cinderella yang sedang menjadi majikan kini gelapan. Dia meraih sebuah kain lap terdekat dan pura-pura mengelap meja kaca yang kotor. Sehun mendecih dibuatnya.

'Cuih... cari perhatian!'

"Wah... jadi kalian belum pulang yah? Padahal ini sudah jam empat,"kata Jongin entah basa-basi atau tidak.

"Ne... akhahaha... hari ini kan tugas kami untuk piket mebersihkan lab,"jawab Luhan dengan senyum semanis mungkin. Sehun jadi tambah ingin muntah, ugh... sunbaenya yang satu ini mungkin sudah pernah menerima OSCAR. Actingnya keren sekali! Benar-benar memukau, hingga cicak di dinding terpeleset saat menyaksiaknnya.

"Oh begitu. Kalau begitu setelah aku memasukan larutan ini ke dalam tabung aku akan membantu kalian,"ucap Jongin lalu menampakkan senyum terbaiknya. Kedua uke didepannya tersenyum bodoh. Eum... Sehun lebih tepatnya.

"Tidak usah Jongin. Sebentar lagi juga selesai,"ucap Sehun pura-pura tidak enak. Luhan mengangguk-angguk setuju.

"Baiklah,"jawab Jongin kemudian mulai memasukan beberapa botol larutan ke dalam tabung-tabung reaksi yang berjejer di sudut ruangan.

...

...

...

"Wah... Luhan sunbae benar-benar kaya yah?"tanya Sehun, sambil melongo. Dia masih shock karena melihat mobil mewah yang datang untuk menjemput Luhan. Duh... kelihatan noraknya!

"Tentu saja. Sekolah ini buktinya, inikan yayasan keluarga Xi sunbae"jawab Jongin cepat. Sehun terperanjat. Tunggu dulu...

Satu

Dua

Ti...

"EEEEH? EH? BENERAN NIH? JONGIN, KAU JANGAN BERCANDA!"teriak Sehun histeris. Duh... kenapa Luhan mesti ditakdirkan jadi anak orang kaya sih?

"Memangnya aku pernah berbohong kepadamu?"tanya Jongin santai. Sehun menggeleng horor. Jongin kan nerd aneh yang terobsesi pada hal-hal yang pasti. Dan jongin pastinya hanya akan membicarakan kebenaran kan?

"Tidak sih..."jawab Sehun. Kini dia menundukkan kepalanya. Ah... tanpa saingan saja, untuk mendekati Jongin itu sulit! Apalagi dengan saingan sekelas Luhan. Kalau boleh jujur, Luhan itu kan... sudah kaya, pintar, cantik pula. Kurang apalagi? Sedangkan dirinya? Sudah kurus-kering, bodoh, eum... tidak miskin juga sih. TAPI KAN SEKARANG FINANSIALNYA BISA DIKATAKAN SEKARAT! OH... TUHAN TIDAK ADILLL!

"Kau kenapa?"tanya Jongin pelan sambil menatap Sehun yang nampak murung. Sehun mengangkat kepalanya kemudian memanyunkan bibirnya.

"Tidak apa-apa!"jawabnya kemudian menunduk lagi. Aduh... kalau seorang uke sudah seperti ini...

"Hei, mau menemaniku pergi ke toko buku?"tanya Jongin. Sehun mengangkat kepalanya dengan cepat kemudian tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan giginya yang putih tetapi tidak terlalu rapi. Jongin tertegun, kemudian tersenyum tipis.

'Kau tidak buruk juga...'

Perjalanan menuju Toko Buku memakan waktu lima belas menit dari sekolah mereka. Dan sekarang mereka telah berada di dalam Toko Buku yang dimaksud Jongin. Sehun mendengus sebal, dan hidungnya mulai kembang-kempis – itu akan terjadi ketika Sehun kesal – Sial! Toko buku sains! Mana ada manga atau komik disini!

"Kau mau membeli sesuatu?"entah Jongin ini memang terlalu pintar atau bagaimana dia malah mempertanyakan hal tersebut pada Sehun. Oh... memangnya apa yang akan dilakukan oleh seorang Sehun dengan buku setebal lima ratus sampai beribu-ribu halaman dengan judul Chemistry for The Future atau The Law of Physic? Mau untuk bantal tidur?

Sehun menggeleng cepat lalu sedikit menghentakkan kakinya kesal. Berakting bak uke imut yang sedang merajuk – seperti yang dilihatnya di drama when you beauty but fool, and finally you beautifool(?) – kepada kekasihnya. Jongin tersenyum kemudian menarik tangan Sehun ke section di sebelah kanan. Sehun hanya diam mengikuti Jongin. Deg-degan nih... duh tangan Jongin. Meskipun tangannya kasar, meskipun mungkin jari-jarinya sudah pernah untuk mengupil(?), meskipun mungkin tangannya sudah pernah memegang... stop!

"Kita di bagian apa?"tanya Sehun lalu menoleh kekanan-kirinya. Jongin mengambil sebuah buku lalu memberikannya kepada Sehun.

"Eh? He? Komik? Toko buku khusus seperti ini, menjual komik?"tanya Sehun tidak percaya. Ih... ternyata anak nerd juga menyukai komik!

"Eum... ini bukan komik pada umumnya. Ini komik sci-fi? Science fiction?"tanya Sehun lagi. Jongin mengangguk pelan lalu membuka lembar pertama pada komik yang dipegang Sehun.

"Komik seperti ini termasuk dalam sains kan? Komik ini mengajari science dengan media gambar, dan orang-orang dengan kecenderungan otak kanan akan sangat terbantu dengannya,"Sehun shock begitu mendengar penjelasan Jongin. Apa ada hal yang tidak Jongin ketahui?

"Begitu,"Sehun menjawab singkat kemudian mulai membuka lembar berikutnya komik sci-fi tersebut. Jongin tersenyum singkat kemudian meninggalkan Sehun yang mulai sibuk sendiri dengan dunia fantasinya dengan komik itu.

...

...

...

"Sttt... diam... hati-hati..." dan kata-kata tersebut terus menggerumuti hati dan pikiran(?) Sehun semenjak tadi. Duh... karena terlalu asyik menumpang baca sekarang dia jadi pulang telat. Seharusnya kan dia sudah berada di rumah semenjak satu jam yang lalu untuk membantu mamanya menyiapkan makan malam, tapi karena tadi dia asyik berduaan dengan Jongin dia jadi melalaikan tugasnya.

Sehun mengendap-endap menuju ke arah tangga, dia sudah berjalan dengan ujung jari-jarinya bak penari balet, tubuh kurusnya yang menjulang juga sudah dibungkukkan agar keberadaannya tidak disadari. Tapi memang... insting seorang ibu sangat kuat kan? Karena begitu Sehun menginjakkan kakinya di anak tangga pertama tiba-tiba saja suara deheman mamanya terdengar begitu jelas.

"Eh... mama, ada apa? Hehehe..."tanya Sehun lalu tersenyum innocent pada mamanya.

Mamanya yang kini memakai apron biru kesayangannya itu menyilangkan tangannya ke dada. Kakinya yang memakai sandal rumah paket dari menginap di hotel dihentak-hentakan dengan cukup keras. Dan... matanya sipit seperti milik Sehun itu melotot seram. Sehun menelan ludahnya dengan susah payah, MAMANYA MARAH!

"OK, OK... TUNGGU DULU? MAMA MAU MARAH YA? TUNGGU..."

"HOSH... HOSH..."

"Satu... dua... tiga..."

"OK, AKU SIAP! MARAHI AKU SEKARANG JUGA!"teriak Sehun layaknya serdadu yang sedang memberi laporan pada Jenderalnya. Mamanya melototkan matanya lagi. Belajar dari mana Sehun etika seperti itu?

"SEHUNNIE!"teriak Joo Myun hingga melenggar sampai ke rumah tetangga-tetangga sebelahnya.

"Ya ampuuun... ada apa lagi di rumahmu Yixing?"tanya Baekhyun. Kali ini Yixing datang untuk mengerjakan tugas kuliah bersama. Yixing meletakan pensil mekaniknya kemudian menatap Baekhyun.

"Aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu,"jawab Yixing yang membuat Baekhyun hanya bisa mengusap dadanya. Sabarrrr!

...

...

...

Kyungsoo tidak tau kenapa dia bisa ada disini. Perasaan satu jam yang lalu dia masih mengaduk adonan pie di dapurnya, tapi kenapa sekarang dia sudah berada di ruang keluarga kediaman Park? Oh ya... he, he, he... baru ingat. Kan pie apelnya memang sengaja dibuat untuk diberikkan pada calon mer... eeeeh... pada keluarga Chanyeol sebagai buah tangan.

"Wah... Kyungsoo ternyata pintar memasak ya?"puji Ny. Park padanya. Kyungsoo tersenyum senang. Duh... memang semenjak bertemu dengan Chanyeol di sekolahnya tempo hari, dia dan Chanyeol jadi dekat. Bahkan saking cepatnya kedekatan mereka, ini sudah kedua kalinya Kyungsoo datang ke rumah Chanyeol.

"Ehehehe... hanya sedikit,"jawab Kyungsoo malu-malu. Aduh... kalau di depan calon mer... ehhhh salah lagi. Maksudnya, kalau di depan orang lain memang harus rendah hati kan? Aduh... untung rendah hati, nah kalau rendah diri? Janganlah, dia kan sudah pendek, mau dipendekkan seberapa lagi(?)

"Tidak Kyungsoo memang sangat pintar memasak kok,"kata Chanyeol yang berhasil membuat Kyungsoo yang sedak di sebelahnya jadi tersipu. Aduh... Chanyeol ini bisa saja!

"Wah benar? Kalau begitu, mau membantu eomma(?) menyiapkan makan malam tidak?"tanya Ny. Park. Kyungsoo tidak segera menjawab pertanyaan beliau. Duh... sebenarnya mau sekali sih, tapi... nanti hyungnya siapa yang memasakkan? Apa dia sms hyungnya saja agar makan malam di luar, aduh... tidak-tidak, makan di luar itu tidak terlalu sehat! Atau hyungnya harus memakan ramen, aduh... ramen apalagi, nanti bisa-bisa hyungnya terkena penyakit kuning! Hih...

"Eum sebenarnya... hyung saya, eum..."Kyungsoo jadi bingung harus menjawab apa. Chanyeol yang mengetahui gestur bingung Kyungsoo segera tersenyum, dia mengeluarkan ponselnya dari sakunya.

"Biar aku meminta izin pada Jongdae, orangtuamu ada di luar kota kan?"nah... terlanjur sudah... tidak papalah biarkan saja hyungnya memakan ramen, satu kali tidak akan sampai membuat mati kan?

Kyungsoo dan Ny. Park menghabiskan satu setengah jam untuk menyelesaikan banyak menu makan malam. Ny. Park mengatakan jika sebenarnya kedua noona Chanyeol yang sudah mempunyai keluarga sendiri akan datang untuk acara makan malam bersama yang diadakan setiap sabtu malam. Tahu tentang ini, Kyungsoo jadi gelisah. Aduh... Kyungsoo kan bukan siapa-siapa! Apa boleh dia ikut makan malam bersama?

"Kau baik-baik saja?"tanya Chanyeol padanya. Saat ini Kyungsoo tengah menata peralatan makan di meja makan sedangkan Chanyeol sudah duduk di salah satu kursi meja makan.

"Eum..."jawab Kyungsoo cepat. Tangannya berhenti bergerak saat garpu terakhir sudah diletakkannya di tempat. Kyungsoo mendekat ke arah Chanyeol. Dia menggigit bibirnya, tanya tidak ya?

Tapi...

"Hyung... apa benar aku boleh ikut makan malam bersama keluargamu?"tanya Kyungsoo. Chanyeol menatap Kyungsoo. Duh... sekarang gantian jantung Chanyeol yang berdebar.

"Eum... memangnya kenapa?"tanya Chanyeol pelan, kini bahkan pipinya sudah sama merahnya dengan milik Kyungsoo.

"Tapi kan... aku bukan siapa-siapa,"jawab Kyungsoo jujur. Chanyeol tersenyum kemudian meraih kedua tangan Kyungsoo, menggenggamnya erat seolah menyalurkan keyakinan pada namja manis itu.

"Tenang saja, sebentar lagi kau itu tidak lagi menjadi bukan siapa-siapa di rumah ini,"

"Eh?"

...

...

...

Keluarga Park dan calon menan... eh, dan Kyungsoo sudah menyelesaikan makan malam mereka. Mereka semua kini sedang berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang-bincang. Ayah Chanyeol dan kedua kakak ipar Chanyeol sedang membahas tentang perkembangan ekonomi, sedangkan Ibu Chanyeol sedang berbincang dengan noona pertama Chanyeol yang sedang mengandung anak ketiganya. Chanyeol sendiri sedang berbincang dengan noona keduanya tentang jurnalis, sedangkan Kyungsoo sedang bermain-main dengan anak-anak noona Chnyeol.

"Oppa kekasih Chanyeol ajusshi ya?"tanya Hyena, anak gadis tetua di keluarga itu. Kyungsoo terdiam. Haduh… anak umur empat tahun sudah tahu pacar-pacaran?

"Eum… bu,"

"Ne… Kyungsoo oppa adalah pacar Chanyeol ajhussi…"potong Chanyeol yang tiba-tiba duduk di belakang Kyungsoo. Kyungsoo tersentak kaget, he…? apalagi nih?

"Oah… kalau begitu sering-sering dating kesini yah, soalnya masakan oppa benar-benar sangat enak,"kali ini Kyungsan yang berbicara.

"Eh? Eum.."

"Kau tega mengecewakan anak-anak manis ini?"goda Chanyeol padanya. Kyungsoo menatap Chanyeol cuku lama kemudian tersenyum.

"Ne…"jawab Kyungsoo akhirnya.

"Soo-ie, tahu tidak. Chanyeol itu tidak pernah keluar di sabtu malam loh…"cerita Yura, noona kedua Chanyeol yang memang sangat usil.

"Eh… lalu?"Tanya Kyungsoo bingung. Lalu jika Chanyeol tidak pernah keluar di sabtu malam, itu urusan Kyungsoo begitu?

"Itu tandanya Chanyeol belum punya pacar kan?"aduh… Kyungsoo mengerti arah pembicaraan noona Chanyeol itu sekarang.

"Oh… begitu,"ucap Kyungsoo seadanya. Yura terkekeh pelan, kemudian menyikut Chanyeol pelan dan menggumamkan, "Calon mu polos sekali."

"Aishhh…"Chanyeol menggaruk rambutnya frustasi.

"Soo…"Chanyeol bergumam pelan. Kyungsoo melirik kearah Chanyeol. Mereka sekarang sedang berada di dalam mobil Chanyeol, dan sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Kyungsoo.

"Ne?"jawab Kyungsoo pelan. Chanyeol berdehem satu kali, untuk memastikan suara baritonenyya terdengar lebih keren. Dua kali, tiga kali… dan akhirnya dia malah terbatuk-batuk. -_-"

"Hyung… gwenchannna?"Tanya Kyungsoo khawatir. Chanyeol mengalihkan tagan kirinya sebentar dari stirnya kemudian mengusap tenggorokannya yang mendadak gatal. Dasar batuk sialan!

"Soo…"ulang Chanyeol sekali lagi. Kyungsoo menatap Chanyeol heran, sebenarnya Chanyeol mau apa sih?

"Ne hyung?"jawab Kyungsoo sabar. Chanyeol menghentikan laju mobilnya ketika lampu lalu lintas berganti menjadi merah. Dia menengokkan kepalanya kearah kiri, dimana Kyungsoo kini tengah menatapnya lucu dengan mata bulat andalannya.

"Soo…"dan Kyungsoo bersumpah, jika Chanyeol masih menyebut namaya degan suara baritonenya yang terdengar sangat seksuil itu sekali lagi, dia akan memukul wajah Chanyeol dengan tas ranselnya. Ugh… menakutkan!

"Soo…"

'BRUK…'

"Wah… Jongdae hyung datang untuk menumpang makan yah?"tidak usah diberitahu kan siapa orangnya yang sanggup mengatakan hal sekeji(?) itu?

"Eh… iya, he, he, he…"Jongdae hanya tersenyum garing saat itu. Aduh… jadi malu!

"Sehun! Kau tidak boleh berkata seperti itu pada tamu!"tegur papanya yang saat ini tumben sekali sudah pulang. Well, semenjak kejadian dicurigai selingkuh itu, papanya selalu berusaha pulang lebih awal.

"Loh… tapi memang itu kan kenyataannya?"Tanya Sehun bodoh. Maaf Sehun tidak polos, tapi dia bodoh

"Iya juga sih…"dan Yixing serta Joo Myun hanya bias ber-huuuuuh ria saat mendengar jawaban dari Yifan yang bodohnya sebelas dua belas dengan Sehun.

"Eh… maaf kalau merepotkan,"ucap Jongdae lagi semakin tidak enak. Aduh… canggung juga sih, meski dia dan Yixing sudah berpacaran hampir selama tiga tahun, tapi kalau menghadapi kubu papa dan anak bungsu bodoh itu memang sulit juga. Sampai sekarang bahkan Jongdae tidak bisa mengerti mengapa, mereka berdua begitu eum… UNIK?

"Tidak papa Jongdae-ya,"kali ini Joo Myun menyela dari dapur. Yixing tersenyum kepada kekasihnya. Dan rasa tidak enak Jongdae hilang seketika.

"Kajja makanannya sudah siap…"ucap Joo Myun yang kini sedang membawa semangkuk sup kepiting ditanganya. Sehun langsung berlari menuju kursinya, begitu pula Yifan, Yixing, serta Jongdae.

"Jongdae ikut makan malam karena Kyungsoo tidak ada di rumah hari ini, jadi tidak ada yang memasak,"jelas Yixing pada semuanya.

"Oh…"gumam Sehun tidak focus. Haduh… yang sekarang jadi pusat perhatiannya kan sup kepiting yang sangat lezat!

"Eh… memangnya Kyungsoo kemana?"dan justru Joo Myun lah yang menyadari keganjilan ini.

"Eum… dia pergi ke rumah Chanyeol,"jawab Jongdae. Telinga Sehun yang mendengar percakapaan itu mendadak berkedut. Kyungsoo? Sabtu malam? Pergi ke rumah siapa? Chanyeol? Pangeran Eric itu?

"HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHH? SERIUSAN NIH?"teriak Sehun tidak percaya. Yixing yang duduk di sebelahnya memukul kepalanya cupup keras sehingga Sehun memanyunkan bibirnya.

"Sakit tau Ge!"teriak Sehun lagi. Yixing hanya mehrong kepadanya sebagai jawaban.

"Wajarkan kalau seorang remaja pergi ke luar di sabtu malam? Memangnya Sehun… huh… dasar tidak laku,"kata Yixing telak. Sehun makin memanyunkan bibirnya sehingga membuat Joo Myun dan Yifan tertawa karenanya.

"Oh… ya sampai lupa, ma…"Sehun merajuk pada mamanya. Joo Myeon tersenyum jahil begitu mendengar suara manja Sehun. Pasti ada maunya.

"Apa? Sehun mau meminta sesuatu yah? Mau minta apa?"Tanya Joo Myun. Sehun melototka matanya. Hebat… naluri seorang ibu memang sangat hebat.

"Iya ma, tolong belikan mantel yang baru soalnya mantel yang lama sudah rusak,"jelas Sehun. Joo Myun tersenyum manis. Bahkan terlalu manis sehingga membuat Yi Fan dan Yixing bergidik ngeri.

"Tapi mama tidak punya uang…"

"AKHAHAHA…"

"MAMA!"

TBC.

Tetep updatenya next week yah! Thanks buat yang sudah comment lope u lah!