suggested song: speak to me - amy lee
implicit sexual scene ahead

revised 27042018

revised 06062018


.

.

Madara mendudukkan diri di sampingnya, mengelap keringatnya yang bercucuran. "Membuat perkampungan di sini?" ulangnya. "Kau bercanda, ya?"

Hashirama menurunkan lengannya, manyun. "Iya, deh, aku tahu ideku jelek..."

Anak lelaki itu mendesah sebal. "Lembah ini masih ditutupi belantara. Membuka hutan nggak bisa sehari semalam jadi, 'kan? Kita nggak bisa tinggal di pohon macam tupai—"

Bibir Hashirama semakin maju, kedua lututnya ia peluk erat.

"Hhh..."

Anak perempuan itu menerawang jauh ke cakrawala. "Bukankah bagus kalau kita bisa tinggal bersama-sama, dengan keluarga kita, di satu desa tanpa saling curiga?"

"Maksudmu membuat aliansi?"

"Ya. Semacam itu."

"Ninja mana ada yang membuat aliansi?"

"Tapi patut dicoba, bukan?"

Madara memicingkan mata ke arahnya. "Aliansi yang nggak dilandasi rasa saling percaya nggak akan bertahan."

"Aku percaya padamu," katanya. "Kamu percaya padaku, Madara?"

Ia mengangguk. Hashirama nyengir.

"Bagus!" Ia sontak berdiri dan berjalan mondar-mandir di atas tebing itu. Sisi telapak tangannya menempel di dahi selagi ia melihat melewati belantara. "Ada padang terbuka di kedua sisi sungai, bisa digunakan untuk sawah dan ladang. Kita tidak akan kekurangan kayu untuk membangun rumah. Ada akses jalan rendah— oh, kita harus membuatnya dulu untuk menyambungkan desa dengan desa lain. Rombongan-rombongan pindahan bisa melaluinya juga dengan aman. Lalu, lalu ... oh! Kita akan membuat tempat latihan untuk anak-anak shinobi juga! Jadi mereka akan lebih siap, dan—"

Menyadari absennya respons dari sahabatnya, Hashirama berhenti mengoceh. Mulut Madara ternganga.

"Kamu sudah memikirkan ini jauh-jauh, ya?"

"Nggak. Terlintas begitu saja tadi."

"Bikin desa nggak segampang itu, tahu. Meskipun kita sudah jadi kuat dan jadi pemimpin klan, para daimyo pasti masih ingin kita memerangi klan shinobi lain dan daimyo lain."

Hashirama perlahan kembali duduk. Entah bagaimana ia sampai lupa tentang para daimyo itu. Merekalah yang membayar klannya untuk berbagai misi mulai dari mencuri informasi sampai pembunuhan dan perang terbuka. Hanya sekali ia pernah mengunjungi kota tempat daimyo Matsudaira tinggal, itupun tidak sampai bertemu dengan daimyo-nya sendiri. Ayahnya sering mengajak Tobirama berkunjung, tetapi semua pertemuan mereka dilakukan dalam gelapnya malam. Konon, adalah terlarang bagi shinobi untuk melihat kehidupan kota di siang hari.

"Bagaimana kalau kita berhenti?"

"Berhenti apa?"

"Berhenti mengambil misi dari mereka." Hashirama mengangkat bahu. "Jika ada sawah, ladang dan rumah, kita bisa mandiri tanpa uang daimyo. Kita juga bisa berdagang—"

"'Shinobi lahir untuk membunuh'," Madara memotongnya. "Tahu itu, 'kan? Semua orang hidup memegang prinsip konyol seperti itu." Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kasar. Penuh bekas-bekas latihan rutin yang intens.

"...Aku nggak mau adikku mati di medan perang, Madara. Tinggal dia seorang yang masih hidup." Hashirama ganti menatap tangannya. Sudah mulai muncul tanda-tanda kasar walau masih lebih halus dari kulit sahabatnya.

"Aku juga masih punya seorang adik." Madara menengadah. "Aku ingin jadi kuat untuk melindunginya."

Hashirama menyetujui dalam hati. Lama mereka terdiam sebelum ia berbicara lagi, "Saling bunuh itu bodoh. Madara ... bagaimana seandainya kita tidak lahir sebagai shinobi?"

"Aku tak tahu. Jujur saja, aku tak tahu." Madara merebahkan diri. "Mungkin kita akan lahir di keluarga petani, keluarga pedagang, atau jadi anak haram salah satu daimyo. Kita mungkin nggak akan pernah ketemu."

Hashirama memejamkan mata, menikmati semilir angin di atas tebing. Madara benar. Jika ada satu hal yang bisa ia syukuri dari terlahir di keluarga shinobi, hal itu adalah bertemu dengan Madara. Dipandangnya anak lelaki yang berjarak semeter darinya. Anak yang bukan sanak saudaranya sendiri, tetapi seorang asing yang identitasnya tak pernah ia ketahui pasti. Namun, rasanya begitu mudah menumpahkan segala gundah gulananya dan mendengarkan keluh kesahnya. Berbagi keresahan hingga jiwa masing-masing lega.

Mungkin memang sebaiknya Hashirama tak pernah tahu latar belakang Madara lebih jauh.

"Idemu nggak buruk," ujarnya tiba-tiba. "Aliansi berupa desa ... rumah bagi berbagai klan..."

Rumah di mana tak ada lagi anak-anak lahir hanya untuk mati di medan perang. Rumah di mana adik-adik mereka bisa hidup dengan aman hingga usia senja.

Rumah di mana mereka tak perlu lagi menyembunyikan jati diri. Rumah di mana mereka bisa bertemu setiap hari tanpa harus sembunyi-sembunyi.

"Kita akan mewujudkannya," kata Hashirama, lebih kepada dirinya sendiri. "Kita pasti bisa."

Pertemuan mereka hari itu diakhiri dengan ritual lempar batu yang biasa. Selama ia berjalan pulang, Hashirama tak bisa berhenti menatap batu yang tadi Madara lempar. Setelah lama berdiskusi dan berlatih bersama, ia merasa telah mendapatkan jalan keluar dari permasalahan mereka. Masih banyak yang harus dikerjakan; Hashirama masih tak punya pengalaman perang, dan ayahnya masih menolak—

"Kakak."

Hashirama buru-buru menyelipkan batunya ke dalam baju. Tobirama sudah berdiri menghadangnya.

Perasaannya tidak enak.


.

.

"Nobuo?" ulang Tobirama di sela-sela kunyahan. "Dia sepupu yang Kakak tonjok dulu, ingat? Karena dia menghujani Kawarama dengan sebaskom telur katak. Ashina-sama mengirimnya ke ibukota untuk berguru kepada samurai. Makanya kita tidak pernah ketemu lagi."

Meski masih pagi, kabut telah menghilang dari lapangan tersembunyi itu. Hashirama membawakan beberapa nasi kepal untuk Tobirama dan Izuna yang hampir setiap hari berlatih di sana. Ia menanti sampai mereka selesai berlatih kenjutsu, lalu membagikan sarapannya. Izuna melanjutkan latihannya dengan bermeditasi membelakangi mereka. Keduanya makan di bangku panjang yang Hashirama buat.

"Anak bongsor dan botak itu?" Hashirama menggali ingatannya, tetapi yang ia ingat hanyalah tawanya yang mengejek Kawarama dan mukanya yang menahan air mata setelah Hashirama meninjunya. "Mito menceritakan dirinya beberapa kali dalam suratnya, tetapi aku nggak pernah ingat. Nobuo mengirimiku hadiah, omong-omong."

Tobirama memerhatikan sebutir umeboshi di jemarinya. "Hadiah?"

"Belum kubuka. Pernak-pernik tak penting, barangkali." Peti kecil itu masih tersimpan di sudut apartemennya. Sedangkan peti hadiah dari sang kaisar telah ia buka. Isinya adalah beberapa batu mulia, kain sutra, bermacam-macam perhiasan, satu set kimono pria yang diwarnai khusus dan dijalin dengan benang-benang emas. Bubuk kopi kumonya telah ia bagi-bagikan kepada staf administrasi yang sering lembur, menyisakan sedikit untuknya sendiri. Pahitnya masih dalam batas toleransi, apalagi efeknya luar biasa. Dua hari terakhir ini ia sanggup lembur tanpa tidur demi mengurus kedua klan Sarutobi dan Aburame.

Meski penasaran, Hashirama enggan membuka peti hadiah Nobuo.

Tobirama tak mengatakan apa-apa soal itu, melanjutkan makannya dalam diam hingga Hashirama berkata, "Semalam, ada surat undangan dari Kaisar Nobutada juga."

Adiknya mengerang sebal. "Jangan bilang dia mau datang lagi."

"Nggak. 'Kan undangan." Hashirama membersihkan tangannya dan melipat rapi dedaunan yang tadi membungkus nasi kepalnya. Ia telah menyisihkan dua buah untuk Izuna. "Ada festival perayaan panen beberapa minggu lagi. Beliau mengundang kami ke kastelnya di pinggiran ibukota, di atas gunung."

"'Kami' siapa?"

"Aku dan Madara." Hashirama mengangkat bahu, menyaksikan asap tipis keemasan menggantung di sekitar tubuh Izuna. "Hanya kami berdua. Pelayan dan pengawal juga boleh dibawa. Semua daimyo dan keluarganya diundang. Acara pribadi tahunan rupanya."

Tobirama menelan umeboshi-nya dengan susah payah. "Kakak harus bawa pengawal."

"Buat apa…?"

"Seorang daimyo bisa membawa puluhan orang untuk pergi ke ibukota. Status Kakak sudah setara dengan mereka."

"Jadi maksudmu cuma buat pamer?" Hashirama bertanya setengah jahil. "Unjuk kekayaan Konoha sementara uang kita pas-pasan?"

"Jika Kakak hanya datang berdua saja, orang lain akan meremehkan Kakak." Tobirama meremas daun yang tadi membungkus sarapannya. "Ingat kalau cuma Kakak yang bukan bangsawan nanti di tempat Kaisar."

"'Kan ada Madara. Kami berdua saja sudah cukup.…" Dahinya berkerut selagi Hashirama menyisir kosa katanya. "Apa namanya— intimidatif? Nggak ada yang bisa menyerang kami di jalan nanti. Repot kalau kami membawa banyak orang."

Tobirama akhirnya mencoret pelayan dari daftar delegasinya. "Pengawal saja, sekadar seremonial. Dua orang seharusnya cukup. Kakak ada usul?"

Sang Hokage mengacungkan telunjuk ke dada adiknya.

"Pekerjaanku banyak. Aku nggak bisa…."

"Makanya, nggak usah."

"Orang lain saja, Kak, maaf."

"Siapa, Izuna?" Hashirama melirik ke wanita itu. Ia masih bergeming di posisinya.

"Yakin?" balas Tobirama skeptis. Suaranya direndahkan. "Ke mana-mana pun dia masih harus ditemani."

"Izuna bisa mengatasi Hisao tempo hari." Hashirama menyadari mereka belum menyentuh topik ini sama sekali sejak sarapan beberapa hari lalu. "'Kan kamu yang mengajarinya penginderaan. Saat klan Uchiha baru pindah ke sini, berjalan pun Izuna masih pakai tongkat. Sekarang dia sudah sering berlatih kenjutsu denganmu."

"Tadinya aku tidak berniat melatihnya…."

"Jadi, kamu keterusan?"

Sebelum adiknya menjawab, suara ketiga bergabung dengan mereka.

"Hokage-sama, Senju-sama."

Kakak beradik itu menoleh ke jalan setapak menuju desa. Uchiha Makoto baru saja tiba, membungkuk menyapa keduanya. Salamnya mereka balas dengan singkat dan sopan.

"Apa Izuna-san sudah berhasil...?" tanyanya. Sepelukan dokumen berupa gulungan dan buku ia letakkan di atas sebuah batu datar.

"Belum, bentuknya masih berupa gelembung-gelembung asap," jawab Tobirama. Ia sudah kembali ke sikapnya yang biasa. "Belum ada bentuk yang lebih padat."

Hashirama melirik tumpukannya. Semua judulnya berkaitan dengan riset cakra dan jurus. Mereka sudah mendokumentasikan sebagian besar jurus-jurus yang diturunkan di setiap klan, walau tak semuanya rela menyerahkan begitu saja bagaimana cara mempelajarinya. Percakapan mereka akhirnya berbelok ke kemajuan bagian riset.

"Jurus-jurus khusus klan Akimichi, misalnya, butuh darah seorang Akimichi untuk menguasainya. Orang biasa tidak bisa menggunakan jurus mereka sebaik mereka sendiri," jelas Makoto. Anak itu terlihat bersemangat menceritakan hasil kerjanya. "Jurus seperti itu tidak akan diajarkan di akademi. Izuna-san berpendapat kita harus mengajari semua murid dari dasar-dasarnya dulu. Taijutsu, metode pengintaian, dasar ninjutsu..."

"Akademi?"

"Benar, Hokage-sama! Semua anak dari semua klan belajar bersama-sama dengan guru dari berbagai klan juga!"

"Ini bagus untuk mendorong integrasi antarklan dan memperkuat persatuan desa." Tobirama mengubah posisi duduknya. Matahari mengintip dari celah pepohonan, sinarnya mengarah langsung ke wajahnya. Ia memicingkan mata. "Bangunan untuk akademi sudah siap, dan banyak orang yang sudah menanyakan kapan masa belajar akan dimulai. Setelah musim dingin—"

"Lebih cepat dimulai lebih baik!" Makoto berseru kelewat bersemangat, tak sengaja memotong kata-kata Tobirama. "Maaf, Senju-sama. Maksudku, dengan perang yang semakin mendekat ... melawan desa ninja lain yang tak kita kenal ... wah!"

"Maksudmu perang dengan Iwa...?" Hashirama menatap adiknya bingung. "Kita tidak akan berperang dengan mereka. Akademi dibuat untuk mengajari semua orang pertahanan diri."

Wajah Makoto seketika diliputi kekecewaan. "Tetapi semua orang tak sabar ingin segera mengerjakan misi. Membangun rumah dan menanam ladang sudah terlalu menjemukan. Kami semua bosan," katanya lagi. "Saya juga ingin pergi ke medan perang. Orang-orang seusia saya sudah tidak sabar mencoba perang, Hokage-sama. Kami ingin unjuk gigi!"

"Jika kita biarkan, para ninja Iwa bisa mencapai Konoha, Kak," ujar Tobirama datar. "Informasi yang kita punya tentang mereka masih terlalu sedikit."

Apapun yang hendak ia katakan, lenyap sebelum mencapai lidahnya. Hashirama masih bisa paham mengapa Makoto tak sabar ingin berperang; pemuda seusianya memang berapi-api, seringkali sampai pada tahap ceroboh. Shinobi seusianya banyak yang gugur di medan perang karena tidak memikirkan sesuatu masak-masak dengan kepala dingin.

Namun, sampai adiknya sendiri ... adik yang telah tumbuh bersamanya sejak kecil, mendengarkan semua keluh kesahnya...

Tulang tangan raksasa keemasan terjulur di antara kakak beradik Senju. Jemarinya yang kurus mengambil sebuah onigiri utuh. Tangan itu kembali ke Izuna, menjatuhkan onigiri di pangkuannya, lalu lenyap dalam kepulan asap cakra berwarna senada. Ia membuka sarapannya dengan gerakan santai, seolah tidak baru saja menghentikan percakapan ketiga orang lainnya, yang masih terpana di bangku kayu itu.


.

.

Rumah utama klan Senju yang tidak ia huni menjadi naungan bagi para pamannya yang duduk dalam dewan klan, serta beberapa lansia Senju lainnya. Anak dan cucu mereka yang sudah berkeluarga tinggal menyebar di seluruh desa, tetapi rutin mengunjungi mereka setiap hari. Ada pelayan dan pembantu yang mengurus para lansia dan menyediakan kebutuhan mereka. Rumah utama itu adalah salah satu struktur utama yang Hashirama dirikan, lalu dicat dan dihias dengan atribut-atribut khas Senju. Pahatan di ujung atap, pelitur halus yang tidak menutupi tekstur asli kayu, dan ukiran lambang vajra di sana-sini. Aula besarnya di lantai dasar menjadi tempat pertemuan klan rutin yang sering sang Hokage tidak hadiri.

Rapat klan Senju kali itu dihadiri oleh semua anggotanya, kurang lebih tiga ratus orang. Mulai dari yang tertua hingga bayi yang baru berumur dua hari. Lama tak datang, Hashirama barulah menyadari banyaknya wajah-wajah perempuan yang hilang dari kerumunan, digantikan oleh wajah-wajah perempuan muda yang ia ketahui berasal dari klan lain. Satu-dua perempuan baru ini menggendong bayi dalam buaian. Kesemuanya duduk di ujung terjauh dari tempatnya bersimpuh, wajah mereka separuh tertutup bayangan.

Tobirama tampak lebih kusut ketika ia mengambil tempatnya di sisi Hashirama. "Semua ibu-ibu itu," katanya ketika kakaknya bertanya, "memintaku menggendong anak atau cucu mereka bergiliran."

"Bagus, 'kan? Biar mereka ketularan pintarmu."

Tobirama mendengus. Ia masih bungkam soal alasannya berubah pikiran, tetapi sampai rapat dimulai ia tak mengungkitnya lagi. Hashirama pun tidak merasa perlu menanyainya lagi. Ia memilih bertanya tentang wajah-wajah baru di pertemuan.

"Siapa mereka? Bukannya ini pertemuan internal...?"

"Beberapa pemuda Senju mengambil istri dari klan lain. Gadis-gadis kita pun begitu. Makanya mereka tidak hadir lagi di sini."

Usai membuka pertemuan, Hashirama menjelaskan alasannya melepas jabatan kepala klan. Seruan-seruan kecewa memenuhi ruangan selama beberapa saat, yang digantikan gumaman maklum ketika ia menambahkan jabatan itu akan diisi oleh adiknya.

Paman Joji tampak luar biasa lega setelah Hashirama menandatangani surat yang melepas jabatannya sebagai kepala klan Senju. Otaknya sudah dipenuhi dengan prospek pertemuan dengan kedua anggota terbaru dewan desa Konoha. Kali ini, tidak ada omelan mengikutinya ketika ia mohon diri lebih awal dari rapat klan.

Sarutobi Sasuke bahkan tidak menahan cemberutnya ketika Hashirama tiba kembali kantor Hokage. "Kami datang mengharapkan permintaan misi-misi sudah kembali mengalir," katanya. "Tapi tak satupun ada! Aku tak tahu harus bilang apa kepada anggota klanku waktu mereka minta pekerjaan selain bertukang dan mencangkul." Ia masih muda, belum genap dua puluh usianya, tetapi kemampuan bertempurnya sudah terkenal di kalangan shinobi Hinokuni. Selincah monyet, kata orang.

Aburame Mamoru mengiyakannya. "Terimalah tawaran dari Kaisar Nobutada. Selama ini cuma daimyo yang sewa jasa shinobi. Kaisar pasti bayar lebih."

Hashirama menghempaskan diri di kursinya, menghela napas dalam-dalam seraya menyisir rambutnya ke belakang. Efek kedatangan Kaisar yang hanya sehari terasa besar. Semua orang tak henti-hentinya membicarakan betapa dermawannya beliau. Pelayan-pelayannya membeli banyak bahan makanan dan sake untuk konsumsi rombongan mereka, menguntungkan para petani. Anak-anak kecil memainkan pernak-pernik yang mereka dapat dari rombongan itu, beberapa menginginkan mainan serupa karena tidak kebagian yang gratis. Tentu saja tak ada yang punya; semuanya hanya bisa dibeli di ibukota. Konon impor entah dari mana.

"Aburame-san, Sarutobi-san, Konoha tidak didirikan untuk menghimpun kekuatan militer Hinokuni," ujarnya, merasa ia telah terus mengulangi kalimat yang sama beberapa hari terakhir ini. "Jika ini soal uang..."

Keduanya serentak menggeleng. "Shinobi macam apa yang kerjanya hanya mencangkul?" tanya Sasuke. "Hinokuni membutuhkan kita. Ini adalah suatu kehormatan."

"Tolong jangan menunggu sampai ninja Iwa menyusup ke sini," Mamoru menimpali. "Mereka sudah mengubah dinamika peperangan. Jika para samurai itu tak bisa membendung mereka, kita pun akan kena juga, Hokage-sama."

"Musim dingin akan segera tiba. Waktu yang rentan untuk mengirim pasukan keluar desa. Temui ... temui Yamanaka Inoha. Atau Inuzuka Tsubaki. Mereka mengorganisir patroli di sekitar desa dan pemetaan geografis. Kita masih butuh semua pengetahuan lanskap kekaisaran ini."

Hashirama membenturkan dahinya di permukaan meja begitu keduanya pergi. Kedua kepala klan tersebut kentara masih tak puas akan instruksinya. Tugas pemetaan cenderung membosankan.

Ia sungguh tak paham. Mengapa semua orang begitu ingin berperang? Membunuh sampai diri sendiri dibunuh; tak henti-hentinya menyaksikan sanak saudara dan kenalan sendiri meregang nyawa?

Apa gunanya jadi shinobi kalau bertempur terus yang mereka lakukan dari dalam buaian hingga maut menjerat?

Dirinya yang dianugerahi kapasitas cakra luar biasa dan kekkei genkai langka saja sudah merasa lelah. Dirinya yang digelari sang dewi shinobi saja sudah merasa muak.

Hidup sebagai orang biasa mungkin lebih baik. Tetapi ... mungkin aku takkan bertemu Madara, ia menyanggah dirinya sendiri.

Madara….

Menghindari berkas-berkasnya, Hashirama memutuskan mengecek perpustakaan di gedung Hokage. Perpustakaan itu memakan separuh ruang di lantai dasar, jauh lebih besar daripada perpustakaan di kampung lama Senju. Wangi tinta dan kertas menyapa penciumannya begitu ia masuk. Ada dua orang yang sedang bekerja di dekat pintu masuk. Satu orang sedang menjilid ulang sebuah gulungan menjadi buku. Orang lainnya sedang menyalin isi sebuah gulungan yang sudah rusak dimakan rayap. Sang Hokage mengangguk kepada keduanya, mengisyaratkan bahwa mereka tidak perlu meladeninya.

"Aku hanya ingin membaca sejenak," ia memberitahu mereka sambil berbisik.

Tobirama mengarsipkan semuanya dengan rapi. Penjaganya telah menyortir semua buku dan gulungan berdasarkan kategori yang sudah dibuat adiknya. Dokumen-dokumen tua diletakkan rapi di satu rak, banyak di antaranya sudah digerogoti ngengat dan serangga pemakan lem. Dokumen ini sedang disalin untuk menjaga isinya. Buku-buku lainnya adalah tentang sejarah klan, pemetaan, sampai dongeng anak-anak. Simbol-simbol yang digambarkan di sampulnya memberitahu Hashirama dari klan mana buku tersebut berasal. Buku dari klan Senju mendominasi hampir semua rak.

Observasinya terhenti saat ia melihat seseorang duduk membelakanginya di deretan kursi membaca. Kuncirannya yang panjang menjuntai hingga ke lantai.

"Izuna?"

Izuna terlonjak mendengarnya, membuat Hashirama menyesal telah memanggil. Ketika ia menghampiri, dilihatnya sebuah gulungan terbuka di pangkuan wanita itu. Sebelum ia sempat bertanya apa yang dilakukannya, Izuna buru-buru menggulungnya kembali.

"Sore, Hashi-san." Sapaannya terdengar formal.

"Kau tidak perlu berhenti hanya karena ada aku," Hashirama menarik kursi lain di sebelahnya. "Maaf mengejutkanmu."

"Tidak apa-apa." Jemari Izuna meraba sampul depan gulungannya yang dihiasi motif bunga dan sulur. Cakranya yang tersebar di permukaan meja perlahan memudar.

"Kauingin kubacakan itu...?"

Izuna menatapnya- menoleh ke arah wajahnya. Cakranya meraih pipi dan lengannya. "Kalau suara Hashi-san jelek, aku mau berhenti." Diberikannya gulungan itu.

Tersenyum simpul, Hashirama mulai membaca dari bagian yang terakhir Izuna baca. Gulungan itu ternyata berisi dongeng yang pernah ia dengar di masa kecilnya. Tentang seekor kura-kura yang ingin menjelajah dunia dengan bantuan berbagai hewan. Versi utuhnya tak pernah ia baca. Hashirama kesulitan karena tulisannya berantakan dan pudar di sana-sini. Meski begitu, ia berhasil membacakannya sampai habis. Keseluruhan ceritanya sangat menarik sehingga ia tidak sering-sering berhenti kecuali untuk menarik napas.

Dagu Izuna bertopang pada telapak tangannya. "Tidak buruk," komentarnya. Andai ia tidak berbicara, Hashirama akan mengiranya terlelap. Ia tidak bersuara sama sekali. "Tapi masih lebih bagus suara Tobirama."

Ingatannya akan perdebatan mereka kembali di memori Hashirama. Ia memilih untuk tidak mengungkitnya. "Tobirama sering membacakanmu buku?" Ia menggulung dan mengikat gulungannya dengan rapi.

"Kalau kami berdua tidak sibuk. Makoto payah, sih, bacaannya selalu terlalu cepat." Tangannya membuka dan menutup. "Membaca dengan cakra lama. Bikin capek."

"Mengindera?" Hashirama mencondongkan tubuhnya. "Hebat! Bagaimana caranya?"

"Oh, cuma membedakan tekstur kertas dan tinta." Seolah mencontohkan, telunjuk panjangnya menyusuri huruf pertama penyusun judul gulungan. Tepat di semua goresannya. "Tetap saja makan waktu," keluhnya.

"Ternyata mengindera bisa dipakai begitu juga..."

"Tidak semua orang bisa." Izuna memundurkan kursi. "Saya mohon diri dahulu, Hokage-sama. Pulang—"

Hashirama segera berdiri. "Ikut!"

Izuna menoleh, cakranya penuh rasa kebingungan. Namun, ia tidak menolak ditemani. Mereka berdua berjalan bersisian di desa yang mulai gelap, menikmati senja yang sejuk. Pepohonan wisteria dan kousa sudah mulai melayu. Hashirama telah memperkirakan mereka takkan hidup lebih dari seminggu. Segala tanaman yang ia paksa tumbuh dengan cakranya tak pernah bertahan lama.

Tawa kecil lepas dari mulut Izuna tiba-tiba. Mengerutkan dahinya, wanita Senju itu bertanya, "Kenapa?"

Senyuman lebar Izuna tampak langka dan janggal. "Bukan apa-apa." Kemudian ia menambahkan lirih, "Hashi-san … Anda dan Kakak akhir-akhir ini akrab, ya."

Hashirama berhenti melangkah. "...Ada apa memangnya?" Dan mengapa ia mendadak menyebutkan hal ini? Ia dan Madara 'kan memang teman dekat. Semua orang juga tahu. Namun, jantungnya tetap berdebar-debar mendengar pernyataan itu.

"Aku 'kan pengindera yang semahir Tobirama." Izuna menemukan lengan baju sang Hokage dan menariknya untuk mempercepat langkah. "Cakra kalian berdua waktu bersama-sama terasa berbeda. Seperti terus menerus menarik satu sama lain." Senyumannya berubah menjadi cengiran. "Aku benar, 'kan?"

"Bu, bukannya itu wajar?" Hashirama tertawa canggung. Namun, ia harus mengakui pengetahuannya soal cakra tidak seluas adiknya. Ia hanya tahu penggunaan cakra untuk ninjutsu dan medis.

"Tentu saja itu wajar!" Izuna menyeretnya ke belokan jalan setapak. Rumah-rumah sudah semakin jarang di sini. Hutannya melebat kembali, menandakan mereka telah masuk ke wilayah klan Uchiha. "Itu wajar terjadi pada para shinobi kuat dengan ikatan batin yang dalam, tahu. Tapi … bahkan ikatan cakramu dan cakra Tobirama tidak sampai seintens itu…."

Hashirama harus mengakui ia tidak kenal jauh adik Madara ini. Pertemuan mereka setelah pakta perjanjian disahkan jarang terjadi, terutama karena kesibukan Hashirama mengawasi pembangunan desa. Tobirama yang lebih sering bertemu, karena mereka rutin latihan setiap hari.

Izuna melepaskan genggamannya di depan gerbang masuk kompleks. Sebelum ia pergi mengikuti penjaga gerbang ke dalam, ia melambai dan berkata, "Sampai nanti—" cengirannya merekah kembali, "— Oneesan !"

Kakak…?

Ia tidak salah dengar, 'kan?

Ia tidak salah dengar Izuna memanggilnya kakak, 'kan?

Hashirama menjauh dari gerbang, berjalan tak tentu arah. Perjalanan mereka barusan dari perpustakaan terus berulang di dalam memorinya. Cengiran jahil Izuna. Tindak tanduknya yang janggal. Curigakah ia?

Sampai nanti, Oneesan!

Begitu Hashirama tiba di tepi danau, ia menjatuhkan diri berlutut. Disembunyikannya wajah dalam kedua telapak tangan.

Apa yang Izuna ketahui? Mengapa ia bersikap begitu? Mengapa ia repot-repot menawarkan diri mengantarnya pulang? Mengapa hanya panggilan kakak saja bisa membuatnya seperti ini? Mengapa wajahnya sepanas napas paska katon Ma—

"Kamu ngapain, Hashi?"

"Bukan kenapa-kenapa!" serunya, antara terkejut dan malu. Namun, melihat langsung wajah Madara membuatnya ingin menjerit lagi. Buru-buru ia menegakkan diri, menyembunyikan wajahnya dengan berpura-pura membersihkan bagian bawah kimononya dari rumput dan tanah.

"Kamu tadi bersama Izuna." Madara mendekat. "Adikku bilang apa padamu?"

"Bukan apa-apa!"

"Terus kenapa wajahmu merah begitu?"

"Aaaah!" Hashirama menutup wajahnya lagi. Kakak beradik sialan!

"Heh." Didengarnya Madara terkekeh meremehkan. "Apa jadinya kalau orang sedesa tahu Hokage mereka berperilaku macam anak gadis begini? Sungguh tidak berwibawa."

Hashirama mengintip dari sela jemarinya. "...Izuna memanggilku kakak, " ungkapnya.

Air muka Madara berubah seketika. Ia berpaling. "...Itu saja membuatmu tersipu?"

"Kamu … kamu paham, 'kan, implikasinya...?"

Alih-alih menjawab, Madara merengkuhnya. Hashirama membebaskan lengannya untuk melingkarkan tangan di sekitar pinggangnya. Segala keruwetan di otaknya tentang perilaku Izuna berhenti mengganggunya, dan Hashirama bisa merilekskan diri.

"Adikku memang iseng begitu," katanya. Tangannya mengelus lembut punggung wanita itu. "Jangan terlalu dipikirkan."

"...Baiklah."

Gelap dengan cepat menyelubungi danau. Madara menggandengnya kembali mendekati kompleks. Langkah keduanya begitu lambat, kentara tak ingin segera tiba meski malam telah tebal menggumpal.

"Bagaimana harimu?"

"Aku tadi bertemu dengan ketua klan Sarutobi dan Aburame," ungkap Hashirama. "Mereka menuntut misi dariku. Kuberikan misi patroli dan pemetaan, tapi itu nggak cukup."

"Klan-klan lainnya yang tidak bergabung dengan kita masih menyanggupi permintaan para daimyo," Madara menimpali. "Merekalah yang sibuk menjaga jalan-jalan dari perampok. Jelas sekali mereka semua payah. Perampok-perampok itu bahkan berani berkeliaran di sekitar Konoha."

"Sejak kaisar datang, semua orang jadi tertarik dengan konflik lagi. Aku tak mengerti…." Hashirama menengadah, memerhatikan kanopi hutan yang bermandikan cahaya bulan sabit. "Mengapa mereka semua begitu ingin berperang? Tidakkah mereka merasa lelah? Tidakkah…." Ia menghela napas.

"Hashirama." Nadanya mengisyaratkan untuk meninggalkan subyek pembicaraan itu. "Kau harus belajar untuk tidak memikirkan pekerjaanmu."

"Bagaimana bisa, aku punya segunung tanggung jawab. Aku sudah bukan ketua klan, tetapi pekerjaanku tetap saja banyak."

"Setiap kali kaudatang kepadaku, hampir cuma pekerjaan saja yang kita bicarakan." Madara menggamit lengannya. "Kapan kamu istirahat?"

"Ini … ini yang kita berdua cita-citakan. Apa salahnya…? Apa…." Hashirama menghentikan kata-katanya. Kapan ia terakhir kali beristirahat? Makan pun ia lakukan di sela pekerjaan. Walaupun ia sempat makan berdua dengan adiknya, pembicaraan mereka tak pernah jauh dari persoalan desa. Tapi itu tidak salah, 'kan?

"Ada saatnya kamu harus berhenti memikirkan desa. Sebentar saja—"

"Madara, orang-orang ingin segera berperang!" Suara Hashirama meninggi karena frustrasi. "Desa kita bahkan belum terancam. Tsuchinokuni terletak begitu jauh di utara, masih ada samurai di perbatasan, tetapi baru sekadar info begini saja semuanya … semuanya … sampai anak-anak pun ingin mengangkat senjata dan—" Tangannya mengibas, lepas dari genggaman sang Uchiha. "Kau seharusnya tahu ini."

"Aku tahu, Hashi! Dulu kita tidak memperhitungkan sang kaisar, benar. Kau ini yang Hokage; kau yang menentukan akan jadi apa Konoha ini. Kamu hanya tinggal menolak! Bisa apa Nobutada kalau kita menolak?"

"Tapi merekalah— rakyat Konoha sendiri yang menginginkan perang! Aku nggak bisa langsung menolak tanpa mendengarkan apa mau mereka—"

Madara menggeram rendah, "Meski itu artinya membiarkan anak-anak mati di medan perang lagi?"

"Nggak! Hanya ninja dewasa saja—"

"Mereka pun akan mati meninggalkan anak-anak! Konoha akan penuh dengan anak yatim piatu. Siapa lagi yang akhirnya harus mengurus mereka? Kau juga, Hashirama! Pemikiranmu itu bisa menyeret berbagai generasi ke dalam perang tanpa akhir!"

"Kalau begitu kita tinggal mengontak para ninja lain! Kau dan aku bisa memulai sistem desa ini, menghentikan perang antarklan dan pertumpahan darah." Hashirama berhenti, terengah-engah. Keringat mengucur deras di pelipis hingga lehernya. "Kita bisa … membuat perjanjian dengan mereka juga…."

"Kita berdua dan Nobutada tidak sejalan. Desa lain tidak begitu." Rerumputan berkeresak saat Madara berpindah posisi, mendekati sang Hokage. "Mereka tak punya kuasa menolak permintaan penguasa."

"Dan jika kita menolak Nobutada?" Hashirama mengira-ngira mana letak matanya. Penglihatannya sendiri belum segera beradaptasi dengan kegelapan. Sulit menerka apa pikiran sahabatnya ini jika ia tidak bisa melihatnya dengan jelas. "Kita mendirikan desa masih di wilayahnya. Dia selalu membiarkan para daimyo berkonflik di antara mereka sendiri menggunakan tenaga para shinobi, selama mereka tidak memberontak langsung terhadapnya. Sekarang kita menolak perintahnya langsung—"

"Tak ada shinobi sekuat kita berdua, Hashi," Madara memotong, dan halilintar menyambar tiga kali. Kilatnya sekejap menerangi hutan, membuat Hashirama menemukan matanya yang merah.

"...Apa maksudmu?"

"Jika dia menggunakan cara-cara keras, kita berdua saja cukup untuk menghancurkan pasukan Nobutada."

"Jadi kamu memilih mengobarkan perang terhadap kaisar daripada melawan invasi Tsuchinokuni? Lalu apa bedanya, anak-anak penduduk biasa akan jadi korban—" Hashirama menyentuh tenggorokannya sendiri. Ia merasa tercekik. Napasnya berubah cepat dan pendek-pendek. Ia membungkuk bertumpukan lutut, mulutnya terbuka lebar menghirup sebanyak mungkin udara.

Suara Madara dingin ketika ia menyatakan pendapatnya. "Perbedaannya adalah, kita memilih pertempuran mana yang ingin kita jalani. Bukannya mematuhi perintah bangsawan yang seenaknya bersantai sementara para shinobi menyabung nyawa!" Rerumputan kembali berkeresak.

"Madara, ma—"

Ia sudah pergi.


.

.

Ketika ia tiba di kantornya, Hashirama pertama-tama menyalakan beberapa lilin untuk menerangi ruang kerjanya. Angin yang menyusup lewat celah-celah kayu berulang kali mematikannya, sehingga ia harus menyumbatnya dengan mokuton. Ia menjumpai setumpuk laporan dari kelompok pengintai dan pemetaan menggunung di mejanya. Sepiring makan malam pun tersedia, ditutupi oleh sehelai saputangan. Napasnya masih berat, maka hal kedua yang ia lakukan adalah menulis balasan untuk Uzumaki Mito yang sudah berbulan-bulan tertunda. Sepupunya bercerita banyak mengenai riset fuinjutsu, tetapi bahasan itu seolah melintas tanpa sempat singgah di otaknya sedetik pun.

Beribu-ribu maaf belum membalas suratmu yang terakhir. Konoha masih terus dibangun, sampai Kaisar Nobutada sendiri datang ke sini! Percaya nggak? Aku nggak menyangka orangnya seperti itu, sih, menurutmu gimana? Kau sudah bertemu dengannya beberapa kali setiap kaupergi ke ibukota, 'kan?

Kuasnya berhenti. Sekeras apapun usahanya untuk berfokus pada surat ini, pikirannya terus kembali pada Madara. Mengapa mereka tadi malah bertengkar dan memperumit persoalan? Apa maksudnya dengan memberontak pada kaisar? Hashirama tak ingin Konoha maju perang, tetapi kalau dewan desa mendesak….

Maaf surat ini pendek sekali. Jadi Hokage benar-benar menyita waktu. Kalau kau datang ke kastel kaisar di penghujung musim gugur, mungkin kita bisa bertemu di sana. Aku turut diundang.

Hashirama menggulung suratnya, menaruhnya dalam tumpukan dokumen yang akan dibawa asistennya pada pagi hari. Ia menyambar sebuah buku tebal dari atas tumpukan lain, berisi daftar penduduk dan alamat hunian masing-masing. Napasnya sudah lebih ringan.

Lilin di hadapannya telah jauh memendek ketika hujan mendadak turun. Hashirama mengabaikannya sampai ia merasakan sesuatu yang janggal. Bulu kuduknya meremang, pertanda bahaya. Perlahan ia bangkit menuju ke jendela terdekat, menggeser kacanya, lalu mengeluarkan tangannya.

Air hujan itu kental dengan cakra. Ia bisa merasakan perlahan tenaganya seolah mengalir larut terbawa aliran air. Cakra ini korosif.

Bukan cakra manusia.

Tetapi bukan yang seperti dulu. Yang itu tidak menurunkan hujan.

Hashirama memang bukan shinobi pengindera, tetapi tak butuh kemampuan setajam adiknya untuk tahu bahwa hujan ini tidak alamiah. Ia melompat ke atap kantornya, merunduk untuk menjaga keseimbangan. Air hujan bercakra melicinkan permukaan atap dan membanjiri dirinya menembus seluruh lapisan pakaiannya. Jarak pandangnya luar biasa buruk. Segala suara dan bau telah ditenggelamkan oleh hujan itu.

Tanah bergetar. Hashirama kenal getaran ini. Seolah entitas seberat seribu shinobi baru saja mendarat dalam jarak beratus-ratus meter. Tanah bergetar lagi, membuat semua bangunan berderak-derak bersamaan. Ketika ia menghitung sampai tiga dan tak ada lagi getaran muncul, barulah sang Hokage bertindak.

Ia membuat beberapa mokubunshin, menyebarkannya ke seluruh desa. Tak ada orang lain di luar. Semua jendela dan pintu tertutup rapat. Bagus. Hewan-hewan pun semuanya menghindari hujan, mungkin juga dilindungi oleh pengasuh masing-masing karena tak seekor pun yang berlarian panik seperti hewan-hewan liar dulu. Akan tetapi ada beberapa naungan yang terterjang angin badai hingga rusak. Hanya di tempat-tempat itu ia bersua dengan para penduduk di luar.

Ia menandai semua tempat yang membutuhkan bantuannya, lalu menghapus para bunshin itu. Mempertahankannya di bawah siraman hujan bercakra menguras energinya.

Usai penglihatannya beradaptasi dengan kegelapan, Hashirama melompat turun. Terlalu berbahaya melompati atap-atap dengan kondisi cuaca seperti ini. Semua rumah buatannya tidak terpengaruh, tetapi intensitas hujan dan angin sudah mulai menghancurkan beberapa atap dan dinding bangunan lainnya. Air ada di mana-mana; menggerojok dari atap rumah, mengaliri permukaan. Ia melesat ke arah rumah sakit terlebih dahulu. Seperti dugaannya, atap bangunan itu sudah mulai berlubang.

"Hokage-sama!" Seorang Hyuuga menyambutnya, pucat pasi membawa lentera minyak. "Atapnya—!"

Hashirama menenangkan para penyembuh lain yang langsung panik mendatanginya. "Bagaimana dengan orang-orang di bangsal?"

"Aman! Ada cukup selimut dan kayu bakar untuk malam ini, tapi—"

"Atapnya!"

Dibiarkannya ia dituntun menuju tempat atap rumah sakit mulai hancur diterpa hujan. Tubuhnya terus mengucurkan air, dan kulitnya mulai terasa dingin. Rambutnya melekat ke wajah dan pakaian, basah kuyup. Hashirama mengabaikan ketidaknyamanannya untuk bekerja memperbaiki atap.

"Hokage-sama..." seorang pasien bertanya takut-takut. "Yang barusan tadi itu ... apa?"

Sang Hokage sudah nyaris menggulirkan jawaban yang bertengger di lidahnya, ketika ia ingat ia tak boleh membuat orang lain lebih takut lagi. "Aku tidak tahu," jawabnya sambil menggeleng. "Akan kuperiksa dulu. Tolong tenanglah di sini."

Ia tidak membuang waktu untuk berlama-lama; segera setelahnya ia berpindah ke tempat-tempat lain yang sudah ditemukan mokubunshin-nya. Akademi. Rumah dewan klan Senju. Sebagian rumah klan Hyuuga. Deretan pertokoan. Mokuton-nya tumbuh secepat kedipan mata, menyelimuti semua struktur kayu dengan pelindung ekstra. Ia tidak membuang waktu untuk berbincang, ucapan terima kasih mereka tertelan deru hujan.

Semua orang pasti sedang panik saat ini, berharap atap dan dinding mereka tak akan runtuh diterpa ganasnya cuaca atau getaran tadi. Wangi tanah terguyur air merebak di seluruh desa. Penciuman shinobi yang terlatih, seperti seorang Inuzuka, pasti tahu ada yang tak beres dengan baunya. Terlintas di pikirannya untuk meminta bantuan anggota klan tersebut, tetapi tugasnya saat ini belum selesai.

Bergerak secepat ini pun, tubuhnya sudah melemas. Tenaganya terkuras deras. Air hujannya beberapa kali tertelan, terasa pahit di lidahnya. Hashirama tak bisa berhenti, tak boleh berhenti; hanya dirinya seorang yang bisa bergerak di luar saat ini! Ia harus terus maju sebelum makhluk itu kembali bergerak!

Ia sedang menuju kompleks klan Uchiha ketika ia merasakan kejanggalan lebih jauh di selatan. Memfokuskan diri, sang Hokage berusaha mendengar menembus guyuran air. Ada sesuatu yang masif bergerak di selatan, kemungkinan sumber malapetaka ini. Wujudnya raksasa.

Geraman dan gerungan yang mendadak membahana mengonfirmasi dugaannya. Bijuu. Pasti seekor bijuu. Tapi jenis yang manakah ini? Gelap membuatnya kesulitan menerka bentuk siluetnya.

Itu tak penting— pertama, ia harus mendekat. Di sisi selatan ini hanya ada padang terbuka, ladang dan hutan. Makhluk itu masih jauh dari pusat desa. Tetapi begitu ia mendekat, kerusakan yang ditimbulkan akan lebih parah lagi.

Kali ini, ia tidak akan bertindak gegabah.

Hashirama mengumpulkan cakranya, meledakkannya dalam wujud pijakan kayu raksasa. Ia tak bisa mengambil risiko mengeluarkan mokuton terkuatnya karena masih dekat pemukiman.

Sang bijuu mendeteksi kehadirannya— ia berikutnya, pijakannya hancur dihantam. Bukan masalah; ia segera membuat pijakan baru, melompat-lompat mendekat sambil terus membuat tembok-tembok pelindung di sekeliling desa. Ia tak bisa bertarung dengan kekuatan maksimal jika Konoha beresiko terkena imbasnya.

Serangan bijuu itu tak beraturan, membabi-buta meluluhlantakkan segala yang bisa ia raih. Pepohonan dan gumpalan tanah terlontar ke mana-mana. Sesekali nyaris mengenainya. Hashirama mengarahkannya menjauhi desa. Naga-naga kayunya tumbuh dari tanah, menancapkan rahang mereka ke tungkai dan ekor si bijuu. Makhluk itu berontak. Kedua lengan Hashirama berdenyut nyeri, gemetar menahan tenaganya.

"Sial—!"

Pijakannya yang terbaru hancur disabet ekor sebesar batang ek raksasa. Ia telah salah memperhitungkan jumlah ekornya— fatal sekali. Hashirama mengertakkan gigi, menjejak pecahannya. Permukaannya licin terkena hujan. Ia terpeleset. Tak menyerah, ia menancapkan kuku-kukunya untuk bertahan— lupa kalau ia masih belum stabil di udara—

Sang bijuu memekik. Sesuatu yang berpendar memasuki area penglihatannya, menendang hewan itu jauh ke selatan. Debum jatuhnya bergema. Raung dan pekiknya memelan. Hilang. Sang Hokage mendarat di tanah yang tak rata, tetapi segera bangkit untuk mengejar. Sesuatu menyambar tubuhnya, mengurungnya dalam penjara berpendar kebiruan. Alasnya yang tak rata padat dipijak meski masih tembus pandang. Tetesan air berkurang jauh di dalam.

Jemari Hashirama sudah membentuk segel untuk meledakkan kurungannya ketika suara seseorang mencegahnya.

"Jangan dikejar!"

"Bijuu itu—" Kata-katanya terputus begitu ia menoleh. Sahabatnya datang menghampiri, menyadarkannya bahwa ini adalah jurus miliknya. Ia mengenakan kimono rumahan, bukan pakaian berkerah tinggi seperti biasanya.

"Sudah berapa lama kau ada di luar?" Madara mencengkeram lengannya begitu kuat hingga Hashirama berjengit menahan sakit. Ia menyeretnya lebih jauh ke dalam susano'o-nya hingga mereka tiba di bagian dahinya.

"Aku nggak apa-apa, sungguh!" sanggahnya, mengusap air dari wajahnya. "Ada yang lebih gawat di sini—"

Cakra Madara yang tebal menerpanya. "Hashi, tolong dengarkan aku." Ia melepaskan cengkeramannya, ekspresinya diwarnai sesal. "Perhatikan dirimu sendiri."

"A—" Hashirama terdiam. Sosok Madara mengabur di hadapannya. Perutnya mendadak bergolak. Pendaran susano'o-nya meredup dan dunia berputar—


.

.

"Ayah memintaku mengikuti Kakak. Beliau tahu Kakak sering hilang dari kampung."

Sepanjang perjalanan kembali ke kampung, Hashirama bungkam seribu bahasa. Lengannya terus menerus menyenggol batu yang ia simpan. Seolah benda itu mampu menenangkan hatinya yang berkecamuk. Hashirama mungkin bukan tipe pengindera sepertinya, tetapi ia tahu Tobirama sedang marah. Cakranya meninggalkan jejak seperti tetesan air dari baskom yang bocor. Jejak kecil, tetapi beriak-riak. Ketenangannya yang biasa absen entah ke mana.

"Gaya taijutsu Kakak berubah, tahu tidak? Kakak sudah jarang berlatih denganku. Tapi aku bisa tahu."

Langkah kakinya terhenti. Pertanyaannya keluar serupa cicitan. "Tahu apa, Tobirama?"

Adiknya berbalik. "Kakak menggunakan taijutsu yang mirip dengan gaya Uchiha."

Di kejauhan, gerbang masuk kampung sudah terlihat. Kegiatan sore hari berlangsung seperti biasa. Ada anak-anak yang berlatih kenjutsu. Beberapa pria memperbaiki pagar dan kandang ayam. Hashirama terus menundukkan kepala, sapaan orang tak ia hiraukan. Rasa bersalahnya menggelayut membebani hati. Matanya berkaca-kaca, yang ia tahan sekuat tenaga.

Shinobi tak boleh menangis atau menunjukkan emosi.

Tapi aku bukan shinobi. Meskipun iya, haruskah aku membuang emosiku sendiri?

"Kau telah menyalahgunakan kepercayaan Ayah, Hashirama!" Butsuma murka semurka-murkanya. Wajahnya sampai memerah penuh emosi.

Tobirama diam di sisinya, menghindari menatap Hashirama. Ia sendiri tak berani melihat ke wajah sang ayah; malah memilih untuk menatap jalinan tatami yang hangat sementara kakinya perlahan-lahan kebas ditimpa beban tubuhnya.

"Ayah sedang melihat kesungguhanmu berlatih, tetapi kamu malah pergi menemui orang asing. Ninja dari klan lain, pula! Apa yang kaupikirkan? Apa kau berniat mengkhianati klan? Jawab!"

"...Tidak, Ayahanda."

"Sudah berapa banyak rahasia klan yang sudah kaubocorkan?"

"Tidak ada, Ayahanda! Aku bersumpah—"

"Paparkan temuanmu, Tobirama."

Dengan suara monoton, Tobirama memulai penjelasannya. "Aku sudah mencocokkan deskripsi fisiknya dengan data-data shinobi klan lain yang kita miliki. Anak itu bernama Madara, dan ia berasal dari klan Uchiha."

Buku-buku jarinya mendingin, gemetar. Dari seluruh klan-klan yang menghuni Hinokuni, Madara ternyata anggota klan yang sudah lama berseteru dengan Senju turun-temurun. Musuh bebuyutan mereka.

"Kau tidak terkejut."

Hashirama tidak mengindahkan pernyataan sang ayah. Ia sudah tahu Madara adalah seorang shinobi. Namun tak pernah terlintas di kepalanya bahwa ia adalah seorang Uchiha.

Karena Madara sama sekali tak serupa iblis yang diceritakan para tetua Senju.

"Lihat Ayah, Hashirama," perintahnya. Butsuma tak lagi mengeraskan suara, mencegah orang di luar mencuri dengar pembicaraan mereka. "Kepergianmu yang diam-diam sudah diketahui tetua klan. Menurut hukum kita, kau harus dibunuh saat ini juga."

Hashirama menelan ludah. Ia merasa harus mengatakan sesuatu, tetapi ia tak tahu apa. Bibirnya mengering. Wajah Madara terus berenang-renang dalam ingatannya. Kalau ia mati di sini, saat ini juga, ia takkan bisa bertemu dengannya lagi. Impian mereka akan terkubur sebelum lahir. Madara tak akan tahu apa yang telah terjadi padanya….

"Tapi aku tak mungkin membunuh anak perempuanku sendiri."

Ia mengerjap bingung. Eh?

Butsuma segera melanjutkan, "Hanya ada satu cara bagimu untuk membayar ketidakpatuhan ini." Ayahnya mengacungkan telunjuk ke arahnya. "Kau harus menangkap Uchiha Madara, hidup atau mati!"

Punggung Hashirama seketika lemas.


.

.

Ketika tersadar, Hashirama menemukan dirinya terbaring di lantai kayu. Sebuah lentera yang diletakkan tak jauh dari tubuhnya menerangi tempat yang ternyata sebuah lorong. Ada pintu shoji di sebelah kiri, dan papan-papan kayu penahan badai di sebelah kanannya. Badai masih berlangsung di baliknya.

Desanya!

Cepat-cepat Hashirama bangun, tetapi terpaksa berbaring kembali karena pusing melandanya. Pakaiannya yang basah kuyup melekat ke kulitnya. Dinginnya menusuk hingga ke belulang. Gemetaran. Ia merintih.

"Pelan-pelan." Didengarnya Madara berkata begitu dekat. Tangannya menyelusup di antara punggung dan lantai, perlahan mendorongnya ke posisi duduk. "Bisa berdiri?"

Ia mengangguk, menegakkan tubuh sambil bertelekan bahu sahabatnya. Madara menjejalkan sebuntal pakaian kering ke tangannya dan menuntunnya masuk ke sebuah ruangan. Ia menutup pintunya dari luar. Cahaya sepasang lilin di dalam memberitahu Hashirama bahwa tempat itu sebuah kamar. Buru-buru ia melepas semua pakaiannya dan mengenakan kimono hitam yang dipinjamkan kepadanya. Ukurannya terlalu besar, namun cukup tebal untuk menghalau udara dingin. Rambutnya yang basah menetes-netes di tatami, sehingga ia buru-buru menyambar pakaian basahnya dan kembali ke lorong.

Papan dan pintu penahan badai disusun rapat melindungi lantai dari terpaan hujan, kecuali satu di ujung selasar. Ia bisa melihat pendaran biru susano'o terlihat di langit, sosoknya membungkuk dengan sayap melingkupi badan. Seorang pelayan mendadak muncul di sudut, menukar pakaian basahnya dengan handuk tebal sembari membungkuk singkat. Hashirama segera membungkus rambutnya.

"Dasar ceroboh."

Wanita itu menoleh, mendapati Madara berdiri di sudut dengan lengan terlipat. Wajahnya masam. Tubuhnya mulai menggigil, sehingga Madara menariknya menjauh dari celah. Sehelai haori tebal disampirkan di bahunya. Hashirama tak punya cukup tenaga untuk menolak. Ia mendudukkannya bersandar ke pintu shoji. Telapak tangan Madara panas di kedua pipinya yang dingin.

"Ada bijuu—"

"Aku juga lihat, Hashirama," Madara memotongnya. "Tapi kamu tidak bisa mengejarnya begitu saja di tengah badai penuh cakra korosif!"

"A, aku ... bisa pinjam susano'o-mu?"

"Lalu gimana dengan rumah-rumah di desa?" ia balas bertanya. "Aku menggunakan susano'o untuk memayungi seluruh desa."

"Tapi…."

"Istirahatlah dulu di dalam. Kita bicara lagi nanti." Madara membukakan pintu, mengisyaratkannya untuk masuk dengan anggukan kepala.

Hashirama tidur menggunakan bantalan kayu, rambutnya yang basah tergerai di sekitaran lantai. Ia menatap siluet punggung Madara yang bersandar di pintu shoji. Ia tak bisa tidur. Kilat terus menyambar dan halilintar terus pecah di langit Konoha. Apakah semua rumah selamat? Apakah bijuu-nya sudah pergi? Bagaimana dengan ladang dan sumber air mereka? Berapa lama badai ini berlangsung? Cukupkah persediaan obat mereka di rumah sakit?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk di benaknya, membuat kantuk tak kunjung bertandang.

Madara mendadak bangun menjauh. Hashirama memaksa dirinya beringsut mendekati pintu. Napasnya memburu ketika ia menggesernya sedikit, mendapati beberapa penghalang badai di depan kamarnya telah disingkirkan. Hujan masih turun, tetapi di luar gelap gulita. susano'o-nya telah menghilang.

"Jangan keluar."

Satu kaki Hashirama telah menyentuh bibir selasar. Madara bahkan tidak menoleh.

"Masih badai. Mana susano'o-mu?"

"Badai biasa. Kamu masih belum boleh keluar, Hashirama." Ia menengok ke arahnya, kembali ke posisi duduknya yang tadi. "Bijuu-nya sudah pergi. Lebih jauh ke arah selatan."

"...Kamu yakin?" Hashirama duduk di sisinya. Ia baru menyadari rambutnya telah mengering.

"Sangat." Ia memejamkan mata. Selubung kebiruan di sekitar mereka beriak. "Seranganmu barusan cukup melemahkannya."

Helaan napas lega lepas dari dalam dadanya. Punggungnya lemas bersandar pada dinding kayu. Mereka tidak memperkirakan area ini sering dilewati bijuu, karena tidak ada bekas-bekas kontaminasi cakra atau vegetasi yang rusak dalam satu jalur. Jika bijuu itu kembali, pelindung fisik seperti dinding mokuton-nya tidak akan cukup menahan serangan. Pelindung yang diciptakan setiap klan hanya mampu menangkal manusia. Bukan makhluk bercakra masif….

"Tidur sana."

Hashirama tersentak dari perenungannya. "Aku terus memikirkan bijuu itu. Kita butuh lebih banyak pertahanan…."

"Simpan buat besok, Hashi. Kembalilah ke dalam." Madara menggeserkan pintu untuknya.

"Kamu sendiri malah tidur di luar sini." Ia mengembalikan haori-nya. "Ini kamarmu, 'kan?"

"Memang." Madara memiringkan kepalanya ke arah lain. "Pakai saja untuk malam ini."

Hashirama mengerutkan dahi. "...Kamu marah, ya?"

"Nggak."

"Jangan marah, dong..."

"Kubilang aku nggak marah."

"Madaraaaa..." Ia meletakkan dagu di lengannya.

"Hashirama, sudah kubi—" Madara menoleh dengan cepat, dan kata-katanya terpenggal. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Keduanya bergeming.

"Kalau kamu memilih tidur di luar karena marah denganku, aku minta maaf." Hashirama menundukkan kepalanya. "Aku juga … minta maaf untuk yang tadi sore. Kamu benar. Aku memang kelelahan. Aku…."

Madara merentangkan haori untuk menyelubungi tubuh mereka berdua. Ditariknya Hashirama mendekat. "Dasar nekat," protesnya di telinga wanita itu, "mengejar bijuu sendirian di tengah badai. Badanmu ini tetap badan manusia, tahu. Kamu sudah pingsan karena kebanyakan bekerja. Pikirkanlah dirimu sendiri lebih sering."

"Iya…." Kepalanya bersandar di ceruk bahunya, menghirup aroma familier cemara hinoki.

Ia masih mencemaskan desa. Namun dengan badai separah ini, meski tak lagi bersalut cakra bijuu ia tak bisa berbuat banyak. Jarak pandangnya buruk, dan staminanya akan terkuras sia-sia dengan cepat. Orang lain pun tak akan sanggup bertahan lama dalam badai dan kegelapan. Tak ada yang bisa membantunya di luar.

Malam ini terasa semakin panjang.

"Jangan tidur di sini." Madara menyenggolnya. Ia mengecup ubun-ubunnya sebelum Hashirama berdiri.

"Kamu nggak ikut?" tanyanya melihat Madara masih tetap duduk. "'Kan dingin."

"Kamu saja yang tidur di dalam. Aku nggak usah."

"Kenapa hanya aku? Tempatnya cukup untuk kita berdua, kok."

Madara menatapnya lurus-lurus. "Kau memintaku...?"

"Aku ingin ... tidur sambil peluk kamu," ungkap Hashirama malu-malu sembari menggeser pintu. "Habisnya ... kamu hangat."

Madara menggamit tangannya. "Benar hanya peluk?" Ekspresinya yang serius mengusir kantuk Hashirama.

"Kamu, um..." Ia memilih-milih kata-katanya. "Kalau kamu bersedia, aku mau." Antisipasi akan beberapa menit ke depan membuatnya tegang.

"Bersedia apa, bikin skandal?" godanya.

Tawa keras Hashirama lepas seiring dengan pecahnya petir. "Bikin skandal!" ulangnya, terengah karena tertawa. Ia menyingkirkan helaian rambut dari wajahnya. "Baiklah. Ayo bikin skandal."

Kali ini Madara mengikutinya ke dalam. Ia menyalakan sebatang lilin, cahayanya jatuh tepat di atas futon tempat Hashirama bersimpuh.

"Warna hitam cocok juga untukmu."

"Eh? Ini...?" Hashirama menunduk. Barulah ia melihat sulaman halus lambang klan Uchiha di kerah kimononya. Perlahan senyuman lebar merekah di wajahnya. Dirabanya sulaman itu dengan hati-hati, lalu dirasakannya dagunya diangkat.

"Ya." Madara berlutut di hadapannya, menempelkan hidung dan dahi mereka. "Sangat cocok denganmu." Ia menyelipkan helaian rambut Hashirama di belakang telinganya, lalu menangkupkan tangannya di kedua pipi wanita itu. "Aku tak tahu apa aku harus melepasnya atau tidak..."

Bibir Hashirama bergetar saat menyentuh bibirnya. Dicengkeramnya kimono di paha Madara. Ciuman mereka bermula pelan. Ia menggigit lembut bibir bawah Hashirama sebelum mundur. Ada air mata di jemarinya.

"Hashi..." Madara menyeka jejak basah di pipi Hashirama. "Kamu kenapa?"

"I, ini bukan apa-apa," katanya menenangkan sambil mengeringkan wajah. "Aku ... aku..." Berbagai macam perasaan bercampur aduk di dalam hatinya, dan ia tak tahu bagaimana menyampaikannya kepada Madara. Pria itu tampak begitu santai, cahaya lilin jatuh di sisi wajahnya, menerangi profil tubuhnya, bagian dadanya yang tak tertutupi kimono...

"Lihat ke mana?"

Tatapannya segera kembali ke wajah Madara yang menyeringai jahil. Hashirama memalingkan kepala, merutuk ketidakmampuannya mengungkapkan rasa. Biasanya ia tidak seperti ini, biasanya ia bisa dengan mudahnya mengungkapkan isi hati, tetapi...

Setiap ia menatapnya, pikiran Hashirama macet sendiri. Segala suku katanya rontok sebelum mencapai lidah. Tangannya terkepal di kerah, merasakan jantungnya berdentum-dentum kencang di balik rusuk— oh demi rikudou sennin, ada apa dengan dirinya ini?

"Hashi, masih mau lanjut?"

"Aku mau," ungkapnya, cukup keras mengalahkan terpaan badai di dinding-dinding kediaman Madara. Tatapannya meluncur turun melewati lehernya, dan Hashirama mengerang frustrasi untuk kedua kalinya. Rasa hangat di dalam dirinya yang ia rasakan ketika mereka berciuman di bawah cemara kembali. Kali ini, dengan intensitas yang semakin tinggi seiring dengan sentuhan satu sama lain.

"Kemarilah..."

Hashirama menjatuhkan diri ke dalam rengkuhannya. Madara mengecup dahi dan bibirnya, membuka celah dengan lidahnya. Sementara Hashirama berfokus pada ciuman mereka, Madara mendorongnya hingga ia telentang di futon. Ia mengerjap, sesaat bingung akan perubahan posisi yang mendadak ini.

"Begini lebih baik," bisiknya. Madara duduk di atasnya. Diambilnya tangan wanita itu, dan diletakkannya di sabuk kimononya. "Tarik," perintahnya tegas.

Hashirama mematuhinya. Desahannya tertahan saat kimono Madara membuka menampakkan perut dan dada bidangnya. Pakaiannya seolah jatuh dalam gerak lambat sementara ia meletakkan telapak di tubuhnya yang hangat.

Ini bukan pertama kalinya ia melihat tubuh seorang lelaki tanpa pakaian. Akan tetapi, ini Madara. Uchiha Madara, yang sudah ia kenal kenal begitu dekat melebihi sanak familinya sendiri; Madara yang memahaminya lebih dari siapapun juga...

"Madara..." Hashirama mendengar dirinya sendiri membisikkan namanya. Matanya berkaca-kaca lagi. Jemarinya menemukan garis-garis bekas luka kasar torehannya dahulu kala.

Rasanya sulit dipercaya. Di sinilah ia, di sebuah desa yang lahir dari visi mereka berdua, dengan seluruh keluarga mereka tinggal di dalamnya. Dan saat ini, Hashirama terbaring di kamar Madara, di bawahnya—

"Hashi." Ia memutus lamunannya. "Jangan pikirkan pekerjaan dulu. Semalam ini saja."

Wanita itu menggeleng, tangannya meraih bahu. "Bukan soal itu. Aku hanya.…" Hanya apa, rasanya sulit diutarakan. Berbagai hal berkecamuk dan bercampur di benaknya, tetapi hanya satu yang menonjol dari lainnya. Satu hal yang mendominasi seluruh dirinya di detik ini.

"Kalau kau masih ragu—"

"Madara," panggilnya, menangkupkan kedua tangan di pipi pria itu. Ia bisa melihat dadanya naik turun seiring dengan tarikan napas. "Aku memercayaimu."

"Aku juga percaya padamu." Senyumannya merekah. "Kamu sudah ada di sini."

Detik berikutnya, kimono Hashirama terbuka lebar, dan Madara menunduk menjelajahi lekukan-lekukan lembut di baliknya. Desah dan jeritnya tertelan gemuruh badai di luar. Jemarinya mencengkeram rambut pria itu sementara tubuh mereka menari dalam satu ritme senada.

Malam itu, ia membantunya melupakan sejenak tentang desa, tentang kaisar, dan tentang politik Konoha.

Malam itu, Hashirama hanya ada untuk Madara seorang.


.

.

let me hear your thoughts :'D