Nan Mollayo

Chapter 6. Day... By... Day...

Author : Si k3cEh Ayane_Chan plakkk...

Cast : Sehun = suami saya?._.

Genre : YAOI, Comedy Romance, Friendship and Family.

Rating : T aka PG-15

Length : Chaptered

Warning : Typo bertebaran layaknya cinta saya pada Thehun... *Kibath poni... ˘˛˘

Talk2kan : Tatatatarararampampam...(?) Ayane is back... aduh kamis besok udah UTS yah? Yah... minggu depan saya gak bisa janji bakalan update atau enggak ya, soalnya u know what lah... saya sudah kelas tiga dan untuk meningkatkan nilai, saya harus lebih fokus biar bisa masuk univ yang saya impikan. Ok... silahkan dinikmati chapy 6 nya!

...

...

...

"Jadi...?"

"Ja.. Jadi...?"

"JADI?"

"J... jjadi..."

"APA? AISHHHH!"

"JADI AKU PACARAN DENGAN PRINCE ERIC!"

"EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEH?"

'Bruk...'

"SEHUUUUN!"kaget Kyungsoo saat mendapati tubuh Sehun yang tergeletak tak berdaya di atas bednya.

"Sehun! Kau tidak mati kan?"histerisnya lalu mengecek urat nadi Sehun. Duh... dikiranya Sehun akan mati hanya karena hal seperti ini?

"Ah..."Sehun menggeram pelan lalu mendudukan dirinya kembali. Kini tatapan matanya kosong dan hidungnya yang mancung itu kembang kempis tak beraturan.

"Sehun, kau tidak apa-apa kan?"tanya Kyungsoo lagi karena merasa teracuhkan. Sehun menatap kearah Kyungsoo kemudian berujar, "Ok, kau menang. Sesuai perjanjian, kau mau apa? Biar kutraktir!"ucap Sehun kesal. Memangnya uang darimana?

"Eum... kau tidak usah mentraktirku. Dan... sebagai gantinya, aku juga tidak akan mentraktirmu meskipun aku jadian dengan Prince Eric!"kata Kyungsoo bahagia. Sehun? Mau bagaimana lagi, senang juga sih melihat teman bahagia, tapi... dia gengsi sekarang!

"Ya, baiklah... aku kalah lagi..."dengusnya pelan.

...

...

...

Sekarang hari senin. Dan senin yang suram bagi Sehun. Meskipun matahari bersinar dengan terang dan kota Seoul nampak sangat indah, tapi tidak bagi Sehun. Hatinya sedang bimbang, memikirkan kekasih. Oh... jika mengingat hal itu, rasanya jadi ingin bunuh diri saja. Kyungsoo teman satu angkatan penjomblooan(?) nya sudah mendapatkan seorang pacar. Dan semenjak insiden makan malam di hari sabtu itu, gegenya selalu memberi komentar pedas terhadap kualifikasi dirinya(?) seperti...

"Dapatkan IQ 113 dulu baru dapat punya pacar. Kalau IQ mu saja masih di bawah itu, berarti Tuhan berpikir bahwa kau belum layak untuk diberi persoalan sekelas masalah percintaan!" atau...

"Dapatkan dulu nilai seratus di Bahasa Jepang, baru kau bisa memvariasikan kata-kata semacam saranghae menjadi aishiteru..."ok yang ini sudah keterlaluan.

'Keterlaluan tidak masuk akalnya!'

"Oh begitu, pantas saja dia punya uang banyak,"

"Begitu..."

"Eh, Sehun... apa pekerjaan orang tuamu?"tanya Minwoo tiba-tiba. Jadi, Sehun, Minwoo, Jun Hong dan Sung jae sedang berada di kantin sekolah dan makan siang bersama. Dan kali ini anak-anak kelas sepuluh itu sedang menggosipkan si Luhan. Kaka kelas dengan predikat ter-cantik, ter-pintar, ter-imut, ter-kaya, dan terrrrrus saja puji dirinya!

"Penambal ban kereta,"jawab Sehun tidak fokus. Minwoo dibuat cengo olehnya, sedangkan Minwoo dan Junhong sudah tertawa terbahak-bahak. Ok... mungkin Sehun dari tadi day dreaming jadi tidak sadar. Tidak papa kan kalau mengulang pertanyaan sekali lagi...

"Jadi, pekerjaan orangtuamu?"ulang Minwoo kali ini lebih pelan dan berhati-hati.

"Tukang bersih-bersih piramida..."jawabnya lagi. Dan kali ini Minwoo menyerah. Namja manis itu menghembuskan nafasnya kasar, dan membuang muka. Cuih... dasar babo. Sekali babo tetap babo. Junhong dan Sung Jae masih cekikikan tidak jelas mendengar jawaban aneh dari Sehun.

"Heh... kau sadar tidak sih?"tanya Sung Jae setelah berhasil mengontrol tawanya. Sehun terdiam lalu kemudian dia tersadar

"Eh? Sadar-sadar... tadi kalian tanya apa sih?"Sehun justru balik bertanya. Minwoo memandangnya kesal kemudian menjawab, "Sudah... sudah lupakan pertanyaan tadi! Sekarang coba ceritakan pada kami, apa masalahmu sebenarnya?"paksa Minwoo sambil mencubit pipi Sehun cukup keras. Sehun mempoutkan bibirnya, aduh... tapi percuma juga sih pakai pout-pout imut jika tidak ada Jongin disini. Ugh... menyebalkan.

"Eum... tidak papa sih, hanya ada masalah kecil,"kata Sehun berusaha tidak terlihat murung di depan teman-temannya.

"Kalau ada masalah ceritakan saja pada kami, jangan sungkan,"dan Sehun bersumpah. Itu adalah pertama kalinya Jun Hong berbicara dengan nada yang manis padanya. Oh dan jangan lupakan... dia juga sekarang tersenyum padanya... ah! Jun Hong juga tampan ternyata, tapi sayang...

Dia hobi mengupil._.

...

...

...

"Jadi... mau ikut atau tidak?"tanya Jongin. Sehun masih enggan untuk menjawab. Jadi, semenjak tadi Jongin telah menawarinya untuk ikut Camp anak KIR weekend depan. Dan Sehun masih ragu untuk memutuskannya. Bukan, bukan karena dia takut orang tuanya tidak akan mengizinkan, justru mungkin keluarganya, terutama gegenya akan sangat senang jika Sehun bisa keluar dari rumah dan membuat weekend keluarga mereka menjadi tenang. Tapi masalahnya... dia kan tidak punya uang hell! Kenapa sih dia jadi seperti orang susah belakangan ini?

"Eee... bagaimana ya... aku harus minta izin dulu kepada orangtuaku,"kata Sehun pelan. Jongin meandang Sehun kemudian mengangguk paham.

"Ok, nanti aku akan memberikan surat pemberitahuan orang tua padamu,"kata Jongin kemudian meneruskan peneliatannya pada objek di depannya. Sehun memandang Jongin lama... kenapa dia bisa suka pada Jongin yah? Jongin itu kan... sudah tidak mancung, kulitnya juga coklat, tidak punya perasaan, tidak peka, bodoh... eh... kenapa malah jadi mengingat hal-hal negative saja. Padahal sebenarnya Jongin kan juga...

Tampan... seluruh dunia akan berpendapat sama dengannya, mungkin – heh, meski... ekhm... hidung Jongin tidak semancung hidungnya, tapi wajah Jongin memang benar-benar tampan. Nah, mungkin kalau hidungnya terlalu mancung Jongin jadi tidak tampan lagi!

Tinggi dan kulitnya coklat. Itu seksi! Sungguh seksi, apalagi membayangkan Jongin yang topless dan berjemur di pantai dengan hanya celana pendek. Ugh... dasar mesum!

Kaya! Jongin, meskipun dia mengatakan bahwa sebenarnya anak itu berasal dari desa, tapi asal kalian tahu... orangtua Jongin itu pemilik perkebunan anggur man! Jongin saja tinggal di daerah apartement Gangnam! Gangnam,

KECAMKAN ITU! Dan mungkin Jongin adalah tetangga dari Siwon. Artis terkenal yang merupakan mantan pacar Sehun – dalam mimpi.

Pintar... tidak usah ditanyakan lagi seberapa kemampuan anak ini dalam bidang akademis. Kalau mau melihat tolak ukurnya, lihatlah piala sekolah yang telah menjadi dua kali lipat semenjak kedatangan Jongin. – itu sih karena minggu lalu tim athletic sekolah baru saja memenangkan perlombaan tingkat nasional –

okay, itu mungkin bukan Jongin, tapi... serius... Jongin memang pintar kok!

Sudahlah, jangan dipuji lagi. Soalnya kalau terus memikirkan kesempurnaan seorang Kim Jongin Sehun jadi minder sendiri. Ah... Jongin punya segalanya, sedangkan dirinya?

"Hei... apa kau punya masalah? Belakangan ini kau sering murung,"tanya Jongin tiba-tiba. Sehun menghembuskan nafasnya kasar kemudian menggeleng pelan.

"Eum... hanya masalah kecil,"jawab Sehun kemudian kembali membersihkan tabung-tabung reaksi di depannya. Well, semenjak masuk KIR satu-satunya hal yang bisa dilakukannya hanyalah bersih-bersih. Soujhishimasu! Sehun sampai hafal Bahasa Jepangnya hal tersebut.

"Masalah kecil, coba kau ceritakan. Mungkin aku bisa bantu,"kata Jongin lagi, Sehun menghentikan kegiatannya kemudian duduk di samping Jongin.

"Ini masalah serius, menyangkut hidup dan mati cinta suciku(?)"jawab Sehun serius. Jongin mengernyitkan alisnya. Cinta suci? Apa Sehun sedang jatuh cinta?

"Maksudmu?"tanya Jongin lagi kali ini. Tuh kan! Jongin memang bodoh!

"Kyungsoo sudah punya kekasih dan... aku belum! Huweeeeeeeeeeee!"teriak Sehun kesal. Jongin jadi ingin tertawa kali ini, aduh... kalau dilihat-lihat Sehun memang sedikit imut ya?

"Lalu kalau kau belum apa itu masalah?"tanya Jongin lembut. Sehun menghentikan poutnya kemudian memperhatikan Jongin dengan seksama.

"Kau tahu... tidak usah berpacaran saja suatu saat kau pasti akan menemukan pasangan dan kemudian menikah,"jelas Jongin. Sehun mengangguk paham.

"Tapi kan kalau sudah masuk SMA kita harus punya pacar!"bantah Sehun tiba-tiba. Jongin memandang Sehun heran.

"Kata siapa?"Jongin bertanya. Penasaran.

"Drama, when you are beauty but fool and then you are beautyfool!"

"Heh... kurasa kau harus berhenti menonton drama itu."komentar Jongin singkat.

...

...

...

Bus satu, dua, dan tiga kini sudah penuh. Dan kalian jangan kaget, kenapa ex-school semembosankan KIR menjadi banyak anggotanya. Tentu saja karena duo maskot mereka yang sangat dahsyat dan bersinar kan? Kim Jongin dan Xi Luhan? Dan karena itulah si bodoh Oh Sehun kini jadi kebingungan. Huh... karena bangun kesiangan dan bertengkar dengan mamanya – untuk meminta uang saku lebih, tapi mamanya menolak dan mengatakan bahwa tidak akan ada stall ice cream disana, ataupun MC Donald, ataupun KFC, jadi Sehun tidak perlu membawa banyak uang – sekarang dia tidak kebagian tempat duduk!

Sosoknya yang kurus dan kecil layaknya stick ice cream membuatnya terlihat semakin miris dan menyedihkan. Well, dia sedang kebingungan dan berdiri di luar bis. Mendengarkan pendapat-pendapat dari sonsaenim yang sedang kebingungan karena ternyata tempat duduknya kurang.

"Jadi bagimana? Tidak ada tempat duduk lagi,"- Kim sonsaeinim.

"Bagaimana kalau dia ikut mobil guru saja?"- Jang sonsaenim.

"Tidak bisa, muatannya juga sudah penuh,"- Yoon sonsaenim.

Mendengar keributan-keributan itu Sehun mendengus pelan. Kemudian akhirnya memutuskan... mungkin dia lebih baik kembali ke rumah dan menghabiskan weekendnya bersama mama – membantunya membawa panci serbaguna baru dari toko – atau membantu papa membersihkan volkswagon tua milik mereka, atau ikut kencan gegenya, atau... lagipula dia tidak bisa melakukan apa-apa kan nantinya? Sehun sadar juga, kenapa dia harus ikut, jika sebenarnya dia memang tidak berguna?

"Sonsaenim... saya, lebih baik saya tidak usah ikut,"kata Sehun pelan. Semuanya menatap Sehun heran kemudian tersenyum.

"Tidak, sebenatar kami usahakan dulu,"kata Kim sonsaenim berusaha menenangkan Sehun. Sehun, meski kelihatannya baik-baik saja, sebenarnya di dalam hatinya sedih juga... kenapa dia bernasib sesial ini?

"Eum... biar Sehun duduk di kursi saya,"dan itu Kim Jongin. Yang sumpah demi lalat hijau yang selalu dengan tidak elitnya menghinggapi hidungnya saat dia membuang sampah di sekolah! Sangat tampaaaaaaan hari ini.

"Kau sendiri bagaimana?"tanya Kim sonsaenim kebingungan.

"Saya bisa berdiri, lagipula ini kesalahan saya juga karena tidak memprediksi dengan benar jumlah anggota yang akan ikut,"jawab Jongin bijak. Well, bukan salah Jongin juga sih, kebanyakan yang ikut memang anggota KIR tapi ada juga yang bukan, dan alibinya adalah mereka adalah calon anggota. Padahal kan mereka hanya ingin membuntuti Luhan atu Jongin. -_-

"Eh... ti... tidak apa-apa Jongin. Aku tidak usah ikut,"ucap Sehun tidak enak. Duh... sudah deg-degan tingkat langit ketujuh nih. Jonging kenapa sih hari ini? Sudah tampan, baik pula!

"Tidak masalah,"dan dengan itu Jongin menarik lengan kurus Sehun untuk masuk ke dalam busnya. Sementara seseorang di dalam bus itu memandang Sehun dengan tatapan tidak suka.

What the hell? Memangnya siapa Wu Sehun? Bearani-beraninya dia berdekatan dengan Kim Jongin?

...

...

...

Perjalanan telah berjalan selama tiga puluh menit, dan selama itu juga seluruh penumpang di dalam bis satu – kecuali sang supir tentunya – terus menatap ke arah kursi panjang yang berada di bagian belakang bus. Sesutau yang sangat mengejutkan, dan saking mengejutkannya sampai membuat bulu mata palsu Luhan rontok seketika(?) dan ulut Yoon sonsaenim menganga tidak percaya. Niatnya sih beliau ingin menegur, tapi mau bagaimana lagi? Ini demi kebaikan bersama(?)

"Kau mengantuk ya?"tanya Jongin pelan. Tapi itu cukup untuk membuat telinga semua penumpang membesar sepuluh kali lipat sehingga suara itu menggema dengan jealas. Sehun mengangguk pelan sebagai jawaban. Matanya yang sipit itu sudah menutup dan dia sudah setengah sadar. Mulut kecilnya menguap lebar, dan bibir tipisnya mulai bergumam.

"Eum... ngantuk sekali. Aku tidak bisa tidur tadi malam karena memikirkanmu,"jawabnya asal. Semua orang terbelalak. Apaaaaaaaaaaah? Memangnya Sehun siapanya Jongin.

"Tidurlah,"kata Jongin kemudian mengeratkan pelukannya ketubuh mungil Sehun.

Bingung?

Penasaran?

"Ya ampuuun! Sehun pacarnya Jongin yah?"tanya seorang gadis pada teman sebangkunya. Teman sebangkunya, yang benar-benar niat mengikuti KIR dan bukan karena Luhan atau Jongin mengendikan bahunya tidak perduli, meski sebenarnya dia terkejut juga.

"Mungkin saja. Memangnya kenapa?"tanyanya kali ini.

"Ah! Percuma dong aku ikut!"geram gadis itu sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Gagal sudah acaranya mencoba mendekati jongin!

"Aduhhh... Jongin lembut sekali yah..."dan bisikan itu terdengar dari bangku lain.

"Iya, betapa beruntungnya si Sehun itu!"jawab yang lain.

Jadi... sebenarnya, posisinya...

Sehun duduk di pangkuan Jongin. Dan tubuhnya yang seukuran dengan boneka mini teddy bear itu membuat tubuhnya terlihat sangat hug-able(?), semenjak tadi Jongin terus memeluknya dari belakang. Tak jarang juga namja tampan itu terlihat seperti menghirup wangi rambut Sehun – sebenarnya Jongin hanya ingin memastikan apakah Sehun sudah mencuci rambutnya atau belum – dan menggoyang-goyangkan tubuh mungil itu dengan pelan.

Well, sebenarnya ini terjadi karena saat Jongin menyuruh Sehun untuk duduk di kursinya, Sehun tidak mau dan tetap menyuruh Jongin untuk duduk saja. Dan akhirnya dengan otak super jeniusnya, Jongin berpikir mungkin ini adalah hal yang paling tepat. Bukan murni dari otak jeniusnya juga sih... tapi sedikit ekhm... otak pervynya... hey... Jongin seme loh!

"Luhan kau tidak papa?"tanya Sung Jong, teman setempat duduknya.

"Eum... gwenchanna..."jawab Luhan lalu tersenyum.

...

...

...

"Hei, bangun. Kita sudah sampai,"bisik Jongin pada Sehun. Sehun menggeliat pelan kemudian membuka matanya.

'Ini Mimpi yah? Kenapa ada Jongin disini? Tunggu?'

"Heeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh!"

'Bruuuk...'

"AW!"

"Heh? Kau tidak apa-apa?"Jongin mendekat ke arah Sehun yang kini tengah mengadu kesakitan karena terjungkal dari pangkuan Jongin kemudian mengecek keadaan namja itu.

"Tidak apa-apa... eh, kenapa aku... oh ya!"Sehun mendadak jadi ingat kenapa dia bisa duduk di pangkuan Jongin. Dan sekarang dia menyesal, kenapa tidak pura-pura tidur saja. Siapa tahu Jongin akan mengangkatnya ala bridal style begitu?

"Ah... sakit,"keluhnya lagi. Bokongnya habis sudah. Asetnya(?)

"Tidak apa-apa?"dam tidak tahu itu adalah reflek atau memang dasarnya Jongin mesum, namja itu sekarang... ekhm...

MENGELUS-ELUS PANTAT SEHUN!

"Jongin, sudah tidak apa-apa,"kata Sehun kemudian menyingkirkan tangan Sehun dari area privatnya itu dengan malu-malu. Jongin yang menyadari apa yang sedang dilakukan oleh tangan kotornya(?) segera berdiri. Mukanya sekarang memerah... duh... malu nih!

"Ma... maaf Sehun,"ucap Jongin pelan. Sehun mengangguk pelan kemudian mencoba berdiri. Ah... untung saja hanya asetnya yang sakit.

"Tidak apa-apa, ayo kita menyusul yang lain,"ini otak jenius yang sudah terkurung dari bayi akhirnya keluar juga saat menyarankan sesuatu yang masuk akal untuk menyudahi momment awkward itu.

"B... Bbaik... biar aku saja yang membawakan barang-barangmu,"dan itu pertama kalinya dalam seumur hidup Jongin, dia tidak bisa mengartikan atau mencari penyebab jantungnya yang berdetak dengan sangat cepat yang justru sensainya terasa sangat aneh.

Itu... menyenagkan.

...

...

...

"Sehun... sudah menyelesaikan penelitianmu?"tanya Jongin pada Sehun. Mereka berdua kini berada di bawah naungan bulan purnama yang sangat terang, ditemani suara gemercik arus sungai yang terletak tidak begitu jauh dari sana. Sehun tengah duduk di atas sebuah pohon ek besar yang sudah tumbang dan sebenarnya banyak kecoanya, sedangkan Jongin yang baru saja datang menghampirinya ikut duduk disitu juga. Dan sehun berpikir, di malam yang sangat romantis ini mungkin saja, Jongin adalah seorang werewolf yang sedang mencari jatidiri(?) nya dan melalang buana ke dalam dunia manusia, dan akhirnya dia menemukan matenya.

Oh Sehun...

HOWEKKK!

Dan jika Luhan mendengar suara hati dan pikiran Sehun mungkin itu yang akan dilakukanya.

"Belum... aku masih harus menulis hipotesa lainnya,"jawab Sehun. Jongin mengangguk. Dan kemudian hening.

"Jongin..."Sehun memecah keheningan. Kini kepalanya ditengokannya ke atas. Memandang milyaran bintang yang berkerlip dengan indah di hamparan laut biru. Di seoul, tentu saja dia tidak dapat melakukannya.

"Kau sudah pernah berpacaran?

"Belum,"jawab Jongin cepat.

"Memangnya kenapa, kau tidak laku ya?"goda Sehun. Jongin terkikik sebentar kemudian menjawab, "Tidak juga, ada beberapa – sebenarnya puluhan – anak yang mengajakku berkencan, tapi aku tidak tertarik,"jawab jongin cepat.

"Lalu... siapa namja manis yang bersamamu waktu kita pertama kali bertemu?"tanya Sehun.

"Dia sepupuku,"

"Oh begitu. Kalau aku... aku tidak pernah mempunyai kekasih. Tapi aku selalu ingin mempunyai seorang kekasih."

"Kalau begitu kenapa tidak mencarinya?"tanya Jongin.

"Semenjak berada di taman kanak-kanak, aku selalu ingin cepat-cepat menjadi besar dan bisa memiliki seorang kekasih. Gegeku sudah mempunyai seorang kekasih waktu itu, dan aku berpikir aku harus menemukannya saat aku sudah menjadi seorang siswa sekolah dasar. Tapi kemudian, selama enam tahun lamanya aku berada di SD, aku tidak mendapatkan kekasih. Kemudian saat berpikir bahwa itu tidak apa-apa dan aku bisa mencoba lagi saat masuk Sekolah menengah, ternyata dugaanku salah. Aku tidak mempunyai kesempatan mencoba. Dan sekarang aku berpikir, aku sudah berada di SMA dan aku juga belum mempunyai kekasih..."

"Mungkin... apa menurutmu aku tidak layak untuk dijadikan kekasih?"dan itu adalah pertama kalinya bagi Jongin melihat mata Sehun yang mnyiratkan kesedihan. Jongin menggelengkan kepalanya kemudian kembali menatap bintang. Rasanya jadi ikut sedih ketika melihat Sehun seperti itu. Terbiasa melihat Sehun yang selalu terlihat bodoh, tertawa bebas, dan bertingkah laku konyol sepertinya sudah menjadi makanan sehari-harinya. Dan sekarang saat semuanya berubah, jadi terasa mengganjal. Sehun yang murung, putus asa, dan kesepian. Rasanya Jongin ingin...

"Tentu saja tidak, kau anak yang manis,"kata Jongin jujur. Sehun tersenyum saat mendengar pujian itu. "Kau juga sangat hangat dan menyenangkan, bahkan rasanya hanya dengan melihat tingkah... eum... bodohmu, siapapun akan merasa bahagia,"dia menambahkan.

"Kau juga punya mata yang indah. Meski matamu tidak selebar milik Kyungsoo, tapi mereka bersinar dengan terang. Saat kau tersenyum, eye smilemu akan muncul dan kau terlihat sangat imut. Kau juga punya kulit yang sangat putih dan eum... lembut, seperti salju pertama di musim dingin. Pipimu juga akan merona saat kau sedang tersipu, seperti kelopak sakura di spring april. Kau juga selalu membuat orang lain bahagia dengan caramu sendiri, kau pandai berkomunikasi dan mempunyai banyak teman. Kau juga..."

"Terimakasih,"Jongin menatap Sehun lekat-lekat.

"Terimakasih Jongin, tehee~ aku jadi baikan sekarang, haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah! Bintangnya sangat indah ya malam ini!"dan Jongin tersenyum saat itu. Saat Sehun kembali menjadi seorang Wu Sehun yang pertama kali ditemuinya saat itu.

...

...

...

"Kau bisa menjadikan ini sebagai objek penelitian. Tidak banyak anak yang tertarik dengan cacing tanah jenis ini, karena mereka berpikir ini sangat menjijikan. Heh, kau tidak takut pada cacing?"tanya Jongin pada Sehun. Mereka sedang duduk di atas rerumputan yang basah karena embun pagi hari. Sehun tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya cepat.

"Aku selalu membantu mama membersihkan taman, jadi tidak jarang aku menemukan hal seperti ini,"jawab Sehun lalu kembali memperhatikan untaian panjang seekor cacing tanah yang berada di tangannya.

"Wah... begitu yah, lain kali kau harus melihat perkebunan anggurku,"kata Jongin tiba-tiba. Sehun mendongakkan kepalanya kemudian menatap Jongin.

"Eum... disana ada banyak hal yang menyenangkan dan semenjak kau tidak takut pada hal-hal seperti cacing mungkin akan sangat menyenangkan membawamu kesana,"tambah Jongin, Sehun mengangguk paham.

"Memangnya apa yang kau punyai disana?"tanya Sehun kali ini. Penasaran juga sih, semenjak kecil dia selalu tinggal di Seoul. Sesekali berkunjung ke Beijing, untuk menjenguk saudara dari papanya. Dan dia hanya pernah ke desa satu kali sewaktu mengikuti trip tamasya di SD dulu. Dulu... sekali!

"Tentu saja pohon anggur, eum... anggur merah, ungu, dan hijau. Kemudian... ah, disana juga banyak ulat hama, dan entahlah ada terlalu banyak objek yang sangat menarik,"jelas Jongin.

"Wah... keren. Aku jadi ingin kesana,"Sehun mempoutkan bibirnya, membuat Jongin yang berada dihadapannya terkekeh pelan kemudian mengacak-acak rambutnya pelan.

"Musim panas besok, ayo kita kesana,"dan Sehun mendadak jadi membeku di tempat. Kesana? Jongin mengajaknya pergi ke desanya? Ke rumahnya? Menemui orangtuanya? Untuk apa? Untuk memberitahukan bahwa Sehun adalah calon menantu mereka? Dan mungkin khayalan Sehun sudah terlalu jauh.

"Tetu saja, boleh aku mengajak..."

"Sehun..."

...

...

...

Luhan berdiri disana. Tubuhnya yang mungil berhasil membuat kehadirannya tak disadari oleh dua adik kelasnya yang sedari tadi nampak berbincang. Dia mendengar setiap kata itu baik-baik dan akhirnya dia mengerti. Ia melangkahkan kakinya perlahan, keluar dari balik pohon mapple yang bertangkai besar dan menghampiri dua anak itu.

"Tentu saja, boleh aku mengajak..."

"Sehun..."

"Eh, Xi sunbae... anyeong haseo..."kata Sehun dan Jongin bersamaan. Keduanya buru-buru berdiri dan memberi hormat kepada sunbaenya itu.

"Anyeong... Sehun ah... bisa aku berbicara padamu?"tanya Luhan kemudian tersenyum. Sehun mendadak bingung, Xi sunbae? Kenapa jadi ramah seperti ini padanya?

"Eum... tentu saja,"jawab Sehun cepat.

"Kalau begitu aku akan kembali ke camp,"ucap Jongin kemudian berlalu. Meninggalkan Luhan dan Sehun di tempat.

Luahan mendekat ke arah Sehun kemudian tersenyum manis. Tangannya telurur untuk menggapai wajah Sehun. Kedua telapak tangan kecilnya menghimpit pipi Sehun sehingga wajah Sehun menjadi seperti seekor ikan. Luhan tertawa setelahnya, dan Sehun mulai bergidik ngeri... jangan-jangan Luhan gila!

"Hei, tidak usah takut. Aku hanya ingin bersenang-senang sebentar sebelum melepas kalian,"ucap Luhan seperti mengerti isi pikiran Sehun.

"Maksud sunbae?"tanya Sehun bingung.

"Kau dan Jongin bodoh!"Luhan melepaskan tangannya kemudian tersenyum pahit.

"Kau tahu kan aku menyukai Jongin?"tanya Luhan kemudian. Sehun mengangguk, tentu saja tahu! Sangat jelas!

"Dan... tentu saja Jongin tidak menyadarinya, Jongin terlalu bodoh kan?"tanya Luhan lagi. Dan Sehun juga mengangguk lagi kali ini.

"Dia juga tidak peka,"imbuh Sehun. Kali ini Luhan yang mengangguk setuju.

"Dan kita tetap meyukainya,"kata Luhan.

"Tapi aku sadar, sepertinya perasaanku tidak akan tersampaikan pada Jongin sampai kapanpun. Karena..."Luhan menggigir bibirnya.

"Karena dia sudah menyukai orang lain,"Sehun membelalakan matanya tak percaya. Jongin menyukai orang lain? Siapa? Siapa orangnya? Bukannya objek terdekat untuk hal itu adalah Luhan sendiri? Kalau begitu mungkin selera Jongin terlalu tinggi untuk tidak menyukai Luhan.

"Heeeeeeeeeeeeeeh?"

"Tentu saja, biar bagaimanapun Jongin tetaplah seorang manusia yang mempunyai perasaan. Dan... dan... huweeeeeeeeeeeeeeee!"dan akhirnya Luhan menangis. Sehun terdiam kemudian memeluk Luhan berusaha menenangkannya.

"Tidak apa-apa sunbae... jangan bersedih,"ucap Sehun mengelus-elus punggung Luhan.

"Tentu saja kau bisa mengatakan hal itu, kan kau yang disukai Jongin!"

"Heh? Aku? Kenapa aku?"

"Kau tidak sadar yah?"Luhan melepaskan pelukan Sehun kemudian mengusap air matanya kasar.

"Jongin sangat baik padamu! Dan... awalnya aku ingin mengerjaimu karena itu. Tapi aku sadar, aku kan... hiks... Luhan yang imut, cantik, dan berprestasi... hiks manamungkin aku melakukan hal itu!"

"Jongin menyukaiku?"

TBC.

Maaf ya kalau ini gak comedy... saya nggak tau juga, kenapa jadi seperti ini... oh yasudlah... terimakasih yang sudah comment! Mata rasihu...