suggested song: the other side - ruelle
implicit sexual scenes ahead
revised 28042018
.
.
Usianya sepuluh tahun, dan Tobirama benci berbicara pada pintu.
"Kakak?" panggilnya. Namun, tidak ada jawaban dari dalam selain isak teredam.
Kakaknya dikurung di gudang lagi untuk kesekian kalinya, meskipun ia sudah berusaha agar ayah mereka tak lagi menjatuhkan hukuman yang sama. Sejak ia memergokinya di tepi sungai tempo hari, Hashirama terus mendiamkannya. Menganggapnya seolah tidak ada walaupun Tobirama terus bersamanya— atas perintah ayahnya dan inisiatif sendiri. Tiga hari terakhir hanya dihabiskannya berkeliling kampung, selalu tak pernah jauh dari pengawasan kerabat mereka yang lain, sebelum kembali ke gudang untuk tidur.
Lagipula, Hashirama bukan shinobi. Ia tidak paham bahwa kepentingan klan harus diletakkan di atas keinginan pribadi. Menggali informasi dari musuh adalah tugas utama seorang ninja. Anak Uchiha itu pastilah berpikiran serupa, dan memanfaatkan keramahan Hashirama untuk keuntungannya sendiri.
Dasar iblis.
Ia hanya ingin melindungi kakaknya, tetapi ia memperlakukannya seolah ia yang bersalah. Hashirama-lah yang menyusup pergi bertemu anak Uchiha itu, bukan dirinya. Ia hanya mengikutinya untuk membuktikan kecurigaannya dan memastikan keamanan klan mereka. Meski bukan shinobi, kakaknya memiliki cakra dan bakat di atas rata-rata. Di atas dirinya sendiri. Ayahnya bilang, bahaya jika bakatnya itu jatuh ke klan lain.
Namun, besok semuanya akan berakhir. Segalanya akan kembali normal, dan mereka akan mendapatkan informasi berharga tentang klan Uchiha.
Tobirama menatap sebutir jeruk yang terbungkus di tangannya, lalu pintu gudang yang terkunci. Terdengar derit dan kelontang dari dalam, memberitahunya bahwa Hashirama pasti membongkar-bongkar tumpukan barang tua. Ia memutar kunci, mendengar engsel berderit, disusul sambutan dingin sang kakak.
"Nggak usah masuk."
Tobirama bergeming, membiarkan pintu sedikit terbuka sehingga ia bisa mengintip. Punggung Hashirama menghadapnya, tangannya sibuk merapikan isi gudang agar ia bisa tidur nyaman. Anak lelaki itu mengulurkan bawaannya.
"Aku bawa jeruk." Tak ada tanggapan. "Kakak belum makan dari siang."
"Nggak usah," balasnya ketus. "Tidur sana."
Lengannya perlahan turun. Tobirama tak menyangka rasanya semenyakitkan ini. Hashirama belum pernah berkata sekasar itu kepadanya. Kesal sekalipun, selalu cepat sirna. Namun, tawanya sudah lama absen dari pendengaran. Mengapa Hashirama harus sesedih ini?
Ia berlutut di sisi pintu. "Kutinggal jeruknya di sini—"
Sebuah sapu patah dilempar asal-asalan ke samping. "Bawa saja. Aku tidak lapar."
Tentu saja ia bohong. Tobirama beberapa kali mendengar perutnya keroncongan seharian ini. "Besok kakak bisa sakit," ia bersikeras.
Gadis itu masih memunggunginya. "Aku nggak pernah sakit, 'kan?"
"Kak—"
"Kubilang, pergi sana!" Hashirama akhirnya menoleh, wajahnya diterangi obor di luar gudang. Ada jejak basah berkilauan di pipinya. Kemarahan di wajahnya lenyap saat ia menyadari tindakannya. Ia buru-buru memalingkan wajah. "Maaf, Tobirama … tolong tinggalkan aku."
Ia menyelipkan jeruknya ke dalam, lalu perlahan menutup pintu dan menguncinya kembali. Sebelum ia sanggup beranjak, didengarnya isakan Hashirama. Dekat sekali.
"Kawarama dan Itama sudah nggak ada.…" Suaranya teredam kayu. "Aku nggak mau kehilangan kamu juga."
Tobirama menggigit bibirnya, tak tahu harus berkata apa lagi. Tercenung ia menatap permukaan pintu. Terbersit tipis rasa iri, betapa mudahnya Hashirama menangis dan mengungkapkan isi hatinya….
.
.
Bantalnya berdegup. Berdenyut. Bernapas.
Hashirama membuka mata kepada keremangan ruangan yang bukan miliknya. Ia mengerjap beberapa kali, lalu mendorong dirinya bangun. Bantalnya bergerak di bawah tekanan tangannya, yang segera mengenali tekstur berotot undak lekuk dadanya. Rupanya semalaman ia tidur menelungkup di atasnya.
Tangan kanannya separuh melayang di atas permukaan tubuh, menemukan tempat yang degupnya dapat ia rasakan di ujung jari. Hashirama menyelipkan rambutnya ke balik telinga, perlahan menunduk, mendaratkan kecupan khidmat di atas jantungnya.
"...Hashi."
Sapaan itu tak menghentikannya. Dari undakan ia pindah ke lekukan, melompati torehan bekas luka, lututnya mendorong dirinya maju. Kimono pinjamannya yang tak terikat jatuh melebar seperti tirai di sekitar mereka. Tubuh di bawahnya menggeliat, napasnya berdesir halus ketika ia meraih sisi tubuhnya. Namun, Hashirama mencengkeram pergelangan tangannya, menahannya di sebelah kepala, di atas rambutnya yang terserak, dan wanita itu tersenyum lebar.
"Pagi, Sayang."
Madara menyeringai. Hashirama menciumnya dalam-dalam, membiarkan kulit telanjang mereka bersentuhan dan lidah mereka bertemu. Kehangatan yang familier segera mekar di antara kedua kakinya, dan ia bisa merasakan bahwa Madara pun sama.
"Sekali lagi?"
"Sekali lagi."
Madara mendorongnya hingga telentang, sama seperti semalam. Ia tak membuang waktu bersikap lembut; kuku dan giginya meninggalkan jejak kemerahan di dada wanita itu. Kamarnya pun kembali bergaung dengan desahan mereka berdua selama ia berada di dalam tubuh Hashirama lagi.
Puncaknya tercapai dan terhempas begitu saja; terlalu cepat, terlalu sekejap— tetapi ia pun sadar malam tak bisa berlangsung selamanya. Ia tak memejamkan mata, memfokuskan diri ke rupa kekasihnya yang terlindung bayang, memanggilnya tanpa suara selagi seluruh energinya tercurah pada tarian mereka—
Seandainya, seandainya matahari tidak pernah terbit...
"Hujannya belum berhenti juga," bisik Hashirama beberapa saat kemudian, nyaris kehabisan napas. Ia merapatkan diri ke tubuh Madara, yang langsung merengkuh dan membelainya. "Jam berapa ini…?"
"Sebentar lagi terang." Pria itu mengecup puncak kepalanya, lalu menguap lebar-lebar. "Aku tak bisa tidur."
"Eh, kenapa?"
"Kamu mengorok, tahu." Madara menatapnya lurus-lurus. "Oi, aku bercanda..." tambahnya sembari menahan tawa melihat Hashirama berguling menjauh, murung.
Petir menyambar, halilintar pecah, dan sang Hokage sepenuhnya terjaga.
Bagaimana mungkin ia bisa bersantai di sini, tak tahu apa-apa tentang keadaan desa yang ia pimpin? Pemimpin macam apa yang lupa akan keadaan rakyatnya sendiri?
Hashirama tersentak bangun, buru-buru merapikan kimononya. Jantungnya berdebur kencang, dan jemarinya terlalu gemetar untuk mengikat obi. Madara mendadak sudah berdiri di hadapannya, menyentuh tangannya yang tak mau stabil.
"Kamu nggak bisa keluar pakai ini," bisiknya. Tatapannya menenangkannya. "Tunggulah sebentar." Ia meninggalkan kamar.
Hashirama tak bisa diam menunggu. Tak puas mondar-mandir di kamar itu, ia menggeser pintu sedikit, mengintip ke lorong yang temaram. Hujan di luar masih cukup deras. Udara kental dipenuhi bau yang janggal. Cakra murni. Apakah bijuu itu kembali setelah ia usir? Tidak, tak mungkin. Jika ya, ia pasti tahu. Madara pasti bisa merasakannya. Bagaimana dengan rumah sakit setelah ia tinggal semalam? Apakah masih aman? Apakah orang-orang yang sedang sakit baik-baik saja di sana? Apakah—
Derap langkah dari ujung lorong mengumumkan kembalinya Madara. Hashirama menyambar kimono yang ia bawakan— bukan kimono yang semalam ia pakai; masih kimono hitam yang senada, tetapi tanpa sulaman lambang klan di manapun. Usai berganti pakaian, Hashirama menuju bukaan terdekat, hatinya diliputi kecemasan.
Sang Hokage menapak halaman, dengan kepala klan Uchiha di sisinya. Ia memayunginya dengan payung kertas dan susano'o-nya. Keduanya tak saling bicara. Tangan Hashirama terkepal begitu erat hingga kuku-kukunya menusuk ke telapak tangan. Awan di langit tak lagi setebal semalam, tepiannya mulai berkilau keemasan seiring terbitnya matahari. Sekilas ia melihat wajah-wajah penasaran mengintip dari balik jendela rumah-rumah mokuton, penghuninya masih ragu untuk keluar. Sejauh ini tak ada rumah yang rusak. Derap langkahnya menyipratkan lumpur ke ujung pakaian dan mengotori telapak kakinya.
Dari kejauhan, terlihat beberapa orang berkerumun di depan kantor Hokage. Rambut keperakan Tobirama membuatnya menonjol di kerumunan itu. Hashirama mempercepat langkahnya.
"Tobirama!"
"Kakak!" serunya, wajahnya yang tegang segera digantikan kelegaan. "Dari mana saja—" Kata-katanya terputus saat ia mendapati Madara di sisinya, meliputi tubuh mereka berdua dalam susano'o. Tatapannya terarah ke kimono pinjaman yang membalut tubuh kakaknya.
Pandangan Hashirama menyapu kerumunan. Semuanya berwajah lelah, tetapi lega. "Bagaimana dengan desa…?"
Separuh kerumunan itu seketika menundukkan kepala. "Lumbung dan ladang kita rusak parah, Hokage-sama. Sebagian sawah-sawah yang sebentar lagi siap panen hancur. Satu-satunya sumber air kita tercemar."
Jantung Hashirama serasa meluncur turun ke perutnya.
"Kita akan kelaparan."
.
.
Hujannya reda sebelum tengah hari.
Hashirama menyibukkan diri dengan berkeliling desa seperti semalam. Batang-batang pohon yang ditumbangkan angin bertebaran di sana-sini. Ada cabang-cabang berat yang menjatuhi rumah, tetapi selain atap yang hancur tak ada kerusakan berarti pada infrastruktur desa. Pagar pelindung yang semalam didirikannya hanya melingkupi desa dari arah selatan. Sementara pijakannya yang hancur terserak di sana-sini seperti batu-batu besar. Beberapa jatuh di ladang sayuran.
Orang-orang akhirnya memberanikan diri keluar, membersihkan desa dari sampah dan membawa kerabat mereka yang terluka ke rumah sakit. Tempat itu dipenuhi orang. Para penyembuh kewalahan menangani pasien yang terus menerus datang.
"Hokage-sama," seorang gadis penyembuh Hyuuga menahan lengannya usai Hashirama mengecek persediaan obat-obatan mereka. Ada lingkaran hitam di bawah byakugan-nya yang aktif. Ia terpaksa berteriak mengatasi tangisan bayi dan anak-anak yang kegerahan. "Maukah Anda membantu kami sebentar? Ada beberapa pasien patah tulang yang butuh bantuan— oh, di sebelah sini…."
Hashirama mengangguk sebelum ia selesai berbicara. Orang-orang yang cedera umumnya masih berada di luar rumah ketika angin kencang mulai menerpa, menerbangkan dahan patah dan kayu-kayu lepas hingga menabrak mereka. Ia memasang senyumannya untuk menenangkan para pasien sementara ia menyambungkan tulang dan otot mereka kembali.
Gadis Hyuuga itu menemuinya lagi setelah Hashirama menutup luka pasien kesepuluh, seorang anak kecil yang berusaha tegar di depannya meski lengannya bengkok dengan aneh. Ia meminta izin untuk berbicara dengannya berdua saja, maka mereka pun pergi meninggalkan bangsal. Wajahnya gugup.
"Ada apa?" Hashirama mendudukkan diri di sebuah kursi agar tatapan mereka sejajar.
"Persediaan obat kami sudah habis, Hokage-sama," jawabnya lirih. Ia merapikan helaian rambutnya yang lepas dari gelungan. "Aku lari ke kediaman Hyuuga barusan, tapi stok pribadi kami pun menipis. Tanaman obat kami mati semua semalam."
"Bukankah kalian punya jaringan perdagangan?" tanya Hashirama lembut sambil menyentuh bahu gadis kurus itu. "Kalian bisa membeli dari luar desa, 'kan?"
"Itu … itu sudah lama tersendat. Pedagang biasa tidak berani lewat karena banyak bandit. Mereka bawa pedang dan ahli memakainya juga."
"Namamu…." Hashirama berusaha mengingat-ingat. "Kyoko, bukan? Aku akan mengusahakan sesuatu, oke? Tenanglah."
Gadis itu mengangguk, tersenyum lemah. "Terima kasih, Hokage-sama."
Tobirama muncul di depan kantornya bersamaan saat ia kembali. Bagian bawah kimononya penuh lumpur dan rambutnya basah kuyup.
Hashirama menutup pintu ruang rapat di belakangnya. "Dari mana kau...?"
"Hulu sungai. Banyak ikan-ikan mati di sana dan airnya tak bisa diminum lagi." Ia menarik napas dalam-dalam, memegangi dadanya. "Sudah kuminta orang untuk mengambil ikan-ikan yang mati itu dari sungai sebelum terbawa ke danau. Untuk sementara kita harus mencari sumber air lain. Ada ... sungai kecil, di sebelah timur..."
"Kamu menyelam barusan?"
Tobirama menggeleng, menyandarkan kepalanya ke dinding. Napasnya berat dan pendek-pendek. "Cuma ... masuk ke air."
"Sama saja, tahu." Hashirama menarik kursi terdekat untuknya. "Istirahatlah dulu di sini." Ia sendiri duduk, membenamkan wajah ke dalam telapak tangannya. Tanpa diminta, ia menceritakan keadaan di rumah sakit barusan kepada adiknya. Tobirama menyimaknya hingga ia selesai berbicara.
"Klan-klan lain sudah menyumbangkan semua persediaan obat yang mereka punya, tetapi kita butuh lebih."
"Desa-desa di sekitar Konoha sudah terlebih dulu terkena imbas bijuu ini," jelasnya. "Kita tidak bisa meminta bantuan mereka. Kota terbesar yang paling dekat adalah kediaman Daimyo Matsudaira."
"Kita butuh makanan dari luar." Hashirama teringat akan laporan lumbung dan ladang yang hancur. "Apakah kita bisa menyuratinya...?"
"Aku ragu, Kak. Dia dari dulu terkenal pelit. Petani di sini dipajaki terlalu tinggi." Mendadak Tobirama menegakkan diri. "Kakak naiklah ke kantor. Madara sudah kembali."
.
.
Madara sudah berganti ke pakaian yang biasa ia kenakan saat bertempur, minus zirahnya. Tubuhnya menguarkan bau hujan.
"Bijuu itu menjauh ke selatan," paparnya sebelum Hashirama sempat duduk di belakang mejanya. "Kuduga dia tidak akan berani kembali, tetapi lebih baik tidak mengambil risiko."
Hashirama mengerjap. "Kau bermaksud memburunya...?"
"Ada satu desa lain yang luluh lantak dilewati. Aku harus menghentikannya sebelum dia membuat lebih banyak kerusakan. Bahaya jika dia kembali mengincarmu."
"Kenapa aku?"
"Kau yang semalam mengusirnya." Madara bergeser ke jendela, sekilas melirik keadaan di bawah. "Cuma mokuton-mu dan susano'o-ku yang bisa menahannya. Aku akan berangkat secepatnya."
Hashirama menggesekkan telapak di pangkuannya, mengelap keringat yang telah mengumpul. Sungguh mudah memberinya mandat mengejar bijuu itu, hanya sepatah kata yang dibutuhkan. Namun, hatinya digelayuti keengganan. Desa sedang krisis, dan ia butuh Madara di sisinya. Hashirama tahu ia bersikap tidak adil seperti itu; pilihannya hanya mereka berdua, dan ia tidak bisa meninggalkan desa.
"Satu minggu," ujarnya lemah. "Bawalah tim kecil dari klan Inuzuka dan Yamanaka."
Madara mengernyit. "Mereka hanya akan menyusahkanku. Aku sendirian sudah cukup."
"Ini perintah, Uchiha-san." Hashirama mengangkat dagunya, tanpa suara meminta pria itu untuk mematuhi wewenangnya.
"Jika itu yang Hokage-sama inginkan," Madara membungkuk singkat, air mukanya tak terbaca. "Saya akan berangkat satu jam dari sekarang."
"Hati-hati," tambahnya, tak sanggup menyembunyikan kekhawatirannya.
Setelah sosoknya menghilang melewati ambang, barulah Hashirama menyadari adiknya berdiri di sudut kantor. Lengannya terlipat di dada. Rambutnya yang masih basah menempel ke pelipisnya.
"Semalam kukira Kakak tertidur di kantor, tapi Kakak tidak ada di sini." Tobirama meninggalkan dinding, pandangannya terarah ke lantai. "Kakak dan Madara..."
Jantung Hashirama berdebur lebih kencang. "...Ya?"
Sunyi menyusul. Ia menunggu sampai Tobirama mengutarakan isi pikirannya, tetapi momen itu tak kunjung tiba.
Tobirama menarik pintu membuka. Ia berhenti sejenak di ambang, berkata dengan suara berat, "Sekarang sudah jelas Kakak ada di mana semalam."
Hashirama beranjak. "Itu—"
Namun, pintu berdebam menutup.
Punggungnya ia hempaskan ke sandaran. Mengapa belakangan ini adiknya bersikap aneh di sekitarnya?
.
.
Dalam satu minggu berikutnya, Konoha menerima dua tamu yang tak disangka-sangka.
Tamu pertama adalah sebuah kelompok yang terdiri dari seratus orang dari sebuah desa kecil yang baru saja dihancurkan bijuu setelah Hashirama usir.
"Kami mohon dengan amat sangat," pinta lelaki tua yang memimpin mereka ke Konoha, dahinya menyentuh tanah di hadapan sang Hokage. "Separuh desa kami tewas, tak ada rumah yang tersisa, makanan pun tak punya. Anda dulu sudah membantu kami menangani bandit, jadi…." Suaranya melemah, hilang.
Hashirama mengangsurkan sekotak besar ramuan obat di tangannya kepada orang terdekat, lalu berlutut. "Berdirilah. Rumah-rumah kami masih berdiri. Anda dan sanak saudara sedesa bisa tinggal di sini untuk sementara waktu." Ia memindai pengungsi lain yang berbaris di belakang pria itu. Puluhan wajah lelah buru-buru menatap tanah. Ada pria-pria yang memanggul cangkul dan garu. "Jika ada yang masih sehat, bantulah kami di ladang."
"Anda…." Pria itu mengangkat wajahnya, matanya berbinar penuh harapan. "Anda bisa menyehatkan ladang kembali setelah dirusak monster itu?"
"Ah, tidak … semua klan shinobi di sini tahu caranya—"
"Terima kasih!" Ia menggenggam tangan Hashirama erat-erat. "Terima kasih banyak!"
Namun, di penghujung hari itu Hashirama harus menghadapi wajah masam Tobirama.
"Aku tahu Kakak bermaksud baik dengan menampung mereka, tetapi di mana mereka akan tinggal?" keluhnya nyaris putus asa di kantor Hokage usai mengantarkan laporan kerusakan sawah dan ladang Konoha. "Tolong jangan bilang Kakak mau membuatkan rumah mokuton lagi. Kakak sudah nyaris pingsan membuatkan barak darurat untuk mereka."
Hashirama membalikkan laporan, berusaha memahami data-data yang tersaji di hadapannya. Sayang otaknya tak sanggup mencerna apapun. 'Nyaris pingsan' bahkan tidak cukup menggambarkan seberapa lelah dirinya. Saat ia kembali ke kantor, tubuhnya gemetar hebat sampai ia nyaris tak bisa berdiri. Ia memaksa dirinya mengunyah buah-buahan kering untuk mengembalikan sebagian energinya sebelum Tobirama tiba.
"Bagaimana dengan pasokan makanan?" Hashirama mengalihkan pembicaraan, mendekatkan lilin yang sudah memendek untuk menerangi mejanya. "Bijuu itu tidak membunuh hewan liar, 'kan?"
"Mereka pergi dari habitatnya, dan pemburu kita harus pergi lebih jauh hanya untuk mencari seekor babi hutan." Tobirama mendudukkan diri. Dalam temaram lilin, ia terlihat sama lelahnya dengannya. "Jika sawah-sawah sehat kita sudah dipanen, kita bisa menanam sayuran sebelum musim dingin…." Pembicaraan mereka berbelok membahas pangan.
Kesibukan mengurus desa dan pengungsi dari desa tetangga membuat topik keberadaan Hashirama di malam badai bagai tersingkir. Di satu sisi, wanita itu merasa lega tak perlu membicarakannya. Di sisi lain, ia masih merasa bersalah tidak terus terang akan hubungannya dengan Madara.
Ia tahu sekali bahwa Tobirama masih memendam rasa tak suka terhadap pria itu.
Pagi harinya, Hashirama dibangunkan oleh guncangan dari Hyuuga Kyoko, penyembuh yang ia bantu tempo hari. Gadis itu membawa kabar kedatangan tamu kedua.
"Maaf saya menyelonong masuk, Hokage-sama! Senju-san mengirim saya … katanya ada tamu penting di gerbang menunggu Anda—"
Tanpa menunggu Kyoko menyelesaikan kalimatnya, Hashirama melompat bangun, menyambar haori dan mengenakannya sembari melompat keluar jendela. Tobirama dan Akimichi Chokichi ada di gerbang timur, bersama dengan sebuah rombongan kecil yang membawa sebuah tandu bersepuh emas di atapnya.
Mustahil Kaisar Nobutada kembali tanpa pemberitahuan, 'kan?
Dugaannya terpatahkan ketika Chokichi bergeser, menampakkan pria kurus berkumis yang familier.
"Ukyo-san," sapa Hashirama. "Ini kunjungan yang mendadak sekali."
Ukyo mengabaikannya. Ia malah mengendus udara, dahinya mengernyit melihat orang-orang lusuh mondar-mandir membawa berbagai perlengkapan. Langkah mereka dilambatkan di hadapan tamu tersebut, diam-diam melirik menontonnya.
"Huh," dengusnya sembari berkacak pinggang. "Hanya perasaanku, atau Konoha langsung berubah kumuh setelah ditinggal Kaisar…?"
"Ukyo-san, desa kami baru dilintasi bi—"
"Angkut semuanya ke penginapan," Ukyo memotong penjelasan Chokichi, memberi tanda pada pelayan-pelayan yang tadi membawakan tandunya. Sebagian di antaranya membawa peti-peti berat, yang mereka dorong perlahan-lahan.
Cuping hidung Chokichi melebar. Ukyo berbalik, tatapannya jatuh pada Hashirama yang masih mempertahankan senyumannya. "Ini dia Hokage kita!" serunya dibuat-buat, kedua lengannya terangkat bagai terkejut. "Ayo, temani aku ke penginapan!"
"Ini mendadak sekali," kata Hashirama ketika mereka memasuki distrik pasar. "Jika Anda memberitahu kami sebelumnya, kami dapat menyambut Anda lebih baik lagi. Maaf atas kekacauan ini."
"Oh, malah bagus, 'kan?" kata Ukyo tak sabaran. "Aku bisa melihat seperti apa aslinya Konoha. Bagus untuk pengamatanku." Ia memilin kumisnya dengan puas.
"Jadi kunjungan Anda ini dalam rangka apa?"
Ukyo mengabaikannya lagi untuk kedua kalinya. Setibanya di penginapan, ia meminta makanan dan akomodasi sekelas yang mereka berikan pada Kaisar Nobutada kemarin. Tobirama yang mengikuti mereka mengulangi permintaannya dengan datar— Hashirama langsung sadar adiknya sedang menahan murka. Ia dan Chokichi bahkan tidak tinggal untuk berbasa-basi. Hanya sepasang kunoichi yang sibuk melayani mereka. Suasananya jauh berbeda dari kunjungan pertamanya. Kali ini tidak ada pelayan yang membagikan permen maupun anak-anak yang riuh di jalanan. Semua orang yang berlama-lama di depan penginapan segera diusir pergi oleh bawahan sang tamu.
Setelah satu jamuan mendadak dan bercawan-cawan sake, Ukyo baru membuka mulut akan maksud kedatangannya. "Begini," ujarnya, tubuhnya terhuyung maju dan mundur. "Nona cantik ini akan jadi daimyo … eeh, maksudku, Hokage satu tingkat dengan daimyo. Wilayah Matsudaira dibelah dua. Ngamuk sih dia, eh tapi masa bodoh…." Pupil Ukyo mengarah turun dari wajah lawan bicaranya, dan berhenti di dada Hashirama.
"Konoha memiliki aset yang sungguh luar biasa."
Hashirama memejamkan mata dan menghitung sampai sepuluh dalam hati. Kunoichi yang berdiri di sudut ruangan bertukar pandang cemas. Udara bergetar. Satu-dua helai rambutnya mulai keluar dari sisiran yang rapi. Ketika Hashirama membuka mata, Ukyo mengeluarkan gulungan dari balik kimononya, yang ia lempar asal-asalan.
"Nih. Dari Kaisar." Ukyo menoleh ke sudut. "Kalian berdua, oi. Nanti ikut ke atas, ya? Ya?" Ia menyeringai tak sopan. Salah satu gadis segera pergi duluan, sementara gadis lainnya membereskan sisa makan malamnya.
"Kalian tak perlu melakukan ini," desis Hashirama pada gadis kedua, begitu pelan hingga bibirnya nyaris tak bergerak. "Dia sudah mabuk, sebentar lagi pasti tertidur."
Gadis itu malah menatapnya keheranan. "Kami sudah terbiasa," ucapnya sambil menumpuk mangkuk-mangkuk kosong dari meja kecil. "Semua kunoichi sudah dilatih untuk ini, Hokage-sama."
Saat ia menyaksikan gadis itu menyusul rekannya ke atas, kuku-kuku Hashirama menancap ke gulungan itu. Gulungan yang serupa dengan yang Madara bawakan berminggu-minggu lalu saat ia pulang berburu. Cap resmi kekaisaran tertera di sampulnya. Matanya menyusuri tulisan tangan indah meliuk di dalamnya, mengabadikan titah Kaisar Nobutada memberi mandat pada Ukyo untuk menilai aset desa Konoha dan menilai seberapa banyak pajak yang dapat mereka bayar tiap tahunnya.
Semakin jauh ia membaca, semakin berat hatinya. Pajak yang diminta Nobutada mencakup lebih dari separuh yang biasa dibayarkan Matsudaira setiap usai panen padi. Dengan kondisi desa yang baru saja diluluhlantakkan bijuu, mustahil mereka bisa membayar jumlah ini tepat waktu….
Punggungnya melemas ketika ia tiba di akhir surat. Nobutada hanya bersedia mengurangi jumlah tersebut jika Hashirama setuju Konoha maju perang melawan Tsuchinokuni sebagai militer Hinokuni. Jika sang Hokage menolak semua syarat-syaratnya, Kaisar akan menggunakan cara-cara….
"Nggak perlu jawab sekarang," ujar Ukyo tiba-tiba, masih menyesap sake lagi. Hashirama sampai lupa ia masih ada di situ. "Santai saja. Aku ingin tinggal di sini juga." Ia terhuyung berdiri. "Waktunya menikmati aset pertamaku."
Dengan satu bungkukan menghina dan lirikan kurang ajar ke tubuh Hashirama, Ukyo terseok menaiki tangga.
.
.
Kepalanya pusing sekali. Bukan karena mabuk; Hashirama tak menyentuh sake selama menjamu Ukyo. Baunya saja sudah membuatnya mual. Gulungan darinya terbuka di meja, dijauhkan dari remah daging panggang.
"Tidak disebutkan berapa lama dia akan tinggal di sini." Tobirama meletakkan sumpitnya dengan rapi di piring. "Hanya tertulis 'hingga tugasnya selesai'. Aku curiga Nobutada menunjuknya sebagai penghubung antara Konoha dan Kaisar."
"Menjijikkan," sengal sang Hokage. "Dia membuatku muak."
Tobirama menatapnya tak mengerti.
"Dia menganggap para kunoichi sebagai aset kita!" Hashirama mendorong piringnya menjauh. Dagingnya masih utuh tak tersentuh. "Kalau tadi kaulihat wajahnya…."
Ia masih belum lupa pelajaran-pelajaran yang ia curi dengar semasa kecil. Touka menertawakannya saat Hashirama mengungkapkan rasa jijiknya. Menurutnya banyak gadis kecil yang mengeluhkan hal itu, tetapi jika sebuah perang taruhannya seorang shinobi harus siap melakukan apa saja untuk memastikan kemenangan klan.
"Kak, aset utama Konoha memang penduduknya," Tobirama berkata pelan. "Kita begitu ahli dalam hal-hal yang tidak bisa dilakukan penduduk biasa."
"Aku tak menganggap kalian semua seperti sumber daya yang dapat dihabiskan dan dibuang begitu saja." Hashirama menyisiri rambutnya dengan jari. Kepalanya berdenyut-denyut. "Sampaikan pada dewan desa untuk berkumpul pagi besok, kita akan membahas ini." Setelah gulungan dirapikan dan piring-piring dibawa pergi, Hashirama meletakkan dahinya di permukaan meja yang dingin, berbisik pada dirinya sendiri, "Andai Madara ada di sini…."
Sepuluh kepala klan duduk mengelilingi meja rapat tiga jam kemudian. Wajah-wajah mereka tak sedikitpun menampakkan kantuk meski matahari masih belum menampakkan diri. Usai Hashirama menjelaskan duduk perkaranya, semua orang serta merta menegakkan diri dan berbicara bersamaan.
"Tunggu apa lagi?"
"Akhirnya!"
"Sanak saudaraku sudah bosan bertanya kapan kita akan perang lagi—"
"Kapan kita bisa mengutus pengintai? Oh, aku tak sabar!"
"...Kak?"
Sang Hokage terpana di kursinya, mencengkeram pegangan tangannya erat-erat. Baik adiknya maupun Izuna, yang datang mewakili kakaknya, tidak melawan pendapat dominan di meja. Akhirnya ia berusaha mencari dukungan dari Hyuuga Mori, tetapi pria tua itu bahkan tak menatapnya. Suaranya belum terdengar sejak ia masuk ke ruang rapat.
Ia menunggu hingga semua orang selesai mengutarakan reaksi mereka, lalu bertanya, "Apakah kalian sungguh ingin Konoha maju perang? Desa ini tidak dibentuk untuk menyuplai tenaga perang." Nadanya nyaris memelas di bagian akhir. "Sudah cukup kita saling bunuh selama puluhan generasi; mengapa kita harus meneruskannya lagi?"
Nara Shikana mengangkat alisnya. "Anda tidak mengharapkan kami semua menghabiskan hidup hanya untuk menggarap sawah, 'kan? Shinobi lahir untuk membunuh."
Hashirama terhenyak.
Yamanaka Inoha membaca cepat gulungan dari Kaisar. "Kaisar Nobutada bersedia meminta daerah lain menyuplai kebutuhan kita selama kita memerangi Tsuchinokuni."
"Kaisar sudah punya samurai—"
"Samurai saja tidak cukup."
Ukyo bersandar di ambang yang terbuka, membungkuk singkat pada semua ketua klan. Ia terlihat bugar, tak seperti orang yang baru mabuk semalaman. Tatapannya berhenti sejenak pada Izuna sebelum kembali ke sang Hokage. "Selamat pagi. Saya dengar Anda mengadakan rapat. Maafkan kehadiran mendadak ini." Ia mengambil kursi dari sudut ruangan, dan menyeretnya ke ujung meja. Duduk tanpa dipersilahkan.
"Nah, seperti yang saya sebutkan tadi, para samurai tidak cukup menahan Tsuchi. Kaisar mereka membentuk desa ninja, dan menginvasi perbatasan dengan cepat. Dibutuhkan ninja untuk melawan ninja." Ukyo menyeringai. "Tidak susah, 'kan?"
"Klan Aburame setuju untuk berperang," ujar Aburame Mamoru tiba-tiba. Senyuman Ukyo tidak dibalasnya.
"Klan Sarutobi setuju," Sasuke menyusulnya.
Hashirama menghindari menatap kedua kepala klan tersebut. "Saya hanya akan setuju jika seluruh kepala klan bersedia menyumbangkan tenaganya." Tatapannya menyapu meja, diam-diam berharap tak ada lagi yang akan berbicara. Namun, harapannya pupus seketika.
"Kami setuju," Chokichi berbicara mewakili trionya.
"Klan Inuzuka juga setuju."
"Klan Shimura bersedia." Shimura Keita tampak berapi-api, penuh percaya diri.
Hyuuga Mori mengangguk singkat, dan berkata berat, "Hyuuga setuju."
Hashirama tahu Mori sependapat dengannya soal ini. Persetujuan darinya terasa bagai hantaman di rusuknya. Wajah Ukyo semakin berseri-seri.
Tinggal dua orang yang belum berbicara.
"Ukyo-san," panggil Izuna. "Apa saja imbalan yang dijanjikan oleh Kaisar jika kami setuju berperang untuknya?"
"Semua yang Konoha butuhkan," jawab Ukyo santai. "Kuli, uang, bahan makanan, pakaian, obat-obatan. Aku bisa menulis kepada Yang Mulia saat ini juga dan meminta semua itu."
Izuna menelengkan kepalanya. "Kalau begitu, klan Uchiha juga setuju."
Madara takkan setuju. Madara takkan setuju. Ia akan murka dan mengamuk, pergi dari rapat saat ini juga. Namun, mengapa adiknya sendiri berseberangan dengannya? Mengapa Hashirama tidak tahu tentang ini? Mungkin jika ia menyempatkan diri menghabiskan waktu dengannya, Hashirama dapat meyakinkannya….
Semuanya sudah terlambat sekarang.
Tobirama berhenti menulis, menatap kakaknya dengan pertanyaan bisu. Hashirama bungkam, matanya terpejam sampai didengarnya suara Tobirama.
"Klan Senju setuju."
"Suaranya sudah bulat, Nona Hokage."
Sang Hokage mengangguk dalam diam. "Konoha akan pergi berperang." Lidahnya terasa pahit, tetapi ia mengabaikannya. "Tetapi seperti yang Anda lihat, desa kami baru saja terkena bencana. Kami akan sangat terbantu jika Yang Mulia Kaisar berkenan mengirimkan makanan dan obat secepatnya."
"Bukan masalah," Ukyo menyanggupi, berdiri begitu cepat sampai kursinya nyaris terjungkal. "Saya akan menulis saat ini juga. Sekalian meminta data-data yang telah berhasil didapatkan para samurai."
"Omong-omong," kata Shikana setelah Ukyo pergi, "kita butuh lambang. Konoha, maksudku."
Hashirama membiarkan para kepala klan mendiskusikan lambang desa. Napasnya mulai memberat lagi. Usai rapat, ia berniat beristirahat di kantornya. Namun, ia sudah ditunggu.
Ada tiga shinobi muda berdiri dengan gugup di depan mejanya. Dari penampilan mereka, Hashirama tahu mereka berasal dari klan Yamanaka, Inuzuka, dan Uchiha. Pemuda kedua menggendong seekor anjing kecil dengan perban di sekeliling perutnya. Mereka tampak lelah dan kurang tidur.
"Ada perlu apa?"
Ketiganya saling lirik, sebelum pemuda Uchiha itu berkata, "Kami mengejar jejak bijuu selama seminggu terakhir. Bersama Madara-sama, maksudku."
Tangan Hashirama terjatuh lemas dari pegangan pintu. Ia hampir lupa soal Madara. Pikirannya dipenuhi oleh masalah pengungsi dan perbaikan desa.
"Di mana Madara?" Ia menyeberangi kantor cepat-cepat dan duduk di kursinya. Ia tak boleh kehilangan ketenangan di hadapan ketiga shinobi muda itu. "Mengapa ia tidak bersama kalian?"
"Bijuu itu menyerang kami begitu tahu dia diintai, Hokage-sama. Kami terpisah dari Madara-sama yang mengumpankan dirinya. Terakhir kami lihat, beliau dan bijuu itu berbelok ke arah utara." Shinobi Inuzuka itu berhenti sejenak, melirik si anjing yang mendengking. "Bijuu-nya berwujud rubah."
Dari dekat, wajah mereka terlihat luar biasa pucat. Wajar; tak banyak orang yang berhadapan langsung dengan seekor bijuu dan selamat untuk menceritakan pengalamannya. Hashirama menghela napas berat.
"Terima kasih laporannya. Kalian boleh beristirahat."
Selama sisa hari itu, ia tak bisa berhenti memikirkan Madara.
.
.
Sungai bergemericik, mengalir dengan tenang di antara mereka.
Hashirama tersenyum kepada sahabatnya di seberang air. Satu-satunya sahabat yang ia miliki di luar lingkung keluarganya, sekaligus sahabat yang paling ia anggap dekat di hatinya.
Sahabat yang sialnya berasal dari musuh bebuyutan klannya. Para iblis.
Tak masuk akal. Madara serupa dengan manusia manapun yang pernah ia temui. Sepasang mata dan telinga, sebuah hidung dan mulut. Ia pun menginginkan perdamaian yang sama dengannya. Apanya yang iblis dari semua itu?
Haruskah ia membunuhnya hanya karena asal-usulnya? Hanya karena keluarganya? Hanya karena ia lahir di dalam sistem yang mengharuskan semua anak mengangkat senjata dan membunuh anak-anak lainnya dari klan musuh mereka? Hanya karena mereka tak bisa memilih kepada keluarga mana mereka ingin dilahirkan?
Hashirama menyayangi ayah dan adiknya, tetapi begitu juga dengan Madara. Ia tak ingin memilih, ia tak ingin merasa terbagi; tercabik di antara mereka. Mengapa mereka tak bisa berhenti saling bunuh saja? Dirinya dan Madara sudah kehilangan adik di medan perang. Ayahnya juga. Semua orang di klan Senju dan Uchiha juga. Mengapa semuanya malah ingin terus saling bunuh sampai salah satu dari mereka mati? Mengapa?
Mengapa?
Ingatan terakhirnya tentang Kawarama adalah cengirannya yang ganjil. Kawarama selalu merasa bangga setiap kali ia membuat kemajuan dalam taijutsu dan kenjutsu. Ia yang paling bersemangat mendapatkan pengakuan ayah mereka. Ia yang paling setuju dengan ideologi shinobi bahwa mati di medan perang adalah suatu kehormatan. Ayahnya berpendapat mempersenjatai anak-anaknya dan mengirimnya berperang adalah tanda kasih sayang.
Orang tua macam apa yang menyuruh anak-anaknya saling bunuh, seolah nyawa manusia tak ada harganya? Mengadu anak kecil dan orang dewasa, menjejali pikiran mereka agar mau berkorban nyawa demi ambisi orang lain….
Sistem ini harus dihentikan!
"Seperti biasa," Madara berkata, suaranya dikeraskan mengalahkan bunyi air, "kita lempar batu sebagai salam."
Hashirama mengangguk. Keduanya merogoh baju bersamaan.
Untuk memutus rantai bunuh membunuh ini, Madara harus selamat. Dan ia bertekad untuk melindunginya dengan cara apapun juga.
Kedua batu itu memantul di air delapan kali sebelum jatuh di telapak tangan masing-masing. Batu di genggaman Hashirama sudah ditoreh dengan sebuah pesan.
Lari!
"Ah, maafkan aku, Hashirama!" serunya dari seberang. "Aku baru ingat, aku ada urusan!"
Gadis itu tersentak. Menelan ludah, ia membalas, "Ah, iya! Aku juga punya janji! Sampai nanti!"
Namun, sebelum Hashirama sempat masuk kembali ke hutan, dua bayangan melaluinya. Ia berhenti mendadak, menoleh dan mendapati ayahnya serta Tobirama sudah berada di atas air. Di hadapan mereka berdiri dua orang dengan pakaian gelap senada. Satu pria dewasa, dan satu anak kecil. Keduanya berzirah.
"Uchiha Tajima," sapa ayahnya dengan pedang terhunus.
"Senju Butsuma," balas pria satunya, "rupanya kita berdua memiliki pikiran yang sama."
Keempat tungkai Hashirama lemas seketika. Kedua anak di air bertukar salam, jelas sekali sebelumnya telah saling kenal. Bersua di medan tempur. Bersumpah menumpahkan darah.
"Hentikan!" raungnya, tetapi keempat orang itu maju beradu pedang. Ayah melawan ayah, anak melawan anak. Kedua belah pihak memiliki kekuatan yang seimbang.
Kedua pria mundur, meraih pisau kecil, lalu melemparnya ke anak lawannya. Kedua anak itu masih terfokus dengan lawannya, tak melihat ujung tajam yang mendekati dari atas—
Tidak, tidak, Tobirama tak akan menyusul adik-adiknya!
"Jangan!"
Batu di genggamannya terlempar, menuju pisau Tajima. Sebuah batu lain menepis kunai yang tadi dilempar Butsuma. Namun, batunya sendiri meleset dari sasaran dan pisau itu semakin dekat dengan kepala adiknya—
Hashirama menghambur maju, dan jemarinya bergerak tanpa sadar. Saling tangkup membentuk segel ular. Pusat cakra di perutnya berdenyut, membanjiri pembuluh-pembuluhnya dengan arus deras yang hangat.
Cakranya bergolak, membuncah, lepas— meledak.
Daratan bergetar, dan dasar sungai merekah. Pilar-pilar kayu persegi tumbuh secepat kilat, jangkung menjulang menghalangi pisau itu mencapai Tobirama. Lebih banyak pilar tumbuh dari dalam air, saling silang memisahkan kedua klan. Air dan ikan berkecipak sampai ke bantaran sungai.
Hashirama mendarat di hadapan keluarganya, begitu juga Madara. Anak lelaki itu membelalak.
"Kau…." Ia menggeleng cepat-cepat dan mendesis, "aku tak akan memaafkanmu kalau adikku sampai terluka."
"Aku juga," balasnya, semata-mata karena ia merasa hal itulah yang pantas dikatakannya saat ini. Jantungnya masih berdebur begitu kencang. Ini pertarungan perdananya, dan ia berhadapan dengan temannya sendiri.
Ia tak ingin berada di situasi ini. Ia tak sanggup memilih antara keluarga sedarahnya dan sahabat karibnya.
"Jadi ini alasannya," ujar Tajima, luka kecil di sudut bibirnya membuat seringainya miring aneh, "mengapa kami belum pernah melihat putra sulungmu di medan perang, Butsuma. Kausimpan dia seperti senjata rahasia."
"Heh." Terdengar bunyi pedang disarungkan, disusul oleh cengkeraman Butsuma di bahu sulungnya. "Selama ini aku belum pernah mengizinkan putriku maju berperang."
"Hashirama…" bisik Madara tak percaya, "kamu perempuan…?"
Ia tidak menjawabnya, dan tak sanggup berpaling. Gelenyar dari ledakan cakranya masih belum reda. Ujung jemarinya terasa kebas. Pandangannya menyusuri permukaan tiang kayu kukuh di hadapannya. Rasanya bagai mimpi.
Mokuton, elemen kayu, adalah ninjutsu legendaris yang konon hanya muncul setiap seratus tahun sekali dalam klan Senju. Ninjutsu yang mustahil dipelajari, yang kekuatannya sanggup menundukkan para bijuu. Para tetua bilang ninjutsu ini hanya muncul pada mereka yang pantas menyandangnya.
Tapi … mengapa dirinya? Shinobi pun ia bukan. Melempar shuriken saja masih sering luput. Ada puluhan shinobi lain yang lebih dewasa, lebih berpengalaman….
"Pantas saja." Tajima mengedikkan dagunya. "Bagaimana, Madara? Tiga lawan tiga seharusnya bukan masalah."
Tatapan Madara tak lepas darinya. "Tidak … Hashirama lebih kuat dariku."
"Heee? Anak perempuan yang lebih kuat dari Kakak?" Anak kecil di belakangnya menelengkan kepala.
Hashirama baru menyadari bahwa ia perempuan. Anak sekecil itu, tak lebih tua dari Tobirama, dikirim berperang oleh ayahnya sendiri….
"Benar, Izuna. Tanpa mokuton pun, ia sudah jauh lebih kuat." Madara memejamkan mata. "Hashirama, tampaknya apa yang kita bicarakan dahulu tidak akan tercapai."
"Madara, apa maksudmu—"
Ketika matanya terbuka, untuk pertama kalinya gadis Senju itu melihat langsung ke sepasang sharingan. Merah menyala-nyala, serupa mata iblis dalam cerita-cerita tetua kepada anak-anak bandel di klannya.
Kini Hashirama sadar dari mana asal mula julukan itu.
"Kita cuma anak kecil dengan impian kosong," lanjutnya, kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. "Sungguh menyenangkan bisa membicarakan semua itu denganmu, tetapi itu tidak akan jadi nyata."
"Bukan begitu…." Hashirama mendekat, menempelkan tubuhnya ke pilar-pilar mokuton. "Apa kau berniat melupakan semuanya? Semua yang kita rencanakan?"
Mengapa ia berbicara seperti ini? Apa yang ada di pikirannya? Mengapa kau menjauh dariku?
"Kali berikutnya kita bertemu," Madara mundur tanpa melepaskan tatapannya dari Hashirama, "adalah di medan perang, Hashirama."
Izuna berseru riang, "Wow, Ayah! Lihat mata Kakak!"
"Hari ini memang tidak sia-sia…." Tajima menyarungkan pedangnya. "Aku menanti putrimu di medan perang, Butsuma…."
Ketiga Uchiha mundur hingga ditelan bayangan pepohonan. Sosok mereka sudah tak lagi terasa inderanya ketika Hashirama menyadari tangannya telah masuk ke celah di antara pilar, berusaha menggapai sahabatnya. Rasa asin yang muncul di mulut memberitahunya bahwa air matanya telah mengalir deras, melalui sela bibir dan geligi.
"Kakak," Tobirama menarik lengan bajunya, "ayo pulang."
Tak adil. Mustahil. Mereka baru saja bertemu dan berbagi mimpi. Lalu semuanya sirna dalam sekejap. Mungkin ini hanya mimpi. Mungkin kalau besok Hashirama pergi ke tepi sungai, Madara akan ada di sana, menunggunya….
"Situasinya telah berubah."
Hashirama mengangkat wajahnya. Air matanya telah mengering tanpa sisa. Perkampungan sudah terlihat di ujung kelokan, tetapi mereka malah berhenti.
"Sejak kau lahir, aku sudah tahu kau punya cakra yang tak lazim. Kuat dan intens." Butsuma melipat lengannya. "Peraturan klan kita melarang para kunoichi maju ke garis depan. Tapi, aku akan membuat pengecualian untukmu."
Hashirama diam, berdebar-debar menanti pengungkapan maksudnya.
"Mulai besok, aku sendiri yang melatihmu. Ninjutsu, taijutsu, kenjutsu. Segalanya yang kauperlukan untuk bertempur. Berkah mokuton ini tidak boleh disia-siakan. Kau mengerti, Hashirama?"
Matanya melebar. Hal ini sudah lama ia inginkan, agar bisa melindungi adik-adiknya di pertempuran. Namun, datangnya terlalu terlambat. Ia telah kehilangan dua adik dan seorang sahabat. Meski begitu, ia mengangguk.
"Saya paham, Ayahanda."
"Bagus. Pulanglah kalian berdua. Aku harus memberitahu para tetua soal mokuton-mu."
Bahu Hashirama segera menurun setelah Butsuma melesat pergi. Ia berjalan dengan gontai ke perkampungan, terlalu lemas bahkan untuk sekadar berbicara. Sudah lama ia menunggu kesempatan ini. Mungkin ia masih bisa membuat ayahnya bangga sebagai shinobi….
"...Kak. Kakak!"
Ia mendengar Tobirama memanggil-manggilnya, yang ia abaikan sampai ia memberitahu, "Kakak berdarah."
Hashirama menatap lengannya yang terbuka dari siku. Mulus. Kedua kakinya yang basah bersandal pun tak terluka. Namun, ada jejak aliran darah dari dalam kaki kanannya. Menetes-netes ke tanah. Ia segera sadar bahwa ini bukan disebabkan oleh luka.
"Tobirama," panggilnya dengan suara tercekat, "tolong jemput Touka."
.
.
Satu bulan berlalu.
Satu bulan berlalu secepat satu kedipan mata.
Satu kedipan mata, dan wajah Konoha berubah.
Tekanan dari Nobutada memaksa Matsudaira mengirimkan makanan, obat, dan tenaga kerja ekstra. Hutan di sisi barat dibuka, menambah lahan pemukiman bagi pendatang baru yang bukan ninja. Dalam seminggu, rumah-rumah baru selesai dibangun. Para shinobi membereskan kayu mokuton sisa pertempurannya dengan menjadikannya pagar mengelilingi desa. Kantor baru Hashirama pun siap dihuni. Bentuknya berupa bangunan tiga tingkat melingkar di depan tebing. Apartemennya yang tergabung di kantor sudah diperluas dan diisi perabotan hadiah dari Nobutada sendiri. Ada ruang makan, perpustakaan kecil, balkon, serta dua kamar tidur ekstra. Tukang yang merancangnya berkata ia membangunnya seperti itu karena ia membayangkan apartemen itu akan dihuni oleh sebuah keluarga. Bukan satu orang dewasa saja.
Namun, tak ada kabar dari Madara.
Rubah bijuu yang ditemui ketiga shinobi muda itu tak terdengar kabarnya lagi setelah dua minggu. Kabar dari para shinobi Konoha yang tersebar di seantero kekaisaran untuk menjalankan misi pun nihil.
Pria itu bagai lenyap ditelan bumi.
Akhirnya Hashirama tak tahan memendamnya sendirian. Di penghujung sore, ia menanti di bayang-bayang jalur pohon menuju Akademi. Begitu sosok Izuna terlihat meninggalkan bangunan, ia buru-buru menghampirinya.
"Kakak belum pulang," jawabnya sebelum Hashirama membuka mulut. Izuna mengatakan hal itu dengan ringannya, seolah mengomentari cuaca. "Nggak perlu cemas. Dia pasti hanya berkelana."
"Aku nggak bisa nggak cemas," Hashirama mengakui lirih, "dan sebagai Hokage, aku butuh kepastian akan keberadaannya."
"Dari dulu Kakak sering berkelana, kok—" Izuna mengaduh; sandal tipisnya baru saja menginjak kerikil besar. "Nanti juga pulang. Waktu Konoha baru dibangun pun, Kakak sering pergi sendirian. Tahu-tahu hutan di sebelah mana sudah hangus dibakarnya."
"Jadi…." Hashirama menuntunnya ke belokan menuju pusat desa. "Kamu sama sekali nggak cemas?"
"Justru aku yang bingung," balasnya, seringai jahil merekah di wajahnya. "Hashi-san sama sekali nggak pernah mencarinya waktu dulu itu. Tapi sekarang, baru dua minggu saja sudah khawatir." Rambut Izuna membingkai wajahnya ketika ia menoleh. "Kakak merindukannya, ya?"
"E, eh?" Hashirama mengerjap, mendadak salah tingkah. Ia panik, buru-buru memunggungi orang di jalanan. "Bukan—! Aku … aku 'kan Hokage, semua orang juga kucemaskan, makanya … makanya…."
"Aku tahu, kok, Hashi-san menginap di rumah kami waktu badai itu. Bahkan tidur di—"
"Aaah!" Diseretnya Izuna menjauhi keramaian, menuju jalan setapak yang mengarah ke kediaman Uchiha jauh dari pusat desa. Kalau orang lain sampai tahu, ia masih belum sanggup menanggung malu!
"Aku sudah tak sering mendengar sanak saudaraku berbicara buruk tentang Hashi-san atau klan Senju lagi," Izuna melanjutkan dengan santai, seolah tak ada interupsi yang terjadi. "Konoha sudah benar-benar..." Lengannya terentang, tetapi kata-katanya terputus. Ia merapikan poninya yang panjang, membuat jarak dengan sang Hokage.
"...Izuna?"
Wanita itu berbalik, senyumannya berubah mendatar. "Tadinya aku skeptis. Kupikir kau sama saja dengan apa yang keluargaku selalu katakan soal Senju. Bahwa kau hanya memanfaatkan Kakak demi memenangkan perang. Demi menghancurkan kami ke akar-akarnya."
Hashirama bungkam. Lengannya ia cengkeram.
"Aku ingat wajahmu waktu itu. Di sungai, lebih dari sepuluh tahun lalu, saat kami pergi." Sejenak ia terdiam. "Wajah yang sama saat Hashi-san diam-diam merawatku dulu. Tak ada kunoichi yang bisa pura-pura menangis dengan wajah semenderita itu. Apalagi Tobirama bilang Hashi-san nggak pernah dilatih menjadi kunoichi." Izuna berbalik, kedua tangannya tersembunyi di balik punggung. "Maksudku … jika Hashi-san sungguh bersedia dan siap, aku bisa membantu meyakinkan keluarga kami…."
"Ah…."
"Cuma Hashi-san seorang yang pantas jadi istri Kakak. Bukan orang lain, sesama Uchiha sekalipun."
Angin berembus memainkan rambut mereka, menerpa pakaian masing-masing dengan dedaunan kering. Keterkejutan membekukan seluruh pergerakannya. Hashirama beberapa kali mengerjap; matanya mendadak berair.
"Izuna—"
"Aku melantur," potongnya sembari memalingkan wajah. "Nggak seharusnya aku menahan Hashi-san. Hokage pasti sibuk. Selamat sore."
"Tu—"
Terlambat. Izuna sudah menghilang ke kelokan setapak. Kata-katanya terus terngiang sepanjang sisa hari itu, membuatnya sulit fokus.
Ia langsung kembali bekerja, memberi stempel resmi Hokage ke laporan misi-misi di mejanya, tetapi ia hanya membaca judul misinya sejenak tanpa meneliti sisa isinya. Sejak sistem klasifikasi misi diberlakukan, Akademi dibuka, dan Konoha resmi berada di bawah naungan kekaisaran, permintaan misi membludak dengan cepat. Bandit-bandit yang selama ini mengganggu jalan-jalan sudah tak terdengar lagi, sehingga pejalan kaki dan pedagang mampu bepergian dengan aman. Tobirama juga membentuk sepasukan ANBU untuk menjaga keamanan internal Konoha. Entah apa tujuan lainnya, tetapi Hashirama memercayainya dalam hal ini. Lagipula, mereka melapor langsung kepadanya.
Lilinnya telah jauh memendek, dan capnya semakin meleset dari tempat yang seharusnya. Kerik serangga memenuhi udara, mengundangnya tidur, tetapi gunungan dokumennya belum juga berkurang….
"Hokage-sama."
Hashirama terlonjak bangun. Ia menyeka bibirnya. Sesosok ANBU bertopeng putih berdiri di hadapannya.
"Uchiha Madara sedang menuju Konoha."
Kursinya hampir terjungkal saking cepatnya ia berdiri. "Suruh … suruh semua ANBU pergi dari kantorku."
"Apa tidak apa-apa?" ANBU itu balik bertanya. "Dia terlihat marah."
"Tidak apa-apa," Hashirama meyakinkannya. "Pergilah sekarang."
"Dimengerti, Hokage-sama."
Ia mendengarkan atap berderak halus ketika lima orang ANBU melesat menjauh bersamaan. Hashirama mengambil sebatang lilin baru dari rak, di sebelah sekotak penuh pelindung kepala berukir lambang Konoha yang baru ditempa. Ia menyatukannya dengan lilin yang pendek, lalu memindahkannya ke birai jendela. Api lilin yang tegak mendadak bergoyang ketika sebuah keberadaan lain muncul di dalam kantornya.
"Selamat malam, Madara."
"Apa-apaan semua ini?" sergahnya, suaranya bergetar menahan murka. "Sebulan aku pergi, dan kau sudah menghamba diri kepada Kaisar?"
Hashirama melirik pantulan sosok Madara di jendela yang mendekat. Zirahnya absen dari penglihatan. "Anda sendiri pergi melampaui batas waktu yang kuperintahkan. Shinobi lain yang Anda bawa pulang tepat waktu. Sebaiknya Anda punya alasan bagus, Uchiha-sama."
"Mereka menghambatku." Madara menyibakkan poninya. "Rubah itu akan membunuh mereka. Lebih baik mereka mundur."
"Bijuu-nya?"
"Sudah kuatasi." Madara balas menatapnya lewat pantulan. "Lihat aku, Hashirama."
Wanita itu berbalik dan menunduk, berjalan ke depan mejanya. "Setelah satu minggu berlalu, tak ada shinobi Konoha yang mengetahui keberadaan Anda maupun bijuu itu. Jelaskan."
Akhirnya mereka bertatapan. Satu bulan di alam liar meninggalkan bekas pada Madara berupa bau hutan dan tanah di tubuhnya. Ia tak sampai semeter jauhnya, masih dalam jangkauan tangan.
"Bagaimana dengan Anda sendiri?" Madara berkacak pinggang. "Kita mendirikan Konoha bukan untuk menghimpun kekuatan perang. Tapi Anda malah menjalin relasi dengan Nobutada saat saya tidak di tempat, memerangi negara lain yang juga mengirim anak-anak untuk berperang. Jelaskan."
Pinggang Hashirama mundur hingga menyentuh tepian meja. Laporan pengintaian tak pernah menyebutkan soal anak-anak. "...Dari mana kautahu Iwa mengirim anak-anak?"
"Aku melihatnya sendiri." Ia mendengus meremehkan. "Hokage macam apa yang bahkan tak tahu lawan yang akan dihadapi desanya?"
"Kautahu aku punya banyak hal yang harus kuurus—"
"Kau tidak lemah, Hashirama," ia bersikeras. "Kau tak butuh uluran tangan Kaisar."
"Kau tidak ada di sini. Kau tak lihat betapa banyaknya penduduk yang membutuhkan obat dan makanan segera. Matsudaira takkan mau membantu kita—"
"Kita tidak membutuhkannya!"
"Kita berdua tidak! Tapi orang lain ingin menjalankan misi dan semua hal yang ingin kita hentikan, Madara! Orang lain membutuhkan bantuan segera." Hashirama memelankan suaranya. "Hanya aku seorang yang nggak menginginkan perang. Adik kita berdua bahkan setuju. Keputusan yang kuambil harus mempertimbangkan keinginan orang lain juga." Napasnya terputus-putus. Segala kelelahan dan beban mentalnya kembali menerpa. "Wakil Kaisar bahkan masih di sini … Nobutada belum memercayai Konoha sepenuhnya."
"Tinggalkan saja dia." Entah mengapa Madara mengabaikan pengungkapannya soal Izuna. "Bantuan makanan sudah kita terima, tunggu apa lagi?"
Hashirama terperangah. Ia maju mendekat. "Kau tidak serius menyuruhku mengkhianati perjanjian dengan Kaisar, 'kan?"
"Berapa kali harus kubilang— kita tak butuh dia! Konoha bisa berdiri sendiri, tanpa rongrongan para daimyo yang terus memaksa kita mengirim anak-anak berperang!"
"Madara, pelankan suaramu," pintanya, "ini sudah larut. Pulanglah. Aku masih ada pekerjaan…."
"Kertas-kertas ini untuk apa?" Madara mengedikkan kepala ke belakangnya.
"Ini? Laporan misi. Kliennya para daimyo—"
Satu sapuan tangan menerbangkan semua tumpukan kertas itu. Berserakan di udara, jatuh perlahan ke lantai kayu yang bersih mengilap. Terperanjat, Hashirama menegurnya.
"Madara! Kenapa—"
"Persetan dengan para bangsawan itu." Madara memeluknya erat. "Kita berdua saja cukup untuk menghancurkan para samurai, para shinobi Iwa … bijuu sekalipun."
Hashirama tercenung, debur jantungnya tak karuan. Kecemasan yang menghantuinya selama sebulan terakhir berganti menjadi rindu, yang menjatuhinya tiba-tiba bagai tanah longsor. Ia menyandarkan diri di bahunya, sejenak mengeratkan pelukan mereka, lalu ia menjauh untuk mengecupnya singkat di bibir.
Sejenak ia menatapnya dari atas ke bawah, menangkap semua detil dengan matanya. Luka-luka baru di kulitnya. Robekan dan tisikan asal-asalan di pakaiannya. Telapak tangan Hashirama meremas bahunya.
"Aku lega kamu selamat."
Dalam sekejap mata, Madara mencium bibirnya lagi. Bagai kehausan, kelaparan akan sentuhannya. Segala kelembutannya di malam pertama mereka sirna. Cengkeramannya di lengan Hashirama meninggalkan bekas membiru. Wanita itu meraih temali di pinggangnya sementara bibir mereka masih bertautan, menjatuhkan gunbai-nya dengan kelotak keras. Madara mendorongnya hingga telentang ke meja; menebarkan rambutnya di permukaan.
"Jangan pergi lagi," Hashirama memohon, sementara ia sibuk mendorong kimononya melewati separuh paha. "Tinggallah. Kamu bisa jadi tangan kananku."
Jemari Madara berhenti bekerja. "Kamu nggak butuh dua tangan kanan. Adikmu sudah mengisi posisi itu. Kamu bahkan tidak mendengarkanku." Suaranya melembut, meski masih dipenuhi emosi.
"Aku juga harus mendengarkan opini penduduk lain." Hashirama mengelus rahang pria itu. "Kau bukan satu-satunya penduduk Konoha."
Madara bergeming, dingin. "Lalu aku ini apamu?" tantangnya.
Pikiran Hashirama terlalu jenuh untuk memikirkan jawabannya. Madara mencondongkan diri begitu dekat hingga ia bisa merasakan terpaan napasnya yang hangat di bibirnya. Jika ia menarik napas dalam-dalam, tubuh mereka akan bersentuhan.
Yang diketahuinya, ia menginginkan dirinya berada dalam pelukan sang Uchiha.
Tangan Hashirama melemas, jatuh dari wajahnya. "Kamu ini sahabatku, Madara."
"Hanya sahabat?" Ia mendengus sinis, menggigit lepas sarung tangan kanannya. "Maka aku perlu tahu sejauh mana persahabatan kita, Senju Hashirama."
Tangan telanjangnya menghilang ke balik lipatan kimono wanita itu, dan sedetik kemudian Hashirama harus menggigit bibir untuk mencegah pekikannya menebas kesunyian malam. Matanya ia pejamkan erat-erat, memfokuskan dirinya pada jemari Madara di dalam tubuhnya. Ciuman berikutnya lebih lembut, memberi kesempatan pada Hashirama untuk mengeluarkan desahan lirih sesekali. Dicengkeramnya baju Madara hingga kusut.
Ia sungguh tak ingin terbagi di antara kewajibannya sebagai Hokage dan keinginannya bersama dengan Madara. Ia juga tak ingin Madara pergi lagi.
Ia ingin Madara seterusnya berada di sini—
"KAKAK!"
Suara itu memecahkan mantra yang meliputi mereka. Madara seketika mundur, tetapi menghalangi tubuh Hashirama dari arah pintu selama wanita itu merapikan kimononya. Pahanya masih gemetaran.
Tobirama berdiri di ambang, memeluk beberapa gulungan tebal. Belum pernah Hashirama melihatnya semurka ini. Pegangan pintu sampai retak digenggamnya. Napasnya begitu cepat sampai ia bisa melihat dadanya naik-turun. Cakranya menerpa ruangan dalam gelombang besar, membuat kedua shinobi lainnya melindungi diri mereka dengan cakra masing-masing.
Madara mengumpat dalam bisikan rendah. Lengan Hashirama terangkat menutupi pandangan sampai gelombang itu reda. Ia segera maju, berusaha menenangkan adiknya.
"Tobirama, ini tidak ap—"
"Kakak sudah bertunangan."
Kesunyian yang menyusul terasa bergelora penuh dering di telinganya. Serangga di luar tak lagi berkerik. Pergerakan dunia bagai melambat di mata Hashirama.
"Kakak tidak salah dengar." Tobirama membaca kesunyian itu. "Kakak sudah ditunangkan sejak kecil pada klan Uzumaki."
Imaji seorang anak lelaki botak melintas di memori Hashirama.
"Pada Uzumaki Nobuo."
Deru angin yang mendadak membuatnya berbalik. Jendela di belakang mejanya sudah terbuka lebar.
Madara sudah pergi.
"Tolong jangan kejar dia, Kak." Tobirama menyeberangi ruangan dengan tenangnya, menghindari semua kertas yang berserakan. Ia meletakkan gulungan-gulungannya di rak. "Kakak harus berhenti menemuinya diam-diam."
Bibir bawah Hashirama bergetar. "Kenapa kamu nggak bilang…?"
"Ayah melarangku." Tobirama memunggunginya. "Aku sudah melanggar janjiku pada Ayah—"
Hashirama tak bisa memercayainya. "Bagaimana bisa kamu dan Ayah tidak memberitahuku? Untuk apa Ayah…." Suaranya tercekat. "Sejak kapan kamu tahu?"
"Sudah lama."
"Kenapa aku nggak diberitahu? Seharusnya … aku…."
Tobirama menatapnya dingin. "Ini sudah tradisi. Kakak yang terkuat di klan kita." Sejenak ia terdiam. "Ayah ingin anak-anak Kakak nanti semakin memperkuat klan—"
"Klan lagi, klan lagi!" Hashirama ganti meraung. Cakranya bergelora, siap untuk lepas. "Tak ada yang memberitahuku aku sudah bertunangan! Akan kuminta Ashina-san untuk membatalkannya!"
"Tak bisa."
"Tak bisa kenapa?" Pipi Hashirama basah. Telunjuknya hanya sesenti dari memungut kuas yang terguling.
"Klan Uzumaki sudah memberi kita banyak uang," Tobirama menjelaskan datar, memunguti kertas-kertas laporan misi di lantai. "Semua uang yang Kakak berikan pada klan lain, semua uang yang diambil Kaisar karena Kakak kalah judi … utang kita sudah menggunung. Paman Joji sudah bantu mengatur agar kita bisa mencicilnya selama pertunangan Kakak berlanjut."
Hashirama terpuruk di lantai. "Jadi kau berniat membarterku sebagai pelunas utang, begitu?"
"Bukan begitu, posisiku juga sulit—"
"Keluar."
Tobirama bergeming. "Dengarkan aku dulu—"
Satu-satunya darah dan dagingnya yang masih hidup. Yang ia percayai dengan nyawanya, tempatnya bertanya meminta saran….
Mengkhianatinya seperti ini.
Ia yang dianugerahi mokuton mengangkat wajahnya, semua emosinya bergolak dalam bentuk energi murni. "Keluar, Tobirama," perintahnya dengan suara berlapis cakra. Kertas-kertas berhamburan ke udara. Lantai dan dinding yang baru retak dan merekah bagai dicakari bijuu tak berwujud.
Lilin di birai jendela mati seketika.
.
.
Tobirama menutup pintu kantor Hokage di belakangnya, gemetaran dari ujung kepala hingga kaki.
Seharusnya tidak begini. Seharusnya ia tidak kelepasan. Kekagetan menemukan kakaknya dan Madara tadi membuatnya lupa diri, lupa akan latihannya sebagai shinobi yang telah ia jalani bertahun-tahun. Sekarang ia sudah melanggar janji kepada ayahnya sendiri.
Ia benci terjepit dalam situasi ini; betapapun kerasnya ia berpikir untuk mengurai keruwetan masalah, Tobirama entah kenapa malah membuat segalanya semakin rumit.
Hashirama hanya tidak mengerti. Ayahnya mempertunangkannya dengan Nobuo demi kebaikan klan. Mokuton itu tak boleh terbuang sia-sia. Semakin baik darah pasangannya, semakin besar kemungkinan mokuton itu diwariskan kepada anak-anaknya. Hal yang baik bagi klan Senju tentunya baik bagi Konoha.
Tapi Hashirama tidak paham. Dan Madara semakin membutakannya. Entah apa yang kakaknya lihat pada diri pria itu….
Tobirama tidak segera pergi. Ia berdiri menjauh dari pintu, menunggu. Usai beberapa menit berlalu, barulah ia beranjak mendekat. Dipegangnya gagang pintu yang tadi ia retakkan.
"Kakak?" panggilnya. Namun, tidak ada jawaban dari dalam selain isak teredam.
Usianya dua puluh tiga tahun, dan Tobirama benci berbicara pada pintu.
