Nan Mollayo
Chapter 8. Boyfriend
Author : Si k3cEh Ayane_Chan plakkk...
Cast : Sehun = suami saya?._.
Genre : YAOI, Comedy Romance, Friendship and Family.
Rating : T aka PG-15
Length : Chaptered
Warning : Typo bertebaran layaknya cinta saya pada Thehun... *Kibath poni... ˘˛˘
Talk2kan : UTS nya udah selesai hore! Tapi masih sibuk buat ngurus mading, kebersihan kelas, bulan bahasa, sama buku tahunan huhuhu...
Maaf juga ya updatenya telat. Kemarin habis ke Yogya buat liat kakak wisuda. Jadi nggak sempet ngetik dah... hehehe...
Ini saya sempatkan update douzo...
...
...
...
Chapter 8...
"Kau mau masuk tidak?"tanya Sehun pada Jongin. Sekarang mereka sudah berada di depan pintu rumah Sehun. Jongin nampak sedikit canggung, namun kemudian dia ikut masuk juga karena,
Dia ingin buang air... -..-
"Eh, ya."jawab Jongin singkat.
Keduanya kemudian memasuki rumah minimalis tersebut. Sehun dengan sebuah tas ransel kecilnya dan Jongin dengan tas ransel Sehun yang sangat besar itu.
"Aku pulang..."pekik Sehun begitu dia memasuki rumahnya. Jongin mengikutinya.
"Eh, sudah pulang? Tidak bersama Jongdae hyung? Ini siapa?"tanya Joo Myun begitu melihat sosok asing yang mirip Taylor Lautner, - selingkuhan imajinasinya – bersama putra bungsunya.
"Sudah pulaaaaang~ Jongdae hyung mengirim pesan, dia tidak bisa menjemput karena Yixing gege menyanderanya ke markas dancenya,"jawab Sehun cepat. Joo Myun nampaknya tidak terlalu memperhatikan jawaban Sehun yang disertai dengan dengusan sebal itu, mamma-mamma itu malah sedari tadi terus memfokuskan pandangannya pada sosok hitam seksi di belakang Sehun.
"Dia siapa? Temanmu?"tanya Joo Myun lagi, Sehun hendak menjawab pertanyaan itu dan bermaksud mengenalkannya pada mammanya, tapi mammanya itu buru-buru menyela, "Maaf ya, Sehun memang merepotkan,"kata Joo Myun lalu tersenyum manis. Sosok di depannya, atau... Jongin hanya bisa menganggukan kepalanya tanda mengerti. Bibirnya dipaksanya untuk melengkungkan sebuah senyuman kepada mamma Sehun itu, tapi sebenarnya... dia itu sedang menahan bladder!
"Mamma! Aku tidak merepotkan tauk! Oh ya... ini Jongin, temanku di ex-school,"Sehun kemudian mempersilahkan Jongin untuk mengenalkan diri pada mammanya. Jongin maju satu langkah kemudian tersenyum lagi, dan Joo Myun mulai berpikir bahwa...
Mungkin Jongin membintangi CV pasta gigi? Ugh... kenapa senyumnya menawan sekali?
"Anyeonghaseo, choneun Kim Jongin imnida bangapseumnida..."Jongin membungkukan badannya sembilan puluh derajat, dan saat itu Joo Myun sudah melupakan Yi Fan. -..-
"Ya ampuuun... kau sopan sekali yah... beruntung sekali Sehun mempunyai teman sepertimu,"kata Joo Myun antusias. Lagi-lagi Jongin hanya dapat memberikan sebuah senyuman palsu(?) pada sosok mamma-mamma di depannya. Sehun, yang entah karena dia sudah menjadi pintar, jenius, atau IQ-nya sudah mencapai 113, itu kini menyadari gelagat aneh dari Jongin. Dia terus memperhatikan Jongin, dan yang diperhatikan terus menerus menggerak-gerakan tubuhnya tidak nyaman.
Mungkin Jongin...
Iya! Ini pasti...
"Jongin! Kau punya penyakit ayan yah?"tanya Sehun dengan amat percaya diri. Jongin membulatkan matanya atas tuduhan nista yang dilontarkan Sehun sedangkan Joo Myun ternganga dalam kekagetan yang sangat amat(?).
"Ti... Tidak. Ssebenarnya... eum... boleh saya menumpang kamar mandi?"tanya Jongin pada Joo Myun. Sudah pasti Jongin lebih memilih bertanya padanya, jika dia bertanya pada Sehun, mungkin si bodoh itu justru akan menuduhnya yang lain-lain lagi.
"Nn... ne, ada disitu,"jawab Joo Myun sambil menunjuk sebuah pintu yang berada di sebelah tangga. Jongin mengangguk pelan, menggumamkan khamsahamnida dengan cepat dan secepat itu pula berlari menuju pintu itu.
'Blamm...'
"Jadi... kau sudah kenal namja tampan eoh?"goda Joo Myun pada puteranya. Sehun mempoutkan bibirnya kemudian menyeret kedua ranselnya menuju ke dalam.
"Ah, keluarkan panci mamma dulu,"
'Sleret...'
"Hehhh?"
"Sehun, panci mamma mana?"
"Ma?"
"Eh?"
"HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEH? KENAPA PEGANGANNYA BISA SAMPAI PATAH? SEHUUUUUUUUUUN!"
...
...
...
'Sudah sampai rumah yah? Syukurlah...'batin Jongdae dalam hati.
"Jadi, apa lagi yang dilakukan oleh Sehun?"tanya Baekhyun yang kini tengah berada di teras rumahnya bersama Yixing dan Jongdae. Ya... ternyata Yixing tidak jadi ke sanggar karena dia lupa bahwa hari ini adalah hari minggu dan sanggarnya tutup. Jadi... mereka memutuskan untuk bermain ke rumah Baekhyun.
"Mungkin dia membakar rumah,"jawab Yixing acuh.
"Ya ampuuun! Lama-lama anak itu bisa diasingkan dari perumahan ini!"pekik Sungmin dari arah dalam.
"Itu ide yang bagus,"tambah Yixing.
"Astaga..."
...
...
...
Jongin duduk di atas bed Sehun dengan canggung. Setelah menyelesaikan bladdernya tadi, dia segera diseret oleh Sehun untuk masuk ke dalam kamarnya. Kamar Sehun? Bagaimana yah? Mungkin dari melihat saja kalian pasti tahu sifat-sifat Sehun.
Rajin membaca karena ada banyak rak buku?
Tidak di sini memang ada sebuah rak buku yang lumayan besar, tapi rak itu berisi manga bergenre romance tingkat hiperbola, yang Jongin tidak mengerti isinya.
Rapih karena kamarnya bersih dan tidak berantakan?
Tidak karena kenyataannya ada lembaran kertas ulangan bernilai C atau D dimana-mana... -..-
Komputer whizz karena ada banyak gadget bertebaran?
Tidak karena bahkan di kamar Sehun hanya ada sebuah komputer sederhana yang mousenya menggantung disisi meja dan tombol keyboardnya banyak yang terbalik dan juga menghilang.
Jadi, apa sebenarnya kepribadian Sehun?
"Sehun, kau suka mengoleksi panci serbaguna yah? Pantas saja kau sangat mengerti dengan hal-hal seperti ini..."dan itu membuat Sehun yang sedang menenggak jus jeruknya memuncratkan cairan orange itu ke arah Jongin.
"Ya ampuuuun... maaf. Maaf... tidak sengaja,"ucap Sehun panik begitu melihat wajah tampan Jongin yang kini belepotan karena ulanya. Jongin yang masih menutup matanya karena khawatir jika cairan itu masuk maka matanya akan terasa perih hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Tidak apa-apa,"jawab Jongin singkat. Sehun menjauhkan tangannya dari wajah Jongin dan kini duduk di sebelah Jongin.
"Habis kau mengatakan hal yang absurd!"protes Sehun.
"Aku salah ya?"tanya Jongin pelan.
"Itu tabloid, majalah, dan brosure milik mammaku! Bukan milikku, dan juga kenapa kau bisa menganggapku sebagai kolektor panci... ugh... seperti tua sebelum waktunya dong!"geram Sehun. Jongin hanya bisa terkekeh begitu melihat tingkah lucu Sehun.
"Ngomong-ngomong... terimakasih yah, yang kemarin itu..."Sehun mulai mengalihkan topik pembicaraan. Jongin menatap ke arah Sehun lalu tersenyum sedikit.
"Bukan masalah. Lagipula, aku melakukannya tidak karena terpaka."
"Eh?"Sehun merona begitu mendengar perkataan Jongin.
Tunggu dulu! Ini seperti di scene "Dream Boy and The Ugly Duckling(?)" manga, series 23, halaman 17! Tidak salah lagi!
Pasti setelah ini Jongin akan...
"Sehun..."memanggilnya dengan suara beratnya yang seksi.
"Diam..."dan mendekat ke arahnya dengan seduktif...
"HUWEEEEEEEEEEEEE! JONGIIIIN! JANGAN MACAM-MACAM YAH! MESKIPUN AKU MENYUKAIMU TAPI BUKAN BERARTI AKU AKAN MENYERAHKAN KE-VIRGINAN KU PADAMU YAH!"teriak Sehun dengan muka memerah dan kedua tangannya yang disilangkan di depan dadanya layaknya anak gadis yang akan diperkosa oleh ajhusi-ajhusi satu komplek.
"Heh? Maksudmu?"tanya Jongin tidak kalah histeris. Sehun memincingkan matanya tajam pada namja itu. Oh... sekarang mau bermain innocent? Licik sekali yah Kim Jongin ini!
"Sudah jangan berpura-pura! Kau mau memperkosaku kan? Lalu setelah itu aku akan menolakmu dan kau akan memaksaku, lalu kau menamparku dan mengikatku dan... dan setelah kau puas kau meninggalkanku begitu saja,"dan tanpa sadar Sehun telah membeberkan sendiri hobi yadongnya membaca manga smut. Jongin menatap Sehun tidak percaya. Anak ini?
Bukankan terlalu... eum... ajaib?
"Kenapa aku harus memperkosamu?"tanya Jongin bingung. Sehun yang tersadar bahwa mungkin Jongin memang polos(?) mendekat ke arah Jongin dan berdiri persis di hadapannya.
"Itu sih, yang aku baca di manga,"jawab Sehun polos. Eum... benar-benar polos kok kali ini. Mendengar jawaban se-absurd itu Jongin tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa terbahak-bahak sampai posisinya yang tadinya duduk di atas bed menjadi tengkurap sambil memukul-mukulkan kedua tangannya ke sana.
"AKHAHAHAHAHA... KAU NAIF SEKALI YAH? AKHAHAHAHA... MANA BISA SCENE SEPERTI ITU TERJADI KEPADA KITA... AKAHAHAHAHA..."Sehun mendengus kesal atas tingkah Jongin. Memangnya ini lucu? Sehun kan juga tidak tahu! Ugh... dia hanya seorang korban.
Korban scene hiperbola di manga!
"Jongin! Berhenti tertawa! Itu tidak lucu!"kesal Sehun sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Jongin nampak masih enggan untuk menyudahi acara tertawanya hingga membuat Sehun semakin kesal.
"Memangnya kenapa itu tidak akan terjadi!"kesal Sehun. Ugh... kalau itu terjadi, mungkin kan kecantikannya bisa disamakan dengan tokoh Miyu yang sangaaaaaaat kawaii di manga itu!
Jongin berhenti tertawa kemudian menjawab, "Pertama, aku tidak mungkin berani melakukannya padamu sementara kita tidak mempunyai hubungan apapun. Yang kedua! Ini di rumahmu, ya ampun! Ini jam 12 siang dan... mammamu ada di lantai dua, dan yeah... kau pernah mengatakan bahwa papamu seorrrang polisi kan? Dan yang terkahir aku masih cukup waras untuk tidak melakukan hal semacam itu pada orang yang kusukai..."dan penjelasan jujur Jongin membuat Sehun bersmirk. Wah... jadi begitu...
'Glup...'
"Se... Sehun?"Jongin hanya bisa terpaku ketika tiba-tiba saja Sehun naik ke atas bed dan duduk di perutnya. Ekm... akankan ini berganti menjadi rate M?
"Jongin~ kalau begini... scene itu jadi mungkin terjadi tidak,"Maaf tapi, nampaknya Sehun ingin menggoda Jongin dengan cara berbicara sedikit mendesah-desah seperti di anime hentai yang ditontonnya. Namun nampaknya usahanya gagal karena di telinga Jongin justru suara Sehun seperti seorang anak TK yang dengan antusias bertanya 2+2 hasilnya berapa pada ibu gurunya,
"Tidak,"jawab Jongin kemudian mengarahkan tangan kanannya untuk mengacak rambut Sehun. Sehun mempoutkan bibirnya kemudian merebahkan tubuhnya di atas tubuh Jongin. Kini kedua tangannya bertumpu di dada Jongin dan dagunya di istirahatkannya disana.
"Memangnya kenapa?"tanya Sehun penasaran. Tangan Jongin beralih kepada pipi kiri Sehun dan mengelusnya perlahan.
"Apa aku segila itu untuk melakukan hal bodoh pada orang yang kusukai,"tanya Jongin serius. Sehun menggelengkan kepalanya ragu kemudian tersenyum.
"Tehe...~ jadi Jongin benar-benar menyukaiku yah?"tanya Sehun bercanda. Jongin mencubit pipi Sehun pelan kemudian mengangguk.
"Kalau begitu ayo katakan maukah kau jadi pacarku padaku,"ucap Sehun.
"Tidak mau! Kan aku pernah mengatakan bahwa pacar itu hanya mitos,"jawab Jongin cepat. Sehun mendesah kecewa, namun kemudian tersenyum terpaksa.
"Begitu ya..."Jongin jadi bingung sendiri kali ini. Pacar itu memang mitos. Tapi...
"Kalau begitu, seharusnya aku mencari orang lain saja..."ucap Sehun pelan.
Jongin menegang. Apa yang dikatakan Sehun barusan, sebenarnya? Kenapa dia tiba-tiba menjadi takut. Sehun menjauhkan tubuhnya dari tubuh Jongin kemudian beranjak dari sana. Melangkah menuju pintu dan tangannya membuka knob pintu.
"Kalau begitu aku ke bawah dulu untuk membantu mamma menyiapkan makan siang..."ucapnya pelan.
'Klek...'
"Sehun..."Jongin segera berdiri dan menghampiri Sehun.
"Pacar itu memang mitos. Tapi hanya untuk orang lain... jika untukku dan Sehun. Maka pacar itu adalah... sebuah... eum... Tta... T-tta?"
Sehun membalikkan tubuhnya kepada Jongin kemudian tersenyum, "Takdir?"
"Iya."
...
...
...
"Makan siangnya sudah matang, ayo Jongin, kau ikut makan siang juga,"ucap Joo Myun antusias pada Jongin. Jongin hanya tersenyum canggung lalu mengangguk pelan.
"Apa tidak merepotkan?"tanya Jongin berusaha sesopan mungkin. Ekhm... calon mertua kan?
"Tidak apa-apa. Ini sebagai ucapan terimakasih dan minta maaf atas ulah Sehun yang merepotkanmu,"Jongin terkikik dan Sehun mempoutkan bibirnya.
"Mamma, aku sudah bilang! Aku tidak merepotkan!"bantahnya tidak terima.
"Iya, iya..."
'Ceklek...'
"Eh? Kalian sudah pulang?"kaget Joo Myun begitu melihat Jongdae dan Yixing masuk ke dalam rumah. Yixing menggelengkan kepalanya dan Jongdae mendekat ke arah Joo Myun.
"Sudah kembali sejak jam sepuluh, ternyata sanggarnya tutup,"jawab Yixing.
"Ini adalah oleh-oleh dari eomma dan appa,"kata Jongdae lalu menyerahkan sebuah bungkusan yang besar kepada Joo Myun.
"Wah... calon menantu memang sangat baik,"jawab Joo Myun. Dan tanpa sungkan, mamma-mamma itu membuka bingkisan tersebut. Isinya adalah...
"YA AMPUUUN! PANCI KELUARAN STYLON PRANCIS YANG LIMIT? YA AMPUN! JONGDAE... SAMPAIKAN TERIMAKASIH AJHUMMA YAH..."wah... mungkin mudah sekali untuk menaklukan calon mertua, pikir Jongin.
Hanya sebuah panci?
"Eh, ini siapa?"tanya Yixing pada Sehun.
"Ini... Jongin,"jawab Sehun singkat. Jongin tersenyum lalu memperkenalkan dirinya, "Kim Jongin imnida,"
"Eh? Kau tidak malu berteman dengan Sehun?"
"GEGE! KENAPA BERBICARA SEPERTI ITU..."
"Diam, aku tidak berbicara padamu kok. Jadi... pria tampan... tapi tidak lebih tampan dari Kim Jongdae... kau siapanya Se..."
'Ceklek...'
"Papa?"semua orang mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Di sana sudah berdiri pria tinggi dengan seragam polisinya yang masih dipakainya. Joo Myun mendekat ke arah semuaminya dan mengambil alih tas yang dibawa Yi Fan.
"Kenapa sudah pulang?"tanya Joo Myun penasara.
"Karena ada anggota baru jadi sektor satu diizinkan pulang lebih awal,"Joo Myun mengangguk mengerti, dan keduanya masuk ke dalam.
"Ya sudah ganti baju dulu, dan kita makan siang bersama..."
...
...
...
"Jadi... siapa kau?"tanya Yi Fan sinis pada sosok hitam di depannya yang mirip dengan musuh abadinya sepanjang masa, Taylor Lautner!
'Glup...'Jongin gugup kali ini. Sungguh... ayah Sehun sangat menyeramkan.
"Pappppa!"Sehun memprotes tatapan seramnya pada Jongin. Sedangkan Jongdae hanya bisa berdoa untuk Jongin. Dia sudah mengalami hal ini beberapa tahun yang lalu.
"Temannya Sehunnie?"tanya Yi Fan sakratis. Jongin menggeleng, dan itu membuat semua orang menjadi kebingungan.
"Lalu?"tanya Yi Fan lagi.
"Saya kekasihnya,"
"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?"teriak Yixing dan Joo Myun bersamaan. Jongdae hanya tersenyum bahagia karena akhirnya adik kecilnya mendapatkan seorang kekasih, sedangkan Yi Fan masih menatap Jongin dengan serius.
"Kenapa kau mau dengan Sehun?"tanya Yixing tiba-tiba.
"Kenapa gege berkata seolah aku ini tidak laku!"protes Sehun yang kini duduk di sebelah Jongin.
"Memang kenyataan kok!"ucap Yixing jujur. Sehun mendengus kasar kemudian memalingkan wajahnya dari Yixing.
"Saya menyukai Sehun, dan... itu saja..."jawab Jongin jujur.
"Ya ampuuun... selain mirip Taylor Lautner kau juga sangat sopan..."kagum Joo Myun yang membuat Yi Fan jadi berdehem dengan sengaja.
"Tapi, Sehunnie kami itu sangat manja dan... ekm... aneh,"jujur Yi Fan. Jongin tersenyum.
"Dia juga cengeng, bodoh, dan naif,"tambah Jongin. Dan Sehun sudah hampir menangis saat itu,
JONGIN MENCINTAINYA BENERAN TIDAK SIH?
Sementara disisi lain Yi Fan hampir saja bangkit dan memecahkan kepala Jongin dengan pistolnya. Hei... apa kualifikasi anak bungsunya serendah itu? Tapi begitu matanya bertemu dengan sosok Sehun, dia jadi mengurungkan niatnya. Ugh... memang benar sih, ditambah, hyper, menyebalkan dan... banyak maunya.
"Tapi... saya menukai Sehun. Itu saja,"pandangan Sehun tidak lepas dari sosok Sehun yang kini menenggelamkan wajahnya diantara kedua telapak tangannya.
"Begitu yah..."Yi Fan menghembuskan nafasnya kasar. Sehun kini berdoa dalam hati. Ugh... semoga saja papanya tidak akan membunuh Jongin sekarang juga!
"Kalau begitu. Kau harus menjaganya dengan baik,"ucap Yi Fan pelan.
"Eh?"Sehun memekik kaget dan menatap papanya tidak percaya. Semudah ini?
"Eum selain itu..."
"Hufffft..."
"KAU TIDAK BOLEH MEMBAWA SEHUN KELUAR LEBIH DARI 10 P.M. TIDAK BOLEH MEMBUATNYA TERLUKA, HARUS SELALU SETIA PADA SEHUN, TIDAK BOLEH MEMBUAT NILAI SEHUN JADI TURUN..."
"Pa... nilai Sehun selalu C atau D sudah tidak bisa lebih buruk lagi,"Yixing mendengus kesal.
"EUM... TIDAK BOLEH MENODAI SEHUN(?)..."
"Pa, Sehun itu yadong bawaan dari lahir!"tambah Yixing.
"Eh? KALAU BEGITU. POKOKNYA JAGA SEHUN KAMI!"
"Bb... bba... baik."
"ARGH..."
...
...
...
"Jadi... sekarang kita pacaran yah?"tanya Sehun pada Jongin. Sekarang mereka berdua sedang berada di ruang ex-school KIR untuk membereskan bahan-bahan untuk praktikum lusa.
"Iya,"jawab Jongin singkat.
"Kenapa rasanya biasa saja?"gumam Sehun namun masih bisa terdengar oleh Jongin.
"Aku sudah pernah mengatakannya padamu kan? Memang sama dengan teman hanya saja sedikit lebih special?"tanya Jongin. Sehun mengangguk setuju, namun beberapa detik kemudian menggeleng kuat.
"Urghhh... tentu saja tidak! Jongin ini bagaimana sih? Tentu saja pacar dan teman itu berbeda!"protes Sehun. Jongin menaikkan alisnya sebelah kemudian menatap Sehun skeptis. Memang, Sehun ini memang benar-beanr absurd.
"Apa bedanya?"
"BEDANYA ITU... EUMMM... eh? Apa yah? Ah tidak tahu! Tapi pokoknya berbeda!"kata Sehun yakin.
"Huh..."
"Ah! Bedanya pacar itu bisa diajak kencan sedangkan teman itu tidak!"kata Sehun jenius. Jongin nampak berpikir sejenak untuk memproses kata-kata Sehun.
'Benar yah? Apa itu bedanya?'
"Kalau begitu, ayo kita berkencan."
TBC.
Jujur yah. Sebenernya FF ini mau saya buat end, chapter depan. Tapi tergantung ripiuw juga sih, kalau masih dapat banyak ripiuw, saya pertimbangkan untuk bikin chapternya lebih panjang. Oc... mata ashita.
