[ recommended bgm: ashita no keshiki - kalafina ]
sorry for the wait. this gets 9k in my google docs. hope tobirama is worth the wait.
next chapter will have madara flashback post battle. you might have wait longer because i want to revise 1st chapter and i have papers and exam :)
revised 09052018. now it's over 10k. i still have exams orz. major change here!
.
.
Usianya lima tahun, dan Tobirama bermain dengan tanah merah kuburan.
Saudari dan adik-adiknya sudah lama beranjak dari makam-makam terbaru. Area pemakaman sepi, hanya ada burung-burung yang pulang kembali dari penjelajahan harian mereka di pepohonan, bergerumbul di bawah kanopi untuk menahan udara yang semakin dingin. Nisan di kuburan tempatnya berjongkok sekarang diukir nama ibunda mereka. Ia melumuri telapaknya rata dengan tanah, meregangkan dan mengepalkan jemarinya berulang kali, lalu menepuk-nepuk pipinya sendiri. Dingin.
Semua orang lain sudah pergi, kembali kepada rutinitas masing-masing. Hanya Tobirama yang bertahan di tengah lengketnya kelembapan udara musim panas. Ia enggan kembali. Tanah ini menarik perhatiannya. Padat, lengket, dan dingin.
Ini bukan tempat istirahat yang baik untuk ibunda dan kerabat perempuannya. Tanah yang sudah ia kepalkan baru sedikit, dan tak lagi hangat begitu terpisah dari kulitnya. Malam nanti pasti akan semakin dingin, semakin berisiko masuk angin. Ibundanya akan kedinginan. Beliau selalu benci dingin. Beliau selalu menyuruhnya membawa pakaian ekstra, kalau-kalau ayahnya akan mengirimnya pergi latihan mendadak. Beliau mengajarinya herba apa saja yang dapat menghangatkan tubuh hanya dengan dikunyah. Tempo hari beliau berjanji akan mengajarinya membuat baju hangat dari bulu hewan….
Bayang-bayangnya sudah hilang menyatu dengan kegelapan ketika bulu kuduknya meremang. Seorang pria dewasa mendekat, langkahnya sesunyi penampakan. Semakin dekat, semakin jelas dalam penginderaannya. Bocah itu meloncat berdiri, mengelap tangannya pada permukaan celana— langkah yang salah karena sekarang celana putihnya tercoreng-moreng.
Aduh.
"Tobirama."
"Ayahanda," sapaannya diberikan sembari menatap tanah. Dadanya naik-turun dengan cepat. "Tobirama minta maaf."
Sepasang kaki berlumur debu itu bergeming di hadapannya. Tobirama berusaha memadamkan kecamuk di batinnya. Apa yang akan diperintahkan ayahnya kali ini? Mengunjungi lima pos penjagaan di tengah kegelapan tanpa penerangan? Menangkap ikan di sungai deras dengan tangan kosong? Menyusup ke desa non ninja tanpa perbekalan? Jantungnya tak boleh berdebar-debar—
Sepasang kaki itu berbalik arah tanpa suara. Tobirama berlari-lari kecil di belakangnya. Jalan menuju ke perkampungan gelap gulita, tetapi ia dapat menghindari segala rintangan dengan mudahnya. Matanya tak diperlukan untuk mengindera. Perkampungan sudah senyap, persis seperti yang disukainya. Tak ada anak-anak yang berlarian, hanya lima orang dewasa yang mendapatkan giliran jaga, mengerumuni bara unggun di tengah lapangan. Kelimanya terlonjak begitu ayahnya maju, tetapi Butsuma hanya mengangkat tangannya dan menggandeng Tobirama menuju kediaman mereka.
Bocah itu berhenti sejenak di luar, berusaha membersihkan lumpur kering di celananya, tetapi langsung berhenti begitu diberi tahu.
"Kau tidak akan tidur di dalam."
"Baik, Ayahanda." Tobirama meletakkan kembali segenggam jerami yang ia pungut. Detik berikutnya, ia tergantung terbalik di udara. Pergelangan kakinya digenggam erat. Ia mengerjap, menyesuaikan diri dengan dunia yang berubah orientasi.
Sebuah tambang kasar dan tebal menahan bebannya dari balok di bawah langit-langit beranda. Kakinya yang tidak diikat menggapai-gapai di udara. Darahnya berdentum-dentum di telinga.
"Kau tahu apa kesalahanmu?"
Tambang berkeriut saat tubuhnya berputar perlahan. "Saya tidak langsung pulang setelah pemakaman. Saya di luar perkampungan…." Ia berhenti untuk mengatur napasnya. Rusuknya mulai ngilu. "Berada di luar kelamaan…."
"Lewat jam malam." Lengan Butsuma terlipat erat di dada. Alisnya menukik tajam.
"Lewat jam … malam," engahnya mengulangi. "Sekarang … ibunda pasti kedinginan—"
"Ibumu sudah mati waktu kau dilahirkan," potong ayahnya dingin. "Perempuan yang mati hari ini bukan keluargamu."
"...Bukan?" Jantungnya mencelos. Tapi ibundanya itu ibunya, itu mustahil. Adik-adiknya pun dilahirkan ibundanya itu, mengapa—
"Peraturan shinobi apa yang baru kaulanggar?"
Tobirama menggigit bibir. "Peraturan … peraturan yang…." Ia memutar otak sebisanya, tetapi sulit berpikir saat digantung terbalik begini. Sebelum ia sempat menjawab, ayahnya berbalik masuk rumah.
Ia sendirian sekarang.
Jemarinya menggapai-gapai, tetapi jelas tidak sanggup menjangkau ikatan di pergelangan kakinya. Belum lama ia tergantung, kepalanya sudah mulai pusing. Cakranya menyebar tak tentu di sekitar tubuhnya bagai genangan air dari ember bocor.
Bagaimana mungkin ibunya itu bukan ibunya? Peraturan mana yang ia langgar?
Penginderaannya menangkap gerakan di atap. Langkah tertatih kecil-kecil, terlalu berhati-hati. Ia berhenti bergerak-gerak, memusatkan seluruh perhatiannya ke makhluk di atap. Bukan kucing; terlalu berat. Jerami kering di atas berkeresak semakin keras dan semakin dekat, disusul suara yang sudah sangat ia kenal.
"Tobiii."
Susah payah ia menengok ke sumber suara. Wajah saudarinya menyembul dari batas atap. Tepatnya, sama-sama terbalik seperti dirinya. Sebelum ia sempat berkata sesuatu, Hashirama turun dengan lembut, lalu menjejakkan kaki ke dinding hingga ia dapat menegakkan diri dengan kepala di bawah. Langkah-langkahnya mantap menghampiri.
Tobirama ternganga. "Kakak bisa…?"
"Aku cuma meniru Paman Joji waktu mengembalikan sarang burung yang jatuh kemarin. Ternyata bisa." Dahinya berkerut saat jemarinya meraba ikatan tambang, mencoba mengurai simpulnya. Sesekali ia mencicit mengaduh ketika jemarinya tergores.
"Kakak tidur saja. Aku dihukum." Tobirama berusaha mengusirnya. Untuk apa Hashirama keluar gelap-gelap begini, sementara ia bisa tidur nyenyak di atas tatami yang hangat?
"Kamu bisa sakit tahu."
"Nanti Kakak yang dihukum!"
"Biarin!"
Hashirama mengiris tambangnya menggunakan sebuah shuriken tua. Dipeluknya tubuh Tobirama erat-erat sembari mendarat di lantai. Anak lelaki itu terhuyung dan limbung, segera ia bersandar ke tiang terdekat untuk mengembalikan keseimbangannya. Saudarinya membungkuk dekat, menyeka sisa tanah di pipinya. Ia memerhatikan wajahnya seolah Tobirama akan muntah kapan saja. Lama ia menghindarinya dengan menatap tambang putus di lantai. Mau kembali menggantung terbalik dirinya pun, talinya sudah tak bisa dipakai.
"Ayah akan marah besok."
Pernyataan itu diabaikannya. "Masih pusing?"
Tobirama menggeleng kecil. "Aku, 'kan, dihukum…."
"Aku nggak bisa bawa kamu masuk. Tapi kamu bisa tidur di gudang tua," Hashirama menawarkan, sekalian memimpin jalan ke tempat tersebut. Adiknya tak punya pilihan selain mengikutinya. Sesekali Hashirama menengok ke belakang, seolah khawatir Tobirama akan tertinggal. Separuh jalan berlalu, akhirnya ia menggamit tangan mungil adiknya.
Suasana masih sepi, sesekali terdengar sengguk tangis dari salah satu rumah. Masih ada anak-anak yang berkabung. Terbersit rasa bangga di hatinya karena matanya terus kering sepanjang hari.
Ibumu sudah mati waktu kau dilahirkan.
Tobirama tak punya energi untuk memikirkan hal itu. Ibunda yang dikuburkannya selalu bersikap begitu lembut dan sabar menghadapi keempat— ketiga anaknya ditambah dirinya. Atau mungkin dirinya dirawat karena mereka ini shinobi; selalu ada ruang bagi kepala ekstra. Jika dipikir-pikir, jumlah orang dewasa dan remaja yang dikuburkan cukup banyak juga. Semakin banyak wajah-wajah yang tadinya sering berseliweran di lapangan hilang tanpa kabar— setidaknya, bagi anak berusia lima tahun. Apakah ibunya yang asli juga begitu?
"Ada apa?"
Bangunan yang mereka tuju adalah gubuk kecil terpisah dari rumah-rumah lain. Kayunya sudah lapuk di sana-sini, dimakan cuaca musim panas yang tak kenal ampun. Pintu gudang terbuka lebar. Cahaya bulan menerangi isinya yang berantakan. Hashirama telah menarik sebuah meja, menyandarkannya ke atas sekotak senjata berkarat agar tidak terjungkal.
Tobirama diam di luar ambang. Batinnya gamang. Menghadapi pertanyaan saudarinya, mulutnya yang mungil hanya mampu bersuara, "Apa ibuku dan ibu Kakak lain…?"
"Kamu bilang apa…?"
"Ayah bilang begitu."
Bibir saudaranya membulat. "Aku nggak tahu…." Kepalan tangan Hashirama mengerat pada sebuah bantal tua. "Tapi kalaupun iya, kamu 'kan tetap adikku."
Tobirama maju selangkah. "...Sungguh?"
"Sungguh." Saudarinya berbalik, dan cahaya bulan menyinari wajahnya yang sembap meski tersenyum lelah. "Sini, tidurlah di atas meja. Lebih bersih daripada di lantai—"
Ia melambung melintasi ambang dan merengkuh pinggang kakaknya. Ia tak memusingkan peraturan mana yang baru ia langgar. Untuk sesaat, gadis kecil itu terpaku, lalu ia mengelus kepala putihnya dengan lembut.
Dalam hati, Tobirama berjanji tidak akan membiarkan nasib serupa ajal ibunya menimpa Hashirama.
.
.
Peraturan pertama dalam hidup ninja adalah larangan mencampuradukkan perasaan pribadi ke dalam misi. Maka pembunuhan pertama setiap shinobi bukanlah terhadap manusia.
Melainkan terhadap hatinya sendiri.
Pembunuhan ini tak jarang harus dilakukan beberapa kali dalam sepanjang hidup shinobi. Ayahnya selalu memuji, betapa baiknya Tobirama menguasai pembunuhan ini. Ia menerima semua instruksinya tanpa membantah, menjalankan tugas-tugasnya dengan baik, serta meningkatkan kemampuan tempurnya melampaui semua anak lainnya. Ia tidak menangis ketika mereka menguburkan ibundanya, Kawarama, Itama, dan akhirnya ayahanda mereka.
Namun, mengapa mendengarkan kakaknya terisak di balik pintu bisa terasa mengiris begini?
Lama ia tercenung di lorong yang gelap itu, terbagi antara memaksa masuk untuk menjelaskan atau pergi. Ini bukan masalah; semua shinobi menikah demi menghasilkan anak-anak yang kuat. Semua pernikahan shinobi diatur ketat, apalagi shinobi yang kuat. Kakaknya seharusnya tahu nasibnya pun akan begitu demi kebaikan klan.
Hashirama dan dirinya tak pernah serupa. Sekata dalam masalah klan, tetapi berbeda dalam sederet hal lainnya. Hashirama tak pernah disiapkan menjadi shinobi. Hashirama tak pernah diajarkan caranya membunuh hatinya sendiri.
Selama mereka tumbuh bersama, Tobirama menyadari betapa seringnya Hashirama membuat pembatas di antara mereka berdua. Seakan ada garis yang tak bisa dilaluinya, jelas menggarisbawahi perbedaan mereka. Satu kibasan tangan dan sepatah perintah, ia mencipta ruang yang terlarang baginya untuk dimasuki.
Namun, Madara tidak tunduk pada aturan tak tertulis itu. Ia satu-satunya yang bisa bebas keluar masuk. Tanpa permisi kepada dirinya. Bahkan membawa Hashirama ke ruangnya sendiri. Bukan hanya soal semalam saja. Dahulu pun begitu, ketika Hashirama nekat pergi demi menyembuhkan Izuna yang ia lukai.
Omong-omong Izuna….
Rutinitas pagi hari Tobirama rusak. Wanita itu tak terlihat di manapun meski Tobirama telah menanti lama di lapangan tersembunyi itu. Belum pernah ia absen dari pertemuan pagi hari mereka sejak klannya pindah ke Konoha. Ini aneh, Izuna pun belakangan bersemangat untuk melatih susano'o-nya. Tak mungkin ia hilang tanpa alasan.
Gelisah menyelusup. Apakah Madara memberitahunya soal kejadian semalam? Tak masuk akal; kalaupun iya, mereka berdua telah sepakat meninggalkan persoalan kakak mereka selama latihan. Tak lagi menjadi yang kedua di mata ayah dalam kenangan masing-masing.
Tak lagi memprioritaskan urusan kakak masing-masing, meski hanya enam puluh menit saja.
Tobirama bangkit berdiri, membuat kode dengan jari tangannya. Para ANBU mengawasinya tanpa henti. Jika ada sesuatu terjadi, mereka akan langsung melaporkannya.
"Senju-sama." Seorang ANBU bertopeng segera muncul di belakangnya, berlutut memberi hormat.
"Di mana Uchiha Izuna?"
"Menuju gerbang timur bersama kakaknya. Uchiha Madara akan memimpin pasukan tambahan menuju perbatasan Tsuchinokuni."
Di depan gerbang, lebih dari seratus shinobi berkumpul. Semuanya mengenakan zirah dan pelindung kepala yang baru ditempa. Pelat logamnya berkilat-kilat ditimpa sinar matahari. Beberapa orang masih bercengkerama dengan keluarga masing-masing. Anak-anak mengagumi pelindung baru orangtua mereka. Lambang daun Konoha terukir di permukaannya.
Hashirama sudah ada di sana, mengenakan jubah putih Hokagenya lengkap dengan topi lebar berwarna merah. Ia sedang membicarakan taktik dengan Yamanaka Inoha. Seolah mendeteksi kehadirannya, pembicaraan mereka terhenti. Hashirama berbalik, dan segala kata yang akan diucapkan Tobirama lenyap tak berjejak. Matanya masih bengkak dan merah.
Perasaan aneh langsung menyergapnya, menjebaknya. Ia berhenti tiga meter dari saudarinya. Mereka beradu pandang, sesaat tampak akan memulai interaksi, sampai tatapan Hashirama bergeser dari adiknya, jatuh ke sosok di belakangnya.
"Uchiha-san."
Madara melaluinya begitu saja seolah tidak melihatnya berdiri di situ. Ia mengangguk singkat kepada wanita itu. "Hokage-sama. Anda tampak buruk."
"Saya tidak sempat tidur, mengurus tumpukan laporan." Hashirama tersenyum simpul. Senyuman yang tidak mencapai matanya. "Ini." Ia mengulurkan sebuah pelindung kepala.
Kejanggalan menyergapnya, dan mau tak mau Tobirama memaksa diri waspada. Percakapan singkat mereka terdengar seperti pertukaran salam sepasang komandan perang pasukan berbeda. Tangan bersarung Madara meraih pelindung kepala itu, sedetik terlalu lama di atas tangan Hashirama, sebelum membawa benda itu ke dahinya. Terikat erat di sekeliling kepala. Tatapan mereka tidak terlepas dari mata satu sama lain. Ada getaran tipis di udara yang tak bisa ia hindarkan dari penginderaannya.
Selapis tebal cakra lain menamparnya dari belakang. Tobirama terhuyung. Ia membalikkan tubuh, tetapi tak melihat apapun selain punggung Izuna yang menjauh tergesa-gesa sampai nyaris menabrak penjaja sayuran keliling. Kuncirannya mengibas liar.
Ada apa dengannya?
Tobirama tak sempat memikirkan sebabnya. Ia menemukan Ukyo berdiri jauh dari barisan, ditemani oleh tak lain tak bukan Shimura Hisao sendiri. Mereka hanya mengobrol, sesekali menunjuk ke arah pasukan. Kelihatannya sama sekali tidak berbahaya, tetapi ia tetap saja curiga.
Para keluarga mendadak mundur sampai ke batas gerbang, menyeret Tobirama dalam massa. Samar-samar didengarnya Hashirama berpidato singkat, menyebut-nyebut kepercayaan Kaisar Nobutada dan ancaman Iwagakure terhadap teritori Hinokuni. Kecurigaan menghinggapi Tobirama. Hashirama tidak terdengar seperti Hashirama ; suaranya terlalu formal dan ekspresinya kaku. Pidato membosankan begini bukan gayanya.
"Mereka kenapa, sih?" Tobirama mendengar seorang perempuan berbisik tak jauh di belakangnya. "Berantem?"
"Pasti," perempuan lain menimpali. "Iparku bilang ternyata Hokage-sama sudah lama bertunangan—"
"HAAH?"
Terdengar suara pukulan dan seruan mengaduh. "Tapi belum lama ini Paman Mori mengirim lamaran untuknya," protes wanita pertama sambil berbisik-bisik.
"Mana kutahu. Pertunangan kunoichi sekelas Hokage, 'kan, sering direncanakan diam-diam. Padahal nona Senju ini sudah pernah menginap di kediaman Uchiha…."
"Mereka sudah seserius itu? Kasihan sekali! Jadi ini mengapa Uchiha-san langsung memimpin pasukan. Biar cepat pergi jauh-jauh."
Tobirama tak tahan lagi. Ia menoleh ke belakang, sedikit saja sampai menemukan para biang gosip itu. Keduanya buru-buru mengalihkan pandang dan mundur ke belakang. Barisan pasukan itu mulai bubar, satu persatu melesat masuk ke pepohonan. Kerumunan massa melambai kepada mereka, meneriakkan ucapan selamat tinggal. Namun, Madara masih tetap di tempat.
"Prioritaskan pengambilan informasi," Hashirama berbicara dengan suara rendah, berjalan bersisian dengan kepala klan Uchiha itu. Keduanya nyaris sama tinggi, saudarinya memang jangkung untuk ukuran perempuan. "Terutama jurus dan kekkei genkai. Mata-mata kita akan menemui Anda di wilayah yang diperebutkan."
"Dimengerti."
"Anda harus kembali sebelum tiga minggu. Kita akan berangkat bersama-sama dari desa menuju kastel Nobutada."
Tobirama bisa melihat ketidaksetujuan tergambar dalam ekspresi Madara, tetapi pria itu hanya mengangguk singkat. Dalam sepersekian detik, mata itu berubah merah terarah kepadanya. Penuh dengan dendam.
Lalu ia menghilang.
Lama Hashirama memunggunginya, menatap jalan lebar keluar desa sendirian saat semua orang sudah pergi. Kaki Tobirama serasa diberati beban latihan. Sendi-sendinya bagai terkunci oleh jurus lilitan Nara. Tenggorokannya, lidahnya, seluruh isi mulutnya sekering padang pasir Kazenokuni.
"Oh, Tobirama." Saudarinya berbalik, gontai menghampirinya. "Kau sudah menerima laporan terbaru dari garis depan?"
"Sudah—"
"Aku ingin analisis dan taktik dari para peneliti secepatnya. Buat salinannya juga ke kepala Akademi." Hashirama menghela napas dalam dan memijat pelipisnya.
"Hokage-sama!" Gadis kurus berpakaian serba putih ala penyembuh buru-buru menghampirinya. "Di sini rupanya Anda … sarapan dan obat Anda sudah siap di kantor." Sambil menggandeng lengan Hashirama, mata putih gadis itu mengerjap melihat Tobirama. "Senju-sama, selamat pagi."
Ia sudah siap mendampingi mereka kembali, tetapi dilihatnya wakil kaisar meringis lebar mendatangi dengan langkah-langkah panjang.
"Nona Hokage tampaknya tidak sehat," komentar Ukyo sambil memperhatikan punggung Hashirama menjauh dibantu gadis Hyuuga itu. Wajahnya berseri-seri. "Nobutada akan senang mendengar tambahan pasukan di garis depan. Wilayah kita akan semakin luas."
Tobirama mengabaikannya, memilih untuk mengedarkan pandangan. "Tadi Anda bersama Shimura-san?"
"Oh, ya, tadi dia mengundangku ke kediaman klannya. Perayaan panen, mirip-mirip dengan pesta kaisar. Aku biasanya, sih, datang. Tahun ini aku ditugaskan di sini jadi sekalian saja berpesta di sini." Ukyo menghirup udara dalam-dalam, tampak begitu puas. "Eh, Anda sekarang ketua klan? Datang saja. Petinggi semua klan diundang."
Alisnya terangkat. "Semuanya?"
"Minus siapa namanya kepala klan bermata merah itu, Uchiha? Adiknya sih akan datang—"
"Saya akan menyempatkan datang," potongnya tiba-tiba, mengejutkan dirinya sendiri.
"Bagus. Bagus sekali." Pipi tirus Ukyo berkerut ketika ia menyeringai. "Makin ramai makin seru."
.
.
Usianya dua belas tahun, dan Tobirama tak sempat beristirahat.
Pagi itu ia meminta pada semua kerabatnya yang bertugas mengumpulkan kayu bakar untuk mencari berbagai jenis kayu dari hutan. Kayu apel, kayu ceri, cemara dan ek. Masing-masing dipotong sama panjang dan diikat agar mudah dibawa. Ia telah ditugaskan membantu kakaknya melatih mokuton-nya. Mengenali karakter setiap pohon penting untuk meniru kekukuhan mereka.
Mereka baru saja pulang saat fajar dari pertempuran pertama Hashirama. Lawan mereka sekumpulan bandit gunung yang dikepalai seorang shinobi tua entah pelarian dari klan mana yang mengajari kelompok itu ninjutsu. Sepanjang pertempuran Hashirama terus menempel dengannya, khawatir ia akan terluka, sampai Tobirama harus mengingatkannya bahwa ia memiliki lebih banyak pengalaman di medan tempur.
Pertempuran kemudian berjalan mudah. Hashirama bisa mengatasi para bandit dewasa dengan mokuton-nya; tak ada yang menyiapkan diri menghadapi kekkei genkai ini. Kayu-kayu tumbuh liar di sana-sini, menerjang bandit yang tak awas. Klan Senju bisa maju dengan cepat, sampai gadis itu bersua dengan bandit seusianya, dan tubuhnya membeku. Mokuton-nya terurai seiring dengan bilah pisau yang menancap di perutnya.
Kayu-kayu di panggulannya ia jatuhkan ke tanah. Hashirama tak terlihat di tempat mereka biasa berlatih. Hanya suaranya yang penuh derita, bergaung dari balik sesemakan. Berjingkat ia menghampiri gadis itu, yang masih berzirah lengkap membungkuk memuntahi pangkal cemara. Bau asam segera menyergap penciumannya.
Dahinya berkerut. Hashirama tak pernah sakit, bahkan sebelum mokuton-nya bangkit.
Tanpa suara, ia pegangi rambut panjangnya sampai Hashirama berhenti mengeluarkan isi perutnya yang tak seberapa. Dibantunya ia duduk sebelum bertanya, "Kakak kenapa?"
Hashirama hanya menggeleng lemah seraya menunduk. Napasnya masih berat. "Bau darahnya … bau darah mereka … aku nggak bisa lupa…."
Tobirama tahu siapa yang dimaksudnya. Darah kering masih tersisa di ikat kepalanya, muncrat ketika Tobirama menebas anak-anak bandit yang menyergapnya. Mereka menggelepar meregang nyawa di hadapannya. Ia terpaksa menyeret pergi Hashirama yang terpaku sembari meneriakinya Ambil pedangmu, Kak! Jangan bengong; kita masih bertarung!
"Hanya bandit, Kak. Darah semua orang baunya sama." Tobirama menunduk, mencari-cari di antara pelat zirah. Pelindung tubuh saudarinya nyaris bersih tak bernoda.
"Mereka anak-anak, Tobirama, lebih muda daripada kamu…."
Cepat-cepat ia menambahkan, "Bukannya anak perempuan lebih akrab dengan bau darah?"
Hashirama menatapnya dengan kelelahan nyata tergurat pada kulit wajahnya. "Darah orang mati berbeda baunya dengan darah dari kehidupan yang tak pernah dimulai."
Tobirama bungkam, memilih untuk melepas jalinan pengikat zirah kakaknya satu persatu. Kemudian diambilnya kayu-kayu yang tadi ia panggul. Namun, Hashirama masih terpaku pada persoalan darah kering itu.
"Aku terus menerus melihat wajah Kawarama dan Itama," kata gadis itu lirih.
"Mereka sudah lama mati," kilahnya sambil membuka ikatan kayu.
"Aku melihat mereka di wajah bandit-bandit muda itu."
Kayu-kayu terserak berkelotakan. "Kakak bisa bertarung dari jarak menengah atau jauh dengan mokuton. Kakak nggak perlu menghadapi mereka begitu dekat."
Zirahnya diletakkan di rumput begitu saja. Hashirama membenamkan wajahnya dalam telapak tangan dan mendesah panjang. Tobirama tak memedulikannya, ia selalu tahu saudarinya cepat bangkit dari suasana hati yang jelek.
Sesuai perkiraannya, perlahan akhirnya Hashirama beranjak mendekati. "Ini semua kayu bakar."
"Beberapa terbakar lebih lama dari yang lain." Tobirama mengambil kayu ceri, lega pembicaraan mereka berganti topik. "Kuncinya kandungan air di dalam kayu. Jika terbakar hanya akan menghasilkan asap. Apalagi kalau tebal. Kakak bisa meniru strukturnya…."
Bibir Hashirama sedikit terangkat. "Akan bagus untuk menutup pandangan lawan. Aku mengerti." Kemudian ia berkeras bisa mempelajarinya sendirian saja, sehingga Tobirama kembali ke perkampungan lebih dulu.
Ia menemukan ayahnya dengan mudah, dan tanpa diminta menceritakan segalanya yang ia dengar dan alami. Mulai dari pertempuran mereka kemarin hingga kejadian barusan.
"Kakak sakit," ia mengakhiri laporannya. "Muntah-muntah di semak."
"Minta penyembuh mengawasinya malam nanti." Butsuma mendengarkan sembari membersihkan senjatanya. "Uzumaki Ashina sudah mengirim nama calon suami Hashirama. Dia Nobuo, yang dulu sempat ke berkunjung ke sini."
Tobirama mengerjap. "Apa Kakak sudah tahu?"
"Kita tidak akan memberitahunya." Butsuma menyarungkan pedang, matanya berbinar. "Kakakmu orang yang nekat. Dia bisa saja menawarkan diri untuk dinikahi klan Uchiha agar kita berhenti perang. Leluhur kita akan murka padaku kalau dia sampai berbuat begitu." Ia berdecak keras-keras.
Anak lelaki itu memusatkan perhatian pada gagang pedangnya. Beberapa saat lalu, gagang itu masih bercipratan darah.
"Untung kau ada di dekatnya tadi. Dia masih selembek perempuan biasa." Butsuma mendengus. "Egois dan tolol."
Tobirama bergeming. Ia masih mengingat jelas suara dan ekspresi saudarinya ketika mereka membuka peti Kawarama— tepatnya, peti yang membawa separuh tubuh Kawarama pulang. Divisi mayat menemukannya tercabik-cabik jadi puluhan bagian. Waktu yang sempit membuat mereka tak sempat memunguti serpihannya yang lain. Ia juga ingat bagaimana Hashirama nekat menyusup ke medan perang melawan klan Uchiha, hanya untuk menemukan Itama sudah tak bernyawa dibantai tiga pria dewasa.
Betapa gegabahnya.
Ayahnya melanjutkan dengan nada monoton, "Uchiha Tajima terlanjur tahu ia punya mokuton. Aku tak punya pilihan selain melatihnya menuju garis depan." Peralatan asahnya ia singkirkan. "Inilah mengapa aku tidak mengizinkannya menjadi kunoichi. Darahnya terlalu berharga, sedangkan pekerjaan kunoichi terlalu kotor untuknya."
Sepengetahuannya, kunoichi bertugas mengumpulkan informasi dan memata-matai target. Tobirama tidak mengerti bagian mananya yang kotor.
Melihat kebingungannya, Butsuma melanjutkan, "Kunoichi tidur dengan pria asing demi tugasnya. Menghina sekali jika kuberikan anak yang sudah tidak perawan kepada cucu Ashina. Kau mengerti?"
Ia menggeleng.
"Anaknya— cucuku yang dia lahirkan harus berdarah sekuat dan semurni mungkin. Mokuton itu langka. Pasangannya harus dipilih dengan cermat agar kemampuan itu bisa sukses diwariskan. Shinobi terkuat lahir dari orang tua yang kuat juga."
Masih ada yang mengganjal di tenggorokannya. "Ayahanda, boleh saya berbicara?" Ayahnya tidak menolak, maka ia melanjutkan, "Kita masih membutuhkan mokuton Kakak untuk berperang. Bukankah jika Kakak pergi ke Uzushio, kekuatan tempur kita akan berkurang?"
"Selama kau membantunya, kita bisa menguasai klan-klan lain dalam waktu dua atau tiga tahun. Kakakmu akan cukup dewasa untuk mengandung dan melahirkan. Kita dapat mempererat hubungan dengan Uzumaki dan mendapatkan lebih banyak pengguna mokuton." Butsuma menegakkan diri. "Kau akan jadi kepala klan suatu hari nanti. Mulailah berpikir sepertiku. Klan di atas segalanya."
"Klan di atas segalanya," Tobirama mengulangi fasih sembari memohon diri.
Sore telah bergulir menggulung biru langit ketika Tobirama pergi mencari kakaknya yang sedari tadi tak kunjung pulang. Di tangannya terdapat sekantung obat racikan dari tangan peracik. Ia menemukannya masih di tempat yang sama, dengan kayu-kayu terpilin aneh hasil mokutonnya berserakan di sekitar. Namun, ia tak berani mendekat. Ayahnya ada di sana, berkacak pinggang.
"Berhenti?" gelegarnya penuh murka. "Ide setan dari mana itu, Hashirama? Justru membunuh anak-anak adalah bagian termudah sebelum mereka jadi lebih ahli dalam bertempur."
"Ayahanda, saya tidak sanggup…."
Sesuatu dalam suara Hashirama membuat adiknya tertegun. Serak. Putus asa.
Memalukan martabat shinobi.
Butsuma mondar-mandir tak sabaran. "Itu yang akan kauhadapi di garis depan! Jangan memalukan nama Senju seperti ini."
Hashirama susah payah mendorong dirinya berdiri, giginya mengertak kesakitan. "Tapi anak-anak nggak harus mati, Ayah—!"
"Kauingin klanmu mati tak bersisa?" gelegar pria itu. "Kauingin menyia-nyiakan bakatmu? Mati saja kalau itu maumu!"
Tobirama menanti sampai ayahnya keluar dari jangkauan penginderaannya untuk turun dari cabang pohon. Hashirama menatap cakrawala dengan tatapan kosong. Ia bahkan tidak menoleh ketika berbisik, "Ayah nggak mau mendengarkanku…."
Adiknya menggamitnya. "Ayo pulang, Kak."
"Kenapa kamu bisa tahan…?"
"Aku, 'kan, shinobi," jawabnya. "Kakak sekarang juga."
Hashirama menghela napas. "Aku shinobi yang payah."
"Nggak," balas Tobirama tak sabar. "Kakak cuma butuh berlatih."
"Aku nggak bisa setega Ayah menyaksikan anak-anak mati."
"Klan kita membutuhkan Kakak. Ayolah."
"Tapi…."
"Akan kubantu. Percaya saja padaku." Tobirama menjejalkan kantung obat itu ke tangan saudarinya. Ujung jarinya dingin.
Tidak ada jawaban lagi. Hashirama mengikutinya pulang dalam diam.
.
.
"Apakah tubuh keluarga kami tidak akan kenapa-kenapa di dalam?" cecar seorang wanita sepuh Akimichi. Pipinya yang bergelambir bergoyang-goyang. "Segel itu aman, 'kan?"
"Hanya memperlambat pembusukan, Bu," Tobirama menerangkan. Anggota divisi mayat sedang membuka gulungan di hadapan keluarganya dan mengurai segelnya.
Seminggu setelah Hokage melepas kepergian pasukan shinobi terbaru, kurir dari garis depan mulai kembali membawa korban jiwa. Hari ini pun Tobirama mengawasi para pemuda Akimichi mengambil kerabat mereka dari gulungan. Penggunaan gulungan segel untuk membawa pulang shinobi yang gugur tidak umum di kalangan klan lainnya, sehingga berulang kali ia harus menghadapi pertanyaan dari masyarakat. Wanita yang menanyainya mengawasi proses itu lekat-lekat, alisnya menukik curiga.
"Kalian masih saudara dengan klan tukang segel itu, 'kan?" tanyanya lagi, suaranya dikeraskan mengatasi seruan duka yang mulai bergema di pekarangan kediaman klannya.
"Klan Uzumaki, ya," jawabnya sabar, mengabaikan frasa 'tukang segel'. Tobirama menjauh sedikit dari orang-orang, menghindari shinobi yang mondar-mandir membawa gulungan. Ia tak ingin percakapan mereka dikuping orang lain, terutama sanak saudara wanita ini. "Mereka banyak memberi klan kami bantuan dalam mendirikan Konoha. Pengetahuan tentang segel ini salah satunya."
Wanita itu mengangguk-angguk. "Baik sekali. Tapi mengapa mereka tidak ikut tinggal di sini?"
"Uzushiogakure tidak bisa ditinggal begitu saja."
"Huh…." Cuping hidung wanita itu mengembang. "Mencurigakan."
"Apanya, Akimichi-san?" Tobirama balas bertanya. Nadanya ia atur agar tidak menyinggung wanita sepuh itu.
"Mereka memberi klan Anda banyak jurus penyegelan, padahal semua orang juga tahu mereka ini sangat berahasia." Gelang-gelangnya bergemerincing riuh. "Kami tahu mereka juga pedagang yang sangat ulet dan ahli. Sudah mandiri."
Tobirama memilih untuk membelokkan percakapan. "Mereka banyak memasok makanan laut ke pedalaman Hinokuni, benar sekali."
Matanya membulat seketika. "Pakai segel?"
"Pakai segel."
Tobirama meninggalkan tempat itu usai menyerahkan komando kepada seorang kurir yang tampak puas diberi kepercayaan olehnya. Percakapan barusan sama sekali tak mengganggunya. Setidaknya, itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri….
Jadi kau berniat membarterku sebagai pelunas utang, begitu?
Ia berhenti berjalan, tersembunyi di kelokan yang memisahkan rumah sakit dan Akademi. Matanya ia pejamkan, mengusir wajah terkejut Hashirama yang terus menghantui benaknya sejak semalam. Ia akan meluruskan masalah ini segera. Saudarinya pasti akan paham maksud tindakan ayah mereka.
"Tobirama-san!"
Tobirama menahan kekesalan yang tumbuh mendengar namanya dipanggil. Nara Shikana keluar dari pintu belakang Akademi. Ia mengacungkan sebuah map kepadanya, wajahnya yang pucat tampak kesal. "Anda serius soal ini?"
"Soal apa?" Tobirama bergeming.
"Anak-anak penduduk desa yang baru pindah. Mendaftar ke Akademi." Dibukanya map itu. "Lihat. Banyak nama-nama tanpa klan di sini."
Hanya sekilas ia meliriknya. "Ini bukan masalah."
"Tentu saja ini masalah. Mereka bukan berasal dari keluarga shinobi!" serunya. "Mereka hanya tahu caranya membajak sawah dan mengurus ayam-ayam. Menggunakan cakra, mana tahu?"
"Anda melamar posisi sebagai guru di Akademi, Nara-san," balas Tobirama dingin. Sudut matanya mulai berkedut. "Tugas Anda adalah mengajari para murid tanpa pengecualian."
"Murid dari keluarga shinobi, ya."
"Tanpa pengecualian, Nara-san," ulang Tobirama sambil menutup map itu. "Kita semua tahu siapapun bisa diajari menggunakan cakra mereka."
Rahang Shikana mengeras. "Entah apa tujuan Anda memasukkan anak-anak itu ke Akademi. Mereka akan mati di misi pertama mereka."
"Konoha membutuhkan mereka semua. Sang Hokage tidak melihat latar belakang mereka, tapi apa yang bisa mereka lakukan demi desa."
"Oh, jadi ini perintah Hokage?"
"Jelas," Tobirama berbohong.
"Bukan hanya aku seorang yang berpikir begini. Anda sebaiknya mendiskusikan hal ini dengan Hokage. Aku tak mau bertanggung jawab jika mereka tak bisa lulus Akademi." Kemudian Shikana berlalu begitu saja.
Beberapa hari terakhir ini ia mendengar desas-desus di kalangan shinobi dewasa yang mempermasalahkan kebijakan Akademi mengambil murid dari semua kalangan, termasuk petani. Protes yang mereka lancarkan pasif, hanya memilih untuk mendidik sendiri anak-anak mereka. Akademi mengintegrasikan pengetahuan tempur dari semua klan, sehingga masih banyak diminati dan Tobirama tidak memikirkan ini lebih jauh lagi. Keutuhan desa belum terancam olehnya.
Langkahnya terhenti di sisi lapangan. Pagar kayu setinggi dadanya memisahkan tempat itu dan jalan. Ia mengindera setidaknya ada sepuluh remaja bersembunyi tersebar di sudut lapangan dan hutan di seberang jalan. Cakra mereka ditekan begitu kuat, walau masih bisa ia indera. Terdengar dari ujung jeritan dan gelak tawa. Satu persatu murid berusia sekitar lima belas tahun keluar dengan gontai, lalu duduk di tengah lapangan. Satu pipi mereka dicoret dengan tanda silang merah besar. Dari obrolan murid-murid yang muncul, Tobirama menyimpulkan mereka bermain petak umpet. Bermain mungkin bukan kata yang tepat— wajah-wajah mereka masih menyisakan ketakutan.
Gelak tawa tunggal membelah udara dan semakin memaku dirinya di tempat itu. Suaranya semerdu burung-burung uguisu di permulaan musim semi. Sesosok wanita langsing melangkah keluar dari batas hutan, menggandeng seorang anak lelaki berambut cokelat yang cemberut. Pipinya pun sudah dicoret. Ia manyun seraya bergabung dengan teman-temannya.
"Dua puluh orang!" serunya merdu, "Dua puluh orang gagal! Kalian semua akan mati terindera musuh!"
Tobirama paham wanita itu sedang menegur para siswa Akademi, tetapi suaranya tidak terdengar kesal sedikitpun. Lebih merdu daripada petikan shamisen, atau gemercik anak sungai tempatnya biasa menangkap ikan.
"Bayangkan jalur-jalur cakra di sekujur tubuh kalian menyusut kosong, dan cakra kalian terpusat di perut! Hanya itu saja!"
Ada yang salah.
Ada yang salah dengan cara dirinya mencerna situasi.
Jantungnya berdebur kencang, seolah ia masih muda menghadapi pertumpahan darah pertamanya. Kali ini, ia tak bisa mendiamkannya.
Dalam dua tahun terakhir ini Senju Tobirama bertemu Uchiha Izuna setiap hari, kadang berkali-kali dalam sehari. Berjam-jam berdiskusi atau membacakannya buku. Tapi belum pernah— berani sumpah belum pernah dirinya mendengar suara Izuna semerdu ini, membekukannya di tempat bagai disambar raiton.
Tobirama tak ingin beranjak, ada kecemasan menggigiti tepi batinnya. Jika ia pergi sekarang, ia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan lagi.
Namun, cakra Izuna mengguyurnya serupa air es, dan Tobirama tersadar dari kebekuannya.
Wajahnya berpaling sebelum orang lain menyadarinya di situ. Ia berjalan secepat mungkin, mengubur kejadian barusan dalam-dalam di benaknya. Langkahnya baru melambat begitu masuk ke gedung kantor Hokage dan menapaki anak tangga.
Buku. Buku-buku akan menenggelamkan perasaan aneh ini. Ia masih punya banyak literatur Uzumaki untuk ditelaah. Cukup untuk menyibukkannya hingga malam nanti—
"Aaa!"
Rusuknya dihantam benda tipis tumpul. Mangkuk-mangkuk berkelotakan di lantai kayu, isinya muncrat ke segala penjuru. Segumpal nasi dingin melorot dari haori Tobirama, jatuh menceplak. Seorang gadis kurus berseru nelangsa seraya membereskan kekacauan itu. Peralatan makan ia tumpuk kembali ke nampan kayu, sementara sisa makanannya yang cukup banyak ia sendokkan dengan tangan asal-asalan ke atas mangkuk terdekat. Tobirama buru-buru berlutut membantunya, merutuk kecerobohannya yang tak wajar.
"Maafkan saya, Senju-sama, saya tadi berlari…."
Tobirama mengabaikan permintaan maafnya. Gadis itu yang tadi pagi bersama Hashirama. Ia pun tadi datang dari arah kantor di lantai tiga gedung ini. "Makanan siapa ini?"
"Untuk Hokage-sama…." Dahinya mengernyit sedih menatap isi nampannya. "Tapi dimakan pun tidak. Kakak Anda dari pagi belum makan apa-apa."
Pria itu menatap tangga mengular ke lantai atas. "Sedang apa dia sekarang? Masih bekerja?"
"Istirahat di kamarnya." Gadis Hyuuga itu berdiri, tumpuan tubuhnya berpindah dari satu kaki ke kaki lainnya. "Senju-sama … apakah berita itu benar?"
"Hm?" Tobirama menoleh, dan gadis itu segera menundukkan pandangan.
"Kalau … kalau ternyata Hokage-sama sudah punya tunangan…." Kalimatnya menggantung, dan ia malah terlonjak sendiri. "Ah— maaf! Maafkan saya!" serunya sebelum berlari ke lantai bawah.
Seraya melanjutkan langkah ke lantai tiga, Tobirama bertanya-tanya sudah berapa banyak orang yang tahu soal pertunangan saudarinya yang rahasia itu. Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya ia tidak kelepasan.
Namun, melihat Madara lagi-lagi begitu leluasa keluar masuk ke ruang saudarinya membuatnya mendidih.
Tidak boleh, tidak bisa— shinobi macam apa yang tak bisa mengatur emosinya sendiri? Latihannya selama bertahun-tahun kacau balau.
Seperti kata gadis pembawa makanan tadi, kantor Hokage kosong. Mejanya rapi bersih, janggal bagi mata Tobirama. Cahaya matahari sore masuk dari sederet lebar jendela, membanjiri kantor dengan sinar keemasan. Pintu ke apartemen privat Hokage terbuka sedikit. Tercium rebusan herbal dari celah itu. Tangannya belum meraih pegangan ketika didengarnya suara tak wajar. Muntahan panjang teredam.
Tanpa repot-repot mengetuk, ia menghambur masuk. Hashirama terduduk di kursi panjang berbantal. Kedua tangannya memegangi tempat sampah kayu. Buru-buru diletakkannya di lantai, dan sikapnya diatur sedemikian rupa.
Tobirama bergeming, menatap satu-satunya benda di meja rendah. Sebuah gelas kosong berbau herbal segar.
"Ada apa?"
Ekspresi Hashirama datar, tetapi kentara pucat. Sama seperti saat ia melepas kepergian pasukan tadi, tak ada kehidupan berkobar di kedua matanya.
"Hanya ingin melaporkan beberapa hal, Hokage-sama" jawab Tobirama singkat. "Saya baru dari kediaman Akimichi."
Sang Hokage menepukkan tangannya sekali. ANBU yang mengawalnya seketika menjauh dari sekeliling kantor. Tubuhnya disandarkan. "Bicaralah."
Tobirama duduk di hadapannya, menjelaskan dengan monoton tentang penguburan shinobi Akimichi yang gugur di garis depan, serta Nara Shikana yang memprotesnya. "Kukatakan bahwa keputusan menerima anak-anak petani itu di Akademi adalah perintah Hokage."
Wanita itu mengerjap. "Aku tidak pernah mengatakan hal itu."
"Saya tahu. Mereka yang tidak setuju masih enggan membagi ilmu mereka kepada non-shinobi. Saya pikir sebaiknya semua orang yang tinggal di Konoha mengetahui protokol kerahasiaan dan keamanan shinobi. Ini penting untuk Hinokuni."
Pada kata terakhir itu, Hashirama mengalihkan pandangan. "Aku setuju," katanya lirih, tetapi Tobirama tahu ada ganjalan pada persetujuannya. "Besok atau lusa aku akan meninjau Akademi. Ada laporan lain?"
Ia menggeleng. "Itu saja. Selamat siang."
Tobirama meninggalkan apartemen, tetapi tetap tinggal di dalam area kantor. Tiga lembar laporan misi terserak di meja Hokage. Semuanya sudah dicap. Ia membacanya lamat-lamat, tak menghiraukan suara muntahan yang kembali berkumandang dari arah apartemen. Sesuai dugaannya, terdengar gema langkah tergopoh-gopoh dari bawah tangga. Pria itu berbalik tepat ketika gadis yang ia tabrak tadi terengah-engah kembali dengan segelas penuh ramuan herbal. Baunya serupa dengan gelas kosong di dalam apartemen tadi.
Si gadis membeku di puncak tangga. Matanya yang putih pucat melirik pintu apartemen dan Tobirama bergantian.
"Itu untuk Hokage?" tanyanya sambil menghampiri. Warna isi gelasnya hijau keemasan. "Sejak kapan sakitnya?"
Si gadis Hyuuga mengangguk takut-takut. "Pagi buta ini … waktu Hokage-sama membantu di rumah sakit…."
"Hashirama tidak pernah jatuh sakit." Tobirama mengambil gelas itu. Aromanya menyegarkan. "Jadi ini untuk apa?"
Ketakutan di wajahnya berganti dengan raut kebingungan. "Senju-sama belum tahu?"
.
.
Ketika Tobirama kembali ke apartemen Hokage beberapa detik kemudian, Hashirama mengangkat wajahnya dari tempat sampah. Ia berbisik, "Jadi kamu sudah tahu."
Pria itu meletakkan gelas rebusan di meja makan hingga isinya terciprat keluar. Berkali-kali ia membahayakan relasi Senju dengan Uzumaki, dan berkali-kali juga Tobirama berhasil mencegahnya sesuai mandat ayah mereka. Kecuali kali ini.
"Kemarikan gelasnya, Tobirama. Tolong."
"Apa yang Kakak pikirkan?" tanyanya, mengabaikan permintaannya.
Hashirama menyeberangi ruangan menuju meja makan. Jemarinya melingkar di separuh atas gelas itu, tetapi Tobirama bergeming. Ia mempertahankan genggamannya di gelas yang masih panas, mengabaikan rasa sakit menyebar di kulitnya.
Merah gelap bertemu cokelat tua. Kulit di sekitar mata saudarinya tampak lebih gelap. Rambut legamnya tidak serapi biasanya.
"Tobirama, lepaskan."
Sang adik mengeratkan pegangannya. "Jawab dulu." Ia tak bisa memungkiri seluruh keberadaannya bersiap menerima terpaan gelombang cakra dari Hashirama, sama seperti seminggu lalu di ruangan sebelah.
Namun, hal yang ditunggunya tidak kunjung tiba.
"Aku memercayaimu, Tobirama." Hashirama menarik napas berat. "Tadinya."
Respons yang tak terduga itu melemahkan genggamannya pada gelas. Saudarinya memanfaatkan celah itu dan mengangkat rebusannya dari meja. Tangan Tobirama yang kini kosong mengepal dan membuka. Rasa sakit di dadanya kembali lagi.
Saudarinya memang sering bertindak konyol dan gegabah. Sering Tobirama merasa ialah yang harus bertindak lebih rasional meski Hashirama anak sulung. Koreksi— saudarinya memang yang pertama lahir, tetapi Tobirama adalah anak lelaki sulung Senju Butsuma. Semua tanggung jawab yang dipikul ayahnya selama hidup dilimpahkan kepadanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Tobirama merasa gagal menunaikan tugas baik sebagai shinobi maupun sebagai anak.
Usai menyesap separuh rebusan mendidih itu, Hashirama hanya terdiam memandangi gelasnya. Tangan kirinya masih memijat pelipisnya. Tobirama menyadari raut wajahnya pucat.
"Apa yang aku pikirkan…." Saudarinya mengangkat muka, menjauh dua langkah dari meja. "Kurasa kamu tahu jawabannya."
Sebentuk wajah melintas di otaknya, diikuti ingatannya mengejar Hashirama ke tepian kampung mereka yang terbakar bertahun-tahun lalu. Memintanya pulang, tetapi tetap saja ia nekat pergi.
Tidak, Tobirama tidak marah lagi soal itu.
"Kita sudah mencapai perdamaian yang Kakak idamkan." Sekilas Tobirama melirik ke jendela. "Kakak tidak harus meladeninya lagi."
"Kamu tahu dia sahabatku."
"Aku tahu dia lebih dari itu."
"Jadi kenapa kamu masih membencinya?"
"Aku tidak membencinya."
"Aku bisa merasakan kamu nggak suka dia," Hashirama bersikeras. "Kamu selalu dingin setiap ada dia."
Tobirama tak tahan lagi. "Baik, aku akui saja. Aku tidak suka Madara. Nah." Namun, kekesalan yang membubung sejak pagi hari ini tersendat di tenggorokannya begitu melihat reaksi saudarinya.
"...Maafkan aku." Kepala Hashirama merendah, membungkuk dalam-dalam. "Aku marah sekali waktu itu," lanjutnya lirih. Tanpa dijelaskan lebih jauh, adiknya tahu maksud permintaan maafnya.
"Aku juga," cetusnya, lebih keras dari yang diniatkannya. "Kalian berdua benar-benar keterlaluan. Bagaimana kalau ada yang datang? Sampai saat ini aku belum bilang siapa-siapa Kakak menginap di kediaman Uchiha. Kakak tidak bisa semaunya sendiri. Berkali-kali kukatakan sejak dulu, Kakak bukan orang biasa—"
"Hentikan, Tobirama." Kepala Hashirama masih tertunduk di hadapannya. "Kamu terdengar seperti Ayah."
"Apa salahnya?"
Wajahnya diangkat, digelayuti penderitaan tak kasatmata. "Kukira selama ini kamu mendukungku."
"Aku memang mendukung Kakak!" sergah Tobirama jengkel. "Sejak Ayah gugur, sejak Kakak ingin berhenti memerangi Uchiha. Bahkan sejak Kakak mempelajari ninjutsu diam-diam."
Urat-urat di leher Hashirama menegang. "Kamu yang memata-mataiku di sungai dan melaporkannya pada Ayah."
"Itu beda. Kita dulu masih perang."
"Bagaimana dengan sekarang?"
Tobirama bungkam. Hashirama menarik napas berat. Segala suara kesibukan desa terasa begitu jauh dari pendengaran. Keduanya bak terisolasi dari dunia luar di dalam apartemen itu, dikelilingi perabotan indah hadiah penguasa.
"Keluarga kita tidak akan menerima Madara karena Kakak sudah dijodohkan. Makanya semua lamaran itu sudah ditolak."
"Aku bukan kepala klan Senju lagi." Hashirama meletakkan gelasnya. "Aku Hokage sekarang. Aku bertanggung jawab atas kehidupan semua orang yang tinggal di sini. Aku nggak mungkin pergi untuk jadi istri orang yang nggak kukenal. Aku nggak mau."
Tobirama mendesis, "Konoha baru seumur jagung dibandingkan dengan hubungan kita dan klan Uzumaki, Kak. Desa sudah stabil, sudah mandiri. Kami semua akan baik-baik saja di sini."
"Apa yang aku dan Madara inginkan untuk Konoha belum tercapai. Kenapa kamu ingin aku pergi?"
"Aku setuju dengan Ayah soal ini," Tobirama sejenak berhenti, memastikan atensi saudarinya terpusat pada dirinya, "Kakak memang tidak cocok jadi shinobi."
Udara meretih. Ekspresi Hashirama menggelap.
"Dengar dulu alasanku," Tobirama buru-buru menambahkan, kedua telapaknya menghadap ke depan, memintanya untuk tenang. "Dulu di tengah pertempuran Kakak sering membeku mendadak setiap berhadapan dengan shinobi anak-anak. Di tengah diskusi, setiap dewan klan membicarakan shinobi anak-anak, Kakak langsung pucat seperti mau pingsan. Aku tahu Kakak belum pernah sakit— tidak bisa sakit, malah. Ingat waktu Kakak makan makanan basi, atau ketika tak sengaja makan stok racunku?"
Betapa leganya ia ketika udara kembali tenang, dan Hashirama mengangguk singkat.
"Anak-anak akan terus jadi korban. Kakak tidak akan sanggup terus melihat semua ini." Tobirama maju, menarikkan kursi untuknya. "Iwagakure pun sama. Mereka mengirim anak-anak ke peperangan. Kakak … lebih baik tidak tahu."
Tangan kiri Hashirama diletakkan di abdomennya. Ia bergeming. Tampaknya mencerna penjelasannya, dan Tobirama merasa lega.
"Nobuo dulu memang … menyebalkan. Tapi itu dulu. Kudengar dia sudah mencapai posisi lumayan di kalangan istana." Suaranya direndahkan. Hashirama mulai mendengarkannya lagi. Tobirama tahu ia selalu mengingatkan kewajibannya sebagai ketua klan dulu, lalu sebagai Hokage. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membantunya memimpin klan Senju.
Selama Hashirama berada di puncak, ia tidak bisa disakiti.
Jika ia berada di luar sistem, ia tidak bisa jatuh sakit lagi.
"Kakak tidak perlu hidup begini lagi. Kakak bisa berhenti jadi shinobi, merawat anak-anak sampai dewasa—"
Udara kembali meretih, menyalakan penginderanya sampai ke skala maksimum. Sebuah jeritan bisu yang diledakkan tanpa sadar oleh saudarinya. Tobirama bertahan, kakinya membentuk kuda-kuda. Cakranya mencengkeram lantai kayu. Atasannya yang berleher tinggi terasa sesak dan lembap, seperti udara di tengah siang musim panas. Perabotan berderak-derak, bergeser dari tempatnya masing-masing. Ia telah salah memilih kata.
"Kak—!"
Dorongan cakra murni itu sirna secepat munculnya. Udara kembali tenang, tetapi kentara digelayuti emosi Hashirama yang tumpah ruah. Saudarinya bersandar pada dinding di seberang, kelima jemarinya menancap pada abdomen. Gelasnya sudah berkeping-keping di depan kaki.
Tobirama menghambur, cemas, tetapi wanita itu mengangkat lengan kanannya lurus-lurus. Mencegahnya mendekat.
"Aku nggak mau menikah sama Nobuo."
Jantungnya masih berdentum-dentum. Sebuah balasan merambat di tenggorokan, mengambil wujud di lidahnya, "Mokuton Kakak harus diwariskan!"
"Aku nggak mau anakku punya mokuton!"
Tobirama menyeka dahinya, butiran besar keringat mengucur turun dari kulit kepalanya. Bentakan itu menyentaknya lebih keras daripada semburan cakra barusan. Sulit dipercaya. Sudah bertahun-tahun berlalu sejak mokuton Hashirama bangkit, tetapi saudarinya masih sekeras kepala dulu.
"Ayah akan malu sekali," ujarnya lirih. "Aku tidak tahu harus berkata apa pada Ashina-san nanti."
"Klan Uzumaki nggak mendukung kita membangun Konoha," sanggah Hashirama. "Kamu tahu semua bantuan yang mereka berikan sejak dulu kita bayar dengan informasi." Ia terdiam sejenak, terengah-engah.
Kekesalannya yang tadi teredam kembali membubung. "Pembicaraan ini nggak ada ujungnya. Apa susahnya, sih? Ini cuma menikah, bukan memimpin perang."
Hashirama melangkahi pecahan gelas di lantai dan mengitari meja ke arahnya. "Kalau menikah buatmu sebegitu mudahnya, kenapa bukan kamu saja yang menikah dengan Uzumaki?"
Tobirama menatapnya lurus-lurus. Wajah saudarinya tampak kuyu, dan di bawah matanya ada lingkaran gelap. Namun, sinar di matanya masih berkilat-kilat penuh tekad.
Jurang di antara mereka bukan hanya perbedaan sifat. Salah satunya adalah tekad itu— tekadnya yang sekeras punggung pegunungan. Mustahil goyah begitu diniatkan. Merangsek semua yang ada di hadapannya. Dahulu Tobirama menganggapnya nekat ketika Hashirama berniat menghentikan perang, lalu mengagumi ide gilanya ketika kampung mereka habis terbakar.
Saat itu, ia paham mengapa ayah mereka selalu membicarakannya di setiap sesi belajar Tobirama. Ia paham mengapa ayah mereka selalu mengingatkannya untuk berada di sisi Hashirama sampai ia menikah nanti.
Dagunya ia angkat, lalu berkata dengan tegas dan jelas, "Aku akan menikahi gadis Uzumaki kalau itu memang tugasku sebagai shinobi Senju dan Konoha."
Hashirama mengerjap, terhenyak. Ia mundur selangkah.
"Bukankah itu yang dilakukan shinobi sejati?" tambahnya. "Mengedepankan kepentingan klan dan desa di atas keinginan pribadi? Kakak memang luar biasa kuat, tapi Kakak masih dikuasai hasrat diri sendiri. Shinobi yang seperti ini mengancam keamanan seluruh kelompoknya."
"Tak bisakah untuk soal ini saja … kamu berhenti jadi shinobi?"
Bagaimana caranya? Ia sudah menjalani kehidupan lebih dari dua dekade sebagai shinobi. Peraturan dan tata hidup shinobi-lah yang membawanya sampai ke posisi ini.
"Tidak bisa."
Perlahan-lahan Hashirama terduduk di kursi yang tadi ditarik pria itu. Kedua telapaknya menutupi wajah sementara ia mendesah lelah. "Kita tukar saja kalau begitu. Batalkan pertunanganku."
Tobirama menggeleng. "Ashina-san menginginkan mokuton. Aku tidak punya."
Hashirama menatapnya dari celah jemarinya. "Aku masih nggak percaya kamu merahasiakannya begitu lama."
Ia turut duduk di sisinya. "Aku sulit percaya Kakak begitu … ceroboh dengan Madara. Dia bahkan tidak mengirim lamaran kepada para tetua. Semua orang tahu ada protokol yang—"
Sensasi membeku meluncur turun di sepanjang tulang punggung Tobirama. Ini janggal. Keduanya sudah dewasa. Keduanya pasti tahu apa akibat hubungan seksual yang tidak hati-hati. Izuna bilang kakaknya tidak pernah melirik satupun calon pasangan yang ditawarkan keluarganya. Meskipun ada, hubungan di luar pernikahan jarang terjadi bahkan di kalangan klan-klan shinobi selain Senju. Status Hashirama yang dulu kepala klan otomatis memaksa siapapun yang ingin meminangnya harus menghubungi keluarganya lebih dulu.
Tobirama ingat setumpuk lamaran yang telah ditolak paman-pamannya. Semuanya ia tinggal di apartemen ini berminggu-minggu lalu. Tak ada lamaran dari klan Uchiha untuk Hashirama, walaupun ia berani bersumpah setiap kali Madara ada di desa, keduanya menarik satu sama lain seperti besi berani.
Hashirama yang bersikeras untuk membicarakan perdamaian dengan Madara meskipun klan mereka sedang membantai satu sama lain. Madara yang menggendongnya pulang ketika Hashirama pingsan usai membangun penginapan untuk Nobutada.
Mengapa selama ini ia begitu buta?
Tobirama menggali ingatannya. Ketika sepupu-sepupunya yang bukan kunoichi satu persatu menikah di usia remaja, Hashirama tak pernah sekalipun menanyakan kapan gilirannya akan tiba. Fokusnya selalu pada latihan dan pertempuran—
Pada Uchiha Madara.
"Tobirama?"
Pria itu mengangkat wajahnya, menemukan ekspresi lelah namun khawatir pada saudarinya. Sebuah pernyataan meluncur tajam dari mulutnya, "Kakak sengaja."
Hashirama mengernyitkan dahi. "Kamu kenapa?"
"Kakak sengaja." Tobirama berdiri, napasnya tercekat. "Kakak sudah tahu." Konklusi ini menimpa batinnya serupa runtuhan bukit doton, membuatnya limbung dan terpaksa menekan meja kuat-kuat untuk menjaga keseimbangannya.
"Kamu ngomong apa, sih?" Hashirama meraih lembut pergelangan adiknya, tetapi pria itu menariknya kasar. Tangan kakaknya membeku di udara.
"Beri tahu aku, Kak." Jemari Tobirama menancap di punggung kursi. "Apa Madara juga tahu? Apa kalian berdua sengaja—" ia mendesis, mengeluarkan emosi yang bergumpal-gumpal di dadanya seperti awan badai, memblokir jalan napasnya. Pertanyaan berikutnya sungguh sulit diutarakan.
Sudah berapa lama ia tahu? Dan bagaimana caranya, karena ayah mereka telah menyuruh semua orang untuk tutup mulut? Yang tahu siapa calonnya pun hanya Tobirama dan para paman di dewan klan….
Prospek putusnya hubungan mereka dengan klan Uzumaki tersingkir seketika dari pikirannya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Tobirama melangkah melalui ambang dan menutup pintu di belakangnya. Gema samar suara Hashirama memanggilnya kembali tak diindahkannya.
Tobirama berhenti di tengah kantor, berusaha menenangkan diri dengan memindahkan fokusnya pada pekerjaan mereka lagi. Laporan misi yang tadi ia baca kini tak sendiri. Ada setumpuk dokumen baru diletakkan di sebelahnya, yakni biodata lengkap siswa-siswi Akademi.
Ada seseorang yang tadi masuk ke kantor Hokage, dan mungkin mendengar pembicaraan mereka barusan. Pikirannya segera melompat ke kemungkinan terburuk, meski ia segera mengenyahkannya. Staf Akademi ada banyak; bukan cuma wanita itu.
Tetap saja, Tobirama tidak bisa mengabaikan perasaan tak enak yang memberati hatinya.
.
.
Usianya enam belas tahun, dan ia menemani saudarinya di garis depan.
Medan tempur mereka kali ini adalah perbatasan wilayah Daimyo Matsudaira dan Taneyuki berupa padang rumput luas. Lanskapnya datar, dan cuacanya cerah nyaris tak berawan. Setelah beberapa tahun mengasah kemampuannya, akhirnya ayah mereka mengizinkan Hashirama ke garis depan. Sebelumnya ia hanya diizinkan di lini pendukung, atau di bagian penyembuh karena kemampuan ninjutsu medisnya tak tertandingi. Pria itu berdiri di sisi kanan putrinya, memicingkan mata menatap deretan lawan yang bersiap-siap.
"Uchiha Madara memimpin pasukan ini."
Tatapan saudarinya tak goyah sedikitpun. Tobirama mengeluarkan pedangnya. Tanpa menerawang pun ia sudah tahu lawannya pastilah berdiri bersisian dengan pemimpin pasukan Uchiha. Fokusnya kali ini akan terbagi antara melawan Izuna dan memerhatikan kakaknya.
Pertanyaannya, bisakah Hashirama menghadapi Madara dengan pedang terhunus dan niat membunuh? Di malam sebelumnya, ia telah membicarakan hal ini, dan Hashirama meyakinkannya ia tak akan ragu-ragu.
Aku akan baik-baik saja, Tobirama.
"Lihat ke depan, Tobirama!"
Raungan Butsuma bergema seiring dengan dengung gong di atas padang. Tanah di bawah kakinya bergetar, dan Tobirama buru-buru melompat turun seiring dengan tumbuhnya bukit hasil jurus doton kerabat-kerabat mereka. Saudarinya tinggal, mengumpulkan cakra dan memfokuskan pikiran di puncak bukit. Mereka telah melatih suatu jurus terus menerus, sekaranglah saatnya melihat jurus itu meledak di medan perang—
Darah muncrat dari pipinya. Bilah pedang itu maju lagi, mengincar jantungnya, yang Tobirama tepis dengan pedangnya sendiri. Orang-orang mulai berlarian dan bertarung di sekitar mereka, mempersempit jarak pandang dengan tubuh-tubuh berpeluh dan awan debu. Bau keringat, darah dan isi perut telah memenuhi udara.
"Mencemaskan kakakmu yang cantik itu, Senju? Seharusnya kauawasi lehermu."
Uchiha Izuna menyeringai ke arahnya. Pedangnya berdesing dan berpindah genggaman di tengah serangan, membuat taktiknya sulit terbaca. Tobirama terus bertahan, bergerak seminimal mungkin untuk menghemat energi dan memberi sesedikit mungkin informasi untuk gadis itu.
Sharingan-nya telah bangkit.
Peraturan pertama pertarungan dengan seorang Uchiha adalah dalam kondisi apapun, terlarang untuk melihat langsung ke mata mereka. Taktik serumit apapun, jurus sesulit apapun … semuanya akan terpampang bagai isi perut yang terburai di depan sepasang sharingan. Pilihannya dalam bertarung adalah secepat mungkin memanfaatkan celah untuk membunuhnya, atau terus bertahan sampai ada celah tercipta.
Namun, Izuna adalah ahli kenjutsu terbaik di klan Uchiha, konon bahkan melampaui remaja yang lebih tua darinya. Semua titik vitalnya telah diincar; ia semata-mata terselamatkan berkat refleksnya yang secepat kilat. Izuna menyadari hal ini, tetapi ia malah sengaja berpura-pura menyerang titik vitalnya. Tawanya lepas melihat Tobirama kesulitan.
"Mengapa menahan diri?" tantangnya nyaring. "Ayo serang aku!"
Bagai tersulut, pedang Tobirama menghunus ganas. Ganti Izuna yang bertahan, terdorong mundur sampai keluar ke garis depan klannya. Tobirama sudah yakin celah yang ia nantikan akan tercipta, ketika pancaran niat membunuh yang membanjir tertangkap inderanya.
Uchiha Madara berderap mendekat. Bukan ke arahnya.
Jantungnya mencelos. Ia telah terbawa arus peperangan sampai menjauh dari bukit buatan itu. Ia mengindera Madara melompati tubuh-tubuh sekarat langsung ke sana. Sekilas ia lirik puncak bukit; saudarinya masih bergeming di atas, mengumpulkan cakranya yang masif.
Tolol sekali. Tentu saja cakra sebanyak itu akan segera terdeteksi! Madara adalah pengindera ulung, pasti ia langsung tahu posisi Hashirama dengan mudahnya!
Tobirama berbalik arah, siap melesat mencegahnya, tetapi kerah lehernya ditarik sedemikian keras hingga tenggorokannya sakit. Pedangnya membuat tebasan lebar gegabah; melepas genggaman di kerahnya walau tak melukai si penarik.
Izuna berdecak keras, kekesalan tergambar di wajahnya. "Meleng di tengah perang!"
Perih merekah di lengan atasnya, tetapi Tobirama mengabaikannya. Para shinobi Senju yang sedang tidak bertarung dengan shinobi Uchiha berusaha mencapai Madara. Namun, pemuda itu berkelit menghindari semua lemparan kunai dan shuriken ke arahnya. Kaki bukit sudah mulai didakinya, semua kerabat Senju yang berusaha mencapainya dilempar ke tanah begitu saja.
Kakaknya— Madara tak boleh mencapai kakaknya!
Perih merekah di betis kirinya. Tobirama melempar kunai ke belakang, mendengarkan pekik kesakitan selagi ia terjerembap di rumput penuh darah. Hashirama tahu dirinya akan menjadi incaran, apalagi bukit itu bisa ditemukan dengan mudahnya tanpa sharingan sekalipun. Pemuda itu hanya tidak menyangka Madara-lah yang merangsek masuk pertahanan mereka lebih dulu.
Penginderaannya terfokus pada sepasang buntalan cakra masif, yang satu diam dan lainnya masih nekat mendekati—
—Lalu, cakra yang diam itu pecah.
Bumi berderak dan merekah, ratusan pilar kayu tumbuh dalam sekejap dari dalam tanah. Tobirama teringat kembali akan taktik mereka. Segera ia melompat ke sebuah tiang besar, menggigit pegangan pedangnya sembari membuat segel-segel suiton. Di pucuk pilar-pilar lainnya, beberapa kerabatnya melakukan hal serupa. Ia mengerahkan cakra ekstra; hari ini agak kering karena terik matahari.
Namun, mereka masih dapat memanggil air bah. Naga-naga suiton melata di hutan buatan saudarinya, hasil ledakan cakra mokuton yang telah mereka asah berbulan-bulan. Pilar-pilar kayu tebal serupa pohon kini memenuhi padang rumput, cabang-cabangnya ditenggeri shinobi Senju. Jarak pandang sharingan telah terpotong banyak.
Sementara gelombang besar air mengguyur medan perang, Tobirama menajamkan penginderaannya kembali. Madara telah terbawa arus, cakranya yang masif tak lagi dekat. Banyak shinobi Uchiha mati terbawa air. Ia menghabiskan sisa perang berlutut di atas, mengarahkan kerabatnya mengejar lawan yang selamat.
Berjam-jam kemudian, usai mengurus mayat kawan dan lawan, Tobirama terpincang-pincang mendaki bukit buatan itu. Di puncaknya yang datar, pimpinan pasukan berkumpul di sana, mengawasi proses pembersihan medan perang.
"Tobirama!" desis saudarinya. Gadis itu baru saja keluar dari sebuah tenda rapat, tak lagi berzirah. Ikat kepalanya basah kuyup oleh peluh. "Ini … darahmu?"
Hashirama menyeka luka di pipinya, tetapi ia tidak mengaduh. Kakaknya hanya tampak lelah, tanpa luka parah yang belum sembuh. Kepuasan mekar di benak Tobirama.
"Kamu luka di sana-sini…" komentarnya sambil mengecek lengan adiknya. "Biasanya kamu tidak seceroboh ini."
"Tadi lawan Izuna," kata Tobirama sambil duduk di atas sebuah batu. "Kemampuannya jauh lebih baik dari terakhir kita bertempur."
"Itu hampir dua tahun lalu, 'kan?" Hashirama melebarkan robekan lengan bajunya, telapaknya bersinar hijau menutup sabetan itu.
Tobirama mengangguk, menerima sekantung kulit penuh air dari seorang shinobi medis lain. Ia minum banyak-banyak selama saudarinya mengurus luka-lukanya. Hashirama menerangkan situasi terakhir perang barusan.
"Taktik kita bagus, mengurangi jumlah orang yang luka juga," katanya sambil tersenyum puas. "Beberapa Uchiha yang selamat dari jurusmu mencoba membakar hutanku. Gagal, tentu saja."
"Formasi mereka hancur. Tidak ada yang menduga Kakak bisa menumbuhkan hutan kayu." Ia menebarkan pandang ke medan perang. Kayu-kayu tak berdaun itu masih memenuhi padang.
Ekspresi Hashirama berubah serius seraya ia menegakkan diri. "Kamu tadi melawan Izuna, 'kan?"
Tobirama meraba betisnya yang sudah mulus kembali. "Ya. Kenapa?"
"Apa dia…." Pertanyaannya menggantung di udara, tak terselesaikan. Alisnya berkerut, pertanda cemas.
Adiknya hanya mengangkat bahu. "Madara sendiri…?"
Hashirama menggeleng. "Aku nggak sempat bertarung melawannya." Aneh sekali ia terdengar sedih. "Perasaanku nggak enak."
"Bagus, 'kan, kalau dia tewas?"
Kerut di antara alisnya malah mendalam mendengar retorika itu. Melihat ekspresinya, Hashirama menjawab, "Aku cuma merasa kesempatan berdamai kita lebih besar selama mereka berdua hidup."
"Nggak akan bisa damai selama para daimyo masih berseteru dan sewa tenaga shinobi," Tobirama berkilah. "Nggak akan bisa damai selama klan-klan shinobi menganut peperangan sebagai jalan hidup mereka—" Bulu kuduknya meremang. "Kakak! Ke garis depan— SEKARANG!"
Hashirama menghambur ke sisi depan bukit tepat waktu untuk membuat dinding kayu tebal menahan serbuan bola api raksasa dari menghantam bukit kecil itu. Serangan itu datang bertubi-tubi tanpa henti. Udara di belakang dindingnya bergelora karena panas. Lidah-lidah api terlihat menjilat-jilat dari atas dinding. Semua shinobi yang terluka segera dibawa mundur.
Lengan gadis itu gemetar mempertahankan cakranya; segel ularnya telah berubah, kini jemarinya lurus tertangkup. Penanda senjutsu merah kelam di wajahnya telah terbentuk.
Klan Uchiha belum pernah menyerang langsung setelah dipukul mundur, tetapi mereka jelas memanfaatkan kelengahan klan Senju untuk berembuk dan melancarkan balasan. Tobirama mengumpat dalam hati. Ia tidak memperkirakan hal ini dan sekarang klan Senju membayarnya dengan kematian kerabat mereka di bawah sana, yang masih mengumpulkan mayat saat bola-bola api itu turun.
"Divisi suiton!" Tobirama meraung. Kepalannya menghantam tanah, menemukan setidaknya sepuluh penyembur api Uchiha bertengger di atas pohon-pohon buatan kakaknya. Setelah informasi ini ia berikan pada rekan-rekannya, lima naga suiton meluncur turun dari puncak dinding. Namun, shinobi Uchiha lain segera menggantikan posisi para penyembur api itu.
"Tobirama!" Saudarinya menjerit, dan pemuda itu segera melompat ke sisinya. Tangannya membentuk sederet segel dengan cepat. "Bantu aku— suiryuudan—"
Ia mengangguk sebelum Hashirama menyelesaikan kalimatnya. Sedetik kemudian, dua buah ninjutsu berbentuk naga raksasa berderap turun ke padang rumput; satu suiton dan satu mokuton. Hutan kayu di bawah berderak hancur tertimpa berat naga kedua. Kakak beradik itu naik ke puncak dinding, tepat saat Tobirama mengindera sebongkah cakra masif lagi-lagi berderap ke arah bukit, mendaki tubuh naga kayu saudarinya dengan pedang terhunus.
Gadis itu bertukar tatapan dengan adiknya hanya sepersekian detik, lalu meluncur turun ke tubuh naganya, pedangnya berkilauan tertimpa cahaya matahari. Madara masih jauh, tetapi ia membuat segel dengan sebuah tangan dan menghujani Hashirama dengan bola-bola api dari mulutnya. Ia bahkan tidak berusaha melindungi diri; dibiarkannya serangan pemuda itu membakar tubuhnya yang terus berlari seolah tak terhalang apapun. Luka-lukanya sudah nyaris sembuh sempurna ketika pedang mereka akhirnya beradu.
Tobirama tidak turut turun seperti kerabatnya yang lain untuk menyambut gelombang serangan Uchiha. Ia mengawasi dari atas, menghujani para shinobi dengan suiton-nya, saudarinya tak pernah lepas dari jangkauan pandang. Ini pertama kalinya ia bertarung satu lawan satu dengan Madara dalam jarak dekat. Bilah pedang mereka beradu diselingi embusan katon Madara. Jari kaki Tobirama menekuk, bersiap meluncur.
Haruskah ia mendekat, siap membantu Hashirama jika diperlukan? Saudarinya masih butuh kedua tangan untuk membuat segel. Untuk kenjutsu saja keduanya setara, tetapi—
Ia berteriak, separuh kaget dan separuh kesakitan. Sebuah kunai baru saja dilemparkan mengincar rahangnya. Tobirama berkelit tepat waktu sehingga kunai itu hanya menggores tengah dagunya. Tak sampai sedetik kemudian, sebuah sosok muncul di hadapannya, menebas udara tempat lehernya berada sesaat lalu.
"Cih!" Izuna melemparkan kait ke bibir dinding, lalu melontarkan dirinya maju.
Gadis itu benar. Tobirama terlalu sering meleng. Ia harus lebih memperhatikan dirinya sendiri. Saudarinya akan baik-baik saja; ia kuat, ia bisa menjaga diri!
Api dan air bergelora di puncak bukit, menutupinya dengan uap air tebal. Tobirama memejamkan matanya selagi bertarung— untuk menghindari sharingan Izuna dan karena dalam ketebalan uap ia hanya bisa mengandalkan penginderaannya. Fokusnya tak bisa lagi terbagi; Izuna benar-benar berniat menghabisinya dengan serangan bertubi-tubi. Zirahnya dihantam pedang berkali-kali.
Namun, mereka berdua seimbang.
Tobirama baru berniat menggunakan suiton-nya lagi ketika terompet-terompet berbunyi. Satu milik Senju, dan lainnya pasti Uchiha. Tanpa berpikir dua kali ia segera meninggalkan bukit, mundur lebih jauh ke belakang sesuai isyarat itu. Jantungnya berdebur kencang. Isyarat ini hanya dipakai ketika mereka kehilangan pimpinan. Kecemasannya tidak menumpulkan kewaspadaannya; ia menyempatkan diri mengindera medan perang, dan terkejut ketika tak satupun dari klan Uchiha mengejar mereka.
Kerabatnya berkerumun mengelilingi seseorang. Di antara bisik-bisik dan seruan, Tobirama mengenali suara saudarinya yang penuh kepanikan. Ia mendorong pemuda di sisi luar kerumunan, mendesak dirinya masuk ke celah di antara setiap orang hingga mencapai tengahnya.
Seorang pria terbaring di rerumputan. Seluruh tubuhnya habis terbakar hingga ia tak bisa mengenali wajahnya. Jika Hashirama tidak berlutut di sisinya, dengan telapak tangan gemetaran memancarkan ninjutsu medisnya sembari tersedu-sedu, pemuda itu tidak akan tahu pria ini adalah ayahnya.
Tobirama berlutut di sisi satunya, tak berani menyentuh apapun. Saudarinya masih menangis pilu. Perlahan hanya suaranya yang tersisa di lingkaran itu. Cahaya hijau ninjutsu-nya perlahan memudar.
"Hashirama, bangun," seorang pria kurus nan jangkung menarik lengan gadis itu, "kau juga, Tobirama. Kita pulang."
"Paman Azami—" Tobirama memulai, tetapi tenggorokannya tercekat.
Pamannya menggeleng, dan Tobirama hanya bisa minggir agar dua orang anggota divisi mayat bisa menyegel tubuh ayah mereka ke dalam gulungan besar.
Luka di dagunya berdenyut nyeri. Tobirama belum siap.
.
.
Tobirama tak bisa tidur malam itu. Mengikuti rencana awalnya, ia mengubur diri di antara dokumen pekerjaan dan gulungan ninjutsu yang disusun oleh departemen penelitian. Divisi taktik yang ia bawahi bekerja keras mengumpulkan data jurus para ninja Iwagakure dan merumuskan taktik perlawanan. Medan tempur yang masih di bibir wilayah Tsuchi menguntungkan mereka. Cara praktis untuk melawan pertahanan tanah mereka adalah meluluhlantakkannya dengan kekuatan fisik besar. Klan Akimichi menyumbang banyak prajurit di garis depan, sekaligus terbanyak dalam jumlah mayat.
Ia mencoret kemungkinan mengirim sang Hokage ke garis depan. Sedangkan dirinya sendiri terlalu sibuk. Madara saja seharusnya cukup.
Kuasnya berhenti mencatat.
Bagaimana jika Madara mati di medan perang? Prospek kehancuran hubungan Senju dan Uzumaki akan hilang, tetapi Konoha akan kehilangan shinobi terbaiknya— salah satu shinobi terbaiknya. Menurut catatan dari garis depan, peran Madara sangat vital dalam mengurangi jumlah korban jiwa. Estimasi korban shinobi Iwa sudah tiga kali lipat korban di pihak Konoha.
Ia pergi atas kemauannya sendiri. Cari mati. Tapi itu mustahil; ia dan kakaknya mendirikan Konoha agar mereka tidak lagi berperang. Madara bisa jadi sudah tahu akan pertunangan Hashirama. Lebih buruk lagi, jangan-jangan ia yang mengusulkan—
Mengapa sulit sekali menerima fakta bahwa keduanya memang tertarik satu sama lain? Keduanya shinobi terkuat yang dimiliki Konoha. Keduanya, sampai baru-baru ini, adalah kepala klan masing-masing. Bukankah ketertarikan keduanya wajar? Bukankah seharusnya ia senang saudarinya berbahagia? Atau apakah ia akan bisa lebih menerima jika orang itu bukan Madara?
Tetapi … sejak mereka pindah tinggal bersama, tak sekali pun Hashirama pernah membicarakan hubungannya dengan Madara. Hanya kegiatan yang mereka lakukan bersama, semua dalam rangka membangun desa. Madara sendiri jarang berinteraksi dengannya; kecuali ketika ia membopong pulang saudarinya itu dan meminta Tobirama mengambil alih sebagian tanggung jawabnya.
Atau Madara yang sengaja meminta Hashirama….
Tidak, itu mustahil. Ia cukup rajin memantau rumor antarklan demi mencegah gesekan yang dapat mengancam desa dari dalam. Tidak ada rumor tentang hubungan mereka, kecuali obrolan penduduk yang menjumpai mereka berdua bersama-sama. Itupun tak bernada romantis.
Mendadak jengah, Tobirama menyerah. Ia merobek secarik kertas dan menuliskan sebuah daftar yang ia salin dari gulungan tentang tanaman obat dan herba hutan. Usai mematikan lilin, ia menemui regu ANBU yang bertugas menjaga Hokage hari itu untuk memberi mereka instruksi khusus.
"Awasi semua makanan dan minuman yang diberikan pada Hokage. Pastikan tidak ada bahan-bahan ini tercampur di dalamnya." Diberikannya daftar itu pada ketua regu bertopeng anjing.
"Ilalang gagak, nanas muda…" ANBU itu membacanya dengan nada bingung. "Senju-sama, bukankah ini semua tidak berbahaya?"
"Berbahaya baginya," Tobirama menjelaskan tak sabar. "Pokoknya kakakku tidak boleh sampai memakan tanaman-tanaman itu. Teruskan perintah ini ke kelompok lainnya."
Ia turun ke kantor tepat waktu. Pintu apartemen Hokage menjeblak terbuka. Hashirama berlari ke tempat sampah di sisi meja kerjanya untuk muntah. Tobirama segera memegangi rambut panjangnya agar tidak masuk ke tempat sampah. Ia sempat berhenti di antara muntahan untuk meliriknya. Matanya agak berkaca-kaca, tetapi tak sesembap kemarin.
"Sudah, aku nggak apa-apa…." Hashirama menyeka bibirnya dan mengibaskan tangan. "Pulanglah."
"Kak…." Tenggorokannya terganjal memori sehari lalu. Walaupun segudang pengetahuan telah bercokol di kepalanya, Tobirama tetap saja tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan soal itu. Apalagi ini bukan saat yang tepat; kondisi Hashirama masih belum stabil.
"...Ya?"
Mereka bertatapan, dan segala kelelahan di raut Hashirama menyurutkan kekesalan dan kemarahannya. Akhirnya ia menggeleng. "Besok Kakak istirahat saja dulu." Kemudian ia cepat-cepat pergi.
Penjelasan yang ia butuhkan bisa menunggu lain kali.
Matahari sudah mulai terbit, sehingga langkahnya otomatis terarah ke bukit kecil yang selalu didatanginya pertama kali setelah bangun tidur. Di tengah jalan ia teringat bahwa sudah seminggu ini Izuna tidak datang, dan ia ragu hari ini pun ia akan muncul.
Latihan bersama mereka pasti sudah berakhir.
Ada ganjalan menyelusup di benaknya, yang ia enyahkan segera. Latihan itu semata-mata sebuah tugas. Berakhir ya berakhir saja.
Agendanya hari itu adalah memeriksa kelayakan sumber air, maka ia pergi ke hulu sungai besar. Walau sempit, sungai di hulu masih cukup dalam untuk diselami. Maka ia melepas atasannya dan menceburkan diri, mengindera sisa-sisa cakra korosif bijuu yang melewati Konoha berminggu-minggu lalu. Setiap dua kali seminggu ia datang ke sini, mengecek apakah sisa cakra tersebut masih mencemari air. Ikan-ikan di muaranya, sebuah danau, mati semua setelah badai tersebut. Penghuni di sekitarnya melepas bibit ikan mereka dua minggu lalu, setelah Tobirama menyatakan airnya cukup aman diminum.
Menyelam begini pun sebenarnya cukup berbahaya. Ia tak bisa berada di bawah air lebih lama dari dua puluh menit. Namun, mengindera jejak cakra bijuu tak bisa dilakukan dengan cepat….
Sepasang mata kuning raksasa balas menatapnya dari sela kanopi hutan.
Tobirama melompat keluar dari air, jemarinya sudah siap membentuk segel, ketika ia menyadari bahwa yang kuning itu adalah rongga tak bermata milik tengkorak keemasan yang menjulang setinggi pohon-pohon ek. Cakranya yang terkumpul ia jadikan suiton, menarik semua kelembapan di pakaiannya hingga kainnya kering.
"Izuna."
"Tobirama."
Untuk apa wanita itu ke sini? Tobirama mengindera area sekitarnya, dan menemukan Izuna hanya sendirian. Medan menuju hulu sungai ini cukup sulit ditempuh; atau ia berpindah dengan bantuan susano'o-nya?
Rerumputan berkeresak seiring dengan majunya Izuna ke area yang disinari matahari. Tubuhnya terbungkus haori untuk menahan angin. Rambutnya tak dikuncir seperti biasa, ujung-ujungnya mencuat liar sampai ke bawah pinggang. Matanya terbungkus kain putih.
"Aku hanya ingin tahu," katanya, suaranya masih semerdu kemarin, hanya berlapis kekesalan yang ditahan-tahan, "apakah gosip yang menyatakan Hashi-san sudah punya tunangan itu benar."
"Itu benar."
Tengkorak keemasan itu mendadak turun, berhenti hanya semeter dari pucuk kepala pria itu. "Jadi selama ini dia— kalian berdua mempermainkan kakakku!?"
Tobirama menahan diri untuk tidak mundur menghindar. "Bukan begitu—"
"Kamu nggak tahu seberapa buruknya Kakak menerima kabar itu!" Jeritan Izuna membuat burung-burung di atas mereka beterbangan panik. "Kamu nggak tahu seberapa hancurnya hati Kakak!"
"Kau tidak tahu keseluruhan situasinya—"
Lengan wanita itu terlipat di dada, sikap tubuh yang serupa Madara ketika ia kesal. "Selama ini kukira prasangka kami salah— kukira perasaan Hashi-san kepada Kakak benar-benar tulus. Kenyataannya kalian hanya mempermainkan kami!"
"Izuna, kau salah sangka," sanggah Tobirama, menyampirkan atasannya asal-asalan sebelum mendekati wanita itu. "Kejadiannya tidak seperti itu."
"Lalu apa?" tanyanya melengking. Kini mereka berjarak kurang dari semeter. "Kalian berdua … kejam sekali! Kakak sungguh-sungguh menyayangi Hashi-san, tahu! Kakak sudah melamarnya! Kakak—"
"Izuna!" raungnya. "Kakakku sudah dijodohkan sejak kecil tanpa tanpa seizinnya."
"Sama siapa?" Lengan Izuna dilipat di dada, sikapnya menantang.
"Seorang lelaki dari kerabat kami—" Mendadak ia menyadari kejanggalan lain. "Izuna," panggilnya. Air mukanya berubah. "Kaubilang Madara sudah melamar kakakku…?"
Wanita itu mengabaikannya. "Apa dia lebih kuat dari kakakku?"
Korespondensinya dengan Uzumaki Ashina hanya mengatakan bahwa Uzumaki Nobuo dilatih seni pedang oleh para samurai istana. Dalam satu kesempatan berpatroli di sekitar desa, Tobirama pernah berpapasan dengan para ronin yang kabur dari medan perang di perbatasan. Mereka sama sekali tak bisa mengolah cakra; seutuhnya bergantung pada pedang. Sedangkan Madara hanya butuh beberapa menit untuk menghabisi seratus orang dalam satu ayunan pedang susano'o-nya.
Tobirama menggeleng.
Izuna mendengus puas, mundur dua langkah. "Ha! Benar dugaanku kalian masih melihat kami sebagai musuh. Hipokrit! Semua kata-kata manis Hashirama kepada Kakak bohong! Bodoh sekali—" kata-katanya tercekat. Ia mengambil langkah mundur lagi. "Bodoh sekali kami memercayai kalian. Ayah selalu bilang kasih sayang klan Senju kalian pakai sebagai senjata untuk menipu dan menyesatkan orang-orang."
"Kakakku tidak bersalah," Tobirama bersikeras. "Perjodohan itu di luar sepengetahuannya. Dia sudah ha—"
Keraguan menyelusup di hatinya. Benarkah begitu? Ia masih tidak tahu kapan Hashirama mengetahui soal Nobuo. Atau apakah Madara juga tahu soal itu.
Ia buru-buru mengalihkan tatapan. Izuna memang tak bisa melihatnya, tapi dinding cakranya begitu tebal di antara mereka. Ia tak ingin mundur meski hanya selangkah.
Dinding itu bergolak seperti bendungan emosi, mengancam akan tumpah menenggelamkannya. Susano'o-nya yang berpendar di atas keduanya pun menguarkan ketegangan serupa.
"Dia kenapa?" balas Izuna menantang.
"Kakak hancur." Bahu Tobirama melemas. "Aku belum pernah melihatnya sesedih itu."
"Kau bohong."
"Cakraku tidak bohong, Izuna."
Wanita itu bergeming, tetapi dindingnya berubah bentuk. Meraihnya perlahan hingga cakra mereka bersentuhan. Kemarahannya sedikit mereda, tetapi masih ada pertanyaan di benaknya.
"Kau sendiri," kata wanita itu tiba-tiba, mengirim perasaan tak enak di hati Tobirama. "Apa kau tahu?"
"Aku tahu—"
Dinding cakra itu menghantam dadanya, melontarkannya ke tepi sungai. Atasannya terjatuh dari bahu, dan sikunya tergores batuan tajam. Tobirama telentang di atas daun dan ranting, menatap tengkorak susano'o di atasnya. Ngilu di tengah rusuknya pasti akan menjadi memar nanti.
"Dia kakakmu, tahu," Izuna berkata pilu.
Aku tahu.
"Berapa lama kamu merahasiakannya?"
Bertahun-tahun, demi Ayah yang lebih dahulu wafat di medan perang. Aku gagal dalam tugas ini.
"Atau menurutmu kakakku tak cukup pantas untuk Hashi-san?"
Tobirama tak perlu menjawab dan Izuna tak perlu mendekat, dindingnya telah memanjang untuk meraihnya lagi. Kerangka tangan susano'o menjatuhinya dalam sekejap—
Atau, begitu yang dikiranya. Tangan itu berhenti hanya sesenti dari ujung hidungnya. Penginderaan Tobirama mengenali kebingungan yang terpancar darinya, dan jawabannya ia berikan tanpa sadar, terbentuk oleh cakranya yang tak kasatmata.
Aku tak pernah menyukainya kaukira aku tahan melihatnya begitu bebas meraih Kakak kaukira aku tak sebal melihatnya menghantui pikiran Kakak selama bertahun-tahun sampai rela kabur dalam pengaruh genjutsu bersamanya dulu kaukira aku tak tahu Kakak juga menyayanginya—
Susano'o di atasnya meredup. "Aargh!" Izuna meraung frustrasi, kepalannya membentuk cakar di hadapan. "Kenapa kamu nggak pernah bilang, Senju sialan! Lebih baik kamu tebas leherku waktu itu! Supaya aku dan kakakku nggak menerima perlakuan seperti ini!"
Tobirama menarik dirinya bangun. "Ini bukan masalah pribadi, Izuna! Ini soal internal klan Senju dan Uzumaki, kerabat kami. Mokuton Kakak sangat berharga dan langka. Harus segera diwariskan! Ini tak ada kaitannya dengan Uchiha!"
"Kalian Senju semuanya sinting. Aku sudah salah sangka." Susano'o-nya menyusut. "Hashi-san itu kakakmu, dan kamu malah menjodohkannya dengan … orang nggak jelas yang lemah."
"Uzumaki Nobuo bukan orang nggak jelas. Dia kerabat kami, dengan koneksi ke istana—"
"Jadi itu incaran kalian. Apa kamu nggak memikirkan perasaan Hashi-san sama sekali?"
"Shinobi tidak boleh mencampuradukkan perasaannya pada misi!"
Izuna terperangah. Tobirama baru menyadari ia telah berulang kali meninggikan suara. Entah mengapa di telinganya terngiang pertanyaan saudarinya sehari lalu.
Tak bisakah untuk soal ini saja … kamu berhenti jadi shinobi?
Rasanya seperti terbelah dua. Semua yang ia katakan tidak sepenuhnya berupa kebenaran. Dinding cakra Izuna tebal di depannya.
"Kamu masih menyembunyikan sesuatu, Senju." Memanggilnya dengan nama klan membuat pria itu semakin tak nyaman. Izuna melanjutkan dengan nada yang lebih tenang, "Coba pikirkan. Apa untungnya bagi Konoha jika Hokage menikah dengan orang luar? Kakakku kandidat yang jauh lebih baik daripada lelaki Uzumaki ini."
"Tanpa sokongan Uzumaki, Konoha nggak akan berdiri," Tobirama menjelaskan soal biaya perpindahan dan ilmu fuuinjutsu yang diberikan cuma-cuma pada Senju, tetapi Izuna tidak menerima penjelasan itu.
"Kalau begitu kenapa bukan kamu yang menikah saja dengan perempuan Uzumaki? Kamu 'kan sudah jadi kepala klan."
Tobirama mengulangi jawaban yang ia berikan pada saudarinya kemarin, "Aku tak punya mokuton."
Bibir wanita itu menipis. Ia kini berdiri di dalam rusuk susano'o-nya. Pelindungnya itu perlahan memudar, lenyap menyisakan berkas-berkas tipis cahaya matahari. "Menurutmu mana yang lebih penting, kebahagiaan Hashi-san atau keutuhan relasi kalian dengan klan yang bahkan tidak pernah menampakkan diri di Konoha?"
Ia berhenti meraih pakaiannya, tangannya melayang di atas rerumputan.
"Memangnya kamu bisa menikahi orang yang nggak kamu kenal sama sekali, hanya demi menghasilkan anak-anak dengan kemampuan tempur tinggi?"
"Ya." Tobirama menyambar bajunya, kembali menegakkan diri. "Tentu saja bisa demi kebaikan yang lebih besar daripada keinginan pribadiku."
"Kamu bohong," desisnya, mencengkeram sisi kiri perutnya. "Sialan. Kukira kamu berbeda. Kukira kita berteman…."
Tobirama membeku. Mengapa dadanya sesak? Mengapa jantungnya berdebur tak karuan?
Mengapa rasanya sakit sekali mendengar Izuna berkata begitu?
