sorry for the wait, i finally finished revising previous chapters, done exams and fast! Hoh! Hah! This gets to 9.6k in google docs. I intended to add another plot point, but this is already too long.
shoutout to the readers who read my fic using google translate. you guys are so brave!
revised 06092018
revised 06102018
.
.
Usianya delapan belas tahun, dan Madara menenggelamkan diri di sungai.
Begitu mendengar Senju Hashirama diturunkan di garis depan, adrenalin menutupi inderanya dari sejuta hal lain yang berlangsung di medan tempur. Seluruh klan Uchiha jadi lebih waspada. Selama ini Hashirama ditugaskan di lini belakang, dan Madara berulang kali kesulitan menembus garis pertahanan Senju. Mokuton-nya yang ia lihat beberapa tahun lalu selalu absen.
Hari itu cerah. Tanpa awan. Pegangannya erat pada gagang pedang.
"Tidak akan ada perubahan strategi. Serang mereka dengan seluruh kekuatan," Uchiha Tajima mengumumkan. "Gadis Senju itu bagian Madara."
Madara menerima mandat itu dengan anggukan mantap. Mereka telah membicarakan kemungkinan ini berulang kali. Ia satu-satunya yang pernah bertukar pukulan dengan Hashirama. Ia bisa memperkirakan kekuatan tempurnya.
Tepi kerahnya ia turunkan. Di seberang padang, berjajar shinobi terbaik klan Senju. Semuanya terbalut zirah lengkap mengilap. Masih baru. Tajima memicingkan mata, mengumpat dalam bisikan. Berapapun klan yang mereka lawan, persediaan zirah mereka bagai tak ada habisnya. Sementara itu, klannya harus menghemat persediaan. Madara sendiri tak mengenakan satupun pelindung tubuh agar Izuna kebagian zirah.
Tanpa sharingan, gadis itu ditemukannya berdiri di depan. Zirahnya hijau pupus. Rambutnya panjang hingga pinggang. Sosok jangkung di kirinya pasti adiknya yang menyebalkan itu.
Izuna telah mengakhiri meditasi pendeknya. Cakranya mulai berkumpul di kedua tangan. Tak sabaran.
Selama sesaat, bahkan udara pun bergeming. Kedua pimpinan mengangkat tangan bersamaan.
Gong perang berkumandang dari kedua kubu.
Seribu pasang kaki menderap bumi. Lalu, tanah bergetar.
Gelombang pertahanan Senju menyerbunya, menyambut bilah pedangnya. Shinobi Senju pertama jatuh— lalai untuk menghindari sharingan Madara. Yang kedua dan ketiga pun sama. Pemuda itu enggan menghabiskan waktu dan tenaga bagi kerikil seperti mereka.
Sasarannya hanya satu, dan ke sanalah fokusnya tertambat.
Posisi awal Hashirama di garis depan rupanya pengecoh. Ia tidak maju. Bukit itu memungkinkan pengguna ninjutsu jarak jauh mengirimkan berbagai jurus membantu mereka di bawah, tetapi kelemahannya satu. Terlalu mudah dicapai!
Memusatkan cakra di jari kakinya, Madara melambung melalui bahu dan kepala shinobi Senju. Bola-bola api berembus di kedua sisinya, menyibak formasi musuh seperti api bertemu kerumunan lebah.
Senyuman simpul terulas di bibirnya ketika adiknya berbelok tajam ke arahnya. Madara menjejak tanah, menari jungkir balik di udara.
Izuna telah berjumpa dengan lawannya. Tobirama tak akan menjadi masalah lagi.
Kerabat-kerabatnya telah jauh Madara tinggalkan. Penginderaannya memindai medan. Sasarannya masih berada di puncak, dengan jumlah cakra yang jauh melebihi semua orang lainnya. Adrenalinnya kembali mengalir membakar otot. Semakin tinggi ia mendaki bukit doton itu, semakin membara semangatnya. Peluh dan bau darah tak diindahkannya. Gendang telinganya berdentum-dentum seiring deburan detak jantung.
Jika Senju kalah, klannya akan memiliki lebih banyak lahan. Lebih banyak uang untuk menempa zirah dan membayar penyembuh. Lebih banyak makanan yang bisa disimpan untuk melalui musim dingin—
Madara melompat ke hadapan, menghunus pedangnya. Hashirama bergeming, matanya tertutup dan jemarinya terkatup.
Setelah enam tahun berlalu, akhirnya mereka kembali bersua. Bertatap muka.
Mereka bertukar pandang. Cakra gadis itu meledak.
Segalanya terjadi begitu cepat. Padang rumput berubah menjadi hutan mati tergenang arus deras. Seluruh klan Uchiha mundur, lalu maju menyerang begitu Senju lengah. Madara geram. Taktik seperti ini belum pernah ia lihat atau dengar dari ayahnya. Mengingat pesan pemimpin perang, ia maju menghambur untuk kedua kalinya, mendaki punggung panjang naga buatan sang musuh. Ini kesempatan emas. Pemuda itu tak ingin mengecewakannya.
Bola-bola api yang ia kirim tak repot dihindari Hashirama. Gadis itu menyambutnya, muncul dari balik kobaran api dengan wajah dan tangan terkelupas. Madara nyaris saja berhenti, tetapi kekagetannya lenyap seiring dengan tumbuhnya kulit baru di tubuh Hashirama.
Kemampuan gadis itu telah jauh berkembang sejak mereka terakhir bersua. Bagus sekali. Semangatnya membubung tinggi, seringainya merekah mengantisipasi pertempuran.
Mulutnya masih terus mengembuskan api selagi keduanya bertarung. Yang membuatnya semakin kesal, Hashirama sama sekali tidak menyerangnya. Semua serangan Madara hanya ditahan atau ditepis. Ia unggul dengan terlalu mudah— aneh sekali—
"Kau tidak serius, Hashirama!" raungnya sembari melayangkan tendangan ke sisi kepalanya.
Gadis itu menangkap pergelangannya, lirih berkata, "Ayo berhenti."
Pemuda itu ternganga. Ia tidak salah dengar, 'kan?
Uap air telah mengelilingi mereka seperti kabut tebal, hasil pertemuan katon dan suiton. Hashirama menurunkan kakinya, tubuhnya tak lagi siaga mengantisipasi serangan. "Aku nggak mau terus perang begini. Apalagi melawanmu."
"Sinting!" Madara mendesis, menebas mengincar lehernya. Bilahnya ditangkap dengan tangan kosong. Darah segar segera menetes turun menuju gagang pedang. Senjatanya bergetar menahan tekanan dari kedua ujung. "Itu cuma omong kosong anak-anak. Mimpi belaka!"
"Bukan!" Hashirama bersikeras, meringis menahan sakit. "Kita bukan anak kecil lagi!"
"Sama saja!" Madara menarik pedangnya dengan kasar, mengabaikan pekik lawannya dan cipratan darah. Satu tebasan horizontalnya menoreh luka dari bahu ke bahu. Entah mengapa zirahnya tak lagi dipakai.
"Tolong dengarkan aku, Madara!" pintanya sembari menahan perih. "Kalau kita berdua— kita pasti bisa!"
Ada sesuatu dalam ekspresi Hashirama yang menghentikannya. Cakranya tak lagi siaga bertempur.
Seolah-olah gadis itu siap menyerah.
Madara meraung frustrasi, "Kamu tahu itu nggak mungkin! Kita saling bunuh dari zaman leluhur! Lebih mudah menghabisi satu sama lain daripada menghentikan semua ini."
"Kita bisa buat perjanjian damai—"
"Cukup omong kosongmu!" Tangan kiri Madara menyambar kerah Hashirama, menariknya mendekat. "Perjanjian damai nggak akan bisa memberi makan klanku!"
"Maksudmu…." Kata-katanya tak pernah utuh menjelma. Mata Hashirama melebar. Kelopaknya beberapa kali mengerjap.
Madara tercenung. Angkara yang bergelora bersama adrenalin dalam tubuhnya bersalin rupa menjadi sesuatu yang berbeda. Sharingan yang sedari tadi menyala-nyala berubah menjadi legam. Kulit wajah Hashirama yang terbakar matahari berpendar karena cahaya matahari menimpa butiran peluh….
Dunia bagai berhenti berputar. Segala suara di sekitar mereka memudar tak bersisa.
Ia bisa merasakan embusan napas gadis itu di permukaan bibirnya, yang membuka-tutup dengan desahan lirih terbalut keterkejutan. Ia bisa merasakan naik-turun napasnya di dadanya sendiri. Tatapannya turun, menyaksikan luka torehannya di bawah tulang selangka perlahan menutup sempurna. Dan di bawahnya lagi, lekuk tubuhnya yang membentuk jelas di balik kaus….
"Madara," panggil Hashirama, mengundang atensinya kembali ke mata gadis itu. Ia pasrah, sama sekali tak berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya. "Aku nggak mau kamu mati."
Panas bibit-bibit katon di darahnya terjun bebas ke bawah pinggang Madara. Ia baru menyadari di mana siku kirinya bersandar— pada dada gadis itu. Cakra penginderanya seketika kehilangan keteraturan, tumpah mengguyur sekujur tubuh Hashirama— Madara tergoda untuk berteriak saat itu juga—
"...Madara?"
Kumandang terompet-terompet memecahkan sihir itu. Dilepasnya kerah Hashirama sambil mendesis marah. Mereka sedang perang! Bisa-bisanya ia berpikir tentang— Madara menggeleng kuat-kuat, menepis imajinasinya. Senju sialan!
Bagai terhipnotis, Hashirama segera berbalik dan menghilang di antara uap air. Penginderaannya memberitahu bahwa kedua belah pihak sama-sama mundur. Naga kayu tempatnya berpijak menghilang dalam kepulan asap. Rasa tak nyaman dari pertemuan itu masih menggelayut selama ia meninggalkan garis depan.
Madara menemukan wanita paruh baya dengan rambut kelabu digelung ketat meneriakkan perintah pada divisi pendukung. Divisi ini terdiri dari pemuda seumurannya tanpa kemampuan bertarung yang cukup untuk ke garis depan. Tugas mereka hanya mengambil mayat dan memunguti senjata— baik milik sendiri atau musuh. Ia mendorong semua yang menghalanginya agar bisa mencapai wanita itu. Tak ada yang protes, kebanyakan memilih minggir begitu mendengarnya berderap mendekat.
"Bibi!" panggilnya parau. Sebelum bibinya sempat bertanya, Madara berteriak, "Kenapa mundur? Kita sudah berhasil mengagetkan mereka!"
Terompet perang di pinggang wanita itu memantul ketika ia berbalik. Codet di tengah wajahnya berkerut ketika ia menyambar, "Kita kehilangan terlalu banyak shinobi! Lebih baik mundur dulu."
"Jadi lebih baik kalah dari Senju?" Izuna muncul dari belakang, membawa sebilah pedang yang bukan miliknya. "Begitu, Bibi Nanami?"
Bibir Uchiha Nanami menipis. "Air bah tadi menyeret sepertiga shinobi kita! Entah ada di mana mereka sekarang!" Matanya membelalak pada kakak-beradik itu. "Aku tidak tahu di mana ayah kalian."
Madara dan Izuna bertukar pandang. Uchiha Tajima bukan shinobi biasa; ia veteran puluhan perang. Mustahil gugur duluan. Namun, begitulah kenyataannya selang sehari kemudian.
Mereka meninggalkan medan perang memanggul kerabat yang luka dan yang gugur. Senjata curian pun didapatkan. Sebuah tim yang diutus mencari mayat menemukan mereka yang terseret arus suiton di sebuah jurang dangkal, ratusan meter jauhnya. Hampir semuanya sudah mati. Tubuh-tubuh mereka mulai mengeluarkan bau tak sedap ketika dijajarkan di lapangan kering. Sebuah panggung kayu segera disusun, dengan papan-papan datar dibaringkan di antara gelondongan.
Perkampungan klan Uchiha terletak di sebuah lembah yang diapit pegunungan. Tanahnya yang berbatu, suhu yang selalu lebih dingin, dan sulitnya akses ke desa lain mengakibatkan orang biasa enggan tinggal. Klannya telah tinggal di situ selama puluhan generasi, kerasnya medan membuat penjagaan perkampungan lebih mudah. Setiap perang berlangsung hampir semua orang meninggalkan kampung, kecuali mereka yang terlalu muda atau tua.
Satu-satunya penyembuh yang mereka miliki, seorang lelaki uzur bertangan satu, bekerja tak kenal lelah menyatukan luka-luka Tajima. Akan tetapi usahanya sia-sia. Menurut Bibi Nanami, ia tadi bertarung satu lawan satu melawan Senju Butsuma. Ayahnya berhasil membakarnya sebelum air bah kedua tiba.
"Butsuma pasti … sudah mati juga—" Tajima tersengal-sengal. "Aku ... bisa mati lega." Keringat dinginnya terus mengucur sementara demamnya meninggi. Racun yang mengisi lukanya bekerja lambat dan menyiksa.
"Ayahanda, jangan bicara lagi," Izuna berbisik dari sisinya, mengganti kompres di dahi Tajima. Kain basah itu tak membantu penyembuhan apapun. Adiknya melakukan itu semata-mata untuk menyibukkan diri. Mengalihkan perhatiannya dari luka yang membusuk.
Madara bersimpuh di seberang adiknya, menggeleng ketika gadis itu melemparnya tatapan penuh tanya. Tak ada obat-obatan tersisa, ataupun penyembuh selain si lelaki tua yang kini pergi merawat penyintas lainnya. Menurutnya, racun itu hasil racikan khusus sehingga tak umum dijumpai. Ia tak tahu apa bahannya. Satu-satunya tempat untuk mencari penawarnya hanyalah di klan Senju sendiri.
Uchiha Tajima terlalu angkuh untuk mengambil pilihan itu. Sehingga yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah menemani ayah mereka dijemput ajal.
Madara sudah tahu momen ini akan tiba, cepat atau lambat. Namun, ia tak pernah menduga akan begini jadinya. Ia selalu membayangkan ayahnya akan gugur seketika di medan perang. Tinggal dikremasi usai dibawa pulang. Ia tak berani meninggalkan sisinya sepanjang hari.
Semua kerabat yang butuh sarannya silih berganti datang menjenguk, berdiskusi dalam bisikan-bisikan rendah. Bahkan di ranjang kematiannya pun, ayahnya masih mendiskusikan strategi perang selanjutnya. Tetamu akhirnya berhenti datang setelah larut malam.
Bau pembusukan dan darah sudah meresap ke kayu-kayu penyusun rumah mereka. Malam diisi oleh panggilan kawin para serangga musim panas dan erangan shinobi yang meregang nyawa. Seluruh kampung diliputi kegelapan. Tak satupun pelita dinyalakan untuk menghemat lilin dan minyak. Angin menggetarkan pintu-pintu kayu, masuk melalui sobekan di kertas shoji. Udara lembap erat menggelayuti setiap jengkal kulit yang tak terlindungi.
Nanami benar, mereka kehilangan banyak shinobi. Dari semua yang berangkat ke medan tempur, hanya sepertiga yang kembali tanpa luka berat. Sisanya mati atau terluka parah.
Segalanya tidak akan menjadi seperti ini jika mereka menang. Jika mereka terus menyerang hingga semua Senju tak bersisa. Ia bisa menghujani mereka dengan bola-bola api tanpa henti, dirinya sendiri sudah cukup untuk mengobrak-abrik pertahanan—
"Madara."
Pemuda itu tersentak dari lamunannya. Kantuknya lenyap seketika. Izuna telah terlelap bersandar pada dinding kayu, kepalanya miring ke bahu. Madara beringsut mendekati sang ayah, yang bernapas pendek dan cepat. Bisikannya begitu lemah sampai ia harus membaca gerak bibirnya.
"...Selesaikan ajalku."
Ia meraih sebuah kunai, bilahnya tipis menggores tatami. Izuna terbangun, melihat kilauannya di kegelapan, lalu beringsut mendekat. Tangan Madara mengambang di udara, ujung kunainya terarah pada jantung Tajima.
"Hancurkan … Senju."
Pembuluh-pembuluhnya membeku. Semua protokol shinobi yang menjadi panduan hidupnya seolah lenyap terhapus dari ingatan. Adalah kewajibannya menamatkan nyawa kerabat yang meminta ajal, terutama jika luka pertempuran mereka tidak langsung membunuhnya. Ia hanya tidak menduga akan seberat ini.
Apa yang memberatinya? Madara telah membuang semua emosinya di tepi sungai enam tahun yang lalu. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk terus menaati titah ayahnya demi melindungi Izuna dan seluruh klannya.
Jadi mengapa ia ragu? Shinobi harus melaksanakan perintah tanpa terkecuali, dan ia telah berhasil sampai sedetik lalu—
Sepasang tangan lain menggenggamnya, dan mendorong kunai itu menembus jantung ayahnya. Satu tarikan napas panjang kemudian, Uchiha Tajima meninggal dunia.
Izuna melepas pegangannya, mengecek nadi ayah mereka, lalu berdiri. "Ayo, Kak."
Madara menyeka noda darah di tangannya, dan keluar mengikuti adiknya untuk mempersiapkan kremasi. Mayat para kerabat mereka disusun berjajar dalam kimono putih. Sehelai kain berwarna senada menutup wajah mereka. Tidak semuanya utuh, beberapa bahkan kehilangan satu lengan atau kaki.
Mayat Uchiha Tajima berada di tengah, dan menjadi yang pertama disulut api. Madara begitu lega ketika lidah-lidah api membesar dengan cepat. Tangan kanannya masih merasakan sensasi ketika kunai yang ia genggam Izuna dorong menembus jantungnya.
Tak ada tangisan di pembakaran mayat malam itu. Meskipun lapangan kremasi terletak jauh dari pemukiman, bau sangit daging terbakar merebak sampai ke pojok-pojok tersembunyi. Berulang kali maju perang, baru kali ini mereka membakar puluhan orang sekaligus.
Tak ada pidato, tak ada doa didaraskan. Hanya dendam yang berkobar serupa lidah-lidah api di pantulan kelam mata mereka. Serta bisikan-bisikan sengit yang selalu ia dengar di setiap pemakaman.
"Semua Senju harus mati."
"Kita akan membalas kematian keluarga kita."
Untuk pertama kalinya, Madara tak turut menggemakan kata-kata itu. Amarah yang berenang-renang di benaknya dihempas perasaan asing. Keraguan.
"Bagaimana caranya kita melawan mokuton…?" seseorang bertanya, suaranya mengalahkan derak-derak kayu terbakar.
"Kalian jangan cemas!" Suara Nanami membuat semua orang mengangkat kepala. Di tangannya masih ada obor yang tadi menyulut mayat-mayat kerabat mereka. "Inilah yang diinginkan para Senju itu. Saudara-saudara kita yang gugur hari ini belum akan tenang sampai kita membalas mereka!" Tatapan matanya menyapu kerumunan, dan berhenti pada Madara.
Dalam kebisuan, ia mempertanyakan mengapa bukan ia yang sekarang berbicara.
"Panas api kita akan cukup untuk membakar mokuton dan menguapkan suiton!" Bibinya mengakhiri monolog dengan melemparkan obor ke atas pembaringan. Seruan-seruan setuju mengisi sisa malam itu.
Madara tetap bungkam.
Usai melarung abu shinobi yang gugur di hilir sungai, ia memanggil semua bawahan ayahnya untuk meninjau ulang pertempuran terakhir mereka. Aula yang biasa dipenuhi wajah-wajah keriput kini bercampur dengan wajah-wajah yang lebih muda. Anak-anak menggantikan ayah dan ibu mereka yang baru gugur. Tatapan tajam Uchiha Nanami tak lepas darinya di sepanjang pertemuan.
"Daimyo Taneyuki memberi kita mandat memperluas wilayah dengan mencaplok lahan-lahan Senju. Semua sumber daya yang kita butuhkan akan beliau beri sampai musim semi." Madara tidak membuang waktu berbasa-basi. "Mereka belum sepenuhnya menang; kita harus menyerang mereka secepatnya. Tidak akan ada yang menyangka hal itu."
"Pengintai kita belum kembali, Madara-san," Hikaku angkat suara. "Laporan awal bilang Senju Butsuma terluka parah. Keselamatannya diragukan."
"Anaknya bisa ninjutsu medis," Izuna menambahkan.
Untuk sesaat, jantung Madara berhenti berdetak. Segera dienyahkannya perasaan itu. "Pengintai berikutnya seharusnya kembali malam ini. Bagaimana dengan persenjataan kita?"
Dari medan perang, divisi pendukung mengambil lebih banyak senjata dari yang mereka bawa. Beberapa bahkan melucuti zirah shinobi Senju. Kualitasnya sudah jauh meningkat dibandingkan zirah lama mereka. Dari jumlah yang berhasil dihimpun, klan Uchiha tidak perlu mengkhawatirkan soal zirah dan senjata.
Jika Madara harus mengakui satu keunggulan klan Senju, maka itu adalah sokongan finansial dari klan Uzumaki. Berbeda dari klan lainnya, klan Uzumaki sangat tertutup. Entah mereka tinggal di sebelah mana Hinokuni. Sumber-sumber Taneyuki mengatakan bahwa Uzumaki memiliki akses langsung kepada Kaisar. Sementara itu, klan Uchiha hanya bisa bergantung pada daimyo yang mengepalai wilayah mereka tinggal.
Setelah menugaskan juru tulis untuk menyurati Daimyo Taneyuki, Madara membubarkan pertemuan. Ia kembali ke rumahnya sendirian— Izuna entah mengapa memilih menunggu pengintai pulang padahal ia tahu adiknya hanya sedikit beristirahat.
Alasan perilakunya menjadi jelas setibanya Madara di rumah. Biasanya ia tidur di tatami berbantalkan balok kayu. Namun, di tengah kamarnya sudah tergelar futon bulu baru.
Seorang gadis muda yang tak dikenalinya duduk bersimpuh di situ. Keterkejutannya segera dialihkan dengan menunduk memberi hormat.
"U, Uchiha-sama … se, selamat malam." Sapaannya disampaikan bergetar. Rasa takut merembes dari gerak-geriknya. Ketika si gadis tidak mendengar balasan apapun, ia nekat melirik. Namun, wajahnya segera disembunyikan kembali. Di belakangnya, terlipat rapi sehelai kimono hitam klannya.
Madara mengernyit, melirik ke sudut gelap di dalam. "Bukankah Bibi tahu ini tidak perlu?" Sulit sekali menjaga suaranya stabil. Ada kekesalan membuncah di dadanya. "Sudah kubilang aku tidak mau."
"Kau kepala klan sekarang, Madara." Nanami bersandar pada tiang. Lengannya yang kekar terlipat di dada. Wajahnya ditutupi kegelapan. "Tanggung jawabmu lebih besar. Tajima boleh saja membiarkanmu sesukanya. Tapi hari-hari itu sudah berakhir." Bibinya maju meninggalkan bayangan, membiarkan cahaya separuh bulan menerangi mukanya yang penuh luka. "Pikirkan klanmu. Pikirkan anak-anak kuat yang akan dilahirkannya," desisnya sambil menunjuk si gadis yang masih menghormat di atas futon. "Kau shinobi terkuat yang pernah dimiliki Uchiha. Jangan sia-siakan darahmu."
Wajah pemuda itu berkeriut menahan marah. "Bibi tidak berhak—!"
"Kau ini laki-laki apa bukan!?" Suara Nanami yang mendadak meninggi mengagetkan kedua orang lain di ruangan itu. Ia berlutut dengan cepat dan menyambar puncak kepala si gadis, memaksanya menunjukkan wajahnya. "Anak ini tidak cacat. Tubuhnya sehat. Tidak jelek, lagi. Kurang apa lagi?" Didorongnya si gadis kembali ke kasur.
Isakan lirihnya mengisi kesunyian yang menyusul.
"Tinggal pakaikan kimono kita buat dia."
Murka mekar. Gadis yang tak jelas asal usulnya ini, harus jadi istrinya? Padahal ia jelas ketakutan? Kimono Uchiha dari garis kepala klan hanya boleh disampirkan pada perempuan yang menginginkannya sungguh-sungguh, bukan yang berada di sini karena paksaan keluarganya.
"Mereka semua lemah, bukan shinobi ataupun kunoichi! Dia nggak pantas, Bibi."
"Nggak mau gadis desa? Pilih saja sepupumu yang manapun!" Bibinya berteriak lagi, tidak memberi kesempatan pada keponakannya untuk menyanggah. "Atau ada gadis klan lain yang kausukai? Sebut saja namanya. Kuseret nanti dia ke sini!"
"Tidak ada—!" Namun, jantungnya kembali melewatkan satu detak. Mengkhianatinya terang-terangan. Otaknya berkonspirasi, mengirim imaji rupa seorang gadis berkulit kecokelatan dengan mulut separuh terbuka dan sepasang mata penuh kecemasan; tubuhnya pasrah tanpa niat melawan….
Madara, aku nggak mau kamu mati.
Panas serupa kemarin sore segera bergelora di sekujur tubuhnya. Pipinya menghangat tak nyaman.
Nanami mendengus puas. "Rupanya aku benar. Jadikan gadis ini selir saja sampai kau bisa menikahi gadis yang kaumau."
Serat tatami di sekitar kakinya patah berderak-derak, mencuat dari jalinan rapat mereka. "Jika Bibi terus-terusan begini, aku terpaksa mengusir Bibi," Madara tenang menyampaikan. "Bertahun-tahun kubilang aku tidak mau. Apa Bibi belum mengerti juga? Mau Bibi bawakan perempuan seperti apa pun, aku tidak akan mau!"
"Kau bukan bocah lagi, Madara! Berhenti bersikap egois! Adikmu juga— "
"Suruh saja orang lain!" Madara mendorong pintu geser keras-keras, mematahkan rangka tipis penyangga lembaran shoji-nya. Ia mengindera beberapa orang berkerumun agak jauh, mencuri dengar pertengkaran mereka.
"Ayahmu terlalu longgar. Jalang Senju itu pasti memengaruhimu dulu—"
Madara tak paham mengapa cakranya kehilangan kendali, menebas dan merusak tatami di mana telapaknya memijak. Ia mendekati si gadis yang sedari tadi hanya terpana mendengarkan mereka. Air matanya deras mengalir. Satu lengannya terangkat menutupi wajah, memohon ampunan.
"T, tolong … jangan…."
Ia menyingkirkan lengan itu, mencengkeram si gadis agar menatapnya. Ia seperti seekor kelinci yang tahu ajalnya mendekat di antara rahang seekor serigala. Membeku tanpa daya untuk melawan atau kabur. Tak lama kemudian kelopak matanya mulai sayu, dan tubuhnya ambruk ke futon. Genjutsu yang ia lancarkan telah membuatnya terlelap seketika. Tidak akan bangun sampai matahari terbit esok hari.
Madara bahkan tidak menoleh kepada bibinya ketika ia meninggalkan rumah. Amarahnya membubung, yang ia lampiaskan pada pagar-pagar ladang dan bebatuan di sepanjang jalan. Persetan jika orang-orang terbangun. Pemuda itu pergi ke hulu, menghindari rumah-rumah. Ia tak akan bisa tidur seperti ini.
Wajah Hashirama masih bebal menghantui memorinya. Terus menggenangi pikirannya seperti aliran deras sungai, berdentum-dentum, menabrak segala pengalihan yang memenuhi benaknya dalam dua hari terakhir ini: kekalahan mereka, kematian ayahnya, kematian sepertiga anggota klannya, pengangkatan dirinya menjadi kepala klan—
Panasnya bermuara di bawah pinggang, mendorongnya untuk terjun ke sungai dingin. Madara menceburkan kepalanya ke dalam aliran air keras-keras, menyipratkan air ke sekujur tubuhnya. Kulitnya terkejut akan perubahan suhu, dan otot-ototnya gemetar hebat.
Menghancurkan klan Senju adalah alternatif yang lebih mudah dicapai. Menghancurkan Hashirama akan menghentikannya memenuhi pikirannya seperti ini.
Madara.
"Brengsek!"
Sungai menggelegak dan menyala dalam lidah api jingga ketika katon berembus dari mulutnya. Madara merebahkan diri di dasar sungai, napasnya membuat gelembung-gelembung udara. Matanya dipejamkan. Aliran air di sekitarnya menghangat, memadat, berbisik memanggilnya dengan suara feminin—
Bertahun-tahun keluarganya membujuk Madara untuk mengambil istri, menghadiahinya dengan perempuan tercantik dari desa-desa tetangga. Tak semuanya sungguh bersedia, semata-mata karena tak kuasa menolak paksaan klan Uchiha seperti gadis barusan.
Semua demi meneruskan sharingan sekuat miliknya.
Namun, Madara menganggapnya konyol. Kemampuan olah cakra para perempuan itu tidak selevel dengannya. Tidak ada, malah. Jijik rasanya memaksa mereka tidur dengannya, atau memaksa dirinya sendiri bersanding dengan orang selemah itu. Memulai keluarga di tengah peperangan begini adalah hal konyol, anak-anaknya akan bernasib sama seperti adik-adiknya. Ia sedang berusaha mencegah itu, bukan malah memperbanyak korban—
Aku nggak mau kamu mati.
—Tentu saja mereka takut; mereka tak punya pilihan selain tunduk. Berbeda dengan Hashirama. Ia bisa bertarung dengan serius, bisa parah melukainya. Bisa mengalahkannya. Namun, ia memilih pasrah. Semua perempuan itu tidak sebanding dengannya— tak satupun dari mereka pernah menghantuinya seperti ini. Biasanya hanya taktik dan latihan yang mengisi pikirannya. Bukan Hashirama.
Madara.
Bukan wajahnya yang pasrah memohon. Bukan tubuhnya yang hangat menempel pada dadanya, napasnya pendek-pendek penuh cakra sekuat dirinya. Bukan pinggangnya yang ingin ia rengkuh bukan bibirnya yang ingin ia cium bukan Hashirama yang Madara harap ia tiduri malam ini—
"Argh!"
Madara mendorong dirinya bangun begitu cepat, terengah-engah karena lama menahan napas di bawah air. Poni panjangnya ia sisir ke belakang, meneteskan air ke punggungnya. Giginya mengertak frustrasi.
Khayalan bodoh. Hashirama tidak mungkin bisa menggantikan posisi perempuan-perempuan yang dikirim untuk ditidurinya. Klan Senju menganggapnya iblis. Klan Uchiha tahu bahwa semua perempuan Senju terlatih untuk menipu. Hashirama pasti juga begitu. Adalah kehinaan tertinggi baginya, kepala klan Uchiha, untuk menginginkan seorang gadis Senju. Mokuton-nya pun sangat berharga; mustahil keluarganya membiarkannya melajang terlalu lama. Cepat atau lambat ia akan berkeluarga juga. Mungkin ia sudah punya anak, makanya ia belum pernah turun ke garis depan sampai tempo hari….
Mengapa ia yang memenuhi pikirannya sekarang? Bertemu pun sudah jarang sejak ayah mereka memergoki pertemuan rahasianya di tepi sungai itu. Hanya kabar-kabar tentangnya yang dibawa mata-mata.
Jika Hashirama mati, semua delusi ini akan berakhir.
Madara meninggalkan sungai, berhati-hati menapak tepiannya yang curam. Ia mendudukkan diri di rerumputan, dahinya ia pegang dengan kedua tangan.
Apa ia sungguh menginginkannya mati? Segala kekalahan Senju membawa lebih banyak uang dan makanan bagi Uchiha. Klannya bukan petani andal. Sekadar berburu dan menanam sayur di pekarangan tidak akan cukup memberi makan semua orang.
Jika ia dan Hashirama mati di situasi yang masih seperti ini, anak-anak akan terus mati sia-sia.
Wajah pucat ayahnya terlintas, pembuluhnya berubah keunguan karena racun dalam tubuhnya. Anak-anak yang selamat sampai dewasa pun akan menemui ajal di tangan musuh. Terus begini, seperti siklus tak berujung. Tapi klan Uchiha bukan klan pengecut. Gugur di medan perang adalah suatu kehormatan….
Kecuali jika ia berhasil menghabisi seluruh Senju dan menawan sisanya. Tebusan yang bersedia dibayar penyokong dana mereka pasti cukup besar untuk memberi makan semua Uchiha selama setahun penuh. Nah, bagaimana caranya mengurung orang yang bisa membelah bumi dalam satu tarikan napas—
Kepala Madara terantuk ke lututnya ketika ia bersin keras-keras. Dahinya berdenyut-denyut. Dasar bodoh, ia bisa sakit jika terlalu lama di sini, apalagi dengan pakaian basah kuyup….
"...Ya ampun, Kak."
Rerumputan tersibak ketika Izuna mendekat, kedua ujung bibirnya menurun jengah melihat kondisinya.
"Bibi Nanami masih di rumah?" Madara berdiri, mengusap hidungnya.
"Nggak. Cewek itu sudah kupindah ke sebelah tungku seperti biasa." Ia mendengus keras-keras. "Belum sehari Ayah mangkat, Bibi sudah mulai cerewet lagi."
Pemuda itu menatap adiknya penuh rasa terima kasih. "Dia merecokimu juga?"
"Kapan, sih, aku bebas dari omelannya…?" Izuna berbalik, berkacak pinggang dengan bibir dimajukan. Suaranya ia berat-beratkan, "'Kamu perempuan muda terkuat Izuna, cepat beranak-pinak sana, bujuk kakakmu juga. Perang terus mandul nanti kamu….'"
Madara terkekeh, mengacak-acak rambut adiknya. Izuna nyengir lebar sembari berkelit menghindar. Tanpa berkata-kata lagi, ia memimpin mereka kembali ke perkampungan. Pemuda itu terus memeras rambutnya di sepanjang perjalanan. Telapak kakinya meninggalkan jejak basah di tanah; sandalnya ia tenteng di satu tangan.
"Aku kangen Ayah. Biar keras, setidaknya aku nggak disuruh cepat punya anak," kata adiknya tiba-tiba, tangan kirinya menerabas rumpun lavendel. "Sharingan-ku belum maksimal berkembang…."
Di kalangan para tetua klan, hanya ayah mereka yang membiarkan Izuna terus mengasah kemampuan tempurnya begitu ia membangkitkan sharingan-nya. Gadis-gadis lain sebayanya sudah memiliki anak setidaknya dua orang sebelum diizinkan kembali ke medan tempur.
"Aku nggak akan memaksamu juga." Kerikil menggelinding jatuh ketika mereka melewati jalanan menurun, menggores telapak kakinya. Sandalnya dipakai kembali.
"Oh, omong-omong … kenapa Kakak nggak mau, sih?"
"Nggak mau apa?" Madara melambatkan langkah.
Izuna mengerjap. "Kawin."
Pemuda itu melengos. "Pokoknya nggak mau."
"Kakak tahu caranya, 'kan?"
Ia hanya menggeram tak jelas. Bersama pemuda-pemuda lain beberapa tahun lalu, Hikaku dulu mengajaknya mengintip rumah sepupu mereka yang katanya akan menikah. Ada perempuan asing menggandeng sepupu mereka, menyatakan kesediaannya untuk diperistri. Si sepupu memberinya kimono hitam khas Uchiha, yang langsung dipakai perempuan tersebut. Apa yang ia curi dengar selanjutnya dari luar kemudian membuatnya mual.
Ia tak bisa membayangkan dirinya membuat Hashirama menjerit-jerit seperti pengantin sepupu mereka waktu itu.
Tetapi bukankah membunuhnya juga menyakitinya? Apa bedanya?
"Kakak aneh, deh."
Madara mengerjap, menemukan Izuna menyipitkan mata ke arahnya. "Nggak."
"Kakak memangnya tadi ngapain sampai basah kuyup begini?"
"...Terpeleset," jawabnya asal-asalan.
"Jujur, Kak. Kakak ngapain keluar malam-malam begini?" Izuna terus menuntut. "Apa karena Bibi…?"
"Bukan." Madara menggeleng dan mempercepat langkah.
"...Ayah?"
Madara mengabaikannya. Kematian ayah mereka memang masih memberati benaknya, tetapi hal itu bukan tidak pernah mereka antisipasi. Semua shinobi mengawali hari dengan menerima kenyataan bahwa mereka mungkin akan mati. Hanya akhir hidupnya tak pernah ia bayangkan seperti itu.
Tak pernah ia bayangkan ialah yang harus menjadi penyebab akhir hidupnya.
"Atau perang barusan?"
"Sudah, ayo pulang," sergahnya. "Aku dari tadi memikirkan strategi melawan mokuton." Imaji yang tadi berusaha ia lenyapkan merambat kembali ke permukaan pikirannya. Beberapa langkah kemudian, terdengar seruan jijik yang membuatnya menoleh kaget.
"Iiiih!" Izuna menunjuk ke wajahnya. "Kakak selama ini … sama Hashirama?!"
"Apaan—" Madara berlari mendekat. Mereka telah mendekati tepi rumah-rumah. "Pelankan suaramu!"
"Ternyata Bibi selama ini benar! Kakak memang suka seseorang!" Izuna berkelit dari tangan kakaknya. "Tapi kenapa mesti Hashir—!"
Madara membekap mulut adiknya dan menariknya menjauh dari obor di tepi jalan. Izuna mencakari lengannya, mendesis-desis seperti kucing marah.
"Ow!" Buru-buru Madara melepasnya, lalu mengusap-usap lukanya.
"Kakak gimana, sih? Dia, 'kan, musuh kita!" gerutunya marah, "pemimpinnya malah!"
"Maksudmu—?"
Sharingan Izuna berkilat-kilat di kegelapan. "Hashirama sudah jadi kepala klan baru Senju."
Bukan Tobirama? Bulu kuduknya meremang. Semua kepala klan Senju sejak dahulu kala selalu seorang lelaki. Jabatannya diturunkan ke kerabat lelaki yang dianggap terbaik. Apakah mokuton-nya mengantar Hashirama ke posisi itu? Pasti begitu. Tidak ada penjelasan lain yang masuk akal.
Ia mundur perlahan-lahan. "Aku harus ke kuil," katanya pada Izuna. Pemuda itu segera pergi sebelum adiknya sempat merespons.
Madara mendapatkan satu lagi alasan kuat untuk membunuh Hashirama.
Tapi, haruskah ia? Benarkah jika Hashirama mati, segala kerumitan ini akan terurai sendirinya? Tidak— Tobirama pasti akan melanjutkan peperangan melawan Uchiha. Jika ia mati, yang lain menggantikan. Tak ada habisnya; setelah ia dan Izuna mati pun—
"Arg!" Madara menekankan telapak tangannya ke kedua matanya.
Sakit.
.
Ketika Hashirama meninjau desa sendirian pagi buta ini, sekelompok petani datang menghadap. Mereka memohon dengan sangat agar sang Hokage membuatkan rumah seperti yang ia buatkan bagi klan-klan shinobi Konoha. Hashirama tak kuasa menolak permintaannya. Ia sedang menyelesaikan rumah kelima ketika Tobirama menemukannya, ekspresinya menahan murka.
Pusingnya juga belum hilang ketika ia kembali ke kantor dan meminum rebusan dari Hyuuga Kyoko untuk meredakan mualnya. Nara Shikana datang tanpa pengumuman, memprotes kebijakan menerima anak-anak petani biasa di Akademi. Ia pergi dengan kesal ketika Hashirama mengatakan ia tidak akan mengubah peraturan itu.
Sisa makan siang Hashirama yang hanya separuh tersentuh sudah dingin di ujung terjauh meja. Staf kantor Hokage menyiapkannya nasi, tahu dan sup miso. Meskipun cenderung tawar, di lidahnya semua itu terasa tidak seenak biasanya. Jendela apartemennya terbuka lebar, membuat semua suara di jalanan terdengar sampai dalam. Ia mencium wangi sulingan sake dari kediaman Hyuuga di kejauhan.
"Sebenarnya aku juga ingin tahu," kata Tobirama usai menelan suapan nasi terakhirnya, "apakah anak-anak petani itu bisa olah cakra sebaik anak dari keluarga shinobi."
"Kita nggak akan tahu sampai mereka lulus," Hashirama menjawab, mendorong-dorong gelas tembikarnya ke tengah meja. "Semua orang bisa menggunakan cakra jika diajari. Kemampuan ninja 'kan tidak hanya ninjutsu saja. Leluhur kita dulu juga petani. Jadi kenapa...?"
Tobirama berhenti menyortir tumpukan surat-surat masuk. "Ada yang ingin mereka terus bertani saja tanpa mencampuri urusan shinobi. Banyak yang tidak bersedia membagi ilmu klan mereka."
Hashirama mengempaskan punggung ke sandaran kursinya. "Aku masih nggak mengerti. Tidak semua jurus bisa dilakukan sembarang orang. Apa mereka merasa tersaingi?"
"Kupikir begitu."
Sang Hokage menghela napas berat dan memijat pelipisnya. Ia lama terdiam memandangi laporan misi penjagaan batas Hinokuni. Batas mungkin tidak tepat— wilayah-wilayah di antara Tsuchinokuni dan Kazenokuni tidak jelas dikuasai siapa. Ketiga negara mengklaim wilayah tersebut, sehingga selama bertahun-tahun konflik-konflik kecil bermunculan di situ.
Tidak ada suara selain ketukan lembut cap yang dibubuhkan Tobirama pada laporan-laporannya. Mendadak sebuah ide terbersit di hatinya.
"Waktu itu kamu mengusulkan sistem mentor lapangan dalam grup empat orang," kata Hashirama. "Satu jounin dan tiga genin. Kita bisa mencampur genin dari keluarga berbeda dalam satu tim. Oh, kita juga bisa menjadi mentor jounin mereka, 'kan?"
Tatapan mata merah kelam adiknya terangkat ke wajahnya. "Ide bagus. Selama Kakak sanggup saja…."
"Aku sanggup, kok."
"Tugas Hokage luar biasa banyak, belum lagi Kakak nanti akan sibuk mengurus—" Tobirama terdiam mendadak. Ia telah menyentuh topik pembicaraan yang mereka hindari selama berhari-hari.
Sejak Tobirama meninggalkan apartemennya waktu itu, mereka tidak saling bicara kecuali tentang pekerjaan masing-masing. Yang terus mengganjal hatinya adalah kata-kata terakhirnya sebelum pergi.
Kakak sengaja. Kakak sudah tahu.
Ia berniat menjelaskan semuanya, sungguh, tetapi kesibukan demi kesibukan memakan waktu dan tenaganya. Ketika di penghujung hari Hashirama punya waktu luang ia sudah terlalu lelah, atau Tobirama masih disibukkan pekerjaannya sendiri. Belakangan adiknya itu menelaah semua literatur dari klan Uzumaki tentang fuuinjutsu dan turunan penggunaannya untuk pengamanan desa.
Jika ia mundur dari pertunangan ini, entah dengan uang apa ia harus membayar utang Senju. Mayoritas klan ninja menerima pembayaran dengan makanan dan barang, termasuk klannya. Pembayaran seperti ini tergantung pada hasil panen dan kemampuan desa-desa di bawah naungan daimyo untuk menghasilkan beras. Hashirama tidak bisa mengambil kas desa…..
"Kak?"
Ia mengerjap, mendadak teringat apa yang dipikirkannya tadi. Usai menimbang-nimbang, Hashirama mengangguk. "Oke."
Tobirama mengernyit, tampak siap mengatakan sesuatu. Namun, ia segera kembali pada pekerjaannya. "Kakak istirahat saja."
"Nanti setelah semua ini…." Hashirama membuat isyarat pada tumpukan laporan misi itu.
"Kakak tidak boleh sampai stres."
Senyuman samar tersungging di bibirnya. "Sebentar lagi."
Tobirama meletakkan kuasnya, resah. "Apa Madara sudah tahu Kakak...?" Ia memberi isyarat ke perut saudarinya.
Kedua lututnya bergoyang tak nyaman di bawah meja. "...Aku belum memberitahunya."
"Belum?"
"Cobalah untuk lebih ramah kepadanya," Hashirama mengalihkan topik pembicaraan. Ia menerawang keluar jendela. Langit mulai berubah jingga. "Kita sudah serumah dengan mereka sekarang."
"Jujur saja, bagiku dia terlihat lebih senang berada di luar Konoha."
Entah apa yang Madara kejar di luar sana. Ia percaya Madara punya alasan bagus, sesuai dengan rencana mereka di malam perjanjian damai kedua klannya ditandatangani.
"Soal komplain tentang anak-anak petani itu, apa kamu sudah membicarakannya dengan Izuna?"
Begitu namanya disebut, tangan Tobirama menegang di atas meja. Ia buru-buru menariknya turun. Hashirama mengernyit, siap bertanya, kemudian jawabannya langsung jelas di pikirannya.
Izuna pasti marah kepadanya.
Rasa bersalah menyambarnya bagai petir. "Kalian berantem," ucapnya datar.
Tobirama mengangguk singkat, lalu kembali membaca laporan.
Ia tidak memperhitungkan Izuna, sama seperti ia tidak mengira Tobirama bertindak di luar sepengetahuannya. Kejahilannya berminggu-minggu lalu terlintas kembali. Izuna yang sekarang adalah kebalikan total dari pertemuan kedua mereka di luar medan perang. Izuna yang sekarang sudah menemukan tempatnya di Konoha.
Izuna yang sekarang tak lagi mencari kematian.
Tenggorokannya mendadak kering. Supnya ia minum perlahan-lahan.
Hashirama harus minta maaf kepadanya. Koreksi— mereka berdua harus minta maaf pada adik-adik mereka. Supnya diletakkan, lalu ia menuju pintu keluar.
"Kakak mau ke mana?"
"Cari angin."
Hashirama berbohong, tentu saja. Langkah-langkahnya mantap menuju Akademi. Begitu ia keluar dari bangunan kantor, senyuman lebarnya kembali terpasang. Ia menyapa semua orang, mulai dari sekelompok anak-anak Inuzuka yang mengajak anjing mereka berjalan-jalan sampai murid-murid Akademi yang baru pulang. Ia menyadari punggung pakaian mereka sekarang sudah disulam dengan lambang klan masing-masing. Beberapa anak berpunggung polos, dengan pakaian yang kentara tidak sebagus teman-temannya.
Pasti mereka anak-anak petani yang dimaksud Nara Shikana.
"Hokage-sama!"
"Selamat sore, Hokage-sama!"
"Ah—!"
Langkahnya terhenti ketika anak-anak kecil menghambur memeluk kaki jenjangnya. Mulut-mulut mereka riuh bercerita.
"Aku bisa lempar shuriken!" seru seorang anak perempuan.
"Aku menang petak umpet!" seru temannya tak mau kalah.
"Anjingku masih pipis sembarangan!"
"OI!"
Seruan terakhir mengundang teriakan serempak dari para pemuda Inuzuka. Salah satunya buru-buru menarik anak tersebut sambil meminta maaf sedalam-dalamnya.
"Maaf, Hokage-sama, adikku mulutnya nggak disaring!"
Hashirama hanya terbahak-bahak melihat mereka segera pergi bersama sanak saudaranya. Anak-anak di sekelilingnya terus meminta perhatian, maka ia berlutut di tanah untuk mendengarkan cerita masing-masing. Ada yang sudah belajar melempar shuriken besi, ada yang baru bisa lancar membaca, ada yang sudah berhasil mengindera. Lututnya sakit ketika akhirnya anak terakhir pergi dijemput keluarganya. Setelah kerumunan bubar, barulah Hashirama menjumpai sosok langsing di bawah pohon di depan pintu Akademi.
"...Izuna."
Izuna hanya mengangguk sebagai balasannya.
Sang Hokage berdiri, membersihkan debu dari lututnya. "Kau … mau pulang?" Kecanggungan melandanya. Jika Izuna sudah bertengkar dengan adiknya, bagaimana dengan Hashirama sendiri? Tidakkah ia lebih marah terhadapnya?
Namun, di luar dugaan Izuna mengangguk lagi. Ditinggalkannya pohon untuk berjalan ke arah kediaman Uchiha di ujung lain desa. Hashirama segera berjalan di sisinya, lega kehadirannya tidak ditolak. Hari ini matanya ditutupi kain hitam, dan dinding cakranya lebih tebal dari biasanya. Udara terasa berat di bahu Hashirama.
"Bagaimana … murid-muridmu?"
"Baik," jawabnya tanpa menoleh. "Aku dengar beberapa orang protes karena kita menerima anak-anak petani di Akademi. Aku tidak setuju. Semua orang setidaknya harus tahu protokol keamanan dan dasar-dasar kerahasiaan shinobi."
Seberkas rasa lega menyapu benaknya. "...Terima kasih."
Izuna hanya mengangkat bahu. "Kalaupun mereka nggak bisa mengaktifkan cakra, bisa taijutsu dan lempar shuriken saja sudah lumayan."
"Mereka yang nggak setuju enggan berbagi rahasia jurus klan masing-masing."
Ia berdecak sembari berbelok ke jalan yang lebih sepi, mengitari desa lewat tepi dinding kayu raksasa. "Padahal mereka tahu nggak semua jurus klan bisa dipelajari orang biasa."
Mereka telah memasuki area yang jarang rumah ketika Hashirama menyadari sesuatu yang janggal. "Kamu … bukannya biasanya pulang-pergi dengan anak itu? Makoto?"
"Pergi ke Iwa. Kebelet ingin maju perang. Ya sudah."
"Oh."
Makoto bukan anak-anak. Usianya sudah enam belas tahun, tujuh belas mungkin. Bukan anak-anak lagi.
Izuna berhenti berjalan, melangkah ke antara belukar. Kakinya hati-hati menapak celah di antara aras-aras tinggi sementara cakranya memindai sekeliling. Ia memberi isyarat agar Hashirama mengikutinya. Ia bertanya-tanya mengapa Izuna meninggalkan jalan; apakah ia berniat membahas pertunangannya yang dirahasiakan? Atau malah soal Tobirama?
Setelah mereka agak jauh dari jalan setapak, barulah ia berhenti. "Tolong jawab jujur," pintanya, menyiram Hashirama dengan dinding cakranya. "Hashi-san sungguh menyayangi Kakak, 'kan?"
"Ya—" Jawabannya keluar bagai tercekik. Senggukan keras merambat naik dari dadanya. Hashirama buru-buru menyeka ujung matanya.
Madara masih jauh di medan perang. Ia tidak meragukan kekuatannya, tetapi apapun dapat terjadi kepadanya di sana. Selama sebulan ia mengejar bijuu, ia juga sudah sampai ke garis depan peperangan. Yang Hashirama ketahui dari sana hanya lewat laporan-laporan juru tulis. Kenyataan di lapangan pastilah lebih mengerikan….
Ketika ia membangun Konoha, Hashirama berharap ia dan Madara bisa lebih sering bersama. Namun, kenyataannya justru sebaliknya.
Tangan wanita itu meraba paku-pakuan di sebelahnya. "Waktu Hashi-san menginap di rumah kami, apa Hashi-san memakai kimono kami?"
"Ya." Hashirama mengatur napasnya.
"Kakak yang memberikannya?"
"Ya—"
Cakra Izuna menamparnya.
Hashirama tidak berkelit, sengaja membiarkan cakra panas-perih itu melukai pipinya. Regenerasi pasifnya seketika bekerja, menyembuhkan luka sebelum memerahkan kulitnya.
"Kautahu punya tunangan, mengapa masih menerima lamaran Kakak?" Suara Izuna bergetar, seperti menahan diri untuk tidak mengeraskan pertanyaannya. "Teganya kau menipu Kakak!"
"Izuna— aku tidak menipunya…" kata Hashirama lirih. "Madara … Madara sudah tahu soal pertunangan itu sebelumnya."
Izuna mengernyit. "Jangan bohong. Aku benci kalau kau bohong juga seperti Tobirama."
"Maaf…." Suaranya tercampur sesengguk. Segala beban yang ia tahan-tahan dalam beberapa minggu terakhir keluar tak terbendung. "Izuna, maafkan aku…."
Napas wanita itu keras penuh emosi, tetapi mereda beberapa saat kemudian. "Kapan Kakak tahu?"
Sesaat Hashirama menimbang, menyesali mengapa Madara tidak ada di sisinya sekarang. "Sudah lama," jawabnya singkat. "Tapi lamarannya tidak pernah ditarik."
"...Karena itu Hashi-san menerima kimono kami?"
"Ya."
Cuping hidungnya melebar. "Aku nggak percaya Kakak bahkan nggak cerita kepadaku." Ia mendadak gelisah. "Aku … nggak bermaksud…."
"Nggak apa-apa, Izuna," Hashirama menenangkannya. "Nanti begitu Madara pulang, akan kuminta dia menjelaskannya."
Namun, ekspresi Izuna segera kembali serius. "Sejak pindah ke Konoha, Kakak jadi tertutup." Bibirnya ia gigit.
"Tertutup bagaimana?"
"Sering berlama-lama pergi." Ia mencabut dedaunan, memilinnya di antara jemari hingga tergulung pipih. "Kakak banyak mengumpulkan informasi tentang wilayah lain, kehidupan di desa-desa non-shinobi, dan kabar dari luar Hinokuni. Setiap pulang selalu masuk ke Kuil Naka. Nggak keluar sampai pagi."
Rupanya benar. Ada yang mengganjal benak Madara. Ia teringat ke malam di mana Madara kembali dari perburuan bijuu-nya. Pasti ada hal-hal yang luput dari perhitungan mereka berdua tentang sistem dunia. Cukup banyak dan genting untuk mengganggunya sampai seperti ini.
"...Apa yang ada di dalam kuil?" Hashirama hanya tahu kuil itu merupakan tempat pemujaan pelindung klan Uchiha. Kuil itu sangat penting sehingga struktur aslinya dibongkar agar setiap komponennya bisa dibawa satu persatu dari kediaman lama mereka, lalu dibangun ulang di sini.
"Cuma prasasti." Izuna menengadah, mendengarkan burung-burung yang melintas di antara cabang aras. "Tulisannya cuma bisa dibaca pemakai sharingan. Isinya cuma satu kalimat. Tentang dua kekuatan yang saling bertolak belakang. Nggak jelas apa maksudnya."
Tetapi Madara pasti menganggapnya penting. Jika tidak, ia takkan menghabiskan waktu di dalam kuil lama-lama.
"Berkali-kali kutanya soal itu, Kakak malah mengabaikanku." Izuna mendengus, perlahan kembali ke arah jalan setapak. "Hashi-san mungkin bisa tanya dia soal itu."
"Tentu. Akan kutanyakan." Hashirama menggamit tangan Izuna selagi keduanya melalui akar-akar timbul yang bersilangan di tanah. Sebelum mereka berpisah jalan, ia teringat akan sesuatu.
"Izuna, itu … apa kemarin … kamu dan Tobirama…."
"Adik Hashi-san menyebalkan," ujarnya sambil lalu, meninggalkan Hashirama penuh kebingungan.
Ia lega Izuna tidak marah kepadanya, tetapi ia masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Diambilnya jalan menembus pinggir pemukiman untuk kembali ke kantor, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"...Apa namanya, jalang?"
Rasa penasaran menghentikan langkahnya. Hashirama bergeming, menyimak. Ada lebih dari dua suara, semuanya milik perempuan. Ia tergoda untuk mengintip dari balik pepohonan.
"Yang benar!"
"Duh, kamu lihat sendiri, 'kan, dia menempel terus sama kepala klan itu. Ternyata sudah punya tunangan."
"Ih, kurang ajar!"
"Aduh sayang ya, cantik-cantik kok murahan."
"Nggak disangka, orangnya ternyata jalang!"
"Duh, hati-hati. Siapa tahu kerabat kita yang diincar berikutnya!'
Terdengar kikik mengejek. "Siapa tahu suami kita yang diincar!"
Obrolan berpindah ke keluhan tentang suami masing-masing, lalu disusul tapak-tapak langkah menjauh. Sore telah berganti malam.
Hashirama masih terpaku.
.
Usianya delapan belas tahun, dan Hashirama bersumpah ini adalah pemakaman korban perang terakhir yang dihadirinya.
Tobirama mengambil alih segala persiapan upacara pemakaman, memberi instruksi dan perintah seolah ia sudah melakukan ini selama bertahun-tahun. Tidak salah juga— pemakaman adalah sesuatu yang rutin mereka hadiri. Hashirama bersyukur ia tidak diharapkan membantu; ia bisa menangisi ayahnya dengan tenang. Namun, ia sadar jika Butsuma melihatnya bersimbah air mata seperti ini, ia akan dimarahi.
Jumlah korban tewas hari itu tidak banyak. Mayoritas mati seketika di medan perang, seperti ayahnya yang gugur setelah duel melawan Uchiha Tajima. Semua yang terluka berat telah Hashirama tangani sampai kondisi mereka cukup stabil untuk dirawat penyembuh klan. Ninjutsu medisnya berulang kali menyelamatkan nyawa, memperkecil jumlah shinobi Senju yang gugur.
Hal serupa tak bisa dikatakan untuk klan Uchiha. Menurut para pengintai, strategi air bah mereka menyapu sebagian besar pasukan dalam sekejap. Meskipun hal ini disambut baik oleh para tetua, Hashirama tidak nyaman. Berbeda dari cara berperang sebelumnya yang mengharuskan sepasang lawan berhadapan langsung, ninjutsu berskala besar seperti mokuton-nya membuatnya tidak harus berada di garis terdepan untuk menghancurkan musuh.
Ia tidak harus melihat mereka meregang nyawa.
Tobirama menganggap ini solusi bagus untuk mencegahnya membeku lagi di tengah pertempuran, tetapi dalam hatinya Hashirama tidak setuju. Saat ia menebas lawan, ia merasakan nyawanya mentas seiring terbelahnya daging dan tulang di bawah tekanan bilah pedang. Ekspresi dan teriakan mereka terpatri dalam memorinya. Dalam semua pertempuran yang lalu, ia menghabiskan waktu menyendiri setelahnya, memikirkan nyawa yang baru saja ia cabut dan kehidupan apa yang tadinya mereka jalani. Kehidupan yang ia hentikan semudah itu.
Ia pun terlambat menyadari, bahwa Uchiha masih membawa anak-anak ke medan perang. Banjir yang mereka luncurkan pasti telah membunuh mereka juga. Ketika menggunakan ninjutsu berskala besar untuk bertarung, ia tidak bisa memilih-milih siapa yang akan mati.
Namun, ada masalah yang lebih mendesak.
"Banyak shinobi kita yang ingin Kakak juga diikutsertakan dalam pemilihan kepala klan," Tobirama berkata sebelum pemakaman. "Sekarang setelah kita pulang, semua orang di kampung juga ingin hal yang sama."
"Apa karena mokuton-ku?" tanyanya, meski ia sudah tahu apa jawabannya.
Tobirama mengangguk. "Hanya shinobi sekuat itu yang berhak menyandang titel kepala klan. Begitu kata mereka."
"Kamu sendiri…." Hashirama sejenak memindai sekeliling, memastikan orang lain terlalu sibuk untuk mendengarkan. "Menurutmu bagaimana? Bukannya perempuan nggak pernah diikutsertakan dalam pemilihan kepala klan."
"Aku tidak masalah." Ia membuka bungkus nasi kepal yang tadi dibagikan.
"Ayah mempersiapkanmu jadi kepala klan, 'kan?"
"Kalau Kakak pemimpinnya, aku tidak masalah," ujarnya sebelum menggigit makanannya. "Kakak kandidat terkuat saat ini. Lihat saja nanti di musyawarah."
Setelah ayah mereka gugur, dewan klan dipimpin oleh Senju Azami. Ia seorang veteran dengan pengalaman sepanjang Butsuma sendiri. Di ujung aula duduk pamannya yang lain, Senju Joji. Meski terkena batuk menahun dan tidak pernah turun ke medan perang, ia pandai merencanakan strategi.
Aula saat itu penuh sesak. Biasanya hanya para tetua lelaki, dengan beberapa perempuan, yang merundingkan masalah-masalah kepemimpinan. Kali ini semua shinobi muda nekat menjejalkan diri. Lutut-lutut mereka menempel satu sama lain saking sempitnya. Ketika Hashirama dan Tobirama tiba, sedang terjadi debat sengit.
"Klan Senju tidak pernah dipimpin perempuan!" Paman Joji berteriak serak mengalahkan suara-suara ketidakpuasan, disusul batuk-batuknya yang khas.
"Cuma Hashirama-san yang punya mokuton!"
"Iya, benar!"
"Kita nggak akan menang tanpa Hashirama-san!"
Paman Joji menggerutu, kemudian menemukan kakak-beradik itu melalui ambang, mencari-cari celah di sela lutut-lutut yang bersentuhan. Para shinobi muda lainnya mengikuti arah pandang tetua itu. Mereka seketika berseru gembira, senyuman mereka berkilauan di bawah remang pelita. Beberapa orang bersiul-siul riuh.
"Hashi-san!"
"Hashiramaaaa!"
Sementara orang-orang dewasa lainnya menenangkan kerumunan, Hashirama menemukan wajah tirus Touka di antara mereka. Ia tersenyum simpul, terus memerhatikannya sementara Tobirama menuntunnya ke depan aula untuk bergabung dengan para tetua.
Sejak mokuton-nya bangkit, hanya beberapa kali Hashirama diizinkan ikut dalam pertemuan dewan klan. Dalam kesempatan itu, ia selalu kebagian tempat di belakang para nenek dan bibi pengajar calon kunoichi. Kali ini ia mendapati sepasang bantal duduk kosong di sebelah bantal yang biasa dipakai ayahnya. Tobirama mengambil tempat di bantal kiri, dan Hashirama duduk di bantal satunya.
Ia melihat ratusan mata balas menatapnya, semakin ke belakang semakin muda. Paman Joji mulai berpidato singkat tentang ayahnya, tetapi Hashirama hanya sedikit mendengar.
"...Menurut tradisi kita, putra sulung dari kepala klan terdahulu berhak mengajukan diri jadi calon kepala klan berikutnya," ia berhenti sejenak untuk melirik Tobirama. "Kandidat lain yang telah mengajukan diri baru Azami-san. Siapapun yang ingin mengajukan nama lain atau dirinya sendiri—"
"HASHIRAMA!" seru seorang pemuda entah dari mana, yang langsung dibeokan oleh anak-anak lainnya. Namanya terus menerus disahutkan sampai mereda di bawah pelototan Joji.
Gadis itu menahan diri untuk tidak tersenyum. Tetua lainnya tidak menganggap itu lucu.
"Sudah kubilang, perempuan tidak bisa jadi kepala klan!" kata pria itu gusar, tongkatnya ia hantamkan ke tatami.
"Inuzuka punya kepala klan perempuan, Pamanda!"
"Ya tapi mereka itu hobinya main sama anjing, bukan klan terhormat seperti kita. Ide-ide dan adat mereka aneh, Toshiro!"
Toshiro cemberut, pipinya menggembung.
"Tidak ada?" Tatapan Joji memindai kerumunan. "Baik, Tobirama, kandidatnya hanya kau dan Azami—"
"Aku mencalonkan kakakku sebagai kepala klan."
Untuk kedua kalinya seru-seruan bising pecah dalam aula. Joji berteriak mendiamkan mereka sampai terbatuk-batuk parah. Di sudut kirinya, para bibi bertukar pandang dan berbisik di antara satu sama lain.
Perlahan Hashirama melirik kepada adiknya. Wajah Tobirama serius seperti biasa. Perasaan gadis itu seketika campur aduk. Ia tak pernah disiapkan menjadi pemimpin, semata-mata dilatih untuk jadi salah satu aset tempur klan. Namun, jika ia menjadi kepala klan….
Ia akan bisa berperan lebih besar untuk menghentikan perang ini.
Jantungnya mulai berdebur memompa adrenalin. Harapan mekar dalam benaknya. Madara dulu benar, jika ia kuat maka orang lain akan mendengarkannya. Semua shinobi yang tadi berperang bersamanya telah melihat sebesar apa skala ninjutsu mokuton-nya.
"Hashirama?"
"Aku menerima pencalonan diriku."
Raut tak setuju seketika tergurat pada wajah sebagian tetua.
"Kalau begitu," kata Tobirama tiba-tiba, menoleh pada saudarinya, "aku mundur dari pencalonan."
"A—" Hashirama ternganga.
"Kamu yakin, Tobirama?" tanya Azami. "Ayahmu sudah mempersiapkanmu sebagai penerusnya!"
Ia mengangkat bahu. "Aku masih bisa membantu Kakak. Tidak masalah. Ayo lanjutkan ke pengambilan suara."
Wajah Joji berkeriut tak suka, tetapi ia melanjutkannya sesuai permintaan Tobirama. "Seperti yang kita semua tahu, semua yang hadir di aula ini dapat memberikan suaranya. Angkat tangan kalian jika ingin Azami-san menjadi kepala klan!" Beberapa tangan segera teracung di kerumunan. Lebih dari separuh anggota dewan juga mengangkat tangan. Joji menyuruh semuanya turun. "Sekarang angkat tangan kalian jika—"
Belum selesai ia berbicara, seluruh aula tenggelam dalam lautan lengan teracung. Ia terpana, nyaris tak mendengarkan deklarasi tak niat dari pamannya. Barulah ketika Tobirama menepuk punggungnya, ia kembali sadar.
Ujung jemarinya dingin.
"Maju, Kak," dorong adiknya.
"Ngapain—"
"Pidato."
"Aku nggak tahu harus bilang apa!" bisiknya nelangsa pada Tobirama.
"Basa-basi saja, 'kan, gampang."
Keriuhan perlahan pudar begitu Hashirama maju di muka. Ia menelan ludah. Sekilas ia melirik ke belakang, merasakan delapan wajah tak percaya menatapnya. Ia tak heran; mereka semua tahu reputasinya sebagai pembangkang klan. Mereka masih menganggapnya seperti anak bandel yang harus dikendalikan.
Hashirama ganti menatap kerumunan. Ada lebih banyak perempuan. Hampir semua shinobi di sini berusia dua puluh atau kurang; hanya sedikit yang berusia di atas tiga puluh, dan tak ada yang berusia empat puluh atau lebih di luar dewan klan. Anak-anak di bawah usia dua belas tahun mengintip di jendela, menyaksikan musyawarah di bawah pengawasan pengasuh masing-masing. Beberapa telah turut dalam pertempuran. Sorot mata mereka suram, meski disembunyikan dalam senyum dan tawa.
Jika mereka semua mati, maka itu akan jadi tanggung jawabnya.
Ia melempar senyuman lebar, menyembunyikan kegugupannya dengan membetulkan rambutnya. Hashirama baru berpikir untuk mengucapkan salam, ketika atap di atas aula berderak dan jebol.
"MATI KALIAN SENJU SIALAN!"
Dari lubang di atas, sebuah sosok meluncur turun tepat di antara kerumunan dan bagian depan aula tempat anggota dewan duduk. Debu dan potongan kayu terlempar ke segala arah. Penyusupnya mendapati Hashirama membeku kaget, dan segera meluncur mengincar titik vitalnya.
Segel ular telah terbentuk, tetapi cakranya menolak mewujud.
Tiga orang pemuda segera menahannya dari belakang. Salah satunya menyiapkan kunai, siap menghunjam dada si penyusup. Satu orang lainnya menutup matanya. Si penyusup meronta-ronta, tetapi cengkeraman mereka terlalu kuat.
"Tunggu! Jangan dibunuh!"
Ketiganya ternganga menatap kepala klan baru mereka. "Dia tadi mau menyerang Anda…!"
"Aku tahu, Toshiro-kun. Jangan sakiti dia." Hashirama mengangguk. "Tolong ikat dia dan tutup matanya."
Usai perintahnya dilaksanakan, Hashirama memerhatikan si penyusup. Anak lelaki, tak mungkin lebih tua daripada dirinya sendiri ketika mokuton-nya bangkit. Karena itulah ia tertegun, tak sanggup meledakkan cakranya. Tanpa bertanya lebih jauh pun ia tahu anak ini seorang Uchiha.
Hashirama menoleh pada pamannya. "Pamanda tidak bilang kita mengambil tawanan."
"Karena kau tidak perlu tahu," dengus Joji. "Tadinya."
Ia mengabaikan nadanya yang tidak enak itu. Ketika si tawanan digotong menuju pintu keluar, Hashirama menghentikannya.
"Biarkan dia di sini sebentar. Aku ingin dia mendengarkan."
"Tapi dia Uchiha, Hashirama-sama."
"Justru itu." Hashirama menegakkan diri, memindai kerumunan. "Saudara-saudaraku sekalian," ia memulai, "aku berterima kasih atas kepercayaan kalian untuk memimpin klan kita. Ada perubahan besar yang ingin kulakukan untuk masa depan kita." Ia memastikan semua mata menatapnya sebelum melanjutkan, "Kita akan berhenti berperang."
Ia bergeming, mengabaikan seruan kaget yang tak hanya datang dari arah para anggota dewan, tetapi juga peserta musyawarah lainnya.
"Kita cari makan bagaimana?"
"Aku bahkan belum membunuh seorang Uchiha pun!"
Gadis itu melirik tak nyaman kepada si tawanan yang masih menggeram. "Aku mengusulkan kita berhenti berperang, tetapi kita akan tetap mempertahankan wilayah daimyo yang menyewa jasa kita. Kita tidak akan lagi melayangkan tantangan, atau menerima permintaan menantang daimyo lain dari patron kita."
"Tapi, perangnya—"
"Lihat ke sekeliling kalian!" Suara Hashirama membahana, kedua lengannya terentang. "Berapa banyak anggota klan kita yang mencapai usia tiga puluh? Empat puluh?" Sejenak ia terdiam sementara tatapan semua orang mulai memerhatikan seluruh isi aula. "Tidakkah kalian merasa lelah dengan perang berkepanjangan, yang hasilnya tidak kita nikmati sedikitpun?"
"Hashirama—!"
"Pamanda dan Bibi sekalian, tolong dengarkan aku," pintanya dengan muka memelas. "Pamanda dan Bibi semuanya … sudah pernah kehilangan keluarga karena perang. Kehilangan anak. Mau sampai kapan klan kita harus begini?"
"Mandat perang ini sudah ada dari leluhur kita!" Salah satu perempuan paruh baya angkat bicara. Hashirama mengenalinya sebagai mantan kunoichi yang kini melatih gadis-gadis. "Para daimyo, terutama Matsudaira-sama, sudah memercayai kita berperang! Begitu juga dengan kerabat kita Uzumaki. Tanpa kita, mereka pasti akan diincar!"
"Bibi Mayuko, Bibi tahu 'kan kalau hanya para daimyo yang berseteru satu sama lain? Merebut desa demi desa? Para daimyo menyewa jasa kita. Kitalah yang mati demi mereka. Berkeping-keping uang tidak bisa membeli nyawa kerabat kita yang sudah hilang!" Hashirama menatap tawanan mereka, yang kini tak lagi memberontak. "Klan Uzumaki terlindungi dengan aman di tempat terpencil mereka. Terlalu jauh dari pusat perselisihan. Mereka aman."
Azami melipat lengannya, kesal. "Kauingin kita kembali jadi petani, begitu?"
"Tak ada yang salah dengan bertani!" Rasa frustrasi mulai membubung di benaknya. "Kita bisa mandiri. Hidup sampai tua, menyaksikan anak cucu tumbuh dewasa. Apa ada yang salah dengan itu?" Ia kembali menatap para anggota dewan. "Apa Pamanda dan Bibi sekalian tak ingin melihat anak cucu tumbuh dewasa?"
"Kauingin kita hidup hina!"
"Bukan! Aku hanya tak ingin ada lagi anak-anak yang mati terlalu dini! Mengapa kita yang harus berkorban nyawa demi ambisi orang lain? Mengapa anak-anak Senju yang harus mati demi orang lain? Pernahkah kita sungguh bertanya pada anak-anak Senju, apakah mereka mau maju perang? Bahkan peraturan perang yang ada tidak cukup untuk menekan jumlah korban jiwa."
"Ayah." Toshiro angkat suara. "Hashirama-sama benar."
Azami membelalak pada putranya. "Menjadi shinobi sejak kecil adalah suatu kebanggaan."
"Orang mati nggak bisa bangga, Yah."
Wajah tetua itu merah padam menahan amarah, tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi. Dalam hati, Hashirama berterima kasih kepada sepupunya itu.
"Sebagai kepala klan, tanggung jawabku adalah keselamatan kalian semua," Hashirama memulai kembali dengan nada yang lebih tenang. "Namun, aku berpikir jika kita saja yang aktif mengusahakan perdamaian tidak akan cukup. Karena itu, aku ingin mengajukan perjanjian damai kepada klan Uchiha."
Tidak ada seruan kaget lagi. Anak lelaki yang mereka tawan mengangkat dagu, mulutnya sedikit terbuka.
"Aku juga tidak ingin anak-anak Uchiha mati. Sudah cukup kita saling bunuh. Pamanda dan Bibi sekalian tentunya tahu mereka pun disewa oleh daimyo lain untuk menyerang wilayah kita. Kita shinobi, mereka juga shinobi. Seharusnya kita bisa saling mengerti satu sama lain, 'kan?"
"Apa kau sudah lupa mereka itu iblis?"
"Pamanda Joji, kita hanya bertemu mereka di medan perang." Ia menoleh pada ketiga pemuda yang tadi menangkap penyusup itu. "Kalian, apakah menurut kalian anak ini seorang iblis?"
Ketiganya saling lirik satu sama lain sementara tawanan mereka bergeming.
"Kalian yang sudah pernah maju perang melawan Uchiha," Hashirama berbicara kepada semuanya kali ini, "apakah kalian melihat sesama shinobi, ataukah seorang iblis?" Tanpa menunggu jawaban, Hashirama berlutut di sisi tawanan itu, membantunya berdiri dengan memegangi lengannya. Ia melepas pengikat matanya.
Anak itu mengerjap-ngerjapkan mata, wajahnya tak lagi menampakkan nafsu membunuh. Ia tampak sama dengan anak lainnya.
Kebingungannya bersalin rupa menjadi ketakutan begitu menyadari ratusan Senju memerhatikannya. Tubuhnya gemetar, wajahnya ia tundukkan. Sekilas Hashirama menatap wajah-wajah penasaran di jendela.
Anak lelaki ini dan mereka seharusnya bisa bertemu dan bermain bersama, bukannya saling menghilangkan nyawa.
"Tunggu saja sampai sharingan anak itu bangkit," terdengar komentar sengit Joji dari belakangnya. "Cuma iblis yang punya mata semerah itu."
Hashirama mengikatkan penutup mata anak itu lagi, membiarkannya duduk di antara pemuda yang tadi mengapitnya. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Tobirama sudah berbicara.
"Kalau cuma mata merah, aku juga punya, Pamanda."
Sang tetua berdecak, tetapi tidak protes lagi.
Menyadari malam telah semakin larut, Hashirama menutup pertemuan itu. "Tolong, kalian semua, pikirkanlah baik-baik apa yang kusampaikan tadi."
Setiap peserta berjalan pulang berbisik-bisik satu sama lain, membicarakan pidato pelantikan Hashirama barusan— kalau itu bisa disebut pidato. Tawanan mereka dikawal oleh dua orang dewasa menuju tepi kampung, masih terikat dan tertutup matanya.
Tobirama menawarkan diri mengirim anak Uchiha itu ke tempat mereka berperang agar ia bisa pulang. Perintah Hashirama ini disambut dengan kebingungan oleh kedua shinobi yang menemani adiknya pergi.
"Mengapa tidak dibunuh saja, Hashirama-sama?"
"Iya, dia sudah melihat perkampungan terlalu banyak."
Hashirama menggeleng. "Dia masih anak-anak. Biarkan pulang."
Usai kelompok kecil itu pergi, Hashirama beranjak mencari Touka. Untuk membujuk klan Uchiha turut damai, mereka butuh informasi tentang penyewa utamanya, yakni Daimyo Taneyuki. Kabar yang mereka tahu hanyalah dari Daimyo Matsudaira. Menurutnya, Taneyuki adalah orang tamak yang haus kekuasaan. Klan Uchiha yang memiliki kekuatan tempur tinggi telah lama dimanfaatkannya untuk merebut wilayah dari tetangga daimyo lain, termasuk Matsudaira.
Sepupu jangkungnya itu sudah berpakaian serba hitam lengkap dengan penutup wajah, siap untuk pergi saat itu juga. Maskernya ia turunkan, mulutnya menyeringai melihat kedatangannya.
"Hashirama-sama."
"Aneh, ih."
Dua deret gigi Touka berkilauan di bawah cahaya api unggun. "Selamat."
Ia tak tahu harus membalas apa, kecuali dengan senyum separuh yang tampak tolol menurut sepupu-sepupunya. Touka sering pergi menjalani misi memata-matai yang makan waktu berbulan-bulan. Sejak mokuton-nya muncul, Hashirama semakin jarang bertemu dengannya. Hanya satu-dua kali dalam setahun.
"Kamu mau berangkat malam ini juga?" tanyanya, bersisian berjalan menuju tepi perkampungan.
"Lebih cepat lebih baik," Touka menjawab, "biasanya aku hanya bertugas di desa. Kali ini aku akan masuk ke dalam kota."
"Hm…." Hashirama menengadah, memerhatikan pola bintang-bintang yang menerangi jalan. "Kota itu … seperti apa?"
"Banyak deretan rumah dan toko. Banyak orang. Bising."
"Kamu pernah ke kota…?"
"Sekali, untuk misi pencurian. Kamu akan susah fokus di kota. Apalagi di siang hari, banyak hal-hal indah untuk dilihat dan dicicipi."
Hashirama belum pernah ke kota sekali pun, sama seperti para petani sendiri. Ayahnya hanya pernah membawa serta Tobirama. Itupun mereka pergi di gelapnya malam, dan kembali sebelum fajar. Meski statusnya kepala klan sekarang, ia ragu apakah dirinya akan memimpin sendiri diskusi penting dengan klien daimyo-nya di griya tawang mereka. Tobirama sudah menawarkan diri memimpin negosiasi kebijakan baru mereka, dan Hashirama tidak punya alasan menolak.
Touka berkomentar, "Kamu sudah nggak secerewet dulu."
"Nggak…" Hashirama menggeleng, melepas tawa tipis. "Aku cuma lelah…."
Mereka berhenti di persimpangan, ke timur laut menuju pusat wilayah daimyo, dan ke utara menuju pemakaman klan. Touka memandang ke sekeliling.
"Di sini cukup sepi," katanya, maskernya ia naikkan sedikit. "Ada hal penting yang harus kuberitahukan."
Hashirama menanti sambil menyembunyikan tangannya di dalam lengan baju. Ada ketidaksukaan terlintas pada sorot mata sepupunya.
"Kamu sudah ditunangkan pada klan Uzumaki."
Kepala klan yang baru itu hanya mengerjapkan mata. "Lalu?"
Perlahan tubuh Touka melengkung seiring lepasnya kekehan dari mulutnya. "Ahahaha … hahh..." Ia menyingkap poninya. "Dari mana kamu tahu?"
"Gosip di tengah latihan kunoichi." Ia mengangkat bahu, menyembunyikan senyum yang berusaha muncul.
"Kamu masih mengintipi mereka…?"
"Tidak sejak … dua tahun lalu."
"Dua tahun." Touka mendengus. "Kamu memberitahu orang lain? Tobirama misalnya?"
"Nggak. Sepertinya dia nggak tahu."
Wanita jangkung itu memicingkan mata. "Yakin?"
"Aku percaya adikku."
Touka masih skeptis, tetapi ia tidak mendorongnya lebih jauh lagi. "Lebih baik aku berangkat sekarang. Pagar kota dibuka sebelum fajar nanti."
"Hati-hati, Touka."
Setelah sepupunya menghilang dari jangkauan pendengaran, Hashirama menghela napas panjang. Kakinya segera bergerak membawanya pergi.
Ia mengurangi rutinitas mengintip kelas kunoichi begitu ayahnya sering mengajaknya ke medan tempur. Kelelahan membuatnya sulit fokus pada materi yang diajarkan. Materinya sendiri kalah menarik dibandingkan pembicaraan remaja sebayanya. Sesekali namanya muncul dalam pembicaraan, termasuk ketika seseorang menyebutkan pertunangannya. Pemberitahuan Touka hanya mengonfirmasi kebenarannya. Ia masih ingat betapa kagetnya ia, sampai lama tengkurap di langit-langit ruangan yang dipakai latihan bahkan usai sesi belajar.
Napasnya sesak di dada. Mungkin ia telah berada di kediaman Uzumaki, sudah menjadi ibu dari beberapa anak, jika mokuton-nya tidak muncul. Kelas-kelas seninya digantikan dengan kelas perang segera setelah itu, diawasi langsung oleh ayahnya sendiri. Ia menghadiri pelajaran seni bersama calon-calon kunoichi lainnya, tetapi setelah berita pertunangannya ia dengar, Hashirama paham bahwa pelajaran itu hanya untuk menyenangkan keluarga calon suaminya nanti. Ia tahu beberapa hal tentang klan Uzumaki, tetapi tidak secara personal.
Nama calon suaminya sendiri yang masih tidak diketahuinya pun terus mengganjal. Ia tak ingin membebani Tobirama dengan masalah ini juga. Sudah terlalu banyak pekerjaan yang ia tanggung.
Alih-alih perkampungan, Hashirama menemukan dirinya di pemakaman klan. Bintang-bintang menerangi tempat itu, yang dikelilingi oleh ek dan aras raksasa hutan perawan. Area ini dibuka tiga tahun lalu setelah pemakaman lama terlalu penuh. Sudah ada puluhan jasad yang dikuburkan di sini. Semua kuburan tampak serupa. Pasak pendek penanda setiap makamnya tak bernama, tetapi tak menyulitkannya menemukan makam ayahnya.
Butsuma pasti akan murka jika beliau mendengar pidatonya tadi. Lalu menceramahinya tentang kebanggan menjadi shinobi, betapa ini adalah jalan hidup yang mulia, dan bahwa keputusannya adalah sebuah pengkhianatan terhadap kredo yang telah dijalani selama ratusan tahun. Hashirama telah pergi bertanya pada pengajarnya dan Tobirama, tetapi tidak ada yang bisa memberitahunya dengan pasti bagaimana awalnya klan Senju dan Uchiha terlibat dalam perang ini.
Satu hal yang pasti, para daimyo berperan menyulutnya. Panduan perang yang mereka beri hanya mewajibkan pertempuran dilakukan di area yang jauh dari desa-desa, terutama yang vital untuk memproduksi makanan. Sawah dan ladang yang tercemar cakra tidak akan menghasilkan panen yang baik, dan rasa sayurannya aneh di lidah manusia….
Apapun yang Butsuma yakini selama hidupnya, tak akan bisa mengubah keputusannya hari ini.
Hashirama berbalik arah, menembus hutan perawan yang sudah sangat dikenalnya, terus menuju pemakaman lama. Rumput telah tumbuh menyelimuti semua gundukan di sini. Pasak-pasak penanda makam telah usang dimakan cuaca dan jamur. Ia bahkan tak ingat semua nama yang pernah dikuburkan di sini.
Yang tersisa hanya bayang kehidupan mereka, menghantui ingatannya sebagai penanda kehidupan yang sia-sia.
Mereka tak pernah sungguh-sungguh meninggalkan dunia.
"Kak."
Hashirama nyaris terlonjak. "Tobirama! Jangan mengendap-ngendap…!"
Adiknya maju mendekat. "Kakak yang tidak dengar kupanggil sejak tadi." Ia masih mengenakan zirahnya. "Anak Uchiha itu sudah kami lepaskan. Ada yang … menolak perintah Kakak."
"Anak itu tidak terluka, 'kan?"
"Dia langsung pergi ke arah berlawanan." Tobirama memberi isyarat untuk mengikutinya. "Paman Azami bilang seharusnya kita menginterogasi dan membunuhnya. Tapi beliau bukan kepala klan."
Hashirama terdiam sementara mereka menembus rerumputan semata kaki. Tiap helainya masuk ke sela jari setiap ia melangkah. Akhirnya mereka berhenti di ujung pemakaman, dan Tobirama berlutut menyibak rumput.
"Ini makam siapa?"
Tobirama menoleh dan menjawab datar, "Ibu."
"Kamu sering ke sini…?" Perasaan bersalah menyergapnya. Hashirama berhenti mengunjungi pemakaman ini bertahun-tahun lalu.
Adiknya mengangguk. "Kadang-kadang."
Ia turut berlutut, mencabuti rumput-rumput di gundukannya. Setelah ini, ia berniat melakukan hal yang sama di makam adik-adiknya. Tidak akan ada lagi yang mati semuda itu….
Sinting! Itu cuma omong kosong anak-anak. Mimpi belaka!
Sekarang segalanya tergantung pada anak Uchiha itu— anak yang namanya bahkan tak ia ketahui. Gadis itu sadar keinginannya tak masuk akal, tetapi apa salahnya dicoba? Sudah cukup banyak mereka melukai satu sama lain. Hari ini pun begitu….
Madara pasti juga sedang memakamkan kerabatnya.
Setelah makam ibundanya bersih, Hashirama bertanya-tanya seperti apa pemuda itu di luar medan perang. Apakah ibunya masih hidup? Bagaimana kesehariannya di perkampungan Uchiha? Bagaimana ia memperlakukan Izuna dan keluarganya? Jawaban-jawaban semua itu bisa saja tidak terlalu berbeda dengan kehidupannya sendiri di klan Senju.
Sekarang, mereka sama-sama shinobi.
Mereka manusia.
