recommended bgm: while my guitar gently weeps - regina spektor; greensleeves - nozomi kanda (flute)

this chapter is somewhat slow. implicit sexual scene ahead.

i wanna say many, many thanks to my readers! Also the ones who have given me faves, alerts and reviews. You keep my writing spirits up!


.

.

"Kamu tidak dibesarkan untuk jadi perempuan jalang, Hashirama."

Hashirama menarik napas sedalam yang ia bisa tanpa membusungkan dadanya, menahannya dalam sepuluh hitungan, lalu mengembuskannya lewat hidung.

"Tidak tahu bukan alasan," lanjut seorang perempuan gemuk paruh baya yang tingginya tak sampai bahu Hashirama. "Kamu tetap perempuan dengan darah paling berharga di Konoha, kalau bukan di seluruh Hinokuni. Melebihi anak dan kerabat Kaisar sendiri."

Tarik napas. Tahan. Buang— "Oww!" ia mengaduh keras-keras ketika perempuan itu merapatkan obi-nya dengan paksa. Rusuk-rusuknya ngilu seketika. Refleks mendorong punggungnya melengkung, tetapi ia bahkan tak sanggup membungkuk separuh.

"Nggak usah manja begitu," ia berdecak sebal. "Perdamaian sudah tercipta. Konoha sudah mandiri. Stabil. Tinggal satu kewajibanmu pada leluhur. Nggak usah menggoda lelaki lain!"

Ia hanya sanggup menghitung sampai lima kali ini. Hashirama menyelipkan jemari di antara kain sutra yang melilit pinggangnya, tetapi obi itu telah ditahan sedemikian rupa sehingga tak sesenti pun bergeser dari tempatnya. Tangan bercincin perempuan yang lebih tua itu segera memukulnya begitu ia melihat apa yang sedang Hashirama lakukan.

"Lecek nanti! Sudah susah payah diselamatkan dari kebakaran, sembrono kamu!" Kuku-kuku panjangnya menancap pada bahu terbuka Hashirama ketika ia memutar tubuhnya.

"Bibi Mayuko," ujarnya lemas, "aku nggak mungkin pakai ini, 'kan, di hadapan Kaisar?"

Di hadapan cermin berukir setinggi dirinya, Hashirama memerhatikan kimono berhias rumit itu. Kerah keemasannya hampir tak menjangkau lekuk bahunya, menampakkan tulang selangkanya dengan jelas. Kedua sisinya bertemu jauh di bawah kerah kimono sehari-harinya, menampakkan belahan dadanya dengan jelas. Jika lengannya tidak rapat di hadapan, Hashirama khawatir kimononya akan melorot hingga siku. Sabuknya hijau gelap, benar-benar rapat di pinggangnya sampai ia sulit menarik napas. Kimononya sendiri seputih cangkang telur, dihiasi lukisan serupa ranting hijau gelap dengan serpihan emas menjadi daun-daunnya. Ujungnya menjuntai ke bawah, dimaksudkan untuk menyeret lantai selama berjalan. Namun, jika ia melangkah terlalu jauh kaki jenjangnya akan nampak sampai ke atas lutut. Panjang kimono ini sudah cukup, tapi terlalu sempit.

Hashirama menahan erangannya, perlahan berputar sedikit untuk melihat wujudnya dari samping. Nyaris serata biasanya. Perut bawahnya sungguh tidak nyaman, begitu juga dengan dadanya. Untunglah bibinya tidak melihat ketika Hashirama menanggalkan pakaiannya untuk mencoba kimono ini.

"Ini buat tunanganmu tahu." Senju Mayuko berkacak pinggang di belakangnya. Membelalak mengamatinya dari ujung rambut ke jari kaki. "Kelamaan di istana, terbiasa dikelilingi perempuan-perempuan cantik. Bangsawan, penghibur, pelacur … jangan sampai kamu kalah cantik."

Hashirama mengernyit. Lengan kimononya yang panjang masih menutupi dadanya. "Nobuo tahu dia punya tunangan, 'kan? Seharusnya nggak masalah aku kalah cantik."

Mayuko berdecak lagi sembari mengitari wanita jangkung itu, mengamatinya dari berbagai sudut dengan tatapan penuh kekecewaan. "Kamu pasti tambah gendut. Kebanyakan makan, sih!" Ia menyorongkan bangku kecil berkaki tiga. Setelah Hashirama duduk, Mayuko menarik kasar rambutnya, menyisirinya dengan cepat. "Bisa-bisa calonmu kabur ke pelukan perempuan lain. Memang kalian seharusnya dinikahkan secepat mungkin dulu, andai ayahmu nggak memaksa pakai mokuton buat perang."

Lagi-lagi ia hanya bisa meringis dan bertahan agar kepalanya tidak tertarik ke belakang. Sesi menyisir yang menyiksanya lahir batin itu akhirnya usai. Rambutnya kini digelung dan disemati berbagai hiasan berkilau yang berdenting-denting setiap kepalanya bergerak. Tengkuknya tak lagi tertutupi, membuatnya menggigil. Dandanan ini benar-benar tidak praktis. Titik-titik vitalnya tak terlindungi. Meski begitu, ia harus mengakui bahwa hiasan rambutnya bagus. Disepuh emas dan bertatahkan permata hijau. Hasil kriya rumit yang tak mungkin bisa ditemui di desa-desa.

Bibinya rupanya memikirkan hal serupa. Senyum mengejek tersungging di bibirnya. "Bagus, 'kan?" Diremasnya kedua bahu Hashirama, tubuhnya membungkuk hingga kepala mereka sejajar. "Hadiah dari tunanganmu. Sayang nggak terpakai." Kemudian ia meninggalkan ruangan itu.

Tubuh Hashirama kaku. Peti hadiah dari Nobuo ia tinggalkan di kolong tempat tidurnya di apartemen Hokage. Belum pernah ia menyentuhnya sejak kunjungan Kaisar berminggu-minggu lalu. Tak disangka bibinya sendiri berani masuk ke kediamannya dan menggeledah privasinya.

Tarik napas, tahan. Satu, dua tiga—

Namun, bukankah mereka sudah saling mengakui bahwa desa ini bukan tempat yang tepat untuk mencari privasi sempurna?

Napas Hashirama terembus pada hitungan ketujuh, dan lengannya turun dari dada. Sekali lagi ia menatap cerminannya, lalu menghela napas lelah. Mustahil ia mengenakan ini di hadapan umum….

Kecuali... suara kecil di benaknya berbisik. Mungkin kecuali untuk Madara….

Buru-buru ia enyahkan bayangan itu sebelum menguasai pikirannya. Segera Hashirama mengenakan kimono hariannya kembali, mensyukuri betapa leganya ia bernapas dan bergerak dalam balutan kain katun. Rambutnya ia urai lagi, menikmati ujung-ujungnya melingkupi tubuh sementara ia berjalan pulang.

Di halaman kediaman tetua klan Senju, terdapat sekelompok anak bermain-main. Anak-anak yang lebih muda menyapanya, tetapi yang lebih tua menatapnya seolah Hashirama tidak seharusnya berada di situ. Tatapan menuduh. Hampir semua orang dewasa yang berpapasan dengannya membuang muka, atau menyapanya tanpa sungguh-sungguh melihat wajahnya.

Di antara gerbang kayu berukir, Hashirama berbalik sejenak. Rumah untuk semua Senju, menerima siapapun yang berdarah Senju. Kecuali mereka yang sudah lama memberontak titah dewan klan.

Kelegaan mekar di dadanya setelah ia meninggalkan kediaman. Akhirnya bebas dari tatapan menghujat. Meski tidak mendengarnya langsung, Hashirama tahu kabar pertunangannya sudah merebak ke seluruh desa, disusul fakta bahwa ia menginap di kediaman Uchiha pada malam badai nahas itu. Yang sungguh-sungguh tahu ia berada di sana selain Madara hanya Izuna dan seorang pelayan. Semua orang kesulitan mengonfirmasi kebenarannya. Karena pria itu tidak ada di desa, ia mengasumsikan kedua orang lainnya menutup mulut rapat-rapat.

Di luar rumor itu, bisnis berjalan lancar. Perang sedang berlangsung, tetapi cukup jauh sehingga berita yang sampai di Konoha hanyalah kemajuan pasukan Hinokuni. Tidak ada yang lama-lama berduka menangisi korban. Permintaan misi ramai mengalir, menyibukkan semua yang tidak dikirim ke garis depan. Ladang-ladang yang selamat dari badai sudah dipanen dan ditanami sayuran musim dingin. Akademi tak pernah sepi, kelas-kelas baru dibuka untuk menampung peminat dari kalangan petani.

Kepergiannya ke kastel Kaisar Nobutada dijadwalkan tiga hari lagi. Untuk mengurangi beban, semua pakaian yang akan dikenakannya dikirim lebih dulu. Hashirama bersikeras hanya membawa sehelai kimono formal. Semua bibinya seketika menolak, dan mengepakkan semua kimono formal yang ia miliki. Hashirama sebenarnya kagum mengapa mereka masih menyimpan kimono-kimono yang belum pernah ia pakai itu. Hampir semua harta benda mereka hilang di kebakaran besar.

"Siang, Hokage-sama!"

Tiga suara berbeda menyapanya begitu ia naik ke kantor. Mereka adalah asisten barunya yang direkrut khusus oleh Tobirama.

"Siang," Hashirama mengangguk sopan. "Ada dokumen yang perlu kulihat?"

Satu orang menggeleng. Seorang perempuan muda dengan sebatang pensil terselip di telinganya memberikan sebuntal kertas. Isinya berupa data penduduk yang sudah terbarui.

"Penduduk dari desa non ninja sudah mendapatkan rumah masing-masing," jelasnya dengan suara berat pertanda tak sehat. "Kami agak kesulitan mendapatkan data mereka … kami dikira tukang ikut campur."

"Tapi kalian berhasil, 'kan?" Hashirama membalik halaman bundelan. Klan-klan yang memiliki kompleks rumah sendiri mendapat satu lembar khusus untuk data mereka. Sketsa wajah individu dimuat di samping data pribadi masing-masing. Ada halaman-halaman berisi daftar pasangan menikah dari klan yang sama maupun klan berbeda. Sekarang semua pasangan baru wajib melapor pada staf administrasi untuk didata. Catatan silsilah setiap klan pun disalin untuk digabungkan.

"Iya, sih. Kadang-kadang kami kena semprot. 'Apa gunanya menanyai urusan pribadi orang?' begitu kata mereka. 'Ngapain tanya-tanya, 'kan ujungnya juga cuma disimpan, disembunyikan'. Kami jadi harus menjelaskan fungsi pengumpulan data ini. Makan waktu," tambahnya, mendadak malu-malu.

Dengan shinobi dari berbagai kalangan bercampur baur, pembuatan daftar keluarga menjadi semakin penting. Apalagi, setelah semua klan ditambah penduduk biasa tiba di Konoha, orang-orang tidak ragu untuk bertetangga dengan anggota klan lain. Di sisi lain, surat-surat membludak di kantor pos, ditujukan pada orang-orang beralamat Konoha tanpa rincian jelas. Mendata setiap individu cukup untuk mengurai masalah ini, sekaligus mengurangi kemungkinan penyusup berbaur.

Hashirama mengambil sebatang pena. Ia mengisi beberapa halaman dengan tambahan nama, dan membubuhkan tanggal serta tanda tangan persetujuannya di sana-sini. Ia meniup tintanya sampai kering, lalu memindai sisa isinya sampai habis sebelum mengembalikan buntalan itu pada staf perempuannya. "Terima kasih atas kerja kerasmu," ujarnya sembari tersenyum lebar. "Ini sudah bisa diarsipkan sampai diperbarui lagi tahun depan."

Wajah perempuan itu seketika berseri-seri.

Staf tertuanya, seorang lelaki kurus berusia empat puluhan, memberikan dua lembar laporan misi kelas B. Yang pertama adalah misi pemetaan ke wilayah timur Hinokuni. Peta-peta yang diberikan Kaisar masih belum lengkap, sehingga Konoha terus mengirimkan timnya sendiri. Kelompok yang menjalankan misi itu dipimpin oleh Sarutobi Sasuke, baru kembali pagi ini dari padang rumput luas tak bertuan yang membatasi Hinokuni dan Kazenokuni. Daimyo yang dulu menguasai area itu memberontak terhadap Kaisar, dan dikalahkan para samurai satu generasi lalu. Mamalia besar tampaknya jarang terlihat.

Lembar satunya merupakan laporan penjemputan sepeti gulungan fuuinjutsu terbaru dari Uzushiogakure. Semua gulungan itu sudah disimpan di perpustakaan.

Hashirama mengembalikan kedua laporan itu. "Tolong atur pertemuan dengan Sarutobi-san." Ada kejanggalan dalam laporan pemetaan, dan ia butuh keterangan langsung dari kepala klan Sarutobi itu.

"Dimengerti," jawab pria itu singkat sebelum kembali ke pekerjaannya.

Sembari menunggu, sang Hokage turun ke perpustakaan. Hanya ada satu orang di sana, yang membungkuk membaca sebuah gulungan panjang terbuka di meja. Rambutnya digelung serupa bola di puncak kepala. Mulutnya terus bergumam, tak menyadari kehadiran Hashirama sampai sang Hokage berdeham kecil.

"Oh!" Mata sipitnya melebar, warna sepasang irisnya berganti kelam. "Hokage-sama, maaf … um—" Kepalanya teralih dari Hashirama ke gulungan. Tangannya terus mengepal dan menutup, ragu apa yang akan ia lakukan. Sepertinya ia tidak menduga seseorang akan datang ke perpustakaan.

"Apa itu gulungan terbaru dari klan Uzumaki?" tanyanya sambil mendekat. Tulisan tangannya tidak serapi tulisan juru tulis. Tintanya menetes-netes dan rembes di sana-sini, seolah semuanya dicatat terburu-buru. Di beberapa bagian yang agak rapi, tulisannya sedikit familier bagi sang Hokage.

"Eh— ya. Ya! Yang ini tentang perisai cakra untuk perlindungan jangka panjang di desa. Konoha dari jauh akan terlihat menyaru dengan hutan di sekitarnya. Suara-suara di desa juga tidak akan tembus keluar. Tapi, tapi shinobi Konoha bisa bebas keluar masuk selama cakra mereka dikenali oleh perisainya. Konoha akan benar-benar tersembunyi di antara dedaunan!"

Hashirama meliriknya. Pipi gadis itu memerah saking semangatnya bicara. Sang Hokage nyengir lebar. "Kamu cepat sekali memahami isinya."

"Bidang fuuinjutsu ternyata seru, Hokage-sama. Saya … saya ingin mempelajarinya lebih jauh." Matanya sekarang berbinar-binar. Ia seperti akan mengatakan sesuatu, tetapi kata-katanya tak pernah keluar.

"Ya?"

"...Akademi hanya mengajar anak-anak. Fuuinjutsu ilmu yang rumit. Saya … tidak tahu pada siapa harus berguru karena tidak ada seorangpun Uzumaki di sini."

"Ada anggota klan Senju yang bisa…." Kalimatnya menggantung, teringat pada reaksi kerabatnya tadi siang. "Atau coba sering-seringlah ke sini, siapa tahu ada yang bisa kautanyai."

"Maksud saya … saya 'kan Uchiha…."

Tentu saja. Tidak semua klan bersedia membagikan pengetahuannya. Akan tetapi, sekarang kepentingan Konoha berada di atas kepentingan klan. Apalagi keengganan kerja sama atas dasar permusuhan masa lalu. Hal seperti itu sudah tidak relevan lagi saat ini. Kedua kepala klan sudah bersumpah untuk bekerja sama tanpa memandang perbedaan.

Atau prasangka memang masih menggelayut di antara mereka, di rumah baru ini?

"Bagian riset tidak memandang asal usul seseorang," katanya yakin sambil meletakkan kedua tangannya di bahu gadis itu. "Mereka akan meneliti gulungan ini secepatnya. Kamu bisa menawarkan bantuanmu."

"Sungguh?" tanyanya tak percaya. "Saya tidak akan ditolak?"

"Mereka masih kurang orang. Siapapun diterima."

Wajahnya seketika semringah. "Terima kasih banyak, Hokage-sama!"

Saat ia perlahan menggulung catatan fuuinjutsu itu, Hashirama sadar ia sudah sering membaca tulisan serupa ini, serta tanda tangan di ujungnya.

Tulisan itu hasil goresan pena Uzumaki Mito.

Ia tak sabar menanti hari keberangkatannya.


.

.

Usianya dua puluh tahun.

Daimyo Matsudaira menerima keputusan Hashirama dengan berat hati. Ia memilih menyewa tenaga klan lain untuk melakukan serangan ke wilayah Taneyuki. Tentu saja serangan tersebut ditahan oleh klan Uchiha, yang tandingannya hanya Senju semata. Mereka melakukan beberapa kali serangan dalam kelompok-kelompok kecil, menyabotase jalur perdagangan dan merusak desa-desa di pinggiran. Melanggar semua peraturan yang ditetapkan untuk perang antar-daimyo.

"Jika begini terus, Kaisar akan mengirim samurai," Senju Toshiro menjelaskan selama ia mendampingi Hashirama meninjau gudang makanan. "Kita nggak ingin cari masalah dengan para samurai."

"Tempatkan orang-orang kita di desa yang mungkin diincar. Ini sudah cukup alasan untuk bertindak." Hashirama menahan perasaan kecewa yang membubung. Sejak pertemuan di padang rumput itu, ia hanya mendengar naiknya Madara ke posisi kepala klan. Setelahnya mereka jarang bersua di perang terbuka. Hanya serangan diam-diam yang dilancarkan.

Laporan Touka dari wilayah Taneyuki membenarkan rumor bahwa daimyo tersebut tamak dan serakah. Untuk klan sekaliber Uchiha, mereka dibayar jauh lebih rendah daripada bayaran Matsudaira kepada Senju. Taneyuki cenderung membayar dalam bentuk uang atau logam berharga, menyulitkan penduduk di pelosok untuk menukarkannya dengan bahan makanan.

Sementara itu, mereka masih tidak tahu di mana tepatnya tempat tinggal klan Uchiha. Klan-klan ninja umumnya memilih tempat tersembunyi, tetapi mereka biasanya tahu perkiraan lokasinya. Sebagian wilayah Taneyuki penuh dengan gunung-gunung berbatu, medan yang sulit dijelajahi bagi yang tidak berpengalaman.

"Bisakah kita meninggalkan pesan?" tanyanya mendadak.

Toshiro bengong. "Hah?"

"Pada klan Uchiha." Hashirama menuruni tangga bambu sempit dari lumbung persediaan pangan. Anak lelaki itu mengikuti di belakangnya. "Aku ingin mengajukan gencatan senjata."

"Sudah lama mereka nggak perang terbuka, Hashi-sama." Toshiro melompat turun dari tiga anak tangga terakhir. "Klan-klan lain hanya menemukan kelompok kecil menyabotase desa sama seperti di wilayah kita—"

"HASHI-SAMA!"

Seorang shinobi berzirah lengkap mendarat dan terjungkal di hadapannya. Ia buru-buru berdiri tanpa menyeka jerami yang menutupi separuh tubuhnya. "Hago— maksud saya, klan Hagoromo, mereka menuju ke sini. Sepasukan penuh, paling tidak lima puluh orang lebih—"

Ia mengernyit. "Bukannya mereka biasa disewa Daimyo Matsudaira, Ango?" Dulu mereka sering bertempur melawan klan Hagoromo, tetapi sejak klan Senju tidak lagi aktif menyerang wilayah lain mereka yang lebih sering disewa jasanya. Untuk apa menyerang klan yang tidak mengancam wilayah Matsudaira?

Ango hanya mengangkat bahu. "Surat ini diberikan untuk kita, bukan ke daimyo."

Bukan ke daimyo seperti lazimnya sesuai peraturan.

"Kumpulkan shinobi kita. Kirim pesan pada mata-mata di pusat kota untuk mencari tahu penyebab apakah Matsudaira mengetahui serangan ini!"

Ketika mereka berangkat dari perkampungan, jumlah shinobi yang ia bawa tak sebanyak pasukan yang dibawa ayahnya dulu. Hanya shinobi berusia di atas enam belas tahun yang turut serta, lelaki maupun perempuan berzirah lengkap. Dari delapan anggota dewan, hanya Azami seorang yang bersedia ikut. Sisa orang dewasa dan anak-anak ditinggal menjaga perkampungan.

Kelompok shinobi pengindera yang dipimpin Tobirama berangkat lebih dulu menembus hutan menyisir penyusup. Hashirama menemukan mereka berjajar di tepi hutan, dan ia memberi sinyal untuk berhenti.

"Dekat?"

"Dua ratus meter. Mereka juga berhenti."

Hashirama maju, Tobirama mengikuti di belakangnya. Peraturan perang mengharuskan kedua pemimpin pasukan bertemu sebelum serangan dilancarkan untuk menjelaskan maksud perang. Surat tantangan dari klan Hagoromo ia bawa dan ulurkan di depan.

Pemimpin pasukan Hagoromo, seorang pria tinggi besar di pertengahan tiga puluh, membawa gada di punggungnya. Ia terkekeh menghina melihat kakak-beradik itu.

"Nggak bisa dipercaya!" raungnya keras. "Waktu daimyo bilang Senju sudah jarang perang karena pemimpinnya cewek, kukira dia bercanda! Tahunya benar!" Kumis panjang dan tipisnya ia pilin, melirik pada Tobirama. "Kenapa cewek ini jadi ketua klan? Apakah semua laki-laki Senju tidak ada yang pantas memimpin? Lemah! Hahahaha!"

"Kau—!"

Hashirama, masih tersenyum lebar, meletakkan tangannya di bahu Tobirama. "Hagoromo-san, kita tidak di sini untuk mendiskusikan mengapa saya dipilih menjadi pemimpin klan. Saya ingin tahu alasan di balik penyerbuan ini." Ia menunjukkan suratnya. "Anda tidak mengatakan atas permintaan daimyo mana serangan ini diluncurkan."

"Betapa naifnya kamu, Senju! Pikirmu cuma mandat daimyo saja yang bikin kita boleh saling serang? Ini cuma inisiatif kami sendiri. Klan yang lemah lebih baik disingkirkan, agar kami lebih banyak mendapatkan bayaran!"

Segalanya langsung menjadi jelas. Selama ini Senju adalah klan favorit Matsudaira. Tentu saja klan lain bisa menganggap keengganannya berperang sebagai pertanda kelemahan.

"Perlukah saya ingatkan bahwa Anda melanggar peraturan perang?"

"Terus?" Suaranya ia lembut-lembutkan. "'Aaw, kamu melanggar peraturan, nanti kuadukan pada para samurai'!" Kelopak matanya dikerjap-kerjapkan, seolah berusaha menarik perhatian seseorang yang tak terlihat. "Begini saja, daripada kita berantem kamu ikut denganku. Muka secantik ini pasti laku keras, apalagi—"

Diiringi derak membahana, tubuh tinggi besar itu terpental beberapa meter ke belakang. Hashirama melepas segel ularnya. Surat tantangan dari klan Hagoromo lecek, kini melayang jatuh. Giginya mengertak.

"Ayo berantem."

Melihat pemimpin mereka terjengkang, seruan-seruan marah segera menggema dari seberang. Seluruh pasukan Hagoromo maju tanpa diberi aba-aba. Tobirama memberi sinyal tangan bagi kerabat mereka untuk keluar dari hutan. Pertarungan satu lawan satu segera merebak. Adiknya memilih menghadapi pemimpin klan itu, berkelit tajam menghindari tebasan gadanya yang acak tak kenal ampun.

Perang itu baru berlangsung beberapa menit ketika bulu kuduknya berdiri. Hashirama menoleh ke utara, menyaksikan asap kebiruan menyaru dengan langit hingga membentuk sebuah tubuh raksasa. "AWAS!" raungnya, menggaungkan peringatannya ke seluruh medan sambil kembali meledakkan mokuton-nya, berbentuk kubah raksasa—

Pedang biru transparan mengayun turun. Gelombang kejutnya melontarkan semua yang tak terlindungi kubah. Raksasa itu menjulang melampaui bambu-bambu tertinggi, keempat pedangnya berbilah bengkok. Mata kuningnya berpendar. Kepalanya menoleh, seolah memindai medan perang….

Ketika Hashirama melihat sesosok gelap manusia di tengah dada raksasa itu, pedangnya mengayun lagi. Kali ini melontarkan para shinobi di kubu Hagoromo bagai semut yang sarangnya baru disepak.

Orang dewasa dan anak-anak, semua terlontar ke udara—

Ia tak sempat menemukan Tobirama— tak masalah, adiknya bisa mengambil alih dari sini. Mokuton-nya mewujud menjadi mokujin, raksasa kayu berwajahkan angkara. Ia melompat menerjang si raksasa biru menjauh dari medan tempur. Cakra di telapak kakinya mencengkeram permukaan kayu, mencegahnya terlempar ketika mereka berguling-guling di rerumputan.

"Madara!" Hashirama terengah, meludahkan debu dan tanah. Kepalanya pusing, membuatnya mual dan terhuyung. Mokujin-nya menindih raksasa biru itu. Ia melompat turun dari kepalanya, menghantamkan pedang ke dada raksasa yang tembus pandang itu. Namun, serangannya tak mempan sama sekali. Retak pun tiada.

Madara melayang di dalam tubuh raksasanya bagai di dalam air. Ia menyeringai senang melihat wanita itu kesulitan. "Percuma, Hashirama," ejeknya dengan suara teredam. "Pertahanan sesempurna susano'o ini nggak bisa kamu tembus."

"Kenapa kamu ada di sini?!" Hashirama mencoba menghantamnya lagi dengan pedang. Madara hanya tertawa melihatnya, sampai tinju mokujin kembali mengayun, kali ini bersalut cakra senjutsu. Ia menghindar secepat kilat.

Kegembiraan hilang dari wajahnya. "Bukannya wajar aku di sini? Kamu tahu Uchiha selalu disewa menyerang daerah Matsudaira. Kenapa heran?"

"Tidak ada yang tahu kamu akan datang!"

"Tapi kamu tahu sekarang. Nih." Madara mengeluarkan surat gulungan kecil dari balik zirah, melemparnya keluar susano'o.

Hashirama sigap menangkapnya. Simpul ikatannya menandakan ini bukan surat bersahabat.

"Surat tantangan permanen yang resmi. Dari kepala klan untuk kepala klan."

"Tunggu, aku ingin kita—"

Susano'o-nya lenyap dalam asap biru. Mokujin-nya juga hilang seiring dengan pecahnya fokus wanita itu. Ketika kepulan asap dan debu lenyap, Madara pun tidak terlihat.

Hashirama cepat-cepat kembali ke medan tempur, tetapi perang di sana telah usai. Yang masih berdiri hanya kerabatnya, semua bersimbah peluh dan darah. Wajah-wajah mereka masih terkejut.

Seluruh shinobi klan Hagoromo mati bergelimpangan. Kalaupun ada yang selamat, mereka tidak menampakkan batang hidungnya. Para shinobi Senju mengumpulkan mayat lawan mereka dan menguburkannya dalam satu liang besar yang digali dengan doton. Zirah dan senjata dipisahkan. Barang-barang itu ditinggal apabila penyintas Hagoromo ada yang kembali. Pihak mereka sendiri tidak ada yang terluka parah. Semuanya bisa berjalan pulang tanpa dibantu.

Hashirama memberikan gulungan dari Madara kepada adiknya begitu mereka mencapai rumah. "Matsudaira sepertinya tidak tahu soal ini."

"Kita masih klan terkuat di sekitar sini. Kupikir dengan Kakak memutuskan berperan pasif, klan lain akan tertarik mengisi kekosongan yang Senju tinggalkan." Tobirama merapikan gulungan. "Hagoromo mustahil bisa kembali aktif setelah insiden barusan."

Sejak dulu klan Hagoromo terkenal dengan jumlah populasi perempuannya yang sedikit. Mereka tidak menetap, hidup berpindah-pindah. Makanan dan perempuan diberikan oleh desa-desa yang mereka singgahi. Kadang, mereka juga menculik perempuan yang terpisah jauh dari kelompoknya, seperti Hashirama sembilan tahun lalu.

Entah apa yang akan dilakukan sisa-sisanya setelah ini….

"Mandat perang tak ada gunanya lagi. Desa-desa saja tidak luput dari serangan…." Hashirama terdiam, selimutnya ia rapatkan. Api di tungku mulai mengecil.

Rumah ini terlalu besar untuk mereka berdua.

Kamar utamanya tak pernah dihuni lagi sejak Butsuma wafat. Mereka masih menggunakan kamar yang sama sejak kecil. Barang-barang yang tidak terpakai sudah dipindahkan ke gudang atau diberikan ke kerabat lain, termasuk pakaian tua.

Sejujurnya, Hashirama gelisah. Bertahun-tahun ia sering terbangun di tengah malam, mendengar suara-suara yang seharusnya tidak lagi menggema di rumah. Kadang memanggilnya, kadang bersahutan di lorong, kadang saling kejar—

"Kakak mendengarkanku, tidak?"

"...Ya?" Hashirama tersentak.

Adiknya menyipitkan mata, kentara tahu ia berbohong. "Jadi bagaimana dengan isi lumbung kita?"

Ia mengucek matanya yang berair. "Cukup … sampai tengah musim dingin tahun depan. Nggak ada banyak kiriman lagi dari daimyo. Desa yang diserang Uchiha adalah sumber beras kita. Lebih baik membuka ladang baru. Yang tidak berperang bisa bekerja di sana."

Tobirama merebahkan diri di lantai kayu, tubuhnya rapat berselimut. "Tapi di mana? Tanah di sekitar kita kurang subur."

Di mana? Hutan-hutan di sekitar perkampungan terlalu berharga untuk diubah menjadi ladang. Padang rumput biasanya cukup mudah diubah, tetapi terlalu terbuka. Mudah ditemukan musuh. Mereka membutuhkan sebuah tempat yang cukup terlindungi, cukup dekat dengan kampung Senju dan sumber air. Hewan liar pun harus ada agar bisa diburu….

Terbersit sebuah ide di benaknya. Senyumannya merekah. "Tobirama, aku tahu tempat yang cocok. Ada sebuah hutan di balik tebing yang dialiri sungai besar, kutemukan saat bermain dahulu…."


.

.

"Masuk."

Yang mengetuk di pintunya adalah Sarutobi Sasuke. Ada pipa kayu terselip di celah bibirnya. Asap mengepul-ngepul dari ujungnya.

Sang Hokage mengernyit. "Tolong jangan merokok di sini, Sarutobi-san."

"Maaf, Hokage-sama." Pipa itu tak lagi berasap. "Anda memanggil saya karena misi itu…?"

Ketiga asistennya sudah pulang. Berkas-berkas sudah dirapikan, kecuali yang perlu ditinjau esok hari. Hanya selembar laporan misi yang kini tinggal di mejanya.

"Anda bilang di laporan bahwa tidak ada hewan besar seperti kawanan kuda liar di seluruh padang rumput besar. Mengapa?"

Sasuke mendekat, membaca cepat laporannya. "Ah, saya lupa. Tidak ada hewan hidup yang tim saya jumpai." Bau tembakau masih menguar dari pakaiannya.

"Maksudmu?"

"Bangkai kuda-kuda hangus." Ia manggut-manggut sendiri, mengelus jenggotnya yang tak seberapa tebal. "Terbakar utuh-utuh. Masih baru. Setidaknya belum tiga hari. Ada jejak cakranya, pasti bekas ninjutsu."

Hashirama menyandarkan punggung, mendengus. "Kalian tidak menemukan satupun shinobi di sana, 'kan?"

"Tidak ada. Klan-klan kecil di Hinokuni tidak berkelana sejauh itu. Lagipula, cakranya tidak terasa seperti cakra manusia…."

"Terima kasih," ia memotongnya. "Soal besok, Sarutobi-san, saya ingin Anda berangkat tanpa zirah dan pelindung kepala."

"Eh? Bukannya ini misi pengawalan, Hokage-sama? Gimana kalau ketemu bandit?"

"Aku ingin pergi sebagai rakyat biasa," jawabnya. "Cukup lawan mereka dengan taijutsu saja. Jika terpaksa, saya yang akan bertindak."

"Dimengerti."

"Anda boleh pergi."

Sebuah ingatan akan kobaran api raksasa menyeruak ke permukaan pikirannya, membuatnya terjaga nyaris semalaman. Tidak ada yang tahu ke mana makhluk itu pergi setelah Hashirama mengusirnya lebih dari dua tahun silam. Mengikuti jejak bijuu adalah perbuatan cari mati.

Tak mungkin. Dataran ini luas. Pasti sudah berkelana entah ke mana. Kecil kemungkinannya makhluk itu berjalan ke Konoha. Padang rumput besar itu memisahkan Hinokuni dengan Kazenokuni yang lebih kering. Siapa tahu ia lebih tertarik ke sana.

Matahari sudah terbit, tetapi Hashirama masih mengunci diri di apartemennya, tidur-tiduran di kursi panjang. Tubuhnya tidak lelah, tetapi pikirannya kehabisan tenaga. Sepagi ini pun ketiga asisten barunya sudah mulai bekerja, mengarsipkan dokumen dan mengirim pelaksana misi-misi tingkat rendah. Goresan pena, keresak kertas, dan hantaman lembut cap bersahut-sahutan dari balik dinding.

Ia mengelus perutnya. Perbedaannya tidak kentara jika dilihat, tetapi ia tahu tubuhnya berubah dengan cepat. Sebentar lagi pasti akan membesar melampaui kemampuan pakaiannya menutupi. Ia belum lupa akan percakapan yang ia curi dengar beberapa hari lalu. Apakah omongan seperti itu akan tetap beredar di desa, bahkan setelah anaknya lahir nanti?

Sudah waktunya mereka berhenti bersembunyi.

Satu jam kemudian, Hashirama telah tiba di gerbang timur Konoha dengan sebuah tas kecil tersandang di punggung. Ia memilih tak mengenakan zirah. Lempengannya membuat bernapas sulit karena menekan dadanya. Topi Hokage-nya ia kaitkan pada tas. Meski statusnya sudah setara daimyo, ia tetap lebih nyaman bepergian seperti ini. Ringan tanpa banyak pengiring. Rombongan besar akan terlalu menarik perhatian yang tak diinginkan.

Gerbang luar dipahat dari kayu-kayu yang ia tumbuhkan saat melawan bijuu di tengah badai. Tinggi menjulang, tetapi masih tetap tersembunyi di antara pucuk pepohonan. Hashirama menyadari ujung perjalanan ini akan menjadi titik terjauh dari rumah yang pernah dijelajahinya. Andai situasinya tidak begini, ia pasti lebih menikmatinya.

Adiknya tidak terlihat di manapun. Ia tidak ada di kantor Hokage, maupun jalan yang ia lalui sampai ke sini. Rumahnya ada di sisi berlawanan dengan gerbang. Akan makan waktu mencarinya ke sana. Lama ia memandangi jalan ke arah keramaian, menanti sosoknya muncul. Sia-sia.

Inuzuka Tsubaki dan Sarutobi Sasuke sudah menunggunya. Keduanya berpakaian biasa, layaknya pengelana. Zirah dan ikat kepala mereka absen dari pandangan, sesuai pesan sang Hokage. Kepala klan Inuzuka itu sedang berlutut mengelus seekor anjing putih besar.

"Jaga rumah baik-baik ya, Pochi," ujarnya lembut. "Temani Izuna-san berkeliling desa. Kasihan dia, melajang terus—"

"Tsubaki, hentikan…."

Protes Izuna dibalas dengan kekehan. Wanita itu buru-buru berdiri melihat kedatangan Hashirama. Ia segera melambai pada Sasuke agar mendekat.

"Sudah siap?"

"Ya!" Sasuke menjawab, tampak ekstra bersemangat pagi ini. Tubuhnya tidak bau tembakau.

"Kami duluan, Hokage-sama," Tsubaki memberitahunya. "Kita akan bertemu di separuh jalan menuju perhentian pertama sesuai rencana."

Hashirama menyaksikan keduanya pergi. Pochi tidak turut bersama rekannya. Ia tetap duduk manis di sebelah Izuna, yang berdiri di bawah bayangan sehingga luput dari penglihatan orang-orang. Dinding cakranya tidak setebal biasanya. Rambutnya tampak lepek.

Perasaannya saja, atau memang Izuna terlihat kelelahan? Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Izuna sudah mendahuluinya.

"Hati-hati di jalan," ia berhenti sejenak, "Kak."

Tak tahu harus membalasnya dengan apa, Hashirama merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. Seruan kecil keterkejutan lepas dari mulutnya, tetapi ia tidak mendorongnya.

Sampai saat Hashirama meninggalkan desa pun, Tobirama tidak muncul. Kegelisahannya terus melanda. Apa ia menghindarinya?

Sebentar lagi. Sepulangnya dari kastel, ia dan Madara akan meluruskan semuanya. Pria itu tidak kembali ke Konoha, melainkan menanti di perhentian pertama mereka.

Jantungnya berdebar-debar.

Lanskap hutan perawan yang mengelilingi Konoha segera digantikan oleh pohon-pohon muda nan ramping. Tanahnya tak lagi hitam hangus seperti berbulan-bulan lalu. Area- area yang dulunya tertutup pepohonan rapat kini masih terbuka lebar. Tanahnya empuk di sana-sini, kadang amblas tertimpa beban tubuhnya. Tunas-tunas sudah bermunculan di antara mayat pepohonan hangus. Karena lama tak bertandang, Hashirama merasa hilang arah meski tumbuh besar di sana. Ia kesulitan menemukan jalan ke tujuan pertamanya: sebuah area tanpa pepohonan hangus.

Wadah-wadah kecil berisi dupa wangi tersebar di sana-sini. Tanahnya juga hitam, tetapi gundukan-gundukan buatan manusia masih terlihat jelas. Sudah ada seseorang yang tidak diduganya di sana, mematung di hadapan sebuah makam sambil menggenggam sebatang dupa. Perasaan lega seketika membanjirinya.

"Tobirama!" Langkah-langkahnya dipercepat mendaki tanjakan. "Aku sudah mencarimu sepagian ini…."

Adiknya tidak menengok, malah mengangguk ke kuburan. "Ayah di sini."

Hashirama berhenti agak jauh dari makam. Wangi dupa-dupanya menyengat hidung. "Kuharap beliau tenang di sana," bisiknya, lebih ke formalitas daripada ucapan tulus. Sejak pindah ke desa baru, ia hanya sekali mengunjungi tempat ini. Itupun untuk mencari korban dan harta benda yang bisa diselamatkan.

"Tidak jika beliau tahu Kakak punya anak dengan Madara." Ia membungkuk meletakkan sebatang dupa terakhir ke tanah. "Ayah akan menyesal wafat terlalu cepat."

"Kamu masih kesal soal itu…."

"Kakak nggak pernah mendengarkanku."

Jantungnya melewatkan satu detak. Dulu pun ia pernah bilang begini, dan akibatnya masih dapat dilihat di sekitar mereka. "Bagaimana bisa aku tidak mendengarkanmu, sementara kamu orang yang paling kupercaya? Bukannya kamu masih memberiku saran dalam persoalan desa?"

"Bagaimana dengan hubungan Kakak dengan Madara?"

"Kami sudah sering bersama sejak mulai mendirikan Konoha." Rasanya seperti mengulang-ulang lagu tua. "Kamu tahu ini rencana kami juga—"

"Dia melamar Kakak, 'kan?"

Hashirama tidak menjawab, menerka-nerka dari mana Tobirama mengetahuinya. Apakah Izuna…? Tetapi ia sendiri tidak tahu seberapa banyak yang diketahuinya, atau seberapa banyak informasi yang dibagi Madara kepada adiknya.

"Jadi benar." Raut kekecewaan tergurat pada bibirnya.

"Kalaupun aku memberitahumu ... apa kamu akan bilang aku punya tunangan?"

Tobirama mendengus panjang. "Rencananya Ashina-san akan ke sini dengan Nobuo setelah pesta Kaisar untuk melangsungkan pernikahan. Sampai saat itu tiba, Kakak tidak akan diberitahu."

Hashirama melirik kuburan. Tidak salah lagi, ini pasti rencana ayahnya. Jika klan Uzumaki sudah datang mengumumkan pernikahan di depan muka seluruh klan Senju serta penduduk Konoha, ia tidak akan bisa menolak. Malunya terlalu besar untuk ditanggung.

Jadi dia benar….

Sampai kematiannya, Butsuma tak pernah melihatnya lebih dari sekadar penyandang mokuton. Hanya medium untuk menghasilkan lebih banyak shinobi-shinobi berbakat.

"Dan karena itu Kakak tidur dengan Madara. Agar Ashina-san menolak Kakak karena sudah tidak perawan. Juga karena Kakak—"

Hashirama memijat pelipisnya, mendadak pening. "Aku nggak mau melibatkanmu…."

"—Mengandung anak Madara."

"Ini di luar dugaan, Tobirama! Kami nggak merencanakan ini sama sekali!"

"Kakak selalu memilihnya— menaruhnya di atas kepentingan klan."

"Bukan begitu—"

Tobirama merentangkan lengannya. "Lalu ini semua apa?" Ia melihat ke sekeliling hutan hangus itu. Lehernya tegang.

"Tobirama, hentikan. Kamu … kamu aneh belakangan ini…."

"Untuk apa kita berjuang selama ini? Apa Kakak sudah lupa?"

"Izuna akan mati jika aku tidak pergi!" teriaknya, membiarkan air matanya meleleh di kedua pipi. Sungguh, sebelumnya Tobirama tak pernah mengungkit soal ini. Jadi mengapa sekarang…?

Ketika Hashirama mengangkat wajahnya lagi, segala jejak kemarahan telah sirna dari wajah adiknya.

Tobirama membisikkan umpatan pendek. "Sudahlah," katanya, meraih buntalan kain kecil dari dalam baju. "Ini tambahan untuk di jalan." Diberikannya benda itu sambil berlalu.

"Tobira—"

"Nanti saja, Kak."

Hashirama mematung sampai suara langkah adiknya tidak lagi terdengar. Isi bungkusan itu adalah herba kering yang rebusannya biasa ia minum untuk meredakan mual. Ia tersentak, sama sekali lupa untuk membawanya dari rumah. Sehelai kertas kecil yang disisipkan di dalamnya bertuliskan daftar makanan dan minuman yang tak boleh dikonsumsinya. Lama ia tercenung menatap isi bungkusan itu sebelum teringat akan agendanya.

Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Tobirama hanya kelelahan. Jika dirinya saja sampai sering ingin menangis di penghujung hari usai mengurus desa, adiknya pasti juga letih dan penat. Mereka berdua terlatih untuk berlama-lama di medan perang menebas lawan, bukannya menekuni berlembar-lembar dokumen administrasi. Terlatih berkejaran di alam liar, bukannya terpaku di balik meja seharian.

Pikirannya terus berkecamuk dengan berbagai kemungkinan. Hashirama sampai tidak menyadari ketika Sasuke dan Tsubaki bergabung dengannya. Kedua kepala klan itu berjalan agak jauh di kedua sisinya, memerhatikan kondisi sekeliling. Jika mereka berbicara, Hashirama tidak akan mendengarnya.

Klan Uzumaki ada di kastel Kaisar. Ashina, Mito, dan sepupu-sepupu lainnya. Juga Nobuo. Begitu Hashirama selesai bernegosiasi dengan mereka, ia bisa pulang dengan tenang meluruskan masalah di rumah. Mencegah gosip-gosip miring menciptakan aroma busuk di Konoha.

"Hokage-sama, mau istirahat sebentar?"

Hashirama mendarat di tepi jalan setapak yang diapit deretan aras tua. Kedua pengawalnya telah menurunkan bawaan masing-masing. Ia hanya mengangguk menyanggupi tawaran Sasuke, dan langsung mengempaskan diri di bawah sebatang aras.

"Hashirama-san, mau kupetikkan beri ebigara?"

Kedua wanita itu berbagi buah merah mungil nan ranum yang dipetik Tsubaki dari semak terdekat. Rasanya asam dan manis di mulutnya. Hashirama makan dalam diam sampai ia menyadari tatapan kepala klan itu kepadanya.

"Kenapa?"

"Aku yang seharusnya tanya begitu." Tsubaki menyeka jemarinya pada permukaan sebuah batu kasar tak berlumut. "Coba kutebak, kau pasti sedang kasmaran."

Hashirama tersedak. Ia memukul-mukul dadanya sementara Tsubaki menepuki punggungnya.

"Macam anak gadis baru puber saja!" Ia terbahak-bahak begitu Hashirama bisa kembali bernapas lega. Dilemparkannya dua buah beri sekaligus ke dalam mulut, melanjutkan pembicaraan sembari mengunyah. "Nggak usah malu-malu, dari dulu semua orang juga tahu, kok."

"Hah…?"

Dari dulu—?

"Kalian 'kan lengket sekali. Ke mana-mana berdua setiap dia ada di desa— tuh 'kan mukamu sudah lebih merah dari beri-beri ebigara ini!"

Hashirama menunduk, mencicitkan "oh" pelan sekali, menahan panas yang menjalari pipinya. Benarkah mereka sekentara itu?

"Aku juga tahu kalian ngapain di hutan dekat rumah sakit." Ia nyengir selebar-lebarnya, menampakkan sepasang taring atas besar. "Waktu Kaisar menginap di desa—"

AAAAAH! AAAAH! AAAAAAAHHH!

"Hha … ahaha … Tsubaki-san bicara apa, sih…?" Hashirama menutupi kegugupannya dengan tawa malu-malu. Akan tetapi panas wajahnya sekarang bagai membakar telinga.

Wanita itu tersenyum jahil, dan mengetuk-ngetuk hidungnya. "Lupa, ya, kalau penciuman kami setajam penciuman anjing?"

Hashirama hanya mengerjap menatap hidung pesek itu.

BUODOOOOOOOOH!

Bodoh sekali ia bisa lupa! Tentu saja mereka sungguh-sungguh bisa mencium gosip sebelum itu merebak…!

Tsubaki terbahak-bahak lagi sampai memukuli pahanya berulang kali. "Bau kalian nyaris serupa, bercampur bau khas cemara yang tumbuh di dekat rumah sakit. Khas seperti pasangan kasmaran yang baru kucing-kucingan…." Kata-katanya menggantung, tetapi sorot matanya sudah mengungkapkan sisa maksudnya.

Hashirama tak berani melihatnya lurus-lurus. Telunjuknya memainkan buah beri di pangkuan. Rasanya ingin membungkus diri di dalam batang aras saja!

"Sudah, nggak apa-apa. Aku dulu juga 'kan pernah kasmaran."

Tidak ada rasa bermusuhan dalam ekspresi maupun suaranya. Tidak seperti orang lain ketika membicarakan kedekatannya dengan Madara setelah pertunangannya jadi rahasia umum.

"Tsubaki-san sendiri … masih sendiri…?" tanyanya malu-malu, ragu apakah pertanyaan ini terlalu intrusif. Hashirama belum pernah mengobrol seakrab ini dengan sepupu-sepupu Senju-nya, karena mereka selalu memperlakukannya berbeda.

"Aku masih sayang almarhum suami pertamaku," katanya sambil melempar sebuah beri lagi. "Dia bukan shinobi, lho. Cuma petani lobak di desa yang kami lindungi dulu. Tapi manis sekali. Semua yang dia rawat tumbuh subur. Pochi langsung akrab dengannya pertama ketemu. Orang tuaku ngamuk besar waktu kubawa dia ke rumah untuk dikenalkan." Tsubaki menggeleng-geleng geli.

"Tapi kalian menikah…?"

"Kawin lari." Tsubaki berdeham. Kedua tangannya bersandar di belakang kepala. "Karena aku nggak mau ambil suami sampingan. Belum setahun menikah, desanya terserang wabah cacar. Suamiku meninggal seminggu setelah tertular. Aku langsung pulang sebelum kena juga."

Hashirama tercenung. Menyadari ekspresinya, Tsubaki nyengir.

"Itu sudah dua puluh tahun lalu. Nggak usah sedih begitu, Hashirama-san." Ia meregangkan kedua tungkainya. "Setelahnya aku nggak ingin menikah lagi. Lebih enak fokus pada tugas."

Kawin lari memang pilihan yang bagus, tapi mustahil bagi keduanya. Konoha dan adik-adik mereka tidak bisa ditinggal begitu saja….

"Nah, kalau dia sih, sudah jadi duda umur tiga belas tahun!" seru Tsubaki, melihat ke arah mereka datang. Sasuke sedang berjalan santai menuju kedua wanita itu, pipanya dijepit di antara bibir. Ia mengernyit dan membelalak pada kepala klan satunya. Tsubaki hanya merentangkan tangannya tinggi-tinggi, lalu bangun perlahan-lahan. Cuping hidungnya melebar.

Tubuh Hashirama seketika siaga. Sikapnya tetap santai, perlahan menghabiskan beri ebigara di pangkuannya. "Aku tidak tahu kau sudah menikah," katanya kepada pria itu.

Sasuke mematikan pipanya, dan mengangkat bahu. "Dijodohkan, sih."

"Hashirama-san masih ingin istirahat?"

"Nggak." Ia meraih tasnya, bangkit berdiri. "Ayo jalan lagi—"

Lima orang muncul dari depan, menghardik ketiga shinobi. Dua di antaranya mengacungkan sabit berkarat. Tsubaki dan Sasuke melesat menghadang mereka. Hashirama bergeming di tempatnya, mengamati pertarungan mereka. Kedua kepala klan itu hanya menggunakan taijutsu, sesuai protokol untuk tidak mengungkapkan identitas shinobi mereka. Teknik mereka jauh melampaui teknik para penyerang, dan keduanya menahan diri karena itu.

Bandit-bandit itu tampak tidak ada bedanya dengan petani desa manapun. Mereka kalah dengan mudah, tetapi rekan-rekan mereka segera muncul dari balik aras dan semak belukar, mengacungkan pedang pendek pada kedua pengawal itu. Dari cara mereka mengayunkannya, mereka jelas bukan amatiran.

Tujuh, delapan. Tiga belas bandit.

Hawa kehadiran lain muncul di belakangnya, disusul sensasi dingin pada leher Hashirama. "Serahkan semua uang kalian," geram sebuah suara rendah. Pemiliknya menempel rapat pada punggung Hashirama. "Kamu kelewat tenang jadi sandera. Nangis, kek, teriak, kek."

Bilah pedang mengilap di lehernya bukan asal dibuat. Dirawat dengan baik. Bukan sembarang orang yang bisa membawa pedang-pedang berkualitas.

Bukan rombongan bandit biasa.

Wanita itu sendiri masih bergeming, kedua lengannya lemas terkulai di sisi tubuh. "Kalian bawa uang tidak?" tanyanya tenang.

Sasuke menggeleng. Tsubaki mengangkat bahu.

"Geledah bawaan mereka!" hardik penyanderanya. Sepertinya ia yang memimpin para bandit ini. Salah satu bandit tak bersenjata menghampiri bawaan Hashirama.

"Jangan sentuh tasku!"

Ia membeku di tempat. Kentara gemetaran. Lalu mundur perlahan, takut.

"Sudah kubilang kami tidak membawa barang berharga," kata Hashirama lagi, kali ini tanpa daya cakra dalam suku katanya. "Kuminta kalian pergi dengan tenang. Kami tidak akan mengejar kalian."

Pedangnya merapat ke kulit, mengirisnya hingga berdarah. "Nggak sadar ya kalian ini kalah jumlah—?!"

"Kaudengar apa katanya."

Hashirama mendengar ketukan lembut, pertanda seseorang mendarat tak jauh dari belakang mereka. Ia tak perlu melihat empunya wajah untuk tahu identitasnya.

Kedua kepala klan menyeringai lebar. Ketujuh bandit berpedang yang mengepung mereka terbelalak.

"I, itu—" Salah satu bandit mengacungkan telunjuk ke depan. "Itu Si Iblis Konoha!"

"Bukannya dia masih di garis depan— di Tsuchi?!"

Sosok yang baru bergabung dengan mereka berjalan ke hadapannya. Zirah merahnya penuh noda perang, tetapi pelindung dahinya mengilap bagai perak. Wanita itu melambai kecil, tak tahan untuk berbisik menyapanya meski pedang penyanderanya masih menempel pada urat nadi.

"Hai, Sayang."

Uchiha Madara mendecakkan lidah.


.

.

"Bandit-bandit itu," Tsubaki menyuapkan tumisan akar gobo ke dalam mulutnya di sela pembicaraan, "jumlah ronin-nya lebih banyak dari kelompok-kelompok yang pernah kulihat."

"Yang nggak bersenjata bukan dari bandit gunung. Mereka pakai kain, bukan jalinan rami. Gigi-gigi mereka cukup terawat," Sasuke menambahkan, meminum supnya. "Tanpa ronin, mereka selalu menghindari patroli. Yang diganggu cuma pedagang dan pelancong."

"Aku penasaran dengan pedang mereka," Hashirama angkat bicara, meletakkan mangkuk nasinya yang tandas tak bersisa. "Buatannya bagus. Lebih bagus daripada pedang-pedang kita."

Madara menatap ketiga rekannya satu persatu. "Kalian tahu seperti apa kondisi perang di Tsuchi, sebelum Konoha bergabung?"

Semuanya menggeleng.

"Bunuh diri." Sumpitnya diletakkan, jemarinya bertautan. "Petinggi pasukan Hinokuni memaksakan maju terus menerus. Pasukan Tsuchi unggul karena mereka lebih paham medan. Sewaktu-waktu hujan batu turun di perbatasan, kadang kerikil kadang batu sebesar batu muntahan gunung. Penyuplai makanan sering jadi korban. Tak banyak yang bisa dimakan di garis depan kecuali gagak dan tikus. Kuda-kuda yang kelelahan berubah jadi makan malam." Madara berhenti untuk menyesap sake. "Tidak semuanya tahan hidup begitu."

Hashirama melambatkan kunyahannya. Informasi yang diberikan para samurai semata-mata menyangkut taktik. Memang ada catatan kecil soal perbekalan, tetapi tak disebut-sebut sama sekali soal moral pasukan. Ia melewatkan detil ini karena terpaku pada perang….

"Perselisihan internal para daimyo menyibukkan kita semua," dengus Tsubaki. "Negara-negara lain cuma seperti kabar angin bagi kita."

"Yah, samurai kan cuma mematuhi titah Kaisar. Kita, sih, nggak— sampai baru-baru ini."

"Idealnya begitu," Madara melanjutkan. "Samurai berpangkat rendah, banyak pergi setelah berbulan-bulan berperang. Yang tertangkap terancam hukuman mati. Pilihan yang tersisa cuma jadi ronin, menyaru dengan penduduk biasa atau jadi bandit."

Tahu dalam sup misonya berputar-putar mengikuti arus kuah. Mata gelapnya balas menatap dari dalam cairan.

"Tapi kita sudah … bisa dibilang kita menggantikan mereka perang, Uchiha-san. Mereka nggak perlu kabur lagi, 'kan?"

Sasuke menegakkan punggung, mengambil botol sake. "Karena sekarang para shinobi sudah dikirim berperang, pasukan yang lebih efisien juga, samurai ngapain?"

"Beberapa petinggi masih tinggal di garis depan, bantu menyusun taktik. Sisanya pulang. Banyak yang cacat permanen."

"Banyak yang jadi ronin juga." Tsubaki menerima cawan sake yang sudah diisikan. "Jadi pemburu dan buruan."

Hashirama menggeleng ketika Sasuke menawarkan untuk mengisi cawannya. Ia melanjutkan makan sambil mencerna percakapan mereka. Mualnya kembali mengancam. Ia harus mengalihkan pikirannya.

Seberapa banyak samurai Nobutada? Ia masih ingat samurai yang mengawal Kaisar di Konoha. Tampaknya ia tidak senang berada di sana, kalau bukan karena tugas pengawalan.

"Harusnya kalian pakai zirah tadi," tegur Madara gusar, lebih kepada pemimpin rombongan.

"Aku ingin berangkat seperti orang biasa saja." Dan karena alasan itulah ia tidak menyarankan mereka menggunakan ninjutsu melawan bandit. "Mereka cuma bandit biasa." Hashirama mengangkat bahu.

Madara membelah tahunya dengan kasar. "Lihat siapa yang tadi disandera."

"Aku nggak apa-apa, 'kan?"

"Apanya yang nggak apa-apa, ada pedang siap menebas lehermu…!"

Hashirama meletakkan sumpitnya dan menepikan rambut panjangnya. "Lukanya sudah sembuh."

"Tetap saja…!"

Tsubaki terbatuk-batuk. "Aku butuh udara segar," keluhnya. Ia berdiri, meregangkan pinggangnya dan keluar dari kamar yang mereka sewa. Sasuke segera menyusulnya, bergumam soal butuh merokok setelah makan.

"Kamu sudah tahu bandit-bandit itu mengepungmu, mengapa tidak pergi sebelum mereka datang?"

Hashirama manyun selagi ia meletakkan teko berisi air panas di meja dan mengeluarkan bungkusan herba kering dari tasnya. Perutnya penuh dengan makan malamnya barusan. Mualnya semakin mengganggu.

"Habis penasaran." Ia mengangkat bahu. "Ingin lihat mereka langsung."

"Seorang Hokage, jadi sandera bandit kelas teri? Yang benar saja!"

"...Kenapa aku dimarahi?"

Madara menggerutu, tetapi sorot matanya tidak lagi kesal. Ia menghela napas dalam-dalam, menuangkan sake dari botol kecil. "Bepergian tanpa zirah sesantai itu…." Ia sudah hampir mengisi cawan Hashirama, ketika tatapannya terarah ke bungkusan herba.

"Kalau kamu nggak datang pun, aku bisa mengatasi mereka. Tampangnya beda, sih, dari bandit-bandit gunung biasanya." Wangi menyegarkan memenuhi ruangan setelah Hashirama menuang air panas pada sejumput herba di dalam gelas.

Udara bergetar halus, tak terdeteksi indera manusia biasa. Genjutsu tipis melingkupi isi ruangan, melindungi suara di dalam dari pendengaran orang lain. Hashirama berharap dalam hati supaya kedua rekan perjalanannya tidak segera kembali.

Cawan sake kedua tak jadi diisi.

Madara pindah duduk di sebelahnya. Ia menarik gelas rebusan yang masih berasap, dan menghirup wanginya. Ketika menoleh, wajahnya penuh tanya.

Hashirama mengelus pipinya perlahan, dan mengamati tubuhnya mencari bekas-bekas pertempuran. Telapaknya menelusuri bahu dan punggung, mencoba menemukan tekstur tak lazim atau perban tersembunyi. Tidak ada.

"Kamu nggak luka…." Ia beringsut, menyandarkan kepala di dadanya.

Madara mengecup ubun-ubunnya, merapatkan tubuh mereka.

Segala kepenatannya bagai lepas dari bahu. Di sepanjang makan malam, mereka membicarakan kondisi di garis depan. Hashirama mampu menyembunyikan ketidaknyamanannya, tetapi sulit untuk tidak tegang setiap bahasan mereka menyinggung komposisi pasukan Tsuchinokuni.

Bahasan itu untuk lain kali lagi. Ada sesuatu yang harus ia sampaikan.

Hashirama mundur sedikit, menegakkan punggung hingga tatapan mereka sejajar. "Madara," panggilnya lirih, "aku hamil."

Pria itu mengerjap, sejenak tampak akan mengatakan sesuatu, tetapi ia hanya menarik napas tertahan. Sama seperti Hashirama barusan, telapak tangannya segera menyusuri tubuh wanita itu, sampai berhenti di kedua sisi abdomennya. Jemarinya meraba dengan hati-hati, seperti mencari tekstur atau bentuk yang tak biasa.

"Belum ada bentuknya, Madara— ah—"

Kalimatnya direspons dengan cakra pengindera menyala di tangannya. Sensasi serupa geli merebak di perut Hashirama selama beberapa detik, membuatnya menggigit bibir. Wajah Madara yang mengernyit penuh konsentrasi perlahan rileks kembali, dan cakra itu menyusut.

"...Hashi."

"...Mm?"

"Kamu hamil," Madara mengulangi pengakuannya, seolah mengonfirmasi untuk dirinya sendiri. Kekagetan belum juga sirna dari matanya. "Kamu … sungguh-sungguh…."

Hashirama menyibakkan poni panjangnya, mengangguk lagi. Sekilas ia melihat senyuman merekah, sebelum tubuhnya direngkuh dalam pelukan rapat. Napasnya seketika tertahan di dada. Jari-jarinya siap menepuk punggung pria itu, meminta dilepaskan, tetapi niatnya diurungkan. Kebahagiaan menyelubunginya, dan matanya pun basah.

Ketika Madara akhirnya melepaskannya, ia tak bisa berhenti tertawa tanpa suara. Mata lelaki itu pun juga berkaca-kaca. Hashirama mengulurkan tangan menyeka pipinya.

"Aku—" Suaranya tercekat. "Sama sekali nggak mengira…."

"Aku juga nggak," ia meyakinkannya. "Aku baru curiga nggak lama setelah kamu pergi, karena menstruasiku telat…." Hashirama ragu Madara mendengarkannya. Ia memeluknya lagi, kali ini menyandarkan dagu dekat ke lehernya. Napasnya hangat pada kulit Hashirama, membuat darahnya berdesir dengan gairah.

"Kita akan punya anak, Hashi."

Andai Madara tidak erat memeluknya, Hashirama akan memekik sekuat tenaga. Kebahagiaan menggelenyar ke seluruh tubuhnya. Air matanya meleleh deras. Kalimat itu terus mengulang diri di dalam pikirannya, bergema sampai ke relung hati terdalamnya.

Di tengah ketidakpastian dan masalah yang melanda, mereka akan punya anak….

Madara menyeka pipi basah Hashirama. Wajahnya sendiri masih memancarkan rona bahagia. "Jadi," bisiknya setelah kembali mundur, "apa langkah kita selanjutnya?"

"Aku ingin menegosiasikan pembatalannya sesegera mungkin. Uzumaki Ashina diundang di kastel." Punggung Hashirama bersandar pada dadanya. Kedua tangan Madara ia letakkan pada abdomennya.

"Uzumaki Nobuo…." Ujung hidung Madara menyelip di antara helaian wanita itu. Tindakan afeksinya berlawanan dengan suaranya, yang terdengar seperti baru mengucapkan kata-kata keji. "Orang seperti apa dia?"

"Aku cuma ketemu dia sekali waktu kecil." Hashirama menceritakan insiden pada kunjungan klan Uzumaki ke kampung Senju bertahun-tahun lalu. "Ayah memarahiku, lalu kubilang— oh ya ampun, kamu nggak akan percaya ini." Ia terkikik geli.

"Nggak percaya apa?"

"Kubilang pada Ayah, daripada aku menikahi pengganggu seperti Nobuo, lebih baik aku menikah dengan iblis Uchiha." Hashirama mendongak sedikit untuk melihat reaksinya.

Ujung bibir Madara terangkat sedikit. "Kamu serius bilang begitu?"

"Iya … aku marah sekali waktu itu. Aku nggak mau jadi istri orang yang bisa menyakiti adikku sambil tertawa-tawa." Hashirama menautkan jemari mereka. "Padahal waktu itu … aku nggak kenal klan Uchiha sama sekali…."

"Sekarang sudah, 'kan?" Madara menunduk lebih jauh. "Siapa yang tahu ucapanmu akan jadi nyata?"

Hashirama bergumam mengiyakan, menyentuhkan bibir mereka. Sentuhan itu membangkitkan gairahnya, yang direspons Madara dengan menyelipkan tangannya ke balik kimono Hashirama. Panas menyala di manapun kulit mereka bertemu. Ia merasakan sesuatu menyundul belakang pinggangnya, sementara rintihan mulai mengalir tertahan dari mulutnya.

"Yang lainnya—"

"Aku menginginkanmu," bisik Madara sambil menarik tangannya keluar.

Wanita itu berbalik menghadapnya. "Bukankah nggak aman buat bayinya…?"

"Kita bisa melakukannya seperti dulu," jawabnya penuh keyakinan. "Seperti di hutan waktu itu." Sorot matanya memancarkan keinginan tunggal. Tubuhnya tegang di bawah sentuhan Hashirama.

"Waktu Kaisar…?"

Madara menggeleng. "Yang pertama kali. Setelah perjanjian."

Mata wanita itu melebar. Ia belum lupa, tentu saja. "Lalu … genjutsu-nya…?"

"Bukan masalah. Bisa kupertahankan."

Sejenak ia melirik pintu. Tsubaki pasti tahu mereka sedang apa, tetapi Hashirama tidak yakin Sasuke mengetahui hubungan mereka. Perlukah ia—

Ah, persetan.

Derak halus bergema ketika mokuton-nya menyangkutkan pegangan pintu-pintu shoji dan fusuma agar tidak bisa dibuka. Ia merasa tak enak pada Tsubaki dan Sasuke, tetapi mereka pasti mengerti. Ia akan membayar ruangan ekstra yang mereka sewa besok pagi.

Madara menyambar selembar futon tebal yang telah disiapkan, dan menarik Hashirama ke pangkuannya. Atasannya ia lepas, membebaskan sepasang tangan besar dan kasar menjelajahi tubuh empuk berlekuk di baliknya. Ia menarik lepas temali yang mengikat pinggang celana pria itu, menyibakkan kain untuk mendaratkan kecupan hangat nan lembut. Madara memegangi erat rambutnya sementara bibir dan lidah Hashirama sibuk memanjakannya.

Yang tersisa di ruangan itu hanya bisikan namanya yang diutarakan Madara berulang kali, dan desahan Hashirama yang menahan kontraksi intens pada dinding liangnya sendiri. Akhirnya ia mundur, melepas bawahannya sembari menyeka mulut. Madara, nyaris kehabisan napas, menatapnya penuh tanya sebelum melihat ke antara pahanya.

"Baru begini saja … sang dewi sudah tidak tahan?" godanya sambil memundurkan punggung. Wajahnya nyaris semerah beri ebigara, matanya separuh menutup dalam tatapan puas. Tangannya mengisyaratkan tantangan. Mengundangnya maju.

Demi rikudou sennin, Hashirama sungguh menginginkannya.

"Dasar iblis." Ia menyelipkan rambut ke balik telinga, dan menjilati bibir atasnya. "Aku belum selesai, Anata," desahnya, kembali menundukkan wajah di antara kedua kaki Madara hingga ia selesai melewati puncaknya. Pria itu lalu menukar posisi mereka untuk ganti menumpas ketegangan di dalam tubuh Hashirama; membunuh dahaganya hingga tuntas melampiaskan rindu.

Ada hal-hal lain mengganjal dadanya; hal-hal tentang adik mereka yang menuntut untuk diungkapkan, tetapi ia mendorongnya turun kembali. Semua itu bisa menanti.

Semua itu harus menanti.


.

.

Perjalanan mereka harus melalui jalan yang telah ditentukan. Ada pos-pos penjagaan di beberapa desa. Setiap mereka datang dan pergi, surat jalan resmi dari Kaisar diberi cap oleh penjaga setiap pos. Surat itu sendiri berisi daftar nama peserta rombongannya, yang selalu dicek satu persatu sebelum dicap.

"Merepotkan sekali," gerutu Madara saat mereka bertolak dari perhentian pertama. Penjaganya berpesan agar mereka tidak lupa singgah di perhentian berikutnya. "Bikin perjalanan makin lama saja."

"Tapi enak jalan begini, Uchiha-san. Pemandangannya bagus!"

Hashirama mengakui dalam hati bahwa ia setuju dengan Sasuke. Sejak kecil ia tak terbiasa pergi jauh dari kampung, kecuali untuk perang. Lanskap yang mereka lalui kebanyakan berbukit-bukit. Pucuk-pucuk pepohonan telah berubah merah manyala, menyelimuti punggung bukit-bukit dengan warna-warna api.

Ia tak tahu Hinokuni memiliki pemandangan seindah ini.

Ada pola yang selalu terbentuk setiap kali mereka beristirahat di siang hari. Sasuke selalu pergi merokok jauh-jauh begitu mereka berhenti, atau membantu Tsubaki berburu. Wanita itu belum pernah berlama-lama di daerah ini, sehingga ia bersukarela mengumpulkan makanan. Mereka membawa cukup kikatsugan dari desa. Namun, campuran padat sayuran dan serealia saja tak cukup memenuhi rasa lapar Hashirama. Ia butuh makanan yang lebih solid, lebih berisi. Hashirama jadi menghabiskan lebih banyak waktu istirahat dengan Madara sendirian. Ia menggunakan kesempatan itu untuk membicarakan pekerjaan di Konoha, informasi terbaru, dan lain sebagainya yang tidak menyinggung masalah pribadi mereka.

Pos penjagaan selalu terletak di penginapan bagi pelancong. Karena surat jalan mereka diberi cap kekaisaran, mereka langsung mendapat tempat terbaik untuk tidur. Hashirama selalu beristirahat usai makan dan membersihkan diri. Begitu tubuhnya menyentuh futon, kantuk selalu menyusul. Hanya percakapan dengan Madara yang membuatnya terjaga.

"Adik-adik kita berantem," Hashirama mengungkapkan ketika mereka beristirahat di pos ketiga, sebuah desa berkanal jernih. "Aku jadi merasa bersalah. Mungkin seharusnya kita melibatkan mereka dari awal."

"Kamu sendiri yang tidak ingin melibatkan Tobirama. Seperti aku tidak ingin melibatkan Izuna." Madara melepas kait zirahnya untuk beristirahat. Ia tetap bersikeras mengenakannya, dan Hashirama menyerah membujuknya berpakaian seperti petani. Yang jelas tidak ada lagi bandit yang berani menghadang walau sesekali mereka mendeteksi keberadaannya.

"Aku juga berantem dengannya."

"Izuna?"

"Tobirama." Hashirama menyembunyikan wajah di kedua tangannya. "Tobirama sudah tahu pertunanganku sejak lama…."

Ekspresi Madara menggelap.

"Mungkin posisinya juga terjepit, sama sepertiku. Ayah melarangnya membicarakan itu," Hashirama segera menambahkan. "Dia juga menebak kita sengaja berhubungan agar aku hamil. Uzumaki Ashina sepertinya tidak mau menerima cucu menantu yang tidak perawan."

Ia mengeluarkan tabung bambu besar tempat menyimpan air. Kedua sarung tangannya ia lepas, mengalirkan cakra katon ke benda itu. "Bagus, 'kan? Dia akan membatalkan pertunanganmu."

Hashirama menggeleng sendu. "Klan Senju banyak berutang padanya. Dia juga ingin mokuton-ku." Ia meraba abdomennya. "Tapi daripada mokuton, kurasa lebih baik jika anak kita punya sharingan."

Madara mencium sisi kepalanya. "Yang manapun aku tidak masalah."

"Bagaimana kalau anak kita senasib denganku—?"

"Aku tidak mau memaksa keluargaku untuk masalah begitu. Dia separuh Uchiha, Hashi. Aku ayahnya." Pada kalimat terakhir itu, ujung telinga Madara memerah. "Izuna seumur dengan kita. Dia masih melajang, 'kan?"

"...Benar juga." Kaki Hashirama menyeruak dari balik selimut. Dewan klan Senju tidak bisa memaksa anaknya. Tidak jika mereka enggan berurusan dengan kepala klan Uchiha. "Adik-adik kita tetap butuh penjelasan total. Sesegera mungkin setelah kita pulang."

Setelah mereka pulang, mereka tidak akan perlu bersembunyi lagi.

Air panas dari Madara digunakannya untuk menyeduh penangkal mualnya. Ia terus memerhatikannya selama perjalanan, dan sering menjadi yang pertama meminta istirahat walaupun Hashirama bersikeras ia tidak apa-apa. Semakin jauh mereka berjalan, semakin besar keinginannya untuk tidak mengakhiri perjalanan ini. Bisa berdua saja dengan Madara, tanpa harus mencemaskan segunung dokumen untuk ditelaah….

Namun, di sisi lain ia sering mendapati Madara menatapnya serius. Ia segera mengalihkan pandangan begitu Hashirama bertanya sebabnya.

"Kamu begitu lagi," ujarnya setelah menghabiskan rebusan hangat itu. "Ada apa, Madara?"

"Bukan apa-apa. Sudah tidur saja."

Namun, bahkan setelah mereka berbaring berhadapan dalam gelap, Hashirama masih mencari-cari jawabannya di wajah Madara.

"...Kamu nggak mau menyerah, ya?"

"Apa kamu memikirkan perang?" tanyanya separuh berbisik. Degup jantungnya tak beraturan. Ia sungguh tidak ingin memikirkan hal itu, setidaknya untuk saat ini saja.

"Sebagiannya." Madara memejamkan mata, dan mengecup ubun-ubunnya. "Kamu pasti sadar skala perubahan yang sudah kita buat." Cahaya bulan yang menembus shoji membuat tepian tubuhnya berpendar lembut keperakan. Wangi cemara kembali memenuhi paru-parunya.

Kilasan memorinya muncul silih berganti. Pembukaan hutan Konoha. Kehancuran kampung lama Senju. Klan-klan shinobi lainnya pindah ke Konoha. Penunjukan dirinya sebagai Hokage. Kedatangan Kaisar membawa tawaran perang. Penyambutan tawaran itu oleh kepala klan lainnya. Serangan bijuu….

Kemunculan desa shinobi di negeri lain. Perang dengan Tsuchi. Perang yang ia sahkan tanpa perlu mengangkat senjata sendiri.

Semua ini berawal dari pembicaraan dua bocah penuh mimpi di tepi sungai. Dua bocah polos yang tidak sadar seberapa luas dunia yang mereka tempati, dan seberapa dahsyat kekuatan yang akan mereka genggam nanti.

"Hashi, tidurlah."

Hashirama melingkarkan lengan di pinggangnya, berusaha untuk terlelap. Mimpinya dihiasi warna dan pola abstrak. Setiap bentuk perlahan mengambil wujud yang lebih nyata dan familier. Ia menemukan padang rumput pampas sejauh mata memandang, dipayungi langit ungu gelap bertabur bintang gemintang.

Dua buah purnama balas menatapnya.


.

.

Kastel yang mereka tuju bukan tempat tinggal resmi Nobutada, melainkan tempatnya berpelesir. Letaknya di tengah sebuah gunung. Atap-atapnya hitam terlihat dari jauh. Jalan yang mereka tempuh berakhir di hutan bambu berbatang keunguan. Penjaga yang menemui mereka mengenakan pelindung badan dari kulit yang disamak. Lambang kekaisaran digurat di bagian dada mereka.

"Berhenti!" seru salah satu penjaga. Intonasinya galak. Ketika ia maju menghampiri, gagang katana terlihat menyembul di sisi pinggangnya. "Apa urusan kalian di sini?"

"Memenuhi undangan Kaisar Nobutada." Hashirama maju, mengulurkan surat jalan dari sakunya. Si penjaga membaca isinya dengan dahi berkerut, matanya berpindah-pindah dari gulungan ke wajah rombongan shinobi. Tampaknya ia mencocokkan nama dan wajah.

"Mukanya seperti lagi kena sembelit," Sasuke berbisik begitu pelan, membuat Tsubaki nyaris menyemburkan tawa. Hashirama terpaksa merapatkan rahangnya kuat-kuat. Untunglah lelucon itu tidak terdengar objeknya.

"Baik," dengus si penjaga keras-keras. Ia menggulung surat jalannya. "Dari sini, hanya Hokage Senju Hashirama dan Uchiha Madara-sama yang boleh masuk," kata penjaga pos terakhir setelah menerima surat perjalanan yang penuh cap. "Para pendamping silakan ke sini. Kami sudah menyiapkan akomodasi untuk Anda berdua." Ada jalan setapak yang lebih kecil menembus hutan bambu di sebelah kiri. Seorang penjaga lain sigap memandu mereka.

Tsubaki menggenggam erat kedua tangan Hashirama. "Selamat bersenang-senang, ya!" bisiknya sambil mengedipkan mata. Ia sudah menghilang di kelokan sebelum perempuan itu sempat merespons.

Madara bergumam ketika mereka mengikuti penjaga pertama ke dalam, "Mukamu merah."

"...Nggak apa-apa," Hashirama membalas nyaris tanpa menggerakkan bibir.

"Sebelumnya, Uchiha-sama. Tolong tunjukkan senjata Anda di sini."

Madara melepas gunbainya dari punggung. Si penjaga mengambil dan menimbangnya dengan kedua tangan. Puas mengamatinya dari ujung ke ujung, ia mengembalikannya.

"Tinggalkan senjata Anda di dalam kamar selama berkunjung." Kemudian ia beralih pada Hashirama. "Apakah Anda membawa senjata tajam juga, Hokage-sama?"

Ia menggeleng, lalu keduanya dipersilakan melanjutkan perjalanan. Mereka bertukar lirikan penuh arti.

Mereka jauh lebih berbahaya tanpa senjata daripada bersenjata.

Hutan bambu itu membuka pada sebuah jembatan luas dari batu berpagarkan kayu. Ia terentang di atas jurang dalam, dasarnya penuh batu-batu tak beraturan. Di seberangnya tampak gerbang sederhana, mengawali jalan lebar yang menyambung ke tangga berkelok. Puncaknya tersembunyi di balik pinus.

"Anda berdua akan sampai setelah menaiki tangga itu. Selamat tinggal." Si penjaga tidak ikut menyeberang. Ia membungkuk penuh hormat, lalu berbalik ke posnya sendiri.

"Sialan," Madara mengumpat ketika mereka sampai di kaki tangga. "Taruhan, kita pasti dilarang pakai cakra sampai puncak." Mereka sama sekali tak bisa melihat ujung atas tangga batu itu.

"Kenapa? Tangga begini 'kan bukan medan berat." Hashirama menapakkan kaki di anak tangga pertama. Semuanya sempit. Ada rantai besi besar terentang untuk pegangan. Dingin menggigit di kulitnya.

"Buat shinobi sekelas kita, ya. Tapi kondisimu nggak sedang maksimal, Hashi."

"Aku cuma hamil, bukannya sakit parah…."

Madara masih skeptis, tetapi ia tidak memperpanjang pembicaraan.

Cuacanya tidak panas menyengat, tetapi keringatnya tetap saja bercucuran. Sesekali Hashirama menengok ke sisi Madara, yang tertinggal satu-dua anak tangga di belakangnya. Zirahnya tidak tampak membebani pria itu. Beberapa kali Madara menawarinya beristirahat, yang langsung ditolak.

Semakin ke atas, pepohonan semakin jarang dan medannya semakin curam. Anginnya pun semakin kencang, mengacak-acak rambut mereka yang tidak diikat. Setiap beberapa puluh anak tangga tersedia bordes, tampaknya dimaksudkan untuk beristirahat. Walaupun bebatuannya telah digurat hingga kasar, Hashirama terus memikirkan apa yang akan terjadi jika hujan atau salju turun. Pagar kayunya tampak rapuh. Siapapun yang ceroboh atau terpeleset akan jatuh ke jurang—

Dunia berputar. Keseimbangannya hilang. Baik pagar maupun rantai berada di luar jangkauannya—

Sesuatu menahan belakang pinggangnya, mencegahnya jatuh. Jantung Hashirama berdebur kencang. Kedua tangannya sudah hampir membentuk segel ular.

"Madara—"

"Ada bordes di depan. Ayo."

Setibanya di sana Hashirama langsung mendudukkan diri, bersandar pada dinding batu. Rebusan herbal yang ia minum teratur hanya mencegah mual, tidak mempertahankan staminanya. Jika di awal kehamilan saja ia mudah sekali lelah, bagaimana dengan nanti…?

Seperti biasa, Madara merebuskan air dan Hashirama membuat mangkuk mokuton untuk minum. Selagi menunggu efeknya bekerja, ia menegur dirinya sendiri. Refleksnya seharusnya bekerja sama baiknya dalam kondisi prima. Mengapa ia jadi selemah ini? Rasanya semua wanita hamil yang pernah ia temui tidak sampai seperti ini….

"Kita nggak akan lama-lama di sini," kata Madara tiba-tiba. "Tidak sampai seminggu lagi, kamu akan kembali di Konoha, Hashi."

"Aku … nggak memikirkan pekerjaan," sanggahnya. "Ini murni karena…."

"Ada penyembuh yang memantaumu, 'kan?"

Hashirama mengangguk. "Beberapa minggu lagi seharusnya aku sudah nggak begitu mual…."

Namun, pikirannya terus berpusat pada pekerjaan yang ia tinggal, pada Tobirama yang masih dingin kepadanya, dan pada Izuna. Hashirama hanya ingin cepat-cepat pulang. Ia bersedia menukar semua futon empuk yang menantinya di kastel dengan kasur jeraminya di apartemen Hokage. Meski tak nyaman, setidaknya ia dekat dengan adik-adiknya.

Tangan Madara terus memegangi pinggangnya sampai mereka usai mendaki tangga. Mereka tiba di pelataran lebar. Tanahnya dilapisi batuan halus. Beberapa lingkaran memagari pinus-pinus tinggi yang meneduhi pelataran. Paviliun itu dikelilingi oleh beberapa pondok. Barisan semak yang dirawat rapi memagarinya.

Seorang samurai berzirah lengkap mendatangi mereka. Rupanya penjaga yang ditugaskan di situ. Hashirama baru selesai menyebutkan nama mereka ketika sebuah sosok langsing menghampirinya dengan cepat. Wajahnya separuh tersembunyi di balik lengan putih lebar pakaiannya.

"Lama tidak ketemu, Hashirama." Wanita itu melirik malu-malu.

Hashirama tercenung sampai ia mengamati rambut merahnya yang digulung di kedua sisi kepalanya. "...Mito?"

Uzumaki Mito menurunkan kedua lengannya, tersenyum hingga kedua deret giginya terlihat. "Akhirnya datang juga! Ya ampun, aku kangen sekali…!"

"Aku juga. Aku sungguh-sungguh minta maaf lama membalas suratmu—"

"Kamu ternyata cantik sekali dari dekat. Kaisar benar!" Ia menyambar kedua tangan Hashirama. "Ikutlah dengaku!"

"Oke—" Hashirama hanya sempat melirik minta maaf kepada Madara yang masih berbicara kepada samurai itu.

Mito menyeretnya ke ujung pelataran menembus taman-taman berwarna merah dan emas. "Aku sudah menunggu-nunggu ketemu kamu!" serunya sambil memeluk Hashirama erat. "Sejak dua tahun lalu surat-surat lama sekali sampainya. Lalu kudengar kamu sudah jadi kepala desa— apa namanya, Hokage? Wahhh! Waktu kamu jadi kepala klan saja Kakek dan lainnya heboh! 'Tidak disangka klan Senju memilih pemimpin perempuan' kata mereka. Tapi 'kan kamu punya mokuton, ya—"

"Mito, bernapaslah dulu…!" pintanya. Fasad elegan Mito segera lepas begitu mereka jauh dari orang-orang lain. Hashirama tidak ingat apakah ia secerewet ini dulu. Rasa bersalah karena lama menunda membalas suratnya menyelip ke dalam benak, menggelayut seperti beban.

Sepupunya itu menarik napas dalam-dalam, dan menyeka peluh di alisnya. "Aku benar-benar kangen kamu, tahu! Suratmu lama sampainya dan aku juga sibuk meriset fuuinjutsu! Kudengar ada bijuu menyerang Konoha seperti dulu, jadi aku berusaha membuat tameng pelindung yang bisa menghalau mereka juga. Kubawa semua catatanku di kamar, aku nggak sabar ingin eksperimen di Konoha—!"

Hashirama berhenti berjalan, menahan Mito di antara deretan bonsai rimbun. "Eksperimen di Konoha? Maksudmu—"

"Aku ingin ikut ke Konoha!" Mata Mito berbinar-binar. "Uzushio sungguh terpencil; aku mau lihat desamu lagi, dan klan-klan lain, dan siapa tahu ada juga yang jago fuuinjutsu!"

"Baik, baiklah!" Hashirama terkekeh geli. "Aku yakin bisa mengaturnya dengan Kakek Ashina nanti."

"Hore!"

Mereka akhirnya tiba di pelataran lain yang lebih luas di hadapan bangunan utama. Puluhan orang sedang berlatih pedang, beberapa memanah. Di sana-sini terlihat rambut merah manyala khas Uzumaki. Mito, yang sudah kembali ke sikap elegannya, terus menggandengnya melalui kerumunan hingga tiba di belakang sederet pemanah laki-laki. Mata mereka semua ditutup kain. Lengan kiri mereka lepas dari kimono agar leluasa menarik tali busur.

Hashirama menyaksikan mereka satu persatu melepas anak panah dari busur. Semuanya mengenai target. Namun, hanya satu orang yang tepat mengenai titik di tengahnya. Beberapa penonton lain bertepuk tangan sopan begitu para pemanah melepas penutup mata masing-masing.

"Hebat, ya?" Mito juga menepukkan tangannya. Wajahnya berseri-seri. Ia menarik Hashirama maju, kemudian melepasnya di dekat para pemanah untuk berbicara dengan salah satu pemanah berambut merah di ujung deret.

Seorang pemanah laki-laki berbalik terlalu cepat. Busurnya nyaris mengenai bahu Hashirama. Untunglah wanita itu menghindar tepat waktu.

"Ah— maaf—!"

"Tidak apa-apa." Ia mengamati wajah si pemanah. Rambut merahnya yang sampai ke pinggang jelas khas Uzumaki. Tampaknya mereka seumuran. Senyumannya manis sekali.

Pria itu mengamatinya, alisnya sedikit berkerut. "Apa kita pernah ketemu…?"

"Mungkin saja?" Hashirama mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Jika Anda dulu pernah main ke kediaman klan Senju, pasti kita sudah bertemu. Aku Ha—"

"Senju Hashirama," ia memotongnya. "Tentu saja. Maafkan saya yang lupa ini…."

Uluran tangan Hashirama disambut. Namun, pria itu membaliknya dan mengecup punggung tangannya. Lengan Hashirama seketika mengejang. Ia menahan diri untuk tidak menariknya— baik penonton dan pemanah masih berbaur di sekitar mereka.

"Uzumaki Nobuo," ia memperkenalkan diri, semringah. Helaian merah manyala jatuh membingkai rahangnya yang tegas. "Sudah ingat?"

Mulut Hashirama terbuka lebar tanpa suara. Yang ia ingat hanyalah seorang anak lelaki botak dengan suara tawa mengejek menyebalkan. Serta tinjunya yang melebamkan muka tembam itu. Pria di hadapannya ini tidak ada mirip-miripnya dengan anak yang ia hajar dahulu kala!

Nobuo masih menggenggam tangannya erat-erat, menanti responsnya.

Di belakangnya, Hashirama merasakan hawa membunuh familier merebak. Ia menoleh.

Madara sudah menyusulnya.


.

.

Usia Izuna lima tahun, dan ia terjebak di antara dedaunan.

Ketika ia meninggalkan rumah pagi ini, Izuna berniat bermain di kubangan lumpur sebelum menonton ayahnya berburu dengan elang. Seorang sepupu mengajaknya mencari lubang kelinci, yang ia sanggupi tanpa ragu. Alih-alih kelinci, ia menemukan seekor kucing jingga. Perburuan kelinci segera terlupakan. Izuna tak lagi berdiri tegak. Kedua telapaknya bertumpu di tanah, jemarinya menekuk. Kucing kurus itu sadar dirinya diintai.

Si kucing mendesis. Izuna mendesis.

Si kucing melengkungkan punggung. Izuna melengkungkan punggung.

Si kucing melesat ke hutan. Izuna melesat mengejar.

Mudah untuk mengejar si kucing; Izuna telah terlatih bermain bersama sepupu-sepupunya. Saling kejar dan berpura-pura menjadi shinobi. Pagi ketika cahaya matahari belum menembus kanopi hutan adalah waktu terbaik, melatih mata mereka agar terbiasa dalam kegelapan.

Menemukan kelebatan warna jingga di antara hijau tidaklah sulit. Izuna melihatnya mendaki batang pinus besar. Secepat kilat ia menyusulnya, menempelkan cakra pada ujung tangan dan kaki seperti yang diajarkan ayahnya. Si kucing melesat ke ujung sebuah dahan, dan berhenti. Ia menengok ke belakang.

"Aha!" Izuna terengah, menunjuknya penuh kebanggaan. "Kau sudah terjebak—!"

Sebelum bocah itu selesai mengumumkan kemenangannya, si kucing jingga melompat ke dahan di seberang. Menghilang di antara dedaunan diiringi keresak singkat. Izuna mustahil menyusul; dahan itu terlalu kecil di ujung bagi anak seukurannya.

Perlahan ia melirik ke bawah. Terlalu tinggi untuk turun. Sekarang setelah adrenalinnya surut, ia kesulitan memfokuskan cakra di tangan dan kaki.

Izuna terjebak.

Tidak! Ia tidak terjebak! Pasti ada cara untuk turun!

Nekat, ia menjulurkan kaki dan tangan kirinya untuk memeluk batang pohon besar itu. Ujung-ujung kukunya menancap ke kulit pohon, dan perih mulai menyengat sisi-sisi kakinya karena tergores. Izuna mengertakkan gigi, memanggil cakranya untuk menempel. Sedikit demi sedikit, ia mulai turun. Bisa!

Namun, ketika ia sudah hampir separuh jalan menuruni pohon, sebuah suara membunuh konsentrasinya.

"Izuna!"

Si bocah membeku, berusaha untuk menoleh. Fokusnya pecah. Pegangannya terlepas. Punggungnya menghantam sesemakan tebal, menghadiahinya dengan lebih banyak lecet. Sensasi perih membahana di ujung semua sarafnya, dan pandangannya dikaburkan oleh air mata.

"Izuna— kamu bisa berdiri?"

Sepasang lengan kurus mengangkatnya dari semak sementara Izuna menangis sejadi-jadinya. Ia segera melingkarkan lengan pada bahu orang itu, berusaha mengingkari rasa sakit yang masih terus berdenyut di sekujur tubuh. Ia tidak ingat apapun sampai tiba di perkampungan. Tenggorokannya sakit karena menangis meraung-raung.

Tak sampai satu jam kemudian, Izuna sudah bersandar di dinding. Wajah sembapnya berjengit menahan nyeri sementara ibunya mengoleskan ramuan untuk meredakan sakit di kakinya. Pergelangannya terkilir ketika jatuh. Lecet di sekujur tubuhnya sudah dibubuhi campuran daun dingin, tetapi masih berdenyut nyeri.

"Sebentar lagi sembuh," wanita itu menenangkannya. "Jangan nangis lagi, ya, Izuna." Pakaiannya penuh tisikan, disematkan asal-asalan usai menyusui adiknya. Rambutnya yang digelung ketat di belakang tengkuk mulai lepas dari tatanannya.

Izuna masih menggigit bibir, dan menyedot ingusnya keras-keras. Mengetahui putrinya berusaha keras untuk tidak menangis, wanita itu bersenandung sambil bekerja.

"Ayo nyanyi sama Ibu."

Perlahan Izuna mengikuti melodi lembut dari mulutnya, menyamakan ritme dan nada lagu tak berlirik itu. Ketika suara mereka akhirnya berjalin sempurna, Izuna tak lagi merasakan sakit. Ia kini dapat memerhatikan cerahnya langit biru di luar, serta para lelaki kerabatnya melepas elang-elang mereka usai berburu.

Senyumannya memudar. Andai ia tidak mengejar kucing jingga itu, pasti ia dapat menonton mereka berburu. Izuna menggigit bibirnya. Tatapannya terarah ke langit, pada seekor elang yang memutari halaman sebelum menuju cakrawala.

Andai ia bisa terbang, kucing tadi pasti sudah ditangkapnya.

Pikiran ini terus memenuhi benaknya bahkan ketika ia duduk untuk makan malam bersama keluarganya. Sampai-sampai ia tidak menyadari sebuah bantal yang masih kosong tak berpenghuni. Ayah dan ibunya masih makan dengan santai. Adiknya terlelap.

"Kakak mana?"

Bagai menjawab pertanyaannya, pintu shoji bergeser. Kakak sulungnya berlutut menghormat di ambang. "Kayu-kayunya sudah selesai saya belah, Ayahanda."

Ayahnya melanjutkan makan tanpa repot-repot menoleh. "Disusun rapi?"

"Sudah disusun rapi."

"Masuk dan makanlah."

Ibu mereka meletakkan semangkuk nasi dan akar teratai kukus di bagian meja yang kosong. Sepiring irisan daging ayam pegar dan sebutir telur puyuh menyusulnya. Madara duduk mengambil sumpit, lalu menggumamkan doa.

"Lain kali jangan bawa Izuna naik pohon," Tajima menegurnya. "Dia masih kecil."

Izuna menatap ayahnya tak percaya. Ia naik sendiri ke atas pohon tadi. Sanggahannya tercipta di lidah, siap untuk diluncurkan ketika kakaknya meletakkan telapaknya di kepala si adik. Rambutnya diacak-acak.

"Baik, Ayahanda." Madara nyengir pada Izuna, yang hanya membelalak kebingungan. "Hei, kalau kamu melamun terus, kuambil telurmu—"

"Nggak bisa!" Izuna menyambar telur dari mangkuk Madara dan meleletkan lidah ke arahnya. Kakaknya terbahak-bahak.

"Jangan ribut di meja makan, kalian berdua." Ibu mereka mengambil telur Izuna dan menaruhnya di mangkuk putranya.

Ketika Izuna berbaring di kegelapan malam itu, ia terus membayangkan si elang. Pasti menyenangkan jika ia sungguh bisa terbang bebas. Bisa melihat dunia dengan sharingan-nya dari puncak langit….

Ia tidak akan pernah jatuh menangis lagi.