recommended bgm: safe & sound - taylor swift. or any naruto sad soundtrack you can find online since i listen to them while writing this

so sorry for the delay, this chapter has 12 plot points instead of the usual 4 :'D i hope you guys like it. reached 15K in my docs.

thanks everyone who has read and commented on my fic :'D please try to login next time i wanna chat with you!


.

.

Usianya sepuluh tahun, dan bintang-bintang berlari di atasnya.

Izuna terbangun dengan dagu terpantul-pantul di atas tonjolan tulang. Ia merintih tak nyaman, kebingungan. Demamnya belum juga surut, menyebabkannya ditinggal ketika ayah dan kakaknya pergi perang. Berjam-jam lalu ia telah membaringkan diri di kasur jerami. Jadi mengapa ia berada di luar rumah, terbalut mantel tebal selarut ini?

Gadis itu mengendus udara, menemukan bau tubuh familier yang menggendongnya. "Ibunda … mau ke mana?"

"Ke … rumahku, Nak." Jawabannya terputus-putus, disela napas terengah. Ada buntalan kain terikat di punggungnya.

Si gadis menengadah. "Rumah kita di sana." Ia menunjuk arah berlawanan, pada cakrawala yang dipagari siluet besar bermahkota setajam deretan gigi beruang. "Kenapa kita malah pergi, Bu?"

Ibunya tidak menjawab lagi. Terus berlari. Izuna terlalu lelah dan mengantuk untuk berpikir. Matanya hanya separuh terpejam menyaksikan bumi bergulir di bawah kimono kuning ibunya….

Kuning?

Tak ada Uchiha yang mengenakan warna secerah itu….

Gelungan rambut wanita itu lepas ketika sebuah bayangan melesat dari selatan, memotong jalannya. Ibundanya berhenti berlari, napasnya putus-putus. Izuna mengangkat wajah, mengerjap-ngerjapkan mata berusaha melihat pengejarnya.

"Apa-apaan ini, Ageha?"

Uchiha Tajima berdiri di hadapan mereka, berzirah lengkap dengan pedang terhunus. Izuna berniat mengembangkan senyum melihatnya, tetapi tak jadi. Ada yang janggal pada suasana itu. Suara ayahnya yang penuh kemarahan dan sikapnya yang siaga tempur, misalnya.

"Aku tidak tahan lagi!" Suara Ageha pecah. Tangannya melingkupi kepala Izuna agar putrinya terlindung di bahu. "Aku tidak bisa menyaksikan anak-anakku mati satu persatu—"

"Pergi saja kalau begitu," sambar Tajima. "Tinggalkan putriku."

"Kau juga membawanya perang sejak kecil! Dia bisa luka kapan saja, bisa mati—"

"Dia shinobi Uchiha." Terdengar bunyi pedang disarungkan. "Begitulah takdirnya sejak lahir. Begitulah hidup yang kami jalani!"

"Dia masih anak-anak, Tajima…!"

"Dia shinobi yang sudah pernah membunuh!"

Jemarinya menemukan tangan sang ibu, dan perlahan melepasnya. Ia turun sendiri dari gendongan ibunya, yang tidak melakukan tindakan apapun untuk mencegahnya. Terpaku karena kaget.

"Izuna, Nak…."

Izuna lari ke sisi Tajima. Ia memalingkan wajah tepat sebelum isakan ibunya berkumandang.

"Adik-adikmu sudah tidak ada!" jeritnya. "Ikutlah denganku, kita bisa hidup tenang berdua…."

Tajima maju selangkah. "Dahulu kau sukarela ikut denganku. Kini aku pun sukarela membiarkanmu pergi."

"Tajima, Anata—"

"Kau sudah menanggalkan kimono kami. Aku bukan suamimu lagi, Ageha. "

Izuna menggamit lengan baju ayahnya. Tubuhnya gemetaran karena suhu dan gejolak batinnya. Perintah ayahnya, sang ketua klan, adalah mutlak. Namun, ia tak bisa memungkiri ada pertanyaan terbit di dalam hatinya.

Mengapa ibunya pergi tanpa memberitahu ayah dan kakaknya? Apa yang sedang mereka bicarakan?

Ia berusaha mencari jawaban pada wajah ayahnya. Sharingan-nya menyala-nyala.

"Izuna," panggil Tajima tanpa mengalihkan tatapannya. "Kau putriku satu-satunya. Kenali perbedaan di antara kalian berdua."

Gadis itu akhirnya melihat wajah ibunya. Jejak air mata berkilauan pada kedua pipi tirusnya. Ada harapan terlintas pada kedua matanya. Satu tangannya terulur, telapaknya menghadap ke atas. Menawarinya untuk datang menyambut.

Punggung Izuna dingin. Rasa jengah segera mengisi benaknya. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia menahan diri. Benar kata ayahnya, ia adalah seorang shinobi. Shinobi tidak menangis.

Shinobi tidak lari dari pertempuran. Apalagi seorang shinobi Uchiha.

"Aku cuma mau sama Kakak," bisik Izuna lirih, menatap rerumputan di kakinya yang telanjang.

"Kaudengar dia," ujar Tajima dingin.

Ageha kembali terisak-isak. "Izuna…."

"Kau harus melupakan segalanya yang kaulihat di kediaman klan Uchiha," Tajima melanjutkan tanpa membuang waktu. "Kau akan kembali ke rumah masa kecilmu. Kau akan melupakan aku—"

"Tajima, jangan—" Ageha jatuh berlutut, meremas rumput. Bahunya bergetar selama ia menangis.

"—dan anak-anakku, selamanya atau sampai darah dagingmu memutus genjutsu ini."

Jari-jari panjang nan kurus mengarah secepat kilat ke kerahnya. Refleks mendorong Izuna mundur menghindar. Jantungnya berdebar-debar ngeri menyaksikan keputusasaan mengukir ekspresi tak manusiawi di wajah ibunya.

Tajima segera menyambar pergelangannya, dan memaksanya berdiri. Udara bergetar ketika genjutsu telah dilancarkan. Ageha jatuh terduduk. Kesedihan di rautnya berangsur-angsur pudar digantikan tatapan kosong ke cakrawala.

Ayahnya menggendongnya selama mereka melesat pulang. Tubuh kurus terbalut pakaian kuning di kejauhan perlahan berubah menjadi titik gelap. Hilang.

"Ibu nggak akan pulang, ya?" gadis itu lirih bertanya ketika mereka mendekati perkampungan.

"Rumah ibumu bukan di sini lagi." Langkahnya melambat sebelum berbaur dengan para shinobi kerabatnya. "Jangan sebut-sebut dia lagi. Pulanglah."

Madara masih duduk di selasar rumah, pedangnya masih di pinggang. Ia segera berdiri melihat kedatangannya, sesaat menerawang jauh ke belakang sebelum menghampiri. Tubuhnya menguarkan bau peperangan.

"Mana…?"

Adiknya menggeleng, lalu terhuyung karena bersin mendadak. Madara menggendongnya, lama bergeming di pelataran rumah.

"Ibu nggak akan pulang, Kak." Izuna sebisa mungkin menceritakan pengalamannya barusan dengan suara yang semakin serak. "A, Ayah … pakai gen, genjutsu…." Kata-katanya keluar terpatah-patah, dan semakin tidak jelas.

Ketika Madara tiba di kamarnya, bahunya sudah basah. Ia menurunkan Izuna dan membantunya berbaring di bawah selimut. Lalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata apapun.

Izuna berusaha terlelap, tetapi ia masih sesenggukan. Sialan. Shinobi tidak boleh menangis. Namun, emosinya ini sungguh tak terbendung. Citra sosok kurus berbalutkan kimono kuning masih mengisi pikirannya, mengganggu kantuknya. Kesal, anak perempuan itu akhirnya membuka matanya yang bengkak. Nyalang menatap langit-langit kayu.

Mendadak, kegelapan di kamarnya itu tak lagi sepekat sebelumnya.


.

.

"Ah, Madara."

Uchiha Madara menyeberangi pelataran penuh manusia layaknya ia melalui medan perang. Rambut berkibar-kibar, zirahnya merah berkilat-kilat. Gunbai-nya absen dari pandangan, tetapi keberadaan senjata itu bahkan tidak diperlukan. Madara masih sama berbahayanya.

Hashirama mengaktifkan cakranya, berusaha menjangkau pria itu bahkan sebelum ia mendekati mereka. Ia bisa merasakan ketegangan merebak pada beberapa orang di pelataran besar itu, walau mayoritasnya masih sibuk dengan urusan masing-masing. Beberapa melirik mengawasi mereka. Hawa membunuh itu akhirnya surut ketika ia masuk dalam jangkauan cakranya.

"Uchiha Madara?" Nobuo bertanya. Seorang pelayan sudah mengambil busurnya. "Sang Iblis? Pemimpin klan yang itu?"

"Ya, dia berperan besar dalam mendirikan Konoha," jawab Hashirama separuh berbisik. Tatapannya masih lekat kepada Madara. "Nobuo— ini kepala klan Uchiha, Madara," ia memperkenalkan keduanya. "Madara, ini Uzumaki Nobuo, dia—"

"Tunangan Nona Senju ini," Nobuo menyelesaikan kalimatnya. "Senang bertemu dengan Anda, Uchiha-san."

Senyuman diplomatis terulas pada bibir Madara. "Sama-sama. Saya sudah mendengar tentang Anda dari adik Hokage-sama."

Mata kelabu Nobuo melebar. "Ooh, ya. Kudengar dia kelepasan soal pertunangan kami. Sayang sekali!" Ia menggaruk belakang kepalanya, malu-malu. Sambil tertawa kecil, ia menambahkan, "Padahal Kakek dan Paman Butsuma ingin menjadikannya kejutan."

Hashirama mundur sedikit, sekali lagi berusaha membebaskan tangannya. "Jadi Nobuo-san sudah tahu dari dulu, ya?" tanyanya, mempertahankan nada ramahnya.

Ia tak ingin menyebut Nobuo sebagai tunangannya.

"Sejak usia … dua belas, kurasa? Aku tahu waktu dikirim berguru ke istana."

Jari-jarinya berusaha menyelip ke sela jemari Hashirama. Dalam satu gerak luwes pergelangannya, wanita itu akhirnya membebaskan diri. Ia mundur sampai sebuah telapak tangan lain menahan belakang pinggangnya. Tubuhnya bersandar pada sentuhan itu, dan ia mengusap lengan yang tadi ditahan Nobuo penuh rasa lega.

"Lama sekali, ya," ia melanjutkan percakapan nyaris tanpa jeda. "Mito juga tidak bilang apa-apa di suratnya."

"Kakek melarangku." Mito sudah kembali, wajahnya mengutarakan permintaan maaf bisu. Ia bersama seorang lelaki tua yang sekepala lebih pendek dari Hashirama.

"Hashirama!" seru lelaki itu dengan lengan terentang lebar. "Kamu tinggi sekali sekarang!"

"Kakek Ashina." Hashirama membungkuk sedikit untuk memeluknya. "Kakek masih sehat-sehat saja?"

"Sangat sehat!" Uzumaki Ashina terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk punggung wanita itu. Jenggotnya sepanjang pinggang, terus bergerak selagi ia tertawa. "Semuanya sudah menanti-nantimu. Apa Konoha sebegitu jauhnya sehingga kamu lama sampainya?"

"Tidak juga, aku yang ingin melihat-lihat pemandangan di jalan. Madara yang ingin segera tiba di sini."

"Oh." Perhatian Ashina akhirnya pindah ke pria itu. Ia menatapnya dari atas ke bawah, seolah mengukur kekuatannya. "Sungguh tidak disangka aku bisa bersua dengan kepala klan Uchiha yang terkenal itu dalam keadaan damai."

Madara menarik tangannya dari punggung Hashirama untuk menyalaminya. "Senang sekali saya akhirnya bisa bertemu klan Anda."

"Kulihat tadi Daimyo Watanabe sudah datang," Mito menimbrung. "Kakek harus kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Akan ada pesta malam ini," tambahnya kepada Hashirama. "Kamu pasti diminta datang juga."

"Tentu." Lalu ia menoleh pada Madara. "Kau sudah menemukan kamar kita...?"

"Punyaku di deretan paviliun luar, tapi—"

"Kamarnya di sebelah milikku," potong Nobuo. "Di kastel utama. Pemandangannya paling indah. Kuharap kamu suka."

Senyuman di wajah Hashirama nyaris memudar sempurna.

"Yuk." Nobuo mengulurkan tangannya. "Mari, sang dewi, biar kuantar…."


.

.

Usianya dua puluh tiga tahun.

Hampir tiga tahun berlalu sejak surat tantangan permanen dilayangkan Madara. Dalam kurun waktu tersebut, klan Senju telah membuka ladang-ladang baru di seberang tebing demi menyokong kebutuhan pangan mereka. Sang daimyo enggan mencampuri perang ini, beralasan bahwa konflik tersebut murni antarklan, bukan antar-daimyo. Matsudaira memilih menyewa tenaga klan lain yang baru-baru ini pindah ke pinggir wilayahnya untuk menjaga keamanan sekitar. Ia memilih menghindari jadi incaran klan Uchiha.

"Semua kebutuhan dasar kita terpenuhi. Kita tidak begitu butuh dia, Kak."

"Dia yang membutuhkan kita untuk melindungi rakyatnya," timpal Hashirama selagi mereka menuruni tebing. "Sebagus apapun kemampuan klan Inuzuka mendeteksi penyusup, kekuatan mereka kalah destruktif dibandingkan ninjutsu katon Uchiha."

Tobirama mendarat di sebuah cabang lebar. "Strategi bagus bisa mengalahkan mereka."

"Strategi sebagus apapun nggak bisa jalan tanpa ninjutsu mumpuni."

Di setiap pertempuran mereka, klan Senju cepat sekali unggul dalam hal adu ninjutsu. Komposisi ninjutsu Uchiha yang seluruhnya katon mempermudah penyusunan strategi. Sebesar apapun api yang mereka embuskan, ahli doton dan suiton Senju menangkalnya dengan mudah. Dan mokuton Hashirama dapat mengubah medan perang dalam sekejap, serta menyulitkan pertempuran satu lawan satu. Sesakti apapun sepasang sharingan, tidak ada gunanya jika mereka tidak bisa menatap mata lawan.

Selain itu, Hashirama tahu mereka sendiri sudah letih berperang.

Hutan di balik tebing tak setua hutan di sekitar kampung mereka. Pepohonannya pun tak setinggi di sana. Hewan-hewan liar masih banyak, tampaknya jarang bertemu manusia. Sesekali mereka menjumpai seekor kamoshika yang baru pergi merumput pagi hari. Bukannya pergi, hewan itu malah mengamati mereka dengan mata hitamnya.

Agak jauh ke hilir, hutannya sudah dibuka oleh klan Senju dan dijadikan ladang. Sebagian pemudanya pindah ke sini untuk mengurus tanaman, bergantian dengan pemuda lainnya dari kampung utama.

"Ango-kun!"

Seorang remaja lelaki dengan bekas luka di pelipisnya berbalik dan buru-buru mendekat. "Hashi-sama, Tobirama-san!"

Sekilas Hashirama memerhatikan sosok-sosok berbaju gelap yang mondar-mandir mengangkut terung dan akar teratai. "Bagaimana mereka…?"

"Mereka cepat beradaptasi." Ango melirik ke belakang bahunya. "Juga jauh lebih sehat. Akio di sana itu tadinya ceking kurus kering, ingat? Nggak sampai dua bulan kemudian sudah bisa lari-lari panen semangka."

Kakak beradik itu melihat orang yang disebut Ango, seorang pemuda tinggi dengan lengan pakaian sepenuhnya tergulung menampakkan otot-otot keras. Ia sedang memikul sekeranjang penuh buah hijau besar.

"Sulit dipercaya mereka mudah sekali kembali bercocok tanam seperti di zaman leluhur," komentar Tobirama. "Ternyata ada juga yang memilih untuk tidak mati di medan perang."

"Kelaparan bikin orang nggak idealis lagi, kurasa." Ango mengangkat bahu. Seseorang berseru kepadanya dari ladang, yang ia balas dengan lambaian tangan. "Gulungan terbaru sedang disiapkan."

Berbagai sayuran, buah dan umbi-umbian diletakkan di atas gulungan besar terentang. Simbol-simbol fuuinjutsu telah dilukiskan di tengahnya. Seorang pemuda Senju mengaktifkan segelnya, dan dalam sekejap semua hasil bumi itu lenyap dari pandangan. Usai digulung, benda itu diberikan pada Hashirama.

"Kalian punya cukup makanan untuk di sini, 'kan?" tanya wanita itu sambil mengaitkan ujung gulungan ke pinggangnya.

"Cukup. Bosan makan jawawut, kami tinggal ambil ikan di danau."

Kepergian mereka dilepas oleh belasan shinobi Uchiha yang masih memanggul keranjang selepas panen. Mereka cepat-cepat kembali ke kampung utama Senju melalui rute berbeda dari keberangkatan tadi.

"Ini sudah hampir setahun."

Separuh perjalanan pulang sudah mereka lalui ketika Tobirama angkat bicara. Hashirama menoleh pada adiknya, tampak bingung.

"Dewan dan beberapa orang lainnya masih nggak percaya musuh-musuh kita bisa tabah menerima hidup jadi petani bagi kita, Kak."

"Oh, ya ampun." Hashirama mendarat dari sebuah cabang, menghindari sela-sela pohon yang sempit karena lebar gulungannya tidak akan muat. "Kamu sendiri percaya nggak kalau sewaktu-waktu semua Uchiha yang sudah menyerah itu bisa berkhianat lagi?"

"Kemungkinannya tidak nol persen." Tobirama mendarat di sisinya. "Sudah bagus mereka tidak meracuni makanan kita."

"Tobirama…."

"Aku cuma menjabarkan kemungkinan, Kak." Ia mengangkat bahu. Kerah bulunya bergerak-gerak dimainkan angin. "Dari semua tetua, cuma Paman Azami yang sudah melihat langsung seperti apa kenyataan di medan tempur."

Hashirama terdiam. Madara masih mengabaikan semua tawaran perdamaiannya. Seiring waktu, satu persatu anggota klan Uchiha menyerahkan diri. Mereka bilang kondisi kehidupan di kampung mereka semakin sulit. Tidak ada makanan yang cukup. Tidak ada pasokan obat. Penyembuh pun hanya satu orang. Namun, pertempuran harus terus berjalan. Jika tidak, Taneyuki tidak akan memberi mereka uang.

Strategi tempur mereka pun berubah.

"'Pecahkan formasi, lalu tawari perdamaian'?" Azami berbisik di telinga keponakan perempuannya. "Kau yakin kali ini, Hashirama? Semua anggota klan Uchiha— sampai yang termuda pun, ada di sini."

"Aku yakin, Pamanda. Memengaruhi mereka lebih mudah kalau jauh dari pemimpinnya."

Tanpa dibisiki pun wanita itu sadar. Sudah lama sekali ia tidak melihat anak-anak Uchiha di medan tempur sampai dua hari setelah ia membawa pulang hasil panen. Beberapa anak mengenakan pelindung tubuh asal jadi yang terbuat dari jalinan akar dan kulit hewan buruan. Sedangkan para shinobi dewasa tak satupun yang berzirah. Kontras dengan mereka, semua shinobi Senju berzirah lengkap mengilap. Tanpa anak-anak. Juga lebih sehat.

Semua lawan mereka berwajah pucat dan bermata cekung.

Seperti biasa sebelum perang dimulai, Hashirama maju sendirian tanpa senjata. Madara menemuinya di tengah medan, membawa serta pedangnya. Tindakan itu sendiri merupakan pernyataan yang jelas: tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Ia tidak berzirah.

"Lupakan semua omong kosong perdamaianmu," katanya. Matanya memicing di bawah terik matahari. "Di sini, semuanya akan berakhir." Wajah pria itu lebih tirus, dan kantung matanya lebih tebal sejak pertemuan terakhir mereka. Kegilaan mendidih dalam kelam irisnya.

Hashirama mengerutkan dahi, cemas. "Kamu nggak bisa makan rasa bangga, Madara. Pikirkan anggota klanmu."

"Pikirkan pengorbanan yang keluargaku berikan juga!" desisnya tajam. "Ayah kita nggak mati di sini supaya kita bisa berhenti perang! Adik-adik kita masih menuntut balas di alam sana! Tanggung jawab kita berdua untuk menyelesaikan ini."

"Saling bunuh nggak menyelesaikan masalah, Madara! Keluargamu pun sudah ada yang menyerah—"

"Mereka semua pengkhianat!" Ia menghunjamkan ujung pedangnya di tanah. "Dengan napas terakhirnya Ayah memintaku menghancurkan Senju. Mustahil aku mengkhianatinya semudah itu."

"Madara…." Bahunya melemas. "Apa kamu akan terus patuh jika permintaannya menghancurkan dirimu? Menghancurkan Izuna?"

Ekspresinya menggelap. Madara mencabut pedangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, memberi sinyal menyerang tanpa aba-aba. Hashirama melambung mundur sampai ke deret kerabatnya, menangkap gagang pedang yang disorongkan ke telapaknya tepat ketika raungan lelaki itu membahana di medan tempur.

Mokujin Hashirama menarik susano'o-nya jauh dari medan tempur. Dengan begini mereka bebas saling serang tanpa takut akan melukai rekan sendiri. Tobirama tidak setuju dengan taktiknya ini, karena itu untuk berjaga-jaga, ia menaruh segel hiraishin di antara tulang belikat Hashirama. Jika diperlukan, ia bisa mengirim bala bantuan atau kagebunshin kepadanya.

Keempat pedang berlekuk susano'o Madara terus menerus menghantam tanah berbatu, berusaha menebas kaki mokujin-nya dan menghancurkan tempat pijakan rata.

Ada yang … salah.

Pola serangannya berubah. Melambat, dan seringkali luput mengenainya. Tepian raksasa biru itu mengabur, susunannya goyah. Biasanya Madara menyelingi serangan pedang dengan semburan katon….

Tangan mokujin mengibas menepikan kepulan debu. Hashirama mengerjap. Ia tidak salah lihat. Berkali-kali lawannya mengusap kepala— bukan, mengusap wajahnya. Ia memusatkan perhatiannya pada wajah Madara.

Ada jejak darah di sana.

Aneh, semua serangan Hashirama belum ada yang menembus tubuh susano'o….

Pergelangan susano'o ditahan mokujin di udara. Hashirama melompat turun ke dada raksasa biru itu. Dari dekat, terlihat bahwa kedua matanya mengalirkan darah. Warna irisnya tak sepekat biasanya. Mulutnya meringis seperti menahan nyeri.

Ia mengetuk-ngetuk dinding susano'o. Lalu menggedornya, tak sabaran. "Hei! Madara, hei! Kamu kenapa…?"

Sebagai jawaban, sharingan-nya beralih kelam. Zirah cakra itu lenyap, tetapi Madara segera melesat kembali ke tempat rekan-rekan mereka bertarung. Hashirama melepas mokujin-nya sebelum menyentuh tanah, lalu berlari menyusulnya.

Ke mana Madara yang selalu berapi-api, bersemangat penuh sesumbar akan mengalahkannya…?

Seekor naga suiton menjulang di atas kerumunan, lalu menghambur menyambut sebuah bola api raksasa. Uap air langsung mengepul menutupi pandangan. Hashirama bisa merasakan cakra Tobirama menyala-nyala tak jauh di depan. Ia berada di dalam kabut itu—

Dalam satu tarikan napas, keberadaannya pindah bermeter-meter di depan. Ketika uap airnya sirna, terlihat sosok berpakaian gelap jatuh berlutut di tanah. Sisi tubuhnya memuncratkan darah. Perutnya telah teriris dalam.

"IZUNA!"

Hashirama tiba di sisi adiknya tepat ketika Madara menangkap tubuh Izuna. Matanya nyalang penuh kebencian terarah pada Tobirama.

"Menyerahlah," perintahnya dengan pedang teracung. "Kalian sudah terpojok." Pertempuran di sekitar mereka sudah berhenti. Para shinobi Uchiha tidak ada yang berdiri tegak. Mereka semua berlutut atau telentang di tanah dengan ujung pedang Senju siaga di leher masing-masing.

"Madara!" Hashirama menjatuhkan pedangnya, mengulurkan tangan kepada sang pemimpin musuh. "Cukup sudah, ayo akhiri ini semua…."

Madara sesaat ragu. Satu lengan Izuna ia usung, tak bisa tegak berdiri karena pergerakan sedikit saja sudah membuatnya merintih. Ada darah kering di kedua pipinya. Matanya yang tak sepenuhnya terbuka berpindah dari wajah Hashirama ke uluran tangannya.

"Aku bisa menyembuhkannya—"

"Jangan dengarkan dia!" Izuna tersengal, darah muncrat dari sela giginya. "Kita kembali saja, Kak!"

Tanpa berkata-kata apa pun, Madara melepas bom asap dan menghilang bersama adiknya dari situ.

Lengan Hashirama jatuh dengan lemas. Tatapannya ditundukkan, menemukan pedang Tobirama juga sudah mengarah ke tanah.

Darah Izuna masih menetes-netes dari bilahnya.


.

.

"Indah, bukan?"

Nobuo membuka sepasang pintu shoji, menampakkan balkon sempit dan akses visual ke taman kastel. Pinus-pinus muda tumbuh di sana-sini, mengapit jalan setapak yang tadi mereka lalui ke kastel. Sesemakan dipangkas rapi, diselingi bunga musim gugur beraneka warna yang semuanya mekar. Lebih jauh ke selatan, terbentang sebuah taman batu. Galur-galur dalam menghiasi kerikil yang tersebar mengelilingi formasi batuan besar. Polanya serupa dengan riak air. Cicit burung terdengar dari sana-sini.

"Taman batu itu ide Kakek," jelas Nobuo bangga. Ia telah berganti pakaian dengan kimono ringan hijau lumut yang serasi dengan rambutnya. Ada sehelai kain putih berlambang kekaisaran terikat di pinggangnya. "Kaisar ternyata suka sekali."

Hashirama tak tahu harus berkata apa. Di satu sisi ia mengakui keindahan taman-taman kastel, tetapi di sisi lain ia tidak nyaman dengan keberadaan Nobuo. Hashirama beringsut menjauh darinya, bergumam sopan, "Semuanya indah sekali. Kau benar."

Ia cepat-cepat berbalik. Ruangannya sungguh luas. Ada kasur futon untuk satu orang terlipat di pojok ruangan, di sebelah sebuah kotak besar berukir. Ia menduga itu adalah kimono formal yang sudah dikirimkan lebih dulu dari rumah. Di atas meja terletak satu-satunya pelita minyak tanah, di samping sebuah teko berisi air panas yang ia mintakan pada pelayan. Dua buah cangkir teh dan sekotak bubuk teh hijau diletakkan di sisinya.

"Pestanya dimulai nanti malam," kata Nobuo. Suaranya terlalu dekat dengan punggungnya, dan sekujur tubuhnya seketika siaga penuh antisipasi.

"Kudengar begitu. Akan ada apa saja nanti?" Ia berbasa-basi untuk mengalihkan perhatian. Tangannya sibuk berpura-pura membuat teh.

Terdengar suara pintu shoji digeser menutup. "Para daimyo biasanya memberi persembahan simbolis— ah, sini biar aku saja…." Nobuo berlutut di sisi meja, mengambil teko dari tangannya. Helaian merah rambutnya menjuntai di sekeliling wajah sementara ia bekerja.

Hashirama segera beringsut mundur untuk memberinya ruang. "Persembahan simbolis seperti apa?"

"Simbol dari pajak masing-masing. Hasil bumi atau sumber daya daerah mereka." Nobuo menuang air ke dua buah cangkir. Wangi teh segera memenuhi ruangan. "Hokage itu setara daimyo, ya?"

"...Ya."

"Kamu bawa sesuatu yang bisa ditunjukkan…?"

Ia menggeleng lelah. "Ke sini benar-benar hanya bawa badan saja."

Jawawut? Padi? Ikan? Ia bisa menyebut lebih dari sepuluh macam barang dan hasil bumi yang diproduksi Konoha, tetapi tak satupun, bahkan tidak sebutir gabah pun ia bawa. Konyol sekali jika ia mempersembahkan butiran gabah atau jawawut, 'kan? Daimyo lainnya pasti memberi peti-peti penuh bermacam harta benda. Lagipula Konoha tidak membayar pajak dalam bentuk seperti itu….

"Serius amat, Hashi. Istirahat dulu."

Secangkir teh didorong ke hadapannya. Hashirama menggumamkan terima kasihnya. "Aku nggak tahu harus memberi apa nanti malam. Salah-salah … Konoha yang malu."

"Siapa tahu Kaisar memberi keringanan." Nobuo meraih tangannya. "Wilayah baru, 'kan?"

"Yah, tetap saja…." Hashirama menarik tangannya sebelum kulit mereka bersentuhan. Ia menyesap tehnya. "Aku harus berdiskusi dengan Madara, pasti dia ada ide."

"Madara, ya…."

Pada saat itu ia baru terpikir, bahwa menyebut namanya tidak tepat dalam situasi ini.

"Kata Kaisar, dia yang memulai pendirian Konoha bersama denganmu." Nobuo memiringkan kepalanya sedikit.

"Memang," jawabnya singkat sebelum meminum tehnya banyak-banyak. Panas airnya melukai kerongkongan, tetapi kemampuan regenerasinya sudah menutup luka sebelum perihnya menjalar.

"Ah. Aku iri."

Hashirama meliriknya dari bibir cangkir. Senyumannya masih sama lebar, tetapi auranya tidak lagi tulus. Nobuo kini bertopang dagu.

"Kenapa?"

"Dia bisa sering bersamamu sementara aku…." Ia mendesah. "Terkurung sendirian di istana."

"Sendirian bagaimana, 'kan kamu bersama para samurai. Mana mungkin Kaisar sendirian di sana." Hashirama terkekeh.

"Benar di sana tidak pernah sepi. Penghibur selalu berdatangan silih berganti. Keluarga para daimyo pun sesekali menemaniku. Tapi…." Tatapannya beralih dari teh ke wajahnya. "Kamu tidak ada di sana, Hashi."

Uap dari cangkir Nobuo membentuk tabir di antara mereka. Dahi wanita itu berkerut.

"Kakek Ashina menolak rencana pendirian Konoha, kamu tahu 'kan?" Setelah lelaki itu mengangguk, Hashirama menambahkan, "Hanya bantuan material yang kami terima. Itupun tidak seberapa."

"Kamu bisa tinggal bersamaku. Ikut ke istana." Nobuo mendorong cangkirnya ke sisi. "Kakek dulu menawarimu begitu, 'kan?"

Ia kaget, terpana. Sampai lupa menarik tangan. Kulit Nobuo jauh lebih halus daripada permukaan kulit yang biasa ia sentuh.

"Tinggal bersamaku, Hashi. Tidak perlu perang, tidak lihat konflik. Tidak perlu cemas soal apapun."

Perasaan janggal melintasi benaknya. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar hal seperti itu.

"Meninggalkan rumah dan keluarga yang membutuhkanku?" ulangnya. "Mustahil."

"Tapi itu yang kautulis kepada Kakek, Hashi," Nobuo mencondongkan tubuhnya. Wajahnya bersimpati. "Kauingin membuat desa bersama musuhmu untuk mengentaskan konflik. Kakek menawarimu solusi yang lebih permanen, dan kamu menolaknya."

"Kami masih punya rumah. Uzushio terpencil." Nada suaranya merendah. "Terlalu jauh."

Perlahan Nobuo mengangkat tangan Hashirama mendekati bibirnya. "Sekarang sudah bisa kautinggal, 'kan?"

Suhu ruangan seolah menurun meski tehnya masih menguarkan uap. Senyuman di wajah Hashirama berubah hampa. "Aku ingin tahu ke mana arah pembicaraan ini," katanya sambil menyentakkan tangannya hingga lepas dari genggaman.

Nobuo menatapnya lurus-lurus. "Menikahlah denganku. Tinggal bersamaku."

"Bagaimana kalau aku menolak?"

"Apa kamu punya alasan untuk—"

"Oh. Tentu saja."

"...Ah." Nobuo menyingkirkan poninya yang panjang. "Aku akan sedih. Kakek akan kecewa. Bantuan yang kami beri ke klan Senju mungkin dihentikan. Mito pasti dilarang ke Konoha. Tidak akan ada yang senang." Ia menghela napas. "Mengapa kamu bertanya begini…?"

Hashirama menyeringai. "Aku yang akan senang jika kita tidak menikah." Ia berdiri menjauhi meja. "Aku harus beristirahat. Kita akan berbicara lagi nanti, Nobuo."

Lelaki itu berdiri dengan anggun. Ia mundur hingga mencapai sepasang fusuma yang memisahkan ruangan mereka berdua. Nobuo segera menghilang di baliknya.

Kunci-kunci mokuton-nya berkelotak keras sedetik kemudian.


.

.

"Delapan puluh persen pasukan menyerah."

Pendaran hijau di telapak tangan Hashirama meredup. Wanita itu ternganga tak percaya. "Ulangi…?"

"Delapan puluh persen. Estimasi." Touka melirik ke mulut tenda yang sedikit terbuka. "Kita nggak punya cukup sel penjara buat semuanya. Kamu juga nggak mau mengurung mereka dalam kerangkeng."

"Mereka semua kelaparan," Toshiro yang masih berbaring menimpali. "Tadi kudengar mereka di kampungnya sampai makan rebusan kulit pohon di musim dingin."

Hashirama melanjutkan menyembuhkan luka di lutut anak lelaki itu sampai sempurna menutup. Belum satu hari berlalu sejak pertempuran terakhir itu, dan mereka membawa pulang lebih banyak tawanan kelaparan. Para shinobi Uchiha itu ditempatkan di tenda luas di tepi kampung Senju. Saat ini, semuanya sedang makan malam. Tidak ada yang protes meski menunya hanya sup sayuran dan dendeng babi hutan sisa tahun lalu.

"Ango sudah diberi tahu…?"

"Sore tadi begitu kita tiba di sini." Touka menggulung selembar catatan. "Besok saat fajar, mereka akan berangkat ke balik tebing."

Toshiro melompat bangun, meneriakkan terima kasihnya sebelum melesat meninggalkan tenda. Hashirama membenamkan kepala di antara kedua lututnya, berusaha mencerna situasi.

"Touka," bisiknya, "apa kehidupan mereka … memang separah itu?"

Ia berjalan mengitarinya. Zirah Touka hanya lecet sedikit di sana-sini. Naginata yang ia bawa ke medan perang hanya terkena debu karena lawan-lawannya memilih menyerah dalam sekejap. "Pilihan lain yang mereka miliki cuma memberontak melawan daimyo. Lawan para samurai." Wanita jangkung itu menutup mulut tenda hingga hanya sedikit celah terbuka di bawahnya. Cahaya obor masuk sedikit, membentuk jejak cahaya di tanah. "Shinobi seharusnya tidak berperang begitu terbuka, apalagi sampai menarik perhatian mereka yang tidak tinggal di dalam naungan bayang-bayang."

Masih jelas terpatri di ingatannya pertempuran terakhir mereka dengan klan Hagoromo dan intervensi surat tantangan permanen dari klan Uchiha. "Masanya sudah berubah." Hashirama mengangkat wajahnya. Tepian zirah sepupunya mengilap dalam temaram lilin. "Aku nggak menyangka mereka bisa senekat ini hanya demi … kebanggaan sebagai klan Uchiha."

Touka meletakkan tangan di bahunya penuh simpati.

"Mengapa Kaisar tidak berbuat apa-apa…? Dia pasti tahu para daimyo saling berselisih, 'kan?"

"Masalah kita bukan apa-apa baginya."

Ketidakpercayaan memompa enosinya. "Saling bunuh, mengorbankan anak-anak, semuanya … semua ini … bukan apa-apa?" Puluhan orang saling bunuh selama berpuluh-puluh tahun bagaimana mungkin seorang penguasa tidak pernah tahu?

Penguasa macam apa itu?

Tangan Touka lepas dari bahunya. "...Barangkali. Atau Yang Mulia sungguh tidak tahu."

Suaranya meninggi, tak sabaran. "Apa yang Kaisar lakukan? Apa dia diam saja di istananya—"

"Hashirama-sama," Touka bergumam, dan berlutut di hadapannya. "Dalam hierarki Hinokuni, kita berada di posisi terendah. Setara dengan para bandit gunung dan pengumpul kotoran di rumah pemandian umum. Petani yang di atas kita saja dilarang menginjak jalanan kota."

Tentu saja ia tahu itu; ayahnya mengajarkan soal itu langsung kepada anak-anaknya. Kaisar memiliki mandat agung untuk mengatur dunia. Pekerjaannya dibantu oleh para samurai yang menegakkan peraturan. Para daimyo adalah bangsawan wakil kaisar. Para petani dan perajin memakmurkan kehidupan dengan bekerja langsung mengolah bumi. Para pedagang, pengumpul kotoran, bandit dan shinobi berada di luar sistem. Maka dari itu apapun yang mereka lakukan, tidak boleh sampai mengganggu kehidupan di luar sana.

Ia menggigit bibirnya. "Menurutmu … apakah semua orang itu takut kepada kita?"

Satu-satunya mata Touka yang terlihat memancarkan rasa kasihan. "Wajar bagi manusia biasa untuk takut pada hal-hal yang nggak mereka tahu…." Jawabannya bagai memberi tanya:

Takutkah ia? Bukan terhadap pedang dan ninjutsu, tetapi terhadap dunia yang dihuni oleh orang-orang yang tak pernah mengenal perang? Dunia yang damai, tetapi asing perdamaiannya.

Hashirama membasahi bibirnya. "Apa aku … sungguh nggak tahu apa-apa?"

"Nggak juga. Lakukan saja apa yang menurutmu benar." Sepupunya bangkit, naginata-nya ia bawa. "Aku harus kembali patroli. Kelompok yang bertugas pagi menemukan jejak janggal yang tampaknya penting diikuti. Selamat malam."

Lilinnya ia matikan, tak nyaman dengan banyaknya cahaya di dalam tenda.

Melakukan apa yang menurutnya benar….

Lama setelah langkah-langkah panjang Touka tak terdengar lagi, Hashirama menyibak mulut tenda. Tanpa suara ia meniti jalan kembali ke pusat kampung. Ada sebuah gubuk kecil tempat menyimpan herba obat dan racikannya. Di dalam tempat yang sejuk nan gelap itu, tidak banyak yang tersisa. Lebih dari separuhnya sudah diangkut untuk merawat tawanan.

Setidaknya ia tahu Tobirama tidak menggunakan racun. Jika ya, masalahnya akan jadi lebih rumit. Ia tidak berpengalaman dengan racun. Ninjutsu penyembuhannya pun tidak bisa bekerja jika racunnya tidak dikeluarkan atau dinetralkan dahulu. Ia harus terus menyembuhkan kerusakannya sampai racun itu tidak bekerja lagi atau keluar dengan sendirinya.

Hashirama membungkus bubuk-bubuk kering, campuran obat untuk menangani luka parah, dan sedikit kikatsugan untuk di perjalanan. Ia keluar berjingkat-jingkat, memastikan tidak ada orang yang memerhatikan sampai ia tiba di perkemahan tawanan Uchiha lagi.

Di sini ia meninggalkan sikap berhati-hatinya, berusaha tampak natural sembari ia melalui penjaga. Di dalam tenda besar itu, puluhan orang duduk mengunyah makanan atau berbaring untuk tidur. Semua zirah dan senjata sudah diambil. Tidak ada yang matanya ditutup kain; kelaparan menyurutkan drastis stamina mereka bahkan hanya untuk menyalakan sharingan. Tidak semuanya bisa menggunakan doujutsu itu, tetapi divisi pengindra Senju tetap bersiaga di luar untuk berjaga-jaga.

Tatapan Hashirama memindai mereka, mencari sebentuk wajah yang sekiranya bisa diajak berbicara. Ia menemukan satu rupa familier, walau sedikit lebih tua dari saat terakhir mereka bersua.

"Kemarilah."

Seorang pemuda bangkit melompati kerabatnya menuju mulut tenda. Tepi pakaiannya berjumbai, robek, dan benang-benangnya menjulur. Hashirama menuntunnya keluar, menjauh dari cahaya dan kerumunan.

"Siapa namamu?"

Ia menyeka kuah sup di sudut bibirnya sebelum menjawab, "Hikaru, Senju-sama."

"Masih ingat aku?"

Hikaru mengangguk. Hashirama melebarkan senyumannya, berusaha agar ia tidak membuatnya gugup. Ini bukan pertama kalinya Hikaru menjadi tawanan Senju. Sejujurnya ia penasaran seperti apa pengalamannya usai dilepaskan di malam pelantikannya menjadi ketua klan, tetapi ia tidak punya banyak waktu untuk menanyainya.

"Aku harus tahu rute tercepat menuju kediaman kalian."

Pemuda itu membelalak. "...Serius?"

Hashirama mengangguk cepat-cepat. "Tolong," pintanya. "Aku harus berada di sana secepatnya. Ini menyangkut nyawa."

"Senju-sama … nggak akan diterima di sana." Hikaru gelisah. "Masih ada yang tidak suka Anda."

"Tidak masalah, nanti kuurus. Arahnya saja, tolong—"

"Dari tempat kita bertempur tadi," Hikaru merentangkan lengan kurus yang gemetaran di udara terbuka, "ke barat. Lewat jurang dangkal. Terus saja."

"Berapa lama—?"

"Setengah hari berjalan biasa."

"Terima kasih. Kembalilah ke tenda."

Hikaru bergeming. "Apa Senju-sama nanti mau menemui Madara-sama?" Ia menelan ludah. "Saya ragu dia mau mendengarkan Anda. Kami semua tidak bisa membujuknya."

"Aku akan mencari cara." Lalu ia menambahkan, "Tolong jangan bilang siapa-siapa."

Selain itu, kali ini taruhannya sungguh besar.

Setelah pemuda itu berjanji tutup mulut dan kembali ke tenda, Hashirama melanjutkan perjalanannya menuju lingkar terluar penjagaan. Ia tahu di titik mana saja penjaga ditempatkan, maka ia bisa menghindari mereka dengan mudah selama cakranya ia tekan setipis mungkin. Ia tak mengenakan zirah, menolak mengambil resiko lempengan-lempengannya berbunyi mengundang pendengar. Ia pun tidak mengenakan tenugui atau haori, tetapi memilih memompa cakra panasnya ke seluruh tubuh tanpa meninggalkan selembar pakaiannya. Dinginnya malam tetap saja menusuk-nusuk hidung dan kedua pipinya. Sedang panduannya hanyalah bintang-bintang di atas.

Namun, Hashirama terlalu memfokuskan diri pada perjalanan rahasianya sampai ia tidak menyadari seseorang telah menguntitnya sejak meninggalkan tenda tawanan.


.

.

Malam itu cerah. Langitnya hitam bersih di jendela-jendela besar.

Dua deret anglo besi mengapit aula depan kastel utama, menciptakan jalan setapak dari pintu depan hingga ke ujung aula. Hanya beberapa yang dinyalakan, mempertahankan temaram suasana. Susunan anglonya melebar di ujung, mengapit sesuatu yang tampak seperti siluet gelap kursi besar. Tidak ada penerangan lain di sudut-sudut aulanya. Dalam kegelapan, orang-orang berkumpul di belakang deretan anglo. Tidak ada yang berbicara keras-keras, meski sesekali terdengar kikik bersemangat salah satu wanita bangsawan. Wangi dupa dan puluhan macam wewangian menyerang penciumannya.

Hashirama sengaja memilih berdiri agak di belakang, menghindari panas anglo yang menyesakkan kimono sutranya. Tubuhnya lebih tinggi dari kebanyakan orang, sehingga area yang tidak dihuni tamu masih jelas terlihat. Ia tidak apa-apa. Ia sudah minum rebusan herbalnya sebelum meninggalkan kamar tadi. Kini ia bisa memfokuskan diri pada orang-orang yang hadir di aula. Namun, percuma saja. Hanya segelintir orang yang cukup ia kenal untuk dikenali dalam temaram begini. Kilauan rambut merah mencolok terlihat di sana-sini. Namun, sulit untuk mengetahui pemilik rambut itu. Ia hanya ingin menemukan Mito, bukan sepupu Uzumaki lainnya. Apalagi Nobuo.

"Ooh, sebentar lagi, sebentar lagi, 'kan?" Seorang anak muda berjingkat penuh semangat. Wanita di sebelahnya— mungkin ibu si anak, buru-buru mendiamkannya.

Ia merasakan kerumunan di dekatnya menyibak, diikuti permintaan maaf. Saraf-saraf di sekujur kulit Hashirama menyala dalam kewaspadaan ketika Nobuo berhasil mencapai sisinya.

"Aku tadi mencarimu," bisiknya di telinga wanita itu. "Curang sekali kamu turun duluan."

"Hanya tidak sabar ingin menyaksikan ini," balas Hashirama diplomatis. Beberapa orang di sekelilingnya mengangguk menyapa pada Nobuo. Benar juga— dia sudah lama tinggal bersama Kaisar. Bangsawan yang sering menghadap pasti mengenalnya.

Dalam kegelapan, genderang-genderang ditabuh. Senar-senar dipetik. Musik mengalir deras seiring pintu ganda besar menjeblak terbuka, dan beberapa penari pria lincah membawa bandul-bandul api masuk. Rantai-rantainya berputar begitu cepat, menciptakan lingkaran-lingkaran cahaya keemasan. Sesekali seorang penari maju ke depan, menyemburkan api dari mulutnya. Aksi itu mengundang seruan-seruan kagum dan tepuk tangan sopan.

Hashirama hanya tersenyum simpul. Ia sudah terbiasa melihat sesuatu yang lebih impresif daripada ini. Lebih besar, lebih indah.

Juga lebih mematikan.

Perhatiannya terpotong oleh sentuhan yang berlambat-lambat di pinggangnya. Mati-matian ia menekan cakranya, enggan untuk membiarkan emosinya tumpah.

"Nobuo," ia berbisik memperingatkan.

Nobuo mengabaikannya. Tatapannya masih terarah ke para penampil, senyuman tersungging di bibirnya seolah tidak ada yang salah dengan dunia yang ia huni. Namun, satu lengannya jelas terarah ke punggung Hashirama.

"Hentikan," perintahnya lagi, sebisa mungkin tidak menggerakkan bibirnya.

Namun jemari panjang Nobuo merambat turun, meremas pantatnya. Refleksnya meledak seketika. Disambarnya pergelangan lelaki itu, meremasnya kuat-kuat hingga Nobuo mendesis tajam menahan sakit. Tepat saat itu pertunjukan berakhir, dan tepuk tangan membahana di dalam aula. Atensi semua orang terarah kepada para penari dan musisi.

Hashirama melepas genggamannya, menahan murka. Kepuasan mekar di benaknya melihat Nobuo menggeram marah sambil mengelus pergelangannya. Ada bekas cengkeraman merah di sana. Anglo-anglo lainnya menyala menerangi aula, dan musik dimainkan semakin keras sebelum akhirnya lenyap dalam nada final.

"Selamat datang!"

Semua kepala mengarah ke ujung aula. Kaisar Nobutada berdiri di hadapan sebuah kursi besar, diapit pembawa obor, samurai tanpa topeng, dan pemusik. Lengan pakaiannya yang terbuat dari sutra ungu menjuntai menyapu lantai.

"Selamat datang semuanya para daimyo, samurai, seniman dan semua yang kuundang!" Ia menggosok-gosokkan telapak tangannya. "Aku sungguh tak sabar melihat apa yang kalian semua bawa tahun ini. Emas! Padi! Adikarya penghias istanaku!"

"Kasar sekali," Nobuo berkata lirih. "Aku hanya menyentuhmu, bukannya berniat menyakiti…."

Hashirama berpura-pura tidak mendengarnya. Ia segera meluruskan kimono kremnya untuk menghilangkan bekas sentuhan pria itu.

Menjijikkan.

Peti-peti besar diangkut ke hadapan Kaisar, lalu seorang pria tinggi besar berlutut membukanya. Ia menduga pria itu tamu, karena pakaiannya yang indah dihias lukisan riak air nan rumit.

"Apa yang kaubawa tahun ini, Akiyama?"

"Daimyo Akiyama membawakan padi-padi terbaiknya," ia mengumumkan dengan khidmat. "Beras terwangi kami sudah disiapkan untuk jamuan malam ini."

Nobutada berterima kasih, lalu empat orang penjaga membawa pergi peti-peti itu usai ia kembali ke deretan tetamu.

Peti-peti lain dibawa ke hadapan Kaisar, lebih besar dari milik Akiyama. Seorang lelaki besar dan bulat keluar dari kerumunan di seberang, membawa empat gadis belia berpakaian indah. Tatapan mereka ditundukkan selama berjalan. Isi petinya ternyata perkakas perak dan perhiasan emas.

"Daimyo Taneyuki menghatur sembah," lelaki besar itu berlutut menyembah, diikuti gadis-gadisnya. "Hamba membawa padi, emas, perak, dan gadis-gadis tercantik untuk menghias istana."

Padi adalah satu-satunya persembahan yang sama dari semua daimyo, karena itu pajak wajib. Ada yang membawa buah dan sayuran berbagai bentuk, semuanya belum pernah Hashirama lihat. Daimyo Matsudaira yang sudah renta dan harus diusung dengan tandu membawa banyak tanaman berbau harum, masing-masing berkhasiat baik untuk kesehatan. Daimyo lain membawa ukiran kayu, sumpit gading dari seekor hewan yang baru kali itu ia dengar namanya, kuda-kuda bersurai mengilap untuk para samurai, bijih besi, kain kimono suminagashi, sampai penari dan musisi yang diperbolehkan untuk unjuk gigi selama beberapa detik.

Setelah daimyo terakhir kembali ke deret penonton, dua pemuda berambut merah maju membawa dua buah gulungan setinggi bahu. Mereka menggelarnya di hadapan Kaisar. Dari jauh, Hashirama bisa melihat simbol-simbol fuuinjutsu dilukiskan di permukaannya.

Lengan Nobutada terentang menyambut. "Keluarga Uzumaki, sahabatku!"

Uzumaki Ashina telah keluar dari antara tetamu. Ia mengenakan kimono seputih cangkang telur serupa kedua pemuda barusan. Jenggot kelabu-merahnya bergoyang-goyang selama ia berbicara. "Klan Uzumaki dari Uzushiogakure," ia mengumumkan diri, "membawakan Yang Mulia hasil kebun kami." Tangan keriputnya membuka segel di satu gulungan. Setumpuk hasil bumi muncul dalam kepulan asap.

Kepala para tamu dijulurkan untuk melihat lebih jelas. Dari gumaman yang merebak, beberapa orang mengira Ashina menyihir hasil bumi itu dari udara kosong. Hashirama menahan rasa gelinya.

Tangan kirinya melayang di atas gulungan yang lain. Ia tersenyum lebar. "Juga sebuah hadiah, tangkapan kami yang paling berharga tahun ini. Masih segar dari kedalaman samudra selatan…."

Kepulan asap putih membubung tinggi, lalu pudar menampakkan ikan terbesar yang pernah dilihat Hashirama. Sisiknya berwarna biru di bagian atas, dan bergradasi menjadi perak semakin ke bawah. Beratnya setidaknya setara dengan tujuh shinobi dewasa. Meski ukurannya yang besar, ia tidak mencium sedikitpun bau amis. Seolah ikan itu baru saja ditarik dari air.

Nobutada mencengkeram tangan kursinya erat-erat. "Ikan apa ini, Ashina-san?"

"Tuna sirip biru," jawabnya khidmat. "Ikan terbaik yang pernah kami tangkap. Koki-koki kami akan menyajikannya untuk malam ini."

"Kelihatannya lezat sekali! Jadi tidak sabar!"

Tepuk tangan meriah mengiringi Ashina kembali ke antara tetamu. Baik ikan maupun hasil bumi kembali ke dalam gulungan masing-masing, lalu dibawa pergi. Nobutada berdiri, mengisyaratkan tetamunya untuk diam. Musisi yang sedari tadi memetik shamisen pun diam.

"Terima kasih atas persembahan kalian semua!" serunya berseri-seri. "Panen tahun ini sudah jauh lebih baik dari dua tahun sebelumnya. Biasanya kita langsung melanjutkan makan dan berpesta, tapi!" Sang Kaisar berhenti, memastikan mata semua orang tertuju kepadanya. "Kalian semua mungkin sudah mendengarnya— aku mengambil sedikit wilayah Matsudaira yang kuberikan bagi para ninja. Konflik di antara daimyo sudah efektif kularang."

Atmosfer aula berubah. Bisikan-bisikan merebak, dan nada mereka sama sekali tidak positif.

"Sudah terlalu lama aku mendiamkan kalian semua, berbuat sesuka hati memanfaatkan para ninja. Hal seperti itu tidak ada lagi, karena mereka sudah bekerja langsung di bawah perintahku!" Ia menapak turun lambat-lambat, menambah efek dramatis pada kata-katanya. "Kita memperoleh kemajuan besar melawan Tsuchinokuni berkat mereka! Tak lama lagi wilayah-wilayah baru akan tersedia untuk dieksplorasi … semua berkat para ninja. Oleh karena itu aku menganugerahkan status setara daimyo bagi pemimpinnya. Silakan maju, Nona Hokage."

Hashirama menyibak kerumunan dengan mudah, lalu berjalan hingga dekat berhadapan dengan sang Kaisar. Selagi ia membungkuk memberi salam, bisikan-bisikan yang lebih keras merebak di mana-mana. Penuh kewaspadaan.

"Terima kasih telah bersedia hadir." Nobutada maju untuk menggenggam kedua tangannya. Ucapannya tulus.

"Sayalah yang merasa terhormat telah diundang," balas Hashirama diplomatis. "Tetapi saya juga harus minta maaf, saya sungguh tidak membawa apapun untuk dipersembahkan."

"Oh itu bukan masalah, ini baru kali pertama…."

Cepat ia menambahkan, "Tapi jika Yang Mulia bisa memaafkan lantai aula yang rusak, saya berkenan menunjukkan sesuatu."

Kedua mata Nobutada berbinar penasaran. "Tentu saja!"

"Terima kasih. Mohon Yang Mulia kembali duduk dahulu."

Sementara sang Kaisar kembali ke kursi besarnya, Hashirama mundur beberapa langkah. Ia memindai sekeliling dengan cepat, memperkirakan ukuran ruang yang ia miliki dan skala kekuatan murni yang harus ia keluarkan. Sengaja ia menanti sampai semua bisik-bisik memudar, lalu menangkupkan jemarinya.

Mokuton.

Lantai di belakangnya berderak, merekah, pecah. Seekor naga kayu sepanjang lima orang dewasa melesat keluar dari dalam bumi. Paruhnya yang serupa elang membuka penuh ancaman. Sekujur tubuhnya tersusun dari surai kayu, seluruhnya berdiri seperti bulu kucing yang marah. Ia mengitari tubuh sang Hokage, kepalanya diarahkan ke kedua sisi kerumunan bagai memindai musuh.

"Tahan!" Nobutada berteriak. "Jangan meninggalkan aula!" Namun, bukan kepada Hashirama. Para samurai telah siap menarik gagang pedang mereka. Hanya tidak jadi menghunus atas perintah sang Kaisar. Perintah keduanya jelas ditujukan kepada para undangan yang ketakutan.

Jika seekor mokuryuu mungil begini saja sudah membuat mereka nyaris terkencing-kencing, jelas mereka belum pernah melihat seorang shinobi sekaliber dirinya mengerahkan kekuatan penuhnya.

Si naga kayu meluncur ke kerumunan di sebelah kiri. Para tamu menjerit-jerit ketakutan, saling dorong menyingkir dari jalannya. Tak lama kemudian si naga kembali, moncongnya mendorong seseorang ke tengah aula.

Madara, dalam balutan kimono sekelam malam, meliriknya penuh tanya. Hashirama mendekatkan kepalanya untuk berbisik, "Tolong pinjamkan apimu," lalu menambahkan, jauh lebih pelan, "Anata."

Tatapan Madara menghangat. Hashirama menahan diri untuk tidak nyengir selama ia berjalan mundur ke arah singgasana. Lelaki itu berbalik menghadapi mokuryuu-nya. Kini si naga berdiri pada kaki belakangnya, melingkar menjulang di atas kepala semua orang seolah siap menerkam Madara.

Segel-segel dibentuk, lalu bola api dimuntahkan dalam deru membahana. Begitu menyilaukan, seolah seseorang mencuri matahari dan menyimpannya di dalam aula kastel. Matahari yang menenggelamkan si naga kayu di dalam api yang menyala-nyala itu.

Tatapannya tak bisa lepas dari sulaman lambang kipas merah putih di punggung Madara. Timbul tenggelam di balik kibasan rambutnya.

Meski ukurannya yang begitu besar, api itu tidak keluar dari area yang telah dipagari anglo. Kobarannya hanya menyala selama beberapa detik. Usai padam, yang tersisa hanyalah arang raksasa berbentuk naga. Asap tipis keluar berdesis dari celah-celah surainya. Permukaan cokelatnya berganti hitam legam berkilauan.

Madara berjalan ke sisinya, sejenak memegangi tangan Hashirama dalam lindungan lengan panjang kimono mereka. Ia sudah berkali-kali melihat kekuatannya, dan katon barusan bukan kekuatan penuhnya. Namun, detak jantungnya tetap saja berdesir menggelenyarkan saraf.

Ia berbisik, "Cakramu gelisah, Hashi."

Hashirama hanya mengangguk.

"...Wow." Nobutada lambat-lambat berdiri. Tepuk tangannya memecah keheningan. "Astaga! Luar biasa! Ya ampun! Aku rela membetulkan aula ini setiap tahun kalau bisa melihat hal seperti ini lagi…!"

"Terima kasih," balas Hashirama geli. "Tolong tunggu sampai dingin sebelum dipindahkan."

"Tidak salah mereka menjulukimu sebagai sang dewi…." Nobutada duduk kembali, rasa takjub belum hilang dari wajahnya. "Dan Anda, Matsudaira bilang Anda ini iblis. Wah wah! Dunia memang sudah jauh berubah jika seorang dewi dan iblis sampai bekerja sama seperti ini!"

"Daimyo Matsudaira tidak salah. Reputasi kami memang menakutkan," Madara merespons.

Seseorang bertepuk tangan riuh, yang langsung disambut orang-orang lainnya. Hashirama mengikuti Madara kembali ke deret tamunya, enggan kembali ke tempatnya yang semula. Mereka langsung menempati barisan terbelakang. Suara Kaisar hanya sayup-sayup terdengar.

"Ada apa?" Madara mengaitkan jemari mereka lagi di antara kedua lengan kimononya.

Ia menunjukkan wajah tersenyumnya. "Nggak ada apa-apa—"

"Nobuo, ya?"

Hashirama tidak menggeleng. "Aku … mau ganti baju dulu," gumamnya saat kerumunan mulai bubar. "Kamu duluan saja." Beberapa pelayan memandu tamu menuju dua buah pintu kecil yang membuka ke lorong besar.

"Hashi—"

Tangan mereka berpisah. Hashirama nyaris tak memerhatikan jalan, perhatiannya terfokus pada perjalanan kembali ke kamarnya di lantai atas. Ketika ia sudah menutup pintu kamarnya, barulah ia sadar jantungnya berdebum begitu kencang.

Konyol. Dalam pertempuran ia bisa begitu tenang, padahal sewaktu-waktu ia bisa terluka parah. Kerabat-kerabatnya mengadu nyawa di sekeliling. Ada banyak hal yang menuntut perhatiannya pada saat bersamaan. Namun, ia bisa begitu tenang.

Sekarang, tangannya begitu gatal ingin menghancurkan sesuatu.

Belum sehari semalam berlalu sejak ia tiba di sini, dan ia sudah tak sabar ingin segera kembali. Nobuo yang ia ingat dulu memang perisak dan perundung. Naif sekali ia mengira sifat-sifatnya sudah berubah setelah tumbuh dewasa.

Apanya yang hanya menyentuh.

Hashirama menanggalkan kimononya dengan gusar, lalu membuka-buka kotak yang terdiri dari beberapa laci. Masing-masing diisi oleh selembar kimono. Ia melipat pakaian yang tadi ia kenakan dan mengembalikannya ke laci teratas. Sebelum turun tadi, ia hanya asal mengambil saja. Laci-laci lainnya diisi kimono berwarna cerah, termasuk yang Mayuko paksakan kepadanya sebelum berangkat. Saat ini ia enggan memakai sesuatu yang begitu pucat dan terang….

Di laci terbawah tergeletak sehelai kimono hijau gelap.

Setelah merapikan diri, Hashirama mencapai aula pesta dengan bantuan arah seorang pelayan. Aula ini tiga kali lebih besar dari aula depan, dengan langit-langit yang begitu tinggi sampai tidak terlihat mata telanjang. Penginapan dan kantor Hokage di Konoha bisa dimasukkan ke dalamnya. Anglo besar diletakkan di tepian aula, sementara lentera-lentera yang tergantung pada tiang-tiang kurus diletakkan di tengah untuk penerangan. Bunyi alat musik petik mengalir indah mengiringi obrolan para tamu yang berseliweran di lantai aula. Bau masakan bercampur baur dengan wangi dupa dan wewangian. Jumlah orang yang berkumpul di sini jauh lebih banyak dari di aula tadi.

Ada banyak geisha dan oiran yang turut berbaur. Yang pertama melayani tetamu yang duduk di meja-meja pada tepi aula. Satunya turut dalam obrolan orang-orang. Lengan mereka dikalungkan pada lengan tamu-tamu pria. Semuanya memakai kimono mencolok dalam warna-warna pekat. Bahu para oiran yang ditampakkan berkilau seperti mutiara dalam cahaya lentera. Hiasan rambut mereka bertatahkan permata, berkelap-kelip setiap mereka menengokkan kepala.

Hashirama baru maju beberapa langkah mencari rupa-rupa yang mungkin ia kenali, ketika ia mendengar seseorang memanggil.

"Senju-san!"

Seorang lelaki muda berambut merah menghampiri, dengan seorang oiran berkimono ungu menggelayutinya. "Masih ingat aku? Enishi. Dulu main ke kampungmu."

"Enishi-kun!" Hashirama menjabat tangannya. "Tentu saja aku ingat! Bagaimana kabarmu sekarang?" tanyanya sambil meringis lebar. Ia sama sekali tidak ingat orang ini.

Jabatan tangannya sungguh kuat. Kulitnya kecokelatan, mungkin sering berlama-lama di bawah matahari. "Sangat baik! Aku sering lama melaut. Senang sekali bisa ikut Kakek ke sini. Banyak oiran cantiiiiik!" ujarnya, yang segera disambut kikik malu-malu si oiran. "Tapi! Tadi aku lihat di aula, naga dan api itu. Itu keren sekali! Baru kali ini aku melihat mokuton langsung, lho!"

"Oh, terima kasih—"

"Aku juga lihat," seorang oiran lain berpakaian serba merah menimpali. "Ngintip sih tadi," tambahnya.

Oiran pertama segera meliriknya seperti melihat anak kecil bandel. "Otsuyu!" tegurnya.

"Ninja pertama yang diundang sang Kaisar!" Salah satu daimyo muda bergabung dengan mereka. "Aku penasaran kemampuan apa saja yang bisa kaulakukan!"

Sementara Hashirama menjelaskan tentang mokuton-nya, lebih banyak tamu dan penghibur bergabung dengan kerumunan kecilnya. Enishi dan si daimyo akhirnya mundur, meninggalkan para perempuan dengannya.

"...Jadi kalau aku terluka sedikit saja, lukanya akan sembuh sendiri," ia mengakhiri penjelasannya. Rasa haus merambat di tenggorokannya.

Enam perempuan di hadapannya tercenung.

Otsuyu, si oiran berbaju merah, berkomentar, "Seperti sihir ya…."

"Wow! Perempuan di keluarga Anda boleh ikut perang?" tanya yang lain bersemangat.

"Yang dewasa dan tidak hamil atau menyusui, ya." Hashirama cepat-cepat menjawab sebelum orang lain bertanya lagi. "Tabu bagi perempuan hamil untuk mengangkat senjata."

"Ooh…"

"Eh, eh." Otsuyu mencuri perhatian semua orang, menoleh ke arah kiri kerumunan itu. "Bagaimana dengan ninja satunya? Laki-laki yang bisa membuat api itu…" Tatapannya kentara bergairah.

Hashirama mengikuti arah pandangannya dan menemukan Madara berdiri tidak jauh, berbincang dengan tiga anggota klan Uzumaki yang ia kenal baik.

"Bukankah itu tunangan Anda, Senju-san?" tanya seorang gadis bangsawan. Kipasnya terus ia gerak-gerakkan di dekat wajah. "Nobuo-kun dari klan Uzumaki itu?"

"...Katanya begitu."

Pembicaraan mereka cukup baik, kalau menilik ekspresi Mito yang sesekali tertawa sopan. Susah menebak ekspresi Ashina karena tersembunyi kumis dan jenggot lebatnya. Dan Nobuo bersikap seolah tidak ada yang salah dalam kehidupannya.

"Bagaimana dengan rekan ninja Anda? Apa dia sudah punya istri?"

"Eh?" Atensi Hashirama segera kembali pada lingkaran obrolannya sendiri. Seorang oiran lain yang melontarkan pertanyaan itu. Mulutnya disembunyikan di balik lengan kimono, terkikik bersemangat.

"Saya dengar para ninja mengatur pernikahan berdasarkan kekuatan tempur mereka," sambung si gadis bangsawan. "Jika Senju-san ditunangkan pada klan Uzumaki, mungkin Uchiha-san juga sudah...?"

"Ah ya, dia sudah punya istri," jawab Hashirama cepat-cepat.

Kekecewaan melintas di ekspresi si oiran yang tadi bertanya.

"Istrinya luar biasa kuat seperti monster. Tinggi besar dan temperamental," ia memberitahu mereka. "Semua orang takut kepadanya."

"Seram ya," celetuk Otsuyu. "Tapi pasti ninja yang hebat."

"Memang." Hashirama mengangguk-angguk meyakinkan. Ekspresi takjub yang seragam mewujud di wajah semua pendengarnya, kecuali seorang gadis yang terang-terangan membelalak ke arahnya.

"Pesta tahun ini lebih enak, ya," komentar gadis lain dengan suara rendah kepada temannya. "Si Ukyo nggak hadir, sih…."

Pembicaraan beralih ke suasana pesta. Ia melepaskan diri dari para wanita itu, merasa cukup puas dengan dirinya sendiri. Perlahan ia mendekati Madara dan ketiga Uzumaki, tetapi cukup jauh sehingga mereka tidak melihatnya.

"...Pernikahan mereka tentu bisa dilakukan dalam waktu dekat!" Ashina tertawa renyah. "Nobuo akan harus pindah ke Konoha."

"Saya sungguh sudah tidak sabar," komentarnya sopan.

Pindah ke Konoha? Nobuo? Yang benar saja!

"Saya penasaran," Madara berkata, "benarkah mereka berdua sudah ditunangkan sejak kecil?"

"Memang. Sudah tradisi di antara klan kami dan Senju untuk mempertahankan hubungan kekerabatan." Ashina menyesap sake dari sebuah cawan. "Mengapa bertanya?"

"Hashi tidak pernah menyebut-nyebut soal ini. Saya sendiri tidak pernah mendengar sampai Tobirama keceplosan sebulan lalu."

"Yah, tidak semua hal diumumkan ke mana-mana." Nobuo mengangkat bahu.

"Sungguh sayang sekali," Madara melanjutkan, "karena klan kami sudah melamarnya beberapa waktu lalu."

Air muka kedua pria itu berubah seketika, walau begitu sedikit. Mito ternganga.

"Klan Uchiha?" tanyanya.

"Siapa yang kauajukan menikahinya—" tawa Ashina lepas. "Siapa di antara klanmu yang sepadan menjadi pendamping sang dewi—?"

"Siapa lagi?" Madara tersenyum lebar. "Tentu saja saya sendiri."

"Sang iblis!" seru Nobuo keras-keras. "Sungguh bertolak belakang. Klan Senju pasti keberatan."

"Tapi sang dewi tidak keberatan."

Hashirama melangkah ke dalam lingkaran mereka, langsung menyelipkan tangan ke siku Madara. Ia mengangguk menyapa pada Mito, yang cepat menguasai diri setelah kaget melihatnya datang. Mata Ashina menyipit. Ujung-ujung mulut Nobuo menegang.

Madara menyeringai.

"Kurasa kita perlu menyapa Yang Mulia dulu." Hashirama merapatkan lengan pria itu ke tubuhnya sendiri.

"Baiklah. Mari," Madara memohon diri kepada lawan bicaranya, lalu membawa Hashirama menjauh menuju tepi aula.

Ada pintu kecil yang membuka ke taman temaram. Ditariknya lengan Madara ke sana.

"Keluar. Sebentar."

Ia tidak mempertanyakan permintaan Hashirama. Suhu di luar jauh lebih dingin, karenanya mereka tidak berjalan terlalu jauh. Keriuhan pesta masih terdengar di balik sesemakan tinggi tempat mereka berdiri. Seseorang di dalam sedang membacakan puisi pendek penuh penghayatan keras-keras.

Rembulan indah
Benderang di angkasa
Aku bersamamu

Hashirama melepaskan pegangannya. "Aku nggak menyangka…."

"Ya." Madara memeluknya dari belakang. "Ashina tadi mengira-ngira apakah Uchiha sudah cukup jinak untuk dijadikan besan. Jadi aku harus bilang soal itu."

"Mengapa dia ingin tahu…?"

"Menikahkan cucu atau cicitnya dengan Uchiha, barangkali." Madara mendengus sebal.

Kegelisahan di batinnya perlahan surut seiring dengan beralihnya fokus Hashirama pada tarikan napas Madara yang teratur. Bau cemaranya berbaur dengan harum sesemakan di sekitar mereka.

"Apa kamu keberatan aku sudah bilang…?"

"Nggak. Nggak sama sekali." Hashirama menghela napas dalam-dalam. "Aku nggak ingin sembunyi-sembunyi lagi. Kita harus jujur kepada adik-adik kita juga."

"Izuna sudah tahu," balasnya. "Yang jadi masalah itu Tobirama."

Pertemuan terakhir mereka sebelum ia berangkat di kuburan lama Senju menyeruak ke dalam benaknya. "Mungkin … akan lebih baik jika aku memandang soal pertunangan ini sebagai masalah pribadi, bukannya urusan satu klan."

"Memang seharusnya begitu." Sentuhannya berlama-lama di abdomen Hashirama. "Mau masuk sekarang?"

Namun, setibanya di pintu mereka sudah disambut oleh seorang pelayan. "Yang Mulia sudah menunggu Anda berdua di ruangan privat untuk makan malam bersama para daimyo."

Nyanyian merdu mengiringi mereka selama melintasi aula. Madara mencoba mencari-cari sumber suaranya, tetapi keramaian membuatnya sulit menemukan apa yang ia cari.

"Semua musisi di pesta ini berasal dari distrik hiburan ibukota," si pelayan menjelaskan tanpa diminta. "Hanya segelintir yang terbaiknya."

"...Begitu."

"Jika Tuan dan Nona Hokage berkenan mendengarkan lebih lama, mereka masih tinggal di sini selama Kaisar berdiam."

Mereka melalui panggung kecil tempat para musisi tampil. Penyanyinya seorang wanita paruh baya. Suaranya mendayu-dayu mendaraskan balada. Pemain koto dan shakuhachi-nya semua wanita muda. Ekspresi mereka sejalan dengan lirik lagu itu.

Madara tak bisa melepaskan tatapannya dari panggung sampai mereka masuk ke ruangan pribadi.


.

.

Meja kecil di hadapannya diisi setidaknya sepuluh piring dan mangkuk. Sebuah kompor kecil di sudut menyangga mangkuk keramik berisi sup umbi, tahu dan akar teratai. Asapnya harum menguar begitu tutupnya dibukakan pelayan. Semangkuk makanan laut terletak di sisi kanan tangannya. Isinya irisan ikan mentah putih, jingga dan merah— termasuk tuna yang tadi dipamerkan Ashina, ditambah seekor udang merah besar yang masih berkepala. Dua buah mangkuk kecil diisi dengan acar mentimun dan jahe, serta potongan rumput laut. Mangkuk lainnya berisi chawanmushi. Piring di tengah meja berisi tempura sayuran. Kompor kecil satunya dihuni oleh semangkuk nabe. Hashirama menemukan jamur-jamur enoki langsing berenang dalam kuah yang menggelegak, maka ke sanalah ia mencelupkan sumpitnya terlebih dahulu.

Ia baru menyadari betapa lapar dirinya. Nasi dan sepotong tebal ikan panggang lenyap dalam hitungan menit, disusul oleh segulung telur dadar dan parutan lobak. Ia tidak berhenti makan sampai seorang pelayan menghampirinya dari belakang untuk menuangkan sake. Mulutnya terlalu penuh untuk menolak.

"Air saja untuk kami berdua," kata Madara yang duduk di kanannya. Ia tersenyum simpul menyesap airnya.

Hashirama susah payah menelan kunyahannya. "Ada apa?"

Ia menggeleng. "Kamu cuma kelihatan senang sekali."

Makanan sebanyak ini, ketika ia tak lagi makan untuk dirinya sendiri. Siapa yang tidak senang? Shinobi sepertinya bahkan tidak pernah makan makanan semewah ini. Ular sawah adalah makanan standar bagi shinobi dalam misi di belantara. Bahkan di Konoha atau di kampung lamanya, daging kering dan jawawut lebih sering mengisi perut mereka.

Ia melanjutkan makan lebih lambat, pendengarannya menangkap potongan percakapan para daimyo. Yang membuatnya agak lega, Uzumaki Ashina tidak turut makan dalam ruangan itu. Meja-meja kecil disusun dalam bentuk persegi panjang. Kaisar duduk di kepala ruangan, diapit oleh Shigenobu sang samurai dan seorang wanita bangsawan dengan tatanan rambut rumit— satu-satunya wanita selain dirinya di ruangan itu. Hashirama duduk di sisi kanan wanita ini, Akiko namanya, permaisuri Nobutada.

Hashirama baru saja menggigit irisan tuna mentah yang kenyal berlemak ketika ia menyadari tatapan sang Permaisuri kepadanya. Ujung luar matanya yang disepuh kemerahan tertarik ke sisi ketika ia tersenyum.

"Senju-sama tampaknya suka dengan hidangan kami," komentarnya.

"Semuanya enak sekali!" Hashirama membalas setelah menelan tunanya sambil mengambil okra goreng.

Sang Permaisuri tertawa sopan. Isi mangkuk-mangkuknya sendiri tidak banyak tersentuh. Ia memakan chawanmushi-nya dalam gerakan lambat, tetapi anggun.

"...Infanteri?"

Suara Nobutada menarik perhatiannya. Hashirama menajamkan pendengaran pada pembicaraan kedua pria di ujung ruang.

"Pasukan yang … ah, kurang terlatih tetapi ditempatkan di garis depan. Bagus untuk memecah musuh tanpa mengorbankan prajurit yang lebih ahli." Shigenobu melirik ke arahnya. "Ini strategi standar peperangan ninja. Infanteri, atau anak-anak, yang selamat mendapat pengalaman berharga dari garis depan."

Separuh okranya lepas dari jepitan sumpit.

Seluruh urusan dengan Nobuo tadi mengalihkan perhatiannya. Ia di sini tidak hanya untuk berurusan dengan klan Uzumaki, tetapi juga mengemban tugasnya sebagai Hokage.

"Hee, begitu ya?" Nobutada ganti menatapnya.

"Yang Mulia." Hashirama meletakkan sumpitnya mendatar di atas mangkuk nasi yang kosong. "Perihal perang dengan Tsuchinokuni … bersediakah Yang Mulia mengusulkan perdamaian?"

Obrolan di seluruh ruangan bagai sirna untuk mendengarkannya.

Nobutada beringsut sedikit di bantalnya. "Perdamaian untuk apa? Bukankah pasukan kita— pasukan Anda, sedang di atas angin? Pertempuran demi pertempuran dimenangkan dengan mudah. Seharusnya tidak butuh waktu selama ini buat menembus sampai ibukotanya."

"Pasukan Tsuchi masih pakai strategi infanteri," tambah Shigenobu. "Seharusnya tidak susah melawan mereka." Senyumannya meremehkan. "Anak-anak mereka itu hanya umpan, bukan?"

Dada Hashirama mendadak sesak. Ia meneguk airnya untuk menenangkan diri.

Tidak berada di garis depan mungkin jauh lebih buruk. Yang mati bertumbangan di benaknya adalah anak-anak tak berwajah, semua menyandang lambang desa musuh.

Ia tetap membunuh mereka. Bukan dengan ayunan pedang atau mokuton, melainkan dengan goresan pena persetujuannya di atas kertas putih.

"Mengerahkan kekuatan penuh melawan sekumpulan anak-anak itu sia-sia," didengarnya Madara angkat suara. "Jika anak-anak yang mati, cepat atau lambat semua orang akan musnah. Karena itu kami tidak lagi mengirim anak ke medan perang."

Hashirama melirik penuh terima kasih kepadanya.

"Iya, tapi anak-anak Tsuchi, ini," Nobutada bersikeras. "Lebih sedikit ninja Tsuchi, lebih bagus buat kita. Lebih bagus buat kalian."

"Konoha berdiri karena kami berdua tidak ingin melihat anak-anak mati terbunuh lagi." Madara tidak menyembunyikan kekesalannya. "Hipokrit jika kami membiarkan hal serupa terjadi pada lawan kami."

Shigenobu berseru, "Lebih baik membunuh musuh sebelum mereka menjadi terlalu mematikan!"

"Jauh lebih menyenangkan bertarung melawan prajurit yang terlatih daripada anak ingusan, bukan?"

"Dari sudut pandang kami, itu yang lebih efisien, Uchiha-san." Daimyo bertubuh besar yang duduk tepat di seberang Madara angkat bicara. "Dalam beberapa tahun mereka akan kehabisan pasukan. Kita menang mudah." Ia mengangkat cawan sakenya kepada sang Kaisar.

"Terima kasih, Taneyuki," balas Nobutada. "Tentunya jika Hinokuni bisa ekspansi ke barat laut lebih jauh, lebih banyak sumber daya untuk kita semua. Lebih banyak orang yang hidupnya bisa kita sokong, jadi tidak ada alasan untuk tidak mendukung rencanaku."

Kekehan serak datang dari beberapa meja di sisi kanan Madara. "Mungkin Konoha tidak sekuat yang kita semua pikirkan. Mereka sebenarnya sudah lembek."

"Matsudaira-san memang berlidah tajam!" seru seorang daimyo muda sambil tertawa kencang.

Madara sudah bersiap menyela, tetapi tatapannya berserobok dengan Hashirama, dan niatnya tampak surut. Atau, begitulah yang wanita itu kira.

"Mungkin semua daimyo di sini belum pernah maju sendiri ke medan perang." Suara Madara rendah berbahaya. "Anda jelas tidak bisa mengerti seperti apa kondisi di garis depan. Yang bisa Anda lakukan hanya bersantai dan makan hasil jerih payah ratusan orang … yang rela mati diperdaya agar kita bisa menikmati sajian malam ini."

"Lancang! Sudah diundang pun mulutmu masih sekotor lumpur!"

Kaisar sendiri mengabaikan keributan itu. Kedua matanya malah berkilau penuh ketertarikan. Ia menonton keributan yang terjadi dengan bersemangat.

"Senju-sama," suara sang Permaisuri yang jernih menyela, "maukah Anda berjalan-jalan bersamaku?"

Hashirama tak punya pilihan selain mengiyakan. Permaisuri Akiko membawanya lewat jalan lain di dalam istana, tidak lewat aula pesta. Mereka melalui lorong-lorong penuh karya seni, hanya sesekali berhenti untuk mengagumi ukiran atau lukisan. Di sini ia baru menyadari tangannya berkeringat dingin, dan degup jantungnya tak karuan. Mengalihkan fokusnya ke karya-karya seni membantunya menenangkan diri.

"Bagaimana kalau besok siang kita minum teh dan makan apel bersama-sama dengan istri daimyo lainnya?" ia menawarkan ketika mereka tiba di tangga yang menuju ke kamar Hashirama. "Aku ingin mengobrol banyak denganmu."

"Tentu saja. Saya bersedia."

"Sampai besok, Senju-sama."

Hashirama menemukan seteko air panas baru telah diletakkan di meja dalam kamarnya. Ia meminum segelas rebusan herbal, mengunci pintu-pintu dengan mokuton-nya, lalu tidur tanpa repot-repot berganti pakaian.

Ia kembali memimpikan padang rumput yang sama lagi, lengkap dengan dua purnama yang terus menatapnya sampai pagi.


.

.

"Kakak."

Ada sesuatu yang retak di dalam hatinya mendengar panggilan itu meluncur menembus bunyi-bunyian malam. Panggilan yang sudah ribuan kali ia dengar sejak adik tertuanya belajar berbicara.

Kakinya berhenti mendaki, melawan gravitasi untuk separuh membalikkan tubuh.

Tuduhan mewujud dalam merah kelam iris mata Tobirama. Lengannya terlipat di dada. Hashirama memilih menghadapi rumput-rumput pendek.

"Bukannya … titik penjagaanmu jauh dari sini?"

"Pembawa pesan Inuzuka bilang ada sebuah gumpalan cakra raksasa masif terlacak di utara. Kekuatannya setara … lebih dari seratus shinobi biasa." Kata-katanya sedingin bilah pedang. "Aku melacak Kakak untuk menyampaikan itu."

"Arahnya?"

"Diam saja. Diperkirakan jika dia mengarah ke selatan, dia bisa mencapai kita dalam waktu tidak sampai satu jam."

Namun, seekor bijuu cenderung menghindari pemukiman. Serangan bijuu terhitung jarang terjadi, dan jika ya pasti diikuti anomali di sekitar alam. Tidak ada yang janggal dalam malam berawan ini. Udara akan semakin dingin malam hari, tidak baik bagi yang bertubuh lemah untuk keluar di udara terbuka.

"Tambah penjaga di lingkar luar," perintahnya. "Laksanakan evakuasi jika bijuu itu sedikit saja bergerak ke arah kita."

"Ke mana?"

"Ke balik tebing." Dada Hashirama naik-turun cepat. Ia tak bisa berlama-lama di sini. "Aku … akan kutinggalkan mokubunshin untuk memantau kondisi kampung." Jika ada sesuatu terjadi, mokubunshin-nya saja sudah cukup.

"Jadi Kakak mau pergi."

Tak memiliki pilihan lain, ia mengangguk. "Aku akan kembali secepatnya—"

"Ada bijuu mau menyerang kampung kita dan Kakak memilih pergi?"

"Cuma sebentar, Tobirama—"

"Ngapain?"

"Izuna."

"Demi rikudou sennin," Tobirama menggeram. Pelindung wajahnya ia lepaskan untuk mengusap peluh di dahinya. "Kenapa Kakak malah memikirkan musuh di saat begini? Kakak masih terus saja memprioritaskan Madara daripada keluarga sendiri! Kakak ini pemimpin klan Senju, bukan Uchiha!"

Hashirama mengeratkan pegangannya pada buntalan obat yang ia curi. "Bukan—"

"Kakak tahu pergi ke sana sama saja bunuh diri!" lanjutnya. Pelindung wajahnya berkelontang memantul di bebatuan. "Apa Madara menghipnotis Kakak pakai genjutsu?"

Hashirama balas berseru, "Aku harus menyelamatkan Izuna—" Wanita itu maju, berniat meraih bahu adiknya. Namun, Tobirama menampik kasar tangannya.

"Mereka masih ada penyembuh, Kak."

"Tapi lukanya separah itu—"

"Izuna bukan siapa-siapa bagi kita! Ayo pulang!"

"Tobirama, hentikan!"

Udara bergetar dengan cakra murni. Tobirama seketika melesat mundur, gigi-giginya mengertak. Sebuah kunai bermarka khusus langsung siap di genggamannya. Mereka berhadapan layaknya lawan di pertempuran.

Ia merilekskan tubuhnya, tetapi masih gemetaran karena efek dari ledakan energinya barusan. Skalanya kecil untuk ukuran cakra yang biasa ia keluarkan, tetapi yang mengejutkannya adalah ini refleks atas respons Tobirama.

Darah dagingnya sendiri, orang yang paling ia percayai….

"Jangan…." Hashirama memulai dengan berat hati, "tolong jangan mencegahku lagi. Jangan susul aku."

Markah hiraishin di tulang punggungnya menggelitik. Lebih baik mencegahnya muncul mendadak di hadapan Madara.

Adiknya berdecih dan bergeming. Sikap tubuhnya tidak lagi siap meluncurkan serangan.

"Aku pasti kembali."

Tobirama masih membelalak.

"Nanti, Tobirama. Aku janji." Hashirama perlahan mundur, mengupas mokubunshin dari tubuhnya sendiri, lalu berbalik dan lari.


.

.

"Tapi bagaimana caranya menyegel makhluk sebesar bijuu?"

Hashirama menyumpit butiran nasi di mangkuknya satu persatu. Ia terbangun dengan kepala pusing sebelum fajar. Seorang pelayan telah memanaskan air mandi untuknya. Ia berpapasan dengan Mito usai mandi berendam, yang mengajaknya sarapan bersama. Menunya sederhana jika dibandingkan dengan hidangan semalam, tetapi nafsu makannya belum juga kembali. Mito setidaknya mengalihkan perhatiannya dengan penjelasan fuuinjutsu.

"Aku berusaha memadukan perintah penyegelan makhluk hidup, tetapi mereka sendiri juga cakra murni." Mito meletakkan sumpitnya dengan rapi. "Tidak mungkin juga kita menyegelnya di dalam gulungan kertas biasa. Tidak akan muat."

"Kandang raksasa?" Hashirama mengusulkan. "Dulu aku mengatasi Yonbi hanya dengan mokujin. Tetapi itu tidak permanen. Kandang pun … bisa rusak kapan saja."

"Kamu satu-satunya yang punya kemampuan menahan bijuu seorang diri. Kalau kamu tidak ada di tempat—"

"Ya. aku mengerti." Hashirama menghela napas dalam-dalam, enggan mengungkit perihal dua tahun lalu. "Bagaimana dengan perisai cakra berskala besar? Shinobi tanpa jumlah cakra sebanyak diriku … jika ada sepuluh, dua puluh orang, pasti bisa melakukannya, 'kan?"

"Mm. Teknisnya bisa." Mito menumpuk mangkuk-mangkuk kosongnya, lalu membuka sebuah buku catatan kecil. Ia mencoret-coret penuh semangat. "Aku cukup menuliskan rumus mentah pada beberapa gulungan. Siapapun bisa menggunakannya cukup dengan memberi cakra pada kertasnya. Masalahnya … si bijuu bisa berlama-lama betah berusaha menjebol perisainya. Sebanyak apapun pendiri perisai, mereka bisa lelah juga."

Maka penyegelan adalah solusi yang lebih baik. Masalahnya adalah wadahnya. Mereka telah mencoret kemungkinan membuat wadah mokuton. Hashirama enggan membuat Konoha terlalu tergantung kepadanya. Bijuu itu bisa disegel di bawah tanah, dalam lindungan perisai yang membatasi ruang geraknya, tetapi jika ia menghantam permukaan tanah maka desa akan dilanda gempa bumi. Sesuatu yang terbuat dari cakra murni mustahil dilenyapkan. Pasti akan kembali mewujud suatu saat nanti. Mustahil menghancurkan mereka secara permanen.

Buku catatan Mito ditutup cukup keras untuk menarik atensinya. "Omong-omong, Hashirama. Soal semalam itu … apa yang dikatakan Uchiha-san…."

"Soal lamaran itu?"

Mito mengangguk. Ekspresinya campuran cemas dan lelah.

"Madara berkata jujur. Ia melamarku secara pribadi. Aku bahkan tidak bilang siapapun." Hashirama mengetukkan jemarinya.

"Mengapa diterima?" Wanita berambut merah itu menepuk dahinya.

"Tidak ada yang memberitahuku aku sudah bertunangan. Aku tidak punya alasan menolaknya."

"Ya, tapi dia itu … Uchiha."

"Terus kenapa kalau dia Uchiha?"

Sepupunya mengerang, kepalanya ditundukkan. "Klan iblis, ingat?"

"Kamu, Nobuo dan Kakek Ashina kemarin mengobrol dengannya." Hashirama mencondongkan tubuh. "Bagaimana kesannya? Apa dia sungguh seperti iblis?"

Kedua bahunya menurun. "...Tidak juga. Tapi, yang di aula itu lain ceritanya."

"Hm?"

"Belum pernah kami melihat katon sekaliber itu."

Hashirama menyesap kuah supnya yang dingin perlahan-lahan. "Cuma dia shinobi terkuat di Konoha selain Tobirama. Bukannya memilih pasangan sesuai kekuatan itu sudah tradisi di antara shinobi?"

"Paman Butsuma yang tidak ingin kamu tahu…."

"Kamu bisa saja memberitahuku lewat surat."

"Aku juga dilarang." Mito mengosongkan teko tehnya. "Tolong tanya Kakek saja alasannya, Hashirama." Ia pergi tak lama kemudian, berkata ada jadwal ikebana dengan sepupu-sepupunya.

Perutnya terisi penuh, tetapi tubuhnya tetap terasa lemas. Masih ada waktu sebelum janjinya dengan sang Permaisuri, maka Hashirama berjalan-jalan sendirian di taman untuk menjelajahi semua bagian yang semalam ia lihat dari balkonnya. Ketika ia tiba di taman batu, sudah ada pria lain di sana. Rambutnya merah tergerai sampai pinggang, tempat sehelai kain putih terikat erat.

"Hashirama-san."

"Nobuo. Pagi."

"Aku ingin tanya sesuatu," katanya. Nadanya jauh lebih berhati-hati dibandingkan kemarin. Namun, Hashirama belum lupa kejadian semalam.

"Kalau kau ingin tanya soal lamaran Madara— ya, ia melamarku," ujarnya cepat-cepat. "Aku menerimanya."

Alisnya menurun. "Apa aku sungguh tidak punya kesempatan?"

"Sama sekali tidak."

"...Kehendak klan masih di atas kehendakmu. Ingat itu."

Sebelum kekesalannya membubung, Hashirama pamit. Ia menemukan lorong penuh bonsai yang terawat rapi, betah untuk mengamatinya satu persatu. Semuanya disusun dalam dua jalur rak atas dan bawah. Ia sedang berlutut memerhatikan sebuah pot panjang berisi pohon yang belum pernah ia lihat ketika ia mendengar namanya disebut.

"Kurasa Hashirama sudah pergi." Suara Nobuo.

Ia menajamkan pendengarannya.

"Kaudengar dia tadi," suara seorang wanita menimpali, kentara resah. "Kau nggak punya kesempatan. Aku lihat sendiri bagaimana nona itu menatap si ninja semalam. Itu bukan tatapan antarteman."

"Mereka belum menikah. Kakek sudah menyurati tetua Senju—"

"Kaudengar dia tadi!" ulang wanita itu tak sabaran. "Tunangan rahasiamu mencintai lelaki lain! Aku tahu dia cantik jelita, tubuhnya juga indah, tapi menengok dirimu pun tidak!"

"Mayuri—!"

"Setelah bertahun-tahun kaubilang dia itu kunoichi buruk rupa yang sudah tidur dengan seribu lelaki!"

Tamparan. Jeritan.

"Kenapa memilih kunoichi itu?" raung Mayuri emosional. "Mereka serendah bandit, lebih rendah dari petani—"

"Status Hokage-nya sama dengan daimyo, tahu," sergah Nobuo, kedengarannya susah payah menjaga volume suaranya.

"Oh," Mayuri bereaksi sengit. "Semalam dia sendiri bilang di depan mukaku si ninja itu sudah beristri. Mereka pasti berselingkuh! Demi dewa, dia pasti nggak perawan!"

Balasannya dingin. "Kamu juga tidak, dan kamu bukan siapa-siapa. Cuma anak samurai cacat."

Sunyi. Sebuah isakan pecah, disusul langkah-langkah gusar ke arah berlawanan.

"Cewek gila…." Umpatan Nobuo terlontar sebelum pria itu juga pergi menjauh.

Hashirama masih berlutut di hadapan bonsai pohon berbatang keperakan. Ia sungguh ingin segera pulang.


.

.

Mereka akhirnya bersua di sebuah taman dengan danau kecil berisi koleksi ikan koi Kaisar. Hashirama menceritakan semua yang ia alami sejak makan malam sampai peristiwa beberapa menit lalu. Madara menceritakan apa yang terjadi setelah sang Permaisuri dan Hashirama pergi meninggalkan para pria.

"Mereka merendahkan Konoha," katanya separuh berbisik. Lengan bawahnya yang tidak tertutupi pakaian menegang penuh emosi. Cuaca hari ini membuat rambutnya kembali dikuncir. "Tak satupun sungguh-sungguh pernah mencicipi suasana perang yang nyata. Shigenobu hanya memanas-manasi keadaan..."

"Mm," Hashirama menggumam tak jelas, menyaksikan ikan-ikan bersisik perak dan merah berseliweran dekat tepi danau. Ekor-ekor mereka berkecipak riuh. Di bawah bayangan jembatan yang terentang menghubungkan kedua sisi daratan, terdapat lebih banyak lagi ikan.

"...Hashi?"

"Aku…." Ia menundukkan kepala dalam-dalam sehingga rambutnya menutupi separuh wajah. "Aku ingin pulang."

"Tidak bisa."

Hashirama menoleh tajam. Madara tampak serius.

"Apa kamu betah di sini?"

"Bukan … ada sesuatu yang harus kucari tahu."

"Soal apa…?"

Perhatian mereka teralihkan. Di seberang kolam, serombongan orang melewati jalan setapak yang membelah taman. Hashirama mengenali ketiga wanita dari pesta semalam, para musisi yang bermain di panggung aula. Di belakang mereka, beberapa pelayan mengangkut kotak-kotak yang tampaknya berisi peralatan musik untuk tampil. Mereka berjalan sambil mengobrol diselingi tawa.

"Hokage-sama."

Hashirama mendapati seorang pelayan lain sudah muncul di belakangnya. Ia memberi hormat, dan berkata, "Yang Mulia Permaisuri sudah menanti Anda di punjung. Saya akan mengantar Anda."

"Ya— sebentar…." Ia berbalik, bermaksud untuk pamit kepada Madara. Namun, pria itu tidak ada di sisinya.

Ia sudah ada di seberang, berbicara pada ketiga musisi itu. Hashirama terpikir untuk turut ke seberang, tetapi ia mengenakan senyuman hangat yang sangat jarang ditampilkannya.

Ada sensasi aneh merebak di abdomennya.

"Anda ditunggu, Hokage-sama."

Hashirama tidak paham mengapa hal itu sangat mengganggunya. Madara yang dulu sungguh enggan berinteraksi dengan orang asing. Seharusnya kemajuan ini bagus dan membuatnya senang, 'kan?

Pikirannya terus dipenuhi hal ini sampai ia tidak menyadari mereka telah tiba di punjung lebar tempat beberapa wanita duduk melingkar. Karangan-karangan bunga tinggi di dalam vas berderet di ujung. Tampaknya tadi ada sesi ikebana.

"Senju-sama, selamat datang!" sang Permaisuri menyambutnya. Pakaiannya sekuning mawar yang tumbuh merambat mengelilingi pagar punjung. "Kemari, duduklah di sebelahku." Ia menepukkan tangan pada sebuah bantal kosong di sisinya.

Secangkir teh hijau jernih dan sepiring kecil potongan buah segera dihidangkan ke hadapannya. Sebelum Hashirama sempat mencicipi, perhatiannya teralihkan oleh gelak tawa. Ada anak-anak yang saling kejar di sekitar mereka. Dua di antaranya sangat mirip.

"Mereka … kembar, ya?" tanyanya.

"Yang berlari ke sini?" Permaisuri bertanya balik. "Bukan, tapi mereka memang kakak beradik. Cucu Matsudaira-san."

Salah satu wanita di punjung menyambut keduanya. Dari dekat, terlihat perbedaan jelas di wajah dan tinggi tubuh mereka. Orang mana pun tidak akan mengira mereka kembar. Kedua anak itu menjatuhkan kerikil ke pangkuan ibunya, yang menerimanya dengan ungkapan terima kasih antusias.

"Mereka selalu saja membawakanku hadiah begini," ujarnya setelah kedua anak itu berlari pergi. Ia segera menyadari tambahan terbaru di antara tetamu. "Anda pasti Senju-san. Ayah sering membicarakan Anda. Saya Yumi."

Satu persatu wanita lainnya mulai memperkenalkan diri. Semuanya istri, ibu, atau putri para daimyo. Usia mereka bervariasi, ada yang masih remaja sampai yang sudah memiliki beberapa helai rambut kelabu di sanggulnya. Satu-dua wajah ia kenali dari pesta semalam. Meski tersenyum, jelas ada keraguan dan hal lain tersembunyi di balik ekspresi mereka.

"Suamiku sudah banyak bercerita tentang Anda dan kehidupan ninja di Konoha dari kunjungannya dulu," Permaisuri Akiko berkata, memusatkan semua atensi kepada dirinya. "Berkenankah Anda menceritakannya lagi? Teman-temanku ingin mendengarnya langsung. Kurasa suamiku juga telah melewatkan banyak detail menarik."

Suasana terasa berat. Hashirama menyadari mereka semua pasti sudah menyaksikan pertunjukan kecilnya dan Madara di aula depan kastel. Dalam suasana normal, wanita-wanita bangsawan ini mungkin lebih memilih menghindari bersua dengannya daripada harus menundukkan diri di bawah kekuatan luar biasa dan tak dikenal.

"Ninja perempuan yang kami tahu— para kunoichi," wanita dengan rambut kelabu, ibu Daimyo Watanabe, angkat bicara, "menyamar sebagai penghibur. Oiran, geisha. Semacamnya. Kadang saya senewen setiap almarhum suamiku pergi ke distrik hiburan Hanamaru." Tawa gugup merebak di kalangan wanita dewasa. "Saya takut beliau kenapa-kenapa," tambahnya.

"Ah, ya. Itu tidak salah. Kunoichi umumnya menyaru di tengah masyarakat biasa untuk mengumpulkan informasi," Hashirama menjelaskan. "Tapi saya tidak dibesarkan menjadi kunoichi. Almarhum ayahku tahu saya punya cakra yang kuat, jadi beliau mengatur perjodohan supaya klan kami…."

"Oooh," ujar mereka serempak.

"Sama. Saya juga," kata Akiko.

"Sungguh?" Hashirama mengerjapkan mata.

"Itu umum sekali di kalangan bangsawan, Senju-san," wanita lain mengiyakan. "Dijodohkan, lalu nanti hidup begini-begini saja. Melahirkan, menyusui, menyapih … semua sembari menjaga agar suami-suami tidak keseringan tidur di pangkuan penghibur."

"Tahu urusan suami saja tidak. Bikin pusing, sih."

Jika mokuton-nya tidak pernah bangkit dan ia dikirim ke Uzushio untuk dinikahi Nobuo, apakah nasibnya akan seperti ini juga?

Keterkejutannya disela oleh alunan musik dari punjung sebelah. Dua musisi perempuan muda yang tadi bersua dengannya di seberang danau koi memetik shakuhachi dan koto masing-masing.

Ke mana musisi satunya?

"Hashirama-sama, ayo lanjutkan ceritanya," pinta seorang gadis. "Rumah Anda itu seperti apa?"

Ia memulai tuturannya dengan kampung lama Senju. Tentang pohon-pohon raksasanya yang sering ia panjati. Tentang para nenek dan bibi yang sabar mengajarinya mengumpulkan tanaman hutan. Tentang ibunya—

"...Ibuku dibunuh bandit waktu umurku tujuh tahun."

"Oh dewa…."

Sang Permaisuri menepuk bahunya penuh simpati. Hashirama menangkapnya sebagai sinyal untuk melanjutkan lagi.

"Lalu waktu umurku dua belas … aku kehilangan dua adikku."

Kawarama yang begitu bangga dipercaya memanggul senjata. Itama yang mempertanyakan dendam.

Kawarama yang tak lagi utuh. Itama yang habis melawan empat shinobi dewasa sendirian.

"...Apa mereka dibunuh bandit juga, Senju-sama?"

Pertanyaan Matsudaira Yumi menarik dirinya kembali ke punjung. Hashirama menggeleng. "Bukan, mereka gugur dalam perang."

"Tunggu dulu, mereka adik termuda Anda, 'kan?" tanya Yumi lagi. "Setahuku ninja tidak berperang di perkampungan…? Hanya di tempat yang jauh dari sawah dan desa?"

"Anak-anak shinobi yang berusia empat tahun sudah sering diikutsertakan bertempur. Adik-adikku.…"

Salah satu anak Yumi sudah kembali ke punjung. Ibunya segera memangku anak itu dan mendekapnya erat-erat. Tatapan mereka bertemu.

"...Seumuran dia waktu meninggal."

"Jadi selama ini—!"

Ibu Daimyo Watanabe membelalak pada gadis remaja yang tiba-tiba berteriak itu. Si gadis langsung berusaha membuat dirinya lebih kecil di antara dua wanita yang mengapitnya.

Hashirama mempererat pegangannya pada cangkir teh yang hangat untuk mengenyahkan rasa tidak nyaman yang tumbuh di benaknya. "Perseteruan para daimyo yang menyewa tenaga klan-klan shinobi memakan korban anak-anak."

"Tetapi para ninja dewasa sendiri yang menyuruh mereka bertempur, bukan?"

"Benar, Watanabe-san. Karena itu saya berniat menghentikan praktik ini. Setelah saya menjadi kepala klan, keluarga saya tidak lagi mengirim anak-anak berperang. Begitu juga Konoha saat ini."

"Kejam sekali…."

Tatapan cemas bertukar di atas meja. Hashirama belum lupa apa yang terjadi ketika makan malam kemarin. Ia melirik ke sebelah kiri. Emosi sang Permaisuri tidak bisa ditebak.

"Hinokuni telah menghentikan pengiriman prajurit anak-anak, tetapi Tsuchi masih melakukannya."

"Kita yang membunuhi mereka," tambah Permaisuri Akiko.

Seseorang memekik tertahan. Hashirama mengunyah jeruk yang telah dikupaskan.

Jika para daimyo tak bisa membujuk Nobutada untuk mengubah jalannya perang, mungkin para wanita di meja ini yang bisa melakukannya.

Meski ia tak tahu berapa lama waktu yang mereka butuhkan. Atau apakah mereka akan berhasil….

Iringan shakuhachi dan koto di punjung sebelah menghentak nada final. Sirna.


.

.

Kedua pipinya sakit ditebas angin malam. Mokuryuu-nya meluncur membelah padang rumput, tubuhnya terlingkupi genjutsu tipis yang menyarukannya dengan kegelapan. Begitu lanskap berubah gersang tak berumput, ia melepas naganya.

Langit mulai berawan. Bintang-bintang tidak lagi bisa digunakan sebagai panduan. Hashirama menajamkan semua indranya, bahkan berusaha melacak dengan cakra. Kemampuannya jelas di bawah Tobirama, tetapi ia tahu sedikit dasarnya.

Ada satu petunjuk, sebuah jejak tipis yang mengarah ke barat. Semakin jauh ia berjalan, semakin jelas bahwa ini jejak cakra Uchiha. Cakranya sendiri ia tekan, enggan memberitahukan keberadaannya kepada siapapun yang awas.

Kilat menyambar, sekilas menerangi punggung-punggung bukit setajam deretan gigi beruang di cakrawala. Hashirama merutuki dirinya sendiri. Ia belum pernah menjalani misi sendirian. Mengapa ia tidak bertanya lebih lanjut tentang bentang alam di sekitar perkampungan Uchiha? Setengah hari perjalanan dengan berjalan kaki atau berlari? Berapa lama waktu yang ia persingkat dengan mokuryuu-nya? Sudah seberapa dekat—?

Petir pecah, begitu juga dengan awan-awan. Mokuton-nya keluar membentuk struktur serupa payung, cukup untuk melindungi tubuh atasnya dari hujan. Obat-obatan yang ia bawa tidak akan berguna jika basah kuyup. Namun, gerimis tetap mengaburkan kemampuan kerja indranya. Ia terus memaksakan diri maju agar tidak kehilangan arah. Dalam cuaca buruk dan kegelapan, mudah sekali untuk tersesat hanya dengan mengubah posisi tubuhnya sedikit. Dan mudah sekali untuk kehilangan satu-satunya petunjuk samar yang ia miliki.

Hashirama melambatkan langkah, memindai lanskap sejauh yang ia bisa. Belum ada tanda-tanda visual maupun jebakan pengaman. Kampungnya dikelilingi hutan perawan dan petak-petak ladang yang tersembunyi di balik jebakan genjutsu. Kampung Uchiha seharusnya sama. Jaraknya pasti masih jauh.

Namun, tak sampai sepuluh langkah kemudian, ia menjumpai sebuah struktur buatan manusia. Siluet gerbangnya menyerupai kuil. Ia berjingkat hingga ke undakan, merasakan kayu anak tangganya berderit di bawah beban tubuhnya. Di atasnya terdapat meja kecil dengan seguci penuh pasir dan dupa-dupa yang ditegakkan. Asap tipis melayang dari ujung-ujungnya.

"Permisi…?" Hashirama melepas mokuton-nya, dan berusaha mengintip ke dalam. Tidak ada suara, cahaya, atau tanda-tanda kehidupan lain. Tangan kanannya yang tadi menyentuh sebuah tiang segera dilapisi debu tebal. Tampaknya percuma saja berlama-lama di sini. Ia berbalik berniat pergi, tetapi niatnya surut seiring datangnya sebuah sentuhan dingin di tengkuk.

"Bangsat mana yang memberitahumu tempat ini?"

Geraman Madara tidak menyurutkan tekadnya. Hashirama perlahan mengangkat kedua telapaknya, menunjukkan ia tidak sedang membuat segel tertentu. Baik utuh ataupun separuh.

"Kutemukan sendiri—"

"Simpan kebohonganmu, Senju sialan." Ujung tajamnya maju lebih jauh ke dalam kulitnya. "Apa pula yang kaubawa ini…."

Sebuah tangan meraih simpul kain di bawah leher wanita itu, membuka buntalan di punggungnya. Isinya jatuh berkeresak di lantai kuil. Kikatsugan-nya menggelinding entah ke mana.

"Obat-obatan, dan sedikit makanan…."

Cakra Madara mengguyurnya bagai luapan sungai, menyelubungi setiap senti tubuhnya, mencari-cari kebohongan di antara pengakuannya. Hashirama memejamkan mata rapat-rapat, menanti hingga luapan itu surut. Pria itu juga memindai sekeliling dengan cakranya.

"Lalu apa ini…." Ujung kunainya menggores turun ke antara tulang belikat, menoreh terbuka pakaiannya sampai berhenti di permukaan segel. Meski tidak kasatmata, pengindra yang teliti dapat menemukannya. Telapaknya menghantam segel hiraishin itu, memutus aliran cakranya. Namun, Hashirama tetap merasakan segel itu masih ada.

Ia buru-buru berkata, "Dia … dia nggak akan ke sini."

"Aku tidak menanyaimu, Senju," desisnya. "Kau datang seorang diri. Nirzirah, menawarkan leher telanjangmu. Kita lihat apakah kau masih pantas menyandang gelar sang dewi setelah kepalamu lepas kutebas."

Halilintar berkali-kali menyambar. Hujan menderas. Suhu udara terjun bebas.

"Madara," panggilnya lembut. "Aku ke sini untuk Izuna."

"Izuna nggak butuh bantuanmu." Ujung kunai kembali ke pembuluh besar di leher jenjangnya.

"Setidaknya … setidaknya ambillah obat-obatan—"

Napas Madara hangat di telinganya. "Tanganmu sudah berlumur darah puluhan mayat Uchiha. Menambah setetes lagi tidak akan ada bedanya, Hashirama." Cara lelaki itu mengucapkan namanya bagai mengutarakan kata terburuk yang pernah ada dalam sejarah manusia. Kata penyandang seribu macam makna kejahatan.

Dadanya naik-turun dengan cepat. "...Tapi Izuna adikmu."

"Apa bedanya dengan keluargaku yang lain?"

"Kamu sahabatku."

Angin berderu-deru melontarkan hujan ke wajah Hashirama yang tak terlindungi. Ia memejamkan mata, menahan sensasi kulitnya ditusuk-tusuk tetesan dingin.

Darah menetes dari lehernya seiring dengan lepasnya tawa Madara. "Sinting!" Kegembiraan absen dari tawanya. "Lukanya parah. Cepat atau lambat adikku pasti—"

"Aku serius!" teriaknya mengalahkan derasnya hujan. "Makanya aku segera—"

"Berlututlah."

Hashirama mematuhinya, perlahan menurunkan lutut sampai menyentuh lantai kayu yang lembap. Madara mundur, mengitarinya hingga mereka berhadapan. Kunainya masih teracung ke leher wanita itu. Kilat yang sesekali pecah menegaskan fitur wajah Madara. Pola sharingan-nya tidak biasa.

"Mata ini tidak kudapatkan cuma-cuma. Ada tanggung jawab datang bersamanya, yang kaurampas dan kauinjak sedikit demi sedikit."

Ia menatap pergelangannya. Ada kegoyahan di persendiannya.

Bilah kunainya mendorong dagu, memaksanya menengadah. "Cukup jukai koutan dari jauh, dan seluruh Uchiha habis tak bersisa. Tak perlu repot-repot permisi."

"Kubilang bukan itu tujuanku."

"Bagiku kau tidak serius!"

Jika mereka berlama-lama adu mulut, ia akan kehabisan waktu. Hashirama menghindari ujung kunai, menghantamkan dahinya ke lantai hingga bilah-bilahnya berderak hebat.

"Aku mohon, Madara!" pintanya nyaris putus asa. "Izinkan aku menyembuhkan Izuna!"

Sunyi. Sahabatnya bergeming.

"Dia adikmu satu-satunya, orang yang paling kausayangi! Kau akan melakukan apa saja demi menyelamatkannya! Aku tahu— aku pun begitu jika adikku sekarat saat ini…." Kalimatnya menggantung. Pikiran bahwa Tobirama yang saat ini menderita seperti Izuna mengiris hatinya.

"Kematian adalah kehormatan tertinggi bagi Uchiha," ujarnya dingin. "Mengapa aku harus mencegahnya mencapai titik itu, apalagi dengan bantuan Senju sepertimu?"

"Apa kamu sungguh menginginkan Izuna mati…?"

Kunai dihunjamkan ke lantai, begitu dekat dengan ubun-ubunnya.

"Kamu sendiri," bisik Madara, suaranya dekat dan pelan, "apa kamu sungguh ingin menolongnya? Setelah bertahun-tahun membunuhi kami, setelah begitu banyak klan Uchiha mengkhianatiku—"

"Aku sungguh-sungguh," jawabnya yakin, "karena aku masih percaya impian kita tidak mustahil terwujud."

Ia sudah mengerjakannya sampai sejauh ini. Jika Izuna meninggal, segalanya akan sia-sia.

Jika Izuna meninggal, Hashirama akan kehilangan Madara.

Anggota klan Uchiha yang pindah ke pihaknya tetap akan mendapatkan tempat tinggal baru yang berdampingan dengan Senju. Ada cukup pangan dan naungan bagi semuanya. Namun, tanpa Madara semuanya tidak akan sama.

Kakak masih terus saja memprioritaskan Madara daripada keluarga sendiri!

Keluarganya tidak akan apa-apa ditinggal barang sebentar. Madara lebih membutuhkannya saat ini. Suatu hari nanti, adik semata wayangnya pasti paham.

"Pungut semua obatmu." Kunai di hadapannya dicabut. "Aku bersumpah— jika adikku mati dalam perawatanmu, kubunuh kau saat itu juga."

Tangan Hashirama gemetar bukan karena dingin ketika ia mengikatkan buntalannya kembali. "Aku janji, Madara. Akan kuusahakan yang terbaik."

"Siapa saja yang tahu kau ada di sini?"

"Tobirama. Dan anak Uchiha yang kutanyai jalan— tapi dia sudah janji akan tutup mulut."

"Jangan katakan soal ini pada siapapun lagi." Madara berbalik, menyuruhnya berjalan di depan.

Gerimis menipis, memberi jalan bagi keduanya untuk meninggalkan kuil. Ujung kunainya tak pernah jauh dari tengkuk Hashirama. Perkampungan Uchiha senyap selain tetesan air dari ujung-ujung batang rumput yang menyusun atap rumah. Juga tidak ada pelita. Semuanya diselubungi kegelapan. Beberapa rumah yang mereka lewati sudah dirambati tanaman dan gulma, seolah sudah lama ditinggalkan meski belum sehari terlewat dari pertempuran terakhir mereka.

Mereka berhenti di sebuah rumah yang tidak tampak berbeda dengan rumah lainnya. Pintu-pintu shoji-nya masih utuh, dan ada beberapa alas kaki diletakkan di depan undakan. Sandalnya sendiri ia sembunyikan di bawah alas rumah. Setelah masuk ke dalam ruangan yang gelap dan lembap, Madara memberinya isyarat untuk bersembunyi di sebuah lemari tak jauh dari pintu. Hashirama berjongkok di dalam ruang sempit itu, mengeringkan diri dengan sedikit suiton sambil menunggu.

"Nah?"

Ada suara perempuan dewasa menyambutnya. Balasan Madara terucap keras-keras.

"Dewa dan leluhur kita sudah memberiku jawaban, Bibi."

"Tunggu apa lagi—"

"Sang Leluhur melarangku menyelesaikan ajal Izuna."

Seketika ia teringat pada dupa-dupa yang menyala di kuil.

"Yang benar saja!" suara perempuan pertama itu berseru tak percaya. "Mana pernah ada—"

"Ada." Langkah-langkah mendekat. Sebuah pintu digeser kasar. "Izuna akan berjuang sendiri, hidup dan mati. Bibi keluar saja. Kakek Tatsu juga."

Suara lain menimpali, maskulin dan serak, "Aku satu-satunya penyembuh di sini…."

"Keluar."

Nada suaranya final. Si wanita menggerutu tak jelas, langkah-langkahnya tegas. Kakek Tatsu menyeret kakinya di sepanjang ruangan sampai di undakan luar. Tak lama kemudian terdengar suara slot kunci pintu digeser menutup. Lalu, pintu lemarinya membuka.

Satu-satunya pelita di rumah itu adalah sebatang kecil lilin di dalam kamar utama. Dua buah futon tipis ditumpuk jadi satu. Sebuah selimut tua berlubang menutupi tubuh kurus yang terbaring di atasnya. Cahaya lilin hanya jatuh di bagian tengahnya. Pada bagian luka.

Izuna tertidur, napasnya teratur.

"Jangan bengong."

Hashirama berlutut dan mulai bekerja. Selimut disibak, dan bau anyir darah langsung merebak. Lukanya masih menganga. Torehan hiraishin-giri Tobirama biasanya cukup dalam, tapi yang ini tidak. Kulit di sekitar lukanya juga tidak terasa panas. Penyembuh laki-laki tadi pasti sudah memberi pertolongan pertama. Pendarahannya juga tidak sederas tadi siang.

Kedua telapak tangannya berpendar kehijauan. Jaringan dan pembuluh menganga perlahan menyatu kembali di hadapannya. Kecepatan penyembuhannya lambat. Izuna tidak mendapatkan cukup gizi….

Hashirama tidak bisa mengenyahkan pikirannya dari percakapan yang tadi ia dengar. Jika ia mengurungkan niatnya atau menunda kepergiannya, semuanya sudah terlambat.

Hujan masih menerpa atap, kembali deras melanda.

Shinobi lahir untuk membunuh. Semua orang lahir memegang prinsip itu di tangan kanan dan senjata di tangan kiri. Kenyataannya mereka melaksanakan perang atas keinginan orang yang tak pernah merasakan konflik berdarah. Lihat betapa cepatnya semua anggota klan Uchiha meninggalkan hidup lama mereka setelah Senju menawarkan pilihan untuk hidup di luar kekuasaan para daimyo.

Kredo yang mereka anut hanyalah pembenaran semu atas semua pertumpahan darah ini.

Kedua matanya memanas, dan pandangannya mengabur. Dibiarkannya air matanya meleleh jatuh karena kedua tangannya tidak boleh bergerak sedikit pun dari luka. Cakranya mengalir deras membantu penyembuhan. Memaksa tubuh Izuna menjahit robekan besar itu. Isakannya keluar meski sudah ditahan-tahan.

Sesuatu yang kasar menyentuh pipinya, menyeka kedua jejak basah itu hingga tak bersisa. Hashirama melirik ke kanannya, menemukan wajah Madara yang cemberut. Ia mengerjap, lalu mundur perlahan.

"Sia … pa…?"

Madara pindah ke sisi kiri adiknya yang menggeliat bangun. Ia menopang punggungnya, dan menawarinya minum. Wangi madu menguar dari gelas tembikar kecil yang ditempelkan pada bibirnya. Sehelai kain terjatuh ke pangkuannya.

"Kak, siapa di situ…?" Izuna bertanya lagi. Kepanikan samar mewarnai kata-katanya.

Madara kembali menyelimutinya. "Cuma Kakek Tatsu. Kembalilah tidur."

Izuna tersengal. "Kakek … tangannya cuma satu…."

Keringat dingin meluncur di pelipis Hashirama. Ia butuh kedua telapak tangan untuk menutup lukanya. Haruskah ia bersembunyi di balik selubung genjutsu?

"Lihatkan … lihatkan untukku…."

"Ssh."

Hashirama kehilangan nyali melirik.

"Ngapain dia di sini….."

"Tekan kainnya." Madara menurunkannya kembali ke futon. Protes Izuna semakin lama semakin tak jelas. Terlelap.

Hashirama menyipitkan mata. Hampir selesai. Tinggal sedikit jaringan otot dan kulit. Punggungnya terasa gatal, tetapi ia tidak berhenti untuk menggaruk.

"Arg—!"

Konsentrasinya buyar. Madara menjauh dari adiknya, memegangi kedua matanya sembari merintih.

"...Madara?" panggilnya lirih.

Pria itu memunggunginya, terhuyung menuju pintu. Hashirama buru-buru menutup luka Izuna dengan perban dan selimut meski belum selesai menyembuhkannya. Ia menyeberangi ruangan sebelum Madara sempat keluar. Pergelangannya mengejang ketika Hashirama menyentuhnya.

"Jangan—"

"Sini…."

Ia berkilah lagi, "Nggak usah— argh!" Kedua matanya berair, tidak bisa utuh membuka.

"Nggak apa-apa…." Hashirama menempelkan tangannya pada kedua sisi wajah Madara, meski ia masih terus berusaha melawan. Ibu jarinya menyeka kedua kelopak mata, permukaannya berpendar kehijauan. Perlawanannya berhenti.

Bibirnya membentuk suku kata namanya. Jemarinya menggenggam kedua pergelangannya. Di bawah sentuhannya, kelopak-kelopak mata membuka.

Dua pasang iris gelap bertemu.

Mata lelaki itu jernih.

"...Sudah baikan?"

Madara hanya mengangguk kecil.

Keduanya beranjak kembali ke sisi kanan Izuna. Ia membuka selimut memperlihatkan hasil kerjanya. Kedua tangannya bersiap melanjutkan penyembuhan, tetapi Madara menahannya.

"Sudah cukup," katanya sambil menarik pergelangannya mundur. "Dia bisa sembuh sendiri."

Hashirama menatap wajah Izuna, tetapi mendapati separuhnya tersembunyi di balik sehelai kain. "...Matanya mengapa ditutupi?"

Genggaman Madara mengerat. Hashirama teringat pertempuran mereka tadi siang, dan bagaimana itu berakhir. Matanya saat itu tidak apa-apa.

"Dia … kalian—" Suaranya tercekat. "Ka, kamu…."

"Tidak ada kekuatan yang gratis, Hashi," katanya pahit.

Perasaannya berkecamuk. Tangan dalam genggaman Madara menghadap ke atas, lalu saling menautkan jemari mereka hingga membentuk segel ular.

"Kita sudah berhenti berperang." Hashirama meletakkan tangan kanannya di atas segel itu. "Dulu … dulu kita punya cita-cita itu, 'kan? Tidak saling bunuh, tidak lagi mempertaruhkan nyawa adik-adik kita…."

Ia mendengus meremehkan. "Menurutmu begitu?" bisiknya. "Siapa yang menang dalam pertempuran ini?"

"Tidak ada."

Bibir Madara perlahan membuka. Kedua matanya melebar.

"Kita semua kalah."

Kedua bola matanya bergerak-gerak cepat, meneliti wajah Hashirama.

"Coba pikirkanlah," ia melanjutkan. "Waktu dan tenaga yang kita buang selama ini untuk saling bunuh bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Mencari cara … agar tidak tergantung pada daimyo, misalnya."

Sepatah tawa hampa, tak serupa dengan tawanya di kuil, lepas tanpa suara. "Sinting."

"Aku tahu," Hashirama mengiyakan, tak tahan untuk turut tersenyum. "Ingat tempat di balik tebing dulu? Hutannya sudah dibuka…." Ia menceritakan tentang pemukiman baru itu sambil separuh berbisik. "Semua Uchiha membantu kami membangunnya. Ikutlah ke sana."

Madara menatap adiknya. "Tidak akan ada yang mau menerima kami."

"Aku mau."

"Cuma kamu—"

"Aku akan menjamin kalian berdua."

"Hashi, keluargamu membenciku." Dahinya berkerut, bagai menahan sakit tak kasatmata. "Kerabatku mengkhianatiku. Aku orang terakhir yang ingin mereka lihat turut tinggal di sana."

"Mereka akan menerimamu pelan-pelan." Ia menunduk menatap pangkuannya. "Aku nggak bisa melakukan ini sendirian. Aku butuh kamu juga. Kumohon…."

Madara menarik lepas tangannya. Hashirama tidak menahannya.

"Akan kubicarakan dengan Izuna nanti," katanya tanpa menatap wanita itu. "Keluargaku tetap prioritas utamaku. Jika impianmu membahayakan kami, aku tidak akan segan bertindak."

Senyuman lega terulas di wajahnya. "Terima kasih—"

Semesta mendadak senyap. Segala pergerakan di bawah kolong langit bagai mereda. Tubuhnya dibanjiri adrenalin, gemetar seperti berada di tengah gelora pertempuran.

Bukan— ia memang berada di gelora pertempuran. Setidaknya, sampai sedetik lalu. Gema jeritan dan teriakan masih menggetarkan gendang telinganya. Derap langkah keluarganya, para tawanan, dan segala macam hewan penghuni hutan-hutan Senju serasa masih mengiringinya.

Di hadapannya, menjulang sesosok merah di tengah lautan api, maju berderu-deru menelannya—

"Hashi?!"

Hashirama terhenyak, dan ia kembali dalam temaram kamar di kediaman Madara. Kedua lengannya dicengkeram. Napasnya memburu, keringatnya mengucur deras.

"Mo, mokubunshin-ku … mati terbakar…."

Ia harus pulang.


.

.

"Ini ide Permaisuri. Beliau suka sekali mendengarkan musik. Setiap tahun musisi dari Hanamaru dipanggil untuk bermain di sekeliling kastel."

Jawaban Uzumaki Ashina atas basa-basinya tidak menenangkan kecamuk di hatinya. Hashirama bersua dengannya ketika kembali ke kastel utama. Di sana-sini para pelayan menyiapkan dekorasi untuk pesta puncak malam ini: menyaksikan purnama musim gugur. Tetamu bangsawan pun berangsur-angsur kembali, baik sendirian maupun dalam kelompok kecil, untuk berganti pakaian.

"Tapi Hashirama-chan tidak mendatangiku untuk bertanya soal mereka, bukan?"

Hashirama hanya meringis di bawah tatapan hangat Ashina, mendadak merasa bersalah. "Tidak, Kakek."

"Bagaimana Nobuo?" tanyanya tiba-tiba.

"...Baik." Hashirama tidak punya jawaban lain. "Hanya tidak menyangka dia jadi berbeda sekali sekarang."

"Lama berguru dengan Shigenobu mengubahnya." Ashina berjalan bersamanya menyusuri halaman belakang kastel. "Aku sengaja menaruhnya di istana agar ia belajar banyak tentang dunia di luar pulau kecil kami. Tahukah kau jika Nobuo adalah salah satu pengawal elit Kaisar?"

"Bukannya pengawal Yang Mulia hanya samurai?"

"Memang, sampai Nobuo lulus ujiannya."

Mereka berhenti. Empat orang pelayan lewat menyangga sebuah pot bonsai besar dengan bilah kayu di bahu mereka. Pelayan lain memberi aba-aba untuk maju dan berhati-hati, serta meminta orang lain menyingkir dari jalannya.

"Jika kamu menerima tawaran kami dulu," Ashina melanjutkan dengan senyuman lebar, "aku pasti sudah punya cicit sekarang. Kau akan tinggal di istana juga, dan berlibur di Uzushio setiap musim dingin."

Langkah kakinya terhenti.

"Kakek Ashina, bagaimana kalau besok pagi kita membicarakan soal itu?"

Tatapannya seketika berbinar-binar. "Pernikahan? Oh rikudou sennin! Tentu saja!"

Hashirama cepat-cepat menggeleng. Alis tebal Ashina menukik.

"Saya ingin membatalkan pertunangan saya dengan Nobuo." Kata-kata itu meluncur keluar dengan berat dari lidahnya. Ia tak pernah bisa tahan melihat ekspresi kekecewaan.

"Batal? Mengapa?" Ashina ganti bertanya. "Apa jalinan kekerabatan kedua klan kita sudah sebegitu rusaknya? Atau kau sudah tidak membutuhkan klan Uzumaki lagi?"

"Saya sudah menerima lamaran orang lain, Ashina-san." Hashirama memelankan suaranya. Siapapun yang berseliweran di halaman bisa mencuri dengar percakapan ini.

"Uchiha itu, 'kan?" Ia mendesah panjang, memegangi dada kirinya. "Sampai dua tahun yang lalu kalian masih berseteru. Butuh seabad lagi sampai seorang Senju dan Uchiha bisa bersatu di pelaminan. Memangnya keluargamu setuju?"

Kakak sengaja.

Hashirama mendorong wajah terkhianati Tobirama dari benaknya. "Kita bicarakan besok pagi saja."

"Jangan buat ayahmu kecewa," ujarnya sebelum membalikkan badan.

Lama ia menatap punggung Ashina yang menjauh. Arah yang ia tuju juga sama dengannya, maka Hashirama bergeming di lapangan untuk menghindari kecanggungan.

Besok pagi, dan ia akan bisa bernapas lega.

Akhirnya ia menapak arah menuju kamarnya, tetapi langkah-langkahnya begitu berat. Digelayuti keengganan. Ia tadi berpisah dengan Permaisuri Akiko dan bangsawan lainnya karena mereka ingin beristirahat sebelum acara malam nanti. Ia berpapasan dengan Uzumaki Ashina ketika menuju kastel, dan seketika timbul niatnya membicarakan pembatalan pertunangan itu.

Tapi bagaimana caranya? Kompensasi apa yang harus mereka bayar? Seluruh sokongan finansial Uzumaki, yang kata Paman Azami melebihi emas sebanyak lima gunung? Apa itu harga untuk mokuton-nya?

Ruwet sekali. Perutnya mulai keroncongan. Namun, ia tidak bisa makan sambil gelisah begini. Ia harus menemukan Madara dulu.

Lapangan luar tempat mereka tiba kemarin dikelilingi paviliun individual kecil identik. Bangunannya berlantai satu dari kayu dengan genting tanah liat hitam. Suasana pesta sudah terasa di sini. Lentera-lentera kertas dinyalakan, pendarannya lembut di bawah langit yang merah gelap. Sebuah paviliun di ujung deretan tampaknya berfungsi sebagai dapur. Pelayan-pelayan mondar-mandir membawakan makanan harum menggoda selera. Auranya tidak seformal di dalam kastel utama. Sebagian pintu paviliun terbuka lebar, sehingga Hashirama bisa melihat penghuninya. Sudah ada yang riuh berpesta duluan, lengkap dengan para oiran yang menemani. Botol-botol sake diedarkan mengiringi riuhnya tawa.

Memeriksa semua paviliun tentu memakan waktu, apalagi banyak yang pintunya tertutup rapat. Hashirama menanyakan lokasi paviliun yang ia cari kepada salah satu pengawal, lalu beranjak ke sana. Letaknya di ujung deret, tersembunyi dari pandangan karena ditutupi sepetak pinus dan tanaman berdaun keunguan.

Di depan undakannya, terletak sepasang sandal perempuan bertalikan indah. Ada percakapan berlangsung di dalam. Pelita sudah dinyalakan, menciptakan siluet sosok yang jelas bukan Madara di pintu shoji. Tawa sopan feminin nan lembut mengalir dari celahnya.

Yang segera disusul oleh suara Madara sendiri. Ia juga tertawa.

Hashirama berjingkat mendekat, berlutut di undakan. Perlahan digesernya pintu untuk mengintip. Keduanya duduk dipisahkan meja rendah. Tidak salah lagi, itu salah satu musisi yang tadi siang melintas di seberang danau kecil. Kimononya biru pupus dengan motif putih. Profil wajahnya yang tirus keriput sekilas terasa familier—

Kedua pintu itu membuka lebar-lebar. Sepasang kaki telanjang menggantikan pemandangan di dalam.

"Kamu datang tepat waktu." Madara tersenyum lebar sambil membantunya berdiri. "Kami baru saja membicarakanmu."

Hashirama menatapnya dan wanita itu bergantian. Senyuman di wajah Madara tampak nyaris permanen. Ia belum pernah melihatnya sebahagia ini; bahkan saat ia memberitahukan kehamilannya.

Wanita itu beranjak berdiri, ekspresinya menampakkan kebahagiaan yang membuncah. Kedua matanya agak bengkak seperti habis menangis. Rambutnya yang digelung dihiasi beberapa helaian kelabu. Ia mengamati wajah Hashirama, meraih sisi wajahnya dengan tangan kurus gemetaran.

"Kamu benar," katanya. "Dia cantik sekali..."

Madara merangkul Hashirama erat-erat, dan mencium sisi kepalanya. "Omong-omong, Ibunda akan jadi nenek sebentar lagi."

"Eh?" Kedua wanita itu berseru kaget bersamaan.

Ibunda? Nenek?

Jadi musisi ini—

Isakan tajam meluncur dari bibir wanita paruh baya itu. Ia menekap mulutnya, matanya kembali berkaca-kaca. Hashirama memegangi kedua lengannya, merasakan kedua matanya sendiri turut memanas.

Mereka berpelukan, menangis bersama-sama.


.

.

Ibu Madara menolak ajakan keduanya untuk tinggal mengobrol di paviliun karena ia harus kembali bekerja memeriahkan pesta, menyanyi diiringi rekan-rekannya. Mereka berjanji untuk bertemu keesokan harinya.

Setelah pintu-pintu kembali menutup, Madara sama sekali tak bisa melepaskan Hashirama. Pelukannya erat dari belakang. Wanita itu masih dibanjiri keterkejutan dari pengungkapan barusan. Ia tak pernah mengira ibu sahabatnya ini ternyata bekerja begitu jauh dari perkampungan lama Uchiha. Madara tidak pernah bercerita, dan ia sendiri tidak pernah bertanya.

"Pestanya pasti sudah mulai," bisik Hashirama. Kepalanya disandarkan ke ceruk di antara leher dan bahu Madara.

"Biarkan saja. Kalau cuma bulan, dari sini juga kelihatan…."

"Iyakah?" Hashirama menegakkan diri. "Aku ingin lihat."

Madara menyampirkan kembali pakaian Hashirama di bahunya, lalu mendahuluinya membuka sepasang pintu fusuma. Di baliknya terdapat kamar tidur. Gunbai-nya bersandar di dinding, di sebelah zirah merah Madara. Pintu shoji di sisi seberangnya membuka pada pemandangan terindah yang pernah ia lihat.

Jauh di bawah mereka adalah jurang penuh batuan runcing yang tegak seperti sekumpulan gigi taring raksasa. Permukaan mereka kasar keperakan. Di sela-selanya terdapat pohon-pohon berbatang gelap dan berdaun semerah darah. Semuanya berpendar ditimpa temaram cahaya purnama. Pemandangan ini sungguh berbeda dari saat mereka menapak tangga panjang dua hari lalu.

"Ini luar biasa," desah wanita itu kagum. Ia mencondongkan tubuhnya di pagar balkon. "Jauh lebih indah daripada taman-taman kastel."

"Mm." Madara memeluknya lagi dari belakang seraya mengeratkan ikatan pakaian Hashirama. "Anginnya kencang di sini. Duduk di dekat dinding saja." Ia sudah membawakan beberapa jeruk mungil keluar.

Hashirama mengambil sebutir dan mulai mengupasnya. "Kamu dan ibumu … tadi membicarakan apa?"

"Ibuku sudah jadi ibumu juga, ingat?"

Jemarinya berhenti bekerja. Ia mengerjap.

"Di sini aman." Madara melemparkan seiris jeruk ke dalam mulutnya. Ia terdiam cukup lama sebelum berkata, "Orang tuaku berpisah."

Sejenak Hashirama mengamatinya. Ekspresi Madara tak ubahnya seperti biasa, tetapi ia menemukan kejanggalan-kejanggalan kecil. Ujung alisnya lebih menurun, dan kelopak matanya lebih tertutup. Bibirnya tidak rileks, melainkan sedikit tertarik ke sisi menunjukkan kepahitan tersembunyi di batinnya. Minatnya memakan jeruk kentara telah menguap, dan kegiatan itu dilakukan semata-mata untuk menyibukkan dirinya.

Hashirama meluruskan kaki, memastikan ujung-ujung hakama-nya menutupi jari kaki, dan menepuk-nepuk pahanya. Madara membaringkan diri, kepalanya di paha Hashirama.

"Ibuku dibunuh bandit," gumamnya. "Adik bungsuku masih bayi waktu itu."

"...Yang nantinya terbunuh di konflik?"

"Ya."

"Sama dengan dua adikku." Madara melempar kulit jeruk melewati celah balkon. "Tapi yang terkecil meninggal karena demam tinggi. Ibu tidak bisa berhenti menangisinya sampai Ayah tidak tahan di rumah … mendengarnya berlama-lama menangis…."

Hashirama menyisiri rambutnya dengan tangan, menyibakkan poni yang selalu menutupi separuh wajah lelaki itu.

"Sampai akhirnya ketika Ayah dan aku pergi dalam misi. Izuna kami tinggal, sakit. Ibu pergi membawanya menembus malam. Ayah mencegatnya dan mengambil Izuna kembali. Lama aku memikirkan mengapa Ibu tak pernah kembali lagi … sampai saat aku diberitahu tentang protokol perpisahan."

"...Apa itu?"

"Ibuku bukan dari dalam klan. Maka ketika beliau pergi, Ayah menaruhnya dalam genjutsu agar beliau tidak membocorkan informasi klan. Kasarnya, sejak itu Ibu lupa pernah berkeluarga dan punya anak."

"Bagaimana bisa—?"

"Kamu tahu sendiri bagaimana klan shinobi bekerja, Hashi."

Ia tahu, sungguh, tetapi benaknya tidak bisa menerima sesuatu sekeji ini. Betapa malangnya harus melupakan darah daging sendiri….

"Tapi genjutsu-nya sudah dicabut…?"

Ia mengangguk. "Barusan. Kubilang pada beliau kalau Izuna masih hidup, dan kami tinggal di Konoha sekarang. Saat itulah kamu tiba di sini."

Hashirama mengelus pipinya. "Ibunda harus tinggal di Konoha."

"Aku sudah menawarinya." Madara meletakkan separuh jeruk mungil di bibir Hashirama, yang langsung ia lahap bulat-bulat. "Beliau pasti senang bersedia. Akan ada yang membantumu mengurus bayi nanti."

"Mmhm!" serunya gembira di antara kunyahan. Namun, kilasan wajah berjenggot muncul di pikirannya. "Aku tadi bertemu Ashina-san," katanya setelah menelan separuh jeruk itu. "Besok kita akan membatalkan pertunangannya."

"Bagus." Madara menyeringai lebar. "Aku jadi tidak sabar mau pulang."

"Aku juga." Hashirama tersenyum jail. "Aku tidak menyesal berbalik arah waktu mendengarmu di hutan waktu itu."

"Kapan— oh. Sialan—!"

Ia tergelak-gelak menyaksikan wajah Madara bersemu merah. "Tapi benar, 'kan? Kalau nggak, aku nggak akan tahu—"

"Hashi, cukup, nggak usah diceritakan lagi—!"

Ia berkelit menghindari tangan Madara yang berusaha membungkamnya. Tawanya perlahan pupus seiring habisnya napas Hashirama. Sembari menyeka sudut matanya yang berair, ia mengangkat wajahnya ke langit yang bersih tak berawan. Perasaan bahagia masih membuncah-buncah di hatinya, memenuhi dirinya dengan getar sayap seribu kupu-kupu dan semerbak bunga-bunga mekar.

"Malam ini bulannya cantik, ya," komentarnya dengan wajah diturunkan.

"Ya, sudah kubilang, 'kan?" Madara lalu memerhatikan bahwa Hashirama tak lagi menatap langit. "Mengapa menatapku terus…?"

Ia tidak menjawab. Hanya sekali matanya mengerjap.

"Bulannya di sana … ah." Kebingungannya berganti dengan pemahaman. Madara beringsut, memiringkan dan mendekatkan tubuhnya hingga wajahnya begitu dekat dengan tubuh wanita itu. Matanya terpejam ketika ia berbisik, "Aku bersedia mati demi kalian." Lalu diciumnya abdomen Hashirama.

"Hiduplah selama mungkin denganku, Madara," balasnya sambil menautkan jemari mereka membentuk segel ular.

Besok, dan mereka hanya perlu pulang untuk menuntaskan kesalahpahaman.


.

.

Hashirama menguap lebar-lebar. Suhu udara telah menurun drastis, tetapi ia dan Madara tertidur pulas di balkon paviliun yang menghadap jurang bertabur batuan runcing. Gemetaran, ia segera membangunkan Madara dan mengajaknya masuk.

"Kamu juga ketiduran...?" tanyanya.

"Ugh … iya." Hashirama bertumpu pada dinding untuk bangun. Punggungnya gatal. Ia masuk duluan, buru-buru menginjak futon yang hangat sebelum jari-jari kakinya mati rasa.

"Hashi." Madara menutup pintu ke balkon setelah menyusulnya. "Kamu menjatuhkan sesuatu." Di tangannya terdapat secarik kertas yang telah diremas kusut.

"Hm?" Ia mengambilnya, kebingungan. "Aku tadi nggak bawa kertas…."

Setelah kertas itu diratakannya, terlihat lima buah kode terpampang. Kode pertama dan kedua adalah nama mereka berdua.

"Madara, ini—!"

Sharingan-nya menyala-nyala, menyusuri seluruh permukaan kertas. "...Asli," bisiknya.

Karena itulah punggungnya gatal sedari tadi. Segel hiraishin-nya baru saja bekerja menerima kiriman pesan darurat dari Konoha.

Ketiga kode lainnya masing-masing mewakili satu kata:

Adik.

Sekarat.

4.

Mereka harus pulang.


.

.

there are approximately 4 chapters left, each from different POV

might be slower update in the future, new term just started

thanks for reading :)

PS: an anon asked in review whether i'll make madara leave konoha like in canon or stay in the village. the answer is yes.