hi thank you everyone who've waited for this chapter. who ordered some tobiizu?
recommended bgm: kings of convenience - misread & live long; for battle scenes just listen to Lord of The Rings bgm lmao
revised 06092018
.
.
Usianya sebelas tahun, dan Tobirama lelah mempertanyakan nasib.
Butsuma maju dengan pedang terhunus, bilahnya segera beradu dengan pedang milik Hashirama. Gadis itu menangkis dan menghindar secepat kilat, tetapi serangan ayahnya segera menyusul. Meski tak satupun berhasil didaratkan, kentara Hashirama mulai kewalahan. Mereka tak berhenti berlatih sejak tiga hari terakhir, hanya beristirahat ketika malam terlalu larut. Dua hari lagi mereka akan maju berperang mengatasi gerombolan bandit gunung di ujung lain wilayah Matsudaira. Yang membuatnya berbeda, kali ini Hashirama akan turut serta mengamati jalannya pertempuran. Namun, tidak di garis depan. Walau demikian, Butsuma tidak ingin menunda pelajaran kenjutsu-nya.
Berkelit, berkelit, tangkis. Hashirama tidak lagi membeku di tengah pertarungan. Matanya terus terbuka, berpindah-pindah dari bilah pedang Butsuma ke langkah kakinya.
Sementara mereka latihan di halaman rumah, Tobirama memindai selasar terbuka tempatnya bekerja dengan kertas dan kuas pada sehelai kertas panjang. Ada bekas-bekas lipatan berbeda arah yang membaginya menjadi segmen sama luas. Tiap segmen berisi tulisan tangannya, lengkap dengan diagram dan sketsa tentang mokuton. Semua catatannya tertulis rapi. Setelah tinta di segmen terakhirnya kering, ia bisa melipatnya sampai kecil.
"Berhenti!"
Hashirama jatuh berlutut, terengah-engah. Ikat kepalanya ia tarik lepas sebelum tubuhnya ambruk. Butsuma menyarungkan pedangnya, gusar.
"Lamban!" bentaknya. "Masih terlalu lamban! Mokuton-mu sama sekali tidak keluar!"
Saudarinya mendorong tanah, membuat dirinya duduk. "Aku nggak bisa pakai segel, Ayahanda, selama masih pegang pedang," jawabnya dengan kepala tertunduk. Peluh membasahi seluruh wajahnya.
"Alasan!" bentaknya sambil memukul tangan kanan Hashirama. Pedangnya terjatuh berkelontang. "Lain kali lempar saja! Jauhkan!" Butsuma memunggunginya. "Istirahatlah— kita latihan lagi besok pagi!" Ia melirik kertas-kertas di sisi Tobirama. "Jangan lupa membaca lagi catatanmu!"
"Baik, Ayahanda!"
Tobirama segera pergi mengikuti ayahnya setelah memastikan lilin berada cukup jauh dari semua kertas itu. Hashirama sering tertidur sebelum selesai membaca, meninggalkan lilinnya menyala sampai habis. Di rumah yang gelap dan dingin, ia membantu Butsuma menanggalkan zirahnya.
"Sudah berapa lama sejak insiden di sungai itu?"
"Dua musim lalu," jawab Tobirama cepat, tahu persis insiden apa yang dimaksudkannya.
"Jangan sampai Hashirama bengong dan muntah di tengah pertempuran. Apalagi saat melawan Uchiha nanti." Butsuma melepas kedua sode-nya. "Hilang mukaku jika Tajima sampai tahu dia tidak berdaya di depan Madara. Hilang nyawa kita nanti."
"Jika aku atau Ayah dalam bahaya, Kakak bisa bertarung lebih baik." Tobirama menumpuk rapi semua bagian zirah Butsuma di sudut ruangan. "Prioritasnya tetap menjaga kita dari cedera."
Butsuma mendengkus lelah. Ia memberi isyarat agar Tobirama mengikutinya ke ruang tengah yang hangat. Bara di tengah tungku masih berpendar merah dan jingga, memberi penerangan temaram. Mereka berhenti di sebuah pilar kayu besar yang tingginya mencapai rangka-rangka atap. Tebalnya sepelukan orang dewasa. Sejak lahir ia sudah melihat pilar ini berdiri, dengan pondasi kayu yang menjaganya agar tidak jatuh. Bagian bawahnya tertanam menembus lantai, langsung ke tanah. Di pangkal pilar, terlihat bekas-bekas pembusukan dan pengerikitan. Rongga-rongga hasil gigitan rayap membuat bayangan aneh di lantai. Sedangkan di atas, pilar itu terpotong kasar seperti tusuk gigi yang dipatahkan jadi dua oleh seorang raksasa. Bekas kerusakan itu dibiarkan begitu saja sehingga tidak ada struktur lain yang tersambung ke atasnya.
"Tahu ini apa?"
"Pilar dari rumah utama lama yang dibawa pindah … 'kan?" Keraguan menyelip di akhir jawabannya.
Butsuma menyentuh permukaannya yang halus dipelitur, kepalanya menengadah. "Di rumah yang dulu, pilar ini satu-satunya penyokong atap. Semua rumah Senju dulu dibangun seperti itu. Sebuah simbol mokuton yang melindungi semua anggota klan Senju."
"Kita sudah tidak memakai struktur ini selama bertahun-tahun, Ayahanda. Mengapa diganti?"
"Memang tidak." Tatapannya menurun. "Kerusakan pada pilar utama dapat merobohkan rumah dalam sekejap. Atap saat ini disokong oleh beberapa pilar kecil dan dinding. Lebih stabil."
"Apa pilar utama ini tidak lagi dibutuhkan?" Di bagian atas, jelas pilar itu tidak tersambung pada struktur apapun sebagai penyangga.
"Hus!" tegur Butsuma keras. "Sebuah rumah Senju tidak lengkap tanpa pilar lama. Rumah kita membutuhkannya seperti kita membutuhkan mokuton. Kau dan semua kerabat kita yang menjadi dinding dan pilar-pilar kecil lainnya, agar Hashirama tidak roboh."
Tobirama meliriknya.
Karena itukah Ayah menamainya Hashirama…?
Seolah bisa membaca isi pikirannya, Butsuma berkata, "Dari lahir cakra kakakmu sudah terasa kuat. Tidak lazim. Ia simbol sempurna bagi Senju, bukan? Masa depan klan kita akan lebih cerah begitu dirinya matang."
"...Ayah tahu Kakak punya mokuton sejak lahir?"
Butsuma menggeleng. "Sampai insiden itu, kami mengira anaknyalah yang akan memiliki mokuton, bukan dia." Ia menjauh dari pilar setelah memandanginya untuk terakhir kali. "Saat kau menjadi pemimpin klan nanti, kau harus terus mendukungnya agar mokuton itu bisa melindungi klan Senju selamanya— meski pun kau harus membohonginya."
"Aku mengerti, Ayahanda."
Ayahnya tersenyum puas, lalu menghilang ke dalam kamarnya. Tobirama bergeming, memandangi permukaan kayu yang telah melalui tahun-tahun panjang dalam kebisuan.
Di dalam kegelapan, terbersit sebuah ide. Mokuton Hashirama memiliki ciri cakra suiton dan doton. Dialirkannya cukup cakra ke telapak tangan, dan membentuknya sesuai elemen yang ia butuhkan. Jemarinya membentuk segel ular. Matanya terpejam sementara cakra mengalir dalam pembuluh-pembuluhnya ke ujung jemari, mematuhi perintahnya. Ketika ia mengintip, ia mendapati aliran kecil itu telah mewujud berupa sebongkah batu dalam genangan air.
Tobirama melepas segel, menatap kedua telapak tangannya. Sisa cakranya masih menggelegak di permukaan, menanti perintahnya.
Ia tidak mengerti sebabnya.
.
"Berapa banyak, tepatnya, jumlah utang kita pada klan Uzumaki?"
Senju Joji menekuni lembaran gulungan yang terbentang melebihi meja rendah itu. Bercak jelaga masih membekas di balik kertasnya yang tidak tertulisi. "Lima gunung emas tidak cukup untuk mengembalikan semuanya." Ia berdeham keras-keras. "Kasar sekali menghitungnya sebagai utang, Tobirama."
"Ashina-san memang memberikannya dalam bentuk uang, bukan?" Tatapan Tobirama menyusuri gulungan yang terbalik dari sudut pandangnya. "Jumlahnya meningkat drastis dalam tujuh belas tahun terakhir."
"Semua agar kakakmu bisa hidup aman—"
"Hanya Kakak?"
Joji mengernyitkan dahi kepada kepala klannya. "Karena ayahmu yang memintanya kepada Ashina-sama. Sejak serangan kelompok bandit yang menewaskan banyak wanita Senju, kita benar-benar kesulitan. Berperang sulit dilakukan karena banyaknya anak yatim piatu. Tidak ada yang mengawasi bocah selama kita pergi."
Angka-angkanya tidak bohong. Permintaan misi dari daimyo pun menurun sejak serangan itu. Musim dingin pun tiba lebih cepat, menggagalkan banyak panen di wilayah Matsudaira. Makanan sangat sulit didapat. Delegasi Uzumaki yang bertandang lima belas tahun lalu membawa banyak bantuan makanan dan persediaan. Namun, jumlah bantuan nonmakanan tidak berkurang drastis bahkan sampai klan Senju sudah cukup memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. Perubahan kentara baru terlihat pada catatan dua tahun lalu, ketika mereka pindah tinggal dengan klan Uchiha.
Jumlahnya sangat sedikit, dan bentuknya uang mentah.
Tobirama ingat Hashirama beberapa kali menyurati klan Uzumaki, dan berapa kali balasan yang ia terima semua bernada negatif. Mengkritiknya tentang Konoha, atau mengajaknya pindah ke Uzushio. Walaupun sebagian kecil Senju akhirnya pindah ke sana, Hashirama bersikeras tinggal.
"Sayang sekali walaupun semua langkah sudah dilakukan, kakakmu tetap saja lepas dari genggaman."
"Apa maksud Pamanda?" Tobirama melirik dari gulungan itu.
Joji sudah bersandar ke dinding, menahan gempuran batuknya yang terus menerus. "Obsesinya pada klan Uchiha; kepada pemimpin mereka."
Gerakannya berubah kaku. Namun, Tobirama terbebas dari keharusan merespons dengan terbukanya pintu rumah utama klan Senju. Pamannya yang lain, Azami, masuk memeluk guci tanah liat yang menguarkan wangi manis. Ia baru saja memanen madu. Tatapannya langsung jatuh pada gulungan di tangan Joji.
"Menghitung utang, ya?" komentarnya santai, menyeberangi ruangan untuk meletakkan guci madunya di sebuah sudut. "Selumbari Hashirama juga. Nyaris menangis setelah kubilang jumlahnya."
"Akan kuminta klan-klan lain mengembalikan uang yang mereka pinjam untuk pindah ke Konoha." Tobirama berdiri, mendadak menginginkan udara segar.
Joji memanggilnya. "Bagaimana dengan perjodohan dirimu? Ashina-sama masih punya cucu perempuan lajang."
Benaknya memberat. "Lain kali saja, Pamanda." Ia keluar sebelum kedua pamannya sempat berkata-kata lagi.
Sore menggantung. Seharusnya saudarinya sudah mencapai tempat peristirahatan pertama dan bersua dengan Madara. Yang berarti pria itu sekarang tahu Hashirama mengandung anaknya.
Obsesi rasanya terlalu kasar dan vulgar menggambarkan sifatnya, tetapi Tobirama tahu perkataan Joji ada benarnya. Kalau sudah menyangkut Madara, Hashirama bisa menjadi orang teregois yang lupa kewajiban dan tanggung jawab. Lupa urusan nyawa keluarganya, lupa keselamatan klannya.
Lupa pada keinginan ayah mereka.
Sebagus apapun kemampuan doton dan suiton seseorang, ia tidak akan bisa mewujudkan mokuton. Senju masih membutuhkan mokuton. Konoha masih membutuhkan mokuton.
Konon, darah sharingan Uchiha terlalu dominan. Mereka tidak akan kekurangan doujutsu itu. Mokuton yang langka lebih mendesak untuk diteruskan. Anak mereka hanya akan punya sharingan.…
Mungkin juga tidak; belum pernah ada pernikahan yang tercatat antara pengguna mokuton dan seorang Uchiha. Tidak ada yang sungguh-sungguh tahu kekuatan apa yang akan mewujud pada anak Hashirama dan Madara—
"Senju-sama! Hati-hati—!"
Tobirama terbenam dalam pikirannya sendiri hingga nyaris menabrak seorang pria Hyuuga yang memanggul kendi-kendi sake. Ia terpana tak mengatakan maaf selama lelaki satunya berlalu ke arah penginapan.
Urusan Hashirama bisa menanti. Konoha punya masalah lain.
Kediaman Hyuuga membentang di hadapannya. Wangi olahan sake menguar dari sisi belakangnya. Tobirama menapak lapangan berkerikil, kali ini berhasil menghindari semua orang yang membawa sake keluar. Ember-ember besar berisi cairan fermentasi berbaris-baris sampai ke ujung salah satu bangunan. Seorang pekerja yang ia tanyai menunjukkan arah ke bangunan utama.
"Mohon tunggu sebentar. Mori-sama sedang ada tamu," ujarnya, lalu menghilang ke ruangan dalam.
Tobirama mengamati struktur bangunan utama buatan mokuton Hashirama selama menunggu di bawah atap beranda. Permukaannya halus, nyaris tanpa cacat. Ia dulu bekerja seminggu dengan istirahat minimum hanya untuk menyelesaikannya.
Senandung halus memutus pikirannya. Seorang anak perempuan berjongkok di tepi kolam yang membentang tak jauh darinya, menyanyi dalam suara kekanak-kanakan kepada ikan-ikan. Rambutnya panjang dikuncir, menampakkan lambang klan merah dan putih yang tersulam di punggungnya. Anak itu mendadak menoleh, menyadari tatapan Tobirama kepadanya.
"Siang, Senju-sama." Ia menghormat sopan. Usianya pasti tidak lebih tua dari murid-murid Akademi termuda.
Tobirama menimbang-nimbang, lalu memutuskan bertanya, "Apa yang kaulakukan di sini?"
Alih-alih menjawab, ia melirik pintu shoji, yang membuka tepat saat itu.
Si pekerja muncul kembali, dan mempersilakannya masuk. Ia diantar ke sebuah ruangan kecil berhiaskan lambang Hyuuga di tokonoma-nya. Sang kepala klan duduk menghadapi catatan kecil dan sepiring camilan.
Jantung Tobirama mencelos. Bekas luka di dagunya menggatal.
Uchiha Izuna duduk di seberangnya, sedang menghirup teh hijau segar. Pintu shoji di seberang ruangan lebar terbuka, membiarkan cahaya matahari membanjiri penghuninya.
"Kami baru selesai memperkirakan suplai untuk pesta minggu depan," kata tuan rumah, menggeser kertasnya agar bisa dibaca Tobirama. "Ukyo-san bersikeras semua penduduk turut berpesta semeriah di kastel. Orang-orang jadi terlalu berharap."
Tobirama tidak langsung memperhatikan angka-angka yang tertera. Dinding cakra yang ia kenal mengenai tempatnya duduk, lalu menyurut menjauh. Izuna meletakkan cangkir tehnya dengan anggun, tidak memberi tanda ia mengetahui adanya tamu baru.
"Ini berlipat-lipat dari biaya yang dia habiskan setiap hari. Siapa yang akan membayar semua ini?" tanyanya, akhirnya memperhatikan coretan Mori. Ukyo ternyata maniak berpesta, dan menyelenggarakannya hampir setiap malam di penginapan. Sejak datang tak lama setelah serangan rubah bijuu, baru sekali Ukyo terlihat melaksanakan tugasnya berkeliling desa membuat catatan entah apa. Dua kali undangan pesta dilayangkan kepada Tobirama, semuanya ditolak karena kesibukannya di bagian riset dan pengembangan jutsu.
"Kas desa."
"Boros sekali," gerutunya. "Musim dingin sudah di depan mata." Dan meski permintaan misi terus menerus mengalir, hal itu belum dibarengi dengan kemudahan aliran barang masuk ke Konoha. Salju dapat menutup jalan-jalan ke Konoha, memutusnya dari dunia luar.
"Omong-omong," Izuna angkat bicara, dan napas Tobirama sejenak macet di leher. Ia menelengkan kepalanya. "Sampai kapan orang itu mau di Konoha? Dia tidak profesional. Kita harusnya minta pengganti ke Kaisar."
"Akan kubicarakan setelah Hokage kembali. Aku ke sini untuk hal lain," tambahnya menatap Mori.
"Kalau begitu aku permisi—"
"Anda tidak apa-apa tinggal."
Izuna bergeming sesaat, telapak tangannya mencengkeram tepi meja. Lalu, ia duduk kembali.
"Baik, soal apa ini?"
Ia menarik napas dalam-dalam. "Mori-san, klan kami memberi bantuan finansial untuk membantu Anda pindah, bukan?"
Alis kelabunya terangkat sedikit. "Itu benar."
"Kakak bilang ia memberikannya kepada klan Hyuuga," Tobirama memilih kata-katanya dengan hati-hati, "tetapi mengingat kehidupan klan Anda yang sudah stabil dan tanpa mengurangi rasa hormat, saya sebagai kepala klan Senju ingin meminta pemberian itu dikembalikan."
Sunyi melingkupi ruangan. Pembuluh di pelipis Mori tidak menegang, tetapi Tobirama tetap merasa byakugan-nya sedang menggali ke dalam dirinya. Hyuuga sejak awal selalu mendukung kebijakan Hashirama, sehingga kecil kemungkinannya ia menolak usulan pengembalian itu. Namun, urusan uang cenderung menimbulkan perselisihan.
Sudut bibir Izuna tertarik ke atas. Tobirama memperhatikannya dari permukaan meja yang berkilau.
"Itu bukan jumlah yang sedikit." Mori meluruskan kedua lengannya. "Apa klan Senju sedang kesulitan…?"
Tobirama menggeleng. "Uang yang diberikan Kakak bukan milik kami seutuhnya."
"Milik Uzumaki, ya?" tanya Izuna mendadak.
Mori menatap mereka bergantian, pemahaman menghiasi ekspresinya. "Pantas saja." Cuping hidungnya melebar. "Bukankah hal ini berimbas jelek pada citra Hokage?"
"Saya hanya bertindak pragmatis," balas Tobirama cepat. "Apa yang bukan milik kami sudah seharusnya dikembalikan."
Mori menegakkan punggung, senyuman puas terbayang di wajahnya. "Uzumaki tidak mendukung rencana Hashirama-san mendirikan Konoha. Tetapi mereka tetap memberi jumlah luar biasa untuk ukuran sebuah klan shinobi. Apa yang tadinya akan kalian beri sebagai gantinya?"
"Hal itu adalah masalah internal kami."
"Hm." Mori melirik tamu pertamanya lagi. "Mengapa hanya Hyuuga yang dimintai? Bagaimana dengan klan lain? Uchiha, misalnya?"
Izuna beringsut di atas bantalnya.
"Aku berniat memintanya setelah ini," jawab Tobirama luwes tanpa jeda. "Atau nanti setelah Madara-san kembali."
"Kau yakin ini saat yang tepat untuk membahas soal itu?"
Jika ia mengira retorikanya akan menggoyahkan Tobirama, Mori salah besar.
"Saya yakin." Ia menatap satu-satunya wanita di ruangan itu. "Anda pasti setuju dengan saya."
Izuna hanya memegangi gelasnya yang telah kosong.
"Tidak bijaksana meminta pemberian yang sudah terpakai, Senju-san. Kakak Anda pasti tidak setuju."
"Mori-san—"
"Saya menolak."
Sanggahan siap meluncur, tetapi ia mengurungkan diri. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi saat itu. Terus menekannya hanya akan meneguhkan penolakannya. Tobirama tidak kalah hari ini; ia akan mencoba lagi lain kali.
"Senju-san," panggil Mori ketika mengantar kedua tamunya keluar. Suaranya direndahkan agar tidak terdengar Izuna. "Anda lebih baik menyelesaikan perselisihan pribadi Kakak Anda lebih dulu."
Tobirama menuruni undakan untuk memakai alas kakinya. "Maksud Anda?"
"Klan Uzumaki tidak berkuasa di Konoha." Lengan Mori disembunyikan di balik bajunya. "Banyak yang berpendapat, keutuhan Konoha akan lebih baik jika Hokage-san menikahi orang yang tinggal di sini juga."
Tobirama mengabaikan sarannya. "Terima kasih atas waktunya, Mori-san. Selamat siang." Ia sudah berbalik menuju pintu keluar ketika dirasakannya tarikan lembut pada kelingkingnya.
Anak perempuan Uchiha tadi menggenggam jarinya kuat-kuat, mengarahkan sepasang mata beriris kelam bundar ke wajahnya. Ekspresinya bagai melihat gasing berkilau bercat cerah yang dijanjikan kepadanya. Berbinar-binar.
"Ah…." Tobirama terpaku. Canggung.
"Yuzuha?" Terdengar suara Izuna memanggil dari belakang. "Kamu di mana…?"
Tobirama mencoba menarik lepas tangannya, tetapi genggaman Yuzuha sungguh kuat. Ia menoleh ke belakang, menemukan Hyuuga Mori masih berdiri di selasar dengan senyuman geli tertahan.
"Yuzuha…?" panggilnya lagi.
Tobirama menyerah. "Dia bersamaku, Izuna. Aku di sisi timur lautmu."
Dinding cakra tebalnya menerpa tak lama kemudian, mencari-cari tangan bebas Yuzuha. Izuna menggandengnya, tetapi pegangan di tangan satunya tetap tak mau lepas.
"Ayo pergi, Yuzuha," ajak Izuna, masih tidak paham mengapa anak itu tidak mau bergerak.
Tobirama berdeham. "Dia … masih memegangi tanganku."
"Tolong lepaskan tangan Senju-san, ya," pinta Izuna, yang hanya dibalas dengan rengekan kesal.
"Kediaman Uchiha tidak jauh, 'kan?" mendadak Hyuuga Mori menimpali. Suaranya terdengar geli. "Ikut saja barang sejenak," sarannya, menatap Yuzuha seolah ia cucunya sendiri.
Bibir Izuna menipis. Pegangannya terlepas dari anak perempuan itu, tetapi Yuzuha menyambarnya lagi.
Tobirama memijat dahinya, menyerah. "Aku tidak sedang terburu-buru."
"Hore!"
Mereka meninggalkan kediaman Hyuuga dengan tangan mungil Yuzuha terlindung rapat dalam genggaman keduanya. Tobirama dapat merasakan dinding cakra Izuna lebar di sekelilingnya, tetapi sengaja menghindari mengenainya langsung. Yuzuha melompat-lompat riuh, menggoyangkan lengan mereka selagi ia memindai sekelilingnya.
"Ada burung perutnya kuning!"
"Oh, ya?" Izuna balas bertanya. "Ada di mana?"
"Di atas pohon! Banyaaak sekali!" Kepala Yuzuha meleng jauh dari jalan. "Senju-sama juga lihat, lihat!"
Tobirama menengok sedikit, menemukan sekelompok burung berkerut kuning bercicit di ranting pinus. Sebelum ia sempat mengonfirmasikan penemuannya, Yuzuha sudah menemukan hewan lain untuk diributkan. Kali ini seekor anjing dengan sekeranjang telur ayam di moncongnya.
"Ih anjingnya bertelur!" Teriakannya tidak menghentikan si anjing. Tobirama menduga anjing itu milik seorang Inuzuka yang lupa membeli telur.
"Mana ada!" Izuna terbahak-bahak, menanggapi ocehan anak itu tanpa berhenti sedikit pun.
Mereka belum jauh meninggalkan kediaman Hyuuga, tetapi rasanya Tobirama telah menghabiskan waktu sepanjang seputaran menjelajah seluruh desa. Yuzuha terus berhenti untuk melihat semua hewan yang melintas. Teriakannya pun turut mengundang perhatian pejalan kaki, yang tak diinginkan Tobirama. Pria itu menanti-nantikan kesempatan pergi, tetapi pegangan si bocah sekuat ikatan segel.
Izuna sendiri tidak menghentikan ocehannya yang memusingkan. Mungkin Tobirama harus memberitahunya, bahwa ia tak sabar pergi—
"Senju-sama, nggak suka kucing, ya?"
"Mereka lucu, sih, tapi—"
Yuzuha menoleh pada kerabatnya. "Izu-nee, Senju-sama masih sedih juga…!"
Dinding cakra itu mendadak menebal, terasa menusuk-nusuk di kulit Tobirama. Ia berjengit tidak nyaman. Tubuh Izuna tegang, bagai mendeteksi serangan. Pegangannya disentakkan hingga lepas.
"Yuzuha, diam!"
Sesaat anak perempuan itu hanya membeku mendengar bentakan Izuna. Kemudian, tangisnya pecah. Bukan tangisan keras membahana, melainkan sunyi. Hanya ditandai dengan air mata dan isakan di balik bibirnya yang ia gigit.
Tobirama menahan keluhannya, dan menggendong anak itu. "Di mana orang tuanya?"
"Ke Iwa." Izuna melengos. "Buat dia diam…."
Jari-jari kecil Yuzuha mengusutkan haori Tobirama. Air matanya tembus hingga ke bagian dalam pakaian. Isakannya mulai keluar. Canggung, pria itu menepuk-nepuk punggungnya berusaha menenangkan. Ia sungguh tak terbiasa begini.
Lagipula, ada yang aneh dengan kejadian barusan. Izuna berjalan gusar, cakranya gelisah. Sesekali ia terantuk kerikil, tetapi berhenti pun tidak. Ketika jalan setapak menuju ke kediaman klan sudah terlihat, Izuna mengambil Yuzuha. Anak itu dengan gesit melepaskan diri dan berlari pulang duluan.
"Hahh…." Izuna memegangi kedua lututnya. "Ngambek, deh…."
Tobirama menggeser kakinya. "Sampai nanti, Izuna-san."
"Oi," serunya sebelum ia bisa pergi. "Kukira kamu mau membicarakan soal itu…?"
"Klan Uchiha tidak menerima pemberian finansial apapun dari Kakak. Selamat siang."
Ia nyaris berlari meninggalkan Izuna, dan ia tak mau tahu sebabnya.
.
Usianya dua puluh satu tahun.
Lama sekali ia memendam pertanyaan, mengapa bukan ia yang lahir pertama, mengapa bukan dirinya yang dianugerahi mokuton. Lama sekali ia memutuskan pertanyaan-pertanyaan seperti itu hanya membuang waktu dan tenaga untuk dipikirkan, karena Rikudou Sennin tidak pernah menjawab kebingungannya. Sementara ayahnya telah memetakan jalan hidup yang jelas baginya, dan mahal harganya jika ia berbelok tiba-tiba, melenceng dari arahan.
Sayangnya, Hashirama yang punya kecenderungan melenceng. Ia punya semua kekuatan yang bisa dibayangkan anak-anak Senju, dan ia tidak bersikap sebagaimana semestinya seorang pilar klan berlaku. Untungnya, mayoritas tindakannya dilakukan setelah berdiskusi dengan Tobirama dan mendapatkan persetujuannya. Sialnya, tindakan lainnya berisiko mengancam nyawa.
Tobirama masih berjaga di titik patrolinya, mengabaikan pemuda Inuzuka yang terus bergerak mengendusi udara. Amarahnya masih menggelegak, tetapi juga mengunci sendi-sendinya hingga ia tak kuasa mencegah saudarinya pergi.
Shinobi macam apa yang malah bengong di saat seperti itu?
Hashirama adalah shinobi terkuat yang ia kenal. Kakaknya tak perlu banyak usaha untuk meluluhlantakkan kediaman Uchiha. Sebagian besar anggota klannya ada di sini, menyisakan lansia dan balita di sana.
Namun, ia tahu Hashirama tidak akan mengorbankan mereka demi mengalahkan klan itu.
"Senju-san, Kakak Anda tidak berjaga juga?"
"Di ujung utara perimeter." Tobirama menipiskan cakra pengindranya. Yang ada di sana hanyalah mokubunshin, tetapi rekannya tidak perlu tahu. Titik itulah yang terdekat dengan si bijuu, seandainya ia mendadak maju maka penyerang terkuat mereka sudah siap menyambut.
"Itu jauh dari sini," sambungnya. "Baunya masih terasa, sekilas mengarah ke barat…."
"Tadi Kakak patroli sebentar," ia berbohong.
"Begitu."
Kedua tangannya gatal. Hanya dengan sedikit segel dan cakra saja, ia bisa melompati ruang hingga mencapai Hashirama, di manapun ia berada. Ada segel hiraishin ditanamkan pada punggungnya agar sewaktu-waktu ia dapat muncul di dekatnya. Instruksinya jelas melarang Tobirama menyusul, dan sayangnya ia masih kepala klan. Kata-katanya adalah mutlak.
"Omong-omong, mengapa klan Senju belakangan tidak aktif berperang?"
Tobirama mendadak ingin melempar pemuda ini ke sungai terdekat. Bersama anjingnya sekalian.
"Daimyo-sama bilang itu karena kepala klan kalian perempuan. Tapi aku tahu itu nggak benar," tambahnya cepat-cepat. Kepala klan Inuzuka juga seorang wanita, dan mereka masih aktif menjawab tantangan perang. "Orang-orang penasaran—"
"Kami ingin menghentikan perang," Tobirama memotongnya.
"...Hah? Bagaimana cara—"
Sebuah ledakan membungkam sisa kata-katanya. Bola-bola api raksasa, lebih besar daripada yang biasa dimuntahkan klan Uchiha, melalap hutan-hutan Senju dalam sekejap. Naga-naga suiton Tobirama memotong jalur bola api itu, memadamkan api sebelum mencapai tempat mereka.
"Bagaimana dengan garis depan—? Seharusnya mereka memperingatkan kita!" seru pemuda itu.
"Mereka pasti sudah habis!" Tobirama menyiapkan sebuah naga suiton lagi. "Aku akan ke depan! Kembali ke garis belakang dan siapkan evakuasi!"
Anjingnya melolong membunyikan sinyal bahaya, menggema jauh di belakang punggungnya. Lolongan serupa segera bersahut-sahutan di kejauhan. Semua penghuni hutan berlarian keluar, babi hutan, kelinci, beruang, rusa; semua menguik-nguik dan menggeram ketakutan. Tanah bergemuruh di bawah derap kaki mereka. Udara yang tadinya dingin berubah panas, membuat belakang pelindung wajahnya lengket dengan keringat. Langit berubah ungu muda di belakang tirai asap tebal.
Api di sebelah utara masih menyala. Naganya memecahkan diri menjadi gelombang, memberi jalur evakuasi yang aman bagi hewan-hewan. Di kejauhan, di atas pucuk-pucuk pepohonan, struktur-struktur mokuton membentuk pelindung untuk mengurung api. Namun, semua itu tidak bisa bertahan menghadapi kera merah besar berbulu lidah-lidah api yang mengamuk meluluhlantakkan daratan.
Bau sangit daging terbakar menghantam penciumannya. Panas apinya membuka semua saluran keringat.
Tidak ada yang tersisa dari semua shinobi yang ditugaskan di sisi utara perimeter, kecuali mokubunshin saudarinya. Ia berdiri di sebuah pijakan besar, kedua tangannya terkatup menumbuhkan kayu-kayu raksasa secepat yang ia bisa. Di sekitarnya, pohon-pohon mati bertumbangan, tubuh mereka menyala-nyala.
"Kakak—!"
"Nggak ada yang selamat!" engahnya. Bisingnya deru angin memaksanya berteriak. "Sekelompok Inuzuka … pergi mengusirnya, lalu—"
"Aku mengerti. Tanda bahaya sudah dilepas. Evakuasi harusnya sudah jalan!" Bijuu itu tak ubahnya binatang, akan membalas jika terganggu. Anjing-anjing Inuzuka pasti sudah mengusiknya.
Mokubunshin Hashirama mengangguk, menelan ludah. "Kamu bisa … suiton...?"
Tobirama tidak yakin. Dengan lingkungan kering nyaris tanpa kelembapan, lebih sulit mengumpulkan uap air dari udara. Cakranya akan cepat terkuras. Ia mengeluarkan kunai dengan isyarat bahaya khusus terikat di ujungnya. Harapan mereka satu-satunya adalah memanggil Hashirama pulang. Ia menancapkan kunainya ke segel hiraishin yang terpasang di permukaan pijakan.
Kunai itu bergeming.
Ia mencabut dan menancapkannya lagi. Tidak ada yang terjadi.
Lagi. Hasilnya sama saja.
Sensasi membeku meluncur di sepanjang tulang punggungnya. Segel hiraishin pada punggung Hashirama tidak berfungsi. Sesuatu pasti telah terjadi kepada kakaknya di antah berantah— apa Madara menolak tawarannya dan membunuhnya—?
Perisai-perisai mokuton masih tumbuh silih berganti di sekitar mereka. "Tobirama! Ada apa—?" Si mokubunshin tak berani menoleh penuh, tatapannya masih terarah lurus ke utara.
Benar— jika saudarinya mati, mokubunshin itu pasti sudah lenyap. Ia memindai sekeliling. Api sudah mengepung mereka, dan cakranya tidak menemukan makhluk hidup lain selain dirinya sendiri.
Tobirama sendirian.
"Aku nggak bisa senjutsu!" teriak si mokubunshin. "Bisakah kamu— Hashirama—?"
"Tidak bisa!" Ia berdiri. "Berapa lama kamu bisa bertahan—?"
"Nggak lama— Tobirama!"
Bulu kuduknya meremang. Sebuah bola api meluncur lagi ke arah mereka. Mokubunshin-nya meraung keras, melingkupi Tobirama dalam kubah tebal. Batang-batang pohon berderak-derak patah. Giginya mengertak selama semesta bergemuruh hancur di sekitarnya. Mokuton Hashirama bisa menangkal api Uchiha, tetapi mereka sedang melawan bijuu.
Belum pernah ada shinobi yang selamat dari amukan bijuu.
Kubah kayu itu membuka, memperlihatkan kehancuran dan kobaran api. Panasnya semakin menyesakkan. Tobirama melepas kerah dan pelindung wajahnya, mulai kesulitan bernapas.
Mokubunshin Hashirama tidak terlihat di manapun.
Tobirama segera mundur menggunakan hiraishin hingga menemukan sekelompok kecil anggota divisi suiton berjibaku mengendalikan api. "Kalian—!"
Seorang lelaki dewasa berambut cepak memotongnya, "Tobirama-san! Apinya sudah sampai ke perkampungan!"
"Jangan bercanda, Reiji—!"
"Andai saja ini bercanda!" Reiji melempar lengannya ke udara, frustrasi. "Inuzuka-sama turun tangan membantu semua orang pergi ke selatan. Cuma sedikit yang masih di dekat sini! Kampung kita sudah nggak ada!"
"Di mana Hashirama-sama?!" terdengar seseorang berteriak. "Kalau ada dia, pasti—!"
"Kakak ada jauh di depan!" Tobirama membentuk segel suiryuudan. "Langsung di hadapan bijuu. Aku baru saja dari sana. Jadi jangan cemas!"
Kebohongannya berhasil mengipasi semangat mereka. Naga-naga air menyembur lagi. Enam orang itu berpindah-pindah, mencegah api melebar ke bagian hutan lainnya. Terakhir ia lihat, bijuu itu masih bergeming. Semoga saja tetap begitu….
"Bijuu macam apa yang menyerang kita sekarang…?"
"Kera berbulu api," jawab Tobirama singkat. Ia memimpin kelompoknya berpindah lewat cabang-cabang besar, menghindari pohon tumbang dan serbuan hewan-hewan di dasar hutan. "Aku tidak melihat jumlah ekornya."
"Mungkin lima—"
"Atau enam—"
Yang manapun Tobirama tidak peduli.
Stamina mereka cepat terkuras, dan jelas bahwa memaksakan diri pun tidak berguna. Ia berniat meminta kelompok mereka mundur ketika bumi bergetar hebat.
Bijuu itu bergerak maju.
Reiji mendongak di dahannya, matanya melebar ketakutan. Mulutnya terbata-bata, "Demi Rikudou Sennin…."
Menjulang di atas aras dan pinus, adalah wajah merah sang kera bijuu. Sepasang taring besarnya mencuat keluar, bibir-bibirnya mundur menampilkan angkara. Ia belum menemukan mereka di antara pepohonan, sehingga Tobirama segera menyuruh kelompoknya mundur. Debam langkah lambat sang bijuu terus menggetarkan bumi, bergema mengiringi pelarian mereka.
Genggamannya pada kunai bersegel hiraishin mengerat. Hashirama pasti tahu ketika mokubunshin-nya mati, tetapi entah seberapa jauh ia sekarang dari kampung— atau apa ia bisa bebas bergerak. Madara entah telah melakukan apa pada segel hiraishin di punggungnya.
Mereka sampai di kampung, yang nyaris tak dikenali karena semuanya sudah hitam legam habis terbakar. Semua permukaan yang telah padam masih menguarkan panas. Hampir semua orang sudah pergi; kecuali beberapa shinobi yang tersisa. Nekat mengadu nyawa di hadapan seekor entitas buas. Wajah-wajah mereka mulai diisi keputusasaan. Ekor anjing-anjing Inuzuka mulai menekuk ke celah tungkai. Semuanya mendengking pilu, tetapi tidak kabur karena partner mereka masih di situ.
Tobirama menelan ludah. Mereka tak boleh mati di sini.
Ia pemakai suiton terkuat yang masih tersisa. Ia tak bisa meninggalkan mereka meski hanya sebentar!
Kemudian kepalan sang bijuu menghantam tanah, melontarkan pepohonan ke udara, dan kunai Tobirama terlepas—
Ia melompati ruang membawa semua sisa shinobi semakin jauh ke selatan, ruang menyusut dan mengembang seperti tekanan masif di telinganya, samar ia mendengar namanya diteriakkan di antara lengkingan anjing—
Lalu kera besar itu mengaum mengacaukan keseimbangan hukum alam yang ia robek—
Ketika Tobirama kembali menjejak tumpukan rumput hangus, perih membasuh separuh tubuhnya, lempengan zirahnya terasa seperti besi cair, telinganya berdenging, perutnya mual karena berpindah secepat kilat dan cakra yang terus menerus ia paksa keluar. Gemetaran ia menanggalkan zirah. Dadanya sesak.
Ia tertelungkup, terbatuk-batuk hebat. Entah sudah berapa lama waktu terlewat. Berapa banyak yang selamat? Tidak ada yang tersisa dari kelompok yang menemani mokubunshin itu berjaga—
Sebuah teriakan lain membelah udara, suara seorang perempuan.
Hashirama sudah pulang.
Sebuah sosok gelap seukuran si kera maju, disusul oleh sulur-sulur kayu setebal batang pohon yang membelit tubuh dan ekor si bijuu, mendorongnya jauh ke utara. Debam keduanya sedikit demi sedikit berkurang hingga hilang. Tanah tak lagi bergetar.
Orang-orang yang tadi ia selamatkan sudah kembali, mengerumuninya untuk memberikan pertolongan pertama. Seseorang mengangsurkan tabung bambu berisi air, yang Tobirama terima penuh terima kasih. Setelah seorang Inuzuka membagikan kikatsugan, divisi suiton itu kembali bekerja memadamkan api sampai yang tersisa hanyalah kebakaran di kejauhan.
Fajar sudah hampir menyingsing ketika Hashirama kembali, tubuhnya penuh jelaga. Pias wajahnya ketika menemukan Tobirama penuh luka-luka. Orang-orang menepi jauh-jauh memberi kakak-beradik itu ruang.
Telapak tangannya berpendar kehijauan. Amarah kembali membubung di dadanya.
"...Puas?"
Nyala itu meredup. Tangan Hashirama diturunkan.
Mereka tak punya tempat untuk kembali.
.
"Senju-san."
Sapuan cakra yang sudah terlalu dikenal Tobirama membuatnya membeku. Niatnya membeli dango untuk cemilan sore tergeser.
Orang-orang bercengkerama dan bersenda gurau, kebanyakan baru saja menyelesaikan panen. Kedai kecil beratap rendah itu penuh, riuh. Sebuah antrean mengular di depannya, paling tidak sepuluh orang, semua menanti dango untuk dibawa pulang.
Tobirama sudah berniat mengantre, tidak masalah menunggu agak lama, pikirnya. Namun, nafsu makannya sudah membubung mencium harum dango asin dan manis memenuhi tempat sejuk itu. Ia mengedarkan pandang ke area duduk, berpikir untuk mengambil meja saja agar pesanannya cepat tiba, ketika didengarnya suara semerdu burung uguisu mengutarakan namanya, mengalun jauh di atas canda tawa para pengunjung.
Izuna duduk sendirian di bawah bayang-bayang, di meja paling belakang. Ia melempar sebuah senyuman, seolah tindakannya sesantai dan sealami bernapas.
"Uchiha-san."
Tobirama tak perlu mengutarakan balasannya sama keras; sapuan cakra yang hangat menyentuh halus bibirnya, membawa suku katanya pada indra sang pemilik cakra.
Tumitnya bergeser, mematuhi refleks yang terjalin di otot-ototnya. Namun, bibir Izuna kembali membentuk kata, sehalus rinai hujan.
"Jangan lari."
Di antara percakapan, mata-mata mulai melempar lirikan. Sikap tubuh para pengunjung meninggalkan posisi santai, menggeser pinggang sedikit agar bisa melihat jelas kedua petinggi klan-klan terkuat di Hinokuni. Obrolan memelan, telinga-telinga ditajamkan.
Matanya menyipit. Benar juga. Gosip.
Tobirama menyibakkan tirai noren di atas pintu masuk, melangkahi ambang ke dalam kesejukan kedai. Aroma manis pasta kacang merah mengiringinya selama ia berjalan hingga tiba di meja terbelakang.
Mereka terakhir bersua kemarin lusa, bersama Uchiha Yuzuha. Pertemuan yang diakhiri dengan kepergiannya. Dengan kekalahannya.
"Tidak biasanya kau berada di luar sore ini," kata Izuna santai, memainkan dua tusuk dango-nya yang telah kosong. "Bagaimana dengan riset jutsu-nya?"
"Terima kasih," ujar Tobirama kepada pelayan yang memberikan sepiring dango. "Aku masih mencari-cari orang yang bisa kuajari hiraishin. Sejauh ini cuma Ango yang berhasil berpindah, itupun hanya seratus meter."
"Bagaimana dengan efek sampingnya?"
"Sudah berkurang."
"Tidak berminat mengetes anak-anak yang lebih muda?"
Senda gurau kembali mengisi atmosfer kedai, menutupi percakapan mereka dari luar. "Mereka tidak akan tahan efek pusing dan mualnya. Lebih baik jangan."
"Waktu itu kaubilang hiraishin bisa digunakan untuk mengirim sesuatu." Izuna meletakkan dagu di telapak tangannya. "Bagaimana caranya?"
"Setiap markah hiraishin-ku memiliki titik korelasi di dimensi lain…." Tobirama mendadak berhenti, dahinya berkerut. "Bukannya dulu sudah kujelaskan kepadamu?"
"Aku ingin mendengarnya lagi."
"Panjang—"
"Panjang pun tidak apa-apa. Kamu punya waktu, 'kan?"
Tobirama menatap piring dango kedua di depan Izuna. "...Ya," ia berbohong. "Konsepnya kukembangkan dari fuuinjutsu…."
"Aku ingat." Izuna menggeser piringnya menjauh. "Kamu menggunakan markah untuk menandai tempat-tempat di mana kamu bisa datang dan pergi. Bukankah teknik itu cuma kamu yang bisa?"
"Orang lain yang terhubung dengan cakraku bisa memakainya— tapi, tergantung pada sejauh mana dia bisa memanfaatkannya…."
Membicarakan riset yang ia kuasai membuatnya rileks, memberikannya alasan untuk tetap tinggal sampai Izuna puas bertanya. Pertanyaan yang dilontarkannya selalu menuntut jawaban panjang.
"...Semakin berat objek yang dikirim dan semakin jauh jarak yang ditempuh, cakra yang dibutuhkan semakin besar."
Izuna meletakkan tusuk dango terakhirnya. Tandas. "Jadi sejauh apa Ango sudah bisa hiraishin…?"
"Objek kecil bisa dikirim sejauh mungkin. Objek besar seukuran manusia—"
"Sensei!"
Seorang wanita menghampiri mereka, wajahnya takut-takut. Ia menyadari Tobirama duduk di meja itu, dan buru-buru membungkuk. "Ah, maaf mengganggu Anda berdua," katanya, lebih kepada pria itu daripada Izuna.
Tobirama bergeser sedikit. Wanita itu membawa sekeranjang penuh jeruk besar-besar yang ditaruhnya di meja. Ia tidak mendapati benda lain disisipkan di antara buah-buahnya.
"Saya berterima kasih banyak pada Uchiha-sensei!" Rasa haru dan bahagia bercampur dalam wajahnya yang terbakar matahari. "Anak saya, Uri, ternyata bisa menggunakan cakra. Dia … dia menunjukkannya kepada saya dan suami. Kami kaget sekali! Padahal dia sakit-sakitan. Terima kasih sudah memercayainya!"
Izuna meraih keranjang, mengendus wangi segar isinya. Perlahan, ia tersenyum lebar menampakkan kedua deret giginya. "Uri sangat rajin latihan. Meski sering luka karena salah pegang ujung shuriken."
Wanita itu beralih kepada Tobirama. "Sampaikan terima kasih saya kepada Hokage-sama juga. Tanpa beliau, petani seperti kami nggak akan boleh masuk ke Akademi." Ia membungkuk dalam-dalam, pamit pada kedua shinobi, lalu keluar dari kedai.
Pria itu menyaksikan punggung si petani membaur ke kerumunan di jalan. "...Apa anak-anak petani di Akademi berprestasi sebaik anak-anak klan?"
"Oh, ya!" jawab Izuna bersemangat. "Jumlahnya sedikit tapi mereka sangat antusias. Selalu bertanya, sampai aku pusing menanggapinya." Ia terkekeh sambil mengupas jeruk. "Aku terpaksa menambah asisten di kelas, sinting sekali mereka main-main dengan bom kertas!"
"Siapa yang meletakkan bom kertas di ruangan penuh bocah…?" Mau tak mau, ia turut tersenyum.
"Bukan aku!" Izuna meremas kulit jeruknya. "Mana kutahu ada sekotak bom kertas? Memangnya kelihatan?" Ia menertawakan leluconnya sendiri. Separuh buahnya didorong ke arah Tobirama. "Aku di kelas itu sendirian dari pagi sampai anak-anak datang. Asistenku menyingkirkannya sebelum kelas dimulai."
Sebuah ide terlintas di pikirannya. "Jadi … bagaimana caramu menjelaskan tentang cakra ke sekumpulan anak non-shinobi?" Tobirama meraih separuh jeruk itu, tampak santai.
"Penasaran, ya?" godanya.
"Siapa tahu jadi ide untuk risetku," balas Tobirama luwes.
"Bayari aku sepiring dango lagi."
Ia melirik ke dua buah piring yang kosong, dengan enam tusuk bambu rapi di atasnya. "Baik."
Izuna tersenyum puas. "Aku bermain petak umpet dengan mereka."
"Maksudmu kau membuat mereka merasakan situasi hidup-mati seperti perang?"
"Tepat sekali." Wanita itu terkekeh. "Awalnya mereka semua bekerja sendiri-sendiri. Lama-kelamaan yang sudah mahir segera membantu yang belum bisa. Mereka lebih sukses begitu…."
Pelayan kedai datang mengambil gelas dan piring kosong, serta meletakkan camilan-camilan baru. Dango asin Tobirama masih berasap, tetapi tak panas di lidahnya.
"Anak-anak dari klan-klan berbeda bisa bekerja sama?"
"Mengejutkannya, ya." Izuna melahap dango dan jeruk bergantian. "Mereka sudah saling kenal sebelum masuk Akademi. Main bareng, usil bareng … Yuzuha saja sudah ketularan bandel."
Ia teringat pada protes Nara Shikana tempo hari. "Tidak ada orang tua murid yang memintamu memisahkan mereka…?"
"Nggak ada." Izuna melepas dango dari tusuknya dengan jemari, membelahnya hingga pasta kacang isinya luber di piring. "Malah … ada anak-anak yang lebih menonjol. Tahun depan bisa-bisa mereka sudah bisa bikin bunshin. Jadi shinobi sepenuhnya." Ia melahap separuh dango-nya.
"Secepat itu?" Tobirama memajukan punggung. "Kupikir kita butuh setidaknya tiga tahun sampai ada yang lulus. Berapa usia mereka?"
Ia mengetuk dagunya. "Enam tahun … setelah tahun baru."
"Aku harus mulai mencari mentor untuk mereka…."
"Bagaimana kalau kamu saja?"
Para pengunjung datang silih-berganti, dan meja-meja dihuni oleh tetamu baru.
Namun, Tobirama tidak ingin kembali ke menekuni buku.
.
Usianya dua puluh satu tahun, dan Tobirama terbenam dalam lumpur.
Ia telah mengosongkan jadwalnya hari ini untuk menjernihkan pikiran. Dua minggu sebelumnya ia terus menerus mendampingi Hashirama menemui kepala klan Nara, Yamanaka, dan Akimichi. Seorang daimyo telah meminta ketiga klan itu untuk menggempur aliansi Senju-Uchiha. Hashirama mencegah serangan mereka dengan permintaan berdialog bersama para kepala klan. Hasilnya mereka justru berniat untuk bergabung tinggal di desa.
Jika Madara yang ikut bernegosiasi, hasilnya mungkin berbeda.
Keluarga-keluarga pertama mulai berdatangan, sehingga semua orang sibuk membuka hutan lagi. Bunyi kapak bersahut-sahutan dari pagi hingga petang, terdengar bahkan hingga ke rumahnya yang jauh dari pusat permukiman. Kicauan burung dan gemercik sungai kecil lebih keras di sini.
Alasan lainnya membangun rumah sedemikian jauh adalah agar ia bisa fokus meriset jurus.
Ruangan di bagian belakang rumahnya kosong, hanya berisi sebuah gulungan dan alat tulis. Tobirama sudah mencatat semua yang bisa ia ingat dari percobaan lamanya karena semua catatannya dulu terbakar habis. Kini untuk kesekian kalinya ia berusaha mencampur cakra doton dan suiton.
Dan untuk kesekian kalinya, ia hanya bisa membuat lumpur.
Ia telah mengukur kapasitas kedua jenis cakra dengan hati-hati, mencampurnya dengan variasi rasio berbeda, tetapi hasil akhirnya tetap lumpur. Yang berbeda hanya kekentalannya.
Di tangan Tobirama, tanah itu tak pernah mewujud menjadi kayu. Apa Hashirama juga mencampurnya dengan elemen lain?
Rahangnya ditekan kuat-kuat. Tobirama melemparkan kuasnya asal-asalan ke balik bahu— tidak mengira ia akan mendengar erangan mengaduh keras-keras dari belakang.
"Kakak—?"
Hashirama memegangi dahinya, meringis menahan sakit di ambang pintu. Haori-nya kini dihiasi cipratan tinta hitam. "...Yo," sapanya, menahan kekehan. "Mengetes jurus baru?"
Ia menelan ludah sebelum menjawab, "...Ya. Cuma iseng selagi luang. Kakak kenapa pulang lebih cepat…?" Tobirama meraih serok di sudut, dan mulai mendorong lumpur itu keluar dari pintu belakang. Pekerjaan itu sekalian menyembunyikan rasa gugup yang membubung di benaknya.
Hashirama belum tahu ia berusaha membuat mokuton artifisial, dan untungnya ia tak pernah menaruh curiga.
"Apa kamu luang besok pagi?"
"Tergantung seberapa pagi," katanya tanpa menoleh.
"Sebelum matahari terbit?"
"Setelah bangun tidur? Harusnya luang."
"Bagus!" Hashirama menepukkan tangan. "Ada yang ingin belajar pengindraan. Kamu pasti bisa membantunya."
"Tergantung kemampuan orangnya."
"Berarti kamu bisa, 'kan?"
Serok itu berhenti mendorong lumpur. Tobirama berbalik, mengernyit menatap saudarinya yang masih nyengir penuh harap.
"Bisa."
Keesokan paginya, ketika langit masih ungu gelap dan kabut masih berat menggelayut, kakak-beradik Senju sudah meninggalkan rumah. Mereka melewati semua permukiman dan hutan-hutan yang masih utuh menggunakan sebuah obor sebagai panduan. Gemercik air yang lambat-lambat mengeras memberi tahu Tobirama bahwa mereka tiba di danau. Letaknya di ujung selatan, di tepi area yang mereka ambil untuk diubah jadi permukiman. Ia berhenti mendadak. Bekas luka di dagunya terasa gatal.
Ada siluet langsing di balik kabut yang perlahan-lahan mendekat. Sebuah tongkat bambu muncul, disusul oleh sosok terbalut haori hitam. Sebilah pedang terikat di pinggangnya, ujung pegangannya menyembul dari balik haori.
Ia Uchiha Izuna.
Kepalanya ditelengkan sedikit. "Hashirama-san?" tanyanya dengan suara rendah. Kabut tumpah dari bibirnya selagi ia berbicara. Ujung hidungnya merona merah.
"Pagi, Izuna." Kakaknya melambaikan tangan. "Madara belum kembali?"
Izuna menggeleng, merapatkan haori-nya. "Kaubawa orangnya…?"
"Mhm!"
Tobirama menoleh tajam. "Kakak tidak bilang—"
"Huh, Tobirama?" Keterkejutan kentara dalam suaranya. "Kenapa kamu…?"
Hashirama berdeham keras-keras. "Yah! Kamu meminta pengindra terbaik yang ada di desa, 'kan? Nggak ada yang lebih jago dari adikku, aku berani jamin!" Ia berkata sembari menepuk-nepuk bahu Tobirama.
Bibir Izuna mengerucut. Sesaat, Tobirama mengira ia akan menolak dan pergi, tetapi hal itu tidak terjadi.
"Baiklah." Ia menghela napas kuat-kuat. Tangannya diulurkan. "Aku akan belajar darimu."
Saudarinya adalah kepala klan, dan permintaannya adalah mutlak. Menolaknya adalah tabu.
Tobirama menjabat tangannya.
.
"Mengapa tadi kau berniat pergi?"
Pertanyaan Izuna diutarakan tiba-tiba, selirih bisikan angin sore. Mereka meninggalkan kedai dango di penghujung sore, ketika semua tamu lain sudah pulang. Perut mereka penuh dengan teh dan camilan legit manis. Mulut mereka pegal bercengkerama. Obor di sepanjang jalan menuju kediaman klan Uchiha telah dinyalakan, menebarkan cahaya jingga di antara rumah-rumah. Tobirama baru saja usai menjabarkan tentang kagebunshin, ketika Izuna mendadak bertanya.
"Karena ada aku?"
Mereka telah berhenti berjalan. Izuna menanti jawabannya, dengan cakranya memegangi kedua tangan lelaki itu. Haori-nya, yang terlalu besar di tubuh Izuna, mengelepak dimainkan angin. Kelihatannya pertanyaan itu sudah ia pendam sejak tadi.
"Kupikir kau masih tidak mau berbicara denganku." Tobirama berdiri di bawah bayangan aras, di mulut jalan setapak yang mengular menembus hutan. Cakra Izuna melepaskan kedua tangannya. Kedua kepalannya ia buka-tutup, melemaskan persendiannya.
Suasana cerah di hatinya yang telah berlangsung sepanjang hari tergusur dalam sekejap.
"Aku memang masih marah." Izuna menyilangkan lengan, tidak repot-repot memperhalus kata-katanya.
...'Kan. "...Aku tahu."
"Tapi kau tidak tahu sebabnya."
"Kau sudah bilang dulu." Biasanya kekesalan Tobirama mulai muncul, tetapi tidak kali ini. Membahasnya setelah makan dan bersantai membuat emosinya lebih terjaga. "Memberitahuku alasannya lagi tidak akan mengubah keadaan."
Bibirnya membuka, lalu menutup dengan cepat. Cuping hidungnya melebar. "Bukan hanya itu." Izuna menggeleng. Berkali-kali ia menggosokkan kedua telapak tangannya. "Banyak anggota keluargaku yang … tidak bisa menerima perpisahan dengan baik. Terutama orang yang dekat dengan mereka." Suaranya bergetar, bagai menahan sesuatu.
"Aku tidak bisa memutuskan sepihak perjanjian yang dibuat ayahku—" Ia menghentikan kata-katanya sendiri. Mengapa mereka membahas hal ini lagi? Apa lagi yang kurang jelas?
"...Kau tidak mengerti juga, ya?"
"Apa yang tidak aku mengerti?"
Dinding cakra itu mundur. Izuna memijat pelipisnya, dan bersandar pada batang pinus raksasa. "Kukira hari ini aku bisa membuatmu paham."
"Jangan berasumsi aneh-aneh."
"Sampai kapan kaumau terus lari?"
"Aku tidak la—"
"Sampai kapan mau menghindar?" Suaranya pecah. Izuna mendorong haori-nya ke dada Tobirama, lalu melesat ke hutan.
Denyut aneh di dadanya mendorong tubuh Tobirama bergerak. Ia berhasil menangkap pergelangannya. Izuna bergeming, kaku dalam posisi canggung. Bahunya naik-turun cepat.
Perasaan itu berubah menjadi sensasi ganjil seperti ketika mereka bertengkar di tepi sungai. Menancapkan kuku-kukunya ke sekeliling jantung, seperti hendak meremasnya jadi bubur.
Sakit.
Mengganjalnya di dada dan pusat cakra, melebarkan sulur yang mengikat organ-organnya, menariknya ke dalam lubang tak berdasar—
"Buat aku mengerti, Izuna." Pergelangan kurus itu dingin dalam genggamannya.
"Jika Hashi-neesan tidak punya tunangan…."
"Aku masih tetap akan menolaknya—"
Izuna menyentakkan tangannya, berbalik dengan tinju terkepal. "Mengapa?!"
Tobirama menyingkirkan rambutnya yang menjuntai ke dahi. Mengapa ia harus terus mengungkit soal kakak mereka? Mengapa mereka berdua tidak bisa cukup membicarakan hal-hal di luar Madara dan Hashirama, seperti ketika mereka berlatih kenjutsu dulu jauh dari pandangan orang-orang? Mengapa ia sebegitu ngototnya ikut campur?
Mengapa ia tidak paham juga?
"Kami tidak ingin mengambil risiko garis darah mokuton hilang, Izuna."
Ia mundur selangkah. "Terserah apa yang kaubilang, tetapi Hashi-neesan sudah menerima kimono kami. Dia nggak akan meninggalkan Kakak."
Tobirama mengernyit. "Apa maksudnya itu?"
"Apa itu sungguh yang kauinginkan?" Pembuluh di leher jenjangnya menegang. "Atau kau cuma membeo keinginan keluargamu saja?"
Ia tercenung. Lubang di dalam tubuhnya melebar, menarik lebih banyak banyak banyak banyak banyak—
Tawa terbahak-bahak mengalihkan perhatiannya. Lima lelaki muncul dari arah kediaman klan, bersenda gurau keras-keras. Selagi ia minggir memberi jalan, Izuna menghilang.
Tebalnya dinding cakra yang biasa terdeteksi sama sekali tak terasa di tempatnya berdiri tadi. Kekosongan yang ditinggalkan Izuna seolah beresonansi dengan kekosongan di dalam tubuhnya.
Hampa.
Ia belum jauh. Ia pasti belum jauh—
Tapi untuk apa mengejarnya?
Tobirama memakai haori-nya, lalu berbalik. Kelima lelaki itu berjalan di sisinya menuju tengah desa. Obrolan keras mereka tertangkap pendengarannya.
"Licik sekali kau, Akio!" seru Uchiha Hikaku. "Menyelinap begitu saja, tahu-tahu paginya sudah beristri!"
Uchiha Akio yang kurus jangkung berkelit dari pukulan bercanda pria lain. "Keiko tak mau tinggal di desa lamanya lagi. Ya sudah aku nikahi saja. Nanti jika ada keluarganya berkunjung, kami kasih tahu— hei!" Pria lain menjitaknya, dan kelompok kecil itu terbahak.
"Akio ini," Hikaku berkata pada Tobirama, matanya berair karena tertawa, "diam-diam menikahi kembang desa sebelah tanpa memberi tahu kami—"
"Memang nggak harus!" seru si pengantin baru.
"Setidaknya beri tahu sepupumu ini, hei!"
"Nggak perlu!"
"Curang!" timpal yang lain.
"Pernikahan kami sudah tercatat di arsip desa, enak saja!"
Tobirama mengamati mereka dengan geli. "Apa memang biasanya pernikahan Uchiha begini?"
Hikaku sudah melepaskan kepala Akio, sekarang berjalan terdekat di sisi Tobirama. "Kami nggak terbiasa dengan pesta, Senju-san. Cuma butuh kedua mempelai agar sah." Mereka tiba di persimpangan yang mengarah ke daerah pertokoan. Hikaku mohon diri dan bergabung dengan kerabatnya yang berisik, mungkin menuju rumah minum. Ia memperhatikan keempat orang lainnya tidak repot-repot melihatnya, atau sekadar menyapa.
Ruang penelitiannya berada di lantai dasar bangunan kantor Hokage. Malam belum larut, tetapi semua orang sudah pergi. Gelap gulita, Tobirama membawa sebatang lilin untuk penerangan. Tanpa disadari ia berhenti sebelum mencapai ruang penelitian, tepat di pintu ruangan lain.
Label pintunya menunjukkan bahwa itu ruangan arsip kependudukan.
Kegiatannya seharian itu terputar ulang di ingatannya. Semua pembicaraannya. Obrolan dengan Hikaku barusan. Kehampaan yang Izuna tinggalkan….
Dia nggak akan meninggalkan Kakak.
Tobirama membuka kunci pintu ruang arsip. Malam ini ia tidak akan melanjutkan risetnya.
.
"Ango-kun? Apa ada yang tertinggal?"
Ango gugup menggaruk bekas luka di pelipisnya. Ia berdiri di ambang pintu ruang riset, ragu untuk masuk meski ia sudah berkali-kali datang berkunjung. "Eh … bukannya saya bertugas jaga?"
Tobirama mengernyitkan dahi, lalu teringat bahwa malam ini ia diundang ke pesta Ukyo. gulungan-gulungan terserak jatuh dari pangkuannya ketika ia melompat berdiri. Ia sedang menekuni gambar topografi Konoha dan mengarang rencana segel-segel perlindungan yang lebih kuat sejak pagi tadi. Tanpa diminta, Ango segera membereskan kekacauan yang ia buat. Tobirama menyambar haori-nya, melompati setumpuk buku di lantai, dan berlari keluar.
Seluruh desa bagai menyala dalam cahaya dan suara-suara riuh, serupa ketika Kaisar Nobutada berkunjung. Penciumannya disambut dengan wangi daging bakar di beberapa rumah. Kediaman Shimura berada di sisi timur, ditandai dengan aliran sake dan tawa yang menggema.
Kepala klan Shimura yang masih muda tampak begitu lega menyambutnya. "Kukira kau tidak akan datang, Tobirama-san." Wajahnya merah, dan rambutnya yang sebahu acak-acakan. Sudah berapa banyak sake yang ia minum?
Tobirama tersenyum samar. "Saya lupa waktu—"
Shimura Keita merangkulkan lengannya di bahu pria yang lebih tinggi itu. "Kenapa formal sekali? Ayolah santai saja! Sake gratis Hyuuga ini masihhh banyak. Sudah coba belum? Gentongnya gentong mokuton—"
Tobirama menerima sebotol sake dari tangannya. Isinya tinggal sedikit.
"Minuuuum!"
"Anda mabuk, Keita-san." Tobirama melambai pada dua pemuda yang baru membawakan piring-piring kosong. Mereka meminta maaf dan membawa si kepala klan muda pergi bersama botol sakenya. Tobirama melemaskan kedua bahunya selagi menapak lebih jauh. Suara musik, gelak tawa, kikik melengking, dan hantaman pengocok dadu beradu. Sebentar saja kepalanya sudah berdenyut-denyut.
Wangi ikan dan daging panggang membubung dari sana-sini. Pelataran tengah dipenuhi orang, lentera, hiburan … belum jauh ia berjalan kedua tangannya sudah diisi oleh belut panggang dan sebotol kecil sake wangi. Ia menatap keduanya seolah belum pernah melihat hidangan itu.
Berapa banyak kas desa yang habis untuk malam ini?
Rasa lapar yang tak diindahkannya sejak sore mendorongnya makan. Ia duduk di selasar, jauh dari keramaian, sambil mengamati siapa saja yang ada di sini. Akimichi Chokichi dan Hyuuga Mori hadir, kerabat mereka mengawasi jalannya suplai makanan dan minuman. Aula pertemuan tertutup di ujung pelataran juga ramai penuh orang, dilihat dari bayangan-bayangan yang tercipta pada pintu shoji-nya. Entah di mana pasti ada yang bermain dadu.
"Lho, Senju-san?"
Tobirama menengok terlalu cepat ke belakang hingga lehernya sakit. Uchiha Hikaku berdiri di selasar, membawa meja kecil berisi makanan.
"Mau bergabung dengan kami? Ukyo-san sudah menunggu Anda."
Ia meninggalkan mangkuk belutnya yang kosong dan sakenya yang tak tersentuh ke aula pertemuan. Kibasan lengan-lengan panjang penuh warna menyambut penglihatannya begitu Hikaku menggeser pintu. Lima orang gadis menari-nari cepat di ujung, dengan iringan alat-alat musik petik. Merah, jingga, kemuning, dan biru langit— semuanya melebur menjadi satu pusaran warna memusingkan.
Ukyo sedang menikmati hiburan yang tak biasa itu, dengan dua wanita menggelayut di sisinya. Pakaian mereka terbuka melewati bahu, menampakkan leher dan tulang selangka mulus. Meski tindak-tanduk mereka centil, Tobirama tahu mereka adalah kunoichi terlatih. Belasan lelaki di ruangan memandangi mereka, satu-dua orang kentara menganga. Beberapa pria ditemani seorang kunoichi berias menyolok, mengobrol dalam bisikan rendah.
Sakenya hanya disesap sedikit.
Hikaku mengambil tempat di sebelah satu-satunya tamu perempuan— Izuna. Meja kecil yang ia bawa berisi semangkuk nasi berbau harum dengan taburan ikan dan kacang-kacangan. Alih-alih sumpit, ia memberikan sendok kayu kecil kepada Izuna. Sebelum suapan pertamanya melewati bibir, wanita itu mendadak menoleh ke arahnya.
Tobirama mengalihkan pandangan. Dadanya kembali sesak.
"Anda sungguh susah ditemui, Tobirama-san," ujar Ukyo tiba-tiba. Kumisnya sudah tumbuh lebat, tampaknya diminyaki khusus untuk malam ini hingga berkilauan. "Tak sekali pun Anda memenuhi undanganku. Jangan terlalu maniak bekerja, nanti cepet tua, lho." Ia mengakhiri kata-katanya dengan kikik geli.
"Saya mengambil alih tugas Hokage selama Kakak tidak ada di desa. Itu, ditambah tugas-tugas saya sendiri."
"Ditinggal barang sehari pun tidak akan ke mana-mana!"
Meja kecil penuh mangkuk dibawakan ke hadapannya. Mangkuk yang terdekat berisi nasi dengan kacang dan ikan serupa yang dimakan Izuna. Ia tak mengindahkan lauk lainnya, memulai makan malamnya dari mangkuk itu. Rasa ikannya terserap hingga ke butiran nasi.
"Ukyo-san sendiri," tanya Tobirama, "apa saja tugasnya di sini? Setelah Konoha menjadi bawahan langsung Kaisar, Anda tidak lagi perlu menilai aset kami, 'kan?"
"Senju-san, Anda ini bagaimana?" Alih-alih lelaki itu, yang menjawab adalah Shimura Hisao. Deretan gigi hitamnya terpampang jelas selagi ia berbicara. "Masa Anda bertanya tugas-tugas wakil kaisar seperti apa?"
Nyaris tanpa jeda, Tobirama menanggapi, "Jadi Anda lebih tahu soal itu? Bisa jelaskan?"
Suara tawa menggema mengalahkan denting musik. Para penari dan musisi selesai menampilkan hiburan. Tepuk tangan sopan mengiringi mereka meninggalkan ruangan. Sepasang pelayan— yang pastinya gadis-gadis Shimura, menuangkan sake lagi bagi para tamu. Umumnya, yang berada di ruangan privat pesta seorang daimyo adalah pejabat-pejabat tertinggi dalam klan.
Namun, tidak ada kepala klan yang duduk di sana— jika mengecualikan dirinya dan Izuna. Ia adalah satu-satunya pria Senju. Uchiha hanya wanita itu ditambah Hikaku. Lain-lainnya berasal dari berbagai klan, dengan usia setidaknya tiga puluh. Mengingat jarangnya shinobi yang mencapai usia paruh baya, mengumpulkan belasan pria yang cukup umur untuk duduk dalam dewan klan masing-masing terasa janggal.
Tobirama ingat beberapa petinggi klan yang ia temui ketika klan-klan lain bergabung dengan Konoha. Semua wajah tetamu di sini samar dalam memorinya.
Muka Hisao memerah padam. Tobirama melanjutkan makannya seolah tidak ada gangguan. Sudut bibir Izuna tertarik sedikit ke atas.
"Hati-hati, Senju muda!" Ukyo menegurnya. "Hisao-san ini guru yang sungguh berdedikasi, juga tuan rumah yang luar biasa. Semua makanan dan hiburan malam ini datangnya dari klan Shimura!"
Tobirama hanya mengernyit. "Ini sake khas Hyuuga."
"Wah, berarti kau harus coba sake yang ini, asli dari Akiyama! Beras-berasnya selalu bagus untuk sake. Favoritku selama di ibukota, untung Hisao-san bisa mendapatkannya…."
Ia menyesap secawan untuk basa-basi, lalu kembali ke makan malamnya. Perhatian Ukyo teralih ke tamu lain yang lebih tanggap— yang meminum sake banyak-banyak hingga tumbang mendengkur. Kunoichi berpakaian penghibur kembali menemani tamu yang tersisa, tetapi tidak ada yang lebih berisik dari si wakil kaisar.
"Gadis manis ini— kamu dari klan apa, Senju?"
"Tuan bisa saja! Saya dari klan Yamanaka…."
"Habis kamu secantik Nona Hokageeeee!"
Pintu shoji di belakang Izuna bergeser terbuka, mengalihkan perhatian semua orang. Seorang pelayan menghormat membawakan tiga botol sake kecil dengan desain berbeda. "Hadiah dari kepala klan kami. Silakan diminum sakenya."
"Apa ini?" tanya Ukyo ketika menerima sebuah botol bergaris hitam.
"Sake buatan klan kami yang tidak dijual," jawab si pelayan. "Hanya diberikan pada kepala klan dan orang-orang yang beliau tunjuk. Ini, Senju-sama, Uchiha-sama." Ia mengedarkan kedua botol sisanya.
Ukyo langsung menenggak isi botolnya sampai habis. "Oh! Rasanya lain! Segar sekali."
Izuna menunggu hingga si pelayan pergi, lalu mendorong botol sakenya ke depan. "Aku sudah cukup minum malam ini," katanya. Pipinya mulai merona merah.
"Tidak boleh disia-siakan!" Ukyo menyambarnya tanpa ragu, menuangkan sedikit isinya ke cawan kosong Tobirama tanpa diminta.
Makanan yang memberati lambungnya mendadak terasa membebani. Tobirama meletakkan sumpitnya dengan rapi, lalu menyesap cawan sakenya. "Ukyo-san, terima kasih undangannya."
Ukyo memiringkan tubuh, melihatnya melewati bahu salah satu kunoichi. "Lho, mau ke mana?"
"Saya masih ada pekerjaan."
"Saya juga harus kembali patroli." Hikaku bangun dari bantalnya, mengangguk permisi pada kerabatnya, lalu menyeberangi ruangan. Ukyo tidak mencegahnya pergi. Begitu juga dengan beberapa tamu yang pergi mencari udara segar atau ruangan yang lebih tertutup untuk bersuka ria dengan penghibur. Tinggal enam orang di dalam situ, dan yang satu sedang mendengkur keras di belakang.
Izuna masih tinggal, mengobrol dengan pria yang kentara mabuk. Ia berkelit dari setiap sentuhan yang dilancarkannya dengan elegan, nyaris tidak kentara menampiknya. Akhirnya ia mengambil botol sake Tobirama yang tak tersentuh, lalu beringsut ke sudut. Dengkurannya menyusul tak lama kemudian.
"Cantik, 'kan, dia?" Ukyo mendadak sudah berpindah ke sisinya, membawakan botol sake. "Gadis Uchiha ini. Konon katanya gadis-gadis Uchiha cantik. Sayang nggak ada yang bisa menghibur seperti kamuuuuu!" Perhatiannya teralih pada gadis Yamanaka itu, yang terkikik berisik ketika Ukyo menggelitikinya. Namun suasana, hatinya berubah cepat. Ia mengibaskan tangan menyuruh si kunoichi itu pergi.
"Seperti yang kubilang, aku ini wakil kaisar," Ukyo memulai. Tangannya yang menggenggam botol sake bertumpu pada lututnya yang diberdirikan. "Aku harus tinggal di sini sepanjang tahun. Aku juga sedang mencari istri." Ia sengaja berhenti untuk memperhatikan air muka kedua shinobi.
"Saya sendiri penasaran," Izuna menimpali, "apa pekerjaan Anda hanya sebatas surat-menyurat? Sebagai pimpinan klan, saya jarang bertemu Anda."
"Ahaha, tapi 'kan, kamu cuma wakil. Kakakmu susah sekali ditemui." Ukyo menengok pada Tobirama lagi. "Seperti yang tadi kubilang, aku sedang mencari ist—"
"Jawab pertanyaannya."
Kejengkelan merebak melingkupinya. Musik masih bising di luar, mengiringi keriuhan pesta. Kedua kakinya sudah tak sabar menapak tanah, dan membawanya pergi secepat mungkin. Suhu ruangan semakin panas. Kepalanya penat. Ia butuh istirahat.
Sebagai pengindra yang cakranya aktif secara konstan, Izuna pasti lebih terpengaruh dengan suasana. Wajahnya sedatar biasanya, tetapi semua shinobi terlatih untuk tidak menampilkan isi hati. Kipas bundar di tangannya bergerak-gerak di dekat leher.
Dahi Ukyo berkilau licin. "Anda mengancamku, Senju-san?"
"Apa Anda takut menjawab pertanyaannya?" Tobirama membalas. "Anda lebih banyak menghabiskan sumber daya Konoha untuk berpesta setiap malam. Jangan kira saya tidak tahu hanya karena saya tidak pernah hadir."
"Apa ini cara kalian memperlakukan wakil kaisar?" Ukyo menatap keduanya bergantian. "Mentang-mentang baru naik status—!"
Bunyi hantaman keras menghentikan mulutnya. Izuna baru saja menghantam meja dengan ujung kipas.
"Tobirama," Izuna memanggil, "kau seharusnya tiba lebih awal tadi."
Kepala klan Senju itu meliriknya.
"Ukyo-san mengatakan hal-hal menarik tentang Hokage."
Bukannya mundur, Ukyo malah semakin menjadi-jadi. "Benar, 'kan? Pemimpin kalian memang menarik. Pantas semua orang mau bergabung!" Ia berhenti untuk menenggak sake. "Perempuan ninja seseksi dirinya pasti tahu bagaimana memuaskan ratusan lelaki dalam semalam—"
Sebelum ia menyadari apa yang ia lakukan, tangan Tobirama sudah mencengkeram leher pria itu. Menggunakan berat tubuhnya, ia mendorong Ukyo hingga kepalanya menghantam tatami. Si wakil kaisar merepet dan menyembur-nyembur, jemarinya mencakari tangan Tobirama.
Dinding cakra tebal menghantam sisi tubuhnya. Di seberang ruangan, Izuna mengangkat tangan setinggi bahu. Cakra pengindra Tobirama aktif otomatis.
Udara bergetar tidak semestinya. Bulu kuduknya berdiri. Suara-suara di pelataran menjauh, seolah ditempatkan di balik tabir tak kasatmata.
"Kurang … ajar—!"
Tobirama menarik tangannya, melebarkan cakranya untuk mengindra sekeliling. Bola matanya bergulir di dalam rongga, mencoba menemukan bukti visual kejanggalan situasi.
Setetes keringat bergulir di pelipisnya. Jantungnya berdebur kencang.
Ukyo mendorong dirinya bangun, terbatuk-batuk. "Tidak tahu diri! Kaisar bisa mencabut status kalian kapan saja! Para samurai akan menghabisi kalian—!"
Tobirama tak mengindahkannya. Fokusnya terpusat tersedot terikat pada apa yang dirasakan cakranya.
"Jalang yang kalian sebut Hokage itu pasti sibuk digilir—!"
Ia mendidih, tangannya terjulur untuk kedua kali—
Lalu gelombang panas menyapu Konoha.
Sensasi dingin tak wajar menuruni tulang belakangnya ketika ia menyadari sesuatu. Suhu panas abnormal ini pernah dialaminya.
"...Tobirama!"
Tobirama menghambur ke pintu, memberi kode tanda bahaya pada pasukan ANBU-nya, lalu melesat ke selatan.
.
"Arahkan semua yang tidak bisa bertempur ke tebing utara! Bawa siapapun yang mahir doton untuk membuat pelindung!"
"Baik!"
"Siagakan klan Inuzuka! Bunyikan tanda bahaya! Kirim semua yang bisa suiton ke selatan!"
Lehernya sakit. Napasnya pendek-pendek. Udara panas ini mencekiknya.
Siapa sangka bijuu berekor empat itu akan kembali setelah membumihanguskan kampung lama mereka dua tahun lalu?
Sebatang aras raksasa tersisa sendirian di tengah ladang-ladang desa. Tobirama memanjat hingga ke cabang tertinggi yang bisa menahan bebannya untuk memandang jauh ke kegelapan. Suhu udara terus bertambah. Kelembapan menyelimuti kulitnya bahkan di bawah pakaian. Otot-otot dadanya bekerja ekstra keras memompa udara masuk dan keluar. Ia melebarkan cakranya, mengindra medan.
Di selatan, berdiri sebuah sosok raksasa berekor banyak.
Dua tahun lalu Hashirama berhasil mengusirnya ke utara. Tidak ada kabar tentang kemunculannya lagi, bahkan tidak dari desa-desa di seantero Hinokuni, sampai malam ini. Tepat ketika dua orang yang bisa menangani bijuu seorang diri jauh dari Konoha.
Sialan.
Lolongan anjing bersahut-sahutan jauh di belakang. Yang berpengalaman menghadapi Yonbi hanyalah sebagian Senju dan Inuzuka.
"Senju-sama!"
Dua orang mencapai cabang-cabang di bawah. Keduanya masih mengenakan kimono pesta. Ia mengenali Yamanaka Inoha, tetapi lelaki Hyuuga satunya tidak. Tobirama memberi isyarat pada pria itu untuk menggunakan byakugan-nya.
"Demi Sang Sennin…" bisiknya takjub. "Apa … inikah bijuu?"
"Yonbi," balas Tobirama. "Apa dia diam saja jauh di seberang hutan?"
"Y, ya— jaraknya kurang lebih tujuh ratus meter. Tingginya—"
"Yamanaka-san." Tobirama tidak butuh penjelasan tinggi tubuh monster itu. "Bisa shintenshin Yonbi?"
"Anda bercanda…!" Dedaunan berkeresak ketika Inoha memanjat lebih tinggi ke cabangnya. "Dia ini monster!"
"Yang dikendalikan oleh sebuah kesadaran," ia bersikeras. Mata merahnya berkilat-kilat di kegelapan menatap siluet Inoha. "Sama halnya dengan binatang."
"Senju-sama, mengapa dia diam saja?"
Tobirama mengabaikan pertanyaan itu. "Jadi Anda bisa atau tidak?"
Inoha menyipitkan mata, lalu mendengkus. "...Kita coba saja. Tapi aku harus mendekat." Ia turun duluan, diikuti Tobirama. "Ayo, Takasugi-kun!"
Di seberang ladang kentang dan ubi jalar terbentang hutan heterogen. ANBU yang tadi ia kirim pergi menyusulnya di sana, memberitahukan bahwa perintahnya telah dilaksanakan.
"Hanya lima orang Inuzuka yang masih sanggup bertempur. Tapi mereka bawa semua anjingnya," kata si ANBU sambil memberikan sekantung kunai kepada Tobirama. "Pengguna suiton— lebih sedikit lagi."
Kepalanya dibanjiri oleh informasi dan taktik. Sisi selatan Konoha lebih datar, dipenuhi hutan selepas batas-batas ladang desa. Vegetasi rimbun bisa memulai kebakaran hebat sekecil apapun api yang terpercik. Danau berjarak ratusan meter di belakang. Udara malam ini semakin mengering karena panas dari si kera. Desa mereka sekarang lebih luas daripada kampung lama Senju.
Tidak. Ia tidak akan kehilangan rumah ini.
Tapi Kakak tidak ada di sini….
"Jaraknya lima ratus meter," Hyuuga Takasugi berbisik menginformasikan. Ia duduk di cabang yang berbeda dari kedua kepala klan itu. "Dia sedang mengendus udara … seperti mencari-cari sesuatu."
Pasti karena lolongan para anjing Inuzuka. Mereka terlatih berburu dalam kelompok. Kegelapan dan rimbunnya hutan menguntungkan mereka. Namun, jika bijuu ini lebih cerdas daripada monyet biasa….
"Sudah kubidik." Pernyataan Inoha menghentikannya berpikir. Ia tengkurap, kedua lengannya terentang ke depan membentuk segel khusus. "Beri aba-aba, Senju-san." Suaranya bergetar.
Tobirama merunduk di bawah kerimbunan daun di sebelah pria pirang itu. Jemarinya melingkar erat pada cabang kasar.
"Berapa lama—?"
"Lima detik, maksimum."
Ia membuat sebuah kagebunshin. "Bunshin-ku akan memberi komando di bawah," katanya pada si ANBU, yang langsung pergi dengan bunshin tersebut. "Takasugi-san, kabari pergerakan sekecil apapun. Inoha-san, aku akan menghitung mundur. Sepuluh—"
Butuh lima detik untuk mencapai kelompok suiton.
"Sembilan."
Butuh dua detik untuk menginformasikan taktik.
"Delapan."
Butuh dua detik untuk membuat segel dan menyebarkan unit anjing Inuzuka.
"Tujuh."
Takasugi mengembuskan napas pendek-pendek keras sekali. Keringat deras meluncur di leher Tobirama—
"Enam."
Ia memberi tanda pada Inoha. Cakranya mendeteksi deru ketika jiwa pria itu berpindah pada monster di depan. Selama sesaat tidak ada yang terjadi—
Lima.
—Kemudian, Yonbi mulai mengamuk. Ia memegangi kepalanya, menggeram-geram seolah ada semut api menggigiti isi tengkoraknya. Kedua kakinya bergantian menghantam tanah, menggetarkan padang rumput dan membalikkan bebatuan—
Empat.
—Tobirama erat-erat memegangi tubuh Inoha di sampingnya agar tidak jatuh. Daun-daun rontok dari ranting—
Tiga.
—Naga-naga suiton melompati hutan tempatnya bersembunyi, membanjiri tanah di antara mereka. Deburan mereka bersahut-sahutan memenuhi area terbuka, diiringi gonggongan anjing dari kegelapan—
Dua.
—Padang rumput yang luluh lantak berubah menjadi lautan lumpur. Monster itu terbenam hingga lutut. Ia terbungkuk. Raungannya menggema ke delapan penjuru, putus asa—
Satu.
—Inoha terbangun mendadak bagai baru dikeluarkan dari air. Tubuhnya gemetar hebat—
Nol.
—Naga-naga air kembali menjulang di langit, kali ini membidik langsung Yonbi. Namun, bijuu itu mengangkat kepala, dalam sekejap memuntahkan bola api raksasa. Naga-naga air beradu, menguap menjadi kabut. Sisanya menghujani seantero hutan—
"Celaka!"
Bola api itu tidak hilang usai beradu dengan suiryuudan— melainkan masih melaju menuju tempatnya bersembunyi. Tobirama melemparkan kunai bersegel ke belakang, menyambar kerah Inoha, lalu melompat tepat ketika hutan itu terbakar habis tertelan kobaran api.
Dengkingan pilu adalah yang pertama menyambutnya ketika tubuhnya terhempas di tanah. Pusaran bulu-bulu mengelilinginya. Ketika sesuatu yang basah menyeka pipinya yang luka, ia menyadari anjing-anjing sedang mengerumuninya dan Inoha. Kepala klan Yamanaka itu tidak bergerak. Seekor anjing menyundul kepalanya agar ia tidak menelungkup. Inoha masih bernapas.
Namun, kelegaannya tidak berlangsung lama. Ia lupa membawa Takasugi. Hutan di belakangnya sudah berubah menjadi dinding api.
Kuku-kukunya mencakar tanah. Giginya mengertak.
Ia tidak akan kehilangan rumah lagi kali ini!
Tobirama melompat bangun, menatap para shinobi di hadapannya. Satu orang sudah membungkuk di tanah untuk muntah. Sisanya masih menguarkan bau sake dari mulutnya. Sesekali, seseorang terbata menyebut nama Sang Sennin dengan mata nanar menatap kebakaran.
"Ikuti bunshin-ku dan padamkan api!" ia meraung mengalahkan deru kebakaran, lalu memanggil si ANBU. "Kau— bawa Yamanaka-san ke rumah sakit—!"
Belum jauh si ANBU pergi dengan Inoha, tanah kembali bergetar hebat, melontarkan manusia dan anjing-anjing ke udara. Kagebunshin-nya hilang. Tobirama menempelkan segel pada semua kunainya, menyebarnya ke sekeliling. Ia melompat secepat kilat, berhasil menyambar orang dan anjing pertama—
Telapak tangan sebesar atap rumah mendekati wajahnya, dan Tobirama tak sempat melompat—
Tangan itu menghilang secepat kemunculannya, ia tak sempat mengambil orang-orang lain, tetapi ada lebih banyak orang berpakaian gelap mengelilinginya dan—
Raksasa keemasan separuh tembus pandang menendang Yonbi kembali ke selatan.
"Senju-san!" Seseorang mengguncang bahunya— Uchiha Hikaku. Sharingan-nya menyala-nyala dalam gelap malam. "Segel-segel suiryuudan— tolong ajari—"
Tobirama memindai sekeliling. Mata Hikaku bukan satu-satunya sepasang sharingan di situ. Belasan pasang balas menatapnya, menanti segel yang diminta.
Telinganya menangkap keresak dedaunan dan lebih banyak langkah-langkah di sekitar mereka. Puluhan shinobi dari berbagai klan berjajar di belakang deretan klan Uchiha, semua menanti instruksinya. Sebagian masih mengenakan kimono pesta, sebagian telah berzirah. Semuanya berdiri tegak.
Seorang ANBU mendarat di sisi Tobirama. "Klan Nara punya penawar mabuk, tapi hanya sementara—"
Jemarinya segera membentuk empat puluh empat segel suiryuudan. "Bawa semua yang luka mundur! Aku ingin klan Akimichi dan Nara di depan untuk menahan gerakan bijuu. Uchiha—"
"Kami akan mengurus apinya," Hikaku menyelesaikan kalimatnya. "Serahkan pada kami."
Tobirama mengangguk, tenggorokannya tercekat.
"Sebagai gantinya— tolong jaga Izuna-san."
"Apa—"
Nekat!
Isi perutnya serasa turun ke ujung kaki ketika ia berbalik, mendapati raksasa keemasan itu beradu jotos dengan Yonbi di kejauhan.
Susano'o utuh.
Ukurannya tidak sebesar susano'o Madara, tetapi cukup untuk menghadapi Yonbi dengan taijutsu. Selama mereka berlatih bersama, yang terbaik ia capai hanyalah wujud tengkorak setinggi pepohonan. Kali ini wujudnya lebih menyerupai iblis berpakaian petapa.
Tobirama menerima satu set kunai baru, lalu melesat maju menembus kebakaran. Semakin ia mendekat, ia bisa melihat garis tepi tubuh susano'o itu mengabur. Serangannya pun mulai kehilangan kekuatan, luput dari sasaran.
Dua ekor Yonbi meninju dada susano'o, membuatnya terjengkang. Hilang. Mulut si kera membuka menyiapkan serangan. Tobirama bertindak— ia membungkamnya dengan bola air besar, lalu melompat ke sisi Izuna.
Wanita itu terkapar di tanah, tetapi sisa zirah cakranya masih tersisa berupa kepulan asap keemasan tipis. Ia bangkit dengan cepat, dinding cakranya kembali membentuk tubuh. Kedua rongga matanya yang kosong berkali-kali mengerjap. Rambutnya terurai liar.
"Izuna—!" Tobirama menyambar pergelangannya tepat ketika susano'o kembali mewujud. Derasnya aliran cakra nyaris melontarkannya. "Mundurlah bersama yang lain!"
Semua bulu si kera sekarang menyala-nyala, sehingga para shinobi Akimichi tidak bisa mendekat tanpa melukai diri mereka sendiri. Seruan mereka bersahutan di sekitar, tetapi terasa jauh bagai tertutupi tabir.
"Mundur ketika aku satu-satunya yang bisa melawan Yonbi sendirian?" Izuna balas berteriak. "Mustahil!"
Kegirangan mewarnai kata-katanya. Ketiadaan matanya membuat ekspresinya lebih menakutkan. Bibirnya terus tertarik membentuk cengiran lebar, tertawa-tawa setiap serangannya masuk. Tetap saja lebih banyak yang luput.
Ia berpegangan erat pada Izuna. Goyahnya pijakan setiap kali susano'o bergerak menyulitkan Tobirama memusatkan cakra dan membuat segel. Mereka mulai kesulitan— terdorong mundur oleh serangan bertubi-tubi. Jika ini terus berlangsung, orang-orang di belakang mereka akan—
Susano'o oleng ke kanan, dan pegangannya lepas. Pusing melandanya meski Tobirama sempat kembali berdiri. Izuna tidak tampak terpengaruh.
Yonbi mengangkat tinju kanannya.
"Kiri— bukan! Tangan kirimu!" Tobirama berteriak. Suaranya serak setelah semalaman mengarahkan serangan. Dadanya sakit, yang ia abaikan.
Tangan kanan susano'o naik, tetapi ke arah yang salah. Dari belakang Izuna, Tobirama menautkan jemari tangan kiri mereka. Lengan susano'o menghantam maju bersamaan dengan majunya lengan kiri mereka— telak meninju si bijuu. Ia tak membuang waktu; tangan kanan mereka bertautan erat, dan ia merasakan cakra pengindra Izuna memudar.
Sepenuhnya bergantung pada arahan Tobirama.
Ia paham alasannya; fokusnya lebih dibutuhkan untuk mempertahankan zirah cakra itu. Tobirama mengatur langkah-langkahnya dengan menyentuh kaki telanjang Izuna, menghindari area yang rusak dengan luwes. Izuna meraung penuh semangat, kegembiraannya membuncah tumpah ruah ketika mereka mendaratkan serangan telak berkali-kali.
Untuk sesaat, Tobirama bisa melupakan rasa sakitnya.
Yonbi berguling-guling mundur, tetapi berhenti ratusan meter dari mereka. Ia segera bangkit, tetapi diam di tempat. Kedua kepalannya menempel ke tanah. Ia mendengkus. Alisnya menukik penuh determinasi.
Sebagian besar kebakaran sudah dipadamkan. Dua raksasa Akimichi berlari mendekat dari kedua sisi, dan sulur-sulur bayangan klan Nara melesat siap mengikat—
Si bijuu meninju tanah, lalu meninju-ninju dadanya sembari meraung. Gelombangnya mengempaskan kedua shinobi Akimichi seperti angin topan. Tobirama menangkap Izuna ketika susano'o-nya buyar dan mereka jatuh—
Seluruh otot di tubuhnya menjerit penuh derita. Pusat cakranya berdenyut-denyut menyakitkan. Rahang dan lidahnya bergerak-gerak, ia bisa merasakannya, tetapi tiada suara yang keluar.
Semua suara sirna.
Merah mengalir dari telinga Izuna. Wanita itu celingukan panik, dadanya yang kurus naik-turun cepat. Debu dan tanah mengotori mukanya. Tobirama menangkupkan kedua tangan di pipinya, memanggil-manggilnya meski ia sendiri masih tidak mendengar apapun—
Bumi kembali bergetar. Yonbi maju. Rembulan terang benderang di langit.
"—Na! Izuna!"
Kagebunshin barunya melesat menghadang Yonbi. Cakra Izuna masih nekat berusaha mewujud, walau yang keluar hanyalah kelap-kelip serupa percikan bunga api.
Sisa cakra si bunshin hilang setelah ia melepas suiryuudan.
Izuna menarik napas panjang dan tajam. Rongga kosong matanya terarah ke wajah Tobirama. Bibirnya terbuka, lirih memohon,
"Pandu aku."
Tobirama mengangguk.
Susano'o kembali mewujud, lebih padat dan lebih sempurna dari sebelumnya. Keduanya terbawa hingga sejajar dengan tinggi mata Yonbi. Kedua tangan mereka mendekat untuk bertautan lagi dan—
Keringat dingin membanjirinya. Jantungnya sakit setiap berdetak. Tobirama mencengkeram dada kirinya, menahan rasa sakit yang merebak menghalangi cakranya. Tubuhnya kaku. Lengan dan kakinya menolak digerakkan. Semakin dipaksa, semakin ganas sakitnya melanda.
Sedikit lagi. Sedikit lagi—
Namun, wajah panik Izuna adalah hal terakhir yang dilihatnya sebelum dunia menggelap dan ia melayang jatuh—
"Tobirama—? TOBIRAMA!"
.
.
i might update next chapter slower because school and house renovation. but i'll try my best to write everything :D thanks for reading!
