thank you for waiting, pls have more izuna
bgm is vertigo - kisnou; battle scene is warriors - imagine dragons
WARNING for suicidal thoughts
.
.
Usianya sebelas tahun, dan dunia Izuna berubah.
Berminggu-minggu setelah kepergian ibunya, Izuna tak berani melihat ke satu-satunya cermin di rumah. Ia tahu dirinya tak lagi sama sejak malam itu. Misalnya saja, ia tak membutuhkan penerangan untuk melihat menembus gelapnya malam. Dan di waktu-waktu tertentu, ia bisa mempelajari taijutsu rumit dari kerabatnya yang lebih tua hanya dengan menonton mereka berlatih.
Bukan mempelajari— meniru.
Tanpa melihat cermin pun Izuna tahu sharingan-nya telah bangkit.
Sang Leluhur telah memilihnya mengemban kekuatan ini.
Seharusnya ini jadi momen yang membahagiakan, momen yang membanggakan, bukannya sesuatu yang ia simpan rapat-rapat dari pengetahuan keluarga— sisa keluarganya. Rumah mereka terasa terlalu kosong di penghujung hari tanpa suara tangisan, gema lari di lorong, dan senandung lembut yang selalu menemaninya terlelap.
Ia masih bisa membayangkan padang rumput di bawah ribuan bintang itu. Ia masih bisa melihat jelas sosok berpakaian kuning yang semakin mengecil seiring langkah ayahnya pulang. Namun, ia tak bisa membayangkan ada di mana ibundanya saat ini … atau apakah ia selamat mencapai tujuan—
"Izuna-chan…?"
Panggilan itu menyentakkannya dari lamunan. Ayano, teman mainnya yang hari ini giliran memasakkan sarapan keluarganya, menatapnya penuh kekhawatiran. Rambutnya membingkai pipi tembamnya yang kemerahan. Malu, Izuna menunduk. Mangkuk-mangkuk di hadapannya sudah terisi acar dan ikan air tawar kering. Rasanya hambar, tetapi ia makan tanpa mengeluh. Ayah dan kakaknya makan dalam diam, nyaris tanpa suara sumpit yang beradu dengan tembikar. Sinar matahari pagi menghangatkan punggungnya selama makan. Cuacanya pasti bagus untuk berburu.
"Ayah dan Kakak jadi berburu hari ini?" celetuknya, harapan terselip dalam pertanyaannya.
"Mau tak mau," jawab Tajima. "Persediaan daging kita menipis. Melawan Senju menghabiskan semua persediaan kita, sampai ke daging-daging keringnya. Jebakan-jebakan juga sudah harus dicek."
Ia mencuri pandang ke isi mangkuk-mangkuk lainnya. Semua potongan ikannya kecil sekali. Acar pun hanya sejumput. Daging kering sudah mereka makan kemarin-kemarin. Teksturnya keras dikunyah, tetapi ia tidak pernah mengeluh.
Madara memprotes, "Mengapa Izuna tidak diajak juga?"
"Nanami akan melatih anak-anak kenjutsu. Izuna lebih baik ikut di situ."
Bahunya menurun lesu. Izuna berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Namun, ekspresinya masih terbaca jelas oleh kakaknya.
"Habis makan malam nanti," Madara berbisik kepadanya sebelum meninggalkan rumah, "kita akan latihan kenjutsu di luar. Biar kamu cepat bisa."
Suasana hati gadis kecil itu langsung membaik. "Iya!"
Usai Ayano membereskan meja, Izuna pergi bersamanya ke lapangan latihan kenjutsu. Hari ini mayoritas hanya anak-anak perempuan karena anak lelaki pergi berburu menemani para pria dewasa. Belasan anak berbaris teratur, yang terpendek paling depan. Semuanya sudah memegangi pedang kayu masing-masing. Izuna mengambil tempatnya di tengah barisan, dan meratakan poninya dengan gugup. Ia masih berlatih bersama anak-anak yang belum membangkitkan sharingan.
Obrolan dan senda gurau mereda ketika Uchiha Nanami muncul. Rambutnya digelung dengan poni dikebelakangkan. Lengannya kekar dengan guratan bekas luka terlihat setiap kali ia mengayunkan langkah. Sulit untuk percaya bahwa ia ibunda Ayano yang wajahnya lemah lembut.
Nanami mengamati anak-anak sambil berkacak pinggang. "Tunggu apa lagi?" raungnya. "Mulai!"
Serentak mereka mengayunkan pedang-pedang. Ayunan ke depan, bawah ke atas, berbalik dan menusuk, menangkis dan berguling … lalu kembali ke awal.
Pedang kayu itu luwes di permukaan tangannya, ujungnya membelah udara sehalus gerakan elang menyambar kelinci. Setiap ia berguling, pedangnya berpindah pegangan, mengikuti pola yang sama tanpa keraguan atau jeda. Seringainya terbentuk ketika ia menyadari tatapan iri anak-anak lain. Mereka masih bersusah payah; ia bisa melakukan semuanya dengan mudah.
Namun, latihan hari itu membosankan baginya karena mengulang gerakan yang sudah terpatri pada memori ototnya. Hanya kurang kekuatan saja. Ia menahan rasa bosannya, baru bersungguh-sungguh ketika Bibi Nanami mendekat meneriakkan aba-aba serang.
"Perhatikan kakimu!" bentaknya— untungnya kepada anak lain. Suaranya keras mengalahkan seruan anak-anak. "Kau menumpukan berat terlalu banyak ke kaki kiri!"
"Bikin senewen saja," Ayano mengeluh ketika ia berbalik. "Uhhh—" ia berbalik ke arah yang salah untuk menangkis, yang buru-buru dikoreksinya sebelum ditegur. Sedikit saja gerakan tak seragam, telinga tajam Bibi Nanami pasti mendengarnya.
Izuna memiringkan kepalanya sedikit untuk mendengarkan sembari melanjutkan latihan. Peluh membasahi alisnya. "Di rumah juga begitu?"
"Menurutmu bagaimana? Kakak saja sampai semangat tugas patroli…."
Elang-elang mulai terlihat di angkasa. Perhatian Izuna meninggalkan percakapan itu. Ia bengong. Kibasan gelap rentang sayap mereka menghalangi sinar matahari dari mencapai tanah. Satu, dua, tiga elang cokelat gelap dan kelabu. Terbang berputar-putar tinggi di atas lapangan.
Ia menanti hingga Nanami membalikkan tubuh, lalu kabur dari barisannya.
"Izuna!"
Teguran berbisik Ayano tak diindahkannya. Dengan pedang kayu masih di tangan, Izuna meluncur menuruni punggung bukit kecil. Kebun-kebun sayur di halaman tetangga ia terobos, sampai-sampai satu-dua kol dan wortel siap panen terpental ke udara.
Permukiman Uchiha terletak di daerah berbatu-batu, dengan rerumputan tipis tumbuh dari celah-celahnya. Kakinya yang tak beralas memijak permukaan kasar nan tajam. Lecet sudah pasti; semua tak diperhatikannya demi menyambut rombongan berburu yang baru kembali.
Belasan orang, mayoritas lelaki, memasuki gerbang perkampungan. Hampir semuanya mengenakan sarung tangan tebal di tangan kiri. Beberapa orang menyandang busur dan anak panah. Mulutnya menganga melihat banyaknya hewan yang mereka bawa kembali. Seekor rusa, beberapa ayam pegar, berekor-ekor kelinci.
Daging segar!
Sebagian orang mulai melepas ikatan ayam dan kelinci— semua meronta-ronta hebat. Si rusa tampak sudah pasrah akan nasibnya, sampai Izuna mendapati bekas panah di tubuh hewan itu. Merah masih mengalir menodai bulu cokelat keemasannya yang halus.
Ia berlutut. Diletakkannya telapak tangan di leher si rusa. Masih hangat. Masih dihantui sisa-sisa nyawanya. Matanya yang kelam menatap kosong kepadanya. Permukaannya memantulkan cahaya matahari.
Si rusa mengedip.
Kedua kaki belakangnya menjejak kuat-kuat, melemparkan rumput dan tanah ke arahnya. Izuna terkesiap, tak siap. Instingnya dengan segera mengambil alih— ia melompat bangun mengejar.
Si rusa berhasil menghindari rombongan pemburu, kini melompat jauh-jauh melewati gerbang. Para pemburu berseru memperingatkan orang lain, tetapi Izuna sudah jauh di depan. Tatapannya terkunci pada ujung ekor si rusa yang putih pendek. Kaki-kakinya yang sekilas kurus ternyata kuat, membawa tubuh hewan itu berkelok-kelok menghindari semak dan batuan. Izuna mulus mengikuti dari belakang.
Jika si rusa sampai lepas, maka ini adalah kesalahannya!
Dunia memudar, mengabur di sekitarnya kecuali buruan yang ia kejar. Luka panahnya seolah tidak menghambat kecepatannya. Garis-garis energi yang melingkupi tubuhnya benderang bercahaya. Pipinya panas terbakar siang. Rusuk Izuna mulai ngilu. Satu-satunya senjata yang ia miliki hanyalah pedang kayu. Kaki-kaki si rusa melambat dalam pandangannya; setiap langkahnya mudah terbaca….
Jarak mereka menipis, sependek sepelemparan batu. Izuna memusatkan cakra di kakinya, lalu melompat menggunakan bebatuan sebagai titik tolak. Pedangnya terangkat jauh di atas kepala—
Lalu telak menghantam leher sang mangsa. Derak mengerikan membahana; pemburu dan mangsa tersungkur berguling. Izuna meludahkan tanah dan darah, melempar dirinya ke atas si rusa. Tangannya menggenggam leher kuat-kuat, mendesis selama hewan itu mencoba menandak melepaskan diri.
Hitam bertemu merah.
Cakra yang mengalirinya memudar, hilang.
Tatapan rusa itu kosong.
Adrenalin belum surut dalam pembuluh-pembuluhnya ketika derap langkah-langkah berat datang menyusul dan mengelilinginya. Izuna mengenali suara ayahnya di antara seruan para pria lain.
"Mengapa gegabah sekali—" Tajima menarik lengan putrinya, kata-katanya terputus ketika wajah mereka berhadapan. Kecemasannya berubah menjadi keterkejutan. "Sharingan-mu sudah…?"
Izuna mengerjap kaget. Ia buru-buru menundukkan pandangan, tidak berani menatap ayahnya. Pasti sharingan-nya muncul sendiri selagi ia mengejar rusa barusan. Padahal selama ini ia telah sangat berhati-hati….
"Sini, Bibi lihat…." Seorang wanita berambut cokelat gelap berlutut dan menyentuh pipi Izuna. Tabung anak panah masih tersampir di bahunya. "Ya … sharingan satu tomoe! Tajima-san beruntung sekali," tambahnya kepada pria itu dengan wajah semringah.
"Apa, sharingan?"
"Izuna-chan sudah dapat sharingan?"
"Mana, lihat!"
Kerabatnya yang lain mendengar berita itu. Dengan segera Izuna dikelilingi oleh para paman dan sepupu. Seruan-seruan bahagia menyelubunginya.
"Sharingan-mu bangkit karena mengejar rusa?" tanya seorang sepupu. "Bagaimana caranya?!"
"Aku sudah mengejar-ngejar rusa selama tujuh tahun, sharingan-ku nggak muncul juga!"
Bagaimana? Semua kerabatnya mendapatkan sharingan di medan tempur, bukannya ketika mengejar buruan yang kabur. Sharingan-nya sudah bangkit lama, tetapi ia tak mungkin mengungkapkan fakta itu. Izuna tak tahu jawaban apa yang mesti ia berikan, tetapi sepupu lain menjawabkan untuknya.
"Itu 'kan terserah Sang Leluhur!"
"Iya tapi jarang sekali anak sekuat Madara belum—"
Tajima saat itu memanggilnya pulang. Ia lari membebaskan diri dari kerabatnya. Di sepanjang jalan kembali, Izuna tak sempat menonaktifkan sharingan-nya. Semua kerabatnya terus ingin melihat, dan menghujaninya dengan pujian.
"Aku sendiri punya sharingan di usia empat belas tahun. Ayahmu di usia enam belas." kata bibi yang tadi memeriksa matanya. "Mendapatkannya semuda ini … Sang Leluhur pasti melihat potensimu. Mau latihan denganku mulai besok—?"
"Oi, Setsuna. Jangan menyerobot," tegur Tajima sambil menahan kekehannya. "Aku yang akan mengajarinya duluan."
Semangat Izuna membubung. Latihan sharingan langsung dengan ayahnya! Sudah lama mereka tidak berlatih bersama sejak ia menguasai goukakyu….
"Aku mau latihan sama Ayah saja!"
"Ih!" Setsuna berpura-pura merajuk sementara Tajima terbahak-bahak. Perhatian wanita itu teralihkan mendadak, menghampiri sosok yang berdiri di sebelah gerbang perkampungan.
"Itu panahmu yang mengenai rusanya, 'kan?" Sosok lawan bicaranya terhalangi orang-orang. "Bidikanmu masih harus diperbaiki lagi."
"Dimengerti, Bibi Setsuna."
Bibinya berlalu, dan Izuna mendapati kakaknya bersandar di gerbang. Alisnya berkerut. Tangan kanannya masih memegang busur. Tatapan mereka bertemu, dan cengirannya segera terbentuk.
"Katanya matamu sudah bangkit!" serunya sambil mendekat. "Selamat, Izuna!"
"Kak—" Responsnya terputus seiring mendaratnya tangan Madara di kepala Izuna, mengacak-acak rambutnya.
"Jangan lupa latihan kita malam ini, ya!"
Sebelum ia sempat menjawab, Madara sudah pergi. Punggungnya segera menghilang di antara kerumunan yang sedang menguliti kelinci.
Izuna merapikan rambutnya, benaknya bagai dicengkeram tangan tak kasatmata. Adrenalin di pembuluhnya surut, digantikan kelelahan abnormal.
Pengejarannya tidak berlangsung lama, tetapi ia sudah selelah ini…..
Malam itu Tajima membawanya ke kuil, melakukan upacara singkat berterima kasih kepada Leluhur Agung klan. Izuna melewati rangkaiannya tanpa memerhatikan penuh. Madara ada di sisinya, duduk agak di belakang dengan wajah kaku. Tajima duduk di hadapan, terdekat ke altar, tanpa menyisakan tempat bagi orang tua lainnya. Suaranya rendah dan datar membacakan doa.
Ia selalu membayangkan menghadiri upacara kakaknya terlebih dahulu, baru disusul dirinya nanti. Upacara yang penuh kebahagiaan dan tawa, bukannya tanpa kehadiran separuh keluarganya.
Kegembiraannya tadi sudah sirna menguap.
"Izuna-chan beruntung sekali." Ayano kembali menemaninya ketika keluarganya berjalan pulang. Matanya berbinar-binar penuh kekaguman. "Kau mungkin bisa ditempatkan di garis depan langsung melawan Senju! Seperti ibuku!"
Tajima dan Madara masih di kuil, melantunkan persembahan tambahan tanpa Izuna. Ia memilih pulang, laparnya sudah menghantui dan ia tak sanggup berlama-lama duduk diam di kuil.
"Yah, kau juga Ayano…."
"Dalam dua atau tiga tahun lagi, seharusnya sharingan-ku juga bangkit seperti punya Kakak dan Ibu." Kedua tangannya bertautan di punggung. "Tidak bangkit pun tak apa, siapa tahu anakku nanti punya sharingan yang lebih kuat. Iya, 'kan?"
Ia mengangguk, menghidupkan sharingan untuk menghindari bebatuan tajam dalam gelap. Aliran cakra di tubuhnya dan sepupunya jelas terlihat. Alirannya tenang, seperti sungai kecil.
"Izuna-chan bisa melakukan lebih banyak untuk klan sekarang!" Ayano belum berhenti mengoceh. "Leluhur Agung akan sangat sangat bangga padamu!"
Menyebut Sang Leluhur membuat senyumannya merekah. "Jika Ayano terus latihan, pasti Leluhur juga membangkitkan sharingan-mu!"
Suasana hatinya lebih baik ketika makan malam yang lebih mewah dari biasanya dihidangkan. Ia mendapatkan porsi daging rusa ekstra, dan selama makan terus membicarakan latihan-latihan baru bersama ayahnya. Madara tak banyak berbicara, hanya sesekali menimpali jika ditanya.
Tajima sudah berlalu ke kamarnya, dan Ayano pulang usai makan malam. Izuna menyeret pedangnya dengan langkah-langkah berat ke pinggir perkampungan. Serangga malam berkerik menemani kakak-beradik itu dalam kegelapan. Taburan bintang gemintang di atas terlihat jauh lebih menawan dengan sharingan-nya menyala, membuatnya terus menerus berhenti untuk memerhatikan langit.
"Jadi latihan, tidak?" Madara berdiri beberapa meter di depan, tangannya berkacak pinggang.
Izuna mengerucutkan bibir. "Jadi."
"Yakin?" balasnya skeptis. "Sudah punya sharingan, pasti bisa cepat menguasai jurus-jurus kenjutsu."
Cuping hidung Izuna melebar, menyiapkan balasan, tetapi Madara memotongnya.
"Sudah berapa lama sharingan-mu bangkit?"
Gadis itu tersentak. Ia menelan ludah, memindahkan pedang kayunya dari satu tangan ke tangan lain. "Sejak … ibunda…."
"Kenapa tidak bilang?" Pertanyaan itu keluar lebih seperti tuntutan. "Sudah hampir semusim…!"
"...Soalnya Kakak…." Suaranya tercekat. "Kakak … belum."
Ekspresi anak lelaki itu tak lagi tegang menahan amarah. Pedang kayunya ia biarkan jatuh di rerumputan. Dalam dua langkah panjang ia memangkas jarak mereka, lalu tangannya menepuk kepala Izuna lembut. Mengelusnya meski penuh keraguan.
"Nggak apa-apa."
Keraguan membuat anak perempuan itu tak berani menatap, hanya melirik sedikit saja.
"Kenapa sharingan Kakak nggak bangkit juga…?"
Madara hanya mengangkat bahu. "Terserah Leluhur, 'kan?" Tawa membayangi retorikanya. "Nggak semua Uchiha berhasil membangkitkan sharingan."
"Tapi Kakak jauh lebih kuat dariku! Kakak bahkan sudah membunuh shinobi dewasa sementara aku belum pernah sekali pun!" sergahnya, segala emosinya tumpah. "Kenapa malah aku duluan yang—!"
"Leluhur bilang … belum saatnya mataku bangkit," Madara merespons pelan, rambutnya diacak-acak angin. "Masih ada sesuatu yang harus kutemukan."
Izuna mengerjap. "Apa?"
Madara hanya tertawa kecil. "Aku akan tahu kalau sudah ketemu." Ia mundur, memungut pedang kayunya. "Ayo mulai sebelum terlalu malam."
Namun, latihan mereka pun berubah. Izuna lebih sering mengoreksi taijutsu kakaknya, memberitahunya celah-celah yang bisa diprediksi dengan sharingan. Jika tidak sedang memerangi klan lain, Izuna latihan dengan ayahnya, mengeksplorasi sharingan dan meningkatkan ketahanan tubuhnya agar tidak cepat lelah. Sharingan begitu menguras tenaganya, sehingga ia tak bisa sering-sering menggunakannya tanpa stamina besar. Pagi latihan fisik, sore belajar membaca, dan malamnya diisi dengan meditasi. Membaca awalnya rumit baginya, tetapi ia menyukai kegiatan itu. Ada lebih banyak ilmu selain seni tempur yang bisa didapatkannya. Tentang strategi dan taktik, tentang geografi di sekeliling perkampungan, tentang hewan buruan dan tanaman liar….
Dalam beberapa minggu berikutnya, anak perempuan itu juga menyadari perubahan lain pada kakaknya. Ketika mereka tidak sedang berperang atau berlatih, Madara menghabiskan banyak waktu bermain begitu jauh.
Sendirian.
Izuna tidak memikirkannya sampai Madara mulai menunjukkan perubahan gaya taijutsu-nya setiap mereka berlatih berdua. Saat Izuna mengomentarinya, Madara menanggapinya dengan santai.
"Aku memikirkan cara agar kamu tidak bisa mengalahkanku semudah itu, tahu!" ungkapnya di suatu malam usai Izuna memecahkan semua kelemahan gerakan taijutsu andalannya. Meski Madara mulai bertambah tinggi dengan pesat, Izuna selalu berhasil membantingnya.
Aneh.
Aneh karena pada suatu hari ketika mereka mendapatkan pemberitahuan penyerbuan mendadak, Madara tidak bisa ditemukan di mana pun. Untuk pertama kalinya ia absen dari pertempuran. Murka Tajima tidak diledakkan, ditahan-tahan hingga mereka mencapai pertempuran dan menyerbu pasukan yang sibuk saling bunuh.
Izuna tak memiliki waktu untuk memikirkan Madara. Semua fokusnya terarah pada pertarungan. Untuk menghemat tenaga, ia hanya mengaktifkan sharingan-nya selama beberapa detik. Sebisa mungkin disembunyikan dari pengetahuan lawan agar mereka tak waspada.
Lawan hari ini adalah pasukan klan Hagoromo dan musuh bebuyutan mereka, Senju. Dari bukit tempat mereka menyerbu, klan Uchiha meluncurkan bola-bola api yang menggilas mayoritas pasukan Hagoromo. Dari sana mereka berbelok memecah belah formasi Senju.
Sharingan-nya membantu Izuna menghindari tebasan pedang dan hantaman tinju, memetakan jalan di antara tubuh-tubuh tinggi besar dan celah-celah kaki. Pedang akan terlalu menghambat manuvernya, maka ia hanya membawa segenggam kunai. Sebilah ia genggam di tangan kiri, menggores urat dan otot siapa pun yang terjangkau.
Izuna berguling melewati seorang shinobi, menembus garis depan yang masih belum pulih dari serangan katon mendadak. Penting dalam pertempuran untuk mencari lawan yang setara setidaknya secara fisik. Dengan lawan orang dewasa, ia hanya bisa meninggalkan serangan-serangan kecil tak fatal.
Sharingan-nya terlalu berharga untuk hancur di sini.
Sebilah kunai melesat menebas beberapa helai rambutnya. Izuna menghindar tepat waktu. Gadis kecil itu berdiri menghadap penyerangnya, menggenggam senjata di kedua tangannya.
Seorang anak lelaki kurus menerjang maju, menghantamkan pedang ke lehernya yang tak terlindung. Izuna menangkis dengan kunai, menendangnya di dada hingga ia terpental.
"Cih!" Ia meludah ke tanah. Zirah hijaunya tampak baru, begitu juga dengan pelindung wajahnya yang berukirkan lambang klan Senju. Usia mereka pasti sepantaran.
"Kau anak sulungnya Butsuma, 'kan?" Izuna menghunuskan kunai, "Aku ingat wajahmu."
Mata merah tua anak itu menyipit selagi ia mengangguk. "Izuna," sapanya datar. "Aku Tobirama."
Kenapa malah memperkenalkan diri…?
"Kamu aneh dan menyebalkan," ujarnya tanpa ragu. Siapa yang peduli soal nama jika hanya salah satu dari mereka yang akan selamat dari sini?
Ia merunduk ketika Tobirama menerjang kembali, kali ini kaki kirinya menendang tulang kering bocah itu. Bukannya jatuh, Tobirama berhasil menahan tubuh dengan kedua tangannya— sekaligus melayangkan tendangan menyapu ke sisi rusuk Izuna yang telak mengena. Ia mundur; lawannya sudah kembali berdiri. Ekspresinya datar.
Izuna mendengkus. Baik. Waktunya serius.
Namun, sebelum matanya sempat berubah merah, sebuah sinyal menjerit membelah udara. Sinyal klan lain— pasti itu Senju karena Tobirama segera melesat pergi. Asap dan uap air mereda di padang tempur, menyisakan anyir darah dan erangan sekarat shinobi Hagoromo yang tersisa.
Ia memperhatikan tidak ada shinobi Senju yang ditinggal begitu saja. Izuna memungut beberapa shuriken, kunai, dan sebilah pedang yang tertinggal sembari berjalan kembali. Tajima membentaki semua orang sepanjang sisa hari itu. Mau tak mau Izuna turut cemas.
Ke mana Madara pergi? Apa mata-mata musuh menjebaknya ketika ia sendirian menjelajah?
Tidak … Madara tak mungkin tertangkap!
Izuna tidak berani mengungkapkan kekhawatirannya ini, takut ia makin meledakkan murka Tajima. Makan malam pun masih terasa tegang. Izuna berinisiatif meminta Ayano pulang begitu ia selesai memasak. Atmosfer penuh gejolak emosi seperti itu menakutkannya.
"Izuna."
Anak perempuan itu terperanjat mendengar namanya dipanggil. Suara Tajima begitu rendah dan kasar, menyerupai geraman beruang.
"Tahu ke mana Madara pergi selama ini?"
Ia menelan ludah, memantapkan hati. "Tidak, Ayahanda."
Sharingan Tajima bagai menggali kejujuran jawabannya dari seberang meja. Izuna menatapnya lurus-lurus, menunjukkan bahwa ia tidak menyembunyikan sesuatu.
"Kelompok patroli pasti sedang mencarinya. Tidur saja."
Izuna bergeming. Lilin akhirnya memendek, apinya memanjang bergoyang ketika angin menyelusup dari celah shoji. Ia mengatur napasnya, mendengarkan semesta berbisik.
Dan bagai menjawab harapannya, ia mendengar langkah mendekat di antara petak-petak lobak. Satu. Dua orang.
Dalam sekejap mata, Tajima menggeser pintu lebar-lebar. Izuna menyusulnya, mendapati Setsuna di halaman. Tangan bibinya mencengkeram kerah seorang anak lelaki yang menundukkan kepalanya.
"Kakak—"
"Dari mana saja kau sampai selarut ini?!"
Alih-alih menjawab Tajima, Madara langsung menghantamkan dahi ke tanah. "Saya minta maaf sudah absen berperang, Ayahanda."
Izuna terpana. Pegangannya pada bingkai pintu melorot. Mungkinkah ia kabur dengan niat sendiri…? Sengaja menghindari pertempuran? Tatapannya mencari-cari jejak luka pada Madara. Namun, yang ada hanyalah noda tanah dan bekas basah di kaki.
"Dia bilang, dia menemukan jejak shinobi Hagoromo," Setsuna menyampaikan, suaranya letih. "Di hilir, kami menemukan mayat shinobi itu."
"Pasti dari pertempuran tadi. Apa yang kaupikirkan? Shinobi lainnya bisa saja ada di sana!"
"Saya … tidak berpikir." Madara belum mengangkat kepalanya.
"Jelas sekali tidak!" Tajima turun mendekat. Perhatiannya pindah pada Setsuna. "Seberapa jauh dia pergi…?"
"Patroli menemukannya di arah sungai."
Tidak ada anak-anak Uchiha yang main sejauh itu ke arah timur. Klan-klan lain berdiam di seberang, setahu Izuna. Bahaya jika mereka sampai bertemu musuh.
"Malam ini saya akan ke kuil," ujar Madara lirih.
Izuna belum pernah mendengar seseorang sukarela tinggal di sana. Ia tidak takut pada kegelapan kuil; tetapi tempat itu selalu membuatnya tidak nyaman. Seolah ada sosok tak kasat mata yang siaga mengawasi tanpa pernah tidur. Sang Leluhur, mungkin.
"Antar dia, Setsuna," perintah Tajima, lalu ia masuk. Langsung menuju kamarnya.
Anak perempuan itu bergeming di tempatnya lama setelah semua orang pergi dan pelita di dalam telah dimatikan. Perlahan ia mengenakan sandal, lalu berjingkat ke kuil di seberang perkampungan. Kegelapan tidak menghalanginya mencari arah dan menghindari tiang-tiang hingga mencapai ruang terdalam kuil. Di sini, bau debunya lebih pekat dan manis. Tekstur lantai kayunya semakin tak terasa di telapak kaki. Ia tak repot-repot mengatur sunyi langkahnya; kuil selalu kosong di malam hari. Kecuali ada anak bandel yang dihukum menghabiskan malam dalam dinginnya kuil.
Orang-orang dewasa bilang, di malam-malam tertentu Sang Leluhur akan turun ke kuil untuk menyiksa anak-anak nakal. Izuna belum pernah dihukum seperti ini, tetapi jika benar ia tak ingin Madara menghadapinya sendirian. Ia punya sharingan; ia bisa membantu kakaknya menghadapi Leluhur Agung.
Kesunyian di ruangan dalam membuatnya menyalakan sharingan. Ia maju hingga menemukan sekumpulan aliran cakra bersandar di sudut ruang doa tempatnya memanjatkan syukur tempo hari atas kebangkitan matanya.
"...Kak?"
"Kenapa menyusul?" Suara Madara datang dari sisi kirinya.
"Mau tanya." Ujung jemari Izuna menyentuh lantai selagi ia merunduk.
Helaan napas. "Sini."
Izuna mendekat hingga telapak kakinya menginjak jalinan tikar kasar. Madara membukakan selimut raminya agar adiknya bisa duduk.
"Kakak ngapain tadi pergi sejauh itu?"
"Latihan."
"Sendirian?"
Madara mengangkat bahu. Ia bahkan tidak menatapnya. Jarinya memainkan benang lepas di selimut.
"Gimana bisa berlatih kalau cuma sendirian?"
Tangan Madara mendarat di kepalanya, mengacak poni anak perempuan itu. "Ada, deh."
"Jangan bohong." Izuna menusukkan jari ke rusuk kakaknya.
Madara menghindar, mendesis menahan tawa.
"Apa latihan jurus?" ia mendesaknya. "Ajak aku, kalau iya!"
"Iya kapan-kapan…."
Sharingan-nya berganti gelap. Izuna bersandar di dinding, merasakan kantuk mulai membuainya. Ia pasti akan terlelap jika Madara tidak memecah sunyi.
"Menurutmu, apa hidup seperti ini … mau kamu jalani?"
"Ngg?"
"Hidup sebagai ninja. Terus berperang setiap dua minggu sekali." Ujung kakinya menyentuh tumit Izuna di bawah selimut. Dingin.
"Memangnya kenapa? Dari dulu begini, 'kan?"
"Pernah terpikir akan seperti apa hidup kita jika nggak lahir sebagai Uchiha? Nggak lahir sebagai ninja?"
"Maksudnya, jadi petani?" Izuna mengernyitkan dahi. "Kakak ngomong apaan, sih? Aneh tahu." Menjadi Uchiha adalah suatu kehormatan. Mendapatkan sharingan adalah keistimewaan.
Siapa yang mau menukarkan doujutsu sehebat ini dan hidup membosankan mengurus sawah seperti rakyat jelata?
.
Usianya dua puluh dua tahun, dan Izuna meninggalkan dunia lamanya.
Punggung Hikaku lembap dan bau. Keringat menetes dari kulit kepalanya. Izuna menggigit bibir bawahnya, menahan napas. Sebisa mungkin ia bernapas menggunakan mulutnya meski membuat langit-langitnya kering. Udaranya samar-samar bau tanah. Tampaknya tempat ini baru disiram hujan beberapa waktu lalu. Langit pasti cerah, karena belakang kepalanya terasa panas. Kedua lengannya pegal karena terus terpantul-pantul di bahu sepupunya. Robekan pakaian yang mengikat kedua pergelangannya mulai mengiris ke dalam kulit.
"Izuna-san, mau berhenti sebentar?"
Izuna terlalu lelah untuk menjawab. Gumaman tak jelas yang keluar dari mulutnya diartikan sebagai konfirmasi oleh Hikaku, karena pria itu meneriakkan isyarat berhenti. Segera setelah Hikaku diam, Izuna mengurai simpul pergelangannya dan menjejak tanah padat. Baunya merebak pekat. Tak jauh di sekitarnya, kerabatnya juga berhenti. Ada seorang bayi menangis. Anak-anak berceloteh minta minum.
"Minum—"
Ia menampik tawaran Hikaku, dan berbalik menjauh. Rerumputan menggelitik sisi kaki-kakinya. Matahari sudah condong ke barat. Angin yang kencang berembus dan absennya gemeresik dedaunan menandakan jarangnya pepohonan. Mereka berada di padang terbuka—
Kemudian lututnya menghantam tanah, dan Izuna tak bisa membedakan mana atas dan bawah—
Tenggorokannya serasa dibakar. Pahit. Jemarinya menancap ke tanah lembap, menghancurkan beberapa helai rumput dingin. Rahangnya mengatup erat menahan gejolak perutnya. Getaran halus di tanah memberitahunya bahwa beberapa orang mendekati. Tubuh-tubuh mereka memagarinya dari panas matahari.
"Aku nggak apa—" sengalnya keras-keras, mengalahkan suara-suara khawatir mereka. "Pergi … sana…." Dicabutnya kain yang menutupi separuh wajahnya. Benda itu sudah basah penuh cucuran keringat.
Perintah Madara membahana. "Kita istirahat dulu!"
Perlahan, panas matahari kembali menerpanya dari sisi barat— dari arah rumah yang dikenalnya selama dua dekade. Ia mendudukkan diri, mengatur napasnya. Sesiangan ini ia terikat pada Hikaku, hanya sekali rombongan berhenti agar anak-anak kecil bisa buang air. Sekujur tubuhnya sakit, dan yang ada di pikirannya hanyalah air hangat untuk mandi.
Namun, ia tidak tahu seberapa dekat mereka dengan tujuan. Ia juga tidak peduli.
Aku seharusnya sudah jadi abu.
Seharusnya Madara mendirikan panggung kayu untuk menghanguskannya, lalu melarung abunya ke sungai. Seharusnya Madara menyelesaikan ajalnya.
Karena seorang Uchiha tanpa sharingan hanyalah sebuah keberadaan menyedihkan. Membebani, memperlambat seluruh klan.
Seharusnya kakaknya tidak membiarkan musuh masuk ke rumah mereka.
Izuna mengingat jelas semua detail malam itu. Ia tertidur akibat minum rebusan bunga magnolia, tetapi pendengarannya mengingat semua percakapan yang terjadi di kamar itu. Ia tahu penyembuhnya bukan Kakek Tatsu bertangan satu.
Tetapi Senju Hashirama.
Terdengar tenda-tenda berkelepak saat dibentangkan di sana-sini, berikut bunyi tiang pancang ditancapkan. Satu-dua anak menangis.
"Izuna-san, ayo masuk tenda," ajak Makoto. Ia membantunya masuk dan berpindah di dalam. Izuna sudah berkali-kali tidur di tenda selama menjalankan misi jauh dari rumah. Tenda ini lebih besar dan nyaman dari yang pernah ia gunakan. Ia bisa merentangkan kedua lengannya untuk menyentuh seluruh bagian dalam tenda.
Namun, rasanya seperti mati rasa. Makanan terasa seperti rebusan kulit pohon. Percakapan di sekitarnya tak lagi mengandung arti. Izuna membiarkan Makoto mengurus semua kebutuhannya, bergantian dengan neneknya, hingga ia siap tidur. Sebuah dipan kecil dan selimut tipis sudah disiapkan untuknya. Lelap tak sempat merasuk saking riuh pikirannya berkecamuk.
Andai titah kepala klan tidak mutlak, Izuna akan tinggal di perkampungan bersama Bibi Nanami yang keras kepala. Andai titah kepala klan tidak mutlak, Izuna akan menyelesaikan ajalnya sendiri dengan atau tanpa bantuan siapa pun.
Andai titah kepala klan tidak mutlak, Izuna sudah akan mengiris nadinya sendiri.
Pintu tenda berkelepak membuka. Izuna mengenali halusnya langkah di atas alas tenda, dan bunyi senjata kayu yang perlahan diletakkan. Bau rumah menguar ketika ia mendekat, bercampur dengan panas tubuh setelah aktivitas berat yang lama.
"Besok kita akan sampai," bisik Madara. Dipannya berkeriut, dan lututnya disentuh sesuatu serupa ujung-ujung rambut kasar. "Akio dan yang lain sudah membuatkan rumah sementara—"
"Berisik," gerutu Izuna sambil memindahkan tubuh menghadap dinding tenda.
Madara langsung beringsut bangun, pindah ke sisi lain naungan mereka. Yang selanjutnya terdengar hanyalah tarikan napas yang semakin melambat.
Namun, Izuna tahu kakaknya juga tidak bisa tidur tenang. Sesekali terdengar napasnya memburu, atau desis tajam keluar dari mulutnya sepanjang malam. Gelisah. Selalu begini sejak mereka berangkat tiga hari lalu.
Pasti cuma mimpi. Masa bodoh.
Keesokan harinya, ia menolak tawaran Hikaku untuk digendong. Jarak perjalanan mereka tidak jauh, sehingga Madara membiarkan rombongan mereka berjalan santai. Makoto dan neneknya yang masih gesit mendampingi Izuna tanpa diminta. Tanah lanskap masih datar berpohon jarang. Ia hanya perlu berhati-hati menghindari lubang kelinci dan batuan besar. Embun membasahi kedua kakinya.
"Di depan rumputnya sudah meninggi, Izuna-san," Makoto memberitahu. "Rumput pampas. Sepinggangmu."
Benar saja, kakinya lebih sulit menemukan pijakan. Tanahnya empuk, sesekali ia menemukan lubang. Tongkat panduannya pun terhalang rumpun tebal. Tangannya terus tergores batangan rumput. Makoto akhirnya berjalan di depannya, menyibakkan rumput tinggi dengan kedua lengan sambil menginformasikan perubahan dataran. Kadang menanjak, kadang menurun. Angin hangat memainkan rambutnya, membuainya dalam kantuk yang datang terlambat.
Izuna tak peduli lagi pada arah mata angin.
Tongkatnya jatuh nyaris tanpa suara, disusul punggung dan kepalanya, menimpa rerumputan tebal. Suara langkah Makoto dan neneknya memudar, sayup, sirna. Menyisakan mentari pagi bersamanya.
Aneh.
Semesta begitu tenang. Lelap datang begitu mudahnya. Sungguh melegakan jika ia tidak harus bangun lagi. Rumpun ini bisa menyembunyikannya sehingga ia bisa menyelinap pergi nanti….
Namun, bukan rumput pampas yang ia genggam ketika terbangun. Melainkan tepian kasur empuk berbau matahari. Tangannya menjelajah permukaan, melewati tepiannya ke permukaan tatami. Ada jalinannya yang patah terbuka.
Udara di sini statis, tidak panas maupun dingin. Bau kayu menguasai lingkungan sekitarnya. Selimutnya disingkirkan. Izuna berdiri dengan hati-hati, mencari dinding terdekat. Ruangan itu kecil, tampaknya tanpa perabotan selain kasur di lantai. Kakinya menginjak tembikar— mangkuk dan piring. Ia berjongkok meraba. Ada isinya. Sudah dingin. Namun, lapar bisa ditunda. Ditinggalkannya peralatan makan itu. Pintu shoji ia temukan tidak jauh. Pendengarannya ia tajamkan. Selain suara serangga, tak ada suara lain di luar. Angin pun tidak bergerak.
Ke mana semua orang? Ke mana Madara?
Tunggu dulu. Sepi ini adalah kesempatan bagus untuk pergi. Biar saja Madara dan semua Uchiha lainnya tunduk pada Senju. Izuna tidak sudi, dan tidak akan rela tinggal bersama mereka! Sang Leluhur pasti malu melihatnya. Menyia-nyiakan sharingan saja.
Benar, benar.
Keriut kayu terdengar dari balik pintu. Langkah-langkah. Beban berat. Pasti kakaknya!
Izuna segera menggeser pintu lebar-lebar. Pergelangannya ditangkap sebelum ia bisa melewati ambang.
"Lepas!" Ia mendorongnya kuat-kuat, mengerahkan seluruh beban tubuhnya. Pergi! Ia harus pergi dari sini!
"Izu—"
Ia balas mendesis. "Kakak jangan cegah aku!" Izuna berputar di tempat untuk meloloskan diri, tetapi pegangan yang menahannya malah mengerat. Biasanya gerakan ini belum pernah gagal meloloskannya. "Kak—!"
"Ini aku— Tobirama— diamlah!"
Tobirama—?
Jantungnya mencelos. Ia meraba bagian bahunya. Rambut panjang kasar khas kakaknya absen.
Izuna menghantamkan sikunya ke bagian dalam lengan Tobirama. Seruan sakitnya tertahan, keluar serupa desis tajam. Tinjunya diayunkan mundur, mengincar tulang pipi sang Senju, tetapi hanya menemui udara kosong—
Dunia berputar dan pipinya menghantam tatami. Lengan kirinya terkunci di punggung, dan yang satunya tertindih tubuhnya sendiri. Izuna menarik napas siap berteriak, tetapi sebuah tangan lebar nan kasar segera menekan erat mulutnya. Meronta pun tidak bisa— beban berat di punggung menahannya bergerak.
"Tolong diamlah," pinta Tobirama sambil berbisik. Suaranya begitu dekat di telinga Izuna. "Kau akan membangunkan anak-anak."
Sesuai kata-katanya, sebuah tangisan nyaring pecah. Lama kelamaan memelan, lalu dunia kembali senyap. Bahu dan sikunya ngilu. Izuna melemaskan tubuh. Tobirama membiarkannya bangun. Tangan wanita itu meraba-raba permukaan tatami.
"...Cari apa?"
Apa yang dicarinya? Jemarinya berhenti bergerak. Ragu. Bingung. Kalut.
Sesuatu yang basah bergulir hingga ke dagunya.
Ia hanya ingin pergi. Mustahil menemukan rumahnya sendirian. Ia akan mati di alam liar, jadi makanan beruang atau serigala.
Bukankah itu tak apa-apa? Itu jauh lebih baik daripada tinggal tunduk jadi budak musuh, bukan…?
"Madara masih di tempat jamuan," Tobirama berkata tiba-tiba, memotong pikirannya.
Kepalanya tersentak. Jadi karena itukah lingkungan sekelilingnya begitu sepi…?
"Jamuan apa…?"
"Peresmian perjanjian damai kedua klan kita."
Izuna berseru jijik. Mustahil Madara meninggalkannya begitu saja sementara ia bergaul dengan Senju! Ia berdiri, menyeberangi ruangan hingga ke pintu. "Trik macam apa yang kalian mainkan hingga Kakak rela— ini pasti cuma tipu daya Hashirama—"
"Kakak tidak menipunya, Izuna," jawaban Tobirama terdengar dari belakang. Suaranya mendekat dengan cepat, mendahuluinya keluar. "Kau yang berutang nyawa kepadanya, kautahu itu, 'kan?"
"Tidak sudi!" desis wanita itu tak kalah sengit. "Daripada berutang nyawa dan melihat Uchiha diperbudak Senju, lebih baik aku mati saja."
"Bagaimana dengan kakakmu?"
Pertanyaan itu tidak menghentikannya. Izuna menghambur keluar, tepat memperkirakan lebar selasar sehingga ia tidak terperosok jatuh. Tobirama mengikuti tidak jauh; sandalnya berisik menghantam tanah berkerikil. Telapak kaki telanjang Izuna sudah lecet di sana-sini meski mereka belum jauh dari rumah tempatnya terbangun tadi. Udara dingin tidak mencegahnya terus maju.
"Hati-hati," Tobirama mengarahkan langkahnya. "Lokasinya di kediaman utama klan kami."
Ia tidak pernah jauh dari Izuna, siap menariknya sebelum ia tersandung batu besar atau menabrak pinus— dua hal yang sering terjadi selama perjalanan singkat itu.. Tak lama kemudian jalan yang mereka lalui sudah tidak ditumbuhi rumput. Sesekali Izuna merasakan sapuan udara hangat di kedua sisi. Obor-obor pasti dipasang untuk penerangan. Suara obrolan riuh terbawa sampai ke tempatnya.
Membayangkan seluruh anggota klannya makan dan minum sake, berpesta ramai seperti ini, membuat perut Izuna bergolak. Dibiarkannya Tobirama masuk ke area pesta, tetapi pria itu kembali begitu cepat. Sendirian.
"Madara tidak ada di sini," katanya. "Ada yang terakhir melihatnya mengarah ke hutan di sisi barat—"
"Lewat mana—?"
"Ke sini."
Kali ini Izuna ganti mengikutinya. Perih di kakinya semakin menjalar.
.
"Sharingan terbaik bisa melihat melampaui semua tipu daya. Langsung ke jantung kebenaran."
Izuna tidak bisa melupakan kata-kata ayahnya waktu itu. Ia pasti akan mengaktifkan sharingan-nya andai tidak dilarang. Mata Tajima sendiri sudah merah sejak mereka baru mengintai di antara pepohonan. Izuna langsung tahu ia murka.
Karena selama ini, Madara ternyata menyelinap menemui musuh.
Anak perempuan musuh.
Anak perempuan yang bisa mokuton.
Selama ini ia belum pernah mendengar tentang ninjutsu selangka kekkei genkai itu sampai peristiwa di tepi sungai barusan. Kakek Tatsu bilang, di zaman dahulu kala seorang Senju yang dikaruniai mokuton berhasil menjinakkan monster-monster cakra berekor banyak.
Anak perempuan itu kakak Tobirama, dan ia belum pernah diturunkan ke perang. Cara pandangnya begitu naif, mengira semua hal bisa diselesaikan jika mereka berhenti saling bunuh.
"Tolol!" sembur Tajima malam itu. "Bagaimana bisa semua protokol shinobi kaulupakan begitu saja? Tahukah kau bahwa Senju itu menjual pesona kunoichi-nya untuk memenangkan perang?"
Separuh orang dewasa dalam klan mereka berkumpul di ruang bawah tanah kuil untuk menyidang Madara. Biasanya anak-anak tidak diizinkan hadir, dengan atau tanpa doujutsu, tetapi Izuna dianggap sebagai saksi. Biasanya juga, semua orang yang diketahui berhubungan dengan musuh dijatuhi hukuman mati di tempat. Namun, Madara berhasil membangkitkan sharingan-nya, dan semua orang sepakat untuk tidak menghukumnya. Setiap pasang mata sangat berharga.
"Dia anak Senju Butsuma," sambung Tatsu, yang tertua di antara para hadirin dan satu-satunya penyembuh senior. "Belum ada orang yang pernah melihatnya di mana pun. Selama ini dia tidak pernah pergi dari perkampungannya."
Tajima mendesis keras, kedua gigi taringnya terlihat dan bekas luka di sudut bibirnya tertarik ke sisi. "Jika kau serius ingin mengakhiri perang, maka solusinya hanyalah menghabisi semua yang berani melawan Uchiha! Seorang Uchiha sejati tidak akan menyerah begitu saja!"
Seruan-seruan setuju merebak. Izuna mengangguk-angguk.
"Perang adalah keniscayaan," lanjut Tajima. "Pikiran-pikiran lembek seperti itu hanya akan membuatmu terbunuh sia-sia! Kaumau mati sia-sia?!"
Kepalan tangan Madara di lututnya mengerat. "Tidak, Ayahanda."
"Kaumau mempermalukan karunia yang diberikan Sang Leluhur kepadamu?! Atau kaulupa utang nyawa kita kepadanya?"
"Tidak!"
"Maka bersikaplah sesuai kata-katamu!"
"Aku janji!" Madara menatap semua orang yang duduk di seberangnya. Tekadnya menyala-nyala.
Izuna menghela napas lega. Syukurlah anak Senju itu belum meracuni pikirannya lebih jauh.
Bibi Nanami beringsut maju. Ia menangkap dagu Madara, dan memperhatikan matanya. "Sharingan-mu jenis yang bagus. Setelah tomoe keduamu muncul, kita harus mencarikanmu perempuan."
Hah?
Madara membelalak pada bibinya. "Kita sedang perang."
"Justru itu," tegas Nanami. "Lebih banyak anak, lebih banyak shinobi. Kau dan adikmu punya mata yang bagus. Bangkit di usia muda, lagi…."
Ia bertukar tatapan bingung dengan Madara. Kata-kata bibinya tak masuk ke telinga Izuna. Orang lain berbicara menimpali dan menanggapi, tetapi percakapan itu bisu baginya sampai Tajima angkat bicara.
"Mereka masih kecil, Nanami. Belum saatnya. Aku ingin pasangan mereka setidaknya sama kuatnya. Tapi ini masih terlalu awal." Lalu ia mengangguk pada putra-putrinya. "Kalian berdua pulanglah."
Di separuh perjalanan pulang, barulah Izuna berani bertanya, "Yang barusan itu … apa?"
"Kewajiban," jawab Madara singkat, "selain berperang, maksudku."
"...Mewariskan darah sharingan ini?"
"Yah."
Ayahnya tadi bilang mereka berdua masih terlalu kecil. Mungkin jika Izuna sudah cukup besar dan kuat, ia akan diizinkan berkontribusi lebih banyak untuk klan.
Jalan setapak yang mereka lalui menembus pepohonan. Cahaya bulan dan bayangan daun menciptakan siluet-siluet aneh. Izuna menghindari melihat mereka.
"Anak Senju itu … bilang apa saja sama Kakak?"
Madara mendengkus meremehkan. "Hal-hal naif yang tadi disebutkan Ayah. Kau tadi lihat ayah dan adiknya, 'kan? Mereka siap membunuhmu. Mereka tidak berpikir perang bisa dihentikan."
Tobirama ada di sana juga. Anak itu bagiannya. Di perang berikutnya, Izuna pasti akan menghadapinya lagi. Yang mencemaskannya adalah kemampuan Hashirama. "Kakak sudah memikirkan cara lawan mokuton itu…?"
"Bakar saja." Satu-satunya lentera di depan rumah mereka menerangi deretan gigi Madara ketika ia menyeringai. "Nggak ada yang bisa menang melawan api Uchiha. Nggak ada kayu yang bisa bertahan dalam kobaran api."
Ia mengacak-acak rambut Izuna. Kata-katanya benar— belum ada yang bisa bertahan hidup melawan api mereka.
Izuna tidak sabar untuk mengembangkan kemampuan sharingan-nya bersama Madara. Di hari-hari berikutnya, kakaknya berlatih lebih keras dan lebih sering. Sampai membuatnya nyaris pingsan di penghujung hari. Tajima menyambut positif perubahan ini.
Ia senang, tentu saja, walau pun ia tak lagi mendapatkan perhatian sebanyak sebelumnya dari ayah mereka.
.
"Jadi kenapa Kakak setuju klan kita diperbudak Senju?!"
Tobirama menemukan kakak-kakak mereka berjalan-jalan di tepian hutan. Izuna langsung meminta Madara pulang bersamanya. Amarah dan adrenalin membuatnya tidak menyadari luka parah di kakinya sampai mereka tiba di rumah. Emosinya sudah meledak bahkan ketika Madara membersihkan luka-lukanya.
"Kamu tahu situasinya, Izuna. Klan kita akan habis bahkan tanpa perlu diperangi— jangan bergerak-gerak…." Ia terdengar lelah.
Kain dingin menyeka telapak kakinya, berlumur bubur yang terbuat dari dedaunan. Baunya yang khas sudah terpatri di ingatan Izuna. Ibunya dulu biasa membuatkan campuran itu untuk merawat luka-lukanya selepas bermain dan latihan. Ia menepis memorinya.
"Kalah seperti ini bikin kita nggak pantas hidup, tahu," lanjutnya lagi. "Pengkhianat yang sudah tinggal duluan di sini pasti cuma jadi pesuruh—"
"Mereka bercocok tanam—"
"Tuh, 'kan?!"
"Tapi mereka hidup tenang," lanjut kakaknya tegas. "Kita semua butuh itu."
"Mana bisa tenang kalau tinggal sama Senju?!" bentak Izuna. "Mereka musuh, Kak."
"Sekarang tidak lagi. Kita dan mereka tidak saling bunuh." Madara menyelesaikan perban di kaki Izuna.
Kepalan tangannya mengerat dan membuka. "...Terus apa? Jadi petani?"
"Menghentikan perang. Hanya membalas jika diserang. Itu jika ada yang cukup sinting menyerang kita..."
Darahnya berdesir, merindukan suasana pertempuran. Dalam benaknya ia bisa melihat pemandangan yang familier, teriakan yang familier, gema gong dan terompet….
"...Berita perjanjian damai kita dengan Senju akan segera merebak—"
Izuna memotongnya, "Perjanjian bisa dikhianati kapan saja!"
Tawa teredam terdengar dari dalam tenggorokan Madara. Mangkuk air digeser menjauh.
"Apanya yang lucu?"
"Aku tahu Hashirama tidak akan mengkhianati kita," jelasnya. Suaranya berubah rendah, melipir ke batas bahaya. "Aku memegang kata-katanya."
Izuna mendecakkan lidah. "Bagaimana kalau dia menipu Kakak?"
"Oh, dia nggak akan berani." Madara menjauh dari kasur, terdengar geli. "Aku berani jamin." Lantai kayu berkeriut selagi ia beranjak ke pintu.
Kunoichi sekaliber Hashirama … bisa takluk semudah itu? Hanya begitu saja?
"Ugh…." Izuna menekankan kedua telapak tangan ke wajahnya. Segalanya jadi lebih rumit. "Kakak mabuk, ya?"
Madara hanya menertawakannya. "Aku tidak minum sebanyak itu!"
Imaji Madara dan seluruh klannya sedari tadi sibuk berpesta pora, makan dan minum tanpa peduli akan dirinya terlintas. Kakaknya dan Hashirama—
Dadanya sesak. Izuna tak tahan lagi. Dilemparnya bantal ke arah sumber suara Madara, lalu disembunyikannya kepala di bawah selimut.
"Izu—"
"Lebih baik aku tinggal sama Bibi Nanami daripada di sini," desisnya. "Bikin malu Leluhur saja."
"Dewa dan Leluhur kita—"
"Aku nggak percaya Kakak sungguhan mendengarnya. Pergi sana!"
Kesunyian yang menyusul terasa menusuk-nusuk benaknya.
.
"Izuna, soal matamu…" kata Madara di pagi harinya, "mau pakai mata orang lain…?" Suaranya serak, dan pertanyaannya diakhiri oleh kuap lebar. Semalaman ia begadang di kuil.
Izuna mengangkat wajah dari sebaskom air hangat tempatnya mencuci muka. "Mata siapa?" tanyanya tajam.
"Siapa saja yang bersedia—"
"Aku nggak mau kalau bukan sharingan dengan tiga tomoe," potongnya. Mana bisa ia menatap klan Senju tanpa sharingan?
Kakaknya terdiam. Madara tak pernah mengungkit soal itu lagi.
Hari-hari Izuna selanjutnya diisi dengan kesepian. Madara disibukkan dengan urusan klan. Ia hanya datang di pagi dan malam hari, tetapi Izuna tidak pernah mengindahkannya.
Kakaknya … berbeda. Pasti karena perempuan Senju itu.
Kakek Tatsu datang mengganti perban kakinya secara teratur. Makoto atau neneknya membawakan makanan tiga kali sehari. Tidak ada ikan asin atau daging kering— semuanya segar. Sari dagingnya begitu kaya. Nasinya pun terasa lebih manis dan empuk. Sayurannya renyah dan manis. Sulit untuk menolak makan walau pun benaknya terus mendorongnya.
Yang bisa dilakukannya hanya mogok bicara dan keluar rumah. Tak peduli seberapa sering kedua manula itu membujuknya duduk di selasar untuk menikmati cuaca. Tak peduli seberapa sering mereka membicarakan kampung baru itu dan klan Senju, berharap memancingnya bersuara.
Ketiganya rajin menemani Izuna, terutama saat makan malam. Obrolan mereka memberikannya semua informasi yang beredar di kampung baru itu. Bukan informasi perang— melainkan fakta salah satu tetangga baru mereka ternyata peternak lebah, atau penemuan rawa penuh teratai liar di seberang hutan yang bisa mereka ambil akarnya sesekali. Bagaimana mereka tak perlu sering berburu, bagaimana Kakek Tatsu bisa menyuplai semua stok obat-obatannya lagi dengan racikan segar, bagaimana Makoto mendengar tentang pohon-pohon raksasa di kediaman lama Senju….
"...Senju-sama sendiri konon berlatih mokuton di sana," kata Makoto setelah susah payah mengunyah irisan ayam pegar. Butiran nasi menempel di kedua pipinya saking cepatnya ia makan. "Sayangnya hutan mereka habis terbakar."
Terbakar?
Rasa ingin tahu terbersit di benak Izuna, tetapi ia menjaga sikapnya. Fokusnya tetap kepada mangkuk dan sendok, sementara pendengarannya siap menangkap lanjutan cerita Makoto. Namun, ia hanya mendengar gerutuan tak jelas dari nenek pemuda itu, dan ceritanya menggantung begitu saja. Kakek Tatsu ganti membicarakan lolongan anjing yang semakin ramai saja, dan Izuna berhenti mendengarkan.
Keesokan harinya, tepat saat kokokan ayam pertama berkumandang, Izuna meninggalkan kamar. Rambutnya ia atur menutupi separuh wajah. Kakinya sudah sehat kembali. Kali ini ia telah menyiapkan sepasang sandal yang disembunyikan di bawah selasar. Aroma pagi hari menyerbu penciumannya. Baru tiga langkah ia meninggalkan kediaman, keraguan kembali menyerbunya.
Sepadankah ia pergi menjelajah dengan kenyataan ia harus menghadapi klan Senju bukan sebagai musuh? Klan yang sudah mengakhiri hidup dua adiknya?
Bukankah ia hanya akan terlihat tolol di luar sana, berjalan tak tentu arah, tersandung kerikil sekecil apa pun?
Namun, diam saja juga menyedihkan. Sang Leluhur telah mengaruniainya dengan kekuatan besar, kekuatan yang sekarang menjadi milik Madara.
Seorang Uchiha sejati tidak semudah itu tumbang di hadapan lawan! Tidak akan! Ia selalu mengerahkan seluruh kemampuannya di pertempuran sampai—
Tangan kirinya mencengkeram sisi kanan perutnya.
Uchiha tanpa sharingan hanyalah Uchiha yang menyedihkan. Tak berguna.
Lemah.
Kau pantas mati.
Kematian jauh lebih baik daripada terjebak tinggal bersama musuh bebuyutan mereka. Daripada menanggung luka membebani kerabat, lebih baik mati. Langsung menyusul Ayah, adik dan kerabat mereka bersanding bersama Sang Leluhur. Tidak ada kehormatan yang lebih tinggi daripada itu.
Madara melalaikan kewajibannya mengantar nyawanya pulang. Sama seperti saat ayah mereka sekarat. Tidak ada pilihan lain— Izuna harus melakukannya sendiri.
Ia berbalik arah, meniti langkah kembali. Madara tidak sedang ada di rumah— sudah beberapa hari belum pulang. Semua senjata pasti ada di dekatnya, selalu dalam jangkauan tangan ketika tertidur. Seharusnya masih ada satu atau dua di sana—
"Arf!"
Izuna berhenti, tubuhnya seketika kaku sementara ia menajamkan pendengaran.
"Arf! Arf!"
Hewan macam apa itu? Pertanyaannya terjawab ketika sesuatu yang basah dan dingin menyentuh ujung jemarinya. Meniupkan udara hangat di setiap endusannya. Tangannya berpindah, menemukan permukaan yang tertutupi bulu-bulu halus.
Anjing.
Izuna hanya pernah melihat hewan ini di kejauhan ketika melawan klan Inuzuka dahulu kala. Gonggongan dan lolongan mereka bisa terdengar melampaui bukit-bukit. Tubuh mereka begitu besar, melampaui ukuran serigala hutan. Anjing ini tidak sebesar itu.
Namun, tidak ada anggota klan Uchiha yang memelihara anjing. Belum pernah Izuna mendengar mereka begitu dekat di sini. Apakah anjing Senju…?
"Arf!"
Salakannya memang tidak terlalu kencang, tetapi siapa pun bisa saja datang karena mendengarnya. Izuna membiarkan si anjing berjalan ke arah yang baru saja ia tinggalkan. Telapak tangannya terus disundul. Anjing itu ingin ia mengikutinya.
Awalnya agak sulit berjalan dengan seekor hewan besar yang terus menerus berpindah dari sisi kanan dan kirinya, tetapi si anjing perlahan menyesuaikan diri dengan langkahnya. Ia akan menyalak pelan di kelokan, dan menyundul kakinya untuk menghindari sesuatu. Sosoknya yang hangat kontras dengan udara sejuk pagi hari. Keempat tapaknya menjejak rumput dan tanah dengan lembut, nyaris tanpa suara.
Ketika si anjing berhenti, Izuna merasakan mereka tiba di area terbuka yang luas. Ada beberapa orang mencangkul. Tubuhnya kaku di tempat. Apa mereka melihatnya? Apa mereka akan mengajaknya bicara? Ia menyesal mengapa tadi tidak melewati saja si anjing ke kamar Madara—
"Izuna-san?"
Wanita itu tersentak. Seorang pria memanggilnya dari belakang. Suaranya agak familier, meski terdengar lebih dalam dari terakhir mereka bersua. Ia menggali-gali ingatannya.
"...Akio?"
"Ini saya." Bunyi metal beradu dengan tanah gembur. "Anda mengajak Pochi jalan-jalan…?"
"Arf!"
Izuna merasakan si anjing melonjak riang di sisi tubuhnya. Kepalanya digesekkan ke lutut wanita itu. Bibirnya mengerucut. "...Begitulah."
Uchiha Akio yang ia kenal di rumah lamanya adalah sepupu ceking yang lemparan shuriken-nya saja tidak bisa lurus. Jurus-jurus katon yang ia kuasai pun lemah. Ayah dan bibinya selalu menugaskan Akio di divisi pendukung yang mengumpulkan senjata dan zirah dari pertempuran. Sharingan-nya tidak pernah bangkit.
Akio yang berbicara dengannya saat ini terdengar lebih jangkung, dan sanggup mengayunkan cangkul dengan mudahnya. Tampaknya jauh lebih sehat juga.
"Ladang di sini untuk lobak," jelasnya tanpa diminta. "Terung dan bayam di sisi timur, lalu wortel dan kentang di sebelah barat. Sawah ada di selatan, baru saja bibit padinya disemaikan."
Izuna hanya bergumam datar. Informasi ini tidak berguna untuknya.
"Jawawut ada di sana— ah, di sebelah wortel. Ladangnya kosong karena baru dipanen—"
Wanita itu memotongnya. "Mengapa kau bisa tahan?"
"Hm?" Akio terdiam sejenak. "Tahan … apa?"
Dahinya berkerut tajam ketika melanjutkan. "Tahan hidup begini. Bukannya perang seperti yang Leluhur mandatkan!" Nadanya naik di akhir kalimat.
Pochi mendengking. Ia berbaring tak jauh dari kaki Izuna. Suara cangkulan menjadi sayup-sayup.
"Izuna-san mau duduk?"
Tawaran itu mengejutkannya, tetapi Izuna membiarkan Akio menuntunnya ke sebuah bangku kayu panjang. Hawa di situ lebih sejuk, pasti ada naungan di atas kepala mereka. Pochi mengikuti mereka, duduk menempel pada kaki Izuna.
Sepupunya duduk di sebelahnya. "Ingat tidak waktu Hikaru-kun pulang dari kediaman Senju?" Ia tidak menunggu konfirmasi Izuna sebelum melanjutkan, "Katanya, Hashirama-sama ingin menghentikan perang di antara klan Senju dan Uchiha."
"Kalian percaya—"
"Pilihan apa lagi yang kami punya?" Akio terdengar getir. "Jumlah keluarga kita berkurang drastis. Sebentar-sebentar kremasi. Daimyo Taneyuki makin pelit. Ladang tak terurus karena kita terus perang. Uang pun belum tentu bisa beli beras karena petani cuma punya cukup untuk mereka sendiri."
Izuna bungkam.
"Anda dan Madara-sama hanya memikirkan soal perang. Taktik, logistik senjata … kami yang memikirkan tentang makanan. Tapi…." Kata-katanya putus.
"Tapi apa?" desaknya.
"Terus-terusan perang bisa bikin Uchiha musnah. Punah."
Jemarinya mencengkeram tepi bangku. Darahnya mendidih. "Jadi hidup sebagai hamba Senju lebih baik, begitu?" semburnya. "Pantas saja Leluhur tidak memberi kalian sharingan!"
Respons Akio selanjutnya lebih pelan. "Apakah Sang Leluhur sungguh ingin klan kita musnah?"
"Yang lemah memang lebih baik mati, bukan?!" Izuna berdiri, kesal. Dadanya yang kurus naik turun cepat. "Hanya shinobi yang kuat yang bertahan…!"
"Saya tidak ingin mati, Izuna-san. Yang lain juga." Bangku kayu berderit. "Apa ada yang salah dengan itu?"
"Tapi—!"
"Punya sharingan atau tidak … kami semua ingin terus hidup. Bukannya menyerah pada keadaan." Ia menghela napas. "Uchiha sejati tidak menyerah pada keadaan."
Kepalan tangan Izuna mengerat menjadi tinju. Tidak menyerah itu terus bertempur sampai titik darah penghabisan! Bukan hidup begini!
Pochi mendengking lagi, tetapi terputus di tengah jalan seiring berkumandangnya siulan panjang dari arah ladang. Anjing itu menyalak riang.
"Anak manisssss! Di situ kamu ternyata, ya … main sama siapa hari ini?" Suara dalam dan serak seorang wanita datang mendekati kedua Uchiha. Langkahnya menggores tanah dengan berisik. "Ada Akio-kun, dan.…"
Akio memperkenalkan mereka berdua. Wanita itu ternyata kepala klan Inuzuka, Tsubaki. Rupanya klan itu sudah seminggu tinggal di kampung ini.
"Pindah permanen…?"
"Ide kakakmu dan Hashi-san bagus sekali! Mereka menerima kami dengan tangan terbuka juga," jelas Tsubaki. Kedua wanita itu meninggalkan Akio yang melanjutkan mencangkul ladang. "Sepertiga pasukan kami musnah di kebakaran, kami nggak bisa melalui paceklik sendirian."
Izuna harus menahan diri untuk tidak menganga. "...Kebakaran apa?" Hidung Pochi mengendus tangannya.
"Kampung lama Senju terbakar habis, tahu 'kan? Habis, bis. Nggak sehelai rumput pun selamat."
"Aku dengar … tapi kenapa?" Sepengetahuannya klan Senju memiliki beberapa pengguna suiton yang cukup mahir, jadi mengapa…?
"Dibakar monster." Tsubaki menghela napas panjang. "Kera merah raksasa berekor empat. Kami dan Senju menghalaunya sementara evakuasi dilaksanakan, tapi kami tetap saja bukan tandingannya. Untung akhirnya Hashi-san berhasil mengusirnya."
"Kapan…?"
"Belum satu purnama lalu … oh, di malam setelah pertempuran terakhir Senju dan Uchiha."
Api dan air menyeruak ke permukaan memorinya, serta asap dan kilatan pedang secepat kedipan mata—
Perut kanan Izuna mendadak terasa gatal.
Pintu dibanting di belakang punggung Izuna. Terdengar gedebuk dan kelontang disusul seruan keheranan.
"Lho, Izuna—"
Jantungnya masih berdebur kencang. Begitu mendengar Madara kembali, ia langsung berlari mencarinya meski pun ini sudah larut malam. Ada berbagai pertanyaan menunggu di lidahnya, menari-nari minta ditumpahkan.
Hanya saja, ia harus mulai dari mana?
"...Jadi," Izuna membasahi bibirnya, "klan Inuzuka pindah tinggal di sini?"
"Ya—"
"Aku ketemu kepala klannya." Dan semua yang diceritakan Tsubaki mengalir tak terbendung. Tentang apa yang terjadi di malam paska perang terakhir Uchiha melawan Senju. "Serangan itu … terjadi sebelum atau sesudah dia datang ke rumah kita?"
Madara melepas zirahnya. Bunyi tali temali dan lempengan metal beradu di lantai kayu. "Kurasa sesudahnya."
"'Kurasa'?"
"Kabar serangannya datang ketika Hashi di rumah kita." Bau kayu terbakar merebak. Tungku dinyalakan. "Waktu itu pun semuanya sudah terbakar."
"Seberapa parah…?"
"Katanya ada beberapa shinobi yang tewas. Partner anjing Tsubaki-san juga tewas di sana."
Keganjilan menyerang benaknya. Normalnya, Izuna akan menertawakan kabar itu, mengatakan bahwa itu adalah karma. Namun, kali ini ia tidak bisa. Ada jerat yang menahan batin dan lisannya.
Jerat bernama utang nyawa.
Bibirnya membuka, siap berkata, tetapi Madara mendahuluinya. "Aku harus pergi patroli lagi besok. Terlalu banyak bandit berkeliaran setelah tiga klan tidak aktif…."
"...Oh." Ia mengurungkan niatnya.
Kata-kata Akio terus terngiang selama minggu-minggu berikutnya. Izuna menghabiskan pagi berkelana bersama Pochi, menjelajahi pinggir perkampungan. Ada untungnya juga tidak bisa melihat. Sesekali ada orang yang menyapanya, atau menawarkan bantuan menuntun. Balasan dan tolakan sopan biasanya cukup mengakhiri percakapan. Daripada manusia, Izuna memilih menghabiskan waktu dengan hewan-hewan yang ia temui. Terutama kucing. Ada dua ekor yang sekarang selalu bergabung dengannya kapanpun ia duduk beristirahat di bawah naungan pohon. Mereka senang bergelung menempel tubuhnya, tidak pergi jika dielus.
Kuil lama mereka dibongkar dan didirikan kembali di perkampungan ini. Meski pun Makoto sudah menunjukkan arahnya, Izuna enggan ke sana. Menghadapi Sang Leluhur di kondisinya sekarang terlalu memalukan. Tidak ada yang bisa dilakukannya.
Semua orang cepat beradaptasi dengan hidup tanpa perang. Kakaknya juga.
Menyedihkan.
Menyedihkan! Namun, pantang baginya kembali ke Leluhur tanpa menuntaskan utang nyawa kepada musuh bebuyutan itu. Ia harus mengasah kemampuannya.
Apa gunanya? Kau tak punya sharingan. Siapa yang akan mengirimmu maju perang— heh, itu pun kalau masih ada perang….
Pagi belum menjelang, tetapi Izuna sudah di luar memanggul pedang. Sedari tadi ia mengikuti bunyi gemercik air, meniti jalan menuju danau sendirian karena Pochi tidak ada bersamanya. Tempat itu selalu sepi, ada cukup privasi untuk berlatih.
Perang akan selalu ada, tegasnya pada dirinya sendiri. Aku hanya perlu mempersiapkan diri.
Memangnya Madara mau mengirimmu ke medan perang? Mengajarimu saja tak pernah lagi.
Izuna mempercepat langkahnya menuruni medan yang landai.
Kau bukan apa-apa baginya, apalagi perempuan Senju itu jauh lebih kuat darimu.
Kakinya berhenti berjalan.
Benar, 'kan?
Memang hanya Kakak yang bisa mengimbanginya. Semua orang juga tahu itu.
Gemercik sungai menderas melewati bebatuan besar. Ia telah tiba di muaranya. Izuna meniti jalan menuju tempat istirahatnya yang biasa, lalu mengeluarkan pedangnya. Diulanginya serangkaian gerakan yang telah ia pelajari begitu sering di masa kecilnya.
Madara sering sekali pergi, bisikan itu kembali bergema. Kau adik satu-satunya, selamat setelah nyaris mati. Seharusnya ia lebih sering berada di sisimu.
Tapi ia malah menghabiskan waktu dengan perempuan Senju itu.
Pedang Izuna menghantam pohon. Ia menariknya lepas dari takikan yang ia buat. Rupanya ia telah bergerak terlalu jauh melampaui batas pepohonan. Diikutinya suara air kembali mendekati danau.
Untuk apa latihan lagi? Sia-sia tanpa sharingan.
Lengannya turun, lemas. Benar, untuk apa latihan terus?
Memangnya kaumau kemampuanmu digunakan bagi klan Senju?
Izuna tercenung, mencerna kata-kata itu. Langkahnya maju lambat-lambat.
Mau mengkhianati Leluhurmu?
Selangkah.
Mau merendahkan kehormatan klanmu?
Selangkah lagi.
Kakakmu sudah tidak peduli lagi. Mati saja.
Izuna mengambil langkah terakhir dan mengangkat pedangnya—
Dekat di belakangnya, seekor kucing mendadak menjerit. Mendesis-desis siap tempur. Izuna berbalik terlalu cepat. Pedangnya terlepas, satu kakinya menginjak bebatuan licin, dan tubuhnya terhuyung ke belakang—
"Astaga— Izuna!"
Kemudian punggung Izuna menghantam permukaan keras. Sesuatu tercebur ke air. Ia meraba-raba struktur yang mencegahnya jatuh. Kayu.
Seorang wanita berlari mendekat, terdengar panik. "Kamu nggak apa-apa?!"
Izuna hanya bisa menggeleng, masih diliputi keterkejutan. Jantungnya masih keras berdebar saat ia kembali berdiri perlahan-lahan.
Deburan air mengalihkan perhatiannya. Air berkecipak berisik selama beberapa saat, lalu terdengar langkah basah di rumput. "Ini pedangmu. Kamu tadi … berjalan terlalu dekat ke danau. Untung sempat…."
Pipi Izuna menghangat. Malu menyelubunginya. Sarung pedangnya sedingin es. Basah.
"Kamu sendirian di sini?"
Dahinya berkerut saat ia mengangguk.
"Aneh," gumam Hashirama. "Rasanya tadi ada orang lain di sini…."
"Cuma kucing." Izuna kembali menyangkutkan pedang ke ikat pinggangnya, tak peduli basah sekali pun. Pinggulnya ngilu terkena kayu barusan.
"Aku yakin bukan kucing.…"
Sesemakan berkeresak. Izuna mengenali pola larian kucing yang biasa menemaninya. Pendengarannya yang terlatih tidak mendapati kehadiran entitas lain.
Kehadiran Hashirama, di sisi lain, berdebur berdenyut penuh cakra yang hidup— sulit untuk tidak memperhatikannya meski pun ia bukan pengindra terlatih—
Pengindraan. Pelacakan.
Itu dia.
Izuna menepuk dahinya keras-keras. Mengapa ia selama ini begitu bodoh? Hal itulah yang harus dipelajarinya pertama-tama, bukannya mengulangi kenjutsu—
"...Izuna?"
"Kapan Kakak kembali?" sambarnya cepat-cepat.
"...Tidak tahu, dia patroli sendiri—"
Izuna mengeluh keras-keras. Cuma Madara seorang pengindra terbaik yang ia kenal. Bagaimana caranya belajar mengindra tanpanya?
"Oh, aku tahu seseorang!" seru Hashirama bersemangat. "Aku bisa memintanya mengajarimu pengindraan— kalau mau."
Ia merutuki dirinya sendiri. Pasti niatnya itu keluar keras-keras secara tak sengaja.
Sialan. Sudah kepalang basah.
"Aku cuma mau kalau dia bisa mulai besok," desis Izuna. "Di tempat ini sebelum matahari terbit."
Hashirama menepukkan tangannya. "Bukan masalah!"
Jauh di kedalaman benaknya, Izuna berharap itu akan menjadi masalah baginya.
.
"Tahu nggak, Izuna."
Izuna mengangkat wajah dari mangkuknya. "Hah?"
"Banyak lelaki dari klan lain yang mulai pindah kemari. Mau kuperkenalkan? Siapa tahu—"
"Apaan, sih, Ayano." Ia mendecih.
"Aku serius!" Ayano tergelak. "Mereka lumayan ganteng, kok."
Malam itu Izuna makan bersama sepupunya ini sendirian. Ayano yang sekarang lebih banyak tertawa daripada dulu di perkampungan lama mereka. Putrinya juga dibawa, yang untungnya segera tertidur pulas tak terganggu suara obrolan mereka.
"Ih. Nggak usah. Memangnya aku akan tahu mereka ganteng atau nggak?"
"Izuna. Kamu dan kakakmu itu mirip, tahu." Nada Ayano berubah serius. Suaranya mendekat; ia pasti mencondongkan tubuh di atas meja makan. "Kamu nggak pernah melirik cowok-cowok Uchiha. Sekarang banyak anggota klan lain tinggal bersama kita. Nggak usah cemas, darah Uchiha itu selalu kuat, kok. Nggak ada anak Uchiha yang rambutnya nggak hitam."
"...Kamu ngomong apa, sih?"
"Mendorongmu menikah. Apa lagi?"
Rahang Izuna nyaris lepas dari sambungannya.
"Situasinya sudah nggak perang lagi," Ayano santai melanjutkan. "Ini waktu yang bagus untuk merawat anak-anak, 'kan? Mengurangi risiko mati kelewat muda, kalau kata Hikaru dulu."
Melahirkan lebih banyak anak dengan sharingan adalah cara yang bagus untuk melayani klan. Namun, ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
Izuna masih merindukan medan perang.
Ia segera menyingkirkan topik pembicaraan itu. "Percuma. Semuanya pasti jauh lebih lemah daripada Kakak. Aku nggak minat." Sendoknya membelah telur ayam rebus, merebakkan aroma kuning telurnya yang encer.
Ayano menghela napas panjang. "Kamu dari dulu nggak berubah, ya. Alasanmu itu lagi, itu lagi…."
Keesokan paginya, Izuna berniat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Ia membawa tongkat bambu untuk memandunya berjalan sampai ke tepi danau. Dingin yang menusuk-nusuk hidung tidak menghalanginya pergi sendirian. Cukup lama ia mematung mendengarkan bunyi-bunyian alam hingga mendapati langkah-langkah mendekat. Langkah kaki dua orang.
Jujur, Izuna tidak menyangka Hashirama akan mengusulkan adiknya. Ia pasti terlalu terfokus pada prospek latihannya sampai tidak memikirkan ini. Pria itu jelas bukan orang yang akan ia datangi pertama-tama. Namun, jika ia mundur, maka ia kalah.
Dan ia benci kalah dari Senju Tobirama.
Karena itulah Izuna mengulurkan tangan duluan. Menunjukkan bahwa ia tidak akan menghindarinya. Genggaman tangan Tobirama sedingin kabut yang menyelubungi mereka. Izuna sengaja meremasnya keras-keras.
"Aku pergi dulu, klan Nara sudah menunggu rumah baru mereka." Hashirama mengumumkan. Langkah-langkahnya cepat menghilang dari tepi danau.
"Jadi…." Tobirama berdeham. "Sejauh apa kaubisa pengindraan?"
"Hanya dasarnya saja," Izuna merespons separuh tak acuh. "Refleks menyala ketika di medan perang. Tahu, 'kan … waktu ada yang mendatangimu dengan niat membunuh. Tidak perlu pakai cakra untuk merasakan itu."
Sedang untuk mendeteksi medan atau benda-benda mati, ia harus lebih aktif mengindra menggunakan cakra. Sebagian shinobi dianugerahi bakat ini sejak lahir, sehingga yang tidak punya harus puas bergantung kepada mereka atau nekat mempelajari seni rumit ini. Waktu yang dihabiskan bisa bertahun-tahun, sehingga kebanyakan orang memilih untuk mempelajari hal lain saja.
"Bayangkan cakramu tersebar dalam radius tertentu dari tubuh. Seperti jaring," Tobirama menjelaskan. "Bentuknya bisa kauatur, begitu juga dengan luas dan ketebalannya…."
Dahi Izuna berkerut seraya membayangkannya. "Jaring terlalu abstrak."
Ia berpindah tempat ke sisi kanannya. "Bentuk lain saja—"
"Susano'o?"
Tobirama tidak menjawab.
Bibir Izuna membuat seringai lebar. Ia ingat pernah membaca tentang susano'o dari gulungan lama ayahnya. Serupa zirah, terbuat dari cakra murni. Berupa ekstensi atas tubuh seorang Uchiha itu sendiri. Meski kemunculannya berasal dari mangekyou sharingan, susano'o lebih merespons kendali dari gerak tubuh penggunanya.
Walau pun mangekyou-nya dulu sudah bangkit, Izuna tak pernah sempat menggunakan susano'o. Matanya memang sudah tidak ada, tetapi mungkin saja….
Rerumputan berkeresak ketika pria itu mendekat. "Sebaiknya jangan mulai dari yang sulit."
"Heh." Izuna menyilangkan lengannya. Kepalanya mendongak miring, mengarah ke sumber suaranya barusan. "Meremehkanku, ya?"
"...Coba saja sana."
Kabut telah sirna ketika Izuna tak sanggup melanjutkan lagi. Peluh mengucur deras hingga ke rusuknya.
"Istirahat dulu," kata Tobirama.
"Masih sanggup…." Namun, perutnya keroncongan. Izuna mengumpat dalam hati.
"Kau tidak bawa makanan, 'kan? Mau ke dapur umum saja?"
"Dapur … umum?"
"Dapur bersama dengan klan lain. Tidak jauh—"
"Tidak usah." Izuna buru-buru berdiri, mencari jalan kembali ke kompleks klan Uchiha. Dapur umum … jika dugaannya benar maka akan ada banyak sekali orang di sana. Tidak hanya Uchiha dan Senju, tetapi klan lain juga….
"Izuna— tongkatmu—!"
Ia menyambar tongkatnya dari tangan Tobirama. Benda itu nyaris tak digunakannya selama perjalanan pulang, si empunya memilih menabrak semua semak dan kerikil sampai rumah.
Sore itu ia mengulangi pelajaran dari Tobirama. Jaring pengindranya ia buat melingkupi seluruh isi rumah beruangan satu miliknya. Sedikit demi sedikit lapisannya ia pertebal hingga Izuna dapat menerka ada di mana posisi semua perabotannya.
Dasarnya sudah dikuasai. Bagus. Ia bisa latihan sendiri.
Namun, pada keesokan harinya ketika ia pergi ke tepi danau, sudah ada Tobirama di sana. Duduk di sebuah tunggul menghadap danau.
"Sedang apa kau—"
"Melihat kemajuanmu."
Entah mengapa Izuna membayangkan ia tersenyum puas mengatakan itu.
"Kau langsung tahu ini aku, 'kan?"
"Aku hafal aura cakramu, tentu saja tahu."
Tanpa berkata-kata lagi, Izuna langsung mencoba berkeliling di sebuah area sempit tanpa bantuan tongkatnya. Tobirama tidak membuat suara sedikit pun, kecuali ketika ia berpindah tempat. Tak butuh lama sebelum Izuna dapat menunjukkan semua bebatuan dan semak di sekitar mereka.
"Madara tidak mengajarimu?"
Izuna berbalik sedemikian cepatnya hingga kuncirannya menyambar serupa cambuk. "Mana sempat," jawabnya ketus. "Kakak pergi terus."
"Kakak bilang dia patroli. Apa benar begitu?"
"Nggak tahu." Rasa kesal membuat kontrol dirinya melonggar. "Omong-omong bagaimana bisa jadi ada klan lain tinggal di sini juga? Kukira kakakmu cuma ingin kami pindah ke tempat Senju."
"Aliansi—"
"Sinting, tahu." Izuna meletakkan tangannya di pinggang. "Padahal kalian sendiri baru kehilangan rumah, 'kan."
Jaring pengindranya refleks menebal, membentuk perisai pelindung dari terpaan serangan tak berwujud. Aura cakra Tobirama mengganas siap tempur, dan tangan Izuna refleks meraih gagang pedangnya—
Kemudian semua itu sirna dalam sekejap mata.
"Kami kehilangan rumah gara-gara kau."
Dada Izuna terasa seperti ditusuk. "Apa maksud—"
"Kakak pergi dari rumah ketika dia seharusnya melindungi kami semua," Tobirama mendesis, cakranya siap diledakkan lagi. "Dia malah pergi ke tempat kalian."
"Aku nggak minta dia datang!" Izuna balas berteriak. "Aku sudah siap mati— salahmu tidak becus membunuhku!" Begitu ia sadar apa yang baru saja dikatakannya, ia menekap mulutnya.
Cakra Tobirama menyurut.
Izuna mundur perlahan-lahan, lalu berbalik pergi. Malam itu ia tidak latihan. Fokusnya sulit diarahkan tanpa adanya pemandu. Pikirannya terus berlari ke fakta bahwa Senju Hashirama meninggalkan klan dan rumahnya di tengah bahaya demi dirinya.
Dirinya yang bukan siapa-siapa.
Ia tak sanggup makan malam. Perutnya tak nyaman.
Keesokan paginya, ia sendirian di tepi danau. Begitu menemukan tonjolan akar yang nyaman diduduki, Izuna langsung melatih jaringnya. Menebalkan, menipiskan, memindah-mindahkannya sesuai arah yang dihadapi tubuhnya. Namun, pikirannya tetap tak bisa fokus. Keahlian ini mustahil dipelajarinya sendiri apalagi tanpa bakat yang menyertainya sejak lahir.
Ia menelan ludah, menerima kenyataan pahit bahwa ia masih membutuhkan pengajar. Orang itu pasti sudah tak mau mengajarinya lagi. Mungkin lebih baik pulang saja dan menunggu Madara pulang….
Jaringnya mendeteksi seseorang mendekat.
"Izuna."
"Tobirama."
Sunyi. Sesuatu melompat keluar dan masuk ke air. Mungkin seekor kodok. Kemudian, mereka angkat bicara bersamaan.
"Aku masih mau mengajarimu."
"Aku mau latihan denganmu."
Sunyi lagi. Izuna mendengkus tertawa. "Aku punya syarat," ujarnya. "Jangan katakan soal latihan ini pada siapa pun."
"Bukan masalah," Tobirama menyanggupi. "Syaratku satu. Jangan bicarakan hal-hal soal kakak kita berdua selama latihan."
Senyumannya mengembang. "Setuju." Lalu, ia menambahkan, "Besok-besok bawa juga pedangmu."
"Yakin kamu bisa?"
Izuna berdiri, menepukkan debu dari pangkuannya. "Akan kubuat kau menyesal nanti, Senju," ancamnya sungguh-sungguh.
"Coba saja, Uchiha."
.
Usianya dua puluh tiga tahun.
Latihan mereka berjalan lancar. Tanpa adanya pengalih perhatian, Izuna maju pesat. Jaring cakranya sudah menebal menjadi dinding yang dapat mendeteksi ruang lebih akurat. Ia mulai berani berjalan mengelilingi danau tanpa bantuan tongkat, walau Tobirama atau Makoto menemaninya dari jauh. Pergantian musim tidak menghalangi keduanya.
Yang mengetahui soal latihan mereka hanya Hashirama dan Makoto— karena ia ditugaskan neneknya menemani Izuna sehingga begitu wanita itu tidak muncul untuk sarapan, pemuda itu mencarinya ke mana-mana. Izuna langsung menyumpahnya untuk tutup mulut, kalau tidak ia takkan diizinkan menemaninya latihan. Ia tidak hadir setiap hari, untungnya.
Setelah hampir tiga musim, Tobirama akhirnya setuju berlatih kenjutsu dengannya. Usai sesi pertama mereka, Izuna tertawa lepas sampai terbungkuk-bungkuk. Rasanya sudah berabad-abad ia tidak memegang pedang, tidak merasakan sensasi pertempuran yang ia rindukan.
"Rasa-rasanya…." Izuna memegangi sisi perutnya yang ngilu karena tertawa. "Aku ingin mencoba susano'o lagi."
"Tanpa sharingan? Memangnya bisa?"
"Teorinya bisa." Ia menggosok-gosok dagu seekor kucing yang menghampirinya. "Aku pernah baca di gulungan lama … entah disimpan di mana sekarang." Seingatnya, semua literatur klan juga dibawa pindah. "Aku harus baca lagi."
"Ada di perpustakaan. Mau ke sana?"
Izuna terdiam. Perpustakaan … di tengah perkampungan?
"Ajak saja Makoto. Siang ini aku juga harus ke sana."
Kucing di pangkuannya mendengkur keras.
"Baiklah."
Menavigasi arah di perkampungan yang ramai ternyata lebih sulit. Namun, Izuna tidak bertekad mundur. Jaringnya menebal menjadi dinding setiap mereka melalui kerumunan. Ia menggunakan aura cakra Makoto dan Tobirama sebagai panduan, mengambil langkah di tempat-tempat yang mereka pijak. Masalahnya ada puluhan orang lain yang juga memenuhi tempat itu, beberapa di antaranya kadang memanggil menyapa Tobirama. Percakapan singkat mereka selalu memberinya informasi yang aneh dan baru tentang klan lain.
Rasanya lama sekali sampai mereka tiba di tujuan. Panasnya matahari membakar tengkuk, membuat beberapa helai rambut Izuna lengket ke pipi dan lehernya.
"Belok kanan," kata Tobirama begitu mereka masuk ke ruangan yang lebih sejuk. "Pintu kedua. Ada juru tulis bekerja di dalam. Tanyakan di mana mereka menyimpan literatur Uchiha." Ia tidak ikut bersama mereka.
Makoto memandunya sampai ke perpustakaan. Izuna mendapati tiga orang berkutat dengan tinta dan kertas. Setelah mendapatkan lokasi rak yang dimaksud, Izuna menunggu di sebuah kursi panjang sementara Makoto pergi mencarikan gulungannya. Ia kembali membawa tiga buah gulungan.
"Yang itu," kata Izuna setelah Makoto membacakan judul-judulnya. "Catatan Legenda Sharingan: Melampaui Tomoe Ketiga."
Bunyi kertas kaku yang familier merebak ketika gulungannya dibuka. "Ow. Banyak debunya." Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai membaca. "'Menurut catatan saya sebelumnya sharingan berkembang maksimal jika ketiga tomoe telah mewujud tapi semakin banyak'— kata pengantarnya panjang sekali, Izuna-san!"
"Lewati saja yang tidak penting," gerutunya. "Loncat ke bab berikut."
"Tidak ada penanda babnya," keluh Makoto.
"Demi Leluhur Agung, cari saja."
Makoto menemukan bab berikutnya, lalu membacakan bagian awalnya sampai Izuna menyuruhnya pindah lagi. Ia membaca nyaris tanpa menarik napas. Bahkan di akhir kalimat pun tidak berhenti.
"Bagaimana aku bisa belajar kalau bacamu begitu?" Izuna memijat dahinya. "Pelankan sedikit."
"Itu sudah pelan…."
"Ya sudah sini kemarikan gulungannya."
Izuna menipiskan cakra pengindranya hingga tersisa hanya di ujung jemari. Ia meraba permukaan kertas, mencari bentuk-bentuk familier yang ditoreh tinta. Rasanya sudah lama sekali ia tidak membaca dan menulis. Huruf-huruf yang dulu diingatnya terasa asing.
"Terus aku harus apa?"
"Baca saja gulungan lain, duh."
Terdengar keriut bangku ketika Makoto bangkit untuk menyusuri rak-rak perpustakaan. Izuna nyaris tidak membuat kemajuan. Ia butuh waktu terlalu lama hanya untuk satu huruf.
"Mana Makoto?"
Izuna refleks mendongak. Ia hafal suara Tobirama. "Di rak," jawabnya pendek, lalu meneruskan membaca.
Tiga buah benda diletakkan di meja. Izuna mencium bau manis.
"Minum." Tobirama menggeser sesuatu mendekati tangan kanannya.
Ia meraih gelas tembikar itu dan menghirup wanginya. "Ini … jeruk?"
"Mm."
Seteguk. Dua teguk. Sari jeruk dingin itu meluncur di tenggorokannya. "...Enak." Izuna bersandar di bangku. Bahunya ternyata kaku sedari tadi, dan baru bisa rileks sekarang.
Kertas berkeresak. Tobirama bertanya,"Mau kulanjutkan?"
Izuna mengiyakan dan memintanya mulai dari awal bab. Ketika lelaki itu membaca, ia tidak menduga suaranya mengalir sehalus angin. Tobirama tidak menghantam semua kata dalam satu nada seperti Makoto, tetapi memberikan alunan yang membuat isi gulungan itu lebih dimengertinya.
"'Membangkitkan zirah cakra adalah seni tertinggi yang dapat dicapai seorang Uchiha. Ada yang bilang wujudnya hanya tulang, atau serupa iblis sesuai nama yang mereka panggil untuk kita. Menurut saya pribadi, wujudnya adalah cerminan diri sejati'…."
Tangannya bertopang dagu, tubuhnya condong ke sumber suara….
"...Izuna?"
Dagunya bergeser dari telapak tangan, dan Izuna tersentak bangun. Cakranya segera keluar membentuk dinding pengindra. Gelas-gelas dan gulungan masih berada di meja. Panel kaca tembus pandang di belakangnya sudah tidak sepanas tadi.
Namun, ada seseorang di sana, dengan cakra yang begitu familier.
Tobirama cepat-cepat mengantarnya ke pintu keluar, lalu kembali ke pekerjaannya sendiri. Makoto sudah tidak ada, pulang duluan siang tadi untuk membantu ibunya. Udara di luar sudah tidak begitu lembap, walau pun sisa panasnya masih terasa.
"...Sejak kapan kamu bisa berjalan tanpa dibantu?"
"Ih, sudah sejak lama, tahu." Izuna meleletkan lidahnya. "Makanya Kakak jangan sering-sering pergi."
"Heh." Madara menahan tawanya. Lempengan zirahnya saling beradu, menimbulkan bunyi jernih. Tampaknya baru.
Kerumunan orang tidak sepadat ketika mereka datang tadi. Angin semilir mengalir lebih leluasa. Izuna merentangkan lengannya sering-sering, agar udaranya bisa masuk ke dalam lengan baju. "Aku mau mencoba pakai susano'o," ujarnya tiba-tiba.
"Apa kamu—" Madara menyetop kata-katanya sendiri. Ia berdeham. "Susano'o makan banyak cakra. Kamu harus hati-hati."
"Iya, iya, tahu."
"Kalau butuh bantuan—"
Izuna memotongnya, "Nggak butuh!" lalu ia terbahak-bahak sendiri. Dalam hati ia berencana untuk berjalan-jalan mengitari desa keesokan harinya. Ada banyak sosok-sosok baru yang terdeteksi oleh pengindranya, dan ia ingin tahu shinobi seperti apa mereka.
Mereka telah mendekati kelokan menuju perkampungan Uchiha ketika Madara mendadak menghentikannya.
"Aku harus bicara denganmu."
"Hm?"
"Aku dan Hashirama … akan menikah."
Bibirnya terbuka, tetapi tanpa suara keluar. "Sebentar … ini benar-benar Kakak, 'kan?"
"Aku serius. Kamu nggak salah dengar."
Izuna mengulurkan tangan, meraih segumpal rambut panjang dan kasar. Digenggamnya helaian itu seolah untuk menepis keraguannya. "Apa Kakak demam…?"
"Demi Leluhur Agung— nggak," kata Madara geli. "Aku sudah melamarnya. Hashirama menerimanya."
Andai kedua matanya masih ada, Izuna pasti sudah membelalak lebar-lebar. "Dia sudah menerima kimono kita—?!"
"Belum, belum. Nanti setelah desa ini selesai dibangun dan semua klan selesai pindah kemari." Suaranya begitu tenang, tetapi ada sesuatu yang bergolak di baliknya. "Ini masih rahasia, jadi—"
"Jangan bilang siapa-siapa?"
"Jangan bilang siapa-siapa."
"Oh," bisiknya. "Oke."
Tangan bersarung Madara mengacak-acak rambut adiknya, kemudian mereka kembali tanpa berbicara lagi. Berpisah mengurus kesibukan masing-masing.
Di tengah kesunyian rumahnya yang mungil larut malam itu, Izuna tidak bisa tidur.
Mengapa dirinya merasa biasa-biasa saja mendengar kabar pertunangan Madara? Mengapa ia tidak marah? Mengapa ia tidak kesal?
Memalukan.
.
Usianya dua puluh empat tahun.
Kadang-kadang Izuna menemani Ayano menukarkan sayur-mayur dari kebunnya dengan beras atau barang lainnya. Pertukaran ini terjadi di area yang disebut pasar. Awalnya Izuna gugup karena keramaian tempat itu bagaikan kawanan lebah di telinganya. Ia ingin menolak dan pulang saja, tetapi Yuzuha selalu menahannya di tempat. Izuna tak ingin ia terlihat lemah di hadapan putri sepupunya itu. Lagipula, pasar adalah tempat latihan yang bagus untuk mengasah kemampuannya mengindra. Izuna awalnya ragu untuk turut serta, tetapi sepupunya terus mengikutsertakannya ke dalam percakapan. Orang yang mereka ajak bicara pun lebih sering menginformasikan hal-hal baru seperti klan apa yang baru saja tiba, siapa yang mendapatkan rumah mokuton, atau populasi hewan buruan yang baru diperiksa pemburu Inuzuka. Ayano melakukan semua transaksinya sendirian, dan selalu sambil bercanda. Begitu santai. Tidak waspada sama sekali. Seolah ia bukan shinobi Uchiha.
Hal itu membuatnya tertegun. Kehidupan yang dialaminya nyaris tidak ada bedanya dengan kehidupan di kampung lama Uchiha. Hanya saja, mereka tinggal berdampingan dengan banyak klan lain. Peran masing-masing individu perlahan membentuk rutinitas baru yang tak banyak bedanya dengan kehidupan lama.
Bagaimana kakaknya dan Hashirama bisa membuat semua ini terjadi?
Namun, Izuna tidak menyangkal atmosfer desa itu begitu nyaman. Menerimanya seperti pelukan seorang ibu. Tempat di mana semua shinobi yang biasa hidup penuh kehati-hatian bisa berlaku santai, dan menanggalkan kewaspadaan. Getaran kehidupan di sana jalin menjalin begitu berantakan, riuh, tetapi tanpa adanya niat mengganggu.
Nyaris menyatu, walau setiap klannya jelas berbeda.
Ayano sendiri tampaknya sudah beradaptasi penuh dengan kehidupan baru mereka. "Ada mochi, separuh ayam pegar, sedikit jawawut dan senbei," kata sepupunya ketika mereka meninggalkan pasar. Semua lobak di keranjang sudah digantikan makanan lain. "Yuzu mau senbei?"
"MAU!"
Bunyi patahan yang menyusul menandakan Yuzuha sedang menikmati senbeinya. Izuna mendekap erat keranjang belanja Ayano.
"Sudah dengar tentang Akademi Ninja?"
"Aka … demi?"
"Tempat melatih anak-anak dari berbagai klan jadi shinobi," Ayano memaparkan. "Katanya belum ada satupun kerabat kita yang melamar jadi guru. Mau coba?"
"Bagaimana caraku mengajar kalau—"
"Pengindraanmu bagus, tahu!" potongnya. "Kamu selalu menemukan Yuzuha setiap dia bersembunyi di kolong-kolong rumah. Anak-anak bisa belajar menyusup denganmu."
Di depan kedua perempuan itu, Yuzuha memekik riang mendapati burung-burung berkicau jauh di atas kepala mereka.
"Yah, benar juga," kata Izuna lambat-lambat.
"Aku sudah bilang pada Nara-sama kalau kamu bersedia—"
"Aya!" Izuna refleks mendorongnya pelan.
"Sekalian latihan kalau punya anak nanti!" Sepupunya hanya tertawa-tawa, tetapi tidak lama. Tawanya sirna bagai terputus, dan langkah-langkahnya tak lagi terdengar. "Ma, Madara-sama," cicitnya, "Anda sudah kembali."
Keranjang makanan raib dari pelukan Izuna, dan celoteh Yuzuha terdengar semakin sayup. Langkah-langkah pria itu berat dan lambat. Izuna seketika waspada.
Suasana hati Madara tidak pernah baik sejak Hashirama terpilih menjadi Hokage. Kadang ia merasa ada yang janggal dari kakaknya itu, walau ia tak pernah bisa menemukan apa sumbernya.
"Aku mau pergi lagi besok," kata Madara tanpa basa-basi. "Jika ada rapat antarklan, kamu yang harus mewakiliku."
Izuna mengangguk khidmat. Perintah ketua klan tidak boleh ditolak. Namun, tetap saja ada yang mengganjalnya.
"Mengapa tidak orang lain saja? Hikaku misalnya?"
"Kamu wakilku di klan. Tidak ada yang lebih pantas daripada kamu."
Untuk urusan sehari-hari, Hikaku yang bertanggung jawab. Pemetaan kompleks permanen, pembagian rumah, penjatahan beras dan bahan makanan lain yang didukung desa. Hal-hal remeh yang biasanya tidak Izuna pikirkan.
"Aku akan tanya Hikaku tentang urusan klan," katanya sambil meniti jalan pulang.
"Satu lagi." Madara menangkap lengan adiknya. "Berhentilah main-main dengan Tobirama."
Izuna menoleh, kebingungan. Rasanya kemarin-kemarin Madara tidak pernah menyinggung soal latihannya, jadi mengapa tiba-tiba ia bilang begini?
"Aku nggak main-main. Aku latihan."
"Lalu apa setelah itu? Mau mengambil misi? Mau membahayakan dirimu?"
"Terpikir pun belum," Izuna berkilah. Lengannya ia tarik lepas. "Aku masih bisa bertarung."
"Tanpa sharingan?" Madara menjajari langkahnya. "Kamu nggak akan bisa, Izuna."
Izuna mengertakkan gigi. "Bisa!" teriaknya. "Lihat saja nanti!"
Sunyi, lalu tawa Madara pecah. "Semangatmu belum hilang, bagus— ow!" Ia berpura-pura mengaduh ketika sebuah tinju sukses dilayangkan ke perutnya.
.
Kalau boleh jujur, Izuna tidak tahu siapa Shimura Hisao.
Rasanya sudah lama sekali sejak mereka terakhir kali disewa untuk mencegah klan Shimura menginvasi wilayah Daimyo Taneyuki. Izuna ingat kala itu ia membunuh seorang anak muda Shimura yang katanya cukup menjanjikan. Entah namanya siapa. Baru belakangan setelah ia sering berjalan-jalan di desa, Hikaru menyebut-nyebut nama Hisao.
"Anda yakin nggak apa-apa?" tanyanya ketika menuliskan biodata Izuna. Tulisannya yang rapi membuatnya langsung diterima di Akademi sebagai juru tulis.
"Memangnya kenapa?" ia balas bertanya. "Hashi-san nggak mengizinkan ada perselisihan di dalam desa, 'kan?"
"Bukan, um," Hikaru menggaruk-garuk rambutnya, "kudengar dia nggak suka dengan Izuna-san. Anaknya Anda bunuh dulu."
"Cuma tidak suka saja, nggak bahaya. Lagipula dulu 'kan perang satu sama lain. Semua orang membunuh keluarga orang lain. Kalau Senju saja bisa berdamai dengan kami, seharusnya yang lain juga begitu." Izuna mengibaskan tangannya. "Sudah selesai? Shikana-san pasti menunggumu."
Ia bahkan sudah lupa akan obrolan kecil ini sampai insiden paska-rapat dewan desa. Cekcoknya dengan Madara setelah itu membuatnya lebih sering latihan kenjutsu dengan atau tanpa Tobirama.
"Jangan membahayakan dirimu sendiri," omel kakaknya sementara Kakek Tatsu menyatukan lagi torehan di pinggang Izuna usai pertarungan dengan Hisao. "Kau bisa mati tadi!"
"Kakak nggak percaya aku bisa melawannya, ya?" balas Izuna tak kalah sengit meski ia masih terbaring. Perih tidak menghalanginya membalas.
"Tetap sa—"
"Pergi melulu, sih!"
Penyembuhnya berdeham keras-keras sebelum Madara merespons. "Madara-sama, tolong keluarlah sebentar," pintanya sungguh-sungguh. "Saya harus berkonsentrasi."
"Jangan gegabah, lawanmu bukan anak kemarin sore," nasihatnya sebelum mematuhi anjuran Kakek Tatsu.
Namun, Tobirama sendiri ternyata hampir sependapat dengan Madara. Selang beberapa hari setelahnya, ia membawakan semua informasi tentang Shimura Hisao ketika mereka berada di perpustakaan.
"Anaknya bernama Masao yang kaubunuh," ujarnya tiba-tiba. Suaranya dipelankan karena Makoto masih berada tak jauh dari situ, sibuk dengan bacaannya sendiri. "Hisao bukan hanya ahli kenjutsu, tetapi juga ahli racun. Ia cukup pendendam, Keita-san bilang—"
"...Sebentar, mengapa kamu memberiku informasi ini?" Izuna baru saja usai mendengarkannya membacakan sebuah gulungan dongeng pendek. "Aku sudah tahu semuanya."
"Kau tidak bilang."
"Kalau dia nekat, aku bisa menghadapinya lagi."
"Kau beruntung karena ada Kakak waktu itu."
Izuna nyaris melompat berdiri. "Ya sudah lain kali aku nggak perlu sampai luka!"
Tobirama memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan mereka. Atau, begitulah yang perempuan itu kira. Begitu mereka di luar, perdebatan itu kembali menyala, disulut oleh tuntutannya menemani Izuna kembali.
"Tak ada masalahnya aku pulang sendiri, 'kan?" Izuna letih dan kesal, tidak peduli lagi jika ada yang mendengarnya.
"Peraturannya belum resmi," balasan Tobirama tenang dan pelan, seolah berusaha menenangkannya.
"Kau sama menyebalkannya dengan Kakak. Kenapa kalian berdua tak mau percaya pada kemampuanku sendiri?"
"Keamanan seluruh Konoha adalah tanggung jawabku, Izuna. Ini hanya tindak pencegahan."
Cuping hidung Izuna melebar. "Kukira kaupercaya padaku. Kau yang tahu seberapa kuatnya aku."
Seekor burung hantu terbang melintas.
"Tidak hanya kamu. Kakakku juga. Ada satu tim kecil yang memonitornya setiap saat di desa."
Izuna menelengkan kepalanya. Shinobi sekaliber Hashirama pasti tahu jika dirinya diikuti. Ia jelas tidak butuh tim pengawal. Ia paham Tobirama orangnya pragmatis, jadi pasti alasannya bukan hanya soal keamanan.
"Terserah kau sajalah," ujarnya, "selama mereka tidak menggangguku, kurasa tidak apa-apa." Ia tidak menepi atau berhenti ketika Tobirama menyusulnya. Jalan yang mereka lalui menembus deretan rumah-rumah mokuton Hashirama. Pengindranya merasakan denyut kehidupan dari semua bangunan itu. Hampir seluruh Konoha terasa serupa.
"...Kudengar kau melamar jadi guru di Akademi."
Dinding cakranya mendekati pria itu. Apakah ia akan mengungkit soal Hisao lagi? Izuna dengar pria itu juga diterima bekerja di Akademi. Sinting jika ia sampai nekat mencelakainya di sana. "Ayano sepupuku yang mengusulkan," akhirnya ia berkata.
"Bagaimana kalau kau dapat murid bukan dari klan ninja?"
"Asal mereka mau belajar, pasti kuajari." Kemudian ia bagai menyadari sesuatu. "Apa posisi pengajar kau juga yang menentukan…?"
"Bukan aku, tapi Shikana-san menimbang pendapat orang lain juga. Anak-anak dari klan lain bisa sulit belajar jika gurunya pemarah, contohnya."
"Tenang saja, aku nggak galak," candanya. Mereka sudah semakin mendekati jalan setapak menuju kompleks kediaman Uchiha. Izuna berbalik separuh badan. "Um. Aku duluan…."
"Omong-omong, Izuna," panggil Tobirama. "Kakak akan menyerahkan posisi kepala klan kepadaku."
"...Selamat." Dinding cakranya menepuk kedua bahu pria itu. "Kau akan jadi lebih sibuk." Izuna menimbang-nimbang sesaat. Ia sudah cukup lancar menggunakan pedang. Latihan dengan orang lain seharusnya tidak masalah. "Bagaimana jika latihannya kita sudahi saja?"
"Jangan."
"Kenapa?" Jawabannya tidak muncul secepat dugaannya. Izuna mencondongkan tubuh, mengira kata-katanya dibawa angin. "Kenapa, Tobirama?" ulangnya.
"Aku … butuh latihan juga." Tobirama mundur. Nadanya janggal.
"Benar hanya latihan saja?" Izuna tak tahan untuk menggodanya.
Pria itu berdeham keras-keras. "Sudah larut," katanya sambil memegang kedua bahu Izuna. "Pulanglah."
Ketika mereka berpisah, Izuna tidak tahan untuk tidak terbahak-bahak sepanjang jalan pulang.
.
Telinganya berdenging. Kehangatan di tubuhnya sirna.
"Kakak bercanda."
"Kuharap aku bercanda!" Madara menggeram seperti beruang luka. Zirah dan gunbainya menghantam tatami. "Tobirama tahu selama bertahun-tahun— tahu siapa tunangan Hashi. Dia nggak pernah diberitahunya. Kakaknya sendiri!"
Izuna ternganga. Cakra Madara mengungkapkan emosi yang ia kira tidak dimilikinya. Emosi yang bahkan tidak keluar ketika mereka mengkremasi ayah mereka. Ia mengulurkan tangan, berniat meraihnya, tetapi pria itu menghindarinya.
"...Ke kuil," bisiknya sebelum pergi.
Sementara Madara menyendiri ke kuil seperti biasa, ia tidak bisa terlelap. Kemarahannya meluap-luap. Kakaknya bisa melampiaskan murkanya dengan pergi ke garis depan perang dengan Tsuchinokuni, tetapi ia terikat dengan pekerjaannya sebagai pengajar Akademi. Yuzuha yang dititipkan Ayano kepadanya pun sampai tak berani berbicara dengannya. Cakranya mengerut. Takut.
Ia tidak sanggup muncul di tempat mereka biasa latihan. Semangatnya menjalani rutinitas harian terjun ke titik nol. Orang-orang tak tahu batasan nekat menanyainya untuk mengonfirmasi berita itu, membuat Izuna terpaksa mengambil cuti singkat dari Akademi.
Tobirama. Ini semua salahnya. Tolol sekali ia! Bisa-bisanya percaya begitu saja hanya karena sering berlatih bersama—
Ada orang lain.
Izuna sedang menyendiri di hulu sungai, menjauhkan dirinya dari pusaran gosip tak kenal ampun. Riuhnya bunyi-bunyian hutan tidak menghalangi pengindraannya. Perlahan ia menuruni bukit menuju sungai. Sisa-sisa cakra bijuu yang mengirim badai ke Konoha tempo hari sudah nyaris tak terasa. Ada yang menyelam.
Setelah Tobirama meninggalkan sungai dan menyadari keberadaannya, Izuna tidak membuang waktu meledakkan emosinya. Menuntut jawaban atas kekacauan yang diperbuatnya. Matanya memang tiada, tetapi ia tahu Tobirama tidak mengungkap seluruh kebenaran yang ia ketahui.
"Kamu masih menyembunyikan sesuatu, Senju." Izuna melanjutkan dengan nada yang lebih tenang, walau rasanya bagai bertutur dengan lidah seberat timah, "Coba pikirkan. Apa untungnya bagi Konoha jika Hokage menikah dengan orang luar? Kakakku kandidat yang jauh lebih baik daripada lelaki Uzumaki ini."
"Tanpa sokongan Uzumaki, Konoha nggak akan berdiri. Mereka sudah memberi kami banyak uang dan salinan literatur yang hilang dalam kebakaran…." Semua kata yang diucapkan Tobirama seolah tidak masuk akal.
Uzumaki ini keluarga Senju, 'kan? Mengapa mereka mengharapkan pamrih atas bantuan itu?
Izuna tidak bisa menerima penjelasan itu. "Kalau begitu kenapa bukan kamu yang menikah saja dengan perempuan Uzumaki? Kamu 'kan sudah jadi kepala klan."
"Aku tak punya mokuton."
Bibir wanita itu menipis. Ia kini berdiri di dalam rusuk susano'o-nya. Pelindungnya itu perlahan memudar. Percakapan ini jelas tak ada ujungnya. Sia-sia.
"Menurutmu mana yang lebih penting, kebahagiaan Hashi-san atau keutuhan relasi kalian dengan klan yang bahkan tidak pernah menampakkan diri di Konoha? Memangnya kamu bisa menikahi orang yang nggak kamu kenal sama sekali, hanya demi menghasilkan anak-anak dengan kemampuan tempur tinggi?"
"Ya!" jawabnya yakin. "Tentu saja bisa demi kebaikan yang lebih besar daripada keinginan pribadiku."
Jawaban itu menyakitinya lebih dari yang ia duga. Jantungnya bagai diiris sembilu. "Kamu bohong," desis Izuna, mencengkeram sisi kiri perutnya. "Sialan. Kukira kamu berbeda. Kukira kita berteman…." Emosinya menggelegak di tenggorokan, keluar berupa senggukan keras. "Aku tadinya memercayaimu, tahu! Ternyata kau … kau sungguh tidak punya perasaan, tak tahu diri—!"
Kata-katanya diputuskan oleh sentuhan di kedua sikunya. Tobirama sudah memangkas jarak di antara keduanya. Tanpa pengindraan pun Izuna tahu pria itu terengah-engah, napasnya memburu, dan kepalanya dekat menunduk. Jemari di siku wanita itu gemetaran.
"...Maafkan aku, Izuna."
Ketika Izuna berusaha meraihnya, tangannya hanya menemukan udara kosong.
.
"Tobirama—? TOBIRAMA!"
Pegangannya terlepas. Izuna berhasil menangkapnya dengan berlutut di dalam susano'o, tetapi kini ia terjebak. Semua keributan di sekitarnya memenuhi pendengaran, menjejali ribuan informasi ke dalam otaknya. Ia tak bisa memilah semua itu dalam sekejap. Ia butuh pengindra. Susano'o-nya menuntut fokus total dan energi yang tidak sedikit. Diam saja menguras tenaganya sedikit demi sedikit….
"Sialan! Jangan bercanda—" Izuna menampari pipi pria itu, tetapi tidak ada reaksi. Tubuhnya lemas di pegangannya. Diletakkannya kepala di dada Tobirama. Detak jantungnya masih ada walau pun lemah.
Di sisi lain, cakranya nyaris tak terasa. Begitu redup, begitu lemah dalam setiap tarikan napasnya.
Bumi bergetar. Jeritan dan serbuan berbagai macam jurus terdorong jauh ke belakang fokusnya. Pepohonan pastilah telah tercerabut dari akarnya, dan kera raksasa itu kembali menggaungkan raungan yang mengacaukan keseimbangannya—
Tak ada waktu berpikir. Izuna mengaitkan jemari tangan kirinya dengan tangan Tobirama yang kaku. Ia menarik napas dalam-dalam dan—
Tengah perutnya berdenyut-denyut ketika ia menarik semua cakra yang ia miliki. Susano'o-nya menebal, meninggi, dan membesar. Jangkauan pengindraannya berlipat ganda, mengikuti ukuran zirah cakranya. Kerabatnya tersebar di beberapa titik, menahan si kera dengan semburan suiton. Shinobi lainnya terpencar di sana-sini, saling serang tanpa komando tunggal. Cakra mereka deras terkuras. Jika ini terus berlanjut….
"Hikaku!" Teriakannya bergema di seluruh medan tempur. Ketika sesosok shinobi dengan karakter cakra yang ia kenali mendekat, tangan susano'o-nya menarik Hikaku ke dalam.
"Kena—"
"Bawa dia," Izuna mengangguk pada Tobirama yang tak sadarkan diri. "Cepat!"
Tanpa berkata-kata lagi, Hikaku melesat pergi.
Izuna menangkupkan kedua tangan menutupi wajahnya. Medan tempur pasti sudah membara. Menahan apinya dari menyebar mencapai desa saja sudah susah.
Suara Madara bergema dalam ingatannya, memutar ulang percakapan mereka semalam sebelum ia pergi ke Tsuchinokuni.
Mungkin malam itu adalah kali terakhir ia bersua dengan saudaranya.
Bumi bergetar dalam interval pendek-pendek. Susano'o-nya berputar ke arah sumbernya, menahan serbuan si bijuu dengan mencengkeram bahunya. Izuna berteriak hingga tenggorokannya sakit, menendang kera itu telak di perutnya hingga terpental lagi.
Kali ini ia yang maju. Cakra sasarannya berupa gumpalan masif panas. Begitu mudah ditemukan. Bijuu itu mengobarkan bulu-bulunya, memamerkan taring bawahnya, lalu melompat bangun. Tinjunya naik setinggi kepala—
Kuku-kuku Izuna menancap ke telapak tangan. Takkan dibiarkannya makhluk ini menghancurkan Konoha!
"Pergi dari sini!" raungnya, mengerahkan seluruh sisa cakranya. "PERGI! PER—!"
Tinju kiri susano'o-nya menyambut serangan si kera, telak menghantam—
Kemudian dunia berubah terang benderang.
"—gi…."
Izuna tidak salah lihat— ia bisa melihat, ia berdiri di sebuah ruangan terang di atas air, dan—
Ada kera merah besar menjulang di atasnya, rupanya sesuai dengan citra yang tadi ia indra dengan susano'o-nya. Matanya kuning besar menatap Izuna penuh rasa ingin tahu.
Bibir Izuna membentuk kata tanpa suara.
Pergi.
Begitu saja, dan ia kembali menemukan kegelapan medan tempur. Susano'o-nya menguap menjadi asap, dan tubuh Izuna melayang jatuh dari ketinggian menembus kobaran api—
Kali ini, tidak ada Madara yang sigap menangkapnya.
.
.
still renovating, school and stuff. i want to do another thorough revision before proceeding to #13
thanks for reading :D
