i gave myself deadline for this chapter in october but eyyyy look an update
warning for implicit sexual scene
recommended bgm: a light that never comes - linkin park
.
.
Naif.
Seleret cahaya bulan menembus celah ventilasi di penginapan terakhir mereka sebelum mencapai kastel Nobutada. Madara terbangun di larut malam, membetulkan posisi selimut mereka, lalu kembali merebahkan diri.
Hashirama masih terlelap di sisinya. Bunyi napasnya halus. Meski sudah beberapa hari sekamar dengannya, Madara masih tidak biasa melihatnya tidur seolah tak pernah menemui bahaya selama hidupnya. Dengan lembut ia sibakkan helaian rambut dari wajah perempuan itu.
Ia bukan gadis remaja yang dilawannya di medan perang pada dekade lalu. Hashirama yang bersamanya sudah mengakhiri pertumpahan darah selama puluhan generasi, menghadapi dua bijuu seorang diri, dan— untuk pertama kalinya dalam sejarah shinobi, menyatukan darah dua klan terkuat di Hinokuni.
Ia juga sedang hamil anak mereka.
Madara ingat ia pernah menertawakan mimpi yang mereka bagi berdua, mengira dunia yang menewaskan adik-adik mereka sudah mustahil untuk dirombak. Namun, di sinilah mereka, bersanding seperti sepasang rakyat biasa.
Sedangkan perang masih berkobar di luar sana. Persis seperti kata makhluk itu.
Ia merasakannya sampai ke balik kulit ketika menjejak pelataran kastel sang Kaisar. Bukan hunusan pedang atau tombak, melainkan tatapan menghina ke arah mereka berdua. Serta bisikan-bisikan yang jelas tertangkap pendengaran tajamnya.
"Sudah berapa banyak orang yang dia bunuh…?"
"Iblis…."
"Perempuan itu juga? Tak disangka, ya…."
"Katanya dari kecil sudah bunuh orang."
"Seram, seram…."
Semua itu bukan hal baru bagi Madara yang sudah berulang kali menghadap Daimyo Taneyuki. Hashirama belum pernah menghadapi para bangsawan secara langsung. Kenaifannya hanya akan menjadikannya mangsa di tengah medan perang yang lain.
Bagi semua orang, sang dewi adalah shinobi terkuat yang tak bisa dilukai. Bagi Uchiha Madara, Senju Hashirama sudah mengemban terlalu banyak luka tak kasatmata.
Luka-luka yang hanya bisa dilihatnya.
Madara selalu tahu ketika tatapannya berubah kosong dan wajahnya kehilangan warna, maka luka-luka itu menoreh terbuka kembali. Pembicaraan sambil lalu pun dapat membuatnya membeku seperti itu. Kapan pun ia bisa, Madara selalu menyeretnya pergi sebelum luka itu melebar. Namun, terkadang pergi sama saja dengan mengibarkan bendera putih pada sebuah pertempuran vital.
Ketika makan malam dimulai pada pesta sang Kaisar, Madara sama sekali tidak berselera. Semeja penuh makanan lezat nyaris tak disentuhnya. Lapar bisa ditunda. Obrolan yang berseliweran di antara para daimyo jelas bukan obrolan yang ia harap dengarkan. Hashirama memang sibuk dengan makanannya sendiri, tetapi cepat atau lambat ia pasti mendengar juga.
"Pasukan Tsuchi masih pakai strategi infanteri," kata Shigenobu, mantan jenderal dan guru bagi sang Kaisar. "Seharusnya tidak susah melawan mereka." Senyumannya meremehkan. "Anak-anak mereka itu hanya umpan, bukan?"
Madara melirik Hashirama. Tanda-tandanya mulai muncul. Kepalannya membuka dan mengatup. Matanya masih terarah pada si samurai, tetapi tatapannya tak lagi di sana.
"Mengerahkan kekuatan penuh melawan sekumpulan anak-anak itu sia-sia," Madara bergabung dengan pembicaraan itu, mengambil alih darinya. "Jika anak-anak yang mati, cepat atau lambat semua orang akan musnah. Karena itu kami tidak lagi mengirim anak ke medan perang."
Sang Kaisar masih terus bersikeras, maka Madara menambahkan, "Konoha berdiri karena kami berdua tidak ingin melihat anak-anak mati terbunuh lagi. Hipokrit jika kami membiarkan hal serupa terjadi pada lawan kami."
Shigenobu membalas, "Lebih baik membunuh musuh sebelum mereka menjadi terlalu mematikan!"
Tangan Hashirama yang lemas di sisi bantal duduknya bergetar. Madara menggenggamnya. Ia jelas kalah suara. Semua daimyo di sini hanya mementingkan keuntungan yang mereka dapat tanpa perlu turun tangan sendiri. Ia bertukar pandangan dengan perempuan di sisinya.
Wajahnya pucat pasi.
Namun, ia tidak bisa kalah di sini.
"Mungkin semua daimyo di sini belum pernah maju sendiri ke medan perang." Madara merendahkan suaranya. "Anda jelas tidak bisa mengerti seperti apa kondisi di garis depan. Yang bisa Anda lakukan hanya bersantai dan makan hasil jerih payah ratusan orang … yang rela mati diperdaya agar kita bisa menikmati sajian malam ini."
"Lancang!" seru seorang daimyo.
Hashirama melepaskan tangannya. Sang Permaisuri mengajaknya pergi. Madara nyaris mengutarakan rasa terima kasihnya. Kini ia tidak perlu menahan diri lagi.
Seorang pelayan menuangkan sake ke gelas-gelas tetamu. Kali ini, Madara tidak menolaknya.
"Jenderal Ariyoshi seharusnya sudah memberitahu Anda semua," katanya setelah menenggak sake. "Anak-anak yang dikirim Kaisar Gunung bukan anak yang dilatih berperang seperti para ninja. Mereka anak-anak kurang gizi dan berpenyakit. Mereka yang menjadi infanteri. Mereka yang disuruh menginfiltrasi desa-desa di pinggiran. Mustahil Jenderal belum pernah dengar tentang Setan Tsuchi."
"Oh, jangan bilang sang iblis takut pada anak-anak ceking!" Daimyo Matsudaira terkekeh-kekeh lagi.
Madara menggeleng, masih mempertahankan senyumannya. "Seperempat pasukan Hinokuni mati karena tertular mereka. Yang Mulia pasti tahu," ia beralih pada sang Kaisar, "strategi Kaisar Gunung Tsuchinokuni ini sekaligus membuang orang-orang yang tidak dibutuhkannya."
Nobutada tidak merespons. Matanya menyipit. Shigenobu sebaliknya, mukanya memerah menahan emosi.
"Berpenyakit atau sehat, samurai tidak akan kabur dari medan perang," ujarnya dengan nada final.
"Tapi begitulah kenyataannya," balas Madara ringan, nyaris bermain-main. "Itu sebabnya semakin banyak bandit di Hinokuni. Sebagiannya bergabung dengan mantan samurai, malah."
"Itu karena kalian berhenti melayani kami!" Daimyo Akiyama naik pitam. "Segalanya baik-baik saja selama aku bisa menyewa para ninja."
Adalah naif jika mengira semua perang bisa dihentikan jika Senju dan Uchiha berdamai.
"Anak-anak lelaki kalian jadi samurai, 'kan?" Madara meninggikan suara, menenggelamkan semua protes. "Iblis sekalipun tidak akan menyuruh anak-anaknya bertempur untuk dirinya, persetan dengan rasa bangga dan kejayaan."
Ia menatap mereka satu persatu. Senyuman Nobutada sudah hilang.
"Apa ninja memang selembek ini?" Shigenobu bertanya pedas. Pergelangannya bertumpu pada lutut yang ditekuk tegak. "Makanya jangan pilih jenderal cewek. Lembek."
Madara tidak menahan tawanya lagi. Suaranya membunuh semua percakapan lain. Ia menebarkan pandangan, mereguk suasana dan tatapan terperanjat para bangsawan. "Perempuan yang kaubilang lembek itu hanya butuh sepuluh detik untuk meluluhlantakkan kastel ini." Mereka semua menonton pertunjukan kecilnya di aula. Jelas bahwa Madara tidak sedang membual.
"Begitu?" tantang Shigenobu. "Kau sendiri?"
Madara mendengkus. "Sekejap mata." Ia menenggak sakenya, dan meninggalkan ruang jamuan itu.
Shinobi atau bukan … sama saja.
Masih ada beberapa samurai yang sedang latihan malam di pelataran. Lama Madara menonton mereka, memerhatikan semua detail dengan sharingan-nya hingga mereka membubarkan diri. Besok ia harus datang lebih pagi, pasti lebih banyak lagi yang berlatih. Informasi teknik mereka sangat berharga.
Ia sudah menapak jalan menuju paviliunnya yang terpisah ketika ia teringat akan sikap aneh Hashirama di aula depan tadi. Lelaki Uzumaki itu pasti membuatnya terganggu begitu parah hingga ia sampai butuh berganti pakaian. Ke mana Permaisuri membawanya? Madara segera mengaktifkan cakranya, melacak cakra yang begitu dihafalnya dari luar kastel. Jejaknya mengarah ke lantai atas, ke sebuah ruangan yang balkonnya menghadap taman-taman. Tanpa kesulitan Madara memanjat hingga balkon, lalu merunduk mendengarkan.
Di batas yang memisahkan ruangan itu dengan ruang di sebelahnya, terdengar kelotakan dan gerutuan. Kedengarannya seseorang sedang memaksa membuka sesuatu, tetapi terlalu kesulitan. Sayup-sayup didengarnya seorang pria memanggil-manggil nama Hashirama. Madara melebarkan jaring pengindranya.
Tidak salah lagi. Itu Uzumaki Nobuo. Yang janggal, ia merasakan mokuton Hashirama terletak di seluruh penjuru ruangan seperti pasak-pasak pelindung. Tepat pada panel jendela dan pintu.
Bahkan di Konoha pun Hashirama tidak pernah sewaspada ini.
Ia menunggu sampai pria itu menyerah dan menjauh, lalu meletakkan tangannya pada pintu shoji. Pintu itu tak bisa digeser, tetapi segera terdengar kelotak halus penanda lenyapnya mokuton penguncinya.
Madara masuk dengan mudahnya. Ruangan itu temaram diterangi pelita redup. Di satu sudut terdapat laci-laci kayu yang tidak tertutup rapat dan menampakkan sedikit isi kainnya yang berwarna-warni. Meja kecil di sebelah futon diisi oleh teko dan gelas-gelas teh. Salah satunya masih menguarkan wangi ramuan yang ia cium setiap hari selama perjalanan ke kastel.
Wajah tertidur Hashirama tampak lebih tenang. Di bawah selimutnya, ia masih mengenakan kimono gelap yang tadi. Lengkap dengan obinya yang sesak. Madara menyentuh pipinya, dan kelopak mata perempuan itu perlahan membuka.
"Aku mimpi," gumam Hashirama usai ia berganti dengan kimono santai untuk tidur. Ia tidak sepenuhnya terjaga. "Mimpinya sama terus."
"Mimpi apa?" Madara membaringkan diri di sisinya, kepalanya berbantalkan lengannya sendiri.
"Bulan." Hashirama menguap dan memejamkan matanya kembali. Ia bergelung dekat ke dadanya. "Purnama ... kembar…."
"Mimpi yang indah." Madara menyingkirkan rambut dari wajahnya, lalu mendekapnya erat.
Tidak … Hashirama tidak senaif itu.
.
Usianya dua belas tahun, dan Madara terbangun dari mimpi.
Mimpi adalah tempat bernaungnya segala kemustahilan. Semua angan yang menjanjikan kenyamanan. Semua hal yang terlalu manis untuk jadi nyata.
Karena kenyataan itu pahit. Menyakitkan.
Madara telah belajar untuk tidak terlalu tinggi menggantungkan asa. Jatuh terempas selalu menyakitkan, apalagi jika tiada yang siap menangkap. Ia selalu mengira dirinya cukup kuat untuk menangkap adik-adiknya, tetapi mereka pun satu persatu jatuh—
Berkeping-keping.
"Susano'o punya sayap, Kak," Izuna berceloteh di suatu siang, sari persik menetes dari sudut bibirnya. Kemarin adalah kesempatan pertamanya mempelajari gulungan rahasia tentang sharingan berdua saja bersama Tajima. "Bisa terbang katanya. Pasti keren."
"Pasti keren," ulang Madara, telaten menyeka dagu adiknya sebelum pakaiannya dikotori sari buah. Mereka duduk di beranda belakang usai memanen sayur-mayur. Izuna tak berhenti bercerita bahkan selama bekerja. Seharusnya ia tidak mengatakan isi gulungan-gulungan yang dipelajarinya, tetapi ia tak memiliki tempat berbagi lain yang bisa dipercayai.
"Aku mau bisa seperti Leluhur Agung!"
"Kamu pasti bisa." Madara menatap biji persik di genggamannya. "Pasti bisa…."
Bohong jika ia murni turut senang atas kebangkitan sharingan Izuna. Ada perih yang tak kunjung sembuh di hatinya. Apa yang membedakannya dari Izuna? Kekuatan mereka hampir setara, seimbang. Ayah mereka tidak pernah membedakan perlakuannya terhadap kedua anaknya yang tersisa. Mereka sudah dibawa ke medan perang pada usia lima tahun, ditinggal untuk menjelajahi belantara pada usia enam tahun, dan sama-sama merasakan pembunuhan pertama pada usia tujuh tahun.
Izuna pun menyadari kegundahannya. Lihai sekali ia menyembunyikannya selama semusim sementara ia berbaur dengan anak-anak lain yang lebih lemah, menjalani latihan yang sebenarnya tak ia perlukan. Kekesalan Madara menguap begitu Izuna mengungkapkan alasannya.
Namun, apa yang Leluhur Agung lihat pada adiknya sehingga ia mendapatkan sharingan terlebih dahulu?
Di sisi lain ia mulai merasa muak akan perang terus menerus. Apa sungguh tidak ada jalan lain untuk mengakhirinya? Sebuah jalan yang tidak akan menempatkan Izuna dalam bahaya?
Kedua pertanyaan itu membuatnya terjaga bermalam-malam. Akhirnya ia luluh, dan pergi ke kuil untuk mencari jawabannya. Madara pernah mendengar ayahnya menyebut-nyebut ruangan pertemuan khusus di bawah altar, tersembunyi di balik tatami. Hanya bisa dimasuki oleh mereka yang telah membangkitkan sharingan. Yang berarti aksesnya hanya dimiliki sepertiga anggota klan Uchiha.
Kuil gelap gulita. Madara menghitung tatami ketujuh dari pojok kanan aula. Ia berjongkok dan menebarkan jaring pengindranya. Tatami itu tidak rapat diletakkan. Namun, tidak terlacak siapa pun di bawahnya. Ia mengangkatnya sedikit untuk mengintip. Ujung tangga yang menurun itu tidak terlihat. Kegelapan lebih pekat di bawah tanah.
Memantapkan hati, Madara mulai menapak turun. Tataminya ia tutup dengan hati-hati di atas kepala. Anak-anak tangganya kasar dan dingin di telapak kakinya yang tidak beralas. Udaranya kering dan apak. Tangga itu sempit, kedua lengannya tak bisa terentang maksimal karena diapit oleh dinding batu kasar. Hanya satu orang dewasa saja yang bisa lewat dalam satu waktu.
Pada anak tangga kelima belas, ia mulai mendapati cahaya jingga samar di depan. Serupa cahaya obor atau lilin. Madara seketika merapatkan diri ke dinding, berhati-hati mengindra ruangan di depan. Ada area yang cukup luas, juga beralaskan tatami. Lagi-lagi tidak ada manusia yang terdeteksi cakranya.
Namun, mengapa instingnya membisikkan mara bahaya? Mustahil keluarganya mengurung monster di bawah sini, bukan?
Madara telah mencapai akhir tangga. Cahayanya lebih pekat di sini. Punggungnya masih menempel pada dinding. Ia melompat keluar dari situ—
Tolol. Sungguh tidak ada siapa pun di sana. Hanya sebatang obor yang menyala, cahayanya menjatuhi sebuah prasasti batu. Sebagian huruf-hurufnya terlalu rumit untuk ia pahami— Madara belum tuntas belajar membaca.
Dua kekuatan yang bertolak belakang adalah perang tanpa ujung.
Sharingan terkuat hanya bisa diperoleh dengan pengorbanan darah.
Bulu kuduknya meremang. Madara berbalik, membelalak pada kegelapan. Ia tidak melacak keberadaan makhluk lain, tetapi berani sumpah rasanya ada yang baru saja memperhatikannya—
Halo.
Jantungnya melewatkan satu detak. Di hadapannya muncul sebentuk wajah hitam kelam dengan sepasang mata kuning besar serupa mata kucing, tetapi tanpa pupil yang terlihat. Sosok itu lebih tinggi darinya, dengan mulut menyeringai menampakkan dua deret gigi tak rata.
Madara membeku. Tubuhnya siap membentuk kuda-kuda. Sedikit saja gerakan mencurigakan….
Tidak lari, ya? Hebat. Makhluk itu menelengkan kepalanya, tampak geli. Mulutnya tidak bergerak bahkan saat ia berbicara dengan suara seraknya yang dalam dan aneh. Suaranya seperti garukan kuku pada papan kayu. Tidak perlu takut. Aku di sini untuk membantumu.
Alisnya mengernyit. "Aku tidak takut padamu," kilahnya.
Kekuatanmu besar, tahu, lanjutnya, mengabaikan sanggahan anak itu. Sebentuk tangan mewujud dari tubuhnya yang serupa gumpalan bayang-bayang. Telunjuk kurus panjang mengarah ke wajah anak laki-laki itu. Kau cuma kurang sesuatu yang penting untuk membangkitkan sharingan.
"Apa itu?" Tinjunya diturunkan.
Ke-hi-la-ngan.
"Kehilangan apa?" Madara mendecih. Tidak cukupkah ia kehilangan separuh keluarganya? Tunggu, untuk apa ia mendengarkan makhluk aneh ini? Perlahan ia mundur, siap untuk kembali menapak tangga. Buang-buang waktu saja.
Aku sudah menyaksikan klan Uchiha dari awal berdirinya, kata makhluk itu tiba-tiba. Aku tahu siapa saja yang dapat membangkitkan sharingan sejak mereka lahir. Seperti tiga adikmu yang tewas itu.
"Tahu apa kau—?!"
Semuanya. Ia maju, menembus prasasti batu. Aku juga tahu kau akan jadi yang terkuat di antara semua shinobi Uchiha yang pernah membangkitkan sharingan. Jauh melampaui nenek moyangmu.
"Kau tak bisa dipercaya. Memangnya siapa kau?!"
Pendamping Leluhur Agung Uchiha. Aku yang membantunya hingga mencapai kejayaan. Aku mengenalnya lebih baik daripada gulungan-gulungan cerita tentangnya.
Madara masih skeptis. Sang Leluhur sudah berabad-abad wafat….
Masih tidak percaya, ya? Makhluk itu terkekeh. Pergilah ke sungai di timur perkampungan. Jawabanmu ada di sana.
Madara menemukan lebih dari sekadar jawaban di sana. Asanya melambung dan terempas dalam sekejap. Meski pun mereka berdua telah bersedia mempertimbangkan perdamaian, bukan berarti keluarga mereka bersedia mewujudkannya.
Madara telah memahami arti kehilangan.
Tidak baik untuk bergantung pada orang lain, makhluk itu menemuinya di luar kuil, seminggu setelah sharingan-nya bangkit. Yang bisa kaupercaya hanya dirimu sendiri. Mustahil untuk mengkhianati dirimu sendiri, 'kan?
"Katamu mokuton adalah kekkei genkai yang mengerikan," balas Madara tanpa menoleh, mengingat-ingat percakapan mereka tempo hari. "Kau yakin aku sendirian saja cukup?"
Oh, lebih. Lebih dari cukup. Lagi-lagi makhluk itu hanya menelengkan kepalanya. Tubuhnya yang tak jelas berbentuk berbaring di atas dahan. Kekuatan yang kauemban itu langsung dari Leluhur, tahu.
Madara membalikkan tubuh. Asap putih tipis sisa katon melayang dari sela bibirnya.
Kau yang dipilihnya untuk mengentaskan peperangan di dunia ini.
.
Usai mengartikan pesan yang dikirim lewat segel hiraishin itu, Madara langsung memakai zirahnya. Ia menyampirkan haorinya yang besar ke bahu Hashirama, menggendongnya, lalu bersama-sama melompat turun dari balkon menuju lembah penuh bebatuan tajam. Susano'o birunya mewujud sebelum mereka melalui pucuk-pucuk serupa taring raksasa, menjejak bumi, dan meluncur ke angkasa dengan sayap penuh terbentang. Madara membaca langit, mengarahkan zirah cakranya ke selatan.
Sejak pesan itu mereka terima, Hashirama bungkam seribu bahasa. Saat ini pun ia hanya menunduk memeluk dirinya sendiri erat-erat.
Adik. Sekarat. 4.
Sesuatu pasti telah terjadi pada Tobirama. Atau mungkin—
Kilasan imaji tubuh kurus terbaring di dalam rumah yang nyaris runtuh kembali terlintas dalam pikirannya. Madara mendesis. Mimpi buruk itu sudah lama sekali tidak menghantuinya. Namun, jika terjadi sesuatu pada Izuna….
Dan apa maksudnya dengan 4?
Kuku-kuku Hashirama menancap ke tengkuknya. Ia terbatuk-batuk keras. Madara buru-buru menurunkan ketinggian hingga menemukan dataran berumput.
"Hashi—"
Hashirama berlutut di tanah, memuntahkan isi perutnya. Tak sampai semenit, ia sudah berdiri kembali meski terhuyung. "Ayo— pulang," sengalnya sambil menyeka sudut bibir.
Saat itu Madara baru menyadari mereka pergi begitu terburu-buru. Ia sendiri berzirah lengkap, tetapi tanpa alas kaki. Semua barang bawaan mereka tinggal. Obat Hashirama pasti masih di kastel juga. Angin yang sedingin es telah memperburuk keadaannya.
Tanpa berbicara lagi, ia kembali ke dalam gendongan Madara. Ia menolak berhenti lagi meski pun berkali-kali tampak akan muntah. Gunung dan lembah bagai digulung jauh di bawah mereka. Siluet-siluetnya berganti warna seiring dengan menyingsingnya fajar.
Madara nyaris tak berkedip menatap cakrawala. Jika ia menutup matanya barang sejenak, imaji Izuna yang sekarat kembali menghantuinya. Tangannya yang dingin dalam genggaman. Darahnya yang terus menerus mengalir. Bau anyir—
"Madara."
Ia mengerjap, lalu menundukkan pandangan.
Hashirama menatapnya, wajahnya cemas. "Matamu nggak apa-apa…?"
Madara mengangguk, lalu segera menambah kecepatan susano'o-nya. "Lihat," perintahnya sambil merapatkan tubuh mereka berdua.
Jauh di cakrawala, membubung asap tebal kehitaman. Tidak hanya satu, Madara mendapati setidaknya lima jalur asap. Satu di antaranya begitu besar dan lebar.
4 yang dimaksud dalam pesan itu adalah—
"Yonbi," didengarnya Hashirama berkata lirih. "Itu pasti perbuatan Yonbi."
Ia melompat turun sebelum Madara beres mendaratkan susano'o. Permukiman utama selamat dari kerusakan besar, tetapi ladang dan area lain di selatan danau sudah tidak bisa dikenali. Semuanya hangus dan hitam. Tanah masih panas di bawah telapak kakinya. Pohon-pohon mati masih berdiri seperti sebatang obor hangus.
Dingin menjalari tubuh Madara bagai membekukan darahnya.
"Hokage-sama! Uchiha-sama!"
Tiga shinobi menghampiri mereka, beruntun memberikan keterangan tentang apa yang terjadi. Pesta. Kemunculan bijuu. Kebakaran.
"Adik Anda, Izuna-san mengusirnya pergi dengan susano'o," seseorang menjelaskan sambil memandu mereka kembali ke perkampungan. "Pergi— begitu saja…!"
"Susano'o—?" ulang Madara tak percaya. "Bagaimana—?"
Pertanyaannya tak terjawab. Kediaman klan Uchiha sudah ramai dipenuhi shinobi yang tak dikenalnya. Beberapa orang terluka ringan, semuanya duduk di selasar menerima perawatan atau segelas air. Perintah-perintah panik yang dilemparkan segera berganti dengan seruan lega memanggil nama kedua petinggi itu. Namun, mereka tidak berhenti barang sejenak.
Hashirama berderap di depan, rambut dan haori pinjamannya berkibar-kibar. Mereka berhenti di kamar Izuna. Ruangan itu telah disekat dua. Pemiliknya terbaring di sebuah futon, dengan tangan dan kaki terbungkus kain. Rambutnya melebar hingga ke tatami, tak lagi terikat rapi. Wajah pucatnya dikotori jelaga. Kain yang biasa menutupi matanya tidak ada. Kelopak matanya terus membuka dan menutup, menciptakan pemandangan ganjil. Orang-orang di sampingnya seketika menepi begitu Madara mendekat.
"Izuna—!"
Tidak ada perban di perutnya. Tidak ada perban di perutnya. Tidak ada perban—
"Kakak … ya?" Suaranya lirih dan serak. Kepalanya miring perlahan-lahan. "Heh. Pantas … berisik."
Ia berlutut. Dari dekat, terlihat banyaknya luka lecet di sekujur tubuh adiknya. "Kamu lawan bijuu sendirian?"
Sebagai jawaban, Izuna mengangkat jempol kanannya dan menyeringai puas. Kekehan lemah terlepas dari mulutnya.
"Izuna-chan nyaris kehabisan cakra." Orang itu ternyata Tatsu si penyembuh klan. Jenggotnya pendek-pendek berantakan. "Susano'o-nya hilang mendadak. Dia jatuh. Untung ada anak Akimichi yang sempat menangkapnya. Kalau tidak…."
Perasaan lega menyapu Madara. Mata Izuna kembali terpejam, dan napasnya sudah lebih teratur. Ia punya segudang pertanyaan mengenai bagaimana adiknya menggunakan susano'o tanpa sepasang mata, tetapi perhatiannya teralihkan oleh lengkingan pilu dari sisi lain ruangan.
"Tobirama…!"
Madara beranjak membuka partisi ruangan. Ia menemukan Tobirama juga terbaring di sebuah futon, tak jauh beda dengan Izuna barusan. Atasannya terbuka. Luka-lukanya tidak banyak— atau begitulah dugaannya, karena wajahnya pucat pasi. Warna bibirnya janggal. Ia masih tak sadarkan diri. Tiga orang penyembuh berlutut di kedua sisinya, salah satunya seorang gadis Hyuuga dengan byakugan aktif.
Hashirama menundukkan kepala di atas tubuh adiknya, bahunya bergetar. Kedua tangannya berpendar kehijauan.
Tanpa suara Madara meminta para penyembuh pergi. Gadis Hyuuga itu tetap tinggal sementara kedua rekannya meninggalkan ruangan. Namun, ia menepi menghampiri tuan rumah.
"Senju-sama koma," bisiknya. "Beliau diracun—"
Madara mendorongnya ke samping sebelum ia selesai berbicara. Perlahan disentuhnya bahu Hashirama sambil mendudukkan diri. "Hashi…?"
"Aku … aku nggak tahu apa-apa soal racun…." Sepasang iris hitam meliriknya, kemudian tangisannya pecah. Wajahnya dibenamkan di atas rusuk adiknya, bahunya berguncang-guncang selama ia terisak memanggil-manggil Tobirama.
Selama sesaat, Madara hanya bisa terpana. Kemudian ia beringsut mundur, melirik adiknya sendiri yang tertidur dengan separuh tubuh terbungkus perban.
Bukan ini yang dibayangkannya ketika ia menandatangani perjanjian damai dengan klan Senju dua tahun lalu.
.
Usianya dua puluh empat tahun, dan ia tak bisa tidur.
Izuna ada di hadapannya, begitu dekat dalam jangkauan sekaligus tak terjangkau tak peduli seberapa jauh ia melambung melangkah berlari mencoba menariknya dari pusaran kekuatan setara dewa yang mencabik-cabiknya menjadi gumpalan daging dan darah, dan Madara terlalu jauh terlalu lamban untuk menyelamatkannya—
Terlalu lemah.
Kemudian ia membuka mata, menemukan adik semata wayangnya terlelap di atas dipan. Detak jantungnya perlahan kembali ke ritmenya semula. Perlahan ia menghampiri, mengecek napasnya. Semuanya normal. Madara mengusap wajahnya, menyingkirkan kantuknya dengan keluar melemaskan kaki.
Imaji kematian Izuna terus menghantui malam-malamnya. Pasti karena Madara mengkhianati kredo klannya. Bukan hanya dirinya. Hampir semua anggota klannya mengkhianati apa yang sudah ditanamkan dalam-dalam sejak mereka mengenal dunia dan mengemban nama Uchiha: menghabisi klan Senju.
Rasa bersalah masih menggelayuti hatinya. Namun, apa yang dikabarkan Hikaru setelah ia lepas dari tawanan Senju membalikkan pandangan keluarganya. Argumen dan perdebatan berlangsung cukup lama. Sedikit demi sedikit mereka dihadapkan pada realita tak terbantahkan, bahwa selama ini kebanggaan yang mereka emban diperalat demi nafsu penguasa.
Apanya yang harus dibanggakan dari mati demi kerakusan orang lain?
Bibi Nanami berpendapat bahwa itulah yang diinginkan Leluhur Agung. Karena itu ia dan segelintir Uchiha lainnya memilih tinggal. Padahal putrinya sendiri sudah lama kabur, dan putranya kini berjalan di sisi Madara.
Mereka sedang berdiri di padang rumput pampas. Sebuah lembah terbentang di hadapan, menampakkan beberapa rumah di antara pepohonan raksasa tak jauh di depan. Asap tipis membubung, menandakan keberadaan kegiatan masak-memasak.
Tempat itu adalah tujuan mereka. Rumah baru mereka.
Hikaku terus menerus mengelus punggungnya yang pegal sementara mereka mengamati keadaan dari atas bukit, sampai sang pemimpin klan tak tahan mengomentari. "Izuna tidak seberat itu," ujarnya sambil lalu selagi keduanya kembali kepada para kerabat yang menanti.
"Bukan," Hikaku menghela napas panjang. "Aku tahu dia lebih memilih ditinggal. Rasa enggannya menumpahiku."
Seminggu yang lalu Wataru, kerabatnya yang lebih dulu pindah ke pihak Senju, muncul di perkampungan atas permintaan Madara. Pemuda itu tiba membawa kabar bahwa perjanjian damai permanen akan ditandatangani setibanya mereka di sana. Kemudian ia membantu pembongkaran kuil, dan menyegel semua komponennya dalam gulungan-gulungan besar. Ia juga yang menunjukkan jalan ke tempat ini. Kini Wataru sudah mendahului ke tujuan untuk mengabarkan kedatangan mereka.
"Madara-san! Madara-san!"
Ia langsung berlari kembali begitu melihat Makoto melambai-lambai dari jauh. Entah mengapa, Izuna jatuh tertidur di rerumputan dan tidak bangun kembali. Kakek Tatsu mengecek nadinya, dan sharingan Madara yang langsung aktif tidak menemukan kejanggalan pada aliran cakra adiknya. Ia menepuk pipinya, menggenggam tangannya, dan memanggil namanya. Namun, Izuna bergeming.
"Benar-benar seperti tertidur." Tetua itu mengusap dahinya yang berpeluh.
Ia memang banyak tidur selama memulihkan diri, tetapi kebiasaan ini bahkan masih berlanjut meski ia sudah tidak diberi rebusan bunga magnolia. Dibangunkan seperti apapun, ia tetap terlelap. Di satu kesempatan ketika Izuna terjaga, Madara memaparkan rencananya memboyong seluruh klan ke kediaman Senju.
Reaksinya nyaris membuatnya menyesal. Adiknya mengamuk. Bukan berupa ledakan, tetapi desisan dingin bahwa ia lebih baik mati terbunuh daripada pindah tinggal bersama musuh bebuyutan mereka. Walaupun Bibi Nanami dan beberapa kerabat lain memilih tinggal, Madara tidak memberikan pilihan serupa kepada Izuna.
"Makoto, tolong bawa Izuna," Madara memerintahkan. "Hikaku— pergilah duluan. Mintakan tempat untuk…." Tanpa perlu menyelesaikan kalimatnya, Hikaku mengangguk tanda paham.
Sementara rombongan itu menuruni bukit perlahan-lahan, Madara mengatupkan rahangnya erat-erat. Kantuknya menerjang tanpa ampun. Sudah berhari-hari tidurnya tak nyenyak, terus disela oleh mimpi buruk yang terus berulang.
Lucu— adiknya itu bisa tertidur di mana saja, sementara dirinya tak bisa memejamkan mata tanpa cemas akan melihatnya mati di medan perang, mati tertebas pedang Tobirama, mati di ujung duri-duri mokuton Hashirama, mati dalam cara yang semakin brutal semakin hari—
"Madara!"
Madara mengerjap, terbebas dari lamunannya. Seseorang datang dari arah perkampungan.
Hashirama.
Wajahnya berkilauan karena peluh. Rambutnya berantakan, mengibar bebas selagi ia berlari. Ia mengenakan kimono santai, agak aneh bagi Madara yang belum pernah melihatnya tanpa zirah dan seratusan shinobi Senju siap tempur di belakangnya. Ia tercenung, menyaksikan senyuman perempuan itu melebar seiring terpangkasnya jarak di antara mereka. Matanya berkaca-kaca….
"Kamu datang!"
Kemudian Madara menemukan dirinya dalam rengkuhan lengan Hashirama.
Perlahan-lahan, ia pun membalas pelukannya.
Hashirama menyeka pipinya ketika mereka berpisah. Madara mendadak dikuasai kecanggungan. Ia mengamati kerabatnya— semua buru-buru mengalihkan pandangan. Wajahnya sendiri menghangat.
"Uhm." Hashirama berdeham. "A, ayo. Rumah-rumah kalian sudah siap…."
Madara memberi isyarat bisu kepada semuanya untuk masuk ke perkampungan. Rumah-rumah yang tersedia untuk mereka kecil-kecil, dibuat seadanya dari anyaman serat kayu. Lokasinya tersebar di tepian hutan dan ladang. Selama perjalanan, mereka melalui rumah-rumah lain yang tampaknya lebih permanen. Satu di antaranya bahkan bertingkat dua, dengan banyak hiasan di gentingnya.
Yang membuatnya bingung adalah mengapa tempat itu tidak terlihat seperti wilayah yang sudah lama ditinggali. Tidak ada jalan setapak. Gelondongan kayu bertumpukan di sana-sini, hasil dari membuka hutan. Sesekali ia melihat anjing-anjing besar melintas di tepian hutan. Kadang sendirian, kadang ditemani orang berjubah bulu hewan. Ia tahu hanya ada satu klan di seantero Hinokuni yang memiliki anjing seperti itu, dan jelas bukan klan Senju.
Apa Hashirama merencanakan hal lain di belakangnya?
"Uchiha yang sudah pindah bersamamu juga tinggal di tempat seperti ini?" tanya Madara ketika ia tiba di rumah yang disediakan untuknya dan Izuna. Rumah itu hanya terdiri dari satu ruangan, dengan tungku tepat di tengahnya. Sederhana, tetapi baru. Makoto dan Hikaru sudah membaringkan adiknya di sebuah kasur sebelum pergi mengurus rumahnya masing-masing.
"Ya, tapi sementara saja." Hashirama naik ke undakan setelah melepas sandal. Ia memeluk segulung futon lain, yang diletakkannya di sudut ruangan. Ia langsung mengecek kondisi Izuna, tetapi tidak menemukan sesuatu yang janggal. "Aku bisa membangunkan rumah permanen dengan mokuton buat klanmu. Tinggal pilih lokasinya—"
"Tidak usah," potong Madara.
"Eh—?"
Ia menurunkan gunbai-nya membelakangi perempuan itu. "Sudah cukup. Biar kami bangun sendiri rumah kami." Tenggorokannya mengering. Penjelasan yang sudah dipersiapkan di benaknya menguap seketika.
"Oh. Baiklah." Hashirama tidak terdengar sedih atau apa, tetapi Madara belum berani membalikkan tubuh. "Malam ini kita akan menandatangani perjanjiannya. Setelah matahari terbenam. Um…."
Mengapa Hashirama terdengar canggung begitu?
Madara berbalik, dan seketika menyesal. Perempuan itu berdiri di ambang pintu, cahaya sore menciptakan halo di sekeliling kepalanya. Entah mengapa senyumannya malu-malu. Jangan-jangan….
Ia menepuk pipinya sendiri sebelum imajinasinya meliar tak tentu arah.
"Kenapa?"
"Nyamuk," jawab Madara asal-asalan. "Setelah matahari terbenam. Sampai nanti."
Hashirama mengangguk, lalu melempar lirikan terakhir pada Izuna yang masih tertidur sebelum meninggalkan rumah itu.
Madara keluar, menyusuri sungai hingga menemukan sebuah danau luas. Ditanggalkannya pakaian untuk membasuh diri sembari mengamati sekitarnya. Aras dan pinus di sini besar-besar. Banyak hewan yang bisa diburu atau dipancing. Jaraknya pun tidak jauh dari ladang. Sepertinya ini akan jadi tempat yang baik bagi klannya.
Yakin ini ide bagus?
Tanpa melihat, Madara melemparkan sepelukan air ke arah sumber suara. "Kau lagi. Sekian tahun berlalu, baru sekarang muncul."
Dan kau malah menyerah begitu saja. Mengecewakan.
Madara memasukkan kepalanya ke dalam air, membasahi seluruh rambutnya. Puas berenang, ia keluar dari danau dan mengeringkan tubuhnya dengan katon.
Kau menyia-nyiakan kekuatanmu, Madara.
"Diam." Celananya ia pakai duluan.
Oho. Jangan bilang kau mau mematuhi semua maunya Senju, makhluk itu terus mendesaknya. Kau sudah ada di kediaman mereka. Serang saja mumpung Senju juga sedang lemah.
Tak tahan, Madara akhirnya berbalik. Makhluk hitam legam dengan wajah hanya berupa mata kuning dan mulut penuh gigi-gigi tajam itu berjongkok di atas sebuah batuan besar. Sama seperti ia pertama dan terakhir bertemu dengannya sepuluh tahun lalu.
"Aku tidak senaif itu." Ia memicingkan matanya.
Lalu mengapa menunggu? Hancurkan mereka.
"Hashirama akan mencegahku." Madara mengenakan atasannya. "Keluarganya akan membantai kerabatku. Apa untungnya?"
Tidakkah kautahu apa yang tertulis di prasasti dalam kuil?
Gerakannya berhenti. "Cuma tentang dua kekuatan yang saling memusuhi. Sudah tahu." Sudah berkali-kali ia turun ke ruang bawah tanah sejak sharingan-nya bangkit. Bagaimana ia tahu apa yang tertulis di sana tanpa sharingan? Tanpa mangekyou sharingan?
Bukan hanya itu.
Sabuknya ia tarik kencang-kencang. "Kaukira aku tidak tahu?" Ia menyeringai.
Heh. Siapa tahu lupa. Makhluk itu pergi secepat kemunculannya.
Madara masih ingat semuanya. Tentang dua kekuatan yang bertolak belakang. Tentang penyatuan inti keduanya yang akan menyelamatkan klan Uchiha.
Hanya intinya. Sisanya tidak penting.
Mustahil untuk merobohkan pilar utama Senju tanpa melalui dinding-dindingnya, dan saat ini Uchiha tidak memiliki kekuatan cukup untuk menghancurkannya dalam satu serangan. Merampas intinya dengan kekerasan bukanlah pilihan.
Jika Leluhur Agung ingin mereka menghancurkan Senju, mengapa tidak ada yang menyebut-nyebut tentang penyatuan ini? Tentunya ia dan Izuna bukan yang pertama membangkitkan mangekyou sharingan. Pasti ada moyang lainnya, mereka yang namanya luput dari ingatan para tetua.
Pantulan wajahnya balas menatap dari danau yang beriak-riak.
Namun, apakah sebuah batu tua bisa dipercaya?
.
Izuna masih belum bangun juga, dan ia terpaksa meninggalkannya sendirian. Anjing-anjing Inuzuka sesekali melolong di kejauhan, menandakan perimeter penjagaan di sekeliling perkampungan.
Semua kerabatnya bersemangat untuk datang ke jamuan yang diadakan sebagai penyambutan klan Uchiha. Madara kepala klan— ia harus datang. Jamuan itu diadakan di rumah utama klan Senju— bangunan bertingkat dengan lapangan dalam dan genting berhiaskan ukiran rumit. Karena mayoritas kerabatnya sudah tinggal bersama Senju sejak sebelum pertempuran terakhir mereka, nyaris tidak ada kecanggungan di antara kedua klan.
Kecuali di benaknya sendiri.
Belum semusim terlewat sejak mereka terakhir saling bantai satu sama lain. Mereka memang disewa untuk itu, tetapi apakah dendam bisa semudah itu menguap? Wajah ketiga adiknya sudah lenyap dari ingatan. Apakah berdamai dengan Senju berarti mengkhianati mereka?
Mengkhianati kredo klan yang ia pegang?
Mana yang seharusnya ia ikuti— perkataan orang-orang yang sudah mati atau keluarganya yang masih hidup?
Seharusnya sudah jelas, 'kan?
"Serius amat, Madara."
Lelaki itu mengangkat kepalanya. Hashirama sudah berdiri di sisinya, menawarinya setusuk daging panggang. Lambang Senju tersulam pada ikat kepalanya. Pakaiannya tampak lebih resmi.
"Mau?" tawarnya. "Ini ayam."
Madara mengambilnya. Dagingnya empuk, manis berlumur madu. Ia mengunyahnya lambat-lambat. Sudah berapa lama ia tidak makan daging sesegar ini?
Mereka berdiri bersandar pada dinding kayu, cukup tersembunyi dari cahaya dan pandangan orang-orang. Gema tawa dan percakapan terbawa sampai situ. Pemandangan pesta seperti ini tidak lazim bagi Madara. Uchiha tak pernah mengadakan pesta— kecuali minum-minum paska kremasi. Itu pun tidak meriah.
"Aku nggak lihat Izuna."
"Masih tidur." Madara melemparkan tusuk daging panggangnya asal-asalan ke rumput. "Dengar, Hashi—" Ia menegakkan diri, menatap kepala klan lain itu lurus-lurus. "Aku di sini karena keluargaku yang meminta. Karena kupikir Izuna lebih aman di sini daripada di rumah lama kami." Madara mengucapkan semua itu begitu cepat, diburu oleh detak jantungnya yang tak teratur. "Sedikit saja aku mencium ancaman kepada Uchiha, aku tidak akan segan-segan meninggalkan perjanjian kita. Aku akan menganggapmu bertanggung jawab atas apapun yang menyakiti kami."
Hashirama mengangguk. "Akan kuusahakan hal itu tidak akan terjadi."
"Jika ya," Madara mendekatkan wajahnya. "Akan kuanggap kau berkhianat."
Kernyitan muncul di dahi perempuan itu. "Aku nggak akan mengkhianatimu. Aku janji."
"Kata-kata saja nggak bisa dipegang, Hashi." Madara menahan diri untuk tidak menggunakan nada mengejek. Shinobi lahir untuk membunuh dan bermuslihat. Pengkhianatan sudah bisa ditebak sejak jauh sebelum adanya sebuah perjanjian. "Kata-kata dan kertas … semuanya nggak abadi."
Sejenak Hashirama melirik keramaian kerabat mereka yang bercampur baur. "Aku ingin aliansi ini abadi. Aku serius." Tatapannya kembali ke wajah Madara. "Apapun yang kaubutuhkan untuk memercayaiku, katakan dan akan kulakukan."
Sharingan-nya aktif sendiri, terdorong oleh keinginannya menemukan kebohongan di antara pengungkapan Hashirama. "Ada dua hal— pertama mengapa kau tidak membawa kerabatku tinggal di perkampungan utama kalian? Jelas bahwa kau tidak memercayai Uchiha sepenuhnya. Kedua— aku melihat shinobi Inuzuka mondar-mandir di sini. Apa yang mereka lakukan? Aliansi ini hanya di antara klan kita berdua saja, 'kan?"
"Daimyo Matsudaira menyewa Inuzuka lebih sering sejak Senju tidak lagi mengirim tantangan melawan siapapun yang disewa daimyo lain." Hashirama tidak memperlebar jarak mereka. "Mereka membantu kami ketika kediaman Senju diserang Yonbi."
"...Yonbi?"
"Salah satu bijuu. Kera merah besar berapi. Pasti kamu pernah dengar." Hashirama menundukkan wajah. "Kampung kami sudah nggak ada…."
Ia teringat pada malam itu, ketika Hashirama menyembuhkan Izuna. Itukah sebabnya…?
"Aku paham sekarang." Madara mendengkus puas. "Kalian sedang terpuruk." Klan Senju yang begitu kuat dengan reputasi tak tercela, ternyata bisa jatuh juga.
Hashirama tidak meresponsnya.
Madara menelengkan kepala, melebarkan senyumannya. Menantangnya.
"...Kau benar." Ia memejamkan matanya sejenak. "Jika kami tidak membuka ladang dan kampung baru di sini, situasinya akan jadi lebih buruk. Bahkan walaupun kami masih menerima bantuan finansial dari Uzumaki."
"Memangnya tidak cukup?"
"Paceklik begini, mana bisa dapat nasi." Hashirama mengelus kedua lengan atasnya. "Ninjutsu sekuat apapun nggak ada gunanya kalau keluarga kita kelaparan." Tawa lemah keluar dari bibirnya. Getir.
Latihan sekeras apapun, darah shinobi sekuat apapun … tidak ada gunanya jika mereka tidak bisa makan.
"Jadi kenapa Uchiha?" desak Madara lagi. "Kenapa kau tidak minta tolong lebih banyak lagi kepada Uzumaki? Kalian masih berkerabat."
Ia menggeleng kuat-kuat. "Ashina-san— kepala klannya, dia mengajak kami semua pindah ke pulaunya. Terlalu jauh, dan aku nggak mau pergi."
"Mengapa—"
Hashirama memotong, "Aku nggak mau jauh dari kamu."
Sebuah gelora gelombang ganjil menyapu tubuh dan pikiran Madara.
.
Kedua kepala klan berdiri dikelilingi para tetua masing-masing, dan di belakang mereka berdiri kerabat yang hadir dalam jamuan. Tidak semua tetua Senju dan Uchiha hadir; jelas bahwa keputusan Hashirama tidak bulat dipatuhi. Hanya ada dua tetua lelaki dan satu tetua perempuan Senju. Dari pihaknya sendiri, hanya ada Tatsu si penyembuh bertangan satu dan istrinya yang bisu. Wajah-wajah di antara para kerabat tak satu pun yang dihiasi kerutan. Mengecualikan para tetua, Madara dan Hashirama bisa dibilang yang tertua di antara kedua klan saat ini.
Senju Tobirama— lagi-lagi terlihat ganjil tanpa adanya zirah yang biasa membungkus tubuhnya, membuka sebuah gulungan di meja, lalu mengisyaratkan kepada Madara untuk maju mendekat. "Mohon dibaca teliti isinya."
Gulungan itu tampak mewah dengan hiasan rumit keemasan pada tepiannya. Tulisannya pun begitu rapi dan presisi.
Perjanjian Aliansi Senju dan Uchiha
Kami, kepala klan Senju dan Uchiha, menyatakan diri bergabung dalam satu aliansi permanen tanpa batasan waktu.
Kedua klan tidak akan mengangkat senjata melawan satu sama lain. Kedua klan akan bekerja sama layaknya satu kesatuan, berbagi semua sumber daya yang dimiliki, serta menghadapi semua mara bahaya bersama-sama.
Kedua kepala klan bertanggung jawab penuh atas keselamatan semua anggota aliansi Senju dan Uchiha. Semua keputusan yang menyangkut kepentingan umum harus didiskusikan di antara kepala klan.
Sejengkal di bawahnya, tersedia ruang untuk tanda tangan kedua kepala klan. Usai menuliskan namanya dalam coretan tajam bersudut, Madara mundur. Hashirama mengambil kuasnya dan membubuhkan namanya sendiri. Tobirama membawa pergi gulungannya, tak sedikit pun melihat langsung Madara.
Sebuah suara kecil menyenggol benaknya. Izuna tidak akan jadi seperti ini jika bukan karenanya….
"Sudah puluhan tahun," Hashirama angkat bicara, "keluarga kita menghancurkan satu sama lain. Terus menerus saling bunuh seperti siklus tak berujung." Ia terdiam sejenak, menatap panji-panji lambang klan yang tegak di depan pintu masuk kediaman utama klannya. Anglo menerangi sulaman vajra dan kipas dalam cahaya jingga. "Hari ini, perang di antara kita sudah berakhir." Ia mengangguk kecil kepada Madara.
"Hari ini, dendam itu harus berakhir." Tatapannya menyapu seluruh khalayak yang hadir di situ. "Siapa pun yang masih memiliki rasa dendam dan amarah kepada sekutu kita, ungkapkan saat ini juga kepada kami berdua." Madara diam, membiarkan kata-katanya diresapi sembari menanti seseorang melangkah maju.
Tidak ada yang meninggalkan lingkaran hadirin.
"Kuanggap itu sebagai tanda berakhirnya semua perseteruan kita." Hashirama mendekat, mengangkat tangan kanannya. "Mulai hari ini, aku mohon kerja samanya, Madara."
Madara menyambut jabatan tangannya. "Semoga hanya hal-hal baik yang keluar dari aliansi ini."
Tepuk tangan membahana. Tangan kanan Madara masih bergelenyar penuh kehangatan bahkan setelah mereka berpisah.
Lebih banyak sake dituangkan dan lebih banyak makanan diedarkan. Madara refleks menghindari keramaian, mencari sudut sepi untuk menyesap sake. Namun, tatapannya mendapati seseorang yang seharusnya tidak berada di situ.
Ia belum pernah bersua langsung, tetapi ia tak butuh informasi baru untuk tahu perempuan yang melintasi lapangan itu adalah kepala klan Inuzuka. Mantel bulu gelapnya berkibar selagi ia berjalan dengan langkah-langkah mantap menuju Hashirama. Tato merah di pipinya berkilau tertimpa cahaya anglo. Rambut cokelatnya pendek berantakan. Dengan cawan sake masih di tangan, Madara mengikutinya dari jauh. Pendengarannya siaga.
"Seeenju-san!" panggilnya keras, membuat beberapa kepala menoleh seketika. Ia menangkap Hashirama dalam pelukan erat. "Selamat!"
"Tsubaki!" balas Hashirama. "Bagaimana—?"
"Ide yang bagus, sungguh!" Tsubaki mundur, tangannya membuat gestur penuh semangat. "Aku suka sekali! Apa masih ada tempat untuk klanku?"
"Aku harus tanya Madara— oh, hei!"
Madara tidak sempat bersembunyi ketika tatapannya bersirobok dengan Hashirama. Ia menghampiri kedua perempuan itu, menyapa Inuzuka Tsubaki dengan anggukan sopan. "Saya tidak menyangka klan Inuzuka juga hadir di sini."
"Aku dengar soal aliansi kalian." Tsubaki menyeringai lebar, memamerkan taring-taring besarnya. "Sebuah kesempatan untuk lepas dari daimyo yang menyebalkan dan bau!"
Madara melirik Hashirama.
"Itu, Madara … bagaimana jika kita menerima klan lain dalam aliansi kita?"
"Menandatangani perjanjian gencatan senjata? Secara permanen?" Ia menatap perempuan bertato itu. "Secara finansial pasti akan berakibat buruk pada klan Anda."
"Memangnya Matsudaira mau bertindak apa jika klan yang biasa dan bisa disewanya mogok kerja?" kekeh Tsubaki. Tawanya membuat suara serupa babi hutan dari tenggorokannya. "Asal ada makanan dan tempat tinggal— beres. Hidup nomaden semakin sulit saja."
"Apa yang bisa Anda tawarkan untuk kami?"
"Pengetahuan geografis Hinokuni dan daerah di luarnya, Uchiha-san," Tsubaki menjawab penuh keyakinan. Pupilnya yang runcing berkilauan. "Daerah belantara mana pun kukenal seperti telapak tanganku sendiri. Sekaligus tenaga kami juga, jika dibutuhkan."
"Hm." Madara menimbang-nimbang. Secara kekuatan tempur, Inuzuka jauh di bawah Senju atau Uchiha. Gaya hidup mereka jelas memberi keuntungan untuk memetakan wilayah. Penting untuk mencari sumber finansial lain agar tidak bergantung kepada daimyo atau klan Uzumaki yang tinggal entah di mana. Anjing-anjing Inuzuka adalah pelacak dan pemburu unggul; pengindraan ninja biasa tidak akan langsung mencurigai seekor anjing….
Apakah tiga bisa jadi lebih baik dari dua? Kekuatan Inuzuka yang tak setara membuat mereka akan jadi bawahan Senju dan Uchiha. Sebagai inisiator aliansi, kekuatan kedua klan tidak bisa digoyahkan begitu saja.
Selama ia diam berpikir, suara percakapan lain berseliweran di sekitar ketiga kepala klan. Madara menangkap beberapa kata tentang pertempuran.
"Berapa tahun usiamu waktu perang pertamamu…?"
"Lima." Suara Wataru dikenalinya. "Agak lama. Ibu enggan melepasku karena lima kakakku sudah mati semua…."
Perhatian Madara teralihkan karena sesuatu yang dingin menyentuh jemarinya di bawah lengan baju.
Tangan Hashirama. Sedingin es. Tatapannya kosong, wajahnya pucat.
"Bagaimana?" Tsubaki masih menunggu dengan cengiran lebar penuh harap.
"Kami akan mempertimbangkannya dulu. Besok atau lusa kita bicarakan lagi." Madara menggenggam tangan itu. "Saya dan Senju-san harus berkeliling dulu."
Ia bahkan tidak melihat Tsubaki melambaikan tangan kepada punggung keduanya ketika Madara menyeret Hashirama pergi. Ada yang tidak beres dengannya, mendorong cakranya masuk ke mode pengindra. Ada seratus dan lima puluhan orang di sekitar mereka, tapi tak seorang pun memiliki niat membunuh atau membahayakan nyawanya. Jadi mengapa—?
"Hashi—"
Perempuan itu melepaskan diri darinya, berbelok tajam ke semak belukar. Napasnya memburu, dadanya ia cengkeram tepat di atas jantung. Ia akhirnya berhenti, bersandar ke sebuah batang aras.
"Haah … haa…." Hashirama bertumpu pada lututnya. "'Makasih…."
Madara membungkukkan badan agar mata mereka sejajar. "Kau ini kenapa? Keracunan?"
Ia menggeleng, meliriknya dari balik helaian rambut lurus yang terjuntai. "Aku…." Ia menelan ludah. Napasnya tak lagi sememburu tadi. "Aku … selalu begini. Kalau dengar anak kecil…." Tangannya menekap mulut.
Madara memegangi lengannya. Tubuhnya gemetaran. "Anak kecil apa?" desaknya.
"Anak-anak mati. Mati karena perang." Hashirama mengembuskan napas panjang. Ikat kepalanya ia tarik lepas. Ekspresinya berubah getir. "Pasti aku konyol, ya. Cuma dengar saja, sampai mau muntah begini…."
Ia teringat hari-hari mereka berdua bermain di balik tebing yang saat ini menjulang di utara seperti tembok tinggi nan gelap. Impian yang mengantar mereka ke titik ini.
Janggal rasanya melihat Hashirama seperti ini. Madara selalu memikirkan perempuan ini jauh lebih kuat darinya. Hanya mereka berdua pemegang kekuatan penghancur yang sanggup meluluhlantakkan bumi dalam sekejap. Melihatnya panik dan ketakutan hanya dengan sepatah kata saja….
Bukankah dirinya sendiri sama, kesulitan menghadapi imaji yang terus menghantuinya setiap ia memejamkan mata?
"Omong-omong, kantung matamu tebal juga, ya."
Madara cemberut. "Untuk apa menyebut-nyebut soal itu…?"
Senyuman Hashirama merekah. Ia tampak lebih baik. "Mumpung sudah nggak perang lagi, banyak-banyaklah tidur."
"Sok tahu." Madara menyikutnya, yang direspons dengan tawa geli. "Hanya belakangan ini aku tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Mimpi." Lengannya disilangkan. "Mimpi Izuna mati." Ia bisa mendengar Hashirama menarik napas tajam di keremangan. "Setiap aku melihat wajahnya, mimpi itu terus kembali."
Tangan perempuan itu menepuk bahunya penuh simpati. Gestur itu membingungkan Madara, tetapi ia memilih tidak menghindarinya.
"Hmm ... mungkin kamu butuh pengalih perhatian."
"Seperti apa? Minum sake?" Sake bukan komoditas yang banyak dimiliki klannya. Mabuk juga menumpulkan panca indra. Tidak baik untuk seorang shinobi yang kondisi tubuhnya harus selalu prima.
Mata Hashirama mengerjap polos. "Teman tidur…?"
Lelaki itu seketika membelalak. "Teman tidur apaan—!"
"Bukannya lazim ya, di kalangan shinobi?" Hashirama balas bertanya, tak sedikit pun merasa pertanyaan itu intrusif. "Memangnya Uchiha nggak?"
"Kalau sampai hamil gimana—?!"
"Nggak apa-apa, 'kan? Lumayan memperbanyak pasukan?"
Madara mengenyahkan ingatan tentang para perempuan yang dipaksakan menemaninya dulu. Wajah mereka pasrah dan takut. "Anak-anak Uchiha tidak bisa lahir dari sembarangan orang! Aku hanya mau perempuan terkuat—!" Ia mengumpat dalam hati.
Hashirama maju selangkah. "Mau perempuan terkuat untuk apa?"
Madara memalingkan wajah. Sampai beberapa detik lalu, rasanya ia tak perlu membentengi dirinya secara mental….
Lepas. Lega.
Tidak perlu mengantisipasi serangan apa-apa.
Ada kelegaan luar biasa ketika ia bisa mengungkapkan hasratnya sampai sejauh ini. Kebebasan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia menarik napas dalam-dalam. "Aku belum beristri," akunya, "karena semua perempuan yang dijodohkan denganku bahkan tidak ada yang mendekati level Izuna. Mereka lemah. Kau pasti paham."
Shinobi yang kuat hanya berpasangan dengan orang yang setara dengannya.
Cuma satu perempuan yang setara dengan Uchiha Madara.
Mulut Hashirama membuka perlahan-lahan. "Oh. Astaga Madara ... kalau begitu caranya, kamu akan melajang sampai tua. Turunkanlah standarmu sedikit."
Selama sisa hidupnya, kapan pun Madara mengingat momen ini, ia memuji dirinya sendiri karena tidak meluluhlantakkan area sekitarnya dengan katon. Dahinya ia tepuk keras-keras. "Kamu nggak paham juga?" keluhnya. "Jelas ada perempuan yang jauh lebih kuat daripada adikku."
"Ada? Siapa? Aku belum pernah dengar!" Hashirama menyingkirkan helaian rambutnya yang menjuntai menutupi wajah. "Siapa, siapa?"
Alih-alih menjawab, Madara menatapnya lurus-lurus.
Ekspresi penasarannya berubah terpana. Perlahan-lahan, telunjuk Hashirama teracung ke wajahnya sendiri. "...Aku?"
"Nggak ada lagi yang lain. Cuma kamu." Mukanya panas. Ia mensyukuri keremangan tepian hutan itu. Ditundukkannya wajah untuk menyembunyikan kecanggungannya.
"Kamu…." Suara perempuan itu menyerupai cicitan melengking. "Kamu ingin aku jadi…?"
Madara mengangkat kepalanya, dan mendekatinya. Semesta bagai menahan napasnya.
Penyatuan itu tidak harus dicapai dengan jalan yang ditempuh semua shinobi sejak dahulu kala.
"Senju Hashirama," panggilnya lambat-lambat, merasakan setiap suku kata namanya mewujud melewati bibir, "menikahlah denganku."
Air matanya meleleh ke pipi. Semula ia pikir Hashirama hanya terharu, tetapi pengakuan selanjutnya mematahkan dugaan itu.
"Madara, Madara, maaf sekali … aku sudah ditunangkan—"
.
Dengan siapa—?
Cucu Uzumaki Ashina.
Madara tak sanggup menatapnya lagi. Semesta membisu total, mencuri semua suara dari mulutnya. Dalam sepersekian detik tubuhnya meringan, bagai kehilangan jiwa, sebelum napas berikutnya ditarik seperti baru menerima tonjokan di pusat cakranya. Tajam, berat, dingin.
Penolakan sudah dijatuhkan. Final. Dibiarkannya Hashirama sendirian sementara ia menembus belukar lebih dalam ke jantung hutan. Sejauh mungkin dari cahaya dan keramaian. Puluhan rencana membuncah di dalam pikirannya; semua melibatkan pertumpahan darah—
Uzumaki. Ia harus membunuh lelaki Uzumaki itu.
Kakinya menerjang semua semak belukar dan tanaman perdu, tak memedulikan apa pun yang ia injak. Pertama-tama ia harus menjauh— kedua, pembunuhan.
Sialnya, yang ia tahu tentang klan Uzumaki hanyalah kabar angin. Lokasi kediaman mereka tak seorang pun tahu. Kekuatan apa yang mereka miliki selain fuuinjutsu? Siapa saja anggota klannya? Apa—
Buntu. Seharusnya dengan kekuatan dan keahlian ninjutsu yang ia miliki sekarang, Madara sudah tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal seperti ini lagi. Ia yang terkuat di antara klannya! Ia sudah tidak perlu mencemaskan nyawa keluarganya!
Namun, jika ia nekat membunuh siapa pun tunangan Hashirama, bisa dipastikan klannya akan terkena imbas buruknya juga. Klan Senju memang tidak sedang sekuat biasanya, tetapi pengaruh dan dukungan Uzumaki akan cepat memulihkan mereka. Itu belum menghitung sebagian Uchiha yang telah lebih dulu tinggal di sini. Mereka akan meninggalkannya lagi. Ia sendirian saja bisa selamat di alam liar, tetapi Izuna….
Belum. Ia belum yang terkuat. Inti kekuatan Senju belum dimilikinya.
Aku nggak mau jauh dari kamu.
Maaf sekali … aku sudah ditunangkan—
Madara bernapas lewat mulutnya. Penolakan itu terus bergema di telinganya, mengalahkan memorinya ketika Hashirama memintanya tinggal bersamanya, ketika ia menyambut dan memeluknya di hadapan seluruh klan Uchiha.
Apakah motivasinya membuat aliansi ini murni karena dirinya saja? Ataukah ia juga ingin mendapatkan sharingan di bawah kendalinya?
Pengkhianat. Tinta perjanjian mereka belum juga kering, dan pengkhianatan pertama sudah terjadi. Taktik klasik peperangan ninja. Untuk apa Hashirama memintanya ada di sisinya jika ini kenyataannya?
Mereka berdua telah bersumpah untuk menjadi kuat. Yang terkuat di antara klannya. Mangekyou-nya dan mokuton Hashirama tak tertandingi….
Namun, kekuatan klan Uzumaki masih di atas mereka, bahkan tanpa perlu menunjukkan dirinya di Konoha.
Musuh yang tak terlihat, masih bisa dilawan. Namun, musuh yang tak berwujud, yang hanya terdengar gaung namanya dan kucuran uangnya?
Akhirnya ia berhenti berlari, kehabisan napas. Tangannya ia hantamkan ke batang pohon terdekat, kuku-kukunya menancap ke kulit kasarnya hingga balas menusuk ujung jemarinya sendiri. Gigi-giginya menggertak, matanya dipejamkan selagi rasa sakitnya menyebar dan berdenyut-denyut.
Ia ingat momen ketika pertama menghadapi mokuton-nya di medan perang. Hari di mana Madara menyadari adanya hasrat yang tak berkaitan dengan pertarungan kepada perempuan itu. Hasrat yang ditekannya demi klan dan harga diri. Tinggal satu langkah terakhir, dan Hashirama lepas dari genggamannya. Uzumaki b—
"BRENGSEK!"
Uap panas berembus dari tenggorokannya, menghanguskan dedaunan di hadapan. Tepiannya berpijar merah dan jingga sebelum lenyap menjadi abu. Tempat tangannya menancap barusan meninggalkan bekas dalam di batang pohon. Desisan halus terdengar, menandakan panas telah melukainya.
Otaknya menolak diajak berpikir jernih di kondisi seperti ini. Ia terlalu tegang, dan Hashirama masih bebal berdiam di benaknya. Madara menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya.
Izuna sudah aman. Keluarganya juga. Hashirama bukan jenis orang yang akan mengkhianati janjinya semudah itu. Ia bisa bergerak sendiri. Ia bisa membuat rencana sendiri agar Hashirama tidak dimiliki klan Uzumaki. Rencana yang tidak membahayakan nyawa kerabatnya.
Ikatan sabuknya ia urai. Atasannya ia sibak. Keringat membanjiri kulit kepalanya. Ia mengenakan pakaian tebal untuk menahan hawa dingin malam, tetapi rasanya tak nyaman di kondisinya saat ini. Berat. Mencekik. Sesak.
Ia beralih ke pohon lain untuk menyandarkan punggung. Matanya dipejamkan erat. Wajah Hashirama kembali menyeruak di antara pikirannya. Bukan wajah yang baru ditinggalkannya, tetapi wajah yang selama ini ia bentuk di memorinya. Semata-mata demi memenuhi kebutuhan primitifnya yang manusiawi. Tangannya bekerja dengan cepat, napasnya memberat dan putus-putus….
"Hashi…."
Jika ia sudah memilikinya seutuhnya, tidak akan ada yang bisa menghancurkan klannya.
Hashirama.
Klan mereka. Seperti di medan tempur tempo hari, ketika ia memasrahkan diri ke dalam serangannya, Madara bersumpah akan memilikinya seperti itu juga di dalam pelukannya sendiri. Terbaring di bawahnya, memohonnya untuk memenuhi hasratnya yang tak terbendung.
Seutuhnya, miliknya seutuhnya.
Sedikit lagi, sedikit lagi melewati puncaknya—
"Mada … ra?"
—dan imajinasi rumit penuh detailnya sirna seketika.
Madara menggeram, buru-buru menutupi tubuhnya yang terbuka sebelum berbalik. "Ngapain kamu—?" Perasaan malu seberat tubuhnya sendiri segera menggelayuti.
"Aku…." Ia melangkah maju, dan wajah Hashirama muncul dari kegelapan. "Aku dengar kamu memanggilku…."
"Aku nggak memanggil," sergahnya sambil mengikatkan sabuknya asal-asalan. "Pergi sana! Jangan berdiri di belakangku!"
Hashirama bergeming. Madara membuat gestur mengusir dengan tangannya. Ia hampir saja melepas ketegangannya, tetapi interupsi barusan membuatnya semakin frustrasi.
"...Bagaimana kalau aku berdiri di depanmu?"
"Buat apa?!"
"A, aku tahu kamu ngapain."
"Kamu salah—!"Di saat begini, meladeni kata-kata konyol Hashirama tidak ada dalam prioritasnya.
"Bantu ... itu." Ia menunjuk tubuh Madara, di bawah pinggangnya. Tonjolannya kentara di bawah kain.
Wajah lelaki itu seketika merah padam. Lidahnya kelu. Malam yang semakin larut, ditambah dengan mendung, semakin memakan sisa cahaya yang masuk ke tengah hutan itu. Apa Hashirama sungguh-sungguh baru saja…?
"Aku serius, Madara," desaknya. "Aku tahu cara yang—"
"Kamu ini tunangan orang," Madara mendesis rendah. Tangan kirinya menemukan bahu Hashirama, yang segera ia guncang. "Kamu sadar apa—?"
"Kamu nggak dengar tadi," sengalnya, terdengar sama frustrasinya dengan Madara. "Aku nggak mau menikah dengan cucu Uzumaki Ashina!"
Pengakuan itu menyambarnya seperti serangan raiton. Madara membelalak pada kegelapan. "Apa kaubilang?"
Hashirama menemukan dadanya, dan kepalannya menggenggam kain pakaian Madara. "Aku mau menikah denganmu." Lalu, ia menambahkan dengan suara pelan, "Aku bersedia jadi istrimu."
Rikudou Sennin, Leluhur Agung … kesempatan ini terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja. Urgensinya semakin sulit untuk disembunyikan, semakin mendesak untuk dilepaskan. Dengan tubuh mereka serapat ini, Hashirama pasti merasakannya juga.
Ia tidak mundur, ia tidak menghindar.
"Jadi," ujar Madara, tak tahan untuk tidak menyeringai, "seperti apa cara yang kaubilang tadi…?"
Hashirama mengelus kedua pipi dan bibirnya sesaat. Rerumputan berkeresak ketika ia berlutut dan mengurai ikatan sabuknya. Atasannya kembali tersibak, disusul oleh jemari perempuan itu di tepi celananya. Kemudian Madara bisa merasakan napasnya yang hangat, dan bibirnya yang basah mengecupnya di antara kedua paha...
.
Seseorang meracun Tobirama.
Sejak ia dibawa ke kediaman Uchiha, enam penyembuh dari berbagai klan sudah merawatnya. Dipandu byakugan, mereka menjaga agar jaringan tubuhnya tidak rusak. Racun itu bekerja cepat, sehingga para penyembuh bekerja bergantian selama seharian agar mereka mendapatkan giliran istirahat. Kini dengan adanya Hashirama, tinggal dua anggota klan Hyuuga yang tinggal. Penyembuh itu menunjuk area mana saja yang harus disembuhkannya.
Madara mengajak si gadis Hyuuga— Kyoko namanya, berbicara di luar kamar. "Bagaimana kejadiannya…?"
"Hikaku-san membawanya ke sini kudengar, waktu Yonbi masih di ladang," ia menjelaskan dengan takut-takut. "Racunnya ditelan, jadi efeknya sudah menyebar ke mana-mana. Kami berhasil memperlambatnya, tapi ini bukan solusi permanen. Tak sampai dua hari, maksimal. Penyembuh harus terus kerja memperbaiki kerusakan…."
"Tahu makanan apa yang terakhir dimakannya?"
Ia mengangkat bahu. "Senju-san dan Izuna-san menghadiri pesta di kediaman Shimura—"
Sebelum Hyuuga Kyoko selesai bicara, Madara melesat pergi. Ia mengambil sandal entah siapa yang ditinggalkan di depan salah satu selasar. Tujuannya adalah kediaman Shimura di ujung lain desa. Sisa-sisa pesta masih ada, tetapi hanya sedikit orang yang terlihat sedang beberes.
"Keita-sama ada di sana, dengan yang lain," salah satu pemuda menunjukkan arah ke paviliun besar di tengah lapangan. Rupanya ia sudah tahu maksud kedatangan Madara tanpa perlu bertanya.
"Kita terlambat tahu." Suara Nara Shikana terdengar dari dalam. "Aku tidak tahu ruangan ini dipakai pesta juga—"
Kemudian Madara menggeser kedua pintu shoji. Yang pertama dilihatnya adalah sesosok mayat terbujur kaku di seberang ruangan. Letaknya agak tersembunyi di balik deretan meja-meja tempat hidangan semalam diletakkan. Pakaiannya yang bagus dan postur tubuhnya menandakan orang ini jelas bukan shinobi. Kedua tangannya kaku menggenggam lehernya sendiri. Wajahnya ditutupi kain, tetapi Madara dapat melihat lidahnya terjulur keluar.
Samar-samar ia mencium bau manis.
Seseorang berdeham. "Madara-san, di mana Hokage-sama?"
Yang berdiri tersebar di ruangan itu adalah keenam kepala klan yang masih ada di Konoha. Wajah-wajah mereka tegang, kecuali satu pemuda yang terduduk di ujung. Kepalanya disembunyikan di antara kedua lutut. Muka Yamanaka Inoha pucat.
Madara menutup pintu shoji perlahan-lahan di belakangnya. "Ada di rumahku. Hashirama sibuk." Tidak ada yang menanyakan alasan absennya— semuanya sudah tahu sebabnya.
"Inuzuka-san? Dan Sarutobi-san?"
Ia hanya menggeleng. Mereka benar-benar lupa tentang rekan seperjalanan mereka. Cepat atau lambat mereka pasti sadar ada sesuatu yang janggal, dan segera pulang.
Hyuuga Mori melangkah maju, byakugan-nya menyala. "Uchiha-san, tolong jawab jujur." Sepasang mata seputih kertas diarahkan kepadanya. "Apakah Anda memiliki alasan untuk membunuh Ukyo?"
"Ukyo siapa?"
"Dia."
Madara maju melompati deretan meja yang belum dibereskan. Ia mengangkat kain penutup wajah si mayat hati-hati. Bau busuk nan manis menyergap penciumannya. Mata terbelalak pria berkumis balas menatapnya, seolah mau loncat dari rongga tengkoraknya. Wajahnya berubah seungu terung. Tampaknya ia mati penuh penderitaan. Seluruh pembuluh darahnya menghitam.
Jantungnya mencelos. Ia kenal kondisi ini. Namun, mustahil … Konoha jauh dari perbatasan, dan ketika ia memimpin pasukan Konoha di garis depan, tidak ada lagi laporan tentang para Setan Tsuchi. Madara sendiri yang menginstruksikan kelompok empat orang menjaga desa-desa yang disasar mereka, jadi laporan itu pasti akurat.
Ia butuh waktu untuk mengaitkan wajah penuh kengerian itu dengan pria yang mendampingi Kaisar Nobutada pada kunjungannya tempo hari. Pria yang menghina Hashirama terang-terangan….
Seseorang cegukan.
"Madara-san?" Akimichi Chokichi memanggilnya. "Anda tahu sesuatu…?"
Madara mengedarkan pandang ke seluruh ruangan. "Siapa saja yang hadir di sini semalam?"
"Senju-san duduk di sebelah Ukyo," katanya. "Lalu Izuna-san di seberangnya." Ada dua puluhan nama lain yang diberikan Chokichi, tetapi hanya satu yang menarik perhatiannya.
"Sebentar, Hisao?" ulang Madara. "Di mana Shimura Hisao sekarang?"
Cegukan lagi. Orang yang menyembunyikan kepala di antara lututnya mengangkat wajah. Ia Shimura Keita. Kulit mukanya kemerahan dan matanya tampak sembap. "Sa, saya tidak tahu—"
"Oi—!" Madara melompat ke hadapannya dan menarik lengannya hingga ia tegak berdiri. "Jangan beri aku jawaban seperti itu! Kau ini kepala klan! Ini tempatmu berpesta! Adik Hashirama saat ini sekarat, siapa yang harus bertanggung jawab kalau bukan kau?!"
Keita cegukan lagi. Matanya mengerjap-ngerjap hingga berair. Mulutnya membuka, tetapi tiada kata-kata jelas keluar. Hanya cicitan terputus-putus.
"Uchiha-san," Mori menegurnya, "tolong lepaskan—"
Madara mendorong Keita. "Siapa yang ada di sini semalam?" tanyanya pada semua orang.
"Kami berdua mengawasi suplai makanan dan minuman." Chokichi menunjuk dirinya dan Hyuuga Mori, yang menepuk-nepuk punggung Keita. Pemuda itu terbatuk-batuk.
"Temukan Shimura Hisao," perintah Madara kepada kepala klan Hyuuga. "Lainnya— kumpulkan semua yang hadir di sini dan interogasi mereka. Jangan bilang dulu bahwa ada yang mati. Nara-san, Yamanaka-san." Kedua kepala klan balas mengangguk. "Akimichi-san, jaga ruangan ini agar tidak tersentuh. Terutama mayatnya— ini bukan racun."
"Lalu apa—?"
"Penyakit," jawab Madara. "Dan kau, cuci mukamu," perintahnya tanpa menoleh kepada Keita. Ia meninggalkan para kepala klan, dan kembali menyeberangi desa. Pertanyaan-pertanyaan berkecamuk di hatinya.
Penyakit aneh dari Tsuchi itu mengapa bisa ada di sini? Bagaimana seseorang mendapatkan sumber penyakitnya ketika para shinobi Iwa sudah tidak menggunakan taktik Setan Tsuchi?
Siapa yang mau membunuh Tobirama?
Klan Senju adalah klan dengan kekuatan dan kekuasaan tertinggi di Konoha. Riskan sekali menyerang salah satu petingginya. Meskipun belum jelas pelakunya siapa, Madara menduga Hisao ada kaitannya. Izuna sudah di luar jangkauannya, tetapi bisa jadi ia memendam dendam terhadap Senju.
Ia berhenti di atas atap sebuah toko. Seluruh desa masih sibuk membereskan bekas-bekas pesta semalam. Namun, lebih banyak lagi yang sibuk di ladang. Sejauh mata memandang, hanya lanskap hangus yang terlihat di selatan desa.
Langkahnya berbelok ke kediaman Senju. Kebalikan dengan suasana di tempat lain, tempat ini begitu sepi. Rumah utama klannya seperti tidak berpenghuni. Ada obor-obor mati ditumpuk di satu sudut. Daun-daun maple merah berguguran di halamannya, tak tersapu.
Madara sudah hampir mencapai pintu depannya, berniat untuk mengetuk, ketika seseorang memanggilnya dari belakang.
"Uchiha-sama!" seru seorang pemuda dengan bekas luka di pelipisnya. "Anda pulang—! Apa pesan saya sampai—?"
Madara berbalik, menghampirinya dengan dahi berkerut. "Pesan apa?"
"Pesan yang dikirim dengan segel hiraishin!" Ia mengangguk-angguk. "Itu! Akhirnya saya bisa—!"
"Katakan," potong Madara sambil menyambar lengannya. "Menurutmu, adakah yang ingin melukai Senju Tobirama? Atau setidaknya mendendam pada klan Senju?"
Bukannya menjawab, pemuda itu malah meringis gugup. "Maaf, Uchiha-sama, tapi cuma klan Anda yang— aduh!"
Madara melepas cengkeramannya yang menguat karena murka. Siapa pun yang sengaja meracuni Tobirama berharap klan Uchiha yang dicurigai karenanya. Menyemai kecurigaan di antara kedua klan yang memulai aliansi adalah awal terbaik untuk menyulut perpecahan desa.
Hashirama salah. Seharusnya mereka memenggal Shimura Hisao sejak peristiwa itu.
Ketika Madara kembali ke kediaman Shimura, Shikana dan Inoha sudah mengumpulkan banyak orang. Chokichi masih berjaga di depan paviliun. Shimura Keita berbicara dengan beberapa orang yang tampak cemas. Rambutnya yang dikebelakangkan terlihat lembap. Nasehatnya sudah dilaksanakan.
Pemuda itu langsung memanggilnya begitu Madara mencapai halaman tengah. "Uchiha-san, ini pelayan yang semalam terakhir membawa sake untuk mereka." Pelayan yang dimaksud adalah seorang anak perempuan. Usianya tak mungkin lebih tua dari lima belas tahun. Tangannya gemetaran.
Madara memberi isyarat agar mereka berdua mengikutinya ke paviliun. Chokichi turut masuk bersama kelompok itu.
"Bicaralah." Madara melipat lengannya. "Makanan atau minuman yang kaubawa bisa jadi yang membunuhnya." Ia mengangguk ke arah si mayat.
Chokichi berdecak, tersinggung.
"Sa, saya mengantarkan sake mendekati larut malam, untuk kedua kepala klan dan Ukyo-sama," gadis itu mengaku. "Bukan sake Hyuuga— tapi sake khusus kami yang hanya untuk tamu penting."
Keita berbalik mendadak, mulutnya menganga. "Itu sake yang hanya diberikan atas perintah kepala klan! Aku tidak—!"
"A, Anda tidak…?" Gadis itu ikut terkejut.
"Hei, jadi siapa yang menyuruhmu?"
"...Hisao-san."
Jemari Madara mengusutkan kain pakaiannya. "Dia yang memberimu botol-botol sake itu? Tunjukkan yang mana."
Si gadis pelayan mengangguk. "Itu, yang garisnya hitam. Itu untuk Ukyo-sama. Saya ingat beliau langsung menenggak habis isinya." Ia menunjuk botol sake yang sedikit lebih besar dari botol lain yang berserakan di ruangan. "Lalu yang itu di sebelahnya saya berikan pada Izuna-sama…."
Madara mengambil sehelai saputangan bersih dari meja lain, dan menggunakannya untuk menggenggam botol merah itu. Masih ada sedikit sake yang tersisa. Baunya tidak aneh.
Yang aneh adalah lokasinya. Mengapa botol itu ada di meja Ukyo?
"Satu lagi botol putih dengan dua garis merah, untuk Senju-sama…." Si gadis celingukan. "Di mana…?"
Chokichi melompati deretan meja, berjalan hingga ke ujung ruangan, lalu berseru, "Ketemu, ini botolnya." Mengikuti contoh Madara, ia tidak memegang langsung botolnya.
Madara menerima botol itu dan mengendusnya. Baunya tidak semanis dari botol Izuna. Diambilnya botol sake Ukyo untuk diendus. Baunya lebih mirip dengan sisa isi botol Tobirama.
"Chokichi-san, suruh siapa pun yang bisa mendeteksi racun meneliti sisa isi ketiga botol ini." Madara memberikan botol-botol yang ia pegang ke tangan besar kepala klan Akimichi itu. "Klan Inuzuka seharusnya punya pengendus racun. Kau pergilah, cari botol sake sejenis ini yang masih utuh, lalu berikan kepadanya," perintahnya pada si gadis. Kemudian ia menoleh pada tuan rumah. "Suruh kerabatmu menjaga pintu paviliun. Kita harus bicara di luar."
Madara tahu betul Izuna bukan peminum. Klan mereka tidak pernah menghabiskan banyak anggaran untuk sake. Tiap orang biasanya hanya minum selepas acara kremasi. Tidak ada yang minum untuk bersenang-senang, kecuali sedang menjalankan misi di luar kampung.
Ia membawa Keita ke selasar sepi. Kerumunan yang sedang ditanyai kedua kepala klan lain berada di seberang halaman. Sharingan Madara aktif.
"Katakan," perintahnya pada pemuda itu. "Apa kau menyimpan dendam pada klan kami?"
Jakunnya bergerak-gerak ketika Keita menelan ludah. Tatapannya tidak dialihkan. "Tidak, Madara-san. Tidak pada Uchiha, tidak pada Senju. Saya sudah mengesampingkan semua itu ketika bergabung dengan Konoha."
Pemuda itu berkata jujur.
"Tapi Hisao masih menyimpan dendamnya."
"Saya minta maaf—"
"Tidak usah minta maaf atau kutonjok kau. Beri tahu aku orang seperti apa dia."
"Sebenarnya…." Keita melemaskan tubuh dengan mengambil langkah-langkah pendek di selasar. "Beberapa saat setelah kami resmi bergabung, perilakunya jadi aneh. Hisao-san makin sering mengungkit membalas dendam anaknya, lalu soal kesempatan jadi lebih..." tangannya membentuk gestur tak jelas di udara, "lebih berkuasa daripada Uchiha maupun Senju."
"Ada yang sependapat dengannya?"
"Saya ingat ada satu atau dua. Lalu beberapa orang dari klan lain." Keita menunjuk ke seberang lapangan. "Sepertinya orang-orang itu semalam hadir di paviliun. Saya tidak," akunya sebelum ditanya.
Paviliun itu menjadi lokasi sebuah pesta pribadi. Seharusnya tuan rumah juga hadir. Kepala klan lainnya tidak menyebut apakah mereka juga ada di sana semalam.
"Ada lagi yang janggal?"
"Itu … Hisao-san jadi sering sendirian pergi. Kami pernah memergokinya berbicara sendiri malah. Beliau…." Keita mendadak gelisah. "Beliau juga tidak percaya Konoha bisa tetap utuh dipimpin Hashirama-sama sebagai Hokage."
Mata Madara menyipit.
"Maaf, Uchiha-sama, saya hanya mengutip beliau. Katanya, 'kunoichi yang cuma tahu cara berantem di kasur dan kebetulan dapat kekkei genkai bagus tidak bisa memimpin sepuluh klan sekaligus'."
Lelaki itu menarik napas tajam. Tangannya gatal ingin meninju sesuatu. Namun, ia punya hal lain untuk diurus. "Bantu Hyuuga-san sana." Madara menyuruhnya pergi.
Ia sendiri kemudian menemani Shikana dan Inoha menginterogasi para pelayan, penghibur, dan tetamu yang hadir di paviliun. Informasi yang mereka berikan kacau balau; semua orang masih terkejut atas serangan bijuu semalam dan pengar yang belum sepenuhnya sirna dari tubuh mereka. Inoha sendiri tampak memaksakan dirinya— ia dengar kepala klan Yamanaka itu mencoba masuk ke pikiran Yonbi semalam. Sungguh gila.
Madara mendapati sebagian besar tamu lelaki tidak menatapnya lurus-lurus. Andai ia punya waktu lebih, ia akan menanyai apa yang mereka rencanakan dengan Hisao dan Ukyo.
Hanya satu lelaki yang memberi keterangan lumayan. Ia mengaku terbangun di larut malam dengan botol sake indah di pelukannya— botol yang tadinya diberikan untuk Tobirama.
"Saya minum habis isinya di sudut," ia mengaku di depan ketiga pria itu. "Enak sekali! Sayang Senju-san tidak minum itu."
"Anda tidak merasa sakit?" tanya Shikana.
"Sakit?" Lelaki itu terkekeh. "Cuma pengar sih sudah biasa!"
Ia benar. Sharingan Madara bahkan tidak menemukan hal abnormal dari cakranya. Yang ia tunjukkan pun hanya gejala pengar biasa. Tubuhnya sehat sentosa.
Saat itu Chokichi kembali, dan meminta untuk berbicara berempat dengan kepala klan lain. Wajahnya yang bundar berubah kemerahan karena berlari-lari. "Aku sudah meneliti racun di botol-botol itu," jelasnya. Keringat membentuk titik-titik di bawah hidungnya. "Yang baunya beda sendiri hanya sake dari botol Izuna-san."
Sake Tobirama tidak diracuni.
Suara Inoha samar-samar terdengar. "Penawarnya…?"
"Semua orang masih … akan makan waktu— tidak ada yang tahu penyakit apa itu sebenarnya. Kecuali yang bikin racun…."
Amarahnya menggelegak, tetapi berhasil ditahan. Usai meninggalkan instruksi untuk membantu pencarian Shimura Hisao, Madara pergi. Kepalanya berdenyut-denyut. Tenggorokannya sakit karena terlalu banyak berbicara. Perutnya mulai lapar.
Tobirama bukan target utama racunnya.
Izuna nyaris kehabisan cakra— jika ia minum sedikit saja….
Sore sudah mulai merambat naik ketika Madara tiba di kediamannya. Jendela di satu sisi ruangan sudah dibuka, membiarkan angin sejuk masuk mengusir panas. Kakek Tatsu masih berada di sebelah Izuna, mengisyaratkannya untuk tidak berisik selagi di dalam. Pakaian adiknya sudah diganti. Sekilas ia tampak tertidur, tetapi kepalanya menoleh mendengarnya datang.
Madara duduk di sisinya, mengabaikan tatapan mencela dari si penyembuh. "Izuna, aku harus tanya sesuatu."
"Uh…?" Izuna berusaha bangun, tetapi Madara mencegahnya. "To … Tobirama…?"
"Masih tidur."
Adiknya kembali meletakkan kepala di bantal. Tangannya menggapai udara, yang langsung Madara genggam. "Izuna, apa kamu ingat semalam di pesta?"
Ia mengangguk lemah.
Madara mendekatkan kepalanya agar suaranya tidak terdengar orang lain. "Berapa banyak sake yang kamu minum?"
"Uhm…." Dahinya yang hanya sedikit terlihat di bawah kain bergerak-gerak selagi Izuna mengingat-ingat. "Hanya … sebotol. Sebelum … Tobirama datang."
Setelah ia kembali terlelap, Madara bangun. Di sisi lain ruangan, suasananya berbeda.
Empat penyembuh berada di sisi Tobirama, kedelapan tangan mereka berpendar hijau. Hyuuga Kyoko memimpin tim itu dengan instruksinya yang dibisikkan dalam suara rendah. Hashirama sendiri duduk di sebelah kepala Tobirama, penampilannya berantakan dan pucat. Ia masih mengenakan haori yang semalam disampirkannya sebelum pergi dari kastel. Ada jejak tanah berbentuk kaki di tatami— milik mereka berdua yang tadi sempat berjalan di sekitar ladang.
Detak jantungnya bagai berhenti. Madara terlalu fokus mencari siapa yang meracuni Tobirama hingga ia lupa akan Hashirama sendiri.
Diraihnya lengan perempuan itu. Hashirama bahkan tidak menunjukkan tanda bahwa ia mengetahui keberadaannya.
Madara menunduk untuk berbisik di telinganya, "Kamu harus mandi."
Ia hanya bergumam tak jelas.
"Ayo."
Hashirama menggeleng.
"Kamu juga harus makan."
"Aku mau di sini…." Rambutnya terurai turun melewati bahu. Lepek.
"Istirahatlah sebentar, Hokage-sama," Hyuuga Kyoko memintanya. Peluhnya sendiri mengucur deras melalui urat-urat di pelipisnya, tetapi ia masih bisa tersenyum sambil bekerja keras. "Kami masih di sini."
Hashirama mengelus rambut adiknya. Helaiannya yang sepucat perak dinodai bekas jelaga. Belum ada tanda-tanda muncul di tubuhnya seperti para Setan Tsuchi.
Tobirama mungkin memang shinobi Senju yang tidak begitu disukainya, tetapi kematiannya akan berakibat sangat buruk pada Hashirama.
"Mereka sedang membuat penawarnya," Madara memegangi kedua bahu Hashirama. "Jangan sampai kamu sakit juga."
Tangannya di pipi Tobirama melemas. Jatuh.
Madara memilih untuk menggendongnya lagi, tak memedulikan tatapan orang hingga ia tiba di sebuah bangunan terpisah yang berfungsi sebagai rumah mandi. Dimintanya pakaian ganti untuk mereka berdua kepada seorang Uchiha yang melintas, lalu ditimbanya sumur untuk mengisi bak mandi.
"Aku lelah…."
Uap tebal melayang dari bak kayu usai Madara menghangatkan isinya dengan katon. Tidak sepanas yang ia suka, tetapi lebih aman begini. Ia berbalik menghadap Hashirama yang duduk di sebuah bangku kayu. "Cobalah untuk rileks sedikit."
"Aku lelah sekali," ulangnya. Tubuhnya melemas, membiarkan Madara mengeluarkan lengan dan kakinya dari pakaian. "Tobirama…."
"Hashi, kamu hamil." Madara mengurai bebatan kain di dada dan panggulnya. "Tobirama bukan satu-satunya keluarga yang harus kamu cemaskan."
Bibirnya bergetar, lalu Hashirama menyambar atasan Madara untuk menariknya mendekat. Ia memeluknya erat, tersedu sebentar di dadanya. "Jangan jauh-jauh," pintanya. "Aku…."
"Baiklah. Sana masuk bak sebelum airnya dingin."
Setelah menimba lebih banyak air untuk dirinya sendiri, Madara menguncir rambutnya dan menanggalkan seluruh pakaiannya. Guyuran air pada kulitnya yang lengket menyapu semua kepenatannya. Kepalanya seketika memberat karena beban air yang terperangkap di antara rambut kasarnya.
"Pernah nggak kamu menduga … segalanya akan jadi begini karena kita?"
Lelaki itu menoleh bingung. "Maksudmu?"
Hashirama meletakkan dagunya di atas lutut. "Soal … ini semua. Adik-adik kita terluka, desa diserang bijuu dua kali…."
Madara mengaktifkan cakra pengindranya, memastikan tidak ada orang yang cukup dekat dengan rumah mandi sebelum menjawab, "Itu tidak ada hubungannya."
"Karma ada hubungannya. Ayahku—"
"Persetan dengan karma." Madara pindah duduk di tepi bak, memegang wajah perempuan itu dengan kedua tangannya. "Tidak ada yang berubah pada isi hati kita sejak kita berjanji melaksanakan rencana ini. Kita sudah begitu dekat."
Ada. Ada yang berubah, walau bukan inti dari pembicaraan ini. Namun, sekarang bukan saatnya membahas kebijakan publik maupun keganjilan tak manusiawi.
Hashirama menyentuh tangannya. "Sudah sedekat ini ... tapi jika adikku kenapa-kenapa…."
Madara mencelupkan tangannya ke air hangat, lalu membasuh sisi wajah Hashirama perlahan-lahan. Jemarinya masuk ke antara helaian rambut, menekan kulit kepalanya. Mata perempuan itu perlahan-lahan terpejam.
"Penawarnya sedang dibuat. Yang lain sedang memburu pelakunya—" Seketika Madara menyesali pilihan kata-katanya.
Mata Hashirama terbuka, membelalak. "Ada yang ingin membunuh adik kita…?!"
Madara memberinya isyarat untuk memelankan suaranya. "Ini baru sebatas dugaanku saja."
Ekspresinya semakin sulit ditebak. Kelelahannya kini diwarnai keterkejutan, bercampur dengan kebingungan dan ketakutan. Ia menyingkirkan rambutnya dari bahu untuk memijatnya.
"Hashi, dengar." Madara berlutut di lantai kayu rumah mandi itu agar kedua pasang mata mereka sejajar. "Nyawa keluarga kita adalah prioritas utama. Apa pun yang terjadi— kita harus memastikan mereka selamat."
Hashirama hanya menatapnya. Ketebalan kantung matanya sudah hampir menyaingi kantung mata Madara.
"Apanya yang lucu?" tanyanya tiba-tiba, membuat lelaki itu sadar ia baru saja menyemburkan tawanya. Ekspresi bingungnya menggelikan.
Ia menggeleng dan mengusap air yang menetes-netes di dahinya. "Banyak hal yang terjadi di luar rencana kita," lanjutnya, "kamu ingat kata-katamu waktu itu?"
"Bahwa … aku akan mencari cara agar kita bisa bersama-sama?"
Ia mengangguk. "Begitu juga aku, Hashi. Kita sudah mengikat janji."
"Ya…." Senyuman samar terbentuk di wajahnya. "Meski kamu harus melawan dunia dan seluruh isinya?"
Jika ada lelaki yang bisa melawan seluruh dunia sendirian, maka ia adalah Uchiha Madara seorang.
"Tanpa ragu." Ia bangun, dan mengecup bibirnya.
.
Usianya dua puluh enam tahun, dan Madara telah menjinakkan monster hanya dengan satu tatapan.
Rubah berekor sembilan itu kini tertidur di sebuah lembah, dengkurannya menggetarkan hutan-hutan di sekitarnya yang belum diratakan dengan tanah. Kesembilan ekornya mengular seperti kadal-kadal besar, separuhnya sudah menggilas hutan dan menciptakan parit ketika ia jatuh tertidur. Sudah seminggu lebih ia memburunya, sampai terpisah dari ketiga orang yang disuruh menemaninya. Bukan hal buruk— mereka hanya menghambatnya dengan membahayakan diri mereka sendiri.
Madara menatap tangannya yang bersarung. Ini terlalu mudah.
Ini kekuatan sejati sharingan, makhluk sehitam kegelapan itu muncul dari dalam tanah. Jika semua tetua yang memilih Hashirama tahu kemampuanmu, mereka pasti memilihmu.
"Tidak perlu diungkit lagi," sergah Madara. "Siapa pun yang terpilih, tidak akan ada perubahan drastis terjadi."
Kau belum lupa percakapan gadismu itu dengan adiknya, bukan? Jelas masih ada Senju yang meragukanmu. Kau menyadarinya setelah hasil pemilihan itu.
"Aku hanya butuh kepercayaan Hashirama kepadaku, itu saja." Madara menghantamkan gunbai-nya di depan hidung makhluk itu. "Imaji yang kautunjukkan kepadaku bisa saja sudah diubah-ubah." Ia telah menunjukkan imaji percakapan Hashirama dan adiknya usai pemilihan Hokage. Suara mereka begitu nyata seolah Madara sendiri yang mencuri dengar dari sebelah jendela.
Kakak tidak bisa menunjuknya jadi pemimpin seperti itu.
Apa salahnya…?
Pengisi posisi itu akan ditentukan dengan demokratis, bukannya main tunjuk saja.
Huuuh. Kau sendiri pasti tahu begitu calon pemimpinnya diusulkan. Siapa yang mengajukan Hashirama?
"Tutup mulut."
Anomali cuaca yang dibuat bijuu itu tidak berlangsung lama. Semakin jauh mereka bergerak dari Konoha, semakin cerah cuacanya. Di lembah ini, tidak ada sedikit pun awan di angkasa. Pengejarannya tidak memakan waktu lama meskipun bijuu itu berlari begitu cepat menghindarinya. Sebelum satu hari penuh berlalu, Madara sudah menaklukkan targetnya.
Tetap saja ia tidak bisa mengenyahkan perasaan aneh yang mengganggunya. Mengapa Kyuubi tiba-tiba muncul di Konoha? Tidak ada laporan area di balik tebing itu pernah didatangi sebelumnya. Pepohonannya tua, belum pernah terjamah kehancuran. Alur sungainya alami sampai ke danau.
Yonbi juga. Mengapa ia tiba-tiba muncul di perkampungan Senju waktu itu? Anjing-anjing Inuzuka mungkin memprovokasinya. Setahu Madara, para bijuu jarang sengaja mendekati perkampungan manusia. Apa yang membuat kedua tempat ini berbeda?
"Kau!" Madara menusukkan ujung gunbai-nya pada si makhluk yang sudah keluar dari tanah. "Apa kau yang memancing rubah ini ke Konoha?"
Ha—? Kepalanya miring perlahan, lalu tawa ganjil keluar dari mulutnya. Tawa yang dapat membuat bulu kuduk manusia biasa berdiri. Hahhaha … hehheheh … imajinasimu boleh juga. Mungkin saja itu memang aku.
"'Mungkin'?!"
Mungkin juga bukan. Ia mengangkat bahu. Mana kutahu isi kepala binatang kayak mereka. Tapi, tunggu apa lagi? Serang saja Konoha dengan Kyuubi. Sisakan Hashirama.
"Ngomong begitu saja terus. Aku tidak punya alasan menyerang Konoha."
Perempuan itu bisa mengkhianatimu kapan saja.
"Berisik!"
Andai kemampuannya menyusup tanpa terdeteksi tidak ada, makhluk itu pasti sudah lama dibakarnya. Keberadaannya begitu samar bahkan dengan pengindraan. Apa pun yang berdasarkan cakra tidak bisa menyentuhnya.
Kyuubi sudah terikat dengan Madara dalam perjanjian pemanggilan. Ditinggalkan saja sudah tidak apa-apa. Madara berbalik, mulai berjalan pulang. Selama dua tahun terakhir ia rajin mengembara di desa-desa Hinokuni, entah berburu atau sekadar memetakan wilayah bersama shinobi Inuzuka. Seperti biasa, mereka menghindari jalan-jalan utama ketika tidak menyamar— sesuatu yang dibenci Madara. Para samurai pasti akan menangkap mereka jika berpapasan dengan siapa pun yang jelas-jelas membawa senjata.
Tidak heran, bandit-bandit yang belakangan banyak meneror desa-desa adalah mantan samurai. Sharingan-nya sampai sudah menghafal teknik kenjutsu mereka saking seringnya bertemu setiap Madara ikut tim patroli.
Sebuah keanehan yang sama ditemui di semua desa yang mereka lalui. Hanya anak kecil, perempuan, dan manula yang ada di sana. Sekelompok pria dewasa dan pemuda yang muncul tiba-tiba saja sudah cukup aneh, dan bukan satu-dua kali mereka dikira bandit. Satu-satunya penjelasan yang masuk akal atas menghilangnya para lelaki dewasa dari desa adalah kebutuhan tentara untuk perang.
Rumor tentang Kaisar Gunung dari utara sudah lama santer. Semakin intens setelah para daimyo berhenti menyewa mereka untuk berkonflik satu sama lain. Jika Kaisar Nobutada begitu mencemaskannya sampai turun tangan sendiri menawarkan perjanjian dengan shinobi Konoha….
Lima hari saja cukup untuk sekadar melihat medan perang.
Madara berbelok ke barat daya, mencari jalan pintas mendekati perbatasan Tsuchinokuni. Makhluk itu tidak mengikutinya— setidaknya tidak dari dekat. Lanskap belantara yang dilaluinya tidak jauh berbeda. Hutan, padang rumput, dengan jajaran bukit hijau di sana-sini. Hinokuni tidak banyak memiliki gunung, kecuali di sekitar perkampungan lamanya.
Dua hari kemudian, lanskapnya berubah total.
Gersang. Padang rumput yang ia pijak kering dan sekarat. Madara menahan rasa hausnya. Sungai kecil yang tadi ditemukannya keruh. Pasti terkontaminasi mayat dan sisa cakra di bagian hulunya. Para shinobi berhati-hati agar sisa pertempuran mereka tidak mencemari air dan tanah. Mereka juga sudah lama berhenti berperang satu sama lain. Maka ini pasti perbuatan shinobi yang bekerja pada Tsuchi. Jaraknya masih setengah hari perjalanan ke desa terujung di utara, tetapi sisa-sisa perang sudah sampai sini. Sisa-sisa cakranya masih terdeteksi oleh pengindranya.
Senja merambat naik dari cakrawala. Madara memejamkan mata, mencoba mengingat peta lanskap kekaisaran yang digambarkan kartografer Inuzuka dulu.
Dari semua sungai yang mengaliri Hinokuni, enam di antaranya berhulu jauh di utara. Mereka mengalir jauh ke selatan, melalui banyak desa dan ladang yang didirikan di sekitarnya.
Ia teringat desa pertama yang dilaluinya dari Konoha. Luluh lantak. Tak hanya menghujaninya dengan air sarat cakra, Kyuubi juga meratakan rumah dan sawah mereka. Madara tidak berhenti untuk melihat-lihat; penduduknya saat ini pasti sudah panik mencari bantuan entah ke mana.
Bagaimana situasinya di desa lain? Meski pun tidak dilalui bijuu, selalu ada bencana lain yang bisa menghancurkannya.
Udara berbau tajam semakin jauh ia bergerak. Kabutnya tebal, tetapi bukan kabut alami. Samar-samar bau gosong tercium. Bau daging terbakar.
Ia menahan napasnya selagi mendekat. Di tengah lapangan berbatu, sebuah gundukan gelap dibakar, apinya membubung tinggi. Asapnya penuh jelaga, begitu hitam. Pengindraannya mendeteksi keberadaan tujuh orang tak jauh dari sana. Madara baru berjalan untuk menghampiri yang terdekat ketika pecah sebuah jeritan.
"Dia lepas! Dia lepas! AAAH!"
Ketujuh orang itu berpencar ke segala arah. Satu berlari tepat ke arah Madara— seorang wanita tua renta. Tangannya yang kaku berkeriput memegang pakaian Madara. Ia menarik napas tajam.
"Oh, Tuan! Pergilah!" pintanya panik, memukul-mukul lempengan pelindung tubuhnya. "Setan Tsuchi— mau membunuh kita semua!"
Sebuah sosok kecil keluar dari balik kabut. Madara menduga ia akan menghadapi seorang shinobi, tetapi yang muncul hanya bocah ceking bercawat. Wajahnya bengkak, lidahnya yang berwarna gelap terjulur keluar. Kepalanya oleng ganjil. Matanya merah seperti orang mabuk parah. Rusuk-rusuknya menonjol di balik kulit. Kakinya yang telanjang diseret perlahan-lahan, seolah sedang mengukur siapa di antara mereka yang akan diserangnya duluan. Bau busuk pekat dan manis menguar dari tubuhnya.
Sebilah kunai meluncur ke genggamannya, tetapi nenek di belakangnya segera mencengkeram lengan Madara. "Jangan tusuk dia, Tuan! Darahnya beracun— cuma api yang bisa—!"
Tanpa berpikir dua kali, Madara membentuk segel katon. Bola api raksasa dimuntahkannya, dalam sekejap menghanguskan si bocah ceking itu.
Asap putih keluar dari tenggorokannya. "Apa-apaan barusan…?"
Orang-orang lain bermunculan, tampaknya handai taulan si nenek. Madara menyadari hampir semua orang dewasa yang sehat di antara mereka tidak terlihat, baik lelaki maupun perempuan. Hanya anak-anak dan lansia. Separuh bawah wajah mereka ditutup kain.
"T, Tuan…." Salah satu pria renta itu tergagap. "Tuan bukan samurai…."
"Bukan," Madara menanggapinya dengan cuek. "Saya shinobi. Pernah dengar nama Uchiha?"
Semua orang terkesiap bersamaan. Kemudian, bisik-bisik merebak.
"Kalau dia, mungkin bisa…."
"Tapi dia ninja…."
"Pilihan apa lagi yang kita punya…?"
"...Kalau kita yang dibunuh gimana—"
"Oi. Kedengaran, tahu!" Madara membentak mereka, kehabisan kesabaran. "Aku di sini untuk mengecek perbatasan Tsuchi."
"Sendirian saja, Tuan? Bahaya! Bergabunglah dengan para samurai di seberang…."
Madara menggeleng. Ia mengedikkan kepala ke arah gundukan yang masih terbakar. "Itu apa?"
Gundukan itu ternyata para Setan Tsuchi dan penduduk desa yang wafat karena tertulari. Setan Tsuchi adalah bocah-bocah berpenyakit yang menyusup ke desa-desa di dekat perbatasan seperti bocah yang tadi dibakarnya. Semua orang yang melakukan kontak atau berada di dekat mereka dapat terserang penyakit serupa. Hanya berada dekat-dekat saja sudah dijamin tertular. Korban akan mati dalam sehari dengan kondisi mengenaskan serupa si bocah. Tidak ada yang bisa menyembuhkannya.
"Parah sekali, Tuan," kata si nenek yang tadi bersamanya. "Darah mereka juga berpenyakit. Ada yang mati di sungai-sungai. Bikin airnya nggak bisa diminum."
Madara menatap cakrawala yang temaram diterangi bintang gemintang. "Tsuchi jauh sekali dari sini. Bagaimana mereka bisa sampai?"
Para penduduk desa saling berpandangan, kemudian nenek yang tadi maju. "Separuh hari ke depan, di utara. Biasanya mereka dari sana." Ia menunjukkan arah untuknya. Gerakannya cukup gesit untuk ukuran lansia.
"Mengapa tidak ada samurai yang melindungi kalian?" tanya Madara. Meski desa-desa jarang dilindungi langsung oleh samurai, seharusnya dengan lokasinya yang vital membuat seorang perwira bersedia menyisihkan beberapa prajurit tambahan.
"Tuan lihat sendiri tadi," jawabnya lelah. "Semua orang dewasa sehat dipaksa membantu perang di garis depan. Sana, di timur laut."
Nenek itu kembali ke desanya setelah memberitahu titik tempat para Setan pertama ditemukan. Ada jeda satu minggu dari kemunculan Setan pertama di desanya dengan kemunculan kedua. Kelompok yang mereka bakar datang lima hari lalu, ditemukan oleh anak-anak yang pergi berburu.
Madara menyiapkan tempat pengintaian di sebuah dataran tinggi. Di bawahnya ada sebuah lembah sempit, dan di seberangnya ada lembah yang lebih tinggi lagi. Puncak-puncaknya tertutup kabut. Daerah ini sudah begitu jauh dari tengah kekaisaran, tempat pusaran kekuasaan berada. Entah daimyo mana yang menguasai desa itu. Belum lagi soal para Setan itu….
Ia yakin mereka manusia. Penyakit macam apa yang mereka derita? Normalnya Madara akan membawa satu dari mereka untuk diteliti. Namun, Konoha jaraknya berhari-hari dari sini. Ia juga akan menaruh dirinya dalam risiko tertular penyakit.
Sesaat sebelum matahari terbit dua hari kemudian, Madara mendeteksi pergerakan. Kecepatannya dan arahnya menandakan itu bukan hewan maupun manusia biasa.
Shinobi.
Madara berlutut dengan satu kaki, sharingan-nya melihat menembus kegelapan dipandu oleh cakra pengindranya. Jaringnya ia tipiskan, mencegah pengindra lain menyadari keberadaannya. Para shinobi itu bergerak dalam kelompok-kelompok besar, begitu rapat seolah bertumpuk-tumpuk. Siluet-siluet bermunculan dari balik tebing, turun dengan kecepatan tinggi.
Tidak salah lagi, mereka shinobi. Semuanya berpakaian merah tua dengan pelindung tubuh dari kulit hewan. Masing-masing orang menggendong dua atau tiga sosok kecil di punggungnya. Kondisi mereka tidak tampak hidup, tetapi tidak juga mati. Madara menghitung ada sepuluh shinobi menuruni dinding tebing. Begitu shinobi terakhir menjejak lembah, Madara turun menyemburkan katon.
Apinya melebar menjadi beberapa depa, menyapu habis para shinobi yang tidak siap. Satu orang berhasil meloloskan diri, naik menggunakan balok-balok doton kembali ke tebing di seberang. Madara mengaktifkan susano'o-nya, dan menyambar si shinobi. Dari dekat, terlihat ada lambang yang terukir di pelindung dahinya.
Tanpa membuang waktu, Madara melancarkan genjutsu untuk menginterogasinya. Wajahnya yang mengerut berusaha melepaskan diri perlahan merileks. Tatapannya tak fokus, matanya separuh tertutup. Informasi membanjir tak terbendung dari mulutnya, bagaimana sang Kaisar Gunung mengumpulkan para shinobi, memberi mereka sebuah kota tersendiri, dan menjadikan mereka sebuah pasukan elit.
"Intel kami bilang … Nobutada dari Hinokuni pasti akan melakukan hal yang sama," ungkapnya dengan suara datar. "Imbalan yang kami terima dari Kaisar Gunung sangat sangat besar…."
"Anak-anak sakit itu, untuk apa?" Madara mengedikkan kepalanya ke keranjang di punggung si shinobi yang telah kosong. Isinya sudah tumpah, meluncur bebas ke kobaran api di bawah.
"Ada wabah di Bukit Besar. Kaisar perintah … kirim semua yang sekarat ke Hinokuni biar orangnya mati di sana…."
Jika dibiarkan, cepat atau lambat wabahnya akan sampai ke Konoha. Ke tempat Izuna. Ke tempat Hashirama.
Ia naik pitam. "Di mana saja kalian menaruh orang-orang ini?!"
Beberapa saat kemudian, Madara meninggalkan lembah setelah membunuh shinobi terakhir. Iwa, tempat asalnya, sudah berafiliasi dengan penguasa Tsuchinokuni. Mereka bergerak dalam kelompok sepuluh orang, yang nantinya menyebar ke berbagai penjuru begitu melintasi perbatasan. Ada sembilan desa yang mereka sasar, semuanya terletak jauh dari kamp utama para samurai.
Madara tak punya pilihan selain mendatangi semua desa itu satu persatu. Beberapa tempat bahkan sudah ditinggalkan total, membuatnya harus mengusut jejak para penderita. Sekali ia membantu satu desa mengkremasi penduduknya yang jatuh sakit.
Satu minggu setelah perburuannya dimulai, gelombang baru para Setan sudah dikirimkan. Kali ini semua shinobi Iwa mengantisipasi kedatangannya, menyerangnya sebelum ia mendekat.
Madara membunuh semuanya tanpa kecuali. Tidak ada yang sanggup bertahan melawannya.
Ia menyadari para shinobi Iwa membawa orang-orang berpenyakit tanpa pelindung sama sekali. Wajah mereka bahkan tidak ditutup seperti penduduk desa yang pertama ditolong Madara. Apakah shinobi memiliki imunitas dari penyakit itu? Kondisinya sendiri sehat-sehat saja meski pun sudah mengangkut banyak mayat dengan tangan kosong untuk dibakar. Para shinobi Iwa yang dibakarnya pun tidak menunjukkan gejala sakit.
Pada minggu ketiga pengembaraannya, Madara menemukan para desertir. Mereka terdiri dari empat orang, semua berpakaian layaknya rakyat biasa, tetapi mereka menyandang pedang di pinggang masing-masing.
Hanya para samurai yang boleh menyandang senjata tajam tanpa ditutup-tutupi.
Mereka duduk mengelilingi api unggun. Madara mengendap-endap dari jauh, nyaris tak bernapas demi mencuri dengar percakapan mereka.
"...Aku nggak sabar pulang!" seru seseorang. Tampaknya masih muda. "Gadisku kutinggal sebelum sempat kunikahi!"
"Hati-hati, siapa tahu sudah jadi istri orang."
"Hei!"
Gelak tawa merebak. "Omong-omong," suara ketiga berbicara, "kau bukannya tinggal di kota? Para samurai mengecek semua yang datang dan pergi. Mereka akan tahu kau balik pulang tanpa izin."
"Memangnya akan ada yang curiga?" balas suara pertama. "Bilang saja aku dikirim pulang. Jenderal bilang para ninja sudah datang. Pasukan tambahan macam kita sudah nggak dibutuhkan."
Ninja?
Orang ketiga menggerutu. "Tanganku sudah hilang sebelah saja dilarang pulang barang sebentar. Anakku entah nasibnya gimana."
Orang keempat angkat suara, "Coba dari dulu begitu. Kita nggak perlu repot di perbatasan. Sudah tempatnya nggak enak, harus perang lawan budak-budak Tsuchi pula!"
"Akhirnya mereka jadi lebih berguna," timpal suara kedua. "Nggak bikin rusuh di pedalaman saja seperti dulu. Yang Mulia bisa juga membujuk si Hokage."
"Bukan, Hiroshi. Bukan Kaisar."
"Haa?"
"Aku sempat mengobrol sama ninja itu," ujar suara pertama dengan suara dipelankan. "Si Hokage setuju karena didesak penduduk…."
Tidak … Hashirama tidak akan….
Madara melompat meninggalkan tempat persembunyiannya. Sebelum keempat orang itu bereaksi, ia mengacungkan kunai ke leher desertir yang terdekat dengannya— seorang lelaki bertangan satu. "Katakan," perintahnya, "mengapa para ninja membantu Nobutada?"
Ketiga orang lainnya membeku. Yang termuda di antara mereka menelan ludah. "Re, resmi sudah 'kan? De, Desa Konoha … jadi tentara Yang Mulia—?"
Madara mendorong sanderanya, lalu melesat pulang. Bukan ini yang mereka bicarakan ketika membangun visi untuk desa. Bukan ini. Mereka tidak mendirikan desa untuk kembali mengikatkan diri ke nasib yang sudah merenggut begitu banyak nyawa, termasuk adik-adik mereka….
Hancurkan, hancurkan.
"Menghancurkan?" Madara melompat turun dari tebing, mengambil jalan pintas kembali. "Lupa apa isi prasasti itu? Penyatuan kekuatan Uchiha dan Senju yang dapat menyelamatkan klanku. Menghancurkannya jelas langkah yang salah."
Atau kau yang lupa bahwa Senju tidak hanya terdiri dari Hashirama seorang? Ia melesat dekat di sisinya. Mata dibalas mata. Tidak ada yang bisa membatalkan kematian. Hashirama tidak akan menyentuh keluargamu sebagai balasan.
Jauh di lubuk hatinya, Madara menyadari makhluk itu benar. Senju yang ia pedulikan hanyalah Hashirama seorang, dan perempuan itu telah terikat perjanjian sehidup semati dengannya. Ia bukan lagi kepala klan, tetapi kerabatnya pasti masih diikat kesetiaan kepadanya.
"Keluarganya keluargaku juga," sergahnya, menunjukkan mangekyou sharingan-nya ke makhluk itu. "Satu kata lagi, kau akan kubakar habis."
Madara tak mendengarkan ocehannya lagi sepanjang perjalanan pulang, membebaskannya untuk mengurai kerumitan di otaknya. Kerumitan yang nyaris tak terurai ketika pemandangan Konoha mulai terlihat di cakrawala.
Hashirama tetap berutang penjelasan kepadanya.
.
Berapa banyak waktu yang masih dimilikinya?
"Lima belas tim empat orang sudah menyebar ke semua jalan yang diketahui. Masing-masing diisi seorang Hyuuga." Nara Shikana melaporkan setibanya Madara di kediaman Shimura.
Mereka telah meminjam sebuah ruangan untuk berdiskusi. Tuan rumahnya sendiri duduk di dekat pintu, menerima pesan dari siapa pun yang datang. Yamanaka Inoha bersila di sudut tergelap, matanya terpejam. Ia mengontrol kelima belas tim sekaligus.
"Pengecut itu seharusnya belum jauh." Madara menahan diri untuk tidak langsung turut mencari. Ia kini berada di posisi Hokage, sebagai komando sentral Konoha selagi Hashirama belum bisa bertugas kembali. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa tangannya gatal ingin mencekik pria itu setiap kali rupanya terlintas di pikiran. "Penawarnya?"
Shikana menggeleng sedih.
"Uchiha-san!" Inoha mendadak berseru, "Satu tim sudah kembali— mereka menemukan Shimura Hisao!"
Gelenyar kekuatan membanjiri tubuh Madara. Amarah membuat cakranya beralih rupa menjadi bibit-bibit katon yang siap bergelora. Shikana dan Keita mengambil posisi di kedua sisinya. Lima menit yang menyusul setelahnya terasa begitu lama….
Kemudian, kedua pintu shoji digeser cepat-cepat dan sesosok tubuh terikat tambang didorong masuk hingga tersungkur.
"Hisao-san!" Keita buru-buru berlutut dan mendudukkannya. Pemuda itu langsung mundur menyadari tatapan kepala klan Uchiha kepadanya.
Hisao masih mengerjap-ngerjap ketika Madara melayangkan tinju telak di rahangnya. Ia hampir mendaratkan tinju kedua kalau saja Shikana tidak mengunci persendiannya dengan kagemane.
"Tahan diri Anda, Uchiha-san!"
"Uchiha-san, jangan!"
Tim empat orang yang membawa Hisao ke ruangan itu buru-buru menyeretnya mundur. Shikana baru melepas jurusnya setelah memastikan sendi-sendi Madara lemas. Sharingan-nya sudah menyala-nyala ketika ia menyambar kerah pria itu.
"Di mana penawar racunnya, sialan?!" Ia belum pernah bersua dari dekat dengannya sebelum malam ini, dan menurutnya Hisao tampak sudah kehilangan kewarasan.
Pria itu malah terkekeh menghina sampai kepalanya menjeblak ke belakang. Gigi-giginya yang kehitaman dihiasi merah. Matanya liar menjelajahi seluruh isi ruangan. "Penawar untuk pembunuh anakku? Mimpi!"
Madara mengguncangnya. "Racunmu kena orang lain, bangsat sialan!"
"Lho, belum mati?" ia balas bertanya. Ketika tidak ada jawaban muncul dari Madara, Hisao menyeringai. "Hebat!"
"Kau—!"
"Siapa, siapa yang kena?"
Tidak ada yang menjawab. Hisao melihat ke balik bahu Madara, lalu terdengar suara Keita.
"Adik Hokage-sama."
"Tobirama? Lumayan, lumaya—"
Madara meninjunya lagi. "Lumayan apanya, dasar tolol!"
Tawanya sirna mendadak. Ditatapnya Madara lurus-lurus. "Benar mau penawar racunnya?"
"Cepat katakan!"
"Ada syaratnya."
Madara melepaskan cengkeramannya. Di saat seperti ini, berani-beraninya….
"Hisao-san, Anda telah melakukan kejahatan berat," Shikana memperingatkan. "Hukumannya sudah pasti. Anda tidak bisa membuat tawaran."
"Ya, ya, semakin lama kita ngomong di sini, nasib Senju-san akan semakin baik!"
Kedua tinju Madara mengepal selagi ia mundur. Berada sedekat itu dengannya membuatnya tak tahan untuk tidak menghajarnya.
Shikana mendecih. "Bicaralah."
"Penawarnya akan kuberi," Hisao menanti sampai semua orang terdiam sebelum melanjutkan, "jika Uchiha Izuna mati."
"Jangan macam-macam!"
Kondisinya sudah berbeda. Jika tawaran ini dilontarkan di lain hari, dengan senang hati Madara akan memilih menyelamatkan leher adiknya. Namun, sekarang Tobirama adiknya juga….
Dan daripada melihat Hashirama begitu terpuruk, Madara lebih memilih meluluhlantakkan separuh kekaisaran.
Keita bertanya kepada kelompok yang menangkap kerabatnya itu tadi, "Apa kalian sudah menggeledahnya?"
"Sudah. Kami tidak menemukan apa-apa," jawab mereka.
Tawa Hisao lepas. "Penawarnya memang nggak ada!" Ia terbahak-bahak menyaksikan ekspresi keterkejutan membekukan wajah Madara. "Cepat atau lambat, ya— mati saja!"
Madara sudah siap mencekiknya andai Shikana tidak tanggap menahannya. "Inoha," panggilnya. "Tolong—"
Yamanaka Inoha beranjak dari sudutnya sambil terbatuk-batuk. Dipegangnya kepala Hisao. Udara berderu ketika kesadarannya merasuk ke tubuh lelaki itu. Tatapannya berubah kosong selama sesaat.
"Bagaimana…?"
"Dia jujur." Inoha menggeleng sedih. "Racikan racunnya menggunakan penyakit dari luar Hinokuni … mustahil menemukan obatnya di waktu sesempit ini."
"Sepertinya sudah cukup interogasinya," Keita angkat bicara. "Saya sendiri yang akan mengeksekusi beliau, kapan pun Hokage memerintahkan—"
Pintu shoji bergeser sedikit. Seorang gadis Shimura mengintip dari celah. "Permisi, Uchiha-sama. Senju Ango ingin menemui Anda."
"Nanti."
"Maaf, katanya penting."
Madara membiarkan Keita mengambil alih pengamanan Hisao, lalu keluar ruangan. Seorang pemuda Senju dengan pelipis berbekas luka sudah menanti. Ia orang yang ditemuinya di kediaman Senju tadi sore. Mulutnya langsung menumpahkan informasi yang menyulut murkanya.
"Uchiha-sama, orang-orang Uzumaki ada di kediaman Anda."
.
Kewaspadaan tak wajar merebak di rumahnya sendiri. Orang-orang keluar di selasar, semua menatap ke ruangan milik sang kepala klan. Di antara kepala-kepala berambut sehitam malam, berdiri tiga orang berambut merah manyala.
Adrenalin memacu jantungnya berdetak begitu cepat. Ujung jemarinya dingin. Begitu sampai, Madara langsung tahu ia tidak kembali tepat waktu.
Orang-orang di dalam mengabur bagai menjadi bayangan, suara mereka memudar menjadi tak lebih keras daripada bisikan. Yang tetap jelas hanyalah Hashirama seorang.
Namun, sang dewi tampak begitu kecil di hadapannya. Lemah. Letih.
"Ashina-san … Ashina-san bilang, ia tahu cara mengeluarkan racunnya," ujarnya lirih, bersimpuh di tengah ruangan tanpa menatap mata Madara. Pakaian hitam klan Uchiha masih membalut tubuhnya. "Tapi, ada syaratnya…."
Bibit-bibit katon di tubuh lelaki itu membeku. Merah berkelebatan di tepi penglihatannya. Suara Ashina samar-samar menggema dari arah tempat Tobirama terbaring.
"Maaf, Sayang, aku minta maaf…."
"Tidak apa-apa, Hashi. Aku mengerti." Hanya itu yang bisa Madara katakan.
Keduanya bersedia melakukan apa saja demi adik-adik mereka.
Sharingan-nya aktif sendiri begitu menjumpai sosok jangkung bersandar pada ambang. Mata kelabunya berkilau bangga. Di jarinya terselip secarik kertas.
Pesan itu pasti tertinggal di paviliunnya di kastel. Pesan itu pasti mereka baca.
"Pertunangan kami tidak jadi dibatalkan," ungkapnya penuh kemenangan.
Sharingan Madara mendelik kepadanya.
"Santai sekali," komentarnya. Ada kemarahan di balik suaranya yang lembut. Rupanya ia gagal membuatnya marah.
"Meladenimu cuma buang-buang waktu."
"Huh. Terserah Anda saja." Uzumaki Nobuo membungkuk kepada Madara, setengah anggun setengah mengejek, lalu berlalu ke kamar. Suaranya sayup terdengar menenangkan Hashirama.
Izuna sudah bangun, terduduk di kasurnya. Genggamannya begitu erat pada selimut hingga kainnya kusut. Cakranya tak beraturan. Gigi-giginya menggertak. Entah apa yang ia dengar tadi sebelum kedatangannya.
Lelaki itu mundur, setenang mungkin berjalan ke arah kuil klan. Setelah letupan emosinya ketika menginterogasi Hisao tadi, ketenangan batinnya terasa sedikit ganjil. Berbagai spekulasi menari-nari di pikirannya; semua bermuara pada satu kemungkinan, dan pikiran ini ia genggam erat-erat. Senyuman tipis terulas di wajahnya.
Hashirama sudah menuntaskan bagiannya.
Madara hanya perlu menunggu waktu untuk bertindak.
.
.
next chapter is the last, then an epilogue
school starts october so pls don't be surprised if next chapter comes 2019 i hope not i swear i'll try doing it in my spare time amidst event judging and otp celebration- oh guys do check hashimada-bigbang on tumblr :D
