hello, it's kinda late because school but i'm back with this hope u like

warning for implicit sexual scene


.

.

Usianya enam belas tahun.

Hashirama tengkurap di balik langit-langit, di antara debu dan kegelapan. Gadis itu berusaha sebisa mungkin diam, menarik napas sepelan dan sehalus mungkin agar embusan dari hidungnya tidak membuat batangan ilalang penyusun atap berkeresak. Sedikit lagi saja ia mengangkat kepala, rambutnya akan menyentuh bagian dalam atap ilalang. Jika keberadaannya terungkap, bubar sudah. Ruangan di bawah atap yang dulu cukup luas bagi tubuhnya sekarang begitu sempit.

Sedari kecil ia terbiasa naik ke atas sini, berpura-pura sedang mencuri dengar informasi dari para bangsawan. Tidak ada yang diberitahunya soal ini, kecuali dengan Touka yang menganggap kegiatannya ini menghibur.

Dari sebuah celah di antara panel langit-langit, matanya memerhatikan sebuah ruangan temaram di bawahnya. Selama bertahun-tahun ruangan ini digunakan untuk melatih gadis-gadis kecil menjadi kunoichi, melatih mereka untuk mendengarkan beberapa percakapan sekaligus sambil menari, melatih mereka untuk bermanis-manis pada orang asing tanpa menurunkan kewaspadaan, dan membuat lelaki sehebat apa pun bertekuk lutut tak berdaya.

Kadang-kadang, Hashirama juga mendapatkan informasi seputar kampung. Siapa yang mengencani siapa, kunoichi mana yang pulang tugas berbadan dua, atau tentang gemerlap kota-kota yang diceritakan kunoichi senior. Bukan sekali-dua kali terlintas rasa penasaran, ingin melihat sendiri seperti apa kehidupan di luar kampungnya. Namun, rasa itu tak pernah tinggal berlama-lama. Ia tahu ayahnya tidak akan mengizinkannya meninggalkan perkampungan kecuali untuk berperang.

Cukuplah ia menghibur diri dengan mengintipi kelas kunoichi, walaupun sebenarnya tak lagi perlu. Untuk mendapatkan pengetahuan perang, Hashirama kini bebas bertanya pada siapa saja. Ia juga disibukkan dengan latihan mokuton-nya dengan Butsuma dan Tobirama.

Tidak seperti keempat elemen dasar, kayu memiliki ratusan karakteristik; semua yang bisa saja membalikkan arah angin di tengah perang. Ada kayu yang begitu kukuh. Ada yang lembek dan dapat dibengkokkan. Ada yang tahan api. Ada yang selalu tumbuh berantakan. Ada yang wangi. Setiap jenis memiliki keunggulan dan kekurangan tersendiri. Penting untuk menghafal semuanya agar bisa digunakan dalam berbagai situasi.

Kali ini pun, Hashirama mencoba menumbuhkan miniatur pohon tak berdaun di kayu langit-langit selagi ia mendengarkan kegiatan di bawahnya. Hari ini ada sukarelawan lelaki, berperan sebagai pemilik informasi. Para calon kunoichi diminta mempraktikkan strategi terbaik mereka untuk membuatnya membuka rahasia.

"Bosan, Bibi," seorang gadis berbicara. "Kenapa kita nggak latihan membunuh saja?"

"Itu nanti," tegur Bibi Mayuko yang mengajari mereka. "Ini penting agar kalian bisa mendekati musuh. Nggak ada yang curiga sama perempuan cantik, apalagi mengajak tidur bareng."

Terdengar gumaman setuju dari para calon kunoichi.

"Tapi Sayaka-neechan bilang … katanya perempuan Senju punya reputasi."

"Reputasi apa?" tanya Mayuko tajam.

Gadis yang bertanya membuat suara-suara ragu. "Katanya … katanya tukang goda orang." Terdengar suara-suara mengiyakan.

"Terus kenapa?" sambar si pengajar. "Kalian bertugas menghibur. Bukan salah kalian jika ada informasi tumpah ruah di hadapan. Menghibur pun bukan satu-satunya hal yang harus bisa dilakukan kunoichi. Kalian harus jago menjalankan seratus macam peran sendirian."

"Se, sendirian…?"

"Harus sendirian. Nggak ada yang bisa menolong kalian."

"Kalau jatuh cinta?"

"Duh, ya dahulukan tugas!" tukas Mayuko. "Jika karena kalian memilih cinta klan kita kehilangan banyak nyawa, kalian akan dicap pengkhianat."

"Klan Uchiha nggak begini," ujar gadis lain takut-takut.

Raut wajah seorang anak laki-laki berambut gelap berantakan melintas di benak si pencuri dengar.

"Klan Uchiha jagonya cuma berantem," kali ini yang menjawab si sukarelawan laki-laki. "Sharingan mereka juga berharga, jadi tidak boleh sampai lepas keluar dari klan. Kita ini beda. Kita bebas mau bawa darah baru dari mana saja, bukan masalah."

"Ya asal bukan Uchiha."

"Betul, Junko." Tawa merebak.

"Kamu penasaran, nggak, Amari?" tanya Junko. "Kenapa Uchiha nggak boleh?"

Beberapa jengkal di hadapannya, miniatur pohon Hashirama mulai menumbuhkan dahan dan ranting. Pertumbuhannya mendadak berhenti seiring pecahnya konsentrasi gadis itu.

Amari menukas, "'Kan mereka musuh kita, ih."

"Mereka musuh kita karena selalu disewa musuh Daimyo Matsudaira, 'kan?" sanggah Junko, enggan kalah.

"Dasar cewek." Sukarelawan lelaki itu berdecak. "Kita sudah lama bermusuhan dengan mereka sebelum para daimyo mulai menyewa kita."

"Kenapa kita belum menang juga lawan mereka?"

"Dulu, dulu sekali, kita nyaris menang," kata Bibi Mayuko. "Kuncinya ada di pengguna mokuton legendaris itu."

"Ah, karena itu ya, semua orang jadi hati-hati sekali dengan Hashirama-san."

"Hashirama-sama."

Pemilik nama itu nyaris saja menarik napas tajam yang akan mengungkapkan keberadaannya.

"Tidak boleh sakit, tidak boleh luka," tutur Junko, berpura-pura menyanyikan setiap suku katanya. "Sampai mokuton-nya jadi sempurna…."

Anak lain menimpali, turut bernyanyi, "Main dengan kita pun nggak boleh terlalu sering. Nanti makin ingin jadi kunoichi, bikin pusing!"

"Kalian bisa main bareng setelah Hashirama-sama menumpas habis Uchiha."

Saat itu Bibi Mayuko memutuskan mengakhiri obrolan mereka. "Sudah, sudah. Ayo lanjut lagi."

Pelajaran pun kembali berlangsung. Hashirama sudah tidak memerhatikan lagi, tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya.

Semuanya jadi masuk akal.

Hashirama hanya sering berinteraksi dengan anak-anak perempuan sebayanya di kelas seni merangkai bunga. Di luar itu, ia merasa mereka menghindarinya. Awalnya ia berpikir hal itu karena statusnya sebagai anak kepala klan, tapi rupanya itu juga karena mokuton-nya. Namun, kelas seni itu hanya diikutinya sebelum mokuton-nya bangkit….

Sebelum insiden di sungai pada hari nahas itu.

Terdengar suara pintu dibuka dan ditutup, kemudian celoteh gadis-gadis itu kembali berkumandang. Sepertinya tinggal dua orang yang tersisa.

"Gimana kabar Sayaka-neechan?" Amari bertanya. "Keponakanmu sudah besar sekarang."

"Paling sebentar lagi pulang," kata Junko. "Toto-san tadi sudah melamarnya. Haah … jadi ingin cepat-cepat juga." Ia merebahkan diri di atas tatami, membuat Hashirama mundur sedikit dari celah. Jika ia maju sedikit saja, wajah mereka akan saling tatap.

"Cepat-cepat apa?"

"Jadi istri orang. Karena jadi kunoichi melelahkan." Kedua lengan Junko digerak-gerakkan di permukaan tatami. "Enak, ya, jadi Hashirama."

"Eh, eh, tahu nggak…." Amari mendekati temannya. "Hashirama sudah ditunangkan, lho."

"Masa!"

Jantung Hashirama mencelos.

"Menurutmu aneh, tidak … dia 'kan hanya setahun lebih tua dari Sayaka-neechan. Tapi belum diperkenalkan ke laki-laki sama sekali. Semua gadis seumurnya sudah punya anak."

"Siapa, sih, tunangannya?"

"Aku menguping pembicaraan Dewan dua hari lalu. Katanya, sih, lelaki Uzumaki."

"Wow, betapa beruntungnya! Tinggal duduk manis, nanti bisa hidup enak tanpa kerja keras."

"Ya dia punya mokuton, sih!"

"Eh, tapi kenapa calonnya nggak disuruh ke sini cepat-cepat? Hashirama sudah cukup tua."

"Butsuma-sama bilang agar mokuton-nya matang dulu. Ah! Tapi jangan bilang-bilang ya, katanya nanti dia kabur lagi…."

Hashirama meninggalkan tempat persembunyiannya dengan benak berkecamuk. Klan Uzumaki adalah kerabat kaya raya mereka yang tinggal di pulau rahasia. Jauh, jauh sekali. Jika ia menikah dengan lelaki Uzumaki, bisa-bisa dirinya yang harus meninggalkan kampung.

Wajah bocah lelaki berambut hitam di benaknya masih berenang-renang. Ekspresi terkejutnya ketika melihat mokuton Hashirama meledak dan lepas di sungai. Matanya yang semerah darah….

Mata iblis.

Bohong jika Hashirama sudah bisa sungguh menganggapnya sebagai musuh. Begitu ia jarang diawasi lagi oleh kerabatnya, ia selalu kembali ke tepi sungai, berharap sahabatnya itu ada di sana, melempar-lempar batu seperti biasa. Namun, tentu saja Madara tidak ada.

Apakah sungguh mustahil menjalin persahabatan dengan musuh? Atau setidaknya, sekadar gencatan senjata…?

"Kayumu masih belum tahan api."

Hashirama tersentak dari lamunannya sendiri. Ayahnya berdiri di hadapan, membakar batangan kayu buatannya di tungku rumah. Batangan kayu itu lebih cepat menghitam dibandingkan kayu-kayu lainnya yang diambil dari hutan.

Ia menatap ayahnya, yang tampak drastis menua sejak insiden di sungai. Kerutan di wajahnya semakin banyak. "Besok aku akan coba lagi," janjinya. "Besok pasti bisa."

"Harus bisa."

Mereka makan malam hanya berdua, karena Tobirama ditugaskan mengintai ke sebuah desa di sebelah barat yang dicurigai sebagai persinggahan bandit. Menunya malam itu ular pohon panggang dan rebusan ubi.

Selama makan, ia tidak tahan untuk memikirkan apakah ayahnya tahu soal pertunangan itu. Ia kepala klan juga— ia pasti tahu….

"Ayahanda," panggilnya tiba-tiba. "Tugas kunoichi itu apa saja?"

"Mengumpulkan informasi dan mengintai," jawab Butsuma kaku, tak melirik dari mangkuk ubinya. "Mengapa bertanya?"

"Tadi aku dengar Junko dan Amari mengobrol selepas latihan," Hashirama berbohong. Kata-katanya meluncur begitu luwes sampai membuat dirinya sedikit terkejut.

Butsuma meliriknya sedikit, tetapi segera kembali memperhatikan makanannya. "Membunuh, hanya kalau perlu."

"Katanya klan Uchiha nggak punya kunoichi."

"Anak perempuan Uchiha dikirim berperang. Jumlah mereka makin sedikit karena banyak perempuan yang gugur. Dalam hal jumlah, kita jauh lebih unggul karena anak perempuan aman."

Hashirama meletakkan sumpitnya. Tatapannya jatuh ke sebuah siluet gelap jauh di belakang ayahnya. Siluet itu merupakan sebuah pilar kayu besar, tetapi bukan salah satu tiang penyangga rumah. Ujung atasnya bahkan tidak mencapai langit-langit. Patah; begitu parah hingga serat-seratnya mencuat.

"Pilar itu dibuat dari mokuton."

Tanpa pemberitahuan ayahnya, Hashirama tidak akan tahu. Ia tidak pernah menaruh curiga selama tinggal di situ. Ia melaluinya setiap hari, bermain petak umpet di sekitarnya, dan kadangkala tertidur bersandar padanya. Ia tahu pilar itu dibawa dari rumah lama mereka.

Namun, tak ada bedanya dengan batang-batang pohon yang dibawa dari hutan.

Butsuma menyuruhnya tidur di samping pilar malam itu, yang disyukuri Hashirama karena pikirannya terus berenang-renang tak beraturan. Kasur dan selimutnya telah dihamparkan. Berada di dekat pilar mungkin akan membantunya menyortir semua itu. Tungkunya tak dipadamkan, menghangatkan tubuhnya selama ia tidak lupa membalikkan badan.

Pilar itu sudah tidak menyangga apa-apa lagi. Mengapa terus dibawa? Apakah sebagai kenangan akan pengguna mokuton yang membuatnya? Sejarah klan mereka tidak jelas waktu dan nama-namanya…

Sembari berpikir, jemarinya membentuk segel ular dan menumbuhkan dahan dari pilar itu. Setiap dahan mewakili karakteristik kayu berbeda. Ada yang sekeras bebatuan, ada yang lentur. Ada yang berwarna gelap, ada yang seputih bulu kelinci. Denyutannya kentara, berbeda dengan pilar yang dingin. Lebih banyak lagi ia tumbuhkan hingga pemandangan langit-langit rumah tertutupi mokuton dalam seratus jenis.

Seratus wujud. Namun, tetap mokuton.

Jika kunoichi harus bisa memainkan seratus macam peran, maka bagaimana dengan dirinya? Peran apa yang diinginkan ayahnya untuk Hashirama jalani?

Peran apa yang ia ingin jalani?

Yang diketahuinya, ia hanya ingin menghentikan pertikaian. Tak peduli apa awal mulanya, tak peduli mereka akan kehilangan pemasukan. Di luar sana ada orang-orang yang hidup tanpa perlu memenggal leher orang lain. Mengumpulkan abu sisa bakaran, atau membersihkan kotoran manusia di permandian umum. Terdengar hina dan sama-sama bau, tetapi baginya lebih baik bersimbah kotoran daripada darah segar.

Mengapa ia yang dianugerahi mokuton? Mengapa bukan Tobirama saja? Adiknya itu lebih siap mengemban tugas, lebih ahli dalam ninjutsu. Ayah mereka jelas mempersiapkannya sebagai calon pemimpin. Di medan perang, seorang pemimpin harus bisa mengambil keputusan penting dalam waktu sempit.

Hashirama tidak yakin ia akan bisa. Apalagi … jika ia harus melukai bocah yang pernah dianggapnya sebagai sahabat.

Tunggu. Mereka seumuran. Madara pasti bukan seorang bocah lagi.

Akankah ia berubah pikiran?

Hashirama tidak mengenal satu Uchiha pun selain Madara. Jika ia bisa membujuknya untuk sama-sama menghentikan permusuhan dan berdamai, mereka pasti bisa— ia sudah mendapatkan mokuton, kekkei genkai legendaris klan Senju. Tinggal ia perkuat saja.

Tidak, ia tidak akan menggunakannya untuk menghancurkan Uchiha. Hanya untuk melindungi klannya saja.

Kedua pipinya menghangat ketika sebuah ide lain terlintas usai meninjau percakapan kedua calon kunoichi tadi siang. Bagaimana jika Hashirama menawarkan diri menikah dengan Madara? Bisakah klan mereka berhenti berseteru?

Lama ia berbaring nyalang menatap kreasinya yang saling silang di atas kepala. Anak-anaknya pasti berambut hitam dan bermata merah. Kemungkinan juga tanpa mokuton.

Dahan-dahan buatannya lenyap dalam kepulan asap. Ujung patah pilar itu kembali terlihat. Ia tidak menahan struktur rumah, maupun menyangga atap. Mengapa dipertahankan?

Haruskah ia menjaga darah mokuton-nya awet? Tidak seperti ninjutsu elemen dasar lainnya, mokuton jauh lebih berguna untuk melindungi dan menaungi daripada menyerang dan membunuh. Siapa pun yang ia pilih menjadi suaminya nanti, mokuton itu mungkin akan tetap muncul beberapa generasi kemudian.

Ada perasaan tak nyaman menemani pikiran tentang semua Senju yang mulai menggantungkan harapan pada mokuton-nya. Hashirama tak mungkin selamanya bisa menjaga kerabatnya. Lagipula, sebelum kekkei genkai ini muncul pada dirinya, klan Senju bisa cukup makmur….

Bukankah menunaikan tugas tanpa cela adalah tujuan hidup seorang shinobi?

Kelopak matanya memberat. Semakin berat.

Suara kecil di dasar hatinya berbisik, mungkin saja suatu hari nanti mokuton akan menunjukkan diri pada seorang anak berambut hitam dan bermata semerah iblis….


.

"Hokage-sama, tolong beristirahatlah."

Hashirama bergeming, kedua telapak tangannya masih berpendar kehijauan beberapa senti di atas kulit perut Tobirama. Kedua lengannya sudah mati rasa. Kebas. Ia telah mempertahankan posisi itu begitu lama, nyaris tak menarik napas kecuali samar-samar. Kini, pendaran hijaunya semakin redup. Hashirama menggertakkan gigi, memaksakan lebih banyak cakra keluar.

Ada kerusakan dalam tubuhnya yang hanya bisa diperlambat oleh ninjutsu penyembuhan. Hashirama adalah penyembuh terbaik yang dimiliki Konoha. Namun, kerusakan ini terlalu bebal untuk diatasi. Semua jaringan yang berhasil dipulihkan, kembali rusak setelah beberapa saat. Air matanya tak sanggup lagi keluar, dan yang mengalir di pipinya sudah lama kering.

Tak ada luka luar parah di sekujur tubuh adiknya, kecuali lecet dan sedikit luka bakar. Pakaiannya sendiri dikotori jelaga, darah, dan tanah. Entah bagaimana caranya semalam ia melawan Yonbi….

Pikirannya terus terpusat pada fakta bahwa mereka hanya punya waktu dua hari untuk mencegah racunnya membuat kerusakan permanen, bahwa tim penyembuh terbaik desa harus bekerja tanpa henti di sisi adiknya, dan bahwa tak satu pun orang tahu racun apa yang sudah masuk ke tubuhnya.

"Kamu harus mandi."

Anjuran itu berhasil menembus penghalang yang Hashirama buat agar ia bisa tetap fokus. Namun, ia masih bebal.

"Mereka sedang membuat penawarnya." Sepasang tangan memegangi kedua bahunya. "Jangan sampai kamu sakit juga."

Tubuhnya begitu lemas, bahkan untuk berterima kasih pun bibirnya enggan bergerak. Hashirama terkulai di gendongan Madara hingga mereka tiba di kamar mandi. Air hangat di dalam bak mandi membuainya, melemaskan semua ototnya yang tegang sejak meninggalkan paviliun semalam.

Kepalanya bersandar di ujung bak. Rasanya sulit dipercaya begitu banyak yang terjadi dalam semalam. Desa yang mereka bangun diserang bijuu lagi, dan seseorang ingin membunuh Tobirama. Mungkin … inikah yang namanya karma?

Sebuah pertanyaan terlontar ketika bibir mereka berpisah. "Tapi … desa … bagaimana dengan desa?" Hashirama menggenggam pergelangan tangannya yang menopang tubuh di tepian bak.

"Kamu fokus saja dengan Tobirama," Madara menenangkannya. "Biar aku yang mengurus pemulihan desa. Orang-orang yang terluka bisa tinggal di rumah-rumah Uchiha sampai mereka cukup sehat untuk pulang."

Gelombang perasaan penuh haru menyapu seluruh dirinya. Tatapan Hashirama melembut. "Anata, terima kasih."

Madara meninggalkan rumah mandi duluan. Sehelai kimono hitam sudah dipersiapkan untuknya. Ketika mengikatkan sabuk, Hashirama menyadari ukurannya sungguh pas, tidak sempit di dada maupun panggulnya yang di atas rata-rata.

Saat tiba di ruang yang menjadi tempat perawatan Tobirama, ia baru melihat separuh ruangannya sudah disekat untuk Izuna. Seorang penyembuh lelaki bertangan satu menyuapkan bubur untuk perempuan itu. Separuh tubuhnya tertutup perban. Ia melirik ke sebelah. Enam penyembuh masih bekerja keras di sekeliling Tobirama. Mereka baru saja mengganti pakaiannya lagi dengan kimono hitam serupa.

Hashirama memperhatikan perempuan itu. "Izuna," panggilnya sembari berlutut. "Kamu…."

Walaupun separuh wajahnya tertutup kain, Izuna langsung mengenalinya. Bibirnya pecah-pecah, dan suaranya serak ketika berbicara. Nadanya tetap ceria. "Hai, Kak."

"Hokage-sama, maaf, tapi Izuna-san harus kembali beristirahat," kata si penyembuh sopan. "Nanti saja mengobrolnya."

"Ah— maaf…."

Izuna mendengkus protes, tetapi tidak menolak kembali diselimuti. Hashirama kembali ke sebelah ruangannya, menghabiskan makanan dan tehnya yang sudah lama dingin kemudian kembali bekerja. Mualnya datang dan pergi, tetapi ia bertekad tidak akan berhenti sampai tenaganya habis.

"Apa … ada kemajuan?"

Para penyembuh yang ditanyanya saling bertukar lirikan. Kyoko menggigit bibirnya, lalu menggeleng pelan.

"Hokage-sama, ini bukan racun biasa," ungkapnya nyaris berbisik.

Anggota timnya yang sedang bertugas menggunakan byakugan segera menegur memperingatkan, "Kyoko!"

"Kaji-san, dia keluarganya, dia berhak tahu."

Detak jantung Hashirama terasa tak nyaman. Dingin. "Beri tahu aku."

"Racun ini bertindak seolah … seolah ia punya pikiran sendiri." Kyoko menyusuri bagian tubuh Tobirama di bawah pendaran ninjutsu penyembuh. "Kami menghalanginya merusak organ-organ vital, tapi ia selalu menemukan tempat baru untuk dirusak. Dilihat dari jumlahnya, kami jadi ragu…."

"Ragu apa?" sambar Hashirama tak sabaran.

"Ragu jika ini benar racun biasa," Kaji menyelesaikan kalimatnya. "Caranya bertindak tidak seperti racun."

"Apa nggak ada … cara permanen…." Lidahnya mendadak kembali kelu. Hashirama jatuh terduduk. Jantungnya kembali berdebar kencang.

"Selain mencari penawarnya, um … dikeluarkan manual saja."

"Manual—!" Kyoko terperanjat. "Maksudmu, membuka kulit dan jaringannya sampai menemukan racun itu?"

Kaji mengangguk.

"Tunggu apa lagi? Lakukan!"

"Letaknya begitu dalam, Hokage-sama, kami tidak tahu cara mengisolasinya dari jaringan lain. Risikonya cukup tinggi!"

Hashirama berusaha mengatakan sesuatu, tetapi hanya isakan tajam yang keluar dari mulutnya.

Ini pasti bohong. Ini pasti mimpi. Ia berhasil menghentikan peperangan antarklan, tetapi Tobirama … satu-satunya adiknya yang tersisa….

Seharusnya Konoha aman. Seharusnya tidak ada lagi yang mati sia-sia seperti ini.

Para penyembuh kini berdiskusi sembari berbisik, bertanya-tanya apakah klan lain memiliki metode penyembuhan yang bisa menyelamatkan nyawanya. Namun nihil. Jika tidak berhati-hati, jaringan dan organ lain bisa terkena.

Apa benar-benar tidak ada cara lain?

Para penyembuh bergantian merawatnya sementara Hashirama bagai kehabisan tenaga— hanya bisa duduk di sebelah kepalanya, berharap adiknya akan membuka mata kapan saja.

Firasat tak nyaman menyerangnya. Hashirama menempelkan telunjuk dan jari tengahnya di nadi Tobirama. Detak jantungnya begitu lemah. Ia hanya sanggup dan sempat memanggil nama penyembuhnya, sebelum napasnya sendiri berubah pendek-pendek. Sesak.

Ia mendengar Kyoko memerintah tim penyembuhnya dengan nada-nada mendesak. Lebih banyak tangan berkumpul memendarkan cahaya kehijauan. Penyembuh lain berusaha memompa jantungnya. Seseorang berusaha menyeretnya menjauh dari Tobirama.

"Aku— biarkan aku di sini!" Hashirama bersikeras, menepis pegangan di bahunya. Ia berhenti memberontak ketika mengenali suara lembut yang membalasnya. Suara yang seharusnya tidak ada di Konoha.

"Hashirama, tenanglah."

Tatapannya beradu dengan sepasang iris kelabu milik Uzumaki Mito. Ia masih mengenakan pakaian serba putih; kini dinodai oleh cipratan lumpur. Wajahnya penuh kecemasan.

"Aku … kamu…." Hashirama kebingungan. Bagaimana bisa Mito ada di Konoha?

Para penyembuh masih terus bekerja walau mereka sesekali mencuri pandang pada para pendatang di ruangan. Orang kedua memasuki ruangan itu tanpa diminta, memandang berkeliling, lalu berdecak merendahkan.

"Mengapa Tobirama harus dirawat di sini? Kediaman Senju tidak jauh," celanya. "Hashirama-chan, kau seharusnya tidak di sini juga." Rambutnya yang kelabu kemerahan diikat dengan cincin logam. Sebelum Hashirama bisa menyapa atau memberikan penjelasan, Uzumaki Ashina beralih pada tim penyembuh. "Jelaskan." Ia mengedikkan dagu ke arah Tobirama.

Kyoko menjawabnya, "Racun—"

"Penawarnya?"

Kyoko menggeleng.

Alis lebat Ashina menukik tajam selama ia mencerna situasi, kemudian ia berbalik pada Hashirama dan berlutut di hadapannya. "Aku bisa mengeluarkan racunnya dengan fuuinjutsu."

Mata perempuan itu seketika melebar. "Ashina-san, tolong—"

Telunjuk lelaki tua itu teracung. "Ada syaratnya."

Saat itu, pendatang ketiga muncul. Ia tidak masuk, tetapi hanya bersandar di pintu.

Hashirama tidak perlu melihat untuk tahu bahwa itu Uzumaki Nobuo.

"Pertunanganmu dengan Nobuo tetap berlanjut."

"Ashina-san! Tobirama, adikku—!"

Jenggot lebatnya bergerak-gerak seiring melebarnya senyuman kepala klan Uzumaki itu. Ekspresinya puas.

Suara keras di belakang mereka mengalihkan perhatian. Partisi kayu yang membagi ruangan sudah terdorong ke tepian. Izuna, masih berbaring di kasurnya dengan satu lengan ke samping, menarik napas pendek-pendek. Cakranya pekat memenuhi udara.

"Tobirama sekarat," desisnya. "Teganya kalian!"

"Izuna…."

Nobuo membungkuk sedikit, melihat kekacauan di dalam. "Kau orang luar," dengkusnya. "Jangan ikut campur."

"Kau—!"

"Izuna, sudahlah…!" Penyembuh di sampingnya bergerak cepat mendirikan partisi kembali, menggumamkan maaf pada tetamu dan sang Hokage. Sesaat terdengar omelan Izuna, disusul suara si penyembuh yang pelan menenangkan. Lalu sirna.

"Bagaimana, Hashirama-chan?" Benang-benang bordiran mantel kelabu Ashina gemerlapan ditimpa cahaya lilin ketika ia berdiri tegak. Walaupun ia lebih pendek, kali ini ia menjulang di hadapan Hashirama. Tubuhnya menghalangi perempuan itu dari cahaya dan adiknya yang terbaring koma.

Ia menggertakkan gigi.

Konoha dibangun sebagai pelindung adik-adik mereka yang tersisa. Agar mereka tidak mati sia-sia.

Sekujur tubuh Hashirama gemetar. Lelah, letih, dan mual bercampur menjadi satu dengan amarah. Namun, ia berhasil menguasai dirinya. Kata-kata yang ia ucapkan selanjutnya terasa begitu berat.

"Aku tidak akan membatalkan pertunanganku. Ashina-san, tolong sembuhkan Tobirama."


.

"Kamu mendengarku, tidak?"

Hashirama mengerjapkan mata, menatap Mito yang membentangkan sebuah gulungan besar dengan simbol-simbol aneh tertulis di permukaan kertasnya. Wajah gadis itu cemberut, separuh tersembunyi di balik kertas. Hiasan rambutnya yang dipenuhi simbol bergoyang-goyang tertiup angin sepoi-sepoi.

"Iya, iya, aku dengar." Ia tersenyum mencoba menghibur.

Mito menurunkan gulungannya. Bahunya lemas. "Coba ulang aku tadi bilang apa."

"Er…." Hashirama melirik ke sisi. Yang terakhir didengarnya hanyalah tentang syuriken dan bola-bola duri sebesar kepala manusia. Entah apa itu ada hubungannya dengan fuuinjutsu.

"Ahh, sudahlah." Kertas itu kembali digulungnya. "Aku menyempatkan bawa semua catatan teoriku buat masalah bijuu Konoha. Berikan saja pada … pada siapa pun yang paham, deh." Ia mengumpulkan empat gulungan lainnya yang lebih kecil, memeluk semuanya di dada. "Sampai nanti."

"Mito—" Hashirama berusaha mencegah, tetapi sepupunya sudah pergi dari kamar. Lama ia menatap ambang hingga suara langkah kakinya memudar di lorong. Helaan napas panjang keluar dari sela bibirnya. Jempolnya mengelus lembut punggung tangan pucat di genggamannya.

Hashirama belum melihat Madara selama dua hari sejak mereka memindahkan Tobirama dari kediaman Uchiha.

Uzumaki Ashina berhasil mengisolasi semua racun di tubuh adiknya dalam sebuah operasi panjang yang dibantu oleh para penyembuh. Semalaman ia bekerja tanpa berhenti sejenak pun. Selama itu, Hashirama hanya bisa termenung. Pemandangan para penyembuh yang mondar-mandir bekerja tertangkap matanya, tetapi gerakan mereka terasa begitu jauh. Tak terjangkau.

Kondisinya membaik cukup cepat, cakranya pun kembali mengalir normal. Ketika sudah cukup stabil, pagi itu mereka memindahkannya ke kediaman klan Senju— Hashirama bahkan tidak ditanyai pendapatnya soal itu. Penyembuh klan mengawasinya setiap saat, dan seorang penyembuh Hyuuga datang sesekali untuk menggunakan byakugan-nya. Tidak banyak yang diizinkan menjenguk, sehingga jarang ada sepupu-sepupu muda mereka terlihat. Paman dan bibi sisa anggota dewan klan datang sekali saja, lalu berbincang dengan Ashina di luar. Sesekali, nama kakak-beradik itu disebut-sebut.

"Adikmu jauh lebih sehat di sini," kata Ashina ketika ia kembali dan menggeser jendela-jendela kayu di kamar yang digunakan Tobirama. "Lihat, jauh lebih lega daripada kamar sempit di sana." Pemandangan di luar menunjukkan pohon-pohon maple yang sudah berganti merah daun-daunnya. Ranting-rantingnya melambai lembut ditiup angin. Sesekali guguran daun mendarat masuk ke kamar.

Hashirama memilih mendiamkannya, dan memperhatikan Tobirama. Napasnya sudah lebih teratur. Tangannya masih agak dingin, karena itu ia menggenggamnya dengan kedua tangan, berusaha menghangatkannya. Di bawah siraman sinar matahari pagi, wajahnya pun tidak lagi pucat. Lebih sehat. Cahaya yang membanjirinya memperjelas bentuk-bentuk dalam motif samar kimono hitam yang dikenakannya.

"Tidak beristirahat?"

Hashirama menggeleng. "Mau di sini saja."

Ashina mendudukkan diri di seberangnya. "Masih ingat apa yang kubilang di surat waktu itu?"

Ia meliriknya dengan dahi berkerut.

"Balasan dari suratmu yang menceritakan proyek pendirian desa ini." Lelaki tua itu telah menanggalkan mantelnya. Di bawahnya ia mengenakan tunik kelabu polos. "Sudah kubilang idemu berbahaya. Mengundang musuh tinggal bersama kalian! Cepat atau lambat hal seperti ini pasti terjadi," tambahnya sambil melempar senyuman simpatik ke arah Tobirama.

"Pendapat Ashina-san tidak berubah." Bukan pertanyaan— ia tahu persis apa yang tersirat dari kata-katanya.

Ashina menggeleng.

"Tapi ini bukan klan Uchiha yang melakukannya."

"Sama saja. Untung sekali aku datang tepat waktu."

Tidak terpikirkan olehnya bagaimana dan mengapa ketiga Uzumaki itu bisa berada di Konoha begitu cepat. Lokasi mereka cukup tersembunyi; sudah sering menyesatkan pembawa pesan dan kurir.

"Bagaimana Anda bertiga menemukan Konoha?" Dagunya ia angkat, tetapi tatapannya melampaui lawan bicaranya. Langsung ke dedaunan merah di luar kamar.

"Pengawalmu," jawabnya singkat. "Kau tidak muncul di pesta berikutnya. Kaisar curiga. Kamarmu kosong, tetapi bawaanmu masih ada. Kaupergi terburu-buru."

Rasanya lama sekali ia mencerna penjelasan itu. Otaknya terasa sulit menyambungkan semua hal yang baru saja disebutkan dengan tindakan-tindakannya dalam dua hari terakhir. Ketika Hashirama menemukan konklusinya, sebuah pertanyaan pun terlontar. "Apa Anda di sini atas perintah Kaisar?" Suaranya bagai kehilangan nyawa. Datar, tanpa emosi kentara.

Ashina hanya tersenyum simpul. "Yang Mulia butuh shinobi yang bisa dipercayainya untuk … ah, mengenal Konoha lebih jauh." Melihat ekspresi perempuan itu, ia menambahkan, "Kaisar punya alasan untuk mencurigai kalian."

Ia mengisi penuh paru-parunya dengan udara sebelum merespons, "Bisa dipahami. Setelah Konoha kembali pulih, saya akan menghadap Kaisar."

Ashina melempar tatapan santai ke Tobirama, lalu berkata, "Ada satu hal yang mengganjalku. Bagaimana bisa kau yang menjadi Hokage? Bukannya aku tidak setuju," ia mendengkus, seolah menahan geli, "sungguh bagus kekuatan sentralnya tetap ada di tangan Senju. Tetapi kau memulai Konoha dengan klan Uchiha. Setelah bertemu di kastel tempo hari, aku tidak akan curiga jika dia tidak menyetujui pengangkatanmu."

Mau tak mau Hashirama teringat apa yang terjadi setelah hasil pemilihan Hokage diumumkan. Saat itu Madara segera meninggalkan ruangan usai memberinya selamat. Ia bisa menduga apa sebabnya— yakni hal yang mereka rencanakan di malam penandatanganan perjanjian damai. Namun, itu bisa jadi bukan satu-satunya.

"Kudengar dari Mito para kepala klan memilihmu."

"...Itu benar," Hashirama mengiyakan lirih. Matahari mulai bergeser dari puncak langit.

Tawa halus terlepas dari mulutnya. "Bagaimana bisa?"

Dalam hati Hashirama berharap tidak berada di sini, tidak terjebak dalam pertanyaan yang terus menyudutkannya. Bagai menjawab doa bisunya, Senju Azami muncul di pintu, menawarkan makan siang kepada mereka. Ashina langsung menerimanya, sementara Hashirama menolak. Ia bersyukur tak perlu menjawab pertanyaannya. Namun, kelegaan itu berlangsung terlalu cepat.

Azami masih berlama-lama di pintu setelah pria yang lebih tua berlalu. "Aku tidak bermaksud intrusif, Hashirama," katanya lembut. "Tapi kau belum makan apa-apa."

"Makan di sini saja…?"

"Keluarlah sebentar," ajak pamannya. "Sebentar saja."

Ada sesuatu di nada suaranya yang membuat Hashirama tak tega menolak. Mungkin karena ia mirip Senju Butsuma, kalau ayahnya itu masih hidup dan sudah total beruban. Perasaan bersalah yang sudah lama tak dirasakannya menyeruak ke permukaan benak.

Perlahan-lahan ia bangun mengikuti pamannya. Kaki kayunya bergema di lorong dalam bunyi ketukan teratur. Hashirama terus meliriknya, menyaksikan replika sempurna kaki itu menyembul dari balik mantel sang paman di setiap langkahnya. Ia yang membuatnya dua tahun lalu, sebelum klan Senju meninggalkan kediaman lama mereka yang telah hancur.

Wangi madu dan jeruk yuzu mendadak memenuhi udara. Sebuah meja rendah panjang di tengah ruangan sudah dipenuhi makanan, mengundang rasa laparnya keluar dari balik gunungan stres.

Bantal duduk yang disediakan untuknya terletak di antara Mito dan Nobuo. Hashirama melempar senyuman sopan pada kedua sepupunya itu sembari bersimpuh. Senju Mayuko menuangkan teh dari teko untuk semua orang, wanginya kental dengan madu dan yuzu.

Matanya mengamati semua orang. Hanya Hashirama seorang yang berpakaian gelap di meja itu.

"Bagaimana Tobirama?" Senju Joji duduk di ujung meja, tampak lebih sehat dari biasanya. Ia sudah mulai makan duluan.

"Masih belum sadar, Pamanda."

"Omong-omong," Nobuo menarik atensinya dan meletakkan telur gulung ke mangkuk nasi Hashirama. "Aku tidak melihat adikmu yang itu … siapa namanya, Sawamura? Yang takut kodok itu, lho. Dia ikut pindah, 'kan?"

"Sudah tewas," sambarnya dingin. Sumpitnya beradu keras membelah telur itu. Dalam bayangannya, jalinan kuning cerah itu adalah gelembung semi transparan kecil-kecil….

Hashirama fokus pada makanannya, mengabaikan semua obrolan yang berlangsung. Sepertinya yang lain menganggapnya kelaparan, sehingga ia tidak dilibatkan dalam percakapan. Mito berkali-kali gelisah di bantalnya, mengeluhkan kakinya yang bengkak kelelahan sejak meninggalkan kastel. Nobuo berusaha mengajaknya mengobrol lagi dan menawarinya penganan. Hashirama tidak mengindahkan keduanya.

Ashina berujar, suaranya mengalahkan semua obrolan lain, "Kurasa yang terbaik adalah menikahkan kalian esok hari."

Kepalanya tersentak. Lelaki tua itu tersenyum hangat. Sebuah tangan merambat di pinggangnya.

Perutnya mual.

"B, besok…?" ulangnya tak percaya. Ia berhasil mempertahankan ekspresi netralnya, walau benaknya sudah kacau balau, tak sabar ingin mengakhiri semua sandiwara ini. Pegangannya di gelas teh mengerat, berusaha mengisap semua kehangatan cairannya. "Mengapa cepat-cepat? Tobirama bahkan—!"

"Kamu sudah terlalu tua," jawab Joji tak acuh. "Seharusnya kau sudah dinikahkan sepuluh tahun lalu. Tapi ayahmu menolak, lalu kau terpilih jadi ketua klan. Mana kita sedang sibuk-sibuknya berperang."

"Anakmu akan sakit-sakitan jika kau melahirkan terlalu tua," Mayuko menimpali. "Nanti semua pekerjaan kita sia-sia."

Hashirama menatap Mito, mencoba meminta penjelasan, tetapi ia hanya mengaduk-aduk irisan daging dalam sausnya. Bibirnya manyun.

"Jangan cemas," terdengar bisikan Nobuo— suaranya terlalu dekat. "Aku akan menjagamu baik-baik. Kau akan aman di ibukota—"

"Apa?!" Kepalanya menoleh begitu cepat hingga lehernya sakit. Wajah mereka terlalu dekat, membuat Hashirama segera beringsut menjauh.

"Terlalu sering perang tidak baik untuk anakmu. Kaubisa tinggal di istana, menyambungkan Konoha langsung dengan Kaisar. Sama-sama untung, 'kan?"

Azami menatap Joji penuh kekesalan, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Mayuko menyambung lagi, "Itu yang diinginkan ayahmu, Hashirama. Kau lebih aman bersama Nobuo."

Mengapa semuanya tiba-tiba berkata begini? Tidak ada orang lain yang sibuk mengurus hal ini kecuali para anggota dewan klan. Kerabatnya yang lain, yang lebih muda, tak satu pun pernah mengungkit-ungkit hubungannya dengan Madara.

Tapi itu karena mereka tidak tahu, dan mereka masih mematuhiku sebagai kepala klan….

Bagaimana dengan klan Uchiha sendiri?

Seolah memahami kebingungannya, Azami angkat bicara, "Sejak mokuton terakhir lenyap, kami mencoba membangkitkan kekkei genkai ini kembali dan membuatnya permanen. Semua keturunan pemakai mokuton dimonitor ketat agar tidak … tidak sengaja membuang garis darahnya."

"Maksudnya, menikahi orang dengan asal usul darah yang tidak jelas," kata Ashina, "dan membuang semua kerja keras kami selama ratusan tahun."

"Setelah ibu dan adik-adikmu tewas, tinggal kamu seorang yang masih membawa darah mokuton."

Semua orang masih meneruskan makan dengan santai. Kenyataan ini jauh lebih sulit dicerna. Lidah Hashirama pahit. Untunglah begitu; jika tidak, ia mungkin akan mengatakan sesuatu yang bisa menghancurkan rencananya….

Namun, apakah semuanya sepadan? Mengubur semua kerja keras mereka, menghilangkan kekkei genkai yang begitu berharga, melepas ninjutsu terkuat yang pernah ada?

"Aku..." Hashirama menelan ludah. "Aku mau beristirahat." Ia menyambar gelas tehnya dan cepat-cepat meninggalkan meja. Kakinya tergesa membawanya kembali ke kamar Tobirama, tetapi akhirnya berhenti di selasar depan pintunya. Bibirnya gemetar ketika menyesap tehnya. Perutnya bergolak, diperparah dengan percakapan barusan.

Mereka sudah tidak memerangi satu sama lain lagi; mokuton-nya sudah tidak begitu dibutuhkan….

Tidak. Mereka masih berperang dengan sebuah kekaisaran nun jauh di utara. Sudah tiga kali terjadi serangan bijuu dalam dua tahun terakhir. Mokuton-nya masih sangat dibutuhkan. Kegunaannya di luar perang pun luar biasa berguna.

Namun, klan Senju sudah cukup kuat bahkan sebelum Hashirama membangkitkan mokuton….

"Hashirama." Nobuo muncul di kelokan. "Kamu—"

"Diam di situ," perintahnya.

Ia tidak mematuhinya, nekat melangkah maju sampai Hashirama membelalak kepadanya.

"Aku cuma cemas," ujarnya dengan raut wajah tak ramah. "Apa kamu sakit?" Ketika tiada jawaban datang kecuali tatapan datar dari perempuan itu, Nobuo melanjutkan, "Kakek sudah memikirkan, kita menikah di sini cukup dengan upacara kecil, dan pestanya—"

"Aku dengar percakapanmu dengan … dengan seorang perempuan di kastel," potong Hashirama. "Di taman. Kalian berantem."

Mulut Nobuo membuka tanpa suara, dan ekspresinya menggelap. "Kamu percaya cewek gila sepertinya? Kamu tidak kenal dia."

"Aku juga tidak mengenalmu," sambarnya cepat. "Bukankah tak baik meminta seseorang menikah dengan orang yang tak dikenalnya?" Hashirama bahkan tidak lagi berusaha tersenyum. Cakranya bergelung seperti seekor monster di perutnya, menanti kontrolnya lepas untuk meledak.

"Kamu ini milikku. Ayolah, semua orang juga begitu." Nobuo menghela napas. Ia bersandar ke dinding, sikap tubuhnya santai. "Kamu akan punya kesempatan mengenalku setelah kita menikah nanti. Kau akan tahu aku ini lebih baik dari … iblis yang kaubawa ke kastel itu."

Hashirama memicingkan mata.

"Tidak butuh waktu lama di dusun ini untuk tahu semua tentangmu, Nona Senju," tambahnya sembari tersenyum puas. "Hubungan kita akan jelas seketika. Semua orang akan diberi tahu. Dan anak-anak kita pasti mewarisi mokuton-mu. Klan kita akan jadi yang terkuat di Hinokuni. Tidak akan ada yang berani melawan kita."

Tangannya yang menempel di permukaan dinding membuat retakan halus tanpa menggerakkan satu otot pun. Perlahan-lahan, senyumannya kembali. "Kaubisa menawariku belasan gunung penuh emas, Nobuo," ujarnya, "tetapi aku tidak akan rela menikahimu."

"Dan melupakan gunungan utang budimu kepada klan Uzumaki?"

"Aku tidak akan lupa." Hashirama membungkuk singkat, lalu mundur memasuki kamar. Cepat-cepat ia menutup pintu. Gelas tehnya ia tinggal di meja rendah, kemudian ia keluar melompati jendela sepelan mungkin.

Ia terhuyung menuju pohon terdekat, lantas memuntahkan isi perutnya di kaki pohon itu. Tenggorokannya terasa asam dan terbakar. Ketika mengangkat kepalanya, ia nyaris terlonjak. Ada sesuatu yang seharusnya tidak berada di antara dedaunan merah pohon maple.

Tobirama bersandar pada sebatang pohon. Kimononya longgar diikatkan, jelas memperlihatkan ikatan perban di dadanya. Ia mengerjap-ngerjap sejenak karena cahaya yang benderang. "Kakak masih mual-mual…?"

Alih-alih menjawab, Hashirama merengkuhnya dalam pelukan erat. Apa pun yang akan dikatakannya tertelan oleh isakan tajam. Air matanya meleleh ke pakaian adiknya. "Kamu— kamu nggak mati…." Akhirnya ia mampu berbisik, walau gagu dibelit tangis. "Kamu hidup…!"

"Aku sudah sadar dari tadi," katanya serak. Ia tampak lebih canggung ketika melepaskannya. "Aku … aku dengar semuanya," akunya lirih, "samar-samar, tapi…."

Kedua lengan Hashirama melemas, jatuh dari bahu adiknya. "Eh?"

Ia mendorong poninya ke belakang. Urat di punggung tangannya terlihat jelas. "Percakapan Kakak beberapa saat lalu, di luar kamar." Ekspresinya sejenak bagai kesakitan, pelipisnya ia pijat. Ia mengamatinya dari ujung rambut hingga kaki. "Itu pemberian Madara, 'kan?" tanyanya, merujuk ke kimono yang sekarang Hashirama pakai. "Aku sudah lihat arsip desa— arsip pasangan antarklan."

Selama sesaat setelah pernyataan itu dilontarkan, Hashirama hanya terpaku di tempat. Ingatannya ia gali hingga hari ketika ia menerima hasil sensus penduduk pertama Konoha, dan pada lembaran yang ia isi sendiri. "...Kamu sudah tahu," gumamnya.

Tobirama hanya tersenyum getir.

"Tapi mengapa kamu di luar?" Hashirama segera membelokkan pembicaraan sebelum ia sempat melanjutkan topik itu, "ayo kembalilah…."

Adiknya mengangkat bahu, mengamati bangunan rumah utama. "Tadinya kukira aku … masih melawan bijuu. Lalu kudengar suara Kakak dari balik tembok." Ia menatapnya, suaranya dipenuhi urgensi tak terbantahkan. "Izuna— gimana Izuna?"

"Dia—"

Suara langkah dan obrolan keras bergema dari dalam rumah utama, sesekali diselingi tawa. Entah mengapa, bulu kuduk Hashirama berdiri.

Dahi Tobirama berkerut. "Siapa yang bersama Paman Azami dan Joji di dalam…?"

"Bibi Mayuko, dan…." Lidahnya kembali terasa pahit ketika melanjutkan, "Uzumaki Ashina. Juga Mito dan Nobuo."

Keduanya terdiam, mendengarkan langkah-langkah yang pelan tetapi pasti menuju kamar Tobirama. Ia berbalik begitu cepat, matanya berkilat-kilat. "Kakak ikut aku."

Hashirama mengiyakan tanpa suara, merasakan tangan adiknya menyambar pergelangan, lalu ruang menyempit dan melebar dalam sekejap mata—

Ia menemukan diri mereka di batas hutan Senju, tempat jalinan maple bertemu kumpulan pinus dan aras. Adiknya jatuh terduduk, terengah-engah sambil mencengkeram bekas luka bedahnya. Hashirama segera berlutut di sisinya, tetapi Tobirama langsung menggenggam tangannya untuk berdiri. Tubuhnya terhuyung.

"Harus … pergi."

"Kamu mau ke mana—?"

"Lihat Izuna." Tobirama menggertakkan gigi, mengerahkan tenaga dengan susah payah hanya untuk menegakkan diri.

"Dia nggak apa-apa. Jangan gelisah—"

"Aku harus lihat!" desisnya keras kepala. "Aku nggak tahu … apa yang terjadi selama…." Ada urgensi tak terbantahkan melintas di ekspresi adiknya dalam sekejap. Rahangnya menegang seolah menahan sakit.

Tak punya pilihan lain, Hashirama memapahnya sampai ia bisa berjalan sendiri. "Penyembuh bilang kau diracun," celetuknya tiba-tiba, tetapi pengungkapan itu diabaikannya.

"Izuna bagaimana? Apa dia—?"

"Luka-luka, tapi hidup…." Hashirama mendapati wajahnya lega luar biasa. "Itu, Tobirama … Ashina-san yang menyembuhkanmu."

"Ashina-sama?!" Tobirama berpaling mendadak. "Bagaimana…?"

Ia menceritakan tentang pertemuan mereka di kastel, dan bagaimana ketiga Uzumaki tiba dua hari lalu di Konoha. "Mereka menyusul kami. Dia—" Hashirama menarik napas tajam dan melepaskan lengan adiknya dari bahu. "Aku mengusulkan pembatalan pertunanganku dengan Nobuo di kastel. Tapi ia ingin melanjutkannya sebagai syarat menyembuhkanmu."

"Kakak nggak—?"

"Aku tidak bisa menyembuhkanmu, tahu. Kamu— kamu tahu aku nggak mengerti soal racun." Tawa lemah keluar dari mulut Hashirama sendiri, yang lama-lama semakin keras begitu ia mencerna situasi. Tanpa disadari, seluruh cerita yang didengarnya di meja makan tumpah ruah dari mulutnya.

Bahunya terasa begitu berat, dan matanya sembap.

"Proyek ratusan tahun demi mengawetkan mokuton…." Tobirama berdecak. "Sialan— dewan bahkan tidak pernah memberitahuku."

Ia menyeka bersih wajahnya, dan melanjutkan berjalan. Enggan rasanya membicarakan hal itu lagi. Tobirama menyusulnya buru-buru, melompati sebatang pohon mati. Sesekali ia mencengkeram perban bekas bedahnya sambil meringis menahan sakit, tetapi ia menolak untuk berhenti barang sejenak. Mereka mengambil jalan memutar melalui hutan-hutan desa untuk mencapai kediaman Uchiha. Hashirama enggan bersua dengan para penduduk saat ini— bagaimana jika mereka membicarakannya seperti waktu itu? Untunglah adiknya juga sepemikiran, tak sekali pun ia meninggalkan batas pepohonan.

Mereka berhenti di balik batang aras, bergeming selama rombongan penduduk melintas tak jauh dari tepian hutan. "Apa yang Kakak rencanakan?" tanya Tobirama tiba-tiba.

Bayangan dedaunan jatuh di wajah mereka berdua. Hashirama bungkam. Ia sungguh tidak ingin berdebat dengannya, apalagi Tobirama baru saja sadar dari komanya.

"Apa yang akan Kakak lakukan," desaknya, "begitu Ashina-sama tahu Kakak tidak bisa menikah dengan cucunya besok?"

"Aku nggak mau melibatkanmu." Kepalanya digelengkan cepat-cepat.

"Nama Kakak sudah ada di catatan sipil!" teriaknya tegang hingga urat-urat lehernya bertonjolan. "Kita akan merusak hubungan puluhan generasi jika mereka sudah tahu Kakak tidak lajang."

"...Sudahlah."

Kernyitan muncul di dahinya. "Baik. Kalau Kakak tidak mau buka mulut, kutanya Madara saja."

"Jangan—"

"Tolong beri tahu aku, Kak," pintanya, "kenapa Kakak terobsesi dengannya? Kakak sudah tidak harus dekat dengannya untuk menghentikan perang. Sudah ada perjanjian antarklan. Sepupu-sepupu kita yang lebih muda sudah akrab dengan klan Uchiha—" Tobirama mencengkeram lukanya lagi sampai ia membungkuk menahan sakit.

Hashirama membuka mulut, tetapi ia tidak berniat membalasnya. Pertanyaan itu justru terus terngiang di kepalanya. Ia maju, meletakkan tangannya yang berpendar kehijauan di atas luka bekas pembedahannya.

"Yuk, pulang."

Tobirama menggeleng.

Hashirama memelankan suaranya hingga nyaris serendah bisikan. "Mengapa kamu begitu ingin pergi ke tempat Izuna? Kamu belum sembuh."

Adiknya bergeming, tatapannya terarah ke tanah.

Ia memegang lengannya dengan lembut, mengajaknya pulang lagi tanpa suara.

"Aku— aku harus, Kak."

"Kenapa? Kamu nggak percaya waktu kubilang dia baik-baik saja?"

"Kakak bilang dia luka." Sepasang mata merah tua itu melirik ke sisi, menyembunyikan sesuatu dari Hashirama.

"Kamu mencemaskannya."

"'Kan … kami bertarung bersama-sama." Tobirama melipir meninggalkannya.

"Benar hanya itu?" Hashirama menyusulnya, tidak menunggu hingga pertanyaannya dijawab. "Kamu juga yang mengajarinya pengindraan. Kamu membantunya mengaktifkan susano'o kembali. Tanpa kemampuan itu, mungkin dia nggak akan selamat."

"Kakak sendiri—" Kedua kepalan Tobirama terkepal erat. "Mengapa terus menemuinya? Dari dulu hingga sekarang, selalu … selalu Madara saja yang Kakak pikirkan. Dia bahkan bukan keluarga kita! Kakak seperti bukan shinobi saja setiap kali—!"

Hashirama refleks meletakkan tangannya di atas rahim. "Dia ayah anakku, kalau kamu belum lupa," katanya tenang.

"Ya, itu juga— mengapa Kakak mau sama dia?!"

"Kamu sendiri, mengapa nggak suka dia?"

"Demi Rikudou Sennin, Kak, jawab pertanyaanku."

Mengapa?

Hashirama sendiri kebingungan mendapati perasaan yang bergulung-gulung seperti gelombang suiton di dadanya. Yang ia tahu, perasaan itu berkaitan dengan sahabatnya. Namun, perasaan itu belum ada ketika mereka mengikat sumpah di hutan usai menandatangani perjanjian….

"Dia temanku, Tobirama." Ia mendudukkan diri di sebuah tunggul pohon.

"Sahabat nggak…." Adiknya membuat gerakan isyarat ke arah perut Hashirama. Jelas apa yang dimaksudkannya.

"...Bisakah kita membicarakan ini nanti saja?"

Tobirama bergeming sesaat, lalu berbalik pergi.

Hutan yang mereka lintasi bergabung dengan hutan yang menyembunyikan jalan setapak ke kediaman Uchiha. Tobirama memimpin kali ini, memutar menghindari gerbang masuk utama. Masih banyak orang yang mondar-mandir di sekitar gerbang, memapah yang luka kembali ke rumah masing-masing di seluruh penjuru desa.

Kakak-beradik itu bersandar di belakang sebuah gudang, memastikan tidak ada orang lewat sebelum menghampiri rumah utama. Jantung Hashirama semakin kencang berdebar. Madara pasti tidak ada di sini; ia sibuk di tempat lain….

Namun, ketika mereka tiba di ruang tujuan, pintu shoji sudah digeser terbuka menampakkan Uchiha Madara yang mengenakan kimono rumah. Hanya sekilas ia melirik Hashirama, sebelum mendesis pada sang adik, "Apa maumu?"

Suara feminin terdengar dari dalam. "Tobirama?"

Yang dipanggil langsung maju, tetapi Madara merentangkan lengan kirinya di ambang untuk menghalanginya masuk. "Shimura Hisao akan dieksekusi sore ini," ungkapnya dingin, "atas percobaan pembunuhan padamu. Hokage-sama harus hadir," ia menambahkan sambil melihat pada Hashirama.

"Aku akan hadir," jawabnya singkat.

Lengannya diturunkan. Tobirama masuk tanpa merespons sedikit pun pada pengungkapan itu.

"Kau," ujar Madara sambil menutup pintu, "ikut aku." Suaranya tak bersahabat.

"Ke mana—"

Gaung tamparan berkumandang dari dalam kamar, menghentikan langkah keduanya. Hashirama berniat masuk, tetapi Madara memegangi lengannya. Tatapannya penuh arti. Namun, lebih lembut.

"Jangan bohong," Izuna berkata dari dalam, suaranya stabil walau penuh emosi, "kamu tahu kakakmu mencintainya. Kamu bisa melihat mereka setiap mereka bersama. Cakra mereka saja—" Kata-katanya terputus.

Hashirama mencari tangan Madara. Ia menggenggamnya lembut.

"Izuna, maaf."

Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat dada perempuan itu mendadak sesak. Rasa sakit. Sakit yang lama ia pendam. Amarah yang tadi Tobirama tunjukkan di hutan seolah lenyap tak bersisa.

Pertanyaan berikutnya disampaikan dengan lebih tenang. "Apa kebahagiaan Hashi-nee tidak penting buatmu?"

Yang terdengar dari Tobirama bukan sebuah jawaban, melainkan retorika. "Pikirkan jika kamu yang menghadapi dilema ini. Kau sendiri shinobi, kautahu—"

"Kalau begitu untuk apa kau di sini?" tanya Izuna tajam. "Jawabannya sama dengan itu, 'kan?"

"Kurasa sudah cukup," Madara menarik perhatiannya. "Ayo, Hashi."

Kunciran rambut pria itu mengibas saat ia menuntunnya melalui selasar belakang rumah utama yang sepi. Karena langsung berbatasan dengan hutan, tidak ada orang lain yang terlihat di sana. Ketika mereka tiba di sebuah ruangan terbuka, ia menyadari tempat itu familier baginya. Hashirama pernah menginap di sini berminggu-minggu lalu.

Tepatnya, sepuluh minggu lalu. Ia belum lupa apa yang mereka lakukan di antara guyuran badai dan tiupan angin kiriman seekor bijuu.

Sebelum Madara sempat berkata-kata, Hashirama menceplos, "Mereka ingin aku menikah besok."

Tidak ada perubahan pada ekspresi sebagian wajahnya yang terlihat. Tatapan mata kiri Madara menyusuri tubuhnya, turun hingga ke bawah pinggangnya. "Kimononya pas?"

"Ah—?" Ia mengerjap bingung, tak paham mengapa pembicaraan mereka berbelok jauh. "...Pas."

"Ada satu lagi buatmu, tapi untuk saat ini masih terlalu longgar." Madara mengatakannya begitu santai, seolah mengomentari cuaca.

"Soal Uzumaki—?"

"Negosiasi jelas sudah mustahil," ujarnya sambil menggeser pintu hingga separuh menutup. "Apa rencanamu?"

Napas Hashirama terasa berat di dada. "Duel," jawabnya.

Senyuman puas terulas di wajah Madara. "Kalau begitu, jangan berlama-lama di sini, Hokage-sama. Pulanglah." Pintu kamarnya menutup perlahan-lahan.

"Jangan jauh-jauh," pinta Hashirama sebelum ia berbalik untuk menjemput adiknya.


.

Usianya dua puluh tiga tahun.

Punggungnya melengkung. Rahangnya terbuka lebar, menjerit tanpa suara. Matanya berair, rapat terpejam. Napasnya keluar dalam desahan pendek-pendek. Kuku-kukunya menusuk rumput dan tanah. Tubuh Hashirama gemetar, masih memulihkan diri dari gelombang ledakan sendiri.

Sungguh, ia awalnya ragu untuk menyusul Madara ketika sahabatnya itu meninggalkannya di tepian hutan. Ia takut Madara akan menolaknya mendekat, takut akan melukai hatinya lebih jauh lagi. Namun—

Hashirama lebih takut kehilangannya. Memindahkan seluruh klannya ke permukiman ini dan menandatangani perjanjian damai saja tidak cukup untuk mengenyahkan perasaan itu.

Seiring melambatnya napas Hashirama, ia menyadari tubuhnya banjir keringat. Ia memalingkan wajah, canggung. Hanya beberapa saat lalu ialah yang berlutut di tanah, memuaskan lelaki yang baru saja melamarnya. Rasa klimaksnya di lidah masih tersisa. Apa ia melakukannya dengan benar? Ia tak pernah mempraktikkannya— hanya menonton para calon kunoichi dari tempatnya biasa bersembunyi. Sesuai pelajaran, ia memasang telinga untuk mendengarkan semua suara yang Madara buat. Sulit untuk memungkiri bahwa tindakan itu menyalakan sesuatu di dalam dirinya sendiri…

Mungkin ia menyadarinya. Mungkin itu sebabnya Madara kemudian menyuruhnya berbaring beralaskan kimononya sendiri. Giliranmu, katanya, lalu memintanya memandu hingga selesai.

"M, Madara—?"

Wajah lelaki itu muncul dari antara kedua pahanya. Ia menggesekkan pipi pada bagian dalam pahanya, mendaratkan ciuman hangat. Dinginnya udara mulai merambati kulitnya yang terbuka. Hashirama bangun perlahan-lahan. Pangkal pahanya lengket.

"Awal yang ganjil untuk sebuah pernikahan," Madara berkomentar.

Hashirama tidak membalas, hanya tertawa malu-malu seraya memakaikan kimononya kembali. "Maaf bajumu kotor."

Ia hanya mengangkat bahu. "Biarkan saja."

Lama mereka terdiam, bersandar ke sebatang aras raksasa yang sama. Lalu, Madara memecahkan kesunyian.

"Menikahlah denganku, Hashi."

Perempuan itu menyelipkan rambut ke belakang telinganya, menatap pada kegelapan tempat wajah Madara berada. Selama ini Hashirama terlalu berfokus pada klan dan perdamaian yang diincarnya. Tak sedikit pun terbayang suatu hari ia akan menikah dan berkeluarga. Padahal, sepupu-sepupu perempuannya yang sebaya sudah memiliki anak ketika ia masih melatih mokuton-nya.

Atau mungkin ia tak pernah membayangkan karena tahu ia sudah ditunangkan. Masa depannya dalam hal itu sudah terkunci. Namun, kini ia menghadapi sebuah pilihan. Pilihan yang ia sambar tanpa ragu.

"A, aku mau…." Suara Hashirama memelan dan hilang. Terbayang wajah Tobirama dan apa yang akan dikatakannya jika ia berada di situasi ini. Namun, kemungkinan penolakannya dikalahkan oleh debaran jantungnya sendiri. "Tapi, bagaimana dengan klan Uzumaki?"

"Batalkan saja," jawab Madara tanpa basa-basi.

"Nggak bisa begitu, tetua klanku pasti menolak." Hashirama menunduk sejenak. "Aku ketua klan, tapi aku tidak bisa memerintahkan pembatalannya begitu saja." Ia bisa melihat wajah Madara tampak kebingungan, disinari cahaya bintang yang masuk melewati kanopi dedaunan. Maka mengalirlah semua yang ia ketahui tentang pertunangannya; bagaimana hal ini dirahasiakan darinya, bagaimana ia menguping kelas kunoichi, bagaimana ia menutup rapat-rapat yang ia ketahui dari keluarganya— kecuali dari Touka yang kini sudah jauh dari pinggiran Hinokuni, dan bagaimana klan Uzumaki sudah begitu banyak membantu mereka sejak dulu. "Tidak enak jika aku menolak mendadak, apalagi seharusnya aku tidak tahu," Hashirama mengakhiri penjelasannya. "Segala kesibukan perpindahan ini juga…."

"Merepotkan." Madara mendengkus kesal. "Apa Tobirama tidak tahu?"

Ia menggeleng. "Dia pasti memberitahuku jika tahu. Aku nggak ingin merepotkannya juga." Tobirama sudah cukup disibukkan dengan urusan dewan klan dan para daimyo, belum lagi riset-risetnya….

"Kamu percaya itu?"

"Tentu. Dia adikku." Jemarinya mengepal dan melemas di kain bajunya. "Aku memercayainya dengan nyawaku sendiri."

"Jadi aku perlu persetujuan seluruh Senju dan Uzumaki untuk menikahimu?"

"...Kasarnya begitulah." Bahunya menurun. Semangatnya meredup. Ia baru dilamar, tetapi kegagalan sudah membayangi masa depan mereka….

"Kita kawin lari saja," usulnya blak-blakan.

Hashirama membelalak. "Lari ke mana?!"

"Bukan begitu—" Madara terbahak. "Kita bisa menikah diam-diam sesuai adat Uchiha. Saat tunanganmu muncul, katakan saja kau sudah jadi istriku."

"Tapi, pesta dan lainnya … orang lain pasti tahu…."

"Uchiha tidak perlu pesta," katanya tegas. "Cukup sumpah setia."

Hashirama menggenggam tonjolan akar kuat-kuat untuk meredam kekagetannya. "Serius?! Jadi gimana—?"

Terdengar suara gesekan kain, lalu sehelai kimono disampirkan di bahu Hashirama. Ia menggamit tepiannya dengan bingung. Ada tanah di ujung jarinya.

"Dalam tradisi kami," ujar Madara, suaranya melembut, "perempuan dari luar klan harus menerima kimono Uchiha sebagai tanda dia menjadi bagian klan kami."

"...Kimonomu?"

"Ini simbol saja, nanti kubuatkan satu untukmu. Bagian selanjutnya, sumpah." Madara berdeham, lalu menarik napas dalam-dalam beberapa kali. Kata-katanya keluar lambat-lambat. Jelas dan tegas. "Dengan ini, aku berjanji akan melindungimu hingga akhir napasku, atau hingga kau memutuskan untuk menanggalkannya." Ia berhenti sejenak, menengadah ke kanopi hutan. Napasnya berembus lewat mulut. "Dewa dan Leluhur Agung telah mendengar dan menyaksikan."

Perempuan itu bungkam seribu bahasa, meresapi setiap suku katanya yang terus terngiang. Isakannya menggantikan kata, dan Hashirama buru-buru menutupi muka.

"...Hashi?"

"Nggak a— apa-apa…." Ia menenangkannya, memasang senyumannya yang biasa. "A, aku … aku harus jawab bagaimana?"

Madara mengangkat bahu. "Anggukan saja cukup. Kecuali kaumau mengucap sumpahmu."

Hashirama menelan ludah. Ia telah menyaksikan beberapa pesta pernikahan di klannya, bahkan beberapa kali memberi restu pada pasangan baru. Tidak ada sumpah yang sama persis. Namun, mempelai perempuan selalu membuatnya sejak jauh-jauh hari.

Sementara Hashirama harus berimprovisasi saat itu juga.

"Tunggu, Madara. Jika kita menikah sekarang, lalu bagaimana … apa aku harus pindah ke rumahmu? Bagaimana caranya kita menjelaskan pada klan Uzumaki?"

Sejenak sunyi sebelum ia merespons, "Benar juga. Kupikir lebih baik kita tetap sembunyi-sembunyi dulu. Ada banyak hal yang harus diurus di rumah baru kita."

"Ru … rumah baru…." Pipi Hashirama seketika menghangat. "Ah, iya. Kami masih menyurati Uzumaki."

"Kau memberitahu klan Uzumaki soal proyek kita…?"

"Ya, tapi … tapi Ashina-san tidak mendukung rencana kita. Uang yang diberikan untuk membangun kembali kediaman kami ingin kupakai untuk desa baru ki— desa baru kita," ia mengakhirinya cepat-cepat.

Kita.

Mengulangi kata itu di benaknya cukup membuat semangatnya membubung lagi. Ia tidak akan menyerah semudah ini. Mimpi mereka baru saja dimulai.

Meskipun Hashirama kepala klan, mengusulkan pembatalan pertunangannya berisiko memutus tunjangan finansial yang sangat mereka butuhkan. Apalagi, saat ini kedua klan absen dari menerima misi.

"Menurutmu," kata Madara tiba-tiba, ujung hidungnya menempel ke sisi kepala Hashirama, "apakah Uzumaki berani menyatakan perang jika mereka tahu?"

"Mereka tidak pernah perang terbuka." Hashirama menyandarkan kepala di bahunya yang terbuka. "Kemungkinan terburuknya, mereka akan meminta ganti rugi material."

"Mereka tidak akan melepasmu begitu saja." Madara menautkan jemari mereka. "Kamu punya mokuton."

Hanya mokuton yang mereka pedulikan….

"Aku punya ide," bisik Hashirama. "Aku akan membatalkannya lewat duel kenjutsu. Akan kutantang lelaki Uzumaki itu."

"Bagaimana jika aku saja?" Madara menawarkan.

Dahinya berkerut. "Kamu ingin membunuhnya?"

Tidak ada jawaban selain tawa tipis dan seringai yang pasti mekar di wajah Madara.

"Jangan." Hashirama beranjak bangun. "Aku ingin meminimalisasi keributan."

Ia tidak melepaskan tangannya ketika berdiri. "Sampai perkampungan kita stabil dan mandiri, kita harus tidak menarik perhatian. Tapi kalau boleh jujur," Madara merengkuhnya, "aku sungguh tidak tahan."

"Nggak tahan ap—"

Tangannya memegangi belakang kepala perempuan itu. Sesuatu yang kasar mendarat lembut di bibir Hashirama. Helaian rambut lain yang bukan miliknya menempel di sekitar wajah. Ciuman singkat itu meledakkan kontrol cakranya, membuat angin berpusar memberisikkan hutan dalam sekejap.

"Madara—" Ia meraih jemari pria itu, dan membawa kedua tangannya ke hadapan bibir. Semua rencana mereka, semua yang mereka lalui bersama, perasaannya sendiri, dan segala-galanya bercampur bermuara menjadi kata di lidah Hashirama. "Lindungi aku, dan aku akan melindungimu. Sekarang dan selamanya, atau sampai kamu memilih melepaskan diri dari perjanjian ini." Pegangannya mengerat. "Semoga Rikudou Sennin merestui kita berdua."

Hashirama mengecup punggung jemarinya. Madara mencium dahinya.

"Su, sudah…? Begitu saja?" Ia tak tahan untuk tidak nyengir. Bibirnya ia gigit, menahan kikikan yang berkumpul di dadanya.

"Belum resmi, masih ada satu lagi…."

"Apa itu?"

Jawaban Madara dibisikkan begitu rendah, "...Seks."

Wajahnya menghangat, mendadak malu-malu. Padahal, ia masih ingat jelas apa yang mereka lakukan beberapa saat lalu. "Yang tadi—? Oh…." Hashirama memulai, tetapi lelaki itu menggeleng cepat-cepat. "Kamu mau … di sini...?"

Madara menggeleng lagi. "Harus di rumahku. Lebih baik nanti saja setelah desa agak stabil. Apa kamu keberatan menunggu beberapa bulan?"

"Baiklah..." Hashirama melepaskan kimono di bahunya, dan memakaikannya lagi pada Madara. Diam-diam berarti ia tak bisa terlihat terlalu akrab dengannya di depan umum. Apalagi membicarakan hubungan mereka. "Beri aku kode jika kamu sudah siap nanti."

Ia menyelipkan helaian rambut lurus di belakang telinganya. "Bagaimana dengan 'skandal'?"

"Skandal…." Hashirama tersenyum lebar dan mengangguk. "Baiklah, Anata. Ini yang akan kita lakukan…."


.

"Kakak pucat."

Hashirama mengikatkan jubah Hokage-nya di depan dada. "Aku nggak apa-apa," komentarnya cepat-cepat. Pandangannya ia alihkan, tak ingin Tobirama menatap wajahnya sedetik lebih lama lagi. Sebelum keluar dari apartemennya, Hashirama baru saja muntah. Seperti biasa, nyari tak ada isi perutnya yang keluar. Kyoko pasti masih disibukkan dengan para korban luka serangan Yonbi— tak sekali pun batang hidungnya tampak di sekitar kantor. Ia tak ingin meminta tolong pada penyembuh lain untuk membuatkan rebusannya.

Tobirama sendiri masih terlihat kuyu. Rambutnya lepek. Sesekali ia mengelus pipi kirinya. Sejak meninggalkan kediaman Uchiha sebelum matahari terbenam tadi, ia masih bungkam soal apa yang dibicarakannya dengan Izuna. Hashirama mencoba memancingnya, tapi Tobirama malah menghindar. Meski penasaran setengah mati, ia tak ingin berdebat lagi dengan saudaranya. Dibiarkannya ia menerangkan tentang aktivitas ANBU-nya sambil berjalan.

"Sejak insiden di rapat itu, aku menugaskan beberapa satuan ANBU untuk memantau Shimura Hisao." Tobirama merapatkan haori putihnya. "Tidak ada sedikit pun indikasi dia berniat mencelakai Izuna. Membicarakannya saja jarang."

"Tapi kamu tidak memercayainya begitu saja."

Adiknya bergumam afirmatif. "Tim ANBU yang mengawasinya tidak pernah jauh. Tapi…." Ia mengusap mukanya, dan menggertakkan gigi. Sesal dan kesal kentara dalam nadanya. "Aku yang lalai. Aku tidak mengindahkan laporan yang mengatakan Hisao sering keluar-masuk hutan sendirian di larut malam. Tidak ada orang lain yang terlacak bersamanya. Ia juga tidak membawa pulang barang lain dari sana."

"Jadi apa yang dilakukannya?"

Tobirama menatap saudarinya lurus-lurus. "Mengobrol."

"...Sama siapa?" Dahinya berkerut. Bukankah adiknya baru bilang Hisao pergi sendirian?

"Anaknya, Masao." Tobirama mengembuskan napas panjang, mengepulkan uap tebal di udara. "Atau begitulah menurut kata-katanya. Aneh karena Shimura Masao sudah tewas beberapa tahun lalu di pertempuran melawan klan Uchiha."

"Izuna yang…?"

"Benar."

Konoha yang biasanya masih riuh selepas senja, kini sesenyap makam. Tidak semua pertokoan buka, dan yang menerima pengunjung pun tak banyak diisi orang. Tidak ada tawa nyaring dari rumah minum, dan semua yang mengobrol melakukannya sembari berbisik. Lebih banyak lentera dan obor dimatikan dari malam-malam biasanya. Bau hangus masih memenuhi udara.

Meski mengenakan kimono hitam tebal di bawah jubahnya, lengan Hashirama masih gemetar.

Tak seperti bagian desa lainnya, kediaman Shimura dipenuhi orang. Ia tak bisa membedakan apa semuanya penghuni atau bukan; semuanya berdiri di selasar dengan wajah tersembunyi bayangan kanopi. Namun, sekali Hashirama mengedarkan pandang, mereka semua buru-buru mundur dari penglihatannya. Seorang gadis remaja keluar dari bangunan di sisi, lalu membungkuk kepada kakak-beradik itu.

"Tempatnya di dalam, silakan."

Mereka memutari sebuah paviliun besar, masuk ke celah sempit di antara bangunan yang mengelilingi lapangan depan. Celah itu membuka ke sebuah taman berbatu kerikil. Pepohonan yang menjulang di sekitar mereka menutupi pemandangan langit. Dua buah obor tinggi dinyalakan mengapit seorang pria paruh baya. Ia berlutut dengan lengan diikat, dan wajahnya tertutup kain. Namun, Hashirama tidak perlu melihat mukanya untuk tahu siapa ia.

Berdiri di bayangan pepohonan, adalah petinggi-petinggi klan di Konoha. Dalam keremangan, sang Hokage bisa mengenali delapan kepala klan lainnya— minus Aburame Mamoru yang kini masih di garis depan perang. Klannya diwakili oleh perempuan berambut keriting kelabu dengan baju terusan senada. Ketika tatapannya jatuh pada Inuzuka Tsubaki, mendadak Hashirama malu. Ia tak sempat pamit kepadanya dan Sarutobi Sasuke.

Selain para pemimpin klan, Izuna sendiri hadir. Lengan kirinya masih dibebat. Ia berdiri menggunakan kruk di samping kakaknya. Lengan Madara terlipat, ekspresi wajahnya di antara bosan dan murka. Penyembuh laki-laki mereka berdiri tak jauh di belakang. Kedua paman Hashirama berdiri di seberang mereka. Senju Joji meliriknya dengan tatapan tak suka. Yang membuatnya bingung, Uzumaki Ashina juga ada di situ. Untuk apa beliau datang dalam masalah internal Konoha?

"Hokage-sama dan Senju-sama sudah tiba." Usai mengatakan itu, si gadis mundur pergi.

Shimura Keita maju, mengangguk kepada keduanya. "Kapan pun Hokage-sama siap, akan kami mulai," ujarnya. Napasnya membentuk uap di udara. Rona merah mengelilingi garis matanya.

"Shimura-san, apa Anda yakin...?" Pertanyaan itu tidak disampaikan sebagai basa-basi. Bagaimanapun juga, Hisao adalah anggota klannya. Walau klan Shimura sudah mengakui hukum Konoha, sang Hokage tak ingin melangkahi wewenang kepala klannya.

Keita mengangguk, lalu mundur mendekati terhukum. "Hisao-san sudah memperlihatkan niat buruk pada kerabat Anda sendiri, Hokage-sama. Selama kami menginterogasinya, tidak sedikit pun beliau menunjukkan penyesalan. Beliau memang berniat membunuh Uchiha Izuna. Sebelum ini, beliau sudah mencoba membunuhnya dengan bom kertas aktif di kelas yang Uchiha-san pegang. Tapi gagal."

Hashirama menjawil adiknya. "Kapan—?"

"Minggu pertama Akademi dibuka," bisiknya. "Tidak ada yang menyangka…."

Tatapan Keita menyapu hadirin. Kata-katanya ditujukan untuk semua orang. "Peraturan lama klan kami mengatakan, siapa pun yang membunuh sesama anggota klan, atau pihak-pihak dalam aliansi yang berlaku, maka hukumannya adalah kematian."

Hashirama mengerutkan dahi. Baik Izuna maupun Tobirama tidak tewas akibat racunnya.

"Racun yang dimasukkannya membunuh Ukyo-sama, Wakil Kaisar di Konoha."

Dilihat dari wajah semua orang, tampaknya para petinggi klan sudah mengetahui fakta ini. Senyap sesaat. Lalu, Uzumaki Ashina memecahkannya. "Wakil Kaisar!" serunya. "Inikah cara Konoha memperlakukan seorang duta?"

Hashirama menegurnya, "Ashina-san."

Kepala Hisao terangkat sedikit.

Jenggot lelaki itu bergerak-gerak kesal, tetapi ia tidak meluapkan emosinya lagi. Sang Hokage mengangguk pada tuan rumah, memintanya melanjutkan eksekusi. Seorang shinobi Shimura maju dari tepian, membawakan pedang untuk Keita. Ia lalu membukakan bagian bawah kain di wajah Hisao sehingga mulutnya terlihat.

"Hisao-san, ada kata-kata terakhir?"

Si terhukum menjilati bibirnya. "Uzumaki-sama ada di sini?" Tidak ada yang menjawab, tetapi ia bergumam sendiri, "Bagus."

"Aku tak suka ini," Tobirama berbisik di sebelah saudarinya. "Langsung saja."

"Ini tradisi klannya. Kita tak boleh ikut campur."

"Sebulan lalu ... ya, sebulan lalu kurasa," Hisao melanjutkan, sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas, "aku menaruh dokumen dari Akademi di kantor Hokage. Kudengar sesuatu yang menarik."

Di sebelahnya, cakra Tobirama menegang siap tempur. Hashirama meletakkan tangan di bahunya, mencoba menenangkan. Namun, tindakannya tak digubris.

"Jangan melantur," si pembawa pedang memperingatkan.

Namun, Hisao hanya terkekeh. "Aku mendengar kedua bersaudara Senju dari ruangan sebelah. Aku yakin aku tidak salah dengar."

Suhu pelataran itu mendadak turun walaupun dipenuhi orang. Hashirama sudah tahu apa yang akan dikatakannya.

"Nona Senju ini sudah hamil."

Hening. Hisao mungkin mengantisipasi keributan akan timbul karena pengungkapannya. Namun, yang terjadi hanyalah pertukaran lirikan tak nyaman dari para petinggi klan. Satu-satunya yang kentara murka hanyalah Uzumaki Ashina dan kedua tetua Senju.

Sang Hokage berdeham, memberi sinyal pada Keita. Sang kepala klan menghunus pedangnya.

Ketika sesuatu terguling di atas rerumputan, yang Hashirama perhatikan hanyalah sepasang iris merah di bawah bayang dedaunan.

Jangan jauh-jauh.


.

Napasnya memburu. Larinya terburu-buru.

Keluarganya meninggalkan kediaman Shimura terlebih dahulu. Hashirama menjajari paman-pamannya secepat kaki kayu Azami berjalan. Tobirama tak jauh di belakangnya, mencengkeram perban di dadanya selama perjalanan.

Uzumaki Ashina nyaris berlari masuk kediaman utama klan Senju. Kegaduhan terdengar usai ia menghilang lewat pintu. Kedua pamannya menyusul meninggalkan kakak-beradik itu. Rahang sang kakak kaku, lidahnya kelu.

"...Kak."

Hashirama menggeleng lemah. Seluruh permukaan kulitnya merinding, dipeluk kewaspadaan yang menolak padam. Meski begitu, ia juga tidak merasakan apa-apa. Ia tidak cemas, tidak takut, tidak marah. Namun, rasanya bukan hampa. Bukan kosong.

Pasrah.

Ia merasa penuh, sekaligus lega. Sensasinya serupa setiap kali ia menyerahkan dirinya pada aliran kekuatan semesta. Hanya saja tanpa derasnya aliran cakra alam yang mengaliri seluruh pembuluh-pembuluhnya—

"Kakak mau menantangnya duel?"

Ia mengangguk seraya meletakkan tangan di punggung adiknya. Cakra Tobirama meraih, menakar dirinya. Hashirama tahu ada pertanyaan-pertanyaan yang pasti memenuhi otaknya saat ini. Namun, entah mengapa tak jadi diutarakan.

"Aku saja," ia mengusulkan, "Kakak tidak boleh…." Wajahnya masih kuyu, tak peduli serapi apa pun penampilannya ia atur untuk menghadiri eksekusi tadi.

"Cuma duel." Hashirama menenangkannya, yang hanya membuat saudaranya semakin skeptis. "Kamu butuh istirahat."

"Kakak juga—"

"Tobirama," ia menampilkan senyumannya yang terlebar, "tidak apa-apa."

"Kalau Kakak kalah—?"

"Aku nggak akan kalah. Kami sudah merencanakan ini." Hashirama memeluknya, merasakan cakra Tobirama menyurut kembali ke tubuhnya sendiri. "Maaf," tambahnya separuh berbisik.

Tobirama menepuk punggungnya sekali. "Cakraku nggak akan kuaktifkan," ujarnya lirih sebelum melepaskan diri.

Rasa terima kasih di dada Hashirama tak sempat diungkapkan. Uzumaki Nobuo sudah menghambur keluar dari rumah. Wajahnya nyaris semerah rambutnya dalam temaram cahaya obor.

"Kau!" Ia menunjuk wajah Hashirama. Langkah-langkahnya dipercepat. "Katamu kau sudah tidur dengan lelaki lain?!"

Tobirama berdiri di hadapan saudarinya, membuat Nobuo berhenti seketika. Ia bergeming; kerabatnya mendesis murka.

"Bukan aku yang bilang," Hashirama membalas santai, memunculkan wajahnya dari balik bahu adiknya. "Tapi itu benar."

"Aku dijanjikan seorang dewi! Seorang perawan!" raung Nobuo, tak peduli malam telah larut dan seluruh penghuni kediaman utama dapat mendengarnya di pelataran. "Kutolak puluhan gadis bangsawan demi kau! Kuhabiskan belasan tahun berlatih pedang! Belajar cara hidup bangsawan! Semua demi kau! Ini yang kudapat?!"

Hashirama harus menahan diri agar ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Apa yang diracaukannya ini? Andai situasinya tidak seserius itu, ia pasti sudah meminta Tobirama untuk menjelaskan. Kepalanya terlalu penat untuk mencerna sendiri.

"Nobuo," Ashina muncul di belakang cucunya. Suaranya tenang walau kentara menahan emosi. "Tahan dirimu!"

"Tahan diri bagaimana?!" Pria itu menampik tangan kakeknya, gusar. "Tunanganku ditiduri lelaki lain— Kakek suruh aku tenang?!"

"Nak." Ashina beralih pada kepala klan satunya. "Katamu kau kelepasan."

Tobirama melirik pada saudarinya sesaat sebelum menjawab, "Kakak sudah hamil waktu itu."

Cuping hidung Nobuo melebar, dadanya naik turun cepat. "Jangan bilang aku masih harus menikahinya—" Lirikannya pada Hashirama dipenuhi rasa jijik yang tak ditutup-tutupi. "Bekas sentuhan orang lain!"

"Ya, makanya dibatalkan saja," Hashirama menimpali dengan riang. "Aku nggak mau sama kamu, kamu nggak mau sama aku. Beres, 'kan?"

Nobuo mendelik kepadanya.

"Dan menghancurkan penelitian mokuton selama ratusan tahun?" tanya Ashina berang, tetapi matanya masih tertuju pada Tobirama. "Tentunya kau tidak akan setuju!"

Ia mundur untuk berdiri di sisi saudarinya. "Penelitian bisa dibuat ulang, Ashina-sama. Tapi pilihan kakakku lebih penting."

Ekspresi murka kepala klan Uzumaki itu kini menyerupai raut muka cucunya.

"Bagaimana?" Hashirama mendorong rambutnya dari bahu, dan menekan kerabatnya lagi. "Ayo duel denganku."

Sudut mata Nobuo berkedut. "Sama saja memintaku membunuh perempuan. Tak mau."

"Ini bukan duel seperti itu," Tobirama menyela. "Yang menorehkan tiga luka pada lawannya di lengan atau kaki yang dianggap menang. Bukan hidup dan mati."

"Jika Nobuo menang, kau harus membunuh anak yang tak jelas darahnya itu."

"Kakek, dia hamil—"

"Janinnya tidak penting," sergahnya, seketika membungkam upaya cucunya untuk menyanggah.

Pernyataan Ashina tidak membuatnya gentar. Hashirama bisa merasakan semangatnya membubung— semangat tempur yang sudah lama tak ia rasakan. Semangat dan kekuatan beradu di kepalanya, membuatnya berdenyut-denyut.

Atau, ia hanya tak sabar untuk mengakhiri segalanya dan tidur nyenyak malam ini.

"Akan penting bagi Anda jika keponakanku mewarisi mokuton," Tobirama menyela dengan nada formal. "Begitu, bukan?"

"Melawan wanita hamil adalah hal yang memalukan," Nobuo bersikeras. "Tidak pantas atau terhormat!"

Tobirama sudah membuka mulut, siap membalas. Namun, saudarinya mendahului.

Hashirama menanggalkan jubah Hokage-nya. "Takut, Nobuo?" Ia menebarkan pandangan pada para pendengar lain yang berdiri tak jauh di belakang kedua Uzumaki. Keprihatinan mewarnai ekspresinya. "Tenanglah, aku nggak akan mengerahkan kemampuan terbaikku. Jariku terpeleset sedikit saja, kamu akan tinggal nama nanti." Entah mengapa wajah lelaki tertentu terlintas di benak Hashirama, mendorong tawa keluar dari tenggorokannya.

Madara pasti sedang tersenyum puas mendengar ini.

"Kabur dari tantangan juga memalukan." Dagu Nobuo diangkat. "Persiapkan segalanya, kalau begitu. Kita bertemu lagi di sini."

Beberapa menit kemudian, sudah ada lebih banyak orang bergabung di halaman depan. Obor dan anglo ekstra dinyalakan membentuk lingkaran. Daun-daun maple gugur sudah disapu ke tepian. Semua paman dan bibinya hadir, semua berwajah cemberut kecuali Azami yang netral seperti biasanya. Mayuko tak mau menatapnya. Joji terus meneriakkan kekesalannya pada Hashirama, hanya sesekali berhenti untuk batuk-batuk hebat. Salah satu sepupunya sedang membantu mengikatkan lengan kimono hitamnya agar tidak mengganggu. Hashirama terpaksa duduk diam mendengarkan semua omelan pamannya.

"Ayah kalian akan malu sekali!" Suara serak Senju Joji menusuk gendang telinganya. "Merusak relasi! Merusak perjanjian! Mentang-mentang jadi Hokage—" Ia terbatuk-batuk lagi, tapi masih cukup marah untuk tinggal di situ.

"Pamanda tidak memberitahuku aku dijodohkan," balas Hashirama tenang. "Tidak ada yang memberitahuku." Rasanya ia sudah mengulang hal ini berkali-kali.

"Kau seharusnya tahu untuk menempatkan klan di atas segalanya!"

"Aku menempatkan desa di atas segalanya, Pamanda." Hashirama berdiri usai lengan pakaiannya rapi dan aman. Dadanya sesak selama ia berbicara. "Pamanda tidak bisa menyalahkanku ketika aku tidak tahu. Semua yang kulakukan ini untuk Konoha."

"Anak di perutmu ini juga?" tantangnya. "Seharusnya kami kirim saja kau ke Uzushio sejak dulu sebelum kauhancurkan martabat klan Senju!"

"Sudahlah!" Azami akhirnya balas berteriak. "Dirahasiakan atau tidak, Hashirama tidak akan mau menikah dengannya. Masih bagus dia memutuskannya dengan duel— ini masih cukup terhormat!"

"Kaukira hanya dengan ini saja selesai? Ashina-sama sudah bilang ingin semua bantuannya kembali jika proyek mokuton ini gagal. Setiap. Keping. Peraknya—" Kepalanya menoleh begitu cepat pada sang Hokage. "Apa menurutmu mokuton tak penting bagi Konoha?"

"Tentu penting—"

"Apa kau sudah lupa kegagalanmu menghentikan monyet bijuu itu dari menghancurkan kampung halaman kita?"

Sesuai janjinya, Tobirama tidak mengatakan apa-apa pada keluarga mereka tentang lokasi keberadaan Hashirama di malam nahas itu. Mereka sepakat mengarang cerita Hashirama pingsan sesaat karena kewalahan melawan Yonbi dua tahun lalu, sehingga ia sempat meluluhlantakkan kampung lama Senju.

Karangan atau bukan, kejadian itu tetap menjadi duri dalam reputasi sang dewi.

"Tahu, 'kan, kalau Nobuo termasuk dua belas pengawal Kaisar?" Mayuko menimpali, nadanya sengit. "Kau akan kalah, Hashi. Lihat saja." Ia berlalu bersama Joji, yang tampak puas sudah marah-marah.

Azami berlama-lama di belakang mereka. "Kamu tidak perlu melakukan ini."

"Nggak apa," katanya dengan senyuman sedih. "Negosiasi terlalu lama. Ashina-san sudah tak setuju Konoha berdiri sejak awal. Beliau takkan mau…." Hashirama beralih pada adiknya yang baru saja tiba dengan segelas rebusan hangat. Sebuah buku tebal dikepit di bawah lengannya.

"Divisi mayat dari garis depan baru sampai—"

"Aku akan ke sana nanti." Hashirama mengambil gelasnya dan menenggak habis isinya. Panasnya melukai isi mulut dan tenggorokannya, tetapi kemampuan regenerasinya segera menghilangkan rasa sakitnya.

"Sudah ada yang mengurusnya." Gelas kosong itu diambil. "Ranting maple tidak cukup kuat," bisik Tobirama, "sebaiknya akhiri ini dengan cepat."

Hashirama mengangguk, menerima pedang yang telah diambilkan dari apartemennya. Udara di sekitar kulitnya meretih, berdenyut penuh kekuatan yang alirannya siap ia naiki. Akhirnya sudah terlihat, tinggal dijalani saja. Sebelum ia melangkah ke dalam lingkaran, jemarinya ia tautkan untuk menenangkan diri.

Di seberangnya, Nobuo sudah berganti pakaian dan mendapatkan pedang. Hyuuga Mori yang dipanggil sebagai penengah netral memberitahukannya peraturan duel sesuai hukum Konoha. Hashirama masih ingat semuanya sejak Izuna melawan Hisao seusai rapat antarklan waktu itu.

Duel yang rasanya sudah lama sekali.

Keraguan terselip di benaknya. Ialah yang menolak menghukum mati Shimura Hisao. Jika waktu itu ia setuju dengan saran Madara, Ukyo pasti masih hidup. Kabar kehamilannya tidak akan bocor dengan cara ini. Namun, klan Shimura mungkin menganggapnya otoriter. Keita memang kepala klannya, tetapi Hisao lebih tua darinya. Ia pasti masih memiliki pengaruh besar dalam klan.

Jika Kaisar sampai tahu Ukyo mati misterius….

Hashirama memijat pelipisnya. Denyutan di kepalanya semakin intens. Aneh— seharusnya rebusan itu membantu mengurangi pusing dan mualnya. Mungkin efeknya belum bekerja.

"Tanpa ninjutsu. Tanpa genjutsu. Tanpa taijutsu. Tanpa kekkei genkai. Hanya kenjutsu saja," Hyuuga Mori mengumumkan. Pria itu berdiri di antara kedua petarung, pakaiannya serba putih. Rambutnya rapi terikat ke belakang. "Tiga goresan di lengan atau kaki. Torehan luka di selain tempat itu, adalah kekalahan langsung bagi pengguratnya. Taruhannya adalah…." Ia berhenti sejenak, tampak ragu. Putih irisnya bergulir ke arah perempuan satu-satunya di tengah lapangan.

Apa yang sedang dipikirkannya?

"...Adalah nyawa bayi yang saat ini dikandung Hashirama-sama." Tongkatnya menghentak tanah. "Hashirama-sama, Uzumaki-san, Anda berdua siap?"

"Siap," jawabnya, sedikit merasa aneh karena Mori menggunakan nama depannya. Kepala klan Hyuuga itu selalu memanggilnya dengan gelar atau nama klan.

"Siap." Nobuo maju beberapa langkah. Sorot mata kelabunya tajam. Sama seperti lawannya, ia tidak mengenakan zirah. Kimono yang dikenakannya semerah darah, sempurna membaur dengan merahnya guguran daun.

Orang-orang yang tersisa telah mundur ke balik barisan pelita.

Byakugan Mori diaktifkan. "Hunus pedang kalian."

Kedua pedang terhunus. Kedua petarung memasang kuda-kuda.

"MAJU!"

Seperti dugaannya, Nobuo maju mengincar titik vitalnya— leher. Kedua bilah pedang beradu berdentang; Hashirama mundur menyamping. Nobuo mendapatkan celah ke lehernya, tetapi selama sepersekian detik ia menahan diri— tahu ia akan kalah seketika jika terus maju. Menggenggam pedang di tangan kirinya, Hashirama menebas udara dari bawah ke atas—

"Satu untuk Hashirama-sama!"

Ia mencipta jarak, memasang kuda-kuda dan menakar lawannya lagi. Nobuo mengamati robekan di lengan atasnya dan darah yang mengucur dari bisepnya. Ekspresinya tak bisa ditebak.

"Aku salah," gumamnya pelan. Tatapannya pindah pada sang lawan. "Aku harus serius menanggapimu. Shinobi yang kuat hanya menikahi shinobi yang kuat, bukan?"

Hashirama memilih diam. Pedangnya sudah kembali digenggam di kedua tangan, siap untuk bertahan. Kuda-kuda Nobuo kali ini lebih terbuka. Pedangnya lemas di tangan kanan selagi ia mengitari lapangan. Udara memanas karena api. Daun-daun merah memenuhi tanah maupun udara, masih bergantungan di ujung ranting—

Seluruh pelataran bagai membara dalam imaji Hashirama, dan sesaat— hanya sesaat, sungguh, ia berdiri di antara kehangusan aras dan pinus dan lawannya adalah gergasi merah menjulang—

"Hah!"

Dentang besi dan besi menariknya pada kenyataan; pada Nobuo yang wajahnya kini hanya sejengkal jauhnya, disela oleh kedua pedang mereka yang memperebutkan dominasi. Gigi-gigi menggertak, merah dan hitam berkelebat menampar, kedua petarung kembali mundur.

Nobuo tidak membuang waktu, ia maju sebelum Hashirama sempat menarik napas. Serangan-serangannya tidak ditahan; semua dengan kekuatan penuh tanpa celah untuk melukainya lagi semudah torehan pertamanya. Ia bagai dikejar waktu….

Dadanya sesak—

Waktu. Waktu. Hashirama memang tidak punya waktu.

Wajahnya licin karena keringat, begitu juga dengan telapak tangannya. Gagang pedangnya sulit digenggam, ia tidak bisa mengerahkan kekuatan sepenuhnya. Yang bisa dilakukannya—

Peti Kawarama, perlahan-lahan diturunkan ke liang lahat. Wajah Itama, bersimbah darah bersandar pada sebuah batu, dengan mata separuh tertutup...

Mengapa keduanya yang kali ini terlintas?

Sejauh apa ia bersedia berkorban demi mencegah kematian serupa kematian adik-adiknya?

"Ugh—!" Hashirama menghindar tepat waktu dari ayunan pedang yang mengarah ke tangannya. Setiap jarak yang diciptakannya, dengan segera dipangkas oleh Nobuo.

Sudah berapa lama Hashirama tidak terlihat sesehat biasanya? Pasti ia juga tahu, itu sebabnya serangannya bertubi-tubi tanpa henti.

Ia harus mengakhirinya sekarang juga.

Hashirama menghindari tebasan, melompat menjauh hingga tiba di belakang punggung Nobuo. Ujung pedangnya menyambar betis kiri—

"Dua untuk Hashirama-sama!"

Nobuo berdecak. "Jadi, Konoha ini—" Ia bergerak seolah mengincar lengan kanan Hashirama, tetapi beralih ke sisi kirinya. Serangannya ditepis dan dimentahkan. "—Gagal melindungi adikmu yang tersisa?"

Satu lagi. Hashirama hanya butuh satu luka lagi. Namun, kata-kata lawannya menyergap pertahanannya. Ia harus melompat menghindari sabetan ke pahanya.

"Ingin melihat Tobirama mati juga?" desisnya. Kali ini pedangnya menoreh luka pada paha kiri Hashirama.

"Satu untuk Uzumaki-sama!"

"Kau tak tahu apa-apa tentang Konoha, Nobuo." Perih di pahanya perlahan sirna seiring regenerasinya bekerja.

Ia menggeleng anggun. "Tak butuh waktu lama untuk tahu apa bahayanya menempatkan sepuluh klan yang dulunya saling berperang—"

"Kautahu kami saling serang karena kami bekerja pada para daimyo!" balas Hashirama, tak sedikit pun menurunkan bilah pedangnya.

Satu lagi. Satu lagi.

Ia tidak punya waktu.

Ramuan itu tak bekerja. Perutnya masih bergolak. Bukan pencernaan— ini sesuatu yang lain.

Tepian semua objek melebur menjadi , dedaunan menyibak, dan Nobuo maju dengan pedang terhunus.

Lutut Hashirama kehilangan kekuatan.

Dunia mengabur dan melambat. Ujung pedang Nobuo mengincar lengan kirinya. Hashirama mundur selangkah, merentangkan lengannya, dan dalam sepersekian detik—

Bilah itu mengiris di antara rusuknya dalam-dalam.

Bayangan putih dan kelabu memasuki pandangannya, diiringi sayup-sayup teriakan Hyuuga Mori.

"Uzumaki-sama, itu pelanggaran!"

Hashirama tumbang. Bayangan hitam turun dari kanopi maple, menyambut punggungnya dan perlahan meletakkannya di tanah. Jantungnya masih berdebar kencang. Regenerasinya sudah mulai bekerja. Ia bertumpu pada siku kirinya, membiarkan darah mengucur. Napasnya putus-putus, masih berusaha pulih dari keterkejutannya.

"Hashi."

"Ma—" Hashirama menoleh pada lelaki di atasnya. Ia seketika memprotes, "Belum saatnya…." ia menemukan dirinya terduduk di tanah, bersandar pada bahu seseorang. Suara Hyuuga Mori mengalahkan suara-suara lain, membungkam semuanya dengan perintah yang tak dipahami Hashirama. Merah, hitam, putih, api, pedang, dedaunan, berpusar menjadi satu tanpa bisa dipilahnya—

"Hashi." Sebuah tangan hangat menempel di pipinya. "Hashi," bisik suara itu lagi, memenuhi seluruh pandangannya dengan kelamnya hitam.

"Kamu seharusnya nggak … di sini…." Hashirama balas berbisik, merasakan tenaganya mengalir deras meninggalkan dirinya. Kelopak matanya berat. Hanya suara itu yang mencegah kesadarannya kabur ke kedalaman.

"Pijakan buatanmu goyah. Ranting maple mana kuat menahanku." Madara membetulkan posisinya hingga Hashirama bersandar di dadanya. "Kamu sendiri— kenapa?"

Hashirama mencoba meraba luka torehan Nobuo, tetapi bekasnya sudah tidak ada. Ini bukan disebabkan luka itu.

"Kak!"

Derap langkah mendekat. Hashirama mengenali suara Tobirama yang memanggilnya. Kepala klan Hyuuga itu ikut bersamanya. Keduanya berlutut.

"Hokage-sama," panggil Mori. "Anda bisa mendengar saya? Saya akan memakai byakugan untuk mengecek janin Anda."

"Ya—!"

"Cepatlah!" desak Tobirama di belakangnya.

Jemari Madara mengerat di sela jari Hashirama.

"Cakra Anda tidak stabil," Mori menjelaskan, "ini lazim pada sebagian ibu hamil, karena janin mulai membentuk sumber cakranya sendiri … ah, ini dia."

Debar jantungnya berdentum-dentum di telinga. Tubuhnya menegang, berupaya sekeras mungkin agar kedua matanya tetap terbuka.

"Anak Anda tampak sehat," Mori berkata dengan senyuman lebar. Pembuluh di pelipisnya berdenyut-denyut. "Cakra mereka juga tampaknya kuat—"

"Tunggu," Madara memotongnya. "'Mereka'?"

Byakugan Mori dinonaktifkan. "Selamat, Anda berdua. Hokage-sama mengandung anak kembar."

Napasnya tercekat. Ia bertukar tatapan dengan Madara, yang juga tertegun mendengar pengungkapan itu.

"Bantu— aku…." Hashirama mengulurkan tangan, yang disambut Tobirama. Begitu tegak, ia langsung mendatangi Nobuo.

"Mengapa dia di sini?" tanyanya, mengedikkan dagu pada Madara.

Ia mengabaikan pertanyaannya. "Kau telah kalah, Nobuo." Hashirama menancapkan pedangnya di tanah, meringis menahan denyutan di pelipisnya. "Pertunangan kita batal."

"Tidak batal." Ashina maju ke tengah lingkaran. "Duel barusan hanya menentukan apakah kau harus membuang anakmu itu—"

Udara bergeming. Napas-napas terhenti di separuh tenggorokan. Hening.

"...Ashina-san—" Hashirama beralih pada Mori, meminta penjelasan, tetapi lelaki itu mengiyakan sang kepala klan.

"Beliau benar."

"Tak bisa—" Hashirama menelan ludah. Tenggorokannya pahit. "Aku tak bisa menikah denganmu."

"Mau atau tidak, tetap jadi juga." Nobuo mendengkus menghina. "Bersyukurlah aku masih mau karena kau ini Hokage."

"Anakmu harus ditinggal di sini, tentu," lanjut Ashina seolah tidak terjadi interupsi, "Dia tak boleh ikut denganmu ke istana."

Percakapan mereka sebelum duel terulang kembali. Mereka benar— Hashirama tidak mengatakan duel itu untuk membatalkan pertunangan. Ia terbawa suasana.

"Dan mengapa kepala klan Uchiha ada di sini?" Ashina mengulang pertanyaan cucunya. "Ini masalah internal klan Senju dan Uzumaki."

Madara mengangkat bahu, dan berkata seolah ia berbasa-basi mengomentari cuaca, "Aku suaminya." ia mendekat ke sisi Hashirama.

Cakranya aktif, siap tempur.

"Kau bercanda!" teriak Joji dari belakang.

Hashirama menggeleng. "Ashina-san, Nobuo," panggilnya, tangannya menyingkirkan helaian rambut yang terpisah dari tatanannya, "aku sudah menikah."

"Jangan bohong!" Mayuko meraung dari luar lingkaran. Sosok pendek itu gelisah di tempatnya berdiri. "Tinggal menurut saja— apa susahnya, sih?"

Denyut di kepalanya tidak memudar; kali ini turut membuat perutnya mual. Menyusun kata-kata saja rasanya seperti memindahkan gunung. Titik-titik keringat muncul di dahinya. Cakra Hashirama sendiri masih bergolak di perutnya.

"Tidak bisa." Madara melingkarkan lengan di pinggang istrinya. "Kami menikah begitu Konoha berdiri." Ia menatap Ashina, senyumannya meremehkan. "Kami permisi dulu, istriku butuh istirahat—"

"ALASAN!"

Sebelum pedang Nobuo mencapai sasarannya, Hashirama sudah membentuk segel. Kayu-kayu tumbuh melilit tubuhnya, menguncinya erat di tempat.

"Lepaskan Nobuo, Hashirama!" gelegar Ashina.

"Hashirama!" Mito berusaha melonggarkan kayu-kayu yang melilitnya serupa ular raksasa dengan menarik-nariknya. Usahanya sia-sia.

Setelah melirik lelaki yang kini megap-megap dalam mokuton-nya, Hashirama melepas jurus itu. Nobuo terjatuh di tanah, terengah melahap sebanyak mungkin oksigen.

"K, kauingin membunuhku?!" tuduhnya pada Hashirama, tak mengindahkan sepupunya yang berusaha mengecek kondisinya.

"Seharusnya itu pertanyaanku," ujar Madara dingin. Jemari tangan kirinya erat di pinggang Hashirama, sementara tangan kanannya sudah naik hingga sejajar mulut. Siap menyemburkan katon.

"Memangnya kaupunya bukti, Hashi-chan?" Ashina menantangnya. "Cukup main-mainnya!"

"Ashina-sama." Tobirama telah maju, masih mencengkeram perban di dadanya. Tangannya yang lain terulur menyerahkan sebuah buku tebal. "Ini catatan sipil kami. Ada daftar pernikahan antarklan—"

Ashina merebutnya, mendekatkan diri pada sebuah anglo untuk membaca. Alisnya menukik semakin tajam. Joji telah bergabung dengannya, seketika menemukan apa yang ingin ditunjukkan Tobirama.

"Ini memalukan sekali, Ashina-sama, kami minta maaf."

Mito melihat dari bahu kakeknya, lalu mendatangi Hashirama. "Hashi ... itu benar? Kamu dan … sudah…." Mata kelabunya melirik ke Madara.

"Aku dan Madara sudah menikah, itu benar," jawab Hashirama, cukup keras agar orang-orang yang masih berkerumun di sekeliling Nobuo mendengarnya juga. "Kami menikah setelah perjanjian Konoha ditandatangani, mengikuti adat klan Uchiha." Ia meninggalkan suaminya, memungut pedangnya yang terjatuh, lalu menyarungkannya.

"Menikah!" ulang Joji keras hingga ia terbatuk-batuk. "Memangnya mahar apa yang bisa kauberikan untuk shinobi terkuat dari klan kami?" tanyanya pada Madara.

"Seekor rubah—"

"Demi Rikudou Sennin, rubah?"

"—Berekor sembilan, Joji-san. Perlu kubawakan?"

Senyuman Joji lenyap seketika.

Nobuo mendesis, "Kau membuat kami repot-repot melakukan semua ini—"

"Kau yang menantangku duel, Nobuo." Hashirama menghela napas lelah. Ikatan lengan bajunya ia lepas untuk menutupi lengannya yang mulai dingin. "Sudahlah."

Lelaki itu melihat melewati bahunya, berkata, "Kalau begitu biar kutantang—"

"Jangan." Alih-alih menatapnya, Uzumaki Ashina menerawang ke ranting-ranting maple di atas. "Madara pasti sudah di sini sedari tadi. Dia bisa meniru teknikmu dengan sharingan."

"Dia mencuri dan menghamili tunanganku!"

"Aku yang mau hamil, mengapa kau yang marah?" tanya Hashirama.

"Cih!" Ia meludah ke tanah. Lehernya ia gosok-gosok. Bekas lilitan mokuton masih terlihat jelas di kulit pucatnya. "Ini yang kauberikan untuk kami setelah Kakek menyelamatkan nyawa adikmu?!"

"Tak tahu diri." Mayuko membalikkan tubuh, pergi ke kediaman utama tanpa menoleh ke belakang.

"Jika Ashina-sama menghendaki pengembalian semua bantuan finansial…."

"Simpan uangmu." Ashina mengibaskan tangan, menyuruhnya diam. "Kau sudah menjalin aliansi dengan Uchiha, musuh bebuyutan yang selama ini ingin menjatuhkan kita. Perjanjian dan pernikahan pula." Ia beralih pada Madara yang telah menyusul istrinya. "Aku butuh jaminan kau tidak akan menyakiti pemegang mokuton."

"Apa maksudmu?" sergah Madara, yang akan maju andai Hashirama tidak menggenggam pergelangannya. "Kaukira aku serendah itu?"

Jenggot kelabu-merah Ashina bergerak-gerak saat ia tersenyum. "Oh, bukan begitu. Klan Uchiha telah mendapatkan mokuton. Jadi, mengapa kami tidak sekalian mendapatkan sharingan agar adil? Berhubung Nobuo sudah di sini," tambahnya, "aku tak masalah menikahkannya dengan Uchiha Izuna."

Jantung Hashirama seketika mencelos. Kedua matanya melebar ketika melihat pada suaminya, dan pegangannya mengerat. Mereka sama sekali tidak memperhitungkan hal ini.

"Jangan bawa-bawa adikku!"

"Uchiha sudah berkerabat dengan kami lewat klan Senju," lanjut Ashina. "Seharusnya bukan masalah untuk menjalin aliansi dengan kami juga, bukan? Kalian telah hidup dengan sokongan bantuan kami. Anggaplah ini sebagai balas budi. Kudengar ia masih lajang…."

Logikanya solid tak bercela. Namun, kata-kata Ashina hanya membuat emosi Madara semakin bergolak. Ia benar— mereka membutuhkan klan Uzumaki, terutama riset fuuinjutsu-nya. Memutus tali kekeluargaan dengan kerabatnya bukanlah tujuan yang ingin dicapai Hashirama. Penolakan terang-terangan klan Uchiha pasti berakibat pada putusnya hubungan itu, bahkan meski Izuna sendiri yang mengatakannya.

"Bagaimana?"

"Tidak bisa," Tobirama santai menyahut, dengan buku catatan sipil dipeluk di depan tubuhnya. "Izuna tunanganku."

Ashina naik pitam. "Kau—!"

"Kami tidak masalah mengembalikan semua bantuan Anda," Hashirama memotong keras-keras, memanfaatkan celah yang dibuat adiknya. "Aku akan membayarnya dari kantung pribadiku. Setiap keping peraknya."

Nobuo mengerang sebal. Ashina masih ingin menyanggah, tetapi kali ini Tobirama yang memotongnya.

"Kami menghormati keputusan Anda yang tidak ingin membantu Konoha," katanya sambil memakaikan jubah Hokage pada saudarinya. "Anda tidak akan memiliki hubungan apa-apa dengan kami usai utang lunas dibayarkan."

"Kalian memutuskan semua itu tanpa menanyai kami terlebih dulu?"

"Paman Joji, saya kepala klan," jawab Tobirama datar. "Kakak Hokage. Apa wewenang kami masih kurang tinggi?"

Ashina menatap Senju bersaudara itu bergantian. Tawa mengejek tanpa suara lepas dari mulutnya. "Terserah kalian saja. Memangnya kalian bisa melunasi semua itu dalam waktu singkat?"

Hashirama melepas kalung di lehernya— kalung yang ia warisi dari ibunda dan neneknya, turun temurun dari leluhur mereka di zaman dahulu kala. "Ini pembayaran pertamaku," ujarnya, menjatuhkan perhiasan itu ke telapak tangan Mito yang terulur. "Barang-barang berharga pribadiku ada di dalam." Ia membuat isyarat ke balik punggungnya. "Sisanya akan kubayar sedikit demi sedikit."

"Hashi…." Mito memandangnya penuh permohonan.

"Kaisar akan—"

"Kaisar akan mendengar soal kematian wakilnya dari kami langsung," Madara menimpali. "Saya yakin beliau lebih suka mendengarnya dari sang Hokage sendiri."

Sebagian wajah Ashina yang terlihat dari balik jenggotnya merah padam. "Kurasa Yang Mulia tahu siapa yang lebih dipercayainya. Tapi baiklah kalau itu mau kalian," desisnya. "Ayo." Ia mengajak kedua cucunya kembali ke dalam. "Mito— gunakan gulungan kosongmu untuk mengangkut semua barang Hashirama…."

Nobuo berbisik ketika bahu mereka sejajar, "Kau akan menyesali ini semua, Senju." Ia melalui mereka cepat-cepat, sementara sepupunya berlama-lama di belakang.

"Mengapa kaulepas kesempatan ini?" tanyanya. "Aku tahu kamu nggak cocok berperang. Kamu bisa hidup nyaman jauh dari— dari semua ini." Tangannya membuat isyarat pada sekeliling mereka.

Hashirama sejenak melirik suaminya sebelum menjawab, "Tempatku di sini. Apa pun yang kaukatakan tidak akan mengubah itu, Mito."

Sesaat sepupunya berniat membantah, tetapi ia hanya menggeleng sebelum berlalu menyusul kakeknya ke dalam.

"Kalian berdua sinting," bisik Azami yang sedari tadi diam, tetapi senyuman puas membayangi ekspresinya.

Helaan napas panjang meninggalkan paru-paru Hashirama. Ia menunduk menatap tanah, perlahan meletakkan tangan di atas rahimnya.

Kembar.


.

"Jadi, aku ketinggalan apa?"

Izuna menyamil buah-buahan kering dari mangkuk di pangkuannya. Siluetnya diterangi oleh cahaya merah-jingga dari pintu shoji di sebelah kiri Hashirama. Ia menegakkan diri, menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga. Kamar itu sendiri nirpelita. Gelap gulita.

"...A, ada apa di luar?" Hashirama serak bertanya. Bayangan merah dan jingga itu menari-nari, menyalakan kewaspadaan dan mengusir kantuk yang memberati kelopak matanya. Setidaknya, pusingnya sudah hilang. Cakranya pun sudah kembali stabil berkat tidur singkat barusan.

"Kremasi." Mangkuk berpernis hitam itu diangkat ke hadapannya, isinya ditawarkan tanpa suara.

Hashirama menggeleng, lembut mendorongnya kembali ke arah si empunya. "Siapa yang…?"

"Makoto." Embusan napas Izuna keras menerpa lengan bawah Hashirama. "Dan … dan Ayano."

Ia seketika teringat Tobirama mengatakan divisi mayat dari garis depan baru tiba membawakan jasad shinobi Konoha. "Ayano dan Makoto … Makoto?" Dagunya diangkat. "Makoto yang biasanya menemanimu itu…?"

"Ya. Nggak apa-apa, mereka barusan dibawa dari Iwa," tambah Izuna. "Apa yang terjadi di sana? Kakak nggak mau cerita."

Tanpa diberi keterangan lebih lanjut, Hashirama tahu yang ia maksud bukanlah perang di Iwa. Dahinya mengernyit. "Apa karena itu kamu menungguiku di sini…?"

"Heh." Izuna nyengir. "Mumpung Kakak masih di luar. Ayolah, ceritakan. Aku tahu Kakak melamarmu di malam perjanjian, dan kalian resmi—" tangannya yang tak dibebat membuat tanda kutip di udara, "—waktu rubah itu menyerang, 'kan?"

Lama ia memandanginya, mengingat momen di antara pepohonan ketika Madara meyakinkannya bahwa saudarinya bisa menjaga rahasia, sementara Hashirama memutuskan menutup rapat-rapat rencana mereka dari Tobirama agar tak membebaninya.

Rahasia-rahasia itu tak lagi harus ditutupi.

"Aku sudah berbulan-bulan penasaran, nih…."

Hashirama mengelus perutnya. Kata-kata Hyuuga Mori kembali terngiang: Hokage-sama mengandung anak kembar.

"Izuna, tadi…."

"Hm?"

"Apa yang kaubicarakan dengan Tobirama?"

"Ah— itu…." Ia tertegun. Mangkuknya ia sisihkan ke tatami. "Aku kesal dia nggak mau mengakui Kakak berdua memang saling cinta. Dia pikir sebagai shinobi, kita harus mengikuti semua rencana klan sejak awal. Kata hati, 'kan, sering nggak sejalan." Izuna menunduk, melebarkan cakranya mendekati tangan iparnya. "Padahal aku tahu persis kepentingan Konoha jauh lebih berat dibanding … yah, klan Uzumaki." Izuna berhenti sejenak, mengelus bebatan lengannya sambil mencondongkan tubuh. "Apa mereka memang sehebat itu?"

Tangan Hashirama mengelus tepian kimono pinjamannya. Ia hanya sempat berganti baju sebelum pulas terlelap di kamar Madara berjam-jam lalu.

"Kak?"

"Yah— itu benar. Mereka punya koneksi ke istana, dukungan finansial, dan fuuinjutsu yang kita butuhkan. Tapi…." Hashirama meraih tangan kurus Izuna. "Tapi aku nggak bisa meninggalkan Konoha."

Izuna menelengkan kepala.

"Aku—" Hashirama mendecakkan bibir. "Aku juga nggak bisa meninggalkan Madara…." Suaranya memelan hingga hilang. Ada derap langkah di luar, disertai desisan dan gerutuan familier.

Suara Madara dan Tobirama. Mereka berdebat.

"Sialan— aku permisi, ya!" Izuna menyibakkan selimut Hashirama dan berguling ke bawahnya.

"Hei—!" Tak memiliki pilihan lain, Hashirama segera beringsut memberikan ruang kepadanya. Kakinya disilangkan mengalasi kepala Izuna. Ia meringkuk seperti janin, membuat tubuhnya setipis mungkin.

"Jangan bilang Kakak aku di sini!"

"Kenapa tidak pergi—?"

"SSH!" Dinding cakranya yang tebal segera surut dan hilang.

"...Apa yang kaupikirkan?" Terdengar Madara menyentak. "Lancang sekali—!" Siluet mereka kini terlihat di permukaan pintu.

"Mereka tidak akan terima ditolak!" balas Tobirama penuh emosi. Jarang sekali ia bisa terpancing begini.

"Kau—!"

Tak tahan, Hashirama menggunakan mokuton untuk membuka pintu shoji keras-keras. Perdebatan mereka berakhir begitu melihatnya sudah terbangun.

"Ada apa?" tanyanya tenang.

Perasaan bersalah terlintas di wajah mereka berdua. Kobaran api kremasi di belakang sudah mulai memudar. Madara masuk terlebih dahulu, menutup pintu lalu menyalakan lilin di tengah ruangan. Cahaya keemasan menghujani wajah-wajah lelah mereka. Tobirama menepi dan berlutut di sebelah futon Hashirama.

Ujung kunciran Izuna masih menyembul keluar. Hanya beberapa senti dari lutut Tobirama.

"Kami hanya membicarakan tentang … apa yang kukatakan tadi kepada Ashina-sama."

"Oh…." Yang Hashirama ingat dari duelnya hanyalah kelebatan merah dan dentang sepasang bilah pedang setiap mereka beradu. Terlalu banyak perdebatan yang terjadi setelahnya, sehingga ia sulit memilah bagian mana yang Tobirama maksud. Sebelum saudarinya sempat bertanya, lawan debatnya sudah menyambar.

"Kaubuat keputusan itu tanpa menanyaiku, tanpa menanyai Izuna?" Madara naik pitam. Ia masih berdiri berkacak pinggang di sisi lain Hashirama.

"Madara," bisik Hashirama, tanpa suara memintanya duduk.

"Uzumaki menginginkan pengganti Kakak," Tobirama merespons dengan telapak terbuka, "Wanita berposisi tertinggi dalam Konoha setelah Kakak adalah Izuna. Apa kauingin dia dibawa ke Uzushio? Ke istana?"

Sesuatu bergerak di betis Hashirama yang mulai kebas.

"Lebih baik aku menantang mereka duel," ujar Madara dingin, mendudukkan diri di samping istrinya. Ia mengambil sebuah mangkuk terbalik di tatami, mengamati isinya yang berserakan.

"Mereka tidak akan mau—"

"Kau tetap tak berhak mengakuinya sebagai tunanganmu, Senju!" Madara meletakkan kembali mangkuk itu dengan kesal.

Tobirama menatap mereka bergantian. Ekspresinya penuh kesungguhan, matanya berkilat penuh determinasi. "Aku tahu aku sudah lancang, Madara-san, tapi saat ini aku berbicara jujur." Tobirama memundurkan lutut, kepalanya perlahan-lahan turun hingga menyentuh tatami.

Rahang Hashirama membuka lebar, yang ditutupinya dengan tangan. Kecamuk di pikirannya tak mampu mewujud menjadi kata. Berdebat sedari tadi pasti sudah menguras tenaga Tobirama karena napasnya terdengar berat dan lambat.

"Kakak, Madara-san.…" Suaranya serak. "Aku ingin melamar Izuna."

Sunyi menguasai kamar. Lalu, Madara memecahkannya, "Jangan bilang karena kau kelepasan tadi."

"Bukan," jawab Tobirama, masih bergeming dalam posisinya. "Karena aku mencintai Izuna."

Seumur hidupnya, baru saat itu Hashirama melihat Madara begitu terkejut. Segala emosinya sirna dari separuh wajahnya yang terlihat, digantikan oleh keterkejutan. Ketegangan yang menguasai tubuhnya pun hilang.

"Tobirama, kamu … ka, kamu serius?" tanya Hashirama terbata.

"Aku serius, Kak," akunya tegas, mulai mengangkat kepalanya. "Jika tidak, aku tidak akan meminta restu Madara-san…." Jemarinya menyentuh lengkungan rambut di tatami. Kerutan muncul di antara kedua alis pucatnya.

"Mengapa ada kismis berserakan, Hashi?"

Ia tak mengindahkan pertanyaan Madara. Tobirama meraih rambut itu, menyusurinya hingga ke balik selimut saudarinya. Sebelum ia sempat menyentuhnya, selimut itu sudah tersibak menampakkan isinya.

"Izu—!"

"Izuna…?!"

Rambutnya jauh lebih berantakan begitu keluar dari selimut. Izuna mendorong poninya ke belakang, dan bertanya pada iparnya, "Apa semua itu benar? Klan Uzumaki ingin mengambilku jadi menantu?"

Hashirama menelan ludah, lalu mengiyakan, "Benar."

"Kalau begitu…." Izuna menoleh ke kiri, pada Tobirama yang masih memegangi ujung kuncirannya. "Lebih baik aku menikah sama kamu."

Dalam temaram lilin, wajah putih Tobirama berubah merah padam.

"Leluhur kita pasti sedang berguling di kuburnya," bisik Madara, tak kuasa menahan rasa geli dalam suaranya.

Mata Hashirama berkaca-kaca seiring senyumannya terkembang.


.

Ketika Hashirama terbangun untuk kedua kalinya, Madara tidak ada di sisinya. Kasurnya masih terbentang, selimutnya tak rapi kentara bekas ditiduri. Sejenak ia bimbang di antara kembali tidur atau mencari suaminya, tetapi Hashirama terdorong untuk memilih yang belakangan.

Api kremasi sudah dipadamkan, menyisakan kolom tipis yang membubung ke langit ungu. Seluruh kediaman Uchiha sepi, hanya sesekali disela burung-burung yang berburu dalam gelap. Bintang-bintang absen malam ini, membuat Hashirama harus berhati-hati melangkah. Pelita-pelita dimatikan, semua orang terlelap di balik selimut masing-masing. Semuanya lelah setelah mengurus korban luka serangan bijuu.

Ia berbelok ke arah kamar Izuna. Ruangan itu juga gelap dan sunyi. Tak ingin mengganggu kedua penghuninya, Hashirama menjauh mengambil arah lain.

Ia tak pernah menduga Tobirama dan Izuna memiliki perasaan satu sama lain. Ia hanya melihat mereka bersama-sama setiap latihan. Namun, ketika otaknya mulai menyusun hal-hal lain yang ia saksikan, Hashirama menyadari bibit-bibitnya sudah lama terlihat. Hanya saja, tak kentara. Perseteruan mereka di depan kantor Hokage, amarah Izuna ketika kabar pertunangannya tersiar, lalu sikap ganjil Tobirama siang tadi….

Angin berembus, membuat tubuhnya gemetaran. Hashirama berpikir untuk kembali saja, menanti Madara di kediaman utama, tetapi bulu kuduknya meremang.

Ia merasakan sesuatu.

Cakranya tak diaktifkan— yang membuat semuanya semakin ganjil. Hashirama tak bisa mengindra sebaik adiknya. Namun, ia merasakan seseorang— sesuatu sedang mengamatinya. Memperhatikannya. Debar jantungnya meningkat ketika ia sadar pernah merasakan perasaan serupa berbulan-bulan lalu. Di hari ketika ia mencegah Izuna jatuh ke danau.

Kantuknya sirna. Fokusnya menyala. Cakranya siap tempur.

Hashirama mengikuti instingnya, memburu siapa pun atau apa pun yang mengamatinya itu. Ia mengejarnya hingga mencapai sebuah struktur bangunan yang familier, diterangi sepasang obor kecil di depan pintu masuknya.

Kuil Naka.

Suara Izuna bergema di memorinya. Setiap pulang selalu masuk ke Kuil Naka. Nggak keluar sampai pagi.

Hashirama tak pernah sempat menanyai sebabnya. Pesan itu tergusur oleh hal-hal lain yang menyibukkannya akhir-akhir ini.

Sementara itu, hawa pengintai misteriusnya menghilang melewati pintu kuil. Hashirama menanggalkan sandal, lalu masuk untuk kedua kalinya. Suhu di dalam lebih dingin sampai ia menginjak lantai bertatami. Ruangan itu rupanya tempat pertemuan. Semua pelitanya mati kecuali satu. Cahayanya jatuh pada sebuah tatami yang terlepas dari tempatnya, dan lubang yang menganga di baliknya.

Hawa si pengintai masih tersisa di pinggir lubang. Hashirama berlutut di tepiannya, mencoba melihat menembus kegelapan. Hanya ada tangga entah menuju ke mana. Ia tahu Kuil Naka ini adalah bangunan asli dari kediaman lama klan Uchiha. Strukturnya dibongkar, disegel dalam gulungan-gulungan, lalu disusun ulang di Konoha. Penjelasan yang mungkin atas lubang ini adalah jalan rahasia menuju luar desa, tetapi rasanya mustahil membangun jalan keluar lebar dan rapi seperti ini dalam waktu dua tahun saja. Temboknya bahkan telah diperhalus.

Gelombang cakra familier menyapunya. Hashirama tersentak, lalu buru-buru menuruni tangga. Lebarnya hanya cukup dimasuki satu orang dewasa. Jarak dari bahunya ke dinding pun hanya sejengkal. Temperaturnya terus turun setiap ia melangkah, tetapi pekatnya kegelapan mulai ditembus oleh cahaya jingga samar-samar. Akhirnya tangga itu berakhir pada ruangan kecil beralaskan tanah dingin. Ada seseorang di sana.

"Hashi?" Madara berdiri membelakangi sumber cahaya. Ia sudah menukar kimono tidurnya dengan pakaian sehari-hari berkerah tinggi.

"Apa kamu—" Hashirama menghentikan pertanyaannya sendiri. Hawa yang diikutinya hilang. "Aneh sekali…."

"Ada apa—?" Madara mendekatinya, tetapi ia melewatinya sambil celingukan.

"Kamu sendirian—?"

Madara malah mengulangi pertanyaannya, "Ada apa?"

Hashirama meraih kedua lengan suaminya, dan menatapnya lurus-lurus. "Katakan kamu sendirian di sini."

Untuk sesaat Madara hanya menatapnya bingung, kemudian pupilnya melebar. "Mengapa kamu di sini?"

"Ada yang mengamatiku di luar. Kurasa … kurasa itu bukan manusia." Matanya masih menjelajahi setiap sudut, berharap menemukan sosok yang mengintainya tadi. Namun, yang tersisa di ruangan itu hanyalah tanah dan sebuah bongkahan batu yang tertanam di antara kedua obor. "Apa kamu melihat orang lain…? Sesuatu, mungkin—?"

Madara melirik ke arah batu itu, lalu kembali kepada Hashirama. "Kita harus bicara." Ia menjauh darinya, mengambil sebuah obor dari tempatnya di dinding. "Tahu ini apa?" tanyanya seraya mendekatkan cahaya ke permukaan batu.

Guratan-guratan pendek telah ditoreh di sana, tetapi Hashirama tak mengerti maksud semua itu. "Daripada itu— bisakah kau melacak pengintai tadi—"

"Kamu sudah menjadi bagian klan kami," potong Madara tajam. "Dengarkan aku."

"Tapi—"

"Hashirama." Matanya menyipit. "Dengarkan dulu."

"Perasaanku nggak enak," ungkapnya kesal, "apa pun itu yang mengintaiku masih berkeliaran—!"

Madara meninggikan suaranya. "Mau tahu mengapa aku melamarmu?"

Ia tercenung. "...Apa maksudmu?"

"Dua tahun penuh kita tutup mulut, bahkan pada satu sama lain," lanjut Madara sambil mengembalikan obor. "Dua tahun— agar tak seorang pun mengetahui hubungan kita. Kau sudah mendapatkan apa yang kauinginkan, Hashirama. Sudah waktunya kita memperjelas posisi masing-masing." Ia gelisah.

"Aku tahu rencana kita … tidak berjalan sesuai pikiranku." Hashirama menatapnya simpatik. "Pertama, kamu gagal menjadi Hokage— malah aku yang terpilih. Meskipun Tobirama mengambil alih jabatan kepala klan dariku…."

"Aku benar, 'kan? Uzumaki pasti menolak bernegosiasi denganku. Berkali-kali rencana kita nyaris buyar." Ia mendengkus. "Sayang Ashina tidak membiarkan Nobuo menantangku."

Ia tak menyangka justru di saat terakhir Uzumaki Ashina berhasil membelokkan rencana mereka. Untunglah adiknya turun tangan.

"Yah, tapi…." Senyuman Hashirama mengembang. "Tapi kita berhasil."

Ia menggeleng. "Klan-klan shinobi Hinokuni memang tak lagi memerangi satu sama lain, tapi bagaimana dengan di luar sana?"

"Maksudmu Tsuchi—?"

"Dua kekuatan yang bertolak belakang adalah perang tanpa ujung," ujar Madara. "Itu bunyi baris pertama isi prasasti ini. Kamu tahu apa maksudnya."

Perlahan-lahan Hashirama mengangguk. Pasti merujuk pada kedua klan mereka.

Tidak ada yang lebih kuat daripada Senju dan Uchiha di Hinokuni.

"Hanya penyatuan keduanya yang dapat menghentikan perang," lanjutnya. "Tetapi perang masih berlangsung."

"Tunggu— apa kaitannya dengan alasanmu melamarku?" Hashirama mengusap wajahnya, masih berusaha mencerna situasi.

"Kita sama-sama bersumpah menghentikan perang, Hashirama. Namun, yang terjadi adalah kau menyetujui untuk memerangi orang lain. Orang-orang yang tak kita kenali."

"Kamu tahu aku—"

"Atau kau tidak masalah membunuhi orang-orang selama bukan dirimu yang menebas leher mereka?"

Hashirama menggeleng lemah. "Kamu ingin aku bertindak apa, kalau begitu?"

"Konoha sendiri terbukti tak aman untuk Izuna dan Tobirama."

"Itu karena bijuu…."

Bijuu. Kaisar. Tsuchinokuni. Ketiga hal itu tidak terlintas di pikiran mereka ketika mereka masih bocah. Apalagi Kaisar. Ukyo mati terbunuh gara-gara Shimura Hisao….

Aku tidak mengindahkan laporan yang mengatakan Hisao sering keluar-masuk hutan sendirian di larut malam. Tidak ada orang lain yang terlacak bersamanya.

Mengobrol. Anaknya, Masao.

Kata-kata Tobirama terngiang berulang kali di otak Hashirama.

"Sebentar…." Hashirama membuka kedua telapak tangannya. "Kita lihat dulu masalah yang harus diurus—"

"Ini bukan dunia yang kita inginkan waktu itu." Madara memangkas jarak di antara mereka. "Kita berhasil keluar dari tirani para daimyo, tetapi kau meletakkan Konoha di bawah ketamakan Kaisar. Bagaimana dengan mimpi kita? Atau kau memilih memaksa anak-anak kita menghadapi takdir serupa dengan yang ingin kita hindari?"

Hashirama menggigit bibirnya, melebarkan jarak di antara tubuh mereka. Penyebutan anak-anak mereka membuat hatinya digelayuti perasaan tak enak.

"Aku akan meninggalkan Konoha."

"Eh—" Hashirama mengerjapkan mata. Punggungnya melemas.

"Aku mau pergi dari sini," ulang Madara tak acuh.

"Jangan—" Hashirama menyambar pergelangannya. "Kamu mau ke mana—?"

"Kamu disibukkan dengan urusan internal Konoha," kata Madara sambil berjalan ke sudut. Ada sebuah celah yang tak terlihat membuka entah ke mana. "Terlalu sibuk sampai kau tidak sadar pendirian Konoha membawa lebih banyak kehancuran di luar sana."

"Madara—" Hashirama mengikutinya ke dalam celah, mendaki anak-anak tangga sempit dalam kegelapan total. Lorong ini lebih curam daripada jalan masuk di dalam kuil tadi. Tak ada pegangan, sehingga ia harus meraba dinding agar tidak terpeleset. Jalur ini masih kasar berkerikil, sesekali melukai telapak kaki telanjangnya. "Kita tidak tahu seperti apa shinobi yang tinggal di luar Hinokuni," katanya.

"Tepat sekali."

"Dan masih ada bijuu."

"Yang sewaktu-waktu dapat meluluhlantakkan Konoha."

"Bukannya mereka tidak seagresif itu dalam catatan literatur?"

Perjalanan mereka berakhir singkat. Madara membuka sebuah pintu jebakan di atas kepalanya, lalu memanjat keluar dan membantu Hashirama meninggalkan lorong. Mereka kini berada di padang rumput pampas, di sebuah perbukitan tak jauh dari desa. Ia pernah melihat pemandangan ini dalam mimpinya, walau kini tanpa adanya sepasang bulan yang menaungi mereka.

Dari sini, Hashirama dapat melihat keseluruhan Konoha bermandikan pertanda awal menyingsingnya fajar. Bekas-bekas hangus serangan Yonbi pun cukup kentara, walau tak lagi menguarkan asap.

"Mereka semua mau bergabung dengan kita karena mereka takut akan kekuatan kita," kata Madara dari belakangnya. "Mereka tidak memiliki visi serupa kita."

Hashirama menoleh. "Aku bisa membujuk—"

"Kau tidak senaif itu, Hashi!" Madara bergeming di antara rerumputan setinggi pinggangnya. "Perang terus berlangsung di tempat yang tak bisa kita lihat. Orang lain membawanya ke Konoha, dan— dan mereka semua menyambutnya dengan tangan terbuka! Karena hanya itu cara hidup yang mereka tahu. Kita tidak bisa meyakinkan mereka untuk tidak berperang jika orang lain di luar sana masih memerangi kita."

Hashirama memijat pelipisnya. Cakranya yang sudah tenang kini mulai bergolak kembali.

"Kau berjanji menjaga nyawa Izuna," Madara menyambar lagi. "Lihat apa yang terjadi."

"Aku tak bisa tahu mengapa ada bijuu di Konoha, Madara!"

Madara menghela napas dalam-dalam. "Aku tahu," katanya dengan nada lebih tenang. "Aku tidak menyalahkanmu. Jangan menangis."

Hashirama baru menyadari pipinya sudah dibanjiri lelehan air mata. Ia mengusapnya dengan lengan baju. "To, Tobirama juga ... nyaris…."

"Aku bisa memburunya seperti aku memburu Kyuubi."

Hashirama mengangkat wajahnya. Mulutnya terbuka siap memohon, tetapi ia mengurungkan niatnya. "Jadi itu alasanmu," ujarnya lirih.

"Selain Tsuchi, masih ada negara lain dengan populasi shinobi. Mereka dapat menjadi alat penguasa setempat untuk memerangi kita." Madara menerawang ke arah desa. Poni panjangnya dimainkan angin.

"Kamu … kamu mau mengunjungi mereka?" tanyanya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Agar mereka tidak berperang dengan kita?"

Ia mengangguk. "Kamu tahu…." Madara memegangi kedua bahunya. "Adik-adik kita bisa mengurus Konoha."

"Desa sudah lebih stabil…." Hashirama mengikuti arah pandangnya. Pelita di antara rumah-rumah mulai menghilang. Ufuk timur telah menyala keemasan.

Madara melepaskannya perlahan-lahan, mundur ke arah barat. Hashirama tercenung, mengamatinya menjauh.

"Ikutlah denganku, Hashi." Tangannya yang terbungkus sarung tangan terulur. "Jika kita bersama-sama, kita tak terkalahkan. Kamu bisa membujuk para shinobi asing. Aku bisa menjaga kalian bertiga," tambahnya. "Aku membutuhkanmu."

Lama ia menatap kelima jari pada tangan yang terulur itu, lalu pada wajah suaminya yang separuh tertutup, pada permohonan yang terpantul di hitam irisnya. Dari belakang, suara-suara kesibukan muncul menyambut fajar, dikumandangkan oleh ratusan nyawa yang memercayainya— memercayai mereka berdua….

Tobirama dan Izuna bisa melindungi diri mereka sendiri. Mereka tak lagi sendirian. Ada ratusan orang yang siap membantu.

Konoha tidak dibangunkan dalam semalam oleh daya satu orang saja.

Namun, aliansi ini tak akan bisa bertahan jika negara lain menginginkan perang atau seekor bijuu kembali muncul. Ia harus tahu dunia luar agar Konoha tidak lenyap begitu cepat.

Cakranya bergolak, membuat debar jantungnya meningkat ketika Hashirama meletakkan tangan kanannya pada uluran Madara.

"Aku ikut."


.

.

hopefully epilogue before new year. thanks for reading and pls tell me what you think :D