jika kalian membaca mahkota daun di AO3 atau Wattpad, ada bonus gambar yang kusertakan di epilognya


.

.

"Beliau berubah."

"Apanya?"

"Tidak lama setelah kami pindah ke Konoha." Shimura Keita menghela napas dan mengedarkan pandang ke langit, pada gelombang samar berbagai warna yang beriak-riak di bawah awan. "Oh, sudah jadi, ya?"

"Belum, ini baru purwarupa." Tobirama mundur selangkah, mengawasi dua jounin di ujung pemakaman. Tangan mereka membentuk segel serupa. Aliran cakra keluar dari punggung mereka, menyatu dengan campuran warna di angkasa. "Yang tadi— siapa yang Anda maksud?"

"Hisao-san," Keita bergumam, melirik nisan di dekat kakinya. "Beliau memang berubah sejak kehilangan Masao … makin menyendiri sejak pindah. Makin sering mengungkit tentang Masao-kun."

Usai memastikan pola yang dilihatnya serupa dengan sketsa, Tobirama menutup gulungannya. "Kami punya dugaan tentang siapa— apa yang berbicara dengannya."

"Jadi ini untuk itu…?" Keita menunjuk langit.

"Ya. Izuna dan Inoha-san mustahil memeriksa satu per satu semua orang yang masuk ke Konoha. Pelindung dari fuuinjutsu ini lebih praktis. Skalanya juga besar, melingkupi seluruh desa sampai ke dalam tanah." Kubah kekkai ini melindungi desa dengan mengingat identitas cakra setiap penghuninya. Jika sebuah identitas cakra yang tak dikenal melalui kekkai, penjaga kekkai akan langsung mengetahuinya.

"Hebat…" gumamnya lambat-lambat, masih menengadah. "Saya belum pernah mendengar yang seperti ini."

"Klan Uzumaki yang mengembangkannya. Hanya belum pernah digunakan." Tobirama mengantungi gulungannya, dan mulai berjalan meninggalkan pemakaman. Saat ini sebagian besar tempat itu masih berupa padang rumput, tetapi sebagian kecilnya sudah dihuni oleh para shinobi yang gugur di medan perang.

"Uzumaki…?" ulang Keita. Ia berjalan menjajarinya. "Bukannya hubungan klan kalian—"

"Ya."

"Hasil riset seperti ini tidak mungkin dapat berpindah tangan semudah itu."

Sebelum mereka melalui gerbang pemakaman, Tobirama berhenti. "Uzumaki Mito meninggalkannya untukku," ungkapnya dengan suara rendah. "Semua catatan riset fuuinjutsu-nya."

"Yang benar—?"

"Ada labelnya untukku."

Seorang sepupunya membawakan sebuah gulungan dari kamar yang tadinya ditempati Mito di kediaman utama klan Senju. Awalnya ia mengira benda itu tertinggal berhubung ketiga Uzumaki pergi secepatnya setelah duel itu, tetapi ada catatan bertuliskan nama Tobirama ditempelkan padanya. Ketika dibuka, isinya ternyata lebih banyak gulungan yang disegel di dalam kertasnya. Semuanya gulungan fuuinjutsu. Butuh satu bulan bagi para shinobi Konoha untuk menguraikan isinya dan mempraktikkan jurus-jurus rumit di dalamnya.

"Omong-omong, Senju-san," Keita memanggil, memutus lamunannya. "Sudah ada kabar dari Hokage-sama?"

"Mereka bertolak ke Iwa seminggu lalu dari ibukota," Tobirama memberitahunya. "Cuma itu yang kutahu."

Bahu kepala klan itu menurun, tetapi ia tidak bertanya lagi. Tobirama mensyukurinya; informasi keberadaan Hashirama dan Madara sangat dirahasiakan. Bahkan sesama kepala klan pun belum tentu tahu.

Usai berpisah dengan Shimura Keita dan kembali ke kantor Hokage, Tobirama mendapati Izuna sudah ada di sana. Ia bersandar pada meja kerja dengan segulung kertas di genggaman.

Ia masih merasa ganjil melihatnya tanpa penutup mata.

"Ohh, akhirnya kamu kembali juga," ungkapnya penuh kelegaan. "Mengajari orang dewasa sungguh merepotkan. Aku mencerocos selama setengah jam, lalu mereka dengan polosnya bilang mereka nggak paham! Tapi bertanya pun tidak! Rasanya aku mau menangis saja di kelas tadi…."

Tobirama menahan diri untuk tidak tertawa. "Ini yang terakhir…?" tanyanya sambil merapikan tumpukan dokumen di rak, dan memilah satu untuk diambil.

Izuna menggeleng dan meletakkan tehnya. "Masih ada tiga … empat kelas lagi. Setidaknya aku bisa memarahi murid-murid bocahku. Orang-orang ini kebanyakan lebih tua; aku yang tak sopan nanti. Bukan ninja, pula! Semoga saja mereka sungguh paham protokol keamanan Konoha…." Ia menengok ke belakang, mendapati riak-riak multiwarna di angkasa. Ekspresinya berubah serius.

Ia meliriknya. "Kenapa?"

"Apa … sudah ada tanda-tanda itu?"

Pria itu menggeleng. "Bodoh jika dia masih di Konoha. Inoha sedang menyisir seluruh negeri untuk mencarinya juga."

Sebelum meninggalkan desa, Hashirama memberitahunya ia merasakan kehadiran sesuatu yang berniat jahat. Izuna pun melaporkan hal yang sama. Kedua hal itu terjadi di tempat dan waktu yang sama: di kediaman klan Uchiha, usai Hashirama berduel dengan Nobuo. Baik Madara maupun Tobirama justru tidak bisa melacak kehadiran itu. Tak satu pun pengindra bisa, sampai Yamanaka Inoha mengatakan ia juga merasakan kehadiran itu pada dini harinya. Ia dan Izuna bekerja memetakan identitas cakra yang mereka rasakan untuk dijalin dalam kekkai desa.

"Panggil dia pulang. Sia-sia mengejarnya tanpa panduan." Izuna mengumpulkan tumpukan dokumen di meja. "Aku mau mengerjakan ini. Ada orang lain yang bisa ku…?"

"Perpustakaan," kata Tobirama tanpa menunggu Izuna menyelesaikan kalimatnya. "Ada juru tulis di sana."

"Mm, 'makasih." Izuna sudah memegang pegangan pintu ketika ia berbalik, mencium pipi tunangannya, lalu meninggalkan kantor dengan mata berbinar-binar. "Sampai nanti!"

Ketika berbalik merapikan rak dokumen, Tobirama menemukan pola aneh pada dinding di belakang rak. Seperti bagian dari sebuah cakaran panjang nan dalam. Guratan pada kayunya seolah sudah ditambal dengan kayu lagi.

Ia menjulurkan tangan. Dinding itu kental dengan cakra saudarinya. Perasaan bersalah menyeruak di benaknya.

Seseorang bersiul pendek dari arah pintu. Tobirama segera menumpuk dokumen menutupi guratan itu sebelum menoleh. Seorang wanita jangkung bersandar pada kusen, dan tersenyum penuh arti kepadanya. Tubuhnya dibalut oleh pakaian cokelat sederhana serupa pengelana. Rambutnya hijau gelap, digelung di puncak kepalanya menyisakan poni menutupi separuh wajahnya. Ia butuh waktu untuk mengenali profil wajah tirus itu.

"...Touka?"

Senju Touka melenggang masuk kantor Hokage, menebarkan pandangan pada interiornya yang rapi meski penuh barang. "Selamat, ya," ujarnya. "Itu tadi Uchiha Izuna, 'kan?"

Tobirama hanya mengangguk sambil menarik kursi Hokage untuk dirinya.

"Kudengar dia buta," katanya, dahinya berkerut menatap ambang. "Apa ada Uchiha lain yang memberikan matanya…?"

"Dari sepupunya, Ayano, yang tewas di medan perang Iwa."

"Jadi dia sudah bisa pakai sharingan lagi…."

"Tidak juga. Ayano tidak punya sharingan. Penglihatan jarak dekatnya juga buruk." Tobirama menarik selembar kertas. "Kauingin pindah ke Konoha?"

Touka beralih menatapnya. "Tentu saja. Tapi," nada suaranya berubah tajam, "jawab pertanyaanku dulu." Satu tangannya diletakkan di permukaan meja.

Tobirama menengadah, menaikkan satu alis pucatnya.

"Dengan apa kalian mau membayar utang klan Senju? Jangan bilang dari harta benda pribadi Hashirama— aku tahu itu saja nggak cukup. Uchiha Madara mustahil punya harta bergunung-gunung, kata Paman Joji." Ia menghela napas lelah. "Aku berpapasan dengan Paman dan Bibi Mayuko."

Senju Joji dan Senju Mayuko memilih meninggalkan Konoha setelah insiden duel itu. Mereka berangkat seminggu setelah kepergian Hashirama, langsung menuju Uzushiogakure, tanpa ditemani siapa pun. Tobirama tidak berusaha mencegah mereka; ia tahu hal itu sia-sia.

"Ada lagi pertanyaanmu?" katanya tenang.

"Ya— ini sudah sebulan, seharusnya tidak butuh waktu selama ini hanya untuk ke Iwa dan kembali, 'kan?" Touka mengitari meja, mendekat pada jendela yang menampilkan awan-awan berkumpul menggelapkan langit siang. "Apalagi kakakmu hamil, kalau sesuatu terjadi padanya…."

"Ada Madara—"

"Ibu hamil mudah lelah. Bisa sakit. Lagipula kamu percaya dia?"

"Pertanyaan macam apa itu, Touka?" Tobirama balas bertanya, suaranya mendekati batas berbahaya. "Uchiha Madara adalah kepala klan salah satu pendiri Konoha. Salah satu shinobi terkuat di Hinokuni. Bodoh jika aku tidak memercayakan nyawa sang Hokage di tangannya."

Touka terdiam, matanya mengamati ekspresi kepala klan Senju. Ia menyerah. "Baiklah … aku hanya perlu tahu mengapa perjalanannya butuh waktu begitu lama."

Ketegangan di bahunya mengendur. "Kakak butuh istirahat," katanya, suaranya memelan. "Di Konoha dia sibuk dengan urusan desa. Stres. Tidak baik untuk bayi-bayinya. Kembar, omong-omong."

"Ooh." Mata Touka membulat.

"Kakak juga sedang berburu bijuu—"

"Demi Rikudou Sennin!" desis sepupunya sambil menepuk dahi. "Untuk apa—?"

"Membayar utang klan, tentu saja," jawab Tobirama santai sembari mengangkat bahu.

"Bagaimana—?" Touka memulai bertanya lagi, tetapi selembar kertas sudah disodorkan ke mukanya.

"Ini formulir pengajuan pindah tempat tinggal, Touka-san," Tobirama menjelaskan dengan nada seformal mungkin. "Isi dan berikan pada bagian kependudukan di lantai bawah. Aku masih ada urusan." Ia melambaikan tangan ke gunungan dokumen di ujung meja untuk menggarisbawahi pernyataannya.

Touka menatap kertas dan pemegangnya bergantian, lalu menyambar formulir itu sambil menggerutu. "Dan kalian juga berhenti memerangi Tsuchinokuni!" ia meluncurkan pertanyaan berikutnya, "pos-pos jalan diisi lebih banyak samurai. Apa artinya semua itu? Dari mana kas desa diisi—?"

"Permintaan misi tetap mengalir." Jemari Tobirama bertautan di meja. Ia harus menahan diri menunjukkan rasa puas dari mendengar semua pertanyaan sepupunya itu. "Pengawalan, pengamanan … tidak ada bedanya dengan misi dari masa sebelum Konoha berdiri. Harga yang kami tawarkan bervariasi, jadi rakyat biasa saja bisa menyewa jasa shinobi. Samurai hanya bekerja pada Kaisar, 'kan?" Ia mengakhiri penjelasannya dengan seringai lebar.

Cuping hidung Touka melebar. "Dasar licik," ujarnya sambil berbalik.

"Jangan lupa melaporkan hasil pengamatan mancanegaramu, Touka-san!" seru Tobirama ketika wanita itu mencapai ambang.

Ia membalasnya dengan lambaian malas tanpa menoleh sedikit pun.

Pria itu sudah mulai mengambil dokumen pengembalian dana dari klan Hyuuga ketika didengarnya derit engsel pintu kantor terhenti, disusul seruan kaget Touka.

"Anda mau masuk—? Tidak apa-apa, silakan…."

Touka pergi setelah menutup pintu. Tempatnya digantikan oleh wanita langsing paruh baya berambut panjang. Kantung matanya yang tebal membuat ekspresinya terlihat seprrti mengantuk, tetapi tatapannya waspada. Tatanan rambutnya rapi, dan gaya bajunya sederhana. Namun, pembawaannya anggun tak seperti orang-orang yang biasa ditemuinya. Tangannya ditaruh di depan pinggang, kanan di atas kiri, seolah sedang menanti titah. Sikapnya mengingatkan Tobirama pada pelayan dan dayang di keluarga Daimyo Matsudaira. Ia membungkuk singkat begitu mata mereka bersirobok.

"Maaf mengganggu waktu Anda, Senju-sama," sapanya dengan suara hanya sedikit lebih keras daripada bisikan. "Saya sudah menyampaikan permohonan saya di bawah, tetapi saya diminta ke kantor ini."

Tobirama meluruskan punggung dan meletakkan kedua tangannya rapi di meja. "Permohonan apa?"

"Keluarga saya— anak-anak saya tinggal di sini, tetapi…." Wanita itu tampak ragu, sejenak melirik lantai kayu sebelum melanjutkan, "tetapi saya dengar putra saya tidak ada di desa, dan putri saya mungkin tidak mengenali saya lagi. Saya tidak berani sembarangan menyebutkan nama mereka, Anda tahu…."

Dilihat sekilas ia jelas bukan shinobi. Namun, kunoichi pandai menyamar … tidak juga— jika benar wanita ini kunoichi, orang-orang di lantai bawah pasti sudah menyadarinya. Ia cukup paham tentang protokol keamanan kaum ninja. Bukan masyarakat biasa. Informan intel, barangkali?

"Kalian sudah lama tidak bertemu?" tanyanya tanpa menurunkan kewaspadaan. Ia meraih selembar kertas polos dari tumpukan.

Wanita itu menggeleng. "Putraku, hanya sekali ketika ia berkunjung ke Kastel Musim Gugur pada Persembahan Tahunan. Tapi dia pulang tanpa pamit, lalu saya dengar Konohagakure dalam bahaya. Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya sampai satu minggu lalu ketika para samurai sudah yakin Konoha aman."

"Saya bisa mencarikan keluarga Anda," kata Tobirama, kali ini mengambil pensil dari laci meja. "Tulis saja nama Anda dan anak-anak Anda."

Ia tersenyum malu-malu. "Saya … saya tak bisa menulis…."

Tobirama membalasnya dengan senyuman formal. "Tidak apa-apa. Nama Anda…?"

"Ageha."

Bekas luka di dagu Tobirama yang tertutupi tato mendadak gatal. Pensilnya menggurat huruf-huruf penyusun nama sang tamu, tetapi otaknya mencari-cari di mana ia pernah mendengar nama itu disebutkan baru-baru ini….

"Anak-anak Anda—?" Belum selesai ia bertanya, pintu kantor sudah menjeblak terbuka.

"Tobirama, mau jajan tidak— oh!" seruan Izuna muncul dari belakang punggung Ageha. "Maaf, maaf…." Permintaan maafnya lirih, disusul engsel pintu berkeriut menutup.

Namun, Ageha sudah membalikkan tubuhnya duluan. Tobirama tak bisa melihat wajahnya karena terhalang oleh rambut, tetapi ia bisa mendengar napasnya tercekat.

Bunyi pintu bertemu kusennya tak pernah berkumandang.

"...Ibunda—?"

Kedua wanita berpandangan, bersalaman, lalu Izuna memecah kesunyian dengan senyuman malu-malu. "Ibunda sudah bertemu Tobirama," katanya sambil menyelipkan rambut ke balik telinga. "Dia tunanganku, lho."

Ageha berpura-pura terperanjat, perlahan menghadap lelaki di balik meja itu. "Senju lagi! Entah apa kata ayah kalian nanti!" Tangannya mencengkeram baju tepat di atas jantungnya.

Tobirama tersenyum simpul. "Apa boleh buat; pesona kami sulit ditolak Uchiha."

"Sok tahu, kamu!" sergah Izuna, tetapi tawanya berderai hingga lantai bawah.

Ageha terbahak hingga air matanya meleleh. Ia mengatur napasnya sebelum bertanya, "Omong-omong, di mana kakak kalian berdua…?"


.

Usia Tobirama dua puluh empat tahun, dan Izuna dua puluh lima tahun.

Perpindahan menggunakan hiraishin terhalang oleh jarak. Ada batas tertentu yang tidak bisa ditembus Tobirama— batas yang ditemukannya pada minggu ketiga setelah Hashirama meninggalkan desa. Baik ia maupun Madara tidak memberitahu sampai kapan mereka akan berkelana. Tobirama dan Izuna tidak bertanya-tanya, serta membiarkan kabar-kabar keberadaan mereka dari sumber terpercaya meluas di desa agar tidak ada yang mengira kakak mereka minggat.

Lagipula, tak satu pun laporan dari ANBU masuk mengabarkan hal itu.

Ketika musim dingin mencapai akhirnya, Tobirama mulai cemas. Kandungan Hashirama sudah mencapai trimester akhir. Di utara, musim dingin berlama-lama tinggal. Sekuat apa pun saudarinya, suhu rendah bisa membahayakannya dan kedua janinnya.

Maka setiap fajar menyingsing, Tobirama mengambil sebuah kerikil. Ia mengirimnya ke markah hiraishin yang terukir di punggung Hashirama. Berkali-kali gagal, tujuannya terlalu jauh di luar jangkauan. Barulah ketika untaian wisteria ungu mulai bermunculan, batu kerikilnya menghilang dari hadapan. Tanpa membuang waktu, ia mengambil pesan yang telah disusunnya bersama Izuna sebelumnya. Tobirama mengirimnya menyusul kerikil itu. Saudarinya takkan bisa mengirim pesan balik, maka sembari menunggu hasilnya ia bersiap-siap.

"Aku serius," tutur Izuna, uap napasnya mengepul di udara pagi buta, "kalau mereka tidak datang tepat waktu, kita menikah saja langsung, Tobirama."

Seekor ikan bersisik keperakan membuat kecipak riuh di permukaan danau. Begitu ekornya yang gemerlapan menghilang ke dalam air, Tobirama berkomentar, "Ibumu akan kecewa."

"Lebih kecewa karena Kakak nggak kunjung pulang," ujarnya sambil memajukan bibir. "Kita sudah meliburkan desa hari ini, orang-orang sudah siap berpesta."

"Tambah lagi liburnya?" Tobirama mengeratkan syal di leher calon istrinya.

Izuna mengayunkan kedua lengannya, frustrasi. "Mereka saja menikah nggak memberi tahu kita."

"Kakak nggak akan mau melewatkan ini, tenanglah."

"Aku tahu, kok." Izuna menendang sebutir kerikil hingga tercebur. "Aku hanya kangen mereka berdua."

Mereka berpisah tak lama kemudian, mengayunkan langkah ke arah berbeda. Sebuah kamar di kediaman klan Uchiha sudah dipinjamkan untuk Tobirama agar ia bisa bersiap-siap mengenakan kimono hitamnya yang resmi. Buatannya halus, berat di bahunya. Sulaman putih lambang klannya seolah balas menatap ketika ia berkaca.

Entah apa yang ada di pikiran Senju Butsuma ketika ia mengenakan kimono ini. Tobirama menduga ia tak memikirkan hal selain bakti kepada klan, menikahi perempuan yang membawa bibit mokuton dalam darahnya untuk membangkitkan kekuatan legendaris Senju. Mungkin Tobirama adalah yang pertama menyandang kimono ini tidak dengan niat berbakti pada klan semata.

Klan Senju tak lagi sendirian menghadapi dunia.

Ia menarik napas dalam-dalam, merapikan kain kimononya, lalu mengulas senyum simpul. "Aku pergi dulu," bisiknya tidak kepada siapa-siapa; ruangan itu hanya dihuni dirinya seorang.

Kedelapan kepala klan lainnya sudah menanti di luar. Mereka berjalan di belakangnya, disusul oleh sepupu-sepupu muda Senju. Pelataran di kediaman klan Uchiha sudah dikelilingi pepohonan dan bebungaan. Semuanya mekar mengisi udara dengan semerbak keharumannya. Mahkota-mahkota lembayung, kemuning, dan merah jambu menghiasi tepian birunya langit.

Langkahnya berhenti di tengah. Senju Azami sudah berdiri menantinya, terbalut dalam kimono seputih cangkang telur.

"Gugup?"

"...Mm."

Mereka bertukar senyuman, lalu bersama-sama menatap ke ujung lain pelataran. Pada sebuah ambang yang ditutupi selembar kain hitam berlukiskan kipas merah putih.

Kipas itu terbelah, dan kainnya menyibak.

Tangan Uchiha Izuna adalah yang pertama muncul, pergelangannya menghilang dalam gelapnya lengan panjang kimono pengantin yang membalut tubuhnya. Rambutnya terurai melewati bahu, poninya menutupi wajahnya yang tertunduk. Langkah-langkahnya lembut menjejak tanah. Dari jarak dekat, Tobirama mendapati pola-pola merah gelap mengelilingi kimononya seperti tali api. Ujung hidungnya memerah diterpa angin.

"Hai."

Bisikan itu nyaris tanpa suara; Tobirama hanya melihat bibir merah Izuna bergerak bersamaan dengan kersikan dedaunan, lalu rambutnya kembali berantakan, dan satu tangannya menghadap bumi sementara satunya membuka ke langit— dua tangan yang Tobirama sambut dan genggam erat sementara ia mengucapkan sumpahnya.

Ia pertama bersua dengannya lima belas tahun yang lalu, masih bersumpah untuk menebas lehernya dan semua kerabatnya. Mereka beradu begitu sering, menjadi lawan pertama dan terakhir di medan tempur, dan hanya berakhir ketika ia mengirimnya ke ambang kematian.

Tobirama tak pernah lagi menyesali keputusan Hashirama menyelamatkan Izuna.

Kedua mempelai tak menyadari udara beriak-riak ketika sosok raksasa cakra muncul menyela birunya langit dan gumpalan awan, tak menyadari kepala semua hadirin mendongak menyambut sepasang shinobi mendarat dari telapak tangan susano'o. Mahkota bunga-bunga terlempar ke udara, sebagian terselip di sela rambut Izuna, yang melanjutkan sumpahnya tanpa jeda. Tak ada yang memprotes tamu yang terlambat, bahkan mempelai perempuan pun tidak.

"Telat—?"

"Telat." Izuna tersenyum simpul, lalu melepas tangannya untuk menggenggam jemari Madara yang baru menghampiri mereka. Kakaknya masih mengenakan zirah lengkap yang kini sudah dihiasi banyak torehan baru. Pasir pun menyisa pada merah permukaannya.

Tobirama akhirnya memutuskan kontak mata, menyambut saudarinya yang berdiri dengan topangan lengan suaminya. Perutnya sudah lebih besar dari semangka, dan dahinya penuh peluh. Ia mengenakan kimono hitam dengan haori sewarna gandum. Senyumannya tersembunyi di balik tangan, dan ia memeluknya dengan susah payah.

"Selamat, Tobirama."

Ia tak sanggup membalas. Suaranya tercekat. Hashirama menepuk kedua bahunya, tubuhnya menguarkan bau alam liar. Ia ganti memeluk erat Izuna. Madara berdiri berjarak dari mempelai pria, keduanya bertukar anggukan singkat tanpa kata-kata.

Perlahan para tamu berbaur, menyalami kedua mempelai dan satu-satunya orang tua mempelai di sana. Tobirama mengucapkan terima kasih begitu sering hingga bibirnya mengering. Pipi Izuna dialiri lelehan air mata, dan senyumannya tak pernah lenyap setiap ia menyapa tetamu.

Kali ini kedua mempelai tak menyadari kedua kakak mereka menyelinap pergi dari pelataran.


.

Langit-langit kamar mengabur dalam pandangan Hashirama yang berkaca-kaca. Papan-papan kayu berpendar dalam cahaya keemasan dari pelita-pelita yang mengelilingi tempat tidurnya. Sekujur tubuhnya lengket dibasuh peluh, tembus hingga ke bantal-bantal yang menyangga punggungnya. Hyuuga Kyoko bersiap di sisinya dengan kain dan air hangat. Wajahnya penuh konsentrasi, dengan urat-urat menegang di pelipisnya.

"Sedikit lagi, Nak, sedikit lagi."

Sakit.

Bisikan Ageha tidak menyurutkan rasa sakitnya. Hashirama sudah terbiasa dengan rasa sakit; ia tahu tubuhnya pasti akan meredakan dan menyembuhkan luka dalam sekejap mata, tetapi kini ia menggenggam tepian selimut erat-erat hingga jemarinya mati rasa, memberitahu tubuhnya untuk tidak melekatkan kulit dan ototnya yang robek.

Jangan dulu. Jangan sekarang.

Pahanya menegang, giginya menggertak. Hashirama mengambil napas, mengejan mengikuti suara mertuanya.

Dorong.

Dorong.

Setiap kali kelopak matanya menutup untuk berkedip, yang ia lihat bukanlah langit-langit kayu, tetapi hijau dan cokelat. Hijau dan cokelat. Lembaran-lembaran hijau bergoyang diterpa getaran pada dahan-dahan cokelat. Rambatan rasa takut pada kulit lengannya yang terbuka. Senyapnya semesta. Debar jantung yang memburu.

Hashirama memecah kesunyian dalam kepalanya dengan teriakan tajam. Anyir. Ia melahap udara dalam-dalam. Air berkecipak.

"Satu lagi—!"

Satu lagi menyusul tak lama kemudian. Perutnya kosong seketika. Helaan napas panjang lepas dari sela bibirnya. Air kembali berkecipak.

Dedaunan berkersik.

Kawarama gelisah di dahan. Itama menangis dalam gendongannya.

Tangisannya terlalu nyata. Dan ganda.

"Ba—" Hashirama menelan ludah, membasahi kerongkongannya, "bayiku…."

Kyoko meletakkan bayi dalam buntalan di lengannya. Tangisannya perlahan-lahan mereda ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit ibunya. Ekspresinya pun kembali tenang. Mata Hashirama kembali berkaca-kaca.

Ketika ia mengangkat kepala, Kyoko sudah menghilang dari sisinya. Sebagai gantinya, berdiri seorang pria di sebelah kakinya yang berselimut. Ageha meletakkan buntalan lain pada lengan kekarnya sambil berbisik menasehatinya agar tidak kaku. Wanita itu menepuk lengannya, tersenyum penuh simpati pada putra dan menantunya sebelum meninggalkan mereka berempat.

"Madara—"

Madara berlutut, tetapi tatapannya terpaku pada isi buntalan yang menangis itu. Hashirama meraih pipinya, mengelusnya hingga ia terdiam seperti saudaranya.

"Keduanya lelaki," kata Madara dengan suara tercekat.

"Mereka mirip kamu," ujar Hashirama setengah tertawa.

Madara mendengkus setengah angkuh, setengah puas. Cahaya lilin menyinari fitur wajahnya, dan Hashirama sadar belum pernah ia melihat suaminya tersenyum selebar dan selembut ini.

Sepintas wajah Itama dan Kawarama di bawah rimbunnya dedaunan hadir, lalu pudar. Ia menatap kedua bayi itu bergantian. Mereka tidak akan berakhir seperti adik-adik mereka yang pergi terlalu cepat. Tidak akan.

Usia Hashirama dua puluh enam tahun, dan Madara dua puluh tujuh tahun.

Mereka berdua akan memastikan putra kembar mereka hidup jauh melampaui esok hari.


.

.

thank you so much for reading until the end :') I hope you enjoy this fic as much as I do in writing Daun.