Andai dengan mengucap 'Bismillah' kudapat menghalalkan dirimu,
Maka akan kusebut lafadz itu sebanyak detik dalam hidupku.
.
.
.
Disclaimmer
Kuroko no Basuke/黒子のバスケ© Fujimaki Tadatoshi
AKAD © Kina
ATTENTION : This story are purely fictitious. All characters appearing in this story are Fujimaki Tadatoshi (where some places and incidents either are products of the author's imagination or are used fictitious). Any resemblance to real persons, living or dead, is purely coincidental.
"Alhamdulillah, akhirnya waras juga kamu, nak"
Puji Masaomi penuh bangga. Saking senangnya, Seijūrō merasa tulang punggungnya mungkin beberapa saat lagi akan bergeser akibat tepukan suka cita dari pria paruh baya itu.
'Belum juga disempurnakan tulang rusuk, sudah encok duluan, ck!'
"Boleh kukatakan kamu itu beruntung lho, Akashi."
Seijūrō dan Masaomi saling memandang bergantian, keduanya lalu menatap Nijimura yang masih menyesap kopi hitamnya penuh khidmat. Dari dua pasang iris merah di sana, jelas tersirat bahwa ayah dan anak itu sedang menunggunya untuk melanjutkan kalimatnya yang terjeda.
Nijimura membuka Quran yang selalu menjadi partner andalannya saat pengajian.
"Ustad ingin kita segera mulai kajiannya?" ungkap Seijūrō.
"Sebelum memulai kajian, aku ingin membocorkan sedikit fakta unik di balik 'calon istri' yang kaupilih itu. Boleh?"
Anggukan Seijūrō dan Masaomi menjadi persetujuan untuknya menguak sesuatu dari saku baju koko; benda itu adalah sebuah surat.
Pada bagian tengah Quran yang dibuka, terselip beberapa kertas yang terlipat kecil membentuk persegi panjang. Kertas itu kemudian dibuka, hingga kembali pada bentuk utuhnya.
"Kenal anaknya tuan Nash Gold Jr.? mualaf dari Amrik."
"Kise Ryōta, teman basketku saat di SMP Teiko?"
"Ho.., si model majalah 'Playboi' itu?"
Sikap salut untuk kedua Akashi di hadapannya ia tahan untuk pertanyaan selanjutnya.
"Oke, lalu apa kalian tahu putra tunggal dari Perdana Menteri Pendidikan sekaligus pemilik sekolah elit Kunugigaoka?"
"Gakushū."
"Asano-san."
Jawab kedua orang yang ditanya dalam detik yang sama. Nijimura berkedip, sebelum kembali membaca sederet nama yang tercetak di kertas.
"MashaAllah, asa bertanya jeung 'Wiki' nya, lalu—"
Masaomi berdeham kalem, bertolak pada cara Seijūrō yang menjedanya dengan bertanya. "Bisa langsung ke intinya?"
Nijimuro Shūzō tertawa–garing. Memaklumi.
"Intinya, dari sekian banyak pria yang mengajukan ta'aruf dengan putri tunggal pak Kuroko, nyatanya hanya CV kamu saja yang langsung di approve mereka."
Suara kebapaan di sana ikut menimpali. "Alhamdulillah, semoga saja benar berjodoh dengannya ya, Sei."
Seijūrō tersenyum, seraya berkata. "Amin, InshaAllah." Yang diucap kompak dengan sang Ustad kondang sekomplek Teiko.
.
.
Seusai kajian selepas salat Jumat, Seijūrō bergegas menuju mobilnya, mengingat lima belas menit lagi acara santunan di Madrasah Seirin akan segera dimulai.
"Oi, Akashi.. buru-buru sekali, dengan kecepatan yang dimiliki si sexy ini, seharusnya kau tidak perlu khawatir telat seperti itu."
"Sexy?"
Daiki mengangguk-angguk sambil menepuk-nepuk kap mobil merahnya. Dalam otak, Seijūrō terus mencatat ke dalam 'to do list' hariannya untuk mencuci mobilnya sebanyak tujuh kali.
"Jika ada waktu, kau akan kuajak touring—"
"Serius? Dengan si sexy ini?! Kemana.."
"Ke jalan yang benar."
Atsushi yang sudah duduk manis di bangku belakang menjulurkan kepalanya ke depan. "Ne, jadi kita mau jalan ke warung mana dulu?"
Kekesalan Daiki menguap mendengar pertanyaan polos itu.
"Ke warkop ceu Momoi aja, kuy.."
Mata merah memicing menjurus ke arah obsidian pemilik pigment butek di sampingnya.
"Kita akan langsung ke Madrasah Seirin." Final Seijūrō saat mesin mobil dihidupkan.
"Eeh… padahal jumatan itu lebih afdol kalau jalannya memutar ke arah warung (jajan)."
"Tah, dengekeun.." bela Daiki.
Dan Seijūrō mencoba peruntungan konsentrasinya dengan terus bersholawat dalam hati.
.
Atau dengan membayangkan paras sang calon ibunya anak-anak nanti.
.
.
Seingatnya, ia mendapat amanah dari ayahnya untuk mewakili Beliau dalam acara santunan ini,
Seingatnya, ia menerima kajian mengenai 'hukum zina' yang disampaikan Ustad Niji hari ini,
Seingatnya (lagi), kesempurnaan itu hanya milik sang Khaliq.
Lantas ini apa? Kenapa? Kapan? Siapa?
.
Self reminder dalam diri seketika lumpuh saat ia temukan entitas indah di hadapannya.
"Maaf, apa Anda donatur baru untuk Madrasah ini?" pada pengulangan yang keempat, barulah Seijūrō tersadar dari jet lag nya.
Gadis manis itu memang tidak lantas memandangnya saat pertama kali menyambut. Mungkin karena tidak mendapat respon itulah yang membuatnya kini saling bertatapan.
Sepasang mata rubi dan biru pada satu lurusan pandang yang mengikat. Keduanya terdiam untuk momentum bertema terpikat.
1 detik
2 detik
Pada detik ketiga mereka saling menunduk seraya mengucap isthigfar.
Daiki merangkul pundak Seijūrō, seraya berbisik "Ingat, pandangan pertama itu halal, yang kedua dan tiga baru Seitan."
"Tumben bener." Timpal Atsushi yang menyerahkan sumbangan snack kepada gadis manis itu. Meski kelihatannya diberikan, namun Tetsuya merasa sulit memindahtangankan seserahan itu dari tangan si pria jangkung ke tangannya sendiri.
Seijūrō yang sadar pada akhirnya mengakhiri kecanggungannya dengan bertindak sebagai penengah—alih-alih caper.
"Cie.. modus teruss.."
Sambil mengangkut barang-barang yang dijadikan sumbangan, agaknya Seijūrō bernafsu untuk menjatuhkannya tepat ke telapak kaki Aomine Daiki.
"Mari saya bantu.."
'Ah.. suara lembut itu'
Lalu mereka kembali berhadapan. Mata itu.. demi Tuhan, biru itu seperti menawari sebuah euphoria yang terbendung. Bukan sekedar metafora tanpa dasar, namun, andai sanggup, kepada pemilik tatapan itu pun, Seijūrō rela mengasih segala bentuk bantuan sekalipun memberikan seluruh dunia pada sang gadis.
"Bagaimana, kalau bantu aku menyempurnakan ibadah?"
.
.
.
Akan tiba saatnya aku bilang 'Waladdholin'
Dan kau menjawabnya 'Amiin'
.
.
.
つづく(?)
[Jakarta, 2/12/2018]
a/n : just repost from wtpd ^^
Playlist ::
1. Thank You Allah — Maher Zain
2. The One — Harris J
3. Show Me What I'm Looking For — Carolina Liar
.
.
-Kin
