DefluentibusFoliis
Story by : Me
Disclamer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Pairing : Shikamaru N X Hinata H
Genre : Romance
Warning : Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya,
Chap IV
Aku mencintai mu, aku mencintai mu, aku mencintaimu…
Aku mencintai mu Hinata Hyuga, aku mencintaimu melebihi kehidupanku sendiri, aku mencintai mu dari musim gugur yang lalu…
Brengsek ! Kuso !
Dadaku terasa sesak, membayangkan selama 5 tahun ini Naruto yang menempati hatimu… Naruto yang memegang tanganmu, Naruto yang mengelus rambutmu, Naruto yang membuat senyum di wajahmu, dan Naruto yang mencium mu… Dan kenapa harus Naruto ?!
Sudah lebih dari 2 jam aku membiarkan shower kamar mandi membasahi tubuhku, entahlah… setelah pertemuan di café itu aku tidak tahu harus berbuat apa, tubuhku serasa panas, yang aku lakukan hanya memejamkan mata dan duduk di bawah kucuran air dari shower kamar mandi yang langsung membasahi kepalaku.
Kenapa patah hati bisa sesakit ini.. ?
Dalam hal ini aku tidak membenci Naruto, sungguh, bagaimana mungkin aku membenci sepupu ku sendiri, walau sikapku terkesan tak peduli padanya, Naruto itu sudah seperti adik buatku, belasan tahun kita tumbuh bersama, Naruto hanya hidup berdua dengan tou-sannya, oka-sannya mengidap penyakit leukemia limfoblastik akut dan meninggalkan Naruto saat umurnya baru 3 tahun, tou-sannya Minato Namikaze adalah orang nomor satu di prefektur Suna, dia adalah walikota Suna yang membuatnya jauh lebih sibuk alasan itulah yang membuat Naruto tinggal bersama ku dan dia adalah orang kedua didunia ini yang tidak ingin aku sakiti setelah orang tua ku.
Ketika aku masuk Universitas, mansion keluargaku dipindahkan ke Konoha, tapi pada saat itu Naruto menolak untuk ikut pindah ke Konoha, alasannya ingin bersama dengan Minato Ji-san, dan saat ini memasuki semester akhir perkuliahan, Naruto memaksa pindah ke Konoha.
Aku tidak menanyakan alasan kepindahannya, selama ini aku mendukung apapun yang dia lakukan asal itu bisa membuatnya bahagia, walaupun di Konoha, dia tinggal di apartemen bersama ku dan membuatku repot dengan segala kebiasannya, yah sekarang aku tau alasan dia pindah ke Konoha, pasti karena ingin dekat dengan Hinata..
Yang aku benci adalah keadaan ini, terutama aku membenci diriku sendiri yang jelas-jelas mencintai kekasih sepupuku.
"Oh, ayo lah Shikamaru, kau itu laki-laki terluka sekali atau dua kali oleh wanita adalah hal yang biasa.."
Seharusnya begitu,,
Berulang kali aku menyebutkan kata-kata itu dalam hati, berharap bisa sedikit membantu menghilangkan rasa sesak dalam hatiku…
Jatuh cinta itu merepotkan…
-DefluentibusFoliis-
Sudah lebih dari sebulan Naruto tinggal di apartemen bersama ku, dan beruntungnya dia tidak pernah lagi membawa ku untuk bertemu dengan Hinata. Dan jika hal itu terjadi lagi, aku lebih baik bermalam di lab universitas atau lebih baik keluar masuk hutan untuk mencari tanaman obat langka dari pada harus berada pada situasi yang bahkan otakku tidak bisa membantu sama sekali, membiarkan pikiran dan hatiku terluka melihat Naruto dan Hinata agar aku bisa merasakan atmosfir yang menyenangkan saat berdekatan dengan Hinata.
Ck, Mondokusai.
"Naruto, apa yang kau lakukan di wasta…, Oh astaga kau mimisan Naruto !" Suaraku naik satu oktaf, aku sungguh terkejut melihat wastafel yang sudah penuh dengan darah dan wajah Naruto yang pucat pasi.
"Ahahahahaha, daijobu… ini mungkin karena aku terlalu banyak kena sinar matahari, kau tau siang tadi kan aku ada pertandingan bola antar fakultas, kau saja yang terlalu sibuk sehingga melihat pertandingan ku pun tidak." jawab Naruto lengkap dengan cengiran khas nya, sambil terus membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.
"Mondokusai, tunggu disini aku akan mengambil Plasminex tablet untukmu."
"hai hai… arigatou Shika…"
Setelah memberi nya obat anti pendarahan, dia menolak untuk ku bantu, dan aku hanya bisa melihatnya membersihkan darah yang terus menerus keluar dari hidungya.
"Hei Naruto, sebaiknya besok pagi kau ku antar ke rumah sakit…"
"He.. Untuk apa ?"
"Baka, kau mesti diperiksa, mimisan mu itu sudah tidak wajar, kau bisa lihat sendiri darah yang sudah kau keluarkan…!"
"kau berlebihan, kau kan tau aku sudah terbiasa mimisan dari dulu kalau terlalu sering terpapar panas matahari.." jawabnya ketus,
"kalau sudah tau penyakitmu, kenapa masih nekat ikutan club sepak bola segala, kau itu bodoh atau apa ?"
"biar saja, sinar matahari tidak akan membuatku mati kan, kau sendiri pernah bilang begitu padaku dulu." sambungnya lagi sambil berlalu ke kamarnya… "Tenang saja, aku tidak apa-apa kok, aduuuh, mimisan ini membuatku sedikit pening, aku tidur duluan.. oyasumi." lanjutnya
Merepotkan, dia sendiri yang bilang untuk lebih menghargai tubuh dan kesehatan, tapi dia sendiri yang malah mengabaikan
-DefluentibusFoliis-
Naruto Pov
"Hey, Hinata-chan, jika aku tidak ada didunia ini, apa yang akan kau lakukan ?"
"Maksud Naruto-kun ?"
"Yah, misalkan aku tiba-tiba hilang atau mungkin Mati mendadak, apa yang akan kau lakukan ?"
"Ja-jangan bicara hal yang tidak baik seperti itu Naruto-kun, i-itu tidak mungkin…'
"Hehehe, gomen-gomen aku hanya bercanda…"
Semilir angin senja kali ini sedikit lebih menusuk, ini wajar karena sudah mau masuk musim dingin. Gesekan angin dan ranting pohon yang kering menjadi musik tersendiri di taman Konohan ini… suara air mancur buatan di tengah taman menjadi backsound tersendiri yang menemani moment ku bersama Hime Hyuga ini.
Memiliki Shikamaru dan Hinata adalah anugerah terindah yang sangat aku syukuri dalam kehidupanku, walaupun aku tidak tau rasanya kasih sayang ka-san tapi hadirnya keluarga Nara melengkapi kehidupanku dan membuatnya sempurna. Ditambah hadirnya Hinata, membuat kehidupanku semakin berwarna… Aku bersyukur untuk semua anugerah yang telah diberikan kepada ku.
"Hinata…"
"Nani… ?" tanyanya,
"Bagaimana jika kita bermain kuis ?"
"Kuis, kuis apa ?" Tanyanya…
"Kau lihat lelaki yang menggunakan kemeja merah itu ?" tanyaku lagi sambil mengarahkan tanganku pada laki-laki yang ada di seberang jalan dekat dengan penjual makanan pinggir jalan.
"ya, lalu ?" jawabnya
"Kira-kira makanan apa yang akan dia beli ? kalau tebakan kau yang benar kau boleh minta apa saja dari ku."
"Ka-Kau yakin ? hehehehe Naruto-kun kan ti-tidak pernah menang jika mengikuti kuis, bahkan dalam permainan game anak sekolah dasar." Sambung Hinata dengan tawanya…
Mataku menyipit mendengar jawabannya
"Kau meledekku Hinata-chan ?" Sahutku, sambil mencubit gemas kedua pipi chubby nya.
"Ahahaha.. go-gomen.. sa-sakit Naruto-kun, baiklah… baiklah aku akan menebak dengan benar kali ini."
Sigh, Hinata ini bahkan dalam mode ngambek seperti ini dia benar-benar kawaii.
"Tapi, jika tebakanku yang menang, kau harus mau melakukan hal yang aku minta, bagaimana setuju ?" Tawarku…
"Na-nani ? tidak mau, aku tidak mau perjanjian seperti itu Naruto-kun !"
"Tidak susah kok, kau cukup jalan-jalan satu hari dengan Si maniak obat itu bagaimana ?" sambungku
Uhuk..
Hinata tersedak, mulutnya menganga tidak percaya, tentu saja..
"Maksud Naruto-kun, Na-Nara-san ? a-aku harus jalan seharian dengan Nara-san ?! Tidak,aku tidak mau…"
"Oh, ayolah Hinata-chan, tidak akan apa-apa kok, lagi pula Nara-san kan sepupu ku, belum tentu juga aku yang menangkan ? jika kau yang menang aku akan belikan novel apa saja yang kau minta, atau pergi kemana saja yang kau mau."
Kulihat Hinata sangat tidak nyaman dengan situasi seperti ini, tapi aku tau, Hinata itu tidak akan pernah bisa menolak apapun yang di minta oleh orang lain.
Selang beberapa saat dia mengangguk, tanda setuju dengan perjanjian yang aku buat…
"Yosh, baiklah kita mulai yah, menurutku dia akan membeli Popcorn." Jawabku lantang.
"ti-tidak, kalau me-menurutku dia akan membeli minuman kaleng." Sahut Hinata
Kulihat Hinata berulang kali menahan nafasnya, aku tau melakukan kuis konyol bersama pasangan seperti ini, hanya aku yang bisa melakukannya, dan Hinata, jelas dia tidak terbiasa untuk menolak.
Kulirik amethyst membulat sempurna saat melihat kenyataan bahwa lelaki berkemeja merah itu membeli sebungkus popcorn dan melangkah pergi meninggalkan taman…
Artinya, Hinata harus melakukan kesepakatan konyol yang sudah dibuat sebelumnya…
Menghabiskan waktu seharian, bersama sepupuku, Shikamaru Naara...
-tbc-
