Defluentibus Foliis
Story by : Me
Disclamer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Pairing : Shikamaru N X Hinata H
Genre : Romance
Warning : Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya,
Chap V
Semilir angin membawa ribuan rinduku padamu, sudah lebih dari satu bulan aku tidak lagi melihat mu Hinata Hyuga, yaah… semenjak Naruto tinggal di Konoha, sejak hari dimana dia mengenalkan dirimu sebagai kekasihnya, sejak saat itu aku baru tahu rasanya patah hati…
Yang aku rasakan, kehidupanku kembali seperti dulu, membosankan dan merepotkan… hidupku rasanya kembali tidak mempunyai arah, tidak ada lagi hari minggu yang selalu aku tunggu, tidak ada lagi debaran kebahagian yang aku rasakan jika melihat mu…
Senyum mu Hinata, aku tahu itu hanya milik Uzumaki…
Bagaimana jika aku jujur pada Naruto, bahwa aku jatuh cinta padamu, apakah dia bersedia membagi senyum mu untukku Hinata ?
Tsk, mondokusai…
Jawabnya, yah sudah pasti TIDAK
Mana ada lelaki yang bersedia berbagi senyum pasangannya walau untuk sepupunya sendiri…
Sejujurnya, aku sudah tidak sanggup lagi menampung rasa rindu untuk melihatnya, tapi aku cukup tahu diri, dimana batasan yang aku punya. Aku saja yang tidak tahu malu, sudah sangat jelas posisi Naruto di hatimu, tapi aku masih saja berharap… Naruto, sepupuku… aku menyayanginya… seandainya bukan Naruto yang ada dihatimu, setidaknya aku masih punya harapan, seandainya aku yang lebih dahulu bertemu dengan mu, mungkin masih ada harapan… dan seandainya, seandainya, seandainya yang lain yang terus bermunculan di hatiku setiap aku mengingat dirimu Hinata.
"Huaaahhhhhhhhhh…, " sambil merentangkan tangannya dan berbaring tepat di sisi sebelah kiri "taman belakang universitas ini benar-benar nyaman… pantas saja kau betah berlama-lama disini Shikamaru… Hahahahhahahaha…" tanya Naruto, dengan tawa menggelegarnya seperti biasa
"tsk, mondokusai, apa yang kau lakukan disini Naruto ?"
"hanya ingin berduaan dengan sepupu tercinta … " jawabnya
"merepotkan,"
"Hey, Shika, sudah lama yah rasanya kita tidak berdua seperti ini."
"Hn…" jawabku asal, tanpa mengubah posisi dan tetap berbaring sambil menutup mata
Selang 15 menit berlalu, nyaman rasanya seperti ini… gesekan ranting pohon di taman ini rasanya seperti musik klasik… hanya didekat Naruto, aku benar-benar tidak memikirikan Hinata, lebih tepatnya tidak berani memikirkan Hinata…
"ck, Apa kau tidak bisa diam Naruto, dari tadi berguling ke kanan ke kiri seperti cacing kepanasan… "
"Rumput ini gatal sekali ttebayo, lagipula kau itu aneh Shikamaru… bisa bertahan sampai 15 menit lebih kurasa tanpa melakukan gerakan apapun…" tanya Naruto, sambil merubah posisinya menjadi duduk dan bersandar pada pohon besar tepat di sisinya.
"yang aneh itu kau, selalu tidak bisa diam, aku ragu jika kau anak Minato-jisan, kau pasti turunan Rubah… "
"Hahahahahaha, bercanda mu tidak pernah lucu dari dulu shika…" ucap naruto sambil memegang perut menahan tawa
"Kalau tidak lucu, kenapa kau tertawa terbahak-bahak begitu ?"
"Oh… iya yah… hahahahahaha "
Srettt,,,
Suara resleting ransel yang dibuka mau tidak mau membuat ku membuka mata dan mengubah atensi ku pada Naruto, kulihat dia mengeluarkan sesuatu seperti tablet obat dan meminumnya.
"apa yang kau minum ?" tanya ku pada Naruto,
"oh, i-ini, eeh… vi-vitamin iya vitamin, aku habis berlatih sepak bola tadi… " jawab Naruto kikuk
Mataku menyipit, dan terus menatap tajam pada Naruto, aku tahu dia berbohong.
"stop melihatku seperti itu Shika, kau membuat ku takut dengan mata aneh mu itu ttebayo, aku ini minum vitamin, bukan narkotika… lagi pula jika aku minum obat yang aneh-aneh tidak mungkin aku berani minum di dekatmu bukan ?" jawab Naruto bersungut-sunguh
Aku tahu dia berbohong. Dan mataku masih terus menatapnya…
"Astaga, aku lupa ttebayoo… aku ada janji dengan Hinata-chan, aku pergi dulu… jaa nee… !" dengan tergesa gesa dia mengambil ranselnya dan berlari pergi.
Aku tidak menyukai langit malam, apa lagi yang menampilkan bulan dengan bentuk sempurna seperti malam ini… karena bulan hanya membuatku mengingat pada bola matamu Hinata.
Aku sudah lelah, berkali-kali diriku memaksa untuk berhenti memikirikan mu, rasanya percuma… semakin aku memaksa, semakin berat rasanya… dan aku semakin merasa menjadi pria berengsek di hadapan Naruto.
"Shikaaaa… aku bosan sekali ttebayo… " rengek Naruto
"Mondokusai, kalau kau bosan, pergi saja keluar dengan teman-teman mu atau kencan dengan Hina euhmm- Hina… " Kuso ! ini di depan Naruto, dan aku susah sekali untuk menyebutkan nama Hinata, rasanya seperti ada yg sesuatu yang tertahan di tenggorokan ku.
"Maksud mu Hinata-chan ?" sambung Naruto meluruskan, "tidak bisa, dia besok ada ujian praktek dan aku tidak mau menggangunya."
"Oh…" Jawabku asal
Jadi Hinata besok Ujian, Gambbatte ne Hinata , ucapku dalam Hati.
"Hey Shikamaru, bagaimana jika kita main catur, sudah lama sekali kita tidak main catur bersama ttebayo… " tawar Naruto
"aku sedang tidak mood."
"Oh ayolah, aku benar-benar bosan kali ini… Kalau ada Hadiah nya bagaimana ?"
"Mondokusai, aku sedang tidak mood Naruto !" Jawabku sedikit emosi
"Bagaimana jika hadiah nya kencan 1 hari dengan Hinata-chan ? Ucap Naruto dengan cepat dalam satu tarikan Nafas.
"Haaah ?" Mulutku menganga tidak percaya, seperti tertimpa gletser yang sangat besar, kepalaku sedikit pening juga tiba-tiba ada hawa dingin yang menusuk ari-ari kulitku.
Mendengar penawaran Naruto, butuh lebih dari 1 menit untuk memproses apa yang Naruto Katakan, si Baka bodoh ini menjadikan Hinata sebagai hadiahnya.
"Tidak !" Jawabku ketus, walau dalam hati aku merutuki sikap bodoh ku ini, padahal ini kesempatan.
"Kenapa kau keras kepala sekali sih Nara ! Jika kau menang, kau bisa kencan dengan Hinata hari minggu ini, tapi jika aku yang menang kau kerjakan tugasku selama 1 semester ini, bagaimana hah ? bagaimana ?" Jawab Naruto sambil memainkan alisnya…
"Kau akan menyesal bodoh !" jawabku pada akhirnya,
"yoshh, kita sepakat ttebayoo !" ucap Naruto bersemangat
Kau bodoh Naruto, kau bodoh. Entah apa yang aku pikirkan, kenapa aku jadi menyetujui permainan konyol ini, kenapa lagi-lagi perasaan yang mengambil alih pikiran ku, sadarlah Shikamaru.
Sepanjang permainan catur, yang bisa aku lakukan adalah bermain sebiasa mungkin, walaupun aku lebih memilih mengerjakan tugas Naruto selama 1 semester ini tapi tetap saja, aku tidak bisa membohongi perasaan ku sendiri, aku berharap menang… setidaknya, biarkan aku bisa berada dengan jarak yang dekat bersama Hinata, atau biarkan aku setidaknya membuat satu moment saja bersama Hinata Hyuga.
Dan disini pertaruhannya…
"Kau tidak bermain curang kan Shikamaru ?!" Mata Naruto menyipit tajam
"Dari awal sudah kubilang kan, kau akan menyesal Naruto."
"Aaaaahhh… " Teriak Naruto sambil mengacak-acak surai ravennya.
"Sudahlah, kau tenang saja tidak usah histeris begitu, aku tidak ingin berkencan dengan PACAR mu itu." jawabku penuh penekanan.
"Tidak, Manusia itu yang dipegang adalah janjinya –ttebayo, aku tidak mau jadi manusia yang ingkar janji." Jawab Naruto pasrah
"Lalu, Bagaimana caranya membuat Hinata mau pergi dengan ku ?" Tanyaku pada Naruto
"Masalah itu serahkan padaku ttebayo… "
Flashback
Naruto POV
"A-aku tidak mau Naruto-kun, i-ini me-memalukan… kita ganti saja kesepakatannya yah bagaimana ?" tawar Hinata
"tidak, tidak Hinata-chan, kau tau Manusia itu yang di pegang adalah janjinya, aku ingin kau jadi manusia yang selalu menepati janji."
"Lalu, bagaimana caranya membuat Nara-san bersedia jalan denganku Naruto-kun?" Tanya Hinata kembali
Aku bisa lihat, Amethys nya sudah siap menumpahkan air mata… aku tau dia pasti sedih, aku yang notabene nya adalah pacarnya yang seharusnya menjaganya justru menjadikan dia sebagai hadiah.
"Minggu pagi, kau tunggu saja di taman ini Hinata jam 08.00 pasti Shikamaru ada di sini, kau bisa ajak dia jalan-jalan ke mall atau ke taman bermain ttebayo."
Naruto Pov End
-DefluentibusFoliis-
Minggu di Musim dingin
Taman Konoha
Rasanya seperti bernostalgia, lebih dari setahun lalu aku pertama kali melihat Hinata di sini, di taman ini… dan aku jatuh cinta padanya.
Dari semalam aku benar-benar tidak bisa tidur, terkadang aku berharap waktu cepat berputar supaya aku bisa cepat menyalurkan rinduku melihat Hinata, terkadang juga aku berharap waktu berhenti, karena aku benar-benar tidak siap bertemu Hinata…
Entah apa yang ada dipikiran Naruto, menjadikan kekasihnya sebagai Hadiah, jika aku yang ada di posisi Naruto aku akan mengunci Hinata di rumah saja, supaya tidak ada laki-laki lain yang bisa melihatnya selain aku.
Kenapa jantungku berdebar-debar begini sih… kuso ! Umpatku dalam hati
"Ano, Ng- N-Nara san… "
Deg,
Suara ini… harum lavender ini…
Tubuhku refleks berbalik mengikuti asalnya pemilik suara yang aku rindukan…
Aku menegang, rasanya waktu berhenti berputar, hari ini dia sangat sangaaaat cantik, sudah masuk musim dingin, dia yang menggunakan celana jeans panjang lengkap dengan mantel tebal serta syal berwana pastel yang melingkar indah di lehernya… indigonya dibiarkan tergerai, pipinya memerah membuatku ingin mengecupnya.
"Ano, Nara-san … Daijoubuka ?"
"Oh, Hai, Daijoubu desu… " Jawabku sambil menggaruk kepala belakangku
"Gomen ne, Naruto-kun tidak ikut ?" tanya Hinata
"I-itu, dia sedang, eehhh sedang pulang ke Suna !" jawabku cepat, kenapa aku jadi gagap begini sih…
"Maaf, karena aku Nara-san jadi terpaksa bersama ku disini" ucap Hinata,
Terpaksa ? aku bertanya dalam Hati, seharusnya yang terpaksa itu kan dia, aah, aku tahu ini ada yang salah dan aku tahu Naruto merencanakan sesuatu.
"Nara-san ?" Hinata memanggilku, sambil memiringkan kepalanya ya Tuhan, dalam pose seperti ini dia benar-benar kawai
"oh, tidak apa-apa… lagi pula aku sedang tidak ada kegiatan." tidak apa-apa Hinata, aku sama sekali tidak keberatan, aku malah berharap hari ini tidak akan pernah berakhir. sambungku dalam hati
"Kau mau pergi kemana hari ini ?" tanya ku pada Hinata
"Terserah Nara-san saja." jawab Hinata
"Baiklah, seperti nya akan turun salju, ke café di depan jalan sana tidak apa-apa kan ? coffe nya enak disana, kau mau coba ?"
Senyum Hinata mengembang… "Baiklah… " jawabnya..
-DefluentibusFoliis-
Duduk berdua bersama Hinata, bahkan dalam imajinasi ku pun aku tidak berani membayangkannya, menikmati panasnya secangkir coffe, walaupun di luar hujan salju cukup lebat, rasanya hati ku malah menghangat… ada Hinata di depanku, senyumnya terasa seperti panasnya lampu pijar… menghangat kan tapi… terasa menusuk. Dia membagikan senyumnya untuk ku, memberikan senyumnya untuk pelayan café tadi, memberikan senyumnya saat melihat coffe pesanannya tiba…
Hinata, bolehkan aku sedikit egois ? aku menginginkan mu untuk diriku sendiri, Naruto no baka, apa dia tidak tau konsekwensi dari apa yang dia rencanakan ini memberi efek yang lebih besar pada ku.
Berada sedekat ini dengan Hinata, membuatku lebih jauh terjatuh dalam pesonanya… aku jauh lebih mengingkan dirinya.
"Hu-Hujanya lebat… "
"iya " jawabku kikuk
"coffe nya enak"
"iya "
"Café ini juga nyaman… " ucap Hinata lagi
"iya" Kuso ! apa aku hanya mampu mengucapkan kata Iya – iya dari tadi…
"Maaf… " Ucap Hinata sambil menundukkan kepalanya
"Eh- maaf untuk apa ?" jawab ku was-was
Kenapa Hinata meminta maaf ?
"Karena sudah membuat Nara-san tidak nyaman… " jawab Hinata
"Tidak… aku nyaman kok, aku nyaman disini bersama mu… "
Oh Kami-sama
Aku merutuki kebodohanku, semoga Hinata tidak salah paham dengan ucapanku barusan.
"tapi, dari tadi Nara-san hanya menjawab iya.. iya, aku pikir Nara-san tidak nyaman dengan situasi ini bersama ku… ? tanya Hinata lagi
Kalau aku bisa jujur, aku bukannya tidak nyaman berada dekat dengan mu, aku sangat senang… saking senangnya aku tidak tahu harus berkata apa Hinata.
"bukan, aku hanya tidak terbiasa.. euhmm… yah maksud ku tidak terbiasa berdua dengan… " sambil menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal sama sekali "seorang perempuan" sambungku.
"hihihihi… " sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya
Dia tertawa, Hinata tertawa didepanku..
Apa aku pernah berbuat kebaikan sebelum ini ? kenapa rasanya hari ini aku mendapat banyak anugerah dihari ini ? duduk berdua bersama Hinata, melihat senyumnya dan bisa membuatnya tertawa.
Sejenak, terlintas bayangan Naruto di depan ku..
"Maaf kan aku kalau kurang sopan, apakah artinya Nara-san tidak pernah berkencan dengan perempuan ?"
Uhukk
Ini kedua kalinya aku tersedak coffe mendengar pertanyaan Hinata, kalau sikapku seperti ini terus, bisa-bisa hidup ku berakhir dengan cara tersedak coffe jika bersama Hinata.
Heii… itu kedengarannya sangat tidak elit
"Ha ? tidak, tidak menurutku perempuan itu merepotkan." kecuali kau Hinata sambung ku dalam hati
"Hihihihi, Naruto-kun banyak bercerita tentang dirimu, sepertinya hubungan kalian berdua sangat dekat."
"iya, dia sudah kehilangan ka-sannya saat berumur 3 tahun, sejak saat itu dia dititipkan di rumahku karena Minato ji-san sangat sibuk, kau tahu menjadi walikota itu merepotkan, mondokusai." ucapku
"Iya, Nara-san tahu… selama bersama ku, hal yang lebih banyak di ceritkan oleh Naruto-kun adalah tentang Nara-san, sepertinya dia sangat bangga mempunyai Nara-san dalam hidupnya."
"A..Aku, aku tahu ." ya aku tahu, bahkan bukan hanya pada Hinata saja, pada semua orang, semua temannya… dia selalu bilang, dia bangga padaku. Aku pikir awalnya itu merepotkan, tapi mendengar pengakuan itu dari Hinata, tanpa sadar mata sebelah kanan ku berair.
Betapa Naruto selama ini sangat menghormati ku sebagai sepupunya, tapi aku disini memanfaatkan kesempatan untuk berdua dengan kekasihnya…
Aku benar-benar sepupu yang berengsek
"Karena Naruto no baka itu sudah menceritkan segala hal tentangku, kurasa sekarang saatnya kau yang menceritkan tentang dirimu ?" tanya ku pada Hinata
"Te-tentang ku ?" Tanya Hinata ragu
"yah.. supaya kita impas… " jawabku berusaha menampilkan senyum terbaikku, walaupun dalam hatiku bergemuruh rasanya…
Berlama-lama duduk di depan Hinata Hyuga, Perutku rasanya seperti diaduk-aduk…
-DefluentibusFoliis-
Hujan salju di luar perlahan-lahan mulai berkurang, jalanan, pepohonan atap rumah sudah di penuhi salju… ini sore terbaik di musim dingin yang aku lalui… walau menit demi menit aku selalu berdoa supaya waktu berhenti di detik ini juga…
Bersama Hinata, cinta pertama ku…
Aku berjanji, lepas hari ini, aku akan berusaha untuk melupakannya, melupakan Hinata cinta pertama ku… Walau aku tahu, itu mustahil… tapi aku rela menukarkan cinta pertamaku demi kebahagiannya… sudah lebih dari cukup selama hidupnya Naruto yang selalu harus menderita…
Cinta memang tidak mengenal logika, tapi cinta terbentuk melalui perasaan… dan perasaan itu berasal dari rasa kasih dan sayang…
Aku tahu batasanku, cinta pertama ku sudah menjadi milik Naruto, sepupuku…
-tbc-
Sekali lagi hountou gomenasai.. buat yang sudah bersedia baca fict ini...
Dan saya minta maaf buat pecinta pairing Naruhina, jika fict ini tidak sesuai dengan ekspekstasi kalian tapi dari awal fict ini pairing utamanya Shikamaru x Hinata...
Selepas fict ini tamat... saya janji akan upate fict Naruhina...
Sekali lagi terima kasih buat yang sudah bersedia baca...
