Defluentibus Foliis

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : Shikamaru N X Hinata H

Genre : Romance

Warning : Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya

Chap VIII

Meneriakkan namamu dalam derasanya hujan, memandang wajahmu dari kejauhan, dan berdo'a untuk mu dalam keheningan malam. Cinta ku terpaku dalam diam, hanya inilah yang mampu aku pertahankan.

Melihatmu tersiksa karena kepergian Naruto jauh lebih membuat hari-hari ku berantakan, yang aku tahu… sudah seminggu ini kau bahkan terus menangis dalam kamarmu, menolak melakukan aktivitas apapun, terus menerus meraung dan menggemakan nama sang Uzumaki dalam setiap lirihan tangisan mu.

Hinata…

Jika aku bisa, aku jauh lebih baik menggantikan takdir yang sudah digariskan untuk Naruto dibanding melihatmu seperti ini. Aku jauh lebih memilih hatiku patah berkali-kali bahkan hancur lebur melihatmu bahagia bersama Naruto, dari pada aku melihatmu seperti ini. Kau kehilangan cahaya mu… amethyst mu tidak lagi berwarna. Hinata… Apa yang harus aku lakukan agar membuat cahaya itu kembali padamu ?.

Sudah seminggu ini, setiap senja memasuki waktunya untuk menghilang, aku selalu memarkiran mobilku dan berdiri di depan mansion Hyuga, hanya untuk melihat jendela kamarmu… dan berharap lukamu perlahan melebur dalam dinginnya salju… dalam jarak seperti ini saja hatiku sudah menghangat.

Entah bagaimana awal prosesnya, sehari setelah pemakaman Naruto, saat itu… aku hanya ingin memuaskan logika ku tentang berbagai pertanyaan seputar Hinata, Apakah Hinata baik-baik saja, apakah Hinata sudah makan, apakah Hinata suhu tubuhnya normal dan tidak terserang deman, atau apakah Hinata masih terus menagis seperti terakhir aku lihat. Dan aku putuskan senja di hari itu membuatku mengunjungi mansion Hyuga rumah Hinata dan aku yang memang sama sekali tidak punya keberanian untuk bertemu dengan Hinata walau ada sejuta pertanyaan dalam pikiran ku tetap saja tidak bisa membuatku menjadi lebih berani untuk memastikan langsung bahwa Hinata baik-baik saja, yang bisa aku lakukan hanya bersandar di badan mobil dan memandang jendela kamarnya yang memang besar dan sepenuhnya dari kaca dan berada di lantai 2, dari jarak seperti ini aku sudah bisa melihatnya duduk bersandar di kasurnya lagi-lagi aku merasa hatiku menghangat, rasanya salju yang menyentuh kulitku membawa hawa hangat yang nyaman yang meresap dalam setiap pori-pori kulitku.

Sampai ketika… aku terlarut dalam perasan hangat dalam balutan warna mentari senja yang terbias dengan tetesan salju itu.

Aku benar-benar tidak tahu jika seorang bunke Hyuga terus memperhatikan ku, aku melihatnya… dia tersenyum padaku lalu sedikit membungkukan badannya untukku dan perlahan mendekat kearahku. Dan dia menceritakan segala hal yang terjadi tentang Hinata padaku. Padahal aku sama sekali tidak berharap atau memintanya menceritakan atau lebih tepatnya melaporkan keadaan Hinata padaku, aku hanya bisa diam mendengarkan dan saat itu aku merasa lega.

Selepas hari itu, seperti menjadi keharusan untuknya, bunke Hyuga selalu keluar dari mansion dan memberitahukan semua hal-hal yang dikerjakan putri tertua Hyuga pada hari ini, tentang suhu tubuhnya, makanan apa saja yang sudah dia makan hari ini, dan bagaimana kondisinya.

Dan karena dia… bunke itu… aku benar-benar berterima kasih untuknya… karena dia aku jadi tahu kondisi Hinata Hyuga yang setiap hari selalu ada perubah baik mengenai kondisinya.

Memang hanya waktu yang bisa menjadi obat terbaik untuk menyembuhkan luka di hati, seperti Hinata… semakin hari kondisinya semakin membaik… amethyst nya walau belum bersinar seperti semula setidaknya aku bisa melihat harapan dalam bola matanya, ini wajar… saat semua kau rasa baik-baik saja dan kau tiba-tiba mendengar kabar kekasih mu mati karena penyakit mematikan yang sudah dideritanya bertahun-tahun dan kau sebagai kekasihnya sama sekali tidak mengetahuinya… kau pasti merasa marah dan kecewa pada diri sendiri. Hinata mengalami fase itu, dan aku bersyukur Hinata bisa kembali hidup walau belum sepenuhnya bisa dikatakan baik-baik saja.

-Defluentibus Foliis-

Sudah 312 jam berlalu sejak pemakaman Naruto… dan hari ini aku sempatkan untuk berkunjung ke pusarannya, meletakkan bungan Chrysanthemum serta memanjatkan do'a untuk nya.

Ini… wangi lavender ? ucapku dalam hati

Refleks aku bergerak mencari sumber aroma lavender yang aku cium… dadaku bertalu melihatnya.

Hinata, ya Hyuga Hinata disini… dengan seikat bunga lily putih ditangannya. Dalam balutan celana jeans hitam serta mantel tebal yang berwarna senada dan jangan lupakan syal yang melingkar manis dilehernya. Dia tersenyum kepadaku, seraya lantas memposisikan dirinya di depan mataku menaruh lavender yang dia bawa di atas pusaran Naruto, tanpa suara… kulihat dia memejamkan matanya lalu berdoa melipat kedua tangannya, mulutnya bergumam membaca setiap do'a untuk sang kekasih, berharap bisa mengobati rindunya… lelehan air matanya terlihat keluar dari amethyst nya yang terpejam, dia… lagi-lagi menangis.

-Defluentibus Foliis-

Seperti dejavu…

Entah dapat keberanian dari mana, aku mengajaknya menikmati coffe di café tempat pertama kali kita bisa duduk berdua. Tapi… auranya jelas berbeda.

Aroma coffe latte yang biasanya selalu memabukan kini terasa biasa saja… aku sedikit berdehem agar menarik perhatian Hinata yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya. "Hinata-san, apa kau sudah merasa lebih baik ?"

"Tidak ada yang bisa dikatakan baik-baik saja Nara-san." Ucap Hinata suaranya sedikit bergetar, dia mendongakkan kepalanya seraya memandangku sesaat amethyst nya mencuri satu detakan jantungku.

Sial ! sampai kapan sih jantungku bisa berfungsi dengan baik jika didekat Hinata.

Sigh

"Hinata-san, kau mencintai Naruto kan ?"

"Ma-maksud Nara-san ?" Ucap Hinata ragu dari matanya, aku tau dia jelas bingung kenapa aku tiba-tiba bertanya seperti itu.

"Jika kau memang benar-benar mencintainya, kau pasti percaya padanya bukan ?"

"I-itu pasti, aku selalu percaya padanya." dan lagi, Hinata menjawab dengan suaranya yang bergetar.

Brengsek ! dadaku bergemuruh perasaan ini terasa menyakitkan, kenapa aku harus melihat air mata Hinata lagi. "Lalu, kenapa saat ini tidak kau terapkan apa yang menjadi kepercayaan mu itu."

"Maksud Nara-san ?"

"Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri lantas membuatmu menyiksa diri sendiri seperti ini, tentang apa yang terjadi pada Naruto, dia jelas punya alasan kenapa tidak memberitahukan padamu mengenai penyakitnya." Ucapku perlahan sambil meminum coffe latte yang sudah terasa dingin.

"Naruto itu satu-satunya orang yang aku kenal seumur hidupku yang mempunyai kepribadian yang sangat baik, dia selalu bisa menjadi mentari dimana pun dia berada, keberadaannya selalu bisa menghangatkan setiap orang disekitarnya, dia tidak pernah mau untuk membuat orang lain kesusahan, mungkin itu yang menjadi alasan dia tidak memberitahukannya padamu, terlebih kau adalah orang yang sangat dicintainya, jelas… dia tidak ingin sama sekali membuatmu terluka."

Hening menyergap, entah akupun tidak tahu kenapa kalimat sepanjang itu bisa keluar dari mulutku, aku hanya merasa tidak sanggup melihat Hinata saat ini.

Tidak ada respon apapun dari Hinata, dia terus menunduk serta menyembunyikan wajah sembab nya dengan indigonya.

Dan aku pun hanya bisa menunduk, memfokuskan retina mataku pada lantai café, karena hal ini adalah hal terbaik yang bisa kulakukan dibandingkan harus menatap Hinata, tidak aku tidak berani… lebih jelasnya aku pengecut.

Ceklek

Suara cangkir yang beradu dengan saucernya jelas mengubah atensiku tertuju padanya, Hinata memegang cangkir coffe yang diabaikannya sedari tadi serta meminum coffe nya perlahan.

Cantik, Gumamku dalam hati.

Gaya Hinata meminum coffe , persis seperti adegan putri kerajaan dalam dorama-dorama yang sering oka-san tonton.

Kualitas keturunan Hyuga jelas selalu menjadi yang terbaik, dari cara minum pun orang-orang jelas sudah tau marga apa yang disandang Hinata.

Dan aku merasa, jatuh cinta padanya lebih dalam lagi. Lantas, dia tersenyum untukku "Nara-san… aigatou."

"Hah?" ucapku seperti orang dungu, lagi-lagi kerja detak jantung ku tidak bisa normal, rasanya berdetak 3x lebih cepat, oh kami-sama.

"Kau memang benar, Naruto-kun jelas tidak mau membuat aku menderita karena mengetahui tentang penyakitnya, dan aku yakin dia pun tidak suka melihat aku yang seperti saat ini, maka dari itu aku berterima kasih pada mu Nara-san, karena kau sudah mengingatkanku tentang apa yang seharusnya aku lakukan, jika aku terus mengubur diriku itu artinya jelas aku menghinati perasaan Naruto-kun, sekali lagi… terima kasih Nara-san." Ucap Hinata lengkap dengan senyumnya.

Tidak, tidak , tidak… kupingku berdengung, suara Hinata bagaikan lonceng di musim semi. Aku hanya bisa mengganguk seraya membalas senyumnya, walaupun sebenarnya aku ingin menjerit serta berteriak dan memberi tahu pada setiap pengunjung di café ini bahwa Hinata akhirnya tersenyum, dia jelas tersenyum untukku. "Nara-san, bisakah kita bertemu lagi lain kali?" Tanya Hinata

Aku hanya bisa tersenyum miring serta menggaruk tengkuk ku yang sama sekali tidak gatal,oh ayo lah jangan kau pasang senyum seperti itu Hinata, aku gugup "Oh… tentu, kapan pun kau mau untuk bertemu aku bersedia." jawabku setengang mungkin.

"Terima kasih, jika berkenan, bisakah aku meminta alamat email Nara-san ?" Lagi Hinata berucap. Demi Kami-sama, lebih dari ini aku benar-benar tidak sanggup. "B-baiklah… Ini silahkan." aku menyodorkan kartu nama pada Hinata.

Seperti pelangi, ini sangat indah… respon yang Hinata berikan padaku, aku benar-benar tidak menduganya.

Ini… Menyenangkan.

-tbc-

Sankyu arigatou buat yang sudah bersedia baca, dan maaf jika banyak kesalahan plot serta alur yang terlalu terburu-buru. Chap ini adalah chap yang di reshuffle jadi jelas banyak kekurangan di fict ini. Sekali lagi… Terima kasih banyak buat yang sudah bersedia baca ^_^