Chapter: 2. Insane

Say to Love

By: Kittyheow

Jeon Jungkook x Kim Taehyung

All member BTS

Genre: Yaoi, Romance, School life.

Rated: T

.

.

.

Bodoh! Sebenarnya aku yang bodoh atau kau yang bodoh!?
Ini terlalu sakit tapi kenapa aku masih mencintaimu.

.

.

.


Say to Love


.

.

Seperti pada sekolah umumnya, saat ini Taehyung melakukan kegiatan belajar di kelasnya. Sudah dua jam lamanya kelas berlangsung dan beberapa menit lagi bell istirahat pertama akan berbunyi.

Kegilaan Taehyung terhadap Jungkook tidak sampai saat di stasiun tadi pagi saja. Seperti yang terlihat, Taehyung bahkan sudah mengatur barisan tempat duduknya dengan Jungkook.

Sebelah kiri Taehyung ada Jimin yang selalu duduk dengannya. Tidak heran, Taehyung dan Jimin sejak sekolah dasar sudah satu sekolah dan sampai sekarang, bahkan mereka selalu duduk bersama. Bisa dibilang Jimin adalah sahabat terdekat yang Taehyung miliki. Masalah apapun ia selalu menceritakannya pada Jimin termasuk perasaanya terhadap Jungkook.

Dan Jungkook, lelaki tampan itu duduk disebelah kanan Taehyung hanya sajah lebih maju dengan jarak satu bangku darinya. Itu sudah di atur dengan Taehyung, dengan begitu ia bisa dengan puas memandangi Jungkook tanpa ketahuan siapapun –ya kecuali Jimin.

'Sungguh indah ciptaan tuhan, Jeon Jungkook kau sangat tampan'

"Berhentilah memandanginya! Lebih baik kau belajar!" Jimin sudah terbiasa melihat keanehan sahabat satunya ini. Melihat Taehyung seyum-senyum tidak jelas dengan kedua matanya yang terus tertuju pada Jungkook, dan itu bukan hal yang aneh bagi Jimin.

"Ck! Berisik, lebih baik kau diam! Apa kau tidak lihat aku sedang belajar!" Taehyung masih saja dalam kegiatannya –mari memandangi Jungkookie.

Jimin menghentikan tangannya yang sedang menulis, dan beralih menatap Taehyung yang ada disampingnya. "Apa yang kau pelajari?" Jimin menaikkan sebelah alisnya heran.

"Belajar mencintai Jungkookie" Dan sebuah cengiran membuat Jimin benar-benar ingin menendang wajah Taehyung saat ini juga.

Merasa geram Jimin dengan tidak elitnya memukul kepala Taehyung dengan buku seper tebal, membuat yang dipukul berteriak kesakitan. "Anak bodoh! Lebih baik kau belajar! Apa kau ingin nilaimu semester ini turun lagi, kau tidak malu dengan Jungkook! Aku bahkan tidak yakin jika anak sejenius Jungkook mau dengan anak bodoh sepertimu! Hey, buka matamu Kim Taehyung dia bahkan tidak sedikitpun melirik kearahmu!"

"Yak! Apa katamu, kau meremehkan ku! Aku tidak sebodoh itu!" Park Jimin sialan, buku tebal itu membuat kepala taehyung seperti pecah, sakit sekali. Dan kata-kata yang kelaur dari mulut Jimin sialan itu membuat Taehyung ingin memakan hidung pesek miliknya.

"Kau itu bodoh! Hanya saja tidak tau diri!"

"Sialan! Kau mau mati Park Jimin!" Kesabaran Taehyung telah sampai batas. Dengan kasarnya ia menjambak rambut hitam Jimin. Dan tentu Jimin tidak tinggal diam, ia berusaha menyingkirkan tangan Taehyung dari rambutnya. "Oh My God! Rambutku! Tae singkirkan tanganmu dari rambut baruku, butuh tiga hari tiga malam untuk menyusunnya!"

"Aku tidak perduli!"

"Sialan! Brengsek kau!"

Dan keributan dimeja belakang terjadi. Namun itu tidak berlangsung lama saat sebuah penghapus melayang kearah Taehyung dan Jimin. Dan sialnya, mungkin nasip Jimin hari ini kurang bagus karna penghapus tadi dengan indah melayang mengenai keningnya, membuat cap hitam disana. Benar-benar sial, ini karna Jimin tidak memakai bokxer pororonya makanya sial.

"Kalau kalian tidak bisa diam! Lebih baik kalian keluar!"

Keheningan terjadi beberapa detik saat Guru yang mengajar dikelas mereka marah. Saat dirasanya suasana tenang Guru itu kembali melanjutkan tugas mengajarnya.

Dan jangan lupakan semua mata orang yang ada dikelas kini tertuju pada Taehyung dan Jimin, sesekali mereka tertawa melihat kening Jimin yang hitam karna penghapus tadi.

"Sialan! Dia meliahatku!" Bahkan Taehyung juga mendapatkan Jungkook yang juga ikut menatap kearahnya. Benar-benar memalukan, tatapan macam apa itu, lelaki tampan itu bahkan tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Saat yang lain tertawa Taehyung melihat Jungkook hanya diam dan dengan cepat Jungkook memalingkan wajahnya, melanjutkan acara belajarnya.

Saat ini Taehyung benar-benar malu, bagaimana bisa Jungkook melihatnya disaat seperti ini. Ah benar kata Jimin, ia harus membuka mata. Mana mungkin Jungkook anak jenius dan populer di sekolah mau dengannya. Dirinya hanyalah anak bodoh, aneh, berisik dan tidak tau diri. Dan sekali lagi Jimin benar, bahkan Jungkook tidak sedikitpun melirik kearahnya, terlihat dari sikapnya saat kejadian tadi.

Apakah ia harus berhenti mengharapkan Jungkook? Tapi itu lebih sulit, karna ia harus membohongi perasaannya.

.

.

.

"Park Jimin sialan! Cepat naik ke atap!" dan 'Clik' Taehyung mengirimkan sebuah pesan pada sahabatnya.

Tiga puluh menit waktu istirahat, dan sejak keluar dari kelas tadi Taehyung sudah berlari ke atap, tempat nongkrong yang biasa ia datangi bersama Jimin saat istirahat atau bolos belajar.

Tapi sudah sepuluh menit Jimin belum juga muncul, dengan alasan pergi ke toilet. Jika selama ini, Taehyung sudah menduganya. Pasti si Jimin bantet itu pergi menggatal dengan melon-melon atau terong-terong di sekolah. Dasar Park Jimin sialan.

"Yakk! Bantet sialan, kenapa kau lama sekali!" Taehyung langsung mengomel saat melihat pintu atap yang terbuka, dan tentu saja itu Jimin yang datang, –tapi..

"Eh? Maaf, aku kira tidak ada orang. Maaf menganggu"

Satu detik..

Dua detik..

Tiga detik..

"Yakk!" Taehyung terkejut setengah mati saat menyadari yang datang bukanlah Jimin melainkan Jungkook. "Tadi.. tadii.. bukankah itu Jungkook!" Terlambat, saat Taehyung sadar Jungkook sudah pergi.

"Bodoh! Sialan, dasar Bodoh! Kim Taehyung kau benar-benar bodoh!" Taehyung seperti orang gila, berteriak-teriak tidak jelas dengan kedua tangannya meninju ke udara melampiaskan kekesalannya.

Benar-benar gila, Taehyung terlihat seperti orang gila. Karna kejadian barusan tadi membuat Taehyung malu setengah mati. Saat ini dirinya benar-benar sudah jelek dimata Jungkook. Pertama saat dikelas dan juga kejadian barusan.

Bagaimana bisa terjadi, saat ia bermaksut memaki Jimin dan yang datang malah Jungkook, bagaima yang dipikirkan Jungkook saat ini. Sudah pasti lelaki tampan itu berpikir bahwa dirinya adalah orang yang tidak punya sopan santun dan kasar. Ah bodoh! Bagaimana itu terjadi, Taehyung hampir gila memikirkannya. Bukannya membuat kesan yang baik malah menjadi kesan yang buruk.

"Taehyung maaf aku terlambat" Jimin baru saja datang, namun begitu terkejutnya saat melihat keadaan sahabatnya yang sedikit aneh, duduk dilantai dengan rambut berantakan dan seragam sekolah yang juga berantakan.

"Tae kau kenapa? Apa terjadi sesuatu saat aku tidak ada?" Tanya Jimin panik dengan menggoyang-goyangkan bahu sahabatnya.

"Jimin brengsek! Kenapa kau lama sekali" Jawab Taehyung dengan tatapan yang masih kosong.

"Tadi ada urusan sebentar, Tae katakan apa yang terjadi"

"Tadi Jungkook datang"

"Jungkook!? Lalu apa yang terjadi, kenapa kau seperti ini? Bukankah seharusnya kau senang?"

"Jimin, harga diriku telah hilang"

"Apa! Har- harga dirimu! Apa kau di perkosa Jungkook! Tae bagaimana bisa terjadi, kenapa secepat itu. Kenapa kau tidak memberitahuku, Tae ini benar-benar kabar yang menggembirakan"

"Sialan! Kabar gembira kepala kau itu!" Taehyung benar-benar dibuat kesal oleh si Jimin gilak ini, apa maksutnya di perkosa. Ini jauh lebih buruk, kalau di perkosa Jungkook sih tidak mungkin dirinya seperti ini, sudah pasti ia sangat bahagia.

"Loh? Tae kenapa kau marah? Bukankah kau bener di perkosa Jungkook!"

"Dasar yadong! Buang pikiran kotormu itu!"

"Padahal aku sudah berharap kau beneran di perkosa Jungkook, kalau bisa aku menjadi saksinya" Tidak ingin berdebat lagi, Taehyung lebih memilih pergi meninggalkan Jimin dan menuju kekelas, itu lebih baik karna Jam istirahat telah selesai.

Tapi sepertinya Taehyung tidak akan masuk kekelas, membolos mungkin lebih baik untuk menenangkan pikirannya. Bagaimana bisa ia masuk kelas dengan keadaan seperti ini, apalagi bertemu Jungkook, yang benar saja bisa-bisa ia semangkin gila.

.

.

.

Sejak pulang sekolah Taehyung berada didalam kamarnya, jika waktunya makan maka Eommanya akan membawakannya makanan. Hal ini sudah terbiasa, bahkan Eommanya tidak heran lagi melihat tingkah putra kesayangannya.

Dan seperti biasa hal yang selalu Taehyung lakukan adalah, mengkepoin semua akun sosial media Jungkook. Mulai dari foto-foto sampai status terbaru yang di updet Jungkook, pokonya tidak secuilpun tertinggal dari pengawasan Taehyung.

"Tampan sekali" Taehyung meremas phonsel ditangannya, kedua matanya berbinar saat melihat Foto Jungkook yang terlihat sangat tampan.

Taehyung terus mengorek semua Foto-foto yang ada di akun sosmed Jungkook, berteriak bahkan memukul-mukul bantal itulah yang Taehyung lakukan setiap kali melihat Foto-foto Jungkook. Saat ini Taehyung terlihat seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta. "Oppa.. oppa.." Bahkan Taehyung juga mengucapkannya.

"Astaga, Jeon Jungkook kau semangkin tampan saja"

Foto selanjutnya, 'Clik'

'Clik'

'Clik'

"kkyyaa! Jungkook tubuhmu semangkin seksi saja, dan otot itu Arrghh! Aku ingin menyentuhnya" Sangkin geramnya Taehyung bahkan mengigit selimut miliknya.

"Yak! Apa maksutnya ini! Dasar ganjen!" Taehyung sedikit panas saat melihat beberapa Yeoja yang memberi komentar pada Foto Jungkook.

"Jungkookie"

"Ahh Jungkook kau begitu tampan"

"Cute, cute, sangat tampan Jungkook?"

"Jungkookie, apa kau sudah punya pacar"

Dan sebuah kobaran api menyala dari kepala Taehyung saat melihat komentar dibagian terakhir. Sialnya disitu Jungkook membalas Komentar Yeoja itu

Shinshinyon: "Wah wah! Lihat, apakah ini benar Jungkook? Kau terlihat semangkin tampan hahaha"

JeonJungkook: "Hahaha, sejak dulu aku memang tampan"

Shinshinyon: "Aku merasa mual kkkk.. Jungkookie bagaimana kabarmu, sudah lama tidak bertemu"

JeonJungkook: "Mari kita bertemu"

Shinshinyon: "Kau merindukanku? Baiklah, aku juga merindukanmu.."

Shinshinyon: "Hey Jungkook bagaimana, apakah sekarang kau sudah mempunyai kekasih.. haha apa lebih cantik dariku?"

JeonJungkook: "Aku menunggu seseorang hahaha"

Shinshinyon: "Apakah orang itu aku? Aku sudah menebaknya, kalau begitu aku akan segera kembali.."

Dan itu Satu hari yang lalu.

Begitu penasarannya Taehyung sampai membuka akun wanita itu, mengorek semua foto dan juga statusnya.

Seharusnya ia tidak perlu melakukannya, hanya kekecewaan yang kini didapat. Taehyung akui wanita itu sangat cantik, tapi ada satu hal yang lebih menyakitkan lagi.

Terlihat di beberapa Foto yang memperlihatkan wanita itu berfoto dengan Jungkook, tampak begitu mesra. Melihatnya saja membuat hati Taehyung hancur, ia benar-benar menyesali perbuatannya ini, seharusnya ia tidak perlu mengkepoin wanita itu, kini yang ada hanya sakit hati. Dan tidak hanya satu, tapi ada beberapa foto.

Terbakar api cemburu..

Taehyung benar-benar kesal melihatnya. Phonselnya sudah melayang entah kemana, dicampakkan begitu saja. Saat ini perasaanya terasa begitu sakit, Sipa wanita itu? Apa dia pacar Jungkook? Apa Jungkook benar menunggu wanita itu? Apa Jungkook normal? Maka dari itu dia tidak perna melihatku? Apa itu semua benar? Pantas saja Jungkook tidak perna melihatku.

Begitu banyak pertanyaan di kepala Taehyung, lagi-lagi ia harus menangis karna tidak tahan merasakan hatinya yang sakit. "Apakah sesakit ini mencintainya. Lalu kenapa aku masih saja mencintainya, walaupun belum jelas tapi tetap saja sangat sakit. Bukankah aku juga punya kesempatan yang sama seperti wanita itu, Jungkook kenapa kau tidak perna mengerti dengan perasaanku, sebenarnya aku yang bodoh atau kau yang bodoh! Dasar brengsek!"

'Trrrinnng'

Taehyung menghentikan acara menangisnya saat mendengar ponselnya berbunyi, terdengar dibawah tempat tidurnya dan Taehyung langsung mengambilnya.

"Untuk apa sialan ini menelfon!" Taehyung sebenarnya malas menjawab telfon dari Jimin. Tapi memikirkan apa yang akan terjadi jika tidak menjawabnya, terpaksa mau tidak mau ia harus menjawab telfon dari Jimin sebelum sahabatnya itu mengamuk.

Sebelumnya Taehyung mengatur suaranya dan menghapus air matanya, jangan sampai Jimin mengetahuinya jika baru saja ia menangis. Tidak baik jika terus membuat Jimin panik dan khawatir. "Ya! Ada apa, untuk apa menelfon malam-malam seperti ini!"

"Ck! Kau berisik sekali, aku belum juga berbicara" Suara Jimin terdengar dari arah telfon milik Taehyung.

"Ya ya ya, apa yang ingin kau bicarakan"

"Begini, setelah aku pikirkan dan baca dari beberapa buku"

"Lalu..?"

"Aku belum selesai! Sialan ini, dengarkan dulu!"

"Iya maaf, cepat apa yang ingin kau bicarakan awas saja kalau tidak penting. Dan jangan bilang ini soal tugas sekolah, jika benar lebih baik jangan menelfon!"

"Berisik! Begini, Tae aku tau bagaimana cara membuat Jungkook suka padamu"

"Ha! Jinja? Kau serius!?"

"Tunggu, lima menit aku akan sampai kerumahmu!"

'Tut' Telfon terputus, bahkan Taehyung belum memberi ijin Ya atau Tidak. Dan itu memang kebiasaan Jimin, memutuskan telefon secara sepihak dan tidak perna mendengarkan perkataannya.

.

.

.

~TBC~

A/N: Holla holla, ketemu lagi di fanfic gaje ini hehehe
gimana, mangkin gaje kah? Kependekan gak? Huhuhu duh maafin kitty ya..

Hahaha Yang Stalkerin akun sosmed gebetan, itu yang selalu kitty lakuin. Haha, bahkan setiap hari sebelum tidur selalu liat foto-foto gebetan. Itung-itung bisa terbawak dalam mimpi.
tapi beneran loh, aku sering banget Stalkerin akun gebetan. Mulai dari foto sampai status terbaru.
hahaha parah banget kan.. gimana ya, namanya juga udah jatuh hati. Walaupun sakit tetep aja gak bisa berpaling.

Perna juga aku terbakar api cemburu karna liat salah satu temen aku Chattan sama si gebetan. Wah disitu aku kesel banget..
Tapi.. tapii.. waktu aku baca isi chattan mereka ternyata.. hehhee.. ya, gitu deh..

seperti yang perna aku bilang, sebagian fanfic ini adalah pengalaman pribadi saya dan juga isi curhatan saya, kalau sedikit gaje dan eneh maaf ya..

Ada yang kayak gitu juga gak? atau Cuma kitty doang?

Ohya, soal Fanfic Samarting ntar di lanjut kok, masih dalam proses.. doain aja kitty banyak ide biar cepet updet hehe..

Thank you very much, jangan lupa tinggalin jejak..:* /mumumuc/ See you later... paiii paiii...