Chapter: 2. Feeling
Say to Love
By: Kittyheow
Jeon Jungkook x Kim Taehyung
All member BTS
Genre: Yaoi, Romance, School life.
Rated: T
.
.
Haruskah aku bertahan?
Aku mohon tunggu aku, aku harap belum terlambat.
.
.
Say to Love
.
.
"Astaga, kenapa Jungkook belum datang?"
"Haish! Apa dia sudah berangkat? Tapi tidak mungkin"
Taehyung tampak gelisah dengan terus menatap lorong pintu masuk stasiun. Sejak pagi ia sudah berada di stasiun menunggu kereta yang biasa ia naiki.
Namun masalahnya sekarang adalah, kenapa sampai sekarang Jungkook belum juga datang. Taehyung sudah rela bangun cepat dan pagi-pagi buta berada di stasiun, menunggu Jungkook. Tapi jika Jungkook tidak ada percuma saja, untuk apa ia capek-capek menunggu di stasiun.
Jarak rumahnya dan stasiun cukup jauh, bahkan Jimin merasa heran kenapa ia mau menaiki kereta, bukannya mempercepat kesekolah malah membuatnya semangkin lama. Tapi karna Jungkook ia tidak mempermasalahkan jarak, saat melihat wajah Jungkook itu sudah cukup membuat rasa lelahnya hilang.
Cinta benar-benar membuat orang gila.
"Haish! Jungkook cepat datang"
Taehyung semangkin gelisah saat kereta hampir tiba dan Jungkook belum juga datang. Kedua mata Taehyung terus saja menatap lorong pintu berharap Jungkook tiba-tiba muncul.
Taehyung sedikit kecewa, padahal hari ini ia ingin menujukkan rambut barunya pada Jungkook.
Sebenarnya Taehyung tidak berniat mengecat rambutnya menjadi norak seperti ini, semua ini adalah ide Jimin. 'katanya' ini adalah salah satu cara membuat Jungkook tertarik padanya, dengan merubah penampilannya mungkin saja Jungkook bisa sedikit melirik kearahnya, dan Taehyung setuju dengan ide Jimin.
Tidak sedikit dari tadi banyak orang menatap kearahnya, mungkin karna rambutnya yang sedikit mencolok. Taehyung sih tidak memperdulikannya, menurutnya ini sangat keren.
'TIINGG'
Taehyung hanya bisa menghela napas berat. Kereta sudah datang namun Jungkook belum juga datang. Untuk terakhir kalinya ia menatap kearah lorong pintu sebelum melangkah masuk kedalam kereta.
DUUKK!
"Aaauhh! Sssh!"
Mungkin Taehyung kurang berhati-hati dan juga tidak berkonsentrasi, saat satu kakinya baru saja menginjak pintu masuk ada orang yang tidak bertanggung jawab menabraknya, membuatnya harus terjatuh kebelakang. Dan orang itu membiarkannya begitu saja tanpa menolongnya sedikitpun.
"Brengsek! Aakh, kenapa sakit sekali" Taehyung mengumpat merasakan tangan dan bokongnya yang sangat sakit. Saat ia berusaha bangkit namun ada saja yang menabraknya, banyak yang berlalu lalang memasuki kereta membuatnya sedikit sulit untuk bangkit. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing dan tidak ada seorangpun yang melihatnya ataupun menolongnya, rasanya saat ini Taehyung ingin menangis dan berteriak memanggil Ibunya agar menolongnya.
"Kau baik-baik saja?"
Taehyung mendengar suara seseorang yang sepertinya berbica padanya. Kepala Taehyung menoleh kesamping dan melihat seseorang yang berdiri di sampingnya dengan tangan yang mengulur kearahnya.
Taehyung beharap ini bukan mimpi, dan kalau memang ini mimpi tolong jangan bagunkan. Ia benar-benar tidak percaya dengan orang yang kini ada didepan matanya. Untuk sekian detik Taehyung terdiam dengan pikirannya yang melayang entah kemana, sampai akhirnya orang itu menyadarkannya bahwa ini benar-benar nyata bukan mimpi.
"Ayo, apa kau mau terus diam disitu"
Dengan cepat Taehyung menyapa uluran tangan yang menolongnya itu. "Te-terima kasih, Jungkook"
Taehyung tidak tau darimana Jungkook muncul, ia hampir saja kecewa karna Jungkook tidak datang, tapi sekarang tidak. Sekarang ia merasa lebih beruntung karna bisa melihat Jungkook dengan jarak yang sedekat ini apalagi baru saja ia menyentuh tangan Jungkook, sosok yang sangat di cintainya, seseorang yang selalu hadir dalam mimpinya, seseorang yang menjadi asalan kenapa ia berada disini, alasan kenapa ia rela bangun pagi, dan masih banyak alasan lainnya yang mungkin tidak bisa dijelaskan.
Untuk pertama kalinya ia bisa berjabat tangan dengan Jungkook dan Taehyung sangat bahagia. Hati dan pikirannya membawanya terbang. Perasaan ini kenapa ia merasa sangat bahagia, terasa seperti ribuan kupu-kupu terbang mengisi perutnya. "Andai saja kau Jeon Jungkook, bisa mengerti perasaanku saat ini, melihat betapa bahagianya aku saat ini"
Ini terlalu indah, dan taehyung ingin waktu berhenti, ia ingin terus menatap wajah tampan Jungkook lebih lama dengan jarak yang sangat dekat.
"Kau?" Jungkook menatap kearah Taehyung dengan tatapan yang sulit di artikan, kedua mata Jungkook menatap dari ujung kaki sampai ujung kepalan Taehyung. Sebelum akhirnya lelaki itu meninggalkan Taehyung, memasuki kereta lebih dulu.
"Kau tidak masuk? Apa kau akan tetap diam disitu?" Itu Jungkook, ia memanggil Taehyung yang belum juga bergegas masuk kedalam kereta.
Dengan wajah yang memera, serta senyum-seyum tidak jelas Taehyung mulai melangkah masuk, sebelum pintu kereta tertutup.
Taehyung berterima kasih dengan orang yang tadi menabraknya, karna kejadian tadi ia bisa berbicara dengan dan menyentuh tangan Jungkook. Taehyung rela setiap hari jatuh kalau yang menolongnya adalah Jungkook.
Pagi ini tidak mungkin ia lupakan.
.
.
.
"Kau terlalu lebai Tae!"
"Haish! Ini sangat luar biasa, untuk pertama kalinya aku bisa menyentuh tangannya. Kau bilang itu lebai?" Taehyung menatap kearah Jimin yang berdiri di sampingnya.
"Baru tangannya, bagaimana dengan yang lain"
"Mungkin aku akan gila"
"Kau sudah gila sejak lama, dan itu karna Jungkook, bahkan kau berteriak hanya menatapnya"
"Ya, aku rasa aku memang gila"
Jimin tersenyum tipis menatap sahabatnya, lalu kembali menatap pemandangan di depannya. saat ini Jimin dan Taehyung berada di atap, menatap seluruh pemandangan sekolah yang terlihat indah jika dilihat dari atas atap.
Tiga puluh menit waktu istirahat dan itu di habiskan Taehyung dengan menceritakan kejadiannya tadi pagi pada Jimin.
"Tae, aku dengar Jungkook akan gabung dengan Tim Basket kami" Ucap Jimin dengan meminum Jus melon yang sudah hampir habis.
"Kau serius?" Taehyung menatap Jimin dengan kedua mata yang berbinar. Dan dengan tegas Jimin mengangguk menjawab pertanyaan sahabatnya.
Taehyung tampak tersenyum dengan sebuah ide yang melintas di pikirannya. "Emm, bagimana kalau aku juga gabung dengan Tim basket?"
Jimin menyemburkan Jus yang ada didalam mulutnya saat mendengar perkataan Taehyung. "Apa! Kau? Gabung dengan tim basket kami? Kau cari masalah ha?"
"Kenapa? Aku juga ingin gabung"
"Kau kan tidak bisa main basket. Lagian kau hanya ingin melihat Jungkook, bukan benar-benar ingin bermain basket! Tidak bisa, aku tidak menerimamu!" Tolak Jimin tegas. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Taehyung benar-benar akan gabung dengan Tim basketnya. Taehyung itu tidak perna serius melakukan apapun, dan ia selalu saja membuat masalah, satu lagi Taehyung itu sangat ceroboh. Jimin sangat tahu bagaimana Kim Taehyung.
"Aku tidak perduli, pokoknya aku akan gabung!"
"Tae kau benar-benar serius dengan perasaanmu?"
"Apa maksutmu?"
"Jungkook, kau benar-benar serius dengan perasaanmu padanya? Kau lihat, sampai sekarang dia tidak perna membalas perasaanmu"
"Apa sekarang aku harus berhenti? Setelah semua yang aku lakukan selam ini, apa menurutmu aku main-main? Aku bahkan tidak tau kenapa aku sangat mencintainya walaupun dia tidak perna melihatku, tapi aku tidak bisa berhenti. Itu terasa lebih menyakitkan karna kau harus membohongi perasaanku"
"Tapi sampai kapan kau seperti ini? Bagiamana jika dia menyukai orang lain?"
Itulah hal yang selalu Taehyung takutkan, bagaimana kalau benar Jungkook menyukai orang lain, apa yang harus ia lakukan. Ini bukan pertama kalinya Jimin bertanya seperti ini. Jimin selalu saja menasehatinya bahka Jimin juga selalu membatu dan memberinya semangat.
Tapi Taehyung tidak akan berhenti sebulum kepastian itu benar. Selama ini Jungkook tidak perna terlihat bersama seseorang yang terlihat sepesial. Dan selama itu juga Taehyung terus berusaha, tidak tau sampai kapan, atau mungkin saat ia merasa lelah mengejar Jungkook dan ia berharap ada titik terang yang membuatnya kembali bersemangat, karna Taehyung percaya ada kebahagiaan di balik sebuah penantian yang panjang, dan ia berharap Jungkook lah kebahagiaan itu.
"Mungkin aku akan menghajar orang itu" Taehyung tertawa, membuat Jimin juga ikut tertawa.
"Maaf Tae, aku tidak bermaksut seperti itu. Aku akan terus membantumu"
"Tidak maslah" Taehyung dan Jimin tersenyum bersama.
.
.
Anggota Tim Basket tampak mulai berkumpul, termasuk juga dengan Jimin dan Taehyung yang ikut berkumpul.
"Sepertinya hari ini kita mendapat dua anggota baru?" Ucap Hoseok selaku ketua. Dan perkataanya tadi membuat beberapa orang terkejut.
Jimin dan Taehyung saling pandang, meraka kira hanya Jungkook yang akan bergabung. Sedangkan Jimin belum memberi tahu pada Hoseok bahwa Taehyung juga akan bergabung, lalu siapa satu lagi yang akan bergabung.
"Aku kira hanya Jungkook yang bergabung?" Itu Namjoon, salah satu anggota Tim.
"Lalu dimana mereka sekarang?" Tambah Jin yang duduk di samping Namjoon, dia juga salah satu anggota Tim. Angkatan terakir bersama dengan Hoseok dan Namjoon. Sedangkan angkatan menengah ada Jimin, Taehyung dan juga Jungkook.
"Itu mereka" Hoseok menunjuk dua orang yang baru saja datang, Terlihat Jungkook berjalan bersama seseorang yang wajahnya terlihat sangat asing.
"Siapa dia, sepertinya aku baru pertama kali melihatnya" Tanya Namjoon dengan kedua matanya menatap kearah lelaki yang berjalan bersama Jungkook
"Eh? Bukankah dia murid baru yang ada di kelas Hoseok?" Tambah Jin.
"Benar, Min Yoongi namanya, dia baru dua hari pindah kesekolah kita"
Taehyung tidak terlalu perduli dengan si murit baru itu. Kini yang ada ia terlalu sibuk memandangi Jungkook yang terlihat semangkin keren saat lelaki itu membuka Jas sekolahnya, hanya memakai kemejah putih dengan dasi yang sudah di lepasnya. Tidak salah jika ia memilih ikut gabung dengan Tim basket, dengan begitu Taehyung bisa melihat sisi seksi Jungkook yang tidak perna terlihat saat berada dikelas.
"Sunbaenim, Aku juga ingin bergabung, boleh kah?"
"Wah, ternyata Taehyung juga ingin bergabung" Ucap Jin dan Namjoon. Disini Taehyung sedikit bingung, bagaimana Jin dan Namjoon bisa mengetahui namanya, bukankah sejak tadi ia belum memperkenalkan namanya, dan sebelumnya ia juga tidak perna mengenal dua lelaki itu sekedar melihat mungkin pernah.
"Tentu saja boleh" Jawab Hoseok dengan senyumannya. "Tae kau jangan terlalu formal, panggil saja aku dan yang lain Hyung. Lagian kita sudah lama mengenal bukan?"
Kalu Hoseok lain ceritanya, lelaki dengan senyum manis itu memang sudah lama mengenalnya, tidak terlalu dekat ataupun mengenal sih. Hanya saja dulu waktu sekolah menengah pertama ia dan Hoseok satu sekolah.
Taehyung sedikit melirik kearah Jimin yang ada di sampingnya, ia sedikit heran melihat Jimin yang sejak tadi hanya diam. "Hei, kau kenapa?" Tanya Taehyung dengan menyenggol lengan sahabatnya.
Sebenarnya Jimin diam bukan tanpa alasan, hanya saja ia merasa sedikit gelisah. Melihat lelaki berkulit putih yang berjalan bersama Jungkook, membuatnya teringat kejadian beberapa hari yang lalu.
Saat itu..
~Flash Back~
Waktu jam istirahat Jimin meminta agar Taehyung pergi ke atap lebih dulu, karna ia akan pergi ke Toilet.
Jimin memasuki Toilet dan segera menyelesaikan urusannya, buang air kecil.
Namun tak berapa lama ada seseorang masuk yang sepertinya juga memiliki urusan sepertinya, lelaki itu berdiri disamping Jimin dan mulai menyelesaikan urusannya.
Sejak awal lelaki tadi masuk, kedua mata Jimin terus saja menatap kearahnya. Jimin merasa tidak pernah melihatnya, mungkin ini pertama kali ia melihatnya. Dan tanpa sadar kedua mata nakal Jimin memperhatikan lelaki disampingnya yang tampak membuka kancing celananya. Saat lelaki di sampingnya mulai mengeluarkan sesuau dari balik celana, dengan cepat Jimin memalingkan wajahnya. Tanpa sadar wajah Jimin merona dengan kedua bibirnya menahan senyum, kedua matanya pura-pura menatap kearah lain.
Tapi sialnya lagi, kedua mata brengsek Jimin entah kenapa kembali menatap kearah lelaki itu, awalnya sih hanya wajahnya, lehernya, bahunya, tapi lama-lama kedua mata nakal itu kembali menatap kearah bawah. Jimin hampir saja melihatnya sebelum sesuatu membuat jantungnya hampir copot karna terkejut.
"Apa yang kau lihat!" Bentak lelaki disamping Jimin, lelaki itu dengan cepat kembali mengancingkan celananya saat urusannya telah selesai.
"A-apa maksutmu?" Jimin merasa aura mencengkram mengepungnya, awalnya Jimin memuji wajah lelaki disampingnya yang sangat Tampan dan terlihat imut secara bersamaan. Tapi sekarang, entah kenapa Jimin melihatnya sangat ngeri, wajahnya terlihat sangat menyeramkan, seakan mengancamnya.
"Kau pikir aku tidak tau!" Lelaki itu menarik kera leher Jimin. Sebenarnya Jimin sejak tadi sudah selesai dengan kegiatannya, tapi salahkan otak kotornya yang memaksanya berlama-lama.
"A-apa yang kau lakukan! Lepaskan" Jimin berusaha menyingkirkan tangan lelaki itu, tapi percuma karna lelaki itu semangkin mencengkramnya dan menariknya membuatnya sangat dekat dengan lelaki itu. Jimin tidak menyangka ternyata lelaki itu cukup kuat dengan ukuran tubuh kurusnya, bahkan tangan kurusnya begitu bertenaga, tangan berotot miliknya saja tidak bisa menyingkirkan tangan kurus lelaki itu.
"Dasar mesum! Kau kira aku tidak tau sejak tadi kau memperhatikan ku!"
"Ah, aku tidak sengaja"
"Kau bilang tidak sengaja!? Bagimana kalau aku mencongkel kedua matamu" Lelaki itu semangkin menarik kerah baju Jimin dan membuat jarak di antara mereka begitu dekat.
"A-apa kau gila! Lepaskan aku!"
"Kau ak-" Lelaki itu menghentikan kalimatnya saat seseorang baru saja masuk dan menatap kerah mereka dengan tatapan penjelasan. "Apa yang kalian lakukan! Yak! Jangan melakukannya disini!"
Jimin sangat berterima kasih pada orang itu, siapapun itu Park Jimin sangat berterima kasih, karna lelaki di hadapannya kini melepaskannya.
"Kau selamat! Tapi awas saja, lain kali aku tidak akan melepaskanmu! Urusan kita belum selesai!" Ancam lelaki itu sebelum meninggalkan Jimin.
Akhirnya Jimin dapat bernapas lega, setidaknya ia harus menghindari lelaki itu dan jangan bertemu lagi. Jimin tersadar saat ini ia punya janji dengan Taehyung, saat ia melihat Ponselnya ada sebuah pesan yang berisi omelan Taehyung agar ia segera naik ke atap. –ya Jimin harus terlambat karna kejadian konyol tadi. Dengan cepat Jimin melangkah keluar toilet dan menuju keatap.
~Flash Back End~
Dan sekarang...
Jimin kembali bertemu dengan lelaki itu yang ternyata agota baru di Tim Basketnya! Dam!
.
.
"Mau minum?" Tanya Hoseok pada Taehyung yang baru saja duduk disampingnya. Taehyung baru saja melakukan pamanasan dengan berlari mengelilingi lapangan Basket.
"Terima kasih Hyung" Taehyung menunjukkan senyum kotakknya dan menerima minuman pemberian Hoseok.
"Apa alasannya?"
"Maksutnya?" Taehyung menatap kearah Hoseok saat lelaki itu memberi pertanyaan yang Taehyung tidak paham.
"Kenapa kau gabung dengan Tim basket, setahuku kau tidak bisa bermain basket, dan kau juga tidak menyukai hal-hal seperti ini"
"Oh, aku hanya bosan saja, jadi aku ingin memiliki kegiatan" Jawab Taehyung yang tentunya bohong. Hoseok hanya tersenyum mendengar jawaban pemuda disampingnya.
"Oh ya, omong-omong rambutmu sangat keren" Puji Hoseok melihat rambut Taehyung berwarna merah mencolok.
"Benarkah?"
"Ya, kau terlihat manis" Taehyung hanya bisa tersenyum mendengar pujian Hoseok dengan kedua pipinya yang mulai memerah seperti warna rambutnya.
.
.
Jungkook tampak mendribble bola dan memasukkan kedalam ring, membuat Namjoon dan Jin kesal. Sejak tadi Jungkook yang terus mengambil alih bola, sedangkan Namjoon dan Jin tidak diberi kesempatan.
"Ahh, aku capek! Namjoon kau saja yang bermain dengan Jungkook aku mau istirahat" Ucap Jin lalu melangkah mendekati Taehyung dan Hoseok yang ada di pinggir lapangan.
"Jungkook, berikan aku bolanya" Pinta Namjoon saat Jungkook hanya diam dengan memegangi bola berwarna orange itu.
"Eh?" Jungkook sedikit terkejut saat Namjoon tiba-tiba merebut bola ditangannya. "Kenapa kau melamun kook?"
"Siapa yang melamun" Elak Jungkook, padahal tadi jelas Namjoon melihat Jungkook terlihat melamun. Kini Namjoon dan Jungkook mulai bermain dan berebut memasukkan bola kedalam Ring.
Kini Namjoon yang mengambil alih bola, sedangkan Jungkook entah kenapa tampak kurang berkonsentrasi. Sesekali Namjoon melihat Jungkook yang tampak menatap kearah Hoseok dan Taehyung, Namjoon pikir Jungkook juga ingin istirahat. "Kalau kau lelah lebih baik istirahat"
"Tidak, aku sama sekali tidak lelah" Jungkook masih melanjutkan permainan bersama Namjoon, walaupun sesekali kedua matanya memandang kearah Taehyung dan Hoseok yang tampak tertawa bersama.
"Eh?" Namjoon tampak terdiam beberapa detik, ia teringat dengan sesuatu. "Aku tidak melihat Jimin dan Yoongi, Jungkook kau tau mereka dimana?"
"Aku melihat tadi mereka pergi, aku tidak tau kemana?"
"Pergi? Mereka berdua?"
"Iya, kenapa Hyung?" Tanya Jungkook dengan terus memasukkan bola orange itu kedalam ring. Sesekali Jungkook menatap Namjoon yang masih diam dan tampak memikirkan sesuatu.
"Aku merasa ada yang aneh antara mereka berdua, tadi aku melihat Jimin yang tampak ketakutan saat pertama kali melihat Yoongi"
"Tenang saja Hyung, Yoongi orang yang baik dia tidak mungkin macam-macam dengan Jimin"
"Kau kenal Yoongi?"
"Dia sepupuku"
.
.
~TBC~
Buat yang uda baca jangan lupa tinggalin jejak dalam bentuk apapun..
Thanks, sampai jumpa.. paii paii/pre
