Chapter: 4. I'M SORRY

Say to Love

By: Kittyheow

Jeon Jungkook x Kim Taehyung

All member BTS

Genre: Yaoi, Romance, School life.

Rated: T

.

.

Maaf.. Maaf..

Tolong jangan pergi, aku butuh waktu untuk ini semua.

.
.


Say to Love


.
.

Saat ini Taehyung tidak tau harus bahagia atau sedih. Hari libur seperti ini biasanya ia gunakan untuk bermalas-malasan, bangun siang, ataupun di habiskannya untuk tidur satu harian. Tapi sepertinya hari ini Taehyung tidak bisa melakukan hal itu, karna siang ini anggota tim basket diminta berkumpul.

Sebenarnya Taehyung sungguh sangat malas, ia tidak benar-benar berniat mengikuti kegitan itu, alasannya gabung dengan tim basket karna Jungkook, tapi jika seperti ini mau berbuat apalagi, dengan terpaksa dan mau tidak-mau ia harus mengikutinya. –ya setidaknya nanti ia bisa bertemu dengan Jungkook dan itu yang membuatnya sedikit bahagia.

Taehyung baru saja keluar dari halaman rumahnya dan begitu terkejutnya saat melihat Hoseok, entah sejak kapan pemuda dengan senyum kuda itu berada di depan rumahnya. Taehyung terdiam sejenak karna bingung, sebelum akhirnya melangkah mendekati Hoseok. "Hyung, apa yang kau lakukan disini?"

Hoseok sedikit tertawa melihat wajah Taehyung yang kebingungan dan itu tampak sangat lucu "Tentu saja bertemu denganmu"

"Huh? Bertemu? Denganku?" Tanya Taehyung semangkin bingung.

Hoseok mengangguk sebagai jawaban. "Ayo, pasti yang lain sudah menunggu kita"

"Yang lain? Siapa, hyung?"

Astaga! Hoseok benar-benar tidak mengerti kenapa Kim Taehyung sejak dulu tidak perna berubah, masih saja polos dan bodoh. Tapi hal itulah yang membuat Taehyung tampak manis, melihat wajah polos Taehyung yang kebingungan membuat Hoseok gemas.

"Tentu saja anggota tim basket, kita berjanji berkumpul hari ini. Dan alasan kenapa aku berada disini, karna rumahku tidak jauh dari rumahmu Kim Taehyung! Jadi aku berniat berangkat bersama mu" Jelas Hoseok panjang lebar, namun pemuda di depannya sepertinya belum juga mengerti terlihat dari raut wajahnya yang masih bingung. Ya tuhan! Hoseok benar-benar tidak sabar, tanpa seijin sang-empunya, Hoseok menarik tangan Taehyung.

"Ayo kita pergi, yang lain sudah menunggu" Taehyung hanya menurut dan masih saja terus berpikir. Jarak rumah Hoseok dan Taehyung memang tidak terlalu dekat namun masih satu arah, dan Hoseok sengaja mampir kerumah Taehyung untuk pergi bersama.

Sebagai Ketua Tim basket, Hoseok sengaja mengumpulkan anggota timnya, mereka berjanji berkumpul di sebuah Cafe yang letaknya tidak jauh dari stasiun kereta.

.
.

"Yak! Itu dia!" Teriak Jin saat melihat Hoseok baru saja datang, -ya tentunya bersama Taehyung yang berjalan di samping Hoseok.

"Kau yang menyuru kami berkumpul dan kau yang terlambat!" Omel Namjoon, dan jangan lupakan Jimin, Yoongi, Jin dan Jungkook yang memberi tatapan mematikan pada Hoseok.

"Maaf..maaf.." Hoseok hanya memberi cengiran bodohnya. "Ayo, Tae" Hoseok menarik Taehyung agar duduk di sampingnya.

Anggota tim basket yang terdiri dari Tujuh orang itu kini telah berkumpul. Mereka duduk dengan melingkari meja persegi yang cukup lebar. Dan mereka mulai memesan makanan sebagai makan siang mereka.

Taehyung sesekali memperhatikan Jungkook yang duduk di hadapannya, dan terlihat Namjoon dan Jin yang duduk di samping Jungkook.

"Sebenarnya ada rangka apa kita berkumpul seperti ini?" Tanya Jimin yang duduk di sisi kiri Taehyung. Sebuah pertanyaan yang sejak tadi ingin di tanyakan mereka pada Hoseok yang membuat pertemuan ini.

"Sebagai perayaan karna kita mendapatkan anggota baru" Jawab Hoseok yang duduk di sisi kanan Taehyung.

"Membuang waktu!" Itu Yoongi yang sejak tadi sudah bosan. Pemuda yang ada di samping Jimin itu sejak tadi memang hanya diam dengan wajah dinginnya, membuat Jimin yang ada di dekatnya semangkin ketakutan.

"Sudalah, nikmatin saja" Namjoon mencoba menenangkan teman-temannya.

Kini semua mulai menikmati makanan pesanan masing-masing yang baru saja datang. Dan membuat suasana sedikit tenang.

"Tae, kau suka daging?" Hoseok memecah keheningan dengan bertanya pada Taehyung yang duduk di sampingnya.

"Iya Hyung" Taehyung menjawabnya dengan tersenyum manis.

"Kalau begitu, makan saja punyaku" Hoseok memindahkan potongan daging dari piringnya ke piring Taenyung. Dan Taehyung hanya tersenyum, selain meyukai daging saat ini Taehyung benar-benar lapar. "Terima kasih, Hyung"

"Ya, samsama" Hoseok tersenyum manis dan mengelus rambut merah Taehyung.

Jimin hanya memandang Hoseok dan Taehyung dengan tatapan aneh, -ya walaupun Jimin mengerti sebelumnya Hoseok memang sudah mengenalnya dan juga Taehyung, itu karna mereka dulu perna satu sekolah. Tapi melihat tingka Hoseok saat ini membuat Jimin sedikit curiga.

"Dasar! Aku benar-benar mengutuk si rambut merah ini" Dan sepasang mata yang sejak tadi terus memperhatikan Taehyung dan Hoseok, terlihat begitu kesal.

"Jungkook, kenapa kau tidak makan?" Tanya Jin yang melihat Jungkook tidak sedikitpun menyentuh makanannya. Kini semua mata tertuju pada Jungkook, termasuk juga dengan Taehyung yang kini ikut menatap Jungkook, pemuda itu sejak tadi memang hanya diam dengan tampang wajah dinginnya.

Dan tanpa sengaja kedua manik coklat Taehyung bertemu dengan kedua bola mata hitam Jungkook, hanya bertahan beberapa detik sebelum Taehyung menundukkan kepalanya karna takut melihat Jungkook yang menatapnya seperti itu.

"Aku tidak lapar! Aku juga ingin pulang" Jungkook bangkit dari duduknya dan melangkah pergi tanpa memberi hormat pada hyung-hyung nya. Jungkook juga mengabaikan Jin yang terus memanggilnya.

"Haish! Dasar anak itu" Jin hanya bisa menghela napas kasar. Jin dan semua juga tahu siapa Jeon Jungkook, pemuda yang terkenal pendiam dan dingin, tidak terlalu banyak bicara namun cukup populer di sekolah karna tampangnya yang tampan. Dan kini mereka hanya memakluminya saja.

Tapi tidak dengan Taehyung, kini selera makannya hilang, entah kenapa ia menjadi khawatir dengan Jungkook, -ya walaupun Taehyung tahu Jungkook seperti apa, namun sifatnya barusan sungguh membuat Taehyung tidak enak, Taehyung selalu memperhatikan Jungkook namun ekspresi tadi sungguh belum perna ia lihat. Saat ini Taehyung benar-benar khawatir.

"Aku juga ingin pulang!" Yoongi bangkit dari duduknya, dan yang lain hanya menatapnya seolah berkata 'Pulang saja'. Membuat Yoongi berdecak kesal.

"Yak! Kau juga!"

"Huh? Aku?" Jimin terlihat bingung saat Yoongi menunjuk kearahnya.

"Kau lupa, hah?" Jimin benar-benar mengutuk pemuda bertubuh kurus itu, kenapa masalah ini belum juga selesai membuat Jimin sungguh sangat tersiksa karna khir-akhir ini ia harus menuruti perkataan Yoongi.

"Jimin, kau tidak pulang denganku?" Tanya Taehyung saat Jimin akan pergi.

Jimin benar-benar merasa tidak enak dengan sahabatnya ini, akhir-akhir ini ia memang jarang bermain dengan Taehyung, itu juga karna Yoongi yang terus menindasnya. "Tae, Maaf.. Kau pulang sendiri ya, emm aku ada urusan"

"Yakk! Jimin!" Taehyung hanya bisa berteriak dan melihat Jimin yang sudah pergi bersama Yoongi, ia merasa sebal karna kini Jimin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Yoongi dibanding dengan dirinya.

"Aku tidak mengerti, kenapa sekarang banyak orang-orang aneh" Ucap Namjoon bermonolog, dan kembali melanjutkan acara makan siangnya.

"Tae, kau bisa pulang denganku" Dan Taehyung hanya diam mendengar ucapan Hoseok.

.
.

Terlihat dua pemuda berjalan saling beriringan, kedua langkah yang terlihat kompak walaupun tanpa berniat menyamainya. Pemuda itu, Jimin dan Yoongi yang terlihat hanya diam.

"Hyung" Jimin mulai membuaka mulutnya walaupun sebenarnya ia sangat takut.

"..." Dan Jimin hanya mendapat jawaban diam dari pemuda di sampingnya.

"Hyung, sebenarnya.. kenapa kau memintaku untuk menemanimu" Jimin mati-matian menahan rasa takutnya, namun ia butuh penjelasan kenapa Yoongi selalu memintanya untuk menemaninya kemanapun. –ya Jimin tahu kalau Yoongi masih marah karna kejadian beberapa hari lalau di Toilet, namun dirinya kan sudah minta maaf.

"Menurutmu kenapa!?" Yoongi menghentikan langkahnya, membuat Jimin sedikit terkejut, apalagi tatapan dingin Yoongi yang kini mulai menatapnya. Tidak-tidak jangan lakukan itu, karna tatapan itu membuat jantung Jimin berdetak sangat kencang.

"A-aku kan, sudah minta maaf, Hyung" Jimin sengaja menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Yoongi.

"Aku tidak perduli! Kau harus mengikuti perintahku, bukankah itu kesepakatan kita" Dan Jimin hanya bisa diam, ia hampir saja lupa dengan kesepakataan itu, agar Yoongi memaafkannya Jimin harus menurutu perkataan Yoongi, tidak tau sampai kapan. Dan bodohnya Jimin menyetujui begitu saja, Haish! Salahkan kedua matanya yang saat itu tidak bisa tertahan.

"Cepat jalan! Kenapa kau hanya diam disitu!"

Jimin sedikit berlalari kecil mengejar Yoongi yang entah sejak kapan meninggalkannya.

.

.

.

Taehyung benar-benar merasa bosaan saat ini. Selalu saja pelajaran sejarah, membuat Taehyung sangat bosan karna harus membahas masa lalu. Ayolah, kenapa tidak Move on saja, kenapa harus mengenang masa lalu, itu sangat membosankan.

Taehyung malas berbicara dengan Jimin, karna saat ini ia sedang marah dengan Jimin, jangan tanya kenapa tentu karna kahir-akhir ini Jimin tidak perna bermain lagi dengannya, bahkan posisinya telah tergantikan oleh lelaki cerewet bernama Min Yoongi yang bahkan baru di kenal Jimin beberapa hari lalu.

Saat ini yang bisa di lakukan Taehyung hanyala menatap Jungkook, Taehyung terus saja menatap pundak pemuda tampan itu. Memperhatikan Jungkook yang sedang fokus belajar.

Taehyung terus melakukannya sampai Bell pulang berbunyi. Dan tanpa sadar Jungkook sekilas menatap kearahnya. "Huh! Dasar"

"Tae, kau tidak pulang" Tanya Jimin saat melihat Taehyung sedang melamun.

"Tae!" Teriak Jimin tepat di telinga sahabatnya, membuat pemuda manis itu terkejut.

"Yakk! Apa yang kau lakukan!" Omel Taehyung. Ia tersadar saat ini kelas sudah kosong, hanya ada dirinya dan Jimin.

"Jungkook?" Tanpa sadar Taehyung menyebut nama lelaki itu.

"Dia sudah pulang" Jawab Jimin yang mulai bangkit dari duduknya.

"Yak! Kenapa kau tidak bilang!" Taehyung cepat-cepat membereskan alat tulisnya dan berlari keluar kelas. Jimin hanya tersenyum tipis melihat tingkah sahabatnya itu, sudah biasa.

Namun baru beberapa meter keluar dari kelasnya, Taehyung bertemu dengan Hoseok. Membuatnya terpaksa harus menghentikan langkahnya. Padahal ia ingin cepat-cepat menyusul Jungkook yang pasti sudah menuju Stasiun kereta untuk pulang.

.

.

Hari semangkin sore, mata hari mulai menyembunyikan wajahnya. Langit senja mulai menyelimuti kota seoul. Dan keramaian masih saja terlihat di Stasiun kereta, orang-orang berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing.

Terlihat seorang pemuda tampan berdiri di tengah banyaknya orang. Kereta baru saja datang namun pemuda itu tidak beranjak dari tempatnya. Terlihat suasana kini mulai sepi karna orang-orang mulai menaiki kereta.

Kereta kelima baru saja berangkat namun pemuda tampan itu masih saja diam di tempatnya. Entah sudah berapa jam lamanya Jungkook berdiri, menghabiskan waktunya begitu saja di stasiun kereta. Jungkook hanya diam dengan wajah datarnya, entah apa yang kini ada di pikirannya, bahkan ia mengabaikan kakinya yang terasa mulai pegal karna berdiri terlalu lama.

"Aku yakin pasti dia akan datang" Itulah yang terus Jungkook ucapkan di dalam hatinya. Sampai akhirnya suara langka kaki seseorang –sedikit berlari, menuju kearahnya yang sedang menunggu kereta.

Jungkook kini dapat melihat pemuda berambut merah yang tampak kelelahan karna baru saja ia berlari, Ada terbesit sedikit kebahagiaan di hati Jungkook yang membuatnya ingin tersenyum, namun dirinya menolak, terasa sulit untuk menggerakkan bibirnya dan memaksanya untuk tetap diam.

Taehyung benar-benar tidak menyangka, ia yakin kali ini ia tidak salah lihat, kedua matanya kini dapat melihat Jungkook yang masih berada di stasiun kereta. Saat urusannya dengan Hoseok selesai secepat mungkin Taehyung berlari menuju stasiun, bahkan ia menolak tawaran Hoseok yang akan mengantarkannya pulang.

Taehyung tidak menyangka Jungkook belum pulang, ia pikir jika Jungkook sudah dari tadi pulang. Taehyung tersenyum menatap Jungkook yang masih memakai seragam sekolahnya. Kedua kakinya melangkah mendekati Jungkook, tidak terlalu dekat masih terlihat jarak yang memisahkannya.

Taehyung terus menatap Jungkook yang tidak jauh berdiri di sampingnya, dan jantungnya berdetak kencang saat Jungkook juga menatapnya. Taehyung dapat melihat wajah dingin Jungkook yang menatap kearahnya, hampir saja ia lupa bernapas.

Taehyung mulai mengalihkan wajahnya, namun Jungkook masih terus menatapnya membuatnya sedikit salah tingkah. Sungguh, sejujurnya Taehyung ingin terus menatap wajah Jungkook tapi hanya saja ia tidak sanggup jika terlalu lama bertatapan langsung dengan kedua bola mata Jungkook.

Kereta baru saja tiba, membuat Jungkook mengalihkan waajahnya. Taehyung sedikit bernafas lega.

Taehyung menaikan sebelah alisnya, heran. Ia melihat Jungkook masih diam di tempatnya, pemuda tampan itu bahkan tidak bergerak sedikitpun, membuat Taehyung sedikit bingung.

Sebenarnya Taehyung sedikit takut, namun ia ingin mengatakannya. "Ju-Jungkook, kau tidak pulang?" Taehyung meremas celananya menahan rasa gugupnya.

Namun Jungkook hanya diam dengan wajah datarnya.

Taehyung semangkin bingung, kereta hampir berangkat namun Jungkook masih diam di tempatnya. "Jungkook, kau tidak pulang?" Sekali lagi Taehung bertanya. Namun Jungkook hanya diam.

"Kau tidak pulang, ini sudah hampir malam, apa yang kau lakukan disini?"

"Haish! Sudalah" Tidak mendapat jawaban apapun dan merasa di cuekin membuat Taehyung menyerah. Melihat Jungkook yang terus diam membuat Taehyung lebih memilih melangka masuk ke dalam kereta.

Tapi...

Baru saja Taehyung melangkah, ada tangan yang menahan lengannya.

"Ju-Jungkok?" Taehyung terkejut, ternyata Jungkook yang menahan lengannya.

"Nanti malam, apa kau sibuk?"

"A-apa?"

"Nanti malam, apa kau sibuk?" Jungkook mengulang kembali pertanyaan nya, begitu datar dan dingin namun bagi Taehyung itu adalah suara terindah yang perna ia dengar.

Jungkook semangkin erat memegang lengan Taehnyung saat pemuda manis itu hanya diam. Taehyung dapat melihat kini Jungkook menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit di artikan, seolah berkata 'Cepat jawab'

"Ti-tidak ada" Taehyung gugup setengah mati, apalagi melihat wajah Jungkook saat ini.

"Jam Delapan malam di taman kota, jangan terlambat" Jungkook berlalu begitu saja setelah mengucapkan kalimat yang bahkan Taehyung tidak mengerti.

Jungkook tersenyum tipis sebelum masuk kedalam kereta dan meninggalkan Taehyung yang masih diam mematung, Jungkook dapat membayangkan bagaimana ekspresi Taehyung saat ini, membuatnya menyeringai.

"Apa?" Taehyung masih diam dan tidak menyadari kereta telah pergi bersama dengan Jungkook.

Butuh beberapa menit untuk Taehyung berpikir, sampai akhirnya ia berteriak kegirangan saat menyadarinya. Orang-orang yang ada di sekitarnya menatapnya aneh karna saat ini ai terlihat seperti orang gila.

Taehyung merasa seperti mimpi, ia tidak menyangka Jungkook mengajaknya bertemu nanti malam, mungkinkah ini kencan pertamanya dengan Jungkook. Ah, rasanya sangat bahagia. Sesuatu yang selalu ia mimpikan akhirnya dapat terwujud juga. Semoga ini awal yang baik selama penantiannya yang panjang.

.

.

Taehyung sengaja datang lebih cepat, ia tidak ingin terlambat dan membuat Jungkook menunggu. Maka dari itu Taehyung datang Jam Tujuh, haha lucu sekali kan, padalah Jungkook menyurunya datang Jam depalan. Tapi percuma saja karna Taehyung tidak bisa diam dirumah, ia terus saja gelisah dan ingin cepat-cepat bertemu dengan Jungkook.

Tidak buruk, dan tanpa terasa sudah satu jam lamanya Taehyung duduk di bangku taman kota –sendirian. Hatinya terlalu senang bahkan waktu satu jam terasa seperti lima menit.

Pukul Delapan lewat sepuluh menit. Mungki beberapa menit lagi Jungkook akan datang –pikir Taehyung, ia masih setia menunggu Jungkook dengan senyum yang terus terukir di wajah manisnya.

.

.

Pukul Delapan tepat, Jungkook sudah menuju taman kota. Namun saat di tengahan perjalanan Phonselnya berdering, dan seseorang menelfonnya.

"Kita harus bertemu" Jungkook dapat mendengar suara seseorang dari arah Phonselnya, huh! Bahkan Jungkook belum mengucapkan Hallo, atau bertanya siapa ini?

"Aku tidak ada waktu!" Jungkook baru saja ingin mematikan sambungan Telfon itu, namun seseorang disana membuatnya emosi, tampak dari tangannya yang meremas Phonselnya saat mendengar perkataan orang itu.

Mau tidak mau Jungkook harus menemui orang itu. Dan ini juga masih berhubungan dengan Taehyung.

.

.

Malam semangkin larut, taman kota yang awalnya ramai kini mulai sepi. Dan senyum di wajah Taehyung seakan menghilang dengan bertambanya waktu.

Pukul Sebelas lewat tiga puluh menit, dan sampai sekarang Taehyung belum juga melihat Jungkook. Taehyung berusaha tersenyum dan terus menunggu Jungkook. Namun melihat kenyataan Jungkook yang tidak juga datang membuat hatinya terasa sangat sakit.

Taehyung berusaha berpikir positif dan masih terus merharap Jungkook akan datang, -ya Taehyung berusaha meyakinkan dirinya.

Tapi kenyataannya Jungkook juga tidak datang, Taehyung berusaha tersenyum namun kedua matanya tidak bisa menahan air matanya. Hatinya terasa sangat sakit ia tidak ingin menangis namun air matanya tidak bisa berhenti, Taehyung berusaha keras untuk tersenyum walaupun ia menangis.

"Jungkook, kenapa kau tidak datang" Taehyung masih terus berusaha keras tersenyum walaupun sangat sulit, ia tidak ingin terlihat menyedihkan.

.

.

"Jangan perna dekati Taehyung! Jika kau hanya memberinya harapan dan mempermainkannya lebih baik kau pergi!"

"Kau! Memangnya kau siapa, huh!"

"Dengar! Aku sudah berusaha keras menahannya, aku sudah lama memendamnya dan melihat Taehyung terluka karna kau! Jadi jangan perna dekati dia. Aku tidak akan membiarkannya!"

Jungkook mengangkat sudut bibirnya yang terlihat terluka –membentuk senyum merendahkan. "Kenapa? Kau kecewa karna Taehyung lebih memilih aku dari pada kau! Kau tidak terima, huh!"

Dan kalimat yang keluar dari mulut Jungkook sukses membuat pemuda di depaannya kembali melayangkan pukulan di wajahnya. "Brengsekk!"

Pemuda itu kini menarik kerah baju Jungkook, kedua mata itu saling bertatapan tajam, seolah mengungkapkan aurah kebencian masing-masing. "Jangan libatkan Taehyung dalam masalahmu! Sekali lagi aku ingatkan padamu, Jungkook! Jauhi Taehyung dan jangan libatkan Taehyung dalam kehidupanmu!"

"Aku tau kau siapa, Jeon Jungkook! Dan lebih baik kau urus saja hidupmu, jangan mencoba mendekati atau memberi harapan padanya, itu akan membuatnya jauh lebih terluka! Biarkan Taehyung seperti ini dan aku akan membuatnya melupakan dirimu! Serahkan semua padaku!" Pemuda itu mendorong Jungkook hingga terjatuh. Sampai akhirnya pemuda itu pergi dan meninggalkan Jungkook yang hanya diam dalam pikirannya.

Kini Jungkook hanya bisa diam, entalah saat ini pikirannya benar-benar kosong, ia merasa sulit untuk berpikir jernih. Perkataan pemuda tadi terus saja berputar di kepalanya. 'Haruskah?'

"Maaf.. Maaf kan aku" Jungkook tersenyum miris.

.

.

.

~TBC~

A/N: Nah, kalau di capter ini bukan dari pengalaman saya, ini hanya ide dari saya saja :D

Makasih banyak yang udah nyempatin baca dan kasih Review nya, kalian sungguh sangat membantu aku ^^ ..

Jangan lupa tinggalkan jejak yak.. Dan saya juga berharap kalian bisa kasih kritikan dan masukan jika ada typo atau kesalahan dalam penulisan. Saya akan berusaha belajar dan terus memperbaiki tulisan saya..

Terima kasih, sampai jumpa di chapter selanjutnya... :*