Call Me Daddy
.
Story by, PaoLu42090
.
Original story link:
www . asianfanfics story/view/906636/call-me-daddy-luhan-sehun-hunhan-selu
.
Translate by me, Candy Sugar / DeathSugar
.
Chapter 4 & 5
Take You Home
Beberapa hari berlalu dan Sehun berjuang untuk Luhan, itu tidak memerlukan proses yang rumit. Dr. Kim bilang padanya jika alasan mereka benar-benar menjaga Luhan di rumah sakit ini adalah karena dia begitu rapuh untuk hidup bahkan untuk menjaga dirinya sendiri walau dia sudah dua puluh dua tahun. Mereka tahu keadannya dan kenapa dia begitu takut pada manusia, mereka tidak bisa memaksanya. Tapi Luhan tidak berbahaya untuk masyarakat, setidaknya itu yang mereka pikirkan. Jadi dengan sedikit keraguan, Dr. Kim menyerahkan penanganan Luhan pada Dr. Oh. Dr. Kim percaya pada Sehun. Dia sangat berpengalaman dan laki-laki yang cerdas dan jika ini yang terbaik untuk Luhan, maka tidak perlu di bicarakan lagi.
Luhan duduk di ranjangnya, berpikir dan membuat rencana ketika dia mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Luhan melompat, tetap bermain akting anak polos dan melihat kearah pintu untuk menatap Sehun.
"Kesini.." bisik Luhan. Sehun tidak dapat mendengarnya, tapi dia membaca dari gerak bibir Luhan di jendela di pintu kamar Luhan. Sehun tersenyum pada anak laki-laki yang terlihat begitu mini saat dia duduk di ranjangnya dengan dibalut oleh baju hangat seperti piyama dan terbungkus oleh selimut besar.
"Hai Luhan. Boleh aku duduk?" Sehun bertanya dan menunjuk tempat di ranjang Luhan. Luhan ragu-ragu dan kemudian mengangguk.
"Terima kasih. Sekarang, aku datang kesini untuk memberitahumu kabar baik!" kata Sehun.
"Sungguh? Seperti apa?" Luhan bertanya seperti anak kecil yang ingin tahu,
"Setelah mengerjakan berkasmu, aku menyelesaikan banyak kertas kerja, tapi aku mengatur untuk kau bisa keluar, Luhan. Kau bebas dari tempat ini. Namun, secara teknis hukum, kau punya "kekurangan" pasca trauma, setidaknya kau butuh pelindung." Kata Sehun.
Mata Luhan mulai berair.
"Tapi aku tidak punya siapapun. Tak seorang pun yang bisa menolongku atau merawatku. Aku akan berada disini selamanya." Luhan menangis.
"Tidak Luhan, aku mengerti tentang ini sebelum aku mengisi kertas kerja. Aku sudah mengambil tanggung jawab penuh tentangmu, setidaknya sampai kau mampu mengurus dirimu sendiri." Kata Sehun dan mata Luhan berbinar.
"Sungguh? Kau melakukan itu untukku?" Tanya Luhan. Sehun tersenyum saat melihat senyum diwajah yang lebih muda dan dia menangguk. Dan untuk pertama kali setelah waktu yang lama, Luhan mendekat kearah Sehun dan memeluknya. Ini pertama kalinya kontak yang Luhan berikan pada orang sejak dia sampai di rumah sakit jiwa ini. Sehun terkejut dan dengan cepat dia memeluk balik Luhan.
"Kapan aku pergi?" tanya Luhan.
"Hari ini. Aku datang untuk membantumu mengemas barang-barangmu." Kata Sehun. Luhan segera melompat dan mengambil tas besar yang akan dia gunakan untuk mengemas barang-barangnya dan secepatnya mereka berdua melakukan pekerjaan mereka mengemas barang kedalam tas.
Luhan tidak mempunyai begitu banyak barang jadi itu tidak memerlukan waktu yang lama untuk berkemas. Akhirnya mereka selesai, Sehun mengulurkan tangannya, dan dengan sedikit keraguan disana, Luhan mengambil tangannya dan berjalan keluar dari Rumah Sakit Jiwa ini.
Area parkir kebanyakan rumah sakit jiwa itu gelap, disana hampir sulit untuk dijangkau cahaya. Dan itu yang Luhan harapkan. Sehun sampai di mobilnya dan membantu Luhan mengepak barangnya didalam bagasi. Selama dia sibuk melakukan itu, Luhan mengambil buku dongeng besar yang dia bawa dengannya dan dengan cepat memukul Sehun dibagian belakang kepalanya. Sehun tersungkur di tanah disamping mobilnya. Luhan menyeringai dan mengambil kunci dari Sehun, kemudian memindahkan Sehun dari jalan. Dia tutup bagasi dan mengambil dompet Sehun dan melajukan mobilnya.
Luhan selama mengendarai, ini benar-benar terasa menyenangkan karena ia akhirnya bisa bebas. Setalah sedikit lama mengemudi Luhan menemukan mantel dan dengan cepat mengecek kartu kredit milik Sehun.
Lalu, dia menuju kearah bar dilantai bawah. Luhan sudah seperti sekarat karena begitu rindu dengan rasa alkohol sejak dia dinyatakan legal dan mendambakan gigitan makanan lain selain makanan kejam yang ada di rumah sakit jiwa.
.
Sehun bangun setelah beberapa jam, dia menyadari dia masih ditempat parkir dan mobilnya hilang. Lalu dia menyadari apa yang sudah terjadi. Reaksi cepat Luhan dan pelukan untuknya, itu terlalu cepat untuk pasca trauma. Luhan licik dan dia merampoknya. Sehun hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya, sekarang dia justru menginginkan Luhan lebih. Itu akan begitu mengagumkan ketika ia berpikir, Luhan seperti bayi yang butuh diasuh, tapi sekarang anak nakal yang dia butuhkan untuk diajari tempatnya di dunia. Sehun benar-benar pria yang tenang, jadi dengan tenang dia berjalan kearah rumah. Ini tidak sejauh yang dia kira. Dia sampai di rumah dan dengan cepat membuat sebuah sambungan telepon.
"Hallo? Ya, aku butuh bantuanmu. Kau tahu anakku mengambil mobilku kemarin malam tanpa permisi dan sampai sekarang dia masih belum di rumah. aku ingin mengaktifkan GPS system yang aku punya di dalam mobil" kata Sehun di telepon. Perempuan diseberang sana selasai menjelaskan beberapa padanya dan kemudian meminta passcode.
"Passcode-nya 0412." Katanya pada si wanita diseberang sana.
"Baik, Tuan, kami akan mengirim tautan ke ponsel anda dan itu akan melacak keberadaan mobil anda untuk waktu dua puluh empat jam. Jika mobil itu berpindah anda akan mengetahuinya" Kata wanita itu. Sehun menyeringai.
"Terima kasih." Ucapnya pada wanita itu. Sehun dengan cepat mendapatkan tautan itu, Luhan berada tidak jauh dari sini, ini akan berlangsung begitu mudah. Sehun meraih beberapa benda yang dia butuhkan dan mengambil mobil lain. Mobil yang biasa dia gunakan untuk urusan "daddy". Sehun mengendarai dengan singkat kearah bar dimana Luhan berada dan dia bisa melihat mobil miliknya. Sehun menggelengkan kepalanya dan membuat langkah kedalam. Itu begitu mudah untuk menemukan keberadaan Luhan. Dia hanya satu-satunya laki-laki yang terlihat seperti anak kecil.
Sehun marah dengan apa yang ia lihat. Luhan sedang memegang sebuah minuman di satu tangannya sedang tangan yang lain tengah berada di rambut seorang pria yang tengah menciumnya. Apa dia seorang pelacur, Sehun berpikir untuk dirinya sendiri. Dia tidak ingin membuat keributan, jadi dia memutuskan kembali dan menunggu di luar untuk Luhan.
Bahkan tidak butuh satu jam dan kemudian Luhan lelah, dia mabuk bahkan hanya dengan satu minuman. Dia merasa kenyang, burger yang dia makan begitu enak dan terlalu besar untuknya, tapi dia menghabiskannya. Dan untuk dessert, dia mendapatkan bibir manis dan sexy bartender. Luhan tidak ingin lebih lanjut daripada itu. Dia sebenarnya gantal untuk merasakan lubang pantatnya di tusuk, tapi dia memutuskan untuk lebih baik menunggu sampai besok. Dia mulai berjalan kearah mobil dan berhenti ketika merasakan seseorang dibelakangnya. Luhan menyesali kepergiannya, jalan ini begitu sepi, mungkin dia seharusnya menunggu seseorang untuk mengawalnya. Perlahan, Luhan melihat sekeliling jika seseorang ada disana. Mata Luhan melebar ketika ia melihat dokter itu memegang tangannya dan Luhan teriak.
"AAahhmmpphh!" Luhan berteriak selama Sehun menempatkan kain di wajahnya, tidak banyak suara yang keluar, Luhan tidak dapat mendapatkan keinginannya. Luhan coba memberontak dan menendang untuk bebas dari cengkraman Sehun, tapi chloroform itu bekerja dengan cepat dan mulai menyeruak di indranya dan Luhan mulai menutup matanya. Sehun menyeringai saat memegang laki-laki yang lemas itu di lengannya. Sehun singkirkan kain dengan chloroform itu dan menuntun Luhan menuju ke mobilnya. Dia buka bagasi dan memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya dan meletakkan Luhan dengan lembut disana.
Sehun kembali masuk ke dalam mobilnya dan dengan cepat mengendarai kembali menuju rumahnya. Dia menarik keluar Luhan yang masih pingsan. Dia dudukan Luhan di kursi dan mulai mengikat Luhan disana. Luhan tidak akan bisa melarikan diri, Sehun letakkan beberapa strip lakban di bibirnya yang sempurna. Sehun tersenyum melihat laki-laki yang begitu rapuh dihadapannya. Tapi, dia harus pergi, dia mengecek saku celana milik Luhan dan menemukan kunci mobilnya. Dia kunci pintu dan berlari kembali menuju bar yang tidak jauh dan mengambil kembali kendaraan yang lain hingga tidak ada seorang pun yang curiga. Selama dia berkendara Sehun menyeringai, malam ini dimulai awal baru baginya.
Not So Innocent
Luhan bangun dengan kepala yang pusing. Di ingin mengarahkan tangannya untuk memijit kepalanya, tapi dia menyadari jika dia diikat di kursi.
"MMM!" dia berteriak untuk minta tolong tapi tidak ada suara yang keluar. Luhan mulai panik, kenapa dia di ikat? Dia berontak untuk membebaskan ikatan yang mengikatnya, dan syukurlah itu tidak terlalu kencang seperti yang dia pikir. Luhan dengan cekatan terlepas dari ikatan tali itu dan dengan cepat menyingkirkan lakban yang dari bibirnya. Dia melihat ke sekeliling, tapi dia tidak mengingat setiap bagian dari sekelilingnya. Kemudian dia ingat dokter itu. Dia mengikutinya dari bar, dia menculiknya. Luhan harus menemukan jalan untuk keluar dan ia harus cepat. Dia melihat pintu yang tertutup itu dan lari kearah sana. Tapi itu tertutup rapat. Disana tidak ada kuci di pintu dan itu hanya bisa di buka dengan kunci. Jadi, Luhan lari kearah jendela dan itu begitu ketat dengan dinding. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat selama dia tidak tahu apa yang ia lakukan. Kemudian dia mendengar suara mobil yang di parkir di garasi. Luhan harus bersembunyi jika ia ingin melarikan diri. Dia lari menyusuri lorong kecil dan melihat sebuah ruangan, dia dengan cepat masuk dan bersembunyi didalam lemari. Itu adalah lemari yang besar dan luas. Luhan memutuskan untuk bersembunyi didalam pakaian yang berantakan.
Sehun berjalan kedalam rumah dan tersenyum untuk dirinya sendiri. Luhan melarikan diri, sedikit yang Luhan perlu tahu, dia merubah permainan ini menjadi permainan tikus dan kucing. Dan dalam game ini kucing tidak pernah kalah.
"Keluar, Luhan. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin bicara denganmu." Sehun bicara selama dia mengambil pisau dari dapur. Dia tidak tahu tentang kebohongan Luhan atau apa yang dia mampu, dan bahkan Sehun tidak ingin menyakitinya. Dia hanya mengambil tindakan pencegahan. Sehun berjalan ke dalam ruangan dan dia menggelengkan kepalanya ketika ia melihat pintu ruangannya terbuka. Ia benar-benar awal kesalahan, ketika dia pergi pintu itu tertutup dan seharusnya masih tertutup kecuali seseorang masuk kedalam. Sehun melangkah menuju ruangannya dan mulai mencari.
Luhan mendengar suara langkah kaki dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa benar-benar ketakutan. Dia mengarahkan tangannya untuk menutupi mulutnya agar tidak membuat suara apapun. Bagaimana jika Sehun adalah pembunuh berantai? Apa Luhan adalah target selanjutnya? Dia benar-benar takut dan dia ingin lari. Dia mengintip dari lubang kecil di belakang pintu—selama Sehun pergi kedalam melalui sisi lain ruangan dan mulai untuk mencari. Dengan sedikit keributan sebisa mungkin Luhan berlari dari lemari dan menuju ruang di ujung lorong. Jika Sehun memerika ruangan lain itu dapat menyita waktunya.
Namun Sehun mendengar dia pergi. Dia tertawa saat tahu ada yang melarikan diri dari rumahnya dan dengan perlahan mengikuti Luhan.
Luhan berlari menuju kedalam kamar untuk menemukan tempat yang aman, tapi dia menghentikan langkahnya di tengah kamar dan menyadari jika ia berada di kamar anak. Tapi ini bukan kamar anak biasa, ini adalah salah salah satu yang besar, seolah-olah diperuntukan untuk orang dewasa. Luhan menelan ludahnya dan melihat kesekeliling, dia ingin mengubur dirinya sendiri. Disana ada mainan bayi dan tempat tidur bayi dan masih banyak lagi, dan di sisi berlawanan dari kamar adalah lemari besar yang dibiarkan terbuka. Tapi itu tidak penuh dengan pakaian atau pakaian bayi, itu penuh dengan... mainan seks? Luhan begitu bingung dan takut, kemudian mendengar suara tawa dibelakangnya, dia membeku.
"Kau suka kamar barumu, baby? Aku membuat ini sendiri." Kata Sehun dari arah pintu. Luhan mengambil nafas dan melihat kearah Sehun.
"Apa yang kau lakukan padaku? Apa kau akan melukaiku seperti mereka semua? Kumohon, aku tidak ingin ini. Aku takut, tolong kembalikan aku." Luhan mulai merengek seperti anak kecil.
"Oh, Please, kau bisa menyudahi aktingmu. Aku tahu kau tidak polos." Kata Sehun sambil berjalan mendekat kearah Luhan.
"Aku tidak tahu apa yang kau katakan. Aku tidak bersandiwara, kau menakutiku Sehun. Aku tidak bermaksud untuk memukulmu atau membawa kabur mobilmu. Aku hanya takut kau akan menyakitiku dan aku melindungi diriku sendiri. Sungguh, aku bukan anak nakal." Kata Luhan. Sehun menyeringai dan mengambil langkah akhir menuju Luhan dan dengan cepat mencengkeram sisi belakang leher Luhan dan membawa Luhan mendekat kearahnya dan meletakkan pisau itu di tenggorokannya.
"Aku katakan padamu untuk menyudahi kebohonganmu. Sekarang tunjukkan padaku siapa dirimu yang sebenarnya sebelum aku mengores tenggorokanmu." Kata Sehun. Luhan menyeringai padanya dan dengan cepat menonjok Sehun di bagian perut dan mencoba kabur. Tapi Sehun lebih cepat dan menjambak rambutnya.
"OWWW !" Luhan berteriak. Sehun hanya tertawa,
"Apa kataku." Katanya dan menyeret Luhan kembali ke kursi yang digunakan untuk mengikat Luhan dan mendudukannya dengan kasar. Sehun ambil dua pasang borgol dan menamparnya kearah pergelangan tangan Luhan dengan kursi.
"Apa yang kau inginkan dariku, kau psikopat gila! Biarkan aku pergi!" teriak Luhan mencoba menghentakkan borgol ditangannya.
"Apa yang aku inginkan? Aku ingin kau menjadi 'my baby'. Aku tidak akan memaksakan ini padamu. Aku memperlakukanmu dengan baik, tapi kau malah mencuri mobilku dan menunjukkan padaku sisi sialanmu. Jadi sekarang, kita berada di jalan yang rumit." Sehun menjelaskan padanya.
"Fuck you!" Luhan mengumpat.
"Oh i'm sorry, i believe i will be the one fucking you. Tapi, sebelum kita mulai semua hal yang menyenangkan, aku penasaran. Bagaimana kau membuat ini semua? Kebohongan, pembuhuhan? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Sehun.
"Mudah saja. Kalian semua menyukai cerita yang menyedihkan dan wajah yang polos. Dan tidak ada yang terjadi padaku. Aku hanya tidak mendapatkan apa yang aku mau." Ujar Luhan dan Sehun menyeringai.
"Ini terlihat seperti kita berada di situasi yang sama. Dan sekarang, apa yang aku inginkan adalah dirimu. Kau adalah 'baby' yang sempurna, seseorang yang takut pada dunia, dan butuh seseorang yang akan mengobati luka mereka yang telah rusak. Tapi sekarang kau adalah 'baby' pemberontak yang perlu dipecahkan dan belajar dimana tempat mereka tinggal. Aku akan membuat kau menjadi anak yang aku inginkan dari awal. Kau hanya membuat proses ini menjadi lebih sulit. Aku ingat setiap kebohongan yang kau katakan tentang kekejaman kakak laki-lakimu padamu. Dan jika itu yang diperlukan untuk memecahkanmu, ayo kita lakukan itu semua. Mulai malam ini, kau adalah bayiku." Sehun menjelaskan padanya.
Luhan gemetar ketakutan dari nada suaranya. "K-kau tidak bisa membuatku melakukan hal gila itu!" kata Luhan padanya. Sehun hanya tertawa,
"Kita akan lihat tentang itu." Kata Sehun dan dia berjalan menuju ke kamar bayi untuk mengambil apa yang dia butuhkan untuk mulai latihan mereka.
.
TBC
.
T/N : Sejujurnya aku rada ga pede sama translate-anku. TTwTT no edit, berharap ga ada typo dan juga mistranslate. Semoga.. :''))))
Ps : maaf ga bisa update cepet ya.. aku masih banyak paper dan kerjaan yang numpuk. Kecuali kalau ada yang mau bantuin ngerjain paper dan juga... nyelesain kerjaan ? wkwkwk X''D btw pas translate ff ini aku jadi inget kasus kopi sianida. Mungkin tuh Jessica sejenis kek Luhan disini. Bfft..
Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca. :'' chapter sebelumnya belom sempet revisi. Ntar kalau luang beneran deh di revisi (emang males itu mah). Maaf jika ff ini (hasil translate-an aku) ga sesuai sama ekspektasi kalian, maklum aku masih belajar TTTT /alesan!/. Tapi kalau kalian baca ff versi aslinya ceritanya bagus kok. Beneran. ^^)/
11 Februari 2016
With Love
—DeathSugar
