NARUTO dan karakter milik Kishimoto Masashi
Pt. 2: Golden Week (1)
Rumah keluarga Fujiwara,
Kohoku-ku, Yokohama
-..-
Shikamaru sedang bersusah payah menggaruk lengan kirinya yang tertutup gips dengan ujung penggaris plastik. Biasanya dia menggunakan kageyose untuk mencapai bagian yang sulit dijangkau, tapi Shikamaru harus menahan diri karena saat ini dia tidak sendirian.
"Hiroshi, hentikan," Fujiwara Hiromi mendelik galak pada penggaris tak berdosa, seolah menyayangkan keputusan untuk membiarkan anak lelakinya tadi membawa benda itu sebelum menghadap tamu mereka. Shikamaru berhenti menggaruk, seketika itu juga ibunya mengamankan penggaris tersebut.
"Maaf tapi saya nggak ingat anda," Shikamaru berkata pada lelaki muda bersetelan rapi yang duduk di sofa ruang tamu keluarganya itu. Dia menahan diri untuk tidak menguap.
"Dia guru wali kelasmu di Keio."
"Wali kelas?" celetuknya malas-malasan, "Keio?"
Kedua mata Hiromi berkaca-kaca saat berkata, "Hiroshi masih belum bisa mengingat apapun… dia bahkan lupa dengan Igo. Dulu tak pernah tak main Igo tiap hari. Saya bahkan harus menyeretnya keluar kamar untuk mandi."
Di sampingnya, Shikamaru membatin, "Sebenarnya aku lebih suka shogi."
"Benarkah?" laki-laki bersetelan rapi itu membelalak kaget, "Kudengar pemain pro selalu melatih diri tiap hari. Kalau tidak insting mereka bisa tumpul."
"Begitulah sensei, tapi institusi sudah memberikan cuti. Dengan kondisinya sekarang—" kalimat Hiromi terpotong karena seseorang membunyikan bel. Shikamaru hanya bisa mengangguk saat wanita yang mirip ibunya itu memberi isyarat galak padanya untuk tetap di tempat.
Dia mencuri-curi pandang pada wali kelasnya yang tersenyum balik. Wajah itu tak pernah dilihatnya; kalaupun pernah dia tak akan mengaku. Mempelajari karakter dan informasi soal Fujiwara Hiroshi ini tidak lebih penting daripada mencari penyebab mengapa dia bisa berada di dunia itu. Shikamaru menggaruk rambutnya yang jauh lebih pendek dari rambut aslinya. 'Hiroshi' ini juga berusia lebih muda tiga tahun dari usia aslinya. Selain itu bila dilihat dari respon keluarga Fujiwara, 'Hiroshi' adalah pemuda anti-sosial yang menghabiskan waktunya dengan bermain Igo. Di dunia ini ternyata juga ada shogi dan igo.
"Hiroshi," kepala ibunya muncul dari pintu koridor ruang tamu, "Memangnya kau punya teman bernama… 'Uzumaki Naruto'?"
-..-
Naruto pura-pura tidak menyadari tatapan keheranan milik Kawamoto Misaki saat dirinya mengenalkan diri sebagai, "Saya Uzumaki Naruto, bisa tolong sampaikan pada anak anda? Saya temannya."
"Uzumaki Naruto?" Misaki berbisik tegang saat tuan rumah mematikan interkom visual untuk memastikan pada yang bersangkutan, bahwa benar dua tamu ini memang teman anaknya, "Tujuanmu apa sih?"
"Ehm, itu julukanku."
"Dimana? Online game?"
"Jaman sekolah dulu."
Walau mencoba memelankan suaranya, Misaki masih tak bisa menghilangkan nada menuduh pada kalimatnya, "Jadi dia teman sekolahmu? Fujiwara Hiroshi, pemain Igo profesional yang jadi berita nasional karena dia sempat hilang lalu ditemukan amnesia, kamu sendiri tak tahu alamat rumahnya!"
"Ah, soal itu, thanks ya Shi-, Misaki-chan. Aku nggak tahu cara kerja alat itu," Naruto menunjuk smartphone di tangan Misaki yang menampilkan layar navigasi, "Berkatmu kita nggak nyasar."
"Kamu harus berterima kasih pada orang yang memasang alamat rumah Hiroshi ini di website. Tapi lupakan itu dulu, kamu bilang tadi dia teman sekolah?" Misaki memencet smartphone-nya dengan semangat, begitu melihat halaman website tertentu soal profil Fujiwara Hiroshi, dia langsung membacanya keras-keras, "Dia lahir enam belas tahun lalu di Yokohama dan besar di sini. Jadi bisa ceritakan bagaimana anak ini bisa jadi teman sekolahmu? Bukankah semua sekolahmu ada di Hokkaido? Dia juga empat tahun lebih muda darimu, tahu! Teman sekolah apanya!?"
Naruto tak tahu dimana itu Hokkaido, dan dia tipe yang tak bisa memikirkan alasan dengan spontan. Jadi Naruto hanya bisa meringis dalam diam sementara pintu rumah Fujiwara terbuka dan seorang pemuda dengan tangan dibalut gips keluar dari dalamnya. Pemuda itu menatap Misaki, agaknya menilai dalam diam, lalu bicara pada Naruto, "Itu Shizune?"
"Bukan."
"Oh. Masuklah dulu. Ayo ke kamarku— dan, ehem, kakak ini bisa ngobrol dengan ibuku untuk sementara waktu."
"Oke," Naruto mendengus, lalu tiba-tiba dia tertawa keras, "Shikamaru… kau masih bocah ya?! Lalu rambutmu itu... hahahaha."
Yang diejek membalas dalam bisikan sehingga tak ada yang bisa mendengar selain pengejeknya, "Kau juga tampak konyol tanpa goresan di pipi."
Di belakang mereka, Misaki berdiri terbengong sambil berujar, "… Shikamaru?"
Stadion Hanshin Koshien
Nishinomiya, Hyogo
-..-
Sedikit demi sedikit, Hinata sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan kehidupannya sebagai Miyazaki Aki. Sebagai pewaris satu-satunya bisnis keluarga, Hinata telah dianggap sebagai bos utama Miyazaki-ya tanpa formalitas apapun. Semua murni karena, Hinata menyadari ini, seluruh karyawan restoran itu sangat menghormati almarhum Miyazaki Tatsuhisa— laki-laki yang berperan sebagai ayahnya. Padahal Hinata sudah secara tersirat menunjuk adik kembar Tatsuhisa, Haruhisa, sebagai pemegang kendali namun pamannya ini menolak.
"Aku akan membantumu bila diperlukan, Aki, tapi aku tak mau kalau harus mengambil alih. Ini bisnis kakakku," Haruhisa berkata saat dia menyadari keinginan Hinata waktu, "Lagipula aku tak cocok dengan pekerjaan semacam itu."
"Ya. Ayah lebih suka menangkap kriminal daripada mengatur restoran."
Hinata membelalak, "Kriminal?"
"Ya. Dia polisi…? Lho, dulu kita pernah ikut kunjungan kantor kepolisian dan kau pernah bilang kenapa paman Tatsuhisa nggak ikut jadi polisi saja— sori, kalau itu mengingatkanmu—"
Hinata langsung tertawa hambar, "Ahh… iya ya. Tak apa."
Miyazaki Haruhisa dan anak lelakinya, Miyazaki Shintaro, memutuskan untuk pindah dari apartemen mereka dan tinggal bersama Hinata. Karena rumah itu sangat besar, Hinata memperbolehkan salah satu teman kampus Shintaro untuk tinggal bersama mereka. Teman kuliah Shintaro ini adalah pemuda yang mirip dengan Rock Lee, bernama Lee Lon Qua, yang tak keberatan dipanggil 'Ron'. Ron memiliki logat yang aneh ketika bicara. Saat Hinata tak sengaja membicarakan ini, Shintaro terbahak dan berkata, "Ron ini asli Cina, dia baru dua tahun di Jepang! Maklumi saja." Hinata harus membuka buku geografi di rak kamarnya untuk mencari tahu apa itu 'Cina' dan 'Jepang'.
Ron datang di sela-sela acara pembukaan kembali Miyazaki-ya, membawa serta pacarnya yang berwajah mirip dengan Tenten, dan seorang senior mereka yang tak lain adalah Chouji. Wanita muda berwujud Tenten ini bernama Sandy Chun, seorang mahasiswi pertukaran dari Taiwan sama seperti Ron. Sedangkan Chouji awalnya dikenalkan dengan nama Ichikawa Kenta oleh seorang wanita yang Hinata yakin, pasti mirip dengan ibu Chouji di Konohagakure. Wanita ini bernama Ichikawa Yukie dan menurut keterangan beberapa karyawan, adalah guru sekolah-nya dan juga istri dari koki utama Miyazaki-ya.
Hinata dan Chouji saling bertukar cerita mengenai kejadian sebelum mereka ada di dunia ini. Mereka belum memiliki konsklusi namun sepakat kalau kemungkinan besar bukan hanya mereka saja yang mengalami hal ini.
Sekarang, dua shinobi Konohagakure tersebut sedang berada di tengah sorakan orang-orang yang menonton suatu pertandingan olahraga. Hinata ingat Shintaro menyebut olahraga ini sebagai 'Yakyu', tapi Ron dan Sandy lebih memilih kata 'baseball'. Semua bermula dari beberapa hari yang lalu saat Haruhisa menawari Hinata untuk menghabiskan golden week dengan berlibur ke suatu tempat. Hinata yang tidak mengerti maksud dari golden week pun menolak dengan halus. Baru setelah Chouji menemukan sosok lelaki yang mirip dengan Yondaime Hokage di tayangan televisi, Hinata langsung menagih tawaran pamannya itu. Dia ingin sekali-kali menonton pertandingan 'Yakyu'.
Kamar pasien bangsal Sakura nomor 8
Rumah Sakit Hachioji, Tokyo
-..-
"Ini, kemungkinan, Ino."
Sakura membelalak pada foto penuh satu halaman yang menampilkan remaja perempuan dengan kostum berenda yang berlapis-lapis. Dibalik kosmetik tebal itu dia bisa mengenali wajah milik kunoichi yang dia kenal sejak kecil. Shino duduk di kursi pengunjung di sebelah ranjang Sakura dan membaca majalah lain yang memuat artikel mengenai Ito Kumiko.
"Ah, begitu. Jadi dia semacam idol."
"Shino. Cuma lihat halaman depan majalah pun kau seharusnya tahu kalau dia orang terkenal."
"Maksudku, ego dan karakter Ino sangat relevan dengan identitasnya di dunia ini."
Sakura berdecak tak senang. Dia menyusuri tiap halaman majalah dan menemukan paling tidak enam foto gadis berwajah Ino di sana.
"Ngomong-ngomong kapan kau memutuskan untuk memakai ninjutsu medis?"
"Dengan pengawasan banyak dokter dan birokrasi keamanan yang mereka sebut 'polisi' itu? Hm, tak akan pernah. Kecuali kalau orang yang menyerangku sudah tertangkap."
Shino meletakkan majalah yang dia baca, "Yang kau sebut dengan polisi itu, mereka juga menanyaiku soal beberapa hal. Katanya, untuk jaga-jaga kalau aku memang nggak ada kaitannya dengan ini semua."
Sakura mengikuti teladan Shino dan melempar bacaannya ke atas meja, "Jadi aku hanya bisa mengandalkanmu untuk memastikan kalau Itokumin ini Ino."
"Kau pasti belum baca artikel terakhir."
"Ah, soal dia sedang liburan ke Jerman? Yah, pokoknya aku mengandalkanmu, Shino."
Shino membalas senyuman Sakura dengan menggerutu pelan, "Kalau kau belum tahu dimana itu Jerman, bisa kupinjami peta. Aku juga bisa memberitahu soal tata cara transportasi antar-negara di dunia ini, kalau kau mau."
Dua shinobi Konoha ini mendongak ke arah pintu saat seseorang membukanya. Wanita yang berperan sebagai ibu Sakura, Mishima Lucia, tersenyum senang sambil melihat keduanya. Dia membawa mangkuk besar berisi buah-buahan, menyambar majalah yang terbuka di bagian foto Itokumin agar bisa meletakknnya di atas meja.
"Kalau Haruhi sudah kuat berdiri, aku akan pinjam kursi roda khusus luar ruangan," wanita itu menunjuk jendela yang tertutup tirai, "Sakura di bangsal sebelah baru mekar lho… indah sekali. Ah, aku bisa memintamu menemani Haruhi 'kan… Hiroya?"
Hiroya, aka Shino hanya bisa mengangguk lemah.
"Ah… artis ini, Ito Kumiko, ya?" Lucia mengangkat alis saat menyadari foto di majalah yang dia pegang, "Kepala perawat pernah bilang kalau dia sedang menjalani terapi jalan di sini…."
Sakura dan Shino saling berpandangan.
"Tapi ini sepertinya rahasia di kalangan petinggi rumah sakit. Artis punya banyak uang untuk dihamburkan hanya untuk masalah seperti ini."
