NARUTO dan karakter milik Kishimoto Masashi

Pt. 3: Golden Week (2)


Departemen rehabilitasi

Rumah Sakit Umum di Yokohama

-..-

"Entah kenapa kalau lihat kondisimu sekarang, aku merasa harus melindungimu."

Sasuke memeriksa jari-jari tangannya keluar dari lengan sweater yang kedodoran. Dia tak bisa membalas ejekan Kiba dan memilih untuk mengganti pembicaraan. Sasuke melihat crutch yang dikepit di ketiak kiri Kiba, berkata,

"Ada cerita apa dibalik itu?"

Kiba duduk di samping Sasuke dengan desahan lega. Kakinya yang di-gips dia selonjorkan di tempat aman dari kaki-kaki orang lewat.

"Jatuh dari tebing. Kau sendiri?"

"Penyakit organ dalam. Aku seharusnya sudah mati minggu lalu."

Kiba ber-hmm namun tidak mengatakan apapun lagi. Mereka saling menyadari satu sama-lain sebagai shinobi dari Konohagakure sejak tiga hari lalu. Waktu itu mereka berpapasan di koridor rumah sakit. Kiba-lah yang pertama kali mengendus Sasuke dan membisikkan namanya. Mereka baru bisa bertemu lagi hari ini, saat keduanya sama-sama memiliki jadwal terapi fisik.

Seseorang menyalakan televisi di ruangan tunggu itu, Kiba menyeletuk,

"Hei... aku pernah lihat Hokage keempat di layar itu. Tapi kupikir dia cuma mirip saja."

"Maksudmu, kemungkinan Naruto juga ada di sini?"

Kiba mengangkat bahu, "Kalau lihat kondisi keluarga kita di sini... menurutmu?"

Sasuke melihat televisi lagi, yang sekarang sedang menampilkan iklan, "Kau ingat nama Hokage keempat di sini?"

"Sori, namanya susah diingat. Tapi dia semacam atlet terkenal dan teman kerjaku sepertinya tahu. Aku akan menanyainya kalau bertemu mereka lagi."

"Oh. Teman kerja...?"

"Ya. Aku aktor pengisi suara di sini," Kiba meletakkan kepalanya di sandaran bahu dengan sikap defensif, "Aktor... heh, heh. Dimana Akamaru saat aku butuh teman ketawa."

"Cari tahu soal Hokage keempat. Kalau memang benar bukan hanya kita saja yang ada di sini—"

Kiba melirik pemuda berwajah Itachi yang berjalan ke arah mereka, membalas anggukan dan senyuman dari yang bersangkutan. Dia berbisik dari sudut mulutnya, "Sori sebelumnya, Sasuke, aku tahu kalau kakakmu nggak jahat. Tapi aku selalu merinding kalau papasan wajah dengannya."

Sasuke menyeringai, "Heh, Kiba, coba kau jadi aku. Itachi yang ini tak jauh beda dengan aslinya."


Kamar Budget Hotel

Suatu tempat di Tokyo

-..-

Selama empat hari ini Sai masih mencoba mengumpulkan berbagai macam informasi mengenai identitas barunya. Melakukan adaptasi terhadap lingkungan baru adalah perkara biasa bagi shinobi dari divisi Ne seperti dirinya, begitupun upaya melakukan manipulasi identitas. Memperoleh informasi tanpa menimbulkan kecurigaan seharusnya adalah hal mudah kalau saja orang pertama yang dia temui di dunia ini bukan Ueno Yuki berwajah Shin ini.

Sai berpura-pura membalas ciuman penuh nafsu dari pemuda tersebut. Saat ini dia ada di bawah sosok menjulang milik Shin yang memerangkapnya dalam belaian, kecupan, dan bisikan merana. Sai tak pernah ingat kalau tubuhnya jauh lebih kecil dari Shin. Tapi di dunia ini, Yuki memiliki badan yang lebih atletis darinya.

"Tsukasa, ada apa?"

Usahanya untuk tidak menimbulkan kecurigaan tak berhasil, seperti biasa.

"Hn?" Sai menelan ludah, menjilat sudut bibirnya yang berliur.

"Kalau kau nggak mau, bilang saja."

Sai membatin; daripada dibilang tak mau, dia lebih memilih kalau tak siap dengan fakta bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Kalau Ino tahu soal ini, apa dia akan murka?

"Atau... tubuhmu masih sakit?"

Sai menggeleng. Shinobi memiliki tingkat penyembuhan diri di atas rata-rata.

"Aku seharusnya membawamu ke rumah sakit, tapi mereka bisa melacakmu. Untuk sementara ini kita sembunyi dulu sampai ayahku menyelesaikan ini semua."

Masalah apa itu, dan kenapa mereka harus sembunyi, Sai belum memahaminya. Dia memutuskan mungkin sekarang waktu yang tepat untuk bertanya.

"Sebenarnya kau ini apa?"

Yuki memundurkan badannya. Sai menggunakan kesempatan itu untuk duduk.

"Kukira kau sudah tahu dari namaku."

"... aku cuma mau memastikan saja," Sai pura-pura mengerti.

"Ueno. Aku dari grup Ueno. Ayahku pemimpin grup itu."

Sai sedikit mengerti, mungkin seperti klan di Konoha; dia membayangkan Ino dan klan Yamanaka.

"Tapi aku menolak berhubungan dengan ayahku," Yuki menggaruk perut telanjangnya, "lalu lawan ayah menganggapku sebagai kelemahan, mereka menemukanmu... sori, Tsukasa... setelah semua ini selesai, aku janji tak akan mengganggumu lagi."

"Apa itu berarti 'sampai di sini saja, selamat tinggal'?"

Yuki mengangguk.

"Aku akan bergabung dengan grup Ueno dan di saat itu kau harus pergi dari Tokyo. Aku sudah minta bantuan kenalan Ueno untuk menampungmu sementara di Shikoku— dan, hei, Tsukasa," pemuda itu menyentuh sisi-sisi wajah Sai dengan kedua tangannya, "Kenapa kau masih mau menerimaku setelah semua kejadian ini? Kau seharusnya lari!"

Sai diam saja namun dia membatin, "Satu hal, karena aku bukan Tsukasa."

"Yuki,"

Yang dipanggil terlonjak seakan dia tak terbiasa dipanggil seperti itu.

"Aku tak mau lari. Aku tak mau berpisah denganmu. Apa yang harus kulakukan?"

"Tapi... tapi... kau akan menyesalinya nanti!"

Sai tersenyum, "Oh. Coba saja."

Yuki tertawa dan menangis secara bersamaan. Sai membiarkan pemuda itu merengkuhnya dalam pelukan kasar. Kalau Yuki ini menjadi target, berarti dia punya kedudukan yang cukup tinggi, dan Sai diajari untuk memperoleh kepercayaan dari orang-orang seperti itu... agar misinya berjalan dengan lebih mudah.


Ruang ganti atlet di stadion Hanshin Koshien

Nishinomiya, Hyogo

-..-

"Bagaimana kalian bisa masuk sini?"

Hinata bertukar pandang khawatir dengan Choji. Lelaki di depan mereka benar-benar Hokage keempat; walau memakai jersey— bukan jubah Hokage seperti di foto berpigura yang ada di ruang kelas akademi.

"Tenanglah manajer... kalian, ada yang bisa kubantu?"

Hinata hanya bisa melongo pada dua pasang warna biru yang balik menatapnya. Warnanya sama dengan milik Naruto. Gadis ini mendapati dirinya tergagap saat mengatakan, "Sa-saya penggemar anda!"

Chouji mengeluarkan suara kecil di belakang Hinata, kemungkinan besar juga menepuk jidat dalam diam.

"Oh... kalian mau minta tanda tangan? Boleh saja. Ah, sebaiknya cepat sebelum petugas keamanan datang," bunyi obrolan terdengar dari arah koridor, "Untungnya di sini cuma ada aku dan manajer. Beberapa rekan timku ada yang tak senang dengan pengunjung di ruang ganti."

Hinata terkejut saat disodori bola putih dengan coretan seperti tanda tangan di permukaannya yang kotor, "Ini. Karena kalian sukses masuk ke sini."

Hinata menerimanya dengan ragu-ragu. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan dengan bola itu.

"Eh... Aegis-san!"

"Ya?"

"Apa... apa anda punya anak laki-laki?"

Sang manajer yang mulanya menyipit curiga, tesedak keras saat Hinata mengatakan hal itu sambil menggenggam erat hadiahnya dengan kedua tangan. Chouji kembali menepuk jidatnya dalam diam.

"Ya. Punya. Mungkin seumuran dengan kakakmu itu."

Chouji berkata lemah, "Dia bukan adikku," lalu menarik bahu Hinata, "Ayo pulang. Sudah cukup 'kan?"

Hinata mengangguk, membiarkan dirinya ditarik mundur oleh Chouji setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih.

"Keirakukei-nya normal. Dia bukan Hokage keempat."

Chouji mengangguk, "Tapi dia punya anak laki-laki seumuran denganku, 'kan? Kemungkinan besar itu Naruto. Mau langsung cek?"

"Tapi kita harus punya alasan untuk meninggalkan rombongan lagi. Terutama paman Haruhisa."

"Oh. Serahkan padaku."


Kamar pasien bangsal Sakura nomor 8

Rumah Sakit Hachioji, Tokyo

-..-

Sakura memandang seorang perempuan muda berseragam perawat yang bertugas mengecek kondisinya secara berkala. Dia baru saja disapa dengan 'Yo, Sakura' oleh perawat ini.

"Ino?"

Sang perawat meringis senang, "Kau kenapa, heh? Beneran kunoichi medis bukan?"

"Berisik. Ada alasan kenapa harus pakai shitenshin?"

"Hmm... ibuku cerewet soal privasi. Aku tak boleh jalan-jalan sembarangan selama terapi di sini. Ah, aku sudah ketemu Shino kemarin! Dia memberitahuku soal kondisimu."

Sakura menunjuk perutnya, "Maksudmu ini?"

"Bukan. Soal penyerangmu yang belum tertangkap. Aku dan Shino memutuskan untuk memburunya supaya kau bisa bergerak bebas," Ino menambahkan dalam bisikan, "Penjagaan di kamar ini super ketat, orangtuamu punya pengaruh apa sih di rumah sakit ini?"

"Entahlah. Yang jelas aku sudah mulai bosan dikarantina."

"Lucu. Aku juga sedang dalam masa karantina."

"Ada apa?"

Ino mendudukkan diri di ranjang Sakura, "Kau tahu terapi apa yang dijalani Ito Kumiko? Rehabilitasi kecanduan obat. Sepertinya Itokumin ini mengalami overdosis sebelum aku bangun menggantikannya. Karena itulah semua orang yang mengenalku jadi paranoid. Mereka jadi sangat protektif."

"Tapi untungnya kau punya ninjutsu praktis seperti ini."

Ino tersenyum, "Iya. Jadi tenang-tenanglah di sini sampai aku dan Shino menangkap penggemarmu, oke?"

"Entah kenapa aku nggak senang. Shino sudah memberitahumu soal Hokage keempat?"

Ino menatap setumpuk koran di dekat meja Sakura. Dia bisa melihat foto hitam putih yang mereka kenali sebagai mantan Kage Konoha itu, berpose riang dengan pentungan.

"Maksudmu Aegis Seacrest?"

"Maksudku, dia ayahnya Naruto 'kan?" Sakura meraih koran yang dimaksud, "Namanya aneh."

"Untuk informasimu, nama ayahku di sini sama anehnya; Reiner Achter."

"Kudengar kau keturunan Jerman-Jepang."

"Meskipun aku nggak tahu apa itu Jerman... dan agak mengerikan karena ayahku bicara dengan bahasa yang tak kupahami. Tapi yang agak mengejutkan lagi; dia dan ibuku berpisah."

Sakura berkata pelan, "Ah. Begitu ya."

"Mereka bukan orangtuaku jadi itu nggak masalah. Tapi tetap saja aneh. Nah, kembali ke Aegis Seacrest ini... kita akan menemui orang ini, nanti setelah urusanmu selesai."

"Shino sudah mulai mencari informasi juga."

Ino mengangguk, "Oke. Sekarang aku harus balik dulu. Sampai jupa nanti!"

Sakura mengawasi perawatnya mengedip selama beberapa kali, tahu bahwa Ino sudah melepaskan ninjutsu. Perawat itu berseru kaget dan meminta maaf berulang-ulang setelah menyadari bahwa dia sedang duduk di ranjang pasien. Sakura hanya tersenyum lalu menerawang jendelanya yang tertutup tirai.