NARUTO dan karakter milik Kishimoto Masashi

Pt. 4: Golden Week (3)


Kediaman keluarga Himura

Kohoku-ku, Yokohama

-..-

Honda berwarna hitam mengarahkan sepasang cahaya lampunya yang benderang ke arah jalan berpagar Azusa di kawasan perumahan estate yang rapi. Selama beberapa saat, sosoknya yang cemerlang menelusuri deretan rumah di ujung selatan. Honda itu berhenti di rumah ke empat puluh dua yang berpagar tanaman rendah. Anak sulung sang pemilik rumah, Himura Ryunosuke, turun melalui pintu penumpang untuk membuka pintu gerbang rendah. Namun tepat pada saat itu seorang pemuda berlarian dari teras bangunan yang terpisah dengan rumah utama. Pemuda ini mengambil alih selot pembuka dan menerima ucapan terima kasih dari Ryunosuke.

Ketika Honda tersebut melewati mereka, Sasuke dari kursi penumpang bisa melihat kakak lelakinya itu berbincang akrab dengan pemuda yang memiliki wajah Suigetsu Hozuki. Sasuke tetap tak bergeming walau kendaraan yang dia tumpangi telah berhenti.

"Tora," ibunya menoleh dari belakang kemudi, "Ada apa?"

Sasuke membuka sabuk pengaman, "Tak apa," dia menjawab singkat, menolak uluran tangan Ryunosuke, "Aku bisa turun sendiri."

Di belakang Ryu, pemuda berwajah Suigetsu menyapanya riang. Sasuke mengangguk singkat, langsung tahu kalau itu bukan Suigetsu yang dia kenal. Ryu memanggil pemuda berwajah Suigetsu itu dengan 'Tobio', Sasuke mulai mengingat nama itu dalam hati.

"Tora," Sasuke terlambat merespon. Dia belum terbiasa dipanggil dengan nama itu, "Tadi ada teman dan wali kelasmu datang. Mereka belum tahu kalau kau baru pulang hari ini," Tobio berwajah Suigetsu menunjuk bangunan yang terpisah dari rumah utama, "Wali kelasmu sih sudah nggak ada tapi temanmu masih ada di kamar Ichiro."

"Aduh... wali kelasmu memang bilang padaku kalau mau menjenguk," ibunya berkata sambil mengeluarkan kantong belanjaan, "Aku lupa bilang kalau kau tak jadi pulang kemarin. Teman Tora masih ada di tempat Yamauchi-kun? Maaf merepotkan ya, Tobio. Bisa panggil mereka ke rumah?"

Tobio mengangguk dan bergegas menuju arah yang dimaksud. Sasuke tak bisa menolak bertemu teman entah-siapa itu. Kiba memang pernah bilang kalau mereka masih berstatus pelajar dan kebetulan satu sekolahan.

Tapi ternyata dia mengenal mereka. Sasuke bisa melihat seseorang berambut pirang yang sangat dikenalnya melambaikan tangan dengan riang. Di sampingnya, pemuda lain yang bertubuh lebih pendek berdiri canggung. Walau tanpa kuciran tinggi di kepala, Sasuke masih bisa mengenalinya sebagai Shikamaru.


Kafe Tamaya

Shinjuku, Tokyo

-..-

Kalau saja saat ini Ino tidak sedang berada di dalam tubuh lelaki paruh baya, dia akan dengan senang hati menggelayutkan tangannya di lengan Sai yang duduk di seberang. Tapi dia memang harus menahan diri dengan mengatupkan kedua tangannya di gelas minuman.

"Berhenti memandangiku dengan wajah itu. Jijik, tahu."

Ino cemberut ditegur, Sai menambahkan dengan kalem.

"Jangan menggembungkan pipi. Mengerikan. Dia siapa?"

"Entahlah," Ino menjawab dengan suara bariton milik tubuh yang dipinjamnya, "Kenalan ibuku. Dia sering datang ke rumah."

"Dimana tubuh aslimu?"

Ino bisa melihat ekspresi khawatir Sai. Dia tersenyum sendiri saat berkata, "Tenang saja. Aman. Ada di dalam kamar. Aku terpaksa berkeliaran dengan shintenshin karena beberapa alasan."

"Apa salah satunya, karena kau artis terkenal?"

Ino terkekeh, "Ituu jugaaa," lalu menutup mulutnya dengan segera. Nada bicara seperti itu tidak cocok dipakai om-om kumisan paruh baya.

"Tak kusangka bisa menemukanmu disini!" Ino berkata lagi dalam bisikan.

"Aku lebih kaget, tahu. Apa yang kau lakukan di sini dengan tubuh itu?"

Ino menceritakan soal awal mula terbangun di dunia ini, pertemuannya dengan Shino dan Sakura, serta kisah penyerangan Sakura yang menjadi alasannya untuk berkeliaran memburu si pelaku. Sai mendengarkan dalam diam walau saat giliran menceritakan kisahnya sendiri, dia harus sabar disela berkali-kali.

"Kau jadi APA?"

Sai mengulang sabar, "Istilah yang dipakai di sini adalah yakuza. Ya, di sini pun aku masih jadi anak buah Danzo. Walau, tentu saja bukan Danzo... dia disebut Hide-honbucho—,"

"Bukan," Ino menggeleng, "Habis itu!"

"Eh, apa?"

"Kalau nggak salah kau tadi bilang 'jadi tangan kanan yakuza yang mirip Danzo-sama, memanfaatkan statusku sebagai kekasih Shin'... SIAPA itu Shin?"

"Aku pernah cerita 'kan? Dia sudah seperti kakakku selama pendidikan di Ne."

Ino berseru frustasi, "DAN seingatku Shin itu cowok 'kan?!"

Beberapa pengunjung menoleh ingin tahu. Ino tiba-tiba merasa malu.

"Di sini namanya Yuki. Lagipula Yuki ini kekasihnya Tsukasa, bukan aku."

Ino memijit keningnya saat berkata, "Siapa lagi itu Tsukasa?"

Sai menjawab dengan menunjuk dirinya sendiri. Ino menatapnya selama beberapa saat kemudian berdiri tiba-tiba.

"Sai," Ino berbisik rendah hingga hanya mereka yang bisa mendengarnya, "Ayo ketemu Sakura dulu."


Kediaman keluarga Himura

Kohoku-ku, Yokohama

-..-

Sasuke membiarkan mantan rekan satu timnya tertawa lepas. Dia cukup toleran dengan berbagai ejekan yang dikatakan oleh Naruto sejak mereka terpisah dari orang-orang yang tidak mengetahui identitas asli tiga shinobi ini.

"Toraa? Toranosukee...? Nama hebat macam apa itu?! Hahahaha!"

Naruto juga terang-terangan membanggakan fisiknya sendiri.

"Kalian berdua pendek, ya. Minum susu, sana! Kau pucat banget sih, Sasuke."

Sasuke bertukar pandang dengan Shikamaru. Bila dibandingkan dari fisik mereka bertiga, jelas Naruto lebih tua dari keduanya— dan jauh lebih atletis. Tawa Naruto terhenti saat Shikamaru berkata, "Biarkan saja dia. Kita bahas hal yang lebih penting."

"Ya," Sasuke mengangguk, "Darimana kalian tahu aku ada di sini?"

"Jadi, Sasuke, kita satu kelas di SMA Keio dan sepertinya kita berdua siswa bermasalah."

Shikamaru berhenti bicara saat Sasuke memotong singkat, "Hn, bukan urusanku."

"Ya. Benar, bukan urusanku juga tapi dengar dulu, wali kelas datang ke rumahku lebih dulu dan memberi informasi soal siswa lain yang punya masalah kesehatan. Kalau dia nggak memaksaku melihat foto-foto kegiatan sekolah dari smartphone-nya, mungkin aku nggak bakal tahu kalau kau adalah siswa yang dia ceritakan itu."

Sasuke bertukar pandang dengan Naruto yang sedang meringis senang, pemuda berambut hitam itu mengabaikannya dan berkata, "Aku ketemu Kiba. Dia pernah bilang kalau satu sekolah denganku juga."

"Ah, Kiba juga di sekitar sini?" Shikamaru menggaruk kepalanya, "Hmm... jadi kita kebetulan ada di satu daerah yang sama. Satu intitusi pendidikan, pula."

"Bagaimana denganku?" Naruto menunjuk dirinya sendiri, "Aku nggak seumuran dengan kalian dan bukan dari sekitar sini."

"Ada Shizune," Shikamaru mengingatkan.

"Dia bukan Shizune. Hanya mirip."

"Lalu ayahmu?"

"Siapa?!" Shikamaru dan Naruto berkata bersamaan.

"Hokage keempat."

Naruto membuka dan menutup mulutnya berulang-ulang. Tampak terkejut.

"Kau belum bertemu ayahmu?"

"Aku bangun di suatu tempat semacam asrama! Mana kutahu kalau aku masih punya orangtua."

"Padahal dia begitu terkenal sampai masuk televisi juga."

Shikamaru segera merogoh kantung celananya dan bertanya pada Sasuke, "Namanya?"

"Aegis Seacrest."

"Kau tahu lafalnya?"

Shikamaru menyerahkan smartphone kepada Sasuke. Naruto berseru heran, "Kau bisa pakai itu, Shikamaru?"

"Gampang pakainya, nanti kuajari. Nah, Sasuke?"

Sasuke tak pernah memakai alat itu walau dia sering melihat Ryu memainkannya. Dia mengetik lafal nama yang dia ingat saat melihat televisi beberapa hari lalu hingga layar menunjukkan beberapa gambar wajah laki-laki yang sangat mereka kenali. Shikamaru mengawasi gambar-gambar tersebut selama beberapa saat, kemudian menunjukkannya pada Naruto.

"Kita harus bertemu ayahmu."

Naruto menelan ludah, menatap gambar wajah hokage keempat, lalu berkata gagap, "Shi-Shikamaru... walau kau bilang begitu aku nggak tahu dia ada dimana."

"Ah. Tanya Shizune."

"... Shizune ini, namanya Misaki."