"Kau tahu, aku masih tidak dapat percaya kalau kita akan menikah tidak lama lagi."

Isak haru samar-samar terdengar dari ujung kabel, mewarnai belah persik sang polisi muda kemerah-merahan. Via sambungan telepon sekalipun, vibra milik tunangannya tak sekalipun gagal merasukinya dengan perasaan aneh.

Bahagia. Malu-malu. Berjuta rasa yang kompleks menyelimuti hati—tidak, bahkan fisiknya secara general. Bahkan Asano Gakushuu yang berkepribadian sekeras batu bisa luluh dengan cara yang sederhana, tergantung pada siapa yang melakukannya.

"Terserah kau mau percaya atau tidak, Ren." Menggaruk sudut pipinya yang tidak gatal, Gakushuu berpura-pura tidak peduli. "Aku akan segera datang ke Kyoto seminggu dua minggu lagi, kau takkan keberatan menunggu, 'kan?"

"Tentu saja!" lawan bicaranya segera mengiyakan tanpa ragu. "Walau memang, aku sangat merindukanmu saat ini juga, Gakushuu. Begitu rindu sampai aku harus memanjakan tubuhku sendiri! Ahahaha." tambahnya riang.

Kembali ke pihak Tokyo, terlihat persik pada pipi mulusnya tersulap menjadi sebongkah apel. "Bo-bodoh! Kontrol sedikit libidomu yang berlebihan itu, Ren! Dasar tidak sabaran. Ck, kita memang sudah jarang bertemu juga sih, jadi..."

"Selalu kucoba, tapi sayangnya gagal." Sakakibara terkekeh geli, berhasil menangkap maksud yang bersembunyi malu-malu di balik kalimat tunangannya. "Tenanglah, segera saat kita bertemu lagi, aku akan memberimu full service sampai puas."

Keduanya ditenggelamkan jauh dalam romansa, sampai nyaris tidak merasakan hawa keberadaan pihak ketiga dalam pembicaraan mereka.

.

.

.


.fantasick
case 002

Assassination Classroom © Matsui Yusei

Akabane Karma x Isogai Yuuma

Romance – Crime/Drama
Inspired by "Carmen" Opera


.

.

.

"Wah, wah, selamat atas pernikahannya, Gakushuu sayang."

Ketika bulan menyibak kepulan awan sehingga langit tersepuh keputih-putihan, barulah bayangan 'seseorang itu' samar-samar memantul di sudut retina. Dan bukannya asing, malahan Gakushuu kenal betul siluet ramping dengan dua cuatan di ujung kepala itu. Sosok pemuda yang dikenalnya dekat sejak bertahun-tahun lalu—walau boleh diakui, Gakushuu malas untuk berurusan dengan 'dia' apapun permasalahannya.

"Izinkan aku mengucapnya lebih awal karena jelas kau takkan mengundangku. Tapi kalau begini, maka percuma saja kau menghapusku dari kartu keluarga, tidakkah kau berpikir demikian?"

Isogai Yuuma. Ametis tajam itu mendelik.

"Selamat malam. Kapan terakhir kali kau berkunjung kemari ya, kucing hitam? Jangan bilang kau rindu kandang yang mewah, atau kasih sayang majikan? Ah tidak, jangan katakan, biar kutebak! Hmm... Lidahmu muak akan rasa tikus di selokan?" Gakushuu mencibir, namun gagal memicu respon menarik dari lawan bicaranya—yang mana ia harapkan sedari awal dialog mereka. Menjengkelkan, ia tidak menyangka Yuuma akan sulit diprovokasi. Sebisa mungkin ia ingin menghindarinya, mengenyahkan Yuuma dari kehidupan damainya.

Karena bagi Asano Gakushuu, Isogai Yuuma adalah kucing hitam pembawa sial. Senada dengan helai arangnya, bukan?

"Tanggapan yang tidak menyenangkan, ya. Jahat sekali, Shuu."

Gakushuu tidak menggubris, terfokus untuk meluncurkan kalimatnya yang belum rampung. "Jika itu yang kau inginkan, maka berlutut dan memohonlah."

"Aku terkejut, Gakushuu."

Percuma. Baik debar, nafas, maupun ekspresi lawannya sestabil danau di musim dingin. Menyalahi seluruh ekspektasinya mengenai Isogai Yuuma selama ini. "Tidak kusangka kalau kau adalah orang yang sangat kuno. Kau pikir ini masih di era Meiji? Ah tidak, mungkin Victoria, karena cocok betul dengan sikap kebangsawananmu itu." Tambahnya—sedikit menyelipkan sarkasme—sebelum roman eloknya mulai mengedar senyuman malaikat pada sang pemuda jingga.

Haah, napas dihela berat. "Jelaskan maksud kedatanganmu."

"Bukan bermaksud macam-macam. Hanya tidak ingin upaya dan tujuanmu mengusirku sia-sia. Tidakkah sekalipun kau berpikir, bahwa Isogai Yuuma adalah orang yang paling murah hati sedunia? Terutama pa-da-mu, Gakushuu." Menengadahkan kepala, kini jarak pemisah keduanya kurang dari separuh jengkal. Cukup dekat, mudah untuk buat kedua hidung saling bergesekan.

"Aku mengusirmu demi kehormatan keluarga Asano, bukan untuk maksud lain—" Gakushuu mendesis emosi, namun Yuuma tak menggubrisnya. Bagi Yuuma, kalimat Gakushuu barusan tak lebih dari sepotong alasan yang dibuat-buat.

"Tawaran dari ayahmu sangatlah manis, lucu sekali melihat jiwa mudanya masih benderang di umur senja. Tapi sayang sekali, walau berlian yang ia tawarkan begitu cantik, aku tidak butuh kakek keriput itu. Cukup muak tubuhku dipermainkan olehnya semenjak kita belia."

Karena bagi Asano Gakushuu, Isogai Yuuma adalah manekin angkuh nan elok;
penghias etalase toko di siang hari—yang berbalik mengejar nyawanya di malam hari.

"Bayangkan saja aku menjadi ibumu. Haha, menggelikan. Walau pasti menyenangkan sekali, bisa menitahmu sesuka hatiku. Kebahagiaan terbesar bagi seorang saudara tiri!" Kini tawanya mengudara, tak acuh dengan kuku-kuku keji yang mengoyak pembuluh di bahunya.

"Ups, topiknya jadi melenceng. Yah, intinya tinggalkan saja tunanganmu itu. Aku membuang kunci kamar demi dirimu, kau tahu."

Karena bagi Asano Gakushuu, Isogai Yuuma adalah sesosok Cinderella pembangkang, sesosok Cinderella tamak yang sengaja meninggalkan selopnya di beribu istana. Ia tak butuh kereta labu, ia tak butuh sihir 'tuk buat sejuta pangeran berpaling padanya. Sesosok Cinderella yang mewarnai kehidupannya—sebelum ini—hitam kelam, seolah-olah waktu berhenti tepat di tengah malam.

"Tinggalkan aku sendiri, bedebah!" hardik Gakushuu, melempar mantan saudara tirinya itu satu dua langkah ke belakang.

"Oh? Dan di sini aku mengira kau masih mencintaiku. Apa aku salah?" Yuuma tersenyum puas, karena tahu balasannya tepat adanya. "Menyerahlah, Gakushuu. Padahal aku sudah susah payah datang untuk membalas cintamu... Kau yakin tak ingin menjadi seorang daripadaku?"

Karena bagi Asano Gakushuu, Isogai Yuuma adalah Carmen. Dan sialnya, ia sendiri mulai mendalami peran sebagai Don Jose.

.

.


.fantasick


.

.

.

.

Walau di siang hari ia biasa bertengger seperti kutilang, malamnya ia akan terbang jauh seperti burung hantu. Yah, terkadang. Salahkan jam biologisnya yang mulai konslet semenjak melamar kerja menjadi pelayan bar. Dan sebagai efek samping, seiring waktu ia pun mengidap insomnia—terbilang parah. Walau begitu, ketika staminanya mulai tiris tubuhnya akan memaksa untuk beristirahat, di manapun itu. Baik ia sadar maupun tidak.

Memang berbahaya.

"Biru... Sudah pagi, kah...?" entitas berpucuk kembar itu mengerang pelan, seraya mengusap pelupuk matanya yang masih buram. Lagi, badannya tumbang tanpa ia sadari—pasti ada yang aneh dari syarafnya, karena tak bereaksi apapun setelah menghantam aspal. Lihat saja, ada segaris darah yang mengaliri pelipis lalu mengering di pipinya.

"Ahahaha, sial benar aku, jatuh pingsan di aspal keras begini." Yuuma tertawa datar. Menyisir gerai eboninya dengan jari, dan ia mendapati tangannya kemerahan.

Lengan kemejanya.

Lutut celananya.

Bahkan aspal dingin yang ia duduki.

Semuanya tanpa kecuali, terpercik merah.

...Darah...?

"RYOUMA!" belum sempat otaknya mencerna keadaan, sesosok gadis pirang menjerit keras dan derap langkah kaki datang bersahutan dari rumah-rumah. Gadis yang barusan rupanya berkaki cepat, tidak sampai puluhan detik dan ia sudah bersimpuh di sana, memangku kepala seorang lelaki di pahanya. Sesekali menampari pipinya, berharap ia membuka mata. Wajahnya nampak panik.

"Ryouma, Ryouma! Bohong—jawab aku, tolol! Ini bukan saatnya bercanda!"

Merasa familiar, Yuuma mencoba memanggil nama yang ia kenal. "Rio... chan?"

"Yu-Yuuma?! Kau... Mengapa kau ada di sini—" Gadis pirang itu—Rio—terbelalak, apalagi setelah melihat pipi putih Yuuma tercoreng merah pekat. "dan berlumuran... darah... Jangan-jangan kau—"

"E-eh? Rio-chan, ini tidak seperti yang kau pikirkan! Aku tidak melakukannya!"

Terlihat sudut bibir Rio bergetar hebat.

"Pembohong!" bentaknya emosi. "Lihat, aku menemukan pisau dapur ini di dekatmu! Pasti kau yang—"

"Dia berkata jujur, Rio." sela Karma yang baru datang, segera membangun jarak di antara kedua sahabatnya. Rio hendak mendaratkan tamparan di pipi Yuuma, yang untungnya berhasil ia cegah. "Tenangkan dirimu sedikit! Kau tidak seperti Rio yang biasanya."

"Karma..."

Rio tidak terima. Raut wajahnya berkembang semakin jutek saja. "Jangan samaratakan aku denganmu, tuan detektif jenius. Teman masa kecilmu mati di hadapanmu, bagaimana bisa kau setenang itu?" Dengan punggung tangan, gadis itu menghapus jejak lelehan air mata yang membuat pipinya lengket.

"Satu lagi, jangan sembarangan memutuskan kalau Yuuma bersih dari kasus ini! Mana buktinya?!"

"Dia benar, Akabane. Jangan sok menyimpulkan kasus ini tanpa penyelidikan lebih lanjut! Menurutku pribadi, Yuuma patut dicurigai. Jangan alihkan matamu, jangan libatkan perasaanmu dalam profesimu."

Tidak lama berselang, dua-tiga mobil polisi tiba di gang sempit itu. Kilat merah biru datang menginterupsi singsingan fajar, sampai nyaris membutakan retina. Mereka bertiga (berempat, satu meninggal) terkepung dalam lingkaran tampang-tampang sangar bernuansa khaki.

Karma meringis, mendapati segerombol polisi seakan tidak sabar untuk memborgolnya—tak terkecuali Asano Gakushuu, inspektur bagian kriminalitas yang kini melirik Karma sengit. Sedari awal, baik relasi maupun kompetisi antar mereka memang tak bisa dibilang positif. Keduanya saling memendam benci, apalagi karena kantor detektif Karma lebih ramai pengunjung.

(apalagi karena Isogai Yuuma ada di antara mereka, walau memang alasan tersebut samar adanya.)

Banyak omongpun percuma. Gakushuu berinisiatif menggandeng lengan Rio dan menghibur gadis malang itu dengan pelukan. Namun tatapan tajamnya tak lenyap begitu saja, masih terfokus pada Karma yang tengah menenangkan sahabat karibnya. Pemandangan yang membuat matanya sakit.

"Kasus ini akan diselidiki direktorat reserse kriminal, kau tidak perlu ikut campur. Segera pasang garis polisi!"

.

.


.fantasick


.

.

.

.

"Rio—"

"Mengapa kau membelanya, Karma?! Padahal jelas sekali ia ada di sana ketika Ryouma meninggal! Lantas apa alasanmu membelanya? Apa? APA?! Karena dia terlihat lemah dan baik hati?!" potong Rio, hampir menjerit.

"Lagipula kita tidak tahu menahu soal kehidupannya sebelum pindah ke panti, juga caranya bertahan hidup bertahun-tahun sebelum ini. Bagaimana bisa kau begitu yakin?"

Kalimat barusan mendesak otak Karma untuk berpikir.

"Maksudmu, Yuuma mungkin saja pernah membunuh orang lain untuk bertahan hidup?" Pemuda merah itu mengerutkan alis, coba menerka maksud dari pernyataan sang gadis pirang. Jujur, bilasaja benar itu maksudnya, maka Rio sedikit menyinggung perasaannya.

"Kau tahu itu mustahil, Rio. Yuuma baru berusia sebelas ketika pindah ke panti, dan empat tahun kemudian ia diadopsi oleh inspektur kepolisian—tempat terburuk untuk melakukan kejahatan! Lagipula, aku bisa menilai seseorang dari sorot matanya. Ia tidak—"

"Aku tahu," sambung Rio sambil sesenggukan, "aku tahu kau bersahabat sangat dekat dengan Yuuma, bahkan sampai sekarang. Aku tahu kau yang membawanya ke panti. Menyayanginya. Mengajarinya bermacam hal. Aku tahu kau akan melakukan apapun untuk membelanya. Dan hubunganku dengan Ryouma, tidak beda. Walau memang tidak kentara dari luar."

Lagi, cairan bening berlinangan menyusuri pipi Rio.

Karma sendiri tahu, sejak dulu Rio bukan anak cengeng. Humoris yang ceria, malah. Artinya kematian Ryouma sungguh berakibat fatal untuknya.

Namun mengenai Yuuma yang dituduh begitu saja, bagi Karma sebanding sakitnya.

Belum sempat ia berkata, Rio sudah kembali menyusun frasa. "Bahkan sebelum kau bergabung dengan kami, Ryouma sudah seperti saudara kandungku. Hubungan kami begitu padu dan nyaman. Di balik sikapnya yang keras dan serampangan, ia peduli denganku. Ia memperhatikanku. Dialah satu-satunya bahu untukku menangis, bahkan sampai aku dewasa dan meninggalkan panti. Bahkan ketika kau menolak cintaku waktu itu, Karma!"

Kalimat paling buntut terdengar seperti dendam pribadi, namun Rio tidak peduli. Malahan bagus kalau bisa menjadi cermin untuk mengingat masa lalu.

Merasa bersalah, Karma menggigit bibir. "Saat itu, aku memang tidak..."

"Tidak peduli dengan percintaan, begitu? Yuuma, Yuuma, Yuuma. Dialah segalanya yang kau pedulikan, sampai saat ini juga."

"Sebentar saja," Rio mengangkat alis, sebab jarang-jarang lelaki yang bagai iblis itu diliputi gemuruh. "tinggalkan aku sendiri, Rio."

"Baru sekali ini aku tidak paham denganmu. Kau ini benar-benar merepotkan saat tengah jatuh cinta."

BLAM

Karma mendesah berat, manik tembaganya berkilat-kilat. Ia memerlukan waktu bersendiri barang sebentar guna merasakan dan menimbang apa yang harus diperbuatnya setelah ini. Barangkali pula itu disebabkan karena tersangka utama kali ini adalah sahabat baiknya. Hatinya sesak dengan nama Yuuma, mengaduk dan menggelisahkan. Setiap momennya bersama Yuuma selama ini bersifat sederhana dan tanpa dosa, karena itu mustahil Yuuma rela mengotori tangannya

—yah, baru opini belaka.

"Yuuma... Bukan orang yang akan tega membunuh. Dia bahkan tak pernah bertengkar dengan siapapun, apalagi Ryouma—Ryouma sudah terlalu sibuk bertengkar denganku. Bahkan walau dia punya motif yang jelas, dia takkan..."

'kita tidak tahu menahu soal kehidupannya sebelum pindah ke panti, juga caranya bertahan hidup bertahun-tahun sebelum ini.'

Seterusnya di malam itu Karma tidak dapat menenangkan diri. Kasus Ryouma dan ciuman Yuuma larut lalu menggoncang pikirannya—dua peristiwa yang membahayakan jantungnya itu saling melebur, buatnya makin sukar untuk dicerna.

Yuuma adalah sosok yang lemah lembut bak laut yang tenang, dan tak ada yang memahami itu lebih darinya. Walau kadang ketika pasang (kasus langka bagi Karma), memang cukup repot untuk tafsirkan tingkah laku Yuuma. Contohnya semalam. Ia tak yakin apakah Yuuma serius atau hanya sekedar bualan yang dengan enteng meluncur ketika seseorang mabuk.

Tapi kekeraskepalaan dan tindak tanduk mengejutkannya itu tidak sedikitpun mengubah fakta bahwa Yuuma adalah pribadi bermoral sempurna.

Bahkan setelah protes (curhat, mungkin) panjang Rio, ia tetap meyakini bahwa Yuuma bukanlah pelakunya.

.

.

.

.

next : case 003

.


a/n

because black!Yuuma dan platonic!TeraRio is everything #malu #HEH pertama kali bikin genre ginian, jadi agak ragu benernya :'))) tolong diingetin kalau ada yang salah, ya...
well well, pingin ngejelasin hubungan masa lalu Yuuma-Shuu juga, tapi takut makin melenceng dari karuiso huhu

anyway, terima kasih sudah membaca fic ini! x3/

kiyoha