"Dia berkata jujur?!"
Seolah habis disetrum listrik, sang polisi muda refleks bangkit dan menggebrak meja. Sedikit menyentak jantung Megu, psikolog profesional kenalannya.
"Ya, tidak ada hal yang disembunyikannya, aku bisa pastikan itu—alat pendeteksi juga bilang begitu. Entahlah Asano-san, aku ragu dia terlibat dalam pembunuhan almarhum Ryouma. Mungkin persis seperti yang diceritakannya, bahwa saat tersadar ia sudah berada di samping jasad Ryouma. Mungkin ini trik seseorang—ingin mengkambinghitamkan Yuuma, saya rasa. Akabane juga bilang kalau Yuuma sudah tertidur pulas di bar kemarin malam. Ada kemungkinan ia dibawa pergi ke TKP oleh pelaku."
Gakushuu tahu perempuan itu takkan sengaja berdusta. Mimiknya ketika menjelaskan sungguh-sungguh, bahkan tak sedikitpun senyum menggaris di bibirnya.
"Tidak mungkin! Isogai Yuuma-lah yang paling mungkin menjadi pelaku pembunuhan ini!" tangkis Gakushuu tegas, hatinya menolak untuk percaya. "Karena dia cukup sadistik..."
"Permisi, maaf?"
"Ah, tidak. Terima kasih atas bantuanmu, Kataoka. Aku akan memanggilmu lagi jika ada pemeriksaan lebih lanjut terhadap tersangka." ujar Gakushuu akhirnya, meluncurkan pengusiran tidak langsung kepada wanita relasi kerjanya itu. Serentetan realita yang tak sesuai duganya ini membuat kepalanya pening, hampir saja ia muak untuk meladeninya—jika saja kasus Ryouma tak benar-benar menarik atensinya.
"Omong-omong, tolong panggilkan Karasuma Hinano ke kantorku, kudengar ia punya kesaksian yang bersangkut paut dengan kasus ini. Lalu Kataoka, setelah ini bisakah aku menyerahkan Yuuma dalam pengawasanmu? Selidiki segala hal tentangnya. Observasi dia, interogasi dia." Titahnya sebelum Megu berlalu dari hadapan. Ah, ia berharap pengakuan dari Hinano bisa menjadi pelita untuk penyelesaian kasus menyebalkan ini.
Megu mengangguk patuh. "Baik."
'Sialan. Jika pelakunya bukan Yuuma, lalu siapa... Apakah aku melewatkan sesuatu? Setitik saja petunjuk…'
Tunggu.
"Kataoka, persisnya pukul berapa Yuuma tertidur di bar? Yang tadi dijelaskan oleh Akabane."
"E-eh? Saya rasa ia mengatakan... Tepat jam sebelas malam."
Gakushuu menyeringai seram. Nampaknya ia berhasil sedikit saja membongkar kebenaran dari kasus pembunuhan Ryouma. Ya—sekali lagi—jika terkaannya tidak salah.
'Itu artinya, Akabane berbohong mengenai jam tidur Yuuma. Karena persis ketika hari berganti, Yuuma mendatangiku yang tengah menelepon Ren. Itu pasti, karena aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Tapi, apa keuntungan dari menutup-nutupi perbuatannya?'
.
.
.
.
.fantasick : case 003
Assassination Classroom © Matsui Yusei
Akabane Karma x Isogai Yuuma
Romance – Crime/Drama
Inspired by "Carmen" Opera
.
.
.
.
Selama ini Karma tidak pernah tahu, bahwa simpati terhadap orang lain adalah rantai imajiner yang begitu mengekang.
Bahwa mengusahakan keselamatan orang lain dapat membuat hatinya berkecamuk.
Bahwa untuk mempertahankan seberkas senyuman, kau perlu mengorbankan berliter air mata.
Mengapa rasanya berat lagi pedih, ketika benaknya terus menerus dihantui pikiran tentang Yuuma?
Memikirkannya yang akan tetap terancam walau dalam persembunyian;
Memikirkan jantungnya yang takkan damai walau dalam kegiatannya berselimut di ranjang?
Serta memandang senyum yang kian mengembang di wajahnya—simbol sisa kekuatan terakhir sebelum jiwanya hancur berantakan?
"Bila kau berkenan maka ajari aku, Yuuma." Dua bola tembaga itu kembali tergenang, mengairi sudut pelupuk hingga ujung dagu pemiliknya. "Bagaimana seorang tertuduh masih sanggup tersenyum naif, walau ia tahu dunia kian memojokkan?"
Yuuma membangun jeda, tak segera memberi jawaban. Sementara senyum masih setia terpampang di wajahnya.
"Kau terlalu mencemaskanku, Karma. Aku tidak apa-apa, tenang saja." Ia berucap akhirnya, diiringi satu-dua tepukan singkat pada sisi bahu Karma. "Hei. Aneh 'kan, aku yang dituduh tapi malah kau yang menangis? Aku tidak tahu kalau identitas Akabane Karma yang asli adalah seorang bocah cengeng."
Karma tahu, Yuuma mencoba memancing emosinya, agar atensinya sejenak saja terkelabui oleh senyum indah milik sahabatnya itu.
"Bercerminlah, Yuuma. Aku pun tidak menyangka kalau Isogai Yuuma adalah seorang penipu ulung. Sejak kapan mata dan lidahmu terbiasa berdusta?" Pemuda rubi itu mengulur senyum getir, yang mana berkesan miris di mata Yuuma. Namun seperti biasa, rangkai katanya setajam belati, walau ia paham Karma berusaha mengucapkannya tanpa membiarkan senyuman Yuuma mati.
"Tapi kau salah besar kalau ingin menjadikanku sebagai korbanmu."
"…Karma…"
Baru kali ini pula, Karma mendapati manik karamel Yuuma mirip dengan lilin yang dipanaskan. Berkilat terang, lalu meleleh sesudahnya. Bulir-bulir bening berkumpul memerahkan pipi, kemudian memucatkan sisanya. Mencipta gradasi warna yang buatnya gemas sekaligus pilu.
Yuuma menangis. Menangis sambil mencengkram ruas-ruas leher Karma dengan otot lengan atasnya.
Ah, benar. Ketakutan adalah hal yang senantiasa eksis bagaimanapun kau coba melupakannya.
"Aku tidak—" Sesaat, sesenggukan memotong kalimatnya. "Aku tidak melakukannya, percayalah…"
"Menurutmu aku lebih percaya padamu atau pada Asano sialan itu?" Karma terkekeh pelan, seraya mengusap sisi belakang kepala Yuuma dengan lembut. "Tenanglah, keputusan yang mereka tarik barulah pendapat belaka. Mereka belum memiliki bukti yang cukup untuk menghukummu, dan aku yakin mereka takkan mendapatkannya."
Yuuma menghentikan tangis, menyambut telunjuk kanan Karma untuk meniriskan sisa cairan di pelupuknya. "Aku tahu aku akan merepotkanmu untuk kesekian kalinya dalam hidupku, Karma, tapi kumohon lindungi aku."
"Kau tidak perlu memintaku, Yuuma. Kupertaruhkan harga diriku sebagai detektif ternama, dan sebagai sahabatmu sejak lama."
.fantasick
.
.
.
.
"Lama tidak bertemu, Hinano. Ah tidak, Karasuma." sapa Gakushuu sopan, ketika tamunya memunculkan batang hidung dari balik lembaran jati yang berdecit. Namun walau bibirnya berucap sesopan mungkin, ametisnya nampak tak sedikitpun peduli dan tetap membaca tiap baris huruf yang berdesakan di data-data penyelidikannya—sampai gadis di ambang mukanya mulai berkacak pinggang heran.
"Arere? Gakuchuu, wajahmu kusut sekali! Kau tak senang didatangi oleh gadis manis favoritmu ini?" Telunjuknya yang terpoles kutek peach itu nampak tidak sabaran, kini menyodok-nyodok pipi sang polisi dengan ujung kukunya. Wajahnya riang dan kalimatnya jenaka. Tak lain daripada Hinano, gadis teman masa kecilnya.
"Yah, walau aku bukan favorit ayahmu yang kejam itu, mantan calon k-a-k-a-k."
"Jangan ajak aku bercanda, moodku sedang jelek." balas sang polisi ketus, tak semilipun menggulir bola matanya. Hinano mulai mengerucutkan bibir, tapi peduli amat soal itu. "Bagaimana kalau kau segera menjelaskan kesaksianmu? Dan kuharap bukan kesaksian yang ngawur dari topik kali ini."
"Kau menganggapku apa sih, Gakuchuu?" Lagi, gadis manis bergelombang jingga itu berkacak pinggang. Menghela napas panjang sebelum pasrah meladeni Gakushuu—sesuai keinginan pemuda dingin itu.
"Bukan kesaksian yang sangat penting, sih, tapi kurasa kau harus mengetahuinya. Dua malam sebelum pembunuhan Ryou-kun, aku yang baru saja pulang dari berburu serangga melewati kamar apartemen Ryou-kun dan Rioppe, tidak sengaja mendengar dua orang saling beradu pendapat di kamarnya. Dari yang kudengar, kurasa mereka membicarakan cinta yang tak berbalas—bertepuk sebelah tangan, mungkin?"
Gakushuu menyetop bibir Hinano untuk bertanya, demi kepastian. "Itu… Nakamura?"
Hinano menggeleng cepat.
"Tidak tidak tidak, aku tahu Rioppe sedang sibuk menyelesaikan proyeknya di kampus sampai harus bermalam, dan baru kembali siang harinya. Dari suara dan siluetnya, tidak salah lagi, itu Ryou-kun dan Ma-kun."
Kelanjutan cerita Hinano memaksa syaraf Gakushuu menggebrak meja.
"Yuuma?! Itu Yuuma?! Jadi mereka berdua sebenarnya pernah bertengkar? Kalau benar begitu, maka tuduhanku semakin kuat—"
Namun belum selesai, Hinano membungkamnya dengan sebatang telunjuk. Mengisyaratkannya untuk kembali duduk di kursinya yang empuk.
"Ck ck ck, buah yang dipetik dari tergesa hanyalah penyesalan, Gakuchuu. Bisa saja malah Ma-kun yang menolak sampai menyebabkan Ryou-kun bunuh diri, 'kan? Atau misalnya, hubungan mereka mencipta iri di hati orang lain… Apalagi di pisau itu tidak ada sidik jari siapapun lagi kecuali Ryou-kun dan…"
Samar-samar, senyum tipis menghiasi paras manis Hinano.
"Sidik jari Rioppe."
Gakushuu mendelik, sedikit tidak setuju. "Kau meragukan Nakamura?"
"Astaga, malam lebih kelam dari yang kau kira!" Hinano tertawa, terbilang lantang untuk seukuran gadis remaja. "Dan kau tak boleh mengecualikan orang dalam menyelesaikan kasus, Chuu, kecuali jika alibi mereka sempurna. Walau misalnya papaku sendiri yang menjadi salah satu tersangka, Hinano takkan mengeluarkannya dari daftar."
Sepasang mary jane krem itu kembali dihentak, membawa pemakainya sampai ke teritori pribadi Gakushuu. Seringainya belum luput, dan entah sejak kapan, manik hijau daun itupun padam sinarnya.
"Lantas mengapa ya, Karma membela Ma-kun sebegitu gigihnya? Padahal aku bisa saja tak memihak papa—tiri—tercintaku sendiri. Tidakkah kau berpikir begitu, Chuu?"
Kelanjutan komentar Hinano memaksa lidahnya untuk menahan diri, sementara otaknya tak henti mondar-mandir ke sana ke mari. Deduksi awal tadi, kemungkinan Karma adalah komplotan Yuuma—namun yang terpikir sekarang jauh lebih membuatnya sakit hati.
"… Terima kasih atas pengakuanmu, Hinano. Data ini akan menjadi acuan untuk mengumpulkan bukti."
"Um-hum. Jika itu untuk kakakku tersayang!"
Namun hal yang baru hipotesa semata itu ia kunci erat-erat, membungkusnya dengan senyuman. Apalagi Hinano ada di sini, ia tidak mau terus menerus pamerkan ekspresi muramnya.
.
"… Maaf tiba-tiba kuangkat topik ini, Hinano. Apa kau tidak memendam dendam, atau cemburu terhadap Yuuma?"
Mary jane itu tak lagi melangkah.
"…Haruskah aku?"
"Dia merebut posisimu sebagai orang yang terpilih, 'kan? Maksudku… Jika bukan dia, kaulah yang akan—"
Kalimat Gakushuu terputus begitu saja, ketika mendadak teman masa kecilnya yang manis itu berlari dan mendekap erat torsonya.
"Kau mengucapkannya seperti aku sangat menginginkan nama keluarga Asano, Gakushuu. Mungkin jika papa menceraikan mama, kita dapat hidup bersama. Seperti hubungan gelap antar papa kita." Dua kaki mungil itu berjinjit, menempelkan bibir kemerahan Hinano pada pipi kanan Gakushuu—sekelebat mata.
"Berada di satu kartu ataupun tidak, aku tetap menganggapmu kakak sah-ku."
.
.
.
.fantasick
.
.
.
.
Bukti bagai sumber daya, bahan bakar bagi penyelidikan agar tetap berjalan. Tanpa bukti, suatu kasus kehilangan nafasnya. Mati menyisakan tangis maupun tawa. Sampai kapanpun, rasa keadilan dalam hati Asano Gakushuu dan Akabane Karma takkan membiarkan itu terjadi.
Namun apa daya, bila sudah terlanjur begini? Kasus ditutup sementara, sedang pihak-pihak yang terlibat dititah untuk bungkam. Hidup Rio tak lagi secerah surainya, sementara Yuuma kini diawasi kepolisian—serta menjalani penahanan sementara (di villa yang telah disiapkan) atas usul psikolog andalan Gakushuu, Megu.
Sang detektif paruh waktu pun tak nampak batang hidungnya. Bila mengetuk pintu kantornyapun, penyambut tamu di genkan cuma alunan nada—Love's Sorrow dan Winter Wind, akhir-akhir ini. Semenjak insiden mengerikan itu, durasi merenung pemuda tampan itu jadi dua kali lipatnya.
(Walau ia sadar, bahkan kupu-kupu yang rapuh takkan selamanya bersembunyi dalam kepompong.)
Hanya sekali saja, paru-parunya kembali mencicip udara kota.
.
.
"Jangan dulu kau pergi." Yuuma berbisik lirih, menyentuhkan dua telapaknya pada dinding yang terbentuk dari seberkas cahaya rembulan. Bahkan melampaui bening selapis kaca pemisah mereka, anak sungai yang mengalir damai sepanjang garis rahangnya.
"Sungguh aku rindu pada hangatmu yang menenangkan, aku ingin tenggelam di dalamnya… Setelah melimpahnya kepedulian yang kau curahkan padaku, tidakkah menurutmu aku seorang yang tamak?"
Karma sangka, cinta menanggung beban yang setara sayap malaikat.
Dikiranya, cinta adalah mantera ringan yang bahkan dapat dilapalkan tidak oleh penyihir.
Dengan cara pikir senaif itu, lantas bagaimana caranya bergerak jika terkungkung oleh serangkai rantai baja—yaitu 'cinta'nya? Apalagi bagi Karma, ini pengalaman pertama.
Buku-buku jemarinya yang gemetaran cukup mencerminkan keraguan hatinya. Apakah cintanya ini benar-benar tertuju pada Yuuma? Apakah simpati anehnya pada Yuuma memang benar cinta?
Ah, keraguan yang manis sekaligus berat.
"Maka sentuh aku, Karma, bila kau percaya diri dapat menelisik titik terdalam dari hatiku ini—karena sungguh, kau telah melakukannya."
Ya Tuhan, kumohon padamu setitik pencerahan,
benarkah cintaku pada Yuuma nyata adanya?
Karena kini, rasanya hanya ia seorang yang senantiasa hadir dalam netraku.
Benakku.
Lisanku.
Hatiku.
Hanya Yuuma yang kuinginkan dalam sentuhanku.
"Setelah kucerna sekali lagi kalimat yang diutarakan Rio, aku mengerti segalanya, Yuuma. Kuakui… selama ini aku tidak pernah sadar kalau aku terus memendamnya, bahkan sejak kita kecil."
Maka ungkapkanlah dengan bibirmu yang gemetar itu,
Maka bersumpahlah untuk tanamkan kesetiaanmu pada cintaku,
Karena akupun lakukan hal yang sama hanya untukmu.
Karma, aku…
.
"—aku mencintaimu, Isogai Yuuma."
.
.
.
.
.
.
next : case 004
[ 28.07.16 10:25 A t]
