Disclaimer: Saya ga punya Persona *ya iyalah* maksudnya Shin Megami Tensei: Persona series tepatnya punya ATLUS.

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak -ganti POV, Chara death.


.

Aku menghilang. Semuanya gelap.

Aku tetap menutup mataku dan perlahan-lahan perasaan beratku semakin memudar. Makin menipis, makin menghilang. Semuanya semakin terlepas dari pikiranku. Aku tahu semua juga merasa kehilangan Souji, aku tahu, bukan hanya aku yang merasa seperti tertusuk, bukan cuma aku...

Dari kejauhan aku masih bisa merasakan teriakan pilu teman-teman...ya, mereka semua menangis sedih atas kepergianmu.

Bukan cuma aku yang merasa kedinginan di tengah hujan, ditengah kehilangan.

Aku boleh egois kan, Souji-kun?

Aku tidak mau kamu mati mendahuluiku, aku masih ingin merasakan pelukanmu, kehangatanmu, semuanya, semuanya! Kalau perlu bunuh saja aku agar kau bisa hidup kembali!

Aku ingin menjadi pelindungmu—sama seperti saat melawan Izanami Ookami waktu itu—kami melindungimu dan kau bangkit lagi karena kekuatanmu yang luar biasa...

Tapi tak pernah kusangka kau akan meninggal begini saja membuatku tertinggal jauh,

Kenapa Souji-kun, kenapa!

Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau membuatku terjatuh dalam kegelapan ini sendirian!

Souji-kun! Jawab aku! Kau ada disana kan!

Siluetnya mendadak muncul dihadapanku yang sedaritadi melihat kegelapan. Ia melihat kebelakang, tersenyum padaku, lalu berjalan pergi. Aku tidak bisa menggapainya bagaimana pun aku berusaha berlari mengejarnya.

Souji-kun...

Aku harap aku tidak pernah akan kehilanganmu, apapun caranya, atau, biarkan aku menemukan arti hidupku lagi. Biarkan aku melupakanmu, asal kau tidak meninggalkanku.


A Lone Prayer

2011 (c) Kuroi-Oneesan


Crosswalk

Entah sudah berapa lama Yukiko mengurung dirinya di rumah setelah hari itu. Ia hanya berada di rumah, membantu pekerjaan penginapan dan mengisolasi dirinya dari dunia luar. Waktu pun terus berjalan tanpa henti sebelum manusia pun mengetahuinya, walau sang gadis tetap kukuh dalam kegelapan dirinya, waktu tidak akan menungguinya.

Sebulan kemudian, 21 April 2012, tahun ajaran baru SMU Yasogami.

Pagi itu hujan, Yukiko keluar dari rumah dengan payung merahnya. Ia terlihat biasa, sangat biasa—sama seperti murid-murid SMU pada umumnya yang menuju sekolah. Di tengah jalan, ia bertemu dengan sahabat karibnya, Satonaka Chie—yang seperti biasa akan menghampirinya dan mengajaknya menuju ke sekolah bersama.

"Kau kemana saja, Yukiko? Kok rasanya selama libur kemarin aku tidak melihatmu?" tanya Chie.

"H, Hah? Umm...aku sibuk dengan urusan di penginapan..." jawab Yukiko dengan nada monoton. "Kau sendiri, Chie? Kau sedang sibuk dengan latihanmu menjadi polisi?"

"Polisi apa? Aku dirumah hanya berlatih atau menonton kung-fu seperti biasa," balas cewek berambut pendek itu. "Tidak ada yang spesial, bulan-bulan sebelumnya juga sama saja! Buat apa aku berlatih menjadi polisi? Haha, lawakan yang bagus, Yukiko~ Kupikir aku mau jadi Jackie Chen atau apa?"

"Tidak ada yang...spesial?" ulang cewek berbando merah itu. "Kau serius? Bukannya ada pemakaman—"

"Hm? Siapa yang meninggal? Di kota ini tidak pernah ada yang dilaporkan meninggal," Chie menjelaskan. "Kota Inaba hanyalah kota yang sepi dan tentram,"

Langkah Yukiko terhenti, "C-Chie, kau lupa? Souji-kun mening—"

"Souji? Siapa dia? Kau masih ngelindur ya?"

Yukiko terdiam. Chie bahkan sampai melongo kebingungan. Gadis berbando merah itu membelalakkan mata mendengar semua yang telah ia dengar, Chie melupakan Souji? Bahkan ia tidak tahu siapa Souji?

"Awas, awaaaaas~" suara dering bel sepeda mendekati mereka, muncul sosok pemuda berambut oranye yang serasi dengan headphone yang senantiasa bertengger di kerah seragamnya—Yukiko seketika mengenalinya dengan Hanamura Yosuke, teman sekelasnya dan teman terdekat Souji—yang selalu saja absurd dengan membawa sepeda sambil membawa payung.

Untungnya ia masih bisa mengerem, kalau tidak ia bisa masuk ke dalam parit di sebelah jalur.

"Hati-hati kalau naik sepeda dong, Hanamura!" pekik Chie melihat cowok tersebut. "Sampai kapan kau mau terus-terusan bersifat kekanak-kanakan seperti itu? Bahkan kau belum mengembalikan DVD-ku dari musim semi tahun lalu!"

Tunggu, bukannya Yosuke sudah mengembalikan DVD itu karena ia merusaknya? Pikiran itu seketika terlintas di benak Yukiko.

"Sori, pasti akan kukembalikan besok!" ujar Yosuke yang turun dari sepedanya. "Yo, Amagi~ kenapa kau menatapku dengan mata seperti itu? Ada nasi di wajahku?"

"Aku mau bertanya sesuatu yang aneh, Hanamura-kun..." Yukiko menghela nafas. "Di depan tempat dudukmu di kelas tahun lalu, apakah ada anak bernama Seta Souji?"

"Seta...Souji?" Yosuke mengernyitkan dahinya. "Tidak, kursi didepanku kosong, Satonaka selalu duduk sendiri di bangku itu."

Setelah itu Yukiko pun berlari meninggalkan payungnya begitu saja—turut membuat Yosuke dan Chie kebingungan—ia berlari menembus hujan menuju ke belakang kuil Tatsuhime, tempat Souji hari itu dimakamkan...

.

To be continued


Whew, pendeknya~

Kalau buat fic rasanya gini melulu deh, kalo cerita baru idenya ngalir, cerita lama distop dari peredaran, saya memang author payah yang sulit mengakhiri cerita. Ini pertama kalinya saya bener-bener nge-drabble. Saya berterimakasih kalau ternyata ada juga yang menyukai bahkan meninggalkan komentar untuk cerita payah tentang post-ending Persona 4.

Nah, akhir kata R&R atau C&C?