Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.
Genre: Adventure, Suspense
Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak -ganti POV, Chara death.
.
Hari itu, harusnya menjadi hari yang baru bagiku. Sudah sebulan berlalu.
Aku merasa kesedihan telah meninggalkanku, sama seperti saat Souji meninggal begitu saja. Aku merasa bisa berjalan lagi seperti biasa, bagai tidak ada hal yang terjadi. Aku berhenti memimpikannya, aku berhenti mengharapkan banyak hal.
Tapi, ada satu hal yang mengganjal benakku.
Kenapa hanya aku yang ingat kejadian pahit itu? Dan kenapa mereka tidak mengingatnya?
.
A Lone Prayer
2011 (c) Kuroi-Oneesan
—Butterfly
Shopping District, hujan semakin deras menuruni bumi, tetapi semua itu tidak menyurutkan niat gadis berbando merah itu untuk berlari di bawah hujan tanpa payung.
BRUK
Yukiko tidak sengaja menubruk seseorang.
"Ma, maaf!" ucap Yukiko seraya merapikan dirinya. "Kau tidak apa-apa—"
Ia terhenti sejenak ketika melihat orang yang ia tabrak hingga jatuh. Mata hitamnya tertuju pada mata biru orang tersebut—orang yang mengenakan pakaian formal, bukan seragam gakuran Yasogami, serta topi biru.
Shirogane Naoto.
"Naoto-kun...?"
"Aku tidak apa-apa, tampaknya kau sedang terburu-buru...aku juga tidak melihat ke depan," ia berdiri dan mengambil payungnya. "...Apa aku mengenalmu, nona? Kenapa kau mengenaliku?"
"Tunggu, kau tidak ke sekolah?" tanya Yukiko lagi, memotong kalimat Naoto.
"Sekolah? Untuk apa? Itu hanya membuang waktuku dalam menyelesaikan kasus-kasusku," Naoto membalas dengan konkrit. "Kalau begitu aku permisi, nona,"
Detektif itu berjalan pergi, membuat Yukiko makin merasa aneh dan bingung.
Kenapa semuanya...lupa? Kenapa aku merasa ada yang hilang?
Ia pun mempercepat larinya ke arah kuil, membiarkan dirinya basah terkena hujan. Ia sudah tidak peduli lagi dengan apapun tentang dirinya.
.
Ia terjatuh terlutut ketika mencapai komplek pemakaman itu, tidak ada satu makam pun bertuliskan Seta Souji disana. Ia pun kembali ke arah depan kuil, duduk didepan kotak amal seraya memeluk lututnya, air mata mulai turun perlahan dari matanya, ia tertunduk, membenamkan wajahnya di pelukan lututnya.
"Ada apa? Kenapa kau menangis disini?" seorang wanita berpakaian serba biru di bawah payung yang berwarna sama menyapanya. Yukiko tidak dapat melihat matanya karena tertutup oleh rambut putihnya yang bergelombang, "Kau kehilangan sesuatu?"
Yukiko menggeleng.
"Ah, jadi kau...menemukan sesuatu?" ia kembali bertanya.
Yukiko membisu.
"Manusia memang makhluk yang haus akan keinginan, ya?" ucapnya. "Tempat ini, tidak, kota ini dulu padahal cerah dan penuh matahari dibandingkan sekarang,"
Yukiko tetap diam.
"Apa kamu lebih baik melupakan semuanya dan hidup tanpa kenangan atau mengingatnya walaupun kau harus terluka?" kata-kata itu amat menusuk benak Yukiko. "Manusia hanya punya satu pilihan...dan tidak ada kali kedua,"
Orang itu melangkah pergi, "Kusarankan..." ia kembali menghadap Yukiko. "Kau lupakan saja semuanya dan kembali ke kehidupan 'normal'-mu,"
...dan lenyap dari jarak pandang Yukiko.
Beberapa saat setelah ia terdiam, ia merasa melihat sesosok pemuda berambut abu-abu tersenyum padanya, tepat dihadapannya. Ia tengah memakai seragam Yasogami-nya seperti dulu.
'Tidak mungkin, tidak mungkin,' Yukiko menggelengkan kepala dan mengusap matanya, figur itu tetap disana, bagai menanti Yukiko untuk menghampirinya. Akhirnya, Yukiko berdiri dan mendekati figur itu.
Tetapi figur itu segera berlari keluar kuil, sehingga kontan Yukiko mengejar figur itu ditengah hujan.
"Souji-kun, tunggu—Souji-kun!"
Teriakannya tidak membuahkan hasil, figur itu telah menghilang ditelan kabut pekat yang muncul akibat hujan. Yukiko berhenti, ia menghela nafas panjang karena capek berlari. Ia kini melihat sebuah kupu-kupu biru perlahan terbang menuju dirinya, mengitarinya perlahan tidak mengetahui arah di tengah hujan.
"Kupu-kupu...? Saat hujan begini...?" Yukiko membuka kedua tangannya, kupu-kupu itu hendak hinggap ditangannya. Kupu-kupu itu memang mendarat ditangannya, namun lagi-lagi menghilang—sama seperti siluet Souji dan wanita berpayung barusan, menambah keheranan pada gadis berbando merah itu.
CLANG
Suara logam terdengar berdentum dari kejauhan. Perhatian Yukiko pun tertuju ke arah kabut. Ia sontak mundur ketika melihat monster—tepatnya shadows—berbentuk seperti katak dengan ornamen shuriken menghiasi tangan-tangannyadan syal berwarna kuning. Yukiko hanya bisa melihat sekilas karena lebih dari sebagian tubuh shadow itu tertutup oleh kabut tebal.
"...Shadows..." Yukiko semakin menjaga jarak ketika shadow itu merayap mendekatinya sedikit demi sedikit. "Kenapa ada Shadows lagi disini...?"
Ia sudah terpojok, nalurinya pun mulai bermain, walau sudah lama ia tidak mengambil kembali senjatanya. Ia mengingat saat Souji mulai memasuki dungeon dan mengalahkan para Shadows di dunia lain, ia juga memberikan komando tanpa cela yang selalu berakhir dengan baik.
"Jangan takut, Yukiko."
Ia mengingat bahwa ia menyembunyikan senjatanya dibalik seragamnya—senjata yang mudah disembunyikan nomor 2 selain sepatu milik Chie—sebuah kipas dengan ornamen yang indah. Tak lupa kacamata berbingkai merah serta sebuah kartu biru untuk men-summon Persona-nya.
"Aku adalah Shadow, diri yang sebenarnya!" suara shadow itu bergetar. "Amagi, sebagai pendosa kau harus dilenyapkan!"
.
To be continued
Yap, itu shadow Yosuke. Berantem-berantemnya di bagian berikutnya ya? Saya sih masih belum mau menjelaskan apa yang terjadi di Inaba, terutama apa yang terjadi para anggota IS dan DUNIA APA INI *author napsu, plak*
Terima kasih untuk para pembaca~ Nah akhir kata R&R atau C&C?
