Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak -ganti POV, Chara death.

.

Sudah tiga hari.

Sudah tiga hari semenjak Amagi Yukiko menghilang dari tempat duduknya di kelas 2-2 SMU Yasogami. Tetapi Satonaka Chie berpikiran positif bahwa Yukiko akan kembali—walaupun saat ia berkunjung ke Amagi ryokan, tidak ada yang tahu kemana Yukiko semenjak ia pergi ke sekolah tiga hari lalu. Ketika ia menghilang secara aneh ditengah hujan meninggalkan payungnya—meninggalkan dia dan Yosuke kebingungan.

Sebenarnya apa yang sudah timbul di otak Yukiko? Dia sudah gila? imbuh Chie pada tiga hari ini. Nama 'Seta Souji' tetap terngiang di pikirannya, walaupun ia tahu bahwa orang itu tidak ia kenali. Tetapi perlahan kesan nostalgia merayap di lubuk hatinya. Kira-kira siapa orang ini? Apa dia pernah duduk disebelah Chie? Dia pernah berteman dengan Yosuke?

Setelah dipikir-pikir lagi, mengulang sesuatu yang sama takkan membuahkan hasil. Gadis berambut pendek itu berputar dari kursinya menuju pemuda berambut oranye yang tengah asyik dengan hapenya.

"Hanamura!"

Yosuke mengantongi hapenya, "Ada apa, Satonaka? Kau masih marah soal DVD-mu? Kan sudah kukembalikan tanpa pecah ataupun gores~" sela cowok yang dipanggilnya itu.

"Kau kenal dengan...Seta Souji?"


A Lone Prayer

2011 (c) Kuroi-Oneesan


.

Paralyzed

Di benak Yukiko tak pernah tersirat hal segila ini. Dia memang tidak gila, tetapi huru-hara yang terjadi di sekitarnya mendukung ia melakukan hal demikian. Di siang bolong itu, ia kabur dari pintu belakang Marukyu Tofu menuju ke Shopping District yang sepi. Toko-toko baru saja buka, bukan hanya toko-toko yang ada setelah tutup akibat keberadaan Junes—yang Yukiko tahu—semua toko masih melaksanakan usahanya. Dari kejauhan ia masih melihat gedung Junes berdiri, apa sekarang Junes tidak mengancam keberadaan toko-toko kecil di Shopping District?

Supaya ia tidak mencolok di keramaian, ia memutar arah dari Marukyu Tofu ke arah Yomenaido.

Dan sebuah pintu biru disana seketika menarik perhatiannya.

"Pintu ini kan..." Yukiko melihat-lihat sejenak. "Velvet Room?"

Kunci yang ada di kantung blusnya menyala terang, tetapi bukan kunci biru yang diberikan Igor, melainkan kunci lain yang ia dapat di tengah hujan tiga hari yang lalu. Yukiko pun mengambil kunci tersebut dan menaruhnya kedalam lubang kunci yang tersedia.

KLEK

.

"Seta...Souji?" Yosuke melongo. "Kau sama saja seperti Amagi, Satonaka. Aku tidak tahu apapun soal orang itu."

"Hrrm..." Chie bertopang dagu. "Aku cuma penasaran saja, kenapa Yukiko sebegitu gilanya dengan orang ini?"

"Ngomong-ngomong, jarang sekali juga kau mau ngobrol denganku begini, Satonaka." Yosuke berujar. "Biasanya kau cuma asyik dengan orang lain, apalagi dengan Amagi."

Chie membenamkan wajahnya ke kursinya, "Begitu...?"

"Hn, kenapa? Memangnya dulu kita sering ngobrol?"

"Dulu...?" kata-kata itu entah kenapa membuat Chie tersentak. "Kapan?"

Yosuke yang dibalikkan dengan pertanyaan turut bingung, "Satonaka...? Oi, Satonaka? Bukannya dulu kita beneran sering ngobrol? Dengan Amagi juga?"

"Kau pintar bercanda Hanamura, Yukiko jarang ngobrol sebelum aku yang biasa bicara!"

"M-Masa sih?" Yosuke menggaruk-garuk kepalanya. "Dia kan ketawanya seperti orang gi—"

"E-Eeeh? Kau tahu dari mana Hanamura!"

Pembicaraan bagai anjing dan kucing itu makin melarut sampai mereka lupa apa yang tadi mereka obrolkan dari awal.

.

Yukiko kini tidak berada di Velvet Room. Setelah ia berusaha membuka pintu, ia malah terpental kembali tetapi kunci yang ia masukkan tetap tertempel dan tak bisa terlepas dari mulut kunci.

"A—Kenapa?" gumamnya seraya mendekati pintu itu lagi.

Pintu tersebut menyala biru terang tepat sebelum sempat tersentuh Yukiko, sinar itu sangat menyilaukan mata sampai-sampai Yukiko tidak bisa melihat apa-apa kecuali putih.

Ia pun tidak menyadari bahwa ia sudah berada di tempat lain, walaupun di sekelilingnya masih sama, shopping district Inaba di tengah hari, orang-orang hanya berpapasan, tidak menganggapnya ada, sama seperti saat ia menghadapi shadow beberapa hari silam. Kabut perlahan merayapi shopping district, tapi kali ini tidak ada shadow yang datang melainkan—

—Rise.

Yukiko memfokuskan penglihatannya. Gadis itu memang Rise, tetapi buat apa ia mengenakan bikini kuning di tengah kota yang dingin musim semi itu? Yukiko tersentak pada awalnya, tetapi ia teringat bahwa shadow Rise dulu berpakaian seperti itu sehingga persepsi Yukiko bilang itu cuma shadow dari sang Idol.

Shadow itu hanya menatap ke arahnya—walaupun tak terlihat demikian—mata kuning dan ekspresinya yang datar tidak lepas dari sang ratu es SMU Yasogami. Yukiko pun mencoba mendekat. Langkah demi langkah penuh keraguan dilakukan gadis berbando merah itu ke arah sang shadow. Shadow itu akhirnya bergerak membelakangi Yukiko menuju ke arah kabut.

"Tunggu!" pekiknya seraya mengikuti arah.

Yukiko mencapai shopping district penuh kabut, dekat dengan tempat perhentian bus. Shadow itu tetap bergerak sampai ke sebuah tempat yang tak pernah dilihat Yukiko selama 17 tahun tinggal di Inaba—

ada sebuah pintu besar di dekat palang perhentian bus—tepatnya, di tengah jalan raya yang dilewati mobil.

'Rise' berhenti tepat di depan pintu, seakan mengajak Yukiko untuk ikut bersamanya. Tanpa keraguan dan asa untuk bertanya-tanya, ia mendekati pintu besar tersebut dan membukanya...

.

To be continued.


Wah, wah~ jangan timpuk saya karena chapter ini dipotong saat bagus. *plak*

Saya masih cari ide buat chapter-chapter selanjutnya, jadi sabar ya buat yang nungguin update fic ini atau fic saya yang lain (pending banyak banget itu wkwkwk)

Sekian rant saya, terima kasih untuk pembaca dan pe-review! R&R dan see you next chapter!