Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak -ganti POV, Chara death.


A Lone Prayer

2011 (c) Kuroi-Oneesan


Malebolge, End

Yukiko kembali tertransfer ke tempat lain, kali ini ia berada di Hill Overlooking Town, sebuah tempat favorit Inaba yang banyak dikunjungi dari orang tua sampai anak muda, biasanya pada sore hari bila langit cerah, penitipan anak ada disini. Sesuai namanya, dari tempat ini bisa terlihat kota kecil Inaba secara menyeluruh, Inaba sebagai 'kota yang damai' di mata para orang.

Sebuah kenyataan palsu, mengingat pembunuhan berantai pernah mengotori tanah ini.

Tetapi pada kenyataan saat ini, semua itu tak ada bagai asap—menurut Yukiko.

Langit sore disana begitu indah, gadis itu melihat ada seorang gadis berkuncir dua sedang menatap langit kemerahan diatas kota dari tempat duduknya sendirian. Yukiko kembali melihat Rise, bukan shadow yang tadi mengantarnya ataupun Rise yang menyelamatkannya tempo hari. Hanya Rise layaknya biasa.

"Senpai," ia mulai bermonolog. "Tidak kusangka kau akan pergi... secepat ini..."

Yukiko berdiri terpaku.

"Kenapa kau...meninggalkan kami...?" mendadak kedua mata coklatnya itu berair. "Kau yang telah...uhh...memberikan arti dari kehidupan kami...Souji-senpai..."

Rise berusaha menahan derasnya tangis yang keluar sementara Yukiko merasa pedih melihatnya—Ia sedih melihatnya, tetapi lubang yang ia jatuhi bulan lalu terasa lebih dalam dan lebih menyakitkan dari ini, ia menangis dan mengunci dirinya dari dunia luar selama sebulan.

"K-Kau bilang...aku dan Risette, tidak ada...yang berbeda..." Rise terisak. "Kau menerimaku...apa...adanya,"

Gadis itu berdiri, masih dengan menundukkan kepalanya.

"SENPAI, KEMBALILAH!" teriaknya menembus langit. "AKU TIDAK PEDULI APAPUN CARANYA ASALKAN KAU KEMBALI...!"

Pemandangan terakhir yang bisa Yukiko lihat adalah saat Rise melihat ke arah belakangnya, seperti ada orang memanggil gadis idol tersebut...

.

"...!"

Gadis berkuncir dua itu tengah mencoret-coret buku tulisnya di tengah pelajaran bahasa Inggris yang dipimpin Pak Kondo yang merangkap guru olahraga seperti biasanya. Ada beberapa tulisan dan gambar di buku tersebut. Tetapi yang membuat kaget gadis tersebut bukanlah apa yang tangannya mendadak tulis dengan sendirinya melainkan—

—Ia merasa ada yang aneh, ia merasa ada perasaan yang makin mengganjal dan menyedihkan.

(...Berat.)

Teman sekelasnya sama dengan tahun lalu seketika ia melihat sekeliling, tak mengindahkan tulisan papan tulis gurunya. Ia lalu menutup bukunya, sebuah tulisan diatas bukunya membuatnya makin terheran-heran.

Kujikawa Rise, 1-2

Rise baru saja merasa dirinya gila, seharusnya ia sudah kelas 2 sekarang. Ia menatap buku itu lekat-lekat dan membuka isinya kembali, sampai tepat di tempat yang ia coret-coret barusan, matanya membelalak.

24 April 2011

"Ah, Kujikawa-san, bisa kau baca halaman 20?" titah sang guru, membuyarkan lamunannya.

"Umm, sensei?" Rise pun berdiri, "Maaf pak, saya tidak enak badan, boleh saya minta izin pulang?"

Untungnya, guru tersebut segera mengiyakan, gadis itupun pergi dari tempat duduknya tanpa banyak bicara. Selepas dari kelas, gadis itu lalu berlari menyusuri lorong, mengambil sepatu dalam rak sepatu dan sesegera mungkin menuju Marukyu Tofu.

.

Yukiko merasa ia berada di atas sesuatu benda yang lembut, terasa seperti kapas...tunggu, atau mungkin kain? Atau mungkin...bulu?

Yukiko tersentak, ia membuka kedua matanya dengan cepat. Ia melihat langit masih sama seperti tadi, tertutup oleh kabut yang membuat gelap suasana. Bedanya, ia merasa berada di kuil Tatsuhime—melihat banyak sekali pepohonan rimbun yang membuatnya merasa tentram.

"Ah? Apa kau sudah bangun, nona?"

Mata hitam Yukiko menyeruak, melihat ke arah atasnya. Sosok yang tak asing tengah memangkunya sedari tadi dengan lembut.

Teddie, dalam versi beruangnya.

"Teddie...?" panggil Yukiko pelan, gadis itu lalu membetulkan posisinya menjadi duduk di sebelah sang beruang. "Ini dimana...?"

"Wow, kenapa kau bisa tahu namaku? Apa aku seterkenal itu di dunia manusia?" beruang itu bermimik bahagia. "Ini? Ini duniaku, aku heran kenapa ada orang dunia 'sana' bisa terdampar 'kesini',"

Yukiko merasa ada jurang di obrolan mereka, Teddie masih saja berbicara layaknya Yukiko hanyalah orang awam yang baru saja memasuki dunia TV.

"Apa maksudmu 'kesini'?"

"Ini adalah dunia dimana Shadow berada," Beruang itu menjelaskan. "Setiap kabut datang, biasanya para manusia itu menjadi Shadow, tetapi kau mungkin pengecualian, nona!"

"Menjadi...Shadow...?" Yukiko terhenyak. "Jadi tidak ada manusia di dunia ini?"

"Yup, semua yang hidup disini adalah Shadow!" Teddie tersenyum riang. "Manusia yang setiap hari berjalan-jalan bila tidak ada kabut itu...entahlah, aku tidak tahu. Yang kutahu mereka sama sepertiku, Shadows."

Gadis berbando merah itu tak bisa berucap kata pun, diam seribu bahasa.

"Tapi kau benar-benar berbeda, nona, intuisi Teddie takkan pernah salah!" ucapnya lagi dengan riang dan semangat. "Kau seperti...orang yang pernah kutemui..."

"Eh...?" gadis itu membelalakkan mata. "Kau mengenalku, Teddie?"

"Tidak, hanya rasanya saja aku pernah bertemu denganmu," Teddie berpose sorak-sorai sejenak. "Siapa namamu, nona? Aku yakin kita akan bertemu lagi nanti,"

"Amagi Yukiko,"

"Baiklah, Yuki-chan!" Teddie berdiri dari posisi duduknya. "Kabut sudah menipis, jadi...sampai jumpa untuk hari ini!"

.

To be continued


Yey akhirnya ketemu Teddie~ *author muter-muter gajelas*

Dan yaaak~ Rise sudah sadar!—RALAT—Rise sudah kembali seperti semula! Saya pakai konsep pintu yang ada di Abyss of Time, jadi intinya Yukiko melakukan perjalanan untuk menemukan pintu-pintu itu nanti—yah, saya jelaskan di chapter berikutnya...jadi, tolong kesabarannya ^^

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih pada orang-orang yang sudah lewat, pembaca dan pe-review! Nah, see you next chapter~