Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak -ganti POV, Chara death.


.

"Senpai, bagaimana kalau kita ke Daidara sebentar?"

Rise keluar dari rumahnya bersama dengan Yukiko, mereka menunggu kedatangan kabut berikutnya seraya mengisi waktu setelah istirahat mereka. Siap dengan seragam Yasogami mereka, dan kini Rise sebagai analyzer untuk membantu mengorek kebenaran.

Kalender tengah menunjukkan bahwa hari itu adalah tanggal 25 Juli 2011, tidak ada perubahan signifikan.

"Ah ya, ide bagus, kipasku hancur saat melawan shadow..."

"E-Eeh? Bahaya sekali, senpai!" gadis idol itu kaget bukan main.

"Yah, saat itu aku tidak tahu ingin apa, semua usahaku percuma," Yukiko mengingat kembali pertarungan bersama shadow mirip katak beberapa waktu yang lalu, tetapi sebuah kalimat membuatnya terhenti bicara.

Aku melawannya—dan Shadow itu memanggilku 'pendosa'.

.


A Lone Prayer

Kuroi-Oneesan (c) 2011


Cocytus, Pain

Baru kali ini hidupku merasa kosong, setelah menjadi detektif, setelah menjalani rangkaian kasus kecil yang bahkan bisa kuselesaikan tanpa memakan waktu. Tetapi aku merasa ada lubang.

Ya, lubang.

Semua kasus ini terlalu mudah. Semuanya seperti debu bagi kerahku.

Sampai hari ini pun, kantor polisi ini terasa sepi, semuanya damai. Tidak ada kejahatan, tidak ada kasus yang menggetarkan. Semuanya tidak ada. Padahal kurasa ada satu hal yang berlubang dari kertas hidup ini. Ada yang kurasa ada tetapi tidak ada yang bilang itu ada. Intuisi detektifku tidak bisa dibohongi.

Anggap saja lubang itu sebuah 'harta karun'...ya, aku tidak akan pernah tahu apa isinya. Konyol memang, menganggap itu harta karun adalah sebuah hal yang kekanak-kanakan, bukan? Hah, memang tidak pernah ada yang menganggapku sebagai 'detektif', jabatan hanyalah penampilan luar—aku hanya dianggap sebagai bocah yang gemar seenak jidatnya memasuki tempat kejadian perkara atau apalah mereka akan memanggilku.

Tidak, tidak! Ada satu orang—bukan—banyak orang yang mengakuiku.

Tapi siapa mereka...? Kenapa aku bisa mengingat orang yang bahkan tak kukenal?

Pasti ada sesuatu, dan sebagai detektif itulah tugasku untuk menemukannya. Aku akan menggali sesuatu yang kuanggap hilang.

Ketika aku ingin keluar dari kantor penat ini, seseorang memanggilku.

"Ah, itu dia kau, Shirogane-kun!" officer muda berambut urakan menghampiriku setengah berlari.

"Ada apa, Adachi-san?"

"Kau tak ada kerja, kan? Tolong bantu aku menginterogasi seseorang,"

Aku menghela nafas, "Baik,"

"Ia sudah ada di ruang interogasi dan aku sudah berusaha tetapi dia hanya melihatku dengan tatapan menjijikkan," jelas polisi itu seraya berlalu.

Fuh, tugas yang sepele lagi yang kudapat. Tetapi biarlah, aku sudah tidak peduli lagi.

Aku menuju ruangan yang dimaksud, kubuka pintu itu dan kulihat seorang laki-laki dengan perawakan kasar, seragam sekolah yang tak teratur, tengah duduk di atas kursi dengan kaki diangkat ke atas meja. Memang ruangan itu tidak sedang dipakai, ruangan itu sering digunakan bila ada polisi yang menginap—ada TV, meja, beberapa kursi, bahkan ada tempat tidur.

"Aku Shirogane Naoto disini untuk menginterogasimu," ucapku. "Aku belum tahu kau terlibat dalam hal apa jadi aku—"

"Sudahlah, kau tidak perlu menginterogasiku, aku tidak punya apa-apa yang bisa kau tanyai."

Aku menaikkan alis, "...Kau menghinaku tidak kompeten?"

"Tidak, aku hanya bilang yang sebenarnya," lelaki itu turun dari kursinya. "Kau takkan mengerti apa yang sudah kulakukan,"

"Siapa namamu?" aku mengeluarkan buku dan penaku.

"Tatsumi Kanji," ia membalas pelan. "Lalu?"

Pemuda ini tidak seperti kelihatannya, ia terlihat tenang, tetapi dalam waktu yang sama ia seperti kebingungan. Kupikir ia adalah orang yang ceroboh dan keras, seharusnya seorang bertampang dia seperti itu, kan?

Jangan menilai buku dari sampulnya, hm?

"Apa yang kau bilang sudah kau lakukan?" aku pun bertanya.

"Aku cuma berdiri di depan rumah, tiba-tiba kabut menyelimuti kota, semua orang berubah menjadi makhluk hitam." Tatsumi Kanji berpangku tangan. "...Kau tidak percaya kan? Aku sudah tahu ini percuma."

Pada awalnya, aku ingin menendangnya keluar karena sudah kuanggap berbohong dan bercerita konyol. Entah kenapa, aku memandang penjelasannya seperti...hal yang sudah biasa terjadi.

...Aneh.

"...Tolong ceritakan lagi."

"Hah? Kau percaya?"

"Tidak, aku hanya merasa..." aku terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat. "...itu bukanlah hal baru,"

"Hmmm? Berarti mungkin kau tahu?" ia mengulang. "...Makhluk itu menyerangku, jadi aku berusaha membunuhnya...tetapi kabut tiba-tiba naik dan aku ternyata tengah menyiksa kakek tua saat itu,"

"...Bisa kau tunjukkan dimana tempat itu?"

.

"Senpai, kabut sudah datang!" pekik Rise ketika ia melihat ke arah langit di Shopping District. Yukiko baru saja mempersiapkan senjatanya dan beberapa obat-obatan dari Shiroku, sesaat mereka keluar toko, mereka tengah disambut oleh kabut yang mulai turun.

Mendengar hal tersebut, sang pengguna Izanagi saat itu terkesiap. Ia memberikan kode pada Rise dan gadis analis itu segera mengenakan kacamata merah mudanya dan bersiap memanggil Persona-nya. Ketika kabut sudah menyelimuti kota, mereka berdua pun bergerak.

—Saat itu juga sang beruang datang.

"Ah, Yuki-chan! Kenapa kau berada di kabut lagi? Sudah kubilang disini berbahaya, kuma!"

"Teddie?" Rise melihat beruang tersebut. "I-itukah kau?"

"Yuki-chan, siapa dia, kuma?" beruang itu menunjuk Rise.

"Aww, jangan bilang kau pura-pura lupa padaku Ted!" Rise memeluk sang beruang.

"...Umm, Rise-chan, tadi belum kuceritakan soal Teddie kan?" Yukiko mendekati mereka berdua. "Iya, ini Teddie, tetapi ia belum ingat apapun,"

"O-Oh," Rise tertunduk. "Jadi dia shadows, bukan Persona-user seperti dulu?"

"Persona? Ah, aku juga Persona-user, kuma!" beruang itu tersenyum riang. "Jadi manusia yang tidak berubah jadi Shadow itu sama sepertiku, Persona-user? Tidak kusangka, kuma! Kupikir manusia payah itu Shadows semua, kuma!"

Kedua gadis itu terdiam. Jadi Teddie adalah Persona-user, bukan Shadows yang dulu mereka berdua kenali? Entah apa yang terjadi, dunia ini memang tidak bisa ditebak.

"Ehh, intinya kau Persona-user kan? Kau mau ikut kami...err, membasmi Shadows?" Rise mengajak. "Dan...oh ya, aku Kujikawa Rise, Teddie."

"Baiklah, Rise-chan, Yuki-chan!" beruang itu mengangguk. "Tetapi aku ikut menghilang bila kabut naik, tidak apa-apa, kuma?"

"Yap, tidak masalah." Yukiko mengangguk setuju.

"Senpai, apa kau bisa melihat dalam kabut? Kau bilang tadi kacamatamu hancur, kan?"

"Ah ya...tidak apa-apa, asalkan ada analis aku mungkin bisa melihat...sedikit,"

"Jangan khawatir, Yuki-chan! Ada aku disini, kuma!" ucap Teddie berbangga diri. "Aku bisa membuatkanmu lensa seperti Rise-chan dalam waktu lima menit!"

"Benarkah, Teddie?" gadis berbando merah itu memperjelas.

"Yup! Tunggulah sebentar!"

.

Sementara itu, di sisi lain kota, tepatnya di dalam Inaba Municipal Hospital,

Sejumlah besar Shadows tengah dikalahkan dengan percuma, meninggalkan banyak bekas di sekitar dinding dan lantai dingin rumah sakit yang gelap. Wanita berambut putih panjang itu hanya berdecak kesal seraya menatap sekeliling.

"Disini juga tidak ada..." gumamnya. "Sebenarnya dimana lagi aku harus mencari...?"

Irisnya yang kuning bagaikan mata kucing yang membelah kegelapan. Ia mengetuk buku yang ia pegang sekali, ia lalu membuka halaman demi halaman dengan tatapan putus asa. Disana terukir tulisan, Social Links – Seta Souji. Dibawahnya tertera beberapa kartu arcana mulai dari nol sampai dua puluh, dan semuanya tidak berwarna.

Tidak—ada tiga yang berwarna.

Arcana Empress—dirinya sendiri, Arcana Priestess dan Arcana Lovers.

"...Gadis itu...Priestess, bukan?" ia bergumam lagi. "Apa yang ia sudah lakukan?"

Wanita itu menutup bukunya dan berjalan di tengah gelapnya lorong rumah sakit, entah kenapa ia tersenyum.

"Sepertinya, aku harus menjadi pengawas...untuk kali ini."

.

To be continued.


Hehe~ lumayan panjang ya? Saya lumayan suka sama chapter ini soalnya. Ada yang mau nebak Shadow siapa berikutnya, readers? Chapter berikutnya...kayaknya lumayan seru, pintu berikutnya dan beberapa petunjuk berikutnya akan ada di chapter selanjutnya. Anggota party saat ini berarti Rise, Yukiko dan Teddie. Daaan...gimana soal Kanji dan Naoto? Yak, tunggu chapter berikutnya ya!

Nah, sekian dulu chapter ini. Terima kasih pada para pembaca dan para reviewers yang setia~ Read, Review, Critics or Read-only? ^^