Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.

Special thanks: buat chthonian (dot) net, deskrip tentang Lisa dan Tatsuya menginspirasi saya banget, terus heylala-san buat koreksinya~

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak diskontinu. Gonta-ganti POV, Chara death.


.

(Aku.)

Semenjak aku mendapatkan Persona Souji-kun, aku mulai bertanya-tanya.

Kenapa aku yang...dipilih? Maksudku, aku bukan siapa-siapa dan aku—aku dan Souji-kun cuma sebatas...sebatas itu. Bukan sesuatu yang spesial.

Ada Naoto-kun, Rise-chan, Chie, Hanamura-kun, Kanji-kun—mereka semua lebih spesial dan lebih kuat.

Kenapa jadi aku? Aku yang ingat semuanya, aku disini sekarang, aku tidak punya kemampuan perang, tapi aku yang mengayunkan pedang. Semua ini...apa maksudnya? Bukannya aku tidak mau, bukannya aku mau kabur, tidak! Aku tidak mau mundur.

(Hanya saja.)

Semua ini—aku tidak bisa menahan cacian, aku sulit menerjang makian, aku terjaga pada hinaan.

Souji-kun, jawab aku.

(Kenapa aku disebut pendosa? Apa karena aku ingat semuanya?)

Raungan hatiku takkan pernah berhenti. Kekosongan ini takkan pernah terisi.

(Apa sebaiknya aku mati?)

.


A Lone Prayer

Kuroi-Oneesan (c) 2011


.

Cocytus, Meltdown

"HEAAAH!"

Entah sudah berapa hentakan kasar yang dilayangkan Kanji ke arah Shadow tersebut, Naoto berusaha menghemat peluru, Teddie tengah mengantarkan banyak skill es ke arah Shadow tersebut, Rise mati-matian berusaha agar tidak satupun anggota petarung harus terluka banyak.

Tapi Yukiko, ia tidak melakukan apa-apa—membuat para petarung dan suporter merasa kekurangan jumlah.

"Bufula, kumaaaa!"

Serangan Kintoki-Douji kembali mengenai Shadow itu telak, Shadow itu hanya merespon dengan sedikit pecutan. Shadow itu pasti tahu bahwa pendosa yang ia incar akan menjadi santapan yang lebih lezat daripada ketiga orang yang berusaha menjatuhkannya.

"Senpai, ada apa? Ada yang membuatmu takut...?"

"Shadow itu...Chie..." Yukiko menunjuk ke arah Shadow. "Dia...Chie. Dan yang kemarin itu...Hanamura-kun...mereka, mereka menyebutku pendosa...kenapa?"

"Eh...? Ap-Apa yang telah terjadi, senpai?"

"..."

"Senpai..." nada Rise terdengar simpatik. "Kenapa mereka memanggilmu pendosa? Apa kau pernah melakukan kesalahan—"

"ZIODYNE!" Shadow itu meraung, mengarahkan petir tanpa ampun ke arah sang beruang.

Rise hafal kelemahan para anggota Investigation Team sejak dulu, ia pun mengalihkan pembicaraannya menuju arah pertarungan.

"Tidak, Teddie!" pekiknya.

"Kumaaaaaa!"

BLAR

"Gh...uhuk, hampir saja...!"

"Kanji-kun...!"

Pemuda berperawakan preman itu ternyata melindungi Teddie, Naoto bahkan Teddie tidak tahu darimana aksi heroik itu terpikirkan—Kanji sendiri sebenarnya bingung kenapa petir yang mengenainya tidak meninggalkan rasa apapun di kulitnya.

"Badanku bergerak sendiri," ucap Kanji pada Teddie. "Kau tidak apa-apa?"

"Terima kasih!" Teddie nyengir.

"Tatsumi Kanji, Teddie, awasi serangan makhluk itu." Naoto mengisi pelurunya. "Sepertinya ini akan lama,"

"...Kanji-kun...Teddie..." suara Yukiko terdengar berat, tetapi ia merasa lega. "Kalian..."

(Walaupun kalian tidak ingat, kalian tidak tahu apapun, kalian tetap bertarung...)

(...Aku...)

Yukiko menarik kartu tarotnya, "Izanagi, Fatal End...!"

Izanagi muncul, mengayunkan pedangnya dengan karismatik tepat ke depan wajah Shadow. Sayangnya serangan tersebut dapat dihindari.

Rise nyaris berteriak, "Itu—Persona Souji-senpai!"

"Akhirnya kau melawanku juga, pendosa..." sang Shadow terkekeh. "MATI KAU!"

"Amagi-senpai!" Kanji memberikan jempolnya. "Itu baru semangat!"

"Ayo serang lagi dia, kuma!" Teddie ikut memberikan support.

Yukiko melangkah mendekati Shadow tersebut, walau sedikit gentar. "Kenapa kalian...memanggilku pendosa?"

SWOOSH, BRUAKK!

Hanya dalam hitungan detik, hanya dalam sekejap mata, shadow itu hilang akibat deru angin dari arah yang berlawanan. Ya, angin itu entah darimana menghantam urutan Shadow itu, membuatnya berantakan dan Shadow itu hancur. Sementara, kunci yang ada di kantung blus Yukiko menyala abu-abu—sama seperti saat ia mendekati Velvet Room beberapa hari silam.

"...Senpai? A-Apa itu perbuatanmu?" Kanji yang melihat kejadian itu membelalakkan mata. Sementara dua petarung lain hanya diam—terlebih lagi sang navigator.

Angin mereda, sesosok wanita muncul di hadapan Yukiko. Wanita dengan iris mata kuning, baju yang sewarna dengan Velvet Room dan sebuah buku tebal di tangan kanannya dan kartu tarot yang mulai kehilangan cahayanya di tangan sisanya. Sebuah Persona sudah menipis dari panggilannya.

"Amagi Yukiko," panggilnya dengan nada jelas. "Serahkan kunci itu padaku,"

.

To be continued.


A/N: Di chapter ini saya bingung mau nulis apa, oh, ada! Skill Izanagi Cleave kan? (seinget saya) Tapi saya kasih Fatal End, sesuai perubahan Orpheus punya Aigis di P3FES—lagian kasian Yukiko-nya kalo skillnya cuma Cleave tapi Shadownya bisa Ziodyne, sekedar adaptasi. Dan...saya baru tahu saya nulis Persona-nya Izanagi Ookami orz, salah, salah, salah! Intinya, Persona-nya Yukiko Izanagi dengan penjelasan sbb:

Persona: Izanagi

Arcana: Fool

Level: 35

Skill List: Zionga, Fatal End, Blade of Fury, Sukunda, Tarunda.

Nah, sampai jumpa di chapter berikunya dan saya sangat, sangat, sangat berterimakasih atas reviewnya~!