Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.
Genre: Adventure, Suspense
Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak -ganti POV, Chara death.
A Lone Prayer
Kuroi-Oneesan (c) 2011
—Cocytus, Heat
Wanita itu tersenyum melihat reaksi Yukiko. Ia memainkan jemarinya sejenak diatas buku, menantikan apa yang akan diucapkan gadis serba merah itu padanya.
"Kau kenal dia, Amagi Yukiko-san?" Naoto menurunkan pistolnya. "Wanita misterius,"
"Semuanya, menjauh darinya!" pekik Rise dari jendela navigatornya. "Ia yang mengeluarkan angin barusan, dia berbahaya!"
Semuanya mundur beberapa langkah dari tempat asal, Margaret hanya menanggapinya dengan ekspresi yang sama—ekspresi tenang tanpa jeda. Melihat lawannya mundur tak lantas membuatnya maju mengintimidasi, ia membiarkannya begitu saja.
"Serahkan kunci itu," ulangnya lagi pada Yukiko.
"Siapa kau?" tanya Yukiko, sesuai yang dipikirkan Margaret. "Kenapa kau menginginkan kunci ini?"
"Kenapa...?" wanita itu hanya tersenyum. "Karena aku pemilik kunci itu,"
"..."
"Apa, kau tak mau menyerahkannya?" wanita itu malah tertawa. "Baik, kau akan kulayani,"
"Senpai, mun—"
Terlambat.
"Siegfrend, Meltdown!"
Lingkaran api panas menyelimuti sekitar mereka berdua, Margaret tidak peduli kalaupun ia juga ikut masuk dalam lingkaran panas itu.
"Ugh—" Yukiko mengerang.
"Y-Yuki-chan!" Teddie merasa berang.
"Senpai!" Tak luput Kanji ikut menentang.
"Amagi Yukiko-san!" detektif bertopi biru itu turut kesal, walau raut wajahnya tenang.
"Tidak, senpai!" terlebih sang navigator yang tampak tegang.
Hanya Margaret yang berujar senang.
Wanita itu membuka bukunya sekali lagi, seperti saat ia akan menyerang barusan tanpa jeda. "Meltdo—"
"HENTIKAN ITU, KUMAAAAAA!" Teddie melompat ke depan, alih-alih menjadi penghalang sekaligus melindungi Yukiko. "BUFULA—"
Serangan kecil namun telak itu cukup menyentak Margaret. "—Krh!"
"Teddie-san, serang lagi! Aku akan membantumu!" Naoto ikut maju dengan revolver di tangan.
"Terima kasih, Naoto-kun!"
Sementara, Kanji dan Rise menghampiri Yukiko yang terjatuh berlutut setelah serangan api barusan. "Amagi-senpai, kau tidak apa-apa?"
Yukiko mencoba berdiri dengan bantuan lengan Kanji. "Y-Ya, hanya sedikit...terbakar,"
"Jangan paksakan dirimu, senpai. Ingat, lukamu masih belum sembuh sepenuhnya," ia berdecak seraya melihat senpai-nya yang penuh luka bakar tersebut, surai coklat navigator itupun berkaca-kaca.
"...Amagi-senpai, kenapa kau bertarung sampai separah ini?" pemuda itu ikut merengut, kesal dan kasihan bercampur menjadi satu.
"Aku tidak apa-apa, Kanji-kun—ngh," gadis berbando merah itu menahan tangannya, tempat dimana luka bakar banyak bersarang.
Rise meraih tangan Yukiko, "Apa kubilang, senpai! Kau harus—"
"Tidak, Rise-chan, aku tidak boleh...mundur," Yukiko menggeleng. "Aku harus...melindungi kunci ini, kunci dimana ingatan kalian semua tertutup..."
"..."
"...Kau harus lebih menghawatirkan dirimu sendiri, senpai." Kanji menepuk bahu senpainya itu dua kali. "Biar aku melawan wanita brengsek itu,"
"Kanji-kun, tunggu, Souji-senpai pernah melawan wanita itu sendiri..." Rise memperingatkan. "Tetapi, kalian bertiga—kalian tidak akan bisa menahan wanita itu!"
"Omong kosong," Kanji pun berlalu. "Aku tidak akan membiarkan Amagi-senpai melawannya,"
"Kanji-kun, tunggu, hei, Kanji!" Rise berusaha memanggil kembali pemuda keras kepala itu, sayang ia tidak mendengarnya. Gadis itu hanya bisa menghela nafas panjang. "...Senpai, jangan bergerak, aku akan menemani mereka bertarung,"
"...Kalian semua..."
(Kenapa aku lemah?)
Margaret tetaplah yang superior di pertarungan tersebut, walau beberapa skill Teddie dan tembakan pengalih Naoto cukup membuatnya kewalahan. Ia mengganti Persona-nya, entah untuk sekian kali. "Narukami!"
"Ku, kumaaa!" serangan itu mengenai Teddie, membuatnya kaku sejenak. Naoto berusaha menghalangi Margaret untuk maju mendekati Teddie sampai Kanji berlari membabi-buta dengan kursi diatas ke arah Margaret.
"GRAAAAAH!"
BRAK
"Kau pikir kau bisa menembusku dengan kursi itu!" Margaret tetap pada posisinya, walaupun kursi itu tepat mengenainya.
Sang beruang luput dari penglihatan wanita itu, ternyata ia sudah berdiri dan memanggil Persona-nya lagi, membuatnya terhenyak. "BUFULA KUMAAAAA!"
"JANGAN SENANG DULU, BRENGSEK!"
BRAKK
Ketika Margaret tengah menghindari es yang datang ke arahnya, ia sudah menjadi bulan-bulanan serangan kursi Kanji. Alhasil ialah yang harus mengalah dengan terjatuh ke jalanan aspal dengan lumayan keras.
Naoto mengarahkan moncong pistolnya tepat di hadapan Margaret, tidak memberi kesempatan pada wanita itu untuk melakukan balas dendam. "Sebutkan dirimu, wanita misterius!"
"Hmph," wanita itu terkikik. "Sepertinya untuk kali ini aku yang kalah?"
"Jawab aku!" Naoto hendak menekan pelatuk pistolnya.
"...Lain kali kita bertemu lagi,"
—Dan wanita itu menghilang dalam kabut.
.
Selepas wanita berambut pualam itu pergi, para petarung pun terdiam. Mereka berdiri di sekitar toko buku Yomenaido tanpa berkata apa-apa. Teddie tengah menyembuhkan luka Yukiko dengan sedikit Diarama, yang lain hanya menunggu dan melihat bahwa kabut belum juga surut.
"Ah, sudah selesai kuma!" Teddie tersenyum lebar. "Bagaimana, sudah lebih baikan, Yuki-chan?"
"Terima kasih, Teddie."
"Jadi, bagaimana sekarang?" tanya Naoto yang sedaritadi melipat kedua lengannya. "Urusan kami berdua sudah selesai sampai disini, tetapi keadaan masih belum stabil,"
Hening.
"...Kunci itu, senpai..." ucap Rise pelan. "Kau bilang kunci itu menuju memori seseorang, bukan?"
"Ya, tapi..." Yukiko melihat sekeliling, entah kenapa pintu Velvet Room yang ia gunakan saat itu tidak ada sama sekali. "Tidak ada pintu,"
"Hrrm, tapi di tempat ini banyak pintu... kan?" Kanji menggaruk kepalanya. "Selain Yomenaido, ada pintu toko lain kan?"
Semuanya tertegun.
"Umm, Kanji-kun, mungkin bukan pintu toko yang senpai maksud..." Rise memaksakan tertawa.
"Tapi mungkin saja kata Tatsumi Kanji-san benar, Kujikawa Rise-san," Naoto berdehem. "Tidak ada pintu lain selain pintu menuju toko-toko di Shopping District ini,"
"Kanji pintar, kuma!"
"...H-Hmph!" Kanji membuang muka untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Naoto-kun, pintunya kan ada banyak, bagaimana aku bisa tahu yang mana yang harus kucoba?" tanya Yukiko pada sang detektif yang tengah memeriksa toko yang tidak tertutup.
"Ah, itu juga lumayan menjadi masalah,"
"Bagaimana dengan toko itu, kuma?" Teddie menunjuk pada toko yang berada tepat di belakang mereka berlima berdiri, toko dengan banner besar 'Daidara Metalworks' yang sanggup mencuri perhatian dengan etalasenya yang penuh benda tajam serta armor yang menjadi pajangan di luar toko.
"Ya sudah, senpai. Kita coba saja!" Rise ikut bersemangat.
Mereka berlima menuju depan pintu, Yukiko mengeluarkan kunci dari dalam cardigan merahnya, kunci itu kini sudah menyala abu-abu terang.
KLEK
—Dan pintu itu terbuka.
.
To be continued.
A/N: Aww...akhirnya update juga, saya bener-bener kering ide lagi. Mohon kesabarannya! Soal chapter ini...err, maaf kalo agak gak sreg, saya ngerjain chapter ini pas mentok writer block, saya cuma nulis dialognya dan paragraf penjelasannya saya tulis belakangan! Maaf bila tidak suka chapter ini!
Nah, sampai jumpa di chapter berikutnya dan terimakasih kepada para pembaca dan para reviewer setia~
