Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.

Special Thanks: Persona 1/Revelations: Persona remake di PSP—game itu terlalu inspiratif dan menyesatkan -_-'

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak diskontinu, gonta-ganti POV, Chara death.


A Lone Prayer

Kuroi-Oneesan (c) 2011


.

Cocytus, End

Mereka membuka pintu dan mereka berakhir di Shopping District. Ya, Shopping District yang sama—tetapi banyak perbedaan. Tidak ada kabut, tidak ada Shadow, lebih tepatnya, tidak ada apapun selain mereka berlima yang keluar dari dalam Daidara Metalworks, jalanan, toko-toko yang tetap sama. Teddie, beruang itu tidak ikut serta karena ia ingin menyelesaikan kacamata untuk Yukiko, jadi ia tetap berada di Shopping District.

Sayang tidak ada apa-apa. Terlalu sepi.

"...Ini?" Kanji hanya bisa menaikkan alisnya. "Kenapa kita kembali?"

"Tidak, ini bukan Shopping District yang biasa," Rise melihat ke arah langit. "Tidak ada seorangpun disini...aku tidak merasakan satu manusia pun disini..."

"Benarkah itu, Kujikawa Rise-san?" Naoto mengonfirmasi. "Hmm, ada benarnya juga, bila cerah seperti ini, Shopping District tak pernah sepi pengunjung,"

"Apa ini bagian dari memori orang lain?" ucap Yukiko.

"Tunggu, jangan bergerak! Aku merasakan ada seseorang..." Rise tetap di posisinya. "Di...kuil Tatsuhime?"

.

Sementara itu, sang wanita berambut putih pualam tidak mengikuti keempat orang tersebut. Malah, ia tetap berada di kota berkabut, tidak melakukan apapun atau bahkan mengejar mereka demi kunci tersebut. Ia hanya mendesah pelan seraya berjalan menyusuri trotoar.

"Hmhm..." wanita itu menggores bukunya dengan kuku-kuku jarinya. "Ternyata aku kalah walaupun pemegang Izanagi yang sekarang selemah itu? Ternyata ingatan teman-temannya kuat, hmm? Ternyata aku terlalu naif,"

Wanita bersurai kuning itu melihat sebentar ke arah belakangnya sebelum ia berjalan ke dalam kabut tebal di seberang trotoar panjang.

.

Keempat orang itu tengah mencapai tempat yang dimaksud, dan sesuai intuisi Rise dengan bantuan Kanzeon, mereka menemukan seseorang tengah berdiri tepat di depan kuil, tampak seperti sedang berdoa.

"Tunjukkan dirimu," gertak Naoto.

Siluet itu menoleh ke arah mereka berlima—seorang pemuda...tidak, tepatnya pria tegap dengan wajah yang tertutup topeng berornamen sebelah sayap kupu-kupu.

"Siapa kau...?" Yukiko bertanya pertama kali.

"Aku...Philemon," ia setengah membungkuk. "Selamat datang, di masa depan kalian."

"Masa depan?" Kanji hanya berkacak pinggang.

"Tunggu, kenapa masa depan kami sekosong ini?" suara Rise meninggi. "Apa yang telah terjadi? Dan siapa sebenarnya kau?"

"Aku Philemon, aku tidak bisa mendeskripsikan siapa atau apa sebenarnya 'aku'," jelasnya. "Aku disini karena aku ingin memberi tahu kalian sesuatu,"

Mereka berempat pun terdiam melihat sang Philemon tengah mendekati mereka.

"Ya, ini adalah masa depan kalian, seluruh Shadow di dunia telah saling bunuh membunuh dan tidak ada satupun yang tersisa di dunia ini."

"A-APA!"

"Semua ini karena, perbuatan—mungkin lebih tepat disebut 'dosa' yang dilakukan oleh segelintir orang..." ia melanjutkan. "Dosa tersebut...seharusnya tak pernah dilakukan oleh siapapun,"

"Dosa ini...sebenarnya apa?" tanya Yukiko pada Philemon. "Apakah aku...seorang pendosa?"

"Siapapun bisa melakukan dosa," ucapnya. "Tidak ada satupun manusia luput dari dosanya, dan dosa itu bisa saja disadari atau tidak disadari manusia. Hanya itu yang bisa kukatakan untuk saat ini."

Tidak ada yang berani mengatakan apapun, mereka berempat hanya menunduk. Naoto dan Kanji—walaupun mereka berdua tidak mengerti apa maksud pria itu tetapi mereka tetap mendengarkan.

"Kembalilah ke dunia kalian, masih banyak hal yang perlu kalian ketahui sebelum kalian kemari lagi," sang Philemon kembali ke altarnya. "Percayalah apa yang ingin kau percaya,"

.

"Haah~ sudah selesai, kuma!" Teddie dengan ekspresi lega mengacungkan kacamata ber-frame merah itu ke udara. "Whew, andai saja tidak ada shadows tadi kacamata ini sudah komplit, kuma."

Beruang itu melihat ke arah langit, kabut belum juga surut. Mata besarnya itu menuju ke arah toko-toko, ia melihat seorang pria yang terlihat serampangan berjalan mendekatinya.

"W-Wow, tempat ini kabutnya tebal sekali..." ia berujar ke arah Teddie seraya basa-basi. "Siapa kau? Shadows?"

"Teddie bukan Shadows, kuma!" sergah sang beruang. "Kaulah yang pantas kucurigai, kuma! Apa kau Shadows, kuma!"

"Bukan, aku kesini untuk menemui kalian," pria itu tertawa. "Kemana anak-anak itu, beruang?"

"Anak-anak? Maksudmu Yuki-chan, Rise-chan, Naoto-kun dan Kanji? Mereka belum kembali, kuma."

"Begitu? Ya sudahlah, aku akan menunggu di Souzai Daigaku, tolong bilang mereka ya, beruang~"

Pria itu pun berlalu, meninggalkan Teddie yang kebingungan.

"Siapa dia, kuma? Aku lupa tanya namanya." Teddie manggut-manggut. "Sudahlah, biar nanti kuberitahu Yuki-chan dan Rise-chan~"

.

To be continued.


A/N: Author asli sedang miskin ide, akhir-akhir ini. Beneran, di kepala ga ada apa-apa kecuali makan, minum, nafas, tidur. Liburan memang cepat dan menyesatkan, yah~ Ini adalah chapter akhir rangkaian Cocytus, kita akan langsung ke bagian berikutnya, Antenora—yang mungkin porsinya lumayan banyak juga, mengingat Cocytus sampai 5 chapter. Belum lagi Ptolomea, Judecca dan Empyrean.

Oke, siapa orang tersebut~? Di chapter berikutnya bakal ketahuan kok. Nah, terima kasih sekali lagi pada para pembaca, yang sudah lewat dan para review-er!