Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.
Special Thanks: Readers, Review-ers, yang numpang lewat. In-Laqetti—apa In-Lak'ech gitu—karangan Kashihara Akinari dan data para petinggi Masquerade seperti King Leo, Queen Aquarius, Lady Scorpio dan Prince Taurus. Err, inspirasi?
Genre: Adventure, Suspense
Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja diskontinu, sering ganti POV, Chara death.
.
Dosa, pendosa, aku.
Apa semua itu berkaitan?
Semua Shadows bilang aku adalah pendosa, tetapi aku tidak tahu telah berbuat dosa apa. Philemon, pria itu berkata bahwa semua manusia pasti mempunyai dosa. Dan dosa yang dimaksud bisalah terjadi saat manusia itu menyadarinya atau ia tidak sadar melakukannya.
Aku... apa yang telah kulakukan?
Aku hanya menangis, mencoba kabur dari duniaku dengan mengunci diri saat hari itu, dan tiba-tiba aku ada disini dengan memegang Izanagi.
Dosaku dimana? Dosaku apa? Dengan siapa aku berdosa? Bagaimana aku berdosa? Kenapa aku disebut pendosa? Mengapa aku disebut berdosa oleh mereka?
Apa karena aku mengunci diri dari dunia luar?
Tidak, belum ada yang menyatakan jawabannya padaku.
.
A Lone Prayer
Kuroi-Oneesan (c) 2011
—Antenora, Justice
"Kalau begitu, kami berdua harus kembali ke kantor polisi," ujar Naoto seraya setengah menggiring Kanji. "Aku masih harus meyakinkan bahwa Tatsumi Kanji-san tidak bersalah,"
"Bye, bye, Kanji, Naoto-kun!" balas Rise seraya melambai. Yukiko melihat sekelilingnya, mencari Teddie. "Hm? Kenapa, senpai? Mencari Teddie?"
"Iya, dia menyelesaikan kacamataku, kan? Setidaknya harus kuambil sebelum kabut ini menghilang,"
.
Sementara, kedua orang yang menuju kantor polisi itu memelankan laju mereka seraya mulai berbicara apa yang mereka simpan di pikiran mereka sedari tadi.
"Aneh," Naoto memulai. "Kau, dan tampaknya semua orang itu tahu kalau aku ini wanita,"
"Lalu? Apa anehnya, nona detektif...?" Kanji yang tengah mengantungi kedua tangannya di saku celananya hanya berkomentar setengah hati. "Itu kan biasa saja, kau kan detektif terkenal,"
"Aku tidak pernah bertemu dengan mereka, apalagi bertemu denganmu. Tapi kenapa...kenapa semua ini seperti tidak bisa kusebut kebetulan?" serunya. "Apa kau bisa menjawab itu, Tatsumi Kanji-san!"
"Aku tidak sepintar kamu, nona detektif," dengusnya. "Aku hanya tahu kalau aku merasa kita sama seperti mereka,"
Naoto tak pelak menaikkan alisnya. "...Darimana kau mendapat perspektif begitu?"
"Insting? Hahah," Kanji tertawa garing. "Bukannya aku mau puitis atau apalah, kurasa kita semua pernah bertemu, itu aja."
"Ada benarnya juga..." detektif ini menurunkan topinya. "Tapi—"
"Apalagi yang mau kau tolak hah? Anggap saja kita berdua ada di lubang yang sama, selesai."
Naoto pun hanya membalasnya dengan senyum kecil—entah dipaksakan atau ia memang tidak bisa membalas lagi—Kanji sementara itu tambah mendengus. Mereka berdua pun menuju tempat perhentian bus dan kembali ke kantor kepolisian Inaba.
.
"Souzai...Daigaku?" Rise menaruh telunjuknya di dagu tanda berpikir. "Siapa yang ingin bertemu kami? Cowok?"
"Kurang lebih dia pesan begitu padaku, kuma." Teddie mengangguk tanda konfirmasi. "Sebaiknya kalian kesana setelah kabut pergi, kuma! Lebih aman bila kabut sedang tidak ada, kan?"
"Terima kasih, Teddie," senyum Yukiko.
Kedua gadis itu melambai tanda perpisahan pada Teddie, setelah kabut naik, perlahan sosok beruang itu ikut menipis dan menghilang mengikuti kabut.
"Sayangnya Teddie hanya muncul saat kabut~" Rise menghela nafas. "Nah, ayo ke Souzai Daigaku, senpai. Aku penasaran dengan orang ini,"
.
KLANG
Entah sudah berapa kaleng kopi yang ia keluarkan dari mesin minuman dengan logo merah-biru ATLUS di sampingnya. Entah sudah berapa banyak uang 120 yen yang ia habiskan hanya untuk kopi. Yah, sebagai seorang yang hidup di areal malam sepertinya, kopi adalah teman, bukan?
Setelah penantian, akhirnya kabut naik, dan ia melihat sekelilingnya kembali seperti biasa. Ia hanya menghela nafas panjang, tidak jelas itu tanda lega ataupun tanda ia bosan menunggu. Kegiatan manusia sore itu mulai beredar, tetapi ia tidak mau meninggalkan tempat.
KLANG
Kaleng kopi kelima—yah, sejauh yang bisa ia hitung. Ia tidak pernah menghitung apapun, kalkulasi bukan bidangnya.
"Adachi-san...?"
Dan...bingo! Tamu yang dinantinya datang. Dengan senyum lebar, pria itu menyapa mereka. Melihat wajah dua gadis belia yang setengah terbelalak entah kenapa membuatnya makin ceria.
"Ah, hai, bocah-bocah. Aku sudah menunggu kalian,"
"Tunggu, Adachi-san...kenapa kau—bukannya kau ada di penjara!" Rise berseru tak bersahabat.
"Ri-Rise-chan, tenanglah, kau ingat bahwa waktu berbalik?" Yukiko berusaha menahan adik kelasnya itu.
"Hoo, jadi waktu benar-benar berbalik, hm? Pantas saja aku ada dan bebas disini sekarang," Tohru Adachi terkekeh. "Tenang saja, aku disini bukan untuk membunuh atau menyiksa, aku hanya ingin bertanya soal kebenaran,"
"...Baiklah, tetapi jangan disini, Adachi-san." Yukiko dengan kepala dingin masuk ke negosiasi.
"Se-Senpai, kau serius! Dia kan—"
"Tidak apa-apa, Rise-chan. Percayailah musuhmu sekali-kali," imbuh sang senpai dengan bijak.
"Hmmm, sang Amagi yang dulu melarikan diri sudah menjadi dewasa, eh?" ejek Adachi. "Mau dimana? Aiya? Akan kutraktir kalian kalau perlu,"
"Tidak perlu, kita ke kuil Tatsuhime saja, jauh lebih tenang,"
"Baik, terserah~"
.
Setelah Adachi (memaksa) membelikan kedua gadis itu minuman kaleng, mereka menuju kuil Tatsuhime. Yukiko mulai menceritakan apa yang ia alami seperti ia menceritakannya pada Rise—tentu Rise kadang melawan bila Adachi mengeluarkan komentar kotornya.
"Aaah, ya, ya, aku mengerti...jadi setelah kematian bocah itu, semua kejadian ini terulang?" Adachi memainkan kaleng kopinya. "Aku yakin ini bukan perbuatan Izanami, semenjak kalian sudah menyelesaikannya,"
"Lalu...kenapa kau punya inisiatif bertanya pada kami?" tanya Rise dengan nada agak galak.
"Kenapa? Hanya insting saja," jelasnya. "Karena bocah abu-abu itu yang mengalahkan Izanami dan menyulut masalah pembunuhan itu kan? Kenyataannya ia telah pergi sekarang,"
Kedua gadis itu diam.
"Aah, maaf, maaf." Adachi sedikit merasa tidak enak.
"Kau mau apa setelah tahu kebenarannya Adachi-san?"
"Entahlah, aku hanya kebetulan menjadi salah satu orang yang tahu-tahu ingat seperti katamu tadi, Amagi. Lagipula aku tidak peduli dengan urusan dunia ini, polisi adalah pekerjaan yang merepotkan," officer itu memaksakan tawa. "Bagaimana kalau aku ikut kalian saja? Sepertinya ini menarik walaupun aku harus berada di tengah bocah-bocah,"
Nyaris saja kedua kaleng yang kedua gadis itu pegang jatuh bersamaan.
"HAH?" pekik Rise lebih dulu. "Kau mau ikut kami!"
"Apa? Ada masalah? Aku, Adachi Tohru sedang berbaik hati pada kalian, loh?" lagi-lagi Adachi mengeluarkan tawa ala psikopatnya. "Aku lebih senang hidup di penjara daripada dunia kelewat normal begini, kalian tahu?"
"Ah, hahaha...ha..." tawa Rise. "E-Err, senpai, bagaimana menurutmu?"
"...H, hah? Ah..." Yukiko terdiam sejenak. "Me, menurutku sih tidak apa-apa,"
Rise menepuk dahinya. "Senpai, kau pasti sudah gila..."
"Wow, jadi kau mau mempercayaiku? Baiklah~ terima kasih sudah menerimaku kalau begitu." Adachi meminta jabat tangan. "Tenang, aku takkan mengecewakan kalian!"
Yukiko menyambut datangnya anggota baru itu dengan biasa, walaupun Rise masih bertampang kecut pada Adachi. Polisi itu memang dicap kriminal, tetapi ia bersahabat—mungkin untuk saat ini.
.
To be continued.
A/N: Hahaha~ nggak terlalu ngagetin ya? Mungkin pembaca akan bertanya-tanya kenapa harus Adachi? Yah...saya sendiri gatau kenapa kepikiran Adachi, jangan tanya saya, salahkan Fuhrer (?) yang telah membuat Longinus (ini author kenapa dah). Berarti Persona-nya Adachi Magatsu Izanagi dengan arcana Death. (apa kurang cocok?)
Oke sampai jumpa di chapter berikutnya! Dan...oh ya, SEMUA CERITA SAYA BAKALAN LAMA UPDATE KARENA SAYA UDAH SMA JADI MOHON MAAF YA~
