Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.

Special Thanks: Readers, Review-ers, yang numpang lewat. Dan juga untuk koneksi internet yang mendadak cepet padahal liburannya udah kelar -_- lalu manga Until Death do Us Part untuk Tokarev-nya.

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak diskontinu. Gonta-ganti POV, Chara death.

.


A Lone Prayer

Kuroi-Oneesan (c) 2011


Antenora, Emptiness

Beberapa hari berselang setelah pertemuan itu, tidak ada perubahan dari kota, tetapi tidak ada juga Shadows yang mendadak datang saat kabut tebal di sekitar Shopping District. Adachi kala itu hanya berkeliling dengan Tokarev miliknya di tangan, Rise mencoba melakukan scan sementara Yukiko menunggu di tengah-tengah Shopping District.

Tidak ada apa-apa.

"Hmm, bagaimana kalau kita pindah ke suatu tempat? Misalnya di Junes atau Samegawa?" usul Rise.

"Boleh saja, Shadows-Shadows disini normal-normal saja," seru Adachi. "Junes saja yang lebih dekat,"

"Mm..." Yukiko mengangguk.

Mereka bertiga pun angkat kaki dari lingkungan sepi menuju supermarket besar itu.

.

Tolol, konyol.

Entah kenapa perasaan itu bercampur aduk dalam otak seorang Hanamura Yosuke. Ia memutuskan membolos dari kelas wali kelasnya tercinta dan berjalan bagai zombie mengelilingi kota seorang diri masih dengan seragam Yasogami-nya. Embel-embel sakit kadang sulit menipu wali kelas 2-2 tersebut, sehingga Yosuke yang entah teknik akting macam apa yang membuatnya bisa keluar sebagai pemenang.

Hanya saja ia merasa seperti orang tolol. Ia merasa hidupnya tak lebih dari suratan konyol. Tak lebih, tak kurang, itulah yang ia rasakan di hidupnya. Membosankan? Memang. Yosuke adalah segelintir pemuda yang merasa dirinya kosong, haruslah ada hentakan di hidup ini seperti di komik atau video game.

Tetapi tidak, ini adalah wilayah damai. Tak ada lagi perang, bahkan bom atom. Ia juga hanyalah seorang Yosuke, pelajar SMU kelas 2 yang standar, bersenang-senang di bawah sinar mentari sambil dihiasi canda dan tawa.

—Seharusnya begitu, tetapi tidak demikian.

Kakinya berhenti di tengah-tengah shopping district yang tengah hari itu lebih sepi dari yang bisa ia rasakan, sekelilingnya tebal kabut, tetapi matanya terbiasa. Pemuda itu memasang headphone yang sedaritadi bertengger ditelinganya dengan volume penuh, ia mencari tempat menepi seraya menganggap bahwa suasana mirip rumah hantu ini hanyalah fatamorgana.

Souzai Daigaku,

Ia melihat Chie tengah menikmati Steak Skewer, masih dalam jaket hijau yang ia pakai diatas seragam Yasogaminya.

Tunggu, Chie? Bukannya ia hari ini tidak masuk?

"Satonaka?" ucapnya pelan.

"Ah, Hanamura. Kau bolos?" balasnya dengan nada monoton, langsung ia lahap Steak yang ada di tangannya. "Kau terlihat lesu, kenapa?"

"Bukan urusanmu," Yosuke menggeleng. "Oh ya, kenapa nggak masuk? Lebih parah daripada bolos."

"Aku...yah, anggap saja aku sudah malas sekolah, entah kenapa aku tidak peduli lagi," Chie hanya nyengir. "Aku merasa kehilangan sesuatu, tapi aku tidak bisa menemukannya jadi aku bingung mau apa lagi!"

"Konyol kau, Satonaka." Yosuke mendekati mesin minuman, memasukan koin dan menekan tombol Cielo Mist. "Tapi kurasa...aku sependapat,"

.

To be continued.


A/N: Wow, banyak hint YosuChie yah? Hahah. Jangan tanya juga kenapa ini chapter sedikit banget.

Kayaknya Antenora dan Ptolomea bakal singkat aja, ya, tergantung saya mood ngerjain fanficnya. Oh ya tentang 'pendosa' dan 'dosa' mungkin akan sedikit dijelaskan di chapter berikutnya oleh Shadow—oke, no spoiler.

Sekian, terima kasih bagi para review-er, pembaca dan yang numpang lewat, 'till next chapter!