Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.

Special Thanks: Readers, Review-ers, yang numpang lewat. Dan terima kasih juga untuk bulan puasa (?)

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak diskontinu,gonta-ganti POV (tergantung maunya si author *disepak*), Chara death.

.

Apa dunia ini tersusun oleh dosa?


A Lone Prayer

2011 (c) Kuroi-Oneesan


.

Antenora, Fear

Insting polisi memang berbeda dari mental anak SMA.

Benar saja, shadows besar yang diselubungi bunga mawar tengah tampak menunggui mereka bertiga untuk datang ke tempat itu, dimana gedung Junes berada. Sayang, sebelum mereka meninggalkan shopping district, sosok sang beruang tidak dapat mereka temukan dimanapun.

"Ooh~ pendosa ternyata mencariku~"

Suara Shadow Kanji itu cukup membuat Yukiko bergidik, nyaris saja Adachi atau Rise muntah di tempat. Shadow Kanji merupakan...salah satu representasi diri yang terlalu blak-blakan, bahkan melebihi bentuk Shadow Rise.

"Apa kau mau memberitahuku apa...dosaku...yang ada di dunia ini?" Yukiko bertanya hal yang sama yang ia pernah katakan pada Shadow Chie.

"Dosa, kau tidak tahu dosa itu apa? Padahal kaulah yang berbuat dosa~" suara Shadow itu melengking. "Dosamu...kurasa kau tak perlu tahu itu,"

"Kenapa aku tak perlu tahu dosaku...?"

Shadow itu berpose sok berpikir yang disaat bersamaan bisa diterjemahkan sok imut,"Karena kau yang menetapkan itu sejak awal, pen-do-sa~"

Yukiko tidak berkata.

"Ya, semuanya sejak awal sudah ditetapkan. Kau pendosa yang bermain di dalam dosamu, menarik bukan?"

"Pendosa...di dalam dosamu?" Rise mengulang kata-kata tersebut, seakan ada yang janggal. "Dunia ini dosa senpai, maksudmu...?"

Adachi menyela, "Aaaargh! Hoi! Sudah belum ngobrolnya? Aku mulai mual dengan bau karangan mawar itu..."

Yukiko hanya mengangguk pelan seraya menarik satu-satunya senjata yang ada di pegangannya.

"Kalau kau membiarkanku membunuhmu, akan kuberitahu dosamu, lho!"

Kata-kata manis itu hampir membuat Yukiko gentar, tetapi ia memutuskan untuk menggelengkan kepala seraya mengacungkan senjatanya tanda menggertak.

"Tidak, aku tidak akan mati, setidaknya, tidak di tanganmu!" serunya.

"Dosamu menarik lho, gadis manis..." suara sang Shadow kembali menarik Yukiko untuk tidak keluar dalam lingkaran negosiasi. "Tapi terserahlah, kepala pendosa sepertimu mungkin bisa membuatku kenyang."

.

"Hei, Hanamura, menurutku akhir-akhir ini kau lebih melankolis." Chie berkomentar.

"Masa' sih?" Yosuke menaikkan alisnya seraya menenggak kaleng Cielo Mist ketiganya. "Perasaanmu saja, tetapi memang aku, Hanamura Yosuke, adalah seorang yang misterius—"

DUAK, satu tendangan mendarat di kaki Yosuke. "Nggak usah ngelunjak, bodoh."

"Aww, Sa-Satonaka, sakiiit!" keluh sang pemuda berambut oranye sembari menahan kakinya. "Tendanganmu memang hebat yah."

"Baru kali ini kan, aku menendangmu?"

"Me, memang sih, tapi aku merasa ini kali kedua..."

"Jangan bercanda, kita belum pernah berteman sekalipun. Mana mungkin aku pernah menendangmu!"

"Pernah kok! Saat aku membelah DVD Trial of Dragon-mu jadi dua—"

"...Kapan itu? Bukannya DVD-nya sudah kau kembalikan?"

"Serius, Satonaka. Aku merasa pernah..."

"Sudahlah, kau mulai seperti Yukiko saja." Chie berdecak. "Oh ya, soal Yukiko...katanya sudah berhari-hari ia tidak pulang ke rumahnya."

Yosuke membelalakkan mata, "Jangan-jangan ia diculik?"

"Tidak, menurut Kasai-san ia menginap di suatu tempat..." Chie berpangku tangan. "Aku tidak mengerti apa yang ada di pikirannya sejak hari itu, soal Souji Seta lah, apalah..."

"Benar juga..." Yosuke berpikir sejenak. "Kita merasa kehilangan sesuatu, tetapi Amagi tampak seperti menemukan sesuatu...apa ini ada hubungannya?"

"Mana kutahu? Aku tidak sepintar itu, Hanamura~"

"Ya, aku tahu...aku juga nggak pintar-pintar amat..."

Tiba-tiba, sesosok beruang muncul dari arah lain, menghampiri Yosuke dan Chie. Kedua manusia itu hanya melongo sementara mata besar beruang itu mengkilat-kilat.

"Whoa, Hanamura, lihat! Ada maskot berjalan!"

"...Kuma...?"

.

"Awas, Adachi-san! Shadow itu bisa mengeluarkan serangan physical tingkat tinggi!"

Panasnya pertarungan, kerasnya medan perang, luputnya penglihatan, kesulitan penyerang. Walau sudah dengan dua orang, para Persona-user itu tetap kesulitan menghadapi Shadow keras kepala satu ini. Bukan hanya serangan fisik beruntun, terkadang skill pendukung macam Heat Riser sering diluncurkannya.

"Bocah Amagi, serang dia dengan Zio selagi aku memakai Debillitate!"

"Baik, Adachi-san!" Yukiko berusaha dengan cepat mengambil posisi berlawanan dengan Adachi. "Ziodyne!"

Seberkas cahaya menabrak cepat, sang Shadow tak mau kalah.

"Vorpal Blade!" geramnya. Puluhan sayatan terarahkan pada kedua insan, erangan dan darah tak luput dari pandangan.

"Sialan kau, karangan mawar!" Adachi menggertak. "GARUDYNE!"

Angin menghalau sang Shadow, Yukiko hendak memberikan sentuhan pembalik keadaan.

"Izanagi, Brave Blade—!"

Serangan telak, tetapi sang penyerang harus mendapat kompensasinya.

"Senpai, hati-hati! Adachi-san, tolong sembuhkan Yukiko-senpai!"

"Tch, karangan mawar itu kuat juga..." umpat Adachi seraya menaikkan pistolnya. "Menepilah, Amagi. Akan kucoba memukulnya mundur!"

"Pendosa, kemarilaaaaah~" suara sahutan dari Shadow dapat terdengar, tidak menghiraukan tembakan Adachi, Shadow itu mendekati Yukiko dan—

"Izanagi, Brave Blade!"

CRASH

Sang navigator bersorak gembira melihat Shadow itu tengah menghilang di balik kabut. Yukiko sementara itu mengatur nafas, Adachi tengah mengisi ulang pistolnya. Pelataran Junes kembali sepi, tetapi kini pintu masuk otomatis pusat perbelanjaan itu bersinar terang.

"Apa itu pintu yang kalian cari?" Adachi menunjuk pintu utama. "Kau bawa kuncinya kan, bocah Amagi?"

Yukiko memeriksa Boundary Key yang ia pegang sekali lagi, dan kunci itu ternyata sudah berubah cahaya menjadi biru terang.

"Ayo buka pintunya, senpai."

KLEK

To be continued.


A/N: Wah, chapter yang melelahkan. Kebetulan bulan puasa ini saya lagi buntu ide jadi ngelanjutin satu cerita pun susah banget. Dan oh ya, selamat puasa bagi yang menjalankannya seperti saya~ doakan saya untuk bisa tetap berdiri di FFn ya~

See you next chapter! Mind to review? XD